Category Archives: Publikasi Media

Retorika dan Aksi Nyata Mahasiswa untuk Indonesia

Di sini negeri kami, tempat padi terhampar. Samuderanya kaya raya, negeri kami subur, Tuhan. Di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka. Anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja. Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar. Bunda relakan darah juang kami, ‘tuk membebaskan rakyat…

Lagu ‘Darah Juang’ di atas tampaknya tidak asing di kalangan aktivis mahasiswa. Bersama dengan ‘lagu-lagu perjuangan’ lain seperti ‘Berderap dan Melaju’, ‘Buruh Tani’ atau ‘Totalitas Perjuangan’, senandung ‘Darah Juang’ biasa menemani aksi mahasiswa yang acap kali penuh retorika. Keberpihakan mahasiswa terhadap rakyat ketika menggelar parlemen jalanan jelas tersurat dalam lirik lagu-lagu tersebut. Retorika kian terasa dalam mimbar dan podium demonstrasi, menguatkan asa rakyat jelata bahwa masih ada mahasiswa yang memperjuangkan nasib mereka. Pun baru sebatas retorika.

Dalam memperjuangkan  perbaikan bagi bangsa, tidak salah menggunakan retorika. Sebab retorika mampu menyalakan harapan, membakar semangat juang, sekaligus pengingat yang dapat memanaskan telinga para penguasa. Apalagi retorika yang penuh data. Namun tentu akan jadi ironi ketika perjuangan berhenti pada tataran retorika tanpa aksi. Sebatas memobilisasi massa tanpa berupaya menggerakkan masyarakat untuk lebih mandiri dan berdaya. Sekadar turun ke jalan tanpa coba turun tangan menyelesaikan masalah riil di lapangan. Hanya lelah berkoar-koar tanpa pernah merasakan kepayahan dalam berkontribusi nyata di tengah masyarakat.

Saat ini tidak sedikit masyarakat yang skeptis dengan gerakan mahasiswa, karena dinilai hanya sebatas retorika tanpa aksi nyata. Wacana mahasiswa yang kaya pembaharuan ibarat ada di menara gading, sementara permasalahan rakyat yang kompleks ada di dasar samudera. Terlampau terbentang jarak antara mahasiswa dengan masyarakatnya. Padahal Tri Dharma Perguruan Tinggi butir terakhir adalah pengabdian masyarakat yang menuntut aksi nyata. Tak salah Tan Malaka pernah mengingatkan, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia memang masih lebih asyik bermain dalam ranah kognitif teoritis, belum benar-benar mempertemukan mahasiswa dengan dunia paska kampus, termasuk realita masyarakat. Namun kesadaran mahasiswa dan pihak kampus untuk menebar kebermanfaatan ke tengah masyarakat saat ini semakin tinggi. Kampus dan organisasi kemahasiswaan mulai berlomba menjalankan program sosial kemasyarakatan. Di satu sisi, tuntutan akademis membuat mahasiswa kian apatis dan individualis. Di sisi lain, kompleksitas masalah justru mendorong banyak pihak berpartisipasi dalam mengurai permasalahan masyarakat.

Dan asa itu masih banyak tersisa, semangat mahasiswa masih bergelora, retorika akan segera dilengkapi dengan aksi nyata. Hipotesis bahwa mahasiswa hanya pandai bicara akan terbantahkan. Karena kenyataannya, banyak mahasiswa yang aktif berkarya di tengah masyarakat. Di berbagai wilayah nusantara, menjawab permasalahan masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Jumlahnya juga bukan cuma satu dua. Para mahasiswa ini bekerja untuk kepentingan rakyat Indonesia, bergerak bersama ‘tuk wujudkan cita mulia: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Kekuatan suatu bangsa terletak pada simpul terlemahnya. Kemiskinan adalah simpul terlemah bangsa ini, sehingga advokasi, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat marginal merupakan sebuah upaya strategis untuk melipatkangandakan kekuatan bangsa. Butuh pengorbanan dan tidak bisa sendirian memang, namun harus ada yang berani memulai. Rakyat yang sudah jemu akan janji palsu para pengampu kebijakan, banyak menggantungkan harapannya kepada para mahasiswa yang memiliki semangat, vitalitas, intelektualitas, sekaligus idealisme yang tinggi. Kelompok elit masyarakat yang senantiasa hadir membawa perubahan.

Bagaimanapun, pemuda hari ini adalah pemimpin bangsa di masa depan. Jika hari ini dunia pendidikan cuma memproduksi ‘robot-robot bernyawa’, masa depan bangsa akan jauh dari kreativitas dan berdaya. Jika hari ini kampus hanya menghasilkan sarjana yang pandai beretorika, kebangkitan bangsa Indonesia hanya akan berkutat dalam wacana. Namun ketika hari ini banyak sekumpulan pemuda yang peduli terhadap masyarakatnya, dan berkontribusi nyata dengan segenap cinta bagi bangsa dan negara, masa depan bangsa akan cerah dan berjaya. Menuju kegemilangan Indonesia yang dimulai hari ini, dari diri kita, untuk mulai menebar karya dan kontribusi nyata demi kemajuan bangsa.

Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat Indonesia!!!

