Category Archives: Artikel Manajemen

Apa Misi Visi Anda?

Ada yang terasa janggal dari judul di atas? Ya, mungkin karena kata ‘visi’ biasanya diletakkan sebelum kata ‘misi’. Sesuai dengan urutannya, karena misi merupakan penerjemahan dari visi. Tapi tentu penulisan judul tersebut bukan tanpa alasan. Tulisan ini tidak hendak menggugat bahwa misi layak disebut lebih dulu daripada visi, namun setidaknya akan coba dipahamkan bahwa misi memiliki makna yang lebih fundamental dibandingkan visi.

Misi didefinisikan sebagai ‘reason for being’ atau ‘why do we exist?’ Pertanyaan mengenai alasan keberadaan ini sangat mendasar dan perlu dijawab sebelum panjang lebar merencanakan masa depan. Sementara visi adalah ‘what do we want to become?’ Sebuah mimpi, cita dan harapan. Pendapat yang mengatakan bahwa misi berorientasi ke belakang sementara visi berorientasi ke depan, tidak sepenuhnya benar. Karena bagaimanapun, menyadari hakikat keberadaan (organisasi) kita sejatinya menyoal masa lalu, hari ini dan masa depan.

Pemahaman yang benar tentang siapa kita dan untuk apa kita diciptakan menjadi lebih fundamental dibandingkan pemahaman mengenai cita-cita hidup kita. Jati diri manusia sebagai hamba dan khalifah yang menyebarkan Rahmat Allah SWT tidaklah lekang oleh waktu, sementara cita-cita hidup kita bisa saja berubah. Bahkan jika cita-cita yang dimaksud berorientasi akhirat, misalnya mati syahid atau masuk syurga, tetap saja pemahaman terhadap misi, tugas dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan lebih penting. Ketika terjadi disorientasi, jawaban atas pertanyaan ‘siapa kita’ dan ‘mengapa kita ada’ akan lebih dalam maknanya dibandingkan sekadar ‘mau kemana kita’.

Tidak sedikit organisasi yang sibuk merancang impiannya di masa mendatang, namun melupakan hal mendasar: mengapa organisasi tersebut ada. Seorang pengikut mungkin saja tidak punya visi, karena sekadar mengikuti visi pemimpinnya. Pun demikian pengikut tersebut tetap punya misi, karena tanpa misi tak ada arti penting keberadaannya. Seorang pemimpin bisa saja hadir tanpa membawa visi, misalnya karena mengikuti visi kepemimpinan sebelumnya. Bahkan visi organisasi ini dapat dibuat bersama-sama, dengan atau tanpa melibatkan pemimpin. Namun tidak ada pemimpin tanpa misi. Misi kepemimpinan adalah memimpin, menggerakkan dan menjadi teladan. Seseorang yang tidak memimpin, tidak menggerakkan dan tidak pula menjadi teladan bukanlah seorang pemimpin.

Memang benar ada pula pengertian misi sebagai ‘our business’ ataupun ‘the chosen track’ yang bisa jadi dibuat setelah adanya visi. Di beberapa literatur ada yang membedakan antara purpose (misi sebagai alasan keberadaan) dengan mission (misi sebagai turunan visi). Tapi apapun pendekatannya, memahami jati diri organisasi tetaplah lebih utama. Pendapat yang mendefinisikan misi sebagai cara untuk mencapai visi (sehingga ada setelah visi) tidaklah tepat. Definisi tersebut justru membuat tumpang tindih antara misi dengan strategi yang didefinisikan sebagai cara (method), pola (pattern), atau taktik (ploy) untuk mencapai visi. Kesalahan lainnya dalam penyusunan misi adalah dibuat terlalu panjang seperti layaknya profil organisasi. Bukan hanya sulit untuk dihapal dan dipahami, posisi sebagai ‘the chosen track’ juga bisa kehilangan makna akibat misi yang terlalu rumit.

Suatu organisasi tanpa visi memang akan terombang-ambing karena ketidakpastian arah yang dituju, namun organisasi tanpa misi lebih buruk lagi. Sekadar visi tanpa memahami hakikat keberadaannya akan membuat organisasi berambisi untuk menggapai impian, dengan cara apapun yang dapat dilakukan. Fondasi berpijaknya organisasi rapuh dan rentan lupa diri. Eksistensi organisasi yang gagal memahami ‘why do we exist?’ hanyalah ditopang oleh faktor sumber daya (SDM, keuangan, waktu, dsb) dan keberuntungan. Bisa jadi organisasi cukup beruntung tidak runtuh bahkan berhasil mencapai visi. Namun seketika bingung apa yang harus dilakukan karena alpa akan hakikat dirinya. Atau tiba-tiba tersadar bahwa apa yang telah dicapai ternyata bukanlah sesuatu yang benar-benar diimpikannya. Dapat dibayangkan betapa besarnya sumber daya yang terkuras untuk sebuah kekosongan.

Satu visi dalam sebuah organisasi merupakan keharusan karena kita akan berjuang dalam cita yang sama, tinggal menjalankan peran masing-masing. Namun menyadari hakikat misi bersama tak kalah pentingnya. Sehingga kita menginsyafi bersama mengapa organisasi ini harus ada, untuk apa dan untuk siapa. Agar kita kian paham akan segenap tugas dan tanggung jawab yang menyertai. Dan semakin yakin akan kebenaran jalan yang ditempuh. Agar kita tetap sadar diri dalam menggapai mimpi. Dan tetap punya harga diri dalam memperjuangkan visi.

Jadi, apa misi dan visi (organisasi) Anda?

Without a mission statement, you may get to the top of the ladder and then realize it was leaning against the wrong building” (Dave Ramsey)

Antara Teknik Industri dan Non-Governmental Organization

Industrial and systems engineering is concerned with the design, improvement and installation of integrated systems of people, materials, information, equipment and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physical, and social sciences together with the principles and methods of engineering analysis and design, to specify, predict, and evaluate the results to be obtained from such systems. (IISE Official Definition)

Lulusan Teknik Industri kok malah kerja di Dompet Dhuafa?”, begitu pertanyaan yang kerap diterima penulis setelah menyampaikan terkait latar belakang pendidikan. Sebagai manajer program mudah saja menjawab bahwa dalam mengelola program dibutuhkan berbagai keterampilan manajemen, mulai dari manajemen strategis, SDM, produk, keuangan, hingga manajemen pemasaran, dan kesemuanya itu relevan dengan pelajaran pada bangku kuliah. Belum lagi berbagai sistem manajemen yang diterapkan lembaga, mulai dari ISO 9001, Malcolm Baldrige, hingga Knowledge Management sangatlah sesuai dengan keilmuan Teknik Industri. Tapi kok rasanya ada yang kurang lengkap dari jawaban tersebut, setidaknya lulusan Manajemen juga bisa saja menjawab hal serupa. Lalu, apa bedanya dengan lulusan Teknik Industri?

Setelah cukup lama tidak mengkaji lebih dalam mengenai kompetensi keilmuan Teknik Industri, akhir pekan lalu penulis berkesempatan menghadiri Workshop Alumni untuk mengevaluasi kurikulum S1 Teknik Industri UI. Diskusi alumni lintas generasi (dari angkatan 1975 hingga 2016) ini dilakukan untuk melengkapi persyaratan akreditasi internasional ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology, Inc.), sesudah akreditasi nasional dan regional ASEAN telah diperoleh. Untuk memperkaya gagasan, peserta pun dipilih lintas industri, dan –seperti perkiraan—hanya penulis yang berasal dari Non-Governmental Organization (NGO) mewakili sektor ketiga.

