Category Archives: Artikel Islami

Tarhib Ramadhan Anti-Mainstream

Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa mereka yang kumpulkan (dari harta benda).” (QS. Yunus: 58)

Tak terasa, dalam hitungan hari Ramadhan akan kembali menyapa. Bulan yang penuh berkah dan Rahmat dari Allah SWT. Kaum muslimin pun ramai menyambutnya. Salah satu perwujudannya adalah dengan mengadakan kegiatan Tarhib Ramadhan. Dalam Kamus Al Munawir, kata tarhib berasal dari fi’ilrahiba, yarhabu, rahbun”yang berarti luas, lapang dan lebar. Dan selanjutnya menjadi fi’ilrahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. Menurut Kamus Al-Munjid, kata tarhib merupakan masdar dari akar kata rahaba (menyambut) yang mengandung makna penyambutan. Istilah Tarhib Ramadhan kian populer, bahkan sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akhir pekan lalu saja penulis dapat empat undangan Tarhib Ramadhan yang waktunya bersamaan. Belum ditambah pekan sebelumnya dan pekan ini. Sayangnya, popularitas ini terasa berbanding terbalik dengan esensi dari tarhib itu sendiri. Ya, belakangan ini tarhib semakin terasa hanya sebagai kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kehilangan jati dirinya sebagai salah satu check point Ramadhan.

Eksklusifitas mungkin memang membuat sesuatu lebih terasa spesial dan berkesan. Tapi formalitas Tarhib Ramadhan juga dipengaruhi oleh konten yang kurang variatif. Bisa dibilang hanya pawai Ramadhan yang kreatif dan saling memaafkan yang esensial, selebihnya –terutama kajian dan ceramahnya—nyaris tak ada perubahan dari waktu ke waktu. Ceramahnya tidak jauh-jauh dari dimulai dengan Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, dilanjutkan dengan keutamaan puasa, misalnya dengan hadits “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari – Muslim), kemudian diakhiri dengan bekal yang harus disiapkan mulai dari ruhiyah, fikriyah, jasadiyah hingga maaliyah.

Pengingatan akan bekal Ramadhan bukannya tidak penting. Mempersiapkan bekal bahkan sangat penting. Hanya saja ukuran keberhasilan suatu kegiatan tidaklah diukur hanya dari terselenggaranya kegiatan, atau bahkan banyaknya peserta yang datang. Ada efektifitas kegiatan yang perlu jadi perhatian. Dalam hal ini pengulangan informasi tentang bekal Ramadhan akan kehilangan makna karena pengetahuan akan hal tersebut sudah cukup. Ibarat air dalam wadah yang justru luber karena kebanyakan air. Tidak efektif dan tidak efisien. Butuh kreativitas agar wadahnya semakin membesar. Sehingga dalam konteks efektifitas, memastikan peserta memiliki bekal yang cukup lebih penting dibandingkan menginformasikan bekal yang harus dimiliki, berulang-ulang.

Contoh lebih teknis. Jika fokus Tarhib Ramadhan memastikan peserta memiliki bekal ilmu tentang Ramadhan yang mumpuni, alih-alih menggunakan metode ceramah, metode permainan bisa jadi lebih efektif dan menarik. Sekadar diberikan buku panduan Ramadhan kemungkinan tidak akan dibaca, tapi jika dilombakan maka akan lain ceritanya. Misalnya dengan lomba cerdas cermat setelah sebelumnya peserta diberikan kisi-kisi pertanyaan. Peserta akan aktif mencari informasi akan pengetahuan Ramadhan dibandingkan pasif mendengarkan ceramah. Peserta yang ‘tak ingin menang’ sekalipun akan berusaha untuk ‘tidak memalukan’. Selepas kegiatan, akan lebih banyak bekal ilmu yang diperoleh peserta. Dengan kegiatan yang lebih menyenangkan pula.

Jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal fisik peserta. Sekadar pengetahuan akan pentingnya bekal fisik belum tentu linier dengan bekal fisik yang dimiliki. Akan lebih efektif jika konten tarhibnya berupa pemeriksaan kesehatan. Sambil menunggu jadwal konsultasi kesehatan, ada berbagai media visualisasi tentang berbagai tips sehat selama menjalani ibadah Ramadhan. Misalnya menu sehat sahur dan buka puasa, pengaturan waktu istirahat yang ideal, mengatasi penyakit musiman di bulan Ramadhan, dan sebagainya. Akan lebih baik lagi jika sebelumnya ada penugasan bagi peserta terkait persiapan fisik, sehingga paska kegiatan bekal fisik peserta lebih dapat dipastikan terpenuhi.

Pun demikian jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal ruhiyah atau maaliyah peserta, kontennya bisa menyesuaikan dengan tujuan kegiatan, tidak melulu harus ceramah. Untuk penguatan ruhiyah misalnya, mungkin perlu ada agenda muta’baah dan muhasabah dengan nuansa ruhiyah yang benar-benar dimunculkan. Jauh dari kegaduhan dan mencerahkan. Tarhib Ramadhan juga bisa dikuatkan dengan tips trik yang aplikatif. Misalnya tarhib Ramadhan yang fokus pada tema ‘Ramadhan bersama keluarga’. Kontennya bisa jadi terkait puasa dan pendidikan keluarga, bagaimana mempersiapkan anak untuk berpuasa, silaturahim produktif dan sebagainya. Semakin fokus, semakin efektif. Intinya, selepas tarhib Ramadhan ada nilai tambah yang diperoleh peserta, tidak sekadar menggugurkan kewajiban.

Tarhib Ramadhan sejatinya alur yang tidak terpisah dari pembinaan selama bulan Ramadhan, kecuali jika dilakukan sebatas formalitas. Sebagaimana dalam gerakan senam, perlu ada pemanasan sebelum masuk ke bagian inti (dan pendinginan). Tanpa pemanasan, pesenam akan rentan cidera. Tapi pemanasan yang asal-asalan tidak ada manfaatnya, malah bisa mengganggu keseimbangan tubuh. Ibarat tulisan, pengantar atau pendahuluan ini menjadi penting sebab jika langsung masuk ke bagian isi akan terasa ada sesuatu yang terputus. Tapi pengantar atau pendahuluan yang cuma basa-basi tidaklah sepenting itu. Semoga bekal kita cukup untuk mengarungi samudera Ramadhan. Sehingga kita dapat tiba di tujuan dengan kondisi yang lebih baik. Marhaban Ya Ramadhan.

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Al Qur’an Addict (2/2)

Faktanya, fenomena ketagihan Al Qur’an kerap tak bisa terbendung. Di bulan Ramadhan khususnya, para ulama biasa mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari. Al Aswad bin Yazid mengkhatamkan Al Qur’an setiap dua malam di bulan Ramadhan (biasanya khatam dalam enam malam). Qatadah bin Da’amah biasa mengkhatamkan Al Qur’an dalam sepekan, namun di bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al Qur’an setiap tiga hari, dan di sepuluh malam terakhir Ramadhan ia mengkhatamkan Al Qur’an tiap malam. Ibnu ‘Asakir biasa mengkhatamkan Al Qur’an setiap pekan, namun di bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al Qur’an setiap malam. Bahkan diriwayatkan Imam Syafi’ie biasa mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali di dalam shalatnya.

Dalam konteks kekinian pun dikenal istilah famiybisyauqin yang mengkhatamkan Al Qur’an dalam sepekan. Famiybisyauqin terdiri dari tujuh huruf yang merupakan akronim dari manzil (batas berhenti dan memulai bacaan) setiap harinya, yaitu Al Fatihah, Al Maidah, Yunus, Bani Israil (Al Isra’), Asy Syuara Wa Shaafat, dan Qaf. Jadi untuk khatam dalam sepekan, hari pertama membaca surah Al Fatihah hingga An Nisa, hari kedua membaca surah Al Maidah hingga At Taubah, dan seterusnya sesuai dengan manzilnya, hingga di hari ketujuh membaca surah Qaf sampai khatam di An Naas. Metode famiybisyauqin ini juga biasa diterapkan sebagai wirid harian para penghafal Al Qur’an sehingga mereka bisa khatam muraja’ah Al Qur’an dalam sepekan. Manzil famibisyauqin lebih pas dibandingkan juz yang kadang memotong surah pada ayat yang sebenarnya masih saling berkaitan.

