Category Archives: Hati & Pernikahan

Puisi Syukur (dibacakan ketika akad 060211)

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Syukur kuucapkan atas tibanya hari penuh kecintaan
Akhir dari sebuah penantian
Jawaban atas segala kegalauan
Mendapat anugerah pendamping perjuangan

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Segala puji pada-Mu Rabbi atas nikmat hari ini
Pun jua kusadari kekurangan diri
Amalku tak senilai dengan nikmat yang tlah Kau beri
Izinkan syukurku ini terungkap dari lubuk hati

Atas hidayah yang menguatkan iman
Atas pelita Islam penunjuk jalan
Atas bimbingan yang mencerahkan
Atas keyakinan hati yang meneguhkan
Atas anugerah keluarga yang membanggakan
Atas anugerah sahabat yang menguatkan
Atas ketetapan yang menenangkan
Atas segala ujian yang mewarnai kehidupan
Atas segala urusan yang Kau mudahkan
Atas takdir indah yang Kau sempurnakan
Atas cinta suci yang Kau karuniakan

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Berjuta terima kasihku untukmu ayahanda dan ibunda
Pun kupercaya segala kata dan karya
Takkan cukup untuk membalas segala jasa
Izinkan syukur ananda membuncah dari dalam dada

Atas kasih sayang sepanjang jalan
Atas perhatian yang tak terlukiskan
Atas ketulusan jiwa penuh keikhlashan
Atas pelajaran hidup penuh kesabaran
Atas perlindungan yang menentramkan
Atas tutur lembut yang menguatkan
Atas bekal hidup yang menyelamatkan
Atas peluh dan darah dalam perjuangan
Atas hari – hari yang meletihkan
Atas malam – malam yang kurepotkan
Atas air mata yang kau sembunyikan
Atas kesedihan yang tidak kau tampakkan
Atas senyuman dibalik segala kelelahan
Atas do’a yang senantiasa terlantunkan

Maafkan ananda belum dapat membahagiakan
Maafkan ananda belum mampu membanggakan
Maafkan ananda belum bisa menjadi teladan
Masih banyak menyusahkan
Masih kerap mengecewakan
Hanya do’a yang bisa kuhaturkan

Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian
Mengampuni segala dosa dan kesalahan
Menganugerahkan kekuatan dan kesehatan
Memberikan limpahan berkah dan kenikmatan
Memudahkan segala urusan dan keperluan
Meneguhkan hati dan menguatkan iman
Serta melindungi kalian sepanjang jalan

Pun hari – hariku ke depan bertambah amanah
Memikul tanggung jawab yang tidak mudah
Kuyakin do’amu kan mengikis semua gundah
Kutahu restumu kan menghapus segala lelah
Kupercaya ridhamu kan meringankan semua masalah

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Salam takzimku untukmu pendamping hidupku
Dirimu adalah kado terindah dari Allah untukku
Terimalah segala ketidaksempurnaanku
Lengkapilah semua kekuranganku

Untukmu belahan jiwaku
Temanilah tiap detikku dengan tulus kasihmu
Iringilah setiap langkahku dengan do’amu
Sejukkanlah hariku dengan senyummu
Tentramkanlah jiwaku dengan perhatianmu
Teguhkanlah qalbuku dengan ketegaranmu
Ingatkan aku kala tersalah atau keliru

Untukmu calon bidadari syurga
Jadilah sebaik – baik perhiasan di dunia
Jadilah madrasah pendidik generasi yang mulia
Jadilah cahaya penebar rahmah rumah tangga
Mari melangkah membentuk keluarga bahagia
Mari saling membantu untuk menjaga cinta
Mari saling percaya untuk selalu bersama
Mari kita rajut bahagia sampai ke syurga

Tiada untaian kata seindah hamdalah
Sungguh kuinsyafi tiada nikmat-Mu yang dapat kudustakan
Pun masih tertatih dalam menunaikan segala kewajiban
Izinkanlah hamba-Mu yang lemah ini memanjatkan permohonan

Ya Allah…
Ampunilah segala khilaf dan salah
Jadikanlah setiap hela nafas hidup kami bertabur berkah
Bimbing kami untuk tetap istiqomah
Kuatkanlah kami dalam menapaki langkah
yang mungkin tidak selamanya indah
Jadikanlah kami keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah
Yang kelak dipertemukan kambali di dalam Jannah

Amiin… Walhamdulillahi rabbil ’alamin…

[PurE no Kekkon Shoutaijyo] InsyaAllah Akan Indah Pada Waktunya

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu ‘alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Minasan, konnichiwa.

Kono meru to watashi no kekkon shoutai wo okurimasu.
Goranshite kudasai.
Douka watashitachi wo shukufuku shitekudasai.
Issho ni oiwai shitekudasai.

Maha suci Allah yang telah mempertemukan hati-hati kami hingga berkumpul dalam cinta-Nya, bertemu dalam taat pada-Nya, menyatu menolong dakwah-Nya, berjanji perjuangkan syariat-Nya untuk berbagi cinta, harapan, dan kehidupan dalam tali pernikahan:

Endah Suyanti (Eshu)
Geo UI 2003

&

Purwa Udiutomo (Purwo)
TI UI 2001

Dalam suatu ikatan yang diridhai sesuai dengan sunnah Rasul untuk membentuk keluarga barakah yang sakinah mawaddah warahmah.

Akad Nikah:
Ahad, 6 Februari 2011
Pukul 08.30 WIB
Di Masjid Jami Al-Mujahiddin
Ciganjur, Jakarta Selatan

“Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzaariyaat : 49)

Dengan memohon ridha dan rahmat Allah SWT kami bermaksud menyelenggarakan walimatul ‘ursy yang insya Allah akan diselenggarakan pada:

Ahad, 6 Februari 2011
Pukul 13.00 – 17.00
di Kediaman Mempelai Wanita
Jl. Sadar IV No.44 Ciganjur
Jakarta Selatan

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS. Annisa : 1)

Dan guna menguatkan ikatan silaturahim, dengan memohon Ridha dan Rahmat Allah SWT kami bermaksud menyelenggarakan acara ngunduh mantu yang insya Allah akan diselenggarakan pada:

Ahad, 6 Maret 2011
Pukul 10.00 – 16.00
di Casa Grande
Kp. Rawakalong Rt. 01/10
Kel. Grogol, Kec. Limo, Depok, Jawa Barat

Atas kehadiran dan doa restunya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kami yang berbahagia

- Kel. Durohman
- Kel. Wakijan
- PURE – Purwo & Eshu

***

NB: Mohon mengisi buku tamu saat mampir ke situs kami http://pure-lovestory.com/ ^_^

Sekilas tentang Purwo

Sekilas tentang Purwo a.k.a Purwa Udiutomo

Berdasarkan akte kelahiran, saya bernama Purwa Udiutomo, namun saya biasa dipanggil Purwo karena orang tua memang dari suku Jawa. Saya pun baru menyadari nama di akte tertulis Purwa kelas 6 SD ketika hendak mengurus ijazah. Ternyata ada kesalahan penulisan nama, namun sebelum sempat diperbaiki, notaris yang membuatkan akte meninggal karena kecelakaan. Ya udah, untuk menghargai jasa beliau, nama Purwa (yang berlogat Sunda) terus dipakai, toh artinya tetap sama : Pertama.

