Category Archives: Organisasi

Try Out Etos Nasional 2011

Silakan diteruskan informasinya ke teman – teman yang hendak mengikuti ujian masuk PTN. Kapan lagi ada acara try out skala nasional yang mengemban misi pemberdayaan masyarakat…

Seleksi Beasiswa Aktivis 2011

Bagi para aktivis, silakan difollowup… ^_^

Seleksi Beastudi Etos 2011

Informasi lebih lanjut, silakan buka www.lpi-dd.net atau tuliskan alamat email Anda di komen ^_^

Sekolah Desa Produktif sebagai Alternatif Pembangunan Masyarakat Desa

“Di dalam hidupnya anak-anak adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya yaitu alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda”
(Ki Hajar Dewantara)

Era industri telah berakhir digantikan dengan era teknologi informasi. Perubahan menjadi begitu pesat, nyaris tanpa sekat. Pembangunanpun bergerak cepat dan hanya mereka yang memiliki SDM berkualitas dan memiliki daya saing unggul yang akan memenangkan pesaingan yang semakin ketat. Fokus pembangunan bergeser dari pengelolaan sumber daya alam menjadi pengembangan SDM. Hanya negara yang memiliki keunggulan dalam pengembangan SDM yang akan berperan dalam menentukan perkembangan dunia. Pendidikan sebagai suatu bentuk pengembangan ilmu pengetahuan, informasi dan kompetensi memegang peran vital dalam mengembangkan SDM. Karenanya tidak dapat dipungkiri, perkembangan pendidikan akan seiring dengan – bahkan menentukan— dinamika dan pembangunan masyarakat.

Perubahan paradigma pembangunan tersebut melahirkan berbagai perencanaan kebijakan pembangunan yang strategis, praktis, tematis dan mengarah para orientasi kebijakan desentralisasi, tidak terkecuali di bidang pendidikan. Wakil Mendiknas, Fasli Jalal, menyebutkan ada tiga tantangan besar pembangunan pendidikan di Indonesia. Pertama, dunia pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua, dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan SDM berkompeten agar mampu bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian terhadap berbagai kebijakan pendidikan sehingga dapat mewujudkan proses transformasi pendidikan yang lebih demokratis, mengadopsi ide-ide keberagaman budaya, kebutuhan/ keadaan daerah, heterogenitas peserta didik dan mendorong peningkatan partisipasi masyarakat. Lahirlah kebijakan otonomi pendidikan dengan isu sentral schools and community base management untuk pendidikan formal dan learning centers base management untuk pendidikan non formal. Kurikulum berbasis masyarakatpun coba disusun dan anggaranpun digulirkan untuk mendukung kebijakan ini. Realitanya, akses untuk memperoleh pendidikan masih belum merata, kualitas pendidikanpun masih terbilang rendah, bahkan pelaksanaan desentralisasi pendidikan banyak menimbulkan kesulitan baru. Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi antara perkotaan dan pedesaan, antara kawasan timur Indonesia dan kawasan barat Indonesia, antar tingkat pendapatan penduduk bahkan antar gender.

Perubahan paradigma pembangunan pendidikan untuk membangun masyarakat sudah seharusnya memperhatikan tripusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Peranan pendidikan keluarga menurut Idris dan Jamal (1992) adalah memberikan dasar pendidikan, sikap dan keterampilan dasar seperti, pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan-peraturan, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. Pola asuh dalam pendidikan keluarga ini akan mempengaruhi karakter dan menentukan keberhasilan pendidikan seseorang. Sementara itu, peran serta masyarakat dalam pendidikan erat kaitannya dengan norma dan nilai serta perubahan cara pandang masyarakat sehingga menimbulkan rasa memiliki, kepedulian, hingga keterlibatan aktif dalam pendidikan. Bentuk peran serta masyarakat dalam pendidikan bisa berupa peran serta dalam menggunakan jasa pelayanan pendidikan yang tersedia, kontribusi pikiran, materi maupun tenaga, peran aktif dalam pelayanan atau kegiatan pendidikan hingga pran aktif dalam pengambilan keputusan dalam upaya pengembangan penddikan.

