Titik Balik Indonesia Tanpa Corona

Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan.” (Ibnu Sina)

Per 16 April 2020, kasus positif corona di Indonesia bertambah 380 kasus menjadi 5.516 kasus dengan korban jiwa mencapai 496 orang. Melihat data peningkatan jumlah kasus positif corona 11 hari terakhir yang selalu di atas 200 kasus, ditambah case fatality rate Indonesia yang hampir 9% sepertinya perjuangan Indonesia melawan wabah COVID-19 masih akan cukup panjang. Namun dibalik itu, jumlah penduduk positif corona yang sembuh mencapai 548 orang dan akhirnya telah berhasil melampaui angka kematian akibat corona. Recovery rate Indonesia memang baru 9.9%, namun capaian ini membawa harapan positif bahwa badai corona akan berlalu dari bumi Indonesia.

Greenland saat ini menjadi satu-satunya negara yang berhasil melalui badai corona ini. Negara yang secara administratif masuk dalam Kerajaan Denmark ini berhasil mencetak recovery rate 100% per 8 April 2020. Dari 11 penduduk di pulau terbesar di dunia ini, semuanya dinyatakan sembuh. Memang Greenland sangat responsif. Setelah kasus pertama ditemukan, ibukota Nuuk yang menjadi pusat penyebaran COVID 19 langsung lockdown. Mobilitas 57 ribu penduduknya langsung dibatasi, pintu buat wisatawan ditutup, penduduk yang berpotensi terpapar virus corona segera dikarantina. Alhasil, hanya dalam rentang 23 hari sejak kasus pertama diumumkan pada 17 Maret 2020, negara yang 80% wilayahnya tertutup salju ini dinyatakan bebas dari virus corona.

Terlepas dari potensi terjangkit kembali, recovery rate yang tinggi baik dibandingkan dengan kasus ataupun fatality rate akan sejalan dengan menurunnya kasus corona aktif. Hal ini jelas terlihat dari China dan Korea Selatan yang sejak bulan lalu kurva penyebaran COVID 19nya sudah menurun. Terlepas dari laporan intelijen AS yang menyatakan bahwa China berbohong tentang jumlah kasus dan jumlah korban jiwa akibat COVID 19, dari data resmi yang dilaporkan pemerintah, recovery rate China mencapai 94.6% sementara fatality ratenya hanya 4.1%. Sementara itu, recovery rate Korea Selatan di angka 73,1% dengan fatality rate hanya 2.2%. Kabar baiknya, semakin banyak negara yang memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi dan kurva penyebaran COVID 19nya sudah mulai menurun.

Jerman dengan recovery rate di angka 53,9% dan fatality rate sebesar 2,9% menjadi satu-satunya negara dengan jumlah kasus lebih dari 100 ribu yang kurva COVIDnya mulai menurun. Berbeda dengan AS, Spanyol, Italia, Perancis, dan Inggris yang perbandingan recovery rate dengan fatality ratenya tidak terlalu jauh. Padahal Jerman turut menampung pasien dari beberapa negara Eropa lain sehingga jumlah kasus dan angka kematiannya sempat meningkat signifikan. Negara lain dengan jumlah kasus positif corona mencapai lima digit namun kurvanya sudah mulai menurun adalah Iran (77.995 kasus, recovery rate 67%, fatality rate 6,2%), Brazil (30.425 kasus, recovery rate 46,1%, fatality rate 6,3%), Swiss (26.732 kasus, recovery rate 59,5%, fatality rate 4,8%), Austria (14.476 kasus, recovery rate 62.1%, fatality rate 2.8%), dan Peru (12.491 kasus, recovery rate 49%, fatality rate 2,2%).

Kabar baiknya lagi, beberapa negara tetangga Indonesia turut menunjukkan pola serupa. Australia yang memiliki 6.468 kasus dengan recovery rate 57,9% dan fatality rate hanya 0,97%, kurva penyebaran COVID 19 nya mulai menurun. Adapun negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang kurvanya juga mulai menurun adalah Malaysia (5.182 kasus, recovery rate 53,4%, fatality rate 1,6%), Thailand (2.672 kasus, recovery rate 59,6%, fatality rate 1,7%), Vietnam (268 kasus, recovery rate 66%, fatality rate 0%), Brunei Darussalam (136 kasus, recovery rate 79,4%, fatality rate 0,7%), dan Kamboja (122 kasus, recovery rate 80,3%, fatality rate 0%). Kurva penyebaran COVID 19 di Laos juga relatif sudah mulai turun, namun karena baru ada 2 orang yang sembuh dari 19 kasus (recovery rate 10,5%) maka terlalu dini untuk disimpulkan.

