Category Archives: Artikel Islami

Bukan (Cuma) Surah Al Ma’idah 51 (2/2)

Padahal momentum ini adalah momentum persatuan kaum muslimin. Tanpa sekat harakah, fikrah, atau golongan Islam tertentu. Polarisasinya semakin kuat: hizbullah atau hizbusysyaithan. “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu
(QS. Al Ma’idah: 48).

Golongan kafir, munafik dan fasik ini memenuhi pikirannya bahwa aksi jutaan massa bukanlah aksi damai. Ada yang menyikapinya dengan menyebar isu terror, ada yang menggembosi dari dalam, ada pula yang melenggang tenang, toh tidak ada dampak langsung yang akan diterimanya. Padahal Islam jelas melarang umatnya melampaui batas dan berbuat kerusakan. “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (QS. Al Ma’idah: 32).

Golongan ini akan cepat merespon berita yang sesuai dengan nafsu dan pemikiran mereka, pun dari sumber yang tidak bisa dipercaya sekalipun (misalnya situs islamnkridotcom). Lebih aman tak usah menanggapi mereka yang cuma mau eksis. “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al Ma’idah: 42).

Ada lagi kaum muslim yang taat ulil amri harga mati sehingga mengharamkan demonstrasi. Sikap yang (sok) bijak tanpa melihat situasi dan kondisi. Menasehati dalam diam memang baik, namun memberikan pencerahan kepada masyarakat luas dapat lebih menyebarluaskan kebaikan. Karena itulah mereka yang mengharamkan demonstrasi menyampaikan pandangannya lewat media massa, bukannya konsisten menasehati dalam diam. Sensitif terhadap persoalan metode atau cara, tapi kehilangan sensitifitas terhadap konten isu yang diperjuangkan. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Ma’idah: 87).

Sebenarnya yang diperjuangkan dalam aksi damai sangatlah beralasan dan sederhana. Bahwa hukum harus ditegakkan dengan jujur, adil dan tidak tebang pilih. Jangan sampai hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Tidak ada isu SARA ataupun kebencian terhadap golongan tertentu, karena kemuliaan manusia sejatinya ditentukan oleh kadar ketakwaannya. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ma’idah: 8).

Anehnya, mereka yang mengharamkan demonstrasi dengan dalih tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits, justru melempem, tidak lantang menghadapi orang-orang yang menghina Allah SWT dan Rasul-Nya. “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al Ma’idah:33).

Akhirnya, Aksi Damai yang dilatarbelakangi kasus Al Ma’idah 51 justru memberikan banyak hikmah, di antaranya adalah persatuan umat, kejelasan keberpihakan setiap muslim, hingga semakin banyaknya kajian tentang Al Qur’an. Al Ma’idah 51 hanyalah 1 dari 120 ayat di surah Al Ma’idah, hanyalah 1 dari 6326 ayat Al Qur’an. Surah Al Ma’idah disebut juga Al Uqud (perjanjian), semoga saja bisa menjadi pengingat bagi para pemimpin yang pernah berjanji ini dan itu kepada Allah SWT ataupun masyarakatnya, untuk segera menepati janji-janjinya. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu…” (QS. Al Ma’idah: 1).

Di antara dampak dari aksi damai adalah munculnya berbagai isu dan informasi yang simpang siur. Umat Islam harus pandai memilih dan memilah, serta bersikap, tidak sekadar meneruskan informasi tanpa tanggung jawab. Berita yang ramai dan marak belum tentu benar, namun hati nurani tentu mampu membedakannya. “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Ma’idah: 100).

Terakhir, kebenaran mutlak hanya ada di sisi Allah SWT. Tugas kita hanyalah terus mendekat kepada-Nya sehingga Allah senantiasa menganugerahkan hidayah dan keistiqomahan dalam setiap langkah kita. “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Ma’idah:105). Apapun pilihan jalan perjuangan kita, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah segala sesuatu dikembalikan.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ma’idah 54)

Bukan (Cuma) Surah Al Ma’idah 51 (1/2)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ma’idah: 51)

Surah Al Ma’idah ayat 51 mendadak ‘terkenal’ akibat ulah petahana gubernur DKI yang mengutipnya sembarangan dalam lawatannya ke Kepulauan Seribu. Surah Al Ma’idah adalah surah ke-5 dalam Al Qur’an yang terdiri dari 120 ayat. Surah yang termasuk golongan surah Madaniyah ini dinamakan Al Ma’idah (hidangan) karena dalam ayat 112-115 memuat kisah pengikut Nabi Isa a.s. yang meminta beliau agar Allah SWT menurunkan hidangan dari langit. Dalam berbagai tempat di surah Al Ma’idah juga dijelaskan mengenai makanan halal, terutama hewan yang halal dimakan.

Bagi penulis, surah Al Ma’idah setidaknya mengingatkan akan dua hal. Pertama, di dalamnya memuat ayat Al Qur’an yang terakhir turun. “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al Ma’idah: 3). Pun ada riwayat lain yang menyampaikan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Surah Al Baqarah ayat 278 – 282. Kedua, di dalamnya memuat rangkaian ayat yang kerap dibawakan para pendukung Negara Islam bahwa barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah mereka adalah orang kafir (ayat 44), zalim (ayat 45), dan fasik (ayat 47). “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Ma’idah: 50).

Sebenarnya ada hal lain yang identik dengan surah Al Ma’idah, yaitu akan adanya generasi pengganti yang dicintai dan mencintai Allah SWT (QS. Al Ma’idah: 54), namun kehebohan surah Al Ma’idah ayat 51 yang disertai berbagai kajian akan ayat-ayat selanjutnya tentu juga akan mendapati ayat mengenai generasi pengganti tersebut. Jika dalam Al Ma’idah 51 memuat larangan tentang mengambil pemimpin dari kalangan non muslim, maka berkenaan dengan penistaan agama juga sudah diingatkan dalam QS. Al Ma’idah ayat 57: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan”.

Lalu bagaimana untuk wilayah dengan penduduk mayoritas non muslim? Tentu ada pertimbangan manfaat dan mudharat tanpa harus mengorbankan izzah sebagai seorang muslim. Pertimbangan yang sama juga berlaku jika ternyata tidak ada seorang pun muslim yang kompeten sebagai pemimpin. Namun default-nya tetap jelas untuk memilih pemimpin seakidah kecuali untuk kondisi darurat. Yang kemudian menjadi ironi adalah loyalitas segelintir umat Islam terhadap pemimpin nonmuslim, membelanya mati-matian bahkan bila harus menyerang saudara seiman sekalipun. Mereka tsiqoh terhadap pemimpin nonmuslim namun berprasangka buruk kepada muslim lainnya. Mereka bukan hanya membenarkan segala kemungkaran yang dilakukan pemimpin nonmuslim tersebut, namun juga menghujat segala bentuk upaya perbaikan yang dilakukan kaum muslimin. Gelap mata dan gelap hati.

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al Ma’idah 52).

Dalam hal ini, konteksnya bukan lagi benarkah petahana telah menista agama, apalagi sekadar ribut urusan kata ‘pakai’, namun ada cacat yang lebih fundamental. Al Wala wal Bara yang merupakan kaidah prinsip dalam akidah Islam telah tertukar posisinya. “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan” (QS. Al Ma’idah: 79-80).

Munculnya loyalitas yang salah tempat ini tentu ada penyebabnya, mulai dari kesombongan, kedengkian, hingga kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Lebih jauh lagi, ketakutan pada nonmuslim ataupun takut kehilangan dunia dapat mendorong orang berilmu sekalipun untuk memutar balik ayat-ayat Allah SWT sekehendak nafsunya. “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit…” (QS. Al Ma’idah: 44). Itu yang berilmu, bisa dibayangkan betapa ‘buas’nya mereka yang tak berilmu.

