Category Archives: Artikel Motivasi

Jangan Lewatkan Kesempatan

“Kulihat bunga di taman, indah berseri menawan. Cantik anggun nan jelita, melambai – lambai mempesona…. Ada bertangkai mawar kaya akan wewangian, khasanah yang memerah, kuning, ungu dan merah jambu. Ada si lembut melati pantulkan putih nan suci, tebarkan harumnya yang khas tegar baja di medan ganas. Si kokoh anggrek berbaris serumpun, menanti siraman kasih sejuk air jernih. Senyum lembut dahlia palingkan gundah lara…”
(‘Bimbang’, Suara Persaudaraan)

Suatu hari, seorang guru dan seorang pemuda sedang duduk di bawah pohon di tengah padang rumput. Kemudian si pemuda bertanya, “Guru, saya ingin bertanya bagaimana cara menemukan pasangan hidup? Bisakah Guru membantu saya?”. Sang Guru diam sesaat kemudian menjawab, “Itu pertanyaan yang gampang – gampang susah”. Pemuda itu dibuat bingung oleh jawaban gurunya. Sang Guru meneruskan, “Begini, coba kamu lihat ke depan, banyak sekali rumput disana. Coba kamu berjalan kesana tapi jangan berjalan mundur, tetap berjalan lurus ke depan. Ketika berjalan, coba kamu temukan sehelai rumput yang paling indah, kemudian berikan kepada saya, tapi ingat, hanya sehelai rumput”

Pemuda itu berjalan menyusuri padang rumput yang luas. Dalam perjalanan itu dia menemukan sehelai rumput yang indah namun tidak diambilnya karena dia berfikir akan menemukan yang lebih indah di depan. Terus begitu sehingga tanpa pemuda itu sadari, ia telah sampai di ujung padang rumput. Akhirnya, dia mengambil sehelai rumput yang paling indah yang ada kemudian kembali ke Gurunya. Sang Guru berkata, “Saya tidak melihat ada yang spesial pada rumput yang ada di tanganmu”. Pemuda itu menjelaskan, “Dalam perjalanan saya menyusuri padang rumput tadi, saya menemukan beberapa helai rumput yang indah, namun saya berfikir saya akan menemukan yang lebih indah dalam perjalanan saya. Tetapi tanpa saya sadari saya telah berada di akhir padang rumput dan kemudian saya mengambil sehelai rumput yang paling indah yang ada di akhir padang rumput itu karena Guru melarang saya untuk kembali.”

Guru menjawab dengan tersenyum, “Itulah yang terjadi di kehidupan nyata. Rumput andaikan orang – orang yang ada di sekitarmu, rumput yang indah bagaikan orang yang menarik perhatianmu dan padang rumput bagaikan waktu. Dalam mencari pasangan hidup, jangan selalu membandingkan dan berharap bahwa ada yang lebih baik. Karena dengan melakukan itu kamu telah membuang – buang waktu dan ingat waktu tidak pernah kembali”

* * *

Hari berganti hari, waktu terus berputar tiada henti. Usia terus bertambah, tak terasa banyak kesempatan yang berlalu sudah. Alangkah beruntung mereka yang dapat mengoptimalkan waktu dan setiap kesempatan yang dimilikinya untuk kebaikan. Waktu dan kesempatan adalah karunia termahal yang Allah berikan kepada hamba-Nya namun kerap dilalaikan. Ketika karunia tersebut telah terlewat, baru seringkali penyesalan mengiringinya, padahal waktu dan kesempatan tidak dapat kembali meskipun ditebus dengan apapun, dengan harga berapapun. Lebih parahnya lagi, kebiasaan menyia-nyiakan waktu dan melewatkan kesempatan dapat menjadi penyakit akut yang sulit diobati. Waktu demi waktu begitu saja berlalu, kesempatan demi kesempatan begitu mudah terlewatkan. Imam Hasan Al Bashri berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kumpulan dari waktu, bila berlalu waktumu maka berlalulah sebagian dari dirimu. Dan bila sebagian sudah berlalu, maka dekat sekali akan berlalu semuanya.”

Melalaikan waktu dan melewatkan kesempatan memang tidak selalu menimbulkan kerugian yang jelas tampak, namun mereka yang memahami hakikat waktu dan kesempatan pastilah menyadari bahwa tiap jenak waktu yang tersia adalah musibah dan tiap kesempatan yang terlewat adalah kerugian. Syaikh As-Sa’di berkata, ”Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya –padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya— maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan mudharat terhadap dirinya.”

Begitu berharganya waktu dan kesempatan ini, sehingga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah berpesan kepada Ibnu Umar, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang singgah di perjalanan. Kalau engkau berada di waktu pagi jangan menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan menunggu datangnya waktu pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” Dan kesempatan ini harus dimanfaatkan sesegera mungkin, tanpa harus menundanya. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 133)

Salah satu karakter waktu adalah cepat berlalu dan salah satu karakter kesempatan adalah mudah terlewatkan. Karenanya, sikap malas dan suka menunda dalam menyikapi waktu dan kesempatan ini punya dampak lebih jauh lagi, yaitu dapat mengeraskan hati. Sehingga betapapun banyak kesempatan yang ditawarkan, masukan yang disampaikan ataupun bantuan yang diberikan, tidak akan memberikan pengaruh dikarenakan penyikapan negatif yang terpelihara tersebut. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid : 16)

Kesempatan seperti taufik dan hidayah, sumbenya dari Allah dan tidak semua orang mendapatkannya. Ketika kesempatan itu datang, yang perlu dilakukan adalah menyambutnya dalam rangka bersegera dalam kebaikan. Jika kita terus melewatkan kesempatan yang tidak selalu datang, kita akan semakin mudah untuk melewatkan banyak kesempatan lain dan pada akhirnya nanti hanya penyesalan yang ada ketika kesempatan tersebut tak lagi ada. Perlu disadari bahwa kesehatan, waktu muda, harta, kelapangan, ataupun itu terbatas. Lakukan segala hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan kesempatan yang masih diberikan sehingga menimbulkan efek bola salju kebaikan yang lebih besar. Dan Ibnu Qayyim telah mengatakan, ”Kalau ternyata segala kebaikan bersumber dari taufik, sedangkan ia berada di tangan Allah bukan di tangan hamba, maka kunci untuk mendapatkannya adalah do’a, perasaan sangat membutuhkan, ketergantungan hati yang penuh kepada-Nya, serta harapan dan rasa takut kepada-Nya”

* * *

“Kesenangan yang datang tak akan selamanya, begitulah selepas susah ada kesenangan. Seperti selepas malam, datangnya siang. Oleh itu, waktu senang jangan lupa daratan. Gunakan kesempatan untuk kebaikan sebelum segalanya terlepas dari genggaman. Kelak menyesal nanti tak berkesudahan, apa gunanya sesalan hanya menekan jiwa…” (‘Sketsa Kehidupan’, The Zikr)

Ps. Kali ini kesempatan yang diberikan jangan lagi dilewatkan begitu saja… ^_^

Bermimpilah!!!

“Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok” (Hasan Albana)

Inspiratif!! Begitulah kesan yang kurasakan setelah menamatkan membaca buku ‘Negeri 5 Menara’. Banyak pelajaran tentang keikhlashan, kedisiplinan, persahabatan dan berbagai nilai positif lain yang kudapat. Namun dari semua insight tersebut, saya sangat tertarik terkait dengan pewujudan impian. Ya, banyak gagasan di masa depan yang tiba – tiba berlompatan, berbagai impian yang begitu saja muncul dan menanti untuk diwujudkan. Ya, seperti novel Sang Pemimpi dan Laskar Pelangi, negeri 5 menara juga mengajak pembacanya untuk yakin bahwa segala impian –setinggi apapun– dapat diwujudkan, asal ada kesungguhan dalam menggapainya, asal ada usaha melebihi yang biasa orang lain lakukan. Setelah kerja keras, disiplin dan do’a, sisanya biar Allah yang menentukan. Disanalah jargon penuh motivasi ‘Man Jadda Wajada’ dan ‘Saajtahidu fauqa mustawa al-akhar’ menjadi begitu bernilai.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah mengikuti prasangka Hamba-Nya. Dalam hadits lain Rasulullah mengingatkan untuk memperhatikan apa yang diangankan karena tidak ada yang tahu ketetapan Allah terkait impian itu. Karenanya tidak mengherankan mendapati tokoh – tokoh besar yang memiliki impian yang besar pula. Impian yang dulunya mungkin dicemooh dan ditertawakan. Kemudian ‘keajaiban’pun datang dan banyak mata terbelalak ketika impian itu menjelma menjadi kenyataan.

