Category Archives: Teladan

Perkenalkan, Dihya ElBarra Udiutomo

Sesungguhnya mereka (umat-umat terdahulu) menamakan (anak-anak mereka) dengan nama para nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka” (HR. Muslim)

Salah satu pertanyaan umum paska kelahiran anak setelah ucapan selamat dan do’a adalah ‘namanya siapa?’, apalagi kali ini istriku melahirkan seorang putra, tidak lagi putri seperti kedua kakaknya. Dan ketika disampaikan namanya adalah Dihya ElBarra Udiutomo lantas muncul pertanyaan berikutnya, “Dihya artinya apa?”. Sebagaimana kakak-kakaknya: Rumaisha Alifiandra Udiutomo dan Muthiah Rheviani Udiutomo, sepertinya memang perlu dituliskan kisah dibalik nama untuk mempermudah penjelasan. Termasuk penjelasan untuk anak-anakku kelak.

Dihya, Yusuf dari Madinah
Kata ‘Dihya’ dalam bahasa Arab berarti sinaran, biasa digunakan untuk nama anak laki-laki. Sementara untuk anak perempuan dengan makna serupa biasa digunakan nama ‘Dhiya’ (sinar/ cahaya). Pengucapannya mirip, mengapa ‘Dihya’ digunakan sebagai nama laki-laki? Sejatinya, pemilihan nama ‘Dihya’ merujuk pada nama seorang sahabat Rasulullah SAW: Dihyah Al Kalbi r.a. Huruf ‘h’ di belakang sengaja dihilangkan agar tidak rancu pengucapannya dengan nama perempuan ‘Diah’ atau ‘Diyah’ yang berarti cantik/ ayu. Lantas siapakah Dihyah Al Kalbi r.a. ini?

Dari Jabir r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku para nabi, maka aku melihat Musa adalah seorang laki-laki yang kuat, seakan-akan dia adalah lelaki dari kaum Syanu’ah. Dan aku melihat Isa bin Maryam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat, adalah Urwah bin Mas’ud. Dan aku melihat Ibrahim, dan yang paling mirip denganya di antara yang pernah aku lihat ialah sahabat kalian –yaitu diri beliau sendiri— dan aku pun melihat Jibril, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat adalah Dihyah.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain, Imam An-Nasa’i meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Yahya bin Ya’mur dari Ibnu Umar r.a., “Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW dalam rupa Dihyah Al-Kalbi”.

Dihyah bin Khalifah bin Farwah Al-Kalbi al-Qaddhai r.a. merupakan shahabat anshar yang memiliki penampilan yang sangat menawan. Dihyah r.a. masuk Islam pada tahun pertama hijriyah, namun belum ikut dalam perang Badar di tahun kedua hijriyah. Dihyah r.a. baru mulai bergabung dalam pasukan kaum muslimin di Perang Uhud dan tak pernah absen dalam peperangan hingga Perang Yarmuk di zaman khalifah Umar bin Khattab r.a. Setelah itu, Dihyah menetap di Damaskus – Syam hingga wafat di masa kekhalifahan Muawiyah r.a.

Kisah tentang Dihyah r.a. tidak pernah terlepas dari ketampanannya sehingga Malaikat Jibril pun kerap turun ke bumi menyerupai wajahnya. Dalam Perang Ahzab misalnya, setelah kaum musyrikin berhasil dikalahkan dan meninggalkan Madinah, Malaikat Jibril turun membawa perintah dari langit untuk menghukum kaum Yahudi Bani Quraidzah. Para sahabat bahkan ummul mukminin mengira Rasulullah SAW tengah berbicara dengan Dihyah Al Kalbi r.a. sampai Rasulullah SAW menjelaskan bahwa yang tadi datang adalah Malaikat Jibril. Kisah masyhur lain tentang Dihyah r.a. adalah perannya sebagai duta untuk menyampaikan surat dakwah dari Rasulullah SAW kepada Heraklius, Kaisar Byzantium – Romawi. Dalam beberapa kitab diantaranya Al Bidayah Wal Nihayah – Ibnu Katsir, dikisahkan bahwa Heraklius menyampaikan pesan kepada Rasulullah SAW melalui Dihyah Al Kalbi r.a. bahwa dirinya membenarkan risalah kenabian namun ‘tersandera’ oleh tahta dan nyawanya sehingga tidak dapat berbuat banyak. Sementara sahabat Heraklius, Ibnu Nathur, seorang Uskup Agung di Syam akhirnya memilih untuk bersyahadat dan masuk islam, pun akhirnya dibunuh. Di Madinah, Dihyah r.a. menyampaikan pesan dari Heraklius dan Ibnu Nathur, dan Rasulullah SAW pun mendo’akan keduanya.

Elbarra, Allah dan Surga
Kata ‘Barra’ dalam bahasa Arab berarti bersih, biasa digunakan untuk nama anak laki-laki. Berbeda dengan Bara’ (dengan satu huruf ‘ra’ dan hamzah di akhir kata) yang berarti berlepas diri, Al Barra justru mempunyai susunan huruf yang sama dengan Al Birru yang berarti kebaikan. Menggunakan awalan ‘el’ dan bukan ‘al’ hanya variasi saja, toh alif lam disana hanya menunjukkan kata benda (isim). Adapun pemilihan nama ‘Elbarra’ merujuk pada nama seorang sahabat Rasulullah SAW: Al Barra bin Malik Al Anshari r.a. Jika Rumaisha adalah ibunya Anas bin Malik r.a, maka Al Barra ini adalah saudaranya. Lantas apakah keistimewaan Al Barra bin Malik r.a. ini?