Yup, saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Lahir tepat 27 tahun yang lalu dari tanggal akad nikah, 6 Februari. Menikmati masa kecil di Jakarta Selatan dan sejak tahun 1993 tinggal di Depok. Pendiam dan kutu buku adalah gambaran Purwo kecil yang tidak jarang menorehkan prestasi akademis. Pengalaman organisasi pertama yang kemudian banyak mengembangkan potensi diri non-akademis adalah ketika diamanahkan menjadi Wakil Ketua OSIS SMAN 1 Depok periode 1999/ 2000.

Masuk Teknik Industri UI tahun 2001 lewat jalur PMDK, baru lulus awal tahun 2007 dengan berbagai pengalaman organisasi dan aktivitas kemahasiswaan dari level jurusan hingga nasional. Amanah terakhir di kampus adalah sebagai Sekretaris Umum BEM UI yang juga mengantarkan berbagai pembelajaran hidup mulai dari berkunjung ke rumah rektor UI, masuk gedung MPR/ DPR hingga dua kali mengunjungi Serambi Mekkah menjadi relawan recovery tsunami Aceh. Saya suka mengunjungi daerah – daerah baru dan mengambil banyak hikmah disana, namun impian besar saya tentunya bersama keluarga dan orang – orang yang dicintai bisa mengunjungi dan menetap di syurga. Amiin…

Sangat terinspirasi dengan hadits Rasulullah SAW, “Sebaik – baik kamu adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain” dan perkataan Confusius, “Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain”. Intinya, kualitas diri di hadapan Allah dan manusia sangat ditentukan oleh kontribusi yang tiada henti. “Terus berkontribusi ‘tuk raih ridha Ilahi”, itulah yang kemudian menjadi motto hidup saya.

Saya sangat menyukai dunia sosial, khususnya di bidang pendidikan. Sebelum bekerja sebagai Manajer Program Pemuda dan Komunitas merangkap Koordinator Nasional Beastudi Etos di Lembaga Pengembangan Insani, jejaring pendidikannya Dompet Dhuafa, saya pernah menjadi peneliti di Circle of Information & Developmentnya Dompet Dhuafa dan menjadi Manajer Bimbingan Belajar Islami Salemba cabang Citayam. Di luar itu juga aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan pemuda yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Mempelajari pengelolaan sistem di bangku kuliah dan berkecimpung di bidang sosial – pendidikan sangat sesuai dengan hobi saya yaitu membaca, menulis dan berpikir.

Saya sangat sepakat dengan perkataan Imam Hasan Al Basri, “Aku tahu rizkiku tak mungkin diambil orang lain. Karenanya hatiku tenang. Aku tahu amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain. Maka aku sibukkan diriku untuk beramal…”. Skenario Allah jelas terlihat dalam setiap fase transisi hidup saya, terjadi begitu saja dan dimudahkan. Barulah di masa selanjutnya terlihat alasan yang jelas mengapa Allah menghendaki ketentuan yang kerap tak terduga. Karenanya semuanya hal yang menyangkut takdir saya jalani dengan tenang, tanpa ada kekhawatiran.

Sejalan dengan visi hidup, pernikahan saya pandang sebagai salah satu tahapan dan sarana untuk meraih ridho Allah, sehingga selain membina keluarga yang SAMARA juga harus ada kontribusi bagi lingkungan sekitar dalam upaya untuk membangun peradaban yang lebih baik. Karenanya di dalam pernikahan harus ada proses saling belajar dan meningkatkan kapasitas tiap komponen yang terlibat. Menjadikan tempat tinggalnya menjadi tempat yang menyenangkan dan produktif. Mengisi hari – harinya dengan cinta dan suasana penuh energi positif. Nilai – nilai tentang syukur, keikhlashan, kesabaran dan kesungguhan terus diasah dari waktu ke waktu, untuk selamanya.

Wallahu a’lam bishawwab

“Kasih Kekasih”, In Team

Tak perlu aku ragui
Sucinya cinta yang kau beri
Kita saling kasih mengasihi
Dengan setulus hati

Ayah ibu merestui
Menyarung cincin di jari
Dengan rahmat dari Ilahi
Cinta kita pun bersemi

Sebelum diijabkabulkan
Syariat tetap membataskan
Pelajari ilmu rumah tangga
Agar kita lebih bersedia
Menuju hari yang bahgia

Kau tahu ku merinduimu
Ku tahu kau menyintaiku, oh kasih
Bersabarlah sayang
Saat indah kan menjelma jua

Kita akan disatukan
Dengan ikatan pernikahan, oh kasih
Di sana kita bina
Tugu cinta mahligai bahgia

Semoga cinta kita
Di dalam ridha Ilahi
Berdoalah selalu
Moga jodoh berpanjangan

Ps: sesekali kompakan ga apalah ^_^

Pertanyaan yang Aneh

“Sukakah Anda menabung?”
“Apakah Anda aktif dalam organisasi sosial? Sebutkan!”

Pertanyaan di atas adalah dua dari sekian banyak pertanyaan dalam sebuah form resmi yang harus saya isi beberapa waktu lalu. Dapatkah Anda menduga form apakah yang dimaksud? Sejujurnya, pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada pelajaran Pendidikan Moral Pancasila yang kudapat semasa Sekolah Dasar. Bagaimana gemar menabung dan memiliki kepedulian sosial menjadi nilai dalam butir – butir Pancasila. Namun jelas form yang dimaksud bukanlah soal ulangan PPKn, apalagi dalam halaman berikutnya, masih dalam form yang sama ada pertanyaan – pertanyaan berikut :

“Apa yang dirasakan sulit di dalam melaksanakan ajaran agama (Islam)?”
“Apa Anda mengerjakan shalat, puasa, zakat dan haji?”
“Apakah Anda sudah bisa membaca Al Qur’an? Bila belum apa Anda masih berminat untuk mempelajarinya?”

Nah, kali ini malah seperti soal ulangan Agama Islam. Atau malah kayak mutaba’ah yaumiyah. Jika Anda berpikir form tersebut adalah form evaluasi mentoring ataupun wirid muhasabah harian, jelas salah besar. Selanjutnya, masih pada halaman yang sama, ada juga pertanyaan – pertanyaan berikut :

“Bagaimana pendapat Anda tentang Keluarga Berencana dan kesehatan?”
“Tahukah Anda tentang manfaat Imunisasi Tetanus Teksoid (TT)?”

