Category Archives: Artikel Islami

Bertetangga Sampai ke Surga (2/2)

Tetangga dalam KBBI didefinisikan sebagai orang yang tempat tinggal atau rumahnya berdekatan. Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan tetangga. Ada yang mengukurnya dari radius 40 rumah, ada yang membatasinya dari masih terdengarnya adzan, ada yang melihatnya dari pelaksanaan shalat berjama’ah, ada pula yang mendefinisikannya dengan batasan wilayah. Apapun pendekatannya, tetanggalah pihak di luar keluarga yang (seharusnya) paling mengenal keseharian kita. Bahkan dalam keadaan darurat, tetangga lah yang paling diharapkan untuk membantu, karena bisa jadi keluarga kita ada nun jauh di tempat lain. Tak hanya keselamatan diri, tetangga pun sangat berperan dalam memastikan keamanan rumah kita apalagi ketika kita tidak sedang berada di rumah. Dan peran penting ini tidak melihat SARA, karenanya kewajiban berbuat baik terhadap tetangga pun tidak dibatasi suku, agama, ras, dan antar golongan.

Saat ini, di berbagai tempat, sekat-sekat bertetangga semakin besar. Tembok dan pagar semakin tinggi, antar tetangga tidak saling mengenal dengan dalih tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Semakin menjauh dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Alhasil, ada beberapa peristiwa tragis kematian seseorang yang baru diketahui sekian lama oleh tetangganya dari bau busuk mayatnya. Ada kisah ironis perjuangan seorang ayah yang tak mampu mengubur mayat anaknya. Ada kejadian miris seseorang baru mengetahui rumah tetangganya adalah pabrik narkoba setelah digerebek aparat. Dan berbagai cerita lain yang muncul karena tetangga tidak saling mengenal. Bagaimana bisa saling membantu jika kenal saja tidak? Bagaimana bisa hak bertetangga ditunaikan? Belum lagi jika didaftar konflik antar warga yang sebagian besarnya bermula dari hal yang remeh-temeh.

Padahal tetangga adalah salah satu wasilah menuju jannahnya. Teladan kita, Rasulullah SAW dikenal memperlakukan tetangganya dengan sangat baik, termasuk tetangga yang non muslim. Akhlak ini kemudian diwariskan ke generasi sahabat dan salafusshalih. Selain kisah Ibnul Mubarak di atas, dalam berbagai literatur kita akan mendapati berbagai kisah perbuatan baik ulama terdahulu terhadap tetangganya, di antaranya ada kisah Hasan Al Bashri, Malik bin Dinar, Sahal al Tustari, Ibnu Jad’an dan sebagainya. Imam Bukhari meriwayatkan kisah Abdullah bin ‘Amr Al Ash yang menyembelih seekor kambing kemudian berkata kepada seorang pemuda, “Akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi”. Pemuda tadi berkata, “Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?”. Abdullah bin ‘Amr berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris”.

Berbuat baik disini banyak bentuknya mulai dari tidak melakukan sesuatu yang dapat mengganggu tetangga hingga aktif menolong tetangga yang membutuhkan. Salah satu perbuatan baik yang dianjurkan adalah berbagi makanan. Rasulullah SAW bersabda, “Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim). Bahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Baihaqi disebutkan tidaklah dikatakan beriman seseorang yang kenyang perutnya sementara tetangganya kelaparan. Karenanya, dalam bertetangga semestinya dilandasi visi akhirat. Saling mengenal, saling memahami, saling melengkapi, dan saling menolong antar tetangga bukan hanya demi terciptanya harmoni hidup bermasyarakat. Rasa aman, tenang, dan nyaman buah dari menjaga hak dan kewajiban bertetangga semoga bisa terus terpelihara hingga dipertemukan kembali di Jannah-Nya. Tempat kembali bagi mereka yang saling mencintai karena Allah, saling mengingatkan dan saling menolong karena Allah. Bertetangga karena Allah, bertetangga sampai ke surga.

Jadilah engkau orang yang wara’, niscaya akan menjadi manusia yang paling ahli beribadah. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya akan menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya akan menjadi seorang mukmin. Dan bertetanggalah dengan baik terhadap tetanggamu, niscaya akan menjadi seorang muslim”.
(HR. Ibnu Majah)

Bertetangga Sampai ke Surga (1/2)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri
(QS. An Nisa: 36)

Dikisahkan, selepas melaksanakan rangkaian manasik haji, ‘Abdullah bin Al-Mubarak tertidur di Masjidil Haram. Dalam mimpinya, ia melihat dua malaikat turun dari langit. Salah seorang dari malaikat itu bertanya, “Berapa orangkah yang melaksanakan haji tahun ini?” Malaikat yang ditanya menjawab, “Enam ratus ribu orang.” Malaikat pertama bertanya lagi, “Berapa orang dari mereka yang ibadah hajinya diterima?” Malaikat kedua menjawab, “Tak seorang pun dari mereka”. Ibnul Mubarak terkejut dan bersedih, dalam hati berkata, “Orang-orang yang melaksanakan haji itu telah berkumpul berlelah-lelah, mereka berdatangan dari seluruh penjuru seraya membelah gurun, lantas mereka dianggap sia-sia di sisi Allah?!” Lalu ia mendengar Malaikat kedua berkata, “Namun, ada seorang lelaki tukang sol sepatu yang tinggal di Damaskus, namanya ‘Ali bin al-Muwaffaq. Dia tak ikut melaksanakan ibadah haji, tetapi Allah menuliskan baginya pahala ibadah haji secara sempurna, lalu dengan sebab keberkahan lelaki ini, Allah pun berkenan menerima ibadah haji orang-orang yang melaksanakan haji ini.”

Ibnul Mubarak terbangun dari tidurnya, bergegas pergi menuju Damaskus untuk menemui lelaki tukang sol sepatu bernama ‘Ali bin al Muwaffaq berbekal nama dan pekerjaannya. Singkat kisah, Ibnul Mubarak berhasil menemui lelaki tersebut dan berbicara dengannya. Ibnu Mubarak bertanya, “Beritahukanlah kepadaku tentang keadaanmu, sampai-sampai kau disebut dalam mimpiku”. Al-Muwaffaq pun bercerita bahwa sejak 30 tahun lalu ia bertekad untuk mengunjungi Ka’bah dan berhaji. Ia selalu menyisihkan sedikit uang hasil pekerjaannya hingga terkumpul sejumlah 350 dirham. Ia berharap bisa menggenapkannya menjadi 400 dirham sehingga bisa berangkat haji tahun ini. Saat itu, istrinya yang sedang hamil mencium bau masakan dari salah satu rumah tetangga. Istrinya sangat ingin untuk bisa mencicipi makanan itu. Al-Muwaffaq lantas mendatangi rumah tetangganya, meminta sedikit makanan tersebut seraya memberitahu tentang keinginan istrinya yang sedang hamil.

