Category Archives: Artikel Motivasi

The Power of Diremehkan

Ketika seseorang menghina kamu, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan kamu, bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka” (B.J. Habibie)

Rasanya tidak banyak yang tersisa dari gelaran Copa America Centenario dan Euro tahun 2016 ini. Gemanya kurang nyaring tertutup Ramadhan serta nyaris tidak ada pertandingan yang benar-benar merarik. Dan berbeda dengan Piala AFF dimana timnas Indonesia menjadi salah satu kontestannya, kepentingan Indonesia juga minim terhadap pesta sepakbola di benua Amerika dan Eropa. Kalaupun ada catatan tersisa, tampaknya tidak jauh dari bagaimana tim-tim unggulan seperti Brazil, Spanyol dan Inggris begitu cepat tersingkir. Juga bagaimana tim superior yang diunggulkan justru gagal menjadi juara setelah kalah di final.

Ya, Copa America Centenario 2016 menjadi panggung bagi Chili setelah mengalahkan Argentina melalui babak adu pinalti, mengulang kesuksesan serupa pada Copa America 2015. Padahal di pertandingan pertama babak penyisihan, Argentina sukses mengalahkan Chili 2-1 dan selanjutnya terus menang hingga final dengan selisih minimal 3 gol. Sementara itu, Piala Eropa 2016 menjadi panggung bagi Portugal yang memupus asa juara tuan rumah Perancis lewat 1 gol di babak perpanjangan waktu. Portugal yang sepanjang kompetisi hanya menang sekali di babak normal menaklukkan Perancis yang tidak pernah kalah sepanjang kompetisi. Portugal meraih gelar pertamanya melawan tim unggulan sebagaimana Chili juga meraihnya tahun lalu.

Bola itu bundar, kejadian tim ‘kuda hitam’ jadi juara bukan hal baru. Yunani pernah melakukannya di Euro 2004 dan Denmark melakukannya pada Piala Eropa 1992. Hal ini juga terjadi di liga lokal, misalnya VFL Wolfsburg yang menjadi juara Bundesliga Jerman 2008/ 2009, Montpellier yang jadi juara Ligue 1 Perancis 2011/ 2012 atau yang teranyar Leicester City yang jadi juara Liga Inggris 2015/ 2016. Mengalahkan tradisi juara tim-tim unggulan. Status sebagai tim yang tidak diunggulkan menjadi salah satu kunci sukses mereka. Bertanding tanpa beban, tanpa angan-angan yang terlampau tinggi. Lihat saja betapa frustasi dan tersiksanya Argentina dan Perancis ketika dalam waktu normal tak mampu mengalahkan lawan yang di atas kertas berada di bawah mereka. Tanpa beban, Chili dan Portugal justru memberikan tekanan psikologis yang besar kepada lawan, baik ketika bertahan ataupun menyerang.

Menjadi mereka yang diremehkan itu menyenangkan. Apalagi ketika tidak disangka justru mampu memberikan kejutan. Betapa banyak tokoh dan public figure yang pernah mengalami masa-masa diremehkan, dicemooh ataupun mengalami berbagai penolakan. Thomas Alfa Edison dan Albert Einstein semasa kecil kerap dicap bodoh. Walt Disney dipecat dari kantornya karena dianggap kurang kreatif. Michael Jordan dikeluarkan dari tim basket SMA-nya. Steve Jobs dan Kolonel Sanders diolok-olok idenya. Steven King dan J. K. Rowling berkali-kali ditolak tulisannya. Bahkan tidak sedikit di antara mereka pernah mengalami depresi berat karenanya, tetapi ada kekuatan pembuktian yang menyertai tiap cemoohan dan penolakan.

Menjadi mereka yang tidak diunggulkan kadang dilematis. Antara besar kepala dengan rendah diri. Jika terlalu ambisius bisa salah arah, bahkan menghalalkan segala cara. Ketika berhasil pun rentan masuk jebakan kesombongan. Belum siap mental menjadi pemenang. Alhasil mereka malah balik meremehkan dan mengolok-olok orang lain. Sebaliknya, jika terlalu diterima sebagai sebuah kenyataan dapat menghadirkan rasa minder yang melemahkan. Tidak ada motivasi karena tak berani bermimpi. Mundur teratur. Terminologi ‘tidak diunggulkan’ berubah menjadi ‘pecundang’.

Menjadi mereka yang dipandang sebelah mata boleh jadi menantang. Memotivasi untuk bisa lebih baik, mengerahkan segenap upaya terbaik dan terus melakukan perbaikan. Memberi bukti indah kesuksesan tanpa maksud membalas dendam. Mereka yang pernah merasakan diremehkan semestinya akan lebih mudah tetap berpijak ke bumi ketika sukses, dibandingkan mereka yang setiap saat dielu-elukan. Tidak takut menghadapi tantangan masa depan, namun tidak pula menganggapnya ringan. Karena sikap meremehkan pada hakikatnya adalah suatu bentuk keangkuhan. Dan kesombongan hanya akan menggiring pada kehancuran.

Lalu mengapa tim ‘kuda hitam’ cepat redup cahayanya? Pertama, karena mereka tidak lagi diremehkan sehingga kekuatan mereka berkurang. Kedua, karena mereka gagal lepas dari beban pemenang tidak lagi tenang dan menghanyutkan. Ketiga, karena mereka gagal merawat momentum keberhasilan, tergesa-gesa dan aji mumpung. Padahal mempertahankan kesuksesan tidak lebih mudah daripada merebutnya. Butuh kerja ekstra ketika kita sudah menjadi pihak yang diperhitungkan. Solusinya tentu bukan merekayasa agar kembali diremehkan, namun terus memberikan bukti bahwa untuk menghebat tidak perlu dengan meremehkan orang lain. Fokus memperbaiki diri dan menginspirasi orang lain. Tak lupa untuk bersyukur atas segala karunia yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta.

I love when people underestimate me and then become pleasantly surprised.” (Kim Kardashian)

Berkolaborasi dalam Kompetisi, Berkompetisi untuk Kolaborasi

Alkisah di sebuah desa, ada seorang petani yang menanam jagung kualitas terbaik. Panennya selalu berhasil dan ia kerap memperoleh penghargaan sebagai petani dengan jagung terbaik sepanjang musim. Seorang wartawan lokal tertarik untuk mewawancara petani tersebut. Ia datang ke rumah petani kemudian disambut dengan ramah dan dijamu dengan baik. Dalam suasana wawancara yang hangat, ia menanyakan rahasia kesuksesan petani tersebut.

“Mudah saja, saya selalu membagi-bagikan benih terbaik yang saya miliki kepada para tetanggga”, jawab si petani. “Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya? Bukannya itu justru akan membuat Anda rugi dan kalah bersaing?”, tanya wartawan itu penuh keheranan. Sejenak petani itu terdiam kemudian menjelaskan, “Kami para petani ini telah diajarkan oleh alam. Angin yang berhembus menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jadi, jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula”.

* * *

Pilih mana kompetisi atau kolaborasi? Tidak sedikit orang yang mendikotomikan antara keduanya. Kompetisi yang bersinonim dengan persaingan kemudian diidentikkan dengan saling menjatuhkan, tingkat stres tinggi, hingga menghalalkan segala cara. Sementara kolaborasi yang bermakna kerja sama dipahami sebagai aktivitas saling membangun dan saling menguntungkan. Ibarat baik dan buruk, tentu tidak sulit menentukan pilihan. Bahkan ada yang ‘mengharamkan’ kompetisi, terutama di dunia pendidikan, karena hanya mengedepankan ego yang berbuah kerusakan, sementara setiap individu punya keunikan yang tidak bisa dan tidak seharusnya dikompetisikan.

Pembunuhan pertama oleh manusia juga didorong oleh menang – kalah dalam kompetisi. Namun bukan kompetisinya yang salah, melainkan bagaimana menyikapi kompetisi tesebut. Habil mempersembahkan kurban ternak terbaik sementara Qabil memberikan kurban hasil tani terburuk. Jika ditelaah lebih dalam, ternyata orientasi, cara berkompetisi dan bagaimana menyikapi hasil kompetisilah yang menentukan dampak dari kompetisi. Sementara kompetisi adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Kompetisi sudah dimulai sejak pembuahan sel telur oleh satu dari jutaan sperma, hingga perjalanan hidup yang hakikatnya adalah kompetisi dengan waktu. Karenanya tidak heran jika Allah memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, berkompetisi menuju Ridha dan Jannah-Nya.

Kompetisi akan mendorong kreativitas dan inovasi, bersungguh-sunguh untuk terus menjadi lebih baik. Hidup tanpa kompetisi adalah stagnasi di zona nyaman. Meniadakan keindahan akan dinamika hidup. Coba saja bayangkan tiada kompetisi dalam memasuki jenjang pendidikan baru, atau dalam rekrutmen karyawan, atau bahkan dalam memilih pasangan. Meniadakan kompetisi sama saja mengingkari hakikat hidup manusia. Dan jika tidak didikotomikan, kompetisi sesungguhnya membuka ruang besar untuk tercipta kolaborasi. Ya, berkolaborasi dalam kompetisi.