Namun muslim golongan tersebut hanya sedikit kok, sayangnya mereka punya sumber daya sehingga terlihat banyak. Yang banyak adalah muslim yang ‘cari aman’, saya muslim tapi saya tidak perlu begini dan begitu. Muslim sok netral yang sebenarnya apatis. Ada yang diam-diam tak peduli, ada yang malah nyinyir. Mereka merasa pintar, bukan pintar merasa. Emangnya bukti cinta Islam harus lewat aksi? Emangnya demo ngaruh ke kebijakan? Bukannya kalau aksi njelek-jelekin Ah*k artinya sama aja gak bisa jaga mulut kayak Ah*k? Bukannya semakin banyak yang membicarakannya malah jadi kampanye gratis buat Ah*k? Bukannya Islam mengajarkan perdamaian dan mudah memaafkan? Emangnya yang di jalan pada teriak takbir tuh pasti shalat shubuhnya berjama’ah di masjid? Emangnya yang ikut aksi KTP-nya Jakarta? Dan berbagai pertanyaan nyinyir lainnya yang semakin gagal fokus. Mereka meman tidak menghalangi ataupun memusuhi, tapi tak jua turut berpartisipasi. Keterlibatan artinya keberpihakan, sementara mereka merasa ada di zona netral.

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu” (QS. Al Ma’idah: 25 – 26).

(bersambung)

Puasa: Metamorfosis Kupu-kupu atau Lebah?

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibangun manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An-Nahl: 68 – 69)

Ibadah puasa kerap dianalogikan sebagai proses metamofosis yang dilakukan ulat untuk berubah menjadi kupu‑kupu, yaitu perubahan dari sesuatu yang menjijikkan dan menakutkan (ulat) menjadi sesuatu yang indah dan menarik serta memberi banyak manfaat bagi makhluk lain (kupu-­kupu). Analogi menarik, dan lebih menarik dibandingkan jika mengambil analogi metamorfosis yang dilakukan binatang lain, seperti capung, jangkrik, belalang, lalat, ataupun nyamuk. Apalagi jika dibandingkan metamorfosis katak atau kecoa. Puasanya ulat juga lebih menarik untuk diambil hikmahnya dibandingkan dengan puasanya hewan lain seperti unta, kukang, ular, biawak, ataupun ayam betina.

Namun ada binatang yang juga melakukan metamorfosis sempurna –melewati fase telur, larva (ulat), pupa (kepompong), imago (dewasa)– yang seakan dilupakan. Salah satu dari tiga serangga yang menjadi nama surah dalam Al Qur’an, yaitu lebah. Jika kata An Nahl (lebah) dijadikan nama surah ke-16 Al Qur’an dan disebutkan dalam ayat ke-68 di surah tersebut, kata Al Farasya (kupu-kupu) justru disebutkan dalam surah Al Qari’ah yang menggambarkan kondisi manusia ketika datang hari kiamat. “Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran” (QS. Al Qari’ah: 4). Lalu bagaimana perbandingan analogi metamorfosis pada kupu-kupu dan lebah dengan puasa Ramadhan?

Fase telur kupu-kupu dan lebah relatif sama. Bedanya kupu-kupu bertelur di outdoor sementara lebah bertelur dalam sarangnya. Lebih aman, dijaga lebah dewasa pula. Selanjutnya telur menetas menjadi larva (ulat). Larva kupu-kupu (ulat) sangat menjijikkan bentuknya, kadang bahkan tubuhnya diselimuti duri yang beracun. Tidak sampai mematikan manusia sih, tapi cukup membuat bengkak dan gatal-gatal. Tidak hanya itu, ulat ini sangat aktif makan (jika tidak bisa dibilang serakah) sehingga merusak tumbuhan yang ditinggalinya. Sementara larva lebah tetap tinggal di sarangnya, makanannya pun disediakan oleh lebah yang merawatnya. Secara fisik memang agak menggelikan –istilah yang sepertinya lebih tepat dibandingkan menjijikkan—namun larva lebah tidak merusak. Bahkan dengan komposisi yang dikandungnya, larva lebah dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Menganalogikan manusia sebelum Ramadhan dengan ulat berarti memandang calon kontestan Ramadhan sebagai pribadi menakutkan yang berbuat kerusakan. Analogi yang lebih cocok untuk menggambarkan orang kafir sebelum memperoleh hidayah. Padahal sebelum Ramadhan, umat muslim seharusnya sudah mulai membiasakan amal shalih yang nantinya akan diperkuat di bulan Ramadhan. Bekal Ramadhan bukanlah dengan makan sebanyak mungkin atau berbuat kerusakan sebesar mungkin. Dalam konteks muhasabah (introspeksi) mungkin boleh, tetapi terlalu hina memandang diri sendiri juga bisa membuat manusia berputus asa dari Rahmat Allah. Yang lebih tepat adalah menyadari kekurangan diri, memperbanyak bekal persiapan, tidak berbuat kerusakan dan terus mencoba memberikan manfaat. Bisa saja Allah tidak menyampaikan pada bulan Ramadhan. Ya, seperti larva lebah.

Selanjutnya, larva kupu-kupu dan lebah akan menjadi pupa selama beberapa hari, pekan atau bulan (tergantung spesiesnya) dan berkembang ke bentuk yang lebih baik mengandalkan cadangan makanan yang diperolehnya ketika menjadi larva. Proses di dalam pupa kupu-kupu lebih radikal karena terjadi histolisis atau penghancuran dari dalam jaringan atau tubuh sendiri menggunakan cairan yang sebelumnya digunakan untuk mencerna makanan. Lalu histoblast pada larva akan menyusun ulang tubuh tersebut sehingga mampu menghasilkan bentuk yang (jauh) berbeda dengan fase larvanya. Kondisi pupa ini tidak boleh bocor atau mendapat gangguan berarti karena dapat menggangu jalannya histogenesis atau proses penyusunan ulang. Lebah lebih beruntung karena selama fase pupa dijaga oleh lebah dewasa, selain itu cadangan makanan yang ada di sarang (luar tubuh) membuat histolisisnya tidak terlalu radikal.

Seberapa revolusioner puasa mampu mengubah seseorang memang dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah hidayah dan persiapan menjelang Ramadhan. Persiapan Ramadhan yang cukup tidak akan mendatangkan lonjakan semangat tinggi sesaat ketika Ramadhan yang kemudian lenyap setelah Ramadhan berlalu. Namun memang ada manusia yang memperoleh pencerahan sebagai titik baliknya di bulan Ramadhan. Ia akan berubah secara signifikan keluar dari Ramadhan. Apalagi di dalam Ramadhan ada malam Lailatur Qadar yang juga menjanjikan hal tersebut. Namun ada juga yang berubah secara inkremental atau continuous improvement. Perubahan yang biasanya lebih terjaga.

Kemudian, dari pupa tersebut keluarlah kupu-kupu dan lebah dewasa. Kupu-kupu harus berjuang hidup dalam kemandirian, sementara lebah hidup dalam koloni. Bukan sekedar berjama’ah, lebah juga itqon (profesional). Koloni lebah memiliki pembagian tugas yang jelas, teratur, tertib, disiplin, dan penuh semangat bergotong-royong. Sementara kupu-kupu lebih individualis. Lebah juga gesit dan pekerja keras. Sayapnya berkepak hingga ratusan kali per detik. Dalam sehari, lebah pekerja mampu mengumpulkan nektar dari 250 ribu tangkai bunga dan butuh jarak tempuh lebih dari 1 juta kilometer untuk menghasilkan 1 kg madu. Lebah juga berani dan rela berkorban, menyengat musuh akan membawanya pada kematian. Sementara kupu-kupu lebih indah dipandang. Ya, hanya itu. Pun lebah juga arsitek pembuat sarang indah sih. Kupu-kupu dan lebah sama-sama berperan sebagai polinator yang membantu proses penyerbukan, dan sama-sama makan yang baik tanpa merusaknya. Bedanya, lebah akan menghasilkan madu, lilin lebah, tepung sari (pollen), propolis, susu lebah (royal jelly), hingga sengat lebah yang semuanya bermanfaat. Sedangkan kupu-kupu menghasilkan telur yang akan menjadi larva (ulat) yang menjijikkan dan merusak.