*tulisan ini merupakan prakata dalam buku “Hak Rakyat Digasak, Mahasiswa Bergerak!” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Pijar Sang Pembelajar

“Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu. Ku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku. Sampaikanlah pada bapakku, aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia. Rataplah malam yang dingin. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki malam. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki keadilan…” (Ost. Gie)

Sebut saja Anto, seorang aktivis mahasiswa kelas kakap yang tengah bimbang dengan masa depannya. Semangat berapi-apinya ketika di mimbar demonstrasi seolah tiada arti di hadapan dosen pembimbing akademisnya saat ini. Ia memandangi Kartu Rencana Studi (KRS)-nya yang masih menyisakan beberapa mata kuliah yang harus diselesaikan di semester akhir kuliahnya. Belum lagi skripsinya masih terbengkalai dan aktivitasnya di luar kelas membuatnya telat mengetahui informasi bahwa dosen pembimbing skripsinya sudah berangkat ke luar negeri selama beberapa bulan ke depan untuk menyelesaikan gelar PhD-nya. Ganti judul dan dosen pembimbing skripsi tentu butuh effort besar, belum lagi masih ada mata kuliah yang harus diulang. Ia bingung hendak meminta bantuan ke siapa, sementara teman-teman seangkatannya sudah lulus semua. Ia malu untuk bertemu orang tuanya yang selalu bertanya kapan dirinya diwisuda.

Lain halnya dengan Anti, mahasiswa tingkat akhir yang tengah mengurung diri di kamarnya. Belakangan ini kondisi fisiknya menurun, susah tidur dan kepalanya sering sakit. Kemungkinan dirinya tengah depresi berat. Orang tuanya tampak menyerah menghadapi anaknya yang tiba-tiba saja jadi sensitif dan malas beraktivitas. Sementara tidak ada temannya yang menjenguk dan menghiburnya. Sebelumnya, kuliahnya lancar sampai di semester-semester akhir semakin banyak tugas presentasi yang tidak disukainya. Anti mengalami kesulitan berbicara di depan kelas dan menjadi bahan olok-olok. Label ‘kutu buku gagu’ pun dilekatkan teman-temannya padanya. Puncaknya, ia ‘blank’ dalam seminar skripsi beberapa hari lalu. Presentasi yang sudah dipersiapkannya pun gagal total. Kegagalan yang harus dihadapinya sendirian.

* * *

Masa kuliah adalah masa yang penuh vitalitas, kaya akan impian dan idealisme yang didukung dengan kesegaran potensi jiwa, fisik dan akal. Masa kuliah adalah fase kehidupan yang penuh semangat dan dinamika, dimana mahasiswa merupakan golongan elit pemuda terpelajar yang memiliki potensi besar. Keberadaan mahasiswa dengan potensi keilmuannya sangat diharapkan dapat menjadi solusi bagi kompleksnya problematika bangsa. Mahasiswa juga kerap dipandang sebagai golongan penyalur aspirasi masyarakat yang solid dan massif. Belum lagi, jika melihat perjalanan sejarah, kumpulan pemuda penuh intelektual ini selalu menjadi yang terdepan dalam menggagas perubahan. Ya, di setiap titik perubahan besar dalam sejarah, pemuda selalu hadir memberikan kontribusinya. Menjadi pahlawan pada zamannya.

Pertanyaannya, potensi kepahlawanan tersebut dimiliki oleh mahasiswa seperti apa? Apakah mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang), kura-kura (kuliah rapat – kuliah rapat) atau bahkan mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring – kuliah nangkring)? Secara umum, ada empat domain prestasi yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa dan diseimbangkan. Pertama, domain spiritualitas yang menjadi pondasi dasar pemuda dalam berpikir dan bersikap. Kekuatan spiritual akan menjaga pemiliknya dari perilaku menyimpang, disorientasi dan berbagai energi negatif lainnya. Domain inilah yang akan membentuk karakter berkualitas dengan paradigma yang benar. Kedua, domain intelektual yang mengharuskan pemiliknya terus menjadi pembelajar seumur hidup. Mengisi hari dan hidupnya dengan ilmu yang bermanfaat dan mengaplikasikannya untuk kebermanfaatan yang luas. Sifatnya yang terus berkembang memungkinkan pemiliknya untuk terus menggali sumber ilmu kapanpun, dimanapun dan dari siapa (atau apa) pun. Ketiga, domain pengembangan diri yang akan melengkapi kapasitas intelektual. Penguasaan bahasa, keterampilan dan kepemimpinan, misalnya, akan melipatgandakan potensi yang dimiliki. Domain ini juga akan mendorong terciptanya kompetensi spesifik dan tajam. Keempat, domain sosial yang akan menyeimbangkan sisi individual pemiliknya dengan dunia luar di sekelilingnya. Kekuatan sosial ini jika dipenuhi dengan interaksi lingkungan yang positif akan membuat hidup lebih bermakna. Domain ini akan mengantarkan pada kekayaan jiwa, keberkahan ilmu dan kebermanfaatan diri.

Kasus Anto mencerminkan mahasiswa yang kuat di domain pengembangan diri dan sosial, namun lemah di domain intelektual. Ia pun akan tertinggal. Sementara Anti sebaliknya, fokus di domain intelektualnya melupakan domain spiritual, pengembangan diri dan sosialnya. Ia pun terpuruk. Menyeimbangkan keempat domain tersebut memang tidak mudah, namun mengabaikan salah satunya saja akan menghambat optimalisasi kualitas diri. Mahasiswa jenis kupu-kupu, kura-kura, ataupun kunang-kunang harus bertransformasi menjadi ’kutu kupret’ yang produktif: kuliah bermutu, kuliah berprestasi.

Kualitas dan produktivitas mahasiswa tidak hanya ditentukan di bangku kuliah, produktivitas juga tercermin dalam aktivitas organisasi, bahkan nangkring pun bisa produktif. Menjadi kontraproduktif jika jadi aktivis hanya sebagai pelarian karena gagal di akademis. Di sisi lain, kontribusi mahasiswa juga tidak dimonopoli mereka yang turun ke jalan atau terjun langsung ke masyarakat. Mahasiswa yang gemar dengan diskusi, mengikuti kajian, bahkan riset di laboratorium pun dapat berkontribusi ke masyarakat. Sebagaimana prestasi mahasiswa pun tidak melulu terkait akademik, keunggulan di ranah non-akademik pun dapat menjadi prestasi yang membanggakan.

