Category Archives: hikmah perjalanan

Antara Teknik Industri dan Non-Governmental Organization

Industrial and systems engineering is concerned with the design, improvement and installation of integrated systems of people, materials, information, equipment and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physical, and social sciences together with the principles and methods of engineering analysis and design, to specify, predict, and evaluate the results to be obtained from such systems. (IISE Official Definition)

Lulusan Teknik Industri kok malah kerja di Dompet Dhuafa?”, begitu pertanyaan yang kerap diterima penulis setelah menyampaikan terkait latar belakang pendidikan. Sebagai manajer program mudah saja menjawab bahwa dalam mengelola program dibutuhkan berbagai keterampilan manajemen, mulai dari manajemen strategis, SDM, produk, keuangan, hingga manajemen pemasaran, dan kesemuanya itu relevan dengan pelajaran pada bangku kuliah. Belum lagi berbagai sistem manajemen yang diterapkan lembaga, mulai dari ISO 9001, Malcolm Baldrige, hingga Knowledge Management sangatlah sesuai dengan keilmuan Teknik Industri. Tapi kok rasanya ada yang kurang lengkap dari jawaban tersebut, setidaknya lulusan Manajemen juga bisa saja menjawab hal serupa. Lalu, apa bedanya dengan lulusan Teknik Industri?

Setelah cukup lama tidak mengkaji lebih dalam mengenai kompetensi keilmuan Teknik Industri, akhir pekan lalu penulis berkesempatan menghadiri Workshop Alumni untuk mengevaluasi kurikulum S1 Teknik Industri UI. Diskusi alumni lintas generasi (dari angkatan 1975 hingga 2016) ini dilakukan untuk melengkapi persyaratan akreditasi internasional ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology, Inc.), sesudah akreditasi nasional dan regional ASEAN telah diperoleh. Untuk memperkaya gagasan, peserta pun dipilih lintas industri, dan –seperti perkiraan—hanya penulis yang berasal dari Non-Governmental Organization (NGO) mewakili sektor ketiga.

Ada hal yang cukup ‘menenangkan’ dari hasil diskusi, ternyata hanya sekitar 5 – 10% keilmuan Teknik Industri yang diajarkan di bangku kuliah yang langsung terpakai di dunia kerja. Memang ada bagian spesifik di industri yang bisa meningkatkan kesesuaian ini hingga 50%, misalnya bagian Supply Chain Management (SCM). Pun demikian, kebutuhan akan lulusan Teknik Industri sangatlah tinggi. Bahkan beberapa perusahaan manufaktur lebih mencari HRD yang berlatar belakang Teknik Industri dibandingkan Psikologi, atau beberapa industri keuangan yang justru memilih lulusan Teknik Industri dibandingkan Manajemen. Added value lulusan Teknik Industri terletak pada kemampuan untuk memodelkan permasalahan secara unik dalam kerangka sistem atau sederhananya “kemampuan berpikir sistem”.

Tidak mengherankan Institute of Industrial Engineering (IIE) yang merupakan acuan perekayasa industri resmi berganti nama menjadi Institute of Industrial and Systems Engineering (IISE) sejak April 2016. Teknik Industri pun berkembang menjadi Teknik Sistem dan Industri. Rekayasa sistem mulai dari Man, Material, Machine, Method, Money dan Environment pun menjadi relevan diajarkan secara menyeluruh. Menyoal sistem memang luas, pun tidak dalam. Karenanya di Teknik Industri diajarkan multi disiplin ilmu, termasuk berbagai tantangan masa depan seperti persaingan, inovasi, hingga teknologi digital. Keilmuan yang generalis (tidak spesialis) ini memang merupakan kekurangan yang justru menjadi keunggulan kompetitif lulusan Teknik Industri. Bagaimanapun, lulusan S1 memang harus melalui proses untuk mampu bekerja. Kemampuan melihat lingkup kerja sebagai suatu sistem yang komprehensif dan integral tentu akan mempercepat proses tersebut.

Lalu apa kaitannya Teknik Industri dengan NGO? Sektor ketiga saat ini masih menjadi sektor yang termarjinalkan dibandingkan sektor privat ataupun sektor publik. Beberapa pihak masih memandang sebelah mata tentang penerapan sistem manajemen dalam suatu lembaga non profit yang terkesan kental dengan budaya kekeluargaan, yang seakan berlawanan dengan kultur profesional. Padahal hal mendasar yang membedakan sektor ketiga dengan sektor publik hanya terletak pada sumber dana dan status pengelolanya. Tata kelola yang profesional, transparan dan akuntabel tetap menjadi keharusan. Penguatan sistem manajemen pun perlu dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan dan terus melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Bisnis proses mulai dari supplier, input, proses, output hingga sampai ke customer pun sama dengan industri jasa ataupun manufaktur. Tahapan pengelolaan program mulai dari perencanaan hingga evaluasi pun sama dengan pengelolaan produk barang ataupun jasa. Singkatnya, NGO pun bergerak dalam kerangka sistem, dan dimana ada sistem, ada peran perekayasa industri yang menyertainya.

Lantas mana yang paling utama dari ketiga sektor tadi? Tidak ada. Semuanya bersinergi untuk saling membangun. Dan semua sektor tersebut butuh pengelolaan sistem yang handal. Ketika pengelolaan sistem ini sudah menjadi keniscayaan di sektor publik, apalagi di sektor privat, maka keberadaan perekayasa sistem di sektor ketiga menjadi sangat penting untuk menghadirkan keseimbangan. Sebab seluruh komponen kemajuan pembangunan di seluruh sektor kehidupan sejatinya terhimpun dalam sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan, pun ditopang oleh berbagai (sub) sistem lainnya. Dan di setiap (sub) sistem itulah perekayasa sistem dapat mengambil peran untuk menghadirkan perbaikan, termasuk di NGO. Untuk masa depan yang lebih baik. There is no best, but better.

Engineers make things, industrial engineers make the things better

Tarhib Ramadhan Anti-Mainstream

Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa mereka yang kumpulkan (dari harta benda).” (QS. Yunus: 58)

Tak terasa, dalam hitungan hari Ramadhan akan kembali menyapa. Bulan yang penuh berkah dan Rahmat dari Allah SWT. Kaum muslimin pun ramai menyambutnya. Salah satu perwujudannya adalah dengan mengadakan kegiatan Tarhib Ramadhan. Dalam Kamus Al Munawir, kata tarhib berasal dari fi’ilrahiba, yarhabu, rahbun”yang berarti luas, lapang dan lebar. Dan selanjutnya menjadi fi’ilrahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. Menurut Kamus Al-Munjid, kata tarhib merupakan masdar dari akar kata rahaba (menyambut) yang mengandung makna penyambutan. Istilah Tarhib Ramadhan kian populer, bahkan sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akhir pekan lalu saja penulis dapat empat undangan Tarhib Ramadhan yang waktunya bersamaan. Belum ditambah pekan sebelumnya dan pekan ini. Sayangnya, popularitas ini terasa berbanding terbalik dengan esensi dari tarhib itu sendiri. Ya, belakangan ini tarhib semakin terasa hanya sebagai kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kehilangan jati dirinya sebagai salah satu check point Ramadhan.

Eksklusifitas mungkin memang membuat sesuatu lebih terasa spesial dan berkesan. Tapi formalitas Tarhib Ramadhan juga dipengaruhi oleh konten yang kurang variatif. Bisa dibilang hanya pawai Ramadhan yang kreatif dan saling memaafkan yang esensial, selebihnya –terutama kajian dan ceramahnya—nyaris tak ada perubahan dari waktu ke waktu. Ceramahnya tidak jauh-jauh dari dimulai dengan Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, dilanjutkan dengan keutamaan puasa, misalnya dengan hadits “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari – Muslim), kemudian diakhiri dengan bekal yang harus disiapkan mulai dari ruhiyah, fikriyah, jasadiyah hingga maaliyah.

