Category Archives: hikmah perjalanan

Wada’an Ya Syahru Ramadhan

Wada’an Ya Syahru Ramadhan…

Idul Fitri tinggal menghitung hari, cepat sekali, dinanti sekaligus ditangisi
Lebaran telah di hadapan, membahagiakan sekaligus mengharukan
Amal shalih kembali penuh tantangan, tak lagi begitu ringan dilakukan
Lapar dan dahaga tak lagi warnai keseharian, setan pun lepas ikatan

Lidah tak lagi mudah dijaga, seolah dusta, amarah dan ghibbah hanya dosa di bulan puasa
Ibadah tak lagi jadi fenomena biasa, masjid kembali hampa, jama’ah entah kemana
Qur’an kembali disimpan, hanya terdengar di pengajian, tahlilan dan event tahunan
Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya, melupakan tempat kembalinya

Wada’an Ya Syahru Shiyam…

Sedih berbalut sesal dan harapan mengiringi kepergian bulan Ramadhan
Entah diterimakah semua amalan dan diampunikah segala dosa kesalahan
Entah masihkah diperkenankan tuk bersua kembali di tahun depan

Yang tersisa hanya kekecewaan, sebab waktu tak bisa kembali ataupun dihentikan
Oh, rindu ini belum terpuaskan, ingin rasanya menambah lama masa kebersamaan
Ulangi kembali masa yang berlalu tanpa kebaikan agar tak berbuah penyesalan

Wada’an Ya Syahru Maghfirah…

Malu rasanya menangis memohon ampunan atas kelalaian mengisi tiap detik Ramadhan
Air mata tumpah sebanyak apapun takkan mengubah kesia-siaan menjadi keberkahan
Takut akan tak diterimanya amal jauh lebih besar dari kebahagiaan menyambut Syawal
Akhirnya, hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah lah do’a dan harapan ini kutitipkan

Nuansa indah Ramadhan takkan kubiarkan berlalu begitu saja di bulan selanjutnya
Efek keberkahan Ramadhan kan terus kujaga, terima kasih telah singgah memberi warna

Wada’an Ya Syahru Mubarak… Ilal liqo…

IQ Rasulullah SAW 7000?

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu,bahwa sesungguhnya Tuhan kau ituadalah Tuhan Yang Maha Esa”. Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Awal tahun 1437 Hijriyah ini diisi dengan kajian thibbun nabawi selepas shubuh tanggal 1 Muharram. Beberapa tahun terakhir, pengobatan ala Rasulullah SAW cukup berkembang pesat. Banyak referensi dan informasi yang dapat ditemukan seputar thibbun nabawi, hijamah (bekam), habbatus sauda dan hal-hal lain terkait dengan pengobatan ala Rasulullah SAW. Beberapa informasi dan kontroversi juga kerap menyertai pembahasan ini termasuk berkenaan dengan konspirasi vaksinasi. Namun ada satu informasi yang disampaikan pembicara dan mengusik logika. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa IQ (Intelligence Quotient/ Kecerdasan Inteligensi) Rasulullah Muhammad SAW mencapai angka 7000, sangat jauh dibandingkan IQ seorang jenius sekalipun. Benarkah?

Serangkaian tes untuk memilih orang dengan kualifikasi tertentu memang sudah lama dikenal dan dilakukan manusia, namun tes inteligensi baru berkembang pada abad ke-19, sehingga sudah pasti tidak ada hadits yang menjelaskan tentang besaran IQ Rasulullah SAW. Jika memang benar ada penelitian terkait hal tersebut tentu dilakukan melalui studi literatur dengan kemungkinan bias yang tinggi. Selama ini saja pendekatan kuantitatif tes IQ banyak menuai kritik dengan berbagai perspektif. Dalam catatan sejarah, orang yang memiliki IQ tertinggi adalah William James Sidis yang memiliki IQ sekitar 250 – 300, sementara tokoh seperti Einstein dan Bill Gates memiliki IQ sekitar 160. IQ manusia ini terdistribusi normal, dimana jumlah terbesar ada pada kategori IQ rata-rata sementara mereka yang jenius (very superior) dan yang memiliki IQ jauh di bawah rata-rata (mental defective) jumlahnya sedikit. Jika rata-rata IQ manusia ada di kisaran 90 – 110, maka IQ 7000 jelas tidak masuk akal.

Jika disampaikan bahwa penilaian didasarkan pada kajian literatur bagaimana Rasulullah SAW merespon pertanyaan para shahabat maka bias semakin terjadi. Perkataan Rasulullah SAW adalah bimbingan wahyu Allah SWT, bukan kemauan dan kemampuan beliau sendiri. Jika kecepatan respon dijadikan salah satu indikator kejeniusan, nyatanya tidak semua pertanyaan dapat direspon cepat oleh Rasulullah SAW karena menunggu wahyu. Misalnya ketika para istri Rasulullah SAW meminta tambahan nafkah paska Perang Hunain yang baru terjawab beberapa waktu lamanya dengan turunnya Surah Al Azhab ayat 28 – 29. Atau ketika utusan kafir Quraisy bertanya tentang berbagai hal yang Rasulullah SAW tidak bisa menjawabnya dan menjanjikan jawabannya esok hari. Ternyata wahyu dari Allah SWT tak kunjung datang hingga 15 hari sebagai pelajaran karena kala itu Rasulullah SAW lupa mengucapkan In syaa Allah. Hal ini tertuang dalam Al Qur’an Surah Al Kahfi. Jadi, apa benar IQ Rasulullah SAW mencapai 7000?

Lalu, bukankah Rasulullah SAW memiliki sifat fathonah (cerdas)? Ya, apa yang beliau tawarkan untuk meletakkan Hajar Aswad sehingga beliau digelari Al-Amin adalah sebuah solusi cerdas. Membangun masjid dan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor setelah hijrah adalah strategi cerdas. Namun kecerdasan Rasulullah SAW ini bersumber pada satu kecerdasan utama: spiritualitas. Kecerdasan spiritualitas inilah yang menguatkan beliau menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, mental, emosional, sosial, adversitas, dan kreativitas. Jadi bukan kecerdasan intelektual yang jadi ukuran. Betapa banyak orang jenius yang tidak jadi apa-apa. Dunia pendidikan pun kian sadar bahwa sekadar kecerdasan intelektual di ranah kognitif tidak cukup untuk menghasilkan SDM unggul. Sayangnya, dunia pendidikan Barat hanya mengenal aspek psikomotorik (adversitas) dan afektif (sosial) sebagai pelengkap aspek intelektual, padahal aspek spiritual jauh lebih mendasar.