Kesia-siaan dalam hidup biasanya diawali dari kesia-siaan dalam menjalani masa muda, yaitu dengan banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Padahal potensi yang dimiliki sebenarnya begitu besar, tidak akan habis jika hanya ‘sekadar’ mengikuti banyak kompetisi atau mencoba menorehkan banyak prestasi. Bahkan biasanya waktu akan lebih efektif di tangan mereka yang sibuk. Aktivis pembelajar akan mengoptimalkan waktunya dengan aktivitas bermanfaat. Sebaliknya, mahasiswa yang bermasalah justru banyak diisi mereka yang ’tidak jelas kerjaannya’.

Pengembangan kualitas diri ini akan terhenti ketika aktivis berhenti belajar. Tidak berani melakukan sesuatu yang baru. Stagnan. Karenanya, gelora kontribusi aktivis akan terus bergemuruh selama perbaikan diri terus dilakukan tak kenal henti. Pijar prestasi aktivis kan terus bersinar kala mereka terus belajar. Dan hanya para pembelajar sejati lah yang akan mampu menyeimbangkan domain prestasinya. Melahirkan pribadi-pribadi unggul yang siap melakukan perubahan besar yang akan menggoncangkan dunia. Dan jika bukan tidak mungkin pribadi unggul itu adalah kita, tak tergerakkah kita untuk mencoba mengoptimalkan potensi yang kita miliki? Tak tertarikkah kita untuk menjadi pahlawan pada zaman ini?

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Soekarno)

*tulisan ini merupakan kata pengantar bukuonline “Pijar-pijar Aktivis Pembelajar” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Inspirasi Merawat Indonesia dari Mancanegara

“Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu” (Imam Syafi’i)

Beberapa tahun lalu, Rhenald Kasali, salah seorang Guru Besar FEUI membuat tulisan tentang paspor yang disebutnya sebagai “surat izin memasuki dunia global”. Tanpa paspor, manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, dan menjadi pemimpin yang steril. Yang dimaksudkan Pak Rhenald tentu bukan sekedar keberadaan paspor, tetapi penggunaannya dalam bepergian ke luar negeri. Sebegitu pentingnya kah ‘tamasya’ ke mancanegara?

Indonesia Negara yang ramai dan ramah, penduduknya yang banyak takkan merasa kesepian. Indonesia Negeri yang kaya akan keragaman, hampir semua sketsa keindahan dunia ada di Indonesia. Mulai dari panorama dasar laut, pantai, sawah, hutan, hingga gunung berpuncak salju dapat ditemukan di nusantara. Lalu buat apa wisata ke luar negeri yang hanya menambah devisa Negara destinasi? Apalagi seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, gambaran tentang Negara-negara di penjuru dunia sudah terpampang jelas di dunia maya.

Katak yang terkungkung dalam tempurung akan melompat lebih rendah dibandingkan katak yang hidup di alam bebas. Tak heran, banyak pemimpin besar lahir dari mereka yang pernah merasakan perjalanan jauh ke tempat baru yang memberi inspirasi tersendiri yang mewarnai hidup mereka. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, begitu kata petuah Arab. Bukan Cina sebagai satu-satunya destinasi yang ditekankan, tapi betapa banyak hikmah yang dapat diambil dari setiap perjalanan. Hikmah yang lebih membentang cakrawala dalam berpikir dan bertindak.

Inspirasi itu datang melalui proses panjang, bahkan sekalipun ‘belum berhasil’ menempuh perjalanan ke luar negeri, hikmah itu sudah dapat dirasakan. Saya pernah urung mempresentasikan paper dalam kegiatan World Zakat Forum di New York, USA karena terbentur dengan berbagai prioritas kegiatan lain. Namun pengalaman mengurus visa USA yang penuh lika-liku bisa jadi cerita tersendiri. Dan dalam banyak kesempatan, selalu ada skenario lebih indah yang menyertai ‘asa yang tertunda’ asalkan ada keyakinan dan ikhtiar nyata. Karenanya kisah perjuangan yang tidak mudah untuk dapat menuai hikmah di luar negeri bisa menjadi inspirasi dan bahan refleksi diri.

Inspirasi itu hadir melalui interaksi lintas bahasa dan lintas budaya. Ada berbagai hal positif yang dapat diambil hikmahnya dan potret negatif yang kian memperkaya rasa syukur kita. Memang sudah menjadi watak manusia untuk kurang bersyukur sebelum kehilangan. Kecintaan terhadap tanah air akan semakin menguat di negeri orang, setidaknya itulah yang pernah saya rasakan. Di balik kekaguman akan kedisiplinan dan penataan kota di Singapura misalnya, ada semburat syukur atas potret Indonesia yang lebih humanis dan ramah. Di balik inspirasi akan fokus, kerja keras dan kemandirian penduduk negeri India, ada kebanggaan tersendiri menjadi warga Negara Indonesia yang lebih egaliter dan santun. Tekad untuk merawat Indonesia pun kian berkobar. Nilai rasa yang tidak tergantikan hanya dari telusur literatur ataupun berselancar di dunia maya.

Dunia adalah sebuah buku dan orang-orang yang tidak pernah melakukan perjalanan ia hanya membaca satu halaman. Hikmah dapat datang dari mana saja. Sesekali kita memang perlu menengok dari luar untuk memperbaiki rumah kita. Tentu berbagai inspirasi menandang mancanegara untuk merawat Indonesia tidak sebanding dengan inspirasi yang langsung dirasakan dengan bertualang ke negeri orang. Semoga kumpulan tulisan ini bukan sekedar menginspirasi, tetapi juga mampu memotivasi kita untuk bergabung sebagai para penjelajah hikmah perjalanan. Perjalanan yang –kata Imam Syafi’i—mampu melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” (H. Jackson Brown Jr.)

