Category Archives: Artikel Islami

Puasa: Metamorfosis Kupu-kupu atau Lebah?

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibangun manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An-Nahl: 68 – 69)

Ibadah puasa kerap dianalogikan sebagai proses metamofosis yang dilakukan ulat untuk berubah menjadi kupu‑kupu, yaitu perubahan dari sesuatu yang menjijikkan dan menakutkan (ulat) menjadi sesuatu yang indah dan menarik serta memberi banyak manfaat bagi makhluk lain (kupu-­kupu). Analogi menarik, dan lebih menarik dibandingkan jika mengambil analogi metamorfosis yang dilakukan binatang lain, seperti capung, jangkrik, belalang, lalat, ataupun nyamuk. Apalagi jika dibandingkan metamorfosis katak atau kecoa. Puasanya ulat juga lebih menarik untuk diambil hikmahnya dibandingkan dengan puasanya hewan lain seperti unta, kukang, ular, biawak, ataupun ayam betina.

Namun ada binatang yang juga melakukan metamorfosis sempurna –melewati fase telur, larva (ulat), pupa (kepompong), imago (dewasa)– yang seakan dilupakan. Salah satu dari tiga serangga yang menjadi nama surah dalam Al Qur’an, yaitu lebah. Jika kata An Nahl (lebah) dijadikan nama surah ke-16 Al Qur’an dan disebutkan dalam ayat ke-68 di surah tersebut, kata Al Farasya (kupu-kupu) justru disebutkan dalam surah Al Qari’ah yang menggambarkan kondisi manusia ketika datang hari kiamat. “Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran” (QS. Al Qari’ah: 4). Lalu bagaimana perbandingan analogi metamorfosis pada kupu-kupu dan lebah dengan puasa Ramadhan?

Fase telur kupu-kupu dan lebah relatif sama. Bedanya kupu-kupu bertelur di outdoor sementara lebah bertelur dalam sarangnya. Lebih aman, dijaga lebah dewasa pula. Selanjutnya telur menetas menjadi larva (ulat). Larva kupu-kupu (ulat) sangat menjijikkan bentuknya, kadang bahkan tubuhnya diselimuti duri yang beracun. Tidak sampai mematikan manusia sih, tapi cukup membuat bengkak dan gatal-gatal. Tidak hanya itu, ulat ini sangat aktif makan (jika tidak bisa dibilang serakah) sehingga merusak tumbuhan yang ditinggalinya. Sementara larva lebah tetap tinggal di sarangnya, makanannya pun disediakan oleh lebah yang merawatnya. Secara fisik memang agak menggelikan –istilah yang sepertinya lebih tepat dibandingkan menjijikkan—namun larva lebah tidak merusak. Bahkan dengan komposisi yang dikandungnya, larva lebah dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Menganalogikan manusia sebelum Ramadhan dengan ulat berarti memandang calon kontestan Ramadhan sebagai pribadi menakutkan yang berbuat kerusakan. Analogi yang lebih cocok untuk menggambarkan orang kafir sebelum memperoleh hidayah. Padahal sebelum Ramadhan, umat muslim seharusnya sudah mulai membiasakan amal shalih yang nantinya akan diperkuat di bulan Ramadhan. Bekal Ramadhan bukanlah dengan makan sebanyak mungkin atau berbuat kerusakan sebesar mungkin. Dalam konteks muhasabah (introspeksi) mungkin boleh, tetapi terlalu hina memandang diri sendiri juga bisa membuat manusia berputus asa dari Rahmat Allah. Yang lebih tepat adalah menyadari kekurangan diri, memperbanyak bekal persiapan, tidak berbuat kerusakan dan terus mencoba memberikan manfaat. Bisa saja Allah tidak menyampaikan pada bulan Ramadhan. Ya, seperti larva lebah.

Selanjutnya, larva kupu-kupu dan lebah akan menjadi pupa selama beberapa hari, pekan atau bulan (tergantung spesiesnya) dan berkembang ke bentuk yang lebih baik mengandalkan cadangan makanan yang diperolehnya ketika menjadi larva. Proses di dalam pupa kupu-kupu lebih radikal karena terjadi histolisis atau penghancuran dari dalam jaringan atau tubuh sendiri menggunakan cairan yang sebelumnya digunakan untuk mencerna makanan. Lalu histoblast pada larva akan menyusun ulang tubuh tersebut sehingga mampu menghasilkan bentuk yang (jauh) berbeda dengan fase larvanya. Kondisi pupa ini tidak boleh bocor atau mendapat gangguan berarti karena dapat menggangu jalannya histogenesis atau proses penyusunan ulang. Lebah lebih beruntung karena selama fase pupa dijaga oleh lebah dewasa, selain itu cadangan makanan yang ada di sarang (luar tubuh) membuat histolisisnya tidak terlalu radikal.

Seberapa revolusioner puasa mampu mengubah seseorang memang dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah hidayah dan persiapan menjelang Ramadhan. Persiapan Ramadhan yang cukup tidak akan mendatangkan lonjakan semangat tinggi sesaat ketika Ramadhan yang kemudian lenyap setelah Ramadhan berlalu. Namun memang ada manusia yang memperoleh pencerahan sebagai titik baliknya di bulan Ramadhan. Ia akan berubah secara signifikan keluar dari Ramadhan. Apalagi di dalam Ramadhan ada malam Lailatur Qadar yang juga menjanjikan hal tersebut. Namun ada juga yang berubah secara inkremental atau continuous improvement. Perubahan yang biasanya lebih terjaga.

Kemudian, dari pupa tersebut keluarlah kupu-kupu dan lebah dewasa. Kupu-kupu harus berjuang hidup dalam kemandirian, sementara lebah hidup dalam koloni. Bukan sekedar berjama’ah, lebah juga itqon (profesional). Koloni lebah memiliki pembagian tugas yang jelas, teratur, tertib, disiplin, dan penuh semangat bergotong-royong. Sementara kupu-kupu lebih individualis. Lebah juga gesit dan pekerja keras. Sayapnya berkepak hingga ratusan kali per detik. Dalam sehari, lebah pekerja mampu mengumpulkan nektar dari 250 ribu tangkai bunga dan butuh jarak tempuh lebih dari 1 juta kilometer untuk menghasilkan 1 kg madu. Lebah juga berani dan rela berkorban, menyengat musuh akan membawanya pada kematian. Sementara kupu-kupu lebih indah dipandang. Ya, hanya itu. Pun lebah juga arsitek pembuat sarang indah sih. Kupu-kupu dan lebah sama-sama berperan sebagai polinator yang membantu proses penyerbukan, dan sama-sama makan yang baik tanpa merusaknya. Bedanya, lebah akan menghasilkan madu, lilin lebah, tepung sari (pollen), propolis, susu lebah (royal jelly), hingga sengat lebah yang semuanya bermanfaat. Sedangkan kupu-kupu menghasilkan telur yang akan menjadi larva (ulat) yang menjijikkan dan merusak.

Keberkahan ibadah Ramadhan seseorang dapat dilihat selepas Ramadhan, bukan hanya secara fisik, namun juga dari kekuatan ruhiyah dan apa yang ditinggalkan. Ramadhan bukanlah bulan untuk menguruskan badan sehingga lebih enak untuk dilihat. Bukan pula bertujuan menghasilkan lulusan madrasah Ramadhan yang seakan berbeda dengan sebelum Ramadhan. Ramadhan mengharapkan ada jejak perbaikan jelas yang ditinggalkan, kontribusi nyata yang diberikan, dan kebaikan yang diwariskan. Menghadirkan banyak kebaikan secara berjama’ah dan terorganisir. Tidak hilang kebaikannya seiring berlalunya Ramadhan. Tidak kembali membuat kerusakan dan terlalaikan oleh tipu daya dunia. Ya, menjadi seperti lebah, bukan belalang kupu-kupu yang inkonsisten.

Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku” (HR. Muslim)

EURO, EUforia ROmadhon 2016

Bulan Juni di tahun genap adalah bulan yang dinantikan oleh para penggemar sepakbola. Jika tahun genap tersebut habis dibagi empat seperti tahun 2016 ini, akan ada gelaran kompetisi sepakbola antar negara di benua Eropa yang biasa dikenal dengan Euro. Jika tahun genap tersebut tidak habis dibagi empat seperti tahun 2014 kemarin maka akan ada pesta bola yang lebih besar, yaitu piala dunia. Kompetisi sepakbola internasional memang biasa dilangsungkan di bulan Juni – Juli setelah kompetisi lokal/ nasional umumnya selesai. Tahun 2016 ini bahkan lebih spesial karena ada penyelenggaraan Copa America Centenario di waktu yang hampir bersamaan. Copa America Centenario adalah edisi khusus memperingati 100 tahun penyelenggaraan Copa America yang gelaran terakhirnya baru saja selesai medio 2015 lalu.