Dunia semakin kompetitif dan kian menyempitkan makna kompetisi. Hanya ada satu juara, yang kalah akan tergilas zaman. Paradigma kompetisi untuk ‘saling membunuh’ mendorong manusia untuk melakukan apa saja untuk dapat bertahan hidup. Ketika manusia menyadari bahwa tidak semua hal dapat dilakukan sendirian, kolaborasi menjadi opsi strategis untuk dapat terus eksis. Sayangnya, kolaborasi yang dihasilkan dari paradigma seperti ini sifatnya transaksional. Ada selama masih ada kepentingan. Untuk berkolaborasi dengan benar, perlu paradigma kompetisi yang benar. Bukan untuk mengalahkan, melainkan untuk terus berkembang. Bukan untuk memperoleh pengakuan, tetapi untuk memberikan kebermanfaatan yang lebih luas. Mengubah mindset dari win-lose menjadi win-win.

Kolaborasi adalah berbagi peran dan potensi untuk mencapai tujuan bersama tanpa harus mengeliminasi jati diri. Perbedaan adalah hal yang perlu ada dalam sebuah kolaborasi, hal itulah yang membedakannya dengan sebatas koordinasi. Kolaborasi akan memperbesar peluang pengembangan dan keberhasilan. Kemenangan milik bersama. Kolaborasi adalah berbagi untuk bisa saling melengkapi. Berbagi dan memberi, itulah makna strategis kolaborasi yang tidak dimiliki oleh kompetisi.Kolaborasi akan meredam syahwat kompetisi yang takkan pernah terpuaskan, menyeimbangkan sisi manusia sebagai makhluk sosial tidak hanya sebagai makhluk individu. Realitanya, kolaborasi mungkin tidak bisa membahagiakan dan menguntungkan semua orang, namun setidaknya tidak perlu hasil akhir yang mencelakakan atau menghancurkan pihak lain.

Hidup penuh dengan kompetisi sehingga terlibat dalam kompetisi seringkali bukan pilihan. Namun membangun paradigma kompetisi yang sehat adalah pilihan. Menggunakan cara-cara yang baik dalam berkompetisi adalah pilihan. Menyikapi kemenangan dan kekalahan dengan benar adalah pilihan yang mendewasakan. Mempersiapkan diri untuk bijak dalam menghadapi kompetisi dan hasilnya lebih realistis dibandingkan menghindari kompetisi dan berharap semua akan jadi pemenang. Namun jika kompetisi adalah keniscayaan, kolaborasi adalah pilihan. Pilihan para pemenang sejati. Betapa banyak orang yang menginjak-injak orang lain untuk mencapai puncak, dibandingkan mereka yang bergandengan tangan bersama mencapai puncak. Hampir semua manusia tengah berkompetisi, namun sedikit di antaranya yang berkolaborasi. Padahal kebermanfaatan adalah ukuran keberhasilan. Mari berlomba berkolaborasi dalam kebaikan. Berkompetisi untuk kolaborasi.

Competition make us faster, collaboration make us better

Ketika Kebosanan Tak Jemu Menghampiri

Wahai manusia, hendaknya kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan hingga kalian merasa bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang rutin dilakukan meskipun sedikit.” (HR.Muslim)

Hadits di atas adalah tanggapan Rasulullah SAW ketika A’isyah r.a. bercerita kepada beliau tentang Haulah binti Tuwait, muslimah ahli ibadah yang tidak pernah tidur malam. Rasulullah SAW menggambarkan bahwa kemampuan setiap orang tidaklah sama, termasuk kemampuan dalam mengatasi kejenuhan. Mungkin ada sedikit orang yang jarang sekali dihinggapi kebosanan karena mampu mengalihkan kebosanan tersebut pada aktivitas yang bermanfaat. Pun demikian rasa jemu dan bosan sebenarnya merupakan hal yang wajar, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dan Al Bazzar “Tiap-tiap amal itu ada masa-masa jemunya, dan pada tiap-tiap masa jemu itu ada peralihannya. Barangsiapa yang peralihannya itu kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk, dan barangsiapa yang peralihannya kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat”. Usahlah risau ketika rasa bosan datang menghampiri, namun risaulah ketika kita gagal menghadapi kebosanan tersebut dengan penyikapan yang tepat.

Alkisah, ada seorang tua bijak ditanya oleh tamunya, “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, Pak Tua?”. Orang bijak itu pun menjawab, “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu”. “Kenapa kita merasa bosan?”, tanya tamunya lagi. “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki”, jawab orang bijak tersebut. “Lalu, bagaimana menghilangkan kebosanan?”, tanyanya lagi. Orang bijak itu menjawab, “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya”. Tamu tersebut kembali bertanya, “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”. Orang bijak itu bertanya balik, “Bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”. “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua”, jawab sang tamu. “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang”, jawab Orang Bijak tersebut. “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya…”, lanjutnya.

Tamu itu pun pergi, namun selang beberapa hari, ia kembali mengunjungi Orang Bijak tersebut dengan wajah kusut. Tamu tersebut bertanya, “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”. Orang Bijak tersebut menjawab, “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan. Misalnya, mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu”. Tamu itu kembali beranjak, beberapa minggu kemudian, ia datang lagi ke rumah Orang Bijak tersebut dengan wajah ceria. Ia berkata, “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”. Sambil tersenyum Orang Bijak tersebut berkata, “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria”.

* * *

Sekali lagi, rasa bosan adalah sesuatu yang wajar, bukan aib. Rasa jenuh adalah sunatullah, sebagaimana iman tidaklah statis, bisa naik bisa turun. Kehidupan tidaklah datar, semangat manusia pun ada masa pasang surutnya. Rentang waktunya bisa jadi beragam, kadarnya pun boleh jadi berbeda setiap orang. Manusia berbeda dengan malaikat yang selalu taat, berbeda dengan iblis yang tak pernah jemu menggoda manusia. Rasa bosan, jenuh dan jemu tersebut mungkin memang tidak bisa dihindari, namun bukan berarti tidak perlu diantisipasi dan disikapi. Rasa jenuh yang tidak dikelola akan menghasilkan energy negatif, kebosanan yang dituruti akan berujung pada sikap kontraproduktif. Lalu bagaimana mengarahkan rasa bosan menjadi sesuatu yang bermanfaat?

Benda tajam pun butuh saatnya untuk diasah agar tetap tajam, begitu juga dengan jiwa, pikiran dan tubuh manusia. Jiwa yang jenuh butuh istirahat sejenak dengan kontemplasi, guna mengembalikan dan mengumpulkan kembali energi yang telah tercurah. Jiwa yang tengah butuh istirahat jangan dipaksa terus berlari karena bisa jadi malah membuatnya mati. Pikiran pun dapat terjangkiti rasa bosan sehingga butuh dibuat lebih rileks agar kembali cemerlang. Jika pikiran terus diforsir hasilnya pasti tidak akan optimal, buah pikiran tak akan jernih, kreatifitas pun justru semakin tumpul. Begitupun tubuh manusia, butuh masa rehat dan santai. Kondisi tidak sehat yang dipaksa terus berbuat berpotensi mendatangkan sakit yang berlipat. Sesekali memang perlu memanjakan tubuh agar semakin tangguh. Jadi, kebosanan bisa jadi waktu yang tepat untuk mengasah kembali ‘pisau’ kita, asal jangan terlalu lama sehingga ‘pisau’ kita semakin menipis dan habis.

Kebosanan biasanya timbul karena rutinitas, aktivitas yang monoton dan mengekang potensi untuk berkembang. Karena timbul dari rutinitas, rasa jenuh sebenarnya dapat diarahkan untuk mengembangkan kreativitas. Variasi kita dalam melakukan sesuatu akan sangat mempengaruhi ketahanan kita sebelum rasa jenuh datang menghampiri. Optimalisasi otak kanan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dalam aktivitas yang sama akan menjadikan aktivitas tersebut lebih menyenangkan, ibarat permainan. Mungkin atas dasar inilah berkembang metode fun learning dalam pembelajaran ataupun stimulasi otak tengah ataupun kanan, sebagai penyeimbang aktivitas otak kiri yang biasanya lebih dominan sehingga lebih rentan dengan kejenuhan. Tidak hanya sebagai antisipasi dan pencegahan dari kebosanan, variasi aktivitas dapat pula menjadi pertolongan pertama dan obat bagi penyakit jenuh akibat rutinitas.

