Category Archives: Organisasi

Membalas Keburukan dengan Cinta

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. Fushshilat: 34-36)

Di sebuah desa, tersebutlah seorang petani yang bertetangga dengan seorang pemburu. Petani ini memiliki domba-domba peliharaan sementara si pemburu memiliki anjing-anjing galak tetapi kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba milik Petani. Petani sudah meminta tetangganya itu untuk menjaga anjing-anjingnya, namun sayangnya si Pemburu tak mau peduli. Suatu hari, anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba Petani, sampai terluka parah. Petani itu marah dan merasa tak sabar. Ia memutuskan pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim tersebut mendengarkan cerita petani itu dengan seksama kemudian berkata, “Saya bisa saja menghukum Pemburu itu kemudian memerintahkannya untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi kau akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman, atau musuh yang jadi tetanggamu?

Petani itu kemudian menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman. Hakim kemudian menawarkan win-win solution yang akan memastikan domba-domba milik Petani akan aman dan Petani tetap berteman dengan tetangganya. Mendengar penjelasan dari Hakim tersebut, Petani itu pun setuju. Sesampainya di rumah, Petani itu segera melaksanakan apa yang disarankan Hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga orang anak Pemburu. Anak-anak si Pemburu tentunya sangat senang menerima hadiah tersebut dan mulai bermain-main dengan domba-domba yang diberikan Petani. Pemburu itupun ikut senang. Karena senang serta untuk menjaga mainan baru anak-anaknya, si Pemburu itu kemudian membuatkan kandang dan mengurung anjing-anjing pemburunya. Sejak itu, anjing-anjing si Pemburu tak pernah lagi menganggu domba-domba milik si Petani. Lebih jauh lagi, sebagai rasa terimakasihnya pada kedermawanan si Petani pada anak2nya, Pemburu itu lalu mulai sering membagi hasil buruan pada si Petani. Sebagai balasannya, si Petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu singkat mereka menjadi sahabat karib.

* * *

Kebaikan dibalas dengan kebaikan mungkin hal yang biasa, balas budi namanya. Keburukan dibalas dengan keburukan juga wajar saja, balas dendam namanya. Namun keburukan yang dibalas dengan kebaikan tentu hal yang utama, apalagi jika saat itu kita mampu membalasnya dengan keburukan juga. Jangankan membalas keburukan dengan kebaikan, sekedar memaafkan saja sudah menyimpan banyak keutamaan. Musa bin Imran a.s. pernah berkata, “Wahai Tuhanku, siapakah orang yang paling mulia pada pandangan-Mu?” Allah SWT menjawab, “Barangsiapa yang memberi maaf meskipun dia memiliki kemampuan untuk membalas dendam.” (HR Baihaqi). Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menahan kemarahan padahal ia mampu memuntahkannya, maka Allah SWT kelak akan memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk hingga Allah memperkenankan kepadanya untuk memilih bidadari yang dikehendakinya” (HR.Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah). Subhanallah…

Syech Abdurrahman Nashir As-Sa’dy berkata, “Jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita, balaslah kejahatannya itu dengan kebaikan. Jika ada orang yang jahat kepadamu dengan perbuatannya, dengan perkataannya, atau dengan sesuatu yang lain, maka balaslah hal itu dengan kebaikan. Jika ia memutus hubungan denganmu, cobalah jalin hubungan baik dengannya. Jika ia menzalimi, maafkanlah ia. Jika berbicara tentang kamu, janganlah engkau hiraukan. Tetapi, maafkanlah ia, dan sambutlah ia dengan perkataan yang baik. Apabila ia menjauhimu dan tidak menghiraukanmu, tetaplah berkata yang lembut dan mengucapkan salam kepadanya. Jika engkau mampu membalas kejahatan dengan kebaikan, niscaya engkau akan mendapatkan faedah yang sangat besar”. Membalas keburukan dengan kebaikan terdengar mudah diucapkan, namun mengimplementasikannya tentu tidak semudah itu.