Ada hal yang cukup ‘menenangkan’ dari hasil diskusi, ternyata hanya sekitar 5 – 10% keilmuan Teknik Industri yang diajarkan di bangku kuliah yang langsung terpakai di dunia kerja. Memang ada bagian spesifik di industri yang bisa meningkatkan kesesuaian ini hingga 50%, misalnya bagian Supply Chain Management (SCM). Pun demikian, kebutuhan akan lulusan Teknik Industri sangatlah tinggi. Bahkan beberapa perusahaan manufaktur lebih mencari HRD yang berlatar belakang Teknik Industri dibandingkan Psikologi, atau beberapa industri keuangan yang justru memilih lulusan Teknik Industri dibandingkan Manajemen. Added value lulusan Teknik Industri terletak pada kemampuan untuk memodelkan permasalahan secara unik dalam kerangka sistem atau sederhananya “kemampuan berpikir sistem”.

Tidak mengherankan Institute of Industrial Engineering (IIE) yang merupakan acuan perekayasa industri resmi berganti nama menjadi Institute of Industrial and Systems Engineering (IISE) sejak April 2016. Teknik Industri pun berkembang menjadi Teknik Sistem dan Industri. Rekayasa sistem mulai dari Man, Material, Machine, Method, Money dan Environment pun menjadi relevan diajarkan secara menyeluruh. Menyoal sistem memang luas, pun tidak dalam. Karenanya di Teknik Industri diajarkan multi disiplin ilmu, termasuk berbagai tantangan masa depan seperti persaingan, inovasi, hingga teknologi digital. Keilmuan yang generalis (tidak spesialis) ini memang merupakan kekurangan yang justru menjadi keunggulan kompetitif lulusan Teknik Industri. Bagaimanapun, lulusan S1 memang harus melalui proses untuk mampu bekerja. Kemampuan melihat lingkup kerja sebagai suatu sistem yang komprehensif dan integral tentu akan mempercepat proses tersebut.

Lalu apa kaitannya Teknik Industri dengan NGO? Sektor ketiga saat ini masih menjadi sektor yang termarjinalkan dibandingkan sektor privat ataupun sektor publik. Beberapa pihak masih memandang sebelah mata tentang penerapan sistem manajemen dalam suatu lembaga non profit yang terkesan kental dengan budaya kekeluargaan, yang seakan berlawanan dengan kultur profesional. Padahal hal mendasar yang membedakan sektor ketiga dengan sektor publik hanya terletak pada sumber dana dan status pengelolanya. Tata kelola yang profesional, transparan dan akuntabel tetap menjadi keharusan. Penguatan sistem manajemen pun perlu dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan dan terus melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Bisnis proses mulai dari supplier, input, proses, output hingga sampai ke customer pun sama dengan industri jasa ataupun manufaktur. Tahapan pengelolaan program mulai dari perencanaan hingga evaluasi pun sama dengan pengelolaan produk barang ataupun jasa. Singkatnya, NGO pun bergerak dalam kerangka sistem, dan dimana ada sistem, ada peran perekayasa industri yang menyertainya.

Lantas mana yang paling utama dari ketiga sektor tadi? Tidak ada. Semuanya bersinergi untuk saling membangun. Dan semua sektor tersebut butuh pengelolaan sistem yang handal. Ketika pengelolaan sistem ini sudah menjadi keniscayaan di sektor publik, apalagi di sektor privat, maka keberadaan perekayasa sistem di sektor ketiga menjadi sangat penting untuk menghadirkan keseimbangan. Sebab seluruh komponen kemajuan pembangunan di seluruh sektor kehidupan sejatinya terhimpun dalam sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan, pun ditopang oleh berbagai (sub) sistem lainnya. Dan di setiap (sub) sistem itulah perekayasa sistem dapat mengambil peran untuk menghadirkan perbaikan, termasuk di NGO. Untuk masa depan yang lebih baik. There is no best, but better.

Engineers make things, industrial engineers make the things better

Monitoring dan Evaluasi Produktif (2/2)

Burung Hud-hud pun bercerita panjang lebar tentang negeri Saba’ yang penduduknya menyembah matahari dan dipimpin oleh seorang wanita (QS. An Naml: 22 – 26). Laporan yang detail disampaikan Hud-hud sebagai jawaban atas ketelitian Nabi Sulaiman a.s. Hikmah ketiga dalam melakukan monev efektif adalah dengan memperhatikan hal-hal detail. Hal-hal yang umum tampak akan terlihat lumrah, bahkan bisa ‘dikondisikan’ sehingga terlihat baik. Karenanya Rasulullah SAW mengevaluasi sahabat hingga amalan spesifik, karenanya Umar r.a. melakukan monitoring hingga ke pelosok-pelosok. Sehingga menjadi lumrah ketika menilai kebersihan sebuah rumah misalnya, bukan dilihat dari tampilan luar, melainkan harus dilihat bagaimana dapur dan kamar mandinya, bahkan perlu diperiksa apakah ada debu di perabotan rumahnya.

Menariknya, Nabi Sulaiman a.s. tak lantas meng-iya-kan laporan dari Hud-hud. Beliau akan memeriksa kebenarannya terlebih dahulu (QS. An Naml: 27) dan menugaskan Hud-hud untuk menindaklanjuti temuan tersebut (QS. An Naml: 28). Hikmah keempat dalam melakukan monev efektif adalah memverifikasi temuan. Triangulasi temuan menjadi perlu sebab perspektif manusia beragam, belum lagi karakter manusia juga berbeda-beda, ada yang suka mengeluh, ada yang gemar melebih-lebihkan, ada pula yang terlalu tawadhu. Pembuatan keputusan ataupun aksi tindak lanjut monev sangatlah ditentukan oleh kesahihan temuan, karenanya konfirmasi begitu penting agar tidak ‘salah obat’.

Jalur diplomasi pun ditempuh, mulai dengan pengiriman surat dan memberikan kesempatan bagi Ratu Negeri Saba untuk mendiskusikannya beserta para punggawanya (QS. An Naml: 28 – 35). Ada tahapan dalam melakukan perbaikan, termasuk pelibatan pihak yang dimonev untuk berpikir dan bersikap. Inilah hikmah kelima, memberikan ruang untuk introspeksi, berdiskusi dan menyikapi temuan monev menjadi penting agar hadir kepemilikan terhadap tindakan perbaikan yang diharapkan akan terealisasi. Sikap langsung memberikan umpan balik yang spesifik justru terkesan menghakimi dan meniadakan berpikir kritis yang akan mengeliminasi tumbuhnya kesadaran. Akan lebih baik lagi jika solusi lahir dari wawas diri pihak yang dimonev, komitmen perbaikan tentu akan lebih kuat.

Hal yang cukup menonjol dari surat yang dikirim Nabi Sulaiman a.s. adalah diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim dan berisi ajakan untuk tunduk memeluk Islam (QS. An Naml: 30 – 31). Ada misi perbaikan yang diusung sebagai hikmah keenam. Monev harus didasari keikhlasan untuk melakukan perbaikan dengan rangkaian aktivitas yang penuh kebaikan. Salah satu nilai kebaikan yang harus melekat dalam aktivitas monev adalah integritas. Integritas inilah yang membuat Nabi Sulaiman a.s. menolak harta yang dihadiahkan kepadanya (QS. An Naml: 35 – 37). Integritas inilah yang menjadi hikmah ketujuh. Penilaian hasil monev tidak seharusnya terganggu oleh jamuan yang dihidangkan atau pun akomodasi yang disediakan, apalagi dipengaruhi oleh agenda jalan-jalan yang difasilitasi. Semangat perbaikan yang penuh berkah harusnya dirawat dengan niat baik dan proses yang baik pula.

Setelah itu Nabi Sulaiman a.s. berdiskusi dengan para pembesarnya untuk merumuskan rencana aksi selanjutnya. Beliau menawarkan kepada para pembesarnya fastabiqul khairat untuk memindahkan singgasana Ratu Saba (QS. An Naml: 38 – 40). Hikmah kedelapan itu adalah musyawarah. Sehebat apapun figur individu, akan lebih efektif dan penuh keberkahan segala sesuatu yang diputuskan melalui musyawarah. Hasil keputusan akan lebih ringan untuk dilaksanakan dengan komitmen bersama. Musyawarah juga akan meminimalisir perkara-perkara yang luput karena keterbatasan perseorangan. Dan musyawarah akan memunculkan potensi-potensi untuk berkontribusi melakukan perbaikan.

