Category Archives: Sya’ir

Sepenggal Do’a*

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya.

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami. Rukunkan antar hati kami.
Tunjuki kami jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang.
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua.
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda.
Jangan Engkau tanamkan di hati kami
kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman.
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan,
pengkhianatan dan kedengkian

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar.
Wahai yang menyambung segala yang patah.
Wahai yang menemani semua yang tersendiri.
Wahai pengaman segala yang takut.
Wahai penguat segala yang lemah.
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah.
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran.
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak.
Engkau Maha Tahu dan melihatnya.

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu.
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu.
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur.
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus.
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami.
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami,
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara.
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana pada kami.
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”

Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu.
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu.
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu. Adil pasti atas kami keputusan-Mu.
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu. Dengan semua nama yang jadi milik-Mu.
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu.
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu.
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu.
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib.

Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
sebagai musim bunga hati kami.
Cahaya hati kami.
Pelipur sedih dan duka kami.
Pencerah mata kami.

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh
dari taufan yang menenggelamkan dunia.
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim
dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa
dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa
dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam
dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat,
pasukan sekutu Ahzab angkara murka Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus
dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami
dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami.
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri.
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba
dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti.
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu
yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu.
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab.
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi
yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami,
ummati ummati, ummatku ummatku.
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan
semua kekayaan demi perjuangan.
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera.
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu
Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman.
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala.
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah.
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran.
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami.
Jangan jadikan kami pengkhianat
yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini.
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah.
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa.

*Doa ini dilantunkan K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan, di Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 9 Agustus 1998

Muhasabah Cinta

“Wahai pemilik nyawaku, betapa lemah diriku ini. Berat ujian dari-Mu, kupasrahkan semua pada-Mu. Tuhan, baru ku sadar, indah nikmat sehat itu. Tak pandai aku bersyukur, kini kuharapkan cinta-Mu…” (’Muhasabah Cinta’, EdCoustic)

* * *

Lirik nasyid di atas pertama kali kudengar dua tahun lalu dalam acara Donor Darah di Banjarmasin. Adalah Dawam, etoser Kalsel yang melantunkannya dengan sendu. Dan beberapa waktu yang lalu, nasyid tersebut kembali terngiang dalam pembaringan. Ya, setelah pulang kampung tahun lalu, Allah SWT kembali mengistirahatkan dengan diagnosa dokter yang berjudul ‘gejala tipes’. Terlepas dari kekurangsepakatanku atas diagnosa dokter tersebut, waktu sakit kali ini sangat tepat paska cuti bersama sehingga praktis lebih dari sepekan aku tidak berangkat ke kantor, padahal ada pembahasan RKAT penting yang harus dilakukan.

Aku sepakat dengan Dr. Ahmad al-Syurbasi yang dalam sebuah buku yang berjudul ‘Yasalunaka fi al-Dinwa al-Hayat’ menyampaikan lima hikmah dari sakit yang dialami manusia, yaitu untuk beristirahat, mendidik, sebagai teguran Allah, kesempatan bertaubat dan kesempatan memperbaiki hubungan sosial. Beberapa pekan terakhir, tubuh ini memang terforsir tanpa memiliki cukup waktu untuk beristirahat termasuk di akhir pekan dan ketika cuti bersama. Nikmat sehatpun baru terasa ketika tubuh terasa luluh lantak, ketika gerak dalam shalat menjadi terbatas, ketika untuk tilawahpun sedemikian susah. Kesadaran kelemahan diri muncul seketika mengikis kesombongan yang bersemayam dalam jiwa.

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW datang menjenguk Salman al-Farisi yang tengah berbaring sakit. Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya ada tiga pahala yang menjadi kepunyaanmu di kala sakit: engkau sedang mendapat peringatan dari Allah SWT, doamu dikabulkan-Nya, dan penyakit yang menimpamu akan menghapuskan dosa-dosamu.” Tiga ‘pahala’ ini serta merta membuatku bersedih. Peringatan dari Allah SWT berupa penyakit seolah menyiratkan bahwa berbagai peringatan kecil dari-Nya selama ini tidak pernah kugubris. Pengabulan do’a di kala sakit seolah menggambarkan bahwa selama ini di kala sehat ada jarak dengan-Nya sehingga do’a tidak serta merta diijabah. Penghapusan dosa dengan perantara penyakit seolah menegaskan bahwa banyak sekali dosa yang masih dilakukan dan tidak akan cukup ditebus tanpa gugurnya dosa melalui penyakit. “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, sakit, kebingungan, kesedihan dan keruwetan hidup, atau bahkan tertusuk duri, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Muttafaq Alaih)