Keberkahan ibadah Ramadhan seseorang dapat dilihat selepas Ramadhan, bukan hanya secara fisik, namun juga dari kekuatan ruhiyah dan apa yang ditinggalkan. Ramadhan bukanlah bulan untuk menguruskan badan sehingga lebih enak untuk dilihat. Bukan pula bertujuan menghasilkan lulusan madrasah Ramadhan yang seakan berbeda dengan sebelum Ramadhan. Ramadhan mengharapkan ada jejak perbaikan jelas yang ditinggalkan, kontribusi nyata yang diberikan, dan kebaikan yang diwariskan. Menghadirkan banyak kebaikan secara berjama’ah dan terorganisir. Tidak hilang kebaikannya seiring berlalunya Ramadhan. Tidak kembali membuat kerusakan dan terlalaikan oleh tipu daya dunia. Ya, menjadi seperti lebah, bukan belalang kupu-kupu yang inkonsisten.

Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku” (HR. Muslim)

EURO, EUforia ROmadhon 2016

Bulan Juni di tahun genap adalah bulan yang dinantikan oleh para penggemar sepakbola. Jika tahun genap tersebut habis dibagi empat seperti tahun 2016 ini, akan ada gelaran kompetisi sepakbola antar negara di benua Eropa yang biasa dikenal dengan Euro. Jika tahun genap tersebut tidak habis dibagi empat seperti tahun 2014 kemarin maka akan ada pesta bola yang lebih besar, yaitu piala dunia. Kompetisi sepakbola internasional memang biasa dilangsungkan di bulan Juni – Juli setelah kompetisi lokal/ nasional umumnya selesai. Tahun 2016 ini bahkan lebih spesial karena ada penyelenggaraan Copa America Centenario di waktu yang hampir bersamaan. Copa America Centenario adalah edisi khusus memperingati 100 tahun penyelenggaraan Copa America yang gelaran terakhirnya baru saja selesai medio 2015 lalu.

Bulan Juni tahun ini juga merupakan bulan yang dinantikan umat Islam karena bertepatan dengan masuknya bulan istimewa, yaitu Ramadhan. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut secara eksplisit dalam Al Qur’an, di dalamnya diturunkan Al Qur’an dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan dimana pahala kebaikan dilipatgandakan, pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Jika 1 Ramadhan 1437 Hijriah jatuh pada tanggal 6 Juni 2016 dan akan berakhir di tanggal 5 Juli 2016 (atau 4 Juli 2016 jika Ramadhan hanya 29 hari), Copa America Centenario berlangsung 4 – 27 Juni 2016 waktu Indonesia, sementara Euro akan dilangsungkan pada 11 Juni – 11 Juli 2016 waktu Indonesia. Euro akan disiarkan langsung dari malam hingga dini hari sementara Copa America Centenario disiarkan dari dini hari hingga menjelang siang.

Sepakbola dan Ramadhan mudah saja dibenturkan. Bukan hanya jadwal siaran sepakbola yang bentrok dengan jadwal tarawih, tadarusan, shalat malam, keberkahan waktu sahur, hingga waktu shubuh dan dhuha. Namun secara konten pun menonton sepakbola sulit dikategorikan sebagai ibadah. Jika bermain sepakbola masih ada unsur tarbiyah jasadiyah yang menyehatkan selama masih dalam koridor syar’i, menonton sepakbola lebih kental nuansa membuang waktu, jauh sekali dibandingkan dengan berbagai keutamaan ibadah yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan. Tidak perlu terburu-buru menghakimi menonton sepakbola sebagai suatu aktivitas yang makruh atau bahkan haram. Namun umat Islam memang perlu waspada akan kesia-siaan perkataan dan perbuatan, terutama di bulan Ramadhan ini.

Kompetisi sepakbola memang pada akhirnya banyak menjadi ujian Ramadhan dibandingkan sebagai factor pndukung. Namun alih-alih menghakimi para penggemar sepakbola, ada baiknya kita mengambil ibrah dari fenomena sepakbola. Setidaknya ada satu kesamaan antara Ramadhan dengan kompetisi sepakbola, keduanya disambut dengan euforia. Dalam KBBI, euforia didefinisikan sebagai perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Dan segala sesuatu yang berlebihan biasanya berkonotasi negatif. Euforia sepakbola membuat penggemarnya rela bangun malam atau bahkan tidak tidur demi menonton pertandingan. Malah ada yang rela menempuh jarak sangat jauh hanya demi menonton sepakbola. Euforia terhadap suatu klub bisa membuat seseorang berkata dan bersikap tidak sepantasnya untuk membela klubnya, bahkan bisa jadi tawuran antar supporter.

Ramadhan, sebagai bulan yang dinanti banyak orang, sangat mungkin mendatangkan euforia, dengan atau tanpa disadari. Lihat saja betapa ramainya tempat ibadah di hari pertama penyelenggaraan shalat tarawih. Euforia Ramadhan. Lihat juga betapa banyaknya makanan tersaji –dan akhirnya terbuang—ketika berbuka. Euforia Ramadhan. Tidak sedikit juga orang yang mendadak jadi islami, bukan karena hidayah tetapi hanya sebagai penyesuaian menyambut euforia Ramadhan. Dan yang namanya berlebihan biasanya tidak baik, terlalu cinta pun bisa berbuah bosan dan benci. Ternyata tidak banyak mereka yang mampu menjaga semangat Ramadhannya sepanjang dan selepas Ramadhan.

Euforia Ramadhan tidak hanya terkait dengan semangat menyambut datangnya Ramadhan, tetapi akan kembali diuji ketika akan datang hari Idul Fitri. Alih-alih memperbanyak ibadah, banyak orang yang malah sibuk dengan berbagai persiapan lebaran, termasuk sibuk menghabiskan uang THR yang baru saja diterimanya. Kegembiraan yang berlebihan memang kerap abai terhadap esensi. Padahal siapapun juara Copa America dan Euro tidak ada pengaruhnya terhadap kita yang ikut-ikutan gembira. Akhirnya, Ramadhan berlalu, kegembiraan kita seketika berubah kesedihan karena ternyata kita terlalu larut dalam kegembiraan sehingga lalai terhadap berbagai keutamaan Ramadhan yang mastinya bisa diraih. Atau mungkin euforia Ramadhan berganti dengan euforia lebaran, dan kemudian hampa. Karena ternyata Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan lain.

Sepakbola mengajarkan kita untuk banyak berlatih sebelum bertanding. Mengajarkan kita untuk memilih formasi dan strategi yang tepat. Bahwa kemenangan bukan ditentukan dengan tidak kebobolan, namun juga harus membobol gawang lawan sebanyak mungkin. Bahwa tidak boleh lengah dan bersantai-santai, semangat harus terus terjaga sepanjang pertandingan. Masa-masa akhir jelang pertandingan berakhir adalah saat krusial. Lebih baik bersusah payah menahan lelah dan menunda perayaan kemenangan di saat-saat itu, dari pada kemenangan yang sudah di depan mata buyar karena inkonsistensi, gagal fokus dan euforia. Ya, mumpung Ramadhan belum lama dimulai, kita masih bisa menguatkan persiapan, menetapkan target dan strategi, serta menjaga semangat dan keikhlashan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Kita tunda euforia kita, sampai nanti ketika kita sudah masuk ke Surga-Nya. Aamiiin…

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan. Tinggikan hari dengan kesibukan Rabbani. Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa. Tiada hasil kecuali lapar dahaga. Ingatkan diri Sang Junjungan di bulan Rahmah. Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah. Cerah hari hari bercahayakan, indah menyinar ketakwaan…” (‘Ramadhan’, Izzatul Islam)

Dua Rukun Iman

Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk…” (HR. Muslim)

Dalam KBBI, rukun adalah asas, dasar, sendi, atau sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan. Sementara rukun iman didefinisikan sebagai dasar keyakinan dalam agama Islam, yaitu percaya kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada para nabi dan rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada untung baik dan buruk yang datang dari Allah. Ada enam asas dalam agama Islam, jika didetailkan lagi dalam cabang-cabang iman jumlahnya akan lebih banyak lagi. “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari – Muslim).

