Category Archives: Publikasi Media

Dari Etoser Untuk Indonesia

Ketika kita hidup untuk kepentingan pribadi, hidup ini tampak sangat pendek dan kerdil. Ia bermula saat kita mulai mengerti dan berakhir bersama berakhirnya usia kita yang terbatas. Tapi apabila kita hidup untuk orang lain, yakni hidup untuk (memperjuangkan) sebuah idealisme dan kebermanfaatan, maka kehidupan ini terasa panjang dan memilki (makna) yang dalam. Ia bermula bersama mulainya kehidupan manusia dan membentang beberapa masa setelah kita berpisah dengan permukaan bumi” (Ibnu Qayyim)

* * *

Sejarah telah mencatat, bahwa mahasiswa memiliki andil penting dalam membuat perubahan dunia. Arah sejarah dapat berubah ketika mahasiswa selaku intelektual muda bergerak dan membuat dinamika produktif. Idealisme yang teguh, pemikiran yang kritis dan semangat yang menyala – nyala didukung potensi fisik yang kokoh menjadi kekuatan tak terbatas mahasiswa sebagai anasir perubahan. Dan kesemuanya itu dimulai dengan satu kata : kepedulian. Gerakan mahasiswa menjadi melemah ketika wabah apatisme merajalela, ketika fungsi sosial mahasiswa tertutupi dengan egoisme dan individualisme, ketika mahasiswa semakin jauh dengan masyarakatnya. Atau dengan kata lain ketika mahasiswa kehilangan kepeduliannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan selalu dimulai oleh mereka yang peduli. Dan sudah lumrah juga bahwa penggagas ini jumlahnya tidak banyak. Pun pengabdian kepada masyarakat sudah menjadi salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, tidak menjadi jaminan mahasiswa akan bergerak melakukan perbaikan di tengah masyarakat. Mahasiswa seakan lupa bahwa mereka lahir dan tumbuh dari masyarakat, masyarakat turut membantu penyelenggaraan pendidikan dan masyarakat pula tempat pembuktian sejati kualitas lulusan perguruan tinggi.

Berbagai organisasi dan kegiatanpun dilakukan untuk mengarahkan potensi besar anasir perubahan ini dengan mengasah kepeduliannya, salah satunya dengan memberikan bantuan pembiayaan pendidikan dengan konsekuensi mengembalikan kebermanfaatan untuk masyarakat, seperti yang dilakukan oleh Program Beastudi Etos yang berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Insani, Dompet Dhuafa. Beastudi Etos sejak awal kelahirannya memang didedikasikan untuk menebar kebermanfaatan yang lebih besar. Sebagai program investasi SDM, para penerima beasiswa diharapkan akan menjadi pemimpin – pemimpin di masa depan yang berpihak kepada masyarakat.

Perhatian besar terhadap perbaikan kultural di tengah masyarakat ini tercermin dalam salah satu misinya yaitu mengoptimalkan peran SDM Beastudi Etos dalam aktivitas pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya itu, kurikulum pembinaan yang disusunpun mengakomodir kontribusi sosial penerima beasiswa. Selain domain agama, akademik dan pengembangan diri yang menjadi landasan etoser (sebutan untuk penerima Beastudi Etos) dalam berpikir dan bersikap, ada juga domain sosial yang tidak kalah pentingnya. Pembinaan domain sosial ini yang akan menyeimbangkan sisi individual pemiliknya dengan dunia luar di sekelilingnya sekaligus mengantarkan etoser pada kekayaan jiwa, keberkahan ilmu dan kebermanfaatan diri. Etoser diharapkan dapat menjadi lulusan perguruan tinggi yang bertaqwa, cerdas, progresif dan peduli. Dapat mengembalikan kebermanfaatan dengan menjadi penebar manfaat sehingga roda pemberdayaan terus berputar, terus membesar dan membesar…

Jejak Kontribusi Etos

Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain” (Confucius)

* * *

Berbagi tentunya bukan sebatas pengetahuan tentang bagaimana berkontribusi, tetapi mencakup upaya merealisasikan perbaikan nyata di tengah masyarakat. Semangat berbagi melalui aksi nyata inilah yang ditanamkan, sehingga kebermanfaatan dapat jelas dirasakan. Lahirlah berbagai aksi sosial seperti operasi bersih pantai di Padang dan Yogya, bersih kali Ciliwung dan pelatihan juru jentik cilik di Jakarta, aksi cabut paku di pohon dalam rangka memperingati Hari Bumi di Semarang dan berbagai aktivitas sosial etoser lainnya. Berikut beberapa contoh aktivitas sosial yang dilakukan etoser. Belum banyak kontribusi yang telah diberikan memang, namun semoga dapat inspirasi bahwa masih ada sekelompok pemuda yang gemar berbagi.