Keteladanan Rasulullah SAW adalah menyeluruh pada semua aspek bukan karena intelektualitasnya yang super jenius –dan ternyata tidak penting. Namun keunggulan pada kecerdasan spiritual lah yang mengantarkan beliau menjadi pribadi dengan kecerdasan paripurna. Jadi secara intelektual, Rasulullah SAW mungkin saja memiliki keterbatasan sehingga bisa keliru memilih strategi perang, misalnya. Atau dalam sebuah hadits riwayat Muslim pernah juga beliau keliru ketika menyarankan petani kurma di Madinah untuk tidak melakukan penyerbukan kurma sehingga mereka malah mengalami gagal panen. Ketika hal tersebut dilaporkan ke beliau, Rasulullah SAW menjawab, “ Aku hanyalah manusia. Jika aku memerintahkan sesuatu tentang agama, ikutilah. Tetapi jika aku memerintahkan sesuatu yang berasal dari pendapatku, sebenarnya aku hanyalah seorang manusia. Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”. Jadi, masih perlukah membanggakan (ataupun mempermasalahkan) IQ Rasulullah SAW?

Satu lagi catatan berkenaan dengan pernyataan di atas adalah begitu mudahnya umat Islam menyebarkan informasi hoax yang terkesan membanggakan. Saya membayangkan betapa seringnya pembicara menyampaikan bahwa IQ Rasulullah SAW 7000 di berbagai forum, kemudian peserta yang hadir membenarkannya untuk kemudian menyebarkannya juga. Kemudian diungkap fakta bahwa IQ maksimal hanya sekian ratus sehingga tidak mungkin ada assessment yang menghasilkan IQ manusia hingga 7000. Sesuatu yang tadinya membanggakan pun bisa berubah jadi memalukan jika dibungkus dengan kepalsuan yang berlebihan. Kasus serupa banyak terjadi misalnya terkait masuk Islamnya seorang ilmuwan atau tokoh agama lain yang begitu mudah tersebar tanpa diperiksa kebenarannya. Ketika klarifikasi disampaikan yang tampak hanyalah keluguan –jika tidak bisa disebut kebodohan—umat Islam. Apalagi jika klaim IQ Rasulullah SAW tersebut hanya dijadikan alat jualan produk nutrisi otak dengan cover thibbun nabawi, tentu sangat tidak pantas. Umat muslim harus lebih cermat dalam menerima, mengolah dan menyebarkan informasi di era informasi seperti sekarang ini. Dan akhirnya, segala kebenaran hanyalah datang dari sisi Allah SWT. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in…

Shubuh Berjama’ah, Simbol Kekuatan Umat Islam

Barangsiapa yang melakukan shalat Isya berjama’ah maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barangsiapa yang melakukan shalat Shubuh berjama’ah maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.” (HR. Muslim)

Masjid Muniroh Ar Rukban 3 shubuh ini lebih ramai dari biasanya. Padahal baru tadi malam warga Perumahan Muslim Orchid Green Park baru membentuk RT baru dan memilih Ketua RT. Momentum 1 Muharram 1437 Hijriyah ini dimanfaatkan untuk menyebar undangan shalat shubuh berjama’ah ke seluruh warga perumahan, terinspirasi oleh aktivitas serupa yang pernah dilakukan di Masjid Jogokariyan – Yogyakarta. Alhasil, hampir seluruh warga hadir, meningkat dua kali lipat dari jama’ah shubuh biasanya. Tahun ini memang cukup marak gerakan shalat shubuh berjama’ah memanfaatkan momentum Tahun Baru Islam, terutama di kampus-kampus. Pun gerakan ini mungkin masih eventual, belum tentu bisa jadi kebiasaan, tapi hal ini tentu jadi sebuah indikasi kebangkitan Islam yang baik.

Banyak hadits yang mengungkapkan betapa besar keutamaan shalat shubuh berjama’ah, di antaranya adalah menjadi penghalang dari azab neraka, berada dalam jaminan Allah SWT, mendapatkan berkah dari-Nya dan cahaya yang sempurna pada hari kiamat. Masih terkait shalat Shubuh, ada kisah menarik yang terjadi dalam perang Mesir – Israel tahun 1973. Kala itu, seorang tentara Mesir mengutip sebuah hadits akhir zaman bahwa kaum muslimin akan mengalahkan Yahudi bahkan pohon dan batu tempat Yahudi bersembunyi pun akan membantu kaum muslimin. Seorang tentara Israel yang bisa berbahasa Arab dan mendengarnya kemudian menjawab, “Semua itu tidak akan terjadi sebelum shalat shubuh kalian sama dengan shalat Jum’at”.

Shalat malam dan shalat Shubuh kaya akan dimensi spiritual, aspek mendasar yang mampu menggerakkan dan menghadirkan kekuatan. Jernih dan segar. Selain itu, shalat Shubuh juga merupakan ujian keimanan dari bahaya kemunafikan. Dan benih-benih kemunafikan inilah yang nyata menggerogoti kekuatan umat Islam dari dalam sehingga semakin lemah dan tertinggal. Ketika kaum muslimin bisa terbebas dari sifat orang-orang munafik, maka kekuatan besar umat Islam takkan terbendung. Karenanya cukup beralasan shalat Shubuh berjama’ah dapat menjadi salah satu indikator utama kebangkitan Islam.