Konon, orang sudah dianggap fasih belajar Bahasa Inggris jika dalam mimpinya pun menggunakan Bahasa Inggris. Bisa jadi demikian dengan Al Qur’an. Barangkali para pecandu Al Qur’an memenuhi mimpinya dengan membaca atau menghapal Al Qur’an. Sehingga jika mengigau atau latahpun yang terucap adalah ayat Al Qur’an. Pun demikian ketika sakaratul maut. Para pecandu Al Qur’an juga akan merasakan sakaw kala lama tidak berinteraksi dengan Al Qur’an. Dan saat itu terjadi, Al Qur’an pun seakan memanggil. Karenanya kita perlu waspada ketika tak hadir kerinduan pun lama tak berinteraksi dengan Al Qur’an. Bukankah rasa rindu menjadi salah satu indikasi perasaan cinta yang mendalam?

Lalu mana yang lebih baik, mendengarkan Al Qur’an atau membacanya? Menghapal Al Qur’an atau mengamalkan isinya? Para pecinta Al Qur’an tidak mengenal dikotomi dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Semuanya saling terkait dan menguatkan. Ibarat sayang anak ya harus mau mendengarkan, berdialog, bercanda, bermain, dan sebagainya. Tidak dikatakan sayang jika hanya mengutamakan salah satunya dengan meninggalkan yang lainnya. Sekali lagi, para pecandu Al Qur’an mencintai Al Qur’an secara menyeluruh, tidak parsial dan dikotomis.

Karenanya, pertanyaan yang lebih esensi adalah apa lagi apologi kita untuk tetap mengabaikan Al Qur’an? Jika kendalanya adalah waktu, sejatinya waktu sudah definitif, setiap orang memiliki jatah waktu yang sama 12 bulan per tahun, 24 jam per hari, 60 detik per menit. Jika sebagian orang mampu menyediakan waktunya untuk Al Qur’an, maka sebagian yang lain juga semestinya mampu. Jika kendalanya adalah banyaknya amanah dan kesibukan, korelasinya adalah dengan bagaimana Al Qur’an kita tempatkan. Prioritas muncul ketika ada benturan dan erat kaitannya dengan bagaimana kita mengelola kesibukan. Dari situ muncul pilihan tentang apa yang akan diprioritaskan dan apa yang akan dikorbankan. Para pecinta sejati tentu akan mengorbankan kenikmatan sesaat mereka demi memperjuangkan cintanya. Misalnya dengan mengurangi jam tidur mereka untuk menambah interaksi dengan Al Qur’an. Jika kendalanya adalah kemampuan, hal tersebut tentu bisa diupayakan secara kontinyu dan bertahap. Jika kendalanya adalah kemauan, mungkin kita perlu bertanya tentang apa salah Al Qur’an? Kenapa ia harus ditelantarkan?

Bagaimanapun Al Qur’an adalah Kalam Allah SWT. Ibarat surat cinta, para pecinta sejati pasti merawatnya sebagai salah satu sarana penting untuk memperoleh cinta. Agar cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Jika shalat adalah momentum bercakap dengan Allah SWT, maka ayat-ayat-Nya adalah bahan percakapan yang sangat disukai-Nya. Dan cinta sama artinya dengan mencintai apa yang dicintai oleh yang dicintai. Karenanya, mencintai Allah SWT menjadi omong kosong tanpa wujud nyata mencintai Al Qur’an. Semakin jauh interaksi seorang manusia dengan Al Qur’an, semakin jauh pula ia dengan Allah SWT. Dan cinta akan mendatangkan ketenangan, serta kenyamanan. Selama kita belum benar-benar merasa nyaman dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, bisa jadi itu sebuah indikasi bahwa kita belum benar-benar mencintai Allah SWT.

Dan cinta bukan sebatas retorika. Butuh pembuktian, butuh pengorbanan. Mungkin butuh paksaan di awal untuk menjadi pembiasaan. Orang yang tak suka membaca, harus tetap membaca Al Qur’an untuk membuktikan cintanya pada Allah SWT. Orang yang merasa memiliki daya ingat yang kurang baik, harus tetap mencoba menghapal Al Qur’an pun hanya satu kalimat. Orang yang merasa belum baik harus berupaya untuk mengamalkan Al Qur’an pun hanya satu ayat. Seorang pecinta akan dihargai dari usahanya, sementara untuk hasil akhir biarlah Allah SWT yang memberikan kemudahan. Kualitas interaksi dengan Al Qur’an penting untuk diperhatikan, soal kuantitas lambat laun akan mengikuti. Nah pertanyaannya, sudahkah kita mencintai Al Qur’an? Apa buktinya? Jika belum, tunggu apa? Terakhir, mengutip kata-kata Ibnu Qayyim dalam Kitab Al Jawab Al Kafi, “Semoga kita menjadi orang yang mencintai Allah dengan membuktikannya lewat mencintai Kalam-Nya yaitu Al Qur’an. Mencintainya berarti rajin membacanya, merenungkannya, menghayatinya, mengimani dan mengamalkan isinya, serta rajin mengambil ibrah dari kisah-kisah di dalamnya”. Aamiiin…

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

Al Qur’an Addict (1/2)

Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Abdullah bin Mas’ud)

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, Hudzaifah r.a. menceritakan pengalaman shalat malamnya bersama Rasulullah SAW. Setelah membaca Al Fatihah, Rasulullah SAW membaca surat Al Baqarah. Menjelang ayat ke-100 Hudzaifah r.a. mengira bahwa setelah ini Rasulullah SAW akan ruku’, ternyata beliau meneruskan bacaannya. Menjelang ayat ke-200 Hudzaifah r.a. mengira bahwa setelah ini Rasulullah SAW akan ruku’, ternyata beliau meneruskan bacaannya. Demikian seterusnya hingga Rasulullah SAW menyelesaikan Surah Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa.Dalam satu raka’at. Dalam hadits tersebut juga disebutkan bahwa lamanya ruku’ beliau sama seperti saat berdiri, dan lamanya sujud beliau sama seperti saat beliau ruku’. Hingga saat ini di Sudan dikenal adanya Qiyam Hudzaifah yang menyelesaikan Al Qur’an Surah Al Baqarah, Ali Imran, dan An Nisa dalam satu raka’at.

Tulisan ini tidak hendak membahas tentang kualitas dan kuantitas shalat kita, namun mari kita bayangkan persistensi kita dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Berapa lama kita merasa nyaman mendengarkan Al Qur’an dalam shalat? Barangkali jika imam membaca satu halaman saja, makmum ramai ‘pura-pura batuk’. Dan esoknya sudah ada kekhawatiran: yah, dia lagi yang jadi imam. Tak heran, masjid atau musholla yang ramai jama’ah shalat tarawih misalnya, biasanya karena bacaan imamnya cepat. Tak sampai satu menit, cukup satu hembusan nafas. Lebih cepat, lebih baik, dan lebih banyak peminat. Atau di luar shalat, berapa lama kita mampu bertahan tilawah? Ketika tiba-tiba rasa kantuk menyerang, dan waktu pun seolah terasa lama. Tanpa sadar, kita berhenti membaca dan mulai menghitung jumlah halaman yang sudah dibaca. Banyak sedikitnya bacaan mungkin relatif, namun kekurangnyamanan itu jelas dirasakan. Ada kekhusyu’an yang berat dipertahankan.