Mengisi kebosanan dengan ‘mengasah pisau’ ataupun dengan variasi aktivitas akan mendatangkan manfaat di balik kejenuhan kita. Namun ada lagi sikap yang lebih produktif, yaitu dengan mengalihkan kebosanan dengan aktivitas lain di luar rutinitas yang tidak kalah bermanfaat. Lihatlah Bilal bin Rabbah yang menghibur dirinya dengan shalat. Orang-orang shaleh biasa memanfaatkan rasa jenuh yang dirasakannya untuk semakin mendekat kepada Allah SWT, dengan shalat, tilawah Qur’an, dzikir, do’a, dan sebagainya. Tidak sedikit pula yang mengalihkan kejenuhannya dengan membaca ataupun menulis buku. Ada pula yang masa jemunya dialihkan untuk produktif mengerjakan amanah lain. Kalau meminjam istilah Anis Mata dalam buku “Mencari Pahlawan Indonesia”, hal inilah yang disebut sebagai siasat pengalihan. Kala kebosanan datang, ia segera dialihkan kepada aktivitas lain yang produktif. James S. Ritty, seorang pemilik sebuah bar di Dayton, Ohio, AS. Ketika jenuh di pekerjaannya, ia pergi berwisata dengan kapal laut. Selama istirahatnya di atas kapal, ia memperhatikan suatu alat penghitung kecepatan baling-baling kapal, ia pun mendapat ide untuk membuat mesin penghitung uang. Dengan bantuan saudaranya, terciptalah mesin kas pertama yang dipatenkan pada November 1879. Kurang lebih seperti itulah contoh menyikapi kebosanan dengan lebih produktif.

Namun perlu juga dicermati dan diwaspadai bahwa kebosanan kadang kita yang mendatangi, bukannya menghampiri kita. Ya, kita lah yang menciptakan kebosanan, bukan sesuatu di luar diri kita. Jiwa kita yang tidak menjalani aktivitas dengan penuh keceriaan, pikiran kita yang tidak mau berkembang sehingga menjalani hari dengan rutinitas, atau tubuh kita yang terlalu dimanjakan sehingga tidak juga sampai pada performa optimalnya. Dalam hal ini kebosanan harus dilawan, rasa jenuh harus dihadapi karena berpotensi menjadi penyakit bagi diri kita. Jiwa harus dibangun dan diperkokoh, pikiran harus dijernihkan dengan hal-hal positif, tubuh pun harus dipaksa berbuat untuk mengusir kemalasan. Ketika kebosanan terjadi karena kelemahan jiwa, tidak ada kata lari dan beristirahat, yang ada adalah bangkit dan lawan.

Dinamika kehidupan silih berganti, begitupun suasana hati. Kebosanan selalu siap datang menyergap, namun tidak boleh terlalu lama menetap. Kala kebosanan datang menghampiri, mungkin memang saatnya untuk berhenti sejenak, introspeksi dan memperbaiki diri. Ketika rasa jemu itu datang, mungkin memang tantangan bagi kita untuk tidak terkekang dan terus berkembang. Tatkala kejenuhan hadir kembali, mungkin ada ladang kebaikan lain yang menanti, mengalihkan perhatian sejenak untuk tetap produktif dalam berkontribusi. Kebosanan takkan jemu menyapa, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tidak berlama-lama dilanda kebosanan, tidak jemu melawan kejenuhan yang melalaikan, tidak bosan berbuat, bertahan menghadapi kebosanan dan terus menebar kebermanfaatan. Karena hanya ada satu tempat dimana kebosanan tak dapat tinggal, hanya ada satu masa dimana kejenuhan tidak memiliki tempat untuk menetap. Tempat tinggal yang kekal, masa yang abadi, di akhirat nanti…

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah.” (Ust. Rahmat Abdullah)

Berani Bermimpi

Kehancuran manusia yang paling berat adalah hilangnya semangat hidup karena tidak memiliki cita-cita untuk diraih. Jangan biarkan hidup menjadi layu. Tentukan target!” (Andrie Wongso)

Akhir pekan ini saya diminta mengisi acara buka puasa bersama anak-anak yatim dengan tema berani bercita-cita. Beberapa tulisan saya terkait impian dan berani bermimpi nampaknya belum cukup sebagai referensi. Saya kemudian teringat tulisan Mas Andrie Wongso dalam buku “16 Wisdom & Succes“. Saya share disini semoga dapat menginspirasi kita untuk tidak takut bercita-cita. Selamat membaca!

* * *

Alkisah, di sebuah desa miskin ada satu sekolah dasar. Hanya sedikit muridnya karena kebanyakan anak-anak di desa itu membantu orang tuanya mencari nafkah. Suatu hari, satu-satunya guru yang ada di sekolah itu sedang memberi pelajaran mengarang. Setelah menjelaskan cara-cara mengarang cerita, si guru memberikan pekerjaan rumah. “Anak-anak, pekerjaan rumah hari ini adalah mengarang dengan judul cita-citaku. Besok, hasil karangan kalian dibaca di depan kelas satu per satu…

Keesokan harinya, murid-murid maju ke depan kelas dan membacakan karangannya masing-masing. Kebanyakan dari mereka bercita-cita menjadi guru, petani, atau pegawai pemerintah, dll. Sang guru selalu manggut-manggut tanda setuju. Lalu, tiba giliran seorang murid yang paling muda usianya. Bajunya tambal sulam, tubuhnya kurus kecil, tapi suaranya sangat lantang. “Kalau besar nanti, aku ingin punya rumah besar di atas bukit, dengan pemandangan yang indah, berdampingan dengan pondok-pondok kecil di sekelilingnya untuk tempat peristirahatan. Berderet pohon cemara dan pohon-pohon yang rindang di antara rumah-rumah itu. Ada taman bunga tertata apik dengan beraneka bunga dan warna. Ada kebun buah dengan buah-buahan lezat yang bisa dipetik oleh penghuni rumah dan penduduk di sekitarnya. Saya ingin jadi orang sukses dan bahagia bersama dengan keluarga besar dan para tamu yang datang di sana”.

Mendengar suara lantang si murid kecil itu, kontan seisi kelas tertawa bersamaan. “Dasar pemimpi…!” ejek murid yang lain. Mereka mencemooh cita-cita si murid kecil. Melihat kegaduhan itu, si guru jadi marah-marah, la menganggap, biang kerok kegaduhan itu adalah si murid kecil. Si guru menegurnya, “Yang kamu tulis itu bukan cita-cita, tapi itu impian yang tidak mungkin terjadi. Kamu harus tulis ulang tentang cita-citamu yang sebenarnya”. “Guru, ini adalah cita-citaku yang sebenarnya. Ini bukan hanya mimpi, ini bisa menjadi kenyataan” murid kecil bersikeras. “Heh… kamu hidup di desa yang miskin, keluargamu juga keluarga miskin. Bagaimana kamu akan mewujudkan cita-cita seperti itu? Dasar pemimpi! Buat karangan yang masuk akal saja!” teriak si guru muiai tidak sabar.

Aku tidak mau cita-cita yang lain. Ini cita-citaku tidak ada yang lain…” si murid kecil ngotot. “Besok kamu harus bawa karangan yang baru. Jika kamu tidak perbaiki karanganmu itu, kamu akan mendapat nilai jelek” si guru mulai mengancam. Namun keesokan harinya, si murid kecil ke sekolah tanpa membawa karangan baru. Walau diancam dan dipermalukan seperti itu, dia tetap pada cita-citanya semula. Karena sikapnya yang keras kepala dan tidak mau mengikuti perintah guru, akhirnya ia mendapat nilai paling jelek di kelas.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Tiga puluh tahun kemudian, si guru masih tetap mengajar di sekolah dasar itu. Suatu hari, ia mengajak murid-muridnya belajar sambil berwisata ke sebuah kebun buah di atas bukit yang sangat terkenal. Kebun buah itu berada di desa tetangga, tidak seberapa jauh dari desa tempat mereka tinggal. Sesampai di kebun buah yang luas dan indah itu, si guru dan murid-muridnya berdecak kagum. Kebun buah itu ternyata dilengkapi dengan sebuah taman bunga yang luas, dikelilingi pepohonan yang rindang nan sejuk. Yang lebih mengagumkan, di dekatnya terdapat sebuah rumah besar bak istana. Tinggi menjulang, megah, dan sangat indah arsitekturnya. “Orang yang membangun istana ini pastilah orang yang sangat hebat. Mengapa baru sekarang aku tahu ada tempat seindah ini…” gumam si guru terkagum-kagum.

Tiba-tiba terdengar jawaban. “Bukan orang hebat yang membangun rumah ini, hanya seorang murid bandel yang berani bermimpi punya cita-cita yang besar. Pasti, yang lebih hebat adalah guru yang duiu mendidik bocah bandel itu. Mari masuk ke dalam rumah. Kita nikmati teh dan buah-buahan terbaik dari kebun ini…” ujar si pemilik rumah itu dengan ramah. Mendengar ucapan itu, mendadak si guru terpana dan teringat siapa yang berdiri di depannya. Dia adalah si murid kecil yang keras kepala yang mendapat nilai jelek waktu itu. Sekarang dia telah menjelma menjadi pengusaha yang sangat sukses. Matanya berkaca-kaca, merasa bersyukur sekaligus menahan malu karena 30 tahun yang lalu dirinya melecehkan cita-cita anak itu.