Pengingatan akan bekal Ramadhan bukannya tidak penting. Mempersiapkan bekal bahkan sangat penting. Hanya saja ukuran keberhasilan suatu kegiatan tidaklah diukur hanya dari terselenggaranya kegiatan, atau bahkan banyaknya peserta yang datang. Ada efektifitas kegiatan yang perlu jadi perhatian. Dalam hal ini pengulangan informasi tentang bekal Ramadhan akan kehilangan makna karena pengetahuan akan hal tersebut sudah cukup. Ibarat air dalam wadah yang justru luber karena kebanyakan air. Tidak efektif dan tidak efisien. Butuh kreativitas agar wadahnya semakin membesar. Sehingga dalam konteks efektifitas, memastikan peserta memiliki bekal yang cukup lebih penting dibandingkan menginformasikan bekal yang harus dimiliki, berulang-ulang.

Contoh lebih teknis. Jika fokus Tarhib Ramadhan memastikan peserta memiliki bekal ilmu tentang Ramadhan yang mumpuni, alih-alih menggunakan metode ceramah, metode permainan bisa jadi lebih efektif dan menarik. Sekadar diberikan buku panduan Ramadhan kemungkinan tidak akan dibaca, tapi jika dilombakan maka akan lain ceritanya. Misalnya dengan lomba cerdas cermat setelah sebelumnya peserta diberikan kisi-kisi pertanyaan. Peserta akan aktif mencari informasi akan pengetahuan Ramadhan dibandingkan pasif mendengarkan ceramah. Peserta yang ‘tak ingin menang’ sekalipun akan berusaha untuk ‘tidak memalukan’. Selepas kegiatan, akan lebih banyak bekal ilmu yang diperoleh peserta. Dengan kegiatan yang lebih menyenangkan pula.

Jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal fisik peserta. Sekadar pengetahuan akan pentingnya bekal fisik belum tentu linier dengan bekal fisik yang dimiliki. Akan lebih efektif jika konten tarhibnya berupa pemeriksaan kesehatan. Sambil menunggu jadwal konsultasi kesehatan, ada berbagai media visualisasi tentang berbagai tips sehat selama menjalani ibadah Ramadhan. Misalnya menu sehat sahur dan buka puasa, pengaturan waktu istirahat yang ideal, mengatasi penyakit musiman di bulan Ramadhan, dan sebagainya. Akan lebih baik lagi jika sebelumnya ada penugasan bagi peserta terkait persiapan fisik, sehingga paska kegiatan bekal fisik peserta lebih dapat dipastikan terpenuhi.

Pun demikian jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal ruhiyah atau maaliyah peserta, kontennya bisa menyesuaikan dengan tujuan kegiatan, tidak melulu harus ceramah. Untuk penguatan ruhiyah misalnya, mungkin perlu ada agenda muta’baah dan muhasabah dengan nuansa ruhiyah yang benar-benar dimunculkan. Jauh dari kegaduhan dan mencerahkan. Tarhib Ramadhan juga bisa dikuatkan dengan tips trik yang aplikatif. Misalnya tarhib Ramadhan yang fokus pada tema ‘Ramadhan bersama keluarga’. Kontennya bisa jadi terkait puasa dan pendidikan keluarga, bagaimana mempersiapkan anak untuk berpuasa, silaturahim produktif dan sebagainya. Semakin fokus, semakin efektif. Intinya, selepas tarhib Ramadhan ada nilai tambah yang diperoleh peserta, tidak sekadar menggugurkan kewajiban.

Tarhib Ramadhan sejatinya alur yang tidak terpisah dari pembinaan selama bulan Ramadhan, kecuali jika dilakukan sebatas formalitas. Sebagaimana dalam gerakan senam, perlu ada pemanasan sebelum masuk ke bagian inti (dan pendinginan). Tanpa pemanasan, pesenam akan rentan cidera. Tapi pemanasan yang asal-asalan tidak ada manfaatnya, malah bisa mengganggu keseimbangan tubuh. Ibarat tulisan, pengantar atau pendahuluan ini menjadi penting sebab jika langsung masuk ke bagian isi akan terasa ada sesuatu yang terputus. Tapi pengantar atau pendahuluan yang cuma basa-basi tidaklah sepenting itu. Semoga bekal kita cukup untuk mengarungi samudera Ramadhan. Sehingga kita dapat tiba di tujuan dengan kondisi yang lebih baik. Marhaban Ya Ramadhan.

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Kaleidoskop 2016 Kelabu (2/2)

Ironisnya, di tengah banyaknya musibah yang membawa korban jiwa dan kerugian yang tidak sedikit, akal sehat dan sisi kemanusiaan juga banyak terkikis di tahun ini. Lihat saja rentetan aksi teror bom di tahun ini, baik di dalam maupun luar negeri (Turki, Bangladesh, Irak, Madinah, dll) yang menyisakan banyak keganjilan sekaligus menciderai kemanusiaan. Di Indonesia, tahun 2016 diawali dengan kasus bom sarinah menyusul maraknya isu tentang ISIS dan Gafatar. Isu teroris ‘abal-abal’ pun terus dijaga momentumnya sepanjang tahun mulai dari kasus bom Solo, bom molotov gereja Samarinda hingga kasus bom panci Tasikmalaya di akhir tahun. Kasus vaksin palsu yang sempat mencuat juga menciderai kemanusiaan. Kok tega? Namun ternyata di akhir tahun kemanusiaan semakin terkapar. Tragedi yang terjadi di Rohingnya (Myanmar) dan Aleppo (Suriah) sungguh tak manusiawi. Tragisnya lagi, tragedi kemanusiaan sebenarnya juga masih terjadi di berbagai penjuru dunia, di antaranya Sudan Selatan, Yaman, Nigeria, Somalia, Libya, Turki, Afghanistan dan Irak.

Tak hanya kemanusiaan yang terkikis di tahun 2016 ini, akal sehat pun setali tiga uang. Lihat saja hampir sepanjang tahun masyarakat Indonesia disuguhi ‘sinetron’ kopi sianida yang entah apa signifikansinya terhadap kemajuan bangsa. Masih mendingan drama ‘Papa Minta Saham’ yang mempergilirkan jabatan Ketua DPR, setidaknya serialnya tidak terlalu banyak pun rentang waktunya panjang. Atau skandal penunjukkan menteri dengan masalah kewarganegaraan sehingga dicopot, dan diangkat lagi menjadi wakil menteri beberapa bulan kemudian. Sangat dramatis. Ada lagi kasus penipuan bermodus penggandaan uang yang begitu dibela oleh seorang ‘cendekia’. Tidak habis pikir. Belum lagi jika kita tengok beberapa kasus ‘kecelakaan’ (jika tidak bisa disebut sebagai kebodohan) yang terjadi di tahun ini, misalnya tewasnya peserta lomba makan karena tersedak, atau pemuda yang menemui ajalnya setelah diikat di tiang lampu beraliran listrik dan diguyur air oleh teman-temannya yang ingin merayakan ulang tahunnya. Akal sehat entah kemana.

Lebih menyedihkannya lagi, tahun 2016 adalah tahun karamnya kapal keadilan hukum. Betapa banyak ketidakadilan terjadi dimana mafia hukum banyak bermain dan hukum masih tebang pilih. Bukan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, tapi tajam kepada pihak tertentu dan tumpul kepada pihak tertentu. Kasus penyalahgunaan kewenangan memang sarat intrik dan kepentingan, namun ketika kepentingan masyarakat banyak tidak dikedepankan yang muncul adalah ketidakpercayaan publik terhadap supremasi hukum. Salah satu kasus hukum yang mendapat sorotan serius di akhir tahun ini adalah terkait penistaan agama, bukan terkait korupsi Sumber Waras ataupun penyalahgunaan kewenangan terkait izin reklamasi, pun menyeret oknum yang sama. Dalam hal ini, pemerintah seakan tersandera oleh sosok Petahana Gubernur DKI. Muncul Aksi Bela Islam yang melibatkan jutaan massa hingga aksi tandingannya, dan berbagai dinamika berbangsa dan bernegara di penghujung tahun 2016.

