Category Archives: i’tibar

Puasa: Metamorfosis Kupu-kupu atau Lebah?

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibangun manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An-Nahl: 68 – 69)

Ibadah puasa kerap dianalogikan sebagai proses metamofosis yang dilakukan ulat untuk berubah menjadi kupu‑kupu, yaitu perubahan dari sesuatu yang menjijikkan dan menakutkan (ulat) menjadi sesuatu yang indah dan menarik serta memberi banyak manfaat bagi makhluk lain (kupu-­kupu). Analogi menarik, dan lebih menarik dibandingkan jika mengambil analogi metamorfosis yang dilakukan binatang lain, seperti capung, jangkrik, belalang, lalat, ataupun nyamuk. Apalagi jika dibandingkan metamorfosis katak atau kecoa. Puasanya ulat juga lebih menarik untuk diambil hikmahnya dibandingkan dengan puasanya hewan lain seperti unta, kukang, ular, biawak, ataupun ayam betina.

Namun ada binatang yang juga melakukan metamorfosis sempurna –melewati fase telur, larva (ulat), pupa (kepompong), imago (dewasa)– yang seakan dilupakan. Salah satu dari tiga serangga yang menjadi nama surah dalam Al Qur’an, yaitu lebah. Jika kata An Nahl (lebah) dijadikan nama surah ke-16 Al Qur’an dan disebutkan dalam ayat ke-68 di surah tersebut, kata Al Farasya (kupu-kupu) justru disebutkan dalam surah Al Qari’ah yang menggambarkan kondisi manusia ketika datang hari kiamat. “Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran” (QS. Al Qari’ah: 4). Lalu bagaimana perbandingan analogi metamorfosis pada kupu-kupu dan lebah dengan puasa Ramadhan?

Fase telur kupu-kupu dan lebah relatif sama. Bedanya kupu-kupu bertelur di outdoor sementara lebah bertelur dalam sarangnya. Lebih aman, dijaga lebah dewasa pula. Selanjutnya telur menetas menjadi larva (ulat). Larva kupu-kupu (ulat) sangat menjijikkan bentuknya, kadang bahkan tubuhnya diselimuti duri yang beracun. Tidak sampai mematikan manusia sih, tapi cukup membuat bengkak dan gatal-gatal. Tidak hanya itu, ulat ini sangat aktif makan (jika tidak bisa dibilang serakah) sehingga merusak tumbuhan yang ditinggalinya. Sementara larva lebah tetap tinggal di sarangnya, makanannya pun disediakan oleh lebah yang merawatnya. Secara fisik memang agak menggelikan –istilah yang sepertinya lebih tepat dibandingkan menjijikkan—namun larva lebah tidak merusak. Bahkan dengan komposisi yang dikandungnya, larva lebah dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Menganalogikan manusia sebelum Ramadhan dengan ulat berarti memandang calon kontestan Ramadhan sebagai pribadi menakutkan yang berbuat kerusakan. Analogi yang lebih cocok untuk menggambarkan orang kafir sebelum memperoleh hidayah. Padahal sebelum Ramadhan, umat muslim seharusnya sudah mulai membiasakan amal shalih yang nantinya akan diperkuat di bulan Ramadhan. Bekal Ramadhan bukanlah dengan makan sebanyak mungkin atau berbuat kerusakan sebesar mungkin. Dalam konteks muhasabah (introspeksi) mungkin boleh, tetapi terlalu hina memandang diri sendiri juga bisa membuat manusia berputus asa dari Rahmat Allah. Yang lebih tepat adalah menyadari kekurangan diri, memperbanyak bekal persiapan, tidak berbuat kerusakan dan terus mencoba memberikan manfaat. Bisa saja Allah tidak menyampaikan pada bulan Ramadhan. Ya, seperti larva lebah.

Selanjutnya, larva kupu-kupu dan lebah akan menjadi pupa selama beberapa hari, pekan atau bulan (tergantung spesiesnya) dan berkembang ke bentuk yang lebih baik mengandalkan cadangan makanan yang diperolehnya ketika menjadi larva. Proses di dalam pupa kupu-kupu lebih radikal karena terjadi histolisis atau penghancuran dari dalam jaringan atau tubuh sendiri menggunakan cairan yang sebelumnya digunakan untuk mencerna makanan. Lalu histoblast pada larva akan menyusun ulang tubuh tersebut sehingga mampu menghasilkan bentuk yang (jauh) berbeda dengan fase larvanya. Kondisi pupa ini tidak boleh bocor atau mendapat gangguan berarti karena dapat menggangu jalannya histogenesis atau proses penyusunan ulang. Lebah lebih beruntung karena selama fase pupa dijaga oleh lebah dewasa, selain itu cadangan makanan yang ada di sarang (luar tubuh) membuat histolisisnya tidak terlalu radikal.

Seberapa revolusioner puasa mampu mengubah seseorang memang dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah hidayah dan persiapan menjelang Ramadhan. Persiapan Ramadhan yang cukup tidak akan mendatangkan lonjakan semangat tinggi sesaat ketika Ramadhan yang kemudian lenyap setelah Ramadhan berlalu. Namun memang ada manusia yang memperoleh pencerahan sebagai titik baliknya di bulan Ramadhan. Ia akan berubah secara signifikan keluar dari Ramadhan. Apalagi di dalam Ramadhan ada malam Lailatur Qadar yang juga menjanjikan hal tersebut. Namun ada juga yang berubah secara inkremental atau continuous improvement. Perubahan yang biasanya lebih terjaga.

Kemudian, dari pupa tersebut keluarlah kupu-kupu dan lebah dewasa. Kupu-kupu harus berjuang hidup dalam kemandirian, sementara lebah hidup dalam koloni. Bukan sekedar berjama’ah, lebah juga itqon (profesional). Koloni lebah memiliki pembagian tugas yang jelas, teratur, tertib, disiplin, dan penuh semangat bergotong-royong. Sementara kupu-kupu lebih individualis. Lebah juga gesit dan pekerja keras. Sayapnya berkepak hingga ratusan kali per detik. Dalam sehari, lebah pekerja mampu mengumpulkan nektar dari 250 ribu tangkai bunga dan butuh jarak tempuh lebih dari 1 juta kilometer untuk menghasilkan 1 kg madu. Lebah juga berani dan rela berkorban, menyengat musuh akan membawanya pada kematian. Sementara kupu-kupu lebih indah dipandang. Ya, hanya itu. Pun lebah juga arsitek pembuat sarang indah sih. Kupu-kupu dan lebah sama-sama berperan sebagai polinator yang membantu proses penyerbukan, dan sama-sama makan yang baik tanpa merusaknya. Bedanya, lebah akan menghasilkan madu, lilin lebah, tepung sari (pollen), propolis, susu lebah (royal jelly), hingga sengat lebah yang semuanya bermanfaat. Sedangkan kupu-kupu menghasilkan telur yang akan menjadi larva (ulat) yang menjijikkan dan merusak.

