Category Archives: Sya’ir

Karakter Kepemimpinan ala Najmuddin

Rasulullah, kesempurnaan pribadimu tak henti dipujikan. Para sahabat pun musuhmu jua mengakui segala kelebihanmu. Liputan zaman dan kurun waktu, berkisah keluhuran budi pekertimu. Dalam dirimu terhimpun segala keutamaan insan mulia…” (‘Rasulullah’, Najmuddin)

Ada hal yang menggelitik ketika penulis mencoba menyelami konsep ‘kepemimpinan kenabian’ dalam beberapa buku referensi. Ada perbedaan yang cukup signifikan mengenai model kepemimpinan masing-masing nabi, tak ada standar baku. Inspirasi kepemimpinan Nabi Nuh a.s. yang gigih berdakwah hingga 950 tahun jelas berbeda dengan inspirasi kepemimpinan Nabi Yunus a.s. yang justru memperoleh banyak hikmah akibat ketidaksabarannya dalam berdakwah. Namun menjadikan kepemimpinan Nabi Nuh a.s. sebagai model terbaik juga tidak tepat. Dalam hal sederhana, misalnya tentang dakwah keluarga saja, tentu kita tidak dapat mengambil teladan dari Nabi Nuh a.s. Pun demikian jika kita coba membandingkan inspirasi kepemimpinan Nabi Sulaiman a.s. dengan segala kedigjayaannya dengan Nabi Musa a.s. yang kala itu justru tengah menggugat penguasa. Pada akhirnya, model kepemimpinan yang utuh baru akan kita dapati dalam lembar sejarah kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah SAW adalah pribadi paripurna yang menyempurnakan model kepemimpinan para nabi sebelumnya. Karenanya kita bisa meneladani banyak hal dari beliau termasuk yang terkait dengan keistimewaan Nabi-nabi sebelumnya. Misalnya tentang kesabaran berdakwah ala Nabi Nuh a.s, mencari dan memperjuangkan kebenaran ala Nabi Ibrahim a.s., kelapangan dada ala Nabi Yusuf a.s., keberanian revolusioner ala Nabi Daud a.s., dan sebagainya. Keteladanan Rasulullah SAW juga dikuatkan dengan berbagai dalil, bahkan dari testimoni orang-orang non muslim. Jika ada hal yang belum disepakati, itu adalah berkenaan dengan karakter utama keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW, karena ternyata shiddiq, fathonah, amanah, dan tabligh belum cukup lengkap untuk menggambarkan keteladanan kepemimpinan beliau.

Dalam sebuah nasyidnya, Najmuddin menggambarkan tentang berbagai keutamaan Rasulullah SAW yang secara sederhana terbagi dalam tiga bagian: Rasulullah SAW sebagai individu, sebagai hamba Allah, dan sebagai pemimpin. Dalam kaitannya Rasulullah SAW sebagai individu, Najmuddin mengungkapkan, “Tinta emas sejarah telah mencatat rapi keagungan budi perkerti. Kecerdasan fikiran, keutuhan pribadi, Rasul muara teladan suci”. Ada empat karakter penting individu yang perlu dimiliki: akhlak mulia, cerdas, integritas, dan keteladanan. Jika kita coba menyelami lembar demi lembar sirah Rasulllah SAW, kita akan mendapati keempat karakter ini senantiasa melekat dalam diri Rasulullah SAW sejak beliau muda. Reputasi beliau pun terbentuk karena berbagai keutamaan ini. Tidak hanya di mata manusia, tetapi juga mulia di mata Allah SWT. “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al Qalam: 4).