Pada masyarakat sederhana, keluarga dan masyarakat mempunyai pengaruh besar terhadap pendidikan anak, sehingga norma dan nilai kehidupan seseorang sangat ditentukan oleh kondisi keluarga dan lingkungannya. Namun belakangan sudah mulai ada pergeseran tanggung jawab pendidikan anak dari keluarga dan masyarakat kepada pihak ketiga, mulai dari babby sitter, PAUD hingga sekolah. Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan, semakin maju masyarakat semakin penting pula peran sekolah dalam menyiapkan SDM guna pembangunan masyarakat. Karenanya selain menguatkan pendidikan keluarga dan masyarakat, pendidikan sekolahpun perlu mendapat perhatian. Di samping peningkatan kontribusi dalam perannya masing – masing, ketiga pusat pendidikan tersebut diharapkan dapat saling mendukung, melengkapi dan memperkuat sehingga tercipta sinergi yang akan memberi peluang besar dalam membentuk SDM terdidik yang berkualitas.

Sekolah Desa Produktif (SDP) merupakan salah satu alternatif penyiapan SDM berkualitas guna pembangunan masyarakat desa sekaligus menjembatani sinergitas ketiga pusat pendidikan ini. SDP merupakan suatu bentuk optimalisasi fungsi sekolah guna mewujudkan kawasan/ cluster mandiri. Dalam Buku Ilmu Pendidikan (Mukhlison, 2008), fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk suatu pekerjaan, memberikan ketrampilan dasar, membuka kesempatan untuk memperbaiki nasib, menyediakan tenaga pembangunan dan membentuk manusia sosial. Semakin jelas bahwa sekolah bukan sekedar lembaga belajar mengajar ilmu pengetahuan. SDP akan mengoptimalkan fungsinya menjadi basis revitalisasi desa yang mencakup sektor pendidikan, kesehatan bahkan ekonomi. Bentuknya integratif, mulai dari beasiswa, pelatihan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyaakat. Sifatnya adalah pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan kearifan lokal dengan pendidikan sebagai mainstreamnya. SDP yang merupakan program pemberdayaan yang berkesinambungan bagi masyarakat marginal ini diharapkan dapat mencerdaskan, mengatasi permasalahan dan membangun masyarakat desa. Sebagai project awal, pengembangan program ini sudah dimulai di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Bogor.

Upaya membangun masyarakat kerap kali terkendala bukan sekedar keterbatasan fasilitas dan infrastruktur, namun ada kendala personal dan sistem sosial. Padahal kompleksitas permasalahan masyarakat pedesaan hanya dapat diselesaikan melalui pendekatan menyeluruh yang melibatkan seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah hingga masyarakat. Membangun masyarakat memang bukan pekerjaan instan, karenanya SDP juga dilakukan bertahap dan kontinyu sampai kemandirian masyarakat benar – benar terwujud. Setiap perubahan mungkin pada awalnya akan merasakan penolakan, namun visi besar dan strategi yang tepat pasti dapat menghadapinya. Yang diperlukan adalah langkah awal realisasi yang dikomandoi oleh pemimpin perubahan sehingga konsep perbaikan tidak terhenti dalam kerangka gagasan. Peran serta optimal dari segenap pihak yang terkait untuk mengusung perubahan juga sangat dibutuhkan. Semoga kontribusi sekolah dan pendidikan untuk membangun masyarakat desa ini dapat menciptakan bola salju pemberdayaan. Mari berbuat!