Keberkahan ibadah Ramadhan seseorang dapat dilihat selepas Ramadhan, bukan hanya secara fisik, namun juga dari kekuatan ruhiyah dan apa yang ditinggalkan. Ramadhan bukanlah bulan untuk menguruskan badan sehingga lebih enak untuk dilihat. Bukan pula bertujuan menghasilkan lulusan madrasah Ramadhan yang seakan berbeda dengan sebelum Ramadhan. Ramadhan mengharapkan ada jejak perbaikan jelas yang ditinggalkan, kontribusi nyata yang diberikan, dan kebaikan yang diwariskan. Menghadirkan banyak kebaikan secara berjama’ah dan terorganisir. Tidak hilang kebaikannya seiring berlalunya Ramadhan. Tidak kembali membuat kerusakan dan terlalaikan oleh tipu daya dunia. Ya, menjadi seperti lebah, bukan belalang kupu-kupu yang inkonsisten.

Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku” (HR. Muslim)

Thariq bin Ziyad: Sang Penakluk Andalusia

Thariq bin Ziyad berasal dari bangsa Barbar, yang saat ini merupakan daerah di sekitar Algeria. Mengenai sukunya, para sejarawan masih berbeda pendapat, dari suku Nafza atau suku Zanata. Ia bekas seorang budak yang kemudian dimerdekakan oleh Musa bin Nushair, Gubernur Afrika Utara dari dinasti Umayyah ketika menaklukkan daerah Tanja (ujung Maroko). Di tangan Musa ini pula ia memeluk Islam bersama orang-orang Barbar lainnya.

Setelah masuk Islam, mereka menjalankan seluruh syariat Islam dengan taat. Oleh karena itu, sebelum Musa bin Nushair pulang ke Afrika, ia meninggalkan beberapa orang Arab untuk mengajari mereka Al-Qur’an dan syariat Islam. Setelah itu Musa bin Nushair mengangkat Thariq, yang merupakan prajurit Musa yang terkuat, menjadi penguasa daerah Tanja dengan 19.000 tentara dari bangsa Barbar, lengkap dengan persenjataannya.

Pada bulan Rajab tahun 97 H (Juli 711 M), Thariq bin Ziyad mendapat perintah dari Musa bin Nushair untuk membebaskan semenajung Andalusia. Maka, dengan 7000 prajurit yang sebagian besar dari bangsa Barbar, Thariq berangkat menyeberangi selat Andalusia yang jaraknya 13 mil dengan perahu-perahu pemberian Julian, gubernur Ceuta di Afrika Utara, yang bersekutu dengan kaum muslimin untuk menentang raja Roderick, penguasa kerajaan Visigoth di Andalusia.

Pada bulan Ramadhan 97 H, pasukan kamum muslimin mendarat di pantai karang Andalusia. Thariq beserta pasukannya dihadapkan dengan 25.000 prajurit Visigoth. Sebuah peperangan yang tidak seimbang dalam segi jumlah. Tapi tentu saja, bagi kaum muslimin hal itu sama sekali bukan masalah. Bukankah sekian banyak peperangan yang dimenangkan oleh kaum muslim, adalah ketika jumlah mereka jauh lebih sedikit dari musuh?

Pada mulanya kedatangan pasukan Thariq ini membuat heran Tudmir, penguasa setempat yang berada di bawah kekuasaan Raja Roderick, karena mereka datang dari arah yang tidak diduga-duga, yaitu dari arah laut. Namun, yang fenomenal adalah, tindakan yang diambil oleh sang panglima Thariq bin Ziyad yang memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa para pasukan kaum muslimin.

Sebuah langkah yang sampai sekarang dicatat dalam sejarah sebagai suatu bentuk keberanian dan keyakinan yang tiada banding, yang hanya bisa dilakukan atas dasar keimanan yang besar dan keyakinan akan pertolongan Allah SWT ditengah suasana pertempuran dan  kondisi pasukan muslim yang saat itu sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Thariq bin Ziyad menyampaikan sebuah pidato panjang yang membuat jiwa kaum muslimin penuh semangat dan keyakinan.

Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, kemanakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian!!”

Akhirnya pertempuran ini dimenangkan oleh Thariq beserta pasukan kaum muslimin. Raja Roderick sendiri tewas dalam pertempuran tersebut, Andalusia pun terbebas. Thariq kemudian meminta tambahan pasukan kepada Gubernur Musa. Lalu dikirimlah 5000 prajurit yang sebagian besar berasal dari bangsa Barbar. Satu demi satu kota-kota di Andalusia berhasil diduduki tentara Thariq: Elvira, Granada, Cordoba, Malaga dan Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Visigoth. Antara musim semi sampai musim panas tahun 711 H, Thariq telah berhasil menguasai separuh wilayah Andalusia.

Dalam kitab Tarikh al-Andalus, disebutkan bahwa sebelum meraih keberhasilan ini, Thariq telah mendapatkan firasat bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah SAW bersama keempat khulafaur Rasyidin berjalan di atas air hingga menjumpainya, lalu Rasulullah SAW memberitahukan kabar gembira bahwa ia akan berhasil menaklukkan Andalusia. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk selalu bersama kaum muslimin dan menepati janji.

Setelah meraih kemenangan ini, Thariq menulis surat kepada Khalifah  Musa, mempersembahkan kemenangan kaum muslimin ini. Dalam suratnya itu ia menulis, “Saya telah menjalankan perintah Anda. Allah telah memudahkan kami memasuki negeri Andalusia.” Nama pejuang Islam ini begitu harum, hingga harus diabadikan untuk sebuah semenanjung perbukitan karang setinggi 425 m tempat pasukan Thariq mendarat pertama kali di pantai tenggara Spanyol, yaitu Gibraltar atau Jabal Tariq

Muhammad Al Fatih: Sang Pembebas

Sultan Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih adalah sultan ketujuh kekhalifahan Turki Utsmani. Gelar al-Fâtih (Sang Pembebas/ Penakluk) diperolehnya karena kerberhasilannya membebaskan Konstantinopel, ibukota Romawi Timur. Ia pula yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Sejak saat itu, Islambol menjadi pusat kekhalifahan Turki Ustmani hingga 407 tahun berikutnya. Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.

Sejak kecil, Muhammad dilatih hidup sederhana dan dididik oleh orang-orang terbaik di zamannya. Beliau hapal Al Qur’an di usia dini dan gemar mempelajari biografi tokoh Eropa. Dalam Perkembangannya, Muhammad tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan ahli dalam bidang militer, tata negara, sains, dan matematika. Bahkan, saat usianya masih 21 tahun, ia telah berhasil menguasai 6 bahasa, yaitu Arab, Latin, Yunani, Serbia, Turki, Persia, dan Hebrew. Di atas semua itu, ia merupakan pribadi yang saleh dan ahli ibadah. Ia tidak pernah meninggalkan salat wajib, tahajjud dan rawatib sejak balig hingga wafat.

Muhammad memerintah selama dua periode. Periode pertama adalah 1444-1445 M saat berusia 12 tahun. Muhammad diberi mandat menggantikan ayahnya, Murad II yang memilih beruzlah dan menjauh dari hiruk pikuk politik di tengah berbagai masalah, internal dan eksternal. Sebagai khalifah yang masih sangat belia, Muhammad berinisiatif mengirim utusan kepada ayahanya dengan membawa pesan yang isinya mengajak sang ayah tidak berdiam diri menghadapi masalah Negara. Akhirnya, Murad II kembali memerintah hingga meninggal dunia tahun 1451 dan digantikan oleh Muhammad.

