Daily Archives: April 5, 2020

Ikutan Iseng Tentang Sepakbola

Klub Favorit : AFC Ajax
Negara Favorit : Brazil
Pemain yang tidak disukai : Zlatan Ibrahimovic
Klub yang tidak disukai : Barcelona
Pemain Favorit : Cristiano Ronaldo
Pelatih Favorit : Otto Rehhagel
Pemain Legendaris Favorit : Pele
Kiper Favorit : Gianluigi Buffon
Bek Favorit : Dani Alves
Gelandang Favorit : Andrea Pirlo
Sayap Favorit : Ryan Giggs
Playmaker Favorit : Ronaldinho
Penyerang Favorit : Miroslav Klose

Jika kamu menyukai sepak bola salin, edit dan posting yuk!

Begitulah status facebook saya hari ini setelah lama tidak nulis status. Ikutan iseng barangkali karena kangen juga sama sepakbola yang sudah beberapa pekan vakum akibat wabah COVID 19. Bukan cuma liga-liga top dunia dan Indonesia yang sementara ditiadakan, main futsal rutin juga terpaksa off karena physical distancing. Di tulisan ini barangkali saya akan sampaikan sedikit penjelasan mengenai jawaban yang diberikan dalam status di atas. Singkat saja, soalnya kalau dijabarkan setiap pertanyaan bisa jadi satu tulisan.

Untuk klub favorit saya memilih AFC Ajax karena konsistensinya dalam melahirkan dan menemukan pemain sepakbola berkualitas. Beberapa akademi sepakbola lain juga bagus, misalnya Barcelona dan MU. Namun klub-klub tersebut banyak uang sehingga kerap juga membeli pemain instan. Berbeda dengan AFC Ajax yang seakan jadi supplier pemain sepakbola. Nama-nama seperti Johan Cruyff, Marco van Basten, Frank Rijkaard, Dennis Bergkamp, Edwin van der Sar, Clarence Seedorf, Edgar Davids, Patrick Kluivert, dan Wesley Sneijder adalah beberapa pemain yang dibina di AFC Ajax sebelum bergabung dengan klub-klub besar Eropa lainnya. Selain menjadi klub paling sukses di Belanda dengan 34 gelar Eredivisie dan 19 piala KNVB, AFC Ajax juga konsisten bersaing di kancah Eropa meskipun silih berganti ditinggalkan pemain bintangnya.

Gelaran Piala Dunia yang pertama kali saya tonton adalah Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat dimana Brazil menjadi juaranya. Sejak saat itu saya memfavoritkan timnas Brazil yang bermain indah dan tidak individualis. Sepakbola bisa dikatakan sudah menjadi budaya keseharian masyarakat Brazil, karenanya kaderisasi pemain sepakbola terbaik di Brazil tidak pernah putus. Bukan hanya menjadi negara yang terbanyak memenangi Piala Dunia dengan 5 trofi, Brazil merupakan satu-satunya timnas yang selalu tampil dalam setiap edisi Piala Dunia tanpa pernah absen. Bahkan tidak pernah melalui jalur playoff. Konsisten di level tertinggi.

Untuk pemain yang tidak disukai, sempat terpikir nama pemain seperti Pepe dan Sergio Ramos yang sering bermain ‘kotor’. Atau pemain bengal semacam Mario Balotelli atau Joey Barton. Tapi sepertinya saya lebih tidak suka pemain yang kelewat sombong, walaupun Zlatan termasuk pemain binaan AFC Ajax. Jika sesumbar sekadar buat psy war kayak Mourinho sih mendingan, ini mah sombongnya sudah jadi tabiat keseharian. Bukan cuma terlalu tinggi menilai dirinya, tetapi pernyataannya kerap merendahkan pihak lain. Kayaknya masa kecilnya yang suram membuat Zlatan mengidap narsistik akut. Bahkan dalam sebuah wawancara, Zlatan menyamakan dirinya dengan Tuhan. Padahal walaupun sering juara liga di beberapa klub, Zlatan terancam tidak akan pernah merasakan juara liga champions, juara Euro, apalagi juara Piala Dunia. Dan yang lebih bikin kesal lagi adalah namanya ada embel-embel ‘Ibrahim’nya, padahal kelakuannya jauh dari keteladanan Abul Anbiya.