Saat ini kesadaran umat untuk bangkit dari keterpurukan dan kembali meraih kejayaan bersama Islam semakin tumbuh berkembang di tengah masyarakat. Hal ini secara sederhana dapat dilihat dari shalat shubuh di masjid. Semasa SMA, saya pernah merasakan tatapan heran dari para jama’ah shalat Shubuh yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari, mendapati anak usia sekolah ikut shalat Shubuh di masjid yang saat itu didominasi oleh orang-orang yang sudah sepuh. Sekarang masyarakat sudah mulai biasa mendapati anak muda yang rajin shalat berjama’ah di masjid termasuk pada waktu Shubuh. Selanjutnya tinggal terus mendakwahkannya ke masyarakat yang lebih luas dan istiqamah. In syaa Allah perkara yang tampaknya sepele ini akan menjadi penguat alasan Allah SWT untuk memberikan pertolongan dan kemenangan. Dan kesungguhan untuk bangkit berjuang demi tegaknya Islam sebagai Rahmat bagi seluruh alam itu dimulai dari sebuah amal sederhana: shalat Shubuh berjama’ah.

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra’: 78)

Inspirasi Merawat Indonesia dari Mancanegara

“Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu” (Imam Syafi’i)

Beberapa tahun lalu, Rhenald Kasali, salah seorang Guru Besar FEUI membuat tulisan tentang paspor yang disebutnya sebagai “surat izin memasuki dunia global”. Tanpa paspor, manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, dan menjadi pemimpin yang steril. Yang dimaksudkan Pak Rhenald tentu bukan sekedar keberadaan paspor, tetapi penggunaannya dalam bepergian ke luar negeri. Sebegitu pentingnya kah ‘tamasya’ ke mancanegara?

Indonesia Negara yang ramai dan ramah, penduduknya yang banyak takkan merasa kesepian. Indonesia Negeri yang kaya akan keragaman, hampir semua sketsa keindahan dunia ada di Indonesia. Mulai dari panorama dasar laut, pantai, sawah, hutan, hingga gunung berpuncak salju dapat ditemukan di nusantara. Lalu buat apa wisata ke luar negeri yang hanya menambah devisa Negara destinasi? Apalagi seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, gambaran tentang Negara-negara di penjuru dunia sudah terpampang jelas di dunia maya.

Katak yang terkungkung dalam tempurung akan melompat lebih rendah dibandingkan katak yang hidup di alam bebas. Tak heran, banyak pemimpin besar lahir dari mereka yang pernah merasakan perjalanan jauh ke tempat baru yang memberi inspirasi tersendiri yang mewarnai hidup mereka. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, begitu kata petuah Arab. Bukan Cina sebagai satu-satunya destinasi yang ditekankan, tapi betapa banyak hikmah yang dapat diambil dari setiap perjalanan. Hikmah yang lebih membentang cakrawala dalam berpikir dan bertindak.

Inspirasi itu datang melalui proses panjang, bahkan sekalipun ‘belum berhasil’ menempuh perjalanan ke luar negeri, hikmah itu sudah dapat dirasakan. Saya pernah urung mempresentasikan paper dalam kegiatan World Zakat Forum di New York, USA karena terbentur dengan berbagai prioritas kegiatan lain. Namun pengalaman mengurus visa USA yang penuh lika-liku bisa jadi cerita tersendiri. Dan dalam banyak kesempatan, selalu ada skenario lebih indah yang menyertai ‘asa yang tertunda’ asalkan ada keyakinan dan ikhtiar nyata. Karenanya kisah perjuangan yang tidak mudah untuk dapat menuai hikmah di luar negeri bisa menjadi inspirasi dan bahan refleksi diri.

Inspirasi itu hadir melalui interaksi lintas bahasa dan lintas budaya. Ada berbagai hal positif yang dapat diambil hikmahnya dan potret negatif yang kian memperkaya rasa syukur kita. Memang sudah menjadi watak manusia untuk kurang bersyukur sebelum kehilangan. Kecintaan terhadap tanah air akan semakin menguat di negeri orang, setidaknya itulah yang pernah saya rasakan. Di balik kekaguman akan kedisiplinan dan penataan kota di Singapura misalnya, ada semburat syukur atas potret Indonesia yang lebih humanis dan ramah. Di balik inspirasi akan fokus, kerja keras dan kemandirian penduduk negeri India, ada kebanggaan tersendiri menjadi warga Negara Indonesia yang lebih egaliter dan santun. Tekad untuk merawat Indonesia pun kian berkobar. Nilai rasa yang tidak tergantikan hanya dari telusur literatur ataupun berselancar di dunia maya.

Dunia adalah sebuah buku dan orang-orang yang tidak pernah melakukan perjalanan ia hanya membaca satu halaman. Hikmah dapat datang dari mana saja. Sesekali kita memang perlu menengok dari luar untuk memperbaiki rumah kita. Tentu berbagai inspirasi menandang mancanegara untuk merawat Indonesia tidak sebanding dengan inspirasi yang langsung dirasakan dengan bertualang ke negeri orang. Semoga kumpulan tulisan ini bukan sekedar menginspirasi, tetapi juga mampu memotivasi kita untuk bergabung sebagai para penjelajah hikmah perjalanan. Perjalanan yang –kata Imam Syafi’i—mampu melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” (H. Jackson Brown Jr.)

*tulisan ini merupakan kata pengantar buku online “Menandangi Mancanegara” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Kegelisahan Pribadi Efektif

You have to decide what your highest priorities are and have the courage—pleasantly, smilingly, nonapologetically, to say “no” to other things. And the way you do that is by having a bigger “yes” burning inside. The enemy of the “best” is often the “good”.” (Stephen R. Covey)

Beberapa hari lalu saya mengikuti Training Pribadi Efektif “Seni Mengelola Diri Sendiri dan Memimpin Orang Lain” yang diselenggarakan oleh tim Human Capital Dompet Dhuafa di Universitas Terbuka. Judul pelatihannya yang terdengar familiar ternyata memang diambil dari buku “The 7 Habits of Highly Effective People”nya Stephen R. Covey. Saya pernah membaca buku tersebut belasan tahun lalu saat masih SMA, cukup aplikatif dan inspiratif. Pelatihan yang diselenggarakan pun berisi intisari dari hal-hal yang tertuang dalam buku best seller tersebut.