Pada periode ini kedua kepemimpinannya (1451-1481 M), Sultan memulai upaya pembebasan Konstantinopel. Ia melakukan langkah-langkah matang untuk menyukseskan misi suci itu. Sejak menaiki singgasananya, Sultan harus rela ‘begadang’ setiap malam guna mempelajari peta dan keadaan kota Konstantinopel guna mencari strategi jitu untuk penyerangan. Sultan mempelajari lokasi-lokasi mana yang cocok untuk pertahanan dan mencoba menemukan titik-titik kelemahan musuh. Selain itu, sultan juga mengevaluasi kegagalan pasukan Islam sebelumnya.

Pada hari Jum’at, 6 April 1453 M, Sultan bersama gurunya Syekh Aaq Syamsuddin, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Byzantium dari berbagai penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 150.000 pasukan dan meriam buatan Urban, teknologi baru saat itu, Sultan mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Konstantin Paleologus menjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.

Kota dengan benteng setinggi 10 meter tersebut memang sulit ditembus. Apalagi di sisi luar benteng dilindungi oleh parit selebar 7 meter. Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis. Dari arah selatan laut Marmara, pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Beberapa pekan berlalu, benteng Byzantium tidak juga bisa ditembus. Usaha penyerangan lain dengan menggali terowongan di bawah benteng memang cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam semalam. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal bisa memasuki selat Golden Horn.

29 Mei, setelah sehari istirahat perang, diiringi hujan Sultan kembali menyerang total dengan tiga lapis pasukan: Irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan elit Turki Utsmani, Yanisari. Melihat semangat juang umat Islam, Giustiniani menyarankan Konstantin untuk mundur atau menyerah. Tapi Konstantin tetap bergeming hingga gugur di medan perang. Dikabarkan, Konstantin melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tidak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.

Saat Konstantinopel telah berhasil dibebaskan, Sultan Muhammad yang masih berusia 21 tahun itu turun dari kudanya dan bersujud syukur kepada Allah. Sultan lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memberikan perlindungan kepada semua penduduk, termasuk Yahudi dan Kristen. Kemudian Sultan mengubah Hagia Sophia menjadi masjid yang dikenal dengan Aya Sofia dan membiarkan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.

Setelah itu, Sultan membebaskan Serbia (1460 M) dan Bosnia (1462 M). Selanjutnya Sultan membebaskan Italia, Hungaria, dan Jerman. Pada puncak kegemilangannya, Sultan Muhammad memerintah di 25 Negeri. Kemudian Sultan membuat persiapan untuk membebaskan Rhodesia. Tapi sebelum  rencana itu terlaksana Sultan meninggal dunia karena diracun oleh seorang Yahudi bernama Maesto Jakopa. Sultan Muhammad wafat pada 3 Mei 1481 ketika berusia 49 tahun.

Salahuddin al Ayyubi: Singa Padang Pasir

Salahuddin lahir di Tikrit, di tepi Sungai Tigris tahun 1137 M. Keluarganya berasal dari suku Kurdi. Ia dibesarkan di sebuah keluarga birokrat terpandang di kekhalifahan Islam di Iraq. Sultan Zengi di Syria menunjuk ayahnya yang piawai di pemerintahan dan diplomasi sebagai gubernur kota Baalbek. Salahuddin yang memiliki nama asli Salah al Din Abu Muzaffir Yusuf ibnu Ayyub ibnu Shadi, menghabiskan masa kecilnya di Baalbek dan Damascus. Saat ia berusia enam tahun, umat Islam tengah berperang dengan kaum Nashrani. Meski situasi tak menentu, ia tetap ditempa ayahnya untuk menguasai sastra, ilmu kalam, menghafal Al Quran dan ilmu hadits di madrasah.

Di abad pertengahan, harapan hidup termasuk kecil dan kaum muda diberikan tanggung jawab besar sejak usia dini. Pada usia 14 tahun, Salahuddin telah menikah dan ditarik pamannya, Shirkuh yang menjabat sebagai komandan militer senior di kota Aleppo ke dalam divisi militernya. Dunia kemiliteran semakin diakrabinya setelah Sultan Nuruddin menempatkan ayahnya sebagai kepala divisi milisi di Damascus. Pada umur 26 tahun, Salahuddin menjadi asisten pamannya dalam memimpin pasukan muslimin yang berhasil memukul mundur pasukan salib dari perbatasan Mesir dan Aleppo.

Berada di lingkar pusat militer membuat Salahuddin menyaksikan bagaimana kebijakan strategis politik terhadap pasukan salib diputuskan pihak kekhalifahan. Bakat kepemimpinan dan militernya diendus oleh Sultan Nuruddin. Pada tahun 1169 M, ia diangkat sebagai wazir atau panglima gubernur menggantikan pamannya. Meski memiliki ayah dan paman yang telah berpengalaman, mentor utama Salahuddin justru Sultan Nuruddin. Sultan Nuruddin adalah penguasa Muslim pertama yang melihat jihad terhadap pasukan salib dapat berhasil jika bangsa Muslim bersatu.

Tiga tahun kemudian, ia menjadi penguasa Mesir dan Syria menggantikan Sultan Nuruddin yang wafat. Suksesi yang ia lakukan sangat terhormat, yaitu dengan menikahi janda mendiang Sultan demi menghormati keluarga dinasti sebelumnya. Ia memulai dengan revitalisasi ekonomi, reorganisasi militer, dan menaklukan Negara-negara muslim kecil untuk dipersatukan melawan pasukan salib. Impian bersatunya bangsa muslim tercapai setelah pada September 1174 M, Salahuddin berhasil menundukkan Dinasti Fatimiyah di Mesir untuk patuh pada kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad. Dinasti Ayyubiyah akhirnya berdiri di Mesir menggantikan dinasti sebelumnya yang bermazhab syiah.

Di usia 45 tahun, Salahuddin telah menjadi orang paling berpengaruh di dunia Islam. Dalam waktu 12 tahun, ia berhasil mempersatukan Mesopotamia, Mesir, Libya, Tunisia, wilayah barat jazirah Arab dan Yaman di bawah kekhalifahan Ayyubiyah. Kota Damascus di Syria menjadi pusat pemerintahannya. Kota Yerussalem tetap menjadi target utamanya. Namun ia berhati-hati dalam mengambil keputusan mengenai kota suci yang dikuasai bangsa Nashrani ini. Ia belajar dari kekalahannya di pertempuran Montgisard tahun 1177 M oleh pasukan gabungan Raja Baldwin IV Yerussalem, Raynald of Chatillon dan Ksatria Templar. Hanya sepersepuluh saja dari pasukannya yang berhasil pulang ke Mesir.

Perjanjian damai sempat disepakati antara Salahuddin dan Raja Baldwin IV. Namun sebuah insiden memaksa Salahuddin untuk menggelar kembali misi perebutan Yerussalem. Ini di picu oleh aksi penyerangan Raynald of Chatillon terhadap rombongan pedagang dan peziarah haji yang melintasi wilayah Palestina secara membabi buta. Seorang adik perempuan Salahuddin menjadi korban penyerangan ini.

Di balik jubah perangnya melegenda sebuah jiwa ksatria yang dihormati oleh para raja. Ia pembebas kota suci Yerussalem dari bangsa Nashrani sekaligus pelindung setiap nyawa musuh yang telah ditundukkannya. Seisi kota Yerussalem pada tahun 1187 M menyambut sang penakluk yang baru saja memasuki gerbang utama kota ini. Setelah pengepungan kota beberapa minggu lamanya, kaum muslimin akhirnya sukses merebut kembali kota suci ini. Salahuddin Al Ayyubi, Sultan dari Kekhalifahan Muawiyah di Mesir bersama pasukannya menerobos kerumunan penduduk Yerussalem yang mengelu-elukannya.

