Category Archives: Resensi

Karena Mendidik dan Memanjakan Tidaklah Sama

“Jika kita terlalu memanjakan diri kita sendiri, dunia akan keras pada diri kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, dunia akan memanjakan kita” (Abu Syauqi)

Belakangan ini istilah ‘pendidikan karakter’ begitu familiar dengan dunia pendidikan. Dalam lingkup sekolah, pembentukan karakter siswa sangat dipengaruhi oleh karakter guru. Guru yang berkarakter adalah guru yang bisa digugu (dipercaya dan dipatuhi) dan ditiru (diteladani), guru yang benar-benar mendidik, bukan sekedar menyampaikan materi ajar. Berbicara tentang guru berkarakter, penulis teringat akan sebuah dorama Jepang yang berjudul “The Queen’s Classroom”. Adalah Maya Akutsu, guru yang mendidik siswa dengan menerapkan metode yang sangat ketat dan disiplin. Siswa tidak boleh terlambat masuk kelas, tidak diperkenankan ke toilet selama pelajaran berlangsung dan tidak boleh menyisakan makan siang. Selain kedisiplinan siswa, nilai tentang kompetisi juga ditanamkan. Tes dilakukan setiap pekan, dua orang siswa dengan nilai terendah akan menjadi ‘pembantu’ di kelas, mulai dari menghapus papan tulis, menyiapkan makan siang, hingga membersihkan WC sekolah. Upaya untuk melaporkan guru mereka ke sekolah maupun orang tua selalu gagal karena kelihaian Oni Sensei (Devil Teacher) dalam berargumentasi. Belum lagi Oni Sensei mengetahui semua rahasia dari para siswa. Alhasil, walaupun dalam tekanan dan ketakutan para siswa pun mematuhi semua aturan yang dibuatnya.

Adalah Kanda Kazumi, siswi yang ceria, ramah dan setia kawan yang mencoba mengembalikan ‘keceriaan’ kelas seperti sebelumnya. Cengkraman Oni Sensei yang begitu kuat di lingkungan sekitarnya justru membuatnya berkali-kali terlibat masalah hingga nyaris putus asa. Disinilah mulai terlihat maksud baik dari Oni Sensei di balik segala sikap dingin dan menakutkannya. Metode yang diterapkan tanpa disadari terbukti mampu menyatukan kelas, membuat siswa tidak ada yang terlambat, gemar belajar dan lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Jika sebelumnya, Oni Sensei begitu menyebalkan, akhirnya justru malah dicintai. Maya Akutsu telah mengajarkan bahwa mencintai siswa bukan berarti selalu menuruti kemauan mereka dan harus tetap ada jarak antara pendidik dengan peserta didik sehingga guru tetap dihormati dan tidak diremehkan. Maya Akutsu menunjukkan totalitas dalam mendidik, di balik sikap dinginnya, ternyata ia nyaris tidak tidur hanya untuk memastikan semua siswanya dalam keadaan baik dan ia dapat membuat laporan perkembangan harian per siswa. Berbagai pengalaman pahitnya dalam mengajar membuatnya harus mengajarkan kepada siswa realita kehidupan yang keras, tidak ada waktu untuk bersikap malas dan manja, sekaligus mengajarkan bagaimana bisa tegar dan keluar dari keputusasaan.

Sudah lumrah, cinta memang akan membuat seseorang mencintai segala yang dicintai oleh yang dicintainya. Kecintaan kita terhadap seseorang yang kita didik kerap kali membuat kita memanjakannya dengan mencoba memenuhi segala keinginannya. Padahal mendidik jelas berseberangan dengan menuruti syahwat orang yang didik dan membiarkan mereka merasa aman dari berbagai kesalahan. Pendidik harus berani menegakkan aturan main yang kadangkala harus juga menjalankan peran antagonis terhadap yang dididik, mulai dari menegur, memarahi bahkan menghukum. Hukuman atas penyelewengan terhadap aturan main merupakan bagian dari mendidik karakter selama tidak dilandasi kebencian dan tidak dilakukan berlebihan, baik verbal, fisik maupun mental. Pun demikian, aturan main tidak seharusnya berupa ancaman yang menakutkan dan hukuman pun hendaknya disesuaikan dengan motif/ alasan seseorang yang kita didik sehingga tidak menimbulkan trauma yang berdampak buruk di masa mendatang.

Keteladanan, ketegasan dan konsistensi adalah tiga hal yang menjadi syarat sekaligus tantangan dalam mendidik. Tanpa keteladanan, tiada arti segala aturan, tiada makna segala aturan. Tanpa ketegasan takkan lahir kedisiplinan. Dan tanpa konsistensi, perbaikan yang terjadi akan segera terhenti. Lalu bagaimana dengan memanjakan? Memanjakan dalam artian mencurahkan kasih sayang jelas tidak bertentangan dengan tiga hal di atas. Memanjakan dalam konteks upaya memberikan yang terbaik, dari harapan dan kenangan orang yang dicintai juga tidak akan saling melemahkan dengan upaya mendidik. Namun ketika memanjakan didefinisikan sebagai menuruti semua kemauan dan memenuhi segala keinginan, ia akan kontraproduktif dengan esensi pendidikan. Ketika memanjakan diartikan sebagai tidak pernah menegur, memarahi apalagi sampai menghukum, maka yang terbentuk hanyalah seonggok manusia arogan yang merasa tidak pernah salah.