Pembaca yang budiman,
Bila kita mau menyadari dan meneliti dengan cermat, sebenarnya banyak prestasi spektakuler dari abad sebelum masehi sampai abad milenium ini. Semuanya lahir dan dimulai dari sebuah embrio, yaitu berani mimpi. Karena impianlah sebuah pesawat terbang tercipta. Karena impianlah kita bisa menikmati kecanggihan komputer. Karena impianlah kita bisa berkomunikasi dengan telepon tanpa kabel. Karena impian pula kehidupan kita bisa kita ubah menjadi lebih berkualitas. Tentu, untuk merealisasikan setiap impian ini, kita membutuhkan kekuatan yang fain. Kekuatan itu harus ditumbuhkembangkan dari dalam diri kita sendiri, yaitu berani mencoba, berani berjuang, berani gagal, dan terakhir berani sukses.

Seringkali terjadi, penghambat kesuksesan seseorang bukan disebabkan oleh kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Tetapi lebih karena tidak adanya cita-cita yang diyakini dengan kuat dan diperjuangkan dengan sikap pantang menyerah! Cemoohan atau kesangsian orang lain terhadap cita-cita yang tinggi sebenarnya juga selalu dihadapi oleh orang-orang besar di dunia ini. Tetapi orang-orang besar tidak pernah berhenti hanya karena ejekan atau kesangsian orang banyak atas impian-impian besarnya. Karena, bagi orang-orang besar yang bermental kaya, ejekan dan cemoohan adalah vitamin gratis yang justru mereka perlukan sebagai cambuk dan pemacu untuk berusaha lebih keras lagi. Sebab itu, jika ada orang yang mengejek atau mencemooh mimpi-mimpi kita, jangan pernah berkecil hati. Hanya satu jawabannya, kuatkan tekad dan semangat, lalu berjuang dengan sekuat tenaga, dan buktikan bahwa kita mampu dan berhak untuk mendapatkan yang terbaik bagi hidup kita.

Karena baik atau buruk yang telah kita berikan, itulah kelak yang akan kita dapatkan!” (Andrie Wongso)

Sibuk? Tak Punya Waktu? Masuk Sini, Gan!!

Waktu sering kali dianiaya dengan menuduhnya ‘tak ada’ padahal sebenarnya ia hadir, hanya saja kita tidak mau menemuinya” (M. Quraish Shihab)

Berbicara tentang waktu, ada kutipan menarik yang penulis ingat, “Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan. Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan. Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan. Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa berarti. Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan. Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Kata-kata yang indah, bukan? Masalahnya adalah apakah waktu kita cukup untuk berpikir, bermain, berdo’a, belajar, mencintai dan dicintai, bersahabat, tertawa, memberi,bekerja dan beramal? Belum lagi waktu untuk makan dan minum, beribadah, mandi, dalam perjalanan, berolah raga, istirahat dan tidur. Sepertinya waktu 24 jam dalam sehari tidaklah cukup untuk melakukan semua hal yang ingin dan harus kita kerjakan. Membuat agenda dan menyusun jadwal untuk manajemen waktu juga butuh waktu. Dan implementasinya seringkali tidak sesederhana yang tersusun rapih dalam perencanaan. Ada kesibukan dadakan lah, ada target yang belum tercapai lah, ada aktivitas yang harus diulang lah, ada kerjaan yang terhambat di luar kemampuan kita memprediksinya lah, dan berbagai kendala lain yang kerap ditemui dalam upaya mengelola waktu. Lalu harus bagaimana?

Arti pentingnya waktu tidak bisa disangkal tanpa perlu banyak dalil untuk menegaskannya. Kehidupan kita yang serba dibatasi oleh waktu sudah cukup menggambarkan betapa berharganya waktu. Umar bin Abdul Aziz pernah merasa sangat lelah di masa awal pengangkatannya sebagai khalifah sehingga setelah semalaman tidak sempat tidur, menjelang zhuhur ia hendak istirahat sejenak. Belum lagi merebahkan diri, anaknya, Abdul Malik menghampirinya dan mengingatkannya untuk segera mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi oleh khalifah sebelumnya. Umar mengatakan bahwa dirinya sudah tak punya tenaga, setelah shalat zhuhur berjama’ah nanti, hak-hak kaum muslimin akan segera dikembalikannya. Abdul Malik menimpali, “Siapa yang bisa menjamin dirimu akan hidup sampai Zuhur, wahai Amirul Mukminin?“. Serta merta Umar bangkit, mencium dan merangkul anaknya, serta mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang rusukku seseorang yang menolongku dalam beragama“. Kemudian beliau berdiri dan menyuruh supaya diumumkan kepada orang-orang bahwa barangsiapa yang merasa teraniaya, hendaklah dia mengajukan perkaranya.

Begitulah kehidupan, mengejar dan dikejar waktu. Tidak ada jaminan kita akan terus memiliki waktu dan tidak ada ketentuan kapan jatah waktu itu akan habis. Waktu yang ada memang terbatas sementara kewajiban terhadap waktu tersebut sangatlah banyak. Dan kewajiban kita ibarat ombak, yang lama belum surut sudah datang lagi yang baru. Seolah tanpa istirahat. Tidak berlebihan jika Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa seorang hamba baru dapat beristirahat setelah kakinya menginjak surga. Kembali ke persoalan menyiasati waktu yang terbatas, cukuplah penulis mengingatkan nasehat Hasan Al Bana, “Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan jika anda mempunyai keinginan atau tugas selesaikan segera“.

Dari nasehat tersebut, setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menyiasati kesibukan kita di tengah waktu yang terbatas. Pertama, kewajiban kita sangatlah banyak, baik terhadap diri kita (fisik, intelektual dan spiritual), kepada Allah SWT, maupun kepada sesama manusia, mulai dari orang tua, keluarga, saudara, tetangga, teman hingga manusia pada umumnya. Belum lagi terhadap makhluk hidup dan benda lainnya. Sementara waktu yang dimiliki tidak cukup untuk memenuhi semuanya. Karenanya untuk menyiasati waktu yang terbatas, kita harus pandai mengatur prioritas, tidak harus ngotot memenuhi semua kewajiban secara bersamaan. Memilih prioritas aktivitas yang tepat bisa jadi menyelesaikan beberapa kewajiban sekaligus. Memang semua kewajiban, sekecil apupun, akan dimintai pertanggungjawabannya, namun memilih kewajiban yang diutamakan untuk ditunaikan juga merupakan bagian dari hal yang harus dipertanggungjawabkan.

Kedua, tidak semua hal mampu kita lakukan dan tidak segala kewajiban dapat kita selesaikan. Disinilah kita membutuhkan orang lain, mulai dari mengingatkan, mendukung, hingga secara langsung membantu kita dalam mengatur waktu, memilih prioritas dan menyiasati kesibukan. Ada kewajiban-kewajiban yang memang hanya dapat diselesaikan dengan bantuan orang lain, karenanya saling membantu menjadi kekuatan penting untuk menyelesaikan banyak kewajiban dengan waktu terbatas. Ketiga, prokrastinasi atau suka menunda merupakan musuh terbesar pengelolaan waktu. Padahal kita tidak tahu persis kapan waktu kita akan habis. Penundaan akan menyebabkan berbagai tugas akan menumpuk dan semakin sulit untuk diselesaikan. Karenanya, ‘jangan menunda’ menjadi syarat penting untuk menyiasati kesibukan yang padat di tengah waktu yang singkat.

Selain ketiga hal di atas, ada hal lain yang harus diperhatikan dalam pengelolaan waktu, yaitu bijak dalam menyikapi waktu luang. Waktu luang merupakan salah satu nikmat yang kerap terabaikan (HR. Bukhari), padahal sikap sembrono terhadap waktu luang justru mempersulit terpenuhinya tugas dan kewajiban. Salah satu waktu luang yang dapat dioptimalkan untuk pemenuhan kewajiban adalah ketika menunggu dan berdiam diri (termasuk ketika di toilet) serta waktu dalam perjalanan. Potensi untuk mengoptimalkan serpihan waktu luang juga dapat kita peroleh dari aktivitas menonton TV dan menggunakan intenet yang tidak jarang kontraproduktif. Selain itu juga perlu diperhatikan pengelolaan konsentrasi dan pengoptimalan waktu tidur untuk meminimalisir penggunaan waktu yang tidak bermanfaat. Untuk dua hal terakhir, sepertinya perlu ada pembahasan khusus di lain kesempatan.

Penggunaan waktu yang tepat akan mengantarkan pada kesuksesan sementara penyelewengan terhadap waktu hanya akan mempersulit hidup. Tugas dan kewajiban yang sedemikian banyak hanya dapat disikapi dengan pandai dalam menentukan prioritas, saling membantu, tidak suka menunda dan memanfaatkan sebaik mungkin waktu luang yang kita miliki. Syarat-syarat tersebut terkesan berat, terlalu serius dan sulit untuk dilakukan. Karenanya, ada hal lain yang perlu mengimbanginya: sikap bersyukur dan menikmati segala kesibukan kita. Banyaknya kewajiban akan meningkatkan kualitas diri kita, akan memuliakan kita, karenanya patut disyukuri, layak untuk dinikmati. Waktu kita terbatas, alangkah tidak berharganya hidup tanpa amal produktif. Sikap bersyukur dan menikmati kesibukan sama artinya dengan menghargai hidup. Waktu adalah karunia yang telah diberikan oleh Sang Pemilik Waktu dan keberadaannya pasti. Kita perlu mengelolanya dan kita akan mempertanggungjawabkannya. Waktu sebenarnya selalu tersedia, hanya saja mungkin kita kurang mencarinya. Waktu selalu ada, kecuali bagi para pemalas dan mereka yang suka menunda. Dan waktu selalu hadir, bagi mereka yang senantiasa mencoba mengisinya dengan aktivitas produktif.