Sebagian penduduk kota bergembira atas datangnya pembebas kota suci Islam dari genggaman bangsa Nashrani ini, lainnya justru berharap cemas atas kelanjutan nasibnya. Setiap orang memikirkan seperti apa kemurahan hati penguasa baru ini terhadap penduduk kota yang ditaklukkannya. Tak ada yang lupa sosok penakluk kota Yerussalem terdahulu terhadap para penduduk kota. Sekitar 88 tahun lalu, Yerussalem yang masih dikuasai umat Islam jatuh ke tangan pasukan salib yang menyerbu dari daratan Eropa. Setiap penduduk kota, baik Muslim, Yahudi bahkan Nashrani sekalipun dibantai habis tanpa ampun. Jalan-jalan digenangi darah sampai keganasan itu lelah atau terhenti dengan sendirinya.

Meski bangsa Nashrani pernah membuat Yerussalem bermandikan darah, Salahuddin tidak membalas dendam. Seperti saat Rasulullah SAW memasuki kota Mekkah bersama 10.000 pasukannya, Salahuddin datang tanpa pertumpahan darah. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang akan menjadi begitu terkenal kepada seluruh penduduk Yerussalem, “Pergilah kemanapun kalian hendak pergi, kalian telah bebas”. Tindakan mulia Salahuddin mencengangkan setiap orang saat itu. Penduduk penganut agama selain Islam dan pejabat penguasa yang menyerah diperlakukan dengan santun dan baik. Pasukan musuh yang menyerah mendapat perlindungan dari penganiayaan dan diperlakukan dengan hormat.

Sikap ksatria Salahuddin menjadi sebuah legenda heroik di abad pertengahan. Ia dicintai tak hanya oleh kaum muslimin tetapi juga dihormati oleh raja-raja dari bangsa Nashrani, termasuk King Richard Lionheart dari Inggris, musuh terbesarnya saat perang salib. Penyair dan sastrawan masa lalu menginterpretasikannya sebagai suri tauladan bagi kesopanan dan keksatriaan. Bagi sebagian umat Nashrani, sosok Salahuddin bahkan dianggap sebagai figur dengan darah Eropa di nadinya dan seorang ksatria di hati. Namun bagi umat Islam, ia lebih dari sekadar ksatria atas panji Islam. Ia adalah seorang pria beriman dan visioner, seorang pembangkit semangat serta menjadi panutan atas keilmuan dan keberanian.

Khalid bin Walid: Pedang Allah yang Terhunus

Khalid bin Walid adalah seorang panglima perang yang termasyhur dan ditakuti di medan tempur. Ia mendapat julukan “Pedang Allah yang Terhunus”. Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang karirnya. Khalid masih ada hubungan keluarga dengan Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab. Maimunah, bibi Khalid, adalah istri Nabi sementara Umar adalah saudara sepupunya. Suatu hari di masa kanak-kanak, Khalid pernah mematahkan kaki Umar ketika beradu gulat. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat dipulihkan.

Awalnya Khalid bin Walid adalah panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Pada saat Perang Uhud, Khalid yang melihat celah kelemahan pasukan Muslimin yang menjadi lemah setelah bernafsu mengambil rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud, langsung menghajar pasukan Muslim pada saat itu. Namun justru setelah perang itulah Khalid masuk Islam.

Ayah Khalid, Walid bin Mughirah dari Bani Makhzum adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa di antara orang-orang Quraisy. Dia orang yang kaya raya dan sangat menghormati Ka’bah. Dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah dua kali dalam setahun. Pada masa ibadah haji, dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina. Suku Bani Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, merekalah yang mengurus gudang senjata dan tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit. Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang lebih dibanggakan seperti Bani Makhzum.

Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam di lembah Abu Thalib, orang-orang Bani Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu. Ketika Khalid bin Walid masuk Islam, Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat membela panji-panji Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan Khalid diangkat menjadi panglima perang dan menunjukkan hasil kemenangan atas segala upaya jihadnya.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid ditunjuk menjadi panglima pasukan Islam dalam Perang Yarmuk. Ia tidak gentar memimpin 46.000 pasukan Islam menghadapi 240.000 angkatan perang Romawi yang terlatih dan memiliki persenjataan lengkap. Bukan Khalid namanya jika tidak mempunyai strategi perang, dia membagi pasukan Islam menjadi 40 kontingen dari 46.000 pasukan Islam untuk memberi kesan seolah-olah pasukan Islam lebih besar dari musuh.

Strategi Khalid ternyata sangat ampuh dalam menghadapi taktik yang digunakan oleh pasukan Romawi yang membagi tentaranya menjadi lima bagian: depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Panglima perang Romawi, Heraklius telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain agar mereka tidak lari dari peperangan. Kegigihan Khalid bin Walid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang mencengangkan. Pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih sedikit berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah tersebut.

Perang yang dipimpin Khalid lainnya adalah perang Riddah, yaitu perang melawan orang-orang murtad. Perang Riddah ini terjadi karena suku-suku bangsa Arab tidak mau tunduk dan menentang pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Rasulullah SAW otomatis batal setelah beliau wafat. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid sebagai jenderal pasukan perang Islam untuk melawan kaum murtad tersebut. Hasilnya kemenangan ada di pihak Khalid.

Masih pada pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid dikirim ke Irak dan berhasil menguasai Al-Hirah pada 634 M. Kemudian Khalid bin Walid diperintahkan Abu Bakar meninggalkan Irak untuk membantu pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid. Khalid bin Walid memang sempurna di bidangnya: ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya, namun dia tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Hal ini ditunjukkannya saat Khalifah Umar bin Khathab mencopot kepemimpinan Khalid bin Walid tanpa ada kesalahan apa pun. Ia tetap menuntaskan perang dengan sempurna. Setelah meraih kemenangan, kepemimpinan ia serahkan kepada penggantinya, Abu Ubaidah bin Jarrah. Khalid tidak mempunyai obsesi dengan ketokohannya dan tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Kepemimpinannya dianggapnya sebagai sebuah perjuangan dan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Itulah yang ia katakan menanggapi pergantiannya, “Saya berjuang untuk kejayaan Islam, bukan karena Umar!”

Jadi, di mana pun posisinya, selama masih bisa ikut berperang, stamina Khalid tetap prima. Itulah nilai ikhlas yang ingin dipegang seorang sahabat Rasulullah seperti Khalid bin Walid. Khalid bin Walid pun akhirnya dipanggil oleh Sang Khaliq. Umar bin Khathab menangis. Bukan karena menyesal telah mengganti Khalid. Tapi ia sedih karena tidak sempat mengembalikan jabatan Khalid sebelum akhirnya “Si Pedang Allah” menempati posisi khusus di sisi Allah SWT.

Roda Kehidupan

“…Roda kehidupan dunia berputar, mewarnai nasib manusia, suka dan terkadang duka. Dalam kehidupan dunia, tiada insan yang bebas dari cobaan. Baik bagi si miskin ataupun yang kaya, baik bagi jelata atau yang berjaya. Lain orang lain ujian, itulah keadilan Tuhan” (‘Roda Kehidupan’, Rhoma Irama)

* * *

Kehidupan bagaikan roda, beribu zaman terus berputar…”, begitu penggalan lirik nasyid ‘Untukmu Syuhada’nya Izzatul Islam. Kita tentu mafhum, suka dan duka, tangis dan tawa silih berganti mewarnai kehidupan. Periodenya tentu saja tidak sesaklak putaran roda. Ada kalanya kebahagian cukup lama dirasakan, atau ada juga yang hidupnya banyak dihabiskan dalam kesengsaraan. Analogi roda –kadang ada di atas, kadang ada di bawah– nampaknya cukup menarik untuk dikaji, apalagi setiap hari yang namanya roda begitu mudah kita jumpai.