Strategi menarik yang digunakan Nabi Sulaiman a.s. untuk mengokohkan keimanan Ratu Saba adalah dengan memberikan semacam studi kasus yang menunjukkan keterbatasan Ratu Saba sebagai hamba Allah. Pertama, setelah singgasana Ratu Saba dipindahkan, Nabi Sulaiman a.s. memerintahkan punggawanya untuk mengubahnya, untuk melihat apakah Ratu Saba mengenalinya atau tidak. Ratu Saba tentu terkejut mendapati Nabi Sulaiman a.s. memiliki singgasana yang serupa dengan miliknya (QS. An Naml: 41 – 42). Kedua, lantai istana yang dibuat seperti kolam air semakin menghadirkan kesadaran Ratu Saba bahwa kekuasaan dirinya tak ada apa-apanya. Ia pun lantas mengakui kebesaran Allah SWT (QS. An Naml: 43). Strategi pemberian contoh dan studi kasus ini memperkuat hikmah kelima mengenai pentahapan dan pelibatan secara lebih teknis. Karena sebaik-baik perbaikan hendaknya dimulai dari kesadaran dan pemahaman, bukan karena paksaan. Semakin jelas gambaran perbaikan yang disadari perlu dilakukan, semakin besar pula potensi perubahan yang akan terjadi.

Hikmah terakhir yang tidak dapat luput dari kisah Nabi Sulaiman a.s. adalah senantiasa bersyukur. Dengan segala kekuasaannya, Nabi Sulaiman a.s. tidak pernah lalai dalam bersyukur. “…Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku adalah al-Ghaniy (Maha Kaya), lagi al-Karim (Maha Mulia)” (QS. An Naml: 40). Jika tidak ada temuan mayor dalam aktivitas monev, maka hal tersebut perlu disyukuri. Pun bila ada temuan penting juga perlu disyukuri karena hal tersebut berarti membuka peluang untuk improvement. Masalah kesyukuran ini juga terkait dengan motivasi untuk melakukan perbaikan karena syukur akan berbanding lurus dengan nikmat yang Allah SWT berikan. Termasuk nikmat ditunjukkan kekurangan untuk bisa diperbaiki, nikmat untuk bisa membenahi diri, dan nikmat untuk dapat terus bersyukur.

Jadi jika aktivitas monev hanya jadi rutinitas tanpa pemaknaan mendalam ataupun belum menghasilkan perbaikan seperti yang diharapkan, bisa jadi ada yang salah dalam pemahaman, niat awal, proses yang dilakukan, atau pun penyikapan yang keliru terhadap temuan. Kisah monev ala Nabi Sulaiman a.s. banyak memberi inspirasi tentang menjalani monev secara efektif, mulai dari konsistensi hingga rasa syukur yang hendaknya menyertai setiap aktivitas monev. Dan ada baiknya juga jika inspirasi ini juga menggerakkan setiap kita untuk senantiasa memonitoring dan mengevaluasi diri. Senantiasa mencoba menjadi pribadi yang lebih baik setiap saatnya sebelum hari dimana amalan manusia akan dievaluasi langsung oleh Allah SWT.

…Wahai Rabbku, perkenankanlah aku untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu (Allah) yang telah Engkau  anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih
(QS. An Naml: 19)

Monitoring dan Evaluasi Produktif (1/2)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)

Dalam catatan sejarah, shalat Jum’at dengan jama’ah terbanyak pernah terjadi pada tahun 1453 sekitar 1,5 km di depan benteng Konstantinopel. Sejarah juga mencatat kisah inspiratif di balik terpilihnya Sultan Muhammad sebagai imam shalat dengan jama’ah sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn tersebut. Awalnya, tidak ada yang berani menawarkan diri hingga Sultan Muhammad meminta seluruh kaum muslimin yang hadir saat itu untuk berdiri seraya berkata, “Siapa di antara kalian yang sejak akil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!”. Ternyata tak seorang pun yang duduk. Sultan Muhammad kemudian melanjutkan, “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunnah sekali saja silakan duduk!”. Sebagian kaum muslimin pun duduk. Beliau pun melanjutkan, “Siapa diantara kalian yang sejak masa akil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!”. Semua kaum muslimin pun duduk kecuali Sultan Muhammad –yang bergelar Al Fatih setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel—yang tidak pernah meninggalkan shalat malam dan kemudian dipilih sebagai imam.

Di luar dari inspirasi keteladanan seorang Muhammad Al Fatih, kisah di atas juga menunjukkan pentingnya evaluasi sebagai dasar pembuatan keputusan. Sudah banyak referensi tentang definisi, urgensi, variasi hingga tahapan implementasi dalam monitoring dan evaluasi yang biasa disingkat monev. Sayangnya, berbagai teori tersebut tidak lantas memberikan gambaran utuh tentang monev yang efektif. Jika kita mencermati Deming Cycle atau siklus PDCA misalnya, tahapan Check memegang peranan penting dalam melahirkan suatu perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement). Dalam konsep POAC atau POACE misalnya, Control dan Evaluation menjadi salah dua fungsi utama dalam manajemen yang tak tergantikan. Hal ini menegaskan pentingnya monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan suatu program atau kegiatan.

Ada motivasi dan inspirasi perbaikan yang menyertai aktivitas monev. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah melakukan inspeksi mendadak (sidak) saat berkumpul bersama para shahabat selepas shalat subuh. Kala itu, hanya Abu Bakar As-Siddiq r.a. yang didapati tengah berpuasa, sudah menjenguk orang sakit dan bersedekah sepagi itu sehingga Rasulullah SAW menggembirakannya dengan balasan surga. Evaluasi yang sangat memotivasi sahabat lainnya. Evaluasi juga beliau lakukan dalam berbagai kesempatan mulai dari bacaan Al Qur’an, pemahaman agama, hingga dalam pemilihan duta dakwah dan pasukan perang. Pentingnya evaluasi ini juga tercermin dari sabda Rasulullah SAW, “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Tirmidzi).

Adapun monitoring telah dicontohkan Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. jauh sebelum istilah blusukan dikenal. Ada berbagai kisah inspiratif dari aktivitas monitoring yang dilakukan Khalifah Umar r.a. Salah satu yang dikenal adalah kisahnya dengan janda yang memasak batu untuk membuat anaknya tertidur sehingga Umar r.a. langsung memikul karung gandum, menyerahkannya kepada janda tersebut, bahkan memasakkannya untuk makan anak dari perempuan tua tersebut. Ada berbagai kisah blusukan Umar Al Faruq lainnya, di antaranya dengan perempuan tua yang buta, dengan ibu yang hendak menyapih anaknya ataupun dengan ibu yang hendak melahirkan. Kisah lain yang juga masyhur adalah monitoring yang mengantarkan Umar memperoleh menantu. Muraqabatullah yang ditunjukkan seorang gadis penjual susu yang menolak permintaan ibunya untuk mencampur susunya dengan air, menjadi penyebab Khalifah Umar menikahkan anaknya dengan gadis tersebut. Monitoring yang berkah. Apalagi dari pernikahan tersebut kelak lahir Ibunda dari sosok Umar bin Abdul Aziz yang melegenda.

Monitoring dan evaluasi dapat menghadirkan banyak inspirasi perbaikan asalkan dilakukan tidak sekadar rutinitas, formalitas, apalagi hanya untuk menggugurkankewajiban sekaligus jalan-jalan. Agenda monev juga dapat berujung pada perbaikan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya ketika ada tindak lanjut konkret yang menyertai implementasi monev. Salah satu kisah monev penuh hikmah dapat kita temui dalam kisah Nabi Sulaiman a.s. yang cukup panjang dituturkan dalam Al Qur’an Surah An Naml. Nabi Sulaiman a.s. dikaruniai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan (QS. An Naml: 15), bahkan memahami bahasa binatang (QS. An Naml:16) dan menjadi pemimpin bagi para jin dan manusia. Nabi Sulaiman a.s. biasa mengatur dengan tertib tentaranya dari para jin, manusia dan burung (QS. An Naml: 17), hingga suatu ketika beliau tidak menemukan Hud-hud di barisan burung (QS. An Naml: 20).