The man who says he never has time is the laziest man” (Lichterberg)

Menikmati Kritik Gurih dan Renyah

“Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran” (Corrie Ten Boom)

Senang dipuji dan tidak suka dikritik sudah menjadi salah satu tabiat manusia. Jangankan pejabat negara yang dengan kekuasaannya dapat ‘membungkam’ para pengritiknya, anak kecil pun akan menunjukkan ketidaknyamanan ketika ada yang mengungkapkan kesalahannya. Sebaliknya, pujian begitu mudah membuat orang tersenyum sumringah dengan mata berbinar – binar, bahkan tidak jarang membuat orang tersebut menuruti keinginan ataupun memberikan sesuatu kepada yang memujinya. Padahal pujian bisa melenakan bahkan menjatuhkan. Pujian kadang juga menunjukkan kemunafikan, membangun budaya bermuka dua. Dalam konteks keikhlasan, pujian juga menjadi ujian berat yang dapat merusak pahala.

Sama-sama dapat menjatuhkan, kritik lebih sulit untuk diterima. Padahal mengungkapkan kritikan lebih mudah daripada menyampaikan pujian. Nafsu memang tidak mudah untuk ditundukkan. Kekurangan seseorang dapat mudah kita komentari, sementara jika kita sendiri yang menjalani juga belum tentu bisa lebih baik. Dan mengritik jelas lebih mudah daripada menerima kritik. Ibarat melihat kuman di seberang lautan namun gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Butuh jiwa besar untuk dapat menerima kritik. Butuh sikap bijak untuk dapat menyikapi kritik dengan benar. Dan dalam berbagai kesempatan, kritik itu dapat membangun, mengingatkan kita akan kekurangan untuk diperbaiki dan kesalahan untuk tidak lagi diulangi.

Ada kisah teladan dari Khalifah Umar bin Khattab r.a tentang bagaimana menyikapi kritik. Pada suatu ketika Umar r.a sedang berpidato di depan umum, Salman Al Farisi r.a menyelanya seraya berujar, “Demi Allah, kami tidak akan mendengarkannya!”. “Kenapa wahai Salman?”, tanya Umar ra.a kepada salah seorang shahabat pahlawan perang Khandaq tersebut. “Karena Anda telah mengistimewakan diri Anda dari kami. Masing-masing kami hanya diberi sehelai baju, tetapi Anda mengambil dua helai untuk diri Anda!”. Umar r.a kemudian mencari anaknya di tengah kerumunan orang seraya bertanya kepada Ibnu Umar r.a, “Kain siapakah yang saya pakai sehelai lagi?”. “Kain bagian saya, hai amirul mu’minin!” jawab Abdullah bin Umar r.a di hadapan khalayak ramai. Umar r.a kemudian berkata, “Sebagaimana kalian ketahui, saya ini bertubuh tinggi, sedangkan kain bagian saya pendek. Abdullah pun memberikan kepada saya bagiannya, dan saya pakai untuk menyambung baju saya”. Dengan air mata berlinang disebabkan kebanggaan dan kepercayaannya, Salman r.a berkata, “Alhamdulillah, sekarang katakanlah wahai Amirul mu’minin, dan kami akan mendengar dan mentaatinya”.

Pada saat lain Umar r.a mengimbau kepada kaum muslimin untuk tidak memberikan mas kawin lebih dari 40 uqiyah (1240 gram) karena saat itu sedang terjadi resesi ekonomi akibat masa paceklik. Jika ada yang melebihkan, kelebihannya akan diserahkan ke baitul maal. Tiba-tiba ada seorang wanita yang memprotesnya, ”Apakah yang dihalalkan Allah akan diharamkan oleh Umar?” seraya membacakan QS. An Nisa ayat 20 (“…dan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun…). Khalifah Umar r.a langsung bekata, ”Astaghfirullah, wanita itu benar dan Umar salah. Dengan ini saya cabut kebijakan yang baru saja saya keluarkan!

Kritik adalah bukti cinta, karenanya Umar r.a menerimanya dengan lapang. Kritik adalah tanda kepedulian sekaligus sebagai kontrol diri yang layak disyukuri. Tidak sedikit teori tentang pengaruh positif kritik terhadap perbaikan diri kita, namun realitanya tetap saja tidak mudah menerima kritik. Apalagi kritik yang disampaikan oleh mereka yang kita nilai tidak lebih baik dari kita, atau kritik yang disampaikan dengan cara yang tidak baik. Menurut penulis yang menyukai kripik, menikmati kritik tidak berbeda dengan menikmati kripik, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, ada langkah-langkah yang harus dilakukan.

Pertama, untuk menikmati kripik kita harus menyukai makan kripik. Berdasarkan penelitian, makan kripik bisa meringankan dan memperbaiki suasana hati, membuat kita lebih tenang dan lebih ceria dalam menjalani kegiatan. Jadi, untuk dapat menikmati kritik, kita harus menyukai kritik. Bersyukur ada yang memperhatikan kita dan mengharapkan kita bisa lebih baik setiap saatnya. Sadarilah bahwa hidup tanpa kritik akan hambar, walaupun hidup penuh dengan kritik akan menggelisahkan.

Kedua, untuk menikmati kripik pastikan bahwa kita punya gigi yang cukup kuat untuk dapat mengunyahnya. Kalau tidak, yang terasa hanya sakit dan ketidaknyamanan. Untuk dapat menikmati kritik, kita harus punya keberanian yang dibungkus dalam kematangan diri. Sikap anti kritik seringkali timbul karena kita takut mengakui bahwa kita punya kekurangan atau kita takut menerima bahwa kita telah melakukan kesalahan. Keberanian untuk menerima kritik menjadi kunci penting untuk dapat menikmatinya. Bagaimanapun, untuk dapat menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita, butuh persiapan hati dan jiwa. Keberanian kita untuk mengoreksi dan memperbaiki diri akan mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan yang mungkin timbul.

Selanjutnya, untuk menikmati kripik, kita harus memilih rasa yang kita sukai, atau jika diperlukan kita tambahkan ‘sesuatu’ agar lebih enak. Tidak semua kripik harus dimakan dan tidak semua kripik dapat dimakan. Untuk dapat menikmati kritik, kita harus memilih, karena memang tidak semua kritik itu benar, tidak semua kritik dapat membangun. Memilih kritik berbeda dengan sikap anti kritik karena memprioritaskan kritik yang membangun jelas berbeda dengan tidak mau dikritik. Perlu diperhatikan, dalam memilih kritik yang perlu didahulukan adalah konten/ isi kritik, bukan siapa yang mengritik. Jika apa yang disampaikan memang baik, namun caranya kurang baik atau orang yang menyampaikan kurang kita sukai, kita perlu menambahkan ‘bumbu’ agar kritik lebih gurih dan renyah. Penuhi pikiran dan jiwa kita dengan hal positif, lakukan perbaikan juga dengan positif.

Terakhir, kripik lebih enak dinikmati sebagai cemilan di waktu santai, sambil membaca buku atau menonton TV misalnya. Makan kripik bukanlah aktivitas utama. Menyikapi kritik juga jangan sampai menjadi tugas utama yang dilakukan, akan sangat melelahkan padahal kita tidak akan dapat memenuhi harapan dari semua orang. Nikmatilah kritik di waktu tenang, jangan sikapi secara emosional. Kritik adalah bumbu penyedap hidangan kehidupan, bukan hidangan utamanya, karenanya harus dinikmati dengan santai, tidak perlu menghabiskan energi untuk menyikapi seluruh kritik yang diterima.

Kritik adalah cermin diri untuk kita berbenah, karena bisa jadi ada kesalahan atau kekurangan yang luput dari perhatian kita, namun tidak luput di mata orang lain. Ada noda di tubuh kita yang hanya dapat kita lihat melalui cermin. Dan orang lain, mulai dari sahabat sampai ‘musuh’ kita, tidak jarang lebih jujur dalam menilai kita daripada diri kita sendiri. Sudut pandang yang berbeda dan akan memperkaya inilah salah satu hal yang menyebabkan kritik tetap dibutuhkan. Dan sudah sewajarnya segala sesuatu yang kita butuhkan dapat kita nikmati. Kritik kerap dipersepsikan negatif sehingga tidak mudah untuk dinikmati. Padahal, kritik ibarat kripik yang gurih dan renyah. Menikmatinya dapat meningkatkan stamina, dapat menambah keceriaan, dapat lebih menentramkan. Menikmati kritik akan membuat kritik lebih bermakna dan bermanfaat. Selamat menikmati kripik, eh, maksudnya menikmati kritik. Yuk, mari…

Mau Eksis? Yuk Menulis!

“Bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan”
(Pramoedya Ananta Toer)

Apa yang menjadi persamaan Soekarno, Tan Malaka, Adolf Hitler dan Sayyid Qutb? Mereka adalah beberapa dari tokoh besar yang menulis di dalam penjara. Mereka menulis tentunya bukan sekedar mengisi waktu luang selama di penjara. Dalam keterbatasan gerak, menulis menjadi pilihan jalan juang mereka untuk mengubah dunia. Hasilnya, tentu tulisan yang menginspirasi. Pledoi ‘Indonesia Menggugat’ Soekarno yang penuh semangat, buku ‘Dari Penjara ke Penjara’ Tan Malaka yang sarat makna, Adolf Hitler dengan Mein Kampf-nya yang mengguncang dunia hingga Sayyid Qutb dengan Tafsir Fi Zhilalil Qur’an yang menentramkan. Selain mereka tentunya masih banyak sederetan nama yang produktif menulis di penjara, sebutlah Ibnu Taimiyah, Ho Chi Minh, Buya Hamka dan Aidh Al Qarni. Memang dalam suatu kondisi ekstrem, tak jarang menulis menunjukkan pengharapan untuk dapat bertahan hidup. Raga mereka terpenjara, pikiran mereka bebas dan mencerahkan. Raga mereka bolehlah mati, namun pemikiran yang terejawantahkan dalam tulisan kan tetap abadi. Tidak berlebihan kiranya jika Pramoedya Ananta Toer (yang juga produktif menulis selama di penjara) mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Menulis memang dapat menunjukkan eksistensi diri, sebagaimana diakuinya eksistensi mereka yang dipenjara melalui karya tulisan mereka. Eksistensi ini pula yang ditunjukkan Helen Adams Keller, seorang penulis, aktivis politik dan dosen yang tuli dan bisu. Berada dalam kegelapan sejak usia 19 bulan, tidak menyurutkan langkahnya untuk mengukir sejarah. Selain menulis 12 buku yang diterbitkan dan berbagai artikel, Keller juga menjuarai Honorary University Degrees Women’s Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, The Lions Humanitarian Award, bahkan kisah hidupnya meraih 2 piala Oscar. Bukunya ‘The World I Live In’ dan ‘The Story of My Life’ (diketik dengan huruf biasa dan Braille) menjadi literatur klasik di Amerika dan telah diterjemahkan sedikitnya ke dalam 50 bahasa. Keterbatasan fisik ternyata tidak menjadi alasan baginya untuk menurunkan produktivitas menulis. Tulisannya pula yang mengantarkannya keliling dunia.

Semangat yang sama juga ditunjukkan Jhamak Kumari Ghimire, seorang juara puisi di Nepal dengan judul bukunya ‘Is life a thorn or a flower’ yang menceritakan perjalanan hidupnya yang kehilangan kemampuan bicara dan menggunakan kedua tangannya. Karena dianggap sebagai beban keluarga, pada usia tujuh tahun, tetangganya meminta ayahnya, Krisna Prasad Ghimire, untuk membunuhnya dengan menenggelamkannya di sungai. Perempuan penderita cerebral palsy ini mampu menulis dengan kakinya dan dengan bangga mengatakan bahwa dia dapat melafalnya dalam hati. Ketika mulut tak dapat terucap, tulisannyalah yang menunjukkan bahwa ia ada dan dapat melakukan sesuatu yang membanggakan dalam keterbatasan. Dunia pun mengenalnya dari karyanya.

Jika mereka yang memiliki keterbatasan saja dapat menghasilkan karya tulisan yang berkualitas, apalagi (seharusnya) kita yang normal. Menulis sebenarnya mudah, tinggal bagaimana memiliki kemauan, keberanian dan komitmen dalam menghadapi berbagai macam penyakit menulis. Kemauan untuk merangkai gagasan yang sebenarnya beserakan, keberanian untuk tidak malas dan suka menunda dan komitmen untuk mengatasi berbagai keterbatasan, mulai dari fisik, waktu hingga sarana prasarana. Perlu diingat bahwa menulis bukan sekedar mengikat ilmu, namun juga mengukir sejarah dengan tebaran kebermanfaatan yang berlipat. Tetap eksis pun putaran zaman terus berputar. Seperti yang dituliskan Mas Pram, “orang boleh pintar setinggi langit, tapi kalau tidak menulis ia akan hilang ditelan zaman”.

Jean-Dominique Bauby adalah seorang jurnalis Perancis terkenal dan pemimpin redaksi majalah fashion Elle. Pada saat dia terbaring sakit setelah mengalami serangan stroke hebat, dia hanya dapat berpikir tetapi tidak bisa berbicara. Dia ingin menulis tapi tidak mampu menggunakan tangannya. Menelan ludahpun ia tak sanggup. Satu – satunya anggota tubuh yang bisa digerakkannya hanya kelopak mata kiri yang dapat dikedipkannya. Asistennya menunjukkan padanya alfabet dan dia akan berkedip pada huruf yang dipilihnya. Setelah huruf menjadi kata, kemudian menjadi kalimat dan paragraf – paragraf, akhirnya hanya dengan berkedip, dia mampu ‘menulis’ sebuah buku memoar hidup 173 halaman berjudul ‘Le Scaphandre et le Papillon’ yang menjadi best seller dan akhirnya diangkat ke layar lebar. Bauby meninggal dua hari setelah bukunya terbit, mahakarya yang membuatnya tetap dikenang, seolah kematiannya menunggu terselesaikannya karyanya. Tidak salah nasihat Mas Pram, “bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan”.

Menulis sesuatu yang menginspirasi adalah aktivitas mulia, apalagi akan ada saatnya apa yang kita ucapkan akan dilupakan, apa yang kita sampaikan hilang ditelan zaman. Menulis sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain adalah kebaikan yang tahan lama, apalagi akan ada masanya tak ada amal yang dapat dilakukan, tak ada lagi kesempatan untuk melakukan kebaikan. Salah satu peluang menjaga eksistensi kebermanfaatan adalah dengan tulisan. Membangun eksistensi dengan tulisan bukan berarti arogan jika didedikasikan untuk memberikan sumbangsih pikiran yang dapat mencerahkan, jika diniatkan untuk menebar kebermanfaatan. Dan tentunya tak perlu menunggu keterbatasan tiba untuk memompa semangat berkarya. Baik di masa lapang maupun penuh kendala, produktivitas seyogyanya tetap terjaga. Mulailah dari karya kecil yang membantu memberikan solusi bagi permasalahan teman dekat, dan terus berkembang hingga menjadi kumpulan masterpiece yang menginspirasi dunia. Mau eksis yang gak narsis? Yuk menulis!

“Orang yang terpenjara ialah yang dipenjara syaitan, orang yang terkurung ialah orang yang dikurung syaitan. Dan dipenjara yang sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang memenjarakan saya ini tahu bahwa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.” (Ibnu Taimiyah)

Roda Kehidupan

“…Roda kehidupan dunia berputar, mewarnai nasib manusia, suka dan terkadang duka. Dalam kehidupan dunia, tiada insan yang bebas dari cobaan. Baik bagi si miskin ataupun yang kaya, baik bagi jelata atau yang berjaya. Lain orang lain ujian, itulah keadilan Tuhan” (‘Roda Kehidupan’, Rhoma Irama)

* * *

Kehidupan bagaikan roda, beribu zaman terus berputar…”, begitu penggalan lirik nasyid ‘Untukmu Syuhada’nya Izzatul Islam. Kita tentu mafhum, suka dan duka, tangis dan tawa silih berganti mewarnai kehidupan. Periodenya tentu saja tidak sesaklak putaran roda. Ada kalanya kebahagian cukup lama dirasakan, atau ada juga yang hidupnya banyak dihabiskan dalam kesengsaraan. Analogi roda –kadang ada di atas, kadang ada di bawah– nampaknya cukup menarik untuk dikaji, apalagi setiap hari yang namanya roda begitu mudah kita jumpai.

Roda dipercaya sebagai salah satu penemuan terbesar manusia yang sangat bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan. Desain roda terus berkembang sejak zaman Mesopotamia pada tahun 3000 SM hingga saat ini. Ada beberapa bagian penting dari roda, diantaranya velg yang menjaga bentuk roda, menghubungkannya dengan poros tempatnya bisa berputar sekaligus memperindah roda. Untuk roda berisi udara, ada karet untuk mengurangi guncangan dan ada pula bagian bernama pentil yang berfungsi menjaga agar dalam keadaan normal roda hanya bisa dilalui udara dengan satu arah, yaitu masuk ke dalam roda, tidak keluar. Tulisan ini tidak akan detail membahas bagian roda, namun lebih mendalam mengupas hikmah di balik idiom ‘roda kehidupan’.