*dimuat di Harian Radar Bogor

Pendidikan, Solusi Kompleksnya Masalah Pedesaan

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” (Nelson Mandela)

Potret Bangsa Indonesia belum jua terlepas dari kemiskinan, terutama di daerah pedesaan. Data BPS pada Maret 2010 menyebutkan bahwa dari 31.02 juta penduduk miskin di Indonesia sebanyak 64,23% tinggal di desa. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan di pedesaanpun hampir dua kali lipat dari perkotaan. Jumlah ini realitanya bisa jadi lebih besar mengingat parameter kemiskinan BPS yang rendah. Jika melihat pembagian BLT dan Raskin saja yang mencapai lebih ke 17 juta keluarga miskin, sementara dalam satu keluarga miskin umumnya terdiri lebih dari empat orang, maka jumlah penduduk miskin di Indonesia seharusnya lebih dari 70 juta jiwa.

Selanjutnya jika data kemiskinan tersebut diperdalam, tampaklah ada korelasi negatif yang erat antara kemiskinan dengan pendidikan. Masyarakat miskin umumnya berpendidikan rendah dan masyarakat yang berpendidikan rendah lebih berpotensi menjadi masyarakat miskin. Sekitar 80% penduduk miskin tidak lulus SD atau hanya lulus SD, dan sebagian besar ada di pedesaan. Dalam pengalaman penulis mengunjungi berbagai desa, pendidikan memang tidak menjadi prioritas masyarakat miskin pedesaan, belum lagi akses pendidikan yang masih sangat terbatas. Daripada jalan kaki sejauh 5 kilometer untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah, masyarakat miskin pedesaan umumnya lebih memilih meminta anak – anak untuk bekerja membantu orang tua. Bisa membaca dan menghitung dianggap sudah cukup, lebih baik daripada orang tua mereka yang banyak buta huruf. Akhirnya, kondisi ekonomi tak jua membaik karena pola pikir dan mentalitas tidak berubah. Karenanya masalah pendidikan sebagai upaya pengentasan kemiskinanpun menjadi tantangan serius bagi masyarakat pedesaan.

Permasalahan masyarakat pedesaan memang kompleks, bukan sebatas minimnya infrastruktur dan rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, informasi dan berbagai pelayanan publik. Berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebutpun bukannya tidak sama sekali dilakukan, baik yang top down maupun bottom up. Berbagai bentuk program pemberdayaan masyarakat yang diselenggarakan kerap terkendala –seperti yang disampaikan Goodwin Watson dalam ‘Planning of Change’— baik karena faktor personal (kenyamanan/ homeostatis, kebiasaan, pilihan utama, seleksi ingatan dan persepsi) maupun sistem sosial (norma, budaya, penolakan terhadap orang luar). Disinilah pendidikan memegang peran vital dalam mengarahkan individu dan sistem sebagai solusi permasalahan pedesaan secara utuh. Pendidikan adalah aspek penting dalam kehidupan manusia. Mengutip perkataan Nelson Mandela, pejuang Afrika melawan diskriminasi, pendidikan merupakan senjata yang sangat ampuh untuk dapat mengubah dunia. Demikian pentingnya peran pendidikan, sehingga dapat dijadikan tolok ukur kemajuan dan pembangunan suatu negara. Bantuan ekonomi dan infrastruktur an sich kerap menimbulkan potensi konflk dan ketergantungan, namun pendidikan dengan segala bentuknya akan melahirkan individu dan komunitas partisipatif, integratif dan mandiri yang dapat mengatasi permasalahan mereka sendiri.

Kompleksitas permasalahan masyarakat pedesaan hanya dapat diselesaikan melalui pendekatan yang menyeluruh, baik kultural maupun struktural, baik sistem maupun teknis dan melibatkan segenap stakeholder yang ada. Sebatas mengandalkan program pemerintah tidak akan menjadi solusi yang sustain, dibutuhkan serangkaian aktifitas yang bertahap dan kontinyu. Penyiapan SDM berkualitas yang tidak terkendala secara personal untuk terus berkembang mutlak diperlukan dalam upaya pembangunan (masyarakat) pedesaan. Pendidikan akan menjawab berbagai kebutuhan tersebut, baik secara formal, informal maupun nonformal. Dimulai dari pendidikan di keluarga, dilanjutkan dengan lingkup yang lebih besar. Ketika pendidikan formal akan memberikan legalitas, pendidikan informal dan non formal akan mengembangkan potensi individu masyarakat baik secara pengetahuan, ketrampilan, pengembangan sikap dan kepribadian. Dampaknya bukan sebatas menurunkan angka buta huruf atau meningkatkan angka partisipasi pendidikan, tetapi juga meningkatkan indeks pembangunan manusia.

