Category Archives: Resensi

Review Buku “Keajaiban Silat”

Ada empat tujuan belajar silat, yaitu untuk beribadah atau mengenal Tuhan melalui diri sendiri, menjalin silaturahim, menjaga kesehatan, dan melestarikan budaya.
(Alm. Lazuardi Malin Marajo – Guru Besar Perguruan Silek Kumango)

Dalam KBBI, silat didefinisikan sebagai olahraga (permainan) yang didasarkan pada ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan menggunakan senjata maupun tidak. Adapun definisi pencak silat menurut Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) dan Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela, mempertahankan eksistensi (kemandiriannya) dan integritasnya (manunggal) terhadap lingkungan hidup/ alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selama ini, masyarakat umum menilai silat sebagai olahraga beladiri, bahkan tidak jarang diidentikkan dengan perkelahian atau kekerasan. Padahal bagi para pesilat, silat adalah filosofi pola perilaku jasmani, rohani, serta sikap mental dan pola pikir manusia. Syaikh Abdul Rahman Al Khalidi Kumango, pencetus aliran Silat Kumango dari Minangkabau mengatakan bahwa silat lahir hanya 25%, dan yang 75% lagi adalah olah batin, olah rasa, atau pemahaman mengenai kaidah-kaidah kehidupan yang universal. Buku “Keajaiban Silat” karangan Edwin Hidayat Abdullah coba untuk menguatkan sisi filosofi silat yang selama ini kurang dikenal. Hasilnya adalah sebuah buku kaidah silat dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak mengajarkan menendang, memukul, menangkis, apalagi membanting lawan. Silat diposisikan sebagai hidden national treasure yang kaidahnya bersifat universal dan semua orang bisa mengambil manfaatnya.

Kekuatan dari buku ini terletak pada perspektif yang tidak mainstream tentang silat dan dibuat berdasarkan pengalaman nyata. Ketika silat dipandang sebagai pendidikan kearifan yang penuh dengan kaidah yang relevan dengan kehidupan keseharian, inspirasi nyata dari berbagai sumber menguatkan sudut pandang tersebut. Ketika berbicara mengenai filosofi silat dengan kehidupan, kepemimpinan, bisnis, hingga manajemen konflik, pembaca tidak akan merasa digurui karena pengalaman dan pelajaran dalam perjalanan kehidupan sifatnya reflektif, tidak menggurui. Dan buku ini tentunya mampu menambah khazanah dan referensi mengenai (filosofi) silat yang saat ini jumlahnya masih sangat terbatas.

Ada 17 kaidah silat yang diungkapkan dalam buku ini yang ternyata sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya kaidah pertama tentang arah yang merefleksikan pilihan hidup manusia. Selain kaidah yang nampak teoritis, buku ini juga mengungkapkan berbagai kisah yang inspiratif. Misalnya saja ambisi seseorang yang dianalogikan oleh Alm. Lazuardi Malin Marajo dengan filosofi makan. Ketika masih kekurangan dan tidak punya apa-apa, orang akan bertanya, “Bagaimana saya makan hari ini?”. Ketika sudah mampu mencukupi kebutuhan dasarnya, pertanyaannya akan berubah menjadi, “Makan apa saya hari ini?”. Ketika pemenuhan kebutuhan dasarnya sudah lebih dari cukup dan status sosialnya meningkat, pertanyaannya akan berubah menjadi, “Dimana saya makan hari ini?”. Dan ketika semua kebutuhan hidupnya terpenuhi, pertanyaan yang muncul menjadi, “Siapa yang saya makan hari ini?”, sebuah gambaran mereka yang tidak mampu mengendalikan ambisinya.

Tidak ada gading yang tak retak, buku “Keajaiban Silat” yang kaya filosofi dan cerita ini juga butuh beberapa perbaikan, terutama dilihat dari kekuatan penyampaian. Judul “Keajaiban Silat: Kaidah Ilmu Kehidupan dalam Gerakan Mematikan” terasa terlalu berat dan kurang relevan karena hampir tidak ada penekanan mengenai keajaiban dan kedahsyatan silat. Masyarakat awam yang membaca sepertinya takkan menangkap hal yang luar biasa karena kurangnya dramatisasi penyampaian. Misalnya filosofi “tiga serangan dan satu balasan” yang sebenarnya mengungkapkan empat hal penyebab konflik (love/ relationship, value & faith, knowledge & intellectual pride, dan interest) tidak terasa istimewa. Kesan yang dimunculkan adalah filosofi silat relevan dengan ilmu manajemen modern, bukan sebaliknya. Filosofi silat yang lahir berabad-abad sebelumnya dari ilmu manajemen modern tidak ditonjolkan sehingga tidak ada kesan ajaib dan mencengangkan.