Lalu, bagaimana dengan tahun 2017? Bisa jadi kelabu kian hitam pekat, atau transisi menuju putih bersih, atau keduanya. Tapi tampaknya 2017 belum akan langsung putih bersih. Pelangi memang akan muncul setelah turunnya hujan, namun pastikan ada mentari yang menyinari dan rinai yang menyertai. Karena pelangi tidaklah muncul begitu saja selepas hujan. Isra Mi’raj memang menjadi hadiah indah selepas ‘Aamul Huzni (tahun duka cita). Namun di antaranya, ada ujian yang kian menghebat. Pekatnya malam memang menandakan akan segera terbit cerahnya mentari. Namun di antaranya ada waktu di antara dua tanduk setan, dimana manusia banyak yang lalai dan musibah banyak terjadi. Dan diantaranya juga ada waktu dimana seorang hamba akan begitu dekat dengan Rabb-nya, waktu dimana dosa diampuni dan do’a diijabah. Ya, kelabu mungkin tak akan segera sirna, namun cahaya kemenangan itu semakin dekat. Insyaa Allah…

…Jangan dipikir derita akan berpanjangan, kelak akan membawa putus asa pada Tuhan. Ingatlah biasanya kabut tak berpanjangan, setelah kabut berlalu pasti cerah kembali. Ujian adalah tarbiyah dari Allah. Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya. Kesenangan yang datang selepas kesusahan, semuanya adalah nikmat dari Tuhan” (‘Sketsa Kehidupan’, The Zikr)

Kaleidoskop 2016 Kelabu (1/2)

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. Al Hadid: 22-23)

Baru 15 hari tahun 2016 berjalan, kabar duka itu datang. Ayahku pergi untuk selamanya, menemui Rabbnya. Kala itu jiwaku begitu hampa, hingga ketika memandikannya pun aku masih tak percaya. Baru ketika menguburkannya lah entah mengapa air mata ini tiba-tiba mengalir seakan tak bermuara. Bahkan hingga saat ini, hampir setahun setelah kepergiannya, setiap kali berkunjung ke rumah orang tua, perasaan bahwa beliau masih ada tetap terasa. Di hari-hari selanjutnya sepanjang 2016 juga seakan tidak terhitung bacaan istirja’ yang kuucapkan, mulai dari teman, orang tua dari teman ataupun tetangga hingga beberapa tokoh yang inspiratif meninggal di tahun ini. Beberapa waktu lalu dalam acara shubuh keliling, Kepala Rukun Warga menyampaikan bahwa kas RW untuk uang duka habis karena banyak sekali yang meninggal dunia di tahun ini. Di akhir tahun ini pun keluargaku kembali berduka karena suami dari keponakan ayahku meninggal dunia karena sakit yang sudah cukup lama dideritanya.

Tahun 2016 adalah tahun penuh duka. Bukan hanya aku yang merasakan, tapi mungkin seruruh dunia. BBC melansir sepanjang tahun 2016 ada lebih dari 42 orang terkenal yang meninggal dunia. Dalam rekap tim obituari BBC, jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan data tahun-tahun sebelumnya. Wikipedia Indonesia bahkan sudah me-list 94 nama tokoh yang meninggal pada rentang Januari hingga Oktober 2016.

Sebut saja nama-nama seperti Boutros Boutros Ghali (mantan Sekjen PBB), Nancy Reagan (mantan ibu Negara AS), Islam Karimov (Presiden Uzbekistan Pertama), Shimon Peres (mantan PM Israel), Fidel Castro (mantan presiden Kuba) yang meninggal di tahun 2016. Raja Thailand, Bumibol Adulyadej (88 tahun) yang telah memimpin selama tujuh dekade juga menghembuskan nafas terakhir di tahun ini. Thailand pun menetapkan masa berduka selama setahun dengan pengibaran bendera setengah tiang selama 30 hari.

Daftar mantan Kepala Negara yang meninggal di tahun ini terbilang banyak, di antaranya Merab Chigoev (Ossetia Selatan), Oscar Humberto (Guatemala), Patricio Alywin (Chili), Patrick Manning (Trinidad Tobago), Michel Rochard (Perancis), Thorbjorn Fallldin (Swedia), Alphons Egli (Swiss), S. R. Nathan (Singapura), Carlo Azeglio Ciampi (Italia), Antonio Mascarenhas Monteiro (Tanjung Verde), dan Sixto Duran Ballen (Ekuador). Sedikitnya lima tokoh penerima nobel pun menghembuskan nafas terakhirnya di tahun ini.

Indonesia juga kehilangan banyak tokoh, baik yang masih aktif maupun sudah purna tugas. Sebutlah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Husni Kamil Malik yang meninggal di usia 40 tahun dan masih aktif. Ada pula Muhammad Sani (Gubernur Kepulauan Riau) dan Utje Hamid Suganda (Bupati Kuningan) yang berpulang dalam keadaan masih menjabat. Selain itu, tahun ini Indonesia juga kehilangan Jacob Nuwawea (mantan Menakertrans), Adi Sasono (mantan Menkop dan UKM), Maftuh Basyuni (mantan Menag), Sutan Bhatoegana (mantan anggota DPR RI) dan Ali Musthafa Ya’qub (Imam Masjid Istiqlal).

Tahun 2016 juga menjadi tahun kelabu di dunia olahraga, ditandai dengan meninggalnya legenda tinju, Muhammad Ali, dan legenda sepakbola, Johan Cruijff. Tragedi yang hampir menewaskan seluruh pemain dari tim (calon) juara Copa Sudamericana di penghujung tahun seakan melengkapi duka di tahun ini. Pesawat yang ditumpangi seluruh personil tim Chapecoense (Brazil) jatuh karena kehabisan bahan bakar dalam perjalanan menyambangi kandang Atletico Nacional di Kolombia. Dunia hiburan, baik dalam maupun luar negeri juga berduka, sebut saja nama David Bowie, Alan Rickman, Budi Anduk, Deddy Dores, Mike Mohede, dan Eddy Silitonga yang meninggal di tahun ini.

Bumi pun seakan ikut berduka, musibah dan bencana alam silih berganti datang. Hampir semua jenis bencana terjadi di tahun ini. Amerika merasakan mulai dari badai salju dan badai Matthew, banjir Lousiana, hingga kebakaran hutan di California dan Tennessee. Gempa besar terjadi di berbagai penjuru bumi, mulai dari Taiwan, Ekuador, hingga Italia. Belum lagi gempa disertai tsunami di Fukushima – Jepang, dan Selandia Baru. Indonesia tahun ini juga penuh bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 5578 gempa terjadi sepanjang tahun 2016 termasuk gempa Mentawai dan Aceh yang terbilang besar. Banjir juga terjadi di penjuru nusantara, mulai dari Aceh, Riau, Bangka, Jakarta, Bandung, Garut, Jawa Timur hingga Bima. Belum lagi bencana lain seperti letusan Gunung Sinabung ataupun longsor Purworejo dan Banjarnegara. BNPB menyebut sudah terjadi 2.342 bencana sepanjang tahun 2016 di Indonesia. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang tidak pernah menembus angka 2000 bencana.

(bersambung)

Dakwah, Keteladanan dan Kemanusiaan

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung
(QS. Ali Imran: 104)

Ayat di atas merupakan salah satu ayat yang memuat kewajiban untuk berdakwah. Para da’i dan mubaligh tentunya familiar dengan ayat tersebut. Namun satu hal yang berlu dicermati adalah kata “yad’una ilal khair” atau menyeru kepada kebaikan, dan bukan “yad’una ilallah” atau menyeru kepada Allah. Hal ini menunjukkan adanya dimensi keteladanan dan kemanusiaan yang menjadi prioritas dalam berdakwah. Demikian sepenggalan sharing session dari Dr. Hamid Slimi, Ketua Dewan Imam Masjid di Kanada asal Maroko dalam kegiatan Cordofa Islamic Conference (CIC) 2016 yang membahas tentang dinamika dakwah dan kebebasan beragama bagi WNI di luar negeri.

Service to humanity is service to Allah”, demikian ungkap Dr. Slimi. Menurutnya, dakwah Islam di Indonesia jauh berbeda bila dibandingkan dakwah Islam di Negara mayoritas nonmuslim dimana diskriminasi dan perbuatan tak menyenangkan lainnya begitu mudah menimpa umat Islam, terutama yang menampakkan simbol keislaman, mulai dari nama hingga pakaian. Ditambah lagi, media-media asing kerap memberi citra negatif terhadap Islam dan umat Islam. Karenanya dakwah dengan menunjukkan keteladanan, kesantunan dan kebaikan hati terhadap umat manusia, tidak hanya ke sesama muslim, lebih efektif dalam meluruskan pemahaman tentang Islam. Dibandingkan berkoar-koar mengklaim diri lebih baik seraya sibuk mencari kesalahan umat lain.