Ulasan mengenai training pribadi efektif apalagi resensi terhadap bukunya sudah banyak beredar. Apresiasi, modifikasi, hingga kritik terhadap materi yang tertuang dalam buku tersebut juga tidak sedikit. Ada yang coba mengaitkan gagasan dalam buku tersebut dalam perspektif Islam, bahkan ada yang mengkritisi habis konsep yang dikatakan oleh Stephen Covey terinspirasi dari ajaran Mormon, yang dianggap sesat oleh umat Nasrani. Tulisan ini akan lebih banyak mengulas tentang kegelisahan saya akan adanya paradigma yang keliru dalam memaknai tujuh kebiasaan yang efektif. Pelatihan lima hari yang dipadatkan menjadi dua hari tentu memungkinkan terlewatkannya beberapa materi yang sebenarnya penting untuk membentuk paradigma yang benar.

Berkenaan dengan konsep diri, paradigma dan prinsip, konsep agama (Islam) adalah sesuatu yang seharusnya mendasari. Prinsip ‘tanam – tuai’ misalnya, jika dipahami hanya sebatas hukum kausalitas maka akan kontraproduktif ketika dibenturkan dengan takdir dan kehidupan setelah mati. Fenomena banyaknya orang baik yang hidup sengsara atau orang jahat yang hidup sejahtera menjadi sulit dijelaskan. Contoh lain prinsip ‘dari luar ke dalam’ yang jika dipahami sebagai kebertahapan mutlak akan mendorong seseorang untuk tidak membuat perubahan di luar sebab perbaikan diri sendiri sejatinya tidak akan pernah selesai. Bingkai agama akan membuat semuanya lebih jelas dan terarah.

Kebiasaan efektif pertama adalah proaktif (proactive). Proaktif dicirikan dengan sikap pantang menyerah dan pantang penyerang, bertanggung jawab dan tidak mencari kambing hitam, optimis serta fokus pada lingkaran kendali bukan lingkaran kekhawatiran. Lingkaran kendali adalah hal-hal yang bisa kita ubah sementara lingkaran kekhawatiran adalah hal-hal yang ingin kita ubah. Disinilah kemudian timbul dikotomi antara reaktif yang fokus pada lingkaran kekhawatiran dengan proaktif yang fokus pada lingkaran kendali. Padahal lingkaran kekhawatiran sejatinya adalah mimpi dan kepedulian, mereka yang hanya fokus pada lingkaran kendali hanya akan sibuk pada dirinya. Lingkaran kekhawatiran ada bukan untuk diminimalisir oleh lingkaran kendali, tetapi justru untuk diperluas, sehingga lingkaran kendali dapat terus berkembang. Disinilah seharusnya dipersepsikan bahwa proaktif adalah sikap reaktif yang produktif, fokus pada lingkaran kendali untuk mengubah hal-hal yang ingin kita ubah, bukan sekadar mengubah hal-hal yang bisa kita ubah.

Kebiasaan efektif kedua adalah mulai dari tujuan akhir (begin with the end in mind) yang ditandai dengan menuliskan mimpi dan pernyataan misi (mission statement). Menuliskan ‘terminal tujuan’ dan ‘halte-halte’ dalam hidup sudah banyak dipahami sebagai salah satu upaya penting dan serius dalam menggapai impian. Namun ada dua catatan disini. Pertama, ‘terminal tujuan’ memang sebaiknya lebih fundamental dan jangka panjang, tidak melulu ukuran materi. Namun bagaimanapun, target dan tujuan hidup yang terukur tetaplah diperlukan sebagai indikator keberhasilan, yang terkadang bersifat materi. Esensinya adalah kejelasan arah dan keterhubungan dengan ‘terminal tujuan’ bukan sebatas materi atau nonmateri, terukur atau tidak terukur. Kedua, fleksibilitas dan agility dalam mencapai ‘terminal tujuan’ tetap diperlukan di tengah arus perubahan dan ketidakpastian. Menambah halte, mengubah rute, bahkan membuat terminal bayangan tidak masalah jika memang diperlukan.

Kebiasaan efektif ketiga adalah dahulukan yang utama (put first things first). Sudah sejak SMA saya punya perspektif bahwa prioritas baru akan muncul jika ada benturan. Jadi selama semua masih bisa dikelola tanpa ada benturan, semua hal masih bisa dilakukan. Memprioritaskan kuadran penting dan tidak mendesak justru akan kontraproduktif jika tidak banyak hal yang perlu dilakukan. Belum lagi berbicara fakta bahwa banyak hal yang tidak bisa dikatakan penting namun tidak pula tepat disebut tidak penting, atau berbagai hal yang rasanya tidak pas dikatakan mendesak tapi tidak dapat pula dibilang tidak mendesak. Menariknya, adanya aktivitas di seluruh kuadran justru kerapkali membuat hidup lebih seimbang dan optimal, selama bisa dikelola dengan baik. Menyusun skala prioritas memang baik, namun mewaspadai penyakit malas dan suka menunda (prokrastinasi) tidak kalah baik.

Ketiga kebiasaan efektif pertama berbicara tentang sukses pribadi, sementara ketiga kebiasaan efektif berikutnya fokus pada sukses bersama yang memang lebih dapat dipahami dengan simulasi dan implementasi. Kebiasaan efektif keempat adalah berpikir menang – menang (think win – win). Faktanya, kita tidak bisa memuaskan semua orang, selalu ada pihak yang merasa tidak menang atau tidak diuntungkan. Sehingga jika win-win solution tidak mungkin dihasilkan, paradigma yang bisa dimunculkan adalah tidak boleh menzhalimi, tidak merugikan dan meminimalisir kemudhorotan. Akhirnya, tidak mendapat apa-apa atau bahkan menerima kekalahan dengan sikap positif bisa jadi merupakan sebuah kemenangan.

Kebiasaan efektif kelima adalah komunikasi empatik (seek first to understand, then to be understood). Mungkin karena keterbatasan waktu penjelasannya tidak menyeluruh. Komunikasi empatik tidak sesederhana yang dijelaskan. Mengulang dengan singkat apa yang dikatakan, membahasakan kembali dan merefleksikan perasaan hanyalah bagian kecil dari komunikasi empatik. Pun demikian dengan kebiasaan efektif keenam yaitu sinergi (synergize). Sinergi tidak melulu berbicara tentang perbedaan, tetapi justru kuat dengan berbagai kesamaan, sinergi juga tidak semata ada dalam ranah komunikasi namun banyak bermain dalam ranah aksi. Adapun kebiasaan efektif ketujuh adalah mengasah gergaji (sharpen the saw) yang melingkupi semua kebiasaan. Sayangnya fokus pembahasan lebih banyak menyoal mengapa dan apa, bukan bagaimana.