Hamba Allah yang taat tawadhu, penyempurna risalah Allah yang suci. Pancaran pribadi agung nan tinggi, berikan teladan suci bagi insani”, begitu ungkap Najmuddin selanjutnya. Ada empat karakter penting sebagai hamba Allah: ta’at, tawadhu, gigih berdakwah, dan menenteramkan hati. Konsekuensi manusia sebagai hamba adalah ketundukan sepenuhnya kepada Allah SWT, dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Penghambaan juga menghancurkan kesombongan hingga tidak ada benih sekecil apapun. Namun perwujudan jati diri manusia sebagai hamba Allah tidak cukup hanya sampai pada dirinya, melainkan perlu disampaikan kepada orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun keteladanan. “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Adapun terkait Rasulullah SAW sebagai pemimpin, Najmuddin mengatakan, “Pemimpin manusia bijak bersahaja, teguh berpegang pada kebenaran. Gigih menegakkan tonggak keadilan, berikan sentuhan yang mengagumkan. Dirimu telah tundukkan kepalsuan duniawi ‘tuk tuju surga yang abadi. Risalah yang kau sampaikan jaminan pembawa Rahmat bagi alam semesta”. Ada enam karakter kepemimpinan Rasulullah SAW: bijaksana, bersahaja, istiqomah, persisten, inspiratif, dan visioner. Fondasi dari karakter kepemimpinan ini adalah karakter personal dan karakter hamba, sehingga pemimpin tetap harus berakhlak mulia, cerdas, memiliki integritas dan keteladanan, ta’at kepada Allah SWT, rendah hati, menyebarkan kebaikan, dan mampu menyentuh hati.

Kebijaksanaan menjadi karakter penting bagi seorang pemimpin karena jihadnya seorang pemimpin adalah melalui kebijakannya. Kesederhanaan juga biasa melingkupi kehidupan para pemimpin besar sebab fitnah kepemimpinan sudah terlalu besar tanpa harus ditambah dengan gaya hidup glamour. Pemimpin yang kuat adalah yang punya sikap dan tegas dalam membuat keputusan. Pemimpin juga harus memberi teladan dan inspirasi, yang akan mempererat kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Menunjukkan arah tujuan beserta jalannya, sekaligus orang pertama yang memulai melangkah untuk sampai ke tujuan. Dan pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menundukkan berbagai fitnah kepemimpinan, termasuk menundukkan dirinya sendiri.

Rasulullah SAW ibarat telaga yang sangat luas dan dalam. Mengambil air ibrah darinya serasa tak ada habisnya. Karenanya, berbagai inspirasi itu sebaiknya segera diinternalisasi, beberapa pembelajaran tersebut seyogyanya dapat langsung diamalkan. Karena domain karakter kepemimpinan adalah domain amal, bukan sekadar pengetahuan, apalagi cuma hapalan. Kita memang bisa mengambil ibrah kepemimpinan dari siapa saja, namun jangan lupakan sudah ada manusia paripurna yang menjadi uswatun hasanah bagi seluruh umat manusia. Semoga kita benar-benar apat menunjukkan kecintaan kita pada Rasulullah Muhammad SAW dengan meneladani beliau dalam diamnya ataupun bicaranya, dalam perkataannya ataupun perilakunya.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab: 21)

Wada’an Ya Syahru Ramadhan

Wada’an Ya Syahru Ramadhan…

Idul Fitri tinggal menghitung hari, cepat sekali, dinanti sekaligus ditangisi
Lebaran telah di hadapan, membahagiakan sekaligus mengharukan
Amal shalih kembali penuh tantangan, tak lagi begitu ringan dilakukan
Lapar dan dahaga tak lagi warnai keseharian, setan pun lepas ikatan

Lidah tak lagi mudah dijaga, seolah dusta, amarah dan ghibbah hanya dosa di bulan puasa
Ibadah tak lagi jadi fenomena biasa, masjid kembali hampa, jama’ah entah kemana
Qur’an kembali disimpan, hanya terdengar di pengajian, tahlilan dan event tahunan
Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya, melupakan tempat kembalinya

Wada’an Ya Syahru Shiyam…

Sedih berbalut sesal dan harapan mengiringi kepergian bulan Ramadhan
Entah diterimakah semua amalan dan diampunikah segala dosa kesalahan
Entah masihkah diperkenankan tuk bersua kembali di tahun depan

Yang tersisa hanya kekecewaan, sebab waktu tak bisa kembali ataupun dihentikan
Oh, rindu ini belum terpuaskan, ingin rasanya menambah lama masa kebersamaan
Ulangi kembali masa yang berlalu tanpa kebaikan agar tak berbuah penyesalan

Wada’an Ya Syahru Maghfirah…

Malu rasanya menangis memohon ampunan atas kelalaian mengisi tiap detik Ramadhan
Air mata tumpah sebanyak apapun takkan mengubah kesia-siaan menjadi keberkahan
Takut akan tak diterimanya amal jauh lebih besar dari kebahagiaan menyambut Syawal
Akhirnya, hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah lah do’a dan harapan ini kutitipkan

Nuansa indah Ramadhan takkan kubiarkan berlalu begitu saja di bulan selanjutnya
Efek keberkahan Ramadhan kan terus kujaga, terima kasih telah singgah memberi warna

Wada’an Ya Syahru Mubarak… Ilal liqo…

Puisi Bangkit

Bangkit itu, Susah …
Susah melihat orang lain susah
Senang, melihat orang lain senang

Bangkit itu Takut …
Takut untuk korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu Mencuri …
Mencuri perhatian dunia, dengan prestasi

Bangkit itu Marah …
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu Malu …
Malu menjadi benalu
Malu minta melulu

Bangkit itu Tidak ada …
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa

Bangkit itu aku…
Aku, untuk Indonesiaku.

