Category Archives: Opini Pendidikan

Karena Beasiswa Adalah Amanah

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.” (Bung Hatta)

Angka partisipasi pendidikan tinggi mengalami peningkatan cukup signifikan dalam tujuh tahun terakhir. Data BPS mengungkapkan bahwa selama tahun 1994 – 2009, Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 19 – 24 tahun relatif stagnan di kisaran 12%. Namun capaian ini terus meningkat sejak tahun 2010 dan tahun 2017 ini angkanya telah mencapai 24,67%, hampir dua kali lipat dari capaian tahun 2009. Program pemerintah yang paling mungkin memengaruhi capaian ini adalah Bidik Misi yang dimulai pada 2010 lalu untuk 20.000 mahasiswa. Dampaknya, terjadi peningkatan angka partisipasi pendidikan tinggi yang signifikan pada tahun 2013, tepat empat tahun setelah program digulirkan. Kuota maupun sebaran kampus Bidik Misi pun terus bertambah, termasuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pada tahun 2018 nanti, direncanakan kuota Bidik Misi akan menjangkau 90.000 mahasiswa.

Tidak hanya Bidik Misi, program beasiswa untuk mahasiswa memang kian marak dalam satu dasawarsa terakhir. Pemerintah pusat dan daerah, berbagai perusahaan, LSM, yayasan, para alumni hingga donasi individu seakan berlomba memberikan beasiswa. Bentuknya pun semakin beragam bukan hanya pembiayaan pendidikan, ada fasilitas tempat tinggal hingga pembinaan mahasiswa dengan tema tertentu, misalnya menghapal Al Qur’an, entrepreneur, atau kepemimpinan. Bahkan beasiswa untuk paska sarjana juga semakin banyak, di antaranya melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan RI. Zaman seolah berubah, jika dulu mahasiswa berebut mencari beasiswa, sekarang beasiswa lah yang sibuk mencari calon penerimanya. Mahasiswa penerima beasiswa tidak lagi eksklusif, mudah ditemukan dimanapun.

Kemudahan memperoleh beasiswa ini turut memengaruhi karakter para penerima beasiswa. Apalagi banyak program beasiswa yang hanya menjadikan indeks prestasi akademik sebagai indikator keberhasilan, abai dengan penguatan karakter penerima beasiswa. Padahal banyaknya beasiswa membuat calon penerimanya semakin pragmatis, memilih yang mudah diperoleh, dapat banyak fasilitas, dan tidak membebani dengan kewajiban apapun. Secara akademik mungkin mereka tidak bermasalah, namun belum tentu secara karakter. Mulai dari lemah komitmen, segera beralih ke beasiswa lain yang menjanjikan fasilitas lebih. Tak peduli fakta bahwa ketika mereka sudah menerima beasiswa sebenarnya ada kuota yang sudah mereka isi, artinya ada hak orang lain yang sudah mereka ambil. Toh ini kompetisi. Mudah menuntut haknya untuk memperoleh berbagai fasilitas yang dijanjikan. Mudah mengeluh, kurang mandiri, dan kurang berempati. Jangankan berpikir bahwa sejatinya beasiswa yang diperolehnya adalah donasi dari masyarakat yang di dalamnya tersimpan amanah dan harapan masyarakat, bahkan ada penerima beasiswa yang ‘memalsukan kemiskinannya’ hanya untuk memperoleh beasiswa. Tidak jujur dalam menyiasati beasiswa. Tak mengherankan tersedia layanan untuk melaporkan mahasiswa yang tidak layak untuk memperoleh beasiswa dalam website Bidik Misi.

Mekanisme pencairan beasiswa yang dirapel juga rentan penyelewengan, baik oleh penerima maupun pengelola beasiswa. Uang dalam jumlah besar yang ‘tiba-tiba’ diterima memungkinkan para penerima beasiswa tidak bijak dalam menggunakannya. Alih-alih untuk biaya pendidikan, beasiswa justru digunakan untuk beli gadget terbaru atau pelesiran. Jika sebagian uang beasiswa dikirimkan untuk membantu orang tuanya tentu masih dapat dimaklumi, namun jika digunakan sekadar untuk gaya-gayaan rasanya kok kejam sekali. Sementara masih banyak anak dari masyarakat marjinal yang tidak mampu melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi. Pengelola juga bisa jadi tidak berlaku amanah jika memang sengaja menunda pencairan misalnya, apalagi jika menjadi ‘broker’ beasiswa sehingga kuota justru diambil oleh mereka yang tak layak memperoleh beasiswa.

Tak hanya itu, amanah para pengelola beasiswa tidaklah kalah besarnya. Mulai dari menyebarkan informasi beasiswa seluas-luasnya dan sebenar-benarnya, hingga menyempurnakan ikhtiar dalam seleksi sehingga yang terpilih adalah mereka yang benar-benar layak. Ada sisi kemanusiaan yang perlu dihadirkan, tidak hanya bersandar pada rumus dan hitungan matematis. Banyak mahasiswa nyaris miskin yang selama ini kurang diperhatikan. Di sisi lain, ada upaya sekadar memenuhi kuota penerima beasiswa di beberapa kampus yang akhirnya menurunkan standar kelayakan calon penerima beasiswa. Amanah lain yang kerap terlupakan adalah mendidik para penerima beasiswa secara paripurna, bukan sebatas menggugurkan kewajiban untuk menyalurkan. Amanah dalam mengelola beasiswa juga mencakup makna memastikan bahwa beasiswa yang diberikan dapat efektif dalam menghasilkan SDM unggul pemimpin masa depan bangsa, yang tentu bukan hanya berkompeten, tetapi juga berkarakter.

Beasiswa adalah amanah, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya. Para penerima beasiswa akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana cara mereka memperoleh beasiswa, digunakan untuk apa, dan apa hasil atau kebermanfaatan dari beasiswa tersebut. Para pengelola beasiswa akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana mereka mengelola beasiswa dan para penerima beasiswa. Beasiswa sejatinya bersumber dari donasi masyarakat, termasuk pajak dan ZIS (Zakat, Infak, Sedekah). Beasiswa alumni atau donasi individu pun bagian dari masyarakat. Bahkan perusahaan pun memperoleh pendapatan dari masyarakat dan mengalokasikan dana CSRnya untuk program di masyarakat. Karenanya, program beasiswa seharusnya mampu memberi kontribusi kepada masyarakat. Tidak harus dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun sikap amanah dalam menyalurkan dan menerima beasiswa akan membawa kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Tumbuhnya kepercayaan donatur akan meningkatkan kedermawanan sosial. Ditambah lagi keberkahan dari hadirnya SDM berkualitas dari program beasiswa yang akan terus menebar kebermanfaatan bagi masyarakat. Dan manfaat pun terus berlipat dimulai dari satu kata sederhana: amanah.

Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani)

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas (2/2)

Tahun 2018 adalah tahun disruption. Era digital memberi perubahan terhadap peta kompetisi dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan. Pengembangan teknologi informasi memberi ‘gangguan’ terhadap gaya ‘jaman old yang sudah tak lagi relevan. Kemenristek Dikti dan kampus harus segera bebenah, meningkatkan agility untuk menghadapi perubahan zaman. Pendidikan tinggi berbasis e-learning misalnya, harus segera direalisasikan, tidak melulu ada dalam tataran wacana dan rencana. Riset dan inovasi harus terus dilakukan. Secara kuantitas memang masih harus digenjot pertumbuhannya karena saat ini Indonesia jauh tertinggal dalam hal riset dan inovasi. Namun secara kualitas juga mesti dibudayakan implementasi riset dan teknologi yang tepat guna. Keluhan tentang minimnya anggaran riset seharusnya tak jadi penghalang di era disruption ini. Betapa banyak inovasi sederhana yang dapat memberi manfaat tanpa harus berbiaya besar. Kurikulum pendidikan juga harus adaptif dengan perkembangan zaman. Ada paradigma, kebutuhan dan kompetensi yang jelas berbeda antara mendidik generasi yang ingin menjadi PNS atau karyawan, dengan generasi yang hendak menjadi digitalpreneur atau membangun aplikasi startup. Disruption ini harus diterima sebagai kenyataan sehingga menjadi tantangan untuk bisa berpikir dan bersikap sesuai dengan zamannya.