Da’watunnas ilallah bil hikmah wal mau’izhatil hasanah hatta takfuru biththaghut wayu’minu billah liyukhriju minazh zhulumatil jahiliyah ila nuril Islam. Begitu definisi dakwah yang selama ini saya pahami. Ternyata fokus ke what dan why yang menguatkan goals (kepada Allah), output (mengingkari thaghut dan hanya beriman kepada Allah) dan outcome (mengeluarkan dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam) tidaklah cukup. Tauhid memang fondasi, namun who (menjadikan manusia sebagai objek dakwah, bukan cuma muslim) dan how (dengan hikmah dan pelajaran yang baik) juga layak diperhatikan. Bahkan jika perintah dakwah dalam surah Ali Imran ayat 104 di atas menggambarkan sebuah urutan, maka keteladanan, hikmah dan perbuatan baik harus lebih dulu dilakukan sebelum amar ma’ruf nahi munkar. Dan ma’ruf yang paling utama adalah tauhid.

Keteladanan, kebaikan dan kemanusiaan akhirnya menjadi bahasa dakwah yang dapat dipahami dan diterima semua golongan. Dalam Al Qur’an terdapat surah Al Insan (manusia) yang sarat dengan nilai kemanusiaan. Dalam ayat ke 8 – 11 Surah ke 76 tersebut, Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan (sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.” Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan”.

Dakwah dengan memberi dan melayani sebelum menyeru dan menyampaikan ini menjadi penting terutama di lingkungan yang heterogen, banyak masyarakat awam, atau bahkan dimana muslim menjadi minoritas. Bagaimanapun perbuatan dan kontribusi nyata lebih menimbulkan kesan kuat dibandingkan sekedar kata dan wacana. Bisa dibayangkan sulitnya mendakwahkan Islam kepada mereka yang kebutuhan dasarnya saja belum terpenuhi. Aksi nyata seorang muslim dalam membantu menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan riil tentu akan menjadi metode dakwah yang lebih efektif. Dakwah seperti inilah yang menginspirasi banyak manusia. Lihat bagaimana Rasulullah SAW masih dipercaya menjaga barang-barang kaum kafir Quraisy, atau bagaimana beliau menjenguk orang yang senantiasa melemparinya dengan kotoran, atau bagaimana beliau melayani makan wanita Yahudi buta yang selalu mencelanya. Tidak salah organisasi sebesar Muhammadiyah mengusung teologi Al Ma’un yang kental nilai kemanusiaan. Tidak heran masyarakat nonmuslim di berbagai Negara mendukung isu keumatan yang dilabeli isu kemanusiaan. Akan jauh berbeda jika fokus dakwah ada di ranah halal haram, jihad, apalagi takfiri.

Indonesia punya peran strategis untuk mencitrakan Islam yang Rahmatan lil ‘alamin. Sebagai Negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, harapan kebangkitan Islam dari Indonesia (yang disebut Rasulullah SAW sebagai panji-panji hitam dari timur, semoga) tentu sangat besar. Stereotip bangsa Arab yang keras dan kaku di satu sisi namun hedon di sisi lain tidaklah melekat di muslim Indonesia. Di berbagai Negara minoritas Islam, muslim Indonesia yang lebih luwes dan inklusif juga lebih diterima oleh semua golongan, berbeda dengan muslim Negara Islam yang umumnya eksklusif. Gerakan solidaritas muslim yang kerap digagas berbagai elemen di Indonesia tentu juga memperkuat aspek kemanusiaan yang sifatnya universal. Belum lagi potensi sumber daya yang melimpah dan bisa dijadikan kekuatan umat yang diperhitungkan. Lihat bagaimana #AksiSuperDamai212 menjadi perhatian dunia. Bukan karena banyaknya pekik #TangkapAhok, namun bagaimana jutaan manusia bisa tertib terorganisir dan mengindahkan etika. Keteladanan yang menginspirasi dan kebaikan dalam memanusiakan manusia semoga saja semakin masif guna mewujudkan masyarakat yang tertata dalam naungan kebaikan Islam. Mungkin tidak mengislamkan seluruh umat manusia, namun terus menebar kebermanfaatan sehingga Islam –dengan atau tanpa disadari– menjadi sendi-sendi yang mengokohkan tatanan sosial kemasyarakatan. Dan semoga kita termasuk golongan umat yang istiqomah menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin” (QS. Al Ma’un: 1 – 3)

Belajar dari Abilitas Penyandang Disabilitas

“Dia yang Mau Menerima Saya Apa Adanya!”, judul tulisan dari salah seorang kawan tiba-tiba terlintas ketika ku menghadiri Grand Launching ThisAble Creative di Unpad Training Center. Tidak mengherankan, karena tulisan tersebut baru dikirim sehari sebelumnya. Tulisan mengenai berbagai penolakan dan pertanyaan sensitif yang mengiringi hidup seorang penyandang disabilitas. Sekaligus ungkapan kesyukuran atas hadirnya pendamping hidup dan keluarganya yang begitu tulus menerimanya. Tulisan dari seorang teman penyandang disabilitas yang begitu produktif menulis. Penulis novel ‘Sepotong Diam’ dan ‘Masih Ada’ sekaligus founder One Day One Post Community.

ThisAble Creative (TAC) merupakan sebuah gerakan sosial yang diinisiasi oleh penerima Beasiswa Aktivis Nusantara – Dompet Dhuafa, Regional Bandung. Gerakan ini bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat difabel dalam memunculkan potensinya sehingga lebih mandiri dan dapat menciptakan inklusifitas di tengah masyarakat. Dalam acara grand launching bertemakan “Commemorate the Extraordinary” ini dilakukan penyerahan kaki palsu yang dibuat handmade oleh difabel dan untuk difabel, sharing inspirasi oleh para penyandang disabilitas, serta launching tas TAC yang dibuat langsung oleh para difabel.

diskriminasi difabel

Di tengah hiruk pikuk isu diskriminasi SARA jelang Pilkada DKI yang sepertinya mencoba mengalihkan isu penistaan agama yang dilakukan oleh petahana, diskriminasi terhadap para difabel seolah luput dari hiruk pikuk. Padahal para penyandang disabilitas sangat rentan terhadap tindak diskriminatif, bahkan tindak kriminal. Pelecehan dan diskriminasi yang kadang dirasakan oleh jomblowan dan jomblowati jelas jauh lebih ringan dibandingkan apa yang menimpa para penyandang disabilitas. Lingkaran setan kemiskinan berputar di sebagian besar para difabel. Mencoba memperbaiki nasib, akses terhadap pekerjaan terbatas. Hendak memutus rantai kemiskinan, akses terhadap pendidikan juga terbatas. Belum lagi terbatasnya akses fasilitas dan sarana layanan publik, ditambah berbagai stigma negatif yang dilekatkan kepada para difabel, menambah panjang daftar tindak diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas.

Berbeda dengan isu SARA yang kental nuansa keyakinan dan budaya yang dogmatis, diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas semestinya tidak perlu terjadi karena disatukan oleh isu kemanusiaan yang universal. Kesetaraan, saling membutuhkan dan saling membantu. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Artinya ketidaksempurnaan fisik tidak seharusnya menjadi pembeda. Sayangnya keangkuhan acapkali menghijabi kesyukuran, rasa gengsi kerapkali menutupi rasa empati, alhasil diskriminasi terus terjadi. Padahal dari penuturan para penyandang disabilitas, mereka tidak ingin diistimewakan. Mereka hanya ingin dimanusiakan, bukan sebagai orang cacat yang layak dihujat, bukan epidemi yang harus dijauhi, bukan komunitas terzholimi yang minta dikasihani, juga bukan bangsawan yang segala sesuatunya harus disediakan. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia. Peduli dan dipedulikan, mencintai dan dicintai.