Mendidik berarti menguatkan nilai-nilai positif dalam hidup, sedangkan memanjakan akan melemahkan jiwa. Mendidik akan membentuk mental yang kuat, sedangkan memanjakan akan melahirkan penakut dan pecundang. Mendidik akan membentuk sikap dan karakter yang kuat, sedangkan seseorang yang terbiasa dimanjakan akan mudah terbawa arus. Pendidikan akan mengajarkan kesulitan dalam realita hidup dan cara mengatasinya, sementara seseorang yang terus dimanjakan akan rapuh ketika menghadapi masalah, mengeluh ketika menemui kesulitan dan cepat putus asa ketika usahanya tak jua menemukan hasil. Di satu sisi, ia akan urakan, tidak taat aturan. Di sisi lain, ia tergantung orang lain, tidak bisa mandiri.

Semasa SMA, ada seorang guru yang sangat ditakuti, tegas dan tidak segan mengeluarkan siswanya dari kelas. Penulis bahkan pernah memperoleh nilai 0 (nol) karena dinilainya tidak serius (bercanda) ketika ulangan. Namun ternyata kelas yang diajarnya selalu lebih unggul dibandingkan kelas lain. Metodenya terbukti efektif bagi siswa dalam menagkap pelajaran. Dan dibalik ketegasan almarhumah, penulis tahu benar besarnya perhatian beliau pada siswa-siswanya. Ya, karena mendidik berbeda dengan sekedar mengajar, apalagi memanjakan. Selain ilmu, ada nilai-nilai tentang kehidupan yang menyertainya. Ayah penulis bukan seseorang yang dekat dengan anak-anaknya karena ketegasannya, namun beliau menjadi figur ayah yang dihormati dan tidak diragukan kecintaannya kepada keluarganya. Ya, karena cinta tidak melulu ditunjukkan dengan keakraban tanpa jarak, apalagi jika kita berbicara tentang pendidikan anak.

Bicara tentang pendidikan, berarti berbicara tentang kualitas SDM di masa mendatang. Untuk menyukseskannya dibutuhkan pendidik yang dapat menjadi teladan, tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan. Sudah terlalu banyak aturan yang dilanggar karena pola didik yang memanjakan. Egaliter dalam mendidik jangan sampai menurunkan wibawa pendidik yang sudah sewajarnya ada ‘di atas’ yang dididik. Ketegasan dan kedisiplinan mungkin akan terasa tidak menyenangkan bahkan membebani, namun seperti itulah perwujudan cinta. Buah hasil pendidikan memang baru dapat dinikmati di masa mendatang. Kegigihan dan ketegaran yang lahir dari sikap tidak memanjakan mungkin baru akan terasa manfaatnya ketika yang didik sudah tidak lagi bersama pendidiknya. Mereka yang dididik dengan tidak dimanja akan lebih siap menghadapi dunia. Tidak salah nasehat Abu Syauqi, “Jika kita terlalu memanjakan diri kita sendiri, dunia akan keras pada diri kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, dunia akan memanjakan kita”.

Open your eyes. Of course there are going to be worries in life. The important things are not losing confidence, not paying attention to rumors, and not hurting others…
(Maya Akutsu, “The Queen’s Classroom)

Matilda, Tak Selamanya Orang Tua Benar

“Aku tidak pernah bisa mengerti apa sebabnya anak-anak kecil begitu menyebalkan. Mereka racun kehidupanku. Mereka seperti hama serangga yang perlu disingkirkan…”
(Miss Trunchbull, halaman 172)

Terbayangkah jika kata-kata di atas diucapkan oleh seseorang yang setiap harinya berinteraksi dengan anak-anak? Apa jadinya suatu sekolah jika kepala sekolahnya sangat membenci anak-anak, kerap mengumpat mereka dengan kata-kata yang tidak pantas bahkan sering berlaku kasar? Ya, sosok kepala sekolah mengerikan seperti itulah yang dimunculkan dalam novel ‘Matilda’ karangan Roald Dahl. Kepala sekolah bertubuh besar yang arogan dan bersikap sewenang-wenang terhadap yang orang yang lebih kecil dan lebih muda. Seakan-akan orang yang lebih kuat selalu benar, seolah-olah orang yang lebih tua pasti lebih mengerti. Dan kenyataannya, kedewasaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia, setidaknya itulah yang ditunjukkan oleh Matilda, tokoh utama dalam novel yang pertama kali terbit tahun 1988 ini. Matilda adalah seorang anak cerdas untuk ukuran anak seusianya, namun mempunyai orang tua yang tidak baik dalam hal pola asuh. Ayahnya, Harry, adalah seorang pedagang mobil bekas yang tidak jujur, arogan dan berusaha mewariskan ketidakjujurannya itu kepada Michael, kakak Matilda. Ibunya juga bukan ibu yang baik, terkesan materialistik, pemalas, hanya menyibukkan dirinya dengan bermain Bingo dan menonton TV. Dan yang pasti kedua orang tuanya mengabaikan keberadaan Matilda, bahkan cenderung tidak menyukai anak perempuan mereka yang ‘berbeda’ dan menganggapnya sebagai beban.