Begitu mendengar permintaan Al-Muwaffaq, perempuan pemilik rumah tersebut lantas menangis dan berkata, “Aku mempunyai beberapa orang anak yang masih kecil. Mereka yatim tak lagi punya ayah. Sudah seminggu ini mereka tak makan. Tadi aku memasuki area puing reruntuhan, lalu kutemukan di sana bangkai keledai. Aku pun mengambil sepotong dagingnya. Daging itulah yang ada di dalam periuk itu, dan itu halal bagi kami tetapi haram bagi kalian.” Setelah mendengar kisah perempuan tersebut, Al-Muwaffaq merasa iba, bergegas kembali ke rumah dan mengambil uang simpanannya. Uang sebanyak 350 dirham tersebut dibawanya dan diberikan semuanya kepada perempuan itu untuk nafkah keluarganya. Dalam hatinya ia berniat, “Dermaku inilah yang akan menunaikan bagiku kewajiban haji dan kedudukannya dengan pertolongan Allah.” Mendengar penuturan Al Muwaffaq, berkatalah Ibnul Mubarak, “Kau benar. Malaikat yang berbicara dalam mimpiku pun benar, dan Yang Maha Kuasa berlaku adil dalam hukum dan keputusan. Sungguh Allah lebih mengetahui hakikat segala sesuatu.”

Berbuat baik kepada tetangga diganjar pahala haji mabrur, kenapa tidak? Perilaku seseorang terhadap tetangganya memang mencerminkan keimanan seseorang. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya”. Atau dalam hadits lain disebutkan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya”. Dan keimanan ini menjadi syarat menggapai surga. “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari – Muslim). Dan tidak ada istilah sedikit atau ringan dalam hal menyakiti tetangga (HR. Thabrani). Karenanya, menjaga hak bertetangga menjadi keharusan bagi mereka yang merindukan surga.

(bersambung)

Ramadhan Bulan Peningkatan (2/2)

Selanjutnya, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 184 yang menyampaikan tentang keringanan (rukhshah) bagi orang-orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan atau bagi orang-orang yang berat menjalankannya, diakhiri dengan kalimat “…wa an tashumu khairullakum in kuntum ta’lamun”. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Ayat-ayat rukhshah biasanya diiringi dengan penjelasan mengenai kemurahan Allah SWT. Misalnya dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 173, Al Maidah ayat 3, Al An’am ayat 145, dan An Nahl ayat 115 yang memberi rukhshah bagi mereka yang memakan bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan dengan menyebut nama selain Allah SWT, karena terpaksa dan tidak melampaui batas, kesemua ayat tersebut diakhiri dengan Sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al Ghafur) lagi Maha Penyayang (Ar Rahim). Atau dalam Al Qur’an Surah An Nisa terkait rukhshah berupa tayammum, juga ditutup dengan Sifat Allah Yang Maha Pema’af (Al Afuww) lagi Maha Pengampun (Al Ghafur).

Adapun dalam Al Qur’an Surah Al Maidah ayat 6 tentang rukhshah berupa tayammum diakhiri dengan kalimat: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Kalimat yang mirip dengan rukhshah mengganti puasa bagi mereka yang sakit atau dalam perjalanan dalam Surah Al Baqarah ayat 185: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”. Hal ini menunjukkan kemurahan Allah SWT tetaplah ada, walaupun ada keutamaan jika tidak mengambil rukhshah. Ya, cara selanjutnya untuk meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan adalah menjalaninya dengan penuh kesungguhan, tidak mudah memberikan excuse ke diri sendiri. Target besar Ramadhan hanya dapat dicapai bahkan dilampaui dengan persistensi dan determinasi tinggi. Tidak mudah menyerah, mencari alasan ataupun berusaha seadanya dan sekadar melakukan yang mudah. Peningkatan kualitas diri itu justru terletak pada perjuangan dan pengorbanan yang mengiringinya.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186). Apa hubungan berdo’a dengan berpuasa? Apa pula hubungannya dengan peningkatan kualitas diri? Persamaan terbesar antara do’a dengan puasa adalah ibadah yang sifatnya langsung ke Allah SWT. Kuat pada aspek kesertaan Allah (ma’iyatullah) dan pengawasan Allah (muraqabatullah).

Pun demikian dengan peningkatan kualitas diri, tantangan terbesarnya justru pada diri sendiri. Target Ramadhan yang sudah dibuat bisa saja dengan mudah diturunkan standarnya jika tidak tercapai, toh yang mengevaluasi diri sendiri. Aktivitas peningkatan kualitas diri selama bulan Ramadhan gampang saya ditunda atau dialihkan dengan berbagai alasan toh yang merancangnya adalah diri sendiri. Tanpa ma’iyatullah dan muraqabatullah tidak sulit mentolerir berbagai kelalaian dalam upaya peningkatan kualitas diri. Toh masih ada hari lain, toh masih ada Ramadhan tahun depan. Disinilah ihsanul amal dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas diri. Terus berbuat baik dengan atau tanpa orang lain mengetahuinya. Cermat mengawasi diri sendiri, kalaupun lalai, tetap menyadari bahwa Allah SWT tak pernah lalai mengawasi. Nuansa Ramadhan memberi stimulan yang cukup untuk bisa belajar beramal dengan ihsan dan ikhlash. Imanan wahtisaban. Tak heran jika salah satu do’a yang tidak tertolak adalah adalah do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka.

Selanjutnya, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 187 ada analogi yang menarik tentang suami istri, “…hunna libasullakum wa antum libasullahunna…”. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Analogi pakaian (libas) menggambarkan suami istri yang saling melengkapi dan melindungi, menjadi perhiasan dan menutupi aib, memberikan kebahagiaan dan kenyamanan. Mengapa ada analogi seperti ini dalam rangkaian ayat tentang shaum Ramadhan? Apa pula kaitannya dengan peningkatan kualitas diri? Sehebat apapun pribadi seseorang, ia tetap membutuhkan orang lain untuk terus berkembang. Peningkatan kualitas diri amatlah berat untuk diusung sendirian, harus ada (sekumpulan) orang lain yang mendampingi. Jangan sendirian!

Jelas sudah, Ramadhan adalah bulan peningkatan. Momentum berharga untuk melakukan perbaikan diri yang terus-menerus (continuous self-improvement). Guna menjadi pribadi yang bertakwa, pribadi yang pandai bersyukur, pribadi yang diberi petunjuk. Untuk menghadirkan sekumpulan orang yang bertakwa, sebagaimana telah dijanjikan Allah SWT dalam Al Qur’an. Peningkatan kualitas diri akan hadir ketika ada tujuan yang jelas, upaya nyata penuh kesungguhan untuk mewujudkannya, kecermatan dalam menjalankannya, dan sekumpulan orang yang mendukungnya. Bagaimanapun, Ramadhan bukan hanya untuk pribadi kita, namun Ramadhan ada untuk kita semua.

Barangsiapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa shalat pada Lailatul Qadar imanan wa ihtisaban, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan Bulan Peningkatan (1/2)

Ada yang aneh dari judul di atas? Bukankah seharusnya Syawal yang berarti bulan peningkatan? Ibnul ‘Allan asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang.” Ada juga yang mengatakan, dinamakan bulan syawal dari kata syalat an-Naqah bi Dzanabiha, artinya onta betina menaikkan ekornya. Bulan syawal adalah masa di mana onta betina tidak mau dikawini para pejantan. Ketika didekati pejantan, onta betina mengangkat ekornya. Keadaan ini menyebabkan munculnya keyakinan sial di tengah masyarakat jahiliyah terhadap bulan syawal. Sehingga mereka menjadikan bulan syawal sebagai bulan pantangan untuk menikah. Ketika Islam datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru menikahi istri beliau di bulan syawal. Untuk membantah anggapan sial masyarakat jahiliyah. Akan tetapi, kurang tepat jika dikatakan bahwa sebab mengapa bulan ini dinamakan syawal adalah karena seusai ramadhan, manusia melakukan peningkatan dalam beramal dan berbuat baik. Karena nama bulan “syawal” sudah ada sejak zaman jahiliyah (sebelum datangnya islam), sementara masyarakat jahiliyah belum mengenal syariat puasa di bulan ramadhan. Dengan demikian, tidak terdapat hubungan antara makna bahasa tersebut dengan pemahaman bahwa syawal adalah bulan peningkatan dalam beramal.