Selain iman kepada Allah SWT yang sangat mendasar, dari enam rukun iman dan puluhan cabang iman yang telah diklasifikasikan oleh berbagai ulama, iman kepada hari akhir adalah iman yang paling banyak disebut dalam Al Qur’an dengan berbagai bentuknya. Bahkan dalam 19 ayat Al Qur’an, iman kepada hari akhir disebut bersamaan dengan iman kepada Allah SWT. Misalnya, dalam Al Qur’an surah An Nisa ayat 59, Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Penyebutan secara bersamaan memperlihatkan adanya keterkaitan erat, sementara penyebutan secara berulang menunjukkan tingkat kepentingan hal tersebut untuk menjadi perhatian. Misalnya jika  kita perhatikan tentang mendirikan shalat dan menunaikan zakat yang sebanyak 28 kali dalam Al Qur’an disebut bersamaan, sangat jelas keduanya saling terkait dan melengkapi, tidak bisa berdiri sendirian. Para sahabat dan ulama terdahulu banyak mengingatkan bahwa shalat dan zakat diwajibkan bersama, tidak secara terpisah-pisah. Bahkan Abu Bakar r.a. memerangi mereka yang enggan membayar zakat pun mereka masih menunaikan shalat.  “Dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari akhir, orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar” (QS. An Nisa: 162).

Iman kepada Allah SWT mengandung empat unsur, yaitu mengimani wujud Allah SWT, mengimani rububiyah Allah SWT, mengimani uluhiyah Allah SWT, dan mengimani nama dan sifat Allah SWT. Sementara iman kepada hari akhir adalah percaya penuh bahwa semua yang Allah beritahukan di dalam kitab-Nya dan yang Rasul-Nya sampaikan mengenai kehidupan setelah mati adalah benar, yaitu tentang adanya fitnah kubur, berikut azab dan nikmat yang ada di dalamnya. Dan juga tentang adanya hari kebangkitan (yaumul ba’ats), hari pengumpulan (yaumul mahsyar), dibagikannya catatan amal (ash-shuhuf), hari perhitungan (yaumul hisab), timbangan (mizan), telaga (al-haudh), jembatan (ash-shirath), syafa’at, serta adanya surga dan neraka yang telah Allah SWT persiapkan.

Sebagian besar komponen iman tersebut bersifat ghaib, tidak seperti Rasul atau Kitab yang jelas terlihat sosok atau wujudnya. Mengimaninya juga memiliki konsekuensi besar yang terwujud dalam tingkah laku. Kaum kafir Quraisy sebenarnya mengakui adanya (Rububiyah) Allah sebagai pencipta alam semesta melalui nenek moyang mereka, namun menolak menyembah (Uluhiyah) Allah karena kebodohan dan kesombongan mereka. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mereka mengimani hari akhir dimana ibu lupa pada anaknya atau matahari hanya berjarak 1 mil dari manusia. Belum lagi mengimani tanda-tanda hari kiamat seperti munculnya Dajjal, binatang melata (ad-daabah), ya’juj dan ma’juj, turunnya Nabi Isa a.s. ataupun terbitnya matahari dari barat. Alhasil, pun mereka yang menggelari Muhammad sebagai Al Amin (orang yang dapat dipercaya), kaum kafir Quraisy menolak risalah yang dibawanya, bahkan mencibirnya. Mereka memilih untuk tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Iman kepada Allah SWT dan hari akhir ibarat hubungan antara iman dan amal shalih yang sebanyak 60 kali disebutkan bersamaan dalam Al Qur’an. Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, “Allah tidak menerima iman tanpa amal dan tidak pula menerima amal tanpa iman”. Menariknya, korelasi iman (keshalihan individu) dengan amal shalih (keshalihan sosial) ini sejalan dengan korelasi antara iman kepada Allah dengan iman kepada hari akhir, dimana iman harus selalu terimplementasi dalam amal nyata. Tidak heran dalam berbagai ayat dimana iman kepada Allah dan hari akhir disebutkan bersamaan, juga dicantumkan amal shalih yang menyertainya, misalnya dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 177, surah Al Maidah ayat 69, atau surah At Taubah ayat 18.

Dalam sebuah hadits yang riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya”. Indikator keimanan kepada Allah dan hari akhir yang ghaib, dalam berbagai dalil justru sangat jelas ukurannya. Tercermin dalam aktivitas sehari-hari, termasuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, sabar, dan sebagainya. Tidak semua komponen rukun iman punya korelasi sekuat ini.

Iman kepada Allah SWT dan iman kepada hari akhir memberi dampak positif bagi kehidupan manusia, di antaranya sama-sama mendorong sikap teguh, sabar, berani, penuh semangat dan optimisme. Iman kepada Allah SWT akan menguatkan jiwa merdeka seorang hamba, sementara iman kepada hari akhir akan mendorong motivasi produktif untuk beramal. Tidak cinta dunia, tidak takut mati. Memahami hakikat diri beserta masa depan abadi yang menanti, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya. Seimbang antara sikap takut (khauf) dan harap (raja’). Banyak mengingat Allah SWT dan meneladani peri kehidupan Rasulullah SAW.

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Islam dan Filosofi Continuous Improvement

“The best revenge is to improve yourself” (Ali bin Abi Thalib)

Terminologi Continuous Improvement tidak terlepas dari konsep Kaizen di Jepang yang bermakna perbaikan terus-menerus atau perbaikan berkelanjutan. Perbaikan ini bersifat sedikit demi sedikit (step by step improvement), komprehensif dan terintegrasi dengan filosofi Total Quality Management (TQM). Karena terintegrasi dengan TQM, pembahasan tentang Continuous Improvement kerap melebar ke ranah manajemen mutu, mulai dari siklus Plan-Do-Check-Action (Deming Cycle), waste management (Muda, Mura, Muri), hingga konsep zero defect atau bahkan six sigma lengkap dengan siklus DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Kajian teori yang menarik pun sebenarnya filosofi continuous improvement lebih sederhana dan aplikatif.

Filosofi Continuous Improvement mendorong tercapainya standar kualitas yang optimal melalui beberapa langkah perbaikan yang sistematis dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Berbagai aksi perbaikan yang sederhana dan terus-menerus akan memunculkan gagasan dan aksi perbaikan yang lebih banyak sehingga sedikit demi sedikit berbagai permasalahan akan terselesaikan. Dan perbaikan ini dilakukan oleh setiap personal dalam organisasi. Continuous Improvement adalah usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan untuk terus berkembang dan melakukan perbaikan. Filosofi yang ternyata sejalan dengan konsep Islam yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa melakukan perbaikan.