Kesuksesan bersumber dari rangkaian kebiasaan yang efektif sebenarnya mudah dipahami, banyak kisah yang dapat menjadi contoh. Akan lebih baik lagi jika kesuksesan tersebut dihubungkan dengan visi jangka panjang dalam bingkai keimanan dan ketakwaan. Jika sukses pribadi adalah menjadi hamba Allah yang beribadah dan sukses bersama adalah menjadi khalifah yang memakmurkan bumi, maka mengasah gergaji adalah keistiqomahan dalam menjalankannya. Semoga kita bisa menjadi pribadi efektif yang sukses pribadi dan sukses bersama, yang sukses dunia dan akhirat. Aamiiin…

Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a, “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 201-202)

Romantika Bulan Syawal

…Mengapa ujan gerimis aje, pergi berlayar ke Tanjung Cina. Mengapa Adek menangis aje, kalo emang jodoh nggak kemana, hey, hey! Eh ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin. Eh jangan menangis aje, bulan Syawal mau dikawinin…” (‘Hujan Gerimis’, Benyamin S. & Ida Royani)

Romantika itu bernama ikatan hati. Kembali memasuki bulan Syawal, ada yang tidak berubah selama sewindu terakhir: maraknya undangan pernikahan. Terinspirasi oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., bulan Syawal kemudian identik dengan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.  “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad). Selain dengan Aisyah r.a., Rasulullah SAW juga menikahi Ummu Salamah r.a. pada bulan Syawal.

Bulan Syawal konon artinya adalah peningkatan, namun referensi lain mengungkapkan bahwa penamaan Syawal berasal dari istilah “Syalat an-naqah bi dzanabiha” yang berarti onta betina menaikkan ekornya. Bulan Syawal adalah masa dimana onta betina mengangkat ekornya ketika didekati pejantan sebagai tanda tidak mau dikawini. Keadaan ini memunculkan keyakinan masyarakat jahiliyah bahwa ada kesialan yang menyertai Bulan Syawal. Ditambah lagi adanya musibah yang pernah terjadi di Bulan Syawal semakin menguatkan keyakinan tersebut. Karenanya, di masa jahiliyah ada pantangan untuk menikah di Bulan Syawal, hingga Islam datang dan membantah anggapan sial tersebut.

Romantika itu bernama semangat juang. Dalam Kitab “Dalil al Falihin li Syarh Riyadh al Shalihin”, Ibnul ‘Allan Asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang”. Jika perang Badar terjadi di Bulan Ramadhan, sejarah mencatat bahwa banyak perang besar yang dijalani Rasulullah SAW terjadi di Bulan Syawal, termasuk Perang Hunain, Perang Uhud, hingga Perang Ahzab atau Khandaq.

Semangat perjuangan yang menyala selama Ramadhan tidak boleh meredup di Bulan Syawal. Salah satu amalan yang disunnahkan untuk dilakukan di Bulan Syawal adalah puasa. Mengapa harus puasa padahal baru saja diwajibkan berpuasa sebulan penuh? Karena predikat takwa harus dilalui dengan perjuangan dan proses yang panjang. Kebaikan yang terus terjaga, bukan sekadar ikut-ikutan menjadi baik di bulan baik. Tidak heran, Bulan Syawal kemudian dikaitkan dengan peningkatan paska menjalani madrasah Ramadhan. “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Romantika itu bernama kerinduan. Baru sejenak Ramadhan pergi, sudah banyak kondisi yang berubah. Serta merta timbul kerinduan akan riuhnya suasana sahur di dini hari dan ramainya shalat berjama’ah di masjid khususnya di awal Ramadhan yang kini (kembali) tergantikan sunyi. Hadir rasa rindu akan ramainya suara tilawah Al Qur’an selepas shalat zhuhur berjama’ah yang sekarang tergantikan (lagi) dengan kesibukan mencari makan siang. Kangen dengan kebahagiaan saat berbuka. Kangen juga dengan tontonan yang ‘agak’ lebih berkualitas ataupun orang dan suasana yang mendadak lebih Islami. Bahkan canda-canda ringan seperti ‘orang puasa gak boleh marah’ atau ‘jangan bohong nanti puasanya batal’ juga membuat rindu.

Seorang salafush shalih pernah menjual budak wanitanya kepada seseorang. Ketika Ramadhan tiba, tuan barunya menyiapkan makanan, minuman dan segala keperluan untuk persiapan selama Ramadhan. Budak wanita itu heran dengan apa yang dilakukan oleh tuan barunya karena hal tersebut tidak pernah ia temui ketika masih mengabdi kepada tuannya yang lama. “Maaf tuan, kelihatannya anda sibuk sekali, sepertinya akan datang masa paceklik yang panjang?” tanyanya. “Kami sedang mempersiapkan menyambut Bulan Ramadhan” jawab tuannya. Budak itu berkata, “Memangnya kalian tidak berpuasa selain bulan ini? Demi Allah, aku dulu hidup bersama orang yang sepanjang masanya adalah Ramadhan, kembalikan saya kepada tuanku itu”.

Romantika itu tetap produktif dalam kesedihan. Yang sudah berlalu takkan kembali, namun masih bisa disongsong kehadirannya di masa depan. Penyesalan mendalam bukanlah merutuki nasib, tetapi memastikan hari-hari selanjutnya akan lebih baik. Romantika itu terus memupuk kerinduan dengan kontinyuitas amal shalih. Menghadirkan suasana yang dirindukan dalam keseharian hingga takdir yang akan mempertemukan kembali atau tidak lagi sempat bersua namun penuh dengan persiapan. Mumpung Ramadahan belum lama berselang, mari terus sibukkan diri dengan romantika produktif.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan –seperti gunung yang Nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.” (‘Perpisahan’, Kahlil Gibran)

Perkenalkan, Muthiah Rheviani Udiutomo

Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)

Alhamdulillah, prosesi aqiqah #DeMuthi terlaksana dengan lancar tepat di hari ketujuhnya, berbeda dengan prosesi aqiqah sang kakak yang tidak bisa tepat di hari ketujuh karena hampir seminggu masih harus dirawat di Rumah Sakit. Prosesi aqiqah kali ini juga lebih sederhana dan singkat, karena esensinya hanya menjalankan sunnah Rasulullah SAW sekaligus sebagai ungkapan syukur atas kehadiran buah hati dalam keadaan sehat. Tahadduts bin ni’mah. Apalagi kami belum genap satu tahun tinggal di perumahan baru sehingga menjadi penting membangun silaturahim dengan masyarakat sekitar.