Tahun 2018 adalah tahun transformasi gerakan mahasiswa. Atau hibernasi lebih tepatnya. Secara pragmatis, para mahasiswa kian menyadari bahwa yang diperjuangkannya adalah Tri Dharma, bukan Tritura. Dalam Tri Dharma ada pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bukan organisasi, demonstrasi, dan lulus lama. Lulus tepat waktu dimaknai sebagai amanah, fokus ke pendidikan dan penelitian adalah caranya. Mahasiswa abadi sudah bukan masanya. Jika tahun lalu rata-rata lama kuliah mahasiswa UGM adalah 5 tahun 3 bulan, tahun ini rata-rata mahasiswa UGM menyelesaikan studi dalam 4 tahun 8 bulan. Rata-rata mahasiswa UNY berkuliah hanya 4,5 tahun, bahkan di ITB rata-ratanya hanya 4,2 tahun. Rata-rata indeks prestasi akademik juga semakin tinggi. Sementara itu, dharma pengabdian masyarakat tidak dimaknai sempit sebagai aksi turun ke jalan. Banyak aktivitas sosial kemasyarakatan yang dapat dilakukan manusia tanpa harus terjebak ke isu sosial politik. Kontribusi nyata mahasiswa ke masyarakat dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata atau aksi penggalangan dana bencana dianggap lebih jelas menggambarkan bentuk pengabdian masyarakat, dibandingkan orasi dan demonstrasi. Kajian dan audiensi dianggap lebih mencerminkan intelektualitas dibandingkan aksi massa. Demonstrasi mahasiswa turun ke jalan dianggap sudah lewat masanya, tergantikan dengan digitalisasi gerakan mahasiswa. Aksi massa akan ada dan harus tetap ada, hanya saja aktivitas kekinian yang lebih diminati. Bulan lalu misalnya, lihat saja bagaimana respon dunia maya saat mahasiswa ditangkap, bandingkan dengan ‘perlawanan’ dari cyber army saat pembuat meme Setya Novanto ditangkap. Diakui atau tidak, ada pergeseran pola perjuangan. Kain penuh tanda tangan sebagai pernyataan sikap digantikan oleh petisi online. Penggalangan dana untuk membantu masyarakat mulai beralih ke pola crowdfunding. Manajemen isu lewat selebaran akan tak berarti apa-apa dibandingkan hiruk-pikuk perang isu di media sosial. Berbagai aplikasi bernuansa advokasi pun mulai bermunculan. Media dan kanal gerakan mahasiswa kian variatif, dan aksi massa semakin dianggap tidak kekinian.

Tahun 2018 adalah tahun berulangnya masalah pendidikan. Banyak persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan. Misalnya masalah rasio dosen dan guru besar yang masih butuh waktu panjang untuk menyelesaikannya, demikian pula terkait kualitas mereka. Masalah akses pendidikan serta biaya pendidikan yang mahal juga masih akan ada. Minimnya anggaran riset atau kurangnya sarana dan prasarana pendidikan masih terus jadi keluhan. Link and match antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia paska kampus masih jauh panggang dari api, apalagi pemerataan kualitas pendidikan tinggi. Belum lagi persoalan akreditasi, efektivitas pendidikan, ataupun kualitas lulusan, masih menjadi PR pendidikan tinggi yang belum akan segera terselesaikan. Butuh kerja ekstra memang untuk menyelesaikan semua problematika tersebut, namun setidaknya hanya butuh satu kebijakan revolusioner, out of the box dan anti-mainstream untuk mempercepat penyelesaiannya. Karena berbagai masalah yang ada sudah terlanjur ada dalam zona nyaman sehingga akan tetap stagnan jika upaya yang dilakukan hanya biasa-biasa saja.

Dan tahun 2018 adalah tahun cemas dan harap. Bukan hanya bagi para calon kepala daerah, tapi bagi pendidikan Indonesia. Beberapa tahun terakhir, perubahan terjadi begitu cepat. Tak terbendung. Dinamika begitu tinggi sementara polarisasi semakin terasa. Kebijaksanaan pendidikan lah yang diharapkan mampu mengantisipasi dan menengahinya, bukan lagi kebijakan politik yang sarat syahwat kepentingan. Di satu sisi ada kecemasan akan hancurnya peradaban dalam hitungan waktu yang cepat ketika pendidikan gagal menjadi solusi. Di sisi lain ada harapan besar lahirnya generasi emas yang penuh kesadaran berjuang membangun Bangsa yang mulai tua ini. Yang pasti, tahun 2018 berisi momentum dua dasawarsa reformasi Indonesia. Ada semangat pembaruan yang menyertai. Tahun 2018 juga berisi momentum 11 dasawarsa kebangkitan nasional. Sebuah kebangkitan yang identik dengan tapak tilas peran pemuda dan pendidikan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ya, tahun 2018 adalah tahun reformasi kebangkitan pendidikan Indonesia. Semoga.

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas (1/2)

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas
(Outlook Pendidikan Tinggi 2018)

“Hitungan kuantitatif kerapkali hanya jadi make up yang mengelabui dan tidak bisa dibanggakan. Perkembangan pendidikan bukan berarti tidak perlu diukur, tetapi fokus pada aspek tangible dan jumlah tidak jarang justru menjauhkan dari hal-hal yang lebih esensial. Bahkan, target kuantitatif bisa menjadi beban. Padahal, keberhasilan tidak melulu berbicara angka.” (Purwo Udiutomo dalam ‘Bagai Pungguk Merindukan Pendidikan Gratis’)

‘Mencerdaskan kehidupan bangsa’ merupakan salah satu cita-cita mulia Bangsa Indonesia. Karenanya, fokus terhadap pembangunan pendidikan sudah semestinya menjadi agenda utama di masa lalu, kini, dan masa yang akan datang. Adanya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan anggaran pendidikan minimal sebesar 20% dari APBN/ APBD membawa angin segar perbaikan pendidikan di Indonesia. Dalam APBN 2018 yang telah ditetapkan akhir Oktober 2017 lalu, anggaran pendidikan dialokasikan sebesar 444,1 triliun (20% dari APBN), dimana 33,7% dialokasikan untuk pusat dan 62,9% ditransfer ke daerah. Sisanya sebesar 15 triliun dialokasikan untuk pembiayaan dana abadi pendidikan. Anggaran tersebut diantaranya akan digunakan untuk Program Indonesia Pintar (19,7 juta jiwa), Bantuan Operasional Sekolah (56 juta jiwa), Beasiswa Bidik Misi (401,5 ribu mahasiswa), pembangunan/rehab sekolah atau ruang sekolah (62,2 ribu), dan tunjangan profesi guru (1,9 juta guru). Berbagai program tersebut diharapkan berkontribusi untuk mencapai target 2018 di antaranya tingkat pengangguran 5 – 5,3%, tingkat kemiskinan 9,5-10%, indeks Gini 0,38, dan Indeks Pembangunan Manusia 71,5.

Tahun 2018 adalah tahun berlimpahnya beasiswa. Selain Bidik Misi, penerima beasiswa LPDP juga mengalami peningkatan menjadi 5000 mahasiswa. Belum lagi 2018 adalah tahun politik, selain Pilkada serentak di 17 provinsi dan 154 kabupaten/ kota, tahun depan adalah tahun pemanasan terakhir jelang Pemilu 2019. Program bantuan pendidikan semisal beasiswa akan lebih ramai di tengah masyarakat, untuk memenuhi janji sekaligus meningkatkan elektabilitas. Program bantuan pendidikan ini menjadi media kampanye yang lebih smooth dibandingkan money politics terang-terangan. Banyaknya beasiswa akan membantu peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan. Secara kuantitas, namun belum tentu secara kualitas. Ketika program beasiswa yang mencari calon penerimanya, bukan sebaliknya, kualitas input cenderung diabaikan. Dampaknya, perhatian terhadap kualitas keluaran para penerima beasiswa pun cenderung terlupakan. Bahkan, kualitas pengelolaan program beasiswa bisa jadi kurang diperhatikan. Mulai dari sosialisasi yang seadanya, proses seleksi yang kejar target tercapainya kuota, hingga pencairan beasiswa yang terus tertunda. Kalaupun ada program pembinaan untuk para penerima beasiswa, dilakukan ala kadarnya. Berpuas diri dengan data Indeks Prestasi akademik para penerima beasiswa yang tiga koma, padahal hampir semua mahasiswa jaman now IP-nya di atas tiga.