Bulan Juni tahun ini juga merupakan bulan yang dinantikan umat Islam karena bertepatan dengan masuknya bulan istimewa, yaitu Ramadhan. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut secara eksplisit dalam Al Qur’an, di dalamnya diturunkan Al Qur’an dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan dimana pahala kebaikan dilipatgandakan, pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Jika 1 Ramadhan 1437 Hijriah jatuh pada tanggal 6 Juni 2016 dan akan berakhir di tanggal 5 Juli 2016 (atau 4 Juli 2016 jika Ramadhan hanya 29 hari), Copa America Centenario berlangsung 4 – 27 Juni 2016 waktu Indonesia, sementara Euro akan dilangsungkan pada 11 Juni – 11 Juli 2016 waktu Indonesia. Euro akan disiarkan langsung dari malam hingga dini hari sementara Copa America Centenario disiarkan dari dini hari hingga menjelang siang.

Sepakbola dan Ramadhan mudah saja dibenturkan. Bukan hanya jadwal siaran sepakbola yang bentrok dengan jadwal tarawih, tadarusan, shalat malam, keberkahan waktu sahur, hingga waktu shubuh dan dhuha. Namun secara konten pun menonton sepakbola sulit dikategorikan sebagai ibadah. Jika bermain sepakbola masih ada unsur tarbiyah jasadiyah yang menyehatkan selama masih dalam koridor syar’i, menonton sepakbola lebih kental nuansa membuang waktu, jauh sekali dibandingkan dengan berbagai keutamaan ibadah yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan. Tidak perlu terburu-buru menghakimi menonton sepakbola sebagai suatu aktivitas yang makruh atau bahkan haram. Namun umat Islam memang perlu waspada akan kesia-siaan perkataan dan perbuatan, terutama di bulan Ramadhan ini.

Kompetisi sepakbola memang pada akhirnya banyak menjadi ujian Ramadhan dibandingkan sebagai factor pndukung. Namun alih-alih menghakimi para penggemar sepakbola, ada baiknya kita mengambil ibrah dari fenomena sepakbola. Setidaknya ada satu kesamaan antara Ramadhan dengan kompetisi sepakbola, keduanya disambut dengan euforia. Dalam KBBI, euforia didefinisikan sebagai perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Dan segala sesuatu yang berlebihan biasanya berkonotasi negatif. Euforia sepakbola membuat penggemarnya rela bangun malam atau bahkan tidak tidur demi menonton pertandingan. Malah ada yang rela menempuh jarak sangat jauh hanya demi menonton sepakbola. Euforia terhadap suatu klub bisa membuat seseorang berkata dan bersikap tidak sepantasnya untuk membela klubnya, bahkan bisa jadi tawuran antar supporter.

Ramadhan, sebagai bulan yang dinanti banyak orang, sangat mungkin mendatangkan euforia, dengan atau tanpa disadari. Lihat saja betapa ramainya tempat ibadah di hari pertama penyelenggaraan shalat tarawih. Euforia Ramadhan. Lihat juga betapa banyaknya makanan tersaji –dan akhirnya terbuang—ketika berbuka. Euforia Ramadhan. Tidak sedikit juga orang yang mendadak jadi islami, bukan karena hidayah tetapi hanya sebagai penyesuaian menyambut euforia Ramadhan. Dan yang namanya berlebihan biasanya tidak baik, terlalu cinta pun bisa berbuah bosan dan benci. Ternyata tidak banyak mereka yang mampu menjaga semangat Ramadhannya sepanjang dan selepas Ramadhan.

Euforia Ramadhan tidak hanya terkait dengan semangat menyambut datangnya Ramadhan, tetapi akan kembali diuji ketika akan datang hari Idul Fitri. Alih-alih memperbanyak ibadah, banyak orang yang malah sibuk dengan berbagai persiapan lebaran, termasuk sibuk menghabiskan uang THR yang baru saja diterimanya. Kegembiraan yang berlebihan memang kerap abai terhadap esensi. Padahal siapapun juara Copa America dan Euro tidak ada pengaruhnya terhadap kita yang ikut-ikutan gembira. Akhirnya, Ramadhan berlalu, kegembiraan kita seketika berubah kesedihan karena ternyata kita terlalu larut dalam kegembiraan sehingga lalai terhadap berbagai keutamaan Ramadhan yang mastinya bisa diraih. Atau mungkin euforia Ramadhan berganti dengan euforia lebaran, dan kemudian hampa. Karena ternyata Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan lain.

Sepakbola mengajarkan kita untuk banyak berlatih sebelum bertanding. Mengajarkan kita untuk memilih formasi dan strategi yang tepat. Bahwa kemenangan bukan ditentukan dengan tidak kebobolan, namun juga harus membobol gawang lawan sebanyak mungkin. Bahwa tidak boleh lengah dan bersantai-santai, semangat harus terus terjaga sepanjang pertandingan. Masa-masa akhir jelang pertandingan berakhir adalah saat krusial. Lebih baik bersusah payah menahan lelah dan menunda perayaan kemenangan di saat-saat itu, dari pada kemenangan yang sudah di depan mata buyar karena inkonsistensi, gagal fokus dan euforia. Ya, mumpung Ramadhan belum lama dimulai, kita masih bisa menguatkan persiapan, menetapkan target dan strategi, serta menjaga semangat dan keikhlashan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Kita tunda euforia kita, sampai nanti ketika kita sudah masuk ke Surga-Nya. Aamiiin…

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan. Tinggikan hari dengan kesibukan Rabbani. Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa. Tiada hasil kecuali lapar dahaga. Ingatkan diri Sang Junjungan di bulan Rahmah. Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah. Cerah hari hari bercahayakan, indah menyinar ketakwaan…” (‘Ramadhan’, Izzatul Islam)

Dua Rukun Iman

Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk…” (HR. Muslim)

Dalam KBBI, rukun adalah asas, dasar, sendi, atau sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan. Sementara rukun iman didefinisikan sebagai dasar keyakinan dalam agama Islam, yaitu percaya kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada para nabi dan rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada untung baik dan buruk yang datang dari Allah. Ada enam asas dalam agama Islam, jika didetailkan lagi dalam cabang-cabang iman jumlahnya akan lebih banyak lagi. “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari – Muslim).

Selain iman kepada Allah SWT yang sangat mendasar, dari enam rukun iman dan puluhan cabang iman yang telah diklasifikasikan oleh berbagai ulama, iman kepada hari akhir adalah iman yang paling banyak disebut dalam Al Qur’an dengan berbagai bentuknya. Bahkan dalam 19 ayat Al Qur’an, iman kepada hari akhir disebut bersamaan dengan iman kepada Allah SWT. Misalnya, dalam Al Qur’an surah An Nisa ayat 59, Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Penyebutan secara bersamaan memperlihatkan adanya keterkaitan erat, sementara penyebutan secara berulang menunjukkan tingkat kepentingan hal tersebut untuk menjadi perhatian. Misalnya jika  kita perhatikan tentang mendirikan shalat dan menunaikan zakat yang sebanyak 28 kali dalam Al Qur’an disebut bersamaan, sangat jelas keduanya saling terkait dan melengkapi, tidak bisa berdiri sendirian. Para sahabat dan ulama terdahulu banyak mengingatkan bahwa shalat dan zakat diwajibkan bersama, tidak secara terpisah-pisah. Bahkan Abu Bakar r.a. memerangi mereka yang enggan membayar zakat pun mereka masih menunaikan shalat.  “Dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari akhir, orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar” (QS. An Nisa: 162).