Hmm, apa lagi nih? Mungkin kalau di sekolah sekarang masuk ke mata pelajaran kesehatan reproduksi. Semakin memperjelas atau justru semakin membingungkan? Nampaknya seperti soal – soal pengetahuan umum. Jika Anda menduga saya sedang mengikuti tes CPNS, perkiraan yang konyol. Form tersebut bukanlah sejenis tes potensi akademik ataupun psikotes. Baiklah, akan saya perjelas dengan pertanyaan kunci pada bagian bawah halaman pertama

“Pernahkah Anda mendengar atau membaca UUP No. 1/ 1974? Apa saja ketentuan – ketentuan UUP?”

Jika Anda belum pernah mendengar istilah UUP, sepertinya pertanyaan di atas malah semakin membuat bingung. UUP adalah kependekan dari Undang – Undang Perkawinan dan form yang saya isi adalah Naskah Penasihatan Calon Pengantin yang disusun oleh Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) ketika mengurus berkas pernikahan ke KUA. Masih ada puluhan pertanyaan lain yang beberapa diantaranya mungkin akan membuat kita mengernyitkan dahi seraya bergumam ‘apa hubungannya?’ atau ‘buat apa nanya – nanya beginian?’. Pertanyaan tentang hobi atau pertanyaan tentang kapan mulai berkenalan, misalnya. Sepertinya naskah ini adalah naskah baru, karena ketika saya bertanya ke orang tua atau mereka yang sudah menikah beberapa tahun lalu, mereka mengatakan tidak mengetahuinya.

Lebih uniknya lagi, pertanyaan – pertanyaan tersebut disusun seperti kuisioner. Jika saya pikir – pikir, jawaban dari pertanyaan yang beragam tersebut memang dapat menjadi bahan skripsi atau tesis bahkan mungkin disertasi. Terlepas dari apa sebenarnya tujuan disusunnya form tersebut dan mau diapakan jawaban dari pertanyaan – pertanyaan yang diajukan. Buat saya pribadi, form tersebut mengingatkan beberapa hal yang positif, misalnya tentang hak dan kewajiban suami isteri atau kewajiban orang tua terhadap anaknya. Namun memang seperti ada pertanyaan ’titipan’ seperti pertanyaan tentang KB di atas. Yah, paling tidak form tersebut berhasil membuat saya membaca UU Perkawinan dan mencari informasi tentang imunisasi TT. Tapi sejujurnya, saya lebih bersemangat mengerjakan soal Matematika Dasar dibandingkan mengisi Naskah Penasihatan Calon Pengantin yang lebih terkesan formalitas. Kesimpulannya, bagi mereka yang belum menikah, harap dipersiapkan jawaban untuk pertanyaan – pertanyaan di atas ^_^

Jodoh yang Sempurna

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. An Nur : 26)

* * *

 

Beberapa tahun lalu, seorang ’adik’ bertanya kepadaku tentang maksud ayat di atas. Apakah menutup kemungkinan seseorang yang belum baik memperoleh seseorang yang jauh lebih baik (untuk kemudian membantunya menjadi lebih baik)? Lalu bagaimana dengan realita bahwa juga tidak sedikit laki – laki ’hebat’ yang menikah dengan wanita yang ’biasa – biasa saja’, dan sebaliknya? Bagaimana pula penjelasan tentang pernikahan antara dua orang yang tidak ’sekufu’ karena perjodohan? Lalu,apakah jodoh itu proses atau hasil? Sejujurnya, aku kesulitan menanggapinya, yang dapat kusampaikan hanyalah asbabun nuzul ayat di atas yang terkait fitnah besar yang menimpa pernikahan Rasulullah SAW. Sedangkan untuk jodoh sendiri, entahlah, aku merasakan banyak rahasia di dalamnya dan ada dominasi kehendak Allah dalam hal ini, termasuk tentang kesesuaian dalam perspektif kita yang mungkin berbeda dalam perspektif Allah.

Ada satu cerpen yang kuingat dalam buku paket Bahasa Indonesia SMA terbitan Depdiknas, judulnya ”Jodoh yang Sempurna”. Dalam cerpen yang pernah masuk menjadi salah satu soal Ebtanas ini diceritakan tentang seorang laki-laki yang mencari pasangan hidup yang sempurna baginya ke biro jodoh. Dari 110 juta wanita, komputerpun memilihkan seorang wanita yang sangat cocok dengan dirinya. Mereka memiliki banyak kesamaan, mulai dari hobi, karakter, jumlah anak yang diinginkan, pendidikan untuk anak, pakaian, tempat tinggal, makanan dan jenis musik favorit, dan berbagai kesamaan lainnya. Merekapun menikah dan sepertinya semuanya akan berakhir bahagia. Namun di akhir cerpen terjemahan karya Stephen Makler dengan judul asli ’The Perfect Match’ tersebut, dikisahkan ternyata mereka bercerai karena pernikahannya telalu ’sempurna’, tidak ada perbedaan pendapat apalagi pertengkaran karena banyaknya kesamaan mereka. Pernikahanpun jadi membosankan dan tidak dapat dipertahankan.

Mencari yang Sempurna?
Penulis pernah membaca sebuah artikel yang bercerita tentang seorang lelaki yang sedang berusaha mencari pasangan hidup yang sempurna, kesempurnaan yang mungkin dapat direpresentasikan sebagai cantik, cerdas, kaya, keturunan ningrat dan berakhlak mulia. Beberapa wanita sudah coba didekatinya, namun belum ada yang sesuai dengan kriterianya karena selalu ada kekurangannya. Suatu ketika, ia menemukan wanita idamannya yang memiliki syarat kesempurnaan yang didambakan. Lelaki itupun mengutarakan isi hatinya, termasuk upayanya mencari wanita yang sempurna. Namun, apa jawaban dari wanita tersebut? ”Mohon maaf, saya tidak dapat menerima permintaan Anda, karena saya juga sedang mengidam-idamkan seorang lelaki yang sempurna”.

Ada artikel serupa yang sempat penulis muat dalam tulisan ’Berikan Aku yang Terbaik’, tentang seseorang yang berdo’a kepada Tuhan untuk memberikannya pasangan. Tuhan menjawab, ”Engkau tidak memiliki pasangan karena kau tidak memintanya”. Kemudian orang itu tidak hanya berdo’a, tetapi juga menjelaskan kriteria pasangan yang diinginkan : baik hati, lembut, pemaaf, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh perhatian dan pengertian, pintar, humoris hingga kriteria fisik. Seiring berjalannya waktu, daftar kriteria itupun bertambah. Hingga suatu malam ketika ia berdo’a, dalam hatinya Tuhan berkata, ”Hamba-Ku, Aku tak dapat memberikan apa yang kau inginkan karena Aku adalah Tuhan Yang Maha Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh cinta kasih kepadamu padahal terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang pemaaf tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam…”.