*tulisan ini merupakan kata pengantar buku online “Menandangi Mancanegara” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Dwi Tunggal Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an untuk Kepemimpinan Bangsa

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kaya akan sumber daya dan kaya akan budaya. Negeri kepulauan nan indah bertajuk zamrud khatulistiwa. Negara besar dengan jumlah penduduk peringkat empat terbanyak di dunia yang tersebar di penjuru nusantara. Mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Pun mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia bukanlah Negara Islam. Sebagaimana beranekanya suku dan budaya, ragam agama juga ada di Indonesia. Ironisnya, statement bahwa Indonesia bukan Negara Islam kerap disalahartikan sebagai dikotomi antara Indonesia dan Islam, seakan identitas keislaman akan kontraproduktif dengan identitas keindonesiaan. Islam dan nasionalisme, akhirnya menjadi dua kata yang dikesankan ibarat minyak dan air, takkan mampu bersatu.

Dalam KBBI, nasionalisme didefinisikan sebagai paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri . Nasionalisme juga didefinisikan sebagai semangat kebangsaan, yaitu kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Rasa cinta terhadap tanah air sejatinya adalah fitrah manusia sebagaimana kecintaan terhadap keluarga. Dan Islam datang sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, karenanya mustahil bertentangan dengan nilai cinta tanah air.

Nasionalisme hadir untuk mengikis semangat kesukuan dan memperkuat ikatan masyarakat. Dan Islam telah melakukannya sebelum istilah nasionalisme ada. Di Madinah, beragam suku mulai dari Quraisy, Aus, Khazraj, hingga suku-suku beragama Yahudi dan Nasrani menandatangani Piagam Madinah yang salah satu klausulnya adalah bersatu mempertahankan Madinah dari serangan luar. Itu adalah nasionalisme. Mempererat tali persaudaraan dan mempersatukan dengan tetap menjaga eksistensi dari keragaman suku dan bangsa, itulah Islam.

Nasionalisme menurut Soekarno akan membentuk rasa percaya diri dan merupakan esensi mutlak jika kita mempertahankan diri dalam perjuangan melawan kondisi-kondisi yang menyakitkan. Ya, sebagaimana Islam, nasionalisme sejatinya hadir untuk membebaskan. Revolusi perlawanan rakyat atas hegemoni kaum aristrokat dan anti dominasi gereja di Eropa abad ke-18 adalah nasionalisme yang tidak jauh berbeda dengan bagaimana para pahlawan pejuang kemerdekaan sejak zaman kerajaan dahulu berperang untuk mengusir penjajah. Perlawanan lokal dan sporadis yang gagal mengusir penjajah kemudian bertransformasi menjadi gerakan nasional yang terorganisir. Itulah nasionalisme.

Namun Islam memang berbeda dengan nasionalisme, terutama dalam aspek ruang lingkup dan orientasi. Nasionalisme masih tersekat oleh batas geografis sementara Islam borderless. Kesetiaan tertinggi seorang nasionalis adalah pada bangsa dan Negara, sementara kesetiaan tertinggi seorang muslim adalah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam Islam, kesetiaan terhadap pemimpin ataupun wilayah geografis tertentu haruslah dalam kerangka ketaatan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Itulah semangat nasionalisme untuk mengusir penjajah versi Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin dan banyak pejuang Islam lainnya di nusantara. H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Serikat Islam menyatakan bahwa Islam adalah “faktor pengikat dan simbol nasional”.

Perbedaan antara Islam dan nasionalisme bukan untuk dipertentangkan, melainkan diposisikan dengan tepat untuk membangun kepemimpinan nasional yang kuat. Semangat spiritualitas dan religiusitas Islam yang bersifat universal seharusnya diposisikan sebagai fondasi dengan semangat kebangsaan (nasionalisme) sebagai (salah satu) tiangnya. Tiang nasionalisme tanpa fondasi religiusitas akan mendorong pada primordialisme, chauvinisme, bahkan fasisme. Kecintaan terhadap tanah air yang berlebihan dan tidak didasari spiritualitas yang kuat akan berujung kepongahan, merendahkan bangsa lain, bahkan dalam titik ekstrim justru akan memicu terjadinya imperialisme dan penjajahan yang sebenarnya sangat bertentangan dengan nasionalisme itu sendiri.

Dalam skala yang lebih kecil, ‘nasionalisme buta’ akan mematikan logika dan berpikir kritis. Padahal kemerdekaan sebagai buah dari semangat kebangsaan menghendaki kekuatan untuk berdiri sendiri. Berdikari dalam berpikir dan bertindak. Karenanya, tiang nasionalisme yang berdiri di atas landasan religiusitas ini harus berdekatan dengan tiang kemandirian menuju Indonesia berdaya. Tidak cukup hanya merdeka dan bersatu, tetapi juga harus berdaulat, adil dan makmur. Kepemimpinan bangsa yang kuat tidak dapat dipisahkan dari kemampuan untuk berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Semangat kebangsaan dan kemandirian tanpa fondasi keislaman akan mendorong pada kebebasan tanpa batas, pun harus mengorbankan orang banyak. Lihatlah bagaimana ekspansi negara-negara Eropa di masa penjajahan, yang alih-alih berdaya malah memperdaya. Berdikari adalah berdiri di atas kaki sendiri bukan berdiri di atas kesulitan orang lain. Karenanya, tiang nasionalisme dan kemandirian harus pula disertai dengan tiang kepedulian. Berlandaskan perikemanusiaan. Karena memang tidak cukup hanya dengan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, tetapi juga harus memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Selain makhluk pribadi, manusia adalah makhluk sosial yang pastinya akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalam skala yang lebih besar, suatu bangsa juga selalu butuh untuk membangun hubungan dengan orang lain. Sadar dan peduli bahwa keberadaannya merupakan satu entitas dari komunitas yang lebih luas. Pun demikian dalam konteks kepemimpinan, selalu erat kaitannya dengan aspek pelayanan dan motivasi kepedulian. Shalat yang berdimensi pribadi harus disertai dengan zakat yang berdimensi sosial. Kemandirian sejati adalah mampu memandirikan orang lain, berdaya adalah mampu memberdayakan orang lain.