Relawan Tanggap Bencana
Indonesia, negeri yang rentan bencana, dibutuhkan SDM yang siap tanggap kebencanaan. Etoser bersama dengan jejaring kebencanaan Dompet Dhuafa selalu sigap membantu korban bencana, seperti ketika terjadi Gempa Padang, Tragedi Situ Gintung ataupun Musibah Merapi Yogyakarta. Utamanya Etoser membantu logistik dan recovery bencana.

Rumah Belajar Etos
Asrama Beastudi Etos sejatinya merupakan milik masyarakat, sehingga harus ada kebermanfaatan bagi masyarakat sekitarnya. Selama ini, asrama beastudi etos kerap dimanfaatkan sebagai tempat belajar bagi anak – anak di sekitar asrama, misalnya Rumah Cerdas Etos Malang atau Komunitas Anak Bakal Intelektual Muslim (Ka’ Ba’im) Etos Jakarta.

Festival Anak Shaleh
Pembinaan anak – anak sejak dini sepantasnya menadi perhatian besar dalam upaya perbaikan bangsa. Festival Anak Shaleh hadir di hampir seluruh wilayah beastudi etos untuk mencetak generasi yang religius. Aneka lomba digelar untuk memacu kreativitas, keberanian, semangat kompetisi serta kecintaan peserta terhadap Islam.

Kampung Produktif
Kampung produktif merupakan kelanjutan dari program Kampung Cerdas, dimana etoser melakukan pemberdayaan masyarakat dengan mengoptimalkan potensi lokal sehingga menghasilkan perbaikan yang berkesinambungan. Kampung produktif ini telah dilaksanakan di seluruh wilayah beastudi etos mulai dari Rumah Kancil Etos Padang hingga Emping Jagung Etos Makassar

Masih Adakah Pemuda Peduli?

“Bukanlah pemuda yang mengatakan : ‘Ini bapakku’, tapi pemuda adalah yang mengatakan ‘Inilah aku‘” (Ali Bin Abi Thalib)

* * *

Mengenaskan, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi pemuda saat ini. Pergaulan bebas, obat-obat terlarang dan demoralisasi telah mewarnai aktivitas mereka sehari-hari. Masa muda memang masa mencari identitas dan eksistensi diri, penuh tantangan untuk mencapai kematangan pribadi. Emosional dan labil, karenanya perlu diarahkan. Potensi pemuda sebenarnya luar biasa, fisik maupun akal, penuh idealisme, semangat berapi-api dan pantang menyerah. Pemuda tidak ragu untuk berusaha sekuat tenaga dan berkorban dengan segala yang dimilikinya untuk memperjuangkan apa yang diinginkannya.

Potensi itulah yang ditunjukkan sejarah, bagaimana pemuda selalu menjadi ujung tombak perubahan sebuah zaman. Lihatlah kontribusi pemuda dalam kebangkitan nasional, proklamasi kemerdekaan RI, runtuhnya orde lama, lahirnya reformasi dan berbagai peristiwa bersejarah di tanah air lainnya. Tak berlebihan jika Hasan Albana menyampaikan bahwa sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap pemikiran, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.

Sayangnya, di tengah potensi dan arti penting keberadaan pemuda, berbagai krisis multi dimensi yang menghadang tidak kondusif untuk mengoptimalkan peran mereka sebagai penggerak perubahan. Potensi dan karakteristik pemuda tidak jarang tersalurkan untuk hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat. Kondisi ini diperburuk dengan perang pemikiran dan infiltrasi kebudayaan melalui berbagai media. Akibatnya, apatisme merajalela, aktivitas pemuas hawa nafsu berisi kebodohan dan kenikmatan semu pun semakin marak mengisi hari – hari mereka. Perlu segera dilakukan perbaikan karena pemudalah wajah bangsa ini di masa depan.