Tak ada yang istimewa dari fisik Al Barra bin Malik r.a. Tubuhnya kurus dan tidak terurus. Tak ada yang menyangka orang ini telah membunuh lebih dari 100 orang kafir dalam duel satu lawan satu. Belum jika ditambah banyaknya musuh Allah SWT yang dibunuhnya dalam berbagai peperangan yang diikutinya. Kisah tentang Al Barra bin Malik r.a. tak pernah lepas dari keberanian dan kepahlawanan. Bahkan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab r.a. pernah mengirimkan surat kepada gubernur di seluruh wilayah Islam yang isinya, “Jangan kalian jadikan Al-Barra sebagai komandan pasukan karena dikhawatirkan akan membahayakan pasukannya. Dikarenakan dia seseorang yang selalu berada di ujung tombak pasukan.”. Di antara kisah kepahlawanan Al Barra r.a. adalah dalam perang Yamamah menghadapi puluhan ribu pasukan nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab. Setelah pasukan Ikrimah bin Abu Jahal r.a. dipukul mundur, Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq mengirim pasukan di bawah komando Khalid bin Walid r.a. Namun pasukan Musailamah masih terlalu kuat, menyisakan berbagai kisah heroik syahidnya para sahabat di Yamamah, seperti Tsabit bin Qais, Zaid bin Al Khaththab, ataupun Salim (radhiallahu anhum). Al Barra bin Malik r.a. dan kaum anshar pun terjun berjuang dan berhasil memporak-porandakan pasukan Musailamah. “Wahai penduduk Madinah! Tak ada Madinah bagi kalian sekarang. Yang ada hanya Allah dan surga!”, demikian kata-kata semangat Al Barra r.a. kepada kaum Anshar yang membuatnya dikenal dengan dua kata: Allah dan Surga.

Pasukan Musailamah mundur dan berlindung dalam ‘kebun kematian’ yang memiliki dinding menjulang tinggi. Tubuh kecil Al Barra r.a. membuatnya ringan diangkat di atas tombak dengan berpijak pada tameng. Ia pun melompat melewati tembok tinggi benteng musuh. Melawan pasukan musuh sendirian untuk bisa membuka pintu ‘kebun kematian’ dari dalam. Satu per satu nyawa pasukan Musailamah meregang. Dengan lebih dari 80 luka akibat panah dan sayatan pedang, Al Barra r.a. berhasil membuka gerbang ‘kebun kematian’. Kaum muslimin pun menyerbu masuk. Kemenangan berhasil diraih dengan tewasnya Musailamah Al Kadzdzab beserta puluhan ribu pasukannya. Dirawat selama sebulan langsung oleh Komandan Khalid bin Walid r.a, ternyata Al Barra r.a. belum ditakdirkan syahid seperti cita-citanya. Perang Tustar menaklukkan Persia lah yang mengakhiri kisah kepahlawanannya. Dalam perang ini, tangan Al Barra r.a. sempat melepuh saat menyelamatkan saudaranya, Anas bin Malik r.a. yang terkena kaitan cakar besi panas yang dilemparkan pasukan Persia dari atas benteng. Namun ia belum juga syahid, sementara benteng Persia tampak kian sulit ditaklukkan.

Dari Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ada beberapa orang yang berpenampilan kusut dan jelek dengan baju yang sudah lusuh jika dia bersumpah maka niscaya Allah akan menakdirkan sumpahnya tersebut terealisasi. Dan jika mereka berdoa niscaya doanya tidak akan ditolak oleh Allah, salah seorang di antara golongan ini adalah Barra bin Malik.” (HR. Tirmidzi). Para sahabat yang menjadi saksi sabda Rasulullah SAW kala baiat aqabah tersebut segera meminta Al Barra r.a. untuk berdo’a. Akhirnya Barra bin Malik r.a. memanjatkan dua do’a: pertolongan Allah SWT untuk kemenangan kaum muslimin, dan kesyahidan yang mengantarkannya bertemu dengan Rasulullah SAW. Perang kembali berkecamuk, Al Barra r.a. berhasil mengalahkan salah seorang pembesar Persia, Marzaban az Zarih. Dan tidak menunggu lama, kedua permohonannya dikabulkan Allah SWT.

Monitoring dan Evaluasi Produktif (2/2)

Burung Hud-hud pun bercerita panjang lebar tentang negeri Saba’ yang penduduknya menyembah matahari dan dipimpin oleh seorang wanita (QS. An Naml: 22 – 26). Laporan yang detail disampaikan Hud-hud sebagai jawaban atas ketelitian Nabi Sulaiman a.s. Hikmah ketiga dalam melakukan monev efektif adalah dengan memperhatikan hal-hal detail. Hal-hal yang umum tampak akan terlihat lumrah, bahkan bisa ‘dikondisikan’ sehingga terlihat baik. Karenanya Rasulullah SAW mengevaluasi sahabat hingga amalan spesifik, karenanya Umar r.a. melakukan monitoring hingga ke pelosok-pelosok. Sehingga menjadi lumrah ketika menilai kebersihan sebuah rumah misalnya, bukan dilihat dari tampilan luar, melainkan harus dilihat bagaimana dapur dan kamar mandinya, bahkan perlu diperiksa apakah ada debu di perabotan rumahnya.

Menariknya, Nabi Sulaiman a.s. tak lantas meng-iya-kan laporan dari Hud-hud. Beliau akan memeriksa kebenarannya terlebih dahulu (QS. An Naml: 27) dan menugaskan Hud-hud untuk menindaklanjuti temuan tersebut (QS. An Naml: 28). Hikmah keempat dalam melakukan monev efektif adalah memverifikasi temuan. Triangulasi temuan menjadi perlu sebab perspektif manusia beragam, belum lagi karakter manusia juga berbeda-beda, ada yang suka mengeluh, ada yang gemar melebih-lebihkan, ada pula yang terlalu tawadhu. Pembuatan keputusan ataupun aksi tindak lanjut monev sangatlah ditentukan oleh kesahihan temuan, karenanya konfirmasi begitu penting agar tidak ‘salah obat’.