Mengapa waktu terasa begitu cepat ketika kita mendengarkan musik atau menonton film yang kita sukai? Karena jiwa kita menikmatinya. Rasa kantuk dan bosan mudah menyerang aktivitas yang kurang atau tidak dinikmati. Hal itu pula yang menjelaskan mengapa banyak orang yang tahan menonton pertandingan bola dua jam atau berjam-jam memancing ikan di kolam. Ya karena mereka menikmatinya. Kecepatan baca kita pun meningkat ketika membaca komik atau novel yang disukai. Semuanya selesai dalam waktu singkat. Lalu coba bayangkan kecintaan Hudzaifah r.a. mendengarkan bacaan Al Qur’an lebih dari lima juz dalam satu raka’at. Tak perlu bayangkan beratnya, karena semua menjadi ringan ketika kita menikmati prosesnya.

Kesulitan yang kita rasakan untuk merasa nyaman berinteraksi dengan Al Qur’an di antaranya disebabkan karena kita belum menemukan ketertarikan dengan Al Qur’an. Padahal Allah SWT telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari, untuk dinikmati. Bahkan dalam Surah Al Qamar, Allah SWT empat kali mengatakan, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. Al Qur’an turun di kala Bangsa Arab tengah menggandrungi syair dan sastra. Nyatanya bahasa Al Qur’an menjadi daya magnet yang luar biasa kala itu. Tidak sedikit shahabat yang masuk Islam hanya karena mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an, di antaranya Umar bin Khattab yang mendengarkan Al Qur’an Surah Thoha. Bahkan dikisahkan, para dedengkot musuh Islam kala itu seperti Abu Lahab dan Abu Jahal, diam-diam mencuri dengar pembacaan ayat Al Qur’an. Fitrah mereka tertarik dengan AlQur’an, pun kesombongan mereka mengingkarinya.

Ada sebagian orang yang tertarik dengan Al Qur’an karena berbagai inspirasi di dalamnya, termasuk hikmah dan ilmu pengetahuan. Beberapa orang membuka Al Qur’an di sembarang tempat ketika tertimpa masalah, dan secara ‘kebetulan’ surah atau halaman yang dibuka akan menyediakan jawaban atas permasalahan mereka. Sayangnya, bukan begitu karakteristik para pecinta Al Qur’an. Mereka tulus mencintai Al Qur’an secara keseluruhan. Bukan karena satu dua ayat yang menjadi sumber ketertarikan, apalagi hanya mendatangi Al Qur’an di saat butuh inspirasi ataupun jawaban atas berbagai permasalahan hidup. Para pecinta Al Qur’an ini menjadikan Al Qur’an sebagai candu di setiap bagiannya.

Perwujudan Al Qur’an Addict ini bisa dilihat di bulan Ramadhan, dimana sejak selepas shubuh, seusai zhuhur bahkan hingga setelah shalat tarawih di malam hari begitu banyak orang yang membaca Al Qur’an. Sebagian orang bahkan berlomba-lomba mengkhatamkan Qur’an. Namun para pecinta Al Qur’an sejati tidak mengenal sekat waktu bernama Ramadhan. Ketagihan berinteraksi dengan Al Qur’an mengisi hari-hari mereka. Dalam berbagai riwayat dikisahkan suatu ketika Abdullah bin Amr r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW tentang lama waktu mengkhatamkan Al Qur’an. Rasulullah SAW awalnya menjawab satu bulan, namun Abdullah bin Amr r.a. terus mengatakan bisa lebih kuat dari itu sehingga Rasulullah SAW akhirnya bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari”.

(bersambung)

Monitoring dan Evaluasi Produktif (2/2)

Burung Hud-hud pun bercerita panjang lebar tentang negeri Saba’ yang penduduknya menyembah matahari dan dipimpin oleh seorang wanita (QS. An Naml: 22 – 26). Laporan yang detail disampaikan Hud-hud sebagai jawaban atas ketelitian Nabi Sulaiman a.s. Hikmah ketiga dalam melakukan monev efektif adalah dengan memperhatikan hal-hal detail. Hal-hal yang umum tampak akan terlihat lumrah, bahkan bisa ‘dikondisikan’ sehingga terlihat baik. Karenanya Rasulullah SAW mengevaluasi sahabat hingga amalan spesifik, karenanya Umar r.a. melakukan monitoring hingga ke pelosok-pelosok. Sehingga menjadi lumrah ketika menilai kebersihan sebuah rumah misalnya, bukan dilihat dari tampilan luar, melainkan harus dilihat bagaimana dapur dan kamar mandinya, bahkan perlu diperiksa apakah ada debu di perabotan rumahnya.

Menariknya, Nabi Sulaiman a.s. tak lantas meng-iya-kan laporan dari Hud-hud. Beliau akan memeriksa kebenarannya terlebih dahulu (QS. An Naml: 27) dan menugaskan Hud-hud untuk menindaklanjuti temuan tersebut (QS. An Naml: 28). Hikmah keempat dalam melakukan monev efektif adalah memverifikasi temuan. Triangulasi temuan menjadi perlu sebab perspektif manusia beragam, belum lagi karakter manusia juga berbeda-beda, ada yang suka mengeluh, ada yang gemar melebih-lebihkan, ada pula yang terlalu tawadhu. Pembuatan keputusan ataupun aksi tindak lanjut monev sangatlah ditentukan oleh kesahihan temuan, karenanya konfirmasi begitu penting agar tidak ‘salah obat’.

Jalur diplomasi pun ditempuh, mulai dengan pengiriman surat dan memberikan kesempatan bagi Ratu Negeri Saba untuk mendiskusikannya beserta para punggawanya (QS. An Naml: 28 – 35). Ada tahapan dalam melakukan perbaikan, termasuk pelibatan pihak yang dimonev untuk berpikir dan bersikap. Inilah hikmah kelima, memberikan ruang untuk introspeksi, berdiskusi dan menyikapi temuan monev menjadi penting agar hadir kepemilikan terhadap tindakan perbaikan yang diharapkan akan terealisasi. Sikap langsung memberikan umpan balik yang spesifik justru terkesan menghakimi dan meniadakan berpikir kritis yang akan mengeliminasi tumbuhnya kesadaran. Akan lebih baik lagi jika solusi lahir dari wawas diri pihak yang dimonev, komitmen perbaikan tentu akan lebih kuat.

Hal yang cukup menonjol dari surat yang dikirim Nabi Sulaiman a.s. adalah diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim dan berisi ajakan untuk tunduk memeluk Islam (QS. An Naml: 30 – 31). Ada misi perbaikan yang diusung sebagai hikmah keenam. Monev harus didasari keikhlasan untuk melakukan perbaikan dengan rangkaian aktivitas yang penuh kebaikan. Salah satu nilai kebaikan yang harus melekat dalam aktivitas monev adalah integritas. Integritas inilah yang membuat Nabi Sulaiman a.s. menolak harta yang dihadiahkan kepadanya (QS. An Naml: 35 – 37). Integritas inilah yang menjadi hikmah ketujuh. Penilaian hasil monev tidak seharusnya terganggu oleh jamuan yang dihidangkan atau pun akomodasi yang disediakan, apalagi dipengaruhi oleh agenda jalan-jalan yang difasilitasi. Semangat perbaikan yang penuh berkah harusnya dirawat dengan niat baik dan proses yang baik pula.

Setelah itu Nabi Sulaiman a.s. berdiskusi dengan para pembesarnya untuk merumuskan rencana aksi selanjutnya. Beliau menawarkan kepada para pembesarnya fastabiqul khairat untuk memindahkan singgasana Ratu Saba (QS. An Naml: 38 – 40). Hikmah kedelapan itu adalah musyawarah. Sehebat apapun figur individu, akan lebih efektif dan penuh keberkahan segala sesuatu yang diputuskan melalui musyawarah. Hasil keputusan akan lebih ringan untuk dilaksanakan dengan komitmen bersama. Musyawarah juga akan meminimalisir perkara-perkara yang luput karena keterbatasan perseorangan. Dan musyawarah akan memunculkan potensi-potensi untuk berkontribusi melakukan perbaikan.