Mungkin kita pernah mendengar kisah Rasulullah SAW yang menjenguk orang non muslim yang kerap meludahinya ketika beliau hendak melaksanakan shalat. Atau bagaimana Rasulullah SAW menyuapi seorang Yahudi Buta di pinggir jalan yang mulutnya selalu mencaci maki beliau. Butuh jiwa besar untuk dapat membalas keburukan dengan kebaikan, apalagi pada saat kita mampu membalas dendam. Namun hasilnya luar biasa. Kedua kisah di atas berakhir dengan masuk Islamnya kedua orang yang berbuat buruk terhadap Rasulullah SAW. Ganjaran kebaikan yang berlipat buah dari membalas keburukan dengan kebaikan dapat serta merta dirasakan, dapat pula tertunda, sebagaimana kisah penduduk Thaif yang pernah melempari Rasulullah SAW dengan batu hingga kaki beliau berdarah. Saat Malaikat Jibril hendak menimpa penduduk Thaif dengan gunung, Rasulullah SAW mencegahnya, bahkan mendo’akan penduduk Thaif. Jauh di kemudian hari, penduduk Thaif bukan saja berbondong-bondong beriman, namun menjadi garda terdepan pembela agama Allah setelah kematian Rasulullah SAW, dimana saat itu banyak muncul nabi-nabi palsu dan umat yang enggan membayar zakat.

Kebaikan dibalas dengan kebaikan, atau keburukan dibalas dengan keburukan sudah menjadi hukum sebab akibat, namun keburukan dibalas dengan kebaikan sebenarnya juga logis. Jika ada orang yang berbuat buruk kepada kita, bisa jadi karena kita kurang berbuat baik terhadapnya. Kurang berbuat baik saja merupakan suatu keburukan. Jika ada orang yang bekerja atau berprilaku tidak sesuai dengan yang kita harapkan, bisa jadi ada haknya yang belum kita berikan. Jika ada orang yang menzhalimi kita, bisa jadi Allah SWT sedang membukakan jalan bagi kita untuk semakin dekat kepada-Nya. Dan ketika kita membalas perlakuan buruk dengan keburukan juga, maka potensi rantai kebaikan akan terputus. Tidak ada kawan yang bertambah. Tidak ada kekurangan yang diperbaiki. Tidak ada kezhaliman yang terhenti. Tidak ada kebaikan yang terus mengalir.

Sesungguhnya jarak antara teman dan musuh setipis jarak antara cinta dan benci. Orang bijak mengatakan, “Cintailah kekasihmu sewajarnya saja (jangan berlebihan) karena bisa saja suatu saat nati ia akan menjadi orang yang paling kamu benci. Jika membenci bencilah sewajarnya (jangan berlebihan) karena bisa jadi suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang paling kamu cintai”. Umar bin Khattab r.a. mungkin salah satu contoh orang yang masa jahiliyahnya sangat membenci dan memusuhi Islam, namun setelah masuk Islam begitu besar kecintaannya. Adanya orang yang tidak suka atau terus berkonflik pada kita padahal kita tidak merasa pernah berbuat buruk padanya barangkali karena kita kurang memberikan kebaikan, kurang menghadiahkan cinta kepadanya. Dalam hal ini, sikap diam dan memaafkan saja tentu tidak cukup. Riak kebaikan dan cinta harus dimulai, untuk mendatangkan gelombang besar kebaikan dan cinta.

Saya menumpas musuh ketika saya menjadikan mereka sebagai teman
(Abraham Lincoln)

DDR = Dikit – Dikit Rubah

The foolish cling to what they have and fear change; their lives are going nowhere. The clever learn to accept uncertainty and ride through changes, capable of starting a new any where. The wise realize the value of uncertainty, accepting all changes without changing; for them, having is the same as not having” (Charles Akara)

* * *

Kehidupan selalu dilingkupi dengan perubahan sampai ada idiom yang menyatakan bahwa tidak ada yang abadi (tidak berubah) kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan kadang terjadi begitu cepat, tanpa disangka sehingga menciptakan keterkejutan. Hal inilah yang aku (dan rekan – rekan di kantor) rasakan, berkenaan dengan kebijakan mutasi yang terkesan dadakan. Informasi perubahan pun disampaikan terlalu cepat, hari yang sama ketika aku kembali masuk kantor setelah istirahat lebih sepekan. Ya, untuk kepentingan lembaga dan pengembangan diriku, aku mendapat amanah baru sebagai peneliti pendidikan independen dengan target kerja yang tidak sedikit.