Untuk kembali membangkitkan potensi pemuda, perlu digerakkan kembali sensitivitas sosial mereka. Perhatian terhadap aspek kepekaan ini menjadi penting sebab semangat perubahan selalu dimulai dari kepedulian. Kepedulian untuk berbagi akan bertransformasi menjadi kontribusi. Aktivitas perbaikan yang dilakukan tentu tidak sebatas aksi turun ke jalan, namun mencakup aktivitas produktif mengubah potensi yang dimiliki menjadi kebermanfaatan. Bisa berupa mengerjakan hal – hal kecil yang bermakna di tengah masyarakat. Bisa pula melakukan dan menularkan kebaikan yang sederhana di lingkungan terdekat. Hal yang juga perlu diingat, sebagaimana sikap acuh akan menularkan apatisme yang lebih besar, kepedulianpun akan mendatangkan gelombang kepedulian yang lebih besar. Sebagimana keburukan akan mendatangkan kerusakan yang lebih besar, kontribusi positif akan memicu limpahan kebermanfaatan yang jauh lebih besar.

Gelora semangat pemuda belumlah sirna, potensi kebaikan itu belumlah pudar. Beban sebagai generasi penerus yang menjadi tumpuan asa masa depan harus memperoleh dukungan positif dari masyarakat dan lingkungannya. Pemuda harus ditangani untuk lebih peduli, harus diperhatikan untuk dapat menginisiasi perbaikan dan tidak bisa dibiarkan untuk melipatgandakan kebermanfaatan. Perhatian terhadap generasi muda sama artinya dengan menyelamatkan bangsa ini. Semua harus dimulai saat ini juga, tak bisa menunggu lama karena penghancuran peradabanpun tak pernah berhenti.

* * *

Sebaik – baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (Al Hadits)

Update Seleksi Nasional Program Beastudi Etos 2011

Seleksi Nasional Program Beastudi Etos kembali digelar. Pendaftaran seleksi beasiswa investasi SDM yang tersebar di 11 kota dan 13 PTN ini dibuka sejak tanggal 5 Januari 2011 lalu. Hingga penutupan pendaftaran pada 10 April 2011, tercatat ada 3218 orang pendaftar dari Aceh hingga Nusa Tenggara untuk memperebutkan quota nasional 150 beasiswa. Sebagai salah satu program pemberdayaan zakat, infaq dan shadaqah dari Dompet Dhuafa, kriteria mutlak yang harus dipenuhi adalah kelayakan finansial dari calon penerima manfaat. Sedangkan prestasi akademis dan non akademis akan menjadi kriteria tambahan.

Dari sejumlah pendaftar tersebut, sebanyak 2502 orang dinyatakan lolos seleksi administrasi dan harus mengikuti seleksi tes tulis dan wawancara. Seleksi ini sudah digelar di beberapa kota sejak akhir April – pertengahan Mei lalu, saat ini sedang berlangsung verifikasi tes tulis dan wawancara. Seleksi ini akan memperdalam kondisi personal dan keluarga dari calon penerima manfaat, termasuk catatan potensi perbaikan dan pengembangan diri yang dapat dilakukan. Selanjutnya masih akan ada seleksi home visit (kunjungan langsung ke rumah calon penerima manfaat) dan ujian masuk PTN yang menjadi prasyarat untuk dapat bergabung dengan komunitas produktif Beastudi Etos. Bagi mereka yang telah lolos seluruh rangkaian seleksi namun tidak diterima menjadi bagian dari keluarga besar Beastudi Etos karena keterbatasan quota, maka bentuk – bentuk advokasi pembiayaan akan tetap dibantu untuk memastikan yang bersangkutan dapat mewujudkan cita – citanya untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Menggali Inspirasi Dari Alumni Etos

Indonesia membutuhkan social entrepreneur muda yang peduli untuk mengatasi permasalahan masyarakat dengan prinsip entrepreneur yang didukung dengan potensi kepemudaannya. Dalam kesempatan ini, saya hendak sedikit berbagi terkait bincang – bincang saya dengan salah seorang alumni penerima beastudi Etos yang mencoba mengembangkan usahanya dengan tetap memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat sekitarnya. Masih dengan wajahnya yang bersahaja, berikut cuplikan ngobrol saya di kantin Teknik UI dengan Andi Nata yang inspiratif :

Bisa Anda ceritakan sedikit perjalanan hidup Anda menjadi mahasiswa UI?
Saya mengikuti seleksi etos wilayah Bandung. Saya ingat sekali waktu tes tulis dan wawancara di Unpad saya datang sendiri dari Cirebon. Tiba di Bandung sudah larut, tak ada tempat bermalam. Akhirnya terpaksa bermalam di pelataran masjid Unpad karena pintunya terkunci. Malam itu hujan deras sehingga tidak bisa juga keluar membeli makanan. Surat undangan dari Rektor UI (Andi masuk lewat jalur PMDK –red) sudah saya terima sebelum home visit. Masalahnya saya harus mengikuti matrikulasi, dua bulan sebelum pengumuman beastudi Etos. Dengan berbekal uang 100 ribu dari orang tua, saya mencoba survive. Saya sempat berpindah – pindah menumpang menginap di tempat teman per dua hari selama mengikuti matrikulasi sebelum akhirnya dibantu alumni FTUI lewat program Mata Air Biru.

Anda kan mahasiswa Teknik Mesin, apa yang membuat Anda memilih jalan sebagai entrepreneur?
Ya, saya secara tidak sengaja terjerumus ke jalan yang benar. Cerita bermula dari cobaan yang menimpa ayah saya ketika saya masih semester 1. Beliau mengalami kecelakaan di tempat kerja, tangannya terpotong mesin, untuk pengobatan setidaknya butuh dana puluhan juta rupiah. Setiap hari saya mengajar privat dan mencari pinjaman sana sini untuk membayar biaya operasi. Dari situ saya belajar tentang arti uang untuk membantu orang yang saya cintai. Privat dan berbagai kompetisi memang akhirnya dapat membantu saya melunasi hutang, namun belum cukup memberikan kebermanfaatan yang lebih besar. Saat itu, akademis saya pun sempat terganggu karena harus mencari uang dan bolak – balik ke Jakarta – Cirebon. Dan dalam perenungan saya tidak ada jalan lain selain menjadi entrepreneur. Berawal dari program UI Young Smart Entrepreneur, saya mengembangkan bisnis peternakan kambing bernama ‘GardenDi’. Mulai dari 8 ekor, meningkat jadi 18 ekor hingga ratusan ekor ketika investor semakin bertambah. Saya pun bisa membantu orang tua dan adik saya (Andi anak ke-3 dari 6 bersaudara –red). Tahun 2008 saya dirikan CV. Produktif Indonesia dan mulai merambah ke bisnis properti. Kata produktif saya gunakan karena sering saya dengar selama menjadi etoser. Untuk mempertajam kemampuan wirausaha, saya mengikuti sekolah bisnis, bergabung dengan komunitas pengusaha dan memiliki guru – guru di bidang entrepreneurship.

Apa ada kontribusi ke masyarakat yang Anda lakukan dalam usaha Anda?
Belum besar memang, namun saya berusaha memberdayakan masyarakat melalui usaha saya. Saat ini, pengelolaan kambing sudah dilakukan oleh petani setempat dengan rasio petani : kambing sekitar 1 : 10. Untuk usaha “Raja Aqiqah” juga memberdayakan masyarakat setempat untuk memasak hingga mengirimkan pesanan. Sebelumnya, mereka mendapat pelatihan di Jakarta. Alhamdulillah, bisa membantu orang lain menambah penghasilannya. Selain itu, untuk pengelola juga disiapkan makan gratis, berbagai bingkisan, oleh – oleh dan hadiah ketika lebaran. Setiap bulannya saya juga coba menyisihkan 1 – 2 juta untuk anak yatim di kampung saya. Saya masih harus banyak belajar dari orang – orang seperti Eri Sudewo, Sandiaga Uno ataupun Fauzan Hangriawan (entrepreneur lele –red)

Lalu bagaimana pengalaman aktivitas sosial kemasyarakatan Anda selama di kampus sehingga Anda terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi kategori Sosial (selain juga menyabet penghargaan serupa kategori Kewirausahaan –red) ?
Sejujurnya, berbicara tentang aktivitas sosial kemasyarakatan, saya banyak sekali memperolehnya dari Etos, mulai dari DLC (D’etos Learning Centre, pendidkan gratis dan taman baca Etos Jakarta –red), Jumantik Cilik, Operasi Bersih Ciliwung, Sekolah dan Pelatihan Relawan Cilik di Cilwung, Festival Anak Shaleh, Kepedulian Koin Prita, Sekolah ceria Situ Gintung hingga Perayaan HUT RI di sekitar asrama Etos. Saya sempat juga menjadi duta aksi lingkungan dan program tanggap bencana dan berkeliling ke seluruh etoser Indonesia.

Menurut Anda, apa sih istimewanya berbagi?
Berbagi itu yang jelas bukan cuma materi, tetapi ada keterlibatan emosional di dalamnya. Karenanya orang yang tulus berbagi, akan memberikan segala yang dimilikinya tanpa hitung – hitungan. Berbagi itu memang membutuhkan pengorbanan dan komitmen. Saya banyak belajar tentang nilai berbagi dari Bang Fauzan (Fauzan Hangriawan –red), beliau sempat mengingatkan bahwa suatu saat kita pasti akan membutuhkan bantuan orang lain, dan saat itu gemar memberi akan menyelamatkan kita.

Ada pesan untuk etoser nusantara?
Saya akan menyampaikannya dalam prespektif entrepreneur. Pertama, ke depan Etos harus punya aset produktif sebagai sumber pembiayaan, beberapa tahun ke depan saya akan coba men-supportnya. Sebagai awalan, mungkin salah satu aset rumah yang saya miliki di Kukusan bisa lah dijadikan basecamp alumni etos. Kedua, etoser harus berani “break to”, melewati batasan dan mengoptimalkan potensi jangan sekedar cari aman dan menjalani hidup apa adanya.

Sekilas tentang Andi Nata :
Lahir di Cirebon, 7 Januari 1989, Mahasiswa Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia angkatan 2007 ini sekarang masih aktif sebagai Presiden Direktur CV. Produktif Indonesia dan Presiden Direktur Koperasi Masyarakat Teknik FTUI Mahasiswa Berprestasi Kategori Sosial dan Kategori Entrepreneur FTUI ini pernah menjadi pemenang lomba Ide Marketing Yamaha – FEUI dan pemenang Wirausaha Muda Mandiri program UI Young Smart Entrepreneur. Walaupun masih mahasiswa, dari usahanya ia sudah memiliki 200 ekor kambing, 5 motor operasional, 2 mobil pick up, 4 unit rumah, tanah seluas 1400m2 dan belasan karyawan.

Softlaunching Beasiswa Aktivis

Pendidikan adalah salah satu kunci untuk kebangkitan bagi sebuah bangsa dan salah satu elemen kebangkitan yang sangat berperan adalah para pemudanya. Karenanya pendidikan pemuda dan mahasiswa harus memperoleh perhatian khusus untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa. Berbagai pengalaman LPI – DD dalam mengelola beasiswa investasi sumberdaya manusia dan pemberdayaan, mengantarkannya untuk juga memperhatikan para pemuda khususnya aktivis mahasiswa yang penuh dengan semangat, idealisme dan potensi untuk perbaikan suatu bangsa. Padatnya aktivitas akademis dan non akademis, ditambah dengan rongrongan untuk lebih realistis, membuat aktivis cenderung untuk tidak seimbang dan tergadai idealismenya. Padahal idealisme itulah yang membuat mereka terus berjuang, berkontribusi dan menebar kebermafaatan.

Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani, cerdas, aktif dan punya integritas untuk melayani masyarakat, dan para aktivis mahasiswa memiliki semua modalnya. Selanjutnya tinggal bagaimana sistem dapat mendukungnya. Untuk itulah diperlukan sebuah program yang mampu mendukung dan menguatkan peran aktivis mahasiswa sebagai investasi untuk lahirnya pemimpin masa depan yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan masyarakat dan terus berupaya untuk berkontribusi menjadi solusi bagi kompleksnya problematika bangsa.

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional, pada tanggal 20 – 23 Mei 2011 lalu, beasiswa aktivis nusantara (Bina Nusa) resmi dilaunching dengan melakukan pembinaan nasional. Beasiswa aktivis adalah beasiswa investasi SDM yang mengelola biaya untuk pelatihan, pendampingan, dan penugasan bagi aktivis mahasiswa. Program Beasiswa Aktivis bertujuan melahirkan SDM yang berkarakter pemimpin yang mampu berkontribusi dan berperan aktif di tengah masyarakat. Penerima manfaat juga diberikan uang penunjang aktivitas bulanan dan sebagai pilot project program dibatasi pada 24 aktivis mahasiswa yang tersebar di UI, IPB dan UGM. Softlaunching beasiswa aktivis dilakukan oleh Ahmad Juwaini (Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa) di Gedung Djoeang 45, Jakarta. Selanjutnya juga diadakan Seminar ‘Peran Aktivis Mahasiswa dalam Membangun Peradaban’, Talkshow ‘Media dan Kebangkitan Bangsa, Training Pengokohan Karakter dan City Bound. Setelah mengunjungi jajaring – jejaring Dompet Dhuafa, peserta kembali ke kampus masing – masing untuk berkontribusi dan berkarya untuk bangsa. (PU)

*dimuat di majalah Cerdas-In

Festival Anak Saleh (FAS) Etos Bogor – 5th session

Keluarga Beastudi Etos Bogor kembali akan menyuguhkan sebuah event besar bertajuk “Festival Anak Sholeh Season 5” yang diharapkan dapat menghadirkan 2000 peserta yang berasal dari Taman Kanak – Kanak/ RA dan SD/ MI se-Kota dan Kabupaten Bogor. Sebelumnya pernah diadakan acara serupa yang berhasil dihadiri oleh 1200 peserta. Kegiatan yang akan memperebutkan piala bergilir dari walikota Bogor ini terdiri dari 11 perlombaan, yaitu Lomba Cerdas Cermat Islami, Lomba Membaca Puisi, Lomba Story telling, Lomba Adzan, Lomba Mewarnai, Lomba Busana Muslim, Lomba Hifzhil Qur’an, Lomba MTQ, Lomba Da’i Cilik, Lomba Duta Peduli Pendidikan, dan Lomba Kaligrafi. Tema yang diangkat dalam FAS Bogor tahun ini adalah “Mencetak Generasi Rabbani Peduli Negeri“.

Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan anak – anak terhadap Islam sejak dini serta penanaman nilai – nilai kepedulian terhadap pendidikan yang direpresentasikan dari lomba – lomba yang diselenggarakan serta dari content acara yang disuguhkan. Kegiatan yang akan diselenggarakan pada tanggal 29 Mei 2011 ini bertempat di Gedung Graha Widya Wisuda, Institut Pertanian Bogor dan akan menghadirkan Wali Kota Bogor, menampilkan Tari Saman, penampilan dari SDIT At-Taufik sebagai Juara Umum Festival Anak Sholeh 4, Trashic Band dan berbagai acara menarik lainnya.

Menang Kompetisi dengan Kompetensi

“Obscurity and competence : that is the life that is worth living” (Mark Twain)

Sindhuja Rajamaran (14 tahun) mungkin tidak pernah menyangka namanya akan masuk dalam Guinness World Record sebagai CEO termuda di dunia. Pada saat anak seusianya disibukkan dengan gossip dan jejaring sosial, dia sudah memimpin perusahaan animasi bernama Seppan di India. Sejak usia belia, ia telah menguasai banyak software komputer, seperti Flash, Photoshop, Corel Painter, After Effects dan Maya. Kompetensi sebagai pembuat karikatur digital dan kartun termuda membuatnya layak membawahi banyak karyawan yang usianya jauh lebih tua.

* * *

Berbicara tentang kompetensi, ada beragam definisi yang dapat ditemukan. Terkait kompetensi di dunia kerja dapat dilihat dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dengan redaksi yang sedikit berbeda, definisi kompetensi tersebut juga dapat ditemukan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ada tiga aspek kompetensi yang saling melengkapi, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Tidak cukup satu atau dua aspek yang dipenuhi untuk menyatakan bahwa seseorang memiliki kompetensi, melainkan harus mencakup ketiga aspek diatas.

Dunia kerja memang erat kaitannya dengan kompetensi. Tidak sedikit lowongan pekerjaan yang mensyaratkan pengalaman tertentu karena perusahaan memang berupaya untuk mencari SDM yang berkompeten, baik secara pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Perguruan tinggi merupakan salah satu institusi penghasil SDM yang kompeten pada berbagai bidang ilmu, sehingga diharapkan dapat mengisi kebutuhan SDM dunia kerja dengan standar mutu yang optimal. Karenanya, menyiapkan kondisi yang dapat ‘mendekatkan’ antara perguruan tinggi dengan dunia kerja merupakan hal penting yang harus dilakukan.

Realita yang terjadi di Indonesia saat ini adalah terjadinya ketidaksesuaian antara kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi SDM sehingga tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang bekerja di bidang yang berlainan dengan keahlian akademiknya. Lebih jauh lagi, yang kerap menjadi permasalahan adalah SDM yang setelah memenuhi dunia kerja ternyata mereka tidak memiliki kecakapan dalam bidang pekerjaannya. Padahal orang – orang sukses umumnya memiliki kompetensi spesifik yang menjadi nilai tambah mereka. Lihat saja Mark Zuckerberg (26 tahun), kemahirannya dalam membangun jejaring sosial Facebook kini menadikannya sebagai milyarder termuda di dunia. Pun terpaksa drop out dari Harvard, Zuckerberg telah jelas – jelas memiliki kompetensi yang punya nilai jual tinggi.

Antara Hardskill dan Softskill
Beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran penting dalam hal kualifikasi, kompetensi, dan persyaratan untuk memasuki dunia kerja. Hal ini tidak terlepas dari peningkatan pengangguran terdidik –baik pengangguran terbuka maupun terselubung— karena perkembangan IPTEK dan pendidikan tinggi serta perubahan struktur sosio-ekonomi dan politik global. Saat ini, kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja lebih ditekankan pada kualitas softskills yang baik dibandingkan dengan kemampuan ilmu pengetahuan spesifik yang tinggi. Dalam riset Depdiknas (2007) terungkap bahwa faktor yang memberikan keberhasilan dalam dunia kerja adalah soft-skills (40%), networking (30%), hard-skills (20%), dan financial (10%). Pentingnya soft skill dalam dunia kerja ini juga diungkapkan dalam berbagai penelitan, dalam dan luar negeri.

Teichler (1999) mengungkapkan beberapa hal yang menjadi pertimbangan sehingga softskill lebih diminati dunia kerja. Menurutnya, pengetahuan spesifik cenderung cepat menjadi usang, sedangkan softskill dapat digunakan untuk mengatasi masalah dalam konteks profesional dan mengatasi ketidakpastian (uncertainty) yang merupakan kunci untuk bertahan di dunia kerja. Selain itu, persyaratan dunia kerja dewasa ini tampak semakin universal dan menunjukkan harmoni antara ekonomi neoliberal yang global dan peningkatan tanggung jawab sosial serta solidaritas secara bersamaan. Belum lagi adanya pergeseran anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi sekedar mempersiapkan seseorang untuk bekerja, namun lebih kepada mempersiapkan seseorang untuk hidup lebih baik. Dan kesemuanya itu lebih membutuhkan softskill daripada sekedar hardskill.

Hal senada juga diungkapkan Kasubdit Pengembangan Karir Mahasiswa DPKHA IPB, Iin Sholihin. Dosen Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB ini menyampaikan bahwa secara garis besar dunia kerja terbagi menjadi dua, dunia kerja yang butuh kepakaran tertentu dan dunia kerja yang bersifat multidisiplin. Menurutnya, lulusan PTN di Indonesia secara hardskill tidak terlalu bermasalah, namun masih ada kelemahan dari sisi softskill. Softskill yang dimaksud diantaranya kemampuan komunikasi, adapasi dan penampilan yang masih perlu ditingkatkan, tambahnya. Bapak kelahiran Kuningan ini juga mengungkapkan kecenderungan lulusan PTN untuk berwirausaha semakin meningkat setiap tahunnya. Kampus dan dunia kerja pun menyambut baik. Meskipun demikian, usaha-usaha yang dirintis oleh mahasiswa memang kadang kala tidak selalu sukses. Menurut pria kelahiran 10 Desember 1970 ini, hal ini dilatarbelakangi oleh fokus mahasiswa yang belum sepenuhnya tercurah pada usaha, mudahnya mahasiswa meninggalkan usaha ketika mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan dan motif mengikuti program kewirausahaan seringkali sekedar untuk mengambil dana saja.

Meningkatkan Kompetensi
Ada berbagai cara untuk meningkatkan kompetensi diri, tidak hanya dilakukan secara personal, tidak sedikit lembaga yang mencoba memfasilitasinya. Career Development Center Universitas Indonesia (CDC – UI), misalnya. Selain mengadakan program rekrutment dan UI Career Expo, CDC – UI juga mengadakan program persiapan karir yang bertujuan untuk mengembangkan potensi diri lulusan agar bisa memasuki dunia kerja sebagai tenaga siap pakai. Seminar dan pelatihan pengembangan karir diberikan secara rutin oleh praktisi dunia kerja agar lulusan bisa mendapatkan gambaran tentang persiapan kerja yang harus dilakukan.

Dua hal mendasar yang perlu dilakukan untuk dapat terus meningkatkan kompetensi diri adalah fokus dan mau terus belajar. Orang yang berkompeten biasanya memiliki bidang keahlian khusus yang dikuasai hingga hal – hal yang sifatnya detail. Orang yang berkompeten biasanya tidak mau berhenti belajar, aktif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta terus memperbaiki sikap kerjanya. Untuk dapat fokus dibutuhkan tujuan yang jelas berserta tahapan dan timeline pencapaian tujuan serta kesungguhan untuk dapat mencapainya, termasuk membuat pengingatan dan motivasi diri. Untuk termotivasi agar terus belajar perlu disadari bahwa masih banyak potensi yang belum digali, ilmu yang belum diraih, tempat yang belum dikunjungi, keahlian yang belum dimiliki, prestasi yang belum diraih dan orang – orang hebat yang belum diambil inspirasinya.

Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa upaya meningkatkan kompetensi tidak hanya didapat di ruang – ruang kelas, seminar ataupun pelatihan, tetapi bisa dimana saja dan kapan saja. Pihak yang dapat membantu peningkatan kompetensi pun tidak terbatas pada lembaga pengembangan karir & SDM saja. Perkembangan dunia akan melesat ketika setiap orang memiliki kompetensi dan terus mengembangkannya. Dan keseimbangan dunia akan tercipta ketika setiap orang memiliki kompetensi dan mengaplikasikannya dalam kebermanfaatan. Sebelum jatuh dalam impian panjang, baiknya kita refleksi diri, apa kompetensi yang sudah kita miliki dan apa kebermanfaatannya bagi dunia?

Menang Kompetisi dengan Kompetensi

 

“Bila seseorang bekerja sebagai penyapu jalan, semestinya ia tetap menyapu jalan meski Michelangelo sedang mengecat di sana, atau Beethoven sedang menggubah lagu, atau Shakespeare sedang menulis puisi. Ia harus tetap menyapu jalan sebaik mungkin sehingga seluruh penghuni surga dan bumi terpesona berkata, “Hai, ada penyapu jalan yang melakukan pekerjaannya dengan baik.” (Martin Luther King)

* * *

Siapa yang tidak mau memiliki penghasilan mencapai $181.850 (atau sekitar Rp. 1,6 milyar) per bulan? Penghasilan yang beberapa kali lipat lebih besar dari gaji presiden AS atau bahkan sekjen PBB itu adalah gaji tertinggi milik seorang ahli bedah. Pekerjaan sebagai dokter bedah memang menyangkut nyawa, namun ternyata penghasilan seorang ahli IT ataupun video game designer yang sepertinya tidak terlalu beresiko juga terbilang ‘wah’. Kompetensi, itulah kata kuncinya. Pekerjaan dengan penghasilan tertinggi di dunia selalu dimiliki oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan suatu peran atau tugas, mampu mengintegrasikan dan membangun pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai pribadi yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. Atau sederhananya biasa disebut kompetensi.

Berbicara tentang kompetensi memang tidak dapat terlepas dari profesionalitas, namun bukan pula berarti melulu bicara tentang tingginya penghasilan. Definisi kompetensi yang dipahami selama ini adalah mencakup penguasaan terhadap 3 jenis kemampuan, yaitu pengetahuan (knowledge, science), keterampilan teknis (skill, technology) dan sikap perilaku (attitude). Kemampuan inilah yang kemudian dihargai tinggi. Permasalahan SDM bangsa ini pun tidak dapat dipisahkan dari kompetensi SDMnya yang masih kurang mampu bersaing. Kalau tidak lemah secara pengetahuan, lemah secara keterampilan atau kurang dari segi perilaku. Padahal tidak sedikit catatan emas sejarah dan prestasi anak bangsa di kancah internasional yang membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan keturunan ataupun potensi bangsa ini.

Adalah sebuah ironi dalam sistem pendidikan ketika kompetensi coba diperoleh dengan cara yang tidak elegan. Kelulusan mungkin bisa dipaksakan, namun kompetensi tidak serta merta menyertainya. Ijazah mungkin dapat diperdagangkan, namun kompetensi tidaklah bisa dibeli. Berbagai titel dan gelar demi gengsi bisa diraih dengan berbagai kecurangan, namun kompetensi di dunia nyata tidaklah bisa dikelabui. Padahal kompetensi akan mendatangkan penghargaan tanpa harus dicari. Padahal kompetensi selayaknya dimaknai dengan integritas pribadi yang memiliki pengetahuan dan keterampilan serta melandasinya dengan perilaku terpuji demi kebermanfaatan yang lebih luas.

Fokus pada kompetensi bukan berarti menyempitkan sudut pandang. Analoginya, jika kita menggali lubang di tanah, semakin dalam lubang yang kita gali, akan semakin luas pula tanah bagian atas yang tergali. Semakin dalam kompetensi (spesifik), semakin luas pula wawasan umum (kompetensi dasar) yang dimiliki. Fokus pada kompetensi tidak juga mengajarkan kita untuk egois karena muara kompetensi adalah kemaslahatan bersama. Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa suatu urusan yang dipercayakan pada orang yang tidak berkompeten (bukan ahlinya), maka tinggal menunggu kehancurannya. Karenanya perubahan ke arah kebaikan hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kompetensi. Dengan kompetensi, kita dapat mengukir lebih banyak prestasi, melakukan lebih banyak kontribusi dan berjuang lebih cerdas untuk membangun negeri. Mari terus kita kembangkan kompetensi diri!!

(tulisan ini dimuat dalam kolom ‘Gugah’, bulletin Etosmorphosa edisi perdana)