Ibarat mutiara di tengah lumpur, pun Matilda dibesarkan di lingkungan yang tidak kondusif, tidaklah sulit ditemukenali kelebihannya. Adalah Mrs. Phelps, seorang penjaga perpustakaan umum yang mendapati kegemaran Matilda akan membaca, padahal anak seusianya yang belum genap lima tahun biasanya masih kesulitan membaca. Ia pun memfasilitasi minat Matilda tersebut dengan memberi pinjaman buku. Potensi Matilda semakin terlihat setelah Matilda masuk sekolah dasar. Adalah Miss Honey, guru kelasnya yang memperhatikan hal tersebut dan berupaya untuk mengembangkan kemampuan Matilda. Namun sayang upayanya terhalang oleh Miss Trunchbull yang tak lain adalah atasannya di sekolah sekaligus bibinya yang telah membunuh dan merampas kekayaan ayahnya serta memberinya trauma masa kecil yang mengerikan. Di akhir kisah, Miss Trunchbull dibuat jera oleh kemampuan supranatural yang dimiliki Matilda dan akhirnya Matilda tinggal bersama Miss Honey setelah keluarganya harus pergi ke luar negeri.

Kisah tentang anak kecil yang memiliki kecerdasan otak bahkan kemampuan supranatural mungkin bukan hal baru, sehingga tidak terlalu istimewa. Berbagai kekerasan baik fisik maupun verbal, baik di rumah maupun di sekolah Matilda, yang begitu gamblang digambarkan dalam novel best seller yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa ini juga berlebihan untuk ukuran novel anak-anak. Namun pesan mengenai pentingnya pendidikan dan pola asuh anak dalam novel yang pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 1996 dengan judul serupa dan dibintangi oleh Mara Wilson ini begitu terasa.

Orang tua Matilda adalah contoh orang tua yang tidak baik dalam mengasuh anak. Pertama, dari segi keteladanan, jelaslah sikap dan kata-kata kedua orang tua Matilda tak layak dicontoh. Melemahkan dan mengerdilkan jiwa. Kedua, dari segi kebijaksanaan, perbedaan perlakuan (diskriminasi) terhadap dua orang anak yang dilakukan oleh orang tua Matilda jelas tidak dibenarkan. Michael tidak bersalah karena ia sebenarnya juga merupakan korban kesalahan pola asuh orang tuanya. Ketiga, ketidakjujuran orang tua dalam bekerja, bahkan hendak mewariskan kecurangan tersebut kepada anaknya juga jelas merupakan sikap yang keliru dalam mendidik. Kebohongan ibarat bom waktu yang setiap saat siap menghancurkan pelakunya. Selanjutnya, orang tua memang lebih berpengalaman, namun tidak seharusnya bersikap sombong dan sok benar kepada anak-anaknya. Karena bisa jadi mereka hanya menang usia, namun tidak lebih baik dari anak-anak mereka. Terakhir, sikap materialistik yang ditunjukkan kedua orang tua Matilda jelas tidak patut diteladani. Kekayaan materi jelas bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan, karenanya tak layak dijadikan satu-satunya tujuan hidup.

Setali tiga uang dengan Matilda, Miss Honey pun mendapat pola asuh yang tidak baik. Ayahnya mungkin dikesankan sebagai seorang dokter kaya yang baik, namun ketika ia memilih Miss Trunchbull sebagai pengasuh Matilda jelas sikap yang tidak tepat. Sudah menjadi kewajiban orang tua memilihkan pengasuh yang terbaik bagi anaknya. Dan figur orang tua terburuk dalam novel ini tentu saja Miss Trunchbull. Kebenciannya pada anak-anak menjadi hal mendasar yang seharusnya tidak dimiliki oleh orang tua yang baik. Kebencian itulah yang kemudian melahirkan pikiran, kata-kata dan perilaku yang sangat buruk terhadap anak-anak. Belum lagi arogansi, kekejaman dan berbagai kejahatan yang dilakukannya. Disegani anak-anak mungkin masih bisa dianggap positif, namun ditakuti oleh anak-anak tentunya memperlihatkan buruknya jiwa. Karena jiwa anak-anak yang masih polos hanya dapat didekati dengan aura positif. Pun tidak dijelaskan, sepertinya Miss Trunchbull juga mengalami pola asuh yang tidak baik.

Pola asuh yang tidak baik akan membekas bagi seorang anak bahkan di hari tuanya. Bisa jadi ia tumbuh menjadi seseorang yang minder namun pendendam. Tertutup namun didalamnya penuh gejolak yang bisa meledak kapan saja. Betapa banyak pelaku kejahatan yang berbuat jahat karena trauma masa kecilnya, karena pola asuh keluarganya yang tidak baik. Ada pula anak yang langsung menyikapinya dengan kenakalan yang sangat tanpa menunggu dewasa. Lingkungan di luar keluarganya dijadikan pelampiasannya. Jangan lupakan bahwa anak-anak penuh dengan kreativitas, penyikapan terhadap sesuatu yang tidak disukainya bisa jadi diluar nalar orang dewasa. Jadi, jika ada masalah dengan anak kita, bisa jadi ada yang salah dengan cara kita mendidik. Anak yang berbuat kekeliruan tidak selamanya telah berbuat salah, bisa jadi kesalahan ada pada pola asuh di keluarganya atau pengaruh negatif di lingkungannya. Disinilah peran pendidikan anak yang tepat memegang peran, sehingga kenakalan itu menjadi gerbang pembuka kecerdasan. Sikap cari perhatian yang kerap ditunjukkan seorang anak, tidak harus menjadi masalah jika orang tuanya dapat menyikapinya dengan baik.