Dan hari ini aku belajar banyak akan arti kesempurnaan dari ketidaksempurnaan. Salah seorang penerima kaki palsu sudah hapal lebih dari 5 juz Al Qur’an, ada juga juara paralympic yang sudah mengharumkan nama bangsa. Sementara mereka yang (katanya) ‘sempurna’ justru belum menorehkan karya apa-apa. Sekali lagi aku diingatkan bahwa setiap manusia dikaruniai kelebihan dan kekurangan. Ya, kekurangan hakikatnya adalah karunia jua, bukan aib. The extraordinary people bukanlah mereka yang tidak punya kekurangan, tetapi merekayang memiliki kekurangan namun bukannya menjadi kelemahan, namun justru menjadi kekuatan. Dan ternyata para penyandang disabilitas ini memiliki potensi yang luar biasa, menjadikannya memiliki abilitas yang tidak kalah dari para ‘penyandang non-disabilitas’. Allah Maha Adil, Dia melengkapi segala kekurangan dengan sesuatu yang setimpal…

I firmly believe that the only disability in life is a bad attitude” (Scott Hamilton)

Ulang Tahun, Ajang Umbar Kebodohan

Tawa teman-teman Sandy mendadak hilang mendapati temannya kejang-kejang setelah diikat dan disiram air di sebuah tiang lampu sebuah tempat futsal di kawasan Serpong, Tangerang. Lewat tengah malam selepas futsal (26/9/16), Sandi yang berulang tahun dikejutkan oleh temannya yang mengikatnya di sebuah tiang lampu yang ternyata berarus listrik karena adanya kabel yang terkelupas. Petugas keamanan langsung menurunkan panel listrik untuk mematikan setrum dan Sandy pun dilarikan ke rumah sakit. Sandy yang rencana menikah bulan depan menghembuskan nafas terakhirnya di ruang perawatan UGD RS. Eka Hospital tepat di hari ulang tahunnya. Ironis.

Kasus ulang tahun berdarah ini bukan kali pertama. Tahun lalu, 5 siswi SD tewas tenggelam saat merayakan ulang tahun di bendungan Tiyuh, Tulang Bawang Barat – Lampung (22/5/15). Sepulang sekolah, Vita bersama 7 merayakan ulang tahun di bendungan. Vita yang diceploki telur ayam kemudian membalas melumuri teman-temannya hingga sama-sama kotor. Gustian, salah seorang temannya yang hendak membersihkan diri, malah terpeleset jatuh ke bagian air yang dalam. Femi, Yulianti, Nurtika dan Vita yang mencoba membantu malah tenggelam. Ketiga temannya yang tidak bisa berenang hanya bisa berteriak histeris dan memanggil bantuan warga. Warga yang datang mengevakuasi sudah terlambat, kelima siswi kelas V SDN 2 Agung Jaya sudah tewas. Setahun sebelumnya, kasus serupa terjadi di Pantai Slamaran, Pekalongan (22/3/14). Kali ini Endang yang membersihkan diri di pantai setelah berlumuran telur dan tepung justru terseret ombak. Teman-temannya dari SMPN 1 Doro yang masih berseragam pramuka langsung menolongnya, dibantu seorang pemancing yang kebetulan ada di lokasi. Endang yang berulang tahun berhasil diselamatkan, namun Arief –salah seorang temannya—dan Fatikhurohman si pemancing justru terseret arus dan jenazah mereka baru ditemukan keesokan harinya.

Tak kalah ironis apa yang menimpa Maizatul Farhanah, siswi kelas VII SMPN 3 Batam yang tewas sia-sia dijahili teman sekelasnya dengan sepengetahuan wali kelasnya. Saat teman-tamannya mengajak Farhanah ke kantin, teman-teman yang lainnya memasukkan uang 300 ribu dan handphone temannya ke dalam tas Farhanah. Wali kelas datang menyampaikan laporan kehilangan dan memerintahkan dilakukan penggeledahan. Barang-barang tersebut ditemukan dalam tas Farhanah kemudian ia diminta berdiri dan diinterogerasi disertai teriakan ‘maling’ dari teman-temannya. Farhanah pingsan seketika. Depresi parah dan menolak makan. Pada 16 Desember 2010, tepat 20 hari setelah ulang tahunnya, gadis berusia 13 tahun yang sebelumnya dikenal ceria tersebut meninggal akibat infeksi jaringan otak dan pendarahan lambung.

Jika dirinci, kasus serupa tentunya banyak, apalagi ditambah yang luput di media. Semua berawal dari kebodohan di hari ulang tahun. Daftar ironi ajang unjuk kebodohan akan semakin banyak jika ditambah berbagai kasus terkait. Misalnya Zsa Zsa Jesica Shienjaya, mahasiswi UK Petra yang tewas gantung diri dengan tali raffia di kamar kosnya hanya karena pacarnya membatalkan perayaan ulang tahun bersamanya (18/6/12). Atau bagaimana Desy, siswi SMA Negeri 3 Tanjungbalai yang dicekoki narkoba dan diperkosa hingga tewas setelah menghadiri pesta uang tahun temannya (6/8/16). Bulan lalu, netizen juga dibuat geram dengan postingan tertanggal 14 Agustus 2016 di laman FB Mim Medan. Foto-foto yang viral di sosial media ini memuat sekelompok siswi berseragam pramuka yang mengikat temannya yang berulang tahun di sebuah tiang, melempari telur ke muka dan mulut sehingga temannya ini menangis dan terlihat sangat tersiksa, sementara mereka tampak bahagia dan berbangga. Jika ditelusuri, ini bukan kali pertama mereka melakukannya dan tampaknya juga bukan kali terakhir.

Tak perlu dalil-dalil agama bahwa tiup lilin adalah prosesi persembahan untuk dewa bulan atau bahwa perayaan ulang tahun merupakan bentuk menyerupai (tasyabuh) orang kafir, akal dan hati nurani sehat pun cukup untuk menolak perayaan ulang tahun sebagai ajang unjuk kebodohan. Apa manfaat yang ingin dicapai? Apakah caranya sudah tepat untuk memperoleh manfaat tersebut? Teman-teman Sandy bukan hanya akan berurusan dengan pihak polisi, tetapi juga merasakan tanggung jawab moral yang berat kepada keluarga Sandy dan akan dihantui penyesalan seumur hidup. Demikian pula dengan teman-teman dan guru Farhanah. Sepadankah dengan tawa dan kegembiraan sesaat? Apakah kebodohan tersebut menjadi satu-satunya cara untuk meraih manfaat?

Enam belas tahun lalu, penulis pernah ‘menceramahi’ teman-teman yang menceburkan penulis yang saat itu berulang tahun ke kolam di sekolah. Bagaimana jika orang yang dilempar ke kolam kepalanya terbentur batu besar yang tidak terlihat dari permukaan? Bagaimana jika ia punya penyakit sehingga langsung kejang-kejang dan tenggelam? Bagaimana basah kuyup akan menampakkan auratnya ketika keluar dari kolam? Siapa yang akan bertanggung jawab? Siapkah? Apakah kejahiliyahan tersembunyi yang mendatangkan tawa sesaat tersebut sebanding dengan keburukan yang menyertainya? Belum lagi jika diingat bahwa Allah mengabulkan do’a mereka yang teraniaya. Alih-alih mempererat persahabatan, umbar kebodohan malah berbuah do’a buruk dari mereka yang teraniaya kepada teman-temannya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Segala musibah memang bisa dilihat dari kacamata takdir. Hanya saja ada hukum kausalitas yang perlu diperhatikan. Tak ada asap kalau tak ada api. Potensi musibah ulang tahun dapat diminimalisir bila tidak disertai aksi umbar kebodohan. Jika kebodohan tidak mungkin dihindari, lebih baik jangan rayakan ulang tahun. Logis. Toh sejatinya setiap harinya usia kita berkurang. Lalu apakah berarti ulang tahun harus dirayakan dengan serius, dengan refleksi diri atau muhasabah misalnya? Mungkin saja, tapi bukan di situ poinnya. Jangan umbar kebodohan dalam menyikapi berulangnya tanggal lahir! Bagi yang ada di level kesadaran akan hakikat waktu dan kefanaan dunia rasanya tidak perlu lagi merayakan ulang tahun. Namun bagi orang awam yang masih sehat akalnya, setidaknya bisa berpikir tentang resiko dan manfaat dari cara yang digunakan dalam merayakan ulang tahun. Bagi orang awam yang masih punya hati nurani, setidaknya bisa berempati maukah dirinya menerima perlakuan yang sama.