Tuhan melanjutkan, ”Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang kau cari selama ini daripada membuat kau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulang dan dagingmu, dan kau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana kau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu. Boleh jadi kamu membenci dan tidak suka sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi kamu mencintai dan sangat mendambakan sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Aku Maha Mengetahui sedangkan kau tidak mengetahui. Sabarlah, Aku Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Ku”

Sempurna dalam Ketidaksempurnaan
Berbicara tentang kesempurnaan, sebenarnya Allah telah menciptakan manusia dengan sempurna dan memuliakannya dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain. Namun, nafsu yang menggiring kepada kemaksiatan dan pemahaman yang keliru tentang kesempurnaan itulah yang membuat manusia tak lagi sempurna. Dan karena tidak ada manusia yang tak pernah berdosa maka tidak ada manusia yang sempurna. Jika ada seseorang yang merasa dirinya sudah sempurna, disitu saja ia sejatinya sudah menunjukkan ketidaksempurnaannya. Karenanya pula, memutuskan untuk mencari pasangan yang sempurna sama halnya dengan memutuskan untuk tidak menikah sama sekali.

Ketidaksempurnan kondisi ini bukan berarti manusia hanya cukup mencari pasangan yang jauh dari sempurna atau bahkan sekedar pasrah menunggu jodoh seadanya. Tidak mencari yang sempurna, bukan berarti tidak mencari yang baik dan tepat. Dalam do’a istikharah, Rasulullah SAW telah mengajarkan untuk memohon kepada Allah agar memilihkan yang terbaik untuk diri, agama dan urusan kita ke depannya, bukan memilihkan yang sempurna. Baik bukan berarti sempurna, namun sempurnapun belum tentu baik. Ketika sesuatu yang sempurna sangat sulit ditemukan, sesuatu yang baik biasanya dapat ditemukan di tempat yang baik dengan cara yang baik pula. Ketika kesempurnaan hanya layak disandang oleh Yang Maha Sempurna, sesuatu yang baikpun layak diperoleh mereka yang baik.

Manusia memang memiliki hasrat dan penuh keinginan. Bagi dirinya sendiri, tentu yang terbaiklah yang diharapkan, termasuk dalam hal jodoh. Allah menghendaki kita untuk mencari dan menemukan jodoh terbaik dengan usaha terbaik. Dan hal yang tidak boleh dilupakan untuk mendapatkan yang terbaik adalah dengan terus memperbaiki diri. Tawakkal setelah berikhtiar yang terbaik, akan menghasilkan keikhlashan sehingga apapun hasilnya akan dipandang sebagai yang terbaik. Prasangka baik kepada Allah atas segala ketetapan-Nya, akan membuka pintu kebaikan selanjutnya. Hasil dari proses itu kemudian disikapi dengan baik, limpahan kebaikanpun akan terus mengalir.

Kehidupan hakikatnya adalah serangkaian proses pendewasaan, berbagai ketidaksempurnaan sejatinya merupakan pembelajaran. Kekurangan, kesalahan, kelemahan dan berbagai ketidaksempurnaan memang perlu ada untuk kehidupan yang lebih baik. Apa lagi yang dapat diperbaiki dari sesuatu yang sempurna? Karenanya, penyikapan yang baik terhadap ketidaksempurnaan, dibantu oleh sesuatu (atau seseorang) yang baik dan tepat –pun mungkin tidak sempurna– akan terus mengarahkan proses perbaikan menuju kesempurnaan. Hingga pada masanya nanti, kesempurnaan dapat tercipta melalui proses yang baik dari komponen – komponen penyusunnya yang tidak sempurna…

* * *

“Ya Allah… Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata-Mu…”

Wallahu a’lam bishawwab
Ps. Mari bertumbuh bersama… ^_^

Cinta dan Menikah

Dalam suatu riwayat dikisahkan suatu hari setelah menikah dengan Ali bin Abi Thalib r.a, Fatimah binti Rasulullah SAW berkata kepada suaminya itu, “Wahai Ali, maafkan aku, sebenarnya sebelum menikah denganmu ada seorang pemuda di Madinah yang aku jatuh cinta padanya”. Ali r.a terkejut, dengan cemburu ia balik bertanya, “Jadi, engkau menyesal menikah denganku?”. Dengan tersenyum Fatimah menjawab, ”Pemuda itu adalah engkau.”

* * *

Cinta, sepertinya menjadi kata yang takkan pernah selesai dibahas sepanjang usia manusia. Sebagian orang mengidentikkan cinta dengan memberi dan pengorbanan, namun belum ada definisi yang disepakati tentang cinta. Yang disepakati hanyalah kerumitan makna cinta itu sendiri karena memang tidak semua yang ada dapat dideskripsikan, dan tidak semua yang dapat dirasakan mudah diungkapkan dengan kata – kata. Setali tiga uang dengan cinta, pembicaraan tentang menikahpun tak pernah ada habisnya, padahal keduanya menuntut aksi nyata, bukan sekedar kata. Menikah, kerap dianggap sebagai pengejawantahan cinta yang dapat dipertanggungjawabkan. Menikah adalah ibadah, menikah adalah anugerah. Dan ketika cinta dikorelasikan dengan menikah, akan tercipta semakin banyak lagi materi diskusi tak bertepi. Menikah karena cinta, cinta karena menikah, menikah tanpa cinta, cinta tanpa menikah, menikahi seseorang yang dicintai, mencintai seseorang yang dinikahi…

Mencintai dan dicintai adalah fitrah manusia yang diberikan Allah SWT. Karenanya rasa kagum, sayang, simpati dan sebagainya tidak perlu ’dibunuh’ namun harus dapat dikelola sehingga tidak menimbulkan penyimpangan. Adalah suatu kewajaran ketika ada dorongan, kecenderungan ataupun ketertarikan seseorang terhadap lawan jenisnya. ”Dijadikan indah dalam pandangan manusia cinta terhadap yang diinginkan, berupa wanita – wanita…” (QS. Ali Imran : 14). Hanya saja, cinta ini dekat dengan nafsu, karenanya perlu dikendalikan. Cinta yang telah berganti rupa menjadi nafsu bisa membuat gelap mata. Atas nama cinta kemudian meninggalkan norma, terlupakannya jati diri dan cita – cita hanya demi menyenangkan seseorang yang dicinta, bahkan keyakinanpun dapat tergadaikan dengan dalih pengorbanan. Cinta memang dapat membuat seseorang melakukan apapun, dalam kondisi apapun. Seorang pengecut seketika menjadi pemberani dan sebaliknya, seorang pecundang tiba – tiba menjadi pemenang dan sebaliknya. Kekuatan dahsyat cinta bukan hanya dapat mengubah individu, namun juga dapat menentukan arah sejarah.