“Apabila ingin berhasil melakukan sesuatu, jangan berbuat setengah-setengah. Lakukan sampai keterlaluan. Usahakan agar semua yang dilakukan itu benar-benar edan, sehingga tidak masuk akal bahwa itu bisa terjadi…” (Matilda, halaman 127)

Quote Ranah 3 Warna

Sudah cukup lama berselang, tulisan baru sepertinya belum kunjung muncul. Perubahan status seharusnyanya tidak bisa jadi alasan untuk kurang produktif menulis, toh blog pendamping hidupku bulan ini saja sudah ada 5 postingan baru. Kayaknya harus ke “Rumah Sakit Malas” nih seperti Alif dan Togar dalam trilogi ‘Ranah 3 Warna’. Berbicara tentang buku karya Ahmad Fuadi tersebut, berikut adalah beberapa quote yang sepertinya menarik untuk dibagi. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

#1 Bersabar dan ikhlashlah dalam setiap langkah perbuatan. Terus – meneruslah berbuat baik ketika di kampung dan di rantau. Jauhilah perbuatan buruk dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bum dan di atas bumi. Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir. Sunguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai. Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu. Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda. Singsingkan lengan baju dan besungguh – sungguhlah menggapai impian. Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan. Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan, karena debat kusir adalah pangkal keburukan.

#2 Going the extra miles. I’malu fauqa ma ‘amilu. Berusaha di atas rata – rata orang lain.

#3 Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

#4 Sungguh do’a itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkan dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti dengan yang lebih cocok buat kita.

#5 Menuntut ilmu itu perlu banyak hal, termasuk tamak dengan ilmu, waktu yang panjang dan menghormati guru.

#6 Aku baru saja kedatangan tamu. Dia datang sendirian mengetuk – ngetuk pintu hidup. Kursi yang didudukinya masih hangat dan desir angin ketika dia lewat masih mengapung di udara… Tamu yang tidak ada seorang pun yang kuasa menolaknya. Tamu yang membuat semua jantung, hati dan pandangan mata seorang raja diraja pun goyah dan bertekuk lutut. Tamu yang ditakuti umat mansia sepanjang masa. Tamu yang mengisap segenap udara kehidupan. Tamu yang baru berlalu dari rumahku itu bergelar sendu : kematian.

#7 Berjalanlah sampai batas. Berlayarlah sampai pulau.

#8 Latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri kalian sendiri dan Allah. I’timad ‘ala nafsi. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi. Semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti.

#9 Idza shadaqul azmu wadaha sabil. Kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan.

#10 Sebuah sya’ir Arab mengatakan, siapa yang bersabar dia akan beruntung. Jadi sabar itu bukan berarti pasrah, tapi sebuah kesabaran yang proaktif. Dan sesungguhnya Allah itu selalu bersama orang yang bersabar.

#11 Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Di saat kurang senanglah kalian perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelu sampai di tujuan. Setelah ada di titik terbawah, ruang kososng yang ada hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Tuhan telah berjanji bahwa sesungguhnya Dia berjalan dengan orang yang sabar.

#12 Apapun kelebihan dan keterbatasanmu, jadilah orang yang berguna untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, sebanyak mungkin dan seluas mungkin.

#13 Janganlah putus asa karena putus asa adalah penyakit yang menggagalkan perjuangan, harapan dan cita – cita. Problem tidak akan selesai hanya dengan disusahkan, tetapi harus dipikirkan dan dengan selalu dekat kepada Allah serta selalu mohon hidayah dan taufik-Nya. Maka berbuatlah, berpkirlah dan bekerjalah semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertakwa.

#14 Man jadda wajada : siapa yang bersungguh – sungguh akan sukses, man shabara zhafira : siapa yang bersabar akan beruntung, man sara ‘ala darbi washala : siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan.

#15 Rupanya man jadda wajada saja tidak selalu cukup. Aku hanya akan seperti badak yang terus menabrak tembok tebal. Seberapapun kuatnya badak itu, lama – lama dia akan pening dan kelelahan. Bahkan culanya bisa patah. Ternyata ada jarak antara usaha keras dan hasil yang dinginkan. Jarak itu bisa sejengkal, tetapi jarak itu bisa seperti ribuan kilometer. Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati. Dengan sebuah kesabaran. Dengan sebuah keikhlashan. Perjuanagn tidak hanya butuh kerja keras, tapi juga kesabaran dan keikhlashan untuk mendapat tujuan yang diinginkan.

#16 Lan tarji’ ayyamulatil madhat. Tak akan kembali hari – hari yang telah berlalu.

#17 Teman tidak harus selalu bersama. Teman juga tidak harus selalu berdamai. Mungkin kadang – kadang perlu berpisah untuk menghargai pertemanan ini. Sekali – kali kita bisa saja bertengkar untuk menguji seberapa kokoh inti persahabatan itu.

#18 Otak yang biasa – biasa saja selalu bisa diperkuat dengan ilmu dan pengalaman. Usaha yang sungguh – sungguh dan sabar akan mengalahkan usaha yang biasa – biasa saja. Kalau bersungguh – sungguh akan berhasil, kalau tidak serius akan gagal. Kombinasi sungguh – sungguh dan sabar adalah keberhasilan. Kombinasi man jadda wajada dan man shabara zhafira adalah kesuksesan.