Bagaimanapun, iman yang abstrak harus disertai amal shalih yang konkret. Semangat kebangsaan juga bukan semata jargon, apalagi kemandirian dan kepedulian yang jelas-jelas harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Karenanya, fondasi keislaman beserta tiang-tiang kebangsaan, kemandirian dan kepedulian ini harus mewujud menjadi sesuatu yang lebih tampak dan terukur. Hal tersebut adalah kompetensi, baik pengetahuan, keterampilan ataupun sikap. Suatu urusan yang dikerjakan oleh orang yang tidak berkompeten hanya akan berujung kepada kehancuran. Karenanya pemimpin haruslah memiliki kompetensi yang mumpuni. Tidak harus sempurna, tetapi kompetensinya sesuai dengan kebutuhan, level dan lingkup amanah serta kekhasan dari kepemimpinan yang diemban.

Kepemimpinan ideal yang didambakan oleh seorang muslim harus berlandaskan fondasi keislaman, Islam yang pertengahan, tidak terlalu kaku tetapi tidak pula terlalu cair. Islam yang menginspirasi dan mencerahkan, tidak taqlid buta namun tidak pula mendewakan akal. Islam yang seimbang, bijak dalam merespon kondisi kekinian dan menghargai berbagai perbedaan. Islam yang bukan hanya baik dalam aspek keimanan dan ibadah, namun kehadirannya mampu menebar kebermanfaatan yang luas. Islam yang dapat menjadi Rahmat bagi semesta alam.

Untuk menghadapi tantangan kepemimpinan Islam, fondasi ini perlu diperkokoh dengan semangat kebangsaan yang mempersatukan elemen bangsa guna mencapai cita bersama. Kedaulatan dan independensi bangsa juga perlu diperkuat dengan semangat kemandirian untuk menghapus segala ketergantungan. Kontribusi kemanusiaan yang dilandasi semangat kepedulian juga akan memperkokoh bangunan kepemimpinan. Fondasi dan tiang-tiang kepemimpinan ini kemudian harus dilengkapi dengan rangka atap berupa kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan menunjang terlaksananya fungsi kepemimpinan secara utuh demi kejayaan negeri tercinta.

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kuat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbagai perbedaan yang ada akan kian memperindah khazanah bangsa. Negeri yang satu, terikat dalam cita wawasan nusantara. Bangsa yang utuh dan tak terpisah-pisahkan. Bangsa besar yang mampu berdiri sendiri. Negeri yang ramah, gemar menolong dan penuh tenggang rasa. Negeri dimana Islam yang juga bermakna damai penuh keselamatan, akan menjadi penguat negeri itu. Bukan hanya secara kuantitas, tetapi melakukan banyak perbaikan kualitas. Selamanya menjadi penguat, pun ketika berbagai ujian menerpa dan duka melanda. Senantiasa menjadi solusi untuk menjawab kompleksitas permasalahan bangsa. Terus menjadi cahaya yang mengantarkan bangsa Indonesia mencapai cita mulia…

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…” (Pembukaan UUD RI 1945)

*tulisan ini dimuat sebagai prolog buku “Islam, Kepemimpinan & Keislaman” karya para pengurus Forum Negarawan Muda

Membangun Sekolah Pengusung Kebangkitan Pendidikan Indonesia

Alvin Toffler membagi sejarah peradaban manusia dalam tiga gelombang yaitu era pertanian, era industri dan era informasi. Dalam era pertanian, faktor yang menonjol adalah Muscle (otot) karena pada saat itu produktivitas ditentukan oleh otot. Dalam era industri, faktor yang menonjol adalah Machine (mesin) dan pada era informasi, faktor yang menonjol adalah Mind (pikiran, pengetahuan). Era industri telah berakhir, di era informasi seperti sekarang ini, siapa yang memiliki pengetahuan akan mengendalikan zaman.

Sekolah, merupakan kawah candradimuka tempat hilir mudiknya aspek mind ini. Sayangnya, limpahan pengetahuan itu belum terkelola dengan baik. Permasalahan di dunia pendidikan, khususnya di dunia persekolahan masih itu-itu saja. Padahal aspek mind ini seharusnya akan mengalami keusangan sehingga harus terus menerus diperbarui, namun realitanya permasalahan dunia pembelajaran masih cenderung berulang. Seorang tenaga pendidik yang sudah puluhan tahun bertugas masih mengalami permasalahan yang sama setiap tahunnya, tanpa bisa diantisipasi, tanpa tuntas diatasi.

Buku ”Bagaimana Ini, Bagaimana Itu? : Memecahkan Masalah Sehari-hari di Sekolah dari Pengalaman Nyata Khas Indonesia” merupakan sebuah buku yang bukan hanya bercerita tentang romantika pengalaman para pendamping sekolah dan pengelola Program Pendampingan Sekolah Makmal Pendidikan – Dompet Dhuafa, namun berupaya untuk menjawab berbagai permasalahan nyata yang kerap ditemui di dunia persekolahan, agar masalah yang sama tidak lagi berulang. Kiat – kiat mengatasi berbagai permasalahan di sekolah ini terbagi dalam tiga bagian besar, yaitu terkait guru, siswa, dan kepala sekolah.

Bagian pertama, ”Bagaimana Ini, Bagaimana Itu Guru?” akan mengupas berbagai solusi dari permasalahan guru di sekolah, mulai dari administrasi pembelajaran, motivasi dan kebiasaan negatif guru, hingga pengembangan kreativitas dan keterampilan (skill) guru. Guru adalah ujung tombak perbaikan kualitas pembelajaran dan pendidikan, karenanya penguraian masalah guru menjadi faktor penting dalam kebangkitan pendidikan Indonesia.