Strategi menarik yang digunakan Nabi Sulaiman a.s. untuk mengokohkan keimanan Ratu Saba adalah dengan memberikan semacam studi kasus yang menunjukkan keterbatasan Ratu Saba sebagai hamba Allah. Pertama, setelah singgasana Ratu Saba dipindahkan, Nabi Sulaiman a.s. memerintahkan punggawanya untuk mengubahnya, untuk melihat apakah Ratu Saba mengenalinya atau tidak. Ratu Saba tentu terkejut mendapati Nabi Sulaiman a.s. memiliki singgasana yang serupa dengan miliknya (QS. An Naml: 41 – 42). Kedua, lantai istana yang dibuat seperti kolam air semakin menghadirkan kesadaran Ratu Saba bahwa kekuasaan dirinya tak ada apa-apanya. Ia pun lantas mengakui kebesaran Allah SWT (QS. An Naml: 43). Strategi pemberian contoh dan studi kasus ini memperkuat hikmah kelima mengenai pentahapan dan pelibatan secara lebih teknis. Karena sebaik-baik perbaikan hendaknya dimulai dari kesadaran dan pemahaman, bukan karena paksaan. Semakin jelas gambaran perbaikan yang disadari perlu dilakukan, semakin besar pula potensi perubahan yang akan terjadi.

Hikmah terakhir yang tidak dapat luput dari kisah Nabi Sulaiman a.s. adalah senantiasa bersyukur. Dengan segala kekuasaannya, Nabi Sulaiman a.s. tidak pernah lalai dalam bersyukur. “…Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku adalah al-Ghaniy (Maha Kaya), lagi al-Karim (Maha Mulia)” (QS. An Naml: 40). Jika tidak ada temuan mayor dalam aktivitas monev, maka hal tersebut perlu disyukuri. Pun bila ada temuan penting juga perlu disyukuri karena hal tersebut berarti membuka peluang untuk improvement. Masalah kesyukuran ini juga terkait dengan motivasi untuk melakukan perbaikan karena syukur akan berbanding lurus dengan nikmat yang Allah SWT berikan. Termasuk nikmat ditunjukkan kekurangan untuk bisa diperbaiki, nikmat untuk bisa membenahi diri, dan nikmat untuk dapat terus bersyukur.

Jadi jika aktivitas monev hanya jadi rutinitas tanpa pemaknaan mendalam ataupun belum menghasilkan perbaikan seperti yang diharapkan, bisa jadi ada yang salah dalam pemahaman, niat awal, proses yang dilakukan, atau pun penyikapan yang keliru terhadap temuan. Kisah monev ala Nabi Sulaiman a.s. banyak memberi inspirasi tentang menjalani monev secara efektif, mulai dari konsistensi hingga rasa syukur yang hendaknya menyertai setiap aktivitas monev. Dan ada baiknya juga jika inspirasi ini juga menggerakkan setiap kita untuk senantiasa memonitoring dan mengevaluasi diri. Senantiasa mencoba menjadi pribadi yang lebih baik setiap saatnya sebelum hari dimana amalan manusia akan dievaluasi langsung oleh Allah SWT.

…Wahai Rabbku, perkenankanlah aku untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu (Allah) yang telah Engkau  anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih
(QS. An Naml: 19)

Monitoring dan Evaluasi Produktif (1/2)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)

Dalam catatan sejarah, shalat Jum’at dengan jama’ah terbanyak pernah terjadi pada tahun 1453 sekitar 1,5 km di depan benteng Konstantinopel. Sejarah juga mencatat kisah inspiratif di balik terpilihnya Sultan Muhammad sebagai imam shalat dengan jama’ah sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn tersebut. Awalnya, tidak ada yang berani menawarkan diri hingga Sultan Muhammad meminta seluruh kaum muslimin yang hadir saat itu untuk berdiri seraya berkata, “Siapa di antara kalian yang sejak akil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!”. Ternyata tak seorang pun yang duduk. Sultan Muhammad kemudian melanjutkan, “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunnah sekali saja silakan duduk!”. Sebagian kaum muslimin pun duduk. Beliau pun melanjutkan, “Siapa diantara kalian yang sejak masa akil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!”. Semua kaum muslimin pun duduk kecuali Sultan Muhammad –yang bergelar Al Fatih setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel—yang tidak pernah meninggalkan shalat malam dan kemudian dipilih sebagai imam.

Di luar dari inspirasi keteladanan seorang Muhammad Al Fatih, kisah di atas juga menunjukkan pentingnya evaluasi sebagai dasar pembuatan keputusan. Sudah banyak referensi tentang definisi, urgensi, variasi hingga tahapan implementasi dalam monitoring dan evaluasi yang biasa disingkat monev. Sayangnya, berbagai teori tersebut tidak lantas memberikan gambaran utuh tentang monev yang efektif. Jika kita mencermati Deming Cycle atau siklus PDCA misalnya, tahapan Check memegang peranan penting dalam melahirkan suatu perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement). Dalam konsep POAC atau POACE misalnya, Control dan Evaluation menjadi salah dua fungsi utama dalam manajemen yang tak tergantikan. Hal ini menegaskan pentingnya monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan suatu program atau kegiatan.

Ada motivasi dan inspirasi perbaikan yang menyertai aktivitas monev. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah melakukan inspeksi mendadak (sidak) saat berkumpul bersama para shahabat selepas shalat subuh. Kala itu, hanya Abu Bakar As-Siddiq r.a. yang didapati tengah berpuasa, sudah menjenguk orang sakit dan bersedekah sepagi itu sehingga Rasulullah SAW menggembirakannya dengan balasan surga. Evaluasi yang sangat memotivasi sahabat lainnya. Evaluasi juga beliau lakukan dalam berbagai kesempatan mulai dari bacaan Al Qur’an, pemahaman agama, hingga dalam pemilihan duta dakwah dan pasukan perang. Pentingnya evaluasi ini juga tercermin dari sabda Rasulullah SAW, “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Tirmidzi).

Adapun monitoring telah dicontohkan Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. jauh sebelum istilah blusukan dikenal. Ada berbagai kisah inspiratif dari aktivitas monitoring yang dilakukan Khalifah Umar r.a. Salah satu yang dikenal adalah kisahnya dengan janda yang memasak batu untuk membuat anaknya tertidur sehingga Umar r.a. langsung memikul karung gandum, menyerahkannya kepada janda tersebut, bahkan memasakkannya untuk makan anak dari perempuan tua tersebut. Ada berbagai kisah blusukan Umar Al Faruq lainnya, di antaranya dengan perempuan tua yang buta, dengan ibu yang hendak menyapih anaknya ataupun dengan ibu yang hendak melahirkan. Kisah lain yang juga masyhur adalah monitoring yang mengantarkan Umar memperoleh menantu. Muraqabatullah yang ditunjukkan seorang gadis penjual susu yang menolak permintaan ibunya untuk mencampur susunya dengan air, menjadi penyebab Khalifah Umar menikahkan anaknya dengan gadis tersebut. Monitoring yang berkah. Apalagi dari pernikahan tersebut kelak lahir Ibunda dari sosok Umar bin Abdul Aziz yang melegenda.

Monitoring dan evaluasi dapat menghadirkan banyak inspirasi perbaikan asalkan dilakukan tidak sekadar rutinitas, formalitas, apalagi hanya untuk menggugurkankewajiban sekaligus jalan-jalan. Agenda monev juga dapat berujung pada perbaikan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya ketika ada tindak lanjut konkret yang menyertai implementasi monev. Salah satu kisah monev penuh hikmah dapat kita temui dalam kisah Nabi Sulaiman a.s. yang cukup panjang dituturkan dalam Al Qur’an Surah An Naml. Nabi Sulaiman a.s. dikaruniai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan (QS. An Naml: 15), bahkan memahami bahasa binatang (QS. An Naml:16) dan menjadi pemimpin bagi para jin dan manusia. Nabi Sulaiman a.s. biasa mengatur dengan tertib tentaranya dari para jin, manusia dan burung (QS. An Naml: 17), hingga suatu ketika beliau tidak menemukan Hud-hud di barisan burung (QS. An Naml: 20).