Iman kepada Allah SWT mengandung empat unsur, yaitu mengimani wujud Allah SWT, mengimani rububiyah Allah SWT, mengimani uluhiyah Allah SWT, dan mengimani nama dan sifat Allah SWT. Sementara iman kepada hari akhir adalah percaya penuh bahwa semua yang Allah beritahukan di dalam kitab-Nya dan yang Rasul-Nya sampaikan mengenai kehidupan setelah mati adalah benar, yaitu tentang adanya fitnah kubur, berikut azab dan nikmat yang ada di dalamnya. Dan juga tentang adanya hari kebangkitan (yaumul ba’ats), hari pengumpulan (yaumul mahsyar), dibagikannya catatan amal (ash-shuhuf), hari perhitungan (yaumul hisab), timbangan (mizan), telaga (al-haudh), jembatan (ash-shirath), syafa’at, serta adanya surga dan neraka yang telah Allah SWT persiapkan.

Sebagian besar komponen iman tersebut bersifat ghaib, tidak seperti Rasul atau Kitab yang jelas terlihat sosok atau wujudnya. Mengimaninya juga memiliki konsekuensi besar yang terwujud dalam tingkah laku. Kaum kafir Quraisy sebenarnya mengakui adanya (Rububiyah) Allah sebagai pencipta alam semesta melalui nenek moyang mereka, namun menolak menyembah (Uluhiyah) Allah karena kebodohan dan kesombongan mereka. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mereka mengimani hari akhir dimana ibu lupa pada anaknya atau matahari hanya berjarak 1 mil dari manusia. Belum lagi mengimani tanda-tanda hari kiamat seperti munculnya Dajjal, binatang melata (ad-daabah), ya’juj dan ma’juj, turunnya Nabi Isa a.s. ataupun terbitnya matahari dari barat. Alhasil, pun mereka yang menggelari Muhammad sebagai Al Amin (orang yang dapat dipercaya), kaum kafir Quraisy menolak risalah yang dibawanya, bahkan mencibirnya. Mereka memilih untuk tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Iman kepada Allah SWT dan hari akhir ibarat hubungan antara iman dan amal shalih yang sebanyak 60 kali disebutkan bersamaan dalam Al Qur’an. Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, “Allah tidak menerima iman tanpa amal dan tidak pula menerima amal tanpa iman”. Menariknya, korelasi iman (keshalihan individu) dengan amal shalih (keshalihan sosial) ini sejalan dengan korelasi antara iman kepada Allah dengan iman kepada hari akhir, dimana iman harus selalu terimplementasi dalam amal nyata. Tidak heran dalam berbagai ayat dimana iman kepada Allah dan hari akhir disebutkan bersamaan, juga dicantumkan amal shalih yang menyertainya, misalnya dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 177, surah Al Maidah ayat 69, atau surah At Taubah ayat 18.

Dalam sebuah hadits yang riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya”. Indikator keimanan kepada Allah dan hari akhir yang ghaib, dalam berbagai dalil justru sangat jelas ukurannya. Tercermin dalam aktivitas sehari-hari, termasuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, sabar, dan sebagainya. Tidak semua komponen rukun iman punya korelasi sekuat ini.

Iman kepada Allah SWT dan iman kepada hari akhir memberi dampak positif bagi kehidupan manusia, di antaranya sama-sama mendorong sikap teguh, sabar, berani, penuh semangat dan optimisme. Iman kepada Allah SWT akan menguatkan jiwa merdeka seorang hamba, sementara iman kepada hari akhir akan mendorong motivasi produktif untuk beramal. Tidak cinta dunia, tidak takut mati. Memahami hakikat diri beserta masa depan abadi yang menanti, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya. Seimbang antara sikap takut (khauf) dan harap (raja’). Banyak mengingat Allah SWT dan meneladani peri kehidupan Rasulullah SAW.

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Islam dan Filosofi Continuous Improvement

“The best revenge is to improve yourself” (Ali bin Abi Thalib)

Terminologi Continuous Improvement tidak terlepas dari konsep Kaizen di Jepang yang bermakna perbaikan terus-menerus atau perbaikan berkelanjutan. Perbaikan ini bersifat sedikit demi sedikit (step by step improvement), komprehensif dan terintegrasi dengan filosofi Total Quality Management (TQM). Karena terintegrasi dengan TQM, pembahasan tentang Continuous Improvement kerap melebar ke ranah manajemen mutu, mulai dari siklus Plan-Do-Check-Action (Deming Cycle), waste management (Muda, Mura, Muri), hingga konsep zero defect atau bahkan six sigma lengkap dengan siklus DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Kajian teori yang menarik pun sebenarnya filosofi continuous improvement lebih sederhana dan aplikatif.

Filosofi Continuous Improvement mendorong tercapainya standar kualitas yang optimal melalui beberapa langkah perbaikan yang sistematis dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Berbagai aksi perbaikan yang sederhana dan terus-menerus akan memunculkan gagasan dan aksi perbaikan yang lebih banyak sehingga sedikit demi sedikit berbagai permasalahan akan terselesaikan. Dan perbaikan ini dilakukan oleh setiap personal dalam organisasi. Continuous Improvement adalah usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan untuk terus berkembang dan melakukan perbaikan. Filosofi yang ternyata sejalan dengan konsep Islam yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa melakukan perbaikan.

Continuous Improvement adalah perubahan memelihara nikmat Allah SWT. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar Ra’du: 11). ‘Keadaan’ disini ditafsirkan sebagai nikmat –bukan nasib—sebagaimana tersebut dalam Surah Al Anfal ayat 53. Kelalaian dan kemaksiatan dapat menghilangkan nikmat, sehingga upaya merawat dan meningkatkan nikmat perlu disertai perubahan diri ke arah yang lebih baik. Disinilah continuous improvement mulai menjalankan peran, mulai dari diri sendiri, senantiasa melakukan perubahan untuk memelihara nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Continuous Improvement adalah merawat produktivitas. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al Insyirah: 7). Kata ‘faraghta’ berasal dari kata ‘faragha’ yang berarti kosong setelah sebelumnya terisi penuh. Sebagian mufassir menafsirkan ayat tersebut adalah bahwa apabila kamu telah selesai berdakwah, beribadahlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia, kerjakanlah urusan akhirat; apabila kamu telah selesai dari kesibukan dunia, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berdoa. M. Quraish Shihab cenderung untuk tidak menetapkan ragam kesungguhan yang dimaksud karena objeknya tidak disebutkan sehingga bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kesungguhan, selama dibenarkan syariat. Kewajiban manusia bersifat simultan, terus menerus tanpa putus. Demikian pula dengan filosofi continuous improvement, selesai melakukan perbaikan, ada hal lain yang menanti untuk diperbaiki. Tetap produktif dalam menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Continuous Improvement adalah perbaikan kualitas. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk: 2). Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan bahwa amal yang lebih baik adalah yang dilakukan dengan ikhlash dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Yang paling menarik adalah penggunaan diksi ‘yang lebih baik amalnya’, bukannya ‘yang lebih banyak amalnya’, menunjukkan bahwa ada perhatian lebih pada dimensi kualitas amal, bukan sekedar kualitas. Dan penggunaan kata ‘lebih baik’ (comparative) bukan ‘paling baik’ (superlative) menunjukkan esensi dari filosofi continuous improvement bahwa tidak ada yang paling baik, namun selalu ada yang lebih baik. Kualitas terbaik artinya sempurna, tidak ada lagi yang bisa di-improve. Justru tidak manusiawi. Yang diminta hanyalah terus berupaya lebih baik setiap saatnya, menuju kualitas amal optimum yang bisa dilakukan.

Continuous Improvement adalah konsistensi kerja. “Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (HR Abu Dawud). Continuous improvement tidak menghendaki perubahan yang radikal, tetapi inkremental. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Kebaikan dan perbaikan ketika terbiasa dilakukan akan menghasilkan kebaikan dan perbaikan selanjutnya. Continuous improvement. Kontinyuitas ini pula yang akan memastikan kerja lebih langgeng dan akan berakhir yang baik. Pembiasaan juga akan meminimalisir kebosanan dalam beraktivitas, dengan syarat kontinyuitas yang dilakukan disertai dengan penambahan kualitas ataupun kuantitas, bukan sekedar pengulangan dan rutinitas. Itulah sejatinya filosofi continuous improvement.