Jika kita cermati fungsi roda untuk memudahkan pergerakan, maka kita akan mendapati posisi roda akan selalu ada di bagian bawah kendaraan. Artinya, ketika roda sedang berada di atas pun, masih ada posisi yang lebih tinggi, atap kendaraan bahkan badan kendaraan itu sendiri. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk tidak sombong. Ketika posisi kita sedang di atas, kita harus menyadari bahwa masih ada yang lebih atas lagi sehingga kita tidak layak merendahkan yang ada di bawah. “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Isra’ : 37)

Di sisi lain, roda berputar di atas jalan, ada alas berupa tanah, aspal dan sebagainya yang dipijaknya. Artinya, ketika roda sedang berada di bawah pun, masih ada posisi yang lebih rendah, yang bahkan tergilas dan terlindas oleh roda tersebut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk bersyukur. Ketika posisi kita sedang di bawah sekalipun, kita harus menyadari bahwa masih ada yang tidak seberuntung kita. Banyak hal yang lebih layak untuk disyukuri, bukan dikeluhkan. Rasa syukur itu yang akan membawa kita pada posisi yang lebih tinggi tanpa harus tinggi hati. “Lihatlah orang yang lebih bawah daripada kamu, jangan melihat orang yang tinggi daripada kamu, karena dengan demikian kamu tidak akan lupa segala nikmat Allah kepadamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam realitanya, ada orang yang terus diliputi kebahagiaan, berlimpah harta beberapa generasi dan sebaliknya, ada juga yang terus menderita, miskin turun temurun. Bagaimana ‘roda kehidupan’ mampu menjelaskan hal ini? Perhatikan putaran roda pesawat ketika di darat dan di udara. Ketika di darat, setinggi – tingginya putaran roda pesawat, tidak akan lebih tinggi dari roda mobil yang ada di pegunungan, apalagi bandara biasanya ada di dataran rendah dekat pantai. Sebaliknya, serendah – rendahnya roda pesawat di udara, tidak akan lebih rendah dari roda motor yang ada di darat. Artinya, wilayah beroperasinya roda akan menentukan tinggi – rendahnya posisi roda di atas permukaan laut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk berikhtiar. Jika kita tidak berusaha membawa ‘kendaraan’ kita ke tempat yang lebih tinggi, putaran roda kehidupan setinggi apapun tidak akan mengangkat kita dari tempat yang rendah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS. Ar Ra’du : 11)

Kehidupan bagaikan roda pedati, sesekali di atas, kadang – kadang di bawah. Naik turun dalam menjalani kehidupan sudah menjadi keniscayaan, tinggal bagaimana kita bijak menyikapinya. Tidak sombong ketika ada di atas, tetap bersyukur ketika ada di bawah dan terus berupaya memperbaiki kehidupan sehingga putaran roda kita semakin tinggi. Membawa roda ke tempat lebih tinggi memang tidak mudah dan butuh energi lebih, apalagi dibandingkan membawanya turun, namun pemandangan di atas sana lebih indah, banyak hikmah selama perjalanan dan roda kehidupan kitapun akan semakin kuat.

* * *

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” (Pramoedya Ananta Noer)

Bermimpi

“Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi – mimpinya”
(Eleanor Roosevelt)

“Jika engkau bisa memimpikannya, engkau akan bisa melakukannya. Sungguh sangat menyenangkan melakukan hal yang ‘tak mungkin’”
(Walt Disney)

* * *

Judul diatas mengingatkan penulis pada lagu Base Jam dengan judul serupa yang sempat menjadi hits di medio tahun 90-an. Sayangnya, menurut hemat penulis, lirik lagunya kurang membangun. Bermimpi diidentikan dengan sikap berpangku tangan yang dekat dengan kemalasan. Orang yang bemimpi dikesankan tidak punya konsep diri, tak tahu mau jadi apa di masa depan. Ya, para pemimpi dipandang sebagai mereka yang kurang produktif padahal membangun impian adalah titik awal produktivitas. Padahal mimpi adalah sesuatu yang akan menjadi kenyataan di kemudian hari. Dan mimpi merupakan harta berharga yang dimiliki setiap orang, sampai – sampai Andrea ‘Sang Pemimpi’ Hirata menyebutkan melalui salah satu tokoh dalam novelnya bahwa tanpa mimpi, kita akan mati.

Visualisasi Impian : Tulislah Mimpimu!!
Dalam sebuah acara pesantren kilat yang penulis kelola beberapa waktu yang lalu, ada video inspiratif yang diputarkan. Berkisah tentang Danang Ambar Prabowo ‘Sang Pembuat Jejak’ yang menuliskan 100 impiannya dan mendapatkan lebih dari apa yang diimpikan. Beberapa pekan kemudian, Aris Setyawan, seorang alumni penerima Beastudi Etos Bogor mengantarkan sebuah buku buah karyanya bersama Danang berjudul ‘Pemimpi Luar Bidahsyat’. Dalam buku itu dipaparkan lebih jauh bagaimana seorang Danang dapat mengikuti Pekan Ilmiah Nasional, MTQ Nasional, menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional, terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti lomba di Selandia Baru, menerima beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Negeri Sakura hingga mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Fuji. Dan kesemua capaian itu berawal dari dua lembar kertas yang berisikan 100 impiannya. Impian yang kemudian dapat diwujudkannya.

Banyak kesuksesan yang berawal dari mimpi, namun ternyata memulai bermimpi tidak semudah yang dibayangkan. Karena impian yang bukan sekedar bunga tidur, dibuat dalam keadaan sadar, menuntut konsekuensi untuk dapat direalisasikan. Karenanya butuh keberanian untuk dapat memulai sebuah impian. Untuk dapat menginternalisasi impian dan menimbulkan afirmasi positif, impian yang dimiliki seharusnya tidak sekedar diingat, tetapi harus dituliskan. Dalam hal ini, butuh keberanian ekstra untuk dapat memulainya. Cobalah memulai untuk menuliskan beberapa, puluhan, ratusan atau bahkan ribuan impian di atas kertas. Tidak akan sesederhana yang dibayangkan. Selain keberanian, butuh kreativitas memang. Biarkan impian itu muncul secara alami, termasuk hal – hal sederhana yang belum dapat diwujudkan. Pahami impian yang dituliskan, selami lebih dalam dan sadari pula langkah – langkah yang diperlukan untuk mewujudkan impian itu. Jika masih sulit, istirahat sejenak untuk kemudian kembali fokus menuliskan impian.

Jauh sebelum Jim Carrey terkenal, ia pernah menulis di atas sebuah kertas $ 10.000.000 (sepuluh juta US dollar, jika dirupiahkan lebih dari 93 Milyar rupiah). Dia yakin suatu saat akan memperoleh bayaran senilai itu dan kemudian terwujud ketika dia membintangi ’The Mask’. Di sebuah restoran kecil, terdapat tulisan ’suatu saat saya akan menjadi bintang film terkenal, dst’ bertanda tangan Bruce Lee. Beberapa tahun kemudian, tulisan itu diperbincangkan menyusul munculnya bintang film kung fu terkenal bernama Bruce Lee. Kate Winslet, penerima piala Oskar 2009 sebagai aktris wanita terbaik mengatakan bahwa sejak usia 8 tahun dia sudah sering berlatih mengucapkan terima kasih dengan memegang botol shampo sebagai ’piala Oskar’nya dan hal tersebut akhirnya terealisasi bertahun – tahun kemudian. Itulah contoh beberapa orang yang berani memvisualisasikan impiannya, memahami benar impiannya dan bagaimana cara menggapainya serta melakukan usaha yang tepat untuk dapat mewujudkan impiannya tersebut.

Keajaiban Impian
Keberanian itu bernama impian. Impian untuk merdeka dari penjajahan lah yang melahirkan keberanian para pahlawan untuk menghadapi persenjataan canggih penjajah hanya dengan bambu runcing. Kekuatan itu bernama impian. Impian untuk menghapuskan diskriminasi ras (apartheid) di Afrika Selatan lah yang memberikan kekuatan bagi Nelson Mandela untuk menghadapi berbagai tantangan demi kemerdekaan bangsanya. Keajaiban itu bernama impian. Impian untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsanya lah yang mendatangkan keajaiban bagi seorang pesenam Jepang yang meraih medali emas Olimpiade sambil menahan sakit dalam kondisi tumit yang retak dan mengakibatkan ia cacat seumur hidup.

Terlalu banyak nampaknya jika diceritakan betapa impian mampu mendatangkan keajaiban. Mereka yang mempunyai mimpi, biasanya akan gigih berjuang untuk mewujudkan impiannya. Tak banyak keajaiban yang dapat tercipta tanpa impian. Karenanya, impian tidak seharusnya dibenturkan dengan realita, impian tidak perlu disesuaikan dengan kemampuan. Biarlah kemampuan yang akan menyesuaikan impian, dan disitulah letak keajaiban impian. Tidak ada hal yang sulit dilakukan selagi masih ada kemauan. Hal yang perlu dilakukan untuk mendatangkan keajaiban impian hanyalah mengalahkan berbagai keraguan, kerja keras dan konsistensi dalam menggapai impian. Semakin tinggi impian, ujiannya akan semakin besar dan konsistensi akan semakin dibutuhkan. Sisanya, biarkan Allah yang akan menetapkan hasil.