Bagian kedua, ”Bagaimana Ini, Bagaimana Itu Siswa?” akan mengetengahkan beragam tips dan trik dalam meningkatkan kompetensi peserta didik, baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, termasuk keterlibatan peserta didik dalam menyukseskan program sekolah. Wajah peserta didik hari ini menggambarkan wajah Indonesia di masa mendatang, karenanya memastikan kualitas peserta didik hari ini sama artinya dengan memastikan kesinambungan pembangunan bangsa ini di masa depan.

Bagian ketiga, ”Bagaimana Ini, Bagaimana Itu Kepala Sekolah?” akan memaparkan berbagai kiat untuk meningkatkan kualitas manajemen sekolah dan tenaga kependidikan, termasuk keterlibatan masyarakat dalam menyukseskan program sekolah dengan menjadikan kepala sekolah sebagai sentra perbaikan. Sebagaimana ikan busuk mulai dari kepalanya, jatuh bangunnya sebuah sekolah akan sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan kepala sekolah. Karenanya, ketuntasan permasalahan di level kepala sekolah akan signifikan mendongkrak kualitas sekolah, bahkan pendidikan di wilayah tersebut.

Ketiga bagian buku ini sejatinya bukan bagian yang terpisahkan. Peran guru, siswa dan kepala sekolah secara bersama sangatlah vital untuk membangun sekolah unggul. Ketika kualitas sekolah secara merata sudah terkategorikan unggul, kebangkitan pendidikan di Indonesia pasti akan terwujud. Kekhasan sekolah tentu tidak dapat dikesampingkan, suatu solusi permasalahan di suatu sekolah belum tentu sesuai ketika diterapkan di sekolah lain dengan permasalahan sama. Namun setidaknya, kiat – kiat yang dipaparkan dalam buku ini dapat menjadi referensi. Pengetahuan dan hikmah itu teramat luas, dapat diperoleh dari mana saja. Tidak harus kita mengalami semua masalah dan mencoba semua solusi untuk menjadi pengetahuan, cukuplah pengalaman orang lain menjadi referensi.

Fokus penulisan buku ini adalah pada substansi permasalahan dan solusi yang ditawarkan, bukan pada studi kasus sekolahnya. Untuk menjaga objektivitas pembaca dan privasi sekolah, pengalaman praktis yang diungkapkan dalam buku ini tidak mencantumkan langsung nama sekolah yang bersangkutan. Pengetahuan dan pengalaman yang dipaparkan sifatnya lebih fleksibel dan dapat dikembangkan.

Hadirnya buku ini diharapkan dapat menjadi salah satu pemutus lingkaran setan permasalahan dunia persekolahan yang terus berulang. Pengalaman nyata di lingkungan sekolah diharapkan mampu dijadikan pembelajaran untuk mengurai berbagai permasalahan di lapangan. Karena kompleksitas permasalahan, tentunya masih banyak problematika pembelajaran yang belum terungkap di buku ini. Harapan kami, semoga buku sederhana ini dapat memberikan inspirasi dan referensi bagi dunia pendidikan, khususnya bagi para tenaga kependidikan untuk mengusung kebangkitan pendidikan Indonesia yang dicita-citakan. Dan kebangkitan itu dimulai dari sekolah kita, dari kelas kita, dari diri kita.

*tulisan ini merupakan kata pengantar buku “Bagaimana Ini, Bagaimana Itu? : Memecahkan Masalah Sehari-hari di Sekolah dari Pengalaman Nyata Khas Indonesia” karya Tim Pendampingan Sekolah Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

Analisa Kepuasan Siswa SMART EI Tahun 2011

ANALISA TINGKAT KEPUASAN SISWA TERHADAP LAYANAN PROGRAM SMART EKSELENSIA INDONESIA TAHUN 2011

oleh : Purwa Udiutomo1

ABSTRAK

Permasalahan pendidikan dan kemiskinan saling terkait, dimana kebodohan erat kaitannya dengan kemiskinan. Karenanya, salah satu upaya memutus rantai kemiskinan adalah dengan memberi kesempatan bagi masyarakat miskin untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Dompet Dhuafa melakukan pemberdayaan pendidikan melalui SMART Ekselensia Indonesia yang merupakan SMP – SMA akselerasi bebas biaya dan berasrama untuk siswa dari masyarakat marginal. Sebagai program pelayanan pendidikan, keberhasilan program diantaranya ditentukan oleh mutu layanan. Pelayanan yang bermutu dapat diidentifikasi melalui kepuasan pelanggan, dalam hal ini adalah siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat kepuasan siswa SMART Ekselensia Indonesia terhadap layanan program tahun 2011. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan membandingkan antara tingkat kepentingan dengan kenyataan terhadap kriteria seleksi, sekolah dan asrama, sekaligus dibandingkan dengan pencapaian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kepuasan penerima manfaat di semua kriteria evaluasi. Beberapa perbaikan masih perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu layanan program.

Kata kunci : kualitas layanan, kepuasan pelanggan, SMART Ekselensia Indonesia, evaluasi seleksi, pengelolaan sekolah, asrama siswa

ABSTRACT

Educational issues and poverty are interrelated, where ignorance is closely related to poverty. Therefore, one attempts to break the chain of poverty is to provide opportunities for the poor to obtain quality education. Dompet Dhuafa conduct educational empowerment through SMART Ekselensia Indonesia, which is accelerated high school, free of charge, and boarding school for students from marginalized communities. As an educational service program, the success of program one of which is determined by the quality of service. Quality services can be identified through customer satisfaction, in this case is the students. This research aims to analyze the students satistaction on SMART Ekselensia Indonesia program services in 2011. The research method used is descriptive analysis to compare degree of importance to the fact of the selection, school and dormitories management, and compared to the previous results. The results showed that there is an increase in beneficiary satisfaction in all evaluation criteria. Some improvements still need to be done to improve the quality services of program.