Ada beberapa hal menarik dari data COVID 19 di Asia Tenggara ini. Pertama, Singapura termasuk negara maju dengan case fatility rate rendah. Dari 4.427 kasus positif corona, korban jiwa hanya 10 orang atau fatality ratenya hanya 0,2%. Namun kurva penyebaran COVID 19 di Singapura belum menurun, dimana recovery ratenya baru 15,4%. Hal ini menunjukkan pentingnya memperhatikan tingkat kesembuhan untuk dapat mengentaskan wabah COVID 19. Kedua, ada beberapa negara di Asia Tenggara yang masih nihil korban jiwa akibat COVID 19, yaitu Vietnam, Kamboja, Laos, dan Timor Leste. Brunei Darussalam pun baru mencatatkan satu korban meninggal. Entah ada hubungannya dengan iklim tropis dan sistem imun di Asia Tenggara, namun setidaknya hal ini menunjukkan bahwa korban virus corona bisa diminimalisir jika penanganannya tepat.

Mengesampingkan Timor Leste yang kasus positif coronanya baru mulai meningkat, ada pelajaran yang bisa diambil dari Vietnam, Kamboja, dan Laos yang secara geografis lebih dekat dari Wuhan, China sebagai lokasi awal ditemukannya virus corona. Walaupun kurva wabah COVID 19 di Vietnam baru mulai terlihat 6 Maret 2020, namun dari awal Februari pemerintah Vietnam sudah menghentikan penerbangan dari dan ke China, meliburkan sekolah, membatasi mobilitas masyarakat, dan mengkarantina wilayah Provinsi Vinh Punc yang memiliki banyak buruh migran dari China. Laos dan Kamboja juga bergerak cepat untuk menutup pintu masuk ke negaranya saat wabah COVID 19 mulai booming di China, serta menutup tempat umum dan keramaian. Intinya kesigapan, keseriusan, dan konsistensi dalam menangani wabah COVID 19.

Hal lain yang bisa jadi pelajaran dari data COVID 19 di Asia Tenggara adalah pentingnya tes COVID 19 yang valid sebagai dasar pemetaan dan penanganan masalah. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara baru menjalankan 36.000 tes, artinya baru 132 orang per 1 juta penduduk yang dites. Dalam hal ini, Indonesia bahkan lebih parah dari Filipina (5.660 kasus, recovery rate 7,7%, fatality rate 6,4%) yang baru menjalankan 48.171 tes yang artinya hanya 440 orang per 1 juta penduduk. Angkanya jauh jika dibandingkan beberapa negara tetangga yang kurva penyebaran COVID 19nya sudah mulai menurun. Australia telah melakukan 380.003 tes (14.902/ sejuta penduduk), Malaysia 87.183 tes (2.694/ sejuta penduduk), Thailand 100.498 tes (1.440/ sejuta penduduk), Vietnam 206.253 tes (2.119/ sejuta penduduk), dan Brunei 10.826 tes (24.746/ sejuta penduduk). Ini baru jumlah tes, belum mempersoalkan validitas hasil tes.

Bagaimanapun, harapan itu masih ada. Angka kesembuhan yang sudah lebih diri dari angka kematian semoga menjadi pertanda baik bagi Indonesia. Jika tingkat kesembuhan ini dapat meningkat signifikan dibandingkan tingkat kematian, usainya wabah COVID 19 bukan isapan jempol belaka. Pun terlambat, keseriusan penanganan wabah COVID 19 sudah mulai terlihat. Jika semua pihak menjalankan perannya secara optimal, bukan tidak mungkin virus corona dapat menyingkir lebih cepat daripada berbagai prediksi yang telah muncul. Bahkan di tengah berbagai kebijakan, sikap, dan pernyataan pejabat negara yang kontroversial, bangsa Indonesia tak boleh kehilangan asa. Sebab Allah akan mengikuti prasangka hamba-Nya. Mengangkat musibah adalah mudah bagi-Nya. Tinggal bagaimana kita memantaskan diri untuk memperoleh pertolongan-Nya. Jangan sombong. Terus berikhtiar, bersabar, dan bersyukur. InsyaAllah, musibah akan menjadi hikmah, segera musnah dan berganti berkah. Aamiiin…

Ya Allah, Rabb manusia Yang Menghilangkan kesusahan, berilah kesembuhan, Engkaulah Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR. Bukhari)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>