Jalur diplomasi pun ditempuh, mulai dengan pengiriman surat dan memberikan kesempatan bagi Ratu Negeri Saba untuk mendiskusikannya beserta para punggawanya (QS. An Naml: 28 – 35). Ada tahapan dalam melakukan perbaikan, termasuk pelibatan pihak yang dimonev untuk berpikir dan bersikap. Inilah hikmah kelima, memberikan ruang untuk introspeksi, berdiskusi dan menyikapi temuan monev menjadi penting agar hadir kepemilikan terhadap tindakan perbaikan yang diharapkan akan terealisasi. Sikap langsung memberikan umpan balik yang spesifik justru terkesan menghakimi dan meniadakan berpikir kritis yang akan mengeliminasi tumbuhnya kesadaran. Akan lebih baik lagi jika solusi lahir dari wawas diri pihak yang dimonev, komitmen perbaikan tentu akan lebih kuat.

Hal yang cukup menonjol dari surat yang dikirim Nabi Sulaiman a.s. adalah diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim dan berisi ajakan untuk tunduk memeluk Islam (QS. An Naml: 30 – 31). Ada misi perbaikan yang diusung sebagai hikmah keenam. Monev harus didasari keikhlasan untuk melakukan perbaikan dengan rangkaian aktivitas yang penuh kebaikan. Salah satu nilai kebaikan yang harus melekat dalam aktivitas monev adalah integritas. Integritas inilah yang membuat Nabi Sulaiman a.s. menolak harta yang dihadiahkan kepadanya (QS. An Naml: 35 – 37). Integritas inilah yang menjadi hikmah ketujuh. Penilaian hasil monev tidak seharusnya terganggu oleh jamuan yang dihidangkan atau pun akomodasi yang disediakan, apalagi dipengaruhi oleh agenda jalan-jalan yang difasilitasi. Semangat perbaikan yang penuh berkah harusnya dirawat dengan niat baik dan proses yang baik pula.

Setelah itu Nabi Sulaiman a.s. berdiskusi dengan para pembesarnya untuk merumuskan rencana aksi selanjutnya. Beliau menawarkan kepada para pembesarnya fastabiqul khairat untuk memindahkan singgasana Ratu Saba (QS. An Naml: 38 – 40). Hikmah kedelapan itu adalah musyawarah. Sehebat apapun figur individu, akan lebih efektif dan penuh keberkahan segala sesuatu yang diputuskan melalui musyawarah. Hasil keputusan akan lebih ringan untuk dilaksanakan dengan komitmen bersama. Musyawarah juga akan meminimalisir perkara-perkara yang luput karena keterbatasan perseorangan. Dan musyawarah akan memunculkan potensi-potensi untuk berkontribusi melakukan perbaikan.

Strategi menarik yang digunakan Nabi Sulaiman a.s. untuk mengokohkan keimanan Ratu Saba adalah dengan memberikan semacam studi kasus yang menunjukkan keterbatasan Ratu Saba sebagai hamba Allah. Pertama, setelah singgasana Ratu Saba dipindahkan, Nabi Sulaiman a.s. memerintahkan punggawanya untuk mengubahnya, untuk melihat apakah Ratu Saba mengenalinya atau tidak. Ratu Saba tentu terkejut mendapati Nabi Sulaiman a.s. memiliki singgasana yang serupa dengan miliknya (QS. An Naml: 41 – 42). Kedua, lantai istana yang dibuat seperti kolam air semakin menghadirkan kesadaran Ratu Saba bahwa kekuasaan dirinya tak ada apa-apanya. Ia pun lantas mengakui kebesaran Allah SWT (QS. An Naml: 43). Strategi pemberian contoh dan studi kasus ini memperkuat hikmah kelima mengenai pentahapan dan pelibatan secara lebih teknis. Karena sebaik-baik perbaikan hendaknya dimulai dari kesadaran dan pemahaman, bukan karena paksaan. Semakin jelas gambaran perbaikan yang disadari perlu dilakukan, semakin besar pula potensi perubahan yang akan terjadi.

Hikmah terakhir yang tidak dapat luput dari kisah Nabi Sulaiman a.s. adalah senantiasa bersyukur. Dengan segala kekuasaannya, Nabi Sulaiman a.s. tidak pernah lalai dalam bersyukur. “…Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku adalah al-Ghaniy (Maha Kaya), lagi al-Karim (Maha Mulia)” (QS. An Naml: 40). Jika tidak ada temuan mayor dalam aktivitas monev, maka hal tersebut perlu disyukuri. Pun bila ada temuan penting juga perlu disyukuri karena hal tersebut berarti membuka peluang untuk improvement. Masalah kesyukuran ini juga terkait dengan motivasi untuk melakukan perbaikan karena syukur akan berbanding lurus dengan nikmat yang Allah SWT berikan. Termasuk nikmat ditunjukkan kekurangan untuk bisa diperbaiki, nikmat untuk bisa membenahi diri, dan nikmat untuk dapat terus bersyukur.

Jadi jika aktivitas monev hanya jadi rutinitas tanpa pemaknaan mendalam ataupun belum menghasilkan perbaikan seperti yang diharapkan, bisa jadi ada yang salah dalam pemahaman, niat awal, proses yang dilakukan, atau pun penyikapan yang keliru terhadap temuan. Kisah monev ala Nabi Sulaiman a.s. banyak memberi inspirasi tentang menjalani monev secara efektif, mulai dari konsistensi hingga rasa syukur yang hendaknya menyertai setiap aktivitas monev. Dan ada baiknya juga jika inspirasi ini juga menggerakkan setiap kita untuk senantiasa memonitoring dan mengevaluasi diri. Senantiasa mencoba menjadi pribadi yang lebih baik setiap saatnya sebelum hari dimana amalan manusia akan dievaluasi langsung oleh Allah SWT.