Continuous Improvement adalah perubahan memelihara nikmat Allah SWT. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar Ra’du: 11). ‘Keadaan’ disini ditafsirkan sebagai nikmat –bukan nasib—sebagaimana tersebut dalam Surah Al Anfal ayat 53. Kelalaian dan kemaksiatan dapat menghilangkan nikmat, sehingga upaya merawat dan meningkatkan nikmat perlu disertai perubahan diri ke arah yang lebih baik. Disinilah continuous improvement mulai menjalankan peran, mulai dari diri sendiri, senantiasa melakukan perubahan untuk memelihara nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Continuous Improvement adalah merawat produktivitas. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al Insyirah: 7). Kata ‘faraghta’ berasal dari kata ‘faragha’ yang berarti kosong setelah sebelumnya terisi penuh. Sebagian mufassir menafsirkan ayat tersebut adalah bahwa apabila kamu telah selesai berdakwah, beribadahlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia, kerjakanlah urusan akhirat; apabila kamu telah selesai dari kesibukan dunia, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berdoa. M. Quraish Shihab cenderung untuk tidak menetapkan ragam kesungguhan yang dimaksud karena objeknya tidak disebutkan sehingga bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kesungguhan, selama dibenarkan syariat. Kewajiban manusia bersifat simultan, terus menerus tanpa putus. Demikian pula dengan filosofi continuous improvement, selesai melakukan perbaikan, ada hal lain yang menanti untuk diperbaiki. Tetap produktif dalam menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Continuous Improvement adalah perbaikan kualitas. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk: 2). Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan bahwa amal yang lebih baik adalah yang dilakukan dengan ikhlash dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Yang paling menarik adalah penggunaan diksi ‘yang lebih baik amalnya’, bukannya ‘yang lebih banyak amalnya’, menunjukkan bahwa ada perhatian lebih pada dimensi kualitas amal, bukan sekedar kualitas. Dan penggunaan kata ‘lebih baik’ (comparative) bukan ‘paling baik’ (superlative) menunjukkan esensi dari filosofi continuous improvement bahwa tidak ada yang paling baik, namun selalu ada yang lebih baik. Kualitas terbaik artinya sempurna, tidak ada lagi yang bisa di-improve. Justru tidak manusiawi. Yang diminta hanyalah terus berupaya lebih baik setiap saatnya, menuju kualitas amal optimum yang bisa dilakukan.

Continuous Improvement adalah konsistensi kerja. “Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (HR Abu Dawud). Continuous improvement tidak menghendaki perubahan yang radikal, tetapi inkremental. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Kebaikan dan perbaikan ketika terbiasa dilakukan akan menghasilkan kebaikan dan perbaikan selanjutnya. Continuous improvement. Kontinyuitas ini pula yang akan memastikan kerja lebih langgeng dan akan berakhir yang baik. Pembiasaan juga akan meminimalisir kebosanan dalam beraktivitas, dengan syarat kontinyuitas yang dilakukan disertai dengan penambahan kualitas ataupun kuantitas, bukan sekedar pengulangan dan rutinitas. Itulah sejatinya filosofi continuous improvement.

Continuous Improvement adalah proses seumur hidup. Barangsiapa yang harinya (hari ini) lebih baik dari sebelumnya, maka ia telah beruntung, barangsiapa harinya seperti sebelumnya, maka ia telah merugi, dan barangsiapa yang harinya lebih jelek dari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat. Ungkapan tersebut banyak dinilai sebagai hadits palsu dan hanya bersandar pada perkataan Rasulullah SAW dalam mimpi seorang ulama. Selalu lebih baik setiap harinya juga dianggap tidak realistis, namun ungkapan tersebut sejatinya sangat sejalan dengan filosofi continuous improvement. Pertama, ungkapan tersebut menunjukkan tekad untuk lebih baik setiap harinya. Kedua, nilai ‘lebih baik’ tidak harus pada seluruh aspek, bisa jadi hanya tambahan kebaikan kecil di beberapa aspek. Ketiga, rentang hari ini dengan sebelumnya tidak harus dimaknai sempit. Sungguh dalam kerugian orang-orang yang berlalu bulan dan tahun usianya namun kebaikannya tidak bertambah, apalagi kalau sampai berkurang. Filosofi continuous improvement berfokus pada proses, dengan rentang waktu yang panjang. Kompetisi menuntut setiap diri dan organisasi untuk terus semakin baik setiap saatnya. Diam tetap di tempat akan tertinggal, apalagi jika mundur. Dan proses ini adalah pembelajaran seumur hidup (life-long learning).

Perjalanan menuju visi besar, baik visi hidup maupun visi organisasi merupakan perjalanan jauh yang membutuhkan nafas panjang. Barangkali butuh momentum hijrah atau titik balik kesadaran hidup yang bersifat revolusioner, namun istiqomah dalam menjaga iman dan amal justru membutuhkan kontinyuitas dalam melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Terus berbenah diri, melakukan kebaikan dan perbaikan secara terus menerus. Menjadi pribadi pembelajar dan organisasi pembelajar (learning organization) yang adaptif terhadap perubahan karena senantiasa melakukan kebaikan dan perbaikan. Karena kehidupan dan kematian sejatinya hanyalah ujian untuk melihat siapa yang konsisten lebih baik dalam beramal.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya ia berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah?” Beliau bersabda, “Amalan yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih)

*dimuat di republika online 27 Maret 2016

Keutamaan Memiliki Rasa Tidak Memiliki

Alif tengah dirundung gundah. Mas Garuda menghilang tanpa jejak paska tragedi WTC 11 September 2001, entah masih hidup atau tidak. Seketika Alif teringat nasihat dari Ustadz Fariz, “Kehilangan memang memilukan. Tapi kehilangan hanya ada ketika kita sudah merasa memiliki. Bagaimana kalau kita tidak pernah merasa memiliki? Dan sebaiknya kita jangan terlalu merasa memiliki. Sebaliknya, kita malah yang harus merasa dimiliki. Oleh Sang Maha Pemilik.

Alif bertanya, “Kenapa tidak boleh merasa memiliki? Bukannya kita diberikan kesempatan di dunia ini untuk memiliki?”. Ustadz Fariz menjawab, “Pada hakikatnya, tidak ada satu pun yang kita miliki. Segalanya di dunia ini hanya pinjaman. Bahkan kita meminjam waktu dan nyawa kepada Yang Kuasa. Hidup, raga, roh, suami, istri, orangtua, anak, keluarga, uang, materi, jabatan, kekuasaan. Semua adalah titipan sementara. Pemilik sebenarnya cuma Dia.

Tapi ustadz, rasa memiliki membuat kita bertanggung jawab dan mencintai…”, Alif terus bertahan, namun jawaban Ustadz Fariz membuatnya tertegun. “Bahkan rasa cinta itu sendiri adalah titipan-Nya… Tentu tidak ada salahnya mencintai dan mengambil tanggung jawab. Tapi kita harus siap dan sadar sepenuhnya, bahwa  Sang Pemilik setiap saat bisa meminta kembali milik-Nya. Karena itu kenapa harus merasa sangat memiliki?” katanya membalas dengan pertanyaan.

* * *

Kisah tersebut terdapat dalam Novel “Rantau 1 Muara” yang ditulis Ahmad Fuadi dan terinspirasi dari kisah nyata. Terlepas dari dialog tersebut benar terjadi atau tidak, cuplikan kisah di atas menjadi salah satu segmen penting yang menguatkan judul novel, tentang muara di atas muara. Semua adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kembali ke yang satu, yang esensial, yang awal. Yaitu menghamba dan mengabdi. Kepada Sang Pencipta.

Dunia ini fana, demikian pula dengan apa yang ada di dalamnya. Dan memiliki sesuatu yang fana pada hakikatnya adalah tidak memiliki apapun. Namun dunia ini sungguh memperdaya, ramai manusia berlomba-lomba mengejar dunia, untuk memilikinya. Kepemilikan terhadap dunia bahkan kerap menjadi ukuran kesuksesan peradaban manusia. Kepemilikan adalah aset, yang dapat menghadirkan kekuasaan, keleluasaan, bahkan dapat membeli kebahagiaan. Orang yang memiliki banyak aset dipersepsikan sebagai orang kaya dan terhormat yang penuh kemudahan, sementara mereka yang tidak memiliki dunia adalah orang miskin yang hina dan sengsara.

