Category Archives: Organisasi

Apa Misi Visi Anda?

Ada yang terasa janggal dari judul di atas? Ya, mungkin karena kata ‘visi’ biasanya diletakkan sebelum kata ‘misi’. Sesuai dengan urutannya, karena misi merupakan penerjemahan dari visi. Tapi tentu penulisan judul tersebut bukan tanpa alasan. Tulisan ini tidak hendak menggugat bahwa misi layak disebut lebih dulu daripada visi, namun setidaknya akan coba dipahamkan bahwa misi memiliki makna yang lebih fundamental dibandingkan visi.

Misi didefinisikan sebagai ‘reason for being’ atau ‘why do we exist?’ Pertanyaan mengenai alasan keberadaan ini sangat mendasar dan perlu dijawab sebelum panjang lebar merencanakan masa depan. Sementara visi adalah ‘what do we want to become?’ Sebuah mimpi, cita dan harapan. Pendapat yang mengatakan bahwa misi berorientasi ke belakang sementara visi berorientasi ke depan, tidak sepenuhnya benar. Karena bagaimanapun, menyadari hakikat keberadaan (organisasi) kita sejatinya menyoal masa lalu, hari ini dan masa depan.

Pemahaman yang benar tentang siapa kita dan untuk apa kita diciptakan menjadi lebih fundamental dibandingkan pemahaman mengenai cita-cita hidup kita. Jati diri manusia sebagai hamba dan khalifah yang menyebarkan Rahmat Allah SWT tidaklah lekang oleh waktu, sementara cita-cita hidup kita bisa saja berubah. Bahkan jika cita-cita yang dimaksud berorientasi akhirat, misalnya mati syahid atau masuk syurga, tetap saja pemahaman terhadap misi, tugas dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan lebih penting. Ketika terjadi disorientasi, jawaban atas pertanyaan ‘siapa kita’ dan ‘mengapa kita ada’ akan lebih dalam maknanya dibandingkan sekadar ‘mau kemana kita’.

Tidak sedikit organisasi yang sibuk merancang impiannya di masa mendatang, namun melupakan hal mendasar: mengapa organisasi tersebut ada. Seorang pengikut mungkin saja tidak punya visi, karena sekadar mengikuti visi pemimpinnya. Pun demikian pengikut tersebut tetap punya misi, karena tanpa misi tak ada arti penting keberadaannya. Seorang pemimpin bisa saja hadir tanpa membawa visi, misalnya karena mengikuti visi kepemimpinan sebelumnya. Bahkan visi organisasi ini dapat dibuat bersama-sama, dengan atau tanpa melibatkan pemimpin. Namun tidak ada pemimpin tanpa misi. Misi kepemimpinan adalah memimpin, menggerakkan dan menjadi teladan. Seseorang yang tidak memimpin, tidak menggerakkan dan tidak pula menjadi teladan bukanlah seorang pemimpin.

Memang benar ada pula pengertian misi sebagai ‘our business’ ataupun ‘the chosen track’ yang bisa jadi dibuat setelah adanya visi. Di beberapa literatur ada yang membedakan antara purpose (misi sebagai alasan keberadaan) dengan mission (misi sebagai turunan visi). Tapi apapun pendekatannya, memahami jati diri organisasi tetaplah lebih utama. Pendapat yang mendefinisikan misi sebagai cara untuk mencapai visi (sehingga ada setelah visi) tidaklah tepat. Definisi tersebut justru membuat tumpang tindih antara misi dengan strategi yang didefinisikan sebagai cara (method), pola (pattern), atau taktik (ploy) untuk mencapai visi. Kesalahan lainnya dalam penyusunan misi adalah dibuat terlalu panjang seperti layaknya profil organisasi. Bukan hanya sulit untuk dihapal dan dipahami, posisi sebagai ‘the chosen track’ juga bisa kehilangan makna akibat misi yang terlalu rumit.

Suatu organisasi tanpa visi memang akan terombang-ambing karena ketidakpastian arah yang dituju, namun organisasi tanpa misi lebih buruk lagi. Sekadar visi tanpa memahami hakikat keberadaannya akan membuat organisasi berambisi untuk menggapai impian, dengan cara apapun yang dapat dilakukan. Fondasi berpijaknya organisasi rapuh dan rentan lupa diri. Eksistensi organisasi yang gagal memahami ‘why do we exist?’ hanyalah ditopang oleh faktor sumber daya (SDM, keuangan, waktu, dsb) dan keberuntungan. Bisa jadi organisasi cukup beruntung tidak runtuh bahkan berhasil mencapai visi. Namun seketika bingung apa yang harus dilakukan karena alpa akan hakikat dirinya. Atau tiba-tiba tersadar bahwa apa yang telah dicapai ternyata bukanlah sesuatu yang benar-benar diimpikannya. Dapat dibayangkan betapa besarnya sumber daya yang terkuras untuk sebuah kekosongan.

Satu visi dalam sebuah organisasi merupakan keharusan karena kita akan berjuang dalam cita yang sama, tinggal menjalankan peran masing-masing. Namun menyadari hakikat misi bersama tak kalah pentingnya. Sehingga kita menginsyafi bersama mengapa organisasi ini harus ada, untuk apa dan untuk siapa. Agar kita kian paham akan segenap tugas dan tanggung jawab yang menyertai. Dan semakin yakin akan kebenaran jalan yang ditempuh. Agar kita tetap sadar diri dalam menggapai mimpi. Dan tetap punya harga diri dalam memperjuangkan visi.

Jadi, apa misi dan visi (organisasi) Anda?

Without a mission statement, you may get to the top of the ladder and then realize it was leaning against the wrong building” (Dave Ramsey)

Antara Teknik Industri dan Non-Governmental Organization

Industrial and systems engineering is concerned with the design, improvement and installation of integrated systems of people, materials, information, equipment and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physical, and social sciences together with the principles and methods of engineering analysis and design, to specify, predict, and evaluate the results to be obtained from such systems. (IISE Official Definition)

Lulusan Teknik Industri kok malah kerja di Dompet Dhuafa?”, begitu pertanyaan yang kerap diterima penulis setelah menyampaikan terkait latar belakang pendidikan. Sebagai manajer program mudah saja menjawab bahwa dalam mengelola program dibutuhkan berbagai keterampilan manajemen, mulai dari manajemen strategis, SDM, produk, keuangan, hingga manajemen pemasaran, dan kesemuanya itu relevan dengan pelajaran pada bangku kuliah. Belum lagi berbagai sistem manajemen yang diterapkan lembaga, mulai dari ISO 9001, Malcolm Baldrige, hingga Knowledge Management sangatlah sesuai dengan keilmuan Teknik Industri. Tapi kok rasanya ada yang kurang lengkap dari jawaban tersebut, setidaknya lulusan Manajemen juga bisa saja menjawab hal serupa. Lalu, apa bedanya dengan lulusan Teknik Industri?

Setelah cukup lama tidak mengkaji lebih dalam mengenai kompetensi keilmuan Teknik Industri, akhir pekan lalu penulis berkesempatan menghadiri Workshop Alumni untuk mengevaluasi kurikulum S1 Teknik Industri UI. Diskusi alumni lintas generasi (dari angkatan 1975 hingga 2016) ini dilakukan untuk melengkapi persyaratan akreditasi internasional ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology, Inc.), sesudah akreditasi nasional dan regional ASEAN telah diperoleh. Untuk memperkaya gagasan, peserta pun dipilih lintas industri, dan –seperti perkiraan—hanya penulis yang berasal dari Non-Governmental Organization (NGO) mewakili sektor ketiga.

Ada hal yang cukup ‘menenangkan’ dari hasil diskusi, ternyata hanya sekitar 5 – 10% keilmuan Teknik Industri yang diajarkan di bangku kuliah yang langsung terpakai di dunia kerja. Memang ada bagian spesifik di industri yang bisa meningkatkan kesesuaian ini hingga 50%, misalnya bagian Supply Chain Management (SCM). Pun demikian, kebutuhan akan lulusan Teknik Industri sangatlah tinggi. Bahkan beberapa perusahaan manufaktur lebih mencari HRD yang berlatar belakang Teknik Industri dibandingkan Psikologi, atau beberapa industri keuangan yang justru memilih lulusan Teknik Industri dibandingkan Manajemen. Added value lulusan Teknik Industri terletak pada kemampuan untuk memodelkan permasalahan secara unik dalam kerangka sistem atau sederhananya “kemampuan berpikir sistem”.

Tidak mengherankan Institute of Industrial Engineering (IIE) yang merupakan acuan perekayasa industri resmi berganti nama menjadi Institute of Industrial and Systems Engineering (IISE) sejak April 2016. Teknik Industri pun berkembang menjadi Teknik Sistem dan Industri. Rekayasa sistem mulai dari Man, Material, Machine, Method, Money dan Environment pun menjadi relevan diajarkan secara menyeluruh. Menyoal sistem memang luas, pun tidak dalam. Karenanya di Teknik Industri diajarkan multi disiplin ilmu, termasuk berbagai tantangan masa depan seperti persaingan, inovasi, hingga teknologi digital. Keilmuan yang generalis (tidak spesialis) ini memang merupakan kekurangan yang justru menjadi keunggulan kompetitif lulusan Teknik Industri. Bagaimanapun, lulusan S1 memang harus melalui proses untuk mampu bekerja. Kemampuan melihat lingkup kerja sebagai suatu sistem yang komprehensif dan integral tentu akan mempercepat proses tersebut.

Lalu apa kaitannya Teknik Industri dengan NGO? Sektor ketiga saat ini masih menjadi sektor yang termarjinalkan dibandingkan sektor privat ataupun sektor publik. Beberapa pihak masih memandang sebelah mata tentang penerapan sistem manajemen dalam suatu lembaga non profit yang terkesan kental dengan budaya kekeluargaan, yang seakan berlawanan dengan kultur profesional. Padahal hal mendasar yang membedakan sektor ketiga dengan sektor publik hanya terletak pada sumber dana dan status pengelolanya. Tata kelola yang profesional, transparan dan akuntabel tetap menjadi keharusan. Penguatan sistem manajemen pun perlu dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan dan terus melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Bisnis proses mulai dari supplier, input, proses, output hingga sampai ke customer pun sama dengan industri jasa ataupun manufaktur. Tahapan pengelolaan program mulai dari perencanaan hingga evaluasi pun sama dengan pengelolaan produk barang ataupun jasa. Singkatnya, NGO pun bergerak dalam kerangka sistem, dan dimana ada sistem, ada peran perekayasa industri yang menyertainya.

Lantas mana yang paling utama dari ketiga sektor tadi? Tidak ada. Semuanya bersinergi untuk saling membangun. Dan semua sektor tersebut butuh pengelolaan sistem yang handal. Ketika pengelolaan sistem ini sudah menjadi keniscayaan di sektor publik, apalagi di sektor privat, maka keberadaan perekayasa sistem di sektor ketiga menjadi sangat penting untuk menghadirkan keseimbangan. Sebab seluruh komponen kemajuan pembangunan di seluruh sektor kehidupan sejatinya terhimpun dalam sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan, pun ditopang oleh berbagai (sub) sistem lainnya. Dan di setiap (sub) sistem itulah perekayasa sistem dapat mengambil peran untuk menghadirkan perbaikan, termasuk di NGO. Untuk masa depan yang lebih baik. There is no best, but better.

Engineers make things, industrial engineers make the things better

Belajar dari Abilitas Penyandang Disabilitas

“Dia yang Mau Menerima Saya Apa Adanya!”, judul tulisan dari salah seorang kawan tiba-tiba terlintas ketika ku menghadiri Grand Launching ThisAble Creative di Unpad Training Center. Tidak mengherankan, karena tulisan tersebut baru dikirim sehari sebelumnya. Tulisan mengenai berbagai penolakan dan pertanyaan sensitif yang mengiringi hidup seorang penyandang disabilitas. Sekaligus ungkapan kesyukuran atas hadirnya pendamping hidup dan keluarganya yang begitu tulus menerimanya. Tulisan dari seorang teman penyandang disabilitas yang begitu produktif menulis. Penulis novel ‘Sepotong Diam’ dan ‘Masih Ada’ sekaligus founder One Day One Post Community.

ThisAble Creative (TAC) merupakan sebuah gerakan sosial yang diinisiasi oleh penerima Beasiswa Aktivis Nusantara – Dompet Dhuafa, Regional Bandung. Gerakan ini bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat difabel dalam memunculkan potensinya sehingga lebih mandiri dan dapat menciptakan inklusifitas di tengah masyarakat. Dalam acara grand launching bertemakan “Commemorate the Extraordinary” ini dilakukan penyerahan kaki palsu yang dibuat handmade oleh difabel dan untuk difabel, sharing inspirasi oleh para penyandang disabilitas, serta launching tas TAC yang dibuat langsung oleh para difabel.

diskriminasi difabel

Di tengah hiruk pikuk isu diskriminasi SARA jelang Pilkada DKI yang sepertinya mencoba mengalihkan isu penistaan agama yang dilakukan oleh petahana, diskriminasi terhadap para difabel seolah luput dari hiruk pikuk. Padahal para penyandang disabilitas sangat rentan terhadap tindak diskriminatif, bahkan tindak kriminal. Pelecehan dan diskriminasi yang kadang dirasakan oleh jomblowan dan jomblowati jelas jauh lebih ringan dibandingkan apa yang menimpa para penyandang disabilitas. Lingkaran setan kemiskinan berputar di sebagian besar para difabel. Mencoba memperbaiki nasib, akses terhadap pekerjaan terbatas. Hendak memutus rantai kemiskinan, akses terhadap pendidikan juga terbatas. Belum lagi terbatasnya akses fasilitas dan sarana layanan publik, ditambah berbagai stigma negatif yang dilekatkan kepada para difabel, menambah panjang daftar tindak diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas.

Berbeda dengan isu SARA yang kental nuansa keyakinan dan budaya yang dogmatis, diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas semestinya tidak perlu terjadi karena disatukan oleh isu kemanusiaan yang universal. Kesetaraan, saling membutuhkan dan saling membantu. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Artinya ketidaksempurnaan fisik tidak seharusnya menjadi pembeda. Sayangnya keangkuhan acapkali menghijabi kesyukuran, rasa gengsi kerapkali menutupi rasa empati, alhasil diskriminasi terus terjadi. Padahal dari penuturan para penyandang disabilitas, mereka tidak ingin diistimewakan. Mereka hanya ingin dimanusiakan, bukan sebagai orang cacat yang layak dihujat, bukan epidemi yang harus dijauhi, bukan komunitas terzholimi yang minta dikasihani, juga bukan bangsawan yang segala sesuatunya harus disediakan. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia. Peduli dan dipedulikan, mencintai dan dicintai.

Dan hari ini aku belajar banyak akan arti kesempurnaan dari ketidaksempurnaan. Salah seorang penerima kaki palsu sudah hapal lebih dari 5 juz Al Qur’an, ada juga juara paralympic yang sudah mengharumkan nama bangsa. Sementara mereka yang (katanya) ‘sempurna’ justru belum menorehkan karya apa-apa. Sekali lagi aku diingatkan bahwa setiap manusia dikaruniai kelebihan dan kekurangan. Ya, kekurangan hakikatnya adalah karunia jua, bukan aib. The extraordinary people bukanlah mereka yang tidak punya kekurangan, tetapi merekayang memiliki kekurangan namun bukannya menjadi kelemahan, namun justru menjadi kekuatan. Dan ternyata para penyandang disabilitas ini memiliki potensi yang luar biasa, menjadikannya memiliki abilitas yang tidak kalah dari para ‘penyandang non-disabilitas’. Allah Maha Adil, Dia melengkapi segala kekurangan dengan sesuatu yang setimpal…

I firmly believe that the only disability in life is a bad attitude” (Scott Hamilton)

Berkolaborasi dalam Kompetisi, Berkompetisi untuk Kolaborasi

Alkisah di sebuah desa, ada seorang petani yang menanam jagung kualitas terbaik. Panennya selalu berhasil dan ia kerap memperoleh penghargaan sebagai petani dengan jagung terbaik sepanjang musim. Seorang wartawan lokal tertarik untuk mewawancara petani tersebut. Ia datang ke rumah petani kemudian disambut dengan ramah dan dijamu dengan baik. Dalam suasana wawancara yang hangat, ia menanyakan rahasia kesuksesan petani tersebut.

“Mudah saja, saya selalu membagi-bagikan benih terbaik yang saya miliki kepada para tetanggga”, jawab si petani. “Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya? Bukannya itu justru akan membuat Anda rugi dan kalah bersaing?”, tanya wartawan itu penuh keheranan. Sejenak petani itu terdiam kemudian menjelaskan, “Kami para petani ini telah diajarkan oleh alam. Angin yang berhembus menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jadi, jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula”.

* * *

Pilih mana kompetisi atau kolaborasi? Tidak sedikit orang yang mendikotomikan antara keduanya. Kompetisi yang bersinonim dengan persaingan kemudian diidentikkan dengan saling menjatuhkan, tingkat stres tinggi, hingga menghalalkan segala cara. Sementara kolaborasi yang bermakna kerja sama dipahami sebagai aktivitas saling membangun dan saling menguntungkan. Ibarat baik dan buruk, tentu tidak sulit menentukan pilihan. Bahkan ada yang ‘mengharamkan’ kompetisi, terutama di dunia pendidikan, karena hanya mengedepankan ego yang berbuah kerusakan, sementara setiap individu punya keunikan yang tidak bisa dan tidak seharusnya dikompetisikan.

Pembunuhan pertama oleh manusia juga didorong oleh menang – kalah dalam kompetisi. Namun bukan kompetisinya yang salah, melainkan bagaimana menyikapi kompetisi tesebut. Habil mempersembahkan kurban ternak terbaik sementara Qabil memberikan kurban hasil tani terburuk. Jika ditelaah lebih dalam, ternyata orientasi, cara berkompetisi dan bagaimana menyikapi hasil kompetisilah yang menentukan dampak dari kompetisi. Sementara kompetisi adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Kompetisi sudah dimulai sejak pembuahan sel telur oleh satu dari jutaan sperma, hingga perjalanan hidup yang hakikatnya adalah kompetisi dengan waktu. Karenanya tidak heran jika Allah memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, berkompetisi menuju Ridha dan Jannah-Nya.

Kompetisi akan mendorong kreativitas dan inovasi, bersungguh-sunguh untuk terus menjadi lebih baik. Hidup tanpa kompetisi adalah stagnasi di zona nyaman. Meniadakan keindahan akan dinamika hidup. Coba saja bayangkan tiada kompetisi dalam memasuki jenjang pendidikan baru, atau dalam rekrutmen karyawan, atau bahkan dalam memilih pasangan. Meniadakan kompetisi sama saja mengingkari hakikat hidup manusia. Dan jika tidak didikotomikan, kompetisi sesungguhnya membuka ruang besar untuk tercipta kolaborasi. Ya, berkolaborasi dalam kompetisi.

Dunia semakin kompetitif dan kian menyempitkan makna kompetisi. Hanya ada satu juara, yang kalah akan tergilas zaman. Paradigma kompetisi untuk ‘saling membunuh’ mendorong manusia untuk melakukan apa saja untuk dapat bertahan hidup. Ketika manusia menyadari bahwa tidak semua hal dapat dilakukan sendirian, kolaborasi menjadi opsi strategis untuk dapat terus eksis. Sayangnya, kolaborasi yang dihasilkan dari paradigma seperti ini sifatnya transaksional. Ada selama masih ada kepentingan. Untuk berkolaborasi dengan benar, perlu paradigma kompetisi yang benar. Bukan untuk mengalahkan, melainkan untuk terus berkembang. Bukan untuk memperoleh pengakuan, tetapi untuk memberikan kebermanfaatan yang lebih luas. Mengubah mindset dari win-lose menjadi win-win.

Kolaborasi adalah berbagi peran dan potensi untuk mencapai tujuan bersama tanpa harus mengeliminasi jati diri. Perbedaan adalah hal yang perlu ada dalam sebuah kolaborasi, hal itulah yang membedakannya dengan sebatas koordinasi. Kolaborasi akan memperbesar peluang pengembangan dan keberhasilan. Kemenangan milik bersama. Kolaborasi adalah berbagi untuk bisa saling melengkapi. Berbagi dan memberi, itulah makna strategis kolaborasi yang tidak dimiliki oleh kompetisi.Kolaborasi akan meredam syahwat kompetisi yang takkan pernah terpuaskan, menyeimbangkan sisi manusia sebagai makhluk sosial tidak hanya sebagai makhluk individu. Realitanya, kolaborasi mungkin tidak bisa membahagiakan dan menguntungkan semua orang, namun setidaknya tidak perlu hasil akhir yang mencelakakan atau menghancurkan pihak lain.

Hidup penuh dengan kompetisi sehingga terlibat dalam kompetisi seringkali bukan pilihan. Namun membangun paradigma kompetisi yang sehat adalah pilihan. Menggunakan cara-cara yang baik dalam berkompetisi adalah pilihan. Menyikapi kemenangan dan kekalahan dengan benar adalah pilihan yang mendewasakan. Mempersiapkan diri untuk bijak dalam menghadapi kompetisi dan hasilnya lebih realistis dibandingkan menghindari kompetisi dan berharap semua akan jadi pemenang. Namun jika kompetisi adalah keniscayaan, kolaborasi adalah pilihan. Pilihan para pemenang sejati. Betapa banyak orang yang menginjak-injak orang lain untuk mencapai puncak, dibandingkan mereka yang bergandengan tangan bersama mencapai puncak. Hampir semua manusia tengah berkompetisi, namun sedikit di antaranya yang berkolaborasi. Padahal kebermanfaatan adalah ukuran keberhasilan. Mari berlomba berkolaborasi dalam kebaikan. Berkompetisi untuk kolaborasi.

Competition make us faster, collaboration make us better

Pemimpin Tepercaya, Pemimpin Memercaya

…Someone you know is on your side can set you free. I can do that for you if you believe in me. Why second-guess? What feels so right? Just trust your heart and you’ll see the light…
(‘True to Your Heart’, 98° feat Stevie Wonder)

Kepercayaan adalah hal penting yang harus ada dalam sebuah tim. Rasa percaya merupakan dasar dari kerja tim, dan sifatnya adalah resiprokal (timbal balik) bukan satu arah. Salah satu kriteria penting seorang pemimpin adalah dapat dipercaya. Kepercayaan kepada seorang pemimpin erat kaitannya dengan integritas, keteladanan, keadilan dan konsistensi. Pemimpin yang dapat dipercaya akan memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi mereka yang dipimpinnya. Kepercayaan ini merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin untuk membangun dan melejitkan tim atau organisasi yang dipimpinnya.

Kepercayaan adalah hubungan resiprokal, namun bawahan akan lebih mudah memercayai pemimpinnya dibandingkan sebaliknya. Memiliki integritas, sejalan antara perkataan dengan perbuatan, jujur, adil, serta dapat memberi teladan yang baik sudah menjadi syarat cukup bagi seorang pemimpin untuk memperoleh kepercayaan yang dipimpinnya. Apalagi jika pemimpin tersebut memiliki kompetensi dan pengalaman yang mumpuni, tentunya menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kepercayaan dari yang dipimpinnya. Belum lagi kekuasaan dan kewenangan seorang pemimpin bisa memperkuat kewajiban untuk percaya kepadanya, pun terpaksa. Ya, dalam titik ekstrim, seorang pemimpin bisa saja hanya memilih mereka yang memercayainya untuk dipimpin.

Persoalan klasik muncul ketika sosok pemimpin tidak lagi bisa dipercaya, terus berdusta, mengingkari janji, tidak adil dan transparan, serta gagal memberikan perasaan tenang pada yang dipimpinnya atas segala tindak tanduknya. Opsi menggulingkan kepemimpinan kerap butuh perjuangan keras dan biaya sosial yang tinggi. Sikap apatis seringkali menjadi opsi yang lebih realistis mengingat keterbatasan kemampuan untuk mengubah karakter kepemimpinan. Akhirnya, tim mungkin tidak hancur, namun tanpa kepercayaan tim sudah kehilangan ruhnya. Rutinitas organisasi mungkin masih bisa berjalan, dengan setiap elemen hanya berupaya menyelamatkan diri mereka sendiri. Kepemimpinan tanpa kepercayaan hanyalah sebuah kehampaan dan omong kosong.

Masalah juga akan muncul ketika kepercayaan tidak menemukan hubungan timbal baliknya. Seorang pemimpin yang memercayai anggota timnya yang ternyata tidak amanah, bisa saja langsung memberikan treatment atau bahkan mengeluarkan ‘penyakit’ tersebut dari tim. Penyakit ini mudah didiagnosa karena pengaruh kekuasaan pemimpin akan terbantu oleh ketidaknyamanan dari anggota tim yang lain. Persoalan yang lebih rumit akan muncul ketika seorang pemimpin tidak atau kurang memercayai mereka yang dipimpinnya. Bisa jadi semua tanggung jawab dan beban kepemimpinan akan sepenuhnya dipikul oleh sang pemimpin. Padahal kepemimpinan bukan hanya seni memengaruhi orang lain, tetapi juga memercayai orang lain.

Tidak sedikit pemimpin dengan potensi yang luar biasa terjebak dalam kondisi ini: gagal sepenuhnya memercayai yang dipimpinnya. Fungsi delegasi hanya jadi formalitas layaknya dalang yang memainkan wayang. Super team tidak terbentuk karena pemimpin mengambil alih seluruh tanggung jawab, toh yang penting tujuan tercapai. Bukannya meringankan kerja anggota tim, pemimpin tanpa sadar justru tengah mengebiri potensi anggota tim. Barangkali tugas memang bisa selesai lebih cepat dan lebih berkualitas jika dikerjakan langsung oleh sang pemimpin, namun ketergantungan besar terhadap sosok pemimpin bukanlah hal ideal dalam kepemimpinan. Dinamika tim, termasuk belajar dari kesalahan, merupakan hal penting untuk terus bisa berkembang dan melakukan perbaikan. Pemimpin kadang lupa bahwa kepercayaan bersifat resiprokal, alih-alih menenangkan anggota tim, memberikan kepercayaan ‘setengah hati’ justru akan berbuah ketidakpercayaan.

Pemimpin sejati bukanlah pemimpin yang hebat, namun juga pemimpin yang menghebatkan mereka yang dipimpinnya. Dan memberikan kepercayaan adalah kunci pengembangan potensi anggota tim. Kepemimpinan ada siklusnya, kaderisasi adalah keniscayaan, membangun kepercayaan yang resiprokal antar anggota tim dan antara pemimpin dengan yang dipimpinnya adalah langkah strategis untuk memastikan kesinambungan suatu organisasi. Menjadi pemimpin yang tepercaya (dapat dipercaya) memang penting, namun menjadi pemimpin yang dapat memercaya (memberikan kepercayaan) tidak kalah penting. Karena kepercayaan adalah hubungan timbal baik, keduanya dapat seiring sejalan.

“Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah?” (Tere Liye)

Serba – Serbi Analisis SWOT

Siang ini, saya diamanahkan untuk mengisi coaching materi tentang analisis SWOT. Agak unik sebenarnya, karena salah satu keunggulan analisis SWOT (dan salah satu penyebab mengapa masih digunakan sampai sekarang) adalah sederhana, tidak perlu pelatihan khusus. Saya sendiri telah mengenal analisis SWOT sejak SMA, artinya sudah belasan tahun lalu. Lalu apa iya analisis SWOT perlu diajarkan? Realitanya, masih banyak orang yang belum benar-benar memahami tentang analisis SWOT, setidaknya masih bingung setelah analisis SWOT jadi selanjutnya diapakan.

Analisis SWOT vs Visi Misi
Mana yang lebih dulu dibuat, analisis SWOT atau visi misi? Analisis SWOT yang menjadi dasar pembuatan visi misi atau visi misi yang menjadi dasar pembuatan analisis SWOT? Dari berbagai definisi mengenai analisis SWOT –yang tidak ingin saya bahas–, ada lima kata kunci: strategic planning (perencanaan strategis), strengthness (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (peluang), dan threat (ancaman). Sebuah pendekatan mengungkapkan bahwa sebagai bagian dari perencanaan strategis, analisis SWOT ada di antara visi misi dengan goals (tujuan), objectives (sasaran), dan activities (kegiatan), atau termasuk dalam bagian strategi. Strategi sendiri terbagi dalam tiga tahap, yaitu formulasi, implementasi dan evaluasi. Formulasi strategi terdiri atas tiga bagian, yaitu input stage, matching stage, dan decision stage. Analisis SWOT sendiri masuk dalam matching stage.

Dengan pendekatan tersebut, analisis SWOT ada setelah visi misi, sebagai sebuah instrumen untuk menetapkan strategi dan menurunkan visi misi dalam ranah yang lebih taktis – teknis. Dalam teori perencanaan maupun problem solving, tujuan memang harus lebih dulu ada sebelum instrumen analisis, karenanya dapat dimengerti ketika visi misi mendahului analisis SWOT. Pun demikian, dalam konteks evaluasi dan analisis menyeluruh kondisi organisasi, bisa saja hasil dari analisis SWOT akan mendorong adanya visi misi baru. Misalnya, dominasi pada strategi SO dapat mendorong adanya visi misi yang lebih progresif dan ekspansif. Namun secara umum, analisis SWOT biasanya dibuat setelah visi misi. 

Kelebihan dan Kekurangan Analisis SWOT
Secara umum, ada empat kelebihan analisis SWOT, yaitu sederhana, kolaborasi, fleksibel dan integratif. Analisis SWOT mudah dipahami, partisipatif, dapat digunakan untuk ukuran organisasi sebesar apapun, bahkan dapat digunakan untuk diri sendiri. Adanya faktor internal dan eksternal dengan sisi positif dan negatifnya juga mengakibatkan instrumen SWOT cukup lengkap dan menyeluruh. Berbagai keunggulan inilah yang menyebabkan analisis SWOT masih relevan untuk digunakan pun usianya sudah sekitar separuh abad. Banyak organisasi dari yang kecil hingga yang besar masih setia menggunakan analisis SWOT. Namun, analisis SWOT bukan tanpa celah. Celah pertama adalah subjektifitas. Data dan kajian mendalam sebenarnya bisa saja diterapkan dalam membuat analisis SWOT, namun kadang justru menyebabkan analisis SWOT menjadi tidak sederhana. Dasar penentuan faktor internal seharusnya bukan ‘kira-kira’. Dasar penetapan faktor eksternal juga semestinya bukan ‘kayaknya’. Demikian pula dengan strategi yang dihasilkan, tidak bisa diperoleh hanya dari intuisi. Sebisa mungkin analisis harus objektif dengan data dan fakta akurat.

Celah kedua adalah variabel negatif yang digunakan, yaitu kelemahan dan ancaman yang bisa jadi sebenarnya tidak ada. Tidak ada gelap, yang ada hanyalah kekurangan cahaya. Tidak ada dingin, yang ada cuma kekurangan kalor. Kelemahan juga tidak ada jika kita mampu mengubahnya menjadi kekuatan, sebagaimana tidak ada ancaman kalau kita dapat memposisikannya sebagai peluang. Bukankah banyak orang hebat yang kekurangannya justru menjadi kekuatannya? Bukankah banyak organisasi besar yang menjadikan potensi ancaman sebagai peluang untuk semakin besar dan kuat? Anehnya, dalam konteks evaluasi orang akan lebih mudah melihat variabel negatif, sementara dalam penetapan strategi orang justru mengacu pada variabel positif dengan agak mengesampingkan variabel negatif. Jadi jangan heran jika kolom strategi yang paling sulit diisi dalam TOWS Matrix adalah strategi WT, padahal kelemahan dan ancamannya mudah diisi. Salah satu alternatif analisis SWOT adalah SOAR (Strengthness, Opportunity, Aspiration, Result) yang lebih fokus ke variabel positif.

Analisis SWOT Sekedar Formalitas?
Tidak sedikit organisasi yang latah, ikut-ikutan menggunakan berbagai konsep dan instrumen manajemen dari luar negeri namun tidak dipahami secara utuh. Sertifikasi internasional hanya dipahami secara administratif. Akhirnya penerapannya hanya setengah-setengah atau bahkan seperempat-seperempat. Demikian pula analisis SWOT, tidak akan jadi apa-apa jika sekedar dibuat namun tidak ditindaklanjuti. Masalahnya, bagaimana cara menindaklanjuti analisis SWOT yang sebenarnya bukan merupakan problem solving tools? Jangankan mem-followup, mengisi penuh matriks SWOT dengan hasil persilangan yang tepat juga tidak mudah. Padahal analisis SWOT hanyalah alat bantu manajemen yang seharusnya mempermudah kerja, bukan mempersulit.

Ada berbagai cara untuk menindaklanjuti hasil suatu analisis SWOT, dan cara-cara ini dapat dikombinasikan. Pertama, ambil key strategies (strategi kunci) dari suatu hasil analisis SWOT. Kedua, jika hasilnya tidak terlalu banyak, sejumlah strategi yang dirumuskan dalam analisis SWOT dapat didaftar sebagai strategi organisasi. Ketiga, ambil strategi paling dominan dari hasil persilangan faktor internal dan eksternal. Cara ketiga ini bahkan dapat mendorong adanya visi misi baru jika memang analisis SWOT ditempatkan untuk membuatnya. Perlu diingat bahwa strategi sederhananya adalah cara menjalankan misi untuk mencapai visi. Dengan memperoleh strategi dari suatu analisis SWOT, langkah-langkah turunan yang harus ditempuh untuk mencapai visi akan semakin jelas.

Cara lain untuk menindaklanjuti hasil analisis SWOT adalah mengolaborasikannya dengan perspektif pengukuran kinerja dan menjadikan hasilnya sebagai indikator kerja. Misalnya dengan Balanced Scorecard (BSC), faktor internal dan eksternal dalam analisis SWOT bisa disilangkan dengan empat perspektif BSC (financial, customer, internal process, learning & growth) dan menghasilkan rangkaian (Key) Performance Indicators (KPI). KPI ini kemudian tinggal diturunkan dalam rencana kerja dan kegiatan sehingga akan ada korelasi antara kegiatan dengan hasil analisis SWOT dan dengan visi misi. Bagaimanapun, SWOT hanyalah sebuah teknik analisis yang takkan bermanfaat jika tidak ditindaklanjuti dan tentunya banyak cara untuk menindaklanjuti suatu hasil analisis. Dan akhirnya, sekedar formalitas atau tidak tergantung bagaimana pemaknaan dan implementasinya.

* * *

Analisis SWOT adalah sederhana, tulisan ini juga masih sangat sederhana. Masih banyak serba-serbi analisis SWOT yang dapat digali lebih dalam. Misalnya, apa bedanya analisis SWOT dengan TOWS matrix? Atau bagaimana meningkatkan objektivitas dalam penentuan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman? Atau bagaimana perbandingan SWOT dengan SOAR? Ilmu manajemen terus berkembang, ruang untuk diskusi dan bertanya sudah semestinya tetap terbuka. Realitanya, yang lebih banyak bermasalah bukan teori ataupun konsepnya, melainkan implementasinya. Bukan alat bantunya yang rusak, tetapi penggunaannya yang tidak tepat. Terlepas dari itu semua, analisis SWOT yang fleksibel dan integratif memungkinkan adanya continuous improvement (perbaikan yang berkesinambungan). Dan analisis SWOT juga dapat digunakan untuk perbaikan dan pengembangan diri. Nah, mumpung masih di awal tahun, yuk buat analisis SWOT pribadi untuk perbaikan dan pengembangan diri sepanjang tahun 2014 ini! ^_^

Simposium Pendidikan Nasional

Senang mengikuti perkembangan dunia pendidikan Indonesia dan mau tahu informasi terbaru mengenai kondisi pendidikan Indonesia terkini?

Setelah sukses menyelenggarakan Diskusi Produktif “Menghapus Kesenjangan” yang melibatkan para praktisi pendidikan Indonesia pada 20 Mei 2013 lalu, kini, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa bekerjasama dengan BEM UI 2013 kembali menghelat agenda besar. Merupakan serial dari Diskusi Produktif, akan hadir Simposium Pendidikan Nasional 2013, yang mengangkat tema “Pendidikan Berkeadilan”.

Pengisi Acara:

A. Orasi Pendidikan:
1. Prof. Anies Rasyid Baswedan, M.Si (Rektor Universitas Paramadina)
2. Itje Chodidjah, M.A (International Teacher Trainer and Education Consultant)
3. Agung Pardini (Manager Peningkatan Kualitas Pendidikan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa)

B. Simposium Pendidikan Nasional 2013
• Presentasi pemenang Call for Paper “Pendidikan Berkeadilan”
• Penanggap:
1. Dr. Fuad Jabali, M.A (Ketua LPPM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
2. Totok Amin Soefijanto, Ed.D (Deputi Rektor Universitas Paramadina)
• Moderator: Asep Sapa’at (Direktur Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa)

C. Diskusi Panel “Pendidikan Berkeadilan”
1. Ketua BEM Universitas Indonesia
2. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI)
3. Pemenang Call for Paper
• Moderator : Redaktur Harian Umum Republika*

Catat Waktunya:
Rabu, 30 Oktober 2013
Jam 09.00-16.30 WIB
di Aula Terapung Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok

Investasi:
Pelajar/Mahasiswa: GRATIS
Umum: Rp. 30.000

Fasilitas:
• Makan siang (untuk peserta yang membayar biaya investasi)
• Simposium kit
• Sertifikat
• Buku Besar Janji daripada Bukti (untuk 100 orang pendaftar pertama)
• Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa
• Kompilasi paper dari kompetisi Call for Paper “Pendidikan Berkeadilan” (untuk 100 orang pendaftar pertama)

Informasi & Pendaftaran:
Nurul: 0878 7056 0257 / 0815 1007 7684
atau ikuti @MakmalDD dan www.makmalpendidikan.net

Call for Papers “Pendidikan Berkeadilan”

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa mengundang Anda, para praktisi dan pemerhati pendidikan untuk curah gagasan hasil penelitian maupun ide kreatif dalam bentuk paper/karya ilmiah dengan tema “Pendidikan Berkeadilan”. Batas waktu pengiriman paper diperpanjang hingga 8 Oktober 2013. Informasi selengkapnya bisa dilihat di publikasi berikut ini :

Mengentas Buta Aksara di Bumi Reog

Antara tahun 1904 – 1905, Jepang terlibat perang melawan Rusia. Dalam sebuah pertempuran di Selat Tsushima 27 – 28 Mei 1905, Jepang berhasil mengalahkan Rusia. Penyebab kekalahan Rusia adalah hanya 20% dari tentara Rusia yang berperang dalam pertempuran itu yang bisa membaca dan menulis. Akibatnya, banyak di antara tentara itu yang tidak bisa mengoperasikan secara benar persenjataan modern (saat itu), serta seringkali serangan Rusia salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi. Sementara itu hampir semua tentara Jepang bisa membaca dan menulis.

* * *

Tiga pasang mata tua itu nampak serius memandangi lembaran-lembaran kertas di hadapannya. Sebulan yang lalu, tulisan pada lembaran-lembaran tersebut sama sekali tidak memiliki makna bagi mereka. Hanya coretan-coretan tanpa arti yang dapat dipahami. Namun kini, pun masih terbata, dari lisan mereka dapat terucap potongan-potongan kata yang tertulis dalam buku yang mereka pegang. Secara perlahan, mereka mulai melek aksara, huruf demi huruf, suku kata hingga terangkai menjadi kata. Usia yang mulai merangkak senja tidak menyurutkan minat mereka untuk terus menimba ilmu. Kelelahan seharian bekerja sebagai buruh tani tidak menjadi alasan bagi mereka untuk berhenti belajar.

Jawa Timur merupakan provinsi dengan indeks pendidikan yang tergolong rendah di Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa lebih dari 35 ribu anak usia 16-18 tahun (jenjang SMA/ SMK) di Jawa Timur putus sekolah, tertinggi di antara provinsi lain di Indonesia. Di Jawa Timur juga terdapat lebih dari 1,5 juta penduduk yang masih buta huruf, terbanyak di Indonesia. Dari 33 kabupaten/ kota di Indonesia dengan jumlah buta aksara terpadat, Jawa Timur memberikan sumbangan terbesar dengan menempatkan 13 kabupaten yang masuk zona merah. Persentase kasus buta aksara tertinggi di Jawa Timur ada di Kabupaten Sumenep yang mencapai 24,66%, sementara jumlah penduduk buta aksara tertinggi ada di Kabupaten Jember dengan 181.384 jiwa.

Kabupaten Ponorogo, bersama Tuban, Ngawi dan Lamongan masuk ke zona kuning, dimana jumlah penduduk buta huruf sudah di bawah 50 ribu jiwa. Kemiskinan dan kesempatan bersekolah menjadi faktor penyebab utama tingginya angka buta huruf ini. Ibu Watemi, salah seorang peserta pembelajaran tematik untuk pengentasan buta huruf yang diselenggarakan oleh Makmal Pendidikan – Dompet Dhuafa menceritakan bahwa dirinya tidak dapat membaca dan menulis karena memang tidak pernah sekolah. Dari kecil sudah bekerja. Hal tersebut juga diamini Ibu Nganti, warga Desa Sambilawang, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo yang tidak dapat membaca karena putus sekolah sejak kelas 1 SD. Kala itu ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dan pindah ke luar Ponorogo sehingga ia putus sekolah dan memilih untuk membantu orang tua bekerja.

Selain dikenal sebagai Kota Reog, Ponorogo juga dikenal sebagai pemasok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Salah satu efek negatif dari pengiriman TKI ke luar negeri adalah pada tingginya angka perceraian di Ponorogo. Pengadilan Agama mencatat bahwa setiap bulannya ada ratusan pengajuan perceraian, puncaknya adalah ketika lebaran. TKI yang status ekonominya meningkat, datang bukan hanya membawa uang namun juga mengurus perceraian. Ada juga yang mampir pulang untuk menyelenggarakan pernikahan. Dampak negatif pun dirasakan oleh anak-anak di Ponorogo yang harus tinggal bersama kakek neneknya karena orang tua mereka di luar negeri atau bercerai. Pendidikan di Ponorogo pun cenderung stagnan. Anak-anak yang dididik oleh ‘orang tua’ yang buta aksara, bersekolah dengan impian menjadi TKI. Pulang kampung untuk menikah, pulang kampung untuk bercerai dan meninggalkan anak yang memiliki impian sama dengan mereka.

Program Klaster Mandiri yang digagas Dompet Dhuafa di beberapa wilayah kantong kemiskinan yang potensial di Indonesia dirancang untuk memutus rantai kemiskinan ini dengan integrasi intervensi pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Di Ponorogo, permasalahan ekonomi masyarakat yang merambat ke pendidikan keluarga dapat coba dituntaskan dengan menghasilkan produk ekonomi unggulan masyarakat, baik pertanian maupun peternakan. Sejalan dengan upaya tersebut, pemberantasan buta huruf dan parenting masyarakat menjadi penting untuk terus dilakukan guna memperbaiki kualitas pendidikan, pemikiran, dan kehidupan masyarakat.

* * *

Tiga pasang mata tua itu nampak cerah di tengah keremangan malam. Pembelajaran malam ini dicukupkan, buku-buku mereka tutup dengan seulas senyuman. Mereka mungkin termasuk segelintir penduduk buta aksara di Indonesia yang mau dan berkesempatan untuk kembali belajar mengenal huruf. Sebagian besar lainnya tidak mau karena merasa malu, atau tidak berkesempatan karena minimnya akses untuk dapat belajar. Semangat mereka untuk belajar itu begitu terpancar, tak lekang oleh usia, tak goyah walau mereka harus melewati jalanan gelap penuh bebatuan untuk hadir di ruang belajar. Ada secercah harapan untuk masa depan yang lebih baik, tidak lagi terlilit oleh belenggu kebodohan dan kemiskinan. Semoga.

Semai Buku Nusantara

Semai Buku Nusantara adalah sebuah gerakan pengumpulan buku untuk anak-anak marginal di Indonesia. Dalam jangka waktu 3 bulan, Semai Buku Nusantara telah membantu 1.500 anak di Kabupaten Bogor untuk mendapatkan buku-buku berkualitas. Tidak hanya sampai di situ, Semai Buku Nusantara juga telah bersinergi dengan program Pendampingan Perpustakaan di 4 Sekolah Dasar yang juga terletak di Kabupaten Bogor, untuk pengoptimalan pemanfaatan buku donasi disana.

Baru sebagian kecil anak Indonesia yang mendapat kemanfaatan, sedangkan masih ada jutaan lain yang membutuhkan buku-buku berkualitas. Banyak hal yang bisa Anda lakukan, dengan berdonasi atau hanya dengan berbagi informasi ini ke teman Anda melalui email, wallfacebook, retweet, dan menjadi penggalang dana bagi gerakan Semai Buku Nusantara. Semakin banyak yang tahu dan peduli, maka akan semakin banyak anak marginal Indonesia terbantu.

Ayo bergerak dan lakukan sesuatu!

Contact Person: 081288343101 (Angger)