Menikah Karena Cinta
Menikahi seseorang yang dicintai bukanlah suatu kekeliruan, bahkan jika di antara mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Abi Syaibah dikisahkan bahwa seorang laki – laki mendatangi Rasulullah SAW kemudian berkata, ”Ya Rasulullah, kami mempunyai seorang anak gadis yatim yang dikhitbah oleh dua orang, yang satu miskin dan yang satu adalah orang kaya. Dia (anak gadis kami) cenderung (cinta) pada yang miskin, sementara kami lebih menyukai pada yang kaya.” Maka Rasulullah bersabda, “Tidak pernah terlihat (lebih menakjubkan) bagi dua orang yang saling mencintai seperti pernikahan”.

Kisah seputar pernikahan Fatimah dan Ali –radhiallahu anhuma—juga mengisyaratkan bahwa adanya ’perasaan khusus’ bukanlah aib, hanya saja memang harus dijaga dalam koridor yang diperbolehkan. Dan menikah adalah solusinya. Sudah sewajarnya ada alasan hati sebelum memutuskan untuk menikah, tidak serta merta main paksa. Karenanya Rasulullah mengingatkan untuk menanyakan kesediaan wanita sebelum dinikahi. Karenanya dalam berbagai riwayat Rasulullah memerintahkan seseorang untuk melihat terlebih dahulu wanita yang akan dinikahi, sehingga ada ketertarikan yang akan melanggengkan hubungan. Juga perlu diingat bahwa Allah SWT menciptakan pasangan hidup agar jiwa merasa tenteram, dan ketenteraman ini akan lebih mudah dihadirkan jika ada motivasi awal yang cukup kuat, dalam hal ini kecocokan hati sebelum pernikahan akan memegang peran besar.

Pembolehan ’cinta awal’ ini bukan berarti pembenaran atas pengumbaran cinta. Emosi sesaat perlu dirawat, rasa ingin memiliki perlu diwaspadai. Tidak sedikit yang tertipu pada cinta semu yang hakikatnya hanyalah nafsu. Betapa banyak yang tersesat karena tampilan sesaat. Dan dalam konteks inilah seharusnya menikah menjadi muara cinta, karena cinta tanpa menikah hanya akan menggiring kepada perbuatan zina.

Cinta Karena Menikah : Belajar Mencintai
Menikah dengan seseorang yang dicintai mungkin akan indah di awalnya, namun tidak ada jaminan bahwa menikah karena cinta akan bertahan selamanya. Badai pernikahan tidak jarang menguji cinta. Karenanya api cinta ini perlu dijaga agar cahayanya tidak padam, bahkan agar dapat menyala lebih terang. Mencintai adalah proses berkesinambungan karenanya terus belajar untuk mencintai menjadi keniscayaan. Mencintai seseorang yang dinikahi merupakan pilihan sadar untuk memberikan yang terbaik dari apa yang dimiliki. Oleh sebab itu, upaya untuk mencintai seseorang yang dinikahi butuh banyak pembelajaran, belajar melupakan, belajar menerima, belajar memberi dan belajar berkorban.

Belajar melupakan dalam rangka menjaga cinta dibutuhkan karena masa lalu adalah salah satu bagian perjalanan hidup. Mungkin ada pengalaman kelam yang perlu disimpan dalam – dalam, ada kesalahan yang harus dimaafkan, ada kisah lalu yang mestinya diganti dengan lembar hidup baru, atau ada cinta usang yang sudah seharusnya dibuang. Mereka yang terjebak pada masa lalu akan lambat untuk melangkah maju. Terkadang memang ada pengalaman yang sebaiknya dilupakan, tidak sebatas diambil pelajaran dan para pecinta akan belajar untuk itu, tanpa membenturkannya dengan nilai – nilai kejujuran, keterbukaan dan kepercayaan tentunya.

Seiring dengan belajar melupakan, ada tuntutan untuk juga belajar menerima: diri, keluarga, kekurangan maupun kelebihan hingga masa lalu diri dan pasangannya. Tiada manusia yang sempurna, kekurangan pasti dimiliki. Menerima kekurangan bukan berarti sikap pasrah terhadap kekurangan, namun sikap aktif untuk melengkapi dan memperbaki sehingga kekurangan bukan hanya tidak melemahkan bahkan justru menjadi sesuatu yang menguatkan. Menerima kelebihan kedengarannya mudah dan menyenangkan, tapi sebenarnya ada beban tersimpan didalamnya. Uang yang banyak kadang tidak bermanfaat, kecantikan lahiriyah kerap membawa gundah, ilmu yang melimpahpun belum tentu berkah. Kelebihan yang tidak dikelola takkan berarti apa – apa, takkan berdayaguna.

Belajar menerima tidak lengkap tanpa belajar memberi, karena cinta adalah memberi. Belajar mencintai adalah sikap aktif mempersembahkan yang terbaik untuk yang dicintai. Mulai dari perhatian hingga perlindungan. Mencintai segala yang dicintai oleh yang dicintai dan membenci segala yang dibenci oleh yang dicintai. Atau paling tidak mentoleransinya, pun berbeda rasa dengan diri. Belajar memberi ini akan disempurnakan dengan belajar berkorban. Cinta pada dasarnya adalah suci dari Allah, kemurniaannya akan diuji dengan pembuktian berupa pengorbanan. Berkorban menjadi konsekuensi logis dari cinta dan apa yang akan diterima tidak lagi menjadi sesuatu yang diperhitungkan.