Lalu apakah manusia tidak perlu memiliki aset dunia apapun? Persoalan sebenarnya bukan pada jumlah aset yang dimiliki, melainkan bagaimana rasa memiliki –dan rasa tidak memiliki– itu diposisikan. Karena konsepsi kepemilikan hakikatnya erat kaitannya dengan batasan dan kebermanfaatan. Kepemilikan aset dunia yang banyak disertai dengan rasa tidak memiliki aset tersebut justru akan menuai banyak kebermanfaatan. Penempatan rasa tidak memiliki yang tepat justru akan mengarahkan pemiliknya untuk memiliki lebih banyak keutamaan. Ya, semakin memiliki dengan rasa tidak memiliki.

Sebaliknya, penempatan rasa memiliki yang keliru akan menempatkan pemiliknya pada jurang kehancuran. Lihat bagaimana kisah Qorun yang kaya aset namun ditenggelamkan ke dalam bumi. Atau kisah Fir’aun yang merasa memiliki kekuasaan tidak terbatas yang akhirnya ditenggelamkan ke dasar lautan. Rasa memiliki dunia akan mendorong pada kufur nikmat, kesombongan, dan keserakahan. Salah satu indikator dari rasa memiliki yang tidak pada tempatnya ini adalah ketakutan dan kekhawatiran berlebihan akan kehilangan perihal dunia yang dimiliki. Dan ketika benar-benar kehilangan akan menimbulkan depresi dan kesedihan yang mendalam, bahkan tidak jarang berujung pada kerusakan dan kematian.

Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, wahai musafir papa, yang tidak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak pernah kehilangan apa-apa.”, begitu pesan Syaikh Siti Jenar ketika membahas tentang zuhud. Dan zuhud bukan berarti hidup miskin tanpa harta, tetapi meninggalkan hal-hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah, termasuk berbagai perkara dunia. Suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah orang kaya bisa menjadi orang yang zuhud?” Beliau menjawab, “Ya, dengan syarat ketika banyak hartanya tidak menjadikannya bangga dan ketika luput darinya dunia dia tidak bersedih hati.”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dikisahkan seseorang datang kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku akan suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya niscaya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia?” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa-apa yang dimiliki oleh manusia niscaya manusia mencintaimu”. Abu Dzar r.a. berkata, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”

Rasa tidak memiliki dunia akan memunculkan sifat pemurah, tidak kikir, dan rendah hati karena menyadari bahwa segala sesuatu bukanlah miliknya. Rasa tidak memiliki dunia ini juga akan melahirkan sifat hemat, tulus, dan bertanggung jawab karena memahami semuanya adalah milik Allah SWT yang setiap saat bisa saja diambil Oleh-Nya. Mereka yang menyadari hakikat kepemilikan absolut ada di tangan Allah SWT, akan semakin banyak berbekal dengan iman, amal shalih dan kebermanfaatan bagi orang lain. Mereka sadar lahir ke dunia tidak membawa apapun, begitu pula ketika kembali kepada-Nya. Hanya bekal akhirat yang dikumpulkan selama di dunianyalah yang sejatinya merupakan miliknya.

Orang-orang yang sadar bahwa ada hak orang lain dalam harta mereka akan lebih amanah, peduli dan terus memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Mereka yang sadar bahwa hidup, lingkungan dan organisasi yang mereka tinggali tidak mutlak mereka kuasai akan semakin meyakini pentingnya bermitra, membangun sinergi dan hubungan baik dengan pihak lain. Semakin besar rasa tidak memiliki, semakin banyak pula sikap positif yang dimiliki. Dan kepemilikan terhadap sikap positif akan berbanding lurus terhadap kepemilikan perkara duniawi yang tetap diposisikan sebagai washilah, bukan tujuan. Hidup akan terpenjara dunia dengan merasa punya segalanya. Hidup akan lebih bermakna dengan percaya bahwa dunia seisinya adalah kepunyaan Allah Yang Maha Kaya.

* * *

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

IQ Rasulullah SAW 7000?

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu,bahwa sesungguhnya Tuhan kau ituadalah Tuhan Yang Maha Esa”. Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Awal tahun 1437 Hijriyah ini diisi dengan kajian thibbun nabawi selepas shubuh tanggal 1 Muharram. Beberapa tahun terakhir, pengobatan ala Rasulullah SAW cukup berkembang pesat. Banyak referensi dan informasi yang dapat ditemukan seputar thibbun nabawi, hijamah (bekam), habbatus sauda dan hal-hal lain terkait dengan pengobatan ala Rasulullah SAW. Beberapa informasi dan kontroversi juga kerap menyertai pembahasan ini termasuk berkenaan dengan konspirasi vaksinasi. Namun ada satu informasi yang disampaikan pembicara dan mengusik logika. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa IQ (Intelligence Quotient/ Kecerdasan Inteligensi) Rasulullah Muhammad SAW mencapai angka 7000, sangat jauh dibandingkan IQ seorang jenius sekalipun. Benarkah?

Serangkaian tes untuk memilih orang dengan kualifikasi tertentu memang sudah lama dikenal dan dilakukan manusia, namun tes inteligensi baru berkembang pada abad ke-19, sehingga sudah pasti tidak ada hadits yang menjelaskan tentang besaran IQ Rasulullah SAW. Jika memang benar ada penelitian terkait hal tersebut tentu dilakukan melalui studi literatur dengan kemungkinan bias yang tinggi. Selama ini saja pendekatan kuantitatif tes IQ banyak menuai kritik dengan berbagai perspektif. Dalam catatan sejarah, orang yang memiliki IQ tertinggi adalah William James Sidis yang memiliki IQ sekitar 250 – 300, sementara tokoh seperti Einstein dan Bill Gates memiliki IQ sekitar 160. IQ manusia ini terdistribusi normal, dimana jumlah terbesar ada pada kategori IQ rata-rata sementara mereka yang jenius (very superior) dan yang memiliki IQ jauh di bawah rata-rata (mental defective) jumlahnya sedikit. Jika rata-rata IQ manusia ada di kisaran 90 – 110, maka IQ 7000 jelas tidak masuk akal.

Jika disampaikan bahwa penilaian didasarkan pada kajian literatur bagaimana Rasulullah SAW merespon pertanyaan para shahabat maka bias semakin terjadi. Perkataan Rasulullah SAW adalah bimbingan wahyu Allah SWT, bukan kemauan dan kemampuan beliau sendiri. Jika kecepatan respon dijadikan salah satu indikator kejeniusan, nyatanya tidak semua pertanyaan dapat direspon cepat oleh Rasulullah SAW karena menunggu wahyu. Misalnya ketika para istri Rasulullah SAW meminta tambahan nafkah paska Perang Hunain yang baru terjawab beberapa waktu lamanya dengan turunnya Surah Al Azhab ayat 28 – 29. Atau ketika utusan kafir Quraisy bertanya tentang berbagai hal yang Rasulullah SAW tidak bisa menjawabnya dan menjanjikan jawabannya esok hari. Ternyata wahyu dari Allah SWT tak kunjung datang hingga 15 hari sebagai pelajaran karena kala itu Rasulullah SAW lupa mengucapkan In syaa Allah. Hal ini tertuang dalam Al Qur’an Surah Al Kahfi. Jadi, apa benar IQ Rasulullah SAW mencapai 7000?

Lalu, bukankah Rasulullah SAW memiliki sifat fathonah (cerdas)? Ya, apa yang beliau tawarkan untuk meletakkan Hajar Aswad sehingga beliau digelari Al-Amin adalah sebuah solusi cerdas. Membangun masjid dan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor setelah hijrah adalah strategi cerdas. Namun kecerdasan Rasulullah SAW ini bersumber pada satu kecerdasan utama: spiritualitas. Kecerdasan spiritualitas inilah yang menguatkan beliau menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, mental, emosional, sosial, adversitas, dan kreativitas. Jadi bukan kecerdasan intelektual yang jadi ukuran. Betapa banyak orang jenius yang tidak jadi apa-apa. Dunia pendidikan pun kian sadar bahwa sekadar kecerdasan intelektual di ranah kognitif tidak cukup untuk menghasilkan SDM unggul. Sayangnya, dunia pendidikan Barat hanya mengenal aspek psikomotorik (adversitas) dan afektif (sosial) sebagai pelengkap aspek intelektual, padahal aspek spiritual jauh lebih mendasar.

Keteladanan Rasulullah SAW adalah menyeluruh pada semua aspek bukan karena intelektualitasnya yang super jenius –dan ternyata tidak penting. Namun keunggulan pada kecerdasan spiritual lah yang mengantarkan beliau menjadi pribadi dengan kecerdasan paripurna. Jadi secara intelektual, Rasulullah SAW mungkin saja memiliki keterbatasan sehingga bisa keliru memilih strategi perang, misalnya. Atau dalam sebuah hadits riwayat Muslim pernah juga beliau keliru ketika menyarankan petani kurma di Madinah untuk tidak melakukan penyerbukan kurma sehingga mereka malah mengalami gagal panen. Ketika hal tersebut dilaporkan ke beliau, Rasulullah SAW menjawab, “ Aku hanyalah manusia. Jika aku memerintahkan sesuatu tentang agama, ikutilah. Tetapi jika aku memerintahkan sesuatu yang berasal dari pendapatku, sebenarnya aku hanyalah seorang manusia. Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”. Jadi, masih perlukah membanggakan (ataupun mempermasalahkan) IQ Rasulullah SAW?

Satu lagi catatan berkenaan dengan pernyataan di atas adalah begitu mudahnya umat Islam menyebarkan informasi hoax yang terkesan membanggakan. Saya membayangkan betapa seringnya pembicara menyampaikan bahwa IQ Rasulullah SAW 7000 di berbagai forum, kemudian peserta yang hadir membenarkannya untuk kemudian menyebarkannya juga. Kemudian diungkap fakta bahwa IQ maksimal hanya sekian ratus sehingga tidak mungkin ada assessment yang menghasilkan IQ manusia hingga 7000. Sesuatu yang tadinya membanggakan pun bisa berubah jadi memalukan jika dibungkus dengan kepalsuan yang berlebihan. Kasus serupa banyak terjadi misalnya terkait masuk Islamnya seorang ilmuwan atau tokoh agama lain yang begitu mudah tersebar tanpa diperiksa kebenarannya. Ketika klarifikasi disampaikan yang tampak hanyalah keluguan –jika tidak bisa disebut kebodohan—umat Islam. Apalagi jika klaim IQ Rasulullah SAW tersebut hanya dijadikan alat jualan produk nutrisi otak dengan cover thibbun nabawi, tentu sangat tidak pantas. Umat muslim harus lebih cermat dalam menerima, mengolah dan menyebarkan informasi di era informasi seperti sekarang ini. Dan akhirnya, segala kebenaran hanyalah datang dari sisi Allah SWT. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in…

Shubuh Berjama’ah, Simbol Kekuatan Umat Islam

Barangsiapa yang melakukan shalat Isya berjama’ah maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barangsiapa yang melakukan shalat Shubuh berjama’ah maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.” (HR. Muslim)

Masjid Muniroh Ar Rukban 3 shubuh ini lebih ramai dari biasanya. Padahal baru tadi malam warga Perumahan Muslim Orchid Green Park baru membentuk RT baru dan memilih Ketua RT. Momentum 1 Muharram 1437 Hijriyah ini dimanfaatkan untuk menyebar undangan shalat shubuh berjama’ah ke seluruh warga perumahan, terinspirasi oleh aktivitas serupa yang pernah dilakukan di Masjid Jogokariyan – Yogyakarta. Alhasil, hampir seluruh warga hadir, meningkat dua kali lipat dari jama’ah shubuh biasanya. Tahun ini memang cukup marak gerakan shalat shubuh berjama’ah memanfaatkan momentum Tahun Baru Islam, terutama di kampus-kampus. Pun gerakan ini mungkin masih eventual, belum tentu bisa jadi kebiasaan, tapi hal ini tentu jadi sebuah indikasi kebangkitan Islam yang baik.

Banyak hadits yang mengungkapkan betapa besar keutamaan shalat shubuh berjama’ah, di antaranya adalah menjadi penghalang dari azab neraka, berada dalam jaminan Allah SWT, mendapatkan berkah dari-Nya dan cahaya yang sempurna pada hari kiamat. Masih terkait shalat Shubuh, ada kisah menarik yang terjadi dalam perang Mesir – Israel tahun 1973. Kala itu, seorang tentara Mesir mengutip sebuah hadits akhir zaman bahwa kaum muslimin akan mengalahkan Yahudi bahkan pohon dan batu tempat Yahudi bersembunyi pun akan membantu kaum muslimin. Seorang tentara Israel yang bisa berbahasa Arab dan mendengarnya kemudian menjawab, “Semua itu tidak akan terjadi sebelum shalat shubuh kalian sama dengan shalat Jum’at”.

Shalat malam dan shalat Shubuh kaya akan dimensi spiritual, aspek mendasar yang mampu menggerakkan dan menghadirkan kekuatan. Jernih dan segar. Selain itu, shalat Shubuh juga merupakan ujian keimanan dari bahaya kemunafikan. Dan benih-benih kemunafikan inilah yang nyata menggerogoti kekuatan umat Islam dari dalam sehingga semakin lemah dan tertinggal. Ketika kaum muslimin bisa terbebas dari sifat orang-orang munafik, maka kekuatan besar umat Islam takkan terbendung. Karenanya cukup beralasan shalat Shubuh berjama’ah dapat menjadi salah satu indikator utama kebangkitan Islam.

Saat ini kesadaran umat untuk bangkit dari keterpurukan dan kembali meraih kejayaan bersama Islam semakin tumbuh berkembang di tengah masyarakat. Hal ini secara sederhana dapat dilihat dari shalat shubuh di masjid. Semasa SMA, saya pernah merasakan tatapan heran dari para jama’ah shalat Shubuh yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari, mendapati anak usia sekolah ikut shalat Shubuh di masjid yang saat itu didominasi oleh orang-orang yang sudah sepuh. Sekarang masyarakat sudah mulai biasa mendapati anak muda yang rajin shalat berjama’ah di masjid termasuk pada waktu Shubuh. Selanjutnya tinggal terus mendakwahkannya ke masyarakat yang lebih luas dan istiqamah. In syaa Allah perkara yang tampaknya sepele ini akan menjadi penguat alasan Allah SWT untuk memberikan pertolongan dan kemenangan. Dan kesungguhan untuk bangkit berjuang demi tegaknya Islam sebagai Rahmat bagi seluruh alam itu dimulai dari sebuah amal sederhana: shalat Shubuh berjama’ah.