Continuous Improvement adalah proses seumur hidup. Barangsiapa yang harinya (hari ini) lebih baik dari sebelumnya, maka ia telah beruntung, barangsiapa harinya seperti sebelumnya, maka ia telah merugi, dan barangsiapa yang harinya lebih jelek dari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat. Ungkapan tersebut banyak dinilai sebagai hadits palsu dan hanya bersandar pada perkataan Rasulullah SAW dalam mimpi seorang ulama. Selalu lebih baik setiap harinya juga dianggap tidak realistis, namun ungkapan tersebut sejatinya sangat sejalan dengan filosofi continuous improvement. Pertama, ungkapan tersebut menunjukkan tekad untuk lebih baik setiap harinya. Kedua, nilai ‘lebih baik’ tidak harus pada seluruh aspek, bisa jadi hanya tambahan kebaikan kecil di beberapa aspek. Ketiga, rentang hari ini dengan sebelumnya tidak harus dimaknai sempit. Sungguh dalam kerugian orang-orang yang berlalu bulan dan tahun usianya namun kebaikannya tidak bertambah, apalagi kalau sampai berkurang. Filosofi continuous improvement berfokus pada proses, dengan rentang waktu yang panjang. Kompetisi menuntut setiap diri dan organisasi untuk terus semakin baik setiap saatnya. Diam tetap di tempat akan tertinggal, apalagi jika mundur. Dan proses ini adalah pembelajaran seumur hidup (life-long learning).

Perjalanan menuju visi besar, baik visi hidup maupun visi organisasi merupakan perjalanan jauh yang membutuhkan nafas panjang. Barangkali butuh momentum hijrah atau titik balik kesadaran hidup yang bersifat revolusioner, namun istiqomah dalam menjaga iman dan amal justru membutuhkan kontinyuitas dalam melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Terus berbenah diri, melakukan kebaikan dan perbaikan secara terus menerus. Menjadi pribadi pembelajar dan organisasi pembelajar (learning organization) yang adaptif terhadap perubahan karena senantiasa melakukan kebaikan dan perbaikan. Karena kehidupan dan kematian sejatinya hanyalah ujian untuk melihat siapa yang konsisten lebih baik dalam beramal.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya ia berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah?” Beliau bersabda, “Amalan yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih)

*dimuat di republika online 27 Maret 2016

Keutamaan Memiliki Rasa Tidak Memiliki

Alif tengah dirundung gundah. Mas Garuda menghilang tanpa jejak paska tragedi WTC 11 September 2001, entah masih hidup atau tidak. Seketika Alif teringat nasihat dari Ustadz Fariz, “Kehilangan memang memilukan. Tapi kehilangan hanya ada ketika kita sudah merasa memiliki. Bagaimana kalau kita tidak pernah merasa memiliki? Dan sebaiknya kita jangan terlalu merasa memiliki. Sebaliknya, kita malah yang harus merasa dimiliki. Oleh Sang Maha Pemilik.

Alif bertanya, “Kenapa tidak boleh merasa memiliki? Bukannya kita diberikan kesempatan di dunia ini untuk memiliki?”. Ustadz Fariz menjawab, “Pada hakikatnya, tidak ada satu pun yang kita miliki. Segalanya di dunia ini hanya pinjaman. Bahkan kita meminjam waktu dan nyawa kepada Yang Kuasa. Hidup, raga, roh, suami, istri, orangtua, anak, keluarga, uang, materi, jabatan, kekuasaan. Semua adalah titipan sementara. Pemilik sebenarnya cuma Dia.

Tapi ustadz, rasa memiliki membuat kita bertanggung jawab dan mencintai…”, Alif terus bertahan, namun jawaban Ustadz Fariz membuatnya tertegun. “Bahkan rasa cinta itu sendiri adalah titipan-Nya… Tentu tidak ada salahnya mencintai dan mengambil tanggung jawab. Tapi kita harus siap dan sadar sepenuhnya, bahwa  Sang Pemilik setiap saat bisa meminta kembali milik-Nya. Karena itu kenapa harus merasa sangat memiliki?” katanya membalas dengan pertanyaan.

* * *

Kisah tersebut terdapat dalam Novel “Rantau 1 Muara” yang ditulis Ahmad Fuadi dan terinspirasi dari kisah nyata. Terlepas dari dialog tersebut benar terjadi atau tidak, cuplikan kisah di atas menjadi salah satu segmen penting yang menguatkan judul novel, tentang muara di atas muara. Semua adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kembali ke yang satu, yang esensial, yang awal. Yaitu menghamba dan mengabdi. Kepada Sang Pencipta.

Dunia ini fana, demikian pula dengan apa yang ada di dalamnya. Dan memiliki sesuatu yang fana pada hakikatnya adalah tidak memiliki apapun. Namun dunia ini sungguh memperdaya, ramai manusia berlomba-lomba mengejar dunia, untuk memilikinya. Kepemilikan terhadap dunia bahkan kerap menjadi ukuran kesuksesan peradaban manusia. Kepemilikan adalah aset, yang dapat menghadirkan kekuasaan, keleluasaan, bahkan dapat membeli kebahagiaan. Orang yang memiliki banyak aset dipersepsikan sebagai orang kaya dan terhormat yang penuh kemudahan, sementara mereka yang tidak memiliki dunia adalah orang miskin yang hina dan sengsara.

Lalu apakah manusia tidak perlu memiliki aset dunia apapun? Persoalan sebenarnya bukan pada jumlah aset yang dimiliki, melainkan bagaimana rasa memiliki –dan rasa tidak memiliki– itu diposisikan. Karena konsepsi kepemilikan hakikatnya erat kaitannya dengan batasan dan kebermanfaatan. Kepemilikan aset dunia yang banyak disertai dengan rasa tidak memiliki aset tersebut justru akan menuai banyak kebermanfaatan. Penempatan rasa tidak memiliki yang tepat justru akan mengarahkan pemiliknya untuk memiliki lebih banyak keutamaan. Ya, semakin memiliki dengan rasa tidak memiliki.

Sebaliknya, penempatan rasa memiliki yang keliru akan menempatkan pemiliknya pada jurang kehancuran. Lihat bagaimana kisah Qorun yang kaya aset namun ditenggelamkan ke dalam bumi. Atau kisah Fir’aun yang merasa memiliki kekuasaan tidak terbatas yang akhirnya ditenggelamkan ke dasar lautan. Rasa memiliki dunia akan mendorong pada kufur nikmat, kesombongan, dan keserakahan. Salah satu indikator dari rasa memiliki yang tidak pada tempatnya ini adalah ketakutan dan kekhawatiran berlebihan akan kehilangan perihal dunia yang dimiliki. Dan ketika benar-benar kehilangan akan menimbulkan depresi dan kesedihan yang mendalam, bahkan tidak jarang berujung pada kerusakan dan kematian.

Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, wahai musafir papa, yang tidak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak pernah kehilangan apa-apa.”, begitu pesan Syaikh Siti Jenar ketika membahas tentang zuhud. Dan zuhud bukan berarti hidup miskin tanpa harta, tetapi meninggalkan hal-hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah, termasuk berbagai perkara dunia. Suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah orang kaya bisa menjadi orang yang zuhud?” Beliau menjawab, “Ya, dengan syarat ketika banyak hartanya tidak menjadikannya bangga dan ketika luput darinya dunia dia tidak bersedih hati.”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dikisahkan seseorang datang kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku akan suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya niscaya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia?” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa-apa yang dimiliki oleh manusia niscaya manusia mencintaimu”. Abu Dzar r.a. berkata, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”

Rasa tidak memiliki dunia akan memunculkan sifat pemurah, tidak kikir, dan rendah hati karena menyadari bahwa segala sesuatu bukanlah miliknya. Rasa tidak memiliki dunia ini juga akan melahirkan sifat hemat, tulus, dan bertanggung jawab karena memahami semuanya adalah milik Allah SWT yang setiap saat bisa saja diambil Oleh-Nya. Mereka yang menyadari hakikat kepemilikan absolut ada di tangan Allah SWT, akan semakin banyak berbekal dengan iman, amal shalih dan kebermanfaatan bagi orang lain. Mereka sadar lahir ke dunia tidak membawa apapun, begitu pula ketika kembali kepada-Nya. Hanya bekal akhirat yang dikumpulkan selama di dunianyalah yang sejatinya merupakan miliknya.

Orang-orang yang sadar bahwa ada hak orang lain dalam harta mereka akan lebih amanah, peduli dan terus memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Mereka yang sadar bahwa hidup, lingkungan dan organisasi yang mereka tinggali tidak mutlak mereka kuasai akan semakin meyakini pentingnya bermitra, membangun sinergi dan hubungan baik dengan pihak lain. Semakin besar rasa tidak memiliki, semakin banyak pula sikap positif yang dimiliki. Dan kepemilikan terhadap sikap positif akan berbanding lurus terhadap kepemilikan perkara duniawi yang tetap diposisikan sebagai washilah, bukan tujuan. Hidup akan terpenjara dunia dengan merasa punya segalanya. Hidup akan lebih bermakna dengan percaya bahwa dunia seisinya adalah kepunyaan Allah Yang Maha Kaya.