Kekuatan penyampaian ini terasa semakin kurang dengan minimnya referensi yang diungkapkan. Daftar pustaka bahkan tidak ada, padahal beberapa bagian buku menyampaikan pentingnya data. Referensi ini sebenarnya dapat menggambarkan keajaiban silat. Kaidah kelima misalnya, “Semakin kuat kita menekan lawan, maka semakin kuat lawan bertahan dan balas menekan” sebenarnya mirip dengan teori medan gaya (force field theory) yang dikemukan Kurl Lewin tahun 1943. Tentu lebih mencengangkan jika dapat dibuktikan bahwa teori tersebut sudah diungkapkan oleh para pesilat berabad-abad sebelumnya. Filosofi Madi – Sabandi – Kari juga bisa jadi identik dan lebih mudah dijelaskan dengan teori/ model proses perubahan (Model of Change Process, Kurt Lewin & Edgar H Schein) atau mungkin dengan tiga tahap transisi vital (Bogue, 1969).

Di sisi lain, kurangnya referensi dapat meningkatkan sikap kritis pembaca untuk pengembangan tulisan. Wisdom (kearifan) yang disamakan dengan tacit knowledge misalnya, sebenarnya kurang tepat jika ditinjau dalam terminologi knowledge management. Atau bahkan kaidah pertama empat arah silat yang kurang tepat jika dikaitkan dengan gerak silat dalam dimensi ruang yang seharusnya memiliki 6 arah (kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah). Alur penyampaian juga agak ‘janggal’, lihat saja kaidah 1 sampai 17 yang semakin lama semakin sedikit pembahasannya. Atau bagaimana pembahasan silat dan kepemimpinan di awal sebanyak 32 halaman, namun ketika membahas silat dan manajemen konflik di akhir hanya sebanyak 16 halaman. Belum lagi bagian penutup yang menyisakan tanda tanya, tidak berbeda dengan bagian pengantar.

Terlepas dari kekurangan dari sudut pandang penyampaian tersebut, buku ini sangat layak mendapat apresiasi karena mencoba mengungkap keunggulan silat yang selama ini tertutup oleh ulah oknum yang mencoreng wajah persilatan. Buku ini secara lugas membuka wawasan bahwa silat bukan sekedar perkara pukul memukul, namun ada universal wisdom yang coba diperkenalkan. Ada banyak inspirasi tentang pendidikan kearifan melalui silat dalam buku ini yang sangat berharga dalam menjalani kehidupan. Sekali lagi, silat bukanlah sekedar olah raga, bela diri dan seni semata, tetapi ia memiliki spiritualitas yang kuat yang mendidik seseorang menjadi seorang adi manusia, a noble man.

Seorang pendekar yang memahami dan menjalankan spiritualitas silat dalam kehidupan sehari-hari adalah seorang manusia luar biasa atau dalam ungkapan Betawi: kagak ada matinye. Seorang pendekar dikatakan kagak ada matinye, bukan karena dia jago berkelahi, tapi ketinggian akhlaknya, kecerdasannya berpikir, dan pemuliaannya terhadap sesama yang membuat ia selalu mendapat kehormatan di mana pun dia berada. Seorang pendekar adalah seorang yang mampu memanusiakan manusia.
(DR. Eddie M. Nalapraya dalam buku “Keajaiban Silat”)

Karena Mendidik dan Memanjakan Tidaklah Sama

“Jika kita terlalu memanjakan diri kita sendiri, dunia akan keras pada diri kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, dunia akan memanjakan kita” (Abu Syauqi)