Bukan Sekedar Mimpi, Berjuanglah!!
Sekedar bermimpi tanpa mencoba mewujudkannya memang takkan berarti apapun, namun tanpa mimpi, jelas tidak ada yang dapat diwujudkan. Sejak zaman dahulu, banyak manusia bermimpi dapat terbang seperti burung, namun tidak banyak yang berupaya mewujudkannya. Adalah hal yang mustahil bagi manusia untuk dapat melawan gravitasi. Wright bersaudara yang mencoba melawan arus persepsi manusia kebanyakan itu justru dicap sebagai orang yang tidak waras. Impiannya untuk dapat membuat mesin yang dapat menerbangkan manusia hanya dianggap bualan belaka. Dan ketika Wright bersaudara berhasil terbang dengan pesawat sederhana bermesin ganda, barulah semua mata terbelalak tersadarkan bahwa terbang bukanlah hal yang tidak mungkin. Memang tidak mudah, berbagai kegagalan pun sempat menyapanya, namun akhirnya impianpun dapat terealisasi. Dan Wright bersaudara tidak sendiri, banyak sekali orang sukses yang memulai kesuksesannya dengan bermimpi yang mendorongnya untuk bekerja keras mewujudkannya.

Impian harus terarah dan terorganisir sehingga impian dapat memotivasi, memberikan arah sekaligus menata kerja. Setelah itu, untuk mewujudkan impian, sebaiknya dimulai dengan konsep diri yang positif, bagaimana memulai hari dengan optimisme dan menyadari bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membuat kita jatuh kecuali kita yang mengizinkannya. Konsep diri yang positif ini kemudian dilanjutkan dengan mentalitas pantang menyerah dan kerja keras penuh semangat. Berjuang untuk meraih mimpi memang tidak mudah, butuh keyakinan, konsistensi, keuletan dan sikap mental positif. Namun perlu disadari juga bahwa mimpi sejatinya dianugerahkan kepada kita agar kita dapat berpikir besar. Hanya dengan berpikir besar lah kita dapat menjadi besar, dan semua itu diawali dengan impian yang besar. Mari kita berjuang untuk terus membangun impian dan berupaya merealisasikannya!!

* * *

“Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi – pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy)

Wallahu a’lam bishawwab

Ps. Terinspirasi dari buku ‘Pemimpi Luar Bidahsyat’, Danang A P & Aris S

Hanya Satu Kata : Menulislah!

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq : 1 – 5)

* * *

Beberapa saat lalu saya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan inspirasi dalam menulis. Sejujurnya saya tidak mendapatkan jawaban yang cukup meyakinkan. Bukan hanya karena saya bukan penulis profesional dan belum menjadi penulis handal, bukan pula karena pada saat itu saya sedang tidak mood untuk menulis, namun memang selama ini yang saya rasakan inspirasi itu keluar begitu saja dalam tiap jenak perjalanan hidup. Apalagi dalam interaksi dengan banyak orang, di berbagai waktu dan tempat, pengalaman baru sumber inspirasi tentu terus bermunculan. Yang perlu dilakukan tinggal ‘merekamnya’ dan mengikat maknanya dengan menuliskannya. Beberapa waktu kemudian, saya dingatkan tentang bagaimana produktivitas ulama – ulama besar dalam menulis dan bagaimana kebermanfaatan tulisan itu terus mengalir bahkan ratusan tahun setelah ulama itu wafat. Produktivitas menulis yang tenyata tidak begitu saja dapat diwariskan. Bukan karena kecerdasan, pemikiran dan pengetahuan yang kurang mumpuni, namun rasa takut dan tidak percaya diri lah yang kerap membuat menulis menjadi aktivitas yang begitu berat dan membebani.

Antara Membaca dan menulis
Pernah suatu waktu ada yang menanyakan tentang sumber inspirasi status facebook saya. Saya dengan berbagai keterbatasan hanya dapat menjawab, ’perbanyaklah membaca’. Membaca tentu tidak didefinisikan sesempit ’reading a book’, tetapi bagaimana kita dapat menyelami hikmah melalui apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan dan apa yang kita lakukan. Dan menulis tentu bukan sebatas ’mengikat’ hikmah itu, tetapi dapat pula menyebarkannya. Tentu bukan tanpa alasan Allah menurunkan wahyu pertama-Nya berupa perintah membaca dan menjadikan pena sebagai benda pertama yang diciptakan. Ilmu pengetahuan memang tak dapat dipisahkan dari membaca dan menulis, dan membaca adalah sumber kekuatan untuk menulis. Inspirasi bisa datang kapanpun dan dari manapun, mulai dari spanduk di pinggir jalan sampai koran bungkus gorengan.

Berdakwah lewat pena
Dalam Al Qur’an Allah berfirman, ”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tuliskan”. Dalam ayat pertama Surah Al Qalam ini Allah bersumpah dengan kalam (pena) dan dengan apa yang mereka tuliskan. Dan tidaklah Allah bersumpah dengan sesuatu kecuali hal tersebut penting untuk diperhatikan. Dalam salah satu riwayat, Abdullah bin ’Amr bin ’Ash berkata, ”Dulu aku menulis semua perkara yang aku dengar dari Rasulullah SAW untuk aku hafalkan. Namun, orang-orang Quraisy melarangku dan bertanya, ”Kamu menulis semua yang kamu dengar dari Rasulullah SAW. Beliau adalah manusia yang berbicara ketika senang dan ketika marah?” Aku pun berhenti menulis. Lalu, aku menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Beliau memberi isyarat ke mulutnya dengan jarinya seraya bersabda, ”Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran.” Nah, tradisi menulis ini kemudian dilanjutkan oleh para imam, ahli hadits, ilmuwan dan ulama – ulama besar yang pernah tercatat dalam sejarah. Imam Syafi’i misalnya, jumlah tulisannya berjumlah sekitar 174 kitab. Atau Ibnu Taimiyah yang karyanya mencapai kurang lebih 500 buah. Buat mereka, menulis sama artinya dengan aktivitas yang dapat menghimpun upaya mengikat ilmu, menyampaikan ilmu, sekaligus amar ma’ruf nahi munkar.

Problematika ummat masih sedemikian kompleksnya, disadari atau tidak, setiap diri kita memiliki kewajiban untuk membantu menatasinya. Bisa dengan kekuasaan, lisan maupun hati. Pun masih tetap dibutuhkan, dakwah bil lisan ternyata relatif lebih mudah terlupakan dan hilang dari ingatan. Berdakwah dengan pena pun menjadi salah satu stategi pengingatan yang cerdas. Selain lebih tahan lama, tulisan dapat lebih luas dan cepat tersampaikan dengan alternatif media yang banyak. Selain itu, baik menulis ataupun membacanya relatif dapat dilakukan dalam kondisi apapun. Yup, lebih efektif dan efisien. Dan dakwah bil qalam tidak melulu harus dalam bentuk artikel yang penuh dengan dalil dari Al Qur’an dan hadits, tetapi dapat pula berupa cerpen, novel, puisi, pantun bahkan cerita humor. Variasi penyajian ini tentunya akan sangat memungkinkan untuk pengembangan, lihat saja betapa banyak film yang diangkat dari buku atau novel yang laris. Dan bentuk visual dari tulisan akan lebih menghadirkan kesan mendalam karena akan berpadu dengan pengalaman diri dan kebebasan imajinasi.

Menulislah!
Menulis sebenarnya mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Agak berlebihan mungkin, tapi setidaknya menulis memang tidak sulit, karenanya anak SD bahkan TKpun dapat melakukanya. Menulis sejatinya tidak jauh berbeda dengan mengobrol atau berdiskusi. Menulis adalah berbicara lewat media tulisan, apa yang ada di hati dan pikiran, disampaikan lewat untaian huruf dan kata yang memiliki makna. Bukan sekedar mudah, menulis itu menyenangkan. Bagaimana tidak, dengan menulis kita dapat berbagi, dapat menjadi sarana aktualisasi diri, dapat berekspresi sekaligus menjalin silaturahim. Jika membaca adalah jendela ilmu dan buku adalah gudangnya ilmu pengetahuan, maka menulis adalah upaya membangun ilmu pengetahuan. Tanpanya, bangunan ilmu itu tak akan bisa dinikmati. Menulis adalah berbagi ilmu sekaligus ekspresi dari ilmu pengetahuan.

Lalu bagaimana cara membuat tulisan? Dalam sebuah talkshow tahun lalu yang diantaranya menghadirkan seorang penulis novel ternama di Indonesia, pembicara menyampaikan ada tiga tips untuk dapat menulis. Pertama adalah menulis, kedua adalah menulis dan ketiga adalah menulis. Ya, menulis adalah praktek yang tidak semestinya direpotkan dengan segudang teori. Bukan tidak boleh membuat mind map atau apalah namanya yang terkait dengan teori menulis, namun jangan sampai malah dipusingkan dan terjebak oleh kompleksitas teori. Sebuah tulisan sebagus apapun tetaplah dimulai dari satu huruf, tidak terkecuali tulisan yang dapat menghadirkan pencerahan ataupun tulisan yang dapat mengguncang dunia. Dan satu huruf, kata, kalimat, paragraf ataupun tulisan itu hanya dapat dimulai dengan mulai mencoba menulis, karenanya niat dan keberanian untuk memulai menjadi hal yang utama. Mari angkat pena, berjuang lewat media tulisan, agar kebermanfaatan berkepanjangan, agar ummat tercerdaskan.

* * *

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer)