Category Archives: Artikel Pemuda

Kokohkanlah Ikatannya, Kekalkanlah Cintanya…

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal : 63)

“Ukhuwah itu bukan terletak pada pertemuan, bukan pada manisnya ucapan bibir tapi terletak pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya.” (Al-Ghazali)

* * *

“Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah kebutuhan, bukan sekedar sambilan apalagi hiburan. Aku rindu zaman ketika  membina adalah kewajiban, bukan pilihan apalagi beban dan paksaan. Aku rindu zaman ketika  dauroh menjadi kebiasaan, bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan. Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan, bukan keraguan apalagi kecurigaan. Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan, bukan tuntutan dan hujatan. Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan, bukan su’udzon atau menjatuhkan. Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini. Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebangsaan. Aku rindu zaman ketika hadir di liqo adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian…”. Untaian kata – kata (alm.) Ustadz Rahmat Abdullah tersebut tiba – tiba terlintas di benakku setelah membaca buku Syarah Do’a Rabithah. Kata – kata di atas memang tidak ada dalam buku yang ditulis Muhammad Lili Nur Aulia tersebut, namun ada kerinduan akan suatu masa yang begitu saja hadir tatkala menyelami makna dalam do’a rabithah gubahan Hasan Albana.

Satu dasawarsa lalu, tak pernah terbayang bahwa akan ada masa diri ini merindukan kehangatan ukhuwah di masa lalu, merindukan semangat berjuang dalam indahnya persaudaraan yang pernah dirasakan. Namun, waktu terus berjalan, tanggung jawab semakin besar sementara dunia semakin individualis. Agenda menjadi begitu padat, rutinitas kehidupan menghampiri, semakin besar porsi untuk memikirkan diri sendiri. Seolah tak ada kesempatan rehat sejenak untuk kembali menata keimanan. Ada kerinduan yang serta merta menyeruak pada semangat, aktivitas, nasihat dan orang – orang di masa lalu. Merindukan suatu amal bernama ukhuwah.

Ukhuwah adalah bahasa amal, ada perwujudan empati kepada saudaranya. Seorang ulama salaf berkata, “Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar-benar tidak bisa tinggal diam”. Ibnul Mubarak pernah berkisah tentang seorang tukang sol sepatu yang menunda berangkat ke Baitullah Al-Haram karena uang yang dipersiapkannya untuk pergi haji diberikan pada tetangganya yang kelaparan. Namun teman-temannya yang menunaikan ibadah haji melihat tukang sol sepatu itu berada di tanah suci. Dalam mimpi Ibnul Mubarak, tukang sol sepatu itulah orang yang termasuk diterima ibadah hajinya oleh Allah SWT. Pembuktian ukhuwah memang tidak perlu kalkulasi material, karena ganjarannyapun tak terhitung materi. Pada titik tertinggi, ukhuwah tidak lagi mempedulikan keuntungan apa yang bakal diperoleh bahkan seseorang akan rela mendapatkan kerugian bagi dirinya asalkan saudaranya meraih kebahagian atas sikapnya.

Ukhuwah adalah bahasa amal, tidak berdiam diri ketika mengingat saudaranya. Pada suatu malam, Umar bin Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya dan ia terus bergumam lirih, “Mengapa malam ini terasa begitu panjang”. Setelah menunaikan shalat Shubuh, Umar segera menemui sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat. Subhanallah, ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang kering. Ia akan segera gugur dan luntur. Abbas As Sisi suatu saat bermimpi melihat Ahmad Hathibah sedang bermain bola dan kakinya terluka. Saat terbangun, atas saran dari istrinya, ia pun menulis surat kepada Ahmad Hathibah, menanyakan tentang kesehatannya dan mendoakan agar dia dalam keadaan sehat. Saat itu Abbas As Sisi tinggal di Asiyuth, sementara Ahmad Hathibah yang dikenalnya di penjara Mesir tinggal di Kairo. Mendapat surat dari Abbas As Sisi, air mata Ahmad Hathibah mengalir membasahi wajahnya, pasalnya pada saat itu ia sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut di Iskandariyah. Ketika surat itu diperlihatkan kepada teman – teman yang menjenguknya, mereka pun sangat terkejut dan kagum akan ukhuwah yang terjalin antara Abbas As Sisi dengan Ahmad Hathibah. Ya, pun terpisah jarak, dua hati saling menyatu karena cinta kepada Allah akan mampu merasakan kondisi yang dialami saudaranya.

Ukhuwah adalah bahasa amal, paling tidak mengingat dan mendo’akan saudaranya. Perasaan yang tulus akan mendorong seseorang untuk mendoakan saudaranya kala terpisah jarak dan menyebut namanya dalam waktu-waktu terkabulnya do’a. “Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya yang dilakukan dari kejauhan, niscaya akan dikabulkan” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad). Jiwa yang terikat oleh ikatan ukhuwah tak akan terpisah oleh jarak, bahkan getaran kerinduan akan semakin kuat. Dan interferensi getaran kerinduan itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang memiliki sinyal frekuensi kerinduan yang sama. Akhirnya, hati-hati yang telah menyatu karena Allah akan tetap merasakan adanya koneksi dengan saudaranya pun terpisah jarak. Disitulah ia akan merasakan manisnya sebuah persaudaraan. Kerinduannya akan semakin membawanya dekat kepada Sang Pemilik Hati dan ia yakin benar bahwa suatu saat kerinduannya akan terobati dengan pertemuan yang sudah Allah SWT tetapkan…

* * *

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu, telah berjumpa dalam taat padaMu, telah bersatu dalam dakwah padaMu, telah berpadu dalam membela syari’atMu. Kokohkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu. Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu. Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.” (Do’a Rabithah)

“…Aku rindu zaman itu, aku rindu. Ya Allah, jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami, jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama” (Alm. Rahmat Abdullah)

Ps. Saudaraku, masihkah kau ingat??

Masih Adakah Pemuda Peduli?

“Bukanlah pemuda yang mengatakan : ‘Ini bapakku’, tapi pemuda adalah yang mengatakan ‘Inilah aku‘” (Ali Bin Abi Thalib)

* * *

Mengenaskan, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi pemuda saat ini. Pergaulan bebas, obat-obat terlarang dan demoralisasi telah mewarnai aktivitas mereka sehari-hari. Masa muda memang masa mencari identitas dan eksistensi diri, penuh tantangan untuk mencapai kematangan pribadi. Emosional dan labil, karenanya perlu diarahkan. Potensi pemuda sebenarnya luar biasa, fisik maupun akal, penuh idealisme, semangat berapi-api dan pantang menyerah. Pemuda tidak ragu untuk berusaha sekuat tenaga dan berkorban dengan segala yang dimilikinya untuk memperjuangkan apa yang diinginkannya.

Potensi itulah yang ditunjukkan sejarah, bagaimana pemuda selalu menjadi ujung tombak perubahan sebuah zaman. Lihatlah kontribusi pemuda dalam kebangkitan nasional, proklamasi kemerdekaan RI, runtuhnya orde lama, lahirnya reformasi dan berbagai peristiwa bersejarah di tanah air lainnya. Tak berlebihan jika Hasan Albana menyampaikan bahwa sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap pemikiran, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.

Sayangnya, di tengah potensi dan arti penting keberadaan pemuda, berbagai krisis multi dimensi yang menghadang tidak kondusif untuk mengoptimalkan peran mereka sebagai penggerak perubahan. Potensi dan karakteristik pemuda tidak jarang tersalurkan untuk hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat. Kondisi ini diperburuk dengan perang pemikiran dan infiltrasi kebudayaan melalui berbagai media. Akibatnya, apatisme merajalela, aktivitas pemuas hawa nafsu berisi kebodohan dan kenikmatan semu pun semakin marak mengisi hari – hari mereka. Perlu segera dilakukan perbaikan karena pemudalah wajah bangsa ini di masa depan.

Untuk kembali membangkitkan potensi pemuda, perlu digerakkan kembali sensitivitas sosial mereka. Perhatian terhadap aspek kepekaan ini menjadi penting sebab semangat perubahan selalu dimulai dari kepedulian. Kepedulian untuk berbagi akan bertransformasi menjadi kontribusi. Aktivitas perbaikan yang dilakukan tentu tidak sebatas aksi turun ke jalan, namun mencakup aktivitas produktif mengubah potensi yang dimiliki menjadi kebermanfaatan. Bisa berupa mengerjakan hal – hal kecil yang bermakna di tengah masyarakat. Bisa pula melakukan dan menularkan kebaikan yang sederhana di lingkungan terdekat. Hal yang juga perlu diingat, sebagaimana sikap acuh akan menularkan apatisme yang lebih besar, kepedulianpun akan mendatangkan gelombang kepedulian yang lebih besar. Sebagimana keburukan akan mendatangkan kerusakan yang lebih besar, kontribusi positif akan memicu limpahan kebermanfaatan yang jauh lebih besar.

Gelora semangat pemuda belumlah sirna, potensi kebaikan itu belumlah pudar. Beban sebagai generasi penerus yang menjadi tumpuan asa masa depan harus memperoleh dukungan positif dari masyarakat dan lingkungannya. Pemuda harus ditangani untuk lebih peduli, harus diperhatikan untuk dapat menginisiasi perbaikan dan tidak bisa dibiarkan untuk melipatgandakan kebermanfaatan. Perhatian terhadap generasi muda sama artinya dengan menyelamatkan bangsa ini. Semua harus dimulai saat ini juga, tak bisa menunggu lama karena penghancuran peradabanpun tak pernah berhenti.

* * *

Sebaik – baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (Al Hadits)

Mencari Pemuda Pahlawan Zaman

Berikut adalah tulisan saya yang dimuat di Harian Radar Bogor edisi 15 Maret 2010. Dibuat di tengah kesibukan ketika berada di Padang Kamis – Jum’at, 11 – 12 Maret 2010 lalu. Tulisan ini telah mengalami beberapa pengeditan dari tulisan sebenarnya (yang lebih panjang ^_^) . Semoga bermanfaat…

=================================================

Mencari Pemuda Pahlawan Zaman

“Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka aku akan goncang dunia” (Soekarno)

Pemuda memiliki makna yang mendalam : figur penuh vitalitas yang siap melakukan perubahan, sosok idealis yang didalamnya berhimpun puncak potensi jiwa, fisik dan akal serta fase kehidupan penuh semangat dan dinamika. Namun ‘memprihatinkan’ menjadi kata yang sesuai untuk menggambarkan kondisi pemuda Indonesia saat ini. Ketika tawuran menjadi agenda rutin, ketika narkoba menjadi kebutuhan pokok, dan ketika seks bebas menjadi budaya baru, disanalah sosok pemuda jadi begitu tampak mengenaskan. Mahasiswa adalah golongan elit pemuda terpelajar yang memiliki potensi besar. Jumlahnya hanya 2% dari total penduduk Indonesia. Keberadaannya dengan potensi keilmuannya sangat diharapkan dapat menjadi solusi bagi kompleksnya problematika bangsa ini. Mahasiswa juga kerap dipandang sebagai golongan penyalur aspirasi masyarakat yang solid dan massif. Belum lagi, jika melihat perjalanan sejarah, kumpulan pemuda penuh intelektual ini selalu menjadi yang terdepan dalam menggagas perubahan. Ya, di setiap titik perubahan besar dalam sejarah, pemuda selalu hadir memberikan kontribusinya. Menjadi pahlawan pada zamannya.

Potensi kepahlawanan itu tidak hadir dengan sendirinya, namun harus diasah. Keseimbangan domain – domain prestasi harus dimiliki untuk menjadi SDM unggul yang dapat memperlihatkan potensi besar yang dimilikinya dalam bentuk karya yang dapat dirasakan manfaatnya. Ada empat domain yang harus diperhatikan : Pertama, domain religius, yang menjadi pondasi dasar pemuda dalam berpikir dan bersikap. Kekuatan spiritual akan menjaga pemiliknya dari perilaku menyimpang, disorientasi dan berbagai energi negatif lainnya. Domain inilah yang akan membentuk karakter berkualitas dengan paradigma yang benar. Kedua, domain intelektual yang mengharuskan pemiliknya terus menjadi pembelajar seumur hidup. Mengisi hari dan hidupnya dengan ilmu yang bermanfaat dan mengaplikasikannya untuk kebermanfaatan yang luas. Sifatnya yang terus berkembang memungkinkan pemiliknya untuk terus menggali sumber ilmu kapanpun, dimanapun dan dari siapa (atau apa) pun. Ketiga, domain pengembangan diri yang akan melengkapi kapasitas intelektual. Penguasaan bahasa, keterampilan dan kepemimpinan, misalnya, akan melipatgandakan potensi yang dimiliki. Domain ini juga akan mendorong terciptanya kompetensi spesifik dan tajam. Keempat, domain sosial yang akan menyeimbangkan sisi individual pemiliknya dengan dunia luar di sekelilingnya. Kekuatan sosial ini jika dipenuhi dengan interaksi lingkungan yang positif akan membuat hidup lebih bermakna. Domain ini akan mengantarkan pada kekayaan jiwa, keberkahan ilmu dan kebermanfaatan diri.

Menyeimbangkan keempat domain tersebut tidaklah mudah, tetapi bisa dan memang harus diupayakan karena kebutuhan akan SDM berkualitas menuntut terpenuhinya keempat domain tersebut. Tantangan seperti itulah yang coba kami jawab di program beastudi Etos. Sebagai program investasi SDM, etoser (para mahasiswa penerima beastudi etos) diarahkan untuk menjadi mahasiswa yang baik dari sisi religius, intelektual, pengembangan diri dan sosial. Realita memaparkan bahwa keseimbangan itu bukan mimpi. Sebutlah Ach Firman Wahyudi, etoser angkatan 2006 ini sekarang diamanahi menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (BEM KM IPB). Bukan hanya prestasi dari bidang kepemimpinan, sebelumnya ia meraih Mahasiswa Berprestasi Utama Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Di fakultas yang sama, ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Lembaga Dakwah Fakultas. Berbagai karya ilmiah dihasilkan, berbagai kegiatan sosialpun dilakukan. Menariknya lagi, ia juga menjadi salah seorang pioneer pengembangan bisnis kerajinan tanga berlabel ‘midori’ di IPB Bogor.

Demikianlah, perubahan besar yang akan menggoncangkan dunia hanya dapat lahir dari pribadi berkualitas yang dapat menyeimbangkan domain prestasinya. Bukan hal yang mustahil untuk melakukannya. Dan jika bukan tidak mungkin pribadi unggul itu adalah kita, tak tergerakkah kita untuk mencoba mengoptimalkan potensi yang kita miliki? Tak tertarikkah kita untuk menjadi pahlawan pada zaman ini?

* * *

Beberapa untaian kata yang dipotong diantaranya :

- Kepada pemudalah bertumpu banyak harapan akan perbaikan, kepadanya pula akan dititipkan masa depan

- Sejatinya, potensi intrinsik yang ada dalam diri pemuda tetaplah ada, yang perlu diperhatikan adalah upaya mengarahkannya

- Tanpa domain religius yang ada hanya kerusakan, tanpa domain intelektual hanya menghasilkan keterbelakangan, tanpa domain pengembangan diri hanya akan lahir ketertinggalan dan tanpa domain sosial yang tersisa hanya kemandulan

- Masa muda adalah masa untuk berkarya sebanyak – banyaknya sebelum waktu kian membatasi diri. Masa muda adalah masa untuk berjuang menggapai jutaan asa dan cita serta menanam benih – benih kontribusi untuk dituai di kemudian hari. Masa muda adalah masa aktualisasi diri, masanya memulai kompetisi produktif dan mengukir prestasi.

- Kesia-siaan dalam hidup biasanya diawali dari kesia-siaan dalam menjalani masa mudanya, yaitu dengan banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Padahal potensi yang dimiliki sebenarnya begitu besar, tidak akan habis jika hanya ‘sekedar’ mengikuti banyak kompetisi atau mencoba menorehkan banyak prestasi.

- Dan hanya kepada mereka yang berani bermimpi, berani memulai bertindak dan berani menghadapi konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukanlah predikat ‘unggul’ itu layak diberikan.

Wallahu a’lam bishawwab

Padang, 12 Maret 2010 jam15:31 WIB
Purwa Udiutomo, S.T
Koordinator Nasional
Program Beastudi Etos, Lembaga Pengembangan Insani
Dompet Dhuafa Republika

 

“Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka aku akan goncang dunia” (Soekarno)

Pemuda memiliki makna yang mendalam : figur penuh vitalitas yang siap melakukan perubahan, sosok idealis yang didalamnya berhimpun puncak potensi jiwa, fisik dan akal serta fase kehidupan penuh semangat dan dinamika. Namun ‘memprihatinkan’ menjadi kata yang sesuai untuk menggambarkan kondisi pemuda Indonesia saat ini. Ketika tawuran menjadi agenda rutin, ketika narkoba menjadi kebutuhan pokok, dan ketika seks bebas menjadi budaya baru, disanalah sosok pemuda jadi begitu tampak mengenaskan. Mahasiswa adalah golongan elit pemuda terpelajar yang memiliki potensi besar. Jumlahnya hanya 2% dari total penduduk Indonesia. Keberadaannya dengan potensi keilmuannya sangat diharapkan dapat menjadi solusi bagi kompleksnya problematika bangsa ini. Mahasiswa juga kerap dipandang sebagai golongan penyalur aspirasi masyarakat yang solid dan massif. Belum lagi, jika melihat perjalanan sejarah, kumpulan pemuda penuh intelektual ini selalu menjadi yang terdepan dalam menggagas perubahan. Ya, di setiap titik perubahan besar dalam sejarah, pemuda selalu hadir memberikan kontribusinya. Menjadi pahlawan pada zamannya.

Potensi kepahlawanan itu tidak hadir dengan sendirinya, namun harus diasah. Keseimbangan domain – domain prestasi harus dimiliki untuk menjadi SDM unggul yang dapat memperlihatkan potensi besar yang dimilikinya dalam bentuk karya yang dapat dirasakan manfaatnya. Ada empat domain yang harus diperhatikan : Pertama, domain religius, yang menjadi pondasi dasar pemuda dalam berpikir dan bersikap. Kekuatan spiritual akan menjaga pemiliknya dari perilaku menyimpang, disorientasi dan berbagai energi negatif lainnya. Domain inilah yang akan membentuk karakter berkualitas dengan paradigma yang benar. Kedua, domain intelektual yang mengharuskan pemiliknya terus menjadi pembelajar seumur hidup. Mengisi hari dan hidupnya dengan ilmu yang bermanfaat dan mengaplikasikannya untuk kebermanfaatan yang luas. Sifatnya yang terus berkembang memungkinkan pemiliknya untuk terus menggali sumber ilmu kapanpun, dimanapun dan dari siapa (atau apa) pun. Ketiga, domain pengembangan diri yang akan melengkapi kapasitas intelektual. Penguasaan bahasa, keterampilan dan kepemimpinan, misalnya, akan melipatgandakan potensi yang dimiliki. Domain ini juga akan mendorong terciptanya kompetensi spesifik dan tajam. Keempat, domain sosial yang akan menyeimbangkan sisi individual pemiliknya dengan dunia luar di sekelilingnya. Kekuatan sosial ini jika dipenuhi dengan interaksi lingkungan yang positif akan membuat hidup lebih bermakna. Domain ini akan mengantarkan pada kekayaan jiwa, keberkahan ilmu dan kebermanfaatan diri.

Menyeimbangkan keempat domain tersebut tidaklah mudah, tetapi bisa dan memang harus diupayakan karena kebutuhan akan SDM berkualitas menuntut terpenuhinya keempat domain tersebut. Tantangan seperti itulah yang coba kami jawab di program beastudi Etos. Sebagai program investasi SDM, etoser (para mahasiswa penerima beastudi etos) diarahkan untuk menjadi mahasiswa yang baik dari sisi religius, intelektual, pengembangan diri dan sosial. Realita memaparkan bahwa keseimbangan itu bukan mimpi. Sebutlah Ach Firman Wahyudi, etoser angkatan 2006 ini sekarang diamanahi menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (BEM KM IPB). Bukan hanya prestasi dari bidang kepemimpinan, sebelumnya ia meraih Mahasiswa Berprestasi Utama Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Di fakultas yang sama, ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Lembaga Dakwah Fakultas. Berbagai karya ilmiah dihasilkan, berbagai kegiatan sosialpun dilakukan. Menariknya lagi, ia juga menjadi salah seorang pioneer pengembangan bisnis kerajinan tanga berlabel ‘midori’ di IPB Bogor.

 

Demikianlah, perubahan besar yang akan menggoncangkan dunia hanya dapat lahir dari pribadi berkualitas yang dapat menyeimbangkan domain prestasinya. Bukan hal yang mustahil untuk melakukannya. Dan jika bukan tidak mungkin pribadi unggul itu adalah kita, tak tergerakkah kita untuk mencoba mengoptimalkan potensi yang kita miliki? Tak tertarikkah kita untuk menjadi pahlawan pada zaman ini?

 

* * *

Beberapa untaian kata yang dipotong diantaranya :

- Kepada pemudalah bertumpu banyak harapan akan perbaikan, kepadanya pula akan dititipkan masa depan

- Sejatinya, potensi intrinsik yang ada dalam diri pemuda tetaplah ada, yang perlu diperhatikan adalah upaya mengarahkannya

- Tanpa domain religius yang ada hanya kerusakan, tanpa domain intelektual hanya menghasilkan keterbelakangan, tanpa domain pengembangan diri hanya akan lahir ketertinggalan dan tanpa domain sosial yang tersisa hanya kemandulan

- Masa muda adalah masa untuk berkarya sebanyak – banyaknya sebelum waktu kian membatasi diri. Masa muda adalah masa untuk berjuang menggapai jutaan asa dan cita serta menanam benih – benih kontribusi untuk dituai di kemudian hari. Masa muda adalah masa aktualisasi diri, masanya memulai kompetisi produktif dan mengukir prestasi.

- Kesia-siaan dalam hidup biasanya diawali dari kesia-siaan dalam menjalani masa mudanya, yaitu dengan banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Padahal potensi yang dimiliki sebenarnya begitu besar, tidak akan habis jika hanya ‘sekedar’ mengikuti banyak kompetisi atau mencoba menorehkan banyak prestasi.

- Dan hanya kepada mereka yang berani bermimpi, berani memulai bertindak dan berani menghadapi konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukanlah predikat ‘unggul’ itu layak diberikan.

Wallahu a’lam bishawwab

Padang, 12 Maret 2010 jam15:31 WIB

Purwa Udiutomo, S.T

Koordinator Nasional

Program Beastudi Etos, Lembaga Pengembangan Insani

Dompet Dhuafa Republika

Bunda

Kubuka album biru, penuh debu dan usang
Kupandangi seragam berdiri, kecil bersih belum ternoda…
Pikirku pun melayang, dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang, tentang riwayatku…

Beberapa waktu lalu dalam sebuah seminar seorang peserta seminar bertanya kepadaku tentang momen paling berkesan dan membahagiakan selama aku di kampus. Entah mengapa, pikirku lalu mengarah pada saat wisuda di Balairung UI. Saat itu lagu ‘Bunda’ disenandungkan dan suasana gegap gempita menjadi begitu syahdu. Sosok – sosok bertoga yang tampak sumringah pun tak bisa menyembunyikan keharuannya. Yah, momen yang begitu langka dan begitu indah….

Ibu, sosok yang luar biasa. Ikhlash mengorbankan nyawanya demi keselamatan kita, rela menanggung beban berat dan berbagai kesusahan demi mewujudkan impiannya untuk memiliki keturunan yang sehat, pintar, shalih dan sukses. Tidak terhitung jasanya untuk kita walau kita kerap melalaikan hak – haknya. Ali bin Husein, cucu Rasulullah pernah berkata, ”Hak ibumu adalah bahwa kamu mengetahui dia mengandungmu saat tidak ada orang yang mau mengandung. Siapa pun, dia memberikan kepadamu sesuatu yang tidak akan diberikan orang lain, yaitu buah dari hatinya. Dan dia melindungimu dengan segala dayanya. Dia tidak peduli dirinya kelaparan selama kamu bisa makan. Tidak peduli dirinya kehausan selama kamu bisa minum. Tidak peduli dirinya telanjang selama kamu masih berpakaian, tidak peduli dirinya terbakar terik matahari selama kamu bisa berlindung. Dia berjaga tanpa tidur demi dirimu, dia melindungi dari panas dan dingin agar kamu menjadi miliknya”. Dan semua itu tanpa pamrih!!

Teringat pula dengan jelas, air mata ini pernah mengalir karena beliau, pun hanya pada saat – saat tertentu. Tidak dapat kita pungkiri betapa cintanya diri ini kepada beliau. Walau mungkin belum dapat diungkapkan, apalagi dibuktikan. Sayangnya kesadaran itu hanya sekejap, ingatan tentang besarnya pengorbanan beliau tidak lama bersemayam dalam jiwa. Mungkin karena kurangnya pembuktian cinta dengan amal nyata. Padahal kita pun teringat bahwa air mata beliau kerap mengalir karena kita, disebabkan ulah kita. Tangis yang kerap disembunyikan dibalik helaan napas atau gelengan kepala. Air mata yang tersembunyi dibalik kesabaran, ketegaran dan pengharapan yang begitu besar. Hebatnya, sesedih apapun, untaian do’a penuh kebaikan itu tak jua terhenti. Dan hanya Allah yang paling tahu ketinggian cintanya pada kita meski diri kita sering menyusahkan dan mengecewakannya.

Hari ini, detik ini, masih ada yang dapat kita lakukan untuk membahagiakan beliau. Bukan sebatas do’a, tentunya, bukan pula sebatas ungkapan sayang yang mungkin masih terpendam. Bahagiakan beliau dengan membantunya menggapai impiannya. Ya, dengan menjaga diri dan sikap kita, dengan menjadi seseorang yang dapat diandalkan dan dibanggakan. Jika memang mengembalikan segala yang telah beliau berikan tidaklah mungkin, paling tidak buatlah beliau bersyukur dengan keberadaan kita. Jangan sampai beliau menyesal telah melahirkan kita.

Namun, kesempatan untuk membahagiakan Ibu itu entah sampai kapan masih Allah berikan. Mari kita bersegera. Tatap wajahnya dengan penuh kasih sayang, hiasi lisan dengan kelembutan, sempurnakan dengan senyuman dan prestasi yang membanggakan. Tak lupa memohon kepada Allah SWT, “Ya Rabb kami, ampunilah dosa – dosa kami dan dosa-dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami selagi kami kecil. Anugerahkanlah kepada kami kebaikan, serta kesempatan dan kekuatan untuk dapat membahagiakan mereka. Dan jika Engkau harus mengambil mereka dari kami, wafatkanlah mereka dalam keadaan husnul khatimah… Amiin…”

Wallahu a’lam bishawwab

…Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku…

-dariseoranganakyangbelumbanyakberbuatdanmencobatukmenjadikansetiapharisebagaihariibu-

Ketidakpedulian yang Menghancurkan

Barang siapa yang tidur dan tidak mengambil beban urusan orang-orang Islam maka dia bukan termasuk golongan mereka.” (HR al-Baihaqi)

Beberapa hari yang lalu, saya membaca salah satu surat kabar yang headlinenya memuat berita tentang sepasang siswa – siswi yang kepergok sedang berbuat mesum di kamar mandi dekat mushalla salah satu SMA di kawasan Kebon Jeruk. Jika sebelumnya Gorontalo (siswa SMP lho), Pekanbaru, Kendal, Tegal, Indramayu, Cianjur, Bandung, Banten, Bogor, dan lain – lain, sekarang giliran Jakarta. Hmm, berita bobroknya moral pelajar bahkan hingga level SD nampaknya bukan berita baru dan mungkin sudah kerap didengar. Tawuran pelajar, narkoba hingga seks bebas nampak tak asing lagi tapi disitulah anehnya. Ketika kita kerap mengetahui hal tersebut lalu lewat begitu saja tanpa ada keprihatinan, tanpa kekhawatiran dan tanpa upaya untuk menghadapinya, disitulah letak keanehannya. Yah, walaupun kejadian tersebut bukan di Depok, saya tidak berani menjamin bahwa Depok terbebas dari hal – hal tersebut.

Beberapa saat sebelumnya, SMA 35 Jakarta sempat dihebohkan karena anak – anak ROHIS dan alumninya terlibat penculikan Raisyah. Terlepas dari muatan politis dalam kasus tersebut, kejadian itu bisa menjadi ancaman bagi dakwah sekolah. Tapi mungkin kita masih tenang – tenang aja toh hal tersebut tidak terjadi di Depok. Atau belum.

Dalam silaturahim saya ke LDK ROHIS 5 Depok (yang saya nilai semangat pesertanya melebihi peserta LDK ROHIS 1 Depok, bagus!) beberapa saat lalu, selepas Maghrib, Bang Taufik sempat berkisah tentang ‘kisah si tikus’ dengan versinya. Berikut adalah “versi asli”nya …

* * *

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya saat membuka sebuah bungkusan. ‘Ada makanan’, pikirnya. Tapi tikus itu terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian, tikus itu menjerit memberi peringatan, “Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah!”. Sang ayam dengan tenang berkokok, sambil tetap menggaruki tanah, ia mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya, maafkan aku Pak Tikus. Aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalah. Jadi jangan buat aku sakit kepala-lah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing. Katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!”. “Wah, aku menyesal dengan kabar ini”, si kambing menghibur dengan penuh simpati. “Tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu senantiasa ada dalam doa – doaku!”. Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. “Oh? sebuah perangkat tikus? Jadi saya dalam bahaya besar ya?”, kata lembu itu sambil ketawa, berleleran liur.

Akhirnya tikus tersebut kembali ke rumah dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh – sungguh sendiri. Malam tiba dan terdengar suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berhasil menangkap mangsa. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap.

Di dalam kegelapan malam, dia tak dapat melihat bahwa yang terjebak adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani. Si isteri kembali ke rumah dengan tubuh menggigil, demam. Dan sudah menjadi kebiasaan, setiap orang sakit demam, obat pertama adalah memberikan sup ayam segar yang hangat. Petani itu pun mengasah pisaunya dan pergi ke kandang, mencari ayam untuk bahan supnya.

Tapi bisa ular itu sungguh jahat, si isteri tak langsung sembuh. Banyak tetangga yang datang membesuk dan tamu pun tumpah ruah ke rumahnya. Petani pun harus menyiapkan makanan dan terpaksa kambing di kandang dia jadikan gulai. Tapi itu tak cukup, bisa ular itu tak jua dapat ditaklukkan, si isteri meninggal dan berpuluh orang datang untuk mengurus pemakaman, juga selamatan. Tak ada cara lain, lembu di kandang pun dijadikan panganan untuk puluhan pelayat dan peserta selamatan.

* * *

KEPEDULIAN! Itulah kata kuncinya. Kita tak pernah tahu apa yang akan menimpa kita dan lingkungan terdekat kita. Hanya saja dapat kita pahami bahwa sebagaimana kebaikan, kemaksiatanpun sifatnya menyebar. Kemaksiatan dan musibah yang menimpa saudara kita di tempat lain bukan tidak mungkin akan kita atau lingkungan terdekat kita alami, apalagi kalau kita tidak peduli. Jika saat ini kita masih ‘beruntung’ tidak ada jaminan akan demikian selamanya, apalagi jika kita berhenti belajar dari yang lain dan tidak berupaya keras untuk mencegah hal – hal yang tidak diinginkan terjadi.

Saat ini kemaksiatan terus berupaya menyergap siapa saja dengan berbagai sarananya. Butuh kepedulian dan kesungguhan untuk menghadapinya. Sikap santai dan berdiam tentu bukan solusi, bahkan berjalan pun takkan cukup untuk menghalau potensi kebobrokan yang tengah berlari. Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil, kepedulian dan kesungguhan orang lain kerap dapat membantu seseorang keluar dari kesulitan hidupnya. Coba perhatikan teman – teman kita yang berguguran di jalan ini, sudahkah kita memberi perhatian yang tulus kepada mereka? Bukankah tidak mungkin kepedulian kita yang tulus sebenarnya dapat menyelamatkan mereka? Jadi, jika ternyata ada berbagai masalah pada ‘adik – adik’ kita, sekolah kita atau lingkungan kita, bisa jadi hanya karena kita yang tidak peduli. Lalu, masihkah kita acuh?

Kadang – kadang anda dapat mengatasi sebuah situasi sulit hanya dengan bersedia memahami orang lain. Sering yang paling dibutuhkan seseorang adalah mengetahui bahwa ada seseorang lain yang peduli tentang bagaimana perasaannya dan berusaha memahami posisi mereka” (Brian Tracy)

Gerakan Selamatkan Ummat dan Bangsa

Remaja di Persimpangan Jalan

Ujian Negara baru saja selesai, belum kering keluhan yang keluar dari mulut sekelompok siswa SMU karena sulitnya soal yang harus mereka kerjakan. Apalagi ditambah peraturan baru yang memberatkan mereka untuk lulus. Di sekolah mereka, sebuah sekolah swasta di Depok, nilai 5.00 terlalu tinggi untuk dapat dicapai. Matahari belum jua terik ketika mereka memulai aktivitas merayakan selesainya ujian dengan mencoret-coret tubuh dan pakaian mereka. Aktivitas mubazir tersebut bukan hanya menyebabkan kemacetan lalu lintas namun banyak menimbulkan kekhawatiran atas polah tingkah berandal yang mereka tunjukkan. Pihak sekolahpun tidak dapat berbuat apa-apa, nampak bahwa dunia pendidikan di negara ini pun tak kalah bobroknya dengan dunia remaja.

Benarlah, tidak seberapa lama, muncul sekelompok siswa dari sekolah lain dengan wajah mencari musuh. Tawuranpun tak terhindarkan, meresahkan masyarakat dan para pengguna jalan. Beberapa siswa ditangkap dan ditahan di kepolisian dengan senjata tajam dan alat pukul yang mereka bawa sebagai bukti kejahatan mereka. Ya, tawuran berjalan sesuai rencana demi sebuah kebanggaan semu. Ada lagi sekelompok remaja yang tidak mengikuti tawuran, namun mereka juga terjebak pada aktivitas sia-sia, asyik bermain playstation dan game di internet sampai lupa waktu. Tidak sedikit pula remaja yang asyik menonton konser musik dan melupakan semua kewajibannya. Parahnya lagi, narkoba dan seks bebas yang makin mewabah di kalangan remaja — yang konon merupakan tulang punggung negara—semakin merusak dunia kawula muda

Remaja, Penyelamat yang Terabaikan

Mengenaskan, mungkin itulah gambaran umum kondisi remaja kita. Pergaulan bebas, obat-obat terlarang dan demoralisasi telah mewarnai aktivitas mereka sehari-hari. Padahal sejarah telah menunjukkan bahwa pemuda-lah yang selalu menjadi ujung tombak perubahan sebuah zaman. Pada masa Rasulullah SAW, para pemudalah yang banyak menerima sekaligus memperjuangkan risalah beliau. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Arqam bin Abi Arqam, Ja’far bin Abi Thalib, Utsman bin Affan adalah beberapa nama shahabat Rasul sekaligus pejuang Islam yang sudah terbina sejak usia muda. Demikian pula kebangkitan nasional, proklamasi kemerdekaan RI, runtuhnya orde lama, lahirnya reformasi dan berbagai peristiwa bersejarah di tanah air lainnya melibatkan para pemuda sebagai pelaku dan pihak yang berperan sangat signifikan.

Masa remaja adalah masa memuncaknya potensi, fisik maupun akal. Masa remaja adalah masa yang penuh idealisme dengan karakter yang memiliki semangat berapi-api, emosional, pantang menyerah sekaligus labil. Masa ini adalah masa yang penuh tantangan untuk mencapai kedewasaan dan kematangan pribadi, tergantung dari penyikapan remaja terhadap tantangan tersebut. Masa ini merupakan masa menemukan identitas diri sekaligus menunjukkan eksistensi diri dalam lingkungannya. Remaja tidak segan-segan berusaha sekuat tenaga dan berkorban dengan segala yang dimilikinya untuk memperjuangkan apa yang diinginkannya.