Roda dipercaya sebagai salah satu penemuan terbesar manusia yang sangat bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan. Desain roda terus berkembang sejak zaman Mesopotamia pada tahun 3000 SM hingga saat ini. Ada beberapa bagian penting dari roda, diantaranya velg yang menjaga bentuk roda, menghubungkannya dengan poros tempatnya bisa berputar sekaligus memperindah roda. Untuk roda berisi udara, ada karet untuk mengurangi guncangan dan ada pula bagian bernama pentil yang berfungsi menjaga agar dalam keadaan normal roda hanya bisa dilalui udara dengan satu arah, yaitu masuk ke dalam roda, tidak keluar. Tulisan ini tidak akan detail membahas bagian roda, namun lebih mendalam mengupas hikmah di balik idiom ‘roda kehidupan’.

Jika kita cermati fungsi roda untuk memudahkan pergerakan, maka kita akan mendapati posisi roda akan selalu ada di bagian bawah kendaraan. Artinya, ketika roda sedang berada di atas pun, masih ada posisi yang lebih tinggi, atap kendaraan bahkan badan kendaraan itu sendiri. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk tidak sombong. Ketika posisi kita sedang di atas, kita harus menyadari bahwa masih ada yang lebih atas lagi sehingga kita tidak layak merendahkan yang ada di bawah. “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Isra’ : 37)

Di sisi lain, roda berputar di atas jalan, ada alas berupa tanah, aspal dan sebagainya yang dipijaknya. Artinya, ketika roda sedang berada di bawah pun, masih ada posisi yang lebih rendah, yang bahkan tergilas dan terlindas oleh roda tersebut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk bersyukur. Ketika posisi kita sedang di bawah sekalipun, kita harus menyadari bahwa masih ada yang tidak seberuntung kita. Banyak hal yang lebih layak untuk disyukuri, bukan dikeluhkan. Rasa syukur itu yang akan membawa kita pada posisi yang lebih tinggi tanpa harus tinggi hati. “Lihatlah orang yang lebih bawah daripada kamu, jangan melihat orang yang tinggi daripada kamu, karena dengan demikian kamu tidak akan lupa segala nikmat Allah kepadamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam realitanya, ada orang yang terus diliputi kebahagiaan, berlimpah harta beberapa generasi dan sebaliknya, ada juga yang terus menderita, miskin turun temurun. Bagaimana ‘roda kehidupan’ mampu menjelaskan hal ini? Perhatikan putaran roda pesawat ketika di darat dan di udara. Ketika di darat, setinggi – tingginya putaran roda pesawat, tidak akan lebih tinggi dari roda mobil yang ada di pegunungan, apalagi bandara biasanya ada di dataran rendah dekat pantai. Sebaliknya, serendah – rendahnya roda pesawat di udara, tidak akan lebih rendah dari roda motor yang ada di darat. Artinya, wilayah beroperasinya roda akan menentukan tinggi – rendahnya posisi roda di atas permukaan laut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk berikhtiar. Jika kita tidak berusaha membawa ‘kendaraan’ kita ke tempat yang lebih tinggi, putaran roda kehidupan setinggi apapun tidak akan mengangkat kita dari tempat yang rendah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS. Ar Ra’du : 11)

Kehidupan bagaikan roda pedati, sesekali di atas, kadang – kadang di bawah. Naik turun dalam menjalani kehidupan sudah menjadi keniscayaan, tinggal bagaimana kita bijak menyikapinya. Tidak sombong ketika ada di atas, tetap bersyukur ketika ada di bawah dan terus berupaya memperbaiki kehidupan sehingga putaran roda kita semakin tinggi. Membawa roda ke tempat lebih tinggi memang tidak mudah dan butuh energi lebih, apalagi dibandingkan membawanya turun, namun pemandangan di atas sana lebih indah, banyak hikmah selama perjalanan dan roda kehidupan kitapun akan semakin kuat.

* * *

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” (Pramoedya Ananta Noer)

Jari Tangan dan Kepemimpinan

Sang pemimpin menemukan impiannya baru pengikutnya. Pengikut menemukan pemimpinnya baru impiannya” (John C. Maxwell)

Ada sebuah tulisan yang menganalogikan perjalanan hidup manusia dengan jari tangan, mulai dari masa kecil (kelingking) hingga tumbuh dewasa (ibu jari). Menarik, namun saya tidak sepenuhnya sepakat karena menjelang akhir perjalanan hidupnya manusia akan kembali suka mencari perhatian, dan akan kembali lemah. Alur yang bolak – balik, tidak searah. Ada juga yang membuatan tulisan analogi dengan ibu jari sebagai pemimpin dan kelingking adalah rakyatnya. Lucu juga. Dan saya lebih tertarik untuk menganalogikan jari tangan dengan tipe pemimpin yang banyak ditemui.

Kelingking, menggambarkan pemimpin yang lemah dan tidak memiliki karakter. Rapuh dan tidak punya kekuatan. Pemimpin yang tidak dianjurkan untuk dipilih karena salah satu syarat pemimpin adalah quwwah. Hal ini terlihat dari jawaban Rasulullah kepada Abu Dzar yang menawarkan diri sebagai penguasa (amil), “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya” (HR. Muslim). Namun realitanya, pemimpin jenis ini kerap dipertahankan karena keberadaannya dapat mengakomodasi kepentingan golongan.

Jari manis, melambangkan pemimpin sebagai simbol, sebagai pemanis. Pemimpin yang belum matang. Kehadirannya ada karena orang di belakangnya atau asal jangan orang tertentu. Kepadanya bisa jadi disematkan banyak predikat dan kebanggaan, bahkan berjuta kehormatan. Namun ketidakmatangannya membuat pemimpin ini rapuh, tak punya pendirian. Karena kepemimpinannya adalah semu, bayang – bayangnyalah yang sejatinya memimpin. Para pesilat lidah banyak mengelilingnya dan mengajarkannya untuk lihai dalam menebar janji manis. Realitanya, pemimpin sepeti inipun kerap dipertahankan, karena pemimpin semu biasanya juga memiliki pengikut semu. Apalagi tidak sedikit orang yang masih mengedepankan simbol dan tampak luar dibandingkan esensi dan isi.

Jari tengah, mencirikan pemimpin yang tinggi dan kerap arogan. Pemimpin ini ada di menara gading dan kurang bersinggungan dengan dengan orang yang dipimpinnya. Pemimpin ini biasanya memiliki kualitas personal yang baik, punya beberapa kelebihan namun tidak cukup bijak dalam menentukan kebijakan. Utamanya karena ketidakpahamannya dengan realita yang terjadi di bawahnya. Gap inilah yang membuatnya banyak dipuja sekaligus banyak dihujat. Sulit diingatkan, cukup otoriter dan tidak mudah digulingkan. Pun ketika jatuh akan sangat terjerembab. Realitanya, pemimpin seperti ini kerap dianggap pemimpin ideal karena keunggulannya pun sebenarnya pemimpin seharusnya melayani bukan dilayani.