Perubahan adalah kepastian dan memang perlu ada untuk mengatasi stagnasi menuju performa yang lebih tinggi. Dalam rencana hidupku pun, menjadi peneliti dan pengembang program pendidikan sebenarnya memang menjadi salah satu target di tahun depan. Pun demikian, transisi yang terlalu cepat tetap saja menimbulkan kegamangan karena mengganggu kenyamanan. Apalagi tidak sedikit agenda yang masih dikawal dan keluarga besar departemen pemuda dan komunitas yang harus diinformasikan perihal perubahan tersebut. Ke depan, tim kerjaku sebelumnya akan dikelola oleh seseorang yang kupercaya mumpuni, tinggal bagaimana aku menyikapi masa transisi dengan melakukan lompatan besar sehingga tidak tertinggal.

Perubahan adalah keniscayaan dan tidak ada istilah mundur. “See change as an opportunity, not a threat!”, kata Jack Welch, CEO General Electric tersukses yang baru saja pensiun. Perubahan memberikan banyak kesempatan untuk membuat kita menjadi ‘a climber‘ yang terus memperbaiki kualias diri, berinovasi dan terus berupaya menjadi yang terbaik. Orang – orang yang mempelopori pembaharuan hampir dapat dipastikan adalah mereka yang menyukai perubahan dan melihat adanya tantangan untuk maju dalam setiap perubahan. Bahkan Bruce Barton, seorang penulis, politisi dan pengusaha periklanan tersukses di zamannya mengungkapkan, “Saat Anda menolak untuk berubah, riwayat Anda sudah tamat!”

Perubahan pasti terjadi, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Charles Akara membagi manusia dalam menyikapi perubahan ke dalam tiga kategori : ‘Si Bodoh’ yang mendekap erat apa yang ia miliki dan mengkhawatirkan perubahan, hidup mereka tidak akan mencapai apa-apa; ‘Si Pandai’ yang belajar menerima ketidakpastian dan menyesuaikan diri dengan perubahan, mereka siap untuk menjadi baru setiap saat; dan ‘Si Arif’ yang menghargai nilai ketidakpastian, menerima ketidakpastian tanpa berubah, baginya, memiliki sama saja dengan tidak memiliki. Berpuas dengan status quo dan takut terhadap perubahan hanya akan membuat kita berjalan di tempat bahkan tertinggal. Mereka yang cerdas akan beradaptasi dengan perubahan sehingga mereka dapat terus meningkatkan performanya. Sedangkan orang yang bijak tidak terpengaruh dengan perubahan yang merupakan keniscayaan, perubahan hanyalah tangga naik yang pasti dan harus dijalani manusia.

Perubahan adalah tantangan untuk maju, karenanya harus dihadapi. Kembali menciptakan impian – impian di masa depan, menata orientasi dan kerja ke depan serta melanjutkan menebar kebermanfaatan tanpa terusik oleh transisi, tanpa terganggu oleh perubahan. Semoga perubahan berbuah banyak kebaikan.

* * *

Tuhan, berikan saya kemampuan untuk mengubah apa yang dapat saya ubah, kepasrahan untuk menerima apa yang tidak dapat saya ubah, dan kearifan untuk dapat membedakan antara keduanya”

TOENAS 2011 : Karena Kuliah Butuh Bekal

Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia masih rendah, hanya sekitar 18.7% di awal tahun 2011, padahal APK di negara maju sedikitnya 40%. Hanya sekitar 2% penduduk Indonesia yang berstatus mahasiswa. Angka ini bisa lebih rendah lagi jika dispesifikkan ke mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Rendahnya APK pendidikan tinggi ini utamanya disebabkan karena masih banyaknya keterbatasan yang harus dihadapi calon mahasiswa, mulai dari akses informasi, finansial, intelektual hingga mental. Berbagai program dilakukan untuk menjawab keterbatasan ini, mulai dari beasiswa, orang tua asuh, bimbingan belajar, try out hingga konsultasi/ konseling.