Muhasabah cinta di kala sakit tidaklah cukup sampai disitu, rasa syukur yang lahir dari kesabaran berbuah banyak nikmat yang begitu indah. Rasanya tidak pernah do’a dan dzikir yang sedemikian khusyu’. Rasanya begitu bahagia ketika banyak saudara yang menyatakan empatinya pun sebatas menitipkan do’a. Rasanya begitu tersanjung haru mendapati mereka yang menyempatkan diri datang untuk membesarkan hati dan membuktikan cinta. Rasanya ada cinta yang membuncah kepada sosok yang setia mendampingi pun keletihan terus menghampiri. Ya, sakit adalah terminal peristirahatan, tempat memupuk keikhlashan, kesyukuran dan kesabaran, mengembalikan energi yang sempat terkuras, mengisi jiwa dengan semangat dan cinta yang membara. Dan setelah ini, ada hari – hari penuh makna yang harus dioptimalkan untuk beribadah dan menebar kebermanfaatan…

* * *

“…Kata-kata cinta terucap indah, mengalun berzikir di kidung doaku. Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku. Butir-butir cinta air mataku, teringat semua yang Kau beri untukku. Ampuni khilaf dan salah selama ini, Ya Ilahi, muhasabah cintaku…”
(’Muhasabah Cinta’, EdCoustic)

“Untukmu”, Najmuddin

Untukmu izinkan kulukiskan harapan
Engkau zamrud permata keindahan dunia
Kelembutan fitrah yang harus kau jaga
Dengannya kan kau guncang dunia

Engkau madrasah pendidik generasi
Tempat bersemai mujahid – mujahid pengganti
Peluh serta darah yang telah tertumpah
Di hamparan bumi Islam tercinta ini

Engkau adalah penentram jiwa yang gundah
Dikala ujian dan goda datang menimpa
Kaulah peneguh hati nan dilanda sunyi
Senyummu penyejuk sanubari

Ketangguhan ruhiyahmu terpancar terang
Lewat bening mata kehalusan pribadi
Masih adakah keindahan di mata
Selain pribadi muslimah yang terpuji

Namun ingat pesan sang pembawa risalah
Kaulah fitnah terbesar sepeninggalnya
Karena begitu mudah dirimu terguncang
Oleh manis kata gemerlap dunia

Masih adakah keraguan di hati
Sedang surga balasan keikhlasanmu
Cinta tunduk baktimu dinanti selalu
Berjuta pejuang pembela Islam

Engkau adalah penentram jiwa yang gundah
Di kala ujian dan goda datang menimpa
Kaulah peneguh hati nan dilanda sunyi
Senyummu penyejuk sanubari
Untukmu izinkan kulukiskan harapan…

Untukmu izinkan kulukiskan harapan

“Dinda”, Gradasi

Engkau sambut pagi
Dengan senyum ceria yang menawan
Mengantarkan daku pergi
Meraih mimpi kita

Andai ku bisa
Membuat diriku menjadi dua
Kutinggalkan yang satunya
Tuk temanimu, cinta…

Duhai permataku,
Dinda, sejuta pesonamu hadir dalam jiwa
Dinda, senyumanmu mampu membuatku tak mengeluh
Dinda, binar bola matamu terangi hariku
Dinda, ketenangan bagai telaga yang kau berikan

Ketika ku pulang
Dibawah naungan lembayung senja
Kau berhias menantiku
Bertabur rindu kita…

“Adalah Engkau”, Seismic

Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk menjadi bunga dihatiku
Menjadi peneduh kalbu
Di perjalananku, di perjalananku

Tibalah waktu yang telah kurindu
Tuk selalu bersama denganmu
Tlah terbuka pintu itu
Akad tlah terucap sudah
Dinda marilah melangkah

Dinda temanilah aku di setiap detikku
Dengan doamu
Bila terpisahkan waktu
Tetaplah di sini di dalam hatiku

Ya Rabbi izinkanlah kami
Untuk terjaga selalu di jalan-Mu
Dinda doamu laksana pelepas dahaga
Di lelahnya jiwa

Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk selalu hadir di hidupku
Mengiringi setiap langkah saat menuju
acuan hidup ini

“Kasih Kekasih”, In Team

Tak perlu aku ragui
Sucinya cinta yang kau beri
Kita saling kasih mengasihi
Dengan setulus hati

Ayah ibu merestui
Menyarung cincin di jari
Dengan rahmat dari Ilahi
Cinta kita pun bersemi

Sebelum diijabkabulkan
Syariat tetap membataskan
Pelajari ilmu rumah tangga
Agar kita lebih bersedia
Menuju hari yang bahgia

Kau tahu ku merinduimu
Ku tahu kau menyintaiku, oh kasih
Bersabarlah sayang
Saat indah kan menjelma jua

Kita akan disatukan
Dengan ikatan pernikahan, oh kasih
Di sana kita bina
Tugu cinta mahligai bahgia

Semoga cinta kita
Di dalam ridha Ilahi
Berdoalah selalu
Moga jodoh berpanjangan

Ps: sesekali kompakan ga apalah ^_^

“Impian Kasih”, Hijjaz – In Team

Kasih dengarlah hatiku berbicara
Kasih izinkan diriku bertanya
Bisakah cinta bersemi
Mengundang restu Ilahi
Adakah bahgia yang diimpi
Menjadi satu realiti.

Kasih ku sedari kekurangan diri
Kasih ku insafi kelemahan diri
Ku ingin sunting dirimu
Menjadi permaisuri hatiku
Sebagai isteri yang berbudi
Kebanggaan para suami

Wanita hiasan dunia
Seindah hiasan adalah wanita solehah
Yang akan membahagiakan
Syurga dalam rumah tangga

Hanya itu yang ku inginkan
Dari insan yang amat kusayang
Damaikanlah resah hatiku
Aku rindu kasih dan sayangmu
Terimalah seadanya
Akulah hiasan pelamin hidupmu

Andainya tiada jodoh
Untuk ke singgasana
Ku pasrahkan segalanya
Karena takdir yang akan menentukan
Impian kasih

A Story of Candle

The candle burned bright
So beautiful, decorated the dark night
Warmed the cold spirit
Awakened the heedless heart
Reassuring soul for more devout

The candle began to melt
Never stop give benefit
Illuminate the surrounding, day and night
Unnoticed, many missed tahajud when night
Unconscious, reading Qur’an also forgot

The candle-light shrinking
Stays on but is actually dying
Daily worship is no longer doing
Without food the soul also drying
Just realized that the time has running

The candle nearly exhausted
Regret always comes delayed
Can’t return the time that has elapsed
Hopefully still be given period
To meet with the month that blessed

“Bimbang”, Suara Persaudaraan

Kulihat bunga di taman
Indah berseri menawan
Cantik anggun dan jelita
Melambai-lambai mempesona

Semerbak bunga setaman
Semarak warna warnian
Memancarkan keanggunan
Sejuk dalam cahaya Islam

Ada bertangkai mawar, kaya akan wewangian
Khasanah yang memerah, kuning, ungu dan merah jambu
Ada si lembut melati, pantulkan putih nan suci
Tebarkan harumnya yang khas, tegar jelajahi medan ganas

Si kokoh anggrek, berbaris serumpun
Menanti siraman kasih sejuk air jernih
Rimbun senyum dahlia
Palingkan gundah lara

Terhenyak daku tersadar
Semua itu bukan tujuan
Tetapi bunga Islam
Yang tertaburkan benih iman pilihan

“Hanya Tuhan yang Tahu”, UNIC

Ku pendamkan perasaan ini
Ku rahsiakan rasa hati ini
Melindungkan kasih yang berputik
Tersembunyi di dasar hati

Ku pohonkan petunjuk Ilahi
Hadirkanlah insan yang sejati
Menemani kesepian ini
Mendamaikan sekeping hati

Oh Tuhanku, berikanlah ketenangan abadi
Untukku menghadapi
Resahnya hati ini mendambakan kasih
Insan yang ku sayang

Di hati ini
Hanya Tuhan yang tahu
Di hati ini
Aku rindu padamu
Tulus sanubari menantikan hadirmu
Hanyalah kau gadis pilihanku

Kerana batasan adat dan syariat
Menguji kekuatan keteguhan iman
insan yang berkasih