Lalu, bagaimana Ramadhan dapat meningkatkan kualitas diri? Disini ada dua terminologi yang dapat dibahas: peningkatan (improvement) dan kualitas (quality). Pertama, Ramadhan secara alami sudah menjadi momentum improvement. Berbuat baik begitu mudah di bulan Ramadhan karenanya menjadikan Ramadhan sebagai momentum perbaikan diri tidaklah menjadi hal yang aneh. Datang ke masjid untuk shalat berjama’ah, tilawah Al Qur’an selepas shalat bukan hal yang aneh di bulan Ramadhan bahkan bagi yang jarang melakukannya sekalipun. Tidak sedikit juga muslimah yang memulai berhijab di bulan Ramadhan. Sekali lagi karena momen Ramadhan sangat tepat untuk melakukan perbaikan ke arah kebaikan, bahkan barangkali lebih efektif dari momentum hijrah 1 Muharram. Karena pergantian tahun baru biasa diisi dengan evaluasi diri bukan pembiasaan melakukan kebaikan. Kesadaraan sesaat tidak akan lama bertahan, berbeda dengan momentum Ramadhan, yang bahkan gema kebaikannya dapat dirasakan dari sebelum Ramadhan hingga selepas Ramadhan.

Ramadhan bahkan seperti Poka Yoke yang menghindari manusia dari melakukan kesalahan. Poka-Yoke didefinisikan sebagai suatu konsep manajemen mutu guna menghindari kesalahan akibat kelalaian dan kesalahan karena sifat manusiawi yaitu lupa, tidak tahu, dan tidak sengaja dengan cara memberikan batasan-batasan dalam pengoperasian suatu alat atau produk. Jadi, tujuan utama dari penerapan konsep Poka-Yoke ini adalah untuk mencapai keadaan bebas-cacat (zero-defects). Contoh paling sederhana penerapan Poka Yoke di bulan Ramadhan adalah waktu imsak yang menghindarkan umat muslim kebablasan makan hingga lewat waktu shubuh, pun makan di waktu imsak masih diperbolehkan. Dalam keseharian di bulan Ramadhan, barangkali kita kerap mendengar: puasa ga boleh bohong, jangan gosip di bulan ramadhan, atau orang puasa ga boleh marah. Disinilah status sedang berpuasa mampu menjadi kontrol untuk menghindarkan manusia dari berbuat kesalahan. Kesalahan yang sebenarnya juga mendatangkan dosa bila dilakukan di luar Ramadhan, tetapi di bulan Ramadhan bisa dihindari. Suasana Ramadhan yang sangat kondusif inilah yang memungkinkan self-improvement selama bulan Ramadhan dapat optimal, terutama improvement dalam aspek spiritual, emosional, dan sosial.

Selanjutnya, berbicara tentang kualitas, definisi yang banyak digunakan adalah menurut Juran, Crosby dan Deming. Pengertian kualitas menurut Juran adalah kesesuaian antara tujuan dan manfaatnya. Atau sejauh mana kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan (fitness for use). Menurut Crosby, kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan atau persyaratan (conformance to requirements) yang meliputi availability, delivery, reliability, maintainability dan cost effectiveness. Sedangkan menurut Deming, tujuan kualitas adalah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan saat ini dan di masa depan. Kualitas bermakna pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terus menerus, sehingga kualitas berarti sesuatu yang kontinu, senantiasa ada perbaikan, dan tidak stagnan (continuous improvement). Adapun dalam KBBI, kualitas atau mutu identik dengan kadar, taraf, atau derajat (kepandaian, kecakapan, dan sebagainya). Kualitas menyoal tingkat baik buruknya sesuatu, sementara mutu menunjukkan ukuran baik buruknya sesuatu. Lantas, apa hubungannya Ramadhan dengan kualitas diri? Ada pertanyaan lebih penting yaitu “Bagaimana meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan?” Karenanya kedua pertanyaan tersebut sebaiknya dijawab secara simultan melalui tadabur ayat-ayat Al Qur’an tentang puasa.

Pertama, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, jelas termaktub tujuan dan manfaat berpuasa: la’allakum tattaqun. Karenanya kualitas diri yang diharapkan menjadi keluaran (output) dari ibadah di bulan Ramadhan adalah pribadi yang bertakwa. Kata la’alla dalam Al Qur’an memiliki beberapa makna, diantaranya ta’lil (alasan) dan tarajji ‘indal mukhathab (harapan dari sisi orang yang diajak bicara). Dengan makna ta’lil, dapat kita artikan bahwa alasan diwajibkannya puasa adalah agar orang yang berpuasa mencapai derajat taqwa. Dengan makna tarajji, dapat kita artikan bahwa orang yang berpuasa berharap dengan perantaraan puasanya ia dapat menjadi orang yang bertaqwa. Makna la’alla disini berbeda dari persangkaan (zhann) ataupun perkiraan (hisban). Maknanya lebih identik dengan kata semoga (‘asaa). Sedangkan ‘asaa dan la’alla jika berasal dari Allah SWT maka ia adalah jaminan kepastian (tahqiq), bukan sekadar harapan (tarajji).

Dalam rangkaian ayat tentang shaum Ramadhan di Surah Al Baqarah, kata la’alla bahkan disebutkan 4 kali: la’allakum tattaqun (ayat 183), la’allakum tasykurun (ayat 185), la’allahum yarsyudun (ayat 186) dan la’allahum yattaqun (ayat 187). Hal ini menunjukkan betapa banyak jaminan kepastian terhadap kualitas output selama prosesnya dilalui dengan baik. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan adalah dengan menetapkan target Ramadhan yang SMART (Specific, Measurable, Attainable, Relevant, Timely). Target ini tentunya bukan sekadar dibuat agar ada, namun juga diupayakan pencapaiannya secara sungguh-sungguh dan dievaluasi. Secara bertahap ditingkatkan levelnya sehingga terjadi continuous improvement dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya. Di titik inilah, peningkatan kualitas diri melalui Ramadhan dapat tercapai.

(bersambung)

Keutamaan Ibadah di Luar Ramadhan

Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shaleh akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun” (Syeikh Bisyr Al Hafi)

Setiap tahun, baik dalam tarhib Ramadhan ataupun khutbah Jum’at di akhir Sya’ban atau awal Ramadhan, penceramah biasa menyampaikan tentang keutamaan bulan Ramadhan dan beribadah di dalamnya. Walaupun sudah mainstream, Ramadhan memang istimewa. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Al Qur’an, bulan diturunkannya Al Qur’an, dan satu-satunya bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qadar. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa apabila telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan para setan dibelenggu. Kondisi yang tidak ditemui di bulan lain. Namun bicara tentang keutamaan ibadah di bulan Ramadhan adalah perkara lain yang dapat diperdebatkan.