Belajar mencintai dapat dimulai sejak sebelum menikah untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Karena menikah sejatinya tidak hanya menyatukan menyatukan dua manusia, maka seyogyanya belajar mencintai juga diarahkan untuk memelihara cinta antara dua keluarga bahkan mengeratkan cinta dengan Sang Pemilik Cinta. Cinta yang berkah akan mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah warahmah. Dan pernikahan yang berkah akan senantiasa diselimuti kehangatan cinta yang indah. Cinta yang hadir dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Cinta suci yang akan terjaga hingga dipersatukan di Jannah-Nya…

* * *

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum : 21)

Jangan Lewatkan Kesempatan

“Kulihat bunga di taman, indah berseri menawan. Cantik anggun nan jelita, melambai – lambai mempesona…. Ada bertangkai mawar kaya akan wewangian, khasanah yang memerah, kuning, ungu dan merah jambu. Ada si lembut melati pantulkan putih nan suci, tebarkan harumnya yang khas tegar baja di medan ganas. Si kokoh anggrek berbaris serumpun, menanti siraman kasih sejuk air jernih. Senyum lembut dahlia palingkan gundah lara…”
(‘Bimbang’, Suara Persaudaraan)

Suatu hari, seorang guru dan seorang pemuda sedang duduk di bawah pohon di tengah padang rumput. Kemudian si pemuda bertanya, “Guru, saya ingin bertanya bagaimana cara menemukan pasangan hidup? Bisakah Guru membantu saya?”. Sang Guru diam sesaat kemudian menjawab, “Itu pertanyaan yang gampang – gampang susah”. Pemuda itu dibuat bingung oleh jawaban gurunya. Sang Guru meneruskan, “Begini, coba kamu lihat ke depan, banyak sekali rumput disana. Coba kamu berjalan kesana tapi jangan berjalan mundur, tetap berjalan lurus ke depan. Ketika berjalan, coba kamu temukan sehelai rumput yang paling indah, kemudian berikan kepada saya, tapi ingat, hanya sehelai rumput”

Pemuda itu berjalan menyusuri padang rumput yang luas. Dalam perjalanan itu dia menemukan sehelai rumput yang indah namun tidak diambilnya karena dia berfikir akan menemukan yang lebih indah di depan. Terus begitu sehingga tanpa pemuda itu sadari, ia telah sampai di ujung padang rumput. Akhirnya, dia mengambil sehelai rumput yang paling indah yang ada kemudian kembali ke Gurunya. Sang Guru berkata, “Saya tidak melihat ada yang spesial pada rumput yang ada di tanganmu”. Pemuda itu menjelaskan, “Dalam perjalanan saya menyusuri padang rumput tadi, saya menemukan beberapa helai rumput yang indah, namun saya berfikir saya akan menemukan yang lebih indah dalam perjalanan saya. Tetapi tanpa saya sadari saya telah berada di akhir padang rumput dan kemudian saya mengambil sehelai rumput yang paling indah yang ada di akhir padang rumput itu karena Guru melarang saya untuk kembali.”

Guru menjawab dengan tersenyum, “Itulah yang terjadi di kehidupan nyata. Rumput andaikan orang – orang yang ada di sekitarmu, rumput yang indah bagaikan orang yang menarik perhatianmu dan padang rumput bagaikan waktu. Dalam mencari pasangan hidup, jangan selalu membandingkan dan berharap bahwa ada yang lebih baik. Karena dengan melakukan itu kamu telah membuang – buang waktu dan ingat waktu tidak pernah kembali”

* * *

Hari berganti hari, waktu terus berputar tiada henti. Usia terus bertambah, tak terasa banyak kesempatan yang berlalu sudah. Alangkah beruntung mereka yang dapat mengoptimalkan waktu dan setiap kesempatan yang dimilikinya untuk kebaikan. Waktu dan kesempatan adalah karunia termahal yang Allah berikan kepada hamba-Nya namun kerap dilalaikan. Ketika karunia tersebut telah terlewat, baru seringkali penyesalan mengiringinya, padahal waktu dan kesempatan tidak dapat kembali meskipun ditebus dengan apapun, dengan harga berapapun. Lebih parahnya lagi, kebiasaan menyia-nyiakan waktu dan melewatkan kesempatan dapat menjadi penyakit akut yang sulit diobati. Waktu demi waktu begitu saja berlalu, kesempatan demi kesempatan begitu mudah terlewatkan. Imam Hasan Al Bashri berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kumpulan dari waktu, bila berlalu waktumu maka berlalulah sebagian dari dirimu. Dan bila sebagian sudah berlalu, maka dekat sekali akan berlalu semuanya.”

Melalaikan waktu dan melewatkan kesempatan memang tidak selalu menimbulkan kerugian yang jelas tampak, namun mereka yang memahami hakikat waktu dan kesempatan pastilah menyadari bahwa tiap jenak waktu yang tersia adalah musibah dan tiap kesempatan yang terlewat adalah kerugian. Syaikh As-Sa’di berkata, ”Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya –padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya— maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan mudharat terhadap dirinya.”

Begitu berharganya waktu dan kesempatan ini, sehingga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah berpesan kepada Ibnu Umar, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang singgah di perjalanan. Kalau engkau berada di waktu pagi jangan menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan menunggu datangnya waktu pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” Dan kesempatan ini harus dimanfaatkan sesegera mungkin, tanpa harus menundanya. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 133)

Salah satu karakter waktu adalah cepat berlalu dan salah satu karakter kesempatan adalah mudah terlewatkan. Karenanya, sikap malas dan suka menunda dalam menyikapi waktu dan kesempatan ini punya dampak lebih jauh lagi, yaitu dapat mengeraskan hati. Sehingga betapapun banyak kesempatan yang ditawarkan, masukan yang disampaikan ataupun bantuan yang diberikan, tidak akan memberikan pengaruh dikarenakan penyikapan negatif yang terpelihara tersebut. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid : 16)

Kesempatan seperti taufik dan hidayah, sumbenya dari Allah dan tidak semua orang mendapatkannya. Ketika kesempatan itu datang, yang perlu dilakukan adalah menyambutnya dalam rangka bersegera dalam kebaikan. Jika kita terus melewatkan kesempatan yang tidak selalu datang, kita akan semakin mudah untuk melewatkan banyak kesempatan lain dan pada akhirnya nanti hanya penyesalan yang ada ketika kesempatan tersebut tak lagi ada. Perlu disadari bahwa kesehatan, waktu muda, harta, kelapangan, ataupun itu terbatas. Lakukan segala hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan kesempatan yang masih diberikan sehingga menimbulkan efek bola salju kebaikan yang lebih besar. Dan Ibnu Qayyim telah mengatakan, ”Kalau ternyata segala kebaikan bersumber dari taufik, sedangkan ia berada di tangan Allah bukan di tangan hamba, maka kunci untuk mendapatkannya adalah do’a, perasaan sangat membutuhkan, ketergantungan hati yang penuh kepada-Nya, serta harapan dan rasa takut kepada-Nya”

* * *

“Kesenangan yang datang tak akan selamanya, begitulah selepas susah ada kesenangan. Seperti selepas malam, datangnya siang. Oleh itu, waktu senang jangan lupa daratan. Gunakan kesempatan untuk kebaikan sebelum segalanya terlepas dari genggaman. Kelak menyesal nanti tak berkesudahan, apa gunanya sesalan hanya menekan jiwa…” (‘Sketsa Kehidupan’, The Zikr)

Ps. Kali ini kesempatan yang diberikan jangan lagi dilewatkan begitu saja… ^_^

Tiada Alasan Tuk Menunda

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.”