Hikmah pertama dari monev ala Nabi Sulaiman a.s. adalah konsistensi dalam mengevaluasi. Tanpa konsistensi dan mengenal benar personil yang dibawahinya, tidak mungkin akan terdeteksi ketidakhadiran seekor burung kecil dengan jambul ini. Konsistensi ini juga ditunjukkan Rasulullah SAW dalam mengevaluasi para sahabat, serta Umar bin Khattab r.a. dalam melakukan monitoring ke warganya. Konsistensi ini bukan berarti tidak melakukan inspeksi mendadak (sidak), namun menunjukkan ada kesinambungan proses monev yang dilakukan. Bukan hanya saat ada kepentingan untuk memenuhi dokumen audit atau sertifikasi, misalnya. Atau sekadar aktivitas mendadak di akhir tahun saat serapan anggaran tidak terlalu baik, misalnya. Konsistensi ini erat kaitannya dengan pemahaman utuh akan urgensi monev, termasuk sebagai upaya menghadirkan perbaikan berkesinambungan.

Konsistensi ini juga terkait dengan ketegasan terhadap aturan main, karenanya Nabi Sulaiman a.s. tak segan untuk menghukum Hud-hud yang mangkir (QS. An Naml: 21). Namun hukuman tidak serta merta diberikan tanpa memberi kesempatan kepada Hud-hud untuk memberikan penjelasan, bahkan pembelaan. Disini ada hikmah kedua aktivitas monev, setegas apapun ketentuan yang diterapkan, tetap perlu dibuka ruang diskusi agar tak sekadar menghakimi. Perlu ditegaskan bahwa esensi monev bukanlah mencari kesalahan, namun mencari peluang perbaikan. Istilahnya ‘tegas namun santun’. Karena ketegasan dan kesantunan bukanlah dua perkara yang layak didikotomikan.

(bersambung)

Membina Pejuang Ekonomi Syariah

Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”
(
QS. Al Hasyr: 7)

Dalam satu dasawarsa terakhir, angka indikator kesenjangan (koefisien gini) Indonesia meningkat tajam dari sekitar 0,3 menjadi 0,4. Bahkan berdasarkan survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, Indonesia menempati posisi ke-4 negara dengan disparitas kekayaan tertinggi. Dengan kondisi 1% orang terkaya menguasai 49,3% kekayaan nasional, Indonesia hanya lebih baik dari Rusia, India dan Thailand. Total dana bank di Indonesia didominasi oleh pemilik rekening di atas Rp 2 miliar yang tersebar dalam 0.12% jumlah rekening. Sementara hampir 98% jumlah rekening di bank dimiliki oleh nasabah dengan jumlah tabungan di bawah Rp 100 juta. Ketimpangan ini sulit diurai karena banyak ditentukan oleh hal-hal yang di luar kendali pihak yang lemah secara ekonomi. Jadi bukan sekadar butuh kerja keras untuk mengatasi kesenjangan pendapatan, namun juga perlu upaya untuk mengatasi ketimpangan peluang. Berdasarkan penelitian Bank Dunia, sepertiga dari ketimpangan di Indonesia disebabkan oleh empat faktor pada saat seseorang lahir, yaitu provinsi tempat lahir, tempat lahir di desa atau di kota, peranan kepala keluarga, dan tingkat pendidikan orang tua.

Data BPS menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat lebih dari kali lipat dalam rentang tahun 2004 – 2013 dan jumlahnya lebih dari sepertiga total PDB Negara-negara ASEAN. Ekonomi Indonesia terus tumbuh tidak merata. Sekitar 10% masyarakat terkaya di Indonesia menambah konsumsi mereka sebesar 6% per tahun, setelah disesuaikan dengan inflasi. Sementara 40% masyarakat termiskin, tingkat konsumsi mereka tumbuh kurang dari 2% per tahun. Di tengah peliknya permasalahan kesenjangan inilah, ekonomi Islam –yang di Indonesia lebih populer dengan istilah ekonomi syariah– mulai bangkit menjadi solusi pengganti atas kebobrokan sistem kapitalisme yang mendukung monopoli termasuk dalam pemilikan umum (public property) seperti sumber daya alam dan komoditas strategis sehingga akumulasi kekayaan hanya bertumpuk di segelintir orang.

Dalam pandangan Ekonomi Islam, negara harus menjamin pemenuhan kebutuhan pokok (pangan, papan, sandang, kesehatan, pendidikan, dan keamanan). Jika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya dan keluarganya, kewajiban itu beralih kepada kerabatnya mulai yang terdekat. Jika tidak mencukupi, diambilkan dari harta zakat. Jika belum mencukupi, kewajiban itu beralih ke negara, yakni wajib atas Baitul Maal memenuhinya. Negara bisa memberikannya dalam bentuk harta secara langsung maupun dengan memberi pekerjaan. Sederhananya lagi, ekonomi Islam membolehkan transaksi dalam muamalah selama tidak dilarang. Pelarangan ini sebenarnya merupakan upaya menjaga keadilan. Perkara yang dilarang di antaranya transaksi barang haram, penipuan, ketidakpastian (pada hal yang seharusnya bisa dipastikan), manipulasi, riba, suap, judi, tidak terpenuhinya rukun dan syarat sahnya akad, zalim, dan maksiat. Lebih manusiawi dan beradab.

Sejak geliat kebangkitannya di penghujung abad ke-20, Ekonomi Syariah di Indonesia menghadapi banyak tantangan, baik dari dalam maupun dari luar, dan belum jua berhasil mengalahkan sistem konvensional yang beraroma kapitalis, menyamainya pun bahkan belum. Lembaga keuangan syariah terus berkembang, namun belum sepenuhnya bisa terlepas dari cengkeraman sistem perekonomian ‘campuran’ yang ada di Indonesia. Ada sebagian yang idealis namun tidak realistis, ada pula yang skeptis namun tidak memberikan solusi. Sebagian lainnya masih meyakini potensi besar kejayaan ekonomi Islam di Indonesia berdasarkan pertimbangan dalil agama ataupun sudut pandang manajemen. Sosialisasi, promosi, permodalan dan pengelolaan aset, perluasan wilayah, hingga variasi dan inovasi produk menjadi evaluasi atas lambatnya laju pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.

Sayangnya, tidak banyak yang mencermati bahwa faktor penentu maju mundurnya suatu peradaban adalah manusianya. Mungkin ada yang menyadari bahwa SDM pengusung kebangkitan ekonomi syariah perlu dipersiapkan lebih baik lagi, namun tak banyak yang serius mempersiapkannya. Pendidikan dan pembinaan adalah instrumen utama untuk membentuk para pejuang ekonomi syariah di masa depan. Ya, visinya harus jauh ke depan sebab peradaban tidaklah dibangun dalam hitungan tahun. Pemerataan kesejahteraan juga menjadi masalah jangka panjang. Dan artinya, yang perlu dipersiapkan adalah sekelompok pemuda yang kelak akan menjadi pemimpin umat dan dunia di masa mendatang.