Telunjuk, menandakan pemimpin yang cakap mengatur. Geraknya relatif lincah dan cerdas dalam memberikan arah. Pemimpin yang lebih tepat disebut manajer ini biasanya aktif dan visioner. Paham kekuatan diri dan dapat memberdayakan yang dipimpinnya. Hanya saja pemimpin ini kurang baik dalam refleksi diri, ibarat tidak sadarnya telunjuk yang menuding sementara tiga jari lainnya menunjuk ke diri sendiri. Karenanya kebijakan yang diputuskan kerap dianggap semena-mena, perintah yang diberikan sering dipandang sebagai beban. Realitanya, pemimpin ini banyak diikuti, khususnya oleh mereka yang tidak memiliki mentalitas pemimpin dan mereka yang tidak tentu arah, mengikuti dengan atau tanpa kesertaan jiwa. Dibutuhkan dalam mengatasi kesemrawutan namun menjadi sangat berbahaya jika salah arah.

Ibu jari, mencerminkan pemimpin yang penuh keteladanan. Berjiwa besar, kokoh dan dapat diandalkan. Rendah hati walau sebenarnya dia ada di posisi teratas. Dapat menyentuh semua golongan dengan kekayaan hatinya, dengan keteladanannya. Ya, hanya ibu jari yang dapat menyentuh setiap ruas jari yang lain. Ibu jari pula yang berada paling luar dan melingkupi jari – jari lainnya ketika semua jari mengepal. Kepemimpinan ibu jari akan menaungi, akan melindungi semua. Ketika memberikan petunjuk, dia akan mengarahkan dengan santun. Dan yang diberikan petunjukpun tidak merasa terbebani (saya tekenang kejadian naik gunung malam – malam di tengah hujan pula, ketika bertemu warga dan menanyakan tempat yang memungkinkan untuk mendirikan tenda, beliau menunjuk dengan ibu jarinya dan mengatakan ‘ke atas sedikit lagi’, jadi semangat padahal ternyata masih jauh =p)

Ketika awal masuk kampus, saya diajarkan bahwa pemimpin itu adalah mereka yang challenging the process, inspiring a shared vision, enabling other to act, modelling the way dan encourging the heart. Dalam perjalanannya, ternyata tidak mudah memiliki karakteristik di atas. Berani memulai menjadi pemimpin memang tidak mudah tetapi menjadi visioner lebih tidak mudah. Menggerakkan orang lain ternyata tidak semudah sekedar memberikan arahan. Menjadi teladan ternyata tidak semudah sekedar meminta orang untuk berbuat. Dan menghimpun hati-hati untuk mencapai tujuan bersama juga tidak mudah.

Pemimpin yang baik banyak lahir dari kawah candradimuka perbuatan dan pengalaman, bukan dari setumpuk teori kepemimpinan. Jika masih menjadi ‘kelingking’, maka tingkatkanlah kapasitas diri. Jika masih menjadi ‘jari manis’, kembangkanlah integritas diri. Jika masih menjadi ‘jari tengah’, cobalah ‘turun ke bawah’. Jika masih menjadi ‘telunjuk’, cobalah lebih banyak berbuat. Jika sudah menjadi ‘ibu jari’, tingkatkanlah ketaqwaan. Karena pemimpin idaman bukan cuma kuat, berilmu, penuh belas kasih, jujur, visioner, cakap mengatur dan bisa jadi teladan saja, tetapi juga bertaqwa.

“Sebaik-baik pemimpin adalah yang kamu cintai dan mereka mencintaimu. Kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakanmu. Sejahat-jahat pemimpin adalah yang kamu benci dan mereka membencimu. Kamu kutuk mereka dan mereka mengutukmu” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam bishawwab

Belajar dari Daun Hijau

”Sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani)

Daun adalah organ tumbuhan yang sangat penting dan menjadi ciri khas dari makhluk hidup bernama tumbuhan. Daun memiliki bentuk yang beragam sesuai dengan fungsi dan sifatnya, mulai sebesar daun pisang hingga sekecil duri kaktus. Daun itu hijau, teduh, dan memiliki banyak pelajaran untuk optimalisasi hidup bagi mereka yang mau mengambil pelajaran.

Daun itu mandiri. Ia tidak menggantungkan diri pada yang lain. Karenanya ia dapat memproduksi makanan sendiri. Daun itu cerdas. Ia pandai menyesuaikan diri. Karenanya ia dapat hidup mulai dari di daerah segersang padang pasir hingga mengambang di atas air. Dan daun itu produktif. Ia tidak menunggu dewasa untuk memberikan kebermanfaatan. Karenanya ia sudah dapat melakukan fotosintesis bahkan sesaat setelah tunas itu tumbuh.

Daun itu tidak egois. Ia tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. Karenanya energi dan makanan hasil fotosintesis, dialirkan ke seluruh bagian tubuh tumbuhan, tanpa kecuali. Daun itu tahu balas budi. Ia menyadari bahwa ia ada berkat dukungan yang lain juga. Karenanya semakin rimbun daun, semakin kokoh pula akar yang menyerap air dan sari pati makanan, serta semakin kuat pula batang yang menyalurkannya. Daun itu santun. Ia mengubah keburukan menjadi kebaikan. Karenanya zat asam arang yang dapat menjadi racun melalui proses fotosintesis diubahnya menjadi oksigen dan energi yang bermanfaat.

Daun itu pemurah. Kebermanfaatannya dapat dirasakan luas, tidak hanya bagi tumbuhan yang ditinggalinya. Mulai dari hewan dan manusia yang menghirup oksigen hasil fotosintesis atau menjadikannya makanan yang menyehatkan, hingga kegunaannya sebagai bahan obat, pembungkus dan berbagai pemanfaatan lainnya. Daun itu indah, dengan beragam bentuk dan corak warna, menjadikan tumbuhan dan pepohonan tampak lebih hidup. Daun itu menyejukkan. Mengayomi dan menentramkan.

Daun itu tawazun (seimbang). Ia tidak berlebih – lebihan. Karenanya ia tidak layu karena kelebihan berproduksi atau pucat karena kekurangan makanan. Dan daun itu terus berkontribusi. Kontribusi yang terus terjaga kontinyuitasnya hingga mati. Kematiannyapun berprestasi. Dengan lebih dulu membentuk tunas baru. Bahkan ketika ia harus kering dan gugur, keberadaannya dapat menjadi pupuk yang menyuburkan tumbuhan yang pernah ditinggalinya…

Indahnya hidup jika filosofi daun tersebut dapat terinternalisasi dan terimplementasi dalam setiap diri kita. Kemandirian, produktifitas dan kebermanfaatan tentunya akan membuat hidup lebih bermakna. Namun hati – hati, ada pula daun yang berduri, membuat gatal, beracun ataupun menyebarkan bau busuk. Dan akhirnya pilihan itu ada di tangan kita.

Menggapai Durian

Alkisah, ada sebuah pohon durian besar dengan beberapa buahnya. Dari bawah pohon terlihat samar ada satu buah durian terbesar yang letaknya paling tinggi. Diadakanlah sayembara uji kemampuan untuk mengambil buah durian yang paling tinggi tersebut. Ketika pemuda desa dikumpulkan, ternyata tidak banyak yang berminat mengikuti sayembara, sebagian memilih pulang dan tidur, sebagian lagi memilih untuk jadi penonton saja. Mereka umumnya adalah orang – orang yang cacat sehingga tidak dapat memanjat atau orang – orang yang tidak yakin bahwa durian tersebut dapat dijangkau. Akhirnya mereka hanya dapat menyoraki dan mendorong orang lain untuk mencobanya.