(Deddy Mizwar, 2008)
Selamat Hari Kebangkitan Nasional ^_^

Yang Terbaik Bagimu

Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah), by Ada Band

Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja…
Indahnya saat itu, buatku melambung, disisimu terngiang…
hangat nafas segar harum tubuhmu…
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu…

Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu…
Patuhi perintahmu, jauhkan godaan yang mungkin kulakukan…
dalam waktu ku beranjak dewasa…
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak…

Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya…
Ku terus berjanji takkan khianati pintanya…
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu…
Kan ku buktikan, ku mampu penuhi maumu…

Andaikan detik itu ‘kan bergulir kembali…
Kurindukan suasana, basuh jiwaku, membahagiakan aku…
yang haus akan kasih dan sayangmu…
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati.
..

Kami Tak Pernah Tahu – Izzatul Islam

Kami tak pernah tahu… oh, Al Aqsha
Berapa banyak darah harus tertumpah
Untuk membebsakanmu… Al Aqsha
Yang kami tahu hanyalah, belum setetespun darah
Yang telah kami persembahkan untukmu

Kami tak pernah tahu… oh, Al Aqsha
Berapa raga harus meregang nyawa
Agar engkau tak lagi dihina
Yang kami tahu hanyalah, belum setapakpun langkah
Dan kami belum beranjak dari sini

Kami tak pernah tahu, akankah Ia menyerahkan
amanah ini, dengan segala keterbatasan
Yang kami yakin hanyalah
Kuatkan tekad, teguhkan hati
terus berbuat sejauh jangkauan tangan

Kami tak pernah tahu… oh, Al Aqsha
Bilakah Allah kan mempercayakan tugas mulia ini
agar kami bergabung dalam barisan syuhada
Yang kami yakin hanyalah, haruslah tetap menanti
dengan senandung rindu dan airmata

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana

Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau serimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana?
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana?
Aatau aku harus bagaimana?

1987
Mustofa Bisri (Gus Mus)

“Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” Karya Taufiq Ismail (1989)

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu,
serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku,
meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan
lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria,
serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah
dan sepatu-sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua,
serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam,
di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi air mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun  bilangan umur mereka,
menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit!!
Serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka
tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulur kan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta,
jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,
darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi
‘Allahu Akbar!’ dan ‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika,
mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara, membangkangit resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia,
membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda,
aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia:
doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu dengan kukuh kita bacalah ‘laquwwatta illa billah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

Tanggapan Atas 12 Lagu Anak yang Menyesatkan

Hari ini, untuk kesekian kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu, ada lagi kiriman postingan yang berisi daftar lagu-lagu anak yang menyesatkan. Ketika pertama kali menerima email berisi kritisasi terhadap lagu-lagu anak tersebut semasa saya kuliah, saya hanya tersenyum dan melihatnya hanya sebagai gurauan. Namun semakin sering pesan tersebut diteruskan dan dimuat di berbagai media publik, saya justru semakin melihat keistimewaan lagu-lagu anak dahulu. Apalagi setelah punya anak, semakin tinggi apresiasi saya kepada para penggubah lagu anak di masa lalu. Lagu-lagu anak yang dinamis, ceria dan sederhana. Mungkin terkesan jadul, namun saya lebih rindu lagu anak-anak di masa lalu. Karenanya, tulisan akan coba menyanggah kritikan terhadap lagu-lagu anak yang menyesatkan.

1. “Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!” Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna hijau ? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5!
Tanggapan : Lirik lagu balonku yang benar adalah “Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. HIJAU, kuning, kelabu, merah muda dan biru…”. Jadi adalah logis jika balon hijau yang disebut pertama diceritakan meletus. Yang menyesatkan adalah yang mengubah liriknya sehingga mengesankan lagu tersebut menyesatkan.