Pembinaan para pejuang ekonomi syariah harus dilakukan dengan serius sebab upaya untuk menghancurkan bangunan ekonomi Islam juga telah lama dilakukan dengan serius. Apalagi target pembinaannya bukan sekadar kepakaran, tetapi kepemimpinan yang akan mengusung penerapan ekonomi Islam sebagai jalan kesejahteraan dan keberkahan bagi seluruh manusia. Hanya pembinaan yang berkualitas lah yang dapat menghasilkan sosok-sosok seperti Utsman bin Affan r.a., Abdurrahman bin Auf r.a. atau Umar bin Abdul Aziz yang terus menginspirasi. Butuh pembinaan yang komprehensif untuk menghasilkan tokoh-tokoh seperti Abu Ubaid, Abu Yusuf, Ibnu Taimiyah atau Ibnu Khaldun beserta pemikirannya. Para pelopor ekonomi syariah seperti Umer Chapra, Adiwarman Azwar Karim, Ma’ruf Amin atau M. Syafi’i Antonio juga tidak muncul tiba-tiba, ada proses panjang yang menyertainya.

Materi pokok dalam pembinaan pejuang ekonomi syariah justru terletak pada aspek non keuangan. Penanaman nilai tentang kejujuran dan kedermawanan misalnya, jauh lebih penting dibanding sebatas pengetahuan akan strategi dan inovasi produk perbankan syariah. Adab dan akhlak menjadi fondasi yang akan mengokohkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Syarat lain yang diperlukan untuk menyongsong kebangkitan ekonomi Islam adalah dengan satu strategi kunci: sinergi. Potensi umat Islam di Indonesia sangatlah berlimpah namun belum bisa menjadi kekuatan dan keunggulan ketika masih terserak. Merajut sinergi menjadi sangat fundamental, dimana setiap komponen dapat memberikan sumbangsih terbaiknya untuk mewujudkan cita bersama. Dalam sinergi saling melengkapi, ada optimalisasi potensi kebaikan yang dapat dilipatgandakan.

Pernah ada suatu masa, kas di baitul maal berlimpah, tidak ada masyarakat yang mau dan layak menerima zakat hingga harus didistribusikan ke negeri tetangga. Utang pribadi dan biaya pernikahan pun ditanggung kas Negara. Bahkan dikisahkan serigala dan domba dapat hidup berdampingan kala itu. Ya, sebuah potret kesejahteraan yang merata pernah hadir di masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Jika sejarah memang berulang, bukan sebuah utopis masa itu akan kembali hadir, dengan sosok pahlawan yang berbeda tentunya. Asa kebangkitan (Ekonomi) Islam itu selalu ada. Sekarang tinggal bagaimana kita mengambil sikap dan peran. Ketidakpedulian dan ikut-ikutan tentu bukan pilihan bijak. Pilihannya tinggal: akankah kita ada di barisan pejuang, atau ada di barisan pembina para pejuang, atau keduanya? Apapun pilihannya, semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita tetap pada jalan perjuangan yang diridhai-Nya.

…Dan masa (kejadian dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 140)

Prokrastinasi VS The Power of Kepepet

Pada suatu hari, seorang sahabat yang merasa iba melihat kesibukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata, “Wahai Khalifah, tangguhkanlah pekerjaan ini sampai besok!”. Namun dengan tegas Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Pekerjaan satu hari saja sudah membuatku letih, bagaimana dengan pekerjaan dua hari yang terkumpul menjadi satu?”. Dalam sebuah hadits, Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah SAW pernah memegang bahuku sambil bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia seolah-olah orang asing atau pengembara’. Ibnu Umar r.a. berkata, “Kalau datang waktu sore jangan menanti waktu pagi. Kalau tiba waktu pagi jangan menanti waktu sore. Gunakan sebaik-baiknya sehatmu untuk waktu sakitmu dan masa hidupmu untuk waktu matimu.” (HR. Bukhari).

Menunda pekerjaan memang menyenangkan, ada beban yang seakan terlepaskan. Apalagi ada istilah ‘The Power of Kepepet’ yang seolah menegaskan bahwa kreativitas dan beragam potensi akan muncul dalam keadaan terdesak. Pekerjaan pun dapat diselesaikan lebih cepat. ‘Buat apa ngerjain berhari-hari kalau dapat selesai dalam beberapa jam sebelum deadline?’, pikiran sederhananya mungkin seperti itu. Kualitas hasil pekerjaannya debatable. Pekerjaan yang disegerakan penyelesaiannya belum tentu lebih berkualitas dibandingkan dengan yang selesai jelang deadline, yang tak jarang sarat inspirasi entah dari mana. Setidaknya penulis pernah merasakan hal tersebut kala mengerjakan skripsi dalam kurun waktu (hanya) 12 hari mulai dari menulis judul, Bab I – V, daftar pustaka, lampiran dan daftar isi, termasuk pengumpulan dan pengolahan data. Alhasil, skripsi sekitar 150-an halaman yang sempat terbengkalai hampir 3 semester tersebut mendapatkan nilai A-. Sebuah pencapaian luar biasa mengingat dosen penguji seminar berani bertaruh bahwa skripsinya takkan selesai sebelum jadwal sidang keluar. Sebuah pencapaian yang sejatinya tidak membanggakan.

Bersegera melakukan kebaikan, apalagi yang orientasinya akhirat sudah tidak perlu diperdebatkan lagi nilai keutamaannya. Shalat di awal waktu, tidak menunda menunaikan zakat dan infak, segera bertaubat, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan sebagainya. Tanpa perlu banyak dalil sekalipun, ketika kita menyadari bahwa hari esok belum tentu akan kita temui, menyegerakan berbuat kebaikan tentu menjadi sikap paling bijak. Lalu bagaimana dengan upaya mengoptimalkan kekuatan tersembunyi dari ketermendesakan, yang bahkan bisa membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien? Lagipula, bukankah yang terpenting adalah akhir atau kesudahannya?

Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Pertama, pekerjaan para deadliners belum tentu lebih efektif dikarenakan ada unsur ketergesa-gesaan yang akan memengaruhi kualitas suatu pekerjaan. Kedua, mengakhirkan suatu pekerjaan belum tentu lebih efisien, terutama dalam hal waktu. Bisa jadi waktu pengerjaannya lebih cepat karena dikejar deadline, namun waktu inteval antara ‘seharusnya bisa mulai dikerjakan’ dengan ‘realitanya baru dikerjakan’ semestinya juga diperhitungkan. Apalagi faktanya sepanjang waktu ‘kosong’ tersebut, ada beban ‘pekerjaan tertunda’ yang menyertai. Ketiga, hasil akhir memang penting dan menentukan, namun kualitas proses tak bisa dikesampingkan. Ada perbedaan yang cukup mendasar antara suatu pekerjaan yang diselesaikan secara terburu-buru dengan yang dinikmati penyelesaiannya secara tenang.

Idealnya, potensi ‘the power of kepepet’ bisa dioptimalkan tanpa menunggu deadline. Pekerjaan terselesaikan dengan cepat di awal waktu sehingga ada banyak waktu untuk melakukan hal produktif lainnya. Namun sekiranya tidak memungkinkan, yang perlu dilakukan adalah menunda untuk menyelesaikan, bukan menunda untuk mengerjakan. Menunda untuk mengerjakan adalah suatu bentuk kemalasan, pelakunya biasanya terjebak untuk menggantikan aktivitas penting yang seharusnya dilakukan dengan aktivitas yang tidak bermanfaat. Atau pelakunya menunda pekerjaan karena harus mengerjakan pekerjaan lain yang tertunda. Itulah hakikat prokrastinasi. Bahkan tidak ada jaminan pekerjaan tersebut akhirnya benar-benar dikerjakan apalagi diselesaikan. Menjelang akhir yang ada hanyalah keluhan, frustasi, keputusasaan dan penyesalan.

Menunda untuk menyelesaikan berarti mulai mengerjakan. Namun masih membuka ruang improvement akan berbagai ide ataupun inspirasi yang bisa jadi muncul belakangan. Tergesa-gesa dalam menyelesaikan pekerjaan, pun itu dilakukan di awal, berpotensi tidak menghasilkan yang terbaik. Jadi yang ditunda adalah penyelesaiannya untuk memberikan hasil terbaik. Interval waktu antara penyelesaian awal dengan finishing bisa digunakan dengan produktif, tidak terlalu membebani toh hasil akhirnya sudah ada, tinggal disempurnakan, jika perlu. Dan yang pasti semuanya terencana.