Simaklah seorang anak muda 23 tahun yang bertekad merealisasikan impian Rasulullah 8 abad sebelumnya bahwa konsantinopel akan ditaklukkan. Shalat rawatib dan tahajud yang tak pernah putus serta penguasaan 7 bahasa di usia yang begitu muda hanya beberapa dari perbekalannya untuk mewujudkan impian tersebut. Memindahkan 70 kapal melewati gunung dalam waktu satu malam seolah menunjukkan betapa besar kesungguhannya dalam merealisasikan impiannya itu. Ajaib! Luar Biasa! Akhirnya hanya itu yang terlontar ketika ia berhasil menaklukkan kota dengan sistem pertahanan yang luar biasa tersebut.

Kekuatan impian juga dicontohkan lewat ibu – ibu yang visioner. Seperti Hindun binti Utbah yang sudah ‘mengklaim’ Muawiyah sebagai pemimpin bangsa Arab bertahun – tahun sebelum sejarah mencatat Muawiyah sebagai khalifah pertama Bani Umayah. Atau Syaikh Abdurrahman As Sudais yang sejak kecil sudah diarahkan impiannya menjadi Imam Masjidil Haram. Putaran waktu kemudian menunjukkan bahwa impian tersebut dapat terwujud.

Tidak sedikit orang yang takut bermimpi dan memilih menjalani hari tanpa visi besar. Dalih kekhawatiran menjadi beban hanyalah cerminan ketiadaan komitmen dan kesungguhan. Dalih kekhawatiran akan frustasi dan kekecewaan ketika realita tidak jua sesuai dengan harapan hanyalah cerminan ketidaksiapan dalam menggapai kesuksesan.

Namun perlu juga diingat, impian tidak aman dari fitnah. Karenanya Rasulullah mengingatkan untuk tidak memperpanjang angan-angan. Dan Allah juga telah mengingatkan, “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An Nisa : 120)

Ya, impian tanpa upaya untuk menggapainya adalah kelalaian. Visi besar tanpa kesungguhan untuk mewujudkannya adalah angan kosong. Dan ternyata, pencapaian impian tanpa kerja keras, berbagai ujian dan kesulitan serta pengorbanan hanyalah tipuan. Dan kesuksesan, kemuliaan serta kebahagiaan selalu mengiringi impian yang mulia melalui proses yang mulia.

Hmm, jika tokoh-tokoh seperti Alif, Baso, Raja, Atang, Said dan Dulmajid atau Arai dan Ikal berani bermimpi dan dapat mewujudkan impiannya. Bagaimana dengan kita?

”Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy)

Mengapa Kita Bekerja?

Beberapa tahun lalu, seorang teman mengirimkan beberapa artikel penuh hikmah, salah satunya adalah cerita klasik tentang nelayan yang perlu untuk kita renungkan. Alkisah, suatu ketika tersebutlah seorang pengusaha sedang berlibur ke sebuah kampung nelayan. Ia merasa terganggu saat melihat seorang nelayan sedang bersantai di bawah pohon.
“Pak, mengapa Bapak tidak melaut?”
“Saya sudah melaut semalam dan saya perlu beristirahat.”
“Kalau Bapak melaut lagi, Bapak akan menghasilkan banyak ikan.”
“Lalu?”
“Bapak bisa mengumpulkan uang untuk membeli sebuah perahu.”
“Lalu?”
“Dengan perahu itu, Bapak tidak perlu lagi menyetorkan sebagian keuntungan Bapak kepada pemilik perahu.”
“Lalu?”
“Bapak bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk membeli perahu kedua.”
“Lalu?”
“Dengan dua perahu, Bapak bisa menghasilkan lebih banyak uang dan membeli perahu ketiga, perahu keempat, perahu kelima, dan seterusnya.”
“Lalu?”
“Jika perahu Bapak sudah banyak, Bapak bisa menyewakannya pada nelayan lain, sehingga Bapak tidak perlu lagi melaut.”
“Lalu?”
“Bapak bisa hidup senang dan bersantai.”
Nelayan itu tersenyum dan berkata, “Menurut Bapak, apa yang sedang saya lakukan sekarang?”
Tulisan tersebut diakhiri dengan penyampaian hikmah bahwa kita perlu berhenti sejenak dari kerja keras dan rutinitas. Namun saya tertarik dengan hal lain pada cerita itu, kesederhanaan dan kepuasan dalam mencapai tujuan bekerja.

* * *

Betapa banyak orang yang bingung dalam menjalani kehidupannya. Ia tidak tahu dengan pasti arah dan tujuan aktivitasnya. Terpedaya oleh tipu daya dunia, terlenakan oleh senda gurau dan permainan yang melalaikan. Yang semakin dikejar, terasa semakin jauh untuk digapai. Karena keinginan dan nafsu manusia memang selalu lapar dan tak bisa kenyang. Akhirnya kehidupan yang dijalani tidak lain hanyalah kehampaan. Kerja yang dilakoni tidak bukan hanya kekosongan. Tanpa pemaknaan mendalam. Menjalani rutinitas yang tidak produktif. Mendapatkan kompensasi berlipat yang pada hakikatnya adalah mubazir.

Dunia memang menjadikan hidup ini lebih sempit dengan pola pikir yang pragmatis. Bekerja keras dengan tujuan untuk mendapatkan banyak uang, bekal untuk menikah dan mengurus anak, melanjutkan studi, meniti karir, naik jabatan, memiliki harta yang berlimpah, bla bla bla, jelas bukan kekeliruan, tapi setelah itu apa? Mati? Iya kalo mati setelah memiliki harta melimpah, kalo belum? Karenanya ketika bekerja hanya ditujukan untuk hal – hal yang sifatnya keduniaan, rutinitas dan kelalaian takkan terhindarkan. Ambisi besar untuk sesuatu yang semu dan sementara, dan takkan pernah terpuaskan.

Bekerja adalah berkarya. Mendayagunakan kemampuan yang dimiliki untuk mendatangkan kebermanfaatan. Mengisi waktu hidup yang sementara dengan amal produktif. Mengasah kreatifitas, membangun kerja sama konstruktif dan menjadikan pribadi kita menjadi seorang pembelajar sejati. Bekerja adalah berkontribusi. Kontribusi untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan orang – orang yang kita cintai. Karenanya ketika kita bekerja namun produktifitas dan kebermanfatan kita malah menurun, bisa jadi ada yang salah dalam kerja kita.

Bekerja adalah ibadah, sarana untuk mencapai ridho Allah. Sedangkan harta adalah amanah, dapat menyelamatkan, dapat pula menjerumuskan. Bekerja akan membantu penyempurnaan pelaksanaan kewajiban. Tanpa bekerja bagaimana hendak menunaikan zakat atau naik haji, misalnya. Namun ketika kerja kita semakin membuat kita jauh dari Allah, sejatinya kita tidak bekerja, tapi mengejar dunia. Ketika rasa syukur kita berkurang, kedermawanan kita menipis, idealisme Islam kita tergadaikan atau amal shalih kita turun drastis, bisa jadi ada yang salah dalam kerja kita. Mungkin kita lupa muara hidup kita, toleransi yang berlebihan terhadap kemaksiatan atau mungkin penyakit wahn mulai datang menggerogoti. Na’udzubillah…

Dan bekerja adalah jalan kebaikan yang penuh keutamaan, selama diniatkan dengan baik, dilakukan dengan cara yang baik dan memberikan dampak yang baik. Marilah kita luruskan kembali niat kita dalam bekerja, menjalaninya dengan penuh tanggung jawab dan menghiasi kerja dengan memberikan kebermanfaatan yang luas.