Untuk klub yang tidak disukai, sebenarnya saya kurang menyukai klub yang ‘membeli gelar’ dengan gelontoran uang semisal Chelsea, PSG, atau Manchester City. Apalagi Barcelona punya akademi yang bagus juga. Hanya saja Barcelona terlalu sering –dan terlalu jelas—dibantu wasit dalam beberapa pertandingan, terutama di tingkat Eropa. Bukan hanya rivalnya di Spanyol seperti Real Madrid dan Atletico Madrid, klub-klub Eropa seperti AC Milan, Chelsea, hingga PSG pernah jadi korbannya. Sampai ada istilah uefalona untuk menggambarkan bahwa Barcelona sangat dianakemaskan oleh UEFA.

Untuk pemain favorit di era sekarang sepertinya tidak jauh dari nama Cristiano Ronaldo dan Leonel Messi. Pemilihan Ronaldo bukan karena Messi dari Barcelona, namun CR7 menurut saya adalah paket lengkap. Dengan tubuh atletis proporsional, kaki kanan dan kiri serta kepalanya sama berbahayanya bagi petahanan lawan. Konsistensinya juga teruji dengan bermain bagus di beberapa klub, bahkan di level timnas Portugal. Dalam kurun waktu yang panjang. Di dalam lapangan, kepemimpinannya dapat dirasakan. Di luar lapangan, kedermawanan sosialnya tidak diragukan.

Untuk pelatih favorit, saya menyukai figur seperti Claudio Raneiri yang dengan low profile berhasil membawa klub selevel Leicester City menjadi juara Liga Inggris. Namun sebelum masanya Raneiri, ada pelatih serupa yang menurut saya lebih fenomenal. Adalah Otto Rehhagel yang telah berpartisipasi dalam lebih dari 1.000 pertandingan Bundesliga, sebagai pemain dan pelatih. King Otto berhasil mengantarkan klub medioker Werder Bremen menjadi klub papan atas Eropa dengan 2 kali juara Bundesliga, 2 kali juara DFB Pokal plus sekali juara Piala Winner. Melatih klub sebesar Bayern Munchen justru membuat Rehhegel meredup. King Otto kembali bersinar setelah mengantarkan klub promosi Kaiserslautern sebagai juara Bundesliga. Tak cukup membuat kejutan di level klub, King Otto membuat kejutan lainnya ketika mengantarkan timnas ‘anak bawang’ Yunani menjadi Juara Euro 2004 dengan mengalahkan tuan rumah Portugal yang juga diperkuat Cristiano Ronaldo.

Untuk pemain legendaris favorit, barangkali karena saya suka dengan timnas Brazil, nama pertama yang muncul adalah Edson Arantes do Nascimento atau lebih dikenal dengan Pele. Pele adalah satu-satunya pemain yang mampu meraih juara Piala Dunia sebanyak 3 kali plus Piala Jules Rimet. Pada 1999, Pele terpilih sebagai pesepakbola terbaik seabad oleh International Federation of Football History & Statistic (IFFHS) dan juga terpilih sebagai Athlete of the Century oleh Komite Olimpiade Internasional. Berdasarkan IFFHS, top skor timnas Brazil ini merupakan pencetak gol terbanyak di dunia dengan mencetak 1281 gol dari 1363 pertandingan, termasuk pertandingan tidak resmi.

Untuk kiper favorit, saya suka dengan figur kiper yang mampu memberikan rasa tenang kepada pemain lain, misalnya Edwin van der Sar dan Allison Becker. Sayangnya van der Sar belum teruji di level timnas Belanda, sementara Allison belum teruji konsistensinya. Adalah Gianluigi Buffon yang sudah teruji di level klub maupun timnas Italia, dan konsistensinya sudah teruji. Bahkan di usianya yang sudah 42 tahun, Buffon masih terus bermain dan bisa diandalkan. ‘Gigi’ juga mencerminkan kepemimpinan dan loyalitas. Saat Juventus dihukum degradasi ke Serie B, alih-alih mencari klub lain, Gigi justru melihatnya secara positif, mau merasakan menjadi juara Serie B yang belum pernah dirasakannya.

Untuk bek favorit ini agak sulit. Brazil punya Cafu dan Roberto Carlos, Italia punya Paulo Maldini dan Javier Zanetti, dan masih banyak bek hebat lainnya. Namun pilihan secara pragmatis akhirnya jatuh ke Dani Alves. Bagaimanapun, jika trofi adalah ukuran keberhasilan seorang pesepakbola, Dani Alves adalah pesepakbola tersukses. Koleksi trofi Dani Alves mencapai 42 trofi bersama enam tim berbeda, termasuk di level internasional bersama timnas Brasil. Jauh melampaui bek-bek hebat lainnya. Hingga saat ini Dani Alves masih bermain di Sao Paulo dan belum menunjukkan tanda-tanda akan gantung sepatu.

Posisi gelandang (midfielder) ini cakupannya cukup luas, mulai dari gelandang bertahan, gelandang sayap, gelandang serang, hingga playmaker. Dalam beberapa kasus bahkan posisi gelandang serang ini tumpang tindih dengan posisi striker. Karenanya, nominasi nama untuk gelandang favorit ini sangat banyak. Alasan kenapa akhirnya saya memilih Andrea Pirlo dari sekian banyak nama adalah karena posisinya sebagai gelandang bertahan sekaligus deep playmaker merupakan posisi gelandang yang tidak akan tumpang tindih dengan posisi pemain sayap, gelandang serang, apalagi striker. Sebagai gelandang, Pirlo barangkali tidak mencetak banyak gol, namun memanjakan penyerang dengan umpan cantik dan terarah. Hampir semua trofi di level klub dan timnas Italia pernah diraihnya.

Dari semua pemain sayap, saya memfavoritkan Ryan Giggs yang berhasil mengoleksi 35 trofi dari 8 ajang berbeda bersama satu klub: Manchester United. Walau di musim-musim terakhirnya, Giggs banyak bermain lebih ke dalam seperti playmaker, namun sebagian besar posisi yang dijalaninya adalah sebagai pemain sayap. Giggs adalah pemain yang paling banyak tampil membela MU. Dari 963 laga di seluruh ajang kompetisi bersama MU, Giggs mencetak 168 gol dan hebatnya tidak pernah sekalipun mendapat kartu merah. Beberapa rekor Giggs di Liga Inggris di antaranya assist terbanyak (162 assist) dan trofi Liga Inggris terbanyak (13 kali juara Liga Inggris).

Posisi playmaker ini mirip dengan gelandang, cukup banyak nominasinya. Alasan memilih Ronaldo de Assis Moreira atau lebih dikenal dengan Ronaldinho adalah karena skill dan pribadinya yang unik. Di usia 13 tahun, Ronaldinho sudah dilirik media Brazil setelah mencatatkan kemenangan 23-0 dalam laga futsal lokal dimana kesemua gol dicatat olehnya. Ronaldinho dikenal sebagai playmaker penuh trik dan sangat piawai mengolah si kulit bundar. Banyak gerakan, umpan, hingga golnya yang kreatif dan ‘kurang ajar’. Ronaldinho bisa dikatakan sebagai pesepakbola terbaik di dunia sebelum era Ronaldo dan Messi. Sesuatu yang khas darinya adalah wajahnya yang selalu tersenyum, termasuk ketika mendapat kartu merah bahkan ketika di penjara sekalipun. Di penjara Paraguay, bakat Ronaldinho masih terlihat jelas ketika membawa timnya juara pada turnamen futsal antar tahanan.

Miroslav Josef Klose barangkali tidak seproduktif Joseph Bican, Romario, Pele, Puskas, atau Gerd Muller dalam urusan mencetak gol. Bahkan dibandingkan Ronaldo atau Messi pun jumlah golnya barangkali hanya setengahnya. Klose merupakan pencetak gol terbanyak timnas Jerman dengan catatan 71 gol, sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia dengan raihan 16 gol. Klose mencetak gol di 4 edisi Piala Dunia sekaligus membawa Jerman meraih medali (minimal masuk semifinal). Menariknya, timnas Jerman tidak pernah kalah saat Klose berhasil mencetak gol pada pertandingan tersebut. Namun yang paling berkesan dari Klose adalah sikap fair play nya, hal inilah yang menjadikannya favorit.

Itu jawaban saya, bagaimana jawaban Anda?