Lulus tepat waktu mungkin baik, tetapi lulus di waktu yang tepat lebih baik. Bisa jadi dipercepat, bisa juga ditunda jika memang ada aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan bekal penting yang harus dipenuhi. Lulus tepat waktu tidak menjamin kualitas lulusan karena fokusnya hanya ke ‘waktu’. Mirip dengan pilihan menyegerakan menikah atau menikah di waktu yang tepat. Lebih cepat belum tentu lebih baik. Ada pertimbangan yang lebih kompleks dari sekadar ‘segera berubah status’. Pepatah ‘kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda’ juga menunjukkan bahwa penundaan tidak semuanya prokrastinatif. Selama sudah memulai dan mengisinya dengan aktivitas produktif, maka menunggu momentum untuk menyempurnakan pekerjaan berbeda dengan prokrastinasi. Lalu bagaimana dengan ‘the power of kepepet’? Yah, pada akhirnya mereka yang memiliki ketergantungan terhadap ketermendesakan untuk optimalisasi potensi, selamanya tidak akan pernah optimal potensinya. Ya, ‘the power of kepepet’ bukan alasan untuk melakukan prokrastinasi, namun meyakini bahwa ada jalan keluar untuk kondisi sesulit apapun. Pasti!

Musuh terbesar dalam mencapai tujuan adalah penundaan. Kenapa banyak orang suka menunda? Karena ketakutan! Takut gagal, takut ditolak, takut kecewa, takut diejek, dan segala macam ketakutan yang lain” (Jaya Setiabudi dalam ‘The Power of Kepepet’)

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (3/3)

Last but not least, karakter pemimpin teladan adalah encourage the heart. Senantiasa mendorong, membesarkan hati dan memberi semangat. Ada energi positif seorang pemimpin yang terus memancar sehingga mampu mengikat dan menginspirasi mereka yang dipimpin. Dalam buku Prophetic Leadership karya Achyar Zein yang mengungkapkan karakteristik dan ibroh kepemimpinan setiap Nabi, kepemimpinan Rasulullah dicirikan sebagai Rahmat bagi seluruh alam. Jika kita telaah sirah nabawiyah dan hadits-hadits tentang akhlak Rasulullah memang banyak sekali kita temui kisah menyentuh bagaimana Rasulullah penuh kasih sayang. Keluhuran akhlak Rasulullah kian menjadikan beliau sosok pemimpin teladan yang dekat dengan yang dipimpinnya. Leaders touch a heart before they ask for a hand, demikian kata John C. Maxwell.

Lihat saja ketika ada seorang Arab Badui kencing di masjid, alih-alih membentaknya, Rasulullah menunggunya menyelesaikan hajatnya, membersihkan kotorannya dan menasehatinya. Atau ketika mendapati orang yang selalu melemparinya kotoran jatuh sakit, beliau malah datang menjenguk. Rasulullah juga menyuapi yahudi buta yang senantiasa mencaci maki beliau. Mendo’akan penduduk Thaif yang membalas seruan dakwah beliau dengan lemparan batu. Atau lihat bagaimana kafir Quraisy yang ketakutan ketika Fathu Makkah justru dapat jaminan keselamatan dari beliau. Kepemimpinan teladan dalam kasih sayang inilah yang mampu menghimpun hati kaum Muhajirin dengan Anshar, atau bahkan suku Aus dengan Khazraj yang telah ratusan tahun berperang. Encourage the heart.

Kaum muslimin menderita kekalahan di Perang Uhud karena human factor yaitu indisipliner, bahkan Rasulullah pun terluka cukup parah. Namun tidak ada penyesalan apalagi menyalahkan ulah sekelompok orang. Pun pahit dirasakan, banyak hikmah di balik kekalahan, termasuk turunnya ayat, “Dan disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan dari sekelilingmu. Maka maafkanlah mereka, mohon ampunanlah bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.” (QS. Ali Imran: 159). Encourage the heart.

Kelima hal tersebut terhimpun dalam satu kesatuan sehingga sosok pemimpin mampu menjadi teladan. Menjadi pemimpin yang diikuti karena dipercaya dan dicintai, bukan karena paksaan ataupun ketakutan. Menjadi pemimpin yang mampu membangun super team bukan menjadikan dirinya layaknya superman. Tugas yang tak kalah penting dari pemimpin teladan adalah memastikan bahwa proses kaderisasi kepemimpinan terus berjalan. Keteladanan tidak terhenti sampai batas usia pemimpin. Keberhasilan Rasulullah dalam mengkader generasi terbaik inilah yang menyebabkan kita masih dapat mengambil banyak teladan dari para sahabat Rasulullah. Belajar tentang kesantunan, keberanian, kedermawanan, kecerdasan, kesederhanaan, amanah, pengorbanan, dan banyak nilai kehidupan lainnya.

Bagaimanapun, kepemimpinan sejatinya adalah keteladanan. Rasulullah adalah sosok teladan seorang pemimpin yang penuh keteladanan. Pemimpin yang mampu menjadi model, menginspirasi visi bersama, berani menghadapi tantangan, menggerakkan orang lain dan menguatkan hati mereka yang dipimpinnya. Namun tidak mudah menjadi pemimpin teladan, karenanya memimpin dan belajar saling terkait, tak bisa dipisahkan. Keteladanan seorang pemimpin bahkan lebih terlihat ketika ia belajar, bukan ketika ia mengajar. Dan jika ada tips dan trik terbaik dalam memimpin, hal itu tentulah keteladanan. Mari kita (belajar) menjadi pemimpin teladan!

The best example of leadership is leadership by example” (Jerry McClain)

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (2/3)

Karakteristik selanjutnya seorang pemimpin teladan adalah challenge the process. Berani menghadapi proses. Risalah dakwah adalah amanah yang berat sehingga semua Rasul pasti memiliki karakteristik ini. Ketika wahyu pertama kali turun di Gua Hira, Rasulullah bukan hanya terkejut akan datangnya Jibril yang tiba-tiba dan memerintahkan beliau untuk membaca. Momen pengangkatan kenabian tersebut membuat tubuh Rasulullah bergetar keras. Menggigil takut. Bahkan setibanya di rumah pun beliau langsung meminta Khadijah r.a. untuk menyelimutinya. Setelah kondisi Rasulullah membaik, Khadijah r.a. mengajak beliau bertemu Waraqah bin Naufal, sepupunya yang pendeta Nasrani. “Sungguh, ini sama seperti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Musa! Andai saja aku masih bugar dan muda pada masa itu! Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!”, ujar Waraqah setelah mendengar cerita Nabi saw. “Benarkah mereka akan mengusirku?”, tanya Rasulullah saw penuh keheranan. “Ya, tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan mereka akan dimusuhi. Jika aku masih hidup pada saat itu, niscaya aku akan membantumu dengan sekuat tenaga.” Tidak berapa lama setelah peristiwa tadi, Waraqah meninggal (HR. Bukhâri dan Muslim).

Waraqah sudah menyampaikan konsekuensi yang akan dihadapi para Rasul Allah, namun pemimpin teladan adalah mereka yang berani menerima tantangan. Di awal masa kenabian, Abu Thalib yang khawatir akan situasi gawat yang akan dihadapi keponakannya Muhammad pernah meminta beliau menghentikan dakwahnya. Dengan tenang Rasulullah SAW menjawab, “Wahai paman! Demi Allah! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku takkan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya, atau aku binasa karenanya.” Challenge the process.