Tahun 2018 adalah tahun pembangunan infrastruktur, termasuk infrastruktur pendidikan. Berbagai pembangunan gedung yang mangkrak di sejumlah perguruan tinggi akan dikejar selesai di tahun 2018, atau paling lambat awal tahun 2019. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur di banyak kampus dengan berbagai sumber pendanaan misalnya dari IDB atau dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga akan segera diselesaikan. Anggaran infrastruktur untuk tahun 2018 mencapai 410,7 triliun. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat diberikan alokasi anggaran APBN sebesar 107,4 triliun, jauh di atas Kemenristek Dikti (41,3 triliun) ataupun Kemendikbud (40,1 triliun). Jika dikelola dengan benar, pembangunan infrastruktur ini akan mengatasi kesenjangan sekaligus menjadi investasi jangka panjang. Pun di sisi lain membuka ruang penyalahgunaan wewenang dan penyelewengan anggaran. Sayangnya, fokus pada infrastruktur (konteks) akan mengalihkan dari fokus pada isi (konten). Fisik yang megah takkan ada artinya jika jiwanya rapuh. Membangun kampus berbeda dengan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, memberikan tunjangan guru tidaklah sama dengan meningkatkan kualitas guru. Fisik memang jelas terlihat dan terukur, namun pembangunan pendidikan sejatinya adalah menyoal pembangunan manusia, bukan sekadar infrastruktur pendidikan. Karenanya standar sarana prasarana hanyalah salah satu dari delapan Standar Nasional Pendidikan.

(bersambung)

Indonesia Setara Palestina, Kok Bisa?

…Di meja makan dan mangkuk supmu, kuhidangkan kisah negeri terluka. Kisah generasi yang hilang, korban perang peradaban. Tak kalah luka dari Bosnia, tak kalah pedih dari Palestina. Tak kalah luka dari Bosnia, tak kalah pedih dari Palestina. Karena yang kau temui, hanya zombie-zombie. Makhluk-makhluk hidup tanpa pribadi, tanpa izzah, tanpa harga diri…” (‘Generasi yang Hilang’, Teater Kanvas)

Nasyid lawas tersebut tiba-tiba terlintas kala membaca Human Development Report 2016 bertajuk “Human Development for Everyone” yang dirilis UNDP pekan lalu. Human Development Index (HDI) Indonesia naik 0,003 poin namun turun 3 peringkat ke posisi 113 dari 188 negara yang masuk dalam daftar. Dan tepat di bawah Indonesia adalah Palestina (peringkat 114), disusul Vietnam (115) dan Filipina (116) yang sama-sama masuk kategori Medium Human Development. Berbeda dengan negara tetangga Thailand (87) dan Malaysia (59) yang masuk kategori High Human Development. Apalagi jika dibandingkan Brunei (30), Singapura (5), dan Australia (2) di kategori Very High Human Development. Sementara di posisi teratas ada Norwegia.

Belasan tahun lalu rasanya berlebihan Indonesia disamakan dengan Bosnia atau Palestina yang penuh konflik bersenjata. Bahkan penyesuaian lirik nasyid ‘Negeri yang Terlupa’ Izzatul Islam menjadi ‘Negeri yang Terluka’ sepertinya sangat tidak sebanding. Kisruh krisis ekonomi dan reformasi Indonesia di penghujung abad ke-20 tampaknya belum seberapa dibandingkan mencekamnya suasana di Palestina yang puluhan tahun lamanya penduduknya harus siap mati setiap saat. Tapi nyatanya, enam tahun terakhir HDI Indonesia memang setara dengan Palestina. Ya, enam tahun terakhir, karena sebelumnya HDI Palestina tidak pernah diukur. HDI Bosnia juga baru ada enam tahun terakhir, dan ternyata HDI Bosnia kini ada di peringkat 81 dunia.

Mungkin terlalu sederhana mengklasifikasi dan memeringkatkan kualitas suatu negara hanya dengan melihat indikator kesehatan, pendidikan dan ekonomi yang juga dibatasi. Tapi bagaimanapun, laporan tahunan yang dikeluarkan UNDP ini menjadi data referensi internasional yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Tidak perlu mencari dalih untuk mempermasalahkannya, yang perlu ada justru upaya perbaikan nyata. Apalagi realitanya HDI Indonesia memang cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Toh membaca data Human Development Report saja sudah banyak hal menarik yang dapat dilihat, misalnya ketika kita coba bandingkan antara capaian Indonesia dengan Palestina.

Baru membaca indikator life expectancy at birth (angka harapan hidup pada saat lahir) hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata pun di tengah suasana perang, life expectancy at birth Palestina mencapai angka 73,1 tahun, lebih tinggi dari Indonesia yang ‘hanya’ 69,1 tahun. Apalagi membaca berbagai indikator pendidikan, ternyata Palestina juga lebih unggul. Rata-rata usia bersekolah (mean years of schooling) di Palestina 8,9 tahun sementara di Indonesia baru 7,9 tahun. Tingkat literasi (literacy rate) Palestina juga relatif lebih baik. Salah satu indikatornya adalah angka melek huruf penduduk berusia minimal 15 tahun di Palestina mencapai 96,7% sementara Indonesia baru 93,9%. Banyaknya penduduk berusia minimal 25 tahun yang setidaknya pernah merasakan sekolah menengah di Palestina (58,8%) juga lebih tinggi dibandingkan Indonesia (47,3%).

Angka partisipasi kasar (gross enrolment ratio) Indonesia sedikit lebih tinggi untuk tingkat pra sekolah (pre-primary) dan sekolah dasar (primary school), namun untuk tingkat pendidikan tinggi (tertiary school) Indonesia (31%) masih jauh tertinggal dibandingkan Palestina (44%). Hal ini menunjukkan tingginya angka putus sekolah di Indonesia. Data menunjukkan bahwa angka putus sekolah dasar (primary school dropout rate) Indonesia mencapai 18,1%, sementara di Palestina hanya 2,5%. Padahal rasio guru : siswa Indonesia lebih ‘mewah’ (1:17) dibandingkan Palestina (1:24). Peringkat Indonesia sedikit ada di atas Palestina karena indikator ekonomi, di antaranya Pendapatan Nasional Bruto per kapita (Gross National Income per capita) Indonesia yang mencapai $ 10.053 sementara Palestina hanya setengahnya ($ 5.256). Dilihat dari indikator kerja dan ketengakerjaan (work and employment), Indonesia juga unggul jauh, sebab angka pengangguran di Palestina terbilang tinggi. Hal ini dapat dimengerti sebab ketersediaan lapangan kerja di daerah konflik tentu sangat terbatas, apalagi berbagai macam pasokan sumber daya (resources) di Palestina dibatasi oleh Israel.

Indonesia punya sejarah panjang dengan Palestina. Palestina (bersama dengan Mesir) termasuk di antara negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina. Indonesia pun termasuk di antara negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina setelah dideklarasikannya pada November 1988. Tahun lalu, dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina juga kembali diinisiasi oleh Indonesia melalui Resolusi dan Deklarasi Jakarta dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI). Pun demikian, kesejajaran kualitas pembangunan manusia antara Indonesia dengan Palestina bukanlah suatu hal yang membanggakan. Indonesia dengan banyaknya sumber daya yang dimilikinya semestinya mampu menjadi Negara yang lebih maju dibandingkan Palestina yang masih terus diliputi konflik. Ya, dengan menyandang status merdeka, Indonesia seharusnya mampu berprestasi lebih.

Salah satu upaya perbaikan yang perlu menjadi perhatian adalah pembangunan pendidikan dan kesehatan. Fokus pada pembangunan ekonomi nyatanya tidak signifikan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Semakin tingginya kesenjangan sosial di Indonesia yang ditandai dengan tingginya rasio gini membuat pertumbuhan ekonomi seakan tak ada arti. Pertumbuhan ekonomi lebih dinikmati mereka yang berekonomi kuat, sementara masyarakat marjinal kian termarinalkan. Pembangunan pendidikan dan kesehatan memberikan secercah harapan bagi masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidupnya, termasuk potensi perbaikan kualitas ekonomi dengan pendidikan dan kesehatan yang baik. Pertumbuhan ekonomi juga sangat dipengaruhi ekonomi global yang artinya siap runtuh kapan saja, sementara pembangunan pendidikan adalah investasi masa depan Indonesia yang berkualitas.