Hikmah pertama dari monev ala Nabi Sulaiman a.s. adalah konsistensi dalam mengevaluasi. Tanpa konsistensi dan mengenal benar personil yang dibawahinya, tidak mungkin akan terdeteksi ketidakhadiran seekor burung kecil dengan jambul ini. Konsistensi ini juga ditunjukkan Rasulullah SAW dalam mengevaluasi para sahabat, serta Umar bin Khattab r.a. dalam melakukan monitoring ke warganya. Konsistensi ini bukan berarti tidak melakukan inspeksi mendadak (sidak), namun menunjukkan ada kesinambungan proses monev yang dilakukan. Bukan hanya saat ada kepentingan untuk memenuhi dokumen audit atau sertifikasi, misalnya. Atau sekadar aktivitas mendadak di akhir tahun saat serapan anggaran tidak terlalu baik, misalnya. Konsistensi ini erat kaitannya dengan pemahaman utuh akan urgensi monev, termasuk sebagai upaya menghadirkan perbaikan berkesinambungan.

Konsistensi ini juga terkait dengan ketegasan terhadap aturan main, karenanya Nabi Sulaiman a.s. tak segan untuk menghukum Hud-hud yang mangkir (QS. An Naml: 21). Namun hukuman tidak serta merta diberikan tanpa memberi kesempatan kepada Hud-hud untuk memberikan penjelasan, bahkan pembelaan. Disini ada hikmah kedua aktivitas monev, setegas apapun ketentuan yang diterapkan, tetap perlu dibuka ruang diskusi agar tak sekadar menghakimi. Perlu ditegaskan bahwa esensi monev bukanlah mencari kesalahan, namun mencari peluang perbaikan. Istilahnya ‘tegas namun santun’. Karena ketegasan dan kesantunan bukanlah dua perkara yang layak didikotomikan.

(bersambung)

Karakter Kepemimpinan ala Najmuddin

Rasulullah, kesempurnaan pribadimu tak henti dipujikan. Para sahabat pun musuhmu jua mengakui segala kelebihanmu. Liputan zaman dan kurun waktu, berkisah keluhuran budi pekertimu. Dalam dirimu terhimpun segala keutamaan insan mulia…” (‘Rasulullah’, Najmuddin)

Ada hal yang menggelitik ketika penulis mencoba menyelami konsep ‘kepemimpinan kenabian’ dalam beberapa buku referensi. Ada perbedaan yang cukup signifikan mengenai model kepemimpinan masing-masing nabi, tak ada standar baku. Inspirasi kepemimpinan Nabi Nuh a.s. yang gigih berdakwah hingga 950 tahun jelas berbeda dengan inspirasi kepemimpinan Nabi Yunus a.s. yang justru memperoleh banyak hikmah akibat ketidaksabarannya dalam berdakwah. Namun menjadikan kepemimpinan Nabi Nuh a.s. sebagai model terbaik juga tidak tepat. Dalam hal sederhana, misalnya tentang dakwah keluarga saja, tentu kita tidak dapat mengambil teladan dari Nabi Nuh a.s. Pun demikian jika kita coba membandingkan inspirasi kepemimpinan Nabi Sulaiman a.s. dengan segala kedigjayaannya dengan Nabi Musa a.s. yang kala itu justru tengah menggugat penguasa. Pada akhirnya, model kepemimpinan yang utuh baru akan kita dapati dalam lembar sejarah kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah SAW adalah pribadi paripurna yang menyempurnakan model kepemimpinan para nabi sebelumnya. Karenanya kita bisa meneladani banyak hal dari beliau termasuk yang terkait dengan keistimewaan Nabi-nabi sebelumnya. Misalnya tentang kesabaran berdakwah ala Nabi Nuh a.s, mencari dan memperjuangkan kebenaran ala Nabi Ibrahim a.s., kelapangan dada ala Nabi Yusuf a.s., keberanian revolusioner ala Nabi Daud a.s., dan sebagainya. Keteladanan Rasulullah SAW juga dikuatkan dengan berbagai dalil, bahkan dari testimoni orang-orang non muslim. Jika ada hal yang belum disepakati, itu adalah berkenaan dengan karakter utama keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW, karena ternyata shiddiq, fathonah, amanah, dan tabligh belum cukup lengkap untuk menggambarkan keteladanan kepemimpinan beliau.

Dalam sebuah nasyidnya, Najmuddin menggambarkan tentang berbagai keutamaan Rasulullah SAW yang secara sederhana terbagi dalam tiga bagian: Rasulullah SAW sebagai individu, sebagai hamba Allah, dan sebagai pemimpin. Dalam kaitannya Rasulullah SAW sebagai individu, Najmuddin mengungkapkan, “Tinta emas sejarah telah mencatat rapi keagungan budi perkerti. Kecerdasan fikiran, keutuhan pribadi, Rasul muara teladan suci”. Ada empat karakter penting individu yang perlu dimiliki: akhlak mulia, cerdas, integritas, dan keteladanan. Jika kita coba menyelami lembar demi lembar sirah Rasulllah SAW, kita akan mendapati keempat karakter ini senantiasa melekat dalam diri Rasulullah SAW sejak beliau muda. Reputasi beliau pun terbentuk karena berbagai keutamaan ini. Tidak hanya di mata manusia, tetapi juga mulia di mata Allah SWT. “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al Qalam: 4).

Hamba Allah yang taat tawadhu, penyempurna risalah Allah yang suci. Pancaran pribadi agung nan tinggi, berikan teladan suci bagi insani”, begitu ungkap Najmuddin selanjutnya. Ada empat karakter penting sebagai hamba Allah: ta’at, tawadhu, gigih berdakwah, dan menenteramkan hati. Konsekuensi manusia sebagai hamba adalah ketundukan sepenuhnya kepada Allah SWT, dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Penghambaan juga menghancurkan kesombongan hingga tidak ada benih sekecil apapun. Namun perwujudan jati diri manusia sebagai hamba Allah tidak cukup hanya sampai pada dirinya, melainkan perlu disampaikan kepada orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun keteladanan. “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Adapun terkait Rasulullah SAW sebagai pemimpin, Najmuddin mengatakan, “Pemimpin manusia bijak bersahaja, teguh berpegang pada kebenaran. Gigih menegakkan tonggak keadilan, berikan sentuhan yang mengagumkan. Dirimu telah tundukkan kepalsuan duniawi ‘tuk tuju surga yang abadi. Risalah yang kau sampaikan jaminan pembawa Rahmat bagi alam semesta”. Ada enam karakter kepemimpinan Rasulullah SAW: bijaksana, bersahaja, istiqomah, persisten, inspiratif, dan visioner. Fondasi dari karakter kepemimpinan ini adalah karakter personal dan karakter hamba, sehingga pemimpin tetap harus berakhlak mulia, cerdas, memiliki integritas dan keteladanan, ta’at kepada Allah SWT, rendah hati, menyebarkan kebaikan, dan mampu menyentuh hati.

Kebijaksanaan menjadi karakter penting bagi seorang pemimpin karena jihadnya seorang pemimpin adalah melalui kebijakannya. Kesederhanaan juga biasa melingkupi kehidupan para pemimpin besar sebab fitnah kepemimpinan sudah terlalu besar tanpa harus ditambah dengan gaya hidup glamour. Pemimpin yang kuat adalah yang punya sikap dan tegas dalam membuat keputusan. Pemimpin juga harus memberi teladan dan inspirasi, yang akan mempererat kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Menunjukkan arah tujuan beserta jalannya, sekaligus orang pertama yang memulai melangkah untuk sampai ke tujuan. Dan pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menundukkan berbagai fitnah kepemimpinan, termasuk menundukkan dirinya sendiri.