Dalam sejarah kenabian, Rasulullah tidak hanya berani menghadapi beban kepemimpinan ataupun berbagai ujian dalam berdakwah. Rasulullah juga berani bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah diambilnya. Dalam perang Uhud, Rasulullah menyetujui usul mayoritas sahabat dari golongan muda yang ingin menyambut tantangan musuh di luar Madinah, pun beliau sendiri lebih suka bertahan di Madinah. Para sahabat menyesali sikap mereka yang terkesan memaksa Rasulullah untuk keluar dari Madinah, mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak bermaksud menyelisihi pendapatmu, putuskanlah sekehendakmu! Jika engkau lebih suka bertahan di Madinah maka lakukanlah!”. Beliau menjawab, ”Tidak pantas bagi seorang nabi menanggalkan baju perang yang telah dipakainya sebelum Allah memberi keputusan antara dia dengan musuhnya.”. Challenge the process.

Hal keempat yang menjadi cirri dari seorang pemimpin teladan adalah enable other to act. Ya, kepemimpinan adalah seni memengaruhi dan menggerakkan orang lain. Dalam buku “The 100, a Ranking of the Most Influental Persons in History, karya Michael Hart, Nabi Muhammad saw menempati peringkat pertama, bahkan tetap menempatinya pun buku beberapa kali direvisi. Peneliti nonmuslim ini berargumen bahwa Muhammad adalah satu-satunya manusia yang meraih keberhasilan spektakuler, baik di bidang penyiaran agama maupun kehidupan dunia. Yesus hanya di peringkat ketiga di bawah Newton. Rasulullah adalah penyebar risalah salah satu agama terbesar sekaligus pemimpin politik dan panglima tentara yang brilian serta pemimpin agama yang hebat dan agung. Muhammad yang lahir dari keluarga sederhana di lingkungan yang terbelakang diakuinya sebagai politikus terbesar dan kepala pemerintahan terhebat dalam sejarah kemanusiaan universal. Pengaruhnya bukan saja masih terasa namun terus berkembang hingga saat ini.

Michael H. Hart bukan satu-satunya tokoh nonmuslim yang mengapresiasi kepemimpinan Muhammad, banyak nama-nama lain yang mengungkapkan hal serupa di antaranya Mahatma Gandhi, Karen Amstrong dan Sir George Bernard Shaw. Jika nonmuslim saja memuji, apalagi para sahabat yang langsung berinteraksi dengan beliau. Lihat saja bagaimana Rasulullah menggerakkan kaum muslimin dalam peristiwa baiatul aqabah, hijrah, berbagai ekspedisi dakwah hingga berbagai peperangan yang dialami. Banyak sekali kisah yang menggambarkan betapa Rasulullah mampu membuat para sahabat bergerak. Rela berkorban harta bahkan jiwa mereka demi pemimpinnya tercinta. Enable other to act.

Sebuah sketsa indah terjadi menjelang perang badar. Rencana menghadang kafilah Abu Sufyan berbuntut perang besar melawan pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya berkali-kali lipat dengan persenjataan yang lengkap. Dalam musyawarah, Miqdad bin Amr dari kaum muhajirin mengatakan, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti apa yang diperlihatkan Allah kepada engkau, dan kami akan selalu bersama engkau. Demi Allah, kami takkan berkata sebagaimana kaum Bani Israel berkata kepada Nabi Musa: ‘Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan duduk menunggu di sini’. Tetapi kami semua akan berkata: Pergilah engkau bersama Rabb-mu berperang dan sesungguhnya kami akan berperang pula bersama engkau. Demi Dzat Yang Mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami siap bertempur bersama engkau hingga mencapai tempat itu!”. Selanjutnya Sa’ad bin Mu’adz dari kaum Anshar berujar, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepada engkau dan kami telah  membenarkan engkau, kami juga telah memberikan sumpah janji untuk selalu patuh dan taat kepada engkau, maka majulah engkau untuk berperang sebagaimana engkau kehendaki. Demi Dzat Yang Mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau bersama kami terhalang lautan, lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, maka kami semua akan terjun pula bersama engkau, tak seorangpun di antara kami yang akan mundur. Kami sangat gembira jika esok engkau menghadapi musuh, kami berada di sisimu bersama-sama menghadapinya. Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang yang sabar dan jujur di dalam pertempuran. Semoga Allah menunjukkan kepada engkau tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan limpahan barakah Allah!”. Enable other to act.

(bersambung)

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (1/3)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Azhab: 21)

Salah satu hikmah diutusnya Rasul dari kalangan manusia –bukan dari kalangan malaikat—adalah agar dapat memberikan contoh atau keteladanan dalam kehidupan manusia. Dalam Al Qur’an, ada dua Rasul yang memperoleh gelar uswatun hasanah, yaitu Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhamad saw. Keteladanan yang dimaksud tentu dalam hal yang dapat diimplementasikan, bukan dalam konteks mukjizat. Bagaimana Nabi Ibrahim dapat selamat ketika dibakar hidup-hidup atau bagaimana Nabi Muhammad saw. dapat membelah bulan adalah dimensi mukjizat, bukan sisi manusiawi yang dapat diteladani. Terlalu mengelu-elukan Rasul pun menjadi kurang tepat jika kita hendak meneladani sosok beliau karena hanya akan memperbesar gap hingga realisasinya nyaris mustahil.

Sesungguhnya engkau memiliki budi perkerti yang agung”, demikian salah satu ‘pengakuan’ Allah SWT dalam Al Qur’an terhadap kemuliaan akhlak Rasulullah saw. Banyak literatur yang mengangkat tema tentang keteladanan Rasulullah saw. termasuk dalam aspek kepemimpinan, namun tidak banyak yang cukup lugas mengungkapkan prinsip dasar kepemimpinan Rasulullah saw. sehingga beliau mampu menjadi pemimpin teladan. Bahkan mampu mencetak generasi pemimpin teladan. Penulis teringat materi orientasi kampus 16 tahun lalu mengenai The Five Practice of Exemplary Leadership karya James M. Kouzes dan Barry Z. Posner yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Lima Praktek Kepemimpinan Teladan. Lalu bagaimana kepemimpinan teladan ala Rasulullah?

Hal pertama dan mendasar yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin teladan adalah Model the Way. A leader is one who knows the way, goes ythe way, and shows the way”, demikian ungkap John C. Maxwell. Qur’an Surah Al Azhab ayat 21 di atas turun ketika para sahabat mengeluh tentang kesulitan mereka dalam mempersiapkan perang Khandaq. Kala itu Madinah dikepung dan persediaan logistik menipis. Ketika para sahabat mengganjal perut mereka dengan sebuah batu untuk menahan lapar, Rasulullah saw. mengganjal perutnya dengan dua buah batu. Rasulullah saw. juga terlibat langsung menggali parit. Sejarah mencatat, Rasulullah saw. telah memimpin tidak kurang dari 9 perang besar dan mengatur sedikitnya 53 ekspedisi militer. Ali bin Abi Thalib r.a. bahkan mengatakan, “Kuperhatikan diri kami saat Perang Badar. Kami berlindung pada Rasulullah saw. Beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh dan orang yang paling banyak ditimpa kesulitan”. (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah)

Masyarakat butuh pemimpin yang mampu menjadi teladan dan pelopor dalam kebaikan. Gelar Al Amin yang diperoleh sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul sejatinya menunjukkan potensi keteladanan dan kepeloporan Rasulullah saw. Kepeloporan yang konsisten beliau tunjukkan. “Pernah di suatu malam, penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang sangat dahsyat. Orang-orang kemudian berangkat menuju ke arah suara tersebut. Rasulullah saw. bertemu mereka saat hendak kembali pulang. Ternyata beliau telah mendahului mereka menuju ke arah suara tersebut. Waktu itu beliau naik kuda milik Abu Thalhah, di lehernya terkalung sebuah pedang. Beliau bersabda, ‘Kalian tidak perlu takut, kalian tidak perlu takut’”. (HR. Muslim). Model the way ini menjadi fundamental karena sejarah mencatat salah satu penyebab runtuhnya berbagai peradaban dan ideologi adalah karena tidak adanya figur yang mampu model the way.