Singkat cerita, berkumpulah tujuh orang yang hendak mengikuti sayembara. Orang pertama maju, menatap sejenak pohon durian tersebut, memegang batang besarnya, mendongak ke atas kemudian menggelengkan kepala. Sambil tertunduk lesu ia berujar, “Aku mengundurkan diri”. Ternyata orang ini berani maju hanya karena ingin melihat durian besar itu dari bawah. Itupun setelah ia diminta maju oleh teman – temannya. Sementara bagaimana cara memanjat pohon durianpun dia tidak tahu. Kontestan keduapun maju, walau tubuhnya kecil, nampaknya ia cukup lincah. Anak yang biasa ikut lomba panjat pinang ini nampak cukup percaya diri dengan kemampuannya, iapun mendekati pohon durian itu. Dengan tangan kecilnya ia mencoba melingkarkan tubuhnya ke batang pohon durian untuk dapat memanjatnya, ternyata tidak bisa. Tangannya bahkan tidak sampai melingkari setengah dari batang pohon durian itu. Dicoba berkali – kalipun, ia tetap tidak beringsut ke atas. Akhirnya setelah badannya kotor dan sakit – sakit, iapun menyerah. Nampaknya ia masih terlalu muda dan belum cukup besar untuk dapat memanjat pohon durian tersebut.

Giliran kontestan ketiga, penonton riuh bersorak karena yang maju bertubuh tegap. Tangannya cukup panjang dan kuat untuk memeluk pohon durian itu dan perlahan mulai dapat naik. Namun belum sampai tiga meter dia atas permukaan tanah, tiba – tiba saja keringat dinginnya sudah mulai keluar. Tidak sampai cabang pertama, ia pun turun dan menyatakan ketidaksanggupannya. Penontonpun terkejut. Ternyata pria atletis tadi takut dengan ketinggian. Akhirnya orang keempat maju. Tubuhnya sedikit lebih kecil dari kontestan sebelumnya namun ternyata dia jago memanjat. Dalam waktu singkat cabang pertama sudah berhasil ia capai. Perjalanan selanjutnya tidaklah sesukar memulainya. Namun menginjak cabang ketiga geraknya semakin lambat, sesekali ia menggaruk – garuk dan tampak meringis kesakitan. Ternyata ia ‘diserang’ semut merah yang banyak bersarang di pohon durian tersebut. Melihat sasarannya masih jauh dan tak tahan dengan gigitan semut, iapun memutuskan untuk turun menyelamatkan diri. Akhirnya, ia pun gagal.

Belajar dari kontestan sebelumnya, kontestan ke-5 melumuri dahulu tangan, kaki dan tubuhnya dengan abu gosok sehingga semutpun enggan menggigit. Mulai dipanjatnya pohon durian itu. Belasan meter sudah ia capai dengan relatif cepat, namun terlihat gerakannya mulai melemah. Keringat mulai membanjiri tubuhnya. Dilihatnya buah durian besar itu masih jauh di atas, iapun mencoba mencapai beberapa meter lagi, namun kondisi fisiknya sudah tak dapat dipaksakan. Dengan napas terengah – engah berselimut kejengkelan, iapun turun menyatakan ketidaksanggupannya untuk dapat memanjat hingga ujung. Orang keenam maju dan mulai memanjat. Dengan keyakinan tinggi ia terus naik hingga mulai nampak kecil dari bawah. Di dalam kerimbunan daun ia melihat beberapa buah durian. Dalam keterengahan, ia melihat buah terbesar masih cukup jauh di atas sana. Dan ia melihat ada buah durian yang cukup besar dan matang pada cabang yang berbeda dan letaknya lebih dekat. Dengan tenaga yang tersisa, iapun memanjat cabang dengan durian yang lebih dekat tersebut. Siapa yang akan melihat dan siapa pula yang dapat membedakannya, pikirnya. Akhirnya iapun berhasil memetik buah durian dan membawanya turun. Penontonpun riuh bertepuk tangan, aroma durian tercium. Segera diambilnya pisau besar untuk membelah durian tersebut.

Tak disangka, ketika dibuka isi durian tersebut berlendir. Ketika dicicipipun rasanya tak enak. Ya, durian tersebut busuk. Penonton mulai mengejek dan meminta kontestan terakhir untuk mencoba memanjat. Kontestan terakhir maju dengan sigap. Sejenak ia memandang ke atas pohin, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan kemudian tersenyum. Tampak sekali ia telah siap dan yakin dapat memetik durian yang benar. Ia mulai memanjat, agak kesulitan di awal, namun ia berhasil melaluinya. Semut – semutpun sempat menggigit tubuhnya namun ia terus naik untuk menjauhkan dirinya dari semut – semut tersebut. Sesekali ia beristirahat untuk mengatur nafas, mendongak lagi ke atas untuk melihat durian yang jadi targetnya dan mulai kembali memanjat. Kadang batang yang diinjaknya patah, kadang pula ia tergelincir, namun pegangannya cukup kuat untuk tetap menahannya. Kadang terpaan angin kuat menghajar tubuhnya, namun ia rapatkan tubuhnya dan terus bertahan. Ia tal pedulikan keringatnya yang terus mengucur, tubuhnya yang mulai penuh luka gores dan pakaiannya yang mulai koyak. Ia acuhkan durian – durian kecil di kiri kanannya bahkan durian yang nampak matang di cabang yang berbeda. Setelah melalui perjuangan berat dan panjang, ia berhasil memetik durian besar itu dan membawanya turun. Aroma harum semerbak memenuhi sekeliling durian itu.

Penontonpun tak sabar melihat isinya. Durianpun dibuka, terlihat isi buah durian yang besar berwarna kuning cerah dan tampak menggiurkan. Ketika dicicipi, ternyata rasanya sungguh enak tak terlukiskan. Biji durian itu terasa keras di mulutnya, ketika ia lihat ternyata itu bukan biji biasa melainkan batu permata yang begitu berharga. Ya, kontestan terakhir memenangkan sayembara dan memperoleh sesuatu yang begitu berharga yang tidak semua orang mampu memilikinya.

* * *

Semuanya dimulai dari impian. Tidak semua orang berani memiliki impian karena tidak yakin impiannya dapat terwujud, karena tidak percaya dirinya memiliki kemampuan untuk dapat mewujudkan impiannya. Padahal pemikiran besar lah yang dapat mewujudkan karya besar. Impian yang tinggi lah yang akan memotivasi dan terus meningkatkan kemampuan. Dan orang – orang hebat takkan memilih untuk mengubur mimpinya atau cukup puas hanya menjadi penonton. Penonton yang hanya meminta orang lain untuk bergerak, puas mencemooh atas kegagalan dan puas bertepuk tangan atas keberhasilan. Bukankah kesuksesan hanya dapat dimulai oleh orang – orang yang berani?