…Wahai Rabbku, perkenankanlah aku untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu (Allah) yang telah Engkau  anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih
(QS. An Naml: 19)

Monitoring dan Evaluasi Produktif (1/2)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)

Dalam catatan sejarah, shalat Jum’at dengan jama’ah terbanyak pernah terjadi pada tahun 1453 sekitar 1,5 km di depan benteng Konstantinopel. Sejarah juga mencatat kisah inspiratif di balik terpilihnya Sultan Muhammad sebagai imam shalat dengan jama’ah sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn tersebut. Awalnya, tidak ada yang berani menawarkan diri hingga Sultan Muhammad meminta seluruh kaum muslimin yang hadir saat itu untuk berdiri seraya berkata, “Siapa di antara kalian yang sejak akil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!”. Ternyata tak seorang pun yang duduk. Sultan Muhammad kemudian melanjutkan, “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunnah sekali saja silakan duduk!”. Sebagian kaum muslimin pun duduk. Beliau pun melanjutkan, “Siapa diantara kalian yang sejak masa akil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!”. Semua kaum muslimin pun duduk kecuali Sultan Muhammad –yang bergelar Al Fatih setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel—yang tidak pernah meninggalkan shalat malam dan kemudian dipilih sebagai imam.

Di luar dari inspirasi keteladanan seorang Muhammad Al Fatih, kisah di atas juga menunjukkan pentingnya evaluasi sebagai dasar pembuatan keputusan. Sudah banyak referensi tentang definisi, urgensi, variasi hingga tahapan implementasi dalam monitoring dan evaluasi yang biasa disingkat monev. Sayangnya, berbagai teori tersebut tidak lantas memberikan gambaran utuh tentang monev yang efektif. Jika kita mencermati Deming Cycle atau siklus PDCA misalnya, tahapan Check memegang peranan penting dalam melahirkan suatu perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement). Dalam konsep POAC atau POACE misalnya, Control dan Evaluation menjadi salah dua fungsi utama dalam manajemen yang tak tergantikan. Hal ini menegaskan pentingnya monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan suatu program atau kegiatan.

Ada motivasi dan inspirasi perbaikan yang menyertai aktivitas monev. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah melakukan inspeksi mendadak (sidak) saat berkumpul bersama para shahabat selepas shalat subuh. Kala itu, hanya Abu Bakar As-Siddiq r.a. yang didapati tengah berpuasa, sudah menjenguk orang sakit dan bersedekah sepagi itu sehingga Rasulullah SAW menggembirakannya dengan balasan surga. Evaluasi yang sangat memotivasi sahabat lainnya. Evaluasi juga beliau lakukan dalam berbagai kesempatan mulai dari bacaan Al Qur’an, pemahaman agama, hingga dalam pemilihan duta dakwah dan pasukan perang. Pentingnya evaluasi ini juga tercermin dari sabda Rasulullah SAW, “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Tirmidzi).

Adapun monitoring telah dicontohkan Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. jauh sebelum istilah blusukan dikenal. Ada berbagai kisah inspiratif dari aktivitas monitoring yang dilakukan Khalifah Umar r.a. Salah satu yang dikenal adalah kisahnya dengan janda yang memasak batu untuk membuat anaknya tertidur sehingga Umar r.a. langsung memikul karung gandum, menyerahkannya kepada janda tersebut, bahkan memasakkannya untuk makan anak dari perempuan tua tersebut. Ada berbagai kisah blusukan Umar Al Faruq lainnya, di antaranya dengan perempuan tua yang buta, dengan ibu yang hendak menyapih anaknya ataupun dengan ibu yang hendak melahirkan. Kisah lain yang juga masyhur adalah monitoring yang mengantarkan Umar memperoleh menantu. Muraqabatullah yang ditunjukkan seorang gadis penjual susu yang menolak permintaan ibunya untuk mencampur susunya dengan air, menjadi penyebab Khalifah Umar menikahkan anaknya dengan gadis tersebut. Monitoring yang berkah. Apalagi dari pernikahan tersebut kelak lahir Ibunda dari sosok Umar bin Abdul Aziz yang melegenda.

Monitoring dan evaluasi dapat menghadirkan banyak inspirasi perbaikan asalkan dilakukan tidak sekadar rutinitas, formalitas, apalagi hanya untuk menggugurkankewajiban sekaligus jalan-jalan. Agenda monev juga dapat berujung pada perbaikan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya ketika ada tindak lanjut konkret yang menyertai implementasi monev. Salah satu kisah monev penuh hikmah dapat kita temui dalam kisah Nabi Sulaiman a.s. yang cukup panjang dituturkan dalam Al Qur’an Surah An Naml. Nabi Sulaiman a.s. dikaruniai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan (QS. An Naml: 15), bahkan memahami bahasa binatang (QS. An Naml:16) dan menjadi pemimpin bagi para jin dan manusia. Nabi Sulaiman a.s. biasa mengatur dengan tertib tentaranya dari para jin, manusia dan burung (QS. An Naml: 17), hingga suatu ketika beliau tidak menemukan Hud-hud di barisan burung (QS. An Naml: 20).

Hikmah pertama dari monev ala Nabi Sulaiman a.s. adalah konsistensi dalam mengevaluasi. Tanpa konsistensi dan mengenal benar personil yang dibawahinya, tidak mungkin akan terdeteksi ketidakhadiran seekor burung kecil dengan jambul ini. Konsistensi ini juga ditunjukkan Rasulullah SAW dalam mengevaluasi para sahabat, serta Umar bin Khattab r.a. dalam melakukan monitoring ke warganya. Konsistensi ini bukan berarti tidak melakukan inspeksi mendadak (sidak), namun menunjukkan ada kesinambungan proses monev yang dilakukan. Bukan hanya saat ada kepentingan untuk memenuhi dokumen audit atau sertifikasi, misalnya. Atau sekadar aktivitas mendadak di akhir tahun saat serapan anggaran tidak terlalu baik, misalnya. Konsistensi ini erat kaitannya dengan pemahaman utuh akan urgensi monev, termasuk sebagai upaya menghadirkan perbaikan berkesinambungan.

Konsistensi ini juga terkait dengan ketegasan terhadap aturan main, karenanya Nabi Sulaiman a.s. tak segan untuk menghukum Hud-hud yang mangkir (QS. An Naml: 21). Namun hukuman tidak serta merta diberikan tanpa memberi kesempatan kepada Hud-hud untuk memberikan penjelasan, bahkan pembelaan. Disini ada hikmah kedua aktivitas monev, setegas apapun ketentuan yang diterapkan, tetap perlu dibuka ruang diskusi agar tak sekadar menghakimi. Perlu ditegaskan bahwa esensi monev bukanlah mencari kesalahan, namun mencari peluang perbaikan. Istilahnya ‘tegas namun santun’. Karena ketegasan dan kesantunan bukanlah dua perkara yang layak didikotomikan.