* * *

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

IQ Rasulullah SAW 7000?

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu,bahwa sesungguhnya Tuhan kau ituadalah Tuhan Yang Maha Esa”. Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Awal tahun 1437 Hijriyah ini diisi dengan kajian thibbun nabawi selepas shubuh tanggal 1 Muharram. Beberapa tahun terakhir, pengobatan ala Rasulullah SAW cukup berkembang pesat. Banyak referensi dan informasi yang dapat ditemukan seputar thibbun nabawi, hijamah (bekam), habbatus sauda dan hal-hal lain terkait dengan pengobatan ala Rasulullah SAW. Beberapa informasi dan kontroversi juga kerap menyertai pembahasan ini termasuk berkenaan dengan konspirasi vaksinasi. Namun ada satu informasi yang disampaikan pembicara dan mengusik logika. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa IQ (Intelligence Quotient/ Kecerdasan Inteligensi) Rasulullah Muhammad SAW mencapai angka 7000, sangat jauh dibandingkan IQ seorang jenius sekalipun. Benarkah?

Serangkaian tes untuk memilih orang dengan kualifikasi tertentu memang sudah lama dikenal dan dilakukan manusia, namun tes inteligensi baru berkembang pada abad ke-19, sehingga sudah pasti tidak ada hadits yang menjelaskan tentang besaran IQ Rasulullah SAW. Jika memang benar ada penelitian terkait hal tersebut tentu dilakukan melalui studi literatur dengan kemungkinan bias yang tinggi. Selama ini saja pendekatan kuantitatif tes IQ banyak menuai kritik dengan berbagai perspektif. Dalam catatan sejarah, orang yang memiliki IQ tertinggi adalah William James Sidis yang memiliki IQ sekitar 250 – 300, sementara tokoh seperti Einstein dan Bill Gates memiliki IQ sekitar 160. IQ manusia ini terdistribusi normal, dimana jumlah terbesar ada pada kategori IQ rata-rata sementara mereka yang jenius (very superior) dan yang memiliki IQ jauh di bawah rata-rata (mental defective) jumlahnya sedikit. Jika rata-rata IQ manusia ada di kisaran 90 – 110, maka IQ 7000 jelas tidak masuk akal.

Jika disampaikan bahwa penilaian didasarkan pada kajian literatur bagaimana Rasulullah SAW merespon pertanyaan para shahabat maka bias semakin terjadi. Perkataan Rasulullah SAW adalah bimbingan wahyu Allah SWT, bukan kemauan dan kemampuan beliau sendiri. Jika kecepatan respon dijadikan salah satu indikator kejeniusan, nyatanya tidak semua pertanyaan dapat direspon cepat oleh Rasulullah SAW karena menunggu wahyu. Misalnya ketika para istri Rasulullah SAW meminta tambahan nafkah paska Perang Hunain yang baru terjawab beberapa waktu lamanya dengan turunnya Surah Al Azhab ayat 28 – 29. Atau ketika utusan kafir Quraisy bertanya tentang berbagai hal yang Rasulullah SAW tidak bisa menjawabnya dan menjanjikan jawabannya esok hari. Ternyata wahyu dari Allah SWT tak kunjung datang hingga 15 hari sebagai pelajaran karena kala itu Rasulullah SAW lupa mengucapkan In syaa Allah. Hal ini tertuang dalam Al Qur’an Surah Al Kahfi. Jadi, apa benar IQ Rasulullah SAW mencapai 7000?

Lalu, bukankah Rasulullah SAW memiliki sifat fathonah (cerdas)? Ya, apa yang beliau tawarkan untuk meletakkan Hajar Aswad sehingga beliau digelari Al-Amin adalah sebuah solusi cerdas. Membangun masjid dan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor setelah hijrah adalah strategi cerdas. Namun kecerdasan Rasulullah SAW ini bersumber pada satu kecerdasan utama: spiritualitas. Kecerdasan spiritualitas inilah yang menguatkan beliau menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, mental, emosional, sosial, adversitas, dan kreativitas. Jadi bukan kecerdasan intelektual yang jadi ukuran. Betapa banyak orang jenius yang tidak jadi apa-apa. Dunia pendidikan pun kian sadar bahwa sekadar kecerdasan intelektual di ranah kognitif tidak cukup untuk menghasilkan SDM unggul. Sayangnya, dunia pendidikan Barat hanya mengenal aspek psikomotorik (adversitas) dan afektif (sosial) sebagai pelengkap aspek intelektual, padahal aspek spiritual jauh lebih mendasar.

Keteladanan Rasulullah SAW adalah menyeluruh pada semua aspek bukan karena intelektualitasnya yang super jenius –dan ternyata tidak penting. Namun keunggulan pada kecerdasan spiritual lah yang mengantarkan beliau menjadi pribadi dengan kecerdasan paripurna. Jadi secara intelektual, Rasulullah SAW mungkin saja memiliki keterbatasan sehingga bisa keliru memilih strategi perang, misalnya. Atau dalam sebuah hadits riwayat Muslim pernah juga beliau keliru ketika menyarankan petani kurma di Madinah untuk tidak melakukan penyerbukan kurma sehingga mereka malah mengalami gagal panen. Ketika hal tersebut dilaporkan ke beliau, Rasulullah SAW menjawab, “ Aku hanyalah manusia. Jika aku memerintahkan sesuatu tentang agama, ikutilah. Tetapi jika aku memerintahkan sesuatu yang berasal dari pendapatku, sebenarnya aku hanyalah seorang manusia. Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”. Jadi, masih perlukah membanggakan (ataupun mempermasalahkan) IQ Rasulullah SAW?

Satu lagi catatan berkenaan dengan pernyataan di atas adalah begitu mudahnya umat Islam menyebarkan informasi hoax yang terkesan membanggakan. Saya membayangkan betapa seringnya pembicara menyampaikan bahwa IQ Rasulullah SAW 7000 di berbagai forum, kemudian peserta yang hadir membenarkannya untuk kemudian menyebarkannya juga. Kemudian diungkap fakta bahwa IQ maksimal hanya sekian ratus sehingga tidak mungkin ada assessment yang menghasilkan IQ manusia hingga 7000. Sesuatu yang tadinya membanggakan pun bisa berubah jadi memalukan jika dibungkus dengan kepalsuan yang berlebihan. Kasus serupa banyak terjadi misalnya terkait masuk Islamnya seorang ilmuwan atau tokoh agama lain yang begitu mudah tersebar tanpa diperiksa kebenarannya. Ketika klarifikasi disampaikan yang tampak hanyalah keluguan –jika tidak bisa disebut kebodohan—umat Islam. Apalagi jika klaim IQ Rasulullah SAW tersebut hanya dijadikan alat jualan produk nutrisi otak dengan cover thibbun nabawi, tentu sangat tidak pantas. Umat muslim harus lebih cermat dalam menerima, mengolah dan menyebarkan informasi di era informasi seperti sekarang ini. Dan akhirnya, segala kebenaran hanyalah datang dari sisi Allah SWT. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in…

Shubuh Berjama’ah, Simbol Kekuatan Umat Islam

Barangsiapa yang melakukan shalat Isya berjama’ah maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barangsiapa yang melakukan shalat Shubuh berjama’ah maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.” (HR. Muslim)

Masjid Muniroh Ar Rukban 3 shubuh ini lebih ramai dari biasanya. Padahal baru tadi malam warga Perumahan Muslim Orchid Green Park baru membentuk RT baru dan memilih Ketua RT. Momentum 1 Muharram 1437 Hijriyah ini dimanfaatkan untuk menyebar undangan shalat shubuh berjama’ah ke seluruh warga perumahan, terinspirasi oleh aktivitas serupa yang pernah dilakukan di Masjid Jogokariyan – Yogyakarta. Alhasil, hampir seluruh warga hadir, meningkat dua kali lipat dari jama’ah shubuh biasanya. Tahun ini memang cukup marak gerakan shalat shubuh berjama’ah memanfaatkan momentum Tahun Baru Islam, terutama di kampus-kampus. Pun gerakan ini mungkin masih eventual, belum tentu bisa jadi kebiasaan, tapi hal ini tentu jadi sebuah indikasi kebangkitan Islam yang baik.