Namun sayang, di tengah potensi dan arti penting keberadaan pemuda, berbagai krisis multi dimensi menghadang mereka sementara perhatian terhadap mereka tidak sebanding. Pergantian zaman memperlihatkan betapa banyaknya kondisi yang tidak kondusif untuk mengoptimalkan peran mereka sebagai penggerak perubahan. Kekuatan dan semangat serta karakteristik unik pemuda lainnya justru akhirnya tersalurkan untuk hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat. Tidak dipungkiri, perang pemikiran dan infiltrasi kebudayaan melalui berbagai media banyak memperburuk kondisi ini. Akibatnya, aktivitas pemuas hawa nafsu berisi kebodohan dan kenikmatan semu semakin marak.

Perlu segera dilakukan perbaikan. Pemudalah wajah ummat dan bangsa di masa depan, sehingga menjadi kewajiban kita semua untuk menyelamatkannya. Pembekalan keimanan dan pengetahuan agama harus diperkuat, diiringi dengan peningkatan keilmuan dan keterampilan serta pengembangan diri mereka ke arah yang positif yang jua harus dilakukan. Tiga komponen utama, orang tua, masyarakat dan institusi pendidikan harus bekerja sama dalam membentuk generasi muda yang unggul. Sistem pendidikan sekuler dan yang tidak menekankan moralitas peserta didiknya harus diganti dengan pendidikan yang Islami.

Masih Ada Secercah Harapan

Tercatat dalam sejarah, seorang Usamah bin Zaid yang masih berusia 18 tahun ketika terpilih menjadi pimpinan pasukan muslim yang dikirim ke perbatasan Arab – Romawi membawahi banyak shahabat Rasulullah yang lebih senior. Pada sejarah selanjutnya, Asy-Shahid Abdullah Azzam yang sudah terjun ke medan jihad Afghanistan, membina dan menyatukan para mujahidin sejak usia belia. Muhammad Fathi Farahat, dalam usia 17 tahun menjadi syuhada, dengan bom syahid berhasil menewaskan dan membuat luka-luka puluhan tentara Israel. “Fathi Farahat lain” bukan semakin berkurang bahkan terus bertambah. Gerakan intifadhah pemuda Palestina tak surut walau silih berganti pemimpin HAMAS telah dibunuh Israel.

Di kampung Ainu Syams, Mesir, ada seorang murid SD berusia 12 tahun yang begitu terpukul menyaksikan kondisi yang memprihatinkan di Palestina. Muhammad Mishri, nama anak itu, mengumpulkan uang sakunya selama beberapa bulan untuk biaya pergi ke Rafah menuju Jalur Gaza. Ia ditangkap polisi di perbatasan Mesir dan dipulangkan kepada orang tuanya sebelum tiba  di tujuan. Beberapa  bulan  sebelumnya juga  ditangkap 3  orang anak  perempuan  yang  rata-rata berusia  14 tahun yang  mencoba  menembus perbatasan Rafah ke Gaza untuk melawan Zionis Israel karena kesedihannya terhadap tewasnya bayi-bayi Palestina oleh serangan brutal Israel.

Gelora semangat kebaikan yang pernah ditunjukkan pada masa awal perjuangan Islam belumlah sirna. Hasrat dan kekuatan dalam berjuang mencapai sesuatu yang lebih baik belumlah pudar. Pada saat yang sama ketika coret-coretan dan tawuran merajalela, di sudut sebuah mesjid ramai berkumpul pemuda yang gemar mengkaji Islam, menghafal Al-Qur’an dan giat berdakwah. Di kala generasi muda ramai mengikuti mode dan fashion barat yang membuka aurat, sebagian remaja mulai marak mengenakan jilbab dan menutup aurat. Ketika budaya hedon merajalela, tidak sedikit yang pemuda yang berprestasi di sekolah. Tatkala sebagian besar remaja menghabiskan harinya dengan aktivitas yang sia-sia, masih ada sekelompok pemuda yang aktif di berbagai kegiatan positif. Bahkan masih ada generasi muda kita yang malam-malamnya diisi dengan mendekatkan diri pada Allah diiringi isak tangis dalam shalat malamnya…

Merekalah generasi masa depan ummat dan bangsa. Ditangan merekalah bertumpu banyak harapan perbaikan dan perubahan kondisi yang terjadi saat ini. Namun mereka tidak dapat ditinggal sendiri dan dibiarkan begitu saja, butuh sekelompok orang dengan cita yang sama yang harus memperhatikannya. Perlu dukungan dari masyarakat dan lingkungannya. Dan akhirnya menjadi kewajiban bagi kita untuk serius menanganinya demi asa yang terus tumbuh berkembang akan lahirnya masa depan ummat dan bangsa yang lebih baik. Perbaikan generasi muda sama artinya dengan menyelamatkan ummat dan bangsa ini. Semua harus dimulai saat ini juga, tak bisa menunggu lama karena penghancuran peradabanpun tak pernah berhenti.

Kala Demonstrasi Tak Lagi Menghasilkan Perubahan

(Sebuah analisa dengan pendekatan Change Management)

Pada umumnya manusia enggan beranjak dari zona nyaman. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi resitensi seseorang terhadap perubahan. Manusiawi. Orang takut tidak dapat menghadapi persoalan karena perubahan. Perubahan mengandung unsure ketidakpastian (uncertainly). Selain itu perubahan dapat menimbulkan kerugian pribadi (personal loss) bagi mereka yang memiliki investasi pada status quo. Status, uang, kekuasaan, teman, kesenangan, dll dapat hilang karena perubahan. Pertaruhan yang besar. Makin besar investasi seseorang dalam sistem berjalan, makin besar kemungkinan penolakannya terhadap perubahan. Selain perubahan memang tidak juga dapat menjamin pasti hadirnya perbaikan.