Ibadah shaum Ramadhan yang hukumnya wajib dan termasuk Rukun Islam memang lebih utama dibandingkan shaum sunnah di luar Ramadhan. Berdosa jika ditinggalkan dengan sengaja dan wajib diganti jika ditinggalkan membuat shaum Ramadhan ada di level yang berbeda. Yang juga berbeda barangkali i’tikaf menghidupkan lailatul qadar yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Perbedaan ini kemudian diperkuat dengan ganjaran diampuni dosa bagi mereka yang berpuasa dan menghidupkan malam Ramadhan dengan imanan wahtisaban.  Namun ketika menyoal tentang dampak puasa dan shalat malam terhadap fisik dan spiritual, dua kebahagiaan orang yang berpuasa, diijabahnya do’a orang yang berpuasa hingga hal-hal yang perlu dijaga selama berpuasa tidaklah berbeda antara Ramadhan dengan di luar Ramadhan. Bahkan beribadah di luar Ramadhan punya tantangan lebih.

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung seberapa beratnya ujian. Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya maka Dia menimpakan cobaan kepadanya. Sedekah yang utama adalah dengan sesuatu yang paling disukai. Berat memang, karenanya menjadi istimewa. Shalat berjama’ah di masjid yang paling besar ganjarannya adalah shalat shubuh. Terjaga dan beribadah ketika orang lain nyenyak tidur tentu tidak mudah. Jihad yang utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Penuh risiko dan tidak sederhana, karenanya menjadikannya mulia. Mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik dibandingkan mereka yang tidak bergaul dan tidak bersabar. Begitulah sunnatullahnya. Semakin berat ujian, kian besar pengorbanan, makin banyak kesungguhan yang diperlukan, akan semakin besar ganjarannya. Belajar dari Qur’an Surah Al Balad, ketika dihadapkan pada dua jalan, tidak banyak yang memilih jalan menanjak yang sulit ditempuh dibandingkan jalan yang mudah.

Begitulah beribadah di luar Ramadhan, lebih penuh tantangan. Berpuasa sunnah ketika orang lain berpuas makan tidaklah mudah. Istiqamah tilawah selepas zhuhur di saat yang lain bergegas istirahat dan makan siang punya tantangan yang jauh berbeda dibandingkan ketika Ramadhan. Di saat lingkungan lebih kondusif untuk beribadah. Perbedaan ini jelas terlihat dari interaksi umat Islam dengan masjid dan dengan Al Qur’an, ketika dan di luar Ramadhan. Perbedaan nyata terlihat dari jama’ah shalat Shubuh dan Isya, apalagi jika diteliti qiyamul lail nya. Padahal ibadah sejatinya adalah aktivitas sepanjang hayat, bukan hanya semangat ketika lingkungan kondusif. Imam Hasan Al Basri pernah berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, Surah Al Hijr ayat ke-99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu”. Alangkah tidak pantasnya jika gema takbir hari raya menjadi batas amal ibadah seorang muslim. Na’udzubillah

Salah satu indikator sukses Ramadhan adalah terjaganya amal ibadah selepas Ramadhan. ‘Kun Rabbaniyyan Wa Laa Takun Ramadhaniyyan’, begitulah para ulama terdahulu menyampaikan. Hendaklah kita menjadi hamba Allah yang Rabbani, bukan menjadi ‘penyembah’ Ramadhan. Ketahuilah, keutamaan beribadah bukan hanya ada di bulan Ramadhan. Ibaratnya banyak orang berburu barang ketika cuci gudang, barang berlimpah dan banyak potongan harga. Mereka pun sekadar memperoleh barang murah yang tersedia. Sementara di hari biasa tidak banyak yang mencari barang, padahal walaupun sedikit lebih mahal, barang yang dipilih bisa lebih dijamin kualitasnya dan pelayanannya pun lebih optimal. Apalagi jika disadari bahwa barang yang dicari adalah kebutuhan sehari-hari, tidaklah tepat mengupayakannya hanya ketika cuci gudang. Ramadhan memang istimewa, namun satu tahun terdiri dari dua belas bulan, bukan hanya Ramadhan. Ada hak-hak Allah SWT yang tetap harus dijaga. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya, serta membimbing kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya. Semoga kita tetap istiqamah beribadah sepanjang tahun, sepanjang hayat, serta dijauhkan dari sifat munafik. Aamiiin…

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Ali Imran: 8 )

Ilmu Kalau-kalau VS Berandai-andai

Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah ini: “Ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata ‘seandainya’ itu akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Beberapa hari lalu, penulis mengikuti training awareness ISO 45001:2018 terkait Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Salah satu ilmu baru yang diperoleh adalah ‘ilmu kalau-kalau’ untuk antisipasi bahaya atau risiko terjadinya insiden. Upaya preventif dalam analisis risiko memang memerlukan serangkaian jawaban atas pertanyaan ‘kalau begini’ atau ‘kalau begitu’. Berbagai kemungkinan, yang terburuk sekalipun, dibutuhkan untuk meminimalisir risiko yang bisa saja terjadi di masa mendatang. Mengingat kata ‘kalau’ bersinonim dengan ‘seandainya’, ‘ilmu kalau-kalau’ barangkali ada kesamaan juga dengan ‘ilmu berandai-andai’ yang dilarang. Benarkah demikian?

Dalam hadits di atas, kata ‘seandainya’ yang membuka pintu perbuatan setan adalah yang berorientasi ke belakang. Menengok masa lalu. Ada penyesalan, bahkan mempermasalahkan takdir Allah SWT yang menyertai. Padahal meratapi masa lalu takkan mengubah apapun. Terjebak dalam dua kekeliruan: membenarkan kesalahan atas nama takdir, atau menyalahkan pemberi takdir. Berbeda dengan ‘ilmu kalau-kalau’ yang berorientasi ke depan. Memprediksi berbagai risiko yang mungkin terjadi di masa mendatang. Ada harapan bahwa risiko tersebut tidak perlu terjadi, dan ada optimisme akan dapat melaluinya dengan mudah sebab setiap risiko sudah dipetakan solusi penanganannya. Belum tentu terjadi bukan berarti tidak akan terjadi. Masa depan tidak berubah, hanya saja ketika risiko benar-benar terjadi, ada upaya meminimalisir risiko yang sudah disiapkan, akan berbeda sekali dengan menghadapi risiko tanpa persiapan.

Berandai-andai dengan masa lalu tidak selamanya buruk. Jika penekanannya pada aspek informasi dan refleksi diri sebagai bahan introspeksi dan mengambil ibroh tentu masih dapat dibenarkan. Kalimat pengandaian dengan maksud agar dapat diambil pelajaran ini banyak terdapat dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Dalam hal ini, menengok ke belakang diperlukan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Menjadi pribadi yang lebih baik dengan belajar dari kesalahan. Sebagaimana syarat taubat, penyesalan disikapi dengan produktif: berhenti berbuat dosa dan tidak mengulanginya kembali. Jadi dalam ‘berandai-andai’ bukan penyesalannya yang dipermasalahkan, menggugat takdirlah yang dilarang. Atau melihat ke belakang untuk mengoptimalkan kebaikan yang pernah ada dalam sejarah masa lalu. Belajar keshalihan dari orang-orang shalih.