(bersambung)

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (3/3)

Last but not least, karakter pemimpin teladan adalah encourage the heart. Senantiasa mendorong, membesarkan hati dan memberi semangat. Ada energi positif seorang pemimpin yang terus memancar sehingga mampu mengikat dan menginspirasi mereka yang dipimpin. Dalam buku Prophetic Leadership karya Achyar Zein yang mengungkapkan karakteristik dan ibroh kepemimpinan setiap Nabi, kepemimpinan Rasulullah dicirikan sebagai Rahmat bagi seluruh alam. Jika kita telaah sirah nabawiyah dan hadits-hadits tentang akhlak Rasulullah memang banyak sekali kita temui kisah menyentuh bagaimana Rasulullah penuh kasih sayang. Keluhuran akhlak Rasulullah kian menjadikan beliau sosok pemimpin teladan yang dekat dengan yang dipimpinnya. Leaders touch a heart before they ask for a hand, demikian kata John C. Maxwell.

Lihat saja ketika ada seorang Arab Badui kencing di masjid, alih-alih membentaknya, Rasulullah menunggunya menyelesaikan hajatnya, membersihkan kotorannya dan menasehatinya. Atau ketika mendapati orang yang selalu melemparinya kotoran jatuh sakit, beliau malah datang menjenguk. Rasulullah juga menyuapi yahudi buta yang senantiasa mencaci maki beliau. Mendo’akan penduduk Thaif yang membalas seruan dakwah beliau dengan lemparan batu. Atau lihat bagaimana kafir Quraisy yang ketakutan ketika Fathu Makkah justru dapat jaminan keselamatan dari beliau. Kepemimpinan teladan dalam kasih sayang inilah yang mampu menghimpun hati kaum Muhajirin dengan Anshar, atau bahkan suku Aus dengan Khazraj yang telah ratusan tahun berperang. Encourage the heart.

Kaum muslimin menderita kekalahan di Perang Uhud karena human factor yaitu indisipliner, bahkan Rasulullah pun terluka cukup parah. Namun tidak ada penyesalan apalagi menyalahkan ulah sekelompok orang. Pun pahit dirasakan, banyak hikmah di balik kekalahan, termasuk turunnya ayat, “Dan disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan dari sekelilingmu. Maka maafkanlah mereka, mohon ampunanlah bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.” (QS. Ali Imran: 159). Encourage the heart.

Kelima hal tersebut terhimpun dalam satu kesatuan sehingga sosok pemimpin mampu menjadi teladan. Menjadi pemimpin yang diikuti karena dipercaya dan dicintai, bukan karena paksaan ataupun ketakutan. Menjadi pemimpin yang mampu membangun super team bukan menjadikan dirinya layaknya superman. Tugas yang tak kalah penting dari pemimpin teladan adalah memastikan bahwa proses kaderisasi kepemimpinan terus berjalan. Keteladanan tidak terhenti sampai batas usia pemimpin. Keberhasilan Rasulullah dalam mengkader generasi terbaik inilah yang menyebabkan kita masih dapat mengambil banyak teladan dari para sahabat Rasulullah. Belajar tentang kesantunan, keberanian, kedermawanan, kecerdasan, kesederhanaan, amanah, pengorbanan, dan banyak nilai kehidupan lainnya.

Bagaimanapun, kepemimpinan sejatinya adalah keteladanan. Rasulullah adalah sosok teladan seorang pemimpin yang penuh keteladanan. Pemimpin yang mampu menjadi model, menginspirasi visi bersama, berani menghadapi tantangan, menggerakkan orang lain dan menguatkan hati mereka yang dipimpinnya. Namun tidak mudah menjadi pemimpin teladan, karenanya memimpin dan belajar saling terkait, tak bisa dipisahkan. Keteladanan seorang pemimpin bahkan lebih terlihat ketika ia belajar, bukan ketika ia mengajar. Dan jika ada tips dan trik terbaik dalam memimpin, hal itu tentulah keteladanan. Mari kita (belajar) menjadi pemimpin teladan!

The best example of leadership is leadership by example” (Jerry McClain)

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (2/3)

Karakteristik selanjutnya seorang pemimpin teladan adalah challenge the process. Berani menghadapi proses. Risalah dakwah adalah amanah yang berat sehingga semua Rasul pasti memiliki karakteristik ini. Ketika wahyu pertama kali turun di Gua Hira, Rasulullah bukan hanya terkejut akan datangnya Jibril yang tiba-tiba dan memerintahkan beliau untuk membaca. Momen pengangkatan kenabian tersebut membuat tubuh Rasulullah bergetar keras. Menggigil takut. Bahkan setibanya di rumah pun beliau langsung meminta Khadijah r.a. untuk menyelimutinya. Setelah kondisi Rasulullah membaik, Khadijah r.a. mengajak beliau bertemu Waraqah bin Naufal, sepupunya yang pendeta Nasrani. “Sungguh, ini sama seperti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Musa! Andai saja aku masih bugar dan muda pada masa itu! Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!”, ujar Waraqah setelah mendengar cerita Nabi saw. “Benarkah mereka akan mengusirku?”, tanya Rasulullah saw penuh keheranan. “Ya, tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan mereka akan dimusuhi. Jika aku masih hidup pada saat itu, niscaya aku akan membantumu dengan sekuat tenaga.” Tidak berapa lama setelah peristiwa tadi, Waraqah meninggal (HR. Bukhâri dan Muslim).

Waraqah sudah menyampaikan konsekuensi yang akan dihadapi para Rasul Allah, namun pemimpin teladan adalah mereka yang berani menerima tantangan. Di awal masa kenabian, Abu Thalib yang khawatir akan situasi gawat yang akan dihadapi keponakannya Muhammad pernah meminta beliau menghentikan dakwahnya. Dengan tenang Rasulullah SAW menjawab, “Wahai paman! Demi Allah! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku takkan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya, atau aku binasa karenanya.” Challenge the process.