Rasulullah SAW ibarat telaga yang sangat luas dan dalam. Mengambil air ibrah darinya serasa tak ada habisnya. Karenanya, berbagai inspirasi itu sebaiknya segera diinternalisasi, beberapa pembelajaran tersebut seyogyanya dapat langsung diamalkan. Karena domain karakter kepemimpinan adalah domain amal, bukan sekadar pengetahuan, apalagi cuma hapalan. Kita memang bisa mengambil ibrah kepemimpinan dari siapa saja, namun jangan lupakan sudah ada manusia paripurna yang menjadi uswatun hasanah bagi seluruh umat manusia. Semoga kita benar-benar apat menunjukkan kecintaan kita pada Rasulullah Muhammad SAW dengan meneladani beliau dalam diamnya ataupun bicaranya, dalam perkataannya ataupun perilakunya.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab: 21)

Membina Pejuang Ekonomi Syariah

Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”
(
QS. Al Hasyr: 7)

Dalam satu dasawarsa terakhir, angka indikator kesenjangan (koefisien gini) Indonesia meningkat tajam dari sekitar 0,3 menjadi 0,4. Bahkan berdasarkan survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, Indonesia menempati posisi ke-4 negara dengan disparitas kekayaan tertinggi. Dengan kondisi 1% orang terkaya menguasai 49,3% kekayaan nasional, Indonesia hanya lebih baik dari Rusia, India dan Thailand. Total dana bank di Indonesia didominasi oleh pemilik rekening di atas Rp 2 miliar yang tersebar dalam 0.12% jumlah rekening. Sementara hampir 98% jumlah rekening di bank dimiliki oleh nasabah dengan jumlah tabungan di bawah Rp 100 juta. Ketimpangan ini sulit diurai karena banyak ditentukan oleh hal-hal yang di luar kendali pihak yang lemah secara ekonomi. Jadi bukan sekadar butuh kerja keras untuk mengatasi kesenjangan pendapatan, namun juga perlu upaya untuk mengatasi ketimpangan peluang. Berdasarkan penelitian Bank Dunia, sepertiga dari ketimpangan di Indonesia disebabkan oleh empat faktor pada saat seseorang lahir, yaitu provinsi tempat lahir, tempat lahir di desa atau di kota, peranan kepala keluarga, dan tingkat pendidikan orang tua.

Data BPS menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat lebih dari kali lipat dalam rentang tahun 2004 – 2013 dan jumlahnya lebih dari sepertiga total PDB Negara-negara ASEAN. Ekonomi Indonesia terus tumbuh tidak merata. Sekitar 10% masyarakat terkaya di Indonesia menambah konsumsi mereka sebesar 6% per tahun, setelah disesuaikan dengan inflasi. Sementara 40% masyarakat termiskin, tingkat konsumsi mereka tumbuh kurang dari 2% per tahun. Di tengah peliknya permasalahan kesenjangan inilah, ekonomi Islam –yang di Indonesia lebih populer dengan istilah ekonomi syariah– mulai bangkit menjadi solusi pengganti atas kebobrokan sistem kapitalisme yang mendukung monopoli termasuk dalam pemilikan umum (public property) seperti sumber daya alam dan komoditas strategis sehingga akumulasi kekayaan hanya bertumpuk di segelintir orang.

Dalam pandangan Ekonomi Islam, negara harus menjamin pemenuhan kebutuhan pokok (pangan, papan, sandang, kesehatan, pendidikan, dan keamanan). Jika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya dan keluarganya, kewajiban itu beralih kepada kerabatnya mulai yang terdekat. Jika tidak mencukupi, diambilkan dari harta zakat. Jika belum mencukupi, kewajiban itu beralih ke negara, yakni wajib atas Baitul Maal memenuhinya. Negara bisa memberikannya dalam bentuk harta secara langsung maupun dengan memberi pekerjaan. Sederhananya lagi, ekonomi Islam membolehkan transaksi dalam muamalah selama tidak dilarang. Pelarangan ini sebenarnya merupakan upaya menjaga keadilan. Perkara yang dilarang di antaranya transaksi barang haram, penipuan, ketidakpastian (pada hal yang seharusnya bisa dipastikan), manipulasi, riba, suap, judi, tidak terpenuhinya rukun dan syarat sahnya akad, zalim, dan maksiat. Lebih manusiawi dan beradab.

Sejak geliat kebangkitannya di penghujung abad ke-20, Ekonomi Syariah di Indonesia menghadapi banyak tantangan, baik dari dalam maupun dari luar, dan belum jua berhasil mengalahkan sistem konvensional yang beraroma kapitalis, menyamainya pun bahkan belum. Lembaga keuangan syariah terus berkembang, namun belum sepenuhnya bisa terlepas dari cengkeraman sistem perekonomian ‘campuran’ yang ada di Indonesia. Ada sebagian yang idealis namun tidak realistis, ada pula yang skeptis namun tidak memberikan solusi. Sebagian lainnya masih meyakini potensi besar kejayaan ekonomi Islam di Indonesia berdasarkan pertimbangan dalil agama ataupun sudut pandang manajemen. Sosialisasi, promosi, permodalan dan pengelolaan aset, perluasan wilayah, hingga variasi dan inovasi produk menjadi evaluasi atas lambatnya laju pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.

Sayangnya, tidak banyak yang mencermati bahwa faktor penentu maju mundurnya suatu peradaban adalah manusianya. Mungkin ada yang menyadari bahwa SDM pengusung kebangkitan ekonomi syariah perlu dipersiapkan lebih baik lagi, namun tak banyak yang serius mempersiapkannya. Pendidikan dan pembinaan adalah instrumen utama untuk membentuk para pejuang ekonomi syariah di masa depan. Ya, visinya harus jauh ke depan sebab peradaban tidaklah dibangun dalam hitungan tahun. Pemerataan kesejahteraan juga menjadi masalah jangka panjang. Dan artinya, yang perlu dipersiapkan adalah sekelompok pemuda yang kelak akan menjadi pemimpin umat dan dunia di masa mendatang.

Pembinaan para pejuang ekonomi syariah harus dilakukan dengan serius sebab upaya untuk menghancurkan bangunan ekonomi Islam juga telah lama dilakukan dengan serius. Apalagi target pembinaannya bukan sekadar kepakaran, tetapi kepemimpinan yang akan mengusung penerapan ekonomi Islam sebagai jalan kesejahteraan dan keberkahan bagi seluruh manusia. Hanya pembinaan yang berkualitas lah yang dapat menghasilkan sosok-sosok seperti Utsman bin Affan r.a., Abdurrahman bin Auf r.a. atau Umar bin Abdul Aziz yang terus menginspirasi. Butuh pembinaan yang komprehensif untuk menghasilkan tokoh-tokoh seperti Abu Ubaid, Abu Yusuf, Ibnu Taimiyah atau Ibnu Khaldun beserta pemikirannya. Para pelopor ekonomi syariah seperti Umer Chapra, Adiwarman Azwar Karim, Ma’ruf Amin atau M. Syafi’i Antonio juga tidak muncul tiba-tiba, ada proses panjang yang menyertainya.

Materi pokok dalam pembinaan pejuang ekonomi syariah justru terletak pada aspek non keuangan. Penanaman nilai tentang kejujuran dan kedermawanan misalnya, jauh lebih penting dibanding sebatas pengetahuan akan strategi dan inovasi produk perbankan syariah. Adab dan akhlak menjadi fondasi yang akan mengokohkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Syarat lain yang diperlukan untuk menyongsong kebangkitan ekonomi Islam adalah dengan satu strategi kunci: sinergi. Potensi umat Islam di Indonesia sangatlah berlimpah namun belum bisa menjadi kekuatan dan keunggulan ketika masih terserak. Merajut sinergi menjadi sangat fundamental, dimana setiap komponen dapat memberikan sumbangsih terbaiknya untuk mewujudkan cita bersama. Dalam sinergi saling melengkapi, ada optimalisasi potensi kebaikan yang dapat dilipatgandakan.