Hal kedua yang harus dipraktikkan seorang pemimpin teladan adalah Inspire a shared vision. Berbicara tentang visi Rasulullah saw., memang ada beberapa visi yang sifatnya mukjizat. Misalnya tentang kabar penaklukkan Persia, Romawi dan Yaman dalam penggalian parit perang Ahzab yang puluhan tahun kemudian baru terjadi. Atau tentang kabar kemenangan dalam perang Mu’tah di bawah panji yang dipegang ‘pedang Allah’ setelah bertutut-turut akan syahid para pemimpin pasukan: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Atau tentang kabar penaklukan Konstantinopel dan Roma. Namun tidak sedikit juga visi yang bisa dipahami sebagai strategi cerdas yang sifatnya manusiawi. Sebutlah peristiwa hijrah yang merupakan momentum visioner membangun peradaban Islam. Yastrib atau Madinah sudah lama dikondisikan, pengelolaan sumber daya untuk menyukseskan momentum tersebut juga sudah dipersiapkan. Membangun masjid, mempersaudarakan kaum muslimin hingga adanya piagam Madinah merupakan langkah-langkah strategis yang visioner. Pun demikian dengan Perjanjian Hudaibiyah yang sekilas banyak merugikan kaum muslimin, ternyata memiliki dampak kemenangan jangka panjang.

Keberadaan visi saja tidak cukup. Visi inspiratif harus disebar dan dipahami utuh oleh seluruh komponen. Itulah yang dilakukan Lee Kuan Yew dengan menyebarkan kartu pos bergambar Swiss kepada penduduk Singapura di masa awal kemerdekaannya. Semakin jelas visualisasi visi, semakin besar pula visi akan memotivasi segenap stakeholder. Apalagi jika visi tersebut mampu menginspirasi secara menyeluruh dan dinakhodai oleh sosok pemimpin yang bisa jadi teladan. Inspire a shared vision.

(bersambung)

Pemimpin Gonta Ganti, Pengikut Bengong Bingung

Dunia politik memang asik nggak asik. Kadang asik kadang enggak, disitu yang asik (katanya). Seperti orang main catur, kalau nggak ngatur nggak asik. Pion bingung nggak bisa mundur, pion-pion nggak mungkin kabur. Menteri, luncur, kuda dan benteng, galaknya melebihi raja. Raja tenang gerak selangkah, sambil menyematkan hadiah…” (‘Asik Nggak Asik’, Iwan Fals)

Lantunan lagu dari Iwan Fals menemani perjalananku di Papua. Mengunjungi sebuah sekolah rujukan provinsi yang tampak tak terawat. Jika bukan karena unsur politis, rasanya tidak mungkin sekolah negeri yang dijuluki sekolah 89 karena siswa datang jam 8 dan pulang jam 9 ini bisa terpilih sebagai sekolah unggulan tingkat provinsi. Apalagi dalam 3 tahun terakhir, kepala sekolah berganti hingga 4 kali sesuai dengan kondisi politik sehingga praktis tidak ada keberlanjutan program di sekolah. Pergantian kepala dinas dan kepala sekolah karena unsur politis memang bukan hal baru dan banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, bukan hanya Papua. Pergantian yang sebenarnya mengganggu kesinambungan sistem pendidikan. Alih-alih melanjutkan perbaikan, pejabat terpilih akan lebih fokus mengamankan jabatan dan memanfaatkan kesempatan yang dimiliki.

Reshuffle kabinet berulang kali juga mencerminkan betapa mudahnya kepemimpinan berganti, bahkan untuk skala yang lebih besar. Padahal dalam setiap pergantian pemimpin biasanya ada ‘gerbong’ yang dibawanya. Efek domino pergantian pun terus bergulir ke level di bawahnya. Ada yang terpilih, ada yang tersingkir. Ada yang bersedih, ada yang nyengir. Kaderisasi adalah keniscayaan, pergiliran kepemimpinan pun bisa membawa segudang harapan. Hanya saja, dalih dan motif pergantian, serta ketercapaian tujuan bersama perlu diperhatikan. Betapa banyak pergantian jabatan yang hanya dilatari oleh pertimbangan like or dislike atau kedekatan dengan atasan. Betapa sering pertimbangan transaksional yang pragmatis lebih dikedepankan dalam pemilihan SDM dibandingkan faktor kinerja dan kompetensi.

Adalah wajar seorang pimpinan memilih orang-orang yang se-visi untuk menjadi timnya, namun tidak seharusnya abai terhadap kompetensinya. Apalagi jika akhirnya hanya memilih orang dekat yang nihil pengalaman dan kemampuan, sekadar menyingkirkan mereka yang kritis dan (dianggap) tidak bisa dikendalikan. Pimpinan pilih kasih hanya akan menyisakan dua tipe pengikut yang tak terorbitkan: pengikut yang cari aman, dan mereka yang bersiap melakukan perlawanan. Sementara yang terpilih mungkin akan kian loyal dan amankan kesempatan. Loyalitas pengikut memang penting dalam mencapai tujuan organisasi, namun loyalitas sebagai akibat kualitas pemimpin, bukan sebagai prasyarat pengikut. Loyalitas yang berkarakter bukan cuma ikut-ikutan.

Pergantian pemimpin bisa membawa angin segar perubahan, namun gonta-ganti pimpinan dapat membuat kegaduhan, kegalauan plus kebingungan. Potensi reorientasi dan readaptasi tentu mendatangkan harap-harap cemas. Belum lagi masa depan yang tidak jelas. Karenanya tidak sedikit yang memilih cari aman, istilah yang lebih halus dibandingkan cari muka ke atasan. Jika naturalnya organisasi akan melewati fase forming, storming, norming dan performing, kebiasaan bongkar pasang struktur dan SDM berpotensi membuat organisasi hanya berkutat di fase forming dan storming, tanpa pernah menemukan pola kerja yang tepat, apalagi menghasilkan performa terbaik.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah gonta-ganti pimpinan karena buaian kepentingan semu yang dapat menyesatkan arah dan tujuan organisasi. Ketercapaian visi kian menjauh. Kepentingan semu ini kemudian membentuk sistem yang semu. Tujuan, strategi, hingga aksinya semu. Dan dilakukan oleh kerumunan orang yang fokus memperjuangkan kepentingan fananya. Aji mumpung, raup keuntungan dan cari selamat, selama mungkin. Organisasi akan kehilangan orientasi dan bertahan sebatas interval waktu kepentingan. Gagal lulus ujian perubahan dan pergantian kepemimpinan.

Memang perubahan struktur dan SDM dapat menyegarkan organisasi, membuatnya lebih lincah dan fleksibel menghadapi tantangan masa depan. Namun hati-hati dalam bagi-bagi kursi. Jika visi, karakter, kompetensi dan komposisi SDM diabaikan, organisasi bisa kehilangan jati diri bahkan kehilangan eksistensi. Perlu pertimbangan matang yang bervisi jangka panjang untuk mengawal pergiliran kepemimpinan. Jangan sampai pimpinannya malah bimbang, pengikutnya pun gamang. Pimpinannya bingung, pengikutnya pun bengong. Bagaimanapun, pergantian pemimpin adalah keniscayaan dalam kehidupan berorganisasi. Memilih pemimpin baru yang tepat merupakan investasi kebaikan jangka panjang. Membina SDM pejuang. Membangun organisasi pemenang.

Satu satu daun berguguran, jatuh ke bumi dimakan usia. Tak terdengar tangis tak terdengar tawa, redalah reda. Satu satu tunas muda bersemi, mengisi hidup gantikan yang tua. Tak terdengar tangis tak terdengar tawa, redalah reda. Waktu terus bergulir, semuanya mesti terjadi. Daun daun berguguran, tunas tunas muda bersemi. Satu satu daun jatuh ke bumi. Satu satu tunas muda bersemi. Tak guna menangis tak guna tertawa, redalah reda…” (‘Satu Satu’, Iwan Fals)