Dalam sejarah kenabian, Rasulullah tidak hanya berani menghadapi beban kepemimpinan ataupun berbagai ujian dalam berdakwah. Rasulullah juga berani bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah diambilnya. Dalam perang Uhud, Rasulullah menyetujui usul mayoritas sahabat dari golongan muda yang ingin menyambut tantangan musuh di luar Madinah, pun beliau sendiri lebih suka bertahan di Madinah. Para sahabat menyesali sikap mereka yang terkesan memaksa Rasulullah untuk keluar dari Madinah, mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak bermaksud menyelisihi pendapatmu, putuskanlah sekehendakmu! Jika engkau lebih suka bertahan di Madinah maka lakukanlah!”. Beliau menjawab, ”Tidak pantas bagi seorang nabi menanggalkan baju perang yang telah dipakainya sebelum Allah memberi keputusan antara dia dengan musuhnya.”. Challenge the process.

Hal keempat yang menjadi cirri dari seorang pemimpin teladan adalah enable other to act. Ya, kepemimpinan adalah seni memengaruhi dan menggerakkan orang lain. Dalam buku “The 100, a Ranking of the Most Influental Persons in History, karya Michael Hart, Nabi Muhammad saw menempati peringkat pertama, bahkan tetap menempatinya pun buku beberapa kali direvisi. Peneliti nonmuslim ini berargumen bahwa Muhammad adalah satu-satunya manusia yang meraih keberhasilan spektakuler, baik di bidang penyiaran agama maupun kehidupan dunia. Yesus hanya di peringkat ketiga di bawah Newton. Rasulullah adalah penyebar risalah salah satu agama terbesar sekaligus pemimpin politik dan panglima tentara yang brilian serta pemimpin agama yang hebat dan agung. Muhammad yang lahir dari keluarga sederhana di lingkungan yang terbelakang diakuinya sebagai politikus terbesar dan kepala pemerintahan terhebat dalam sejarah kemanusiaan universal. Pengaruhnya bukan saja masih terasa namun terus berkembang hingga saat ini.

Michael H. Hart bukan satu-satunya tokoh nonmuslim yang mengapresiasi kepemimpinan Muhammad, banyak nama-nama lain yang mengungkapkan hal serupa di antaranya Mahatma Gandhi, Karen Amstrong dan Sir George Bernard Shaw. Jika nonmuslim saja memuji, apalagi para sahabat yang langsung berinteraksi dengan beliau. Lihat saja bagaimana Rasulullah menggerakkan kaum muslimin dalam peristiwa baiatul aqabah, hijrah, berbagai ekspedisi dakwah hingga berbagai peperangan yang dialami. Banyak sekali kisah yang menggambarkan betapa Rasulullah mampu membuat para sahabat bergerak. Rela berkorban harta bahkan jiwa mereka demi pemimpinnya tercinta. Enable other to act.

Sebuah sketsa indah terjadi menjelang perang badar. Rencana menghadang kafilah Abu Sufyan berbuntut perang besar melawan pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya berkali-kali lipat dengan persenjataan yang lengkap. Dalam musyawarah, Miqdad bin Amr dari kaum muhajirin mengatakan, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti apa yang diperlihatkan Allah kepada engkau, dan kami akan selalu bersama engkau. Demi Allah, kami takkan berkata sebagaimana kaum Bani Israel berkata kepada Nabi Musa: ‘Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan duduk menunggu di sini’. Tetapi kami semua akan berkata: Pergilah engkau bersama Rabb-mu berperang dan sesungguhnya kami akan berperang pula bersama engkau. Demi Dzat Yang Mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami siap bertempur bersama engkau hingga mencapai tempat itu!”. Selanjutnya Sa’ad bin Mu’adz dari kaum Anshar berujar, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepada engkau dan kami telah  membenarkan engkau, kami juga telah memberikan sumpah janji untuk selalu patuh dan taat kepada engkau, maka majulah engkau untuk berperang sebagaimana engkau kehendaki. Demi Dzat Yang Mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau bersama kami terhalang lautan, lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, maka kami semua akan terjun pula bersama engkau, tak seorangpun di antara kami yang akan mundur. Kami sangat gembira jika esok engkau menghadapi musuh, kami berada di sisimu bersama-sama menghadapinya. Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang yang sabar dan jujur di dalam pertempuran. Semoga Allah menunjukkan kepada engkau tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan limpahan barakah Allah!”. Enable other to act.

(bersambung)

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (1/3)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Azhab: 21)

Salah satu hikmah diutusnya Rasul dari kalangan manusia –bukan dari kalangan malaikat—adalah agar dapat memberikan contoh atau keteladanan dalam kehidupan manusia. Dalam Al Qur’an, ada dua Rasul yang memperoleh gelar uswatun hasanah, yaitu Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhamad saw. Keteladanan yang dimaksud tentu dalam hal yang dapat diimplementasikan, bukan dalam konteks mukjizat. Bagaimana Nabi Ibrahim dapat selamat ketika dibakar hidup-hidup atau bagaimana Nabi Muhammad saw. dapat membelah bulan adalah dimensi mukjizat, bukan sisi manusiawi yang dapat diteladani. Terlalu mengelu-elukan Rasul pun menjadi kurang tepat jika kita hendak meneladani sosok beliau karena hanya akan memperbesar gap hingga realisasinya nyaris mustahil.

Sesungguhnya engkau memiliki budi perkerti yang agung”, demikian salah satu ‘pengakuan’ Allah SWT dalam Al Qur’an terhadap kemuliaan akhlak Rasulullah saw. Banyak literatur yang mengangkat tema tentang keteladanan Rasulullah saw. termasuk dalam aspek kepemimpinan, namun tidak banyak yang cukup lugas mengungkapkan prinsip dasar kepemimpinan Rasulullah saw. sehingga beliau mampu menjadi pemimpin teladan. Bahkan mampu mencetak generasi pemimpin teladan. Penulis teringat materi orientasi kampus 16 tahun lalu mengenai The Five Practice of Exemplary Leadership karya James M. Kouzes dan Barry Z. Posner yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Lima Praktek Kepemimpinan Teladan. Lalu bagaimana kepemimpinan teladan ala Rasulullah?