2. “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang… kalo berjalan prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!” Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) . Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)… kalo berjalan prok..prok.. prok..” nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek.. srek..” itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!
Tanggapan : Perhatikan lirik lagunya dengan cermat, “Aku seorang kapiten, mempunyai pedang panjang. Kalau berjalan prok-prok-prok, aku seorang kapiten”. Menyesatkan dari sisi mana, secara tata bahasa sudah tepat. “Aku seorang kapiten” adalah subjek dan inti kalimat, dapat diletakkan di awal atau akhir kalimat. Kalimat lain hanya pelengkap/ pengembangan. Masak kritikus lagu anak ga tau ejaan yang disempurnakan.

3. “Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..” Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan tel4njan9!
Tanggapan : Tau majas pars prototo, menyebutkan sebagian untuk menggambarkan keseluruhan? Itulah yang ada pada lagu “Bangun Tidur”. Mandi menggambarkan keseluruhan aktivitas di dalamnya, begitu pula dengan menggosok gigi. Masak harus didetailkan ambil sikat gigi, buka tutup odol, oleskan odol secukupnya, dan seterusnya. Halo, kita lagi bahas lagu bukan novel! Fokus pada nilai moral bukannya redaksional.

4. “Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X” Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!
Tanggapan : Lagu-lagu anak bercirikan dinamis penuh keceriaan, mengenalkan dunia secara sederhana. Tengok kiri kanan bukan hanya akan menjadi gerak dinamis yang menarik dalam permainan anak, namun juga mengandung unsur eksplorasi kreativitas anak. Jadi tengok kiri kanan adalah bagian dari pembelajaran anak, bukan tanpa maksud. Picik sekali mengintepretasikannya sebagai bingung dan ga tau mau ngapain.

5. “Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Surabaya .. bolehlah naik dengan naik percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama” Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta- Bandung dan Jakarta-Surabaya!
Tanggapan : Ini lagi, lagu permainan anak yang penuh gerak dinamis dan keceriaan malah dimasukkan unsur komersil. Kalimat “bolehlah naik dengan percuma” tidak salah. Pertama, hal tersebut sesuai dengan rima (tut tut tut dengan turut, surabaya – percuma). Kedua, zaman saya kecil dulu realitanya anak kecil memang tidak bayar karcis, apalagi lagu tersebut dinyanyikan dalam permainan. Emangnya lebih baik anak kecil diajarin matre?

6. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li..” Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit..! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!
Tanggapan : Kritikus lagu anak ini pastinya tidak tau teori onomatope (tiruan bunyi). Jadi tidak masalah bunyi sepatu disebut prok prok prok, bunyi hujan dikiaskan sebagai tik tik tik ataupun bunyi burung kutilang dianggap trilili lili. Awalnya kata “dangdut” juga berasal dari onomatope lho. Onomatope di negara lain banyak yang lebih aneh.

7. “Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum susu..”
Ini jelas lagu dewasa dan untuk konsumsi anak2! karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!
Tanggapan : Kritiknya semakin mengada-ada. Pertama, sudah jelas kata “kupu-kupu” dan “minum susu” adalah rima dalam pantun singkat. Kedua, anak kecil yang ga boleh makan nasi cuma ampe usia 6 bulan, MPASI aja udah dicampur nasi. Siapa bilang anak kecil ga boleh makan nasi? Menyesatkan. Ketiga, lirik lagu yang cerdas, penelitian kontemporer menunjukkan bahwa waktu untuk minum susu terbaik adalah malam hari! Sekarang siapa yang sesat? Yuk pok ame-ame (tepuk ramai-ramai ^_^)

8. “nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk”
Anak2 indonesia diajak tidur dgn lagu yg “mengancam”
Tanggapan : Anak kecil itu kritis, perlu dijelaskan alasan untuk mengerjakan sesuatu. Digigit nyamuk adalah jawaban paling sederhana dan logis untuk meminta anak kecil tidur. Masak harus kita jelaskan mengenai kerja otak, saraf dan organ-organ tubuh kita. Sementara jawaban atas pertanyaan mengapa kita tidur pun masih misteri.

9. “Bintang kecil dilangit yg biru…”
Bintang khan adanya malem, lah kalo malem bukannya langit item?
Tanggapan : Ada dua fakta yang dilanggar oleh kritikus kita. Pertama, bintang tidak hanya terlihat di malam hari. Kedua, langit identik dengan warna biru. Frasa “langit yang biru” juga menegaskan bahwa langit gelap di malam hari sama dengan langit terang di siang hari, bahkan menegaskan bahwa bintang hanya akan tampak di langit yang cerah. Kita sendiri tentu akan kesulitan jika harus menjelaskan bahwa langit itu sebenarnya tidak ada, warna biru muncul karena batas pandangan manusia.

10. “Ibu kita Kartini…harum namanya.”
Namanya Kartini atau Harum?
Tanggapan : Komennya mirip dengan jawaban nomor 2, perhatikan lirik lagu dengan cermat. “Ibu kita Kartini” adalah subyek dan inti kalimat, kalimat lain hanya tambahan/ pelengkap. Perlu juga dicermati bahwa kata “harum” tidak diawali dengan huruf kapital sehingga tidak dimaksudkan untuk menyebut nama manusia. Penggunaan frasa “harum namanya” bahkan mengajarkan lebih awal anak kecil tentang majas sinestesia. Daripada mencemooh lebih baik kita TERSENYUM MANIS ^_^

11. “Pada hari minggu ku turut ayah ke kota. naik delman istimewa kududuk di muka.”
Nah,gak sopan khan..
Tanggapan : Kritikan yang sangat tidak cerdas. Dalam KBBI juga sudah jelas bahwa salah satu definisi muka adalah “sisi bagian (sebelah depan)”. Kalau kata “depan” yang digunakan, malah tidak terbentuk rima (kota – muka – bekerja – jalannya). Seharusnya tidak perlu dipermasalahkan, kecuali kalo liriknya “duduk di roda” ^_^

12. “Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”
kalo mau nanam jagung, ngapain nyangkul dalam-dalam…
Tanggapan : Seperti halnya jawaban nomor 4, lagu “Menanam Jagung” penuh keceriaan, gerak yang dinamis dan memuat unsur edukasi. Secara psikologis, kalimat “cangkul yang dalam” sudah tepat karena akan merangsang aktivitas psikomotorik yang anak lakukan. Secara logika pun masuk akal, seberapa kuat sih daya cangkul anak kecil? Jangan disamakan dengan petani yang biasa mencangkul. Kedalaman cangkulannya beda. Lagipula mereka mencangkul di kebunnya sendiri kok situ yang repot ^_^

Masih terkait dengan kritikan terhadap lagu anak di atas, saya sejujurnya justru merasa prihatin dengan anak-anak di masa sekarang. Mereka justru hapal lagu tentang patah hati dibanding lagu yang penuh keceriaan masa kecil. Mereka justru belajar meniru gerakan-gerakan aneh mulai dari goyang ngebor, goyang gergaji hingga gangnam style daripada bergerak dinamis sambil bernyanyi gembira bersama teman-teman mereka. Mereka terlalu cepat dewasa dan kehilangan masa kecil yang menyenangkan. Dalam pandangan saya, kritik dan kewaspadaan seharusnya justru ditujukan untuk lagu-lagu sekarang yang kurang mendidik. Bagaimana dengan Anda?

“Sajak Palsu” Karya Agus R. Sarjono (1998)

“Selamat pagi, Pak! Selamat pagi, Bu!”, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.
Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.
Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu.
Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah Bapak dan Ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.
Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya Pak guru dan Bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru.

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu.
Dengan gairah tinggi mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.
Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu.

Masyarakatpun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu.
Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu.
Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu di tengah seminar dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.

“My Little Girl”, Maher Zain

You are a miracle
You are a blessing from above
You brought joy to my soul
And pleasure to my eyes
In my heart I can feel it
An unexplainable feeling
Being a father
The best thing that I could ever ask for

Just thinking of you makes me smile
Holding you, looking in your eyes
I’m so grateful for having you
And everyday I pray
I pray that you’ll find your way

You know I love you, I love you
My little girl, my little girl
I ask God to bless you, and protect you always
My little girl, my little girl

You’re like a shining star
So beautiful you are
My baby girl, you light up my world
I pray that I’ll get the chance
To be around and watch you grow
And witness your first steps
And the first time when you will call me “dad”

I could spend hours watching you
You’re so innocent, so wonderful and pure
O God I can not express my gratitude!
But I’ll raise her good,
‘cause all I want is to please You
And now I pray You’ll guide her steps forever