Dari orang – orang yang berani untuk mencoba meraih impian, ada yang gagal karena ketidaktahuannya tentang bagaimana cara untuk meraih impian, ada yang terhambat geraknya karena keterpaksaan. Biar bagaimanapun ilmu dan keikhlashan menjadi modal penting dalam meraih mimpi. Sekedar mempunyai mimpi tanpa upaya untuk meraihnyapun takkan berbuah keberhasilan. Untuk meraih mimpi, butuh bekal perjuangan yang cukup. Sebagian bekal mungkin dapat dikumpulkan sambil jalan, sebagian lagi harus dipersiapkan dari awal, termasuk kesiapan mental ataupun kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Tanpanya, tampaknya harus berulang kali naik – turun untuk menggapai impian, itupun jika jiwa pembelajar dimiliki.

Sebagian lain orang gagal meraih mimpi karena takut ‘jatuh’ dan akhirnya memilih untuk ‘turun’. Ada pula yang gagal meraih mimpi karena tidak tahan terhadap ujian – ujian selama perjalanan. Kesabaran mutlak dibutuhkan untuk meraih mimpi. Ada pula yang gagal karena tidak cukup kuat energi dan keyakinannya untuk meraih mimpi. Tidak cukup tepat strateginya dan tidak cukup keras usahanya. Yang paling menyedihkan adalah orang yang gagal meraih mimpi karena tertipu oleh tujuan – tujuan semu lainnya. Keberhasilannya adalah keberhasilan semu, perjuangannya pun akan sia – sia. Impian besar hanya dapat diraih dengan keteguhan dan keistiqomahan. Istirahat sejenak tetap diperlukan namun tidak boleh sampai melenakan.

Menggapai impian memang tidak mudah, butuh keberanian, ilmu, keikhlashan, kesabaran, kesungguhan dan keikhlashan. Memulai mengejar impian juga sangat berat, tidak kalah berat dari menghadapi berbagai macam gangguan dan ujian selama menjalani medan perjuangan menuju impian. Fisik dan jiwa harus siap menahan luka. Pikiran harus tetap jernih menghadapi berbagai rongrongan. Dan bekerja sama tentunya akan mempermudah menggapai impian. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah bermuara segala urusan. Dan impian itu hakikatnya ada untuk diwujudkan…

Wallahu a’lam bi shawwab

Ps. Teruntuk saudara/i ku yang tengah merajut mimpi, tetaplah bermimpi dan berupaya untuk meraihnya…

Belajar dari Boneka Daruma

“Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh” (Confusius)

Ahad pagi lalu, aku menonton film Doraemon, film yang sudah kutonton sejak belasan tahun lalu. Hitung-hitung refreshing sebelum berangkat ke rapat panitia walimahan teman. Dalam sebuah segmen, dikisahkan Nobita putus asa terhadap dirinya. Enggan untuk menatap masa depan sementara saat ini saja dirinya begitu bodoh dan lemah sehingga terus teraniaya. Ia mengenang kembali saat indah ketika masa kecil dulu, begitu disayang dan tanpa masalah. Sejurus kemudian, kenangannya tiba pada saat ia terjatuh dan menangis, namun neneknya bukan membantunya berdiri namun hanya memberinya boneka Daruma, yang kemudian jatuh menggelinding lalu kembali dapat berdiri tegak. Nobitapun bangkit dan mendapatkan pencerahan dari neneknya tentang Boneka Daruma, yang tetap dapat berdiri tegak, tanpa dibantu, walau berkali-kali menggelinding dan jatuh. Nobitapun bangkit dari bayang-bayang masa lalu, kemudian melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukannya : belajar!

Hmm, sayapun tertarik mencari informasi tentang boneka sekaligus  mainan asal Jepang tersebut. Model dari benda berbentuk hampir bulat, dengan bagian dalam kosong serta tidak memiliki kaki, tangan dan mata ini adalah Bodhidharma, pendiri dari Zen. Legenda boneka tersebut terinspirasi dari meditasi ekstrim Bodhidharma di sebuah vihara shaolin yang mengubah dirinya menjadi postur meditasi zazen, kakinya dilipat di bawah tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, kakinya mengalami atrophia dan lepas dari tubuhnya, lalu diikuti oleh tangannya. ‘Hebat’nya lagi, sebelum tungkai dan lengannya terlepas, Bodhidharma memperoleh suatu cara untuk mengatasi kelelahan tubuhnya dengan memotong kelopak matanya dan melemparkannya ke tanah yang konon menjadi sebuah pohon teh. Sehingga dipercaya meminum teh dapat membuat terjaga di malam hari seperti Bodhidharma yang terus terjaga selama sembilan tahun. Yah, terlepas dari kepercayaan bahwa boneka ini lambang harapan yang belum tercapai, penolak bala dan pemberi keberuntungan, ada pelajaran berharga yang dapat diambil dari boneka berbusana merah berwajah putih ini.

Pertama, dedikasi dalam menjalankan tugas guna mencapai tujuan. Walau harus menjalani hari-hari yang panjang dan sulit, bahkan harus kehilangan anggota tubuhnya, sosok Daruma digambarkan tetap teguh penuh dedikasi dalam menjalani meditasinya. Bandingkan dengan seseorang yang memiliki tujuan yang lebih tinggi dan mulia, namun cengeng, banyak mengeluh dan enggan berkorban. Tidak tahan dengan kelelahan dan maunya banyak istirahat dan makan. Nah, dedikasi dan kesungguhan dalam berjuang ini yang kerap – disadari atau tidak – hilang dalam keseharian kita dalam mengemban amanah. Akibatnya, yang terlihat hanya jalan yang semakin berat dan tujuan yang semakin jauh…

Kedua, senantiasa bangkit dari kegagalan. Daruma biasanya dibuat dengan alas berat berbentuk lingkaran sehingga walau jatuh terguling seperti apapun ia akan kembali berdiri tegak. Di Indonesia, dengan teknik yang sama, tokohnya banyak diubah. Waktu kecil, aku punya boneka doraemon yang tetap berdiri tegak walau dipukul bahkan dibanting berkali-kali. Kalo sekarang, mungkin sudah ada boneka Dora atau Spongebob yang menerapkan teknik yang sama. Yah, pelajaran penting bahwa ‘pukulan’ dan ‘bantingan’ dalam perjalanan hidup yang mungkin sempat membuat kita jatuh terguling tidak selayaknya membuat kita ‘takut’ untuk kembali berdiri tegak.

Ketiga, tetap memiliki impian dan berupaya mewujudkan impian itu. Di Jepang, orang biasanya melukis sebelah mata Daruma ketika memohon sesuatu dan melukis matanya yang sebelah lagi ketika permohonannya telah terkabul. Bisa dibayangkan motivasi yang akan timbul ketika melihat mata Daruma yang cuma sebelah, orang akan teringat akan impian-impiannya, orang akan tersadar bahwa ada target dan pekerjaan yang harus dituntaskan. Daruma seolah mengingatkan bahwa impian takkan terwujud tanpa motivasi dan upaya nyata untuk mewujudkannya. Sudahkah kita memilikinya?

Akhirnya, Daruma hanyalah sebuah boneka yang takkan memberi manfaat ataupun mudharat, namun dapat kita ambil hikmah darinya. Dan mengambil hikmah bukan sekedar menyadari hikmah namun ada perbaikan nyata terkait hikmah yang telah didapat. Semoga kita memiliki kesungguhan, ketangguhan dan amal nyata dalam menggapai tujuan hidup kita. Semoga Allah senantiasa memberi pertolongan dan meneguhkan langkah kita tetap di Jalan-Nya…

”Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah” (Thomas Alfa Edison)