Kebodohan dapat dilawan dengan akal sehat dan hati jernih. Dan perlawanan tersebut akan semakin kuat dengan edukasi, aksi dan regulasi yang mendukung. Musibah buah dari umbar kebodohan di hari ulang tahun sebenarnya bisa diantisipasi sebagaimana penyikapan atas berbagai aksi bodoh lainnya, seperti tawuran pelajar, tidak tertib lalu lintas dan coret-coret baju sekolah setelah kelulusan, ataupun perploncoan di masa awal masuk sekolah atau kampus. Namun karena ulang tahun sifatnya personal, perbaikan individu menjadi faktor kunci menjadikan ulang tahun sebagai momentum cerdas dan mencerdaskan. Tak lagi jadi ajang umbar kebodohan, melainkan mengantarkan pada perbaikan dan kebaikan.

Dua hal yang tak terbatas: alam semesta dan kebodohan manusia; tapi saya tidak yakin tentang alam semesta.” (Albert Einstein)

Permainan Zin Obelisk

Beberapa waktu lalu, aku mengikuti pelatihan tentang Knowledge Management Awareness. Knowledge Management bukanlah hal yang baru kukenal karena satu dasawarsa lalu skripsiku pun mengangkat tema tersebut. Namun ada satu sesi dalam pelatihan tersebut yang sangat membekas yaitu tentang permainan Zin Obelisk. Bahan permainannya tidak diberikan sehingga aku harus mencari referensi awal berbahasa Inggris untuk melakukan simulasi ulang. Aku penasaran kenapa jawaban timku bisa salah sedangkan dari beberapa kali perhitungan hasilnya tetap sama. Dari referensi yang kuperoleh, permainan ini awalnya adalah untuk team problem solving bukan terkait knowledge management. Hanya saja nominalnya diganti sehingga hasilnya pun pasti akan berbeda. Tugas kelompoknya pun dikembangkan yang semula hanya menebak hari menjadi menghitung berapa lama dan pada hari apa Zin Obelisk selesai dibangun. Berikut adalah informasi yang diberikan:

1. Pengukuran dasar waktu di Atlantis adalah hari.
2. Hari orang-orang Atlantis dibagi menjadi schlibs dan ponks.
3. Panjang zin adalah 54 kaki.
4. Ketinggian zin adalah 30 kaki.
5. Lebar zin adalah 45 kaki.
6. Zin ini dibangun dari blok batu.
7. Setiap blok berukuran 1 kaki kubik.
8. Hari 1 dalam sepekan di Atlantis disebut Aguaday.
9. Hari 2 dalam sepekan di Atlantis disebut Neptiminus.
10. Hari 3 dalam sepekan di Atlantis disebut Sharkday.
11. Hari 4 dalam sepekan di Atlantis disebut Mermaidday.
12. Hari 5 dalam sepekan di Atlantis disebut Daydoldrum.
13. Ada lima hari dalam sepekan di Atlantis.
14. Satu hari kerja memiliki 9 schlibs.
15. Setiap pekerja membutuhkan waktu istirahat selama hari kerja sebesar 18 ponks.
16. Ada 8 ponks dalam satu schlib.
17. Setiap pekerja mampu meletakkan 2 blok per ponk.
18. Pada setiap saat ketika pekerjaan sedang berlangsung ada sekelompok 10 orang di tempat kerja.
19. Salah satu anggota dari setiap kelompok memiliki tugas keagamaan dan tidak menaruh blok.
20. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan pada Daydoldrum.
21. Apakah itu Cubitt?
22. Cubitt adalah sebuah kubus yang ukuran semua sisinya 1 yard megalitik.
23. Adalah 3 ½ kaki dalam satu yard megalitik.
24. Apakah pekerjaan dilakukan pada hari Minggu?
25. Apakah itu Zin?
26. Dengan cara apa Zin didirikan?
27. Zin terdiri dari blok berwarna hijau.
28. Hijau memiliki makna keagamaan khusus pada Mermaidday.
29. Setiap kelompok memiliki dua orang wanita.
30. Pekerjaan dimulai saat fajar pada Aquaday.
31. Hanya satu kelompok yang mengerjakan konstruksi pembangunan zin tersebut.
32. Ada delapan timbangan emas dalam satu fin emas.
33. Setiap blok biayanya 2 fin emas.

Detail informasi tersebut dimodifikasi dari sumber berbahasa Inggris sehingga mungkin tidak benar-benar identik dengan informasi yang diberikan ketika pelatihan. Misalnya dalam pelatihan kemarin informasi no. 11 tidak dicantumkan tetapi ada tambahan informasi pengecoh tentang VOZ. Yang jelas, informasinya sudah cukup untuk dapat menjawab pertanyaan. Setiap informasi diberikan dalam bentuk kartu secara acak pada masing-masing orang di kelompok. Sebagiannya bukan informasi, sebagian lainnya informasi yang tidak berguna. Jadi setiap orang dan kelompok harus memilah informasi yang diterimanya. Karena kartu tersebut tidak boleh ditunjukkan kepada anggota kelompok lain, maka harus ada sharing knowledge di setiap kelompok. Disinilah distorsi informasi mungkin terjadi. Salah perhitungan di timku terjadi pada informasi no.15 dimana waktu istirahat 18 ponk dihitung setiap pekan, bukan setiap hari kerja. Dalam beberapa hal, mengerjakan sendiri memang lebih mudah daripada mengerjakan bersama-sama, apalagi dari 6 kartu yang kuperoleh hanya 1 yang berisi informasi bermanfaat. Namun disitulah menariknya permainan tim. Lalu, berapa hari dan pada hari apa Zin Obelisk selesai dibangun? Sebelum membaca penjelasan mengenai langkah-langkah menjawabnya, barangkali pembaca bisa mencoba menjawabnya sendiri terlebih dahulu. ^_^

Baiklah, ini jawabannya…

Pertama, hitung volume Zin dengan rumus balok = panjang x lebar x tinggi. Dari informasi no. 3, 4, dan 5, diperoleh volume Zin sebesar 54 kaki x 45 kaki x 30 kaki = 72900 kaki kubik. Karena setiap blok berukuran 1 kaki kubik (informasi no.7), berarti Zin tersusun oleh 72900 blok batu. Kedua, perlu dihitung waktu efektif bekerja setiap pekerja. Dari informasi no.14 dan 16 diperoleh bahwa satu hari kerja terdiri dari 9 schlibs x 8 ponks/ schlibs = 72 ponk. Karena setiap pekerja butuh istirahat 18 ponk (informasi no.15), maka waktu efektif bekerja setiap pekerja adalah 72 – 18 ponks = 54 ponks. Ketiga, hitung produktivitas kerja. Dari informasi no. 17 diperoleh bahwa setiap pekerja mampu meletakkan 2 blok per ponk. Artinya dalam waktu efektif bekerja, setiap pekerja mampu meletakkan 54 ponks x 2 blok/ ponks = 108 blok batu. Selanjutnya dari informasi no. 18 dan 19 (serta no. 31), didapatkan informasi bahwa jumlah pekerja adalah sebanyak 10 dikurangi 1 orang (tugas keagamaan) = 9 orang. Artinya, setiap hari kerja, ada sebanyak 9 orang x 108 blok batu/ orang = 972 blok batu yang dipindahkan. Terakhir, hitung lama waktu pengerjaan dengan membagi volume Zin dengan produktivitas kerja. 72900 blok batu dibagi 972 blok batu/ hari kerja = 75 hari kerja. Jadi, Zin Obelisk selesai pembangunannya dalam 75 hari kerja.

Hal yang perlu diperhatikan, 75 hari kerja bukan berarti 75 hari, karena setiap pekannya tidak dilakukan pekerjaan pada hari ke-5 (informasi no. 12 dan 20). Artinya, dalam sepekan hanya ada 4 hari kerja, yaitu Aquaday, Neptiminus, Sharkday dan Mermaidday (informasi no. 8 – 11). Pembangunan diselesaikan dalam 75 hari dibagi 4 hari kerja/ pekan = 13 pekan plus 3 hari. Karena pekerjaan dimulai pada hari ke-1 atau Aguaday (informasi no.30), berarti peletakan batu terakhir dilakukan pada hari ke-3 atau Sharkday. Jadi, Zin Obelisk diselesaikan pembangunannya dalam 75 hari, dimana hari ke-75 jatuh pada Sharkday.