Banyak hadits yang mengungkapkan betapa besar keutamaan shalat shubuh berjama’ah, di antaranya adalah menjadi penghalang dari azab neraka, berada dalam jaminan Allah SWT, mendapatkan berkah dari-Nya dan cahaya yang sempurna pada hari kiamat. Masih terkait shalat Shubuh, ada kisah menarik yang terjadi dalam perang Mesir – Israel tahun 1973. Kala itu, seorang tentara Mesir mengutip sebuah hadits akhir zaman bahwa kaum muslimin akan mengalahkan Yahudi bahkan pohon dan batu tempat Yahudi bersembunyi pun akan membantu kaum muslimin. Seorang tentara Israel yang bisa berbahasa Arab dan mendengarnya kemudian menjawab, “Semua itu tidak akan terjadi sebelum shalat shubuh kalian sama dengan shalat Jum’at”.

Shalat malam dan shalat Shubuh kaya akan dimensi spiritual, aspek mendasar yang mampu menggerakkan dan menghadirkan kekuatan. Jernih dan segar. Selain itu, shalat Shubuh juga merupakan ujian keimanan dari bahaya kemunafikan. Dan benih-benih kemunafikan inilah yang nyata menggerogoti kekuatan umat Islam dari dalam sehingga semakin lemah dan tertinggal. Ketika kaum muslimin bisa terbebas dari sifat orang-orang munafik, maka kekuatan besar umat Islam takkan terbendung. Karenanya cukup beralasan shalat Shubuh berjama’ah dapat menjadi salah satu indikator utama kebangkitan Islam.

Saat ini kesadaran umat untuk bangkit dari keterpurukan dan kembali meraih kejayaan bersama Islam semakin tumbuh berkembang di tengah masyarakat. Hal ini secara sederhana dapat dilihat dari shalat shubuh di masjid. Semasa SMA, saya pernah merasakan tatapan heran dari para jama’ah shalat Shubuh yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari, mendapati anak usia sekolah ikut shalat Shubuh di masjid yang saat itu didominasi oleh orang-orang yang sudah sepuh. Sekarang masyarakat sudah mulai biasa mendapati anak muda yang rajin shalat berjama’ah di masjid termasuk pada waktu Shubuh. Selanjutnya tinggal terus mendakwahkannya ke masyarakat yang lebih luas dan istiqamah. In syaa Allah perkara yang tampaknya sepele ini akan menjadi penguat alasan Allah SWT untuk memberikan pertolongan dan kemenangan. Dan kesungguhan untuk bangkit berjuang demi tegaknya Islam sebagai Rahmat bagi seluruh alam itu dimulai dari sebuah amal sederhana: shalat Shubuh berjama’ah.

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra’: 78)

Antara Tragedi Crane dan Tragedi Mina

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan, “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nisa: 78-79)

Ibadah haji tahun 1436 Hijriyah ini diwarnai berbagai tragedi. Belum lepas dari ingatan pada tanggal 11 September 2015 lalu sebuah crane dari proyek perluasan Masjidil Haram dengan berat sekitar 1300 ton jatuh sehingga mengakibatkan lebih dari seratus orang meninggal –termasuk 11 jama’ah asal Indonesia– dan ratusan orang lainnya luka-luka. Hanya 13 hari berselang, gegap gempita takbir, tahmid, tahlil dan kalimat talbiyah di tanggal 10 Dzuhhijjah 1436 H sontak berubah menjadi teriakan panik di Jalan 204 Mina saat jama’ah haji melempar jumrah. Dikabarkan, sebanyak lebih dari 700 orang jama’ah haji meninggal dan ratusan lainnya luka-luka karena terhimpit dan terinjak-injak. Dunia Islam berduka, seluruh dunia pun turut berbela sungkawa.

Kematian adalah rahasia Allah SWT, kita hanya bisa mendo’akan kebaikan bagi mereka yang meninggal dan terluka di tanah suci sana. Bahkan boleh jadi iri. Namun selalu ada pelajaran dari setiap musibah yang menimpa. Di dunia ini, hampir dalam seluruh hal berlaku hukum sebab akibat, dan hal ini yang sebaiknya menjadi renungan dan perhatian kita semua. Apalagi menurut hemat penulis, tragedi Mina ini memiliki dimensi yang jelas berbeda dengan musibah jatuhnya crane sebelumnya karena hujan badai yang sangat dahsyat. Cuaca Mekkah saat itu memang sedang tidak bersahabat dan sulit diprediksi, sebagaimana sulitnya mempercayai crane seberat 1300 ton bisa roboh. Ketetapan Allah SWT memang tidak bisa dielakkan, namun manusia diberikan kelebihan akal untuk dapat memperhitungkan berbagai potensi kecelakaan, termasuk berbagai kemungkinan terburuk.

Jika pada tragedi jatuhnya crane ada faktor alam yang di luar kendali dan turut berperan, tragedi Mina sungguh menyisakan berbagai ironi. Pertama, kejadian ini bukan kali pertama, bahkan mungkin setiap tahun selalu ada saja korban di Mina. Tercatat ada 360 korban jiwa pada kejadian serupa (di jalan yang sama) pada tahun 2006, 250 korban jiwa dua tahun sebelumnya, berturut-turut 370 dan 180 korban jiwa pada tahun 1997 dan 1998, 270 korban jiwa pada tahun 1994, dan yang paling diingat tentu 1426 jema’ah haji yang meninggal pada tragedi Mina 1990. Kedua, faktor manusia sangat dominan dalam tragedi ini, penyebabnya adalah ketidaksabaran dan ketidakdisiplinan dalam mematuhi peraturan ataupun budaya antri dan tanpa campur tangan faktor alam pula. Ketiga, penyebab kematian adalah manusia juga bukan benda tajam, benda keras atau benda berbahaya. Tertindih dan terinjak, sangat mengenaskan.

Tulisan ini tentu tidak akan berujung pada wacana ‘ga mikir’ orang-orang Jaringan Islam Liberal yang beranggapan bahwa haji dan umroh tidak perlu dilakukan karena pemborosan sementara banyak ibadah yang dapat dilakukan di dalam negeri. Dan tidak pula serta merta menyalahkan ataupun membela pemerintah Arab Saudi sebagai tuan rumah pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Hanya saja tidak jarang ada di antara kita yang masih begitu mudah memandang kematian, sebatas sebuah suratan takdir atau sunatullah yang pasti terjadi. Tanpa coba belajar dari sejarah, tanpa pernah benar-benar introspeksi akan musibah yang terjadi. Merenungi musubah yang bisa terjadi karena dosa dan perbuatan manusia. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Keledai tidak akan jatuh dua kali ke lubang yang sama karenanya kejadian yang kerap berulang seharusnya mudah diantisipasi. Dalam hal ini wajar saja jika sorotan utama ditujukan kepada Pemerintah Arab Saudi kerena musibah berulang semestinya tidak perlu terjadi. Di Indonesia, beberapa kali ada kejadian tewasnya orang-orang karena rebutan zakat. Pihak yang paling disoroti tentu pihak penyelenggara dan pemberi zakat, pun bisa jadi ada faktor ketidakpedulian dan ketidakdisiplinan dari para mustahiq (penerima zakat). Tim pengamanan dan pengawalan ibadah haji seharusnya sudah cukup piawai menghadapi rutinitas tahunan dan memahami betul celah-celah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Bahkan paham benar apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir korban. Memang tidak sedikit jama’ah haji dan umroh yang bandel dan sulit diatur, namun tentu bisa dibuatkan mekanisme untuk menertibkan mereka. Menghormati tamu jelas berbeda dengan membiarkan tamu berbuat semena-mena.

Namun jika ditelaah lebih dalam, kesalahan tidak pantas ditimpakan semua ke Pemerintah Arab Saudi yang pastinya sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut para tamu Allah SWT. Ada masalah akhlak kaum muslimin yang juga perlu mendapat perhatian serius agar kejadian serupa tidak terulang. Budaya disiplin, santun dan taat aturan sejatinya sejalan dengan nilai-nilai Islam, sayangnya tidak tercermin dalam keseharian banyak kaum muslimin. Pantas saja ada riset yang menyebutkan bahwa Negara paling Islami di dunia ternyata bukan Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Alih-alih instropeksi, tidak sedikit pihak yang malah skeptis bahkan su’uzhon dengan riset tersebut.

Tragedi Mina semestinya tidak perlu terjadi jika umat muslim di seluruh dunia dapat menerapkan budaya tertib dan patuh aturan. Kabarnya, sudah ada peringatan dari PPIH Arab untuk tidak melempar jumrah pada waktu-waktu tertentu, termasuk ketika waktu kejadian, namun tidak diindahkan padahal melempar jumroh sudah disediakan waktu dan tempatnya. Kabarnya ada jema’ah haji yang berhenti bahkan berbalik melawan arah padahal pelaksanaan ibadah haji sudah ada alurnya. Ketidakdisiplinan yang harus dibayar mahal. Jika aturan manusia yang konkret dibuat untuk kepentingan hidup bermasyarakat saja dilanggar, bagaimana dengan aturan Allah SWT yang bisa jadi lebih abstrak?

Sungguh ibadah haji seharusnya menunjukkan kekuatan umat Islam, mampu bersatu dan mengatasi segala perbedaan. Bukannya menyisakan catatan pilu yang mencoreng muka umat Islam. Hukuman pancung untuk para petugas yang bertanggung jawab tidak serta merta menghapus duka. Penanganan korban tewas dan terluka termasuk pemberian santunan adalah hal lain yang bagaimanapun tidak lebih utama dari memastikan keselamatan para tamu Allah SWT. Dan tamu yang baik semestinya meringankan beban tuan rumah dengan persiapan yang optimal, mulai dari kebersihan hati, pemahaman yang utuh hingga persiapan fisik. Ya, memastikan bahwa para tamu dapat selamat dan terlayani dengan baik sebenarnya juga menjadi tanggung jawab para tamu. Pihak penyelenggara ibadah haji harus instropeksi, namun semua pihak semestinya juga harus mawas diri.

Tulisan ini tidak hendak mencari kambing hitam. Belajar dari sejarah, orang-orang munafik biasa menjadikan momentum musibah untuk memecah belah. Selain penanganan korban yang sudah dan tengah dilakukan, ada baiknya kita banyak berdo’a dan beristighfar, memohon ampunan dan pertolongan. Takdir Allah SWT ada di luar jangkauan kita, tapi bukan berarti tidak ada yang bisa kita persiapkan, antisipasi dan lakukan untuk menyambutnya. Tragedi dalam prosesi melempar jumrah ini semoga mampu menumbuhkan tekad kuat untuk memerangi syaithan dan para sekutunya, termasuk yang mengalir dalam darah setiap Bani Adam. Dan bagi mereka yang wafat di tanah suci biarlah Allah SWT yang memberikan balasan. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan dikembalikan…

Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Teladan Pemimpin Itu Bernama Ibrahim

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
(QS. Ash-Shaffat: 108-111)

Salah satu kisah yang tidak pernah terlewat dalam peringatan Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang Nabi Ibrahim a.s. Ya, momen Idul Adha memang identik dengan kisah Nabi Ibrahim a.s., mulai dari syariat pelaksanaan haji hingga pemotongan hewan qurban. Keteladanan Nabi Ibrahim a.s. tercermin dari banyaknya kisah hikmah perjalanan Nabi Ibrahim, yang tidak hanya dimuat dalam Al Qur’an, tetapi terdapat pula pada kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Kitab Injil termasuk Injil Barnabas, hingga kisah-kisah Israiliyat. Nama ‘Ibrahim’ sendiri disebut sebanyak 62 kali di 24 surah dalam Al Qur’an, jumlah ayat yang menceritakan kisah beliau tentu lebih banyak lagi.

Salah satu keteladanan Nabi Ibrahim a.s. adalah dari sisi kepemimpinan beliau. Allah SWT langsung yang memilih beliau sebagai pemimpin umat manusia, dengan firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS. Al Baqarah: 124). Nabi Ibrahim a.s. memenuhi seluruh kualifikasi penting figur pemimpin yang layak dijadikan teladan.

 

Berjiwa Bersih dan Ta’at Kepada Allah

Pemimpin harus memiliki fondasi spiritualitas yang baik. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (QS. An Nahl: 120). Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Nabi Ibrahim a.s. lahir di tengah keluarga dan masyarakat penyembah berhala, tentu membutuhkan jiwa yang sangat bersih dan komitmen kuat untuk menemukan hidayah dan mempertahankan keimanannya. Dan kejernihan hati inilah yang membuat Nabi Ibrahim a.s. menjadi Hamba Allah yang sangat ta’at. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ’ Tunduk patuhlah!’, Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS.Al Baqarah: 131). Ketundukan penuh keyakinan dan keikhlashan inilah yang mengantarkan beliau memperoleh posisi mulia di hadapan Allah SWT. Aspek spiritualitas inilah yang membuat seorang pemimpin senantiasa tegar menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Keta’atan inilah yang menjadi alasan hadirnya pertolongan Allah SWT.

Selamatnya Nabi Ibrahim a.s. ketika dibakar hidup-hidup seperti dikisahkan dalam Surah Al Anbiya adalah buah dari keyakinan ini. Dikabulkannya do’a beliau untuk memperoleh keturunan yang shalih di usianya yang sudah lanjut adalah buah dari keikhlashan ini. Selamatnya Hajar dan Ismail ditinggal di tengah gurun tandus ataupun selamatnya Ismail ketika disembelih adalah buah dari keta’atan. Karena Allah SWT akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan keta’atan itu berbuah hikmah. Dari keta’atan meninggalkan anak isteri tercinta dikenal istilah sa’i dan air zamzam, bahkan lahirlah peradaban di Mekkah. Dari keta’atan menyembelih Ismail, sempurnalah syariat haji dan qurban.

 

Cerdas dan Berani

Pemimpin harus memiliki kecerdasan dan keberanian, tidak hanya salah satunya. Tidak sedikit orang yang memiliki kemampuan intelektual namun tidak memiliki keberanian, segudang idenya pun hanya menjadi setumpuk angan. Hasilnya adalah pemimpin yang gemar berandai-andai untuk kemudian menyesal. Ada pula yang sekedar memiliki keberanian tanpa perhitungan, yang terjadi hanya kesia-siaan, pemborosan, bahkan kerusakan. Pemimpin modal nekat dan mengandalkan keberuntungan.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. sudah tumbuh sejak beliau masih belia. Hal ini jelas tampak dari dialog Ibrahim kecil dengan ayahnya tentang konsep ketuhanan seperti tertuang dalam Surah Maryam atau dalam upaya beliau mencari Tuhan seperti dikisahkan cukup panjang dalam Al Qur’an surah Al An’am. Dalam berbagai referensi terdahulu, misalnya dalam Injil Barnabas, dikisahkan dialog panjang Ibrahim kecil dengan ayahnya yang selalu berakhir dengan ancaman atau pemukulan Ibrahim kecil karena ayahnya kehabisan argumen. Keluarga Nabi Ibrahim a.s. cukup dihormati, butuh upaya lebih untuk menentang penyimpangan dari keluarganya dan sistem masyarakat yang rusak.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. juga tercermin di Surah Al Anbiya dalam peristiwa penghancuran berhala yang dilakukannya yang berujung pada pembakaran dirinya hidup-hidup. Atau dalam perdebatan beliau dengan Raja Namrud seperti dikisahkan dalam firman Allah, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. al-Baqarah: 258)

 

Visioner dan Amanah

Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji” (QS. an-Najm: 37). Pemimpin harus visioner sekaligus amanah. Sekedar pemimpin visioner saja tidak cukup untuk mengubah apapun, namun sekedar mengerjakan tanggung jawab juga hanya akan terjebak pada rutinitas. Dalam Al Qur’an terdapat Surah Ibrahim yang di antaranya memuat do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s, salah satunya adalah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37)

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. berdo’a, Baitullah belumlah didirikan dan wilayahnya sangat tandus. Atas karunia Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s. punya visi dan tekad kuat untuk menyempurnakan janji tersebut. Beberapa tahun kemudian Baitullah dibangun untuk kemudian berkembang menjadi wilayah Masjidil Haram – Mekkah yang kita kenal sekarang, pusat manusia-manusia mendirikan shalat. Hal menarik lainnya dari do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s. adalah beliau senantiasa mendo’akan anak cucu dan keturunannya, di antaranya agar tidak menyembah berhala (ayat 35) dan tetap mendirikan shalat (ayat 41). Pemimpin sejati tahu benar pentingnya kaderisasi. Memastikan adanya kader penerus perjuangan merupakan hal yang fundamental. Nabi Ibrahim a.s. pun mendapat gelar Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim a.s. kecuali semuanya berasal dari keturunan beliau.