Wallahu a’lam bi shawwab

dhaifman230210

Bergeraklah dan Berbuat Sesuai Peran

”Dan Katakanlah: ’Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.”
(QS. At Taubah : 105)

Pada tahun 607 H di Damaskus, tersebutlah seorang muslimah shalehah bernama Maisun yang belum lama ditinggal mati oleh empat saudaranya yang syahid dalam perang salib. Sebagai wanita, tak banyak yang dapat ia lakukan untuk membantu peperangan, namun ia merasa perlu melakukan sesuatu melihat penduduk Damaskus kala itu banyak yang berdiam diri karena merasa belum diserang. Ketika para wanita hadir berkumpul untuk memberikan bela sungkawa dan ta’ziyah, maka ia berkata kepada mereka, “Wahai saudariku, kita tidak diciptakan sebagai laki – laki untuk membawa pedang, tetapi jika para laki – laki takut untuk berperang, maka kitapun tak akan lemah untuk melakukannya. Demi Allah, inilah rambutku, harta paling berharga yang aku miliki. Akan aku jadikan tali kendali kudaku saat berperang di jalan Allah, semoga aku dapat menggerakkan orang yang hatinya telah mati.”

Maisun mengambil gunting dan memotong rambutnya, lalu para wanitapun melakukan hal yang sama. Kemudian mereka duduk untuk mengepangkan rambut agar menjadi tali kekang dan pengikat kuda perang yang kuat. Setelah itu mereka mengirim tali kekang dan ikatan tersebut kepada khatib masjid jami’ Al Umawi, Sabt Ibnul Jauzi yang kemudian membawanya ke masjid pada hari Jum’at. Sabt Ibnul Jauzi duduk di mihrab, dipegangnya tali serta ikatan itu sementara air matanya mengalir dan wajahnya pucat membiru. Orang – orang memperhatikan kejadian itu dan melihat satu sama lain. Ia kemudian berdiri dan berkhutbah dengan kata – kata yang mengobarkan semangat dan membakar hati orang yang mendengarnya. Berikut adalah beberapa kalimat yang masih dikenang oleh banyak perawi.

”Wahai orang yang diperintahkan kepada mereka oleh agamanya untuk berjihad, sehingga dapat menaklukan dunia dan memberi petunjuk kepada seluruh manusia ke dalam agamanya, namun mereka berdiam diri sehingga musuh menaklukan negara mereka dan menyebarkan fitnah ke dalam agamanya! Wahai orang – orang yang nenek moyang mereka menjual jiwa mereka kepada Allah untuk dibayar dengan surga. Mereka membeli surga dengan ketamakan jiwa yang kecil dan kelezatan hidup yang hina!

Wahai manusia! Mengapa kalian melupakan agama kalian? Kalian tinggalkan kemuliaan dan berpaling dari menolong agama Allah, sehingga Allah pun tidak akan menolong kalian. Kalian menganggap kemuliaan hanya bagi orang – orang musyrik, padahal Allah telah menjadikan kemuliaan hanya bagi Allah, Rasul-Nya dan orang – orang beriman. Celaka kalian semua! Apakah pemandangan musuh Allah dan musuh kalian telah membuat kalian sakit dan jiwa kalian menjadi sedih? Mereka melangkah untuk merampas tanah kalian yang disirami oleh darah bapak – bapak kalian… Mereka hendak menghinakan dan memperbudak kalian, padahal kalian adalah pemimpin dunia!

Tidakkah menggerakan hati kalian dan membangkitkan semangat kalian bahwa saudara kalian telah terkepung musuh dan merasakan beraneka macam siksaan?! Apakah di negeri ini ada orang Arab?! Apakah di negeri ini ada seorang muslim?! Apakah di negeri ini ada manusia?! Orang Arab pasti membantu orang Arab lainnya, seorang muslim pasti membantu orang muslim lainnya dan manusia pasti memberikan kasih sayang kepada manusia lainnya. Maka barangsiapa yang tidak tergerak untuk membela Palestina, dia bukanlah orang Arab, bukan seorang muslim dan bukan manusia! Apakah kalian makan, minum dan bersenang – senang, sedangkan saudara kalian menghadapi berbagai penyiksaan, menerjuni kobaran bara api dan tidur di atas bara api?

Wahai manusia, kecamuk peperangan telah berputar, seruan jihad telah memanggil dan pintu – pintu langit telah terbuka. Jika kalian tidak termasuk pasukan perang berkuda, maka izinkanlah para wanita untuk menerjuni kancah peperangan ini. Pulanglah kalian lalu ambilah kompor dan tempat masak kalian… Ambilah kerudung dan jepitan rambut, wahai para wanita!!

Pertama… ambilah kuda perang dan inilah tali kendali dan tali kekangnya. Wahai manusia… tahukah kalian dari apakah tali kendali dan ikatan ini dibuat? Tali dan ikatan ini dibuat oleh para wanita dari rambut mereka karena mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka berikan untuk Palestina. Demi Allah inilah tali kepang yang memabukkan, yang tidak dapat dipandang hanya dengan pandangan matahari yang selalu terjaga. Mereka menjalin tali ini karena sejarah kecintaan telah berakhir. Sejarah baru tentang perang suci telah dimulai, perang di jalan Allah serta perang mempertahankan tanah dan kehormatan. Jika kamu tak mampu memberikan kudamu, maka ambilah tali ini dan untailah menjadi kepangan dan sanggul. Inilah wujud perasaan wanita, masihkah tersisa perasaan dalam diri kalian?”

Dia menyampaikan khutbahnya dari atas mimbar di hadapan banyak orang dan berteriak, ”Terbelahlah wahai kubah An Nasr, runtuhlah wahai tiang – tiang masjid, dan terangkatlah wahai tumpukan batu, para laki – laki telah kehilangan keberanian mereka!!!” Terdengarlah teriakan manusia yang belum terdengar sebelumnya, mereka meloncat mengharap kematian sebagai syahid. Maka datanglah kemenangan yang nyata aras usaha seorang wanita yang telah membangkitkan umat dari tidurnya…

* * *

Saudaraku, saya tidak hendak mengupas tentang peran muslimah dalam membangun peradaban, hanya sebuah pengingatan bahwa suatu kesuksesan hanya dapat diraih dengan perbuatan. Suatu impian besar hanya dapat diwujudkan dari sinergitas komponen – komponen penyusunnya dalam kontribusinya sesuai peran. Sesungguhnya kemenangan takkan tercipta dari sikap berpangku tangan, harus ada gerak dalam kontribusi sesuai peran. Harus ada wanita seperti Maisun dan laki – laki seperti Sabth Ibnul Jauzi. Dan sesungguhnya sikap berdiam diri bukan hanya tidak produktif dan melemahkan perjuangan bahkan kontraproduktif ibarat menembakkan peluru ke dada saudara – saudara kita…

Saudaraku, sesungguhnya Allah mengetahui kekurangan diri kita dan kelemahan amal kita, namun itu bukan alasan untuk meninggalkan kontribusi kita. Seorang Maisun tidak diminta untuk terjun langsung ke medan perang, namun bukan berarti tidak ada yang dapat dilakukan. Seorang Sabth Ibnul Jauzi juga hanya berkewajiban menyampaikan dan mengingatkan sesuai dengan peran yang diembannya. Sesungguhnya Allah tidak membebani kita di luar kemampuan kita. Kita hanya dituntut berbuat sebatas kemampuan optimal kita, tidak lebih. Jika seorang Abu Bakar dapat menginfaqkan seluruh hartanya fisabilillah dengan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya, mungkin kita belum dituntut berkontribusi sejauh itu, namun bukan berarti tidak ada kontribusi sama sekali.

Saudaraku, mari kita bergerak dan berkontribusi sesuai kemampuan optimal kita…

”Demi penciptaan laki – laki dan perempuan. Sungguh, usahamu memang beraneka macam”
(QS. Al Lail : 3 – 4)

Menggapai Durian

Alkisah, ada sebuah pohon durian besar dengan beberapa buahnya. Dari bawah pohon terlihat samar ada satu buah durian terbesar yang letaknya paling tinggi. Diadakanlah sayembara uji kemampuan untuk mengambil buah durian yang paling tinggi tersebut. Ketika pemuda desa dikumpulkan, ternyata tidak banyak yang berminat mengikuti sayembara, sebagian memilih pulang dan tidur, sebagian lagi memilih untuk jadi penonton saja. Mereka umumnya adalah orang – orang yang cacat sehingga tidak dapat memanjat atau orang – orang yang tidak yakin bahwa durian tersebut dapat dijangkau. Akhirnya mereka hanya dapat menyoraki dan mendorong orang lain untuk mencobanya.