* * *

Assalamu ‘alaikum wr wb. Purwo, selamat menjalankan ibadah puasa. Btw, bisa minta saran, gimana caranya kita menjalani hidup jika sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Makasih, semoga nt mendapatkan pahala” SMS tersebut masuk ke inbox saya di hari – hari awal Ramadhan, pertanyaan serius dari seorang teman SMP yang saat ini sudah menikah dan dikaruniai seorang anak. Pertanyaan seputar permasalahan hidup, konsep diri dan kesuksesan sebenarnya sudah biasa saya terima dan saya tanggapi, namun pertanyaan kali ini tidak mudah saya jawab. Secara pemahaman teoritis dan belajar dari pengalaman orang lain, saya sebenarnya dapat menjawabnya, tetapi rasanya berat dan terkesan omong kosong. Beberapa hari sebelumnya saya juga dibuat speechless ketika salah seorang ‘adik’ yang sedang hamil mengatakan bahwa dia ngidam mau lihat Kak Purwo nikah. Waduh!!

Menyegerakan Menikah
Menikah memiliki banyak keutamaan, karenanya menyegerakan menikah jika sudah mampu sangat dianjurkan. Dalam salah satu hadits riwayat Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi disebutkan bahwa salah satu dari tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah SWT adalah pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan diri. Selain perintah untuk menikah(kan), dalam Al Qur’an surah An Nisa ayat 32 secara gamblang juga disampaikan bahwa jika hanya faktor ekonomi yang menjadi penghalang seseorang untuk menikah, maka Allah Yang Maha Luas Pemberian-Nya yang akan memampukannya dengan limpahan Karunia-Nya. Bersegera memang berbeda dengan tergesa – gesa, namun lebih jauh berbeda dengan terus menunda. Berbagai keutamaan seharusnya dapat menyingkirkan berbagai keraguan dan kekhawatiran. Jika sudah siap ilmu, fisik, mental dan finansial serta keluarga sudah terkondisikan sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak menyegerakan menikah. Tak heran Umar bin Khattab r.a. menyindir keras Abu Zawaid r.a yang menunda menikah dengan mengatakan, “Tidak ada yang menghalangimu dari menikah kecuali kelemahan dan kemaksiatan”. Astaghfirullah…

Rintangan Pasti Selalu Ada
Berdasarkan pengamatan, ada beberapa faktor (selain takdir Allah tentunya) yang menyebabkan seseorang menunda untuk menikah. Faktor finansial dan akademis (masih kuliah) sepertinya bukan menjadi penghalang yang utama, toh sudah banyak rekan saya yang berhasil menghadapi dua faktor tersebut. Lalu apa? Menurut saya setidaknya ada empat factor. Pertama, faktor keluarga, mulai dari belum dibolehkan orang tua, masih harus membiayai keluarganya, ada kakaknya yang belum menikah, tidak dapat restu dari pihak keluarga hingga sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Faktor ini bisa menimpa siapa saja dan cukup pelik, tetapi bisa dan memang harus diatasi. Kedua, faktor keberanian, terlalu diliputi kekhawatiran tentang masa depan, termasuk sikap pasif/ menunggu jodoh, tidak berani mengungkapkan keinginan, takut ditolak, takut diterima dan tidak dapat memenuhi harapan, dan sebagainya. Uniknya, fenomena ini bukan hanya dirasakan mereka yang minderan dan berpikiran pendek, tetapi juga dapat menimpa orang – orang aktif dan visioner yang terlalu banyak pertimbangan. Ketiga, idealis dan terlalu memilih. Pasangan yang diharapkan harus memiliki sejumlah kriteria tertentu, mulai dari pendidikan, karakter, penampilan fisik, suku, profesi hingga hal – hal yang detail seperti kondisi pembinaan rutin, jumlah hapalan qur’an, intensitas shalat berjama’ah di masjid dan sebagainya. Banyak hal yang menciptakan berbagai kriteria tersebut, tidak hanya internal diri, tetapi juga kondisi eksternal. Keempat, seperti disampaikan Umar bin Khattab r.a., kemaksiatan. Ada dosa – dosa yang masih terus diperbuat sehingga menutup keberkahan dan pertolongan dari Allah SWT. Abstrak memang, namun sangat beralasan.

Bukan Cuma Cepat, Tetapi Juga Tepat
Jika faktor keluarga dan kemaksiatan terasa lebih pribadi (menyangkut diri sendiri) dan membutuhkan proses untuk mengatasinya, faktor keberanian dan terlalu memilih lebih memperlihatkan dimensi pemahaman dan psikologis. Fatalnya ketika tidak berani dan terlalu memilih terhimpun dalam diri seseorang, alamat akan sulit bagi orang tersebut untuk dapat meraih apa yang dicita – citakannya. Butuh penyadaran. Kekhawatiran adalah hal yang wajar karena ’perjanjian yang teguh’ memang bukan main – main, tetapi bukan berarti harus terus diturutkan, seperti ungkapan seorang teman, ”menikah itu memang tidak sesederhana yang diharapkan, tetapi juga tidak sesulit yang dikhawatirkan”. Pun demikian halnya dengan memilih, bukan sekedar wajar tetapi memang diperlukan. Hanya saja perlu diingat bahwa Allah SWT kerap kali memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Bisa jadi jodoh kita bukan seseorang yang memenuhi semua kriteria yang kita harapkan, tetapi seseorang yang tepat untuk bersama – sama memenuhi semua harapan. Aktif dan ’tidak takut’ bukan berarti ’tidak tahu malu’. Kriteriapun tidak serta merta harus diturunkan, hanya diharapkan berusaha untuk lebih bijak dalam memandang kriteria sebagai proses yang mendewasakan, tidak saklak. Keberanian dan ’keterbukaan’ ini insya Allah akan mempercepat, dan mempertepat.