Idealnya, pemberian nama juga dilakukan di hari ketujuh sebelum mencukur rambutnya, tetapi waktu seminggu tampaknya terlalu lama untuk bersabar menjawab pertanyaan ‘siapa namanya?’ dari rekan-rekan dan kerabat. Walaupun penentuan nama kali ini tidak semudah sebelumnya, bahkan sampai ketika bermalam di bidan pun nama belum difiksasi, namun akhirnya nama #DeMuthi sudah dilaunching sehari setelah kelahiran. Salah satu hal yang mempersulitnya adalah pergeseran waktu kelahiran dari yang diperkirakan di bulan Mei menjadi di awal Juni, tepatnya 3 Juni lalu. Si kakak yang sudah menyiapkan nama panggilan Mei-chan untuk adiknya juga harus dipahamkan bahwa nama adiknya adalah #DeMuthi. ^_^

Muthiah Rheviani Udiutomo, begitu kami (akhirnya) menamainya setelah melalui perenungan mendalam. Polanya tetap sama seperti nama kakaknya: nama shahabiyah/ orang shalih + nama yang bermakna baik + udiutomo. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya mereka (umat-umat terdahulu) menamakan (anak-anak mereka) dengan nama para nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka”. Berbeda dengan anak laki-laki, nama shahabiyah relatif terbatas, dan tidak ada Nabi dan Rasul perempuan. Akhirnya pilihannya terbatas, padahal salah satu fungsi nama adalah sebagai pembeda. Nama Rumaisha yang digunakan kakaknya saja sudah banyak yang menggunakannya, apalagi nama-nama  yang lebih popular seperti Maryam, Khadijah, Fathimah atau ‘Aisyah.

Singkat kata, terpilihlah nama Muthiah yang berarti perempuan yang ta’at, karena bagaimanapun nama adalah do’a. Sama halnya dengan Rumaisha (atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim), Muthiah juga merupakan sosok shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Keta’atannya pada suaminya menjadi teladan yang sulit ditemui di masa sekarang ini. Terlepas dari kontroversi nama Muthiah yang mungkin akan dibahas dalam tulisan lain, menjadi hal yang unik ketika mendapati bahwa ustadzah yang mengisi taushiyah dalam prosesi aqiqah juga bernama Muthiah. Nama Muthiah jika disingkat menjadi Muthi sebagai nama panggilan juga mengandung makna yang baik: orang yang ta’at.

Rheviani berasal dari kata ‘Rheva’ yang dalam bahasa latin berarti lahir dengan kekuatan. Salah satu hal yang paling berkesan dalam persalinan #DeMuthi adalah lahir dengan proses kelahiran normal 5 hari setelah hari perkiraan lahirnya dengan berat dan tinggi badan (3.2kg/ 49cm) yang lebih besar dari kakaknya (2.9kg/ 46cm) yang lahir melalui SC. ‘Revia’ sendiri merupakan bentukan dari kata ‘Reva’ yang berarti mampu bertahan. Dalam referensi lain, ‘Reva’ juga bermakna cantik dan kuat, rajin, pekerja keras, menyukai perubahan dan variasi, intuitif dan penuh inspirasi, mandiri, kritis terhadap diri dan orang lain. Sementara akhiran ‘ni’ menunjukkan anak kedua (‘ni’ dalam bahasa Jepang artinya dua) sebagaimana kata ‘alif’ dalam nama kakaknya menunjukkan anak pertama. Akhiran ‘ni’ juga menunjukkan bulan ‘Juni’ sehingga ide awal panggilan ‘Mei-chan’ bisa menjadi ‘Ni-chan’.

Nama tengah ini disengaja tidak menggunakan nama dari bahasa Arab yang di masa sekarang kerap mempersulit mobilitas seseorang. Penekannya lebih kepada maknanya baik. Penggunaan tiga kata dalam nama juga disengaja untuk memudahkan seseorang memperoleh paspor untuk umroh dan haji tanpa harus menambahkan nama. Untuk nama belakang, ‘udiutomo’ yang berarti mencari keutamaan tetap digunakan karena seseorang sebaiknya menisbatkan dirinya kepada nama ayahnya. “Panggillah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah” (QS. Al-Ahzab: 5). Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud yang sedikit lemah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian, maka pilihlah nama kalian yang paling baik”.

Salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberikan nama yang baik, nama yang sekaligus menjadi do’a kebaikan dari orang tua kepada anaknya. Semoga pemberian nama Muthiah Rheviani Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan kedua yang kuat, rajin, dan mandiri serta penuh ketaatan dalam kebaikan’… Aamiiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Cinta dalam Wahnan ‘Ala Wahnin

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan wahnan ‘ala wahnin (lemah yang bertambah-tambah), dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Ibu… Ibu…”, demikian erang istriku di malam itu, menjelang kelahiran buah hati kami. Istriku bukan memanggil ibunya untuk turut menemani proses kelahirannya, namun mengingat ibunya. Betapa besar rasa sakit yang harus diderita seorang ibu saat akan melahirkan anaknya, apalagi secara normal. Istriku memang sangat berharap dapat melahirkan secara normal, sebab persalinan sebelumnya harus melalui SC. Namun ternyata rasa sakit yang mendera begitu dahsyatnya hingga nyaris membuat putus asa. Sangat tidak bisa dibandingkan dengan sakit ketika sunat. Rasa sakit yang ini tidak terbayangkan.