PTN masih menjadi favorit calon mahasiswa karena dianggap relatif terjangkau dan berkualitas. Berbagai beasiswa yang ada diharapkan mampu menjawab kendala finansial dan sosialisasi lebih luas pun dilakukan. Alhasil setiap tahunnya peserta seleksi masuk PTN membludak sementara quota terbatas. Dalam hal ini, pihak PTN tidak mungkin mengorbankan kualitas demi menjawab keterbatasan intelektual. Di sisi lain, kendala mental berupa keraguan, ketidakberanian dan kurangnya percaya diri umumnya bersumber dari dua kendala yang lain, yaitu finansial dan intelektual. Mereka yang tidak siap secara finansial ataupun intelektual, cenderung tidak siap secara mental. Padahal logikanya dapat dibalik, kesiapan mental seseorang dapat mendorongnya untuk siap secara finansial (misalnya dengan berusaha mencari beasiswa) dan siap secara intelektual (misalnya dengan pemilihan metode belajar yang tepat).

Sesuai dengan misinya untuk memperjuangkan keterjangkauan layanan pendidikan, kualitas dan relevansi pendidikan, serta kesetaraan dalam pendidikan, Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa memandang perlu dilakukan penyiapan SDM unggul bangsa, baik secara finansial, intelektual, maupun mental. Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan calon mahasiswa dengan mengadakan Try Out SNMPTN. Untuk mendukung finansial mereka, Try Out yang diadakan harus berbiaya murah dan terjangkau bahkan oleh siswa yang berasal dari keluarga yang kurang mampu sekalipun. Selain itu, kesiapan finansial dapat ditambah dengan penyampaian informasi mengenai banyaknya beasiswa yang dapat mereka akses. Adapun kesiapan intelektual diasah dengan soal Try Out yang berkualitas dan tidak mudah, serta penyelenggarannya dilakukan serentak di beberapa provinsi sehingga hasilnya dapat menyimulasikan SNMPTN yang sebenarnya. Adapun persiapan mental dilakukan dengan rangkaian kegiatan yang menginspirasi siswa dan membantu menjawab berbagai pertanyaan dan keraguan mereka.

Try Out Etos Nasional (TOENAS) berupaya untuk menjawab kebutuhan itu. Kegiatan yang diselenggarakan oleh etoser (sebutan untuk para mahasiswa penerima Beastudi Etos) ini bukan sekedar berbiaya murah dan menginformasikan berbagai peluang beasiswa, namun juga memungkinkan pembebasan biaya bagi pendaftar yang tidak mampu, bahkan kesempatan singgah di asrama Beastudi Etos bagi mereka yang berasal dari luar daerah. TOENAS 2011 diselenggarakan serentak di 9 wilayah se-Indonesia, penilaiannyapun dilakukan secara nasional. Juga diadakan stand dan acara talkshow yang menghadirkan orang – orang yang berkompeten untuk menguatkan persiapan siswa dalam menghadapi SNMPTN. Mewarisi semangat kerelawanan dan pemberdayaan Dompet Dhuafa, seluruh keuntungan dalam penyelenggaraan TOENAS akan disalurkan ke Sekolah Desa Produktif, dimana sekolah menjadi basis revitalisasi desa agar lebih berdaya. Peserta pun dilantik menjadi relawan peduli pendidikan yang siap berkontribusi untuk membesarkan pendidikan di Indonesia. Jadi, TOENAS bukan sekedar memberi manfaat bagi para peserta, namun efek positifnya juga akan dirasakan masyarakat.

Bukan tanpa alasan menjadikan etoser sebagai pihak penyelenggara. TOENAS 2011 diharapkan dapat menjadi salah satu kegiatan yang akan meningkatkan performa etoser dalam mengelola event, memperluas jaringan dan berbagai interpersonal skill yang penting bagi mereka. TOENAS juga merupakan suatu bentuk kontribusi etoser bagi adik – adik mereka dan masyarakat yang akan mereka berdayakan. Roda perbaikan dan pemberdayaan akan berputar, ketika etoser yang eksis karena memperoleh bantuan, kemudian terjun untuk membantu, dari yang sebelumnya diberdayakan menjadi memberdayakan. TOENAS mungkin hanya sepercik air yang hendak membantu menghijaukan bumi ini. Namun semoga saja dengan sepercik air tersebut, dapat tumbuh tunas – tunas muda yang unggul dan kuat yang akan terus bertumbuh menjadi pohon hijau; dan melahirkan tunas baru yang berkualitas dan terus tumbuh; dan berkembang terus untuk memberi manfaat bagi sekitarnya. Semoga.