Perbaikan (pendidikan) masyarakat pedesaan secara struktual dan sistemik memang dibutuhkan. Hal ini erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah terkait pendidikan dan pengelolaan masyarakat pedesaan. Norwegia, Negara dengan indeks pembangunan manusia tertinggi memiliki sistem pendidikan yang luar biasa. Kesamaan hak pendidikan bagi seluruh anggota masyarakat benar – benar diterapkan, kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian setiap orang, bahkan wajib belajar 10 tahun diberikan bebas biaya. Jepang yang luluh lantak pasca Perang Dunia II kini menjadi ikon kebangkitan Asia setelah melakukan reformasi pendidikan dengan tetap bertumpu pada karakter bangsanya. Pendidikan jelas berdampak positif terhadap kemajuan dan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Dalam hal ini peran pemerintah sangat diperlukan untuk menjawab berbagai permasalahan masyarakat. Di luar itu, pendekatan kultural yang lebih menyentuh langsung ke masyarakat juga sangat dibutuhkan. Perbaikan secara kultural inilah yang akan mengasah nilai individu dan norma masyarakat menjadi entiti penting dalam upaya penanggulangan masalah masyarakat. Pendidikan individu dan masyarakat ini akan mengakselerasi pembangunan masyarakat, dan dapat dilakukan segera tanpa harus menunggu kebijakan pemerintah yang berpihak kepada masyarakat.

Permasalahan masyarakat pedesaan yang kian menghebat butuh penyikapan segera. Untuk itu dibutuhkan prioritas penanganan dan upaya – upaya perbaikan yang nyata. Perbaikan pendidikan menjadi penyikapan bijak untuk memperbaiki individu dan masyarakat secara bertahap, menyeluruh dan kontinyu. Perbaikan pola pikir, sikap dan mentalitas memang seyogyanya diatasi dengan pendidikan. Belum lagi peningkatan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan yang dapat menjadi senjata dalam menghadapi berbagai permasalahan, diperoleh dari pendidikan. Setiap komponen masyarakat, termasuk kita, dapat berkontribusi dengan apa yang dimiliki. Saya siap memulainya, bagaimana dengan Anda?

*dimuat di Harian Radar Bogor

Kisah Latief Bersaudara

Di sebuah desa, tersebutlah dua orang yang bernama Latief, sebutlah Latief A dan Latief B. Keduanya cukup dikenal walau Latief B relatif lebih dikenal hingga ke desa seberang. Keduanyapun bersaudara bahkan tempat tinggal mereka hanya dipisahkan oleh dinding tipis. Secara struktrural di desa tersebut, Latief A lebih memiliki kewenangan. Karenanya dengan pongah ia dapat memerintahkan apapun dan siapapun, tidak terkecuali Latief B. Sementara Latief B tidak terlalu menghiraukan dan lebih asyik pada pekerjaannya yang memang banyak.

Konflik dimulai ketika Latief A menggunakan kewenangannya untuk mencoba mengerjakan tugas Latief B. Latief B merasa Latief A punya tugas sendiri yang lebih prioritas dan sesuai dengan kompetensinya sementara tugas ini memang sudah tradisi dikerjakan oleh Latief B. Awalnya tidak jua tercapai titik temu namun akhirnya Latief A mengalah dengan menyisakan berbagai persoalan. Konflik antara mereka memang bukan hal baru, dan sedihnya, justru banyak dicontoh masyarakat desa tersebut. Tapi seolah mengabaikan visi bersama membangun desa, seolah melupakan bahwa mereka bersaudara, ego lebih banyak bermain. Konflik semakin parah ketika sedikit-sedikit Latief A menggunakan kewenangannya untuk memvonis, menghukum, dsb. Parahnya lagi, Latief B semakin tak peduli, apapun yang dikatakan Latief A tidak digubris olehnya.