Belakangan ini istilah ‘pendidikan karakter’ begitu familiar dengan dunia pendidikan. Dalam lingkup sekolah, pembentukan karakter siswa sangat dipengaruhi oleh karakter guru. Guru yang berkarakter adalah guru yang bisa digugu (dipercaya dan dipatuhi) dan ditiru (diteladani), guru yang benar-benar mendidik, bukan sekedar menyampaikan materi ajar. Berbicara tentang guru berkarakter, penulis teringat akan sebuah dorama Jepang yang berjudul “The Queen’s Classroom”. Adalah Maya Akutsu, guru yang mendidik siswa dengan menerapkan metode yang sangat ketat dan disiplin. Siswa tidak boleh terlambat masuk kelas, tidak diperkenankan ke toilet selama pelajaran berlangsung dan tidak boleh menyisakan makan siang. Selain kedisiplinan siswa, nilai tentang kompetisi juga ditanamkan. Tes dilakukan setiap pekan, dua orang siswa dengan nilai terendah akan menjadi ‘pembantu’ di kelas, mulai dari menghapus papan tulis, menyiapkan makan siang, hingga membersihkan WC sekolah. Upaya untuk melaporkan guru mereka ke sekolah maupun orang tua selalu gagal karena kelihaian Oni Sensei (Devil Teacher) dalam berargumentasi. Belum lagi Oni Sensei mengetahui semua rahasia dari para siswa. Alhasil, walaupun dalam tekanan dan ketakutan para siswa pun mematuhi semua aturan yang dibuatnya.

Adalah Kanda Kazumi, siswi yang ceria, ramah dan setia kawan yang mencoba mengembalikan ‘keceriaan’ kelas seperti sebelumnya. Cengkraman Oni Sensei yang begitu kuat di lingkungan sekitarnya justru membuatnya berkali-kali terlibat masalah hingga nyaris putus asa. Disinilah mulai terlihat maksud baik dari Oni Sensei di balik segala sikap dingin dan menakutkannya. Metode yang diterapkan tanpa disadari terbukti mampu menyatukan kelas, membuat siswa tidak ada yang terlambat, gemar belajar dan lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Jika sebelumnya, Oni Sensei begitu menyebalkan, akhirnya justru malah dicintai. Maya Akutsu telah mengajarkan bahwa mencintai siswa bukan berarti selalu menuruti kemauan mereka dan harus tetap ada jarak antara pendidik dengan peserta didik sehingga guru tetap dihormati dan tidak diremehkan. Maya Akutsu menunjukkan totalitas dalam mendidik, di balik sikap dinginnya, ternyata ia nyaris tidak tidur hanya untuk memastikan semua siswanya dalam keadaan baik dan ia dapat membuat laporan perkembangan harian per siswa. Berbagai pengalaman pahitnya dalam mengajar membuatnya harus mengajarkan kepada siswa realita kehidupan yang keras, tidak ada waktu untuk bersikap malas dan manja, sekaligus mengajarkan bagaimana bisa tegar dan keluar dari keputusasaan.

Sudah lumrah, cinta memang akan membuat seseorang mencintai segala yang dicintai oleh yang dicintainya. Kecintaan kita terhadap seseorang yang kita didik kerap kali membuat kita memanjakannya dengan mencoba memenuhi segala keinginannya. Padahal mendidik jelas berseberangan dengan menuruti syahwat orang yang didik dan membiarkan mereka merasa aman dari berbagai kesalahan. Pendidik harus berani menegakkan aturan main yang kadangkala harus juga menjalankan peran antagonis terhadap yang dididik, mulai dari menegur, memarahi bahkan menghukum. Hukuman atas penyelewengan terhadap aturan main merupakan bagian dari mendidik karakter selama tidak dilandasi kebencian dan tidak dilakukan berlebihan, baik verbal, fisik maupun mental. Pun demikian, aturan main tidak seharusnya berupa ancaman yang menakutkan dan hukuman pun hendaknya disesuaikan dengan motif/ alasan seseorang yang kita didik sehingga tidak menimbulkan trauma yang berdampak buruk di masa mendatang.

Keteladanan, ketegasan dan konsistensi adalah tiga hal yang menjadi syarat sekaligus tantangan dalam mendidik. Tanpa keteladanan, tiada arti segala aturan, tiada makna segala aturan. Tanpa ketegasan takkan lahir kedisiplinan. Dan tanpa konsistensi, perbaikan yang terjadi akan segera terhenti. Lalu bagaimana dengan memanjakan? Memanjakan dalam artian mencurahkan kasih sayang jelas tidak bertentangan dengan tiga hal di atas. Memanjakan dalam konteks upaya memberikan yang terbaik, dari harapan dan kenangan orang yang dicintai juga tidak akan saling melemahkan dengan upaya mendidik. Namun ketika memanjakan didefinisikan sebagai menuruti semua kemauan dan memenuhi segala keinginan, ia akan kontraproduktif dengan esensi pendidikan. Ketika memanjakan diartikan sebagai tidak pernah menegur, memarahi apalagi sampai menghukum, maka yang terbentuk hanyalah seonggok manusia arogan yang merasa tidak pernah salah.