Hal pertama dan mendasar yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin teladan adalah Model the Way. A leader is one who knows the way, goes ythe way, and shows the way”, demikian ungkap John C. Maxwell. Qur’an Surah Al Azhab ayat 21 di atas turun ketika para sahabat mengeluh tentang kesulitan mereka dalam mempersiapkan perang Khandaq. Kala itu Madinah dikepung dan persediaan logistik menipis. Ketika para sahabat mengganjal perut mereka dengan sebuah batu untuk menahan lapar, Rasulullah saw. mengganjal perutnya dengan dua buah batu. Rasulullah saw. juga terlibat langsung menggali parit. Sejarah mencatat, Rasulullah saw. telah memimpin tidak kurang dari 9 perang besar dan mengatur sedikitnya 53 ekspedisi militer. Ali bin Abi Thalib r.a. bahkan mengatakan, “Kuperhatikan diri kami saat Perang Badar. Kami berlindung pada Rasulullah saw. Beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh dan orang yang paling banyak ditimpa kesulitan”. (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah)

Masyarakat butuh pemimpin yang mampu menjadi teladan dan pelopor dalam kebaikan. Gelar Al Amin yang diperoleh sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul sejatinya menunjukkan potensi keteladanan dan kepeloporan Rasulullah saw. Kepeloporan yang konsisten beliau tunjukkan. “Pernah di suatu malam, penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang sangat dahsyat. Orang-orang kemudian berangkat menuju ke arah suara tersebut. Rasulullah saw. bertemu mereka saat hendak kembali pulang. Ternyata beliau telah mendahului mereka menuju ke arah suara tersebut. Waktu itu beliau naik kuda milik Abu Thalhah, di lehernya terkalung sebuah pedang. Beliau bersabda, ‘Kalian tidak perlu takut, kalian tidak perlu takut’”. (HR. Muslim). Model the way ini menjadi fundamental karena sejarah mencatat salah satu penyebab runtuhnya berbagai peradaban dan ideologi adalah karena tidak adanya figur yang mampu model the way.

Hal kedua yang harus dipraktikkan seorang pemimpin teladan adalah Inspire a shared vision. Berbicara tentang visi Rasulullah saw., memang ada beberapa visi yang sifatnya mukjizat. Misalnya tentang kabar penaklukkan Persia, Romawi dan Yaman dalam penggalian parit perang Ahzab yang puluhan tahun kemudian baru terjadi. Atau tentang kabar kemenangan dalam perang Mu’tah di bawah panji yang dipegang ‘pedang Allah’ setelah bertutut-turut akan syahid para pemimpin pasukan: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Atau tentang kabar penaklukan Konstantinopel dan Roma. Namun tidak sedikit juga visi yang bisa dipahami sebagai strategi cerdas yang sifatnya manusiawi. Sebutlah peristiwa hijrah yang merupakan momentum visioner membangun peradaban Islam. Yastrib atau Madinah sudah lama dikondisikan, pengelolaan sumber daya untuk menyukseskan momentum tersebut juga sudah dipersiapkan. Membangun masjid, mempersaudarakan kaum muslimin hingga adanya piagam Madinah merupakan langkah-langkah strategis yang visioner. Pun demikian dengan Perjanjian Hudaibiyah yang sekilas banyak merugikan kaum muslimin, ternyata memiliki dampak kemenangan jangka panjang.

Keberadaan visi saja tidak cukup. Visi inspiratif harus disebar dan dipahami utuh oleh seluruh komponen. Itulah yang dilakukan Lee Kuan Yew dengan menyebarkan kartu pos bergambar Swiss kepada penduduk Singapura di masa awal kemerdekaannya. Semakin jelas visualisasi visi, semakin besar pula visi akan memotivasi segenap stakeholder. Apalagi jika visi tersebut mampu menginspirasi secara menyeluruh dan dinakhodai oleh sosok pemimpin yang bisa jadi teladan. Inspire a shared vision.

(bersambung)

IBU : kuncI peradaBan dUnia

Nancy Matthews Elliott begitu kesal dengan sikap kasar Reverend G. B., guru SD anaknya yang tidak bisa diajak berdiskusi. Kemarin sepulang sekolah, anaknya membawa surat dari gurunya bahwa pihak sekolah tidak sanggup lagi mengajari Tommy (panggilan anaknya) karena sangat bodoh dan bebal, padahal Tommy baru 3 bulan bersekolah. Nancy memang menyadari anaknya sulit mendengar sehingga tidak mudah menangkap pelajaran, namun mengeluarkan Tommy dari sekolah dianggapnya bukan keputusan bijak. Akan tetapi, mendapati langsung penolakan pihak sekolah atas anaknya, Nancy hanya bisa berujar, “Anak saya bukanlah anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik  dan mengajarinya”. Nancy yang pernah berprofesi sebagai seorang guru bergegas pulang kemudian berkata kepada anaknya, ”Saya tahu Thomas, kemampuanmu memang buruk hari ini. Tetapi suatu saat nanti, kamu akan menjadi orang yang hebat.

Mulailah Nancy mengajarkan cara membaca, menulis dan berhitung kepada anaknya. Nancy juga membelikan banyak buku dan selalu mendorong anaknya untuk melakukan apa saja yang disukainya. Setiap kali anaknya mengalami kesulitan, ia berkata, “Thomas, kamu anak hebat, Nak, kamu pasti bisa menemukan jawabannya! Mommy percaya itu sayang!”. Dan setiap kali anaknya berhasil menemukan jawaban dari masalahnya, Nancy selalu menanggapinya dengan antusias, memeluknya sambil berkata, “Kamu memang anak kebanggaan Mommy, Nak!”. Kondisi pendengaran anaknya semakin memburuk di usia 12 tahun namun Nancy tidak putus asa mendidiknya. Nancy bahkan mendorong Tommy untuk berjualan surat kabar, buah apel, dan permen di sebuah jalur kereta api. Selain mendapat penghasilan tambahan untuk proses belajarnya, Tommy juga memperoleh pengetahuan praktis yang membantunya kelak di kehidupan nyata.