*ditulis sebagai pengantar LPJ TOENAS 2011

Try Out Etos Nasional : Mencetak Relawan Peduli Pendidikan

Departemen Pendidikan Nasional pernah mencatat, sekitar 2 – 3 jutaan anak Indonesia putus sekolah setiap tahunnya. Pada jenjang SMA, jika melanjutkan pun, hanya 10 persen dari keseluruhan jumlah lulusan yang dapat melakukannya. Hal ini juga tercermin dari rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang perguruan tinggi yang hanya 17,25 persen pada tahun 2007/2008. Dari angka tersebut, siswa-siswi yang melanjutkan ke perguruan tinggi faktanya hanya didominasi oleh kalangan menengah ke atas.

Dan, partisipasi orang miskin di perguruan tinggi pun semakin memudar. Bahkan, seperti yang dikutip oleh Media Indonesia Online, Mendiknas pernah mengatakan APK mahasiswa dari keluarga miskin pada 2008 hanya 4 persen dan tahun 2009 naik menjadi 6 persen. Tak bisa dipungkiri, setiap tahun tak hanya Ujian Nasional yang menjadi momok bagi siswa kelas 3 SMA. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tidak jarang menjadi momok yang lebih mengerikan. Setiap tahun ribuan lulusan SMA dan sederajatnya berkompetisi untuk mendapatkan satu kursi di PTN favorit. Rendahnya APK masuk PTN salah satunya juga disebabkan oleh banyaknya siswa yang tidak lolos seleksi, karena kurangnya persiapan menghadapi ujian masuk.

Beastudi Etos, mencoba menjawab tantangan ini dengan menginisiasi sebuah event bertajuk TOENAS (Try Out Etos Nasional). Acara ini diselenggarakan pada hari Ahad, 1 Mei 2011 tepat sehari sebelum Hari Pendidikan Nasional. Seperti try out pada umumnya, TOENAS juga merupakan simulasi SNMPTN. Istimewanya, TOENAS dihadiri ribuan siswa dan digelar serempak di sembilan wilayah Indonesia, yaitu Padang, Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Jogjakarta, Malang, Surabaya, dan Makasar. Pelaksana acara ini adalah penerima manfaat Beastudi Etos (Etoser) dari 11 PTN terkemuka di Indonesia. Selain simulasi SNMPTN, para peserta TOENAS juga difasilitasi dengan pembahasan soal dan metode perangkingan nasional yang didukung oleh. Zenius Education.

Sedangkan untuk menguatkan motivasi peserta, ada sesi talkshow satu jam bertajuk “Kiat Sukses Menembus PTN Favorit dan Berprestasi di Kampus”. Bagi 100 pendaftar pertama, ada pula fasilitas Konseling On The Spot. Selain itu juga ada Scholarship Expo, Zona Almamater, Sulap Edukasi, Bazaar Beastudi Etos, dan berbagi doorprize menarik. Selanjutnya, para peserta akan menjadi relawan peduli pendidikan, bagian dari Komunitas Filantropi Pendidikan LPI-DD. Keanggotaan relawan ini ditandai dengan kartu relawan yang berlaku seumur hidup.

Selain kartu relawan, para peserta juga mendapat kartu perdana gratis persembahan XL. Terdapat juga beasiswa SNMPTN bagi para peserta dhuafa. Inilah sumbangsih generasi muda bangsa. Try out akbar, serentak, dan nasional, pertama di nusantara. Semoga menjadi inspirasi bagi lebih banyak orang untuk berbuat lebih banyak, bagi perbaikan kualitas pendidikan Indonesia.