Tiada Alasan Untuk Menunda
Allah SWT dan Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk bersegera dalam melalukan kebaikan, tidak kemudian menundanya. Hasan Al Bashri pernah berwasiat, “Jangan sekali – kali menunda – nunda karena Anda adalah hari ini bukan besok”. Iya, tidak ada kepastian hari esok akan datang, belum tentu kita masih diberikan kesempatan untuk beramal dan melakukan kebaikan. Memang ada skala prioritas dalam memilih kebaikan yang akan dan perlu untuk dilakukan, namun sejatinya tidak ada dikotomi antar kebaikan. Lebih dalam lagi terkait penundaan, Ibnul Jauzi mengatakan, “Jangan sekali – kali mengulur – ulur waktu, karena ia merupakan tentara iblis yang paling besar”. Penundaan akan membuka celah kelalaian dan memberikan syaithan lebih banyak kesempatan untuk memperdaya. Kewajiban kita begitu banyaknya, tidak seharusnya kita menunda menunaikan kewajiban. Ibnu ’Atha berkata, ”Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!”. Sejarah telah mengajarkan kepada kita betapa banyak orang yang tidak diberikan kesempatan untuk melakukan berbagai kebaikan dan untuk mewujudkan cita – citanya, hanya karena orang tersebut tidak bersegera dan berpikir bahwa dia dapat melakukannya di lain hari. Kembali ke tema pernikahan, Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya usiaku tinggal 10 hari lagi, maka yang lebih baik bagiku adalah segera menikah dari pada aku menjumpai Allah dalam keadaan membujang”. Semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk menjumpai Allah dalam keadaan suci dan tersucikan dengan menikahi seseorang yang terhormat (HR. Ibnu Majah)

* * *

“…Berbahagialah manusia yang tlah menemukan fitrahnya untuk membentuk keluarga yang sakinah. Menikahlah engkau segera bila saatnya telah tiba, jangan carikan alasan untuk menunda… Menikah, mengurangi dosa dan maksiat. Menikah, menyatukan bahagia dan nikmat. Rezeki manusia Allah mengaturnya, jangan takut bila kau niat untuk menikah…” (’Ayo Menikah’, Ar Rayyan)

Wallahu a’lam bishawwab
Nb : mencobamenyemangatidirisendiri

Cari Pasangan

“Cari – cari carilah pasangan hidup betul-betul oh kawan. Bahagia berseri, rumah tangga akan harmoni…” (’Cari Pasangan’, Rabbani)

* * *

Beberapa tahun lalu di sebuah tempat bernama Pusgiwa UI seorang teman bertanya kepada saya, “Wo, nt tuh kalo nanti nikah mo tipe berapa dalam berproses?” Saya hanya mengernyitkan dahi (benar ga tuh mengernyitkan?). “Lho, nt belum tau tipe – tipe ikhwah dalam berproses?”, tanyanya. “Jadi gini, tipe pertama akan bilang ke ustadznya : ustadz, ana udah siap nikah nih, tolong dicarikan. Kriterianya terserah ustadz deh, ana tsiqoh aja. Tipe kedua, dia akan bilang ke ustadznya : ustadz, ana udah siap nikah nih, tolong dicarikan yang kriterianya begini, begitu dan seterusnya”, jelasnya. “Lalu?”, saya yang mulai paham arah pembicaraan jadi penasaran. “Tipe ketiga, dia akan bilang ke ustadznya : ustadz, ana udah siap nikah nih, tolong bantu proses ama ‘yang itu’ ya. Tipe keempat akan bilang ke ustadznya : Afwan ustadz, ana akan segera nikah nih, ini undangan pernikahan ana”, lanjutnya. “Hehehe, parah. Kalo tipe kelima?”, tanya saya. “Dia akan bilang : Afwan ustadz, ini undangan aqiqah anak ana…”, jawabnya asal ^_^

Ada lagi yang tak kalah seru. Tipe berproses ikhwah dalam perspektif jari tangan. Pertama, tipe jempol, dia akan bilang ke ustadznya, “Ustadz, ana udah siap nikah, monggo ustadz, dipilihkan saja…”, sambil mengacungkan ibu jarinya. Kedua, tipe telunjuk, dia akan bilang ke ustadznya, “Afwan ustadz, ana siap proses ama akhwat ‘yang itu’”, sambil mengacungkan telunjuknya ke akhwat yang diincarnya. Ketiga, tipe kelingking, dia akan bilang ke ustadznya, “Afwan ustadz, ana udah janjian ama akhwat ‘yang itu’”, sambil mengaitkan kedua jari kelingkingnya. Keempat, tipe jari manis, dia akan bilang ke ustadznya, “Afwan ustadz, ana udah tunangan, insya Allah dua bulan lagi akan walimah”, sambil menunjukkan cincin di jari manisnya. Terakhir, tipe jari tengah, dia akan bilang ke ustadznya, “Antum ga usah ikut campur deh, stadz!”, sambil mengacungkan jari tengahnya ^_^

* * *

Pembicaraan tentang pernikahan memang seolah tidak ada habisnya, khususnya di kalangan jomblo – jomblo ceria. Alih – alih memotivasi, kerap kali malah kontraproduktif. Perbincangan tentang pilihan cara untuk berprosespun tidak jarang jadi bahasan seru. Mulai dari saling mengemukakan dalil syar’i hingga membandingkan guru ngaji. Antara konvensional dengan modern. Saya sendiri memposisikan guru ngaji sebagai salah satu komponen yang perlu diperhatikan tetapi bukan penentu. Diskusi tentang ini bisa jadi panjang, namun bukan itu inti yang hendak saya sampaikan tetapi terkait dengan cara/ proses memilih pasangan (cara/ proses, bukan kriteria, kalo kriteria saya sementara ini masih pake kriteria JELITA lah ^_^).

Rasulullah sendiri dalam beberapa hadits menyebutkan bahwa pasangan memang harus dipilih. Salah satu panduan sederhana Rasulullah diperlihatka dalam Hadits Muttafaqun Alaih yang menyebutkan bahwa wanita itu dinikahi karena hartanya, kecantikannya, keturunannya dan agamanya. Maka Rasulullah menganjurkan untuk memilih yang baik agamanya agar kamu selamat. Atau seperti salah satu pesan Utsman bin Affan r.a kepada anaknya, ”Wahai anakku, orang yang menikah itu ibarat orang yang menanam pohon. Ia harus meneliti dulu dimana harus meletakkan tanamannya itu. Benih (sperma) yang tidak berkualitas jarang sekali menghasilkan anak yang cerdas. Oleh karena itu carilah ladang yang bagus dan subur, sekalipun dalam proses pencarian itu kamu menghabiskan waktu yang lama”. Memang dipilihkan juga pernah ada dalam sejarah, salah seorang shahabat yang meminta Rasulullah yang memilihkan.

Terlepas dari perbedaan pandangan tentang memilih atau dipilihkan; lewat jalur murabbi, teman atau mencari sendiri, satu hal yang perlu diperhatikan adalah baiknya proses. Karena keberkahan dan rahmah ada di baiknya proses. Dan proses yang dimaksud meliputi proses mencari, memilih, berkenalan, meminang hingga ketika dan setelah menikah. Jadi penekanannya adalah bagaimana proses itu dijalani, bukan siapa yang memilihkan atau lewat jalur mana. Karena sudah sunatullah, baiknya niat yang didukung dengan baiknya proses akan mendukung baiknya hasil. Jadi, mari luruskan niat dan perbaiki proses agar hasilnyapun optimal. Sakinah mawaddah warahmah. Bukan hanya bagi yang belum dan akan menikah, namun juga bagi yang telah menikah.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum : 21)

Wallahu a’lam bishawwab