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra’: 78)

Antara Tragedi Crane dan Tragedi Mina

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan, “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nisa: 78-79)

Ibadah haji tahun 1436 Hijriyah ini diwarnai berbagai tragedi. Belum lepas dari ingatan pada tanggal 11 September 2015 lalu sebuah crane dari proyek perluasan Masjidil Haram dengan berat sekitar 1300 ton jatuh sehingga mengakibatkan lebih dari seratus orang meninggal –termasuk 11 jama’ah asal Indonesia– dan ratusan orang lainnya luka-luka. Hanya 13 hari berselang, gegap gempita takbir, tahmid, tahlil dan kalimat talbiyah di tanggal 10 Dzuhhijjah 1436 H sontak berubah menjadi teriakan panik di Jalan 204 Mina saat jama’ah haji melempar jumrah. Dikabarkan, sebanyak lebih dari 700 orang jama’ah haji meninggal dan ratusan lainnya luka-luka karena terhimpit dan terinjak-injak. Dunia Islam berduka, seluruh dunia pun turut berbela sungkawa.

Kematian adalah rahasia Allah SWT, kita hanya bisa mendo’akan kebaikan bagi mereka yang meninggal dan terluka di tanah suci sana. Bahkan boleh jadi iri. Namun selalu ada pelajaran dari setiap musibah yang menimpa. Di dunia ini, hampir dalam seluruh hal berlaku hukum sebab akibat, dan hal ini yang sebaiknya menjadi renungan dan perhatian kita semua. Apalagi menurut hemat penulis, tragedi Mina ini memiliki dimensi yang jelas berbeda dengan musibah jatuhnya crane sebelumnya karena hujan badai yang sangat dahsyat. Cuaca Mekkah saat itu memang sedang tidak bersahabat dan sulit diprediksi, sebagaimana sulitnya mempercayai crane seberat 1300 ton bisa roboh. Ketetapan Allah SWT memang tidak bisa dielakkan, namun manusia diberikan kelebihan akal untuk dapat memperhitungkan berbagai potensi kecelakaan, termasuk berbagai kemungkinan terburuk.

Jika pada tragedi jatuhnya crane ada faktor alam yang di luar kendali dan turut berperan, tragedi Mina sungguh menyisakan berbagai ironi. Pertama, kejadian ini bukan kali pertama, bahkan mungkin setiap tahun selalu ada saja korban di Mina. Tercatat ada 360 korban jiwa pada kejadian serupa (di jalan yang sama) pada tahun 2006, 250 korban jiwa dua tahun sebelumnya, berturut-turut 370 dan 180 korban jiwa pada tahun 1997 dan 1998, 270 korban jiwa pada tahun 1994, dan yang paling diingat tentu 1426 jema’ah haji yang meninggal pada tragedi Mina 1990. Kedua, faktor manusia sangat dominan dalam tragedi ini, penyebabnya adalah ketidaksabaran dan ketidakdisiplinan dalam mematuhi peraturan ataupun budaya antri dan tanpa campur tangan faktor alam pula. Ketiga, penyebab kematian adalah manusia juga bukan benda tajam, benda keras atau benda berbahaya. Tertindih dan terinjak, sangat mengenaskan.

Tulisan ini tentu tidak akan berujung pada wacana ‘ga mikir’ orang-orang Jaringan Islam Liberal yang beranggapan bahwa haji dan umroh tidak perlu dilakukan karena pemborosan sementara banyak ibadah yang dapat dilakukan di dalam negeri. Dan tidak pula serta merta menyalahkan ataupun membela pemerintah Arab Saudi sebagai tuan rumah pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Hanya saja tidak jarang ada di antara kita yang masih begitu mudah memandang kematian, sebatas sebuah suratan takdir atau sunatullah yang pasti terjadi. Tanpa coba belajar dari sejarah, tanpa pernah benar-benar introspeksi akan musibah yang terjadi. Merenungi musubah yang bisa terjadi karena dosa dan perbuatan manusia. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Keledai tidak akan jatuh dua kali ke lubang yang sama karenanya kejadian yang kerap berulang seharusnya mudah diantisipasi. Dalam hal ini wajar saja jika sorotan utama ditujukan kepada Pemerintah Arab Saudi kerena musibah berulang semestinya tidak perlu terjadi. Di Indonesia, beberapa kali ada kejadian tewasnya orang-orang karena rebutan zakat. Pihak yang paling disoroti tentu pihak penyelenggara dan pemberi zakat, pun bisa jadi ada faktor ketidakpedulian dan ketidakdisiplinan dari para mustahiq (penerima zakat). Tim pengamanan dan pengawalan ibadah haji seharusnya sudah cukup piawai menghadapi rutinitas tahunan dan memahami betul celah-celah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Bahkan paham benar apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir korban. Memang tidak sedikit jama’ah haji dan umroh yang bandel dan sulit diatur, namun tentu bisa dibuatkan mekanisme untuk menertibkan mereka. Menghormati tamu jelas berbeda dengan membiarkan tamu berbuat semena-mena.

Namun jika ditelaah lebih dalam, kesalahan tidak pantas ditimpakan semua ke Pemerintah Arab Saudi yang pastinya sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut para tamu Allah SWT. Ada masalah akhlak kaum muslimin yang juga perlu mendapat perhatian serius agar kejadian serupa tidak terulang. Budaya disiplin, santun dan taat aturan sejatinya sejalan dengan nilai-nilai Islam, sayangnya tidak tercermin dalam keseharian banyak kaum muslimin. Pantas saja ada riset yang menyebutkan bahwa Negara paling Islami di dunia ternyata bukan Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Alih-alih instropeksi, tidak sedikit pihak yang malah skeptis bahkan su’uzhon dengan riset tersebut.

Tragedi Mina semestinya tidak perlu terjadi jika umat muslim di seluruh dunia dapat menerapkan budaya tertib dan patuh aturan. Kabarnya, sudah ada peringatan dari PPIH Arab untuk tidak melempar jumrah pada waktu-waktu tertentu, termasuk ketika waktu kejadian, namun tidak diindahkan padahal melempar jumroh sudah disediakan waktu dan tempatnya. Kabarnya ada jema’ah haji yang berhenti bahkan berbalik melawan arah padahal pelaksanaan ibadah haji sudah ada alurnya. Ketidakdisiplinan yang harus dibayar mahal. Jika aturan manusia yang konkret dibuat untuk kepentingan hidup bermasyarakat saja dilanggar, bagaimana dengan aturan Allah SWT yang bisa jadi lebih abstrak?

Sungguh ibadah haji seharusnya menunjukkan kekuatan umat Islam, mampu bersatu dan mengatasi segala perbedaan. Bukannya menyisakan catatan pilu yang mencoreng muka umat Islam. Hukuman pancung untuk para petugas yang bertanggung jawab tidak serta merta menghapus duka. Penanganan korban tewas dan terluka termasuk pemberian santunan adalah hal lain yang bagaimanapun tidak lebih utama dari memastikan keselamatan para tamu Allah SWT. Dan tamu yang baik semestinya meringankan beban tuan rumah dengan persiapan yang optimal, mulai dari kebersihan hati, pemahaman yang utuh hingga persiapan fisik. Ya, memastikan bahwa para tamu dapat selamat dan terlayani dengan baik sebenarnya juga menjadi tanggung jawab para tamu. Pihak penyelenggara ibadah haji harus instropeksi, namun semua pihak semestinya juga harus mawas diri.

Tulisan ini tidak hendak mencari kambing hitam. Belajar dari sejarah, orang-orang munafik biasa menjadikan momentum musibah untuk memecah belah. Selain penanganan korban yang sudah dan tengah dilakukan, ada baiknya kita banyak berdo’a dan beristighfar, memohon ampunan dan pertolongan. Takdir Allah SWT ada di luar jangkauan kita, tapi bukan berarti tidak ada yang bisa kita persiapkan, antisipasi dan lakukan untuk menyambutnya. Tragedi dalam prosesi melempar jumrah ini semoga mampu menumbuhkan tekad kuat untuk memerangi syaithan dan para sekutunya, termasuk yang mengalir dalam darah setiap Bani Adam. Dan bagi mereka yang wafat di tanah suci biarlah Allah SWT yang memberikan balasan. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan dikembalikan…

Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)