Dari Etoser Untuk Indonesia

Ketika kita hidup untuk kepentingan pribadi, hidup ini tampak sangat pendek dan kerdil. Ia bermula saat kita mulai mengerti dan berakhir bersama berakhirnya usia kita yang terbatas. Tapi apabila kita hidup untuk orang lain, yakni hidup untuk (memperjuangkan) sebuah idealisme dan kebermanfaatan, maka kehidupan ini terasa panjang dan memilki (makna) yang dalam. Ia bermula bersama mulainya kehidupan manusia dan membentang beberapa masa setelah kita berpisah dengan permukaan bumi” (Ibnu Qayyim)

* * *

Sejarah telah mencatat, bahwa mahasiswa memiliki andil penting dalam membuat perubahan dunia. Arah sejarah dapat berubah ketika mahasiswa selaku intelektual muda bergerak dan membuat dinamika produktif. Idealisme yang teguh, pemikiran yang kritis dan semangat yang menyala – nyala didukung potensi fisik yang kokoh menjadi kekuatan tak terbatas mahasiswa sebagai anasir perubahan. Dan kesemuanya itu dimulai dengan satu kata : kepedulian. Gerakan mahasiswa menjadi melemah ketika wabah apatisme merajalela, ketika fungsi sosial mahasiswa tertutupi dengan egoisme dan individualisme, ketika mahasiswa semakin jauh dengan masyarakatnya. Atau dengan kata lain ketika mahasiswa kehilangan kepeduliannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan selalu dimulai oleh mereka yang peduli. Dan sudah lumrah juga bahwa penggagas ini jumlahnya tidak banyak. Pun pengabdian kepada masyarakat sudah menjadi salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, tidak menjadi jaminan mahasiswa akan bergerak melakukan perbaikan di tengah masyarakat. Mahasiswa seakan lupa bahwa mereka lahir dan tumbuh dari masyarakat, masyarakat turut membantu penyelenggaraan pendidikan dan masyarakat pula tempat pembuktian sejati kualitas lulusan perguruan tinggi.

Berbagai organisasi dan kegiatanpun dilakukan untuk mengarahkan potensi besar anasir perubahan ini dengan mengasah kepeduliannya, salah satunya dengan memberikan bantuan pembiayaan pendidikan dengan konsekuensi mengembalikan kebermanfaatan untuk masyarakat, seperti yang dilakukan oleh Program Beastudi Etos yang berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani, Dompet Dhuafa. Beastudi Etos sejak awal kelahirannya memang didedikasikan untuk menebar kebermanfaatan yang lebih besar. Sebagai program investasi SDM, para penerima beasiswa diharapkan akan menjadi pemimpin – pemimpin di masa depan yang berpihak kepada masyarakat.

Perhatian besar terhadap perbaikan kultural di tengah masyarakat ini tercermin dalam salah satu misinya yaitu mengoptimalkan peran SDM Beastudi Etos dalam aktivitas pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya itu, kurikulum pembinaan yang disusunpun mengakomodir kontribusi sosial penerima beasiswa. Selain domain agama, akademik dan pengembangan diri yang menjadi landasan etoser (sebutan untuk penerima Beastudi Etos) dalam berpikir dan bersikap, ada juga domain sosial yang tidak kalah pentingnya. Pembinaan domain sosial ini yang akan menyeimbangkan sisi individual pemiliknya dengan dunia luar di sekelilingnya sekaligus mengantarkan etoser pada kekayaan jiwa, keberkahan ilmu dan kebermanfaatan diri. Etoser diharapkan dapat menjadi lulusan perguruan tinggi yang bertaqwa, cerdas, progresif dan peduli. Dapat mengembalikan kebermanfaatan dengan menjadi penebar manfaat sehingga roda pemberdayaan terus berputar, terus membesar dan membesar…

Jejak Kontribusi Etos

Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain” (Confucius)

* * *

Berbagi tentunya bukan sebatas pengetahuan tentang bagaimana berkontribusi, tetapi mencakup upaya merealisasikan perbaikan nyata di tengah masyarakat. Semangat berbagi melalui aksi nyata inilah yang ditanamkan, sehingga kebermanfaatan dapat jelas dirasakan. Lahirlah berbagai aksi sosial seperti operasi bersih pantai di Padang dan Yogya, bersih kali Ciliwung dan pelatihan juru jentik cilik di Jakarta, aksi cabut paku di pohon dalam rangka memperingati Hari Bumi di Semarang dan berbagai aktivitas sosial etoser lainnya. Berikut beberapa contoh aktivitas sosial yang dilakukan etoser. Belum banyak kontribusi yang telah diberikan memang, namun semoga dapat inspirasi bahwa masih ada sekelompok pemuda yang gemar berbagi.