Hari ini boleh jadi Palestina masih jauh tertinggal. Namun di masa depan, bukan tidak mungkin Palestina akan naik status menjadi Negara yang sepenuhnya merdeka dan masuk dalam kategori High Human Development. Saat ini boleh jadi Indonesia masih di atas Palestina, Filipina ataupun India. Namun tidak ada jaminan Indonesia Emas nan Berdaya kan jadi realita jika bangsa ini alpa dalam membangun pendidikan dan kesehatan. Tentu kita sama-sama menginginkan negeri dan umat ini bisa kembali berjaya, dan kesemuanya tidak akan terjadi jika kita gagal dalam mempersiapkan SDM berkualitas untuk masa depan. Ya, perlu upaya serius untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Boleh lah Indonesia disejajarkan dengan Palestina, tapi hanya jika kedua negara ini sudah sama-sama menjadi negara merdeka yang berhasil membangun SDM bangsanya. Semoga masa itu akan segera tiba…

…Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah Bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel” (Soekarno, 1962)

Flat Earth, Rotasi Bumi dan Egosentris (2/2)

Bagaimana dengan pesawat? Dalam kondisi duduk kita tidak merasakan pesawat bergerak dengan cepat. Tapi jika kita coba bergerak dalam kabin pesawat misalnya, akan terasa bahwa ketika kita berjalan berlawanan arah dengan arah pesawat langkah kaki akan lebih ringan, sebaliknya langkah akan lebih berat ketika kita berjalan searah dengan arah pesawat. Dalam dunia pelayaran, hal tersebut dikenal dengan efek eotvos yang menjadi salah satu bukti adanya putaran bumi. Tapi mengapa efek eotvos tidak terasa di kendaraan darat? Tidak hanya itu, kita juga tidak merasakan bedanya menendang bola ke arah timur dan barat, ataupun perbedaan waktu yang signifikan ketika melakukan perjalanan ke timur dan barat. Padahal bumi berputar dari barat ke timur dengan kecepatan yang sangat tinggi. Lalu, dengan kecepatan seperti itu, mengapa angin tidak hanya berhembus berlawanan arah dengan arah rotasi bumi sebagaimana kita merasakannya ketika naik kendaraan dengan kecepatan yang jauh lebih lambat? Gerakan awan pun bisa ke segala arah. Berarti kecepatan angin dan awan yang searah dengan arah rotasi bumi luar biasa, mencapai ribuan km/ jam? Dalam menembak sasaran juga yang lebih menentukan adalah arah angin yang hanya beberapa km/ jam, bukan rotasi bumi yang kecepatannya lebih dari 1600 km/ jam. Sebagai catatan, badai dahsyat pun kecepatannya hanya puluhan hingga ratusan km/ jam.

Semua pertanyaan kritis tersebut sebenarnya bisa dijawab jika ternyata bumi memang berputar, namun kecepatannya jauh lebih kecil sehingga kita tidak merasakannya. Bandul Foucault yang selama ini dianggap sebagai pembuktian adanya rotasi bumi hanya menggambarkan adanya gerakan bumi, tidak menggambarkan kecepatannya. Secara validitas, percobaan tersebut malah tidak sekuat percobaan yang dilakukan Michelson-Morley untuk membuktikan keberadaan eter yang justru hasilnya malah menguatkan bahwa bumi tidak bergerak. Percobaan menarik dilakukan Berzenberg dan Reich yang menjatuhkan peluru logam dari menara setinggi 110 meter dan ternyata jatuhnya peluru tidak tepat tegak lurus tapi agak melenceng ke arah timur. Kecepatan lebih dari 1600 km/ jam artinya setara dengan kecepatan lebih dari 400 meter/ detik. Sementara dalam gerak jatuh bebas dari ketinggian 110 meter, dibutuhkan waktu puluhan detik sebuah benda mencapai tanah. Seharusnya hasilnya bukannya agak melenceng, tapi jauh melenceng hingga puluhan kilometer. Bumi mungkin tidak benar-benar diam, tetap bergerak untuk menjaga keseimbagannya, namun tidak harus secepat itu. Semakin cepat rotasi, permukaan bumi seharusnya lebih rata tidak ada gunung yang menjulang sangat tinggi karena terkikis. Semakin cepat rotasi, air laut pun akan bergejolak sangat tinggi karena adanya gaya sentripetal. Semakin cepat rotasi, satelit harus bergerak dengan kecepatan yang amat sangat tinggi sehingga komponennya akan mudah rusak dan terbakar. Apa benar bumi berotasi? Secepat itu?

Lho, bukannya jika bumi berotasi lebih lambat maka lama waktu siang dan malam akan semakin panjang? Betul, tapi itu jika mataharinya hanya diam, tidak ikut bergerak mengelilingi bumi. Jika matahari turut bergerak mengelilingi bumi dengan arah yang berlawanan dengan arah rotasi bumi, lama waktu siang dan malam dapat signifikan dipangkas. Berarti saya penganut geosentris? Bisa iya, bisa tidak. Jika dipaksa memilih, yah antara geosentris dan heliosentris, mungkin mirip dengan tychonic system dengan beberapa perubahan. Bukti adanya revolusi bumi selama ini yang kerap jadi acuan adalah aberasi dan paralaks bintang. Namun bagaimana jika bukan hanya bumi, tetapi bintang sebenarnya juga bergerak? Dan matahari yang juga merupakan sebuah bintang juga turut bergerak? Penemuan terbaru mengungkapkan bahwa benda langit dan alam semesta ini memang bergerak. Sebuah benda yang bergerak akan menghasilkan gerakan semu terhadap benda lainnya. Jika kedua benda bergerak, maka yang terjadi adalah gerak relatif tergantung titik acuannya. Jika matahari dijadikan titik acuan ya bumi yang bergerak mengelilingi matahari, sebaliknya jika titik acuannya bumi maka matahari yang mengelilingi bumi. Hal itu terjadi karena tidak ada benda langit yang benar-benar diam statis. Tetap bergerak untuk menjaga keseimbangan kehidupan.

Terakhir, tulisan ini hanya opini pribadi, tidak perlu dianggap terlalu serius dan diyakini sebagai sebuah kebenaran. Karena hanya Sang Pemelihara Alam Semesta-lah Yang Maha Mengetahui fakta sebenarnya di balik penciptaan lagit dan bumi. Tidak sedikit juga manusia yang seakan mendahului Allah SWT dalam memastikan sistem alam semesta. Bukan lagi geosentris atau heliosentris, tapi sudah berubah menjadi egosentris. Merasa paling benar dan pendapatnya adalah satu-satunya kebenaran. Buat saya pribadi, tulisan ini merupakan sebuah tafakur sekaligus tadzakur, betapa kecilnya diri kita, betapa terbatasnya indera kita, dan betapa sedikitnya ilmu kita.

Wallahu a’lam

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imron: 190 – 191)

Flat Earth, Rotasi Bumi dan Egosentris (1/2)

Entah mengapa tiba-tiba belakangan ini marak diskusi tentang bumi bulat vs bumi datar. Saya yang tidak tahu apa-apa mendadak dimintai pendapatnya. Flat Earth Theory yang diisi dengan bumbu konspirasi tentu menjadi daya tarik tersendiri untuk dibahas. Tidak sedikit orang melakukan debat kusir mempertahankan pendapatnya. Tidak jarang dengan kata-kata yang kurang pantas. Ada juga yang ikutan sok tahu kayak saya ^_^. Tidak sedikit juga orang yang tidak mau ambil pusing untuk membahasnya. Lebih baik berbekal untuk kehidupan akhirat dengan iman, ilmu dan amal shalih. Memang benar sih, debat tentang bentuk bumi cenderung tidak produktif, namun sesekali bolehlah saya ikut meramaikan pendapat yang belum tentu teruji kebenarannya. Ya, karena yang benar tentu datangnya dari Allah SWT.

Kontroversi teori bumi datar memang bukan hal baru, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu juga sudah menjadi perdebatan tak berujung. Diskusinya mungkin bisa saja langsung selesai jika pihak pendukung flat earth bisa memberikan pembuktian nyata, bukan sekedar pembuktian terbalik. Misalnya foto bumi datar dilihat dari luar angkasa bukan sekadar kritik terhadap foto buatan komputer atau Computer Generated Imaginary (CGI) yang diterbitkan NASA. Atau foto dinding es di antartika ketimbang sibuk menganalisa kebenaran tentang peluncuran satelit atau pendaratan di bulan. Jika dilihat dari berbagai video dan penjelasan yang banyak tersebar di dunia maya, argumentasi pendukung flat earth memang seakan-akan ilmiah, penuh asumsi dan cocokologi yang seolah merupakan suatu kebenaran.