Singkat cerita, berkumpulah tujuh orang yang hendak mengikuti sayembara. Orang pertama maju, menatap sejenak pohon durian tersebut, memegang batang besarnya, mendongak ke atas kemudian menggelengkan kepala. Sambil tertunduk lesu ia berujar, “Aku mengundurkan diri”. Ternyata orang ini berani maju hanya karena ingin melihat durian besar itu dari bawah. Itupun setelah ia diminta maju oleh teman – temannya. Sementara bagaimana cara memanjat pohon durianpun dia tidak tahu. Kontestan keduapun maju, walau tubuhnya kecil, nampaknya ia cukup lincah. Anak yang biasa ikut lomba panjat pinang ini nampak cukup percaya diri dengan kemampuannya, iapun mendekati pohon durian itu. Dengan tangan kecilnya ia mencoba melingkarkan tubuhnya ke batang pohon durian untuk dapat memanjatnya, ternyata tidak bisa. Tangannya bahkan tidak sampai melingkari setengah dari batang pohon durian itu. Dicoba berkali – kalipun, ia tetap tidak beringsut ke atas. Akhirnya setelah badannya kotor dan sakit – sakit, iapun menyerah. Nampaknya ia masih terlalu muda dan belum cukup besar untuk dapat memanjat pohon durian tersebut.

Giliran kontestan ketiga, penonton riuh bersorak karena yang maju bertubuh tegap. Tangannya cukup panjang dan kuat untuk memeluk pohon durian itu dan perlahan mulai dapat naik. Namun belum sampai tiga meter dia atas permukaan tanah, tiba – tiba saja keringat dinginnya sudah mulai keluar. Tidak sampai cabang pertama, ia pun turun dan menyatakan ketidaksanggupannya. Penontonpun terkejut. Ternyata pria atletis tadi takut dengan ketinggian. Akhirnya orang keempat maju. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari kontestan sebelumnya namun ternyata dia jago memanjat. Dalam waktu singkat cabang pertama sudah berhasil ia capai. Perjalanan selanjutnya tidaklah sesukar memulainya. Namun menginjak cabang ketiga geraknya semakin lambat, sesekali ia menggaruk – garuk dan tampak meringis kesakitan. Ternyata ia ‘diserang’ semut merah yang banyak bersarang di pohon durian tersebut. Melihat sasarannya masih jauh dan tak tahan dengan gigitan semut, iapun memutuskan untuk turun menyelamatkan diri. Akhirnya, ia pun gagal.

Belajar dari kontestan sebelumnya, kontestan ke-5 melumuri dahulu tangan, kaki dan tubuhnya dengan abu gosok sehingga semutpun enggan menggigit. Mulai dipanjatnya pohon durian itu. Belasan meter sudah ia capai dengan relatif cepat, namun terlihat gerakannya mulai melemah. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Dilihatnya buah durian besar itu masih jauh di atas, iapun mencoba mencapai beberapa meter lagi, namun kondisi fisiknya sudah tak dapat dipaksakan. Dengan napas terengah – engah berselimut kejengkelan, iapun turun menyatakan ketidaksanggupannya untuk dapat memanjat hingga ujung. Orang keenam maju dan mulai memanjat. Dengan keyakinan tinggi ia terus naik hingga mulai nampak kecil dari bawah. Di dalam kerimbunan daun ia melihat beberapa buah durian. Dalam keterengahan, ia melihat buah terbesar masih cukup jauh di atas sana. Dan ia melihat ada buah durian yang cukup besar dan matang pada cabang yang berbeda dan letaknya lebih dekat. Dengan tenaga yang tersisa, iapun memanjat cabang dengan durian yang lebih dekat tersebut. Siapa yang akan melihat dan siapa pula yang dapat membedakannya, pikirnya. Akhirnya iapun berhasil memetik buah durian dan membawanya turun. Penontonpun riuh bertepuk tangan, aroma durian tercium. Segera diambilnya pisau besar untuk membelah durian tersebut.

Tak disangka, ketika dibuka isi durian tersebut berlendir. Ketika dicicipipun rasanya tak enak. Ya, durian tersebut busuk. Penonton mulai mengejek dan meminta kontestan terakhir untuk mencoba memanjat. Kontestan terakhir maju dengan sigap. Sejenak ia memandang ke atas pohin, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan kemudian tersenyum. Tampak sekali ia telah siap dan yakin dapat memetik durian yang benar. Ia mulai memanjat, agak kesulitan di awal, namun ia berhasil melaluinya. Semut – semutpun sempat menggigit tubuhnya namun ia terus naik untuk menjauhkan dirinya dari semut – semut tersebut. Sesekali ia beristirahat untuk mengatur nafas, mendongak lagi ke atas untuk melihat durian yang jadi targetnya dan mulai kembali memanjat. Kadang batang yang diinjaknya patah, kadang pula ia tergelincir, namun pegangannya cukup kuat untuk tetap menahannya. Kadang terpaan angin kuat menghajar tubuhnya, namun ia rapatkan tubuhnya dan terus bertahan. Ia tal pedulikan keringatnya yang terus mengucur, tubuhnya yang mulai penuh luka gores dan pakaiannya yang mulai koyak. Ia acuhkan durian – durian kecil di kiri kanannya bahkan durian yang nampak matang di cabang yang berbeda. Setelah melalui perjuangan berat dan panjang, ia berhasil memetik durian besar itu dan membawanya turun. Aroma harum semerbak memenuhi sekeliling durian itu.

Penontonpun tak sabar melihat isinya. Durianpun dibuka, terlihat isi buah durian yang besar berwarna kuning cerah dan tampak menggiurkan. Ketika dicicipi, ternyata rasanya sungguh enak tak terlukiskan. Biji durian itu terasa keras di mulutnya, ketika ia lihat ternyata itu bukan biji biasa melainkan batu permata yang begitu berharga. Ya, kontestan terakhir memenangkan sayembara dan memperoleh sesuatu yang begitu berharga yang tidak semua orang mampu memilikinya.

* * *

Semuanya dimulai dari impian. Tidak semua orang berani memiliki impian karena tidak yakin impiannya dapat terwujud, karena tidak percaya dirinya memiliki kemampuan untuk dapat mewujudkan impiannya. Padahal pemikiran besar lah yang dapat mewujudkan karya besar. Impian yang tinggi lah yang akan memotivasi dan terus meningkatkan kemampuan. Dan orang – orang hebat takkan memilih untuk mengubur mimpinya atau cukup puas hanya menjadi penonton. Penonton yang hanya meminta orang lain untuk bergerak, puas mencemooh atas kegagalan dan puas bertepuk tangan atas keberhasilan. Bukankah kesuksesan hanya dapat dimulai oleh orang – orang yang berani?

Dari orang – orang yang berani untuk mencoba meraih impian, ada yang gagal karena ketidaktahuannya tentang bagaimana cara untuk meraih impian, ada yang terhambat geraknya karena keterpaksaan. Biar bagaimanapun ilmu dan keikhlashan menjadi modal penting dalam meraih mimpi. Sekedar mempunyai mimpi tanpa upaya untuk meraihnyapun takkan berbuah keberhasilan. Untuk meraih mimpi, butuh bekal perjuangan yang cukup. Sebagian bekal mungkin dapat dikumpulkan sambil jalan, sebagian lagi harus dipersiapkan dari awal, termasuk kesiapan mental ataupun kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Tanpanya, tampaknya harus berulang kali naik – turun untuk menggapai impian, itupun jika jiwa pembelajar dimiliki.

Sebagian lain orang gagal meraih mimpi karena takut ‘jatuh’ dan akhirnya memilih untuk ‘turun’. Ada pula yang gagal meraih mimpi karena tidak tahan terhadap ujian – ujian selama perjalanan. Kesabaran mutlak dibutuhkan untuk meraih mimpi. Ada pula yang gagal karena tidak cukup kuat energi dan keyakinannya untuk meraih mimpi. Tidak cukup tepat strateginya dan tidak cukup keras usahanya. Yang paling menyedihkan adalah orang yang gagal meraih mimpi karena tertipu oleh tujuan – tujuan semu lainnya. Keberhasilannya adalah keberhasilan semu, perjuangannya pun akan sia – sia. Impian besar hanya dapat diraih dengan keteguhan dan keistiqomahan. Istirahat sejenak tetap diperlukan namun tidak boleh sampai melenakan.

Menggapai impian memang tidak mudah, butuh keberanian, ilmu, keikhlashan, kesabaran, kesungguhan dan keikhlashan. Memulai mengejar impian juga sangat berat, tidak kalah berat dari menghadapi berbagai macam gangguan dan ujian selama menjalani medan perjuangan menuju impian. Fisik dan jiwa harus siap menahan luka. Pikiran harus tetap jernih menghadapi berbagai rongrongan. Dan bekerja sama tentunya akan mempermudah menggapai impian. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah bermuara segala urusan. Dan impian itu hakikatnya ada untuk diwujudkan…

Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Teruntuk saudara/i ku yang tengah merajut mimpi, tetaplah bermimpi dan berupaya untuk meraihnya…

Untukmu yang Belum Berhasil

“Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang datang bertubi-tubi” (Orison Sweet Marden)

Semua manusia pasti mendamba kesuksesan. Dan kesuksesan ternyata bukanlah hanya ketika kita berhasil mengalahkan lawan di suatu pertandingan. Dan bukan hanya ketika kita berhasil mencapai prestasi terbaik. Bahkan bukan hanya ketika kita berhasil mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup ini. Tapi kesuksesan adalah saat dimana kita dapat melawan suatu kegagalan. Saat dimana kita dapat mengatasi musibah. Saat dimana kita dapat bangkit dari suatu keadaan yang menyedihkan. Dan saat dimana kita merasa sangat terpuruk namun kita mampu berjuang menghancurkan semua cobaan itu

Kegagalan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua sebab, yakni ketika kita berpikir tanpa bertindak dan ketika kita bertindak tanpa berpikir. Jadi, kalau Anda ingin menyalahkan orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Anda dalam hidup, maka Anda bisa mulai dengan menyalahkan diri sendiri. Karena Andalah yang mengambil keputusan untuk gagal. Bukan pembimbing Anda yang tidak kooperatif. Bukan teman-teman Anda yang tidak mau menolong. Bukan keluarga Anda yang tidak banyak membantu. Bukan dosen Anda yang tidak pengertian. Bukan amanah Anda yang tidak dapat ditinggal. Tetapi karena Anda sendirilah yang mengambil keputusan dengan sepenuh kesadaran, untuk gagal. Namun di balik itu semua pasti ada hikmah, pasti ada peluang untuk kembali bangkit menuju kesuksesan. Dan Anda (lagi-lagi) dapat memutuskan, untuk menjadi orang optimis yang berusaha untuk melihat kesempatan di setiap kegagalan atau menjadi orang pesimis yang hanya melihat kegagalan di setiap kesempatan.

Tercatat dalam sejarah, seorang pesenam dari Jepang meraih medali emas impiannya setelah menari dengan indah di Olimpiade. Padahal hari sebelumnya tumitnya retak dan dokter mengatakan  dia akan cacat seumur hidupnya. Rasa sakit dikalahkan oleh kemauan yang kuat untuk mempersembahkan medali emas bagi negaranya. Ada lagi sepasang mahasiswa drop out yang memulai sebuah perusahaan software kecil-kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan akan menjadi besar. Kini Bill Gates dan Tim Allen merupakan dua orang legenda software dunia, padahal hanya berijazahkan high school (SMA).

Ada pula seorang veteran perang dunia pertama yang menawarkan resep masakan keluarganya kepada lebih dari seribu orang yang dinilainya dapat memberinya modal usaha mengembangkan restoran. Seribu orang itu menolaknya. Tapi ia tidak menyerah. Bayangkan bila saat itu Kolonel Sanders memutuskan berhenti pada penolakan yang ke 999, hari ini kita tidak akan mengenal Kentucky Fried Chicken. Demikian pula dengan penemu bola lampu, ketika percobaan lampunya yang ke sekian ratus gagal, Thomas Alfa Edison berkata pada seorang wartawan,”Saya tidak gagal! Bahkan saya baru saja berhasil menemukan cara ke 879 untuk tidak membuat lampu!” Pantang menyerah. Seperti katanya, ’Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah’.

Atau perhatikan daftar kegagalan dari orang yang semasa hidupnya mengalami banyak tantangan dan badai di bawah ini.

1831 – ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya
1832 – ia menderita kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal
1833 – ia kembali menderita kebangkrutan
1835 – istrinya meninggal dunia
1836 – ia menderita tekanan mental sedemikian rupa sehingga hampir masuk rumah sakit jiwa
1837 – ia menderita kekalahan dalam suatu kontes pidato
1840 – ia gagal dalam pemilihan anggota senat AS
1842 – ia menderita kekalahan untuk duduk di dalam kongres AS
1848 – ia kalah lagi di kongres AS
1855 – ia gagal lagi di senat AS
1856 – ia kalah dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil presiden AS
1858 – ia kalah lagi di senat AS
1860 – ia akhirnya menjadi presiden AS

Kalau orang lain yang mengalami demikian banyak kegagalan mungkin ia sudah mundur secara teratur. Tetapi Abraham Lincoln maju terus, kata mundur tak ada sama sekali di otaknya. Akibatnya ia kemudian mencapai suatu sukses yang luar biasa. Seperti katanya, ‘Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita kehilangan semangat’.

Ya, kesuksesan Anda, bukan nasib. Kesuksesan adalah sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan harta, keringat, air mata kadang juga darah. Pada prinsipnya, tidak ada orang yang gagal. Yang ada hanya orang yang “memutuskan untuk berhenti” sebelum mencapai sukses.

Dan kesuksesan adalah saat dimana kita dapat menjadikan semua ujian dan kekalahan sebagai pertanda betapa sayangnya Sang Maha Pencipta kepada kita. Saat dimana kita menyadari betapa kita dapat belajar banyak dari semua kegagalan yang kita alami. Dan kesuksesan adalah saat dimana kita melangkah begitu mantap dan yakin bahwa kita begitu hebat untuk sekedar melawan suatu kegagalan kecil. Saat dimana kita dapat mengalahkan diri kita sendiri, sehingga kadang-kadang kita merindukan sebuah kegagalan. Karena kegagalanlah yang membuat kita sadar dimana kita berada.

”Tidak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan” (General Colin Powell)

Antara Idealita dan Realita

Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka,berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy).

Beberapa saat yang lalu, ada SMS meminta pendapat tentang ’idealis tapi realistis’. Ketika penulis menanyakan balik tentang apa yang dipahaminya, orang tersebut mengatakan : “…Kalo ana berpikir semua harus berawal dari yang ideal, sampai sejauh ana ana mampu itulah titik dimana ana bertemu realita. Jadi bukannya sejak awal ingin bergerak sudah harus menurunkan target karena mengupayakan realita kemampuan, padahal belum dilakukan seideal mungkin… ”.

Menarik, SMS itu mengingatkan penulis pada SMS seorang saudara yang dua tahun duduk satu meja : ”Keterbatasan, kata yang tidak mau tidak, suka atau tidak suka, ada dalam diri seorang hamba. Ia adalah realita hidup. Rasulullahpun terbatas berdakwah, mautlah yang membatasi. Problematikanya hari ini bukan ada atau tidak suatu keterbatasan, tetapi seberapa tepat kita mengukur batas kita. Apakah kelumpuhan jadi batas Syaikh Ahmad Yasin dalam berjihad? Mungkin bagi kita ya, tapi tidak bagi beliau. Usamah bin Ziad, apakah usia muda menjadi batas ia tuk memimpin para sahabat? Akhi, sudah tepatkah kita mengukur keterbatasan kita? Jika batas kita hanya sebegitu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kapasitas kita yang dengan itu menjadi bertambah kekuatan kita…

Bicara tentang idealita, bagi penulis, seperti berbicara tentang impian. Begitu indah dan untuk mencapainya pasti tidaklah mudah. Dan seperti harapan, idealita harus tetap ada dan dipertahankan, kecuali jika kita hanya punya cita-cita menjadi manusia seadanya. Berbeda dengan realita yang identik dengan dunia nyata, yang membatasi dan membelenggu. Realita menjadi perhatian karena disanalah kita ada dan disanalah tempat kita akan jatuh dari ketinggian. Ya, semakin tinggi jarak antara idealita dengan realita, akan semakin sakit pula jatuhnya. Itulah mengapa manusia umumnya menjadikan realitanya sebagai idealitanya…

Dalam konteks perencanaan (diambil dari mata kuliah ‘Manajemen Industri’), tahap pertama yang harus dilakukan adalah ’establish the goal’. Penulis sepakat dalam tahap ini seharusnya semuanya diawali dengan idealita bukan realita. Nah, yang perlu diperhatikan adalah tahapan berikutnya ’define the present situation’. Disinilah realita mulai mengambil peran. Target adalah sesuatu yang menantang bukan yang biasa saja dan semuanya akan tetap bersandar pada realita selama resourcesnya tersedia dan mungkin untuk disediakan. Resources disini bisa berupa man, material, machine, equipment, methode, financial, time ataupun information. Artinya perlu diperhatikan ketersediaan SDM, kondisi sasaran, kesiapan organisasi, ketersediaan sarana/ perangkat yang dibutuhkan, kerapihan sistem kerja, ketersediaan pendanaan dan waktu, dsb. Semuanya masih realistis selama kebutuhan sumber daya untuk mencapai tujuan tersebut dapat dipenuhi. Dan konteks disini adalah tim, bukan Cuma perorangan. Itulah sebabnya dikenal metode SMART dalam penetapan target, ada point ‘dapat dicapai’ dalam metode itu. Tahap berikutnya baru identify the aids and barriers to the goals yang gampangnya buat SWOT analysis. Kemudian baru dilakukan develop a plan or set of actions for reaching the goal(s).

Kembali ke idealita dan realita, saya teringat salah satu cerita di film Kungfu Boy. Dalam pertarungan Chinmi melawan Shifan, Chinmi yang tidak terkalahkan di kuil Dairin dengan mudah dapat dikalahkan Shifan, dua kali bahkan. Guru Shosu kemudian memperlihatkannya jangkrik yang ditaruh dalam kotak dengan yang langsung diambil dari alam bebas. Ternyata jangkrik dari alam bebas yang dianalogikan sebagai Shifan dapat melompat lebih tinggi dibandingkan yang disimpan di dalam kotak (Chinmi) padahal speciesnya sama. Kemudian Guru Shosu memberikan kedua jangkrik itu ke Chinmi dan ditaruh di dalam kotak. Malam harinya Chinmi ga bisa tidur dan penasaran kenapa lompatan jangkriknya bisa berbeda. Ketika dia membuka kotak itu, ternyata lompatan kedua jangkrik sama. Ternyata ’kotak’lah yang membuat batas lompatan. Selama kita berpikir masih di dalam kotak, ya hanya segitu kita dapat melompat. Ya, seringkali kitalah yang membuat batas bagi diri kita sendiri, batasan yang terlalu rendah bahkan. Karenanya banyak orang pasrah oleh realita bukan mencoba seoptimal mungkin untuk mencapai realitanya yang sesungguhnya.

Berangkat dari cerita itu, perlu ada refleksi diri tentang idealita dan realita. Idealisme kita takkan bermasalah selama kita masih ’menginjak bumi’, memperhitungkan kondisi faktual dan tidak memaksakan idealisme kita kepada orang lain. Cemoohan tentang idealisme hanya dilakukan oleh mereka yang iri, tidak bisa bermimpi atau takut untuk ’terbang’. Tapi perlu ada refleksi tentang idealisme ketika tujuan tidak tercapai, kita berjuang sendirian atau banyak pihak termasuk diri kita yang terzhalimi dengan idealisme tadi. Yang menarik ketika kita mencoba melakukan refleksi tentang realita. Benarkah batasan kita hanya segitu? Sudah optimalkah yang kita lakukan? Yah, ternyata kitalah yang menciptakan realita. Idealisme yang realistispun takkan menjadi realita tanpa kesungguhan untuk mewujudkannya. Ya, dan dalam kesungguhan ada pengorbanan, dalam kesungguhan ada kesigapan, dalam kesungguhan ada optimalisasi potensi dan mengatasi segala hambatan. Semoga kita bukan termasuk idealis yang berhenti dalam tataran mimpi ataupun orang lemah yang mengkambinghitamkan realita.

Wallahu a’lam bishawwab

Agar Kebersamaan Ini Terus Terjaga

Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek – nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar pasangan tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan. Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Singkat kata, pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

Disela-sela acara makan malam, pasangan ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan mereka, telah tersedia hidangan ikan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran. Akhirnya ia berkata kepada sang kakek, “Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan MENERIMA dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku MENERIMA hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap MENERIMAnya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Dan suamiku, aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini.”

Sang kakekpun terkejut dan sedihlah hatinya mendengarkan penuturan sang nenek. Akhirnya, iapun menjawab,”Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan MEMBERIKAN YANG TERBAIK untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin MEMBERIKAN YANG TERBAIK bagimu. Sungguh istriku, semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku.”

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

***

 

Saudaraku, dalam kebersamaan ini seringkali timbul pertengkaran yang disebabkan karena perbedaan dan ketidakcocokan antara satu dengan yang lain. Kemudian muncul egoisme dan prasangka yang pada akhirnya menimbulkan konflik antar personal yang kerapkali merusak irama langkah perjalanan yang sedang kita jalani. Seolah memang tak banyak pengaruh, namun berjuang tanpa ikatan hati sungguh tidak mudah. Dan memang persaudaraan ini tidak menjamin ada kecocokan di antara semua komponen penyusunnya, tinggal bagaimana kita dapat menjadi sosok yang tidak bermasalah bagi setiap orang.

Belajar dari kisah hidangan ikan diatas, ternyata keharmonisan tidak harus dibangun atas dasar kesamaan dalam segala hal. Namun ada beberapa hal kunci yang dapat membangun keharmonisan dan membuat kebersamaan ini semakin indah.

Pertama, sikap menerima rekan kerja. Yah, rekan kerja kita bukan malaikat yang tidak pernah melakukan hal diluar apa yang diperintahkan Allah. Mungkin saja dia kurang tegas padahal kita berharap figur yang berkarakter. Atau mungkin saja dia kurang perhatian padahal kita butuh pengayoman. Atau mungkin saja rekan kerja kita terkesan ga konkret, lambat, lemah komitmen, dsb. Namun pun bagaimana dia tetap rekan kerja kita yang memang tidak sempurna. Kalo udah sempurna, apalagi yang bisa ditingkatkan? Siapa yang bisa mengingatkan? Sikap menerima rekan kerja akan menghindarkan kita dari prasangka dan terlalu banyak menuntut, karena bisa jadi dalam beberapa hal kita tidak lebih baik dari rekan kerja kita. Sikap ini akan sinergis dengan keikhlashan karena dapat menghindarkan kita dari sikap suka mengeluh dan ketergantungan tinggi terhadap orang lain. Namun implementasi sikap ini bukan berarti menafi’kan pentingnya taushiyah dan pengingatan, bukan berarti kualitas diri tidak perlu ditingkatkan.

Kedua, prinsip untuk memberikan yang terbaik. Fokus kita adalah pada apa yang telah kita berikan bukan apa yang seharusnya bisa kita terima. Tidak perlu menyesal ketika kita sudah berusaha optimal sementara rekan kita belum menunjukkan kontribusi terbaiknya. Tidak perlu iri kepada mereka yang tidak berpeluh penuh kepayahan dalam berjuang. Penilaian hakiki ada di mata Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui, bukan manusia. Karenanya, sikap inipun akan sejalan dengan keikhlashan. Tidak menjadi lebih semangat untuk berbuat karena seorang manusia, tidak juga melemah tekad berkontribusi hanya karena rekan kerja. Terus berikan yang terbaik. Teguh, istiqomah, tidak menghiraukan pujian yang melenakan, tidak mempedulikan cercaan yang menyakitkan, tidak lemah oleh fitnah yang mewabah kian parah. Hanya berikan yang terbaik, untuk Allah… mengharapkan yang terbaik pula, di sisi Allah. Dan sekali lagi, implementasi sikap ini bukan berarti menafi’kan pentingnya taushiyah dan pengingatan, bukan berarti hanya asyik dan angkuh dengan diri sendiri.

Selain kedua hal diatas, ada lagi resep yang sangat mendasar untuk mengobati benih-benih persengketaan sekaligus untuk melezatkan rasa kekeluargaan. KOMUNIKASI. Ah, bisa panjang lagi jika saya paparkan tentang hal ini. Lagipula nampaknya sudah jadi pemahaman bersama bahwa banyak masalah yang seharusnya tidak jadi masalah jika dikomunikasikan dengan tepat. Banyak kok contohnya. Yah, gampangnya, coba bayangin aja bagaimana jadinya, bagaimana kelapangan hati yang terjalin antara kakek dan nenek dalam cerita diatas, jika sejak mereka ta’aruf mereka saling mengKOMUNIKASIkan bagian yang paling disukai dari makanan favorit mereka??? Yang pasti ceritanya jadi gak seru!
Wallahu a’lam bi shawwab

Ps : Mohon maaf ya kalo saya banyak salah, yah, beginillah Purwo, Hamba Allah yang lemah. Buat yang masih berantem, damai lebih enak lho. Buat yang belum mengikhlashkan saudaranya, semoga Allah melapangkan dadanya. Buat yang belum memberikan yang terbaik yang dipunya, kesempatan masih selalu ada sebelum ajal datang menyapa…

Dan Aku Masih Disini…

Lelah… kuakui jiwa ini lelah menanggung amanah yang terus bertambah. Menapaki jalan kecil dan licin yang sungguh tidak ramah. Kupalingkan pandanganku ke bawah, tampak seruas jalan lain menyusuri lembah. Banyak sekali orang yang melaluinya kerena memang lebih mudah. Jalannya lebih besar dan halus, pemandangannyapun lebih indah.

Beberapa orang di bawah sana menyapaku, mereka mengajakku. Tampak senyum ramah mereka yang membuatku sejenak terpaku. Berbeda sekali dengan teman-teman seperjuanganku di jalan ini yang begitu kaku, beku. Mereka terlalu banyak menuntut tanpa membantu. Terlalu banyak berkeluh kesah seolah merekalah orang yang paling banyak berjibaku. Tidak dewasa dalam berpikir, menyikapi masalah dan berperilaku. Ah, sejujurnya, mereka membuatku jemu! Dan sekarang, begitu saja mereka melewatiku, tanpa sedikitpun salam sapa senyum padaku…

Sejenak kuhentikan perjalanan ini. Pandanganku tertuju pada sepasang manusia yang bergandengan mesra dengan wajah berseri. Laki-laki itu, dia orang yang banyak memberikanku motivasi untuk tetap ada di jalan ini. Memberikanku inspirasi untuk tidak berhenti pun ditinggal seorang diri. Ya, dia temanku yang telah lebih dulu melalui jalan yang kini kutapaki. Namun kini, entah sejak kapan dan mengapa ia memilih jalan yang dulu katanya penuh tipu daya duniawi. Setelah itu, aku dibuat terkejut setengah mati ketika kudapati orang-orang yang mengajakku dan menyertaiku ketika mengawali hari, bahkan tokoh-tokoh besar yang selama ini hanya kudengar lewat kisah pahlawan jalan ini ternyata tidak bersamaku lagi. Mereka pergi, memilih jalan di bawah sana dengan penuh percaya diri…

Ah, mengapa aku tak bersama mereka. Toh tak ada jaminan jalan yang kulalui menyelamatkanku dari neraka. Dan bukan tak mungkin jalan di bawah sana mengantarkanku ke surga. Teman-temanku di jalan inipun tak tahu kemana. Terkenang pengalaman penuh duka bersama mereka. Dan kini jalan menuju ke bawah sana hadir di hadapan mata. Nampak begitu teduh, akupun terpana. Semakin kudekati, semakin sejuk terasa. Teman-teman seperjalananku yang melihatku hendak melangkah turun dengan penuh prasangka hanya mencerca. Hatiku kesal tak terkira, pikirku tanpaku mereka bisa apa. Akupun membuang muka, mulai menuruni tangga, selamat tinggal para pencela, selamat tinggal semuanya…

Kemudian dibelakangku terdengar teriakan, tidak asing, langkahkupun tertahan. Aku menoleh perlahan, tampak teman-teman lamaku melambaikan tangan. Tiba-tiba aku tergelincir, jalan ini ternyata tak seindah yang kubayangkan, akupun kehilangan pegangan. Akupun jatuh, sakit, tulang-tulangku terasa berlepasan, tubuhku terasa berantakan. Gravitasi menyeretku turun, beruntung ku sempat berpegangan pada dahan di sisi jalan. Pandanganku masih kabur saat kurasakan beberapa pasang tangan menarikku kembali ke atas, hawa hangat menjalar ke seluruh badan. Seolah mengobati luka, begitu menyejukkan perasaan…

Kembali di atas jalan licin penuh tantangan, samar kudengar suara isakan. Kudapati di ujung jalan, adik-adikku menatap sedih penuh keheranan. Beberapa diantara mereka menangis pelan. Kupandangi sekelilingku, kawan-kawanku tersenyum menawan. Jelas jejak tangisan dan guratan kekhawatiran. Lukaku dibasuh dan diobati dengan penuh perhatian. Teriring untaian kata yang menyejukkan, sungguh mengharukan…

Kini, ku kembali melangkah, masih di jalan yang penuh mihnah. Sekilas kulihat darah dan nanah yang terus menyusuri jalan ke depan, mewarnai tanah dengan kemilau sejarah. Luka ini belum seberapa parah, ujian ini masih mudah. Tak ada waktu untuk lemah, tiada alasan untuk menyerah. Aku salah, aku harus berubah, lebih sabar dalam berukhuwah, lebih tangguh dalam menahan fitnah. Dan luka yang pernah tertoreh takkan menyurutkan langkah….

Ps : 4All My Friends, Thank’s 4all …

Mentalitas Perubahan itu Bernama Jiddiyah

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah duperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka…”
(QS. At Taubah : 41 – 42)

* * *

Hari terus berjalan, siang dan malam silih berganti, pekan dan bulanpun terus bergulir. Detik-detik pergantian tahun berlalu, banyak air mata yang menetes, menyesal atas berbagai kekhilafan yang telah dilakukan dan kesia-siaan waktu yang telah terlewat. Tahun lalu, air mata itupun menetes, atas kekhilafan yang sama. Ya, waktu silih berganti namun kesalahan yang sudah disadari tak kunjung diperbaiki. Berbagai pembenaran coba diungkapkan namun tidak juga mampu meyakinkan bahwa perubahan yang diharapkan sudah dilakukan. Ada pula fragmen kehidupan yang berisi suka maupun duka yang kadang mengingatkan akan perbaikan yang ternyata hanya ada dalam tataran kesadaran saja tanpa pernah ada realisasinya. Dimanakah salahnya? Mengapa perubahan itu sedemikian sulit? Apakah ada kesalahan dalam analisa kondisi? Ataukah kita terjebak dalam lamanya perencanaan? Ataukah….?

Suatu perubahan ke arah yang lebih baik tidak seharusnya berhenti dalam tataran kesadaran atau perencanaan saja. Namun seharusnya terus dilaksanakan dengan kesungguhan. Ya, kesungguhan (jiddiyah) menjadi hal penting yang harus ada setelah adanya niat dan tekad berubah. Kesungguhan dalam merencanakan agenda perbaikan, kesungguhan dalam mengimplementasikan perencanaan aktivitas perbaikan, kesungguhan dalam menjaga kontinuitas upaya perbaikan dan kesungguhan untuk mengontrol capaian perubahan ke arah yang lebih baik yang sudah dilakukan.

* * *

Jiddiyah secara istilah didefinisikan sebagai pelaksanaan perintah syari’ah dan dakwah secara langsung disertai dengan ketekunan dan kegigihan, mengeluarkan segala kemampuan maksimal untuk menyukseskannya dan mengatasi segala hambatan dan rintangan yang menghadangnya.

Kecepatan melaksanakan tugas sebagai bentuk jiddiyah tergambar dalam peristiwa peralihan kiblat (QS Al Baqarah : 142 – 144). Tatkala ayat pemindahan kiblat turun, para shahabat di Madinah yang sedang melakukan shalat Zhuhur menghadap ke Masjid Al-Aqsha di Palestina (utara) segera berpindah arah 180 derajat ke Ka`bah di Mekkah (selatan). Kecepatan melaksanakan tugas sebagai wujud jiddiyah juga diperlihatkan oleh wanita anshor ketika turun ayat tentang kerudung (QS An Nur : 31). Sesaat setelah turunnya ayat, para shahabat segera pulang dan membacakan ayat tersebut kepada para wanitanya. Para wanita Anshor segera mengambil kain dan dijadikan kerudung hingga dikisahkan keadaan di atas kepala mereka itu seolah-olah burung gagak karena kain kerudung-kerudung mereka. Sikap wanita Anshor yang sangat sigap membenarkan dan beriman kepada apa yang telah diturunkan Allah dalam Al Qur’an ini sangat dipuji A’isyah r.a. (HR. Abu Daud).

Kesigapan sebagai bentuk kesungguhan juga ditunjukkan para shahabat ketika turun ayat tentang pelarangan khamar (QS. Al Maidah : 90 – 93). Kekuatan dan keteguhan sebagai bentuk jiddiyah tergambar dalam peristiwa hijrahnya Umar bin Khatab yang secara terang-terangan mendeklarasikan kepergian hijrahnya sekaligus ‘menantang’ kaum Quraisy di Mekkah saat itu.

Kegigihan sebagai wujud jiddiyah juga tercermin dalam kisah syahidnya Ja’far bin Abi Thalib dalam perang Mu’tah. Kala tangan kanannya yang memegang panji putus, panji dipegang dengan tangan kiri. Ketika akhirnya tangan kiri itupun putus, dia tidak menyerah dan terus mempertahankan panji itu dengan membawanya dengan kedua lengannya. Ketahanan dan kegigihan inipun tercermin dari kata-kata Rasulullah kepada Abu Thalib, pamannya – yang juga kasihan melihat kondisi keponakannya yang terus dizhalimi– ketika meneruskan tawaran para pembesar Quraisy berupa wanita, perhiasan emas, permata, bahkan kekuasaan untuk meninggalkan dakwah : ”Demi Allah, jika engkau letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, maka tidak akan aku tinggalkan dakwah ini hingga Allah memperlihatkan (kemenangan) Nya atau membinasakan selainNya”

Mencurahkan segenap kemampuan sebagai bentuk jiddiyah tercermin dalam kisah Mush’ab bin Umair yang meninggalkan seluruh kehidupan mewahnya demi Islam yang bahkan dalam akhir hidupnya sebagai syuhada tidak meninggalkan kafan kecuali selembar kain yang bila ditutupkan ke wajahnya maka kakinya akan kelihatan dan jika ditutupkan ke kakinya maka wajahnya akan terlihat. Mencurahkan segenap kemampuan ini juga tergambar dari kisah hijrahnya Abu Bakar yang datang dengan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan untuk keluarganya : Allah dan RasulNya.

Mengatasi rintangan sebagai wujud jiddiyah dapat terlihat dari kisah Amru bin Jamuh r.a yang tetap bersikeras untuk pergi ke perang Badar walau dilarang anaknya karena kakinya mengalami cacat berat. Bahkan Rasulullahpun sudah menyampaikan keringanan baginya untuk tetap tinggal di Madinah. Namun Amru bin Jamuh tetap meminta diizinkan Rasulullah untuk pergi ke medan jihad : “Ya Rasulullah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersamamu. Demi Allab, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga…!”. Mengatasi hambatan juga terlukis dari kisah para sahabat yang memenuhi panggilan beliau di pagi hari setelah perang Uhud menuju Hamra’ul Asad. Tak lama beristirahat dari perang sebelumnya, tanpa kehabisan energi, mereka mengatakan : “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS 3:173).

* * *

Dapat dibayangkan sulitnya upaya perubahan dilakukan tanpa kesungguhan, tanpa kesigapan dalam melaksanakan agenda perbaikan, tanpa keteguhan dan kegigihan, tanpa mengerahkan segenap kemampuan , tanpa upaya mengatasi segala hambatan dan rintangan yang menghadangnya dalam melakukan perbaikan. Kesigapan memang bukan hal yang mudah — setidaknya sikap menunda pastinya lebih mudah — namun disitulah ujian awal sebuah komitmen perubahan dimulai. Segalanya memang berproses, namun tetap harus ada awalan yang menjadi titik keberangkatan perubahan ke arah yang lebih baik. Dan titik awal itu bukanlah hanya pada aktivitas perencanaan tetapi lebih kepada momen memulai suatu implementasi aktivitas perbaikan.

Keteguhan dan kegigihan tentunya juga tidak mudah – apalagi jika dibandingkan mengerjakan sesuatu seadanya – namun disitulah kelurusan niat dan kebulatan tekad akan dibuktikan. Perubahan tanpa keteguhan dan kegigihan hanyalah omong kosong, takkan kuat menghadapi tribulasi dalam mencapai cita. Mengerahkan segenap kemampuanpun bukan perkara yang mudah karena mengandung nilai perjuangan yang disertai pengorbanan dan perhatian lebih. Tentunya lebih mudah berkorban seadanya namun efektivitas suatu gagasan perubahan takkan terwujud tanpa optimalisasi potensi dan sumber daya yang ada.

Dan menghadapi hambatan dan rintanganpun tak mudah, apalagi bila dibandingkan dengan mundur menyerah kalah ataupun putus asa. Didalamnya terdapat inti kesabaran dan kesungguhan yang akan sulit dicapai oleh mereka yang ‘lembek’. Didalamnya pula banyak terdapat bimbingan dan pertolongan Allah bagi mereka yang ikhlash dan bersungguh-sungguh. Bila hari-hari yang terlewati masih belum menunjukkan suatu perbaikan yang signifikan dari yang seharusnya padahal sudah ada kesadaran akan perbaikan yang mestinya dilakukan, patut kita renungi sudahkah ada kesungguhan yang kita tunjukkan.

Jika hingga saat ini nampaknya perubahan seperti yang diharapkan belum juga nampak hasilnya, perlu kita bercermin sudahkah ada kesigapan, keteguhan dan kegigihan kita dalam mengusung agenda perubahan. Kalau aktivitas perbaikan yang ada hanya sampai tahap kesadaran dan perencanaan tanpa implementasi, pantas kita pikirkan, sudahkah potensi kita tercurah, sudahkah segenap kemampuan terkerahkan. Dan apabila bimbingan dan pertolongan Allah nampak jauh dari upaya perbaikan yang dilakukan, layak kita perhatikan sudahkah segala sesuatunya kita jalani dengan benar, ikhlash dan pantang menyerah.

Kesungguhan sangatlah utama karena tugas dan kewajiban ataupun sebuah rencana perbaikan dapat diselesaikan dengannya, sehingga halangan dan rintangan dapat diatasi serta cita dapat tercapai dengan memuaskan. Tanpa kesungguhan, usaha akan sia-sia belaka, perencanaan akan runtuh, pelaksanaan akan kehilangan ruh dan cahaya bahkan amanah yang diemban dapat hilang. Dan kesungguhan dapat terlihat dengan memanfaatkan waktu dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi senda gurau, mengambil hukum dasar (azimah) bukan keringanan (rukhshah), sigap dengan tugas, tidak menunda, instropeksi diri dan tidak melemah dengan kesulitan

* * *

Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah yang bertekad mengembalikan Masjidil Aqsha yang tertawan ketika ditanya kenapa tidak nampak gembira, tersenyum dan tertawa berkata : “Sesungguhnya saya malu jika Allah melihatku tertawa sementara Baitul Maqdis berada di tangan orang-orang salib, bagaimana saya bisa gembira, tersenyum dan tertawa sementara tanah Palestina berada di tangan musuh Allah, Masjid al Aqsha terampas dari tangan umat Islam.”

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami Tunjukkan kepada mereka Jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS Al Ankabut : 69)

Wallahu a’lam Januari 2005 Ps : Ikhwahfillah, detik-detik pergantian tahun sudah kita lewati, saat-saat evaluasi telah kita lalui, sekarang adalah saatnya melakukan perbaikan dengan kesungguhan