Pemimpin Gonta Ganti, Pengikut Bengong Bingung

Dunia politik memang asik nggak asik. Kadang asik kadang enggak, disitu yang asik (katanya). Seperti orang main catur, kalau nggak ngatur nggak asik. Pion bingung nggak bisa mundur, pion-pion nggak mungkin kabur. Menteri, luncur, kuda dan benteng, galaknya melebihi raja. Raja tenang gerak selangkah, sambil menyematkan hadiah…” (‘Asik Nggak Asik’, Iwan Fals)

Lantunan lagu dari Iwan Fals menemani perjalananku di Papua. Mengunjungi sebuah sekolah rujukan provinsi yang tampak tak terawat. Jika bukan karena unsur politis, rasanya tidak mungkin sekolah negeri yang dijuluki sekolah 89 karena siswa datang jam 8 dan pulang jam 9 ini bisa terpilih sebagai sekolah unggulan tingkat provinsi. Apalagi dalam 3 tahun terakhir, kepala sekolah berganti hingga 4 kali sesuai dengan kondisi politik sehingga praktis tidak ada keberlanjutan program di sekolah. Pergantian kepala dinas dan kepala sekolah karena unsur politis memang bukan hal baru dan banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, bukan hanya Papua. Pergantian yang sebenarnya mengganggu kesinambungan sistem pendidikan. Alih-alih melanjutkan perbaikan, pejabat terpilih akan lebih fokus mengamankan jabatan dan memanfaatkan kesempatan yang dimiliki.

Reshuffle kabinet berulang kali juga mencerminkan betapa mudahnya kepemimpinan berganti, bahkan untuk skala yang lebih besar. Padahal dalam setiap pergantian pemimpin biasanya ada ‘gerbong’ yang dibawanya. Efek domino pergantian pun terus bergulir ke level di bawahnya. Ada yang terpilih, ada yang tersingkir. Ada yang bersedih, ada yang nyengir. Kaderisasi adalah keniscayaan, pergiliran kepemimpinan pun bisa membawa segudang harapan. Hanya saja, dalih dan motif pergantian, serta ketercapaian tujuan bersama perlu diperhatikan. Betapa banyak pergantian jabatan yang hanya dilatari oleh pertimbangan like or dislike atau kedekatan dengan atasan. Betapa sering pertimbangan transaksional yang pragmatis lebih dikedepankan dalam pemilihan SDM dibandingkan faktor kinerja dan kompetensi.

Adalah wajar seorang pimpinan memilih orang-orang yang se-visi untuk menjadi timnya, namun tidak seharusnya abai terhadap kompetensinya. Apalagi jika akhirnya hanya memilih orang dekat yang nihil pengalaman dan kemampuan, sekadar menyingkirkan mereka yang kritis dan (dianggap) tidak bisa dikendalikan. Pimpinan pilih kasih hanya akan menyisakan dua tipe pengikut yang tak terorbitkan: pengikut yang cari aman, dan mereka yang bersiap melakukan perlawanan. Sementara yang terpilih mungkin akan kian loyal dan amankan kesempatan. Loyalitas pengikut memang penting dalam mencapai tujuan organisasi, namun loyalitas sebagai akibat kualitas pemimpin, bukan sebagai prasyarat pengikut. Loyalitas yang berkarakter bukan cuma ikut-ikutan.

Pergantian pemimpin bisa membawa angin segar perubahan, namun gonta-ganti pimpinan dapat membuat kegaduhan, kegalauan plus kebingungan. Potensi reorientasi dan readaptasi tentu mendatangkan harap-harap cemas. Belum lagi masa depan yang tidak jelas. Karenanya tidak sedikit yang memilih cari aman, istilah yang lebih halus dibandingkan cari muka ke atasan. Jika naturalnya organisasi akan melewati fase forming, storming, norming dan performing, kebiasaan bongkar pasang struktur dan SDM berpotensi membuat organisasi hanya berkutat di fase forming dan storming, tanpa pernah menemukan pola kerja yang tepat, apalagi menghasilkan performa terbaik.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah gonta-ganti pimpinan karena buaian kepentingan semu yang dapat menyesatkan arah dan tujuan organisasi. Ketercapaian visi kian menjauh. Kepentingan semu ini kemudian membentuk sistem yang semu. Tujuan, strategi, hingga aksinya semu. Dan dilakukan oleh kerumunan orang yang fokus memperjuangkan kepentingan fananya. Aji mumpung, raup keuntungan dan cari selamat, selama mungkin. Organisasi akan kehilangan orientasi dan bertahan sebatas interval waktu kepentingan. Gagal lulus ujian perubahan dan pergantian kepemimpinan.

Memang perubahan struktur dan SDM dapat menyegarkan organisasi, membuatnya lebih lincah dan fleksibel menghadapi tantangan masa depan. Namun hati-hati dalam bagi-bagi kursi. Jika visi, karakter, kompetensi dan komposisi SDM diabaikan, organisasi bisa kehilangan jati diri bahkan kehilangan eksistensi. Perlu pertimbangan matang yang bervisi jangka panjang untuk mengawal pergiliran kepemimpinan. Jangan sampai pimpinannya malah bimbang, pengikutnya pun gamang. Pimpinannya bingung, pengikutnya pun bengong. Bagaimanapun, pergantian pemimpin adalah keniscayaan dalam kehidupan berorganisasi. Memilih pemimpin baru yang tepat merupakan investasi kebaikan jangka panjang. Membina SDM pejuang. Membangun organisasi pemenang.

Satu satu daun berguguran, jatuh ke bumi dimakan usia. Tak terdengar tangis tak terdengar tawa, redalah reda. Satu satu tunas muda bersemi, mengisi hidup gantikan yang tua. Tak terdengar tangis tak terdengar tawa, redalah reda. Waktu terus bergulir, semuanya mesti terjadi. Daun daun berguguran, tunas tunas muda bersemi. Satu satu daun jatuh ke bumi. Satu satu tunas muda bersemi. Tak guna menangis tak guna tertawa, redalah reda…” (‘Satu Satu’, Iwan Fals)

Brebes Berebes Mili, Brebes Beberes

Lebaran kemarin mudik kah?”, tanya beberapa orang yang baru bertemu denganku paska libur hari raya Idul Fitri. “Yup, ke Brebes, kampung istri…”, jawabku. “Wah, Brebes? Kena macet ga?” Begitulah kira- kira komentar mereka ketika mendengar kata ‘Brebes’. Jika biasanya mudik ke Brebes identik dengan oleh-oleh telor asin atau bawang, sekarang pasti ditanya tentang macet. Kemacetan di ruas tol Brebes tahun ini memang fenomenal, bukan hanya karena panjangnya kemacetan dan lamanya waktu tempuh, kisah meninggalnya belasan pemudik juga kian mencoreng wajah Brebes. Daily Mail, sebuah media massa di Inggris bahkan mengulas peristiwa ini dengan judul yang sensasional: Is this the world’s worst traffic jam? Fifteen motorists die in three days after getting caught in gridlock at Indonesian junction… named BREXIT.

Tulisan ini tidak akan membahas panjang lebar tentang Brebes, toh penulis juga bukan orang Brebes, apalagi menceritakan kembali pengalaman berebes milinya para pemudik yang tertahan hingga belasan jam. Tulisan ini juga tidak hendak memaparkan fakta bahwa macet di Brebes bukanlah yang terparah di dunia. Hanya saja sebagai orang yang pernah belajar tentang rekayasa sistem penulis agak geregetan aja karena seharusnya banyak hal yang bisa diantisipasi sehingga kemacetan parah yang bahkan menelan korban jiwa tidak perlu terjadi.