Rasa pusing, mual, lemah, kadang bercampur demam ketika awal masa mengandung ternyata tidak ada apa-apanya. Beratnya membawa janin kesana-kemari juga belum seberapa. Bahkan sakit di punggung dan pinggul sehingga sulit tidur saat kehamilan semakin tua juga masih lebih ringan dibandingkan rasa sakit yang menyertai di saat-saat akhir jelang persalinan. Pantas saja tidak sedikit teman yang mengingatkan untuk mendampingi istri saat persalinan. Bukan sekedar karena istri butuh penguatan. Momen ini menyemai  kekaguman dan cinta yang serta merta tumbuh pada perempuan berpredikat IBU.

Luqman, salah seorang ahli hikmah yang namanya tercantum dalam Al Qur’an, mengajarkan hal penting dalam pendidikan anak. Setelah ia mengajarkan untuk memenuhi hak Allah SWT dengan menjauhi syirik dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, ia lantas mengajarkan untuk memenuhi hak kedua orang tua, yaitu dengan berbakti kepada keduanya. Lebih spesifik lagi, Luqman mengingatkan akan hak seorang ibu yang telah bersusah payah mengandung dan membesarkan seorang anak.

Dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alaih dikisahkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi SAW menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi SAW menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi SAW menjawab, “Kemudian ayahmu!”. Imam Qurthubi menjelaskan hadits ini bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Rasulullah SAW menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang Yaman itu bersenandung, ”Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.” Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”

Ya, kebaikan dan cinta yang telah diberikan seorang ibu tidaklah akan mampu dibalas. Dan seorang ibu memang tidak menuntut banyak balasan atas semua pengorbanannya. Ikhlash dan tanpa pamrih. Cukup kita yang tahu diri untuk mencoba membahagiakannya dan membuatnya selalu tersenyum. Bersyukurlah orang-orang yang masih memiliki ibu dan mampu menunjukkan baktinya kepadanya. Jarak tidak akan jadi kendala jika seseorang benar-benar cinta. Cinta dalam segala kepayahan yang beliau rasakan mungkin memang takkan pernah terbalaskan, namun masih ada cinta dan perhatian tulus yang dapat tersampaikan. Bahkan jika sosok ibu sudah tiada, masih ada untaian do’a dalam keheningan malam yang sangat beliau rindukan…

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)

Kembali Meniti Jalan Ini

Kembali meniti jalan ini setelah empat tahun bertualang ke medan juang yang lain. Ada romantika masa lalu yang sempat menyeruak. Mulai dari diskusi ringan dengan adik-adik, bermalam bersama di rumah kedua, hingga kebahagiaan melihat pancaran sinar mata mereka yang penuh harapan. Ada trauma menggelitik yang turut menyertai. Mulai dari mengurai masalah mereka yang tak merasa salah, mencoba memenuhi tuntutan dengan tidak memanjakan, hingga berbagai problematika dan dinamika dalam membina manusia.

Kembali meniti jalan juang ini, ternyata sudah banyak yang berubah. Rekan-rekan seperjuangan sudah banyak yang berganti peran. Adik-adik yang dulu dididik sudah beralih fungsi dan posisi turut menentukan arah perjalanan ini. Masalah kian bertambah seiring bertambahnya usia, kebijakan pun sudah banyak berubah. Rasa kepemilikan dan semangat perjuangan juga mengalami transformasi. Sekat – sekat yang terlihat dan tidak terlihat semakin kuat terasa. Entah mungkin diri ini yang semakin menua. Atau sekadar dilema adaptasi di masa transisi. Atau mungkin sebatas post power syndrome?

Kembali menyusuri jalan penuh kenangan. Ada tawa, tangis, suka, duka, marah, dan gembira di masa lalu yang terlintas. Menumbuhkan kembali cinta yang sempat teralihkan, menghapus kelelahan yang pernah bersemayam. Di jalan ini hubungan silaturahim banyak terjalin. Di jalan ini pula bertebaran berbagai hikmah dan pembelajaran yang mendewasakan. Tantangan yang berbeda tidak dapat dihadapi dengan cara yang sama. Terus berkembang dan tumbuh bersama.

Kembali meniti kanal kontribusi ini, banyak pekerjaan yang perlu dilakukan, paradigma yang perlu diluruskan, konsep dan struktur yang perlu diperbaiki, dan jembatan yang perlu dibangun. Waktu untuk berbenah tidak banyak, tidak boleh larut dalam gagasan sebatas angan. Selalu ada kebaikan dalam setiap ketentuan-Nya. Seorang pejuang sejati tidak memikirkan bagaimana dirinya akan ditempatkan dalam sejarah, namun ia akan berpikir bagaimana kelak dirinya akan ditempatkan di sisi Rabb-nya. Jalan ini, adalah jalan kontribusi ‘tuk meraih Ridha Ilahi…

Menengok Negara Paradoks Bernama India

Apa yang muncul di pikiran Anda ketika mendengar kata “India”? Bollywood? Joget-joget everywhere? Kemajuan teknologi? Anda benar. Atau slumdog? Kemiskinan everywhere? Penerapan sistem kasta yang diskriminatif? Anda tidak salah. India ibarat Dewa Janus dalam mitologi Romawi Kuno yang memiliki dua wajah yang saling berseberangan. Agak mirip dengan Dewa Yama dalam ajaran Hindu. Apapun analoginya, setidaknya paradoks itulah yang kami rasakan dalam perjalanan singkat di India. Dua kondisi yang tampaknya bertolakbelakang namun nyata terjadi di satu tempat, di satu waktu.

Asal nama India berasal dari nama sungai Indus, salah satu pusat peradaban kuno (3000 SM), membuat India kaya sejarah dan budaya. Tradisi masih coba dijaga, pakaian sari masih mudah ditemui dikenakan oleh wanita India. Sayangnya penerapan tradisi kasta sama artinya dengan pelestarian kemiskinan. India yang kaya sejarah justru terkesan sebagai Negara yang kotor dan jorok. Hampir semua tempat dapat menjadi toilet, untuk laki-laki maupun perempuan. Safety riding dan mematuhi peraturan lalu lintas menjadi hal langka di berbagai Negara bagian. Keselamatan dan keamananpun tidak terjamin, dengan sekitar 32 ribu kasus per tahun, India merupakan Negara dengan kasus pembunuhan terbanyak di dunia. Jauh dari kata beradab. Ketika seekor sapi menjadi makhluk yang dihormati, seorang janda dianggap pembawa sial. Di beberapa wilayah bahkan masih menerapkan ritual suttees, dimana istri yang ditinggal suaminya akan membakar dirinya hidup-hidup.