Nancy bukanlah seorang ibu yang serba tahu, seiring berjalannya waktu, semakin banyak pertanyaan anaknya yang tidak mampu dijawabnya. Nancy mengakui keterbatasannya, namun berupaya membantu Tommy mencari jawabannya dengan menemui ahlinya atau mencari referensi yang sesuai. Pernah suatu ketika pencariannya selama berbulan-bulan tidak membuahkan hasil, Nancy pun berkata pada anaknya, “Thomas anakku sayang, kita telah buktikan bahwa ternyata tak seorangpun kita temukan bisa menjawab semua ini dan tak satu bukupun pernah ditulis orang tentang hal ini. Thomas sayang, kamu tahu apa artinya, Nak? Ya, itu artinya kamulah yang diminta Tuhan untuk menemukannya bagi orang lain. Ayo, Nak! Kamu coba dan coba terus, mommy yakin suatu saat kamu pasti berhasil”. Waktupun berlalu begitu cepat, sejarah kemudian mencatat sosok Tommy kecil yang sulit mendengar menjadi seorang penemu paling produktif sepanjang masa yang telah menghasilkan 1039 hak paten, termasuk fonograf, kamera film dan bola lampu : Thomas Alfa Edison.

Utamanya Seorang Ibu
Dalam Bahasa Indonesia, ‘ibu’ tidak hanya didefinisikan sebagai wanita yang telah melahirkan seseorang atau panggilan hormat kepada wanita. Kata ‘ibu’ juga diartikan sebagai bagian yang pokok atau utama, karenanya kita mengenal istilah ‘ibu kota’ ataupun ‘ibu pertiwi’. Ibu mewakili sosok yang mengajarkan tentang arti pengorbanan. Ibu digambarkan sebagai manusia dengan kasih sayang yang tidak terbatas, kecintaan yang tulus diberikan kepada anaknya tanpa pamrih. Ibu –dengan berbagai sinonimnya– merupakan nama yang paling sering disebut dan dicari oleh seorang anak. Keberadaannya akan menentramkan, ketiadaannya akan membawa kesedihan mendalam, dan mengenangnya mengantarkan pada kesyahduan.

Ibu juga dikenal sebagai “mahdul hadhoroh” atau buaian peradaban karena dari rahim seorang ibu inilah para pengukir peradaban lahir untuk kemudian tumbuh. Sejarah telah mencatat kehadiran orang-orang besar tidak pernah sendirian, selalu ada orang hebat yang membersamainya, dan figur ibu kerap mengisi posisi ini. Kisah Nancy ibunda Thomas Alfa Edison hanya salah satu contoh bagaimana peran ibu kerap melampaui batas-batas kebiasaan manusia. Optimalisasi peran ini yang membuat seorang ibu menjelma menjadi kunci peradaban, tidak harus langsung menjadi tokoh sentral yang mengguncang dunia, namun menjadi arsitek yang mempersiapkan para tokoh pengguncang peradaban.

Nyatanya, tidak semua ibu mampu dan dipercaya untuk mengemban amanah sebagai ibu yang menggenggam kunci peradaban. Tidak sedikit ibu yang menyia-nyiakan buah hatinya, gagal mendidiknya, menyakitinya, bahkan ada saja ibu yang menyiksa hingga membunuh anaknya. Ada lagi ibu yang justru menjerumuskan anaknya kepada pilihan hidup yang tidak benar. Ya, surga memang ada di bawah telapak kaki ibu, namun ternyata tidak di setiap ibu. Ibu memang menentukan jatuh bangunnya suatu bangsa, namun ternyata tidak sembarang ibu dapat menjadi ibu peradaban. Sebagaimana pahlawan adalah mereka yang terpilih, ibu peradaban juga orang pilihan. Dan pilihannya adalah pilihan sadar untuk menentukan sendiri posisi yang dikehendaki : menjadi tiang penyokong yang kokoh atau menjadi penghancur peradaban.

Menjadi Ibu Peradaban
Al Ummu madrasatun”, ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya, sebuah madrasah peradaban. Bahkan seorang Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa ibu yang baik adalah benteng terkuat yang diketahuinya. Seorang bijak berkata, “Seorang ibu adalah lembaga pendidikan yang jika ia benar-benar mempersiapkan dirinya, berarti ia telah mempersiapkan sebuah generasi yang benar-benar digjaya”. Para tokoh dan pahlawan peradaban jumlahnya tidak banyak, demikian pula dengan ibu peradaban. Mempersiapkan diri menjadi seorang ibu peradaban menjadi syarat mutlak untuk melahirkan para pejuang peradaban. Ada beberapa karakter dan mentalitas positif yang tidak bisa tidak harus dimiliki seorang ibu yang mengusung cita-cita mulia sebagai kunci peradaban dunia.

Ibu peradaban terus memberikan yang terbaik tanpa ingin dikenal. Ibu peradaban tidak merasa perlu namanya bersanding dengan kebesaran nama anaknya. Popularitas bahkan menjadi ujian bagi ketulusan pengorbanannya. Segala jerih payah akan terbayar sudah jika melihat prestasi gemilang dan senyum bahagia anak-anaknya. Mungkin sedikit orang yang mengenal R.A. Tuti Marini Puspowardojo, orang yang paling berperan dalam pembentukan karakter B.J Habibie. Ibu dari Presiden RI ke-3 tersebut lah yang menanamkan nilai-nilai ilmu pengetahuan dan perjuangan sejak kecil. Setelah suaminya, Alwi Abdul Jalil Habibie, meninggal karena serangan jantung, Tuti Marini lah yang mengantarkan