Teori Perubahan
Menurut teori medan gaya (force field theory), peningkatan driving forces akan meningkatkan kinerja sekaligus restraining forces. Perubahan –yang biasanya dilakukan dengan menekan (push)— akan mendapat reaksi balik. Jadi, cara efektif untuk mendorong perubahan bukan dengan peningkatan driving forces tapi dengan pengurangan restraining forces. Suatu program perubahan terencana dapat dilakukan dengan internalisasi manfaat perubahan (mengurangi restraining forces) dan secara bersamaan memperkuat driving forces di dalam organisasi.

Menurut teori/ model proses perubahan (model of change process, Kurt Lewin & Edgar H Schein), masalah yang menyulitkan perubahan adalah ketidaksiapan orang merubah kebiasaan & perilaku lama serta perubahan pada seseorang yang tidak lama. Pada fase unfreezing terjadi proses menjadikan kebutuhan perubahan sebagai suatu yang nyata. Tiap lini siap untuk berubah, biasanya terjadi ketika ketidakidealan jelas dirasakan. Setelah itu, melalui identifikasi dan internalisasi nilai-nilai terciptalah perubahan, dimana agen perubah mampu menciptakan situasi dan nilai-nilai baru, sesuai kebutuhan perubahan. Kemudian dibutuhkan proses mengunci perubahan ketika manfaatnya sudah dapat dirasakan. Untuk mengunci hasil dan pola perilaku yang baru diperlukan mekanisme penunjang berupa apresiasi, penghargaan, reward, pengakuan dan penguatan lainnya.

Menurut teori Kesiapan Sistem (Systems Readiness, David B Gleicher), suatu perubahan bisa gagal karena perubahan system ke suatu keseimbangan baru membutuhkan energi yang besar, memenuhi rumus :

dimana :
C = Change/ perubahan
A = Tingkat ketidakpuasan terhadap status quo
B = Kejelasan bentuk perubahan yang diinginkan
D = Kejelasan langkah praktis perubahan yang akan dilakukan
X = Biaya perubahan

Dan perubahan hanya dapat terjadi ketika faktor-faktor pendukung perubahan lebih besar dari biaya perubahan. Terakhir, dikenal teori perubahan yang cepat ketika pekerjaan berhadapan dengan interupsi yang konstan. Kala itu kondisi berada pada batas kekacauan, ada tuntutan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya & banyak aktivitas yang dikendalikan oleh aturan-aturan yang dibuat sambil jalan (the white water rapids metaphor).

Menangani Resistensi
Berlawanan dengan status quo, secara fitrah, manusia ingin terus lebih baik dan menjadi yang terbaik. Dari sinilah titik tolak perubahan dilakukan. Ada banyak cara yang dapat diperbuat untuk menangani resistensi diantaranya memberikan pemahaman dan berkomunikasi, melakukan pelibatan/ partisipasi dalam pengambilan keputusan, meningkatkan ketrampilan, melakukan manipulasi, kooptasi, negosiasi bahkan koersi kepada pihak yang melakukan penolakan.

Demonstrasi dan Perubahan
Terlepas dari sebagai upaya melakukan pencerdasan sekaligus menunjukkan kepedulian dan menyuarakan aspirasi masyarakat, sering muncul pertanyaan: “Dapatkah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa membuat perubahan?”. Tentu ada pro dan kontra. Dan jika menilik pada perjalanan sejarah, memang demonstrasi kadang dapat menghasilkan perubahan dan kadang tidak.

Berdasarkan teori tentang manajemen perubahan, ada hal-hal yang perlu diperhatikan untuk efektivitas perubahan yang diusung suatu gerakan mahasiswa. Pertama, pentingnya membangun kesadaran akan pentingnya perubahan. Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya dibutuhkan waktu, data dan fakta sehingga timbul pemahaman bersama bahwa kita memang harus berubah. Gerakan mahasiswa tidak seharusnya eksklusif dan hal ini sering dilupakan. Jangankan upaya pewarnaan dan pengarahan opini ke para pejabat maupun masyarakat, demonstranpun sering tidak memahami mengapa mereka harus melakukan demonstrasi. Kedua, perjelas arah dan bentuk perubahan, bahkan bila perlu beserta langkah-langkah taktis menuju perubahan yang diinginkan. Solutif dan mudah dipahami. Hal ini –mungkin— yang dapat menjawab tantangan disorientasi gerakan mahasiswa sekaligus menjadi detail format membangun gerakan.

Ketiga, pastikan tidak bermasalahnya hal-hal yang terkait dengan komunikasi (koordinasi, negosiasi, audiensi, diplomasi, dsb). Opini banyak tergantung pada efektivitas komunikasi dan perubahan banyak tergantung pada manajemen opini. Selama proses komunikasi internal dan antar linmi masih bermasalah, maka perubahan yang diharapkan relatif sulit terjadi. Keempat, berani bukan nekad. Ada unsure intelektualitas dan persiapan matang yang harus senantiasa mengiringi. Perubahan tidak akan efektif dan akan sangat mungkin destruktif jika dilakukan serampangan. Juga jangan berharap perubahan ‘turun dari langit’ sehingga pasrah menunggu ‘hidayah’. Semuanya harus terencana dan cerdas, walau pastinya tidak akan terlepas dari resiko.

Terakhir, membangun mentalitas pejuang-pejuang perubahan. Baiknya dimulai dari diri sendiri yang mau mendengarkan (kritikan) orang lain, mau menerima perbedaan, berani mengalah, meminta maaf dan berlapang dada/ memaafkan. Mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk diri, rela berkorban, berani menerima resiko, terus meningkatkan kemampuan diri dan tetap bersemangat dalam berjuang. Selanjutnya dibangun mentalitas perubahan dalam komunitas kecil, organisasi kemahasiswaan hingga sekup yang lebih besar.

Dapatkah demonstrasi membuat perubahan? Tentu saja! Sejarah pernah membuktikannya. Jika diiringi dengan niat ikhlash tanpa cacat, cara yang cerdas dan tepat serta mentalitas penuh semangat. Dan Allah SWT pun takkan berat menghadirkan perubahan yang hebat. Selanjutnya tinggal bagaimana dan dimana kita?

Wallahu a’lam bishawwab