‘Ilmu kalau-kalau’ yang berorientasi ke masa depan juga tidak seluruhnya baik. Selain risk assessment, upaya envisioning untuk merumuskan visi ke depan juga sah-sah saja. Kata ‘kalau’ atau ‘seandainya’ merupakan kata penghubung untuk menandai syarat. Syaratnya bisa merupakan hal yang positif (misalnya andai saya jadi pimpinan), netral (misalnya kalau saya sudah berusia 30 tahun), atau negatif (misalnya seandainya saya jatuh miskin). Envisioning biasanya mengambil syarat positif sebagai inspirasi impian di masa mendatang. Sementara analisis risiko mengambil syarat negatif untuk ‘jaga-jaga’. Setelah syarat terpenuhi, apa yang akan dilakukan lah yang menjadi penting untuk diperhatikan. Pun berorientasi ke masa depan, menjadi bermasalah ketika ‘ilmu kalau-kalau’ digunakan untuk merencanakan perbuatan yang tidak baik di masa mendatang. Misalnya, kalau jadi pejabat saya akan korupsi. Godaan untuk korupsi mungkin merupakan risiko yang perlu diwaspadai bagi para pejabat. Namun tidak perlu berandai-andai menjadi koruptor, ataupun menganalisis penyelamatan seperti apa jika ternyata harus jadi koruptor. Perlu diingat bahwa ada dimensi do’a dalam setiap harapan dan angan. Karenanya, merencanakan perbuatan buruk bukanlah implementasi ‘ilmu kalau-kalau’ yang dibenarkan.

Selain itu, ada juga ‘ilmu kalau-kalau’ dan berandai-andai yang tidak perlu dilakukan. Terutama untuk hal-hal yang tidak realistis atau pada hal-hal yang hanya mendatangkan kecemasan yang berlebihan atau pada hal-hal yang diluar kendali untuk menanganinya. Tidak perlu membuang energi untuk menandai syarat yang mustahil terjadi. Kalau saya mempunyai kekuatan super, misalnya. Selain itu, penerapan  ‘Ilmu kalau-kalau’ adalah untuk menghadirkan ketenangan karena sudah mengantisipasi segala risiko yang mungkin muncul. Bukan untuk membuat fobia dan memandang masa depan dengan penuh kekhawatiran. Karenanya jangan menggunakan ‘ilmu kalau-kalau’ secara berlebihan. ‘Ilmu kalau-kalau’ dapat digunakan untuk syarat yang di luar kendali, namun tidak untuk tindakan penanganan yang di luar kendali. Hal tersebut masuknya ke bab do’a dan tawakal.

‘Ilmu kalau-kalau’ mengajarkan kita untuk merekayasa masa depan dengan memperhatikan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Jika dikembangkan, ilmu ini bisa memotivasi dan menginspirasi akan masa depan yang lebih baik. Berandai-andai mengajarkan kita untuk berkubang dalam masa lalu yang kelam. Jika berlebihan, akan cenderung melenakan diri, menyalahkan orang lain, bahkan kecewa terhadap Tuhan. Kita dapat belajar dari masa lalu tanpa harus berlebihan meratapi ketidakoptimalan di masa lalu. Dan kita juga bisa merencanakan masa depan tanpa lupa untuk berbuat yang terbaik di hari ini. Menyoal takdir yang telah terjadi, artinya berbicara tentang mengambil ibroh. Menyongsong takdir yang belum terjadi, berarti menguatkan perbekalan dan amal nyata di hari ini. Dan mereka yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esoknya lebih baik dari hari ini.

Dear Past, thanks for all the lessons. Dear Future, I’m ready…

Tarhib Ramadhan Anti-Mainstream

Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa mereka yang kumpulkan (dari harta benda).” (QS. Yunus: 58)

Tak terasa, dalam hitungan hari Ramadhan akan kembali menyapa. Bulan yang penuh berkah dan Rahmat dari Allah SWT. Kaum muslimin pun ramai menyambutnya. Salah satu perwujudannya adalah dengan mengadakan kegiatan Tarhib Ramadhan. Dalam Kamus Al Munawir, kata tarhib berasal dari fi’ilrahiba, yarhabu, rahbun”yang berarti luas, lapang dan lebar. Dan selanjutnya menjadi fi’ilrahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. Menurut Kamus Al-Munjid, kata tarhib merupakan masdar dari akar kata rahaba (menyambut) yang mengandung makna penyambutan. Istilah Tarhib Ramadhan kian populer, bahkan sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akhir pekan lalu saja penulis dapat empat undangan Tarhib Ramadhan yang waktunya bersamaan. Belum ditambah pekan sebelumnya dan pekan ini. Sayangnya, popularitas ini terasa berbanding terbalik dengan esensi dari tarhib itu sendiri. Ya, belakangan ini tarhib semakin terasa hanya sebagai kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kehilangan jati dirinya sebagai salah satu check point Ramadhan.

Eksklusifitas mungkin memang membuat sesuatu lebih terasa spesial dan berkesan. Tapi formalitas Tarhib Ramadhan juga dipengaruhi oleh konten yang kurang variatif. Bisa dibilang hanya pawai Ramadhan yang kreatif dan saling memaafkan yang esensial, selebihnya –terutama kajian dan ceramahnya—nyaris tak ada perubahan dari waktu ke waktu. Ceramahnya tidak jauh-jauh dari dimulai dengan Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, dilanjutkan dengan keutamaan puasa, misalnya dengan hadits “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari – Muslim), kemudian diakhiri dengan bekal yang harus disiapkan mulai dari ruhiyah, fikriyah, jasadiyah hingga maaliyah.

Pengingatan akan bekal Ramadhan bukannya tidak penting. Mempersiapkan bekal bahkan sangat penting. Hanya saja ukuran keberhasilan suatu kegiatan tidaklah diukur hanya dari terselenggaranya kegiatan, atau bahkan banyaknya peserta yang datang. Ada efektifitas kegiatan yang perlu jadi perhatian. Dalam hal ini pengulangan informasi tentang bekal Ramadhan akan kehilangan makna karena pengetahuan akan hal tersebut sudah cukup. Ibarat air dalam wadah yang justru luber karena kebanyakan air. Tidak efektif dan tidak efisien. Butuh kreativitas agar wadahnya semakin membesar. Sehingga dalam konteks efektifitas, memastikan peserta memiliki bekal yang cukup lebih penting dibandingkan menginformasikan bekal yang harus dimiliki, berulang-ulang.

Contoh lebih teknis. Jika fokus Tarhib Ramadhan memastikan peserta memiliki bekal ilmu tentang Ramadhan yang mumpuni, alih-alih menggunakan metode ceramah, metode permainan bisa jadi lebih efektif dan menarik. Sekadar diberikan buku panduan Ramadhan kemungkinan tidak akan dibaca, tapi jika dilombakan maka akan lain ceritanya. Misalnya dengan lomba cerdas cermat setelah sebelumnya peserta diberikan kisi-kisi pertanyaan. Peserta akan aktif mencari informasi akan pengetahuan Ramadhan dibandingkan pasif mendengarkan ceramah. Peserta yang ‘tak ingin menang’ sekalipun akan berusaha untuk ‘tidak memalukan’. Selepas kegiatan, akan lebih banyak bekal ilmu yang diperoleh peserta. Dengan kegiatan yang lebih menyenangkan pula.

Jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal fisik peserta. Sekadar pengetahuan akan pentingnya bekal fisik belum tentu linier dengan bekal fisik yang dimiliki. Akan lebih efektif jika konten tarhibnya berupa pemeriksaan kesehatan. Sambil menunggu jadwal konsultasi kesehatan, ada berbagai media visualisasi tentang berbagai tips sehat selama menjalani ibadah Ramadhan. Misalnya menu sehat sahur dan buka puasa, pengaturan waktu istirahat yang ideal, mengatasi penyakit musiman di bulan Ramadhan, dan sebagainya. Akan lebih baik lagi jika sebelumnya ada penugasan bagi peserta terkait persiapan fisik, sehingga paska kegiatan bekal fisik peserta lebih dapat dipastikan terpenuhi.