Mendidik berarti menguatkan nilai-nilai positif dalam hidup, sedangkan memanjakan akan melemahkan jiwa. Mendidik akan membentuk mental yang kuat, sedangkan memanjakan akan melahirkan penakut dan pecundang. Mendidik akan membentuk sikap dan karakter yang kuat, sedangkan seseorang yang terbiasa dimanjakan akan mudah terbawa arus. Pendidikan akan mengajarkan kesulitan dalam realita hidup dan cara mengatasinya, sementara seseorang yang terus dimanjakan akan rapuh ketika menghadapi masalah, mengeluh ketika menemui kesulitan dan cepat putus asa ketika usahanya tak jua menemukan hasil. Di satu sisi, ia akan urakan, tidak taat aturan. Di sisi lain, ia tergantung orang lain, tidak bisa mandiri.

Semasa SMA, ada seorang guru yang sangat ditakuti, tegas dan tidak segan mengeluarkan siswanya dari kelas. Penulis bahkan pernah memperoleh nilai 0 (nol) karena dinilainya tidak serius (bercanda) ketika ulangan. Namun ternyata kelas yang diajarnya selalu lebih unggul dibandingkan kelas lain. Metodenya terbukti efektif bagi siswa dalam menagkap pelajaran. Dan dibalik ketegasan almarhumah, penulis tahu benar besarnya perhatian beliau pada siswa-siswanya. Ya, karena mendidik berbeda dengan sekedar mengajar, apalagi memanjakan. Selain ilmu, ada nilai-nilai tentang kehidupan yang menyertainya. Ayah penulis bukan seseorang yang dekat dengan anak-anaknya karena ketegasannya, namun beliau menjadi figur ayah yang dihormati dan tidak diragukan kecintaannya kepada keluarganya. Ya, karena cinta tidak melulu ditunjukkan dengan keakraban tanpa jarak, apalagi jika kita berbicara tentang pendidikan anak.

Bicara tentang pendidikan, berarti berbicara tentang kualitas SDM di masa mendatang. Untuk menyukseskannya dibutuhkan pendidik yang dapat menjadi teladan, tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan. Sudah terlalu banyak aturan yang dilanggar karena pola didik yang memanjakan. Egaliter dalam mendidik jangan sampai menurunkan wibawa pendidik yang sudah sewajarnya ada ‘di atas’ yang dididik. Ketegasan dan kedisiplinan mungkin akan terasa tidak menyenangkan bahkan membebani, namun seperti itulah perwujudan cinta. Buah hasil pendidikan memang baru dapat dinikmati di masa mendatang. Kegigihan dan ketegaran yang lahir dari sikap tidak memanjakan mungkin baru akan terasa manfaatnya ketika yang didik sudah tidak lagi bersama pendidiknya. Mereka yang dididik dengan tidak dimanja akan lebih siap menghadapi dunia. Tidak salah nasehat Abu Syauqi, “Jika kita terlalu memanjakan diri kita sendiri, dunia akan keras pada diri kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, dunia akan memanjakan kita”.

Open your eyes. Of course there are going to be worries in life. The important things are not losing confidence, not paying attention to rumors, and not hurting others…
(Maya Akutsu, “The Queen’s Classroom)

Matilda, Tak Selamanya Orang Tua Benar

“Aku tidak pernah bisa mengerti apa sebabnya anak-anak kecil begitu menyebalkan. Mereka racun kehidupanku. Mereka seperti hama serangga yang perlu disingkirkan…”
(Miss Trunchbull, halaman 172)

Terbayangkah jika kata-kata di atas diucapkan oleh seseorang yang setiap harinya berinteraksi dengan anak-anak? Apa jadinya suatu sekolah jika kepala sekolahnya sangat membenci anak-anak, kerap mengumpat mereka dengan kata-kata yang tidak pantas bahkan sering berlaku kasar? Ya, sosok kepala sekolah mengerikan seperti itulah yang dimunculkan dalam novel ‘Matilda’ karangan Roald Dahl. Kepala sekolah bertubuh besar yang arogan dan bersikap sewenang-wenang terhadap yang orang yang lebih kecil dan lebih muda. Seakan-akan orang yang lebih kuat selalu benar, seolah-olah orang yang lebih tua pasti lebih mengerti. Dan kenyataannya, kedewasaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia, setidaknya itulah yang ditunjukkan oleh Matilda, tokoh utama dalam novel yang pertama kali terbit tahun 1988 ini. Matilda adalah seorang anak cerdas untuk ukuran anak seusianya, namun mempunyai orang tua yang tidak baik dalam hal pola asuh. Ayahnya, Harry, adalah seorang pedagang mobil bekas yang tidak jujur, arogan dan berusaha mewariskan ketidakjujurannya itu kepada Michael, kakak Matilda. Ibunya juga bukan ibu yang baik, terkesan materialistik, pemalas, hanya menyibukkan dirinya dengan bermain Bingo dan menonton TV. Dan yang pasti kedua orang tuanya mengabaikan keberadaan Matilda, bahkan cenderung tidak menyukai anak perempuan mereka yang ‘berbeda’ dan menganggapnya sebagai beban.

Ibarat mutiara di tengah lumpur, pun Matilda dibesarkan di lingkungan yang tidak kondusif, tidaklah sulit ditemukenali kelebihannya. Adalah Mrs. Phelps, seorang penjaga perpustakaan umum yang mendapati kegemaran Matilda akan membaca, padahal anak seusianya yang belum genap lima tahun biasanya masih kesulitan membaca. Ia pun memfasilitasi minat Matilda tersebut dengan memberi pinjaman buku. Potensi Matilda semakin terlihat setelah Matilda masuk sekolah dasar. Adalah Miss Honey, guru kelasnya yang memperhatikan hal tersebut dan berupaya untuk mengembangkan kemampuan Matilda. Namun sayang upayanya terhalang oleh Miss Trunchbull yang tak lain adalah atasannya di sekolah sekaligus bibinya yang telah membunuh dan merampas kekayaan ayahnya serta memberinya trauma masa kecil yang mengerikan. Di akhir kisah, Miss Trunchbull dibuat jera oleh kemampuan supranatural yang dimiliki Matilda dan akhirnya Matilda tinggal bersama Miss Honey setelah keluarganya harus pergi ke luar negeri.

Kisah tentang anak kecil yang memiliki kecerdasan otak bahkan kemampuan supranatural mungkin bukan hal baru, sehingga tidak terlalu istimewa. Berbagai kekerasan baik fisik maupun verbal, baik di rumah maupun di sekolah Matilda, yang begitu gamblang digambarkan dalam novel best seller yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa ini juga berlebihan untuk ukuran novel anak-anak. Namun pesan mengenai pentingnya pendidikan dan pola asuh anak dalam novel yang pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 1996 dengan judul serupa dan dibintangi oleh Mara Wilson ini begitu terasa.

Orang tua Matilda adalah contoh orang tua yang tidak baik dalam mengasuh anak. Pertama, dari segi keteladanan, jelaslah sikap dan kata-kata kedua orang tua Matilda tak layak dicontoh. Melemahkan dan mengerdilkan jiwa. Kedua, dari segi kebijaksanaan, perbedaan perlakuan (diskriminasi) terhadap dua orang anak yang dilakukan oleh orang tua Matilda jelas tidak dibenarkan. Michael tidak bersalah karena ia sebenarnya juga merupakan korban kesalahan pola asuh orang tuanya. Ketiga, ketidakjujuran orang tua dalam bekerja, bahkan hendak mewariskan kecurangan tersebut kepada anaknya juga jelas merupakan sikap yang keliru dalam mendidik. Kebohongan ibarat bom waktu yang setiap saat siap menghancurkan pelakunya. Selanjutnya, orang tua memang lebih berpengalaman, namun tidak seharusnya bersikap sombong dan sok benar kepada anak-anaknya. Karena bisa jadi mereka hanya menang usia, namun tidak lebih baik dari anak-anak mereka. Terakhir, sikap materialistik yang ditunjukkan kedua orang tua Matilda jelas tidak patut diteladani. Kekayaan materi jelas bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan, karenanya tak layak dijadikan satu-satunya tujuan hidup.

Setali tiga uang dengan Matilda, Miss Honey pun mendapat pola asuh yang tidak baik. Ayahnya mungkin dikesankan sebagai seorang dokter kaya yang baik, namun ketika ia memilih Miss Trunchbull sebagai pengasuh Matilda jelas sikap yang tidak tepat. Sudah menjadi kewajiban orang tua memilihkan pengasuh yang terbaik bagi anaknya. Dan figur orang tua terburuk dalam novel ini tentu saja Miss Trunchbull. Kebenciannya pada anak-anak menjadi hal mendasar yang seharusnya tidak dimiliki oleh orang tua yang baik. Kebencian itulah yang kemudian melahirkan pikiran, kata-kata dan perilaku yang sangat buruk terhadap anak-anak. Belum lagi arogansi, kekejaman dan berbagai kejahatan yang dilakukannya. Disegani anak-anak mungkin masih bisa dianggap positif, namun ditakuti oleh anak-anak tentunya memperlihatkan buruknya jiwa. Karena jiwa anak-anak yang masih polos hanya dapat didekati dengan aura positif. Pun tidak dijelaskan, sepertinya Miss Trunchbull juga mengalami pola asuh yang tidak baik.

Pola asuh yang tidak baik akan membekas bagi seorang anak bahkan di hari tuanya. Bisa jadi ia tumbuh menjadi seseorang yang minder namun pendendam. Tertutup namun didalamnya penuh gejolak yang bisa meledak kapan saja. Betapa banyak pelaku kejahatan yang berbuat jahat karena trauma masa kecilnya, karena pola asuh keluarganya yang tidak baik. Ada pula anak yang langsung menyikapinya dengan kenakalan yang sangat tanpa menunggu dewasa. Lingkungan di luar keluarganya dijadikan pelampiasannya. Jangan lupakan bahwa anak-anak penuh dengan kreativitas, penyikapan terhadap sesuatu yang tidak disukainya bisa jadi diluar nalar orang dewasa. Jadi, jika ada masalah dengan anak kita, bisa jadi ada yang salah dengan cara kita mendidik. Anak yang berbuat kekeliruan tidak selamanya telah berbuat salah, bisa jadi kesalahan ada pada pola asuh di keluarganya atau pengaruh negatif di lingkungannya. Disinilah peran pendidikan anak yang tepat memegang peran, sehingga kenakalan itu menjadi gerbang pembuka kecerdasan. Sikap cari perhatian yang kerap ditunjukkan seorang anak, tidak harus menjadi masalah jika orang tuanya dapat menyikapinya dengan baik.

“Apabila ingin berhasil melakukan sesuatu, jangan berbuat setengah-setengah. Lakukan sampai keterlaluan. Usahakan agar semua yang dilakukan itu benar-benar edan, sehingga tidak masuk akal bahwa itu bisa terjadi…” (Matilda, halaman 127)

Quote Ranah 3 Warna

Sudah cukup lama berselang, tulisan baru sepertinya belum kunjung muncul. Perubahan status seharusnyanya tidak bisa jadi alasan untuk kurang produktif menulis, toh blog pendamping hidupku bulan ini saja sudah ada 5 postingan baru. Kayaknya harus ke “Rumah Sakit Malas” nih seperti Alif dan Togar dalam trilogi ‘Ranah 3 Warna’. Berbicara tentang buku karya Ahmad Fuadi tersebut, berikut adalah beberapa quote yang sepertinya menarik untuk dibagi. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

#1 Bersabar dan ikhlashlah dalam setiap langkah perbuatan. Terus – meneruslah berbuat baik ketika di kampung dan di rantau. Jauhilah perbuatan buruk dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bum dan di atas bumi. Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir. Sunguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai. Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu. Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda. Singsingkan lengan baju dan besungguh – sungguhlah menggapai impian. Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan. Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan, karena debat kusir adalah pangkal keburukan.

#2 Going the extra miles. I’malu fauqa ma ‘amilu. Berusaha di atas rata – rata orang lain.

#3 Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

#4 Sungguh do’a itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkan dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti dengan yang lebih cocok buat kita.

#5 Menuntut ilmu itu perlu banyak hal, termasuk tamak dengan ilmu, waktu yang panjang dan menghormati guru.

#6 Aku baru saja kedatangan tamu. Dia datang sendirian mengetuk – ngetuk pintu hidup. Kursi yang didudukinya masih hangat dan desir angin ketika dia lewat masih mengapung di udara… Tamu yang tidak ada seorang pun yang kuasa menolaknya. Tamu yang membuat semua jantung, hati dan pandangan mata seorang raja diraja pun goyah dan bertekuk lutut. Tamu yang ditakuti umat mansia sepanjang masa. Tamu yang mengisap segenap udara kehidupan. Tamu yang baru berlalu dari rumahku itu bergelar sendu : kematian.

#7 Berjalanlah sampai batas. Berlayarlah sampai pulau.

#8 Latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri kalian sendiri dan Allah. I’timad ‘ala nafsi. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi. Semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti.

#9 Idza shadaqul azmu wadaha sabil. Kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan.

#10 Sebuah sya’ir Arab mengatakan, siapa yang bersabar dia akan beruntung. Jadi sabar itu bukan berarti pasrah, tapi sebuah kesabaran yang proaktif. Dan sesungguhnya Allah itu selalu bersama orang yang bersabar.

#11 Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Di saat kurang senanglah kalian perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelu sampai di tujuan. Setelah ada di titik terbawah, ruang kososng yang ada hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Tuhan telah berjanji bahwa sesungguhnya Dia berjalan dengan orang yang sabar.

#12 Apapun kelebihan dan keterbatasanmu, jadilah orang yang berguna untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, sebanyak mungkin dan seluas mungkin.

#13 Janganlah putus asa karena putus asa adalah penyakit yang menggagalkan perjuangan, harapan dan cita – cita. Problem tidak akan selesai hanya dengan disusahkan, tetapi harus dipikirkan dan dengan selalu dekat kepada Allah serta selalu mohon hidayah dan taufik-Nya. Maka berbuatlah, berpkirlah dan bekerjalah semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertakwa.

#14 Man jadda wajada : siapa yang bersungguh – sungguh akan sukses, man shabara zhafira : siapa yang bersabar akan beruntung, man sara ‘ala darbi washala : siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan.

#15 Rupanya man jadda wajada saja tidak selalu cukup. Aku hanya akan seperti badak yang terus menabrak tembok tebal. Seberapapun kuatnya badak itu, lama – lama dia akan pening dan kelelahan. Bahkan culanya bisa patah. Ternyata ada jarak antara usaha keras dan hasil yang dinginkan. Jarak itu bisa sejengkal, tetapi jarak itu bisa seperti ribuan kilometer. Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati. Dengan sebuah kesabaran. Dengan sebuah keikhlashan. Perjuanagn tidak hanya butuh kerja keras, tapi juga kesabaran dan keikhlashan untuk mendapat tujuan yang diinginkan.

#16 Lan tarji’ ayyamulatil madhat. Tak akan kembali hari – hari yang telah berlalu.

#17 Teman tidak harus selalu bersama. Teman juga tidak harus selalu berdamai. Mungkin kadang – kadang perlu berpisah untuk menghargai pertemanan ini. Sekali – kali kita bisa saja bertengkar untuk menguji seberapa kokoh inti persahabatan itu.

#18 Otak yang biasa – biasa saja selalu bisa diperkuat dengan ilmu dan pengalaman. Usaha yang sungguh – sungguh dan sabar akan mengalahkan usaha yang biasa – biasa saja. Kalau bersungguh – sungguh akan berhasil, kalau tidak serius akan gagal. Kombinasi sungguh – sungguh dan sabar adalah keberhasilan. Kombinasi man jadda wajada dan man shabara zhafira adalah kesuksesan.

#19 Semua bangsa besar adalah bangsa yang gemar menulis dan membaca. Punya budaya literasi. Tanpa keduanya mereka punah dimakan zaman.

#20 Suka dan cinta datang dari Allah. Suka boleh saja, tapi jangan sampai kalian berduaan, karena banyak mudharatnya. Nanti kalau berdua – duaan, ada makhluk ketiga yang diam – diam ada di antara kalian. Dia adalah setan yang membisikkan berbagai hal buruk yang bisa membuat kalian terbawa arus dan melanggar aturan agama. Jadi berteman boleh saja, tapi jangan berpacaran. Kalu nanti tiba masanya, umur kalian cukup dan kemampuan ada, barulah kalian berpasang – pasangan menjadi sebuah keluarga, melalui pernikahan. Percayalah, sesungguhnya itu lebih baik dan aman buat kalian semua.

#21 Tapi sedekat apapun ‘hampir’ itu dengan kenyataan, dia tetap saja sesuatu yang tidak pernah terjadi.

#22 Akan tiba masa kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

#23 Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

#24 Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya, laut bada ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi?

#25 Antara sungguh – sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentmeter, tetapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun, Jarak antara sungguh – sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan – akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, do’a dan sabar yang berlebih – lebih.

#26 Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis – habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh – sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.

Bermimpi