Sebenarnya ketika mudik kemarin, kami sekeluarga bisa dibilang tidak kena macet. Alih-alih tinggal lurus keluar tol Brebes, kami malah keluar tol Kanci untuk kemudian putar balik masuk tol dan keluar di gerbang tol Kuningan. Agak memutar memang, belum lagi lebih banyak tikungan dan jalan naik turun, namun lancar. Keputusan putar balik ke Kuningan dilakukan setelah melihat aplikasi GPS navigasi Waze yang menunjukkan bahwa baik ruas tol Brebes maupun jalur pantura macet parah. Memang tak semua pengguna jalan menggunakan aplikasi navigasi yang juga tidak pasti selalu benar. Hanya saja optimalisasi teknologi untuk dapat mengurai kemacetan yang mengiringi mudik perlu mendapat perhatian.

Penulis jadi teringat laporan kerja praktek semasa kuliah dulu yang berisi analisa kelayakan operasional penggunaan kartu layanan tol (yang mungkin sekarang mirip dengan E-Toll) menggunakan teori antrian (queueing theory). Ruas tol Cipali dan Brebes yang belum ada tentu tidak dianalisa saat itu. Analisanya terlalu panjang untuk dirangkum, lebih cepatnya layanan dengan kartu dibandingkan dengan manual juga tidak perlu dibahas disini. Yang jelas, dengan teori antrian, bisa dilakukan forecasting berapa banyak penumpukan kendaraan di gerbang tol dan panjang kemacetan yang terjadi untuk setiap jumlah kedatangan kendaraan tertentu. Tidak hanya itu, teori antrian juga mampu memperlhatkan kebutuhan penambahan gerbang untuk mengatasi kemacetan pada jumlah kedatangan kendaraan tertentu.

Jika laporan kerja praktek saja bisa memberikan simulasi mengenai penumpukan kendaraan yang akan terjadi dengan tingkat kedatangan kendaraan tertentu, bagaimana dengan berbagai kajian dan karya ilmiah dari banyak pakar multi disiplin ilmu yang ada di Indonesia? Bukankah Indonesia tidak kekurangan orang pandai, mengapa belum ada yang berhasil merekayasa sistem lalu lintas yang lebih nyaman bagi para pemudik? Suatu ilmu aplikatif yang tidak diaplikasikan sunguh sangat disayangkan. Lebih jauh lagi, jika dua belas tahun lalu penulis hanya bisa melakukan forecasting, dengan teknologi terkini data yang masuk bisa lebih real time. Tinggal bagaimana melakukan respon cepat dari data yang diterima. Merekayasa traffic, bukan malah terjebak traffic.

Konon, salah satu upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan mudik tahun ini adalah dengan menerapkan traffic engineering system di wilayah Brebes memanfaatkan teknologi Google. Namun permasalahan sistem bukan hanya bicara tentang perencanaan dan rancangan, implementasi dan optimalisasi sistem lebih kompleks termasuk kesiapan infrastruktur, ketersediaan sumber daya, hingga human error yang mengkin terjadi. Sosialisasi dan komunikasi berbagai tools, produk dan layanan yang penting bagi para pemudik juga tidak kalah penting, tetapi hal ini seolah malah terlupakan. Pengguna jalan seakan kebingungan tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan siapa yang harus dihubungi jika ada kondisi darurat yang tidak diinginkan. Kemandegan informasi akan berbanding lurus dengan kelambanan respon. Alhasil, rencana silaturahim berujung tragedi.

Tidak perlu saling menyalahkan dan tidak perlu juga malu untuk meminta maaf. Bagaimanapun, pembuat kebijakanlah yang punya andil besar untuk mengurai permasalahan ini. Kabarnya, untuk mencegah kemacetan serupa terulang di tahun depan, pemerintah tengah menyiapkan ruas tol Pemalang – Batang dan Batang – Semarang yang akan diselesaikan sebelum Ramadhan tahun depan. Solusi high cost yang tidak salah karena adanya jalan keluar lain tentu akan mengurangi penumpukan di gerbang tol Brebes. Namun jika solusinya hanyalah terus membangun jalan tol, bukan tidak mungkin yang terjadi cuma memindahkan titik kemacetan, seperti pindahnya kemacetan dari Cikampek ke Brebes. Solusi yang jatuhnya tidak efisien, baik secara waktu maupun anggaran. Tak jua efektif.

Beberes lalu lintas mudik perlu solusi yang lebih variatif namun terintegrasi. Desain utuh perencanaan hingga pengendalian sistem perlu dipahami dan melibatkan seluruh stakeholders, mulai dari Kementerian dan Dinas Perhubungan, Kepolisian dan Pemerintah Daerah terkait, Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT), operator jalan tol, operator semua moda transportasi, Pertamina dan pengelola SPBU, hingga operator telekomunikasi dan pengguna jalan. Dalam rancangan pengelolaan arus mudik, perlu dilakukan pemetaan jalur transportasi, traffic flow dan bottleneck analysis, termasuk prediksi volume kendaraan pada setiap jalur transportasi, baik pada jalur utama maupun jalur alternatif. Supply Chain Management (SCM) perlu diterapkan dengan baik sehingga arus keberangkatan dan kepulangan dapat lebih mudah dikelola, kebutuhan akan bahan bakar dan rest area juga dapat dipenuhi. Layak, bukan sekadar tersedia.

Kapasitas jalan perlu diperhatikan dan volume kendaraan sebisa mungkin dikendalikan. Jika ada kendala atau hambatan dalam perjalanan, misalnya kecelakaan atau kendaraan mogok yang menghalangi jalan, perlu disiapkan unit cepat tanggap untuk mengatasi hal tersebut. Dalam kasus ini juga dibutuhkan pengelolaan teknologi informasi yang baik sehingga hambatan sekecil apapun dapat diketahui sehingga bisa direspon cepat. Dalam kondisi lalu lintas padat, hambatan kecil bisa berdampak antrian panjang ke belakang. Rekayasa lalu lintas alternatif seperti one way atau contra flow juga perlu dipersiapkan dan diperhitungkan dengan baik sehingga tidak cuma memindahkan kemacetan. Mengatasi kemacetan dengan kemacetan lain yang lebih macet. Petugas lapangan juga perlu disiapkan dengan baik agar tahu benar apa yang seharusnya dilakukan, termasuk untuk menghadapi kondisi yang tak diinginkan.

Rangkaian upaya tersebut bahkan perlu dikombinasikan denganberbagai solusi lain misalnya dengan perbaikan pengelolaan gerbang tol dan rest area sebagai titik-titik kemacetan. Revitalisasi jalan utama dan jalur alternatif non-tol juga perlu dilakukan sehingga rekayasa lalu lintas dapat lebih optimal dilakukan. Revitalisasi ini juga perlu disertai rekayasa potensi kemacetan akibat persimpangan jalan, pasar, jalur perlintasan kereta api, dan sebagainya. Termasuk di antaranya kemacetan akibat perbaikan jalan yang seharusnya dapat diselesaikan sebelum rentang waktu mudik.

Selain itu, fly over juga bisa dibangun untuk mengatasi bottle neck dan hal yang tidak boleh dilupakan adalah membenahi transportasi umum dan mengembangkannya sehingga multimoda bisa terintegrasi. Misalnya dengan mengintegrasikan sistem transportasi kereta api dengan angkutan pedesaan tentu akan mendorong pemudik untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Sistem informasi mudik juga perlu dikembangkan sehingga pemudik dan petugas memahami benar apa yang harus dilakukan dan alternatif apa yang sebaiknya dipilih. Jadi rekayasa lalu lintas bukan cuma pengalihan dan kemudian pemudik malah bingung harus lewat mana, tetapi memang diberikan arahan alternative terbaik. Selanjutnya, setelah sistem selesai di-develop yang tidak boleh dilupakan adalah sosialisasi secara utuh dan menyeluruh kepada seluruh pihak terkait.

Pulang kampung memang tidak harus menunggu momen Idul Fitri, tradisi mudik lebaran mungkin hanya ada di beberapa Negara termasuk Indonesia. Namun pada hakikatnya upaya untuk menyambung tali silaturahim merupakan suatu kebaikan yang akan mendatangkan kebaikan yang lain. Alangkah indahnya jika momentum silaturahmi tidak dirusak dengan emosi karena macet atau bahkan berita duka akibat pengelolaan mudik yang masih semrawut. Beberes manajemen mudik berarti beberes kesakralan silaturahim di hari raya. Berebes mili karena kesedihan akan berganti berebes mili penuh keharuan dalam momen saling memaafkan bersama keluarga tercinta. Semoga.