India adalah Negara demokrasi terbesar dengan penduduk mencapai 1.2 miliar, jumlah penduduk yang hanya kalah oleh China yang menerapkan sistem pemerintahan sosialis – komunis. Di satu sisi, demokratisasi di India membawa banyak perbaikan, terutama dari aspek pendidikan, ekonomi dan sosial. Pun demikian, angka kemiskinan, kelaparan dan penduduk buta huruf di India masih sangat tinggi. Demokratisasi juga tidak berbanding lurus dengan terpenuhinya hak-hak perempuan. Angka perkosaan dan pelecehan seksual masih tinggi. Sistem kasta yang diskriminatif dan bertentangan dengan nilai demokrasi juga masih diterapkan di lapangan. Bahkan pembahasan tentang kasta di tengah demokrasi India pun seolah menjadi suatu hal yang tabu. Ya, India bisa dikatakan sebagai paradoks Negara demokrasi (semu) terbesar di dunia.

India memang Negara besar dengan penduduk yang banyak, tersebar dalam 28 negara bagian dan 7 serikat. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di India termasuk Top 10 di dunia, namun PDB per kapitanya merupakan yang terendah di antara Negara berkembang di Asia. Kesenjangan dan nilai kemandirian menjadi paradoks di India. Subsidi pangan yang diberlakukan belum mampu mengatasi tingginya angka kelaparan, padahal India dikenal sebagai Negara penghasil teh dan susu terbesar di dunia. Wajah ‘kota mimpi’ Mumbai sebagai kota industri film terbesar dalam banyak film Bollywood sangat bertolak belakang dengan banyaknya slumdog area di penjuru India. Kesederhanaan memang menjadi salah satu wajah India, tetapi belum cukup menutupi wajah kemiskinan.

Lebih dari satu juta penduduk India adalah biliuner, bahkan aset bersih 25 orang terkaya mencapai 174.8 miliar dollar. Lalu mengapa kemiskinan tampak di hampir setiap sudut India? Bagaimana tidak, jika ternyata sekitar setengah miliar penduduk India terkategori miskin dengan pendapatan kurang dari 1 US$ per hari. Harga pangan memang murah namun biaya untuk membangun rumah sangatlah besar, tidak heran tidak sedikit penduduk India yang tinggal di jalanan. Yang mengherankan adalah seorang Mukesh Ambani, orang terkaya di India dengan aset senilai 24.2 miliar dollar, memiliki rumah pribadi senilai 1 miliar dollar!

India merupakan salah satu negara penghasil doktor terbesar, buah manis dari fokus ke pendidikan tinggi, pun di sisi lain angka putus sekolah tergolong tinggi. Lulusan kampus India memang diakui di dunia internasional, namun Indeks Pembangunan Manusianya bahkan lebih rendah dari Indonesia. Koran dan buku murah serta mudah didapat, perpustakaan pun relatif ramai. Ironisnya, India termasuk negara dengan jumlah penduduk buta huruf terbesar. Biaya kuliah terbilang murah, apalagi untuk mahasiswa pribumi, ditambah lagi adanya beasiswa untuk mahasiswa dari kasta rendah. Pun kuota untuk kasta rendah sudah disediakan, bahkan dalam dunia politik, realitanya peluang untuk ‘naik kasta’ tidak semudah itu. Profesor dan doktor, apalagi pimpinan perguruan tinggi masih didominasi kasta atas, betapapun kasta sudra dan dalit (non-kasta) berupaya keras.

Kemajuan teknologi di India juga sudah diakui di kancah internasional. Indian Institutes of Technology (IIT) termasuk kampus teknologi ternama di dunia dengan lulusan yang berkualitas. Bangalore (yang sekarang bernama Bengaluru) merupakan kota IT yang terkenal sebagai Silicon Valley of India. Ada juga kota Hyderabad yang dijuluki Cyberabad, semakin menunjukkan identiknya India dengan teknologi. Namun sisi lain India justru menunjukkan wajah gagap teknologi. Laptop yang dibawa mahasiswa asal Indonesia disana kerap dianggap barang mewah di beberapa kampus. Powerbank yang saya bawa tidak dikenali bahkan dicurigai oleh petugas keamanan. Sisi lain inilah yang menempatkan India sebagai Negara dengan birokrasi dan administrasi terburuk di Asia. Terdapat lebih dari 150 ribu kantor pos, tetapi pengiriman surat biasa terlambat berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Entah dikemanakan teknologi canggih itu.

Di dunia kesehatan, India memiliki dokter-dokter terbaik dan rumah sakit terbaik, namun rasio dokter : pasien di India mencapai 1 : 2000. Mayoritas penduduknya tidak menerapkan pola hidup bersih dan sehat, angka kematian dan tingkat aborsi di India juga tinggi. WHO mencatat ada sekitar 900 ribu jiwa yang meninggal per tahun di India dikarenakan air minum terkontaminasi. Kota Delhi yang tampak lebih beradab saja dicatat WHO sebagai ibukota dengan udara paling tercemar (tingkat partikulat 2.5 μm).

Menengok negara paradoks bernama India sejatinya melongok ke dalam negara kita sendiri, Indonesia. Ada potret yang sama terkait kesenjangan dan diskriminasi. Ada teguran yang serupa tentang kemiskinan dan keberadaban. Dan tidak semua paradoks berkonotasi negatif, sebagaimana yin dan yang ada untuk saling melengkapi. Ada pembelajaran tentang kesederhanaan dan kemandirian yang bisa didapat dari India. Ada pula pembelajaran tentang inovasi dan kefokusan yang menjadi catatan menarik dari India. Namun di sisi lain, hikmah tentang rasa syukur dan kepedulian menjadi hal lain yang tidak kalah bermakna.

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.” (Mahatma Ghandi)