Key words: service quality, customer satisfaction, SMART Ekselensia Indonesia, evaluation of selection, school management, student dormitories

1Penulis adalah peneliti pendidikan Dompet Dhuafa

Download Jurnal

Meningkatkan Hasil Belajar & Kecepatan Membaca dengan Teknik Skipping Ayunan Visual

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MENEMUKAN GAGASAN UTAMA PARAGRAF DALAM KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT DENGAN TEKNIK SKIPPING AYUNAN VISUAL PADA SISWA KELAS XI IPA SMA SMART EKSELENSIA INDONESIA

oleh : Nurhayati1

ABSTRAK

Keterampilan membaca sangat diperlukan untuk menggali pengetahuan di era informasi ini. Salah satu teknik dalam membaca adalah skipping ayunan visual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah teknik skipping ayunan visual dapat meningkatkan kecepatan membaca dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA SMART Ekselensia Indonesia. Pengamatan dilakukan terhadap 15 siswa yang sebelumnya dilakukan pengukuran terhadap kecepatan membaca dan hasil belajarnya dalam menentukan gagasan utama paragraf. Setelah dilakukan dua siklus pembelajaran, hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik skipping ayunan visual dapat meningkatkan kecepatan membaca dan hasil belajar siswa yang terlihat dari terlampauinya indikator keberhasilan, yaitu 80%. Sebanyak 93.3% siswa memperoleh nilai di atas KKM, yaitu 72, dengan nilai rata – rata 86. Dan sebanyak 86,6% siswa dapat membaca dengan kecepatan lebih dari 300 kpm, dengan kecepatan rata – rata 412 kpm. Hasil tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat kepada siswa dan guru terutama untuk meningkatkan keterampilan membaca. Penelitian dan pengembangan metode pembelajaran lebih lanjut diperlukan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Kata kunci : keterampilan membaca, teknik skipping ayunan visual, menentukan gagasan utama, kecepatan membaca, frase mekanik, frase kontekstual

ABSTRACT

Reading skills is necessary to explore knowledge in the information age. One technique in reading is skipping visual swing. This study aims to determine whether skipping visual swing technique can improve the reading speed and learning outcome of SMART Ekselensia Indonesia students, class science XI. Observations carried out on 15 students who previously measured its reading speed and learning results in determining the main idea of the paragraph. Following two cycles of learning, the results showed that skipping visual swing technique can improve the reading speed and student learning results as seen from exceeding the indicators of success, that is 80%. 93.3% of students received scores above KKM (72), with average 86. And 86.6% of students can read at speeds above 300 wpm, with average speeds 412 wpm. This results are expected to give benefits to students and teachers, especially to improve reading skills. Further research and development of learning methods is necessary to realize the qualified education.

Key words: reading skills, skipping visual swing technique, determining the main idea, reading speed, mechanical phrases, contextual phrases

1Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia SMA SMART Ekselensia Indonesia

download jurnal

Analisa Kepuasan Penerima Beastudi Etos 2011

ANALISA TINGKAT KEPUASAN PENERIMA BEASTUDI ETOS TERHADAP LAYANAN PROGRAM TAHUN 2011

oleh : Purwa Udiutomo1

ABSTRAK

Permasalahan pendidikan dan kemiskinan saling terkait. Masyarakat miskin tidak dapat mengakses pendidikan tinggi dan dengan pendidikan seadanya mereka akan tetap miskin. Karenanya, salah satu upaya memutus rantai kemiskinan adalah dengan memberi kesempatan bagi masyarakat miskin untuk memperoleh pendidikan tinggi. Dompet Dhuafa melalui Beastudi Etos melakukan pemberdayaan pendidikan dengan memberi pembinaan, pendampingan dan bantuan pembiayaan pendidikan. Sebagai program beasiswa, keberhasilan program diantaranya ditentukan oleh mutu layanan. Pelayanan yang bermutu dapat diidentifikasi melalui kepuasan pelanggan, dalam hal ini adalah mahasiswa penerima beasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat kepuasan penerima Beastudi Etos terhadap layanan program tahun 2011. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan membandingkan antara tingkat kepentingan dengan kenyataan terhadap kriteria seleksi, manajemen wilayah, asrama dan pembinaan, sekaligus dibandingkan dengan pencapaian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kepuasan penerima manfaat di semua kriteria evaluasi. Beberapa perbaikan masih perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu layanan program.

Kata kunci : mutu layanan, kepuasan pelanggan, program beasiswa, seleksi, asrama, pengelolaan mahasiswa

ABSTRACT

Educational issues and poverty are interrelated. The poor can’t access higher education and with makeshift education, they will remain poor. Therefore, one attempts to break the chain of poverty is to provide opportunities for the poor to obtain higher education. Dompet Dhuafa through Beastudi Etos empower education by providing coaching, mentoring and educational financial assistance. As a scholarship program, Beastudi Etos success is determined by the quality of service. Quality services can be identified through customer satisfaction, in this case is the scholarship recipients. This research aims to analyze the satistaction level of Beastudi Etos recipients of program services in 2011. The research method used is descriptive analysis to compare degree of importance to the fact of the selection, management areas, dormitories and training criteria, and compared to the previous results. The results showed that there is an increase in beneficiary satisfaction in all evaluation criteria. Some improvements still need to be done to improve the quality services of program.