Pun demikian jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal ruhiyah atau maaliyah peserta, kontennya bisa menyesuaikan dengan tujuan kegiatan, tidak melulu harus ceramah. Untuk penguatan ruhiyah misalnya, mungkin perlu ada agenda muta’baah dan muhasabah dengan nuansa ruhiyah yang benar-benar dimunculkan. Jauh dari kegaduhan dan mencerahkan. Tarhib Ramadhan juga bisa dikuatkan dengan tips trik yang aplikatif. Misalnya tarhib Ramadhan yang fokus pada tema ‘Ramadhan bersama keluarga’. Kontennya bisa jadi terkait puasa dan pendidikan keluarga, bagaimana mempersiapkan anak untuk berpuasa, silaturahim produktif dan sebagainya. Semakin fokus, semakin efektif. Intinya, selepas tarhib Ramadhan ada nilai tambah yang diperoleh peserta, tidak sekadar menggugurkan kewajiban.

Tarhib Ramadhan sejatinya alur yang tidak terpisah dari pembinaan selama bulan Ramadhan, kecuali jika dilakukan sebatas formalitas. Sebagaimana dalam gerakan senam, perlu ada pemanasan sebelum masuk ke bagian inti (dan pendinginan). Tanpa pemanasan, pesenam akan rentan cidera. Tapi pemanasan yang asal-asalan tidak ada manfaatnya, malah bisa mengganggu keseimbangan tubuh. Ibarat tulisan, pengantar atau pendahuluan ini menjadi penting sebab jika langsung masuk ke bagian isi akan terasa ada sesuatu yang terputus. Tapi pengantar atau pendahuluan yang cuma basa-basi tidaklah sepenting itu. Semoga bekal kita cukup untuk mengarungi samudera Ramadhan. Sehingga kita dapat tiba di tujuan dengan kondisi yang lebih baik. Marhaban Ya Ramadhan.

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Al Qur’an Addict (2/2)

Faktanya, fenomena ketagihan Al Qur’an kerap tak bisa terbendung. Di bulan Ramadhan khususnya, para ulama biasa mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari. Al Aswad bin Yazid mengkhatamkan Al Qur’an setiap dua malam di bulan Ramadhan (biasanya khatam dalam enam malam). Qatadah bin Da’amah biasa mengkhatamkan Al Qur’an dalam sepekan, namun di bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al Qur’an setiap tiga hari, dan di sepuluh malam terakhir Ramadhan ia mengkhatamkan Al Qur’an tiap malam. Ibnu ‘Asakir biasa mengkhatamkan Al Qur’an setiap pekan, namun di bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al Qur’an setiap malam. Bahkan diriwayatkan Imam Syafi’ie biasa mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali di dalam shalatnya.

Dalam konteks kekinian pun dikenal istilah famiybisyauqin yang mengkhatamkan Al Qur’an dalam sepekan. Famiybisyauqin terdiri dari tujuh huruf yang merupakan akronim dari manzil (batas berhenti dan memulai bacaan) setiap harinya, yaitu Al Fatihah, Al Maidah, Yunus, Bani Israil (Al Isra’), Asy Syuara Wa Shaafat, dan Qaf. Jadi untuk khatam dalam sepekan, hari pertama membaca surah Al Fatihah hingga An Nisa, hari kedua membaca surah Al Maidah hingga At Taubah, dan seterusnya sesuai dengan manzilnya, hingga di hari ketujuh membaca surah Qaf sampai khatam di An Naas. Metode famiybisyauqin ini juga biasa diterapkan sebagai wirid harian para penghafal Al Qur’an sehingga mereka bisa khatam muraja’ah Al Qur’an dalam sepekan. Manzil famibisyauqin lebih pas dibandingkan juz yang kadang memotong surah pada ayat yang sebenarnya masih saling berkaitan.

Konon, orang sudah dianggap fasih belajar Bahasa Inggris jika dalam mimpinya pun menggunakan Bahasa Inggris. Bisa jadi demikian dengan Al Qur’an. Barangkali para pecandu Al Qur’an memenuhi mimpinya dengan membaca atau menghapal Al Qur’an. Sehingga jika mengigau atau latahpun yang terucap adalah ayat Al Qur’an. Pun demikian ketika sakaratul maut. Para pecandu Al Qur’an juga akan merasakan sakaw kala lama tidak berinteraksi dengan Al Qur’an. Dan saat itu terjadi, Al Qur’an pun seakan memanggil. Karenanya kita perlu waspada ketika tak hadir kerinduan pun lama tak berinteraksi dengan Al Qur’an. Bukankah rasa rindu menjadi salah satu indikasi perasaan cinta yang mendalam?

Lalu mana yang lebih baik, mendengarkan Al Qur’an atau membacanya? Menghapal Al Qur’an atau mengamalkan isinya? Para pecinta Al Qur’an tidak mengenal dikotomi dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Semuanya saling terkait dan menguatkan. Ibarat sayang anak ya harus mau mendengarkan, berdialog, bercanda, bermain, dan sebagainya. Tidak dikatakan sayang jika hanya mengutamakan salah satunya dengan meninggalkan yang lainnya. Sekali lagi, para pecandu Al Qur’an mencintai Al Qur’an secara menyeluruh, tidak parsial dan dikotomis.

Karenanya, pertanyaan yang lebih esensi adalah apa lagi apologi kita untuk tetap mengabaikan Al Qur’an? Jika kendalanya adalah waktu, sejatinya waktu sudah definitif, setiap orang memiliki jatah waktu yang sama 12 bulan per tahun, 24 jam per hari, 60 detik per menit. Jika sebagian orang mampu menyediakan waktunya untuk Al Qur’an, maka sebagian yang lain juga semestinya mampu. Jika kendalanya adalah banyaknya amanah dan kesibukan, korelasinya adalah dengan bagaimana Al Qur’an kita tempatkan. Prioritas muncul ketika ada benturan dan erat kaitannya dengan bagaimana kita mengelola kesibukan. Dari situ muncul pilihan tentang apa yang akan diprioritaskan dan apa yang akan dikorbankan. Para pecinta sejati tentu akan mengorbankan kenikmatan sesaat mereka demi memperjuangkan cintanya. Misalnya dengan mengurangi jam tidur mereka untuk menambah interaksi dengan Al Qur’an. Jika kendalanya adalah kemampuan, hal tersebut tentu bisa diupayakan secara kontinyu dan bertahap. Jika kendalanya adalah kemauan, mungkin kita perlu bertanya tentang apa salah Al Qur’an? Kenapa ia harus ditelantarkan?

Bagaimanapun Al Qur’an adalah Kalam Allah SWT. Ibarat surat cinta, para pecinta sejati pasti merawatnya sebagai salah satu sarana penting untuk memperoleh cinta. Agar cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Jika shalat adalah momentum bercakap dengan Allah SWT, maka ayat-ayat-Nya adalah bahan percakapan yang sangat disukai-Nya. Dan cinta sama artinya dengan mencintai apa yang dicintai oleh yang dicintai. Karenanya, mencintai Allah SWT menjadi omong kosong tanpa wujud nyata mencintai Al Qur’an. Semakin jauh interaksi seorang manusia dengan Al Qur’an, semakin jauh pula ia dengan Allah SWT. Dan cinta akan mendatangkan ketenangan, serta kenyamanan. Selama kita belum benar-benar merasa nyaman dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, bisa jadi itu sebuah indikasi bahwa kita belum benar-benar mencintai Allah SWT.

Dan cinta bukan sebatas retorika. Butuh pembuktian, butuh pengorbanan. Mungkin butuh paksaan di awal untuk menjadi pembiasaan. Orang yang tak suka membaca, harus tetap membaca Al Qur’an untuk membuktikan cintanya pada Allah SWT. Orang yang merasa memiliki daya ingat yang kurang baik, harus tetap mencoba menghapal Al Qur’an pun hanya satu kalimat. Orang yang merasa belum baik harus berupaya untuk mengamalkan Al Qur’an pun hanya satu ayat. Seorang pecinta akan dihargai dari usahanya, sementara untuk hasil akhir biarlah Allah SWT yang memberikan kemudahan. Kualitas interaksi dengan Al Qur’an penting untuk diperhatikan, soal kuantitas lambat laun akan mengikuti. Nah pertanyaannya, sudahkah kita mencintai Al Qur’an? Apa buktinya? Jika belum, tunggu apa? Terakhir, mengutip kata-kata Ibnu Qayyim dalam Kitab Al Jawab Al Kafi, “Semoga kita menjadi orang yang mencintai Allah dengan membuktikannya lewat mencintai Kalam-Nya yaitu Al Qur’an. Mencintainya berarti rajin membacanya, merenungkannya, menghayatinya, mengimani dan mengamalkan isinya, serta rajin mengambil ibrah dari kisah-kisah di dalamnya”. Aamiiin…

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

Al Qur’an Addict (1/2)

Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Abdullah bin Mas’ud)

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, Hudzaifah r.a. menceritakan pengalaman shalat malamnya bersama Rasulullah SAW. Setelah membaca Al Fatihah, Rasulullah SAW membaca surat Al Baqarah. Menjelang ayat ke-100 Hudzaifah r.a. mengira bahwa setelah ini Rasulullah SAW akan ruku’, ternyata beliau meneruskan bacaannya. Menjelang ayat ke-200 Hudzaifah r.a. mengira bahwa setelah ini Rasulullah SAW akan ruku’, ternyata beliau meneruskan bacaannya. Demikian seterusnya hingga Rasulullah SAW menyelesaikan Surah Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa.Dalam satu raka’at. Dalam hadits tersebut juga disebutkan bahwa lamanya ruku’ beliau sama seperti saat berdiri, dan lamanya sujud beliau sama seperti saat beliau ruku’. Hingga saat ini di Sudan dikenal adanya Qiyam Hudzaifah yang menyelesaikan Al Qur’an Surah Al Baqarah, Ali Imran, dan An Nisa dalam satu raka’at.

Tulisan ini tidak hendak membahas tentang kualitas dan kuantitas shalat kita, namun mari kita bayangkan persistensi kita dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Berapa lama kita merasa nyaman mendengarkan Al Qur’an dalam shalat? Barangkali jika imam membaca satu halaman saja, makmum ramai ‘pura-pura batuk’. Dan esoknya sudah ada kekhawatiran: yah, dia lagi yang jadi imam. Tak heran, masjid atau musholla yang ramai jama’ah shalat tarawih misalnya, biasanya karena bacaan imamnya cepat. Tak sampai satu menit, cukup satu hembusan nafas. Lebih cepat, lebih baik, dan lebih banyak peminat. Atau di luar shalat, berapa lama kita mampu bertahan tilawah? Ketika tiba-tiba rasa kantuk menyerang, dan waktu pun seolah terasa lama. Tanpa sadar, kita berhenti membaca dan mulai menghitung jumlah halaman yang sudah dibaca. Banyak sedikitnya bacaan mungkin relatif, namun kekurangnyamanan itu jelas dirasakan. Ada kekhusyu’an yang berat dipertahankan.

Mengapa waktu terasa begitu cepat ketika kita mendengarkan musik atau menonton film yang kita sukai? Karena jiwa kita menikmatinya. Rasa kantuk dan bosan mudah menyerang aktivitas yang kurang atau tidak dinikmati. Hal itu pula yang menjelaskan mengapa banyak orang yang tahan menonton pertandingan bola dua jam atau berjam-jam memancing ikan di kolam. Ya karena mereka menikmatinya. Kecepatan baca kita pun meningkat ketika membaca komik atau novel yang disukai. Semuanya selesai dalam waktu singkat. Lalu coba bayangkan kecintaan Hudzaifah r.a. mendengarkan bacaan Al Qur’an lebih dari lima juz dalam satu raka’at. Tak perlu bayangkan beratnya, karena semua menjadi ringan ketika kita menikmati prosesnya.

Kesulitan yang kita rasakan untuk merasa nyaman berinteraksi dengan Al Qur’an di antaranya disebabkan karena kita belum menemukan ketertarikan dengan Al Qur’an. Padahal Allah SWT telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari, untuk dinikmati. Bahkan dalam Surah Al Qamar, Allah SWT empat kali mengatakan, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. Al Qur’an turun di kala Bangsa Arab tengah menggandrungi syair dan sastra. Nyatanya bahasa Al Qur’an menjadi daya magnet yang luar biasa kala itu. Tidak sedikit shahabat yang masuk Islam hanya karena mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an, di antaranya Umar bin Khattab yang mendengarkan Al Qur’an Surah Thoha. Bahkan dikisahkan, para dedengkot musuh Islam kala itu seperti Abu Lahab dan Abu Jahal, diam-diam mencuri dengar pembacaan ayat Al Qur’an. Fitrah mereka tertarik dengan AlQur’an, pun kesombongan mereka mengingkarinya.

Ada sebagian orang yang tertarik dengan Al Qur’an karena berbagai inspirasi di dalamnya, termasuk hikmah dan ilmu pengetahuan. Beberapa orang membuka Al Qur’an di sembarang tempat ketika tertimpa masalah, dan secara ‘kebetulan’ surah atau halaman yang dibuka akan menyediakan jawaban atas permasalahan mereka. Sayangnya, bukan begitu karakteristik para pecinta Al Qur’an. Mereka tulus mencintai Al Qur’an secara keseluruhan. Bukan karena satu dua ayat yang menjadi sumber ketertarikan, apalagi hanya mendatangi Al Qur’an di saat butuh inspirasi ataupun jawaban atas berbagai permasalahan hidup. Para pecinta Al Qur’an ini menjadikan Al Qur’an sebagai candu di setiap bagiannya.

Perwujudan Al Qur’an Addict ini bisa dilihat di bulan Ramadhan, dimana sejak selepas shubuh, seusai zhuhur bahkan hingga setelah shalat tarawih di malam hari begitu banyak orang yang membaca Al Qur’an. Sebagian orang bahkan berlomba-lomba mengkhatamkan Qur’an. Namun para pecinta Al Qur’an sejati tidak mengenal sekat waktu bernama Ramadhan. Ketagihan berinteraksi dengan Al Qur’an mengisi hari-hari mereka. Dalam berbagai riwayat dikisahkan suatu ketika Abdullah bin Amr r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW tentang lama waktu mengkhatamkan Al Qur’an. Rasulullah SAW awalnya menjawab satu bulan, namun Abdullah bin Amr r.a. terus mengatakan bisa lebih kuat dari itu sehingga Rasulullah SAW akhirnya bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari”.

(bersambung)

Monitoring dan Evaluasi Produktif (2/2)

Burung Hud-hud pun bercerita panjang lebar tentang negeri Saba’ yang penduduknya menyembah matahari dan dipimpin oleh seorang wanita (QS. An Naml: 22 – 26). Laporan yang detail disampaikan Hud-hud sebagai jawaban atas ketelitian Nabi Sulaiman a.s. Hikmah ketiga dalam melakukan monev efektif adalah dengan memperhatikan hal-hal detail. Hal-hal yang umum tampak akan terlihat lumrah, bahkan bisa ‘dikondisikan’ sehingga terlihat baik. Karenanya Rasulullah SAW mengevaluasi sahabat hingga amalan spesifik, karenanya Umar r.a. melakukan monitoring hingga ke pelosok-pelosok. Sehingga menjadi lumrah ketika menilai kebersihan sebuah rumah misalnya, bukan dilihat dari tampilan luar, melainkan harus dilihat bagaimana dapur dan kamar mandinya, bahkan perlu diperiksa apakah ada debu di perabotan rumahnya.

Menariknya, Nabi Sulaiman a.s. tak lantas meng-iya-kan laporan dari Hud-hud. Beliau akan memeriksa kebenarannya terlebih dahulu (QS. An Naml: 27) dan menugaskan Hud-hud untuk menindaklanjuti temuan tersebut (QS. An Naml: 28). Hikmah keempat dalam melakukan monev efektif adalah memverifikasi temuan. Triangulasi temuan menjadi perlu sebab perspektif manusia beragam, belum lagi karakter manusia juga berbeda-beda, ada yang suka mengeluh, ada yang gemar melebih-lebihkan, ada pula yang terlalu tawadhu. Pembuatan keputusan ataupun aksi tindak lanjut monev sangatlah ditentukan oleh kesahihan temuan, karenanya konfirmasi begitu penting agar tidak ‘salah obat’.

Jalur diplomasi pun ditempuh, mulai dengan pengiriman surat dan memberikan kesempatan bagi Ratu Negeri Saba untuk mendiskusikannya beserta para punggawanya (QS. An Naml: 28 – 35). Ada tahapan dalam melakukan perbaikan, termasuk pelibatan pihak yang dimonev untuk berpikir dan bersikap. Inilah hikmah kelima, memberikan ruang untuk introspeksi, berdiskusi dan menyikapi temuan monev menjadi penting agar hadir kepemilikan terhadap tindakan perbaikan yang diharapkan akan terealisasi. Sikap langsung memberikan umpan balik yang spesifik justru terkesan menghakimi dan meniadakan berpikir kritis yang akan mengeliminasi tumbuhnya kesadaran. Akan lebih baik lagi jika solusi lahir dari wawas diri pihak yang dimonev, komitmen perbaikan tentu akan lebih kuat.

Hal yang cukup menonjol dari surat yang dikirim Nabi Sulaiman a.s. adalah diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim dan berisi ajakan untuk tunduk memeluk Islam (QS. An Naml: 30 – 31). Ada misi perbaikan yang diusung sebagai hikmah keenam. Monev harus didasari keikhlasan untuk melakukan perbaikan dengan rangkaian aktivitas yang penuh kebaikan. Salah satu nilai kebaikan yang harus melekat dalam aktivitas monev adalah integritas. Integritas inilah yang membuat Nabi Sulaiman a.s. menolak harta yang dihadiahkan kepadanya (QS. An Naml: 35 – 37). Integritas inilah yang menjadi hikmah ketujuh. Penilaian hasil monev tidak seharusnya terganggu oleh jamuan yang dihidangkan atau pun akomodasi yang disediakan, apalagi dipengaruhi oleh agenda jalan-jalan yang difasilitasi. Semangat perbaikan yang penuh berkah harusnya dirawat dengan niat baik dan proses yang baik pula.

Setelah itu Nabi Sulaiman a.s. berdiskusi dengan para pembesarnya untuk merumuskan rencana aksi selanjutnya. Beliau menawarkan kepada para pembesarnya fastabiqul khairat untuk memindahkan singgasana Ratu Saba (QS. An Naml: 38 – 40). Hikmah kedelapan itu adalah musyawarah. Sehebat apapun figur individu, akan lebih efektif dan penuh keberkahan segala sesuatu yang diputuskan melalui musyawarah. Hasil keputusan akan lebih ringan untuk dilaksanakan dengan komitmen bersama. Musyawarah juga akan meminimalisir perkara-perkara yang luput karena keterbatasan perseorangan. Dan musyawarah akan memunculkan potensi-potensi untuk berkontribusi melakukan perbaikan.

Strategi menarik yang digunakan Nabi Sulaiman a.s. untuk mengokohkan keimanan Ratu Saba adalah dengan memberikan semacam studi kasus yang menunjukkan keterbatasan Ratu Saba sebagai hamba Allah. Pertama, setelah singgasana Ratu Saba dipindahkan, Nabi Sulaiman a.s. memerintahkan punggawanya untuk mengubahnya, untuk melihat apakah Ratu Saba mengenalinya atau tidak. Ratu Saba tentu terkejut mendapati Nabi Sulaiman a.s. memiliki singgasana yang serupa dengan miliknya (QS. An Naml: 41 – 42). Kedua, lantai istana yang dibuat seperti kolam air semakin menghadirkan kesadaran Ratu Saba bahwa kekuasaan dirinya tak ada apa-apanya. Ia pun lantas mengakui kebesaran Allah SWT (QS. An Naml: 43). Strategi pemberian contoh dan studi kasus ini memperkuat hikmah kelima mengenai pentahapan dan pelibatan secara lebih teknis. Karena sebaik-baik perbaikan hendaknya dimulai dari kesadaran dan pemahaman, bukan karena paksaan. Semakin jelas gambaran perbaikan yang disadari perlu dilakukan, semakin besar pula potensi perubahan yang akan terjadi.

Hikmah terakhir yang tidak dapat luput dari kisah Nabi Sulaiman a.s. adalah senantiasa bersyukur. Dengan segala kekuasaannya, Nabi Sulaiman a.s. tidak pernah lalai dalam bersyukur. “…Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku adalah al-Ghaniy (Maha Kaya), lagi al-Karim (Maha Mulia)” (QS. An Naml: 40). Jika tidak ada temuan mayor dalam aktivitas monev, maka hal tersebut perlu disyukuri. Pun bila ada temuan penting juga perlu disyukuri karena hal tersebut berarti membuka peluang untuk improvement. Masalah kesyukuran ini juga terkait dengan motivasi untuk melakukan perbaikan karena syukur akan berbanding lurus dengan nikmat yang Allah SWT berikan. Termasuk nikmat ditunjukkan kekurangan untuk bisa diperbaiki, nikmat untuk bisa membenahi diri, dan nikmat untuk dapat terus bersyukur.

Jadi jika aktivitas monev hanya jadi rutinitas tanpa pemaknaan mendalam ataupun belum menghasilkan perbaikan seperti yang diharapkan, bisa jadi ada yang salah dalam pemahaman, niat awal, proses yang dilakukan, atau pun penyikapan yang keliru terhadap temuan. Kisah monev ala Nabi Sulaiman a.s. banyak memberi inspirasi tentang menjalani monev secara efektif, mulai dari konsistensi hingga rasa syukur yang hendaknya menyertai setiap aktivitas monev. Dan ada baiknya juga jika inspirasi ini juga menggerakkan setiap kita untuk senantiasa memonitoring dan mengevaluasi diri. Senantiasa mencoba menjadi pribadi yang lebih baik setiap saatnya sebelum hari dimana amalan manusia akan dievaluasi langsung oleh Allah SWT.

…Wahai Rabbku, perkenankanlah aku untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu (Allah) yang telah Engkau  anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih
(QS. An Naml: 19)