Pernah ada suatu masa, kas di baitul maal berlimpah, tidak ada masyarakat yang mau dan layak menerima zakat hingga harus didistribusikan ke negeri tetangga. Utang pribadi dan biaya pernikahan pun ditanggung kas Negara. Bahkan dikisahkan serigala dan domba dapat hidup berdampingan kala itu. Ya, sebuah potret kesejahteraan yang merata pernah hadir di masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Jika sejarah memang berulang, bukan sebuah utopis masa itu akan kembali hadir, dengan sosok pahlawan yang berbeda tentunya. Asa kebangkitan (Ekonomi) Islam itu selalu ada. Sekarang tinggal bagaimana kita mengambil sikap dan peran. Ketidakpedulian dan ikut-ikutan tentu bukan pilihan bijak. Pilihannya tinggal: akankah kita ada di barisan pejuang, atau ada di barisan pembina para pejuang, atau keduanya? Apapun pilihannya, semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita tetap pada jalan perjuangan yang diridhai-Nya.

…Dan masa (kejadian dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 140)

Dakwah, Keteladanan dan Kemanusiaan

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung
(QS. Ali Imran: 104)

Ayat di atas merupakan salah satu ayat yang memuat kewajiban untuk berdakwah. Para da’i dan mubaligh tentunya familiar dengan ayat tersebut. Namun satu hal yang berlu dicermati adalah kata “yad’una ilal khair” atau menyeru kepada kebaikan, dan bukan “yad’una ilallah” atau menyeru kepada Allah. Hal ini menunjukkan adanya dimensi keteladanan dan kemanusiaan yang menjadi prioritas dalam berdakwah. Demikian sepenggalan sharing session dari Dr. Hamid Slimi, Ketua Dewan Imam Masjid di Kanada asal Maroko dalam kegiatan Cordofa Islamic Conference (CIC) 2016 yang membahas tentang dinamika dakwah dan kebebasan beragama bagi WNI di luar negeri.

Service to humanity is service to Allah”, demikian ungkap Dr. Slimi. Menurutnya, dakwah Islam di Indonesia jauh berbeda bila dibandingkan dakwah Islam di Negara mayoritas nonmuslim dimana diskriminasi dan perbuatan tak menyenangkan lainnya begitu mudah menimpa umat Islam, terutama yang menampakkan simbol keislaman, mulai dari nama hingga pakaian. Ditambah lagi, media-media asing kerap memberi citra negatif terhadap Islam dan umat Islam. Karenanya dakwah dengan menunjukkan keteladanan, kesantunan dan kebaikan hati terhadap umat manusia, tidak hanya ke sesama muslim, lebih efektif dalam meluruskan pemahaman tentang Islam. Dibandingkan berkoar-koar mengklaim diri lebih baik seraya sibuk mencari kesalahan umat lain.

Da’watunnas ilallah bil hikmah wal mau’izhatil hasanah hatta takfuru biththaghut wayu’minu billah liyukhriju minazh zhulumatil jahiliyah ila nuril Islam. Begitu definisi dakwah yang selama ini saya pahami. Ternyata fokus ke what dan why yang menguatkan goals (kepada Allah), output (mengingkari thaghut dan hanya beriman kepada Allah) dan outcome (mengeluarkan dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam) tidaklah cukup. Tauhid memang fondasi, namun who (menjadikan manusia sebagai objek dakwah, bukan cuma muslim) dan how (dengan hikmah dan pelajaran yang baik) juga layak diperhatikan. Bahkan jika perintah dakwah dalam surah Ali Imran ayat 104 di atas menggambarkan sebuah urutan, maka keteladanan, hikmah dan perbuatan baik harus lebih dulu dilakukan sebelum amar ma’ruf nahi munkar. Dan ma’ruf yang paling utama adalah tauhid.

Keteladanan, kebaikan dan kemanusiaan akhirnya menjadi bahasa dakwah yang dapat dipahami dan diterima semua golongan. Dalam Al Qur’an terdapat surah Al Insan (manusia) yang sarat dengan nilai kemanusiaan. Dalam ayat ke 8 – 11 Surah ke 76 tersebut, Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan (sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.” Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan”.

Dakwah dengan memberi dan melayani sebelum menyeru dan menyampaikan ini menjadi penting terutama di lingkungan yang heterogen, banyak masyarakat awam, atau bahkan dimana muslim menjadi minoritas. Bagaimanapun perbuatan dan kontribusi nyata lebih menimbulkan kesan kuat dibandingkan sekedar kata dan wacana. Bisa dibayangkan sulitnya mendakwahkan Islam kepada mereka yang kebutuhan dasarnya saja belum terpenuhi. Aksi nyata seorang muslim dalam membantu menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan riil tentu akan menjadi metode dakwah yang lebih efektif. Dakwah seperti inilah yang menginspirasi banyak manusia. Lihat bagaimana Rasulullah SAW masih dipercaya menjaga barang-barang kaum kafir Quraisy, atau bagaimana beliau menjenguk orang yang senantiasa melemparinya dengan kotoran, atau bagaimana beliau melayani makan wanita Yahudi buta yang selalu mencelanya. Tidak salah organisasi sebesar Muhammadiyah mengusung teologi Al Ma’un yang kental nilai kemanusiaan. Tidak heran masyarakat nonmuslim di berbagai Negara mendukung isu keumatan yang dilabeli isu kemanusiaan. Akan jauh berbeda jika fokus dakwah ada di ranah halal haram, jihad, apalagi takfiri.

Indonesia punya peran strategis untuk mencitrakan Islam yang Rahmatan lil ‘alamin. Sebagai Negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, harapan kebangkitan Islam dari Indonesia (yang disebut Rasulullah SAW sebagai panji-panji hitam dari timur, semoga) tentu sangat besar. Stereotip bangsa Arab yang keras dan kaku di satu sisi namun hedon di sisi lain tidaklah melekat di muslim Indonesia. Di berbagai Negara minoritas Islam, muslim Indonesia yang lebih luwes dan inklusif juga lebih diterima oleh semua golongan, berbeda dengan muslim Negara Islam yang umumnya eksklusif. Gerakan solidaritas muslim yang kerap digagas berbagai elemen di Indonesia tentu juga memperkuat aspek kemanusiaan yang sifatnya universal. Belum lagi potensi sumber daya yang melimpah dan bisa dijadikan kekuatan umat yang diperhitungkan. Lihat bagaimana #AksiSuperDamai212 menjadi perhatian dunia. Bukan karena banyaknya pekik #TangkapAhok, namun bagaimana jutaan manusia bisa tertib terorganisir dan mengindahkan etika. Keteladanan yang menginspirasi dan kebaikan dalam memanusiakan manusia semoga saja semakin masif guna mewujudkan masyarakat yang tertata dalam naungan kebaikan Islam. Mungkin tidak mengislamkan seluruh umat manusia, namun terus menebar kebermanfaatan sehingga Islam –dengan atau tanpa disadari– menjadi sendi-sendi yang mengokohkan tatanan sosial kemasyarakatan. Dan semoga kita termasuk golongan umat yang istiqomah menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin” (QS. Al Ma’un: 1 – 3)

Bukan (Cuma) Surah Al Ma’idah 51 (2/2)

Padahal momentum ini adalah momentum persatuan kaum muslimin. Tanpa sekat harakah, fikrah, atau golongan Islam tertentu. Polarisasinya semakin kuat: hizbullah atau hizbusysyaithan. “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu
(QS. Al Ma’idah: 48).

Golongan kafir, munafik dan fasik ini memenuhi pikirannya bahwa aksi jutaan massa bukanlah aksi damai. Ada yang menyikapinya dengan menyebar isu terror, ada yang menggembosi dari dalam, ada pula yang melenggang tenang, toh tidak ada dampak langsung yang akan diterimanya. Padahal Islam jelas melarang umatnya melampaui batas dan berbuat kerusakan. “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (QS. Al Ma’idah: 32).

Golongan ini akan cepat merespon berita yang sesuai dengan nafsu dan pemikiran mereka, pun dari sumber yang tidak bisa dipercaya sekalipun (misalnya situs islamnkridotcom). Lebih aman tak usah menanggapi mereka yang cuma mau eksis. “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al Ma’idah: 42).

Ada lagi kaum muslim yang taat ulil amri harga mati sehingga mengharamkan demonstrasi. Sikap yang (sok) bijak tanpa melihat situasi dan kondisi. Menasehati dalam diam memang baik, namun memberikan pencerahan kepada masyarakat luas dapat lebih menyebarluaskan kebaikan. Karena itulah mereka yang mengharamkan demonstrasi menyampaikan pandangannya lewat media massa, bukannya konsisten menasehati dalam diam. Sensitif terhadap persoalan metode atau cara, tapi kehilangan sensitifitas terhadap konten isu yang diperjuangkan. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Ma’idah: 87).

Sebenarnya yang diperjuangkan dalam aksi damai sangatlah beralasan dan sederhana. Bahwa hukum harus ditegakkan dengan jujur, adil dan tidak tebang pilih. Jangan sampai hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Tidak ada isu SARA ataupun kebencian terhadap golongan tertentu, karena kemuliaan manusia sejatinya ditentukan oleh kadar ketakwaannya. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ma’idah: 8).

Anehnya, mereka yang mengharamkan demonstrasi dengan dalih tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits, justru melempem, tidak lantang menghadapi orang-orang yang menghina Allah SWT dan Rasul-Nya. “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al Ma’idah:33).

Akhirnya, Aksi Damai yang dilatarbelakangi kasus Al Ma’idah 51 justru memberikan banyak hikmah, di antaranya adalah persatuan umat, kejelasan keberpihakan setiap muslim, hingga semakin banyaknya kajian tentang Al Qur’an. Al Ma’idah 51 hanyalah 1 dari 120 ayat di surah Al Ma’idah, hanyalah 1 dari 6326 ayat Al Qur’an. Surah Al Ma’idah disebut juga Al Uqud (perjanjian), semoga saja bisa menjadi pengingat bagi para pemimpin yang pernah berjanji ini dan itu kepada Allah SWT ataupun masyarakatnya, untuk segera menepati janji-janjinya. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu…” (QS. Al Ma’idah: 1).

Di antara dampak dari aksi damai adalah munculnya berbagai isu dan informasi yang simpang siur. Umat Islam harus pandai memilih dan memilah, serta bersikap, tidak sekadar meneruskan informasi tanpa tanggung jawab. Berita yang ramai dan marak belum tentu benar, namun hati nurani tentu mampu membedakannya. “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Ma’idah: 100).

Terakhir, kebenaran mutlak hanya ada di sisi Allah SWT. Tugas kita hanyalah terus mendekat kepada-Nya sehingga Allah senantiasa menganugerahkan hidayah dan keistiqomahan dalam setiap langkah kita. “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Ma’idah:105). Apapun pilihan jalan perjuangan kita, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah segala sesuatu dikembalikan.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ma’idah 54)

Bukan (Cuma) Surah Al Ma’idah 51 (1/2)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ma’idah: 51)

Surah Al Ma’idah ayat 51 mendadak ‘terkenal’ akibat ulah petahana gubernur DKI yang mengutipnya sembarangan dalam lawatannya ke Kepulauan Seribu. Surah Al Ma’idah adalah surah ke-5 dalam Al Qur’an yang terdiri dari 120 ayat. Surah yang termasuk golongan surah Madaniyah ini dinamakan Al Ma’idah (hidangan) karena dalam ayat 112-115 memuat kisah pengikut Nabi Isa a.s. yang meminta beliau agar Allah SWT menurunkan hidangan dari langit. Dalam berbagai tempat di surah Al Ma’idah juga dijelaskan mengenai makanan halal, terutama hewan yang halal dimakan.

Bagi penulis, surah Al Ma’idah setidaknya mengingatkan akan dua hal. Pertama, di dalamnya memuat ayat Al Qur’an yang terakhir turun. “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al Ma’idah: 3). Pun ada riwayat lain yang menyampaikan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Surah Al Baqarah ayat 278 – 282. Kedua, di dalamnya memuat rangkaian ayat yang kerap dibawakan para pendukung Negara Islam bahwa barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah mereka adalah orang kafir (ayat 44), zalim (ayat 45), dan fasik (ayat 47). “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Ma’idah: 50).

Sebenarnya ada hal lain yang identik dengan surah Al Ma’idah, yaitu akan adanya generasi pengganti yang dicintai dan mencintai Allah SWT (QS. Al Ma’idah: 54), namun kehebohan surah Al Ma’idah ayat 51 yang disertai berbagai kajian akan ayat-ayat selanjutnya tentu juga akan mendapati ayat mengenai generasi pengganti tersebut. Jika dalam Al Ma’idah 51 memuat larangan tentang mengambil pemimpin dari kalangan non muslim, maka berkenaan dengan penistaan agama juga sudah diingatkan dalam QS. Al Ma’idah ayat 57: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan”.

Lalu bagaimana untuk wilayah dengan penduduk mayoritas non muslim? Tentu ada pertimbangan manfaat dan mudharat tanpa harus mengorbankan izzah sebagai seorang muslim. Pertimbangan yang sama juga berlaku jika ternyata tidak ada seorang pun muslim yang kompeten sebagai pemimpin. Namun default-nya tetap jelas untuk memilih pemimpin seakidah kecuali untuk kondisi darurat. Yang kemudian menjadi ironi adalah loyalitas segelintir umat Islam terhadap pemimpin nonmuslim, membelanya mati-matian bahkan bila harus menyerang saudara seiman sekalipun. Mereka tsiqoh terhadap pemimpin nonmuslim namun berprasangka buruk kepada muslim lainnya. Mereka bukan hanya membenarkan segala kemungkaran yang dilakukan pemimpin nonmuslim tersebut, namun juga menghujat segala bentuk upaya perbaikan yang dilakukan kaum muslimin. Gelap mata dan gelap hati.

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al Ma’idah 52).

Dalam hal ini, konteksnya bukan lagi benarkah petahana telah menista agama, apalagi sekadar ribut urusan kata ‘pakai’, namun ada cacat yang lebih fundamental. Al Wala wal Bara yang merupakan kaidah prinsip dalam akidah Islam telah tertukar posisinya. “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan” (QS. Al Ma’idah: 79-80).

Munculnya loyalitas yang salah tempat ini tentu ada penyebabnya, mulai dari kesombongan, kedengkian, hingga kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Lebih jauh lagi, ketakutan pada nonmuslim ataupun takut kehilangan dunia dapat mendorong orang berilmu sekalipun untuk memutar balik ayat-ayat Allah SWT sekehendak nafsunya. “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit…” (QS. Al Ma’idah: 44). Itu yang berilmu, bisa dibayangkan betapa ‘buas’nya mereka yang tak berilmu.

Namun muslim golongan tersebut hanya sedikit kok, sayangnya mereka punya sumber daya sehingga terlihat banyak. Yang banyak adalah muslim yang ‘cari aman’, saya muslim tapi saya tidak perlu begini dan begitu. Muslim sok netral yang sebenarnya apatis. Ada yang diam-diam tak peduli, ada yang malah nyinyir. Mereka merasa pintar, bukan pintar merasa. Emangnya bukti cinta Islam harus lewat aksi? Emangnya demo ngaruh ke kebijakan? Bukannya kalau aksi njelek-jelekin Ah*k artinya sama aja gak bisa jaga mulut kayak Ah*k? Bukannya semakin banyak yang membicarakannya malah jadi kampanye gratis buat Ah*k? Bukannya Islam mengajarkan perdamaian dan mudah memaafkan? Emangnya yang di jalan pada teriak takbir tuh pasti shalat shubuhnya berjama’ah di masjid? Emangnya yang ikut aksi KTP-nya Jakarta? Dan berbagai pertanyaan nyinyir lainnya yang semakin gagal fokus. Mereka meman tidak menghalangi ataupun memusuhi, tapi tak jua turut berpartisipasi. Keterlibatan artinya keberpihakan, sementara mereka merasa ada di zona netral.

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu” (QS. Al Ma’idah: 25 – 26).

(bersambung)