Key words: service quality, customer satisfaction, scholarship programs, selection, dormitories, student management

1Penulis adalah peneliti pendidikan Dompet Dhuafa

download jurnal

Pengaruh Program Pembinaan dan Pendampingan terhadap Peningkatan Kompetensi Mahasiswa

PENGARUH PROGRAM PEMBINAAN DAN PENDAMPINGAN TERHADAP PENINGKATAN KOMPETENSI MAHASISWA
(STUDI KASUS : BEASTUDI ETOS DOMPET DHUAFA)

oleh : Purwa Udiutomo1

ABSTRAK

Kemajuan suatu negara banyak ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusia di negara tersebut dan kualitas hidup manusia banyak dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Rantai kemiskinan memang tidak terlepas dari faktor ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Karenanya, salah satu upaya memutus rantai kemiskinan adalah dengan memberi pendidikan yang layak. Dompet Dhuafa melalui Beastudi Etos melakukan pemberdayaan pendidikan dengan memberi pembinaan, pendampingan dan bantuan pembiayaan pendidikan. Dengan pembinaan dan pendampingan, penerima beasiswa diharapkan tidak hanya dapat berkuliah, namun juga memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pembinaan program Beastudi Etos terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan mengambil sampel di lima perguruan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan dan pendampingan yang dilakukan Beastudi Etos dapat meningkatkan kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap mahasiswa. Pengaruhnya sangat signifikan terhadap nilai keagamaan, namun kurang berpengaruh terhadap keterampilan teknologi informasi.

Kata kunci : kompetensi, pembinaan mahasiswa, beasiswa, pengetahuan, keterampilan, sikap

 

ABSTRACT

Progress of a country largely determined by quality of its human resources and quality of human life is much influenced by educational factors. Chains of poverty absolutely cannot be separated from economic, health and educational factors. Therefore, one effort to break chains of poverty is to provide proper education. Dompet Dhuafa through Beastudi Etos had conducting educational empowerment with provide training, mentoring and financial assistance for poor students. With training and mentoring, scholarship recipients are expected not only can studying, but also have knowledge, skills and attitudes competency. This research aims to see the effect of Beastudi Etos’s training and mentoring programs to improve students competencies. Research methodology used is descriptive analytical by taking samples at five universities. The results showed that Beastudi Etos’s training and mentoring programs can improve knowledges, skills and attitudes competency of students. Its significantly improve religious values, but less effect to IT skill.

Keywords : competency, training and mentoring, scholarship, knowledge, skills, attitudes

1Penulis adalah peneliti pendidikan di Dompet Dhuafa

Try Out Etos Nasional : Mencetak Relawan Peduli Pendidikan

Departemen Pendidikan Nasional pernah mencatat, sekitar 2 – 3 jutaan anak Indonesia putus sekolah setiap tahunnya. Pada jenjang SMA, jika melanjutkan pun, hanya 10 persen dari keseluruhan jumlah lulusan yang dapat melakukannya. Hal ini juga tercermin dari rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang perguruan tinggi yang hanya 17,25 persen pada tahun 2007/2008. Dari angka tersebut, siswa-siswi yang melanjutkan ke perguruan tinggi faktanya hanya didominasi oleh kalangan menengah ke atas.

Dan, partisipasi orang miskin di perguruan tinggi pun semakin memudar. Bahkan, seperti yang dikutip oleh Media Indonesia Online, Mendiknas pernah mengatakan APK mahasiswa dari keluarga miskin pada 2008 hanya 4 persen dan tahun 2009 naik menjadi 6 persen. Tak bisa dipungkiri, setiap tahun tak hanya Ujian Nasional yang menjadi momok bagi siswa kelas 3 SMA. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tidak jarang menjadi momok yang lebih mengerikan. Setiap tahun ribuan lulusan SMA dan sederajatnya berkompetisi untuk mendapatkan satu kursi di PTN favorit. Rendahnya APK masuk PTN salah satunya juga disebabkan oleh banyaknya siswa yang tidak lolos seleksi, karena kurangnya persiapan menghadapi ujian masuk.

Beastudi Etos, mencoba menjawab tantangan ini dengan menginisiasi sebuah event bertajuk TOENAS (Try Out Etos Nasional). Acara ini diselenggarakan pada hari Ahad, 1 Mei 2011 tepat sehari sebelum Hari Pendidikan Nasional. Seperti try out pada umumnya, TOENAS juga merupakan simulasi SNMPTN. Istimewanya, TOENAS dihadiri ribuan siswa dan digelar serempak di sembilan wilayah Indonesia, yaitu Padang, Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Jogjakarta, Malang, Surabaya, dan Makasar. Pelaksana acara ini adalah penerima manfaat Beastudi Etos (Etoser) dari 11 PTN terkemuka di Indonesia. Selain simulasi SNMPTN, para peserta TOENAS juga difasilitasi dengan pembahasan soal dan metode perangkingan nasional yang didukung oleh. Zenius Education.

Sedangkan untuk menguatkan motivasi peserta, ada sesi talkshow satu jam bertajuk “Kiat Sukses Menembus PTN Favorit dan Berprestasi di Kampus”. Bagi 100 pendaftar pertama, ada pula fasilitas Konseling On The Spot. Selain itu juga ada Scholarship Expo, Zona Almamater, Sulap Edukasi, Bazaar Beastudi Etos, dan berbagi doorprize menarik. Selanjutnya, para peserta akan menjadi relawan peduli pendidikan, bagian dari Komunitas Filantropi Pendidikan LPI-DD. Keanggotaan relawan ini ditandai dengan kartu relawan yang berlaku seumur hidup.

Selain kartu relawan, para peserta juga mendapat kartu perdana gratis persembahan XL. Terdapat juga beasiswa SNMPTN bagi para peserta dhuafa. Inilah sumbangsih generasi muda bangsa. Try out akbar, serentak, dan nasional, pertama di nusantara. Semoga menjadi inspirasi bagi lebih banyak orang untuk berbuat lebih banyak, bagi perbaikan kualitas pendidikan Indonesia.