Nabi Luth a.s. adalah salah seorang pengikut Nabi Ibrahim a.s. yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dalam berbagai ayat Al Qur’an dikisahkan bahwa para malaikat menemui dan memberitahu Nabi Ibrahim a.s. terlebih dahulu –bahkan sempat ‘berdebat’ dengan beliau– sebelum membinasakan Kaum Sodom yang mengingkari Nabi Luth a.s. Karena perjuangan tidak bisa diusung sendirian. Atau simak bagaimana kesabaran Ismail kecil ketika mengetahui dirinya akan disembelih atas perintah Allah SWT oleh ayahnya sendiri yang jarang ditemuinya. Tentu butuh pendidikan akidah dan akhlak yang luar biasa, termasuk kepada kedua isterinya. “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al Baqarah: 132).

 

Peduli dan Penuh Kasih Sayang

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi lembut hati dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud: 75). Ayat ini turun terkait upaya Nabi Ibrahim a.s. yang mencoba membela Kaum Luth yang hendak diazab Allah SWT dengan berdalih masih ada kesempatan untuk memperoleh hidayah. Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bertanya kepada para malaikat, “Apakah kamu hendak membinasakan negeri yang di sana terdapat 300 orang mukmin?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Angka tersebut terus turun hingga menjadi ‘seorang mukmin’ dan para malaikat tetap menjawab ‘tidak’. Nabi Ibrahim a.s. kemudian berkata, “Disana terdapat Luth”. Mereka berkata, “Kami lebih tahu tentang siapa yang ada disana” hingga akhirnya ditegaskan dengan ayat selanjutnya, “Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Tuhanmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak” (QS. Hud: 76).

Pun tegas dalam bersikap terkait masalah aqidah, dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya pun mencerminkan sikap santun dan lembut hati. Hal ini dikuatkan dengan Firman Allah, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At Taubah: 114). Apalagi jika menyimak dialog beliau dengan anaknya yang bahkan sampai meminta pendapat anaknya untuk sesuatu yang bisa saja tinggal diperintahkan.

Pemimpin harus santun, penuh kepedulian dan kasih sayang. Keluhuran budi pekerti tercermin dari sikap dan kata-kata, dan hal inilah yang sejatinya sangat efektif untuk menggerakkan orang lain. Kemuliaan akhlak inilah yang membuat Nabi Ibrahim digelari Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah SWT. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An Nisa’: 125).

Berbeda dengan Nabi Yusuf a.s., Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s. dan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Ibrahim a.s. memang tidak menempati jabatan struktural dalam pemerintahan. Namun jati diri kepemimpinan tetap terpancar dari diri beliau dan membuat beliau menempati posisi sangat penting dalam sejarah kehidupan manusia. Setiap kita adalah pemimpin, sehingga harus berupaya menjadi pribadi yang berjiwa bersih, ta’at kepada Allah SWT, cerdas, berani, visioner, amanah, peduli dan penuh kasih sayang. Sudah saatnya kualifikasi pemimpin seperti ini menggantikan sosok pimpinan yang tidak beritikad baik, tidak peduli terhadap umat Islam, sok pintar, klemar-klemer, cinta dunia, tidak berkompeten, egois dan suka menyakiti yang dipimpinnya.

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar ter­masuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah: 130)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim…” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Romantika Bulan Syawal

…Mengapa ujan gerimis aje, pergi berlayar ke Tanjung Cina. Mengapa Adek menangis aje, kalo emang jodoh nggak kemana, hey, hey! Eh ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin. Eh jangan menangis aje, bulan Syawal mau dikawinin…” (‘Hujan Gerimis’, Benyamin S. & Ida Royani)

Romantika itu bernama ikatan hati. Kembali memasuki bulan Syawal, ada yang tidak berubah selama sewindu terakhir: maraknya undangan pernikahan. Terinspirasi oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., bulan Syawal kemudian identik dengan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.  “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad). Selain dengan Aisyah r.a., Rasulullah SAW juga menikahi Ummu Salamah r.a. pada bulan Syawal.

Bulan Syawal konon artinya adalah peningkatan, namun referensi lain mengungkapkan bahwa penamaan Syawal berasal dari istilah “Syalat an-naqah bi dzanabiha” yang berarti onta betina menaikkan ekornya. Bulan Syawal adalah masa dimana onta betina mengangkat ekornya ketika didekati pejantan sebagai tanda tidak mau dikawini. Keadaan ini memunculkan keyakinan masyarakat jahiliyah bahwa ada kesialan yang menyertai Bulan Syawal. Ditambah lagi adanya musibah yang pernah terjadi di Bulan Syawal semakin menguatkan keyakinan tersebut. Karenanya, di masa jahiliyah ada pantangan untuk menikah di Bulan Syawal, hingga Islam datang dan membantah anggapan sial tersebut.

Romantika itu bernama semangat juang. Dalam Kitab “Dalil al Falihin li Syarh Riyadh al Shalihin”, Ibnul ‘Allan Asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang”. Jika perang Badar terjadi di Bulan Ramadhan, sejarah mencatat bahwa banyak perang besar yang dijalani Rasulullah SAW terjadi di Bulan Syawal, termasuk Perang Hunain, Perang Uhud, hingga Perang Ahzab atau Khandaq.

Semangat perjuangan yang menyala selama Ramadhan tidak boleh meredup di Bulan Syawal. Salah satu amalan yang disunnahkan untuk dilakukan di Bulan Syawal adalah puasa. Mengapa harus puasa padahal baru saja diwajibkan berpuasa sebulan penuh? Karena predikat takwa harus dilalui dengan perjuangan dan proses yang panjang. Kebaikan yang terus terjaga, bukan sekadar ikut-ikutan menjadi baik di bulan baik. Tidak heran, Bulan Syawal kemudian dikaitkan dengan peningkatan paska menjalani madrasah Ramadhan. “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Romantika itu bernama kerinduan. Baru sejenak Ramadhan pergi, sudah banyak kondisi yang berubah. Serta merta timbul kerinduan akan riuhnya suasana sahur di dini hari dan ramainya shalat berjama’ah di masjid khususnya di awal Ramadhan yang kini (kembali) tergantikan sunyi. Hadir rasa rindu akan ramainya suara tilawah Al Qur’an selepas shalat zhuhur berjama’ah yang sekarang tergantikan (lagi) dengan kesibukan mencari makan siang. Kangen dengan kebahagiaan saat berbuka. Kangen juga dengan tontonan yang ‘agak’ lebih berkualitas ataupun orang dan suasana yang mendadak lebih Islami. Bahkan canda-canda ringan seperti ‘orang puasa gak boleh marah’ atau ‘jangan bohong nanti puasanya batal’ juga membuat rindu.

Seorang salafush shalih pernah menjual budak wanitanya kepada seseorang. Ketika Ramadhan tiba, tuan barunya menyiapkan makanan, minuman dan segala keperluan untuk persiapan selama Ramadhan. Budak wanita itu heran dengan apa yang dilakukan oleh tuan barunya karena hal tersebut tidak pernah ia temui ketika masih mengabdi kepada tuannya yang lama. “Maaf tuan, kelihatannya anda sibuk sekali, sepertinya akan datang masa paceklik yang panjang?” tanyanya. “Kami sedang mempersiapkan menyambut Bulan Ramadhan” jawab tuannya. Budak itu berkata, “Memangnya kalian tidak berpuasa selain bulan ini? Demi Allah, aku dulu hidup bersama orang yang sepanjang masanya adalah Ramadhan, kembalikan saya kepada tuanku itu”.

Romantika itu tetap produktif dalam kesedihan. Yang sudah berlalu takkan kembali, namun masih bisa disongsong kehadirannya di masa depan. Penyesalan mendalam bukanlah merutuki nasib, tetapi memastikan hari-hari selanjutnya akan lebih baik. Romantika itu terus memupuk kerinduan dengan kontinyuitas amal shalih. Menghadirkan suasana yang dirindukan dalam keseharian hingga takdir yang akan mempertemukan kembali atau tidak lagi sempat bersua namun penuh dengan persiapan. Mumpung Ramadahan belum lama berselang, mari terus sibukkan diri dengan romantika produktif.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan –seperti gunung yang Nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.” (‘Perpisahan’, Kahlil Gibran)