Ya, saya pribadi cenderung mengambil pendapat bahwa bumi ellipsoid, bulat dengan sedikit pemampatan di kedua kutubnya, sampai ada pembuktian nyata yang benar-benar memperlihatkan bentuk lain dari bumi. Adapun berbagai peta bumi datar yang salah satu di antaranya ada dalam bendera PBB adalah untuk memudahkan gambaran keseluruhan negara. Gambar globe dua dimensi tidak akan memperlihatkan gambar di sisi sebaliknya, masak iya bendera gambarnya harus dibuat bolak-balik agar tidak ada negara yang merasa dianaktirikan. Tapi bukankah dalam Al Qur’an banyak disebutkan bahwa bumi dihamparkan? Ayolah, hamparan itu bukan berarti datar tetapi luas membentang. Tersedia, siap untuk diapa-apain. Lagipula penjelasan lebih lengkap bisa dilihat dalam tafsirnya, tanpa harus cocokologi. Setahu saya sih tidak ada ayat dalam Al Qur’an yang secara eksplisit menyebutkan bentuk bumi bulat atau datar. CMIIW.

Saya bukan pakar astronomi, apalagi ahli astrologi ^_^. Sebagai orang awam, saya beranggapan bahwa satu kebohongan akan mendatangkan kebohongan yang lain. Bisa dibayangkan betapa banyaknya kebohongan yang harus ditutupi jika ternyata bumi benar-benar datar. Bukan hanya membohongi tentara yang menjaga antartika dan keluarganya, juga harus membohongi semua ilmuwan, pekerja yang bergerak di bidang teknologi satelit dan keantariksaan, dan banyak lagi kebohongan yang harus dibuat dan disembunyikan rapat. Lebih jauh lagi, saya malah melihat teori bumi datar ini masih memiliki banyak celah. Misalnya, rasi bintang pari/ layang-layang yang selalu terlihat di selatan. Jika bumi datar dan bintang ada dalam kubah bumi, rasi bintang selatan di Indonesia seharusnya terlihat di barat atau timur dari wilayah yang berbeda 90 derajat dari Indonesia, atau bahkan terlihat di ujung utara dari wilayah yang berseberangan dengan Indonesia. Itu baru bicara tentang rasi bintang, belum lagi penjelasan tentang aurora dan efek Coriolis yang sulit dijelaskan dengan teori bumi datar.

Selanjutnya mengenai perbedaan waktu. Semakin jauh dari kutub utara bumi datar, perbedaan waktunya akan semakin kecil untuk jarak yang sama, namun kenyataannya tidaklah demikian. Teori bumi datar juga akan kesulitan untuk menjelaskan mengenai tahun syamsiyah dan tahun qomariyah sebab kecepatan revolusi matahari sama dengan revolusi bulan. Fenomena gerhana dalam teori bumi datar cuma bisa dijelaskan sebatas asumsi adanya antimoon, padahal gerhana sudah ada sejak zaman dahulu, jauh sebelum freemason –apalagi NASA—yang dituding sebagai konspirator didirikan. Selain itu jika matahari tetap ada di atas mengapa es di kutub utara tidak mencair? Atau mungkin ada konspirasi berupa freezer raksasa di kutub utara? :D

Pun demikian, teori bumi datar sukses membuat saya kembali mempertanyakan tentang kebenaran akan rotasi bumi. Jika memang bumi bergerak mengitari matahari (heliosentris) ataupun sebaliknya (geosentris), tanpa rotasi bumi pun sudah akan terjadi siang dan malam, hanya lamanya siang dan malam saja yang mungkin berubah. Tapi waktu itu pun relatif, karena sebenarnya lamanya waktu satu harilah yang dipakai untuk menentukan kala rotasi, bukan sebaliknya. Sulit membayangkan bumi bergerak dengan kecepatan lebih dari 1600 km/jam tapi kita sama sekali tidak merasakannya. Penjelasan yang ada hanyalah bahwa kita berada dalam sistem yang bergerak dengan percepatan nol sehingga tidak merasakan putaran yang begitu cepat. Lalu mengapa jika kita naik mobil atau kereta dengan kecepatan konstan (percepatan nol), kita tetap merasa bergerak? Karena kita terpengaruh dengan gerak semu di sekeliling kita, konon jika kita naik komedi putar dalam kotak tertutup raksasa, kita pun tidak akan merasakan putaran komedi putar. Benarkah?

–bersambung–

Wisuda… Oh… Wis… Uda(h)…

…Sarjana-sarjana dengan toga di kepalanya, berbaris bagai robot meninggalkan masyarakatnya. Mengejar mimpi televisi, seolah tak akan mati. Oh, generasi yang hilang, korban perang peradaban. Apa arti ilmu pengetahuan tanpa takwa dan iman…” (‘Generasi yang Hilang’, Teater Kanvas)

Jika di awal tahun ajaran merupakan masanya orientasi, akhir tahun ajaran adalah waktunya wisuda. Banyak institusi pendidikan, mulai dari jenjang pendidikan usia dini hingga pendidikan tinggi menyelenggarakan wisuda, bahkan tidak ketinggalan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/ TPQ). Biaya penyelenggaraan wisuda tentu tidak sedikit dan biasanya dibebankan kepada para wisudawan. Belum lagi para wisudawan tidak jarang direpotkan dengan berbagai persiapan wisuda hingga pakaian wisuda yang digunakan. Orang tua wisudawan juga tak kalah repot dan capeknya. Tidak heran sebagian lulusan memilih untuk tidak mengikuti wisuda yang dianggap kurang worth it dibandingkan semua biaya yang harus dikeluarkan dan segala hiruk-pikuk yang ditimbulkan.

Dalam KBBI, wisuda didefinisikan sebagai peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat, sementara kata wisudawan dan wisudawati dikaitkan langsung dengan sarjana (muda). Dulu wisuda memang identik dengan peresmian gelar sarjana, namun sekarang terminologi wisuda sudah luas digunakan untuk menggambarkan proses akhir pelepasan lulusan di semua jenjang pendidikan. Sarjana masih merupakan gelar yang eksklusif bagi kebanyakan masyarakat karenanya proses pelantikannya dianggap sakral dan penting. Sebuah momentum yang membanggakan. Namun sebegitu bernilaikah wisuda untuk jenjang pendidikan menengah, dasar, apalagi pendidikan anak usia dini?

Tulisan ini tidak hendak mempersoalkan tingkat kepentingan wisuda ataupun menimbang positif dan negatifnya. Namun ketika wisuda diposisikan sebagai bagian dari alur pendidikan –sebagaimana masa orientasi ataupun KBM– yang memiliki esensi tertentu, sebatas event seremonial tentu akan mengikis arti wisuda itu sendiri. Betapa banyak penyelenggaraan wisuda yang mewah, meriah, dan gegap gempita yang justru mengaburkan makna kesakralan dan kekhidmatan yang seharusnya lebih kental terasa. Tak sedikit para wisudawan yang terjebak pada kebahagiaan semu di tengah ketidakpastian masa depan. Betapa banyak para wisudawan SMA yang masih resah hendak melanjutkan kemana, atau betapa banyak wisudawan sarjana yang masih gelisah mau kemana selepas kuliah.

Sebagai momentum penting di masa awal transisi, wisuda semestinya diposisikan sebagai titik tolak pengingat hakikat diri seorang wisudawan. Sejenak melihat kembali jejak perjalanan sekaligus membuat proyeksi masa depan yang barangkali masih penuh dengan ketidakpastian. Bersiap menghadapi masa depan seraya menyadari ada tanggung jawab baru yang kini telah dipikul. Berat memang, karenanya wisuda belumlah saatnya dialamatkan pada lulusan TK ataupun SD. Terlalu berat bagi mereka untuk merancang rekayasa masa depan. Buat mereka, wisuda adalah wis, udah. Seremonial penanda kelulusan. Wisuda hanyalah haha hihi tak ubahnya perayaan ulang tahun. Namun untuk lulusan SMA, apalagi perguruan tinggi, wisuda seharusnya dimaknai lebih.

Sebagai ajang refleksi proses yang telah dijalani, wisuda jelas bukanlah ajang untuk sekadar mendapat pengakuan. Sebagai momentum persiapan dalam menghadapi masa depan, wisuda jelas berbeda dengan kegiatan foto bersama sambil mengenakan toga. Kesakralan wisuda seharusnya didukung dengan konten acara yang menekankan pada aspek pembekalan dan penguatan wisudawan, bukan sebatas seremonial. Wisuda bukanlah garis finish proses pendidikan, hanya stasiun pemberhentian sementara sebagai penanda masuknya masa transisi. Karenanya pembekalan bagi para wisudawan sangatlah penting, jauh lebih penting dari seremonial memindahkan tassel (tali) pada mortarboard (topi wisudawan) dari kiri ke kanan. Dan kualitas (keberhasilan) seorang wisudawan baru benar-benar akan terlihat setelah mereka lulus, melewati masa transisi, menempuh jenjang selanjutnya dan terlibat aktif di tengah masyarakat.

Jika saat ini sudah banyak pihak yang kritis menyikapi kegiatan orientasi baik di sekolah maupun di kampus sebagai pemberi kesan pertama. Sudah selayaknya kita juga bijak dan cerdas dalam menyikapi wisuda baik di sekolah maupun di kampus sebagai pemberi kesan terakhir. Mempersiapkan simpul kenangan yang indah dan membangun untuk selalu dikenang. Bukan sebatas serimoni tanpa esensi. Jika kesan pertama akan menyertai proses selanjutnya, maka kesan terakhir akan mewarnai kehidupan di jenjang selanjutnya. Wisuda adalah momen tepat untuk mengukuhkan nilai-nilai kebaikan, sebagai bekalan berharga bagi para lulusan. Wisuda harus dijaga prosesnya agar tidak kehilangan makna. Agar wisuda tidak kehilangan kekhidmatan dan kesakralannya. Agar wisuda tidak sekadar wis, udah

Pendidikan Anak dan 5 Level Kepemimpinan

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut.” (HR. Bukhari – Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci ibarat kertas kosong. Secara naluriah, seorang anak akan mengharapkan dan membutuhkan bimbingan dari orang dewasa. Disinilah pendidikan anak memegang peranan penting, untuk mulai mengisi dan mewarnai kertas kosong tersebut. Ketika beranjak dewasa, sang anak mungkin sudah –dan harus– mampu mengambil keputusan dan menentukan jalan hidupnya sendiri, namun sketsa awal yang dibuat pada kertas kosong itu akan sangat memengaruhi pilihan hidup yang kelak diambil. Dan karena kepemimpinan adalah seni memengaruhi orang-orang yang dipimpin, peran pemimpin secara otomatis hinggap di pundak para orang tua dalam mendidik anaknya.

Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya, namun pemimpin seperti apa? Sebagai refleksi, ada baiknya kita komparasikan dengan lima level kepemimpinan yang ditulis oleh John C. Maxwell. Maxwell menggunakan 5 level pemimpin (5P) yaitu Position (Posisi), Permission (Perkenanan) , Production (Produksi), People Development (Pengembangan SDM), dan Personhood (ke-Pribadi-an). Masing-masing level ini kemudian dipasangkan dengan dengan produknya, yang disebut Maxwell sebagai 5R, yaitu Rights (hak), Relationships (hubungan), Results (hasil), Reproduction (reproduksi) dan Respect (hormat).

Level kepemimpinan pertama adalah posisi atau jabatan. Seorang anak mengikuti orang tua karena keharusan. Pendidikan anak di level ini ditandai dengan penekanan hak orang tua untuk dituruti karena posisinya sebagai orang tua yang harus dihormati anaknya. Tanpa kemampuan ataupun upaya khusus, jabatan orang tua dan anak sudah ditentukan, tidak akan tertukar. Indoktrinasi bahwa orang tua selalu benar, lebih tahu dari anaknya dan tidak akan mencelakakan anaknya akan kental, sementara ruang dialogis sangat terbatas. Anak akan berpotensi kehilangan jati dirinya, terkekang minat dan bakatnya, serta sekadar menjadi ‘boneka’ orang tuanya. Moralitas relatif turun sementara potensi pemberontakan tinggal menunggu momentumnya saja. Maxwell mengatakan, “A great leader’s courage to fulfill his vision comes from passion, not position”.

Orang tua yang mendidik anaknya di level kepemimpinan pertama ini perlu berbenah, setidaknya naik ke level kepemimpinan selanjutnya yaitu perkenanan yang berorientasi hubungan. Pada level kedua ini, seorang anak menuruti orang tuanya karena rasa sayangnya pada orang tua, bukan karena keharusan semata. Disini orang tua sudah menjadi pribadi yang menyenangkan bagi anak-anaknya sehingga kerja sama antar anggota keluarga dapat lebih terjalin. Anak-anak sudah mulai merasa dihargai dan lingkungan keluarga pun lebih terasa positif. Sayangnya, pendidikan anak di level ini cenderung membuat orang tua populer di mata anak, tetapi pengembangan diri anak kurang terfasilitasi. Pendidikan yang berorientasi membuat nyaman semua anggota keluarga ini kurang mengakomodir kebutuhan anak yang memiliki motivasi tinggi untuk maju.

Pendidikan anak perlu naik ke level kepemimpinan ketiga yang fokus pada kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta memberikan hasil nyata dari pendidikan anak. Pada level ini, seorang anak akan patuh pada orang tuanya karena sudah merasakan hal-hal positif bahkan hasil yang dapat dilihat kasat mata, buah dari pendidikan yang dilakukan orang tuanya. Anak-anak sudah merasakan tercapainya tujuan pendidikan, yaitu adanya perubahan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Anak-anak pun sudah mampu mengatasi masalah dan mengambil keputusan sendiri dalam mencapai cita hidup mereka. Di level ini, orang tua telah mampu menjadi role model yang baik bagi anaknya dan dengan jelas mampu menunjukkan kontribusi mereka bagi keluarga. Teladan orang tua yang produktif akan menghasilkan anak-anak yang produktif.

Pekerjaan terakhir seorang pemimpin adalah memastikan dirinya mewariskan hal-hal yang baik, termasuk ketersediaan kader pengganti. Pada level kepemimpinan keempat, kaderisasi adalah harga mati karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menghasilkan pemimpin lainnya. Di level ini, orang tua sudah mempersiapkan anak-anaknya sebagai pemimpin sekaligus orang tua di masa mendatang. Orang tua mengoptimalkan segala yang dimilikinya untuk pengembangan anak-anak mereka sebagai investasi SDM strategis. Pendidikan di level ini akan menumbuhkan dan memperkuat loyalitas anak kepada orang tua dan keluarganya. Bakat dan minat anak diperhatikan, potensi anak dikembangkan, inisiatif anak didukung, proyeksi masa depan anak dipersiapkan dengan baik. Reproduksi bukan berarti mencetak anak sebagai kloning orang tuanya, karakter kepemimpinan sang anak tetap harus terbentuk.

Level kepemimpinan kelima menyoal kepribadian dan respek, yang disebut Jim Collins sebagai pemimpin dengan professional will dan strategic humility. Bijak dan kharismatik. Di level ini, anak-anak menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada orang tuanya. Respek ini bahkan sanggup menggerakkan untuk berjuang dan mengorbankan segala yang dimilikinya demi orang tuanya. Tanpa alasan. Bukan karena hubungan darah, rasa kasih sayang ataupun melihat apa yang sudah orang tua berikan. Lebih luhur dari itu. Orang tua menjadi teladan, inspirator, sekaligus pemimpin idola bagi anak-anaknya. Butuh waktu lama dan upaya keras untuk mencapai level ini, bahkan mungkin baru dapat dilihat setelah perannya sebagai orang tua di dunia sudah berakhir.

Ada ungkapan yang mengatakan, “Seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa akan jauh lebih berbahaya daripada seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing”. Ungkapan tersebut barangkali ada benarnya dan relevan dengan pendidikan anak kita. Jika anak-anak kita tidak mampu mengaum, bisa jadi bukan karena mereka lemah, namun karena kita tidak mampu memberikan pendidikan sekuat singa. Orang tua punya peran besar dalam membangun masa depan anak, apalagi di usia keemasannya. Mari sejenak kita renungi level kepemimpinan kita dalam mendidik anak, sebentar saja, untuk kemudian kita berbenah dan memperbaiki diri. Agar kelak anak-anak kita mengenang kita sebagai orang tua terbaik, penuh dedikasi dan keteladanan, bukan hanya orang yang ‘kebetulan’ jadi orang tua. Setiap orang tua adalah pemimpin, setiap anak adalah amanah, mendidik anak adalah kewajiban. Pemimpin, amanah dan kewajiban akan dimintai pertanggungjawabannya.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An Nisa: 9)

(Jangan) Berinovasi di Negeri Kami

Jangan berinovasi di negeri kami jika tidak ingin bernasib seperti Dasep Ahmadi. Alih-alih diapresiasi karena berhasil memproduksi mobil listrik yang ramah lingkungan, Dasep dikenai hukuman penjara 7 tahun, membayar uang pengganti Rp 17,1 miliar, serta denda subsider Rp 200 juta. Pada tahun 2013, Dasep diminta untuk menyiapkan 16 unit mobil listrik yang akan digunakan pada konferensi APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) XXI. Sayangnya, seluruh unit bermasalah, mulai dari aspek perizinan hingga spesifikasi yang tidak sesuai. Dasep didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi yang merugikan negara hingga 28,9 miliar rupiah.

Terlepas dari dakwaan korupsi, waktu beberapa bulan untuk menghasilkan sebuah karya prototype memang tidak masuk akal. Risetnya saja bisa memakan waktu tahunan dengan biaya yang tidak sedikit. Mobil listrik adalah pengembangan teknologi, bukan sekadar level mobil rakitan siswa SMK. Riset dan pengembangan produk inovasi tentu tidak akan langsung memberikan hasil sempurna. Penilaian bahwa Dasep tidak memiliki sertifikat keahlian dalam pembuatan mobil listrik, belum mempunyai hak cipta, paten atau merek dalam pembuatan mobil listrik, serta belum pernah membuat mobil listrik model mobil eksekutif, termasuk izin dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) karena mengubah kendaraan dari yang berbahan bakar bensin menjadi listrik adalah alasan konyol. Kendala perizinan adalah alasan klasik yang pernah membuat seorang Ricky ‘putra petir’ Elson memilih untuk kembali mengembangkan mobil listriknya di Jepang. Keputusan yang tepat karena Indonesia adalah penjara –jika tidak bisa dikatakan neraka– bagi para inovator.

Jangan berinovasi di negeri kami jika hanya berbekal idealisme, niat baik dan intelektualitas tinggi. Dr. Warsito Purwo Taruno, penemu Electrical Capacitance Volume Tomography (ECTV) dan Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) harus menutup tempat risetnya karena tidak memenuhi prosedur penelitian menurut Kemenkes RI. Padahal riset terapi kanker yang dilakukan penerima penghargaan BJ Habibie Technology Award ini bukan riset abal-abal. Dari 3.183 pengguna ECCT, 1.530 pengguna (48%) kondisinya membaik dan 1.314 lainnya (41%) merasakan pertumbuhan kanker terhambat. Memang ada hampir 12% pasien yang mengalami kegagalan, tetapi perlu diingat bahwa 51,74% pengguna rompi tersebut adalah pasien yang menurut dokter sudah tidak ada lagi harapan sembuh. Mereka memillih secara sadar dan sukarela menggunakan ECCT serta memahami bahwa alat tersebut tidak otomatis menjamin kesembuhan mereka. Sekitar 70 tenaga kerja di klinik harus dirumahkan dan Dr. Warsito mungkin perlu mempertimbangkan kembali tawaran dari Rumah Sakit di Jepang dan Polandia yang siap mengembangkan risetnya bekerja sama dengan kampus dan tenaga medis disana. Atau mungkin tawaran dari perusahaan di Singapura yang sudah siap membeli lisensi produknya. Yang jelas, jangan mengembangkan risetnya di Indonesia.

Jangan berinovasi di negeri kami jika hendak membuat karya yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Jika sekadar iseng-iseng berhadiah untuk ikut berbagai perlombaan bolehlah. Apalagi kalau sebatas guna memenuhi koleksi perpustakaan. Semoga saja tidak dibuang dan diloak seperti yang terbukti terjadi di salah satu kampus di Makassar. Disini inovasi dibeli, bukan dikembangkan. Prof. Dr. Khoirul Anwar, penemu dan pemilik paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) yang tinggal di Jepang mungkin tidak bisa mengembangkan karyanya di Indonesia. Jangankan mengembangkan teknologi 4G, film Dragon Ball yang jadi sumber inspirasinya saja dilarang tayang di Indonesia digantikan acara musik, pencarian bakat instan ataupun sinetron dalam dan luar negeri. Bahkan B.J. Habibie, pemegang 46 paten dunia di bidang teknologi penerbangan yang pernah menjabat sebagi Presiden RI pun lebih dihormati dan dihargai di Jerman dibandingkan di Indonesia. Memang lebih praktis membeli pesawat daripada memproduksi pesawat sejenis N250 yang terbilang canggih di masanya.

Jangan berinovasi di negeri kami jika hanya bermodal nasionalisme dan kreativitas karena Indonesia tidak pernah menjanjikan apresiasi yang pantas. Lebih mudah menemukan inovator Indonesia yang dihargai di kancah internasional dibandingkan yang memperoleh penghargaan layak di negerinya sendiri. Ironis. Inovator seakan ditempatkan sejajar dengan relawan, tanpa dukungan fasilitas, pendanaan, termasuk dukungan kebijakan. Dengan rasio anggaran riset di Indonesia yang hanya 0.08% dari Produk Domestik Bruto (PDB), inovasi apa yang bisa dikembangkan? Jika belum selevel Jepang atau Korea Selatan yang anggaran risetnya sudah lebih dari 3% PDBnya, setidaknya Indonesia semestinya mampu bersaing dengan India dan Malaysia yang anggaran risetnya di atas 1% dari PDB.

Jangan berinovasi di negeri kami sebab disini nasib baik tidak berpihak pada para inovator. Negeri ini masih takut dengan inovasi, lebih siap menjadi konsumen abadi dibandingkan menjadi produsen. Semantara para inovator yang sebenarnya banyak dilahirkan di negeri ini direkayasa untuk dikaryakan ke negeri orang. Di negeri ini gaji anggota dewan dan selebritinya puluhan kali lipat dari gaji seorang profesor. Politisi dan artis jauh lebih berharga dibandingkan para akademisi dan inovator.

Jangan berinovasi di negeri kami. Jangan berinovasi! Jangan berinovasi! Kata ‘jangan’ sengaja diulang-ulang dalam tulisan ini sebab konon kata ‘jangan’ tidak diproses di otak, tetapi kata atau kalimat selanjutnya lah yang menjadi perhatian. Ya, menjadi inovator di Indonesia memang tidak mudah, tetapi harus ada yang mengambil tantangan ini demi eksistensi bangsa. Lihat saja bagaimana aplikasi ojek dan taksi online yang banyak mendapatkan kecaman, juga sekaligus menuai banyak dukungan. Mungkin sebentar lagi akan banyak bisnis Startup termasuk crowdfunding yang akan dipermasalahkan, namun akan tetap ada yang mendukung. Era sudah berganti, pilihannya hanya berinovasi atau mati.

Jangan (takut) berinovasi karena saat ini masih zaman kegelapan di negeri kami. Perlu ada banyak pembaharu dengan banyak pendukung di belakangnya. Masih ingat kisah Kusrin, perakit TV lulusan SD di Karanganyar yang TV rakitannya sempat disita dan dimusnahkan bahkan dirinya sempat dipenjara? Pun memakan waktu sekitar 7 bulan, akhirnya Kusrin memperoleh sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Upaya menerangi zaman kegelapan memang membutuhkan para ‘martir’ sebagaimana Copernicus dan Galileo di masa European Dark Ages. Ketika inovatif sudah menjadi budaya dan inovasi sudah melimpah, pemikiran dan sifat konservatif akan luluh. Perubahan menjadi keniscayaan. Saat itu, inovasi bukan hanya dicari dan diapresiasi. Panggung utama bangsa pun akan diberikan kepada mereka yang berkarya dan berkontribusi memberi kebermanfaatan untuk masyarakat, bangsa dan Negara. Ayo kita berinovasi untuk negeri!

(Bangsa) Jang tidak mempunjai “imagination”, tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar! Tidak mempunjai keberanian – Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai “imagination”, mempunjai fantasi fantasi besar: mempunjai keberanian; mempunjai kesediaan menghadapi risiko, mempunjai dinamika…” (Soekarno, 29 Juli 1956)

Aku Ingin Hidup 100 Tahun yang Lalu

Suara alarm seakan menepuk pipiku dan mengguncangkan tubuhku. Aku terjaga. Kulihat jam digital di samping tempat tidurku telah menunjukkan pukul 06.00. Akupun segera bangkit dari tempat tidurku, alarm jam itu pun seketika berhenti berbunyi. Aku mulai melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang terletak dalam kamarku. Kasurku secara otomatis terangkat merapat ke tembok menyisakan area yang membuat kamarku terasa lebih luas. Aku pun masuk ke ruang mandi, memilih paket ‘standar’ di layar touch screen dalam ruang mandiku dan membiarkan sistem komputasi yang ‘memandikanku’…

Namaku Ali. Tahun ini usiaku genap 16 tahun. Kini aku baru saja menyelesaikan sarapanku. Lagi-lagi makanan siap saji. Keluargaku memang berlangganan food online, setiap pagi dan malam ada kurir yang mengantarkan pesanan makanan yang masih hangat. Sementara untuk makan siangnya, ibuku biasa memasak sendiri, kurir juga siap mengantarkan bahan makanan yang dipilih sesuai jadwal yang ditentukan. Saat ini ibuku terlihat sibuk dengan gadgetnya, sepertinya hendak mencoba menu baru untuk siang ini. Ada beberapa situs yang menjadi referensi ibuku dalam memasak, namun paling sering ibuku merujuk ke postingan ibu-ibu lainnya di media sosial.

Di meja kerja seberang sana, ayahku sudah sejak tadi melihat layar notebooknya yang terhubung dengan tablet besar yang menjadi ‘separuh nyawa’nya. Jika seabad lalu, marak e-commerce, e-business, freelance online ataupun home office, saat ini sebagian besar pekerjaan memang di kerjakan di rumah. Pekerjaan lapangan hanya untuk inspeksi dan maintenance berkala. Para petani dan nelayan sudah memakai alat canggih, bahkan tidak sedikit bahan makanan hasil rekayasa. Tatap muka masih digunakan untuk keperluan penting dan urgent serta untuk hal-hal insidental. Selain itu, ada berbagai jasa yang mempertemukan langsung pelanggan dengan penyedia jasa –seperti kurir makanan tadi—dalam rangka menjamin kualitas layanan. Namun selebihnya robot dan sistem yang bekerja.

Sisa makananku sudah dibawa oleh smart robotic trash can yang mengumpulkan dan mengolah sampah untuk kepentingan reduce, reuse, recycle dan replace. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, aku harus bersiap ‘berangkat’ sekolah. Konon puluhan tahun lalu ada yang namanya jam analog lengkap dengan jarum jamnya, yang tidak presisi menunjukkan waktu. Jangankan detik yang tidak jelas, menitpun bisa berbeda tergantung sudut pandang. Jam analog tersebut kabarnya juga harus dikalibrasi manual jika kita pergi ke wilayah dengan perbedaan pembagian waktu. Tidak praktis. Bahkan cara membaca jam tersebut konon diajarkan di sekolah dasar pada masa itu, pun sudah ada jam digital. Kadang aku juga tak habis pikir jika mendengar kisah pembelajaran di masa lalu. Mengapa anak-anak harus belajar tentang perkalian dan pembagian bertingkat yang rumit sementara ada kalkulator? Mengapa mereka harus menghapal nama-nama menteri atau ibukota-ibukota Negara sementara semua informasinya terdapat di internet?

Aku pun berpamitan ke orang tuaku untuk sekolah, beranjak masuk kamar dan duduk menghadap meja belajar. Segera kupakai Virtual Reality (VR) Helmet yang langsung saja membawaku ke sekolah. Praktis. Kakekku pernah bercerita tentang ayahnya. Ketika kakek buyutku masih kecil dan tinggal di desa, ia pernah merasakan berjalan berkilo-kilo hanya untuk bersekolah. Menurut cerita kakekku, ketika pindah ke kota di masa SMA, kakek buyutku pernah ‘perang’ dengan sekolah lain, kalau tidak salah ingat istilahnya tawuran. Tidak beradab. Kini, sekolah bebas dari tawuran, bullying, dan berbagai hal yang tidak relevan dengan pembelajaran. Cukup install semacam program e-school dalam VR helmet yang terintegrasi dengan identitas (ID) yang kita miliki, semua orang dapat bersekolah sesuai dengan usia dan levelnya. Kurikulum sudah terstandardisasi internasional, tinggal pilihan bahasa dan peminatan saja yang akan membedakan. Pendidikan yang modern dan beradab.

Aku sudah berada di ‘ruang kelas’ dengan dinding hologram yang membantu visualisasi pembelajaran. Defaultnya bercorak hijau dan biru yang nyaman dilihat. Di kelasku ada 25 siswa dan seorang guru yang mengajar di depan kelas. Posisi duduk siswa disusun setengah lingkaran, baris pertama 12 meja, baris kedua 13 meja. Meja siswa juga virtual yang dapat menampilkan berbagai hologram untuk mempermudah pembelajaran, termasuk buku catatan dan modul pelajaran yang terhubung dengan arsip digital yang dimiliki masing-masing siswa. Intervensi audio juga dioptimalkan sehingga semakin kondusif untuk menangkap pelajaran. Tidak ada bau keringat atau siswa yang hilir mudik seperti cerita masa sekolah kakek buyutku. Tentu juga tidak ada yang curang ketika ujian. Program ini sangat secure, tidak membuka ruang sedikitpun bagi siswa untuk melakukan cheat.

Sempat terlintas di pikiran, apakah teman-temanku di kelas ini nyata? Aku memang mengenal nama mereka namun hanya sebatas itu. Privacy rights adalah perkara serius. Kadang aku merasa teman-temanku di game online ataupun media sosial lebih nyata dari mereka, lebih ada ekspresinya. Bagaimanapun, di dunia yang sangat individualis seperti ini, saling mengenal bukanlah hal penting, kecuali jika kita punya kepentingan. Suasana luar rumah juga sama saja, lebih kaku dan tidak ramah, menurutku orang-orang di zaman ini terlalu serius dan berhati-hati. Sekadar tegur sapa juga tidak. Karenanya, aku tidak sepenuhnya percaya dengan dongeng masa lalu yang diceritakan kakekku. Sangat aneh jika tidak sedikit orang yang mau menolong orang lain yang tidak dikenalnya tanpa kepentingan apapun. Tidak masuk akal.

Namaku Ali. Lahir di Distrik Depok, Negara Bagian West Java tahun 2084. VR Helmet kulepas. Pembelajaran hari ini selesai. Ada PR dari guruku untuk menentukan cita-cita profesi di masa depan. Tiba-tiba teringat kisah kakek buyutku yang berprofesi sebagai guru, yang sering dibuat pusing oleh para siswanya. Sangat inspiratif jika saja yang diceritakannya benar-benar nyata. Bukan, aku tidak tertarik menjadi seorang guru. Bahkan aku tidak yakin guru di kelasku benar-benar ada orangnya. Aku ingin menjadi siswa yang diajar kakek buyutku. Siswa yang merasakan kucuran keringat setelah berlari-lari menuju gerbang sekolah yang akan segera ditutup, merasakan lelah dan membosankannya upacara bendera, berbuat usil dengan teman sekelas, menikmati getaran cinta pertama dengan adik kelas, mencoba sensasi bolos, menikmati persaingan dan konflik dengan teman, hingga merasakan interaksi dengan orang tua kedua. Aku iri pada mereka yang punya guru, teman, sekolah, dan banyak permainan yang benar-benar nyata. Hidup di era virtual tanpa kendala jarak tidaklah semenyenangkan kedengarannya. Dan berbicara tentang cita-cita, aku sudah mantap, ingin menjadi kurir makanan. Setidaknya aku masih akan bisa bercerita ke anak cucuku bahwa benar ada manusia lain di bumi ini selain diri kita…

dimuat di islampos 5 April 2016