#19 Semua bangsa besar adalah bangsa yang gemar menulis dan membaca. Punya budaya literasi. Tanpa keduanya mereka punah dimakan zaman.

#20 Suka dan cinta datang dari Allah. Suka boleh saja, tapi jangan sampai kalian berduaan, karena banyak mudharatnya. Nanti kalau berdua – duaan, ada makhluk ketiga yang diam – diam ada di antara kalian. Dia adalah setan yang membisikkan berbagai hal buruk yang bisa membuat kalian terbawa arus dan melanggar aturan agama. Jadi berteman boleh saja, tapi jangan berpacaran. Kalu nanti tiba masanya, umur kalian cukup dan kemampuan ada, barulah kalian berpasang – pasangan menjadi sebuah keluarga, melalui pernikahan. Percayalah, sesungguhnya itu lebih baik dan aman buat kalian semua.

#21 Tapi sedekat apapun ‘hampir’ itu dengan kenyataan, dia tetap saja sesuatu yang tidak pernah terjadi.

#22 Akan tiba masa kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

#23 Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

#24 Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya, laut bada ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi?

#25 Antara sungguh – sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentmeter, tetapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun, Jarak antara sungguh – sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan – akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, do’a dan sabar yang berlebih – lebih.

#26 Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis – habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh – sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.

Bermimpi

“Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi – mimpinya”
(Eleanor Roosevelt)

“Jika engkau bisa memimpikannya, engkau akan bisa melakukannya. Sungguh sangat menyenangkan melakukan hal yang ‘tak mungkin’”
(Walt Disney)

* * *

Judul diatas mengingatkan penulis pada lagu Base Jam dengan judul serupa yang sempat menjadi hits di medio tahun 90-an. Sayangnya, menurut hemat penulis, lirik lagunya kurang membangun. Bermimpi diidentikan dengan sikap berpangku tangan yang dekat dengan kemalasan. Orang yang bemimpi dikesankan tidak punya konsep diri, tak tahu mau jadi apa di masa depan. Ya, para pemimpi dipandang sebagai mereka yang kurang produktif padahal membangun impian adalah titik awal produktivitas. Padahal mimpi adalah sesuatu yang akan menjadi kenyataan di kemudian hari. Dan mimpi merupakan harta berharga yang dimiliki setiap orang, sampai – sampai Andrea ‘Sang Pemimpi’ Hirata menyebutkan melalui salah satu tokoh dalam novelnya bahwa tanpa mimpi, kita akan mati.

Visualisasi Impian : Tulislah Mimpimu!!
Dalam sebuah acara pesantren kilat yang penulis kelola beberapa waktu yang lalu, ada video inspiratif yang diputarkan. Berkisah tentang Danang Ambar Prabowo ‘Sang Pembuat Jejak’ yang menuliskan 100 impiannya dan mendapatkan lebih dari apa yang diimpikan. Beberapa pekan kemudian, Aris Setyawan, seorang alumni penerima Beastudi Etos Bogor mengantarkan sebuah buku buah karyanya bersama Danang berjudul ‘Pemimpi Luar Bidahsyat’. Dalam buku itu dipaparkan lebih jauh bagaimana seorang Danang dapat mengikuti Pekan Ilmiah Nasional, MTQ Nasional, menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional, terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti lomba di Selandia Baru, menerima beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Negeri Sakura hingga mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Fuji. Dan kesemua capaian itu berawal dari dua lembar kertas yang berisikan 100 impiannya. Impian yang kemudian dapat diwujudkannya.

Banyak kesuksesan yang berawal dari mimpi, namun ternyata memulai bermimpi tidak semudah yang dibayangkan. Karena impian yang bukan sekedar bunga tidur, dibuat dalam keadaan sadar, menuntut konsekuensi untuk dapat direalisasikan. Karenanya butuh keberanian untuk dapat memulai sebuah impian. Untuk dapat menginternalisasi impian dan menimbulkan afirmasi positif, impian yang dimiliki seharusnya tidak sekedar diingat, tetapi harus dituliskan. Dalam hal ini, butuh keberanian ekstra untuk dapat memulainya. Cobalah memulai untuk menuliskan beberapa, puluhan, ratusan atau bahkan ribuan impian di atas kertas. Tidak akan sesederhana yang dibayangkan. Selain keberanian, butuh kreativitas memang. Biarkan impian itu muncul secara alami, termasuk hal – hal sederhana yang belum dapat diwujudkan. Pahami impian yang dituliskan, selami lebih dalam dan sadari pula langkah – langkah yang diperlukan untuk mewujudkan impian itu. Jika masih sulit, istirahat sejenak untuk kemudian kembali fokus menuliskan impian.