Relawan Tanggap Bencana
Indonesia, negeri yang rentan bencana, dibutuhkan SDM yang siap tanggap kebencanaan. Etoser bersama dengan jejaring kebencanaan Dompet Dhuafa selalu sigap membantu korban bencana, seperti ketika terjadi Gempa Padang, Tragedi Situ Gintung ataupun Musibah Merapi Yogyakarta. Utamanya Etoser membantu logistik dan recovery bencana.

Rumah Belajar Etos
Asrama Beastudi Etos sejatinya merupakan milik masyarakat, sehingga harus ada kebermanfaatan bagi masyarakat sekitarnya. Selama ini, asrama beastudi etos kerap dimanfaatkan sebagai tempat belajar bagi anak – anak di sekitar asrama, misalnya Rumah Cerdas Etos Malang atau Komunitas Anak Bakal Intelektual Muslim (Ka’ Ba’im) Etos Jakarta.

Festival Anak Shaleh
Pembinaan anak – anak sejak dini sepantasnya menadi perhatian besar dalam upaya perbaikan bangsa. Festival Anak Shaleh hadir di hampir seluruh wilayah beastudi etos untuk mencetak generasi yang religius. Aneka lomba digelar untuk memacu kreativitas, keberanian, semangat kompetisi serta kecintaan peserta terhadap Islam.

Kampung Produktif
Kampung produktif merupakan kelanjutan dari program Kampung Cerdas, dimana etoser melakukan pemberdayaan masyarakat dengan mengoptimalkan potensi lokal sehingga menghasilkan perbaikan yang berkesinambungan. Kampung produktif ini telah dilaksanakan di seluruh wilayah beastudi etos mulai dari Rumah Kancil Etos Padang hingga Emping Jagung Etos Makassar

Update Seleksi Nasional Program Beastudi Etos 2011

Seleksi Nasional Program Beastudi Etos kembali digelar. Pendaftaran seleksi beasiswa investasi SDM yang tersebar di 11 kota dan 13 PTN ini dibuka sejak tanggal 5 Januari 2011 lalu. Hingga penutupan pendaftaran pada 10 April 2011, tercatat ada 3218 orang pendaftar dari Aceh hingga Nusa Tenggara untuk memperebutkan quota nasional 150 beasiswa. Sebagai salah satu program pemberdayaan zakat, infaq dan shadaqah dari Dompet Dhuafa, kriteria mutlak yang harus dipenuhi adalah kelayakan finansial dari calon penerima manfaat. Sedangkan prestasi akademis dan non akademis akan menjadi kriteria tambahan.

Dari sejumlah pendaftar tersebut, sebanyak 2502 orang dinyatakan lolos seleksi administrasi dan harus mengikuti seleksi tes tulis dan wawancara. Seleksi ini sudah digelar di beberapa kota sejak akhir April – pertengahan Mei lalu, saat ini sedang berlangsung verifikasi tes tulis dan wawancara. Seleksi ini akan memperdalam kondisi personal dan keluarga dari calon penerima manfaat, termasuk catatan potensi perbaikan dan pengembangan diri yang dapat dilakukan. Selanjutnya masih akan ada seleksi home visit (kunjungan langsung ke rumah calon penerima manfaat) dan ujian masuk PTN yang menjadi prasyarat untuk dapat bergabung dengan komunitas produktif Beastudi Etos. Bagi mereka yang telah lolos seluruh rangkaian seleksi namun tidak diterima menjadi bagian dari keluarga besar Beastudi Etos karena keterbatasan quota, maka bentuk – bentuk advokasi pembiayaan akan tetap dibantu untuk memastikan yang bersangkutan dapat mewujudkan cita – citanya untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Softlaunching Beasiswa Aktivis

Pendidikan adalah salah satu kunci untuk kebangkitan bagi sebuah bangsa dan salah satu elemen kebangkitan yang sangat berperan adalah para pemudanya. Karenanya pendidikan pemuda dan mahasiswa harus memperoleh perhatian khusus untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa. Berbagai pengalaman LPI – DD dalam mengelola beasiswa investasi sumberdaya manusia dan pemberdayaan, mengantarkannya untuk juga memperhatikan para pemuda khususnya aktivis mahasiswa yang penuh dengan semangat, idealisme dan potensi untuk perbaikan suatu bangsa. Padatnya aktivitas akademis dan non akademis, ditambah dengan rongrongan untuk lebih realistis, membuat aktivis cenderung untuk tidak seimbang dan tergadai idealismenya. Padahal idealisme itulah yang membuat mereka terus berjuang, berkontribusi dan menebar kebermafaatan.

Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani, cerdas, aktif dan punya integritas untuk melayani masyarakat, dan para aktivis mahasiswa memiliki semua modalnya. Selanjutnya tinggal bagaimana sistem dapat mendukungnya. Untuk itulah diperlukan sebuah program yang mampu mendukung dan menguatkan peran aktivis mahasiswa sebagai investasi untuk lahirnya pemimpin masa depan yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan masyarakat dan terus berupaya untuk berkontribusi menjadi solusi bagi kompleksnya problematika bangsa.

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional, pada tanggal 20 – 23 Mei 2011 lalu, beasiswa aktivis nusantara (Bina Nusa) resmi dilaunching dengan melakukan pembinaan nasional. Beasiswa aktivis adalah beasiswa investasi SDM yang mengelola biaya untuk pelatihan, pendampingan, dan penugasan bagi aktivis mahasiswa. Program Beasiswa Aktivis bertujuan melahirkan SDM yang berkarakter pemimpin yang mampu berkontribusi dan berperan aktif di tengah masyarakat. Penerima manfaat juga diberikan uang penunjang aktivitas bulanan dan sebagai pilot project program dibatasi pada 24 aktivis mahasiswa yang tersebar di UI, IPB dan UGM. Softlaunching beasiswa aktivis dilakukan oleh Ahmad Juwaini (Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa) di Gedung Djoeang 45, Jakarta. Selanjutnya juga diadakan Seminar ‘Peran Aktivis Mahasiswa dalam Membangun Peradaban’, Talkshow ‘Media dan Kebangkitan Bangsa, Training Pengokohan Karakter dan City Bound. Setelah mengunjungi jajaring – jejaring Dompet Dhuafa, peserta kembali ke kampus masing – masing untuk berkontribusi dan berkarya untuk bangsa. (PU)

*dimuat di majalah Cerdas-In

Festival Anak Saleh (FAS) Etos Bogor – 5th session

Keluarga Beastudi Etos Bogor kembali akan menyuguhkan sebuah event besar bertajuk “Festival Anak Sholeh Season 5” yang diharapkan dapat menghadirkan 2000 peserta yang berasal dari Taman Kanak – Kanak/ RA dan SD/ MI se-Kota dan Kabupaten Bogor. Sebelumnya pernah diadakan acara serupa yang berhasil dihadiri oleh 1200 peserta. Kegiatan yang akan memperebutkan piala bergilir dari walikota Bogor ini terdiri dari 11 perlombaan, yaitu Lomba Cerdas Cermat Islami, Lomba Membaca Puisi, Lomba Story telling, Lomba Adzan, Lomba Mewarnai, Lomba Busana Muslim, Lomba Hifzhil Qur’an, Lomba MTQ, Lomba Da’i Cilik, Lomba Duta Peduli Pendidikan, dan Lomba Kaligrafi. Tema yang diangkat dalam FAS Bogor tahun ini adalah “Mencetak Generasi Rabbani Peduli Negeri“.

Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan anak – anak terhadap Islam sejak dini serta penanaman nilai – nilai kepedulian terhadap pendidikan yang direpresentasikan dari lomba – lomba yang diselenggarakan serta dari content acara yang disuguhkan. Kegiatan yang akan diselenggarakan pada tanggal 29 Mei 2011 ini bertempat di Gedung Graha Widya Wisuda, Institut Pertanian Bogor dan akan menghadirkan Wali Kota Bogor, menampilkan Tari Saman, penampilan dari SDIT At-Taufik sebagai Juara Umum Festival Anak Sholeh 4, Trashic Band dan berbagai acara menarik lainnya.