Beberapa bulan kemudian Latief A mendapatkan masalah karena kebiasaan debat kusir yang tak jua ditinggalkannya. Jadilah desa tersebut dirundung masalah. Kelalaian dan kepongahan yang harus dibayar mahal. Latief B tidak bisa tertawa karena juga merasakan dampaknya. Tak lama berselang, Latief A memberikan evaluasi dan taushiyah yang cukup panjang kepada Latief B. Latief B hanya memandangnya sebagai celotehan dari orang yang ga bisa berkaca, ga kenal dan ga tau serta ga konkret!

Ya, Latief A dengan kewenangannya dapat memerintahkan warga kampung untuk mengadakan berbagai kegiatan mulai dari rembug desa hingga pemilihan kepala desa. Tapi Latief A sering tidak ada saat dibutuhkan karena berbagai alasan, mulai dari sakit, sibuk belajar atau mencari penghasilan hingga sekedar karena malas. Pekerjaan utamanya, termasuk mengawasi Latief B sering terbengkalai. Akhirnya, warga yang paling merasakan masalah ketika kegiatan yang dilakukan menemui hambatan.

Menjelang tutup usia, dengan penuh kepongahan, lagi-lagi Latief A menegur Latief B. Latief B merasa kasihan, begitu sulit untuk mengingatkan Latief A betapa beratnya beban pekerjaan ini ketika harus ditambah berbagai teguran tanpa pernah sedikitpun diberikan motivasi, apalagi bantuan konkret. Ingin rasanya Latief B memberikan pelajaran tentang tanggung jawab dan kontribusi nyata. Tanggung jawab yang bukan terletak hanya dengan perintah sementara amanah dan dirinya terbengkalai. Kontribusi yang bukan diwujudkan hanya dengan kata-kata, dalam perdebatan panjang yang tidak esensi.

Ah, nampaknya memang seharusnya hanya cukup ada satu Latief. Yang begitu luar biasa seperti Rasulullah, yang begitu peduli sebagaimana Umar bin Khattab, yang begitu tawadhu layaknya Umar bin Abdul Aziz, yang begitu berani & perkasa seperti Shalahuddin Al Ayyubi…

Ps : untuk semua rekan seperjuangan, mari sama-sama berkaca, sudah optimalkah kontribusi kita?

Bayiku Lahir Kembar Siam

Akhirnya, hari yang dinantipun datang. Setelah berpeluh-peluh membasahi seluruh tubuh, diiringi takbir, senyum dan tangisan bayikupun lahir ke dunia. Berbeda dengan sebelumnya, kelahiran kali ini terasa lebih berat, mungkin karena tahun ini Allah membuka beberapa aibku dan akupun sempat beberapa kali menerima tamparan keras yang menyebabkan guncangan dahsyat yang kuyakini akan mempengaruhi kondisi bayiku saat kelahiran dan ke depannya.

Dan ternyata benar, kelahiran kali ini berbeda, dua kepala kurasakan keluar. Aku begitu khawatir, kegundahan jiwaku tak terkendali. Bidan yang membantu persalinanku nampaknya memahami apa yang kurasakan. Setelah kondisiku membaik dan lebih tenang, seraya tersenyum ia berujar, “Selamat Bu, bayi Anda lahir dengan selamat. Namun masih butuh penanganan khusus. Silakan Ibu beristirahat dahulu”. Hmm… Alhamdulillah selamat, namun mengapa butuh penanganan khusus?? Ah, kondisiku masih lemah, setumpuk pekerjaan lain tiba-tiba saja terlintas di pikiranku…

* * *

Kondisi kedua bayiku nampaknya belum stabil. Ya, dua, namun dengan kaki yang saling menyatu seolah mengisyaratkan mereka harus melangkah bersama. Dua kepala yang di awal kelahiran tampak pucat kini sudah semakin berseri, walau aku masih dapat merasakan rasa sakit dan tidak nyaman yang mereka rasakan. Walau tidak gemuk tapi tubuh mereka kelihatan sehat. Ah, sayangnya mereka belum pandai berbicara sehingga aku sulit memahami apa yang mereka rasakan, apa yang mereka butuhkan.

Aku mulai kerepotan ketika harus berbagi… air susu… perhatian. Belum lagi kekhawatiranku ketika ada yang tangannya bergerak kesana kemari dan memukul –kuyakin tidak sengaja— saudaranya sendiri. Kadang kulihat ada sorot mata iri, kadang penuh harapan. Ah, nampaknya aku memang kurang mempersiapkan kejadian ini…

Dokter mengatakan bahwa harus ada yang dikorbankan, baiknya sebelum mereka besar. Tidak mungkin kondisinya akan terus seperti ini hingga akhir, pasti ada yang harus mengalah untuk tidak sesempurna saudara kembarnya ketika tungkai mereka harus dipisahkan. Beberapa orang rekankupun menyarankan hal yang sama dengan alasan penyelamatan. Tapi aku masih belum bergeming, kecenderungan hatiku kepada mereka berdua sama, sulit rasanya untuk memilih. Akupun meminta waktu untuk berpikir.

Sebenarnya ada hal yang tidak menjengkelkanku terkait dengan kelahiran ini. Sikap beberapa rekanku yang mencemooh, memandangku aneh dan berbagai sikap negatif lainnya. Bagaimana aku menjawab jika yang mereka tanyakan adalah : Kenapa sih harus kembar siam? Bahkan di belakangku kudengar ada yang berbisik-bisik, “Mungkin karena banyak makan pisang dempet, kali…”. Ugh, menyakitkan. Mereka kan tidak mengalami prosesnya, banyak sudah yang dikorbankan. Lagipula, apa hubungannya?

Bayiku semakin besar –dan belum menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan— walau  belum siap untuk benar-benar disapih. Nampaknya, pun masih kecil, mereka sudah saling memahami bahwa mereka tidak sendiri. Jika ada yang sakit, dia tidak sendirian. Lebih dari itu, mereka seolah mengerti bahwa mereka harus berprestasi, menunjukkan yang terbaik untuk menjadi yang lebih utama. Sedih rasanya harus memilih, apalagi semakin hari semakin nampak bahwa mereka memiliki bakat yang luar biasa…

* * *

Allah, sungguh Engkau Maha Kuasa sedangkan hamba-Mu ini adalah makhluk yang lemah. Berikanlah Kuasa-Mu yang terbaik bagiku, bagi mereka dan bagi diin-Mu, Ya Allah. Selamatkanlah jiwa mereka dari berbagai penyakit hati dan janganlah Kau izinkan benih kebencian dan permusuhan mengisi relung hati mereka. Ya Rahman, Jadikanlah mereka, dengan Rahmat-Mu, menjadi hamba-Mu yang bersaudara, yang saling menguatkan bukan menyakiti, yang saling meningkatkan kapasitas bukan saling bunuh. Ya Rahim, permudahlah segala urusan kami dan mereka dalam menapaki jalan-Mu yang penuh ujian. Berilah kepada kami kekuatan untuk dapat senantiasa taat kepada-Mu, istiqomah dan sabar menghadapi cobaan serta dapat terus menjaga semangat dan keikhlashan. Karuniakanlah kepada kami kemenangan hakiki… ampunilah segala dosa kami baik yang zhahir maupun bathin… limpahkanlah ketenangan pada jiwa-jiwa kami… tunjukilah kami jalan yang lurus… selamatkanlah kami dari azab neraka dan izinkan kami untuk memasuki Jannah-Mu… bersama-sama, Ya Arhamarrahimin…

Ya, sekarang bukan lagi saatnya untuk banyak bertanya, mengeluh dan larut pada masa lalu yang takkan kembali. Buktikan kecintaan kita pada Allah dengan amal nyata. Buktikan komitmen kita kepada Islam dan dakwah ini dengan kontribusi di medan juang. Berbuat optimal sesuai dengan tanggung jawab dan peran yang kita emban. Saling percaya, bantu, mengingatkan dan menguatkan. Cita kita takkan tercapai dengan sendirian. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah segala sesuatu dikembalikan…

Wallahu a’lam bi shawwab

Sekaranglah Saatnya

Saling bertentangan hanya melemahkan
Saling prasangka hanya menambah sengketa
Saling menyalahkan hanya akan menghancurkan
Saling kecewa hanya akan menambah luka

Yang merasa paling berjasa akan ternista
Yang merasa paling pandai akan terkulai
Yang lemah akan terjajah
Yang lalai akan tercerai…

 

Sekaranglah saatnya luruskan kembali niat di hati
Sekaranglah saatnya rapatkan barisan siapkan perbekalan
Sekaranglah saatnya bergerak… serentak!
Sekaranglah saatnya berjuang… dan MENANG!!!
Bersama Sang Pencipta…
Menggapai cita mulia…

Ps. 4 My Brothers&Sisters… Keep on spirit!!!

Dan Mutiara Itu Kembali Berbenturan

Aku adalah sebongkah batu kecil di tengah sekumpulan batu yang tersimpan dalam sebuah wadah. Dan kebetulan batu-batu itu adalah sekumpulan mutiara yang mungkin kerap membuat orang lain takjub dan iri. Di sekelilingku banyak kujumpai mutiara lain yang nampaknya lebih lama terbungkus di dalam kerang daripada diriku yang masih ‘baru’. Dan hari ini kami berkumpul untuk memberikan yang terbaik yang kami miliki bagi pemilik kami…

Awalnya biasa saja hingga ada sebongkah mutiara ‘lama’ yang menawarkan diri untuk dipersembahkan sebagai hadiah terbaik. Segera saja mutiara-mutiara ‘senior’ lainnya melakukan hal yang serupa. Jelas saja situasi mulai ramai karena setiap mutiara punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Suasana semakin ricuh ketika hampir semua mutiara berlomba bersuara dan berpendapat, tidak terkecuali aku. Saling desak sana sini disertai gemuruh suara yang memekakkan telinga makin mengacaukan pertemuan kami…
Dan benturan keraspun terjadi, ada mutiara yang memilih pergi, ada yang retak bahkan ada yang hampir pecah. Aku tergugu… aku malu…

Rasanya tidak ada yang bisa disalahkan, aku tak sepenuhnya salah, ‘kakak-kakakku’pun punya alasan yang cukup untuk melakukan itu atau mungkin semuanya salah? Ah, bodohnya aku, bukan saatnya untuk mencari siapa yang menyebabkan kekacauan ini, tapi seharusnya kucari kedewasaan dan ke’tawadhu’an yang dapat menghentikan semua kebodohan ini…
Akupun membayangkan seandainya kami tidak saling adu tentulah tidak ada yang dirugikan, jika kami memilih untuk saling menggosok tentulah kami akan saling menghasilkan kilau dan dapat menjadi hadiah yang indah…

Aku adalah sebongkah batu kecil yang kini tergores karena benturan. Tapi aku punya tekad untuk menjadi batu terakhir yang harus tergores. Goresan ini akan mengingatkanku untuk memadukan potensi yang kami miliki untuk menghasilkan kontribusi yang lebih besar… dan perjuangan ini belumlah berakhir…

Pusgiwa UI, 28 Juli 2005 pukul 21.33 WIB
Ps. Teman-teman, sekumpulan mutiara itu indah bukan?