Jauh sebelum Jim Carrey terkenal, ia pernah menulis di atas sebuah kertas $ 10.000.000 (sepuluh juta US dollar, jika dirupiahkan lebih dari 93 Milyar rupiah). Dia yakin suatu saat akan memperoleh bayaran senilai itu dan kemudian terwujud ketika dia membintangi ’The Mask’. Di sebuah restoran kecil, terdapat tulisan ’suatu saat saya akan menjadi bintang film terkenal, dst’ bertanda tangan Bruce Lee. Beberapa tahun kemudian, tulisan itu diperbincangkan menyusul munculnya bintang film kung fu terkenal bernama Bruce Lee. Kate Winslet, penerima piala Oskar 2009 sebagai aktris wanita terbaik mengatakan bahwa sejak usia 8 tahun dia sudah sering berlatih mengucapkan terima kasih dengan memegang botol shampo sebagai ’piala Oskar’nya dan hal tersebut akhirnya terealisasi bertahun – tahun kemudian. Itulah contoh beberapa orang yang berani memvisualisasikan impiannya, memahami benar impiannya dan bagaimana cara menggapainya serta melakukan usaha yang tepat untuk dapat mewujudkan impiannya tersebut.

Keajaiban Impian
Keberanian itu bernama impian. Impian untuk merdeka dari penjajahan lah yang melahirkan keberanian para pahlawan untuk menghadapi persenjataan canggih penjajah hanya dengan bambu runcing. Kekuatan itu bernama impian. Impian untuk menghapuskan diskriminasi ras (apartheid) di Afrika Selatan lah yang memberikan kekuatan bagi Nelson Mandela untuk menghadapi berbagai tantangan demi kemerdekaan bangsanya. Keajaiban itu bernama impian. Impian untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsanya lah yang mendatangkan keajaiban bagi seorang pesenam Jepang yang meraih medali emas Olimpiade sambil menahan sakit dalam kondisi tumit yang retak dan mengakibatkan ia cacat seumur hidup.

Terlalu banyak nampaknya jika diceritakan betapa impian mampu mendatangkan keajaiban. Mereka yang mempunyai mimpi, biasanya akan gigih berjuang untuk mewujudkan impiannya. Tak banyak keajaiban yang dapat tercipta tanpa impian. Karenanya, impian tidak seharusnya dibenturkan dengan realita, impian tidak perlu disesuaikan dengan kemampuan. Biarlah kemampuan yang akan menyesuaikan impian, dan disitulah letak keajaiban impian. Tidak ada hal yang sulit dilakukan selagi masih ada kemauan. Hal yang perlu dilakukan untuk mendatangkan keajaiban impian hanyalah mengalahkan berbagai keraguan, kerja keras dan konsistensi dalam menggapai impian. Semakin tinggi impian, ujiannya akan semakin besar dan konsistensi akan semakin dibutuhkan. Sisanya, biarkan Allah yang akan menetapkan hasil.

Bukan Sekedar Mimpi, Berjuanglah!!
Sekedar bermimpi tanpa mencoba mewujudkannya memang takkan berarti apapun, namun tanpa mimpi, jelas tidak ada yang dapat diwujudkan. Sejak zaman dahulu, banyak manusia bermimpi dapat terbang seperti burung, namun tidak banyak yang berupaya mewujudkannya. Adalah hal yang mustahil bagi manusia untuk dapat melawan gravitasi. Wright bersaudara yang mencoba melawan arus persepsi manusia kebanyakan itu justru dicap sebagai orang yang tidak waras. Impiannya untuk dapat membuat mesin yang dapat menerbangkan manusia hanya dianggap bualan belaka. Dan ketika Wright bersaudara berhasil terbang dengan pesawat sederhana bermesin ganda, barulah semua mata terbelalak tersadarkan bahwa terbang bukanlah hal yang tidak mungkin. Memang tidak mudah, berbagai kegagalan pun sempat menyapanya, namun akhirnya impianpun dapat terealisasi. Dan Wright bersaudara tidak sendiri, banyak sekali orang sukses yang memulai kesuksesannya dengan bermimpi yang mendorongnya untuk bekerja keras mewujudkannya.

Impian harus terarah dan terorganisir sehingga impian dapat memotivasi, memberikan arah sekaligus menata kerja. Setelah itu, untuk mewujudkan impian, sebaiknya dimulai dengan konsep diri yang positif, bagaimana memulai hari dengan optimisme dan menyadari bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membuat kita jatuh kecuali kita yang mengizinkannya. Konsep diri yang positif ini kemudian dilanjutkan dengan mentalitas pantang menyerah dan kerja keras penuh semangat. Berjuang untuk meraih mimpi memang tidak mudah, butuh keyakinan, konsistensi, keuletan dan sikap mental positif. Namun perlu disadari juga bahwa mimpi sejatinya dianugerahkan kepada kita agar kita dapat berpikir besar. Hanya dengan berpikir besar lah kita dapat menjadi besar, dan semua itu diawali dengan impian yang besar. Mari kita berjuang untuk terus membangun impian dan berupaya merealisasikannya!!

* * *

“Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi – pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy)

Wallahu a’lam bishawwab

Ps. Terinspirasi dari buku ‘Pemimpi Luar Bidahsyat’, Danang A P & Aris S

Menghadapi Masa Transisi

Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri” (Heraklitos)

Dunia terus berubah dengan berbagai kisahnya, dengan segala skalanya, pun demikian dengan kehidupan manusia. Seperti digambarkan William Shakespeare dalam puisinya “The seven ages of man” yang mendeskripsikan beberapa perjalanan transisi kehidupan manusia. Perubahan memang pasti terjadi, baik dalam organisasi maupun individu. Perhatikan bagaimana ketika bayi baru disapih, anak yang baru masuk sekolah, perpindahan jenjang pendidikan, memasuki dunia kerja, dan sebagainya. Ada penyesuaian peran dan aktifitas yang senantiasa mengiringi perubahan, penyesuaian yang kerap kali menimbulkan rasa tidak nyaman, membuka kerinduan akan masa sebelumnya bahkan kekhawatiran berlebih hingga timbul keinginan untuk ‘melarikan diri’. Padahal keberhasilan perubahan banyak tergantung apakah yang terkena perubahan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda atau tidak.

Sebenarnya yang mengganggu bukanlah perubahan, tetapi transisi. Ya, dalam setiap perubahan selalu ada transisi yang kerap kali menimbulkan gangguan dan jika tidak dikelola dapat berpotensi menjadi masalah. Perubahan sifatnya situasional, dari suatu kondisi ke kondisi lainnya, sedangkan transisi lebih bersifat psikologis. Proses keluarnya seseorang dari dunia lama dan masuk ke dunia baru kerap kali bersifat emosional. Padahal perubahan harus dilakukan agar tidak stagnan bahkan tertinggal, sehingga transisipun otomatis harus dijalani. Ada tiga fase transisi yang harus diperhatikan dan dikawal sehingga transisi dapat berjalan baik dan perubahan positif dapat dihasilkan, yaitu :

  1. Menanggalkan cara dan identitas lama. Fase pertama transisi ini adalah sebuah pengakhiran dan saat dimana yang perlu ditangani adalah perasaan kehilangan.
  2. Melewati satu periode antara ketika yang lama telah pergi tetapi yang baru belum berfungsi secara penuh (zona netral). Inilah waktu ketika penyatuan kembali (realignment) dan pemolaan kembali (repatterning) psikologis terjadi.
  3. Keluar dari transisi dan membuat suatu permulaan baru. Ini adalah periode ketika identitas baru dikembangkan dan kesadaran akan tujuan (sense of purpose) baru ditemukan yang membuat perubahan mulai berjalan

Pada fase pertama, perlu dikenali siapa yang akan kehilangan apa dan mengantisipasi tanda ‘kedukaan’ yang dapat berupa kemarahan, bargaining, kecemasan, kesedihan, disorientasi bahkan depresi. Perasaan kehilangan ini harus diterima sebagai realitas, bukan dipungkiri dan dianggap tidak ada.  Namun tidak perlu juga bereaksi secara berlebihan. Cari dan berikan informasi sejelas mungkin, bahkan jika perlu kompensasi atas kehilangan, terkait transisi yang dijalani. Perlakukan masa lalu dengan hormat bahkan mungkin perlu dibiarkan dibawa sepenggal cara lama, untuk mengurangi resistensi sekaligus menjamin kontinyuitas.

Fase kedua adalah zona tidak bertuan yang kerap ditandai dengan kecemasan yang meningkat, motivasi yang menurun, kehilangan arah, meragukan diri sendiri, marah, mencurigai, energi dialihkan untuk menyelamatkan diri, tugas terbengkalai, banyak ketidakpastian dan kekecewaan, kehilangan kepercayaan dan produktifitas merosot. Lamanya fase ini tidak pasti dan kerap diiringi dengan munculnya masalah lama, kacaunya prioritas, kesalahpahaman informasi dan polarisasi. Fase yang sangat rapuh, sehingga tidak semua orang dapat bertahan. Di sisi lain, fase ini penuh kreatifitas dan merupakan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang baru dan menarik. Untuk mengarahkannya agar tetap dalam jalur, perlu diciptakan sistem sementara yang akan menjaga dari dampak perubahan lanjutan sambil menemukan keseimbangan sekaligus dapat meningkatkan integritas. Komitmen dan peran perlu ditelaah kembali dan tujuan jangka pendek perlu dirancang.

Fase ketiga adalah ekspresi identitas baru, fase yang diinginkan tetapi pada saat yang sama takut terhadapnya karena beresiko dan dapat membangkikan kembali kecemasan dan luka lama. Dalam fase ini perlu diperjalas kembali tujuan, gambaran bahkan langkah demi langkah perencanaan. Kemudian peran baru harus mulai dimainkan. Untuk memperkuat fase terakhir ini, perlu adanya konsistensi dalam penerapan. Selain itu juga diperlukan simbol identitas baru dan keberhasilan awal yang cepat bisa dinikmati bersama.

Kenyamanan sering kali hanya membawa pada stagnasi bahkan kemunduran. Tidak jarang bahkan membuahkan kehancuran ketika ada tantangan yang tidak siap ditangani. Perlu dibangun kesiapan untuk menghadapi perubahan, termasuk kesiapan dalam menghadapi resistensi terhadap perubahan. Tidak sedikit orang yang begitu membela status quo yang sebenarnya disadarinya tidak cukup baik karena kekhawatiran berlebihannya akan kehilangan sesuatu. Banyak yang mengharapkan kondisi yang lebih baik namun enggan menanggalkan zona nyamannya. Beberapa bahkan memilih untuk pergi karena kesulitan dan ketidakpastian selama berada dalam masa transisi, padahal ‘lompatan besar’ sudah menantinya di depan sana. Seolah tidak sadar bahwa dimanapun transisi akan dirasakan. Ada juga yang memilih bertahan namun larut dalam masa lalunya sehingga perbaikan tidak begitu dirasakan.

Transisi adalah selingan yang dinamis antar tahapan. Realitanya perubahan bersifat simultan dan ketiga fase itu akan tumpang tindih. Setumpuk teori sepertinya tidak cukup untuk menjawab setiap permasalahan yang mungkin timbul selama menjalani transisi. Namun perubahan adalah kepastian dan transisi adalah keniscayaan. Alur natural segala sesuatu setelah lahir adalah tumbuh berkembang, kemudian matang dan akhirnya mati. Agar tidak mati, siklus harus dilakukan dengan melakukan perubahan. Melakukan perubahan dan pembaruan atau tertinggal. Jalan pembaruan harus dipilih dengan menemukan kembali impian yang lebih tinggi, mendapatkan kembali semangat yang lebih membara dan melakukan pekerjaan dengan tantangan yang lebih besar. Persimpangan adalah realita yang mesti dihadapi, bukan masalah melainkan kesempatan untuk dapat meningkatkan kualitas diri dan membuat lompatan yang lebih tinggi.

Wallahu a’lam bishawwab
dhaifman010410
terinspirasi dari buku “Managing Transitions”, William Bridges

Bermimpilah!!!

“Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok” (Hasan Albana)

Inspiratif!! Begitulah kesan yang kurasakan setelah menamatkan membaca buku ‘Negeri 5 Menara’. Banyak pelajaran tentang keikhlashan, kedisiplinan, persahabatan dan berbagai nilai positif lain yang kudapat. Namun dari semua insight tersebut, saya sangat tertarik terkait dengan pewujudan impian. Ya, banyak gagasan di masa depan yang tiba – tiba berlompatan, berbagai impian yang begitu saja muncul dan menanti untuk diwujudkan. Ya, seperti novel Sang Pemimpi dan Laskar Pelangi, negeri 5 menara juga mengajak pembacanya untuk yakin bahwa segala impian –setinggi apapun– dapat diwujudkan, asal ada kesungguhan dalam menggapainya, asal ada usaha melebihi yang biasa orang lain lakukan. Setelah kerja keras, disiplin dan do’a, sisanya biar Allah yang menentukan. Disanalah jargon penuh motivasi ‘Man Jadda Wajada’ dan ‘Saajtahidu fauqa mustawa al-akhar’ menjadi begitu bernilai.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah mengikuti prasangka Hamba-Nya. Dalam hadits lain Rasulullah mengingatkan untuk memperhatikan apa yang diangankan karena tidak ada yang tahu ketetapan Allah terkait impian itu. Karenanya tidak mengherankan mendapati tokoh – tokoh besar yang memiliki impian yang besar pula. Impian yang dulunya mungkin dicemooh dan ditertawakan. Kemudian ‘keajaiban’pun datang dan banyak mata terbelalak ketika impian itu menjelma menjadi kenyataan.

Simaklah seorang anak muda 23 tahun yang bertekad merealisasikan impian Rasulullah 8 abad sebelumnya bahwa konsantinopel akan ditaklukkan. Shalat rawatib dan tahajud yang tak pernah putus serta penguasaan 7 bahasa di usia yang begitu muda hanya beberapa dari perbekalannya untuk mewujudkan impian tersebut. Memindahkan 70 kapal melewati gunung dalam waktu satu malam seolah menunjukkan betapa besar kesungguhannya dalam merealisasikan impiannya itu. Ajaib! Luar Biasa! Akhirnya hanya itu yang terlontar ketika ia berhasil menaklukkan kota dengan sistem pertahanan yang luar biasa tersebut.

Kekuatan impian juga dicontohkan lewat ibu – ibu yang visioner. Seperti Hindun binti Utbah yang sudah ‘mengklaim’ Muawiyah sebagai pemimpin bangsa Arab bertahun – tahun sebelum sejarah mencatat Muawiyah sebagai khalifah pertama Bani Umayah. Atau Syaikh Abdurrahman As Sudais yang sejak kecil sudah diarahkan impiannya menjadi Imam Masjidil Haram. Putaran waktu kemudian menunjukkan bahwa impian tersebut dapat terwujud.

Tidak sedikit orang yang takut bermimpi dan memilih menjalani hari tanpa visi besar. Dalih kekhawatiran menjadi beban hanyalah cerminan ketiadaan komitmen dan kesungguhan. Dalih kekhawatiran akan frustasi dan kekecewaan ketika realita tidak jua sesuai dengan harapan hanyalah cerminan ketidaksiapan dalam menggapai kesuksesan.

Namun perlu juga diingat, impian tidak aman dari fitnah. Karenanya Rasulullah mengingatkan untuk tidak memperpanjang angan-angan. Dan Allah juga telah mengingatkan, “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An Nisa : 120)

Ya, impian tanpa upaya untuk menggapainya adalah kelalaian. Visi besar tanpa kesungguhan untuk mewujudkannya adalah angan kosong. Dan ternyata, pencapaian impian tanpa kerja keras, berbagai ujian dan kesulitan serta pengorbanan hanyalah tipuan. Dan kesuksesan, kemuliaan serta kebahagiaan selalu mengiringi impian yang mulia melalui proses yang mulia.

Hmm, jika tokoh-tokoh seperti Alif, Baso, Raja, Atang, Said dan Dulmajid atau Arai dan Ikal berani bermimpi dan dapat mewujudkan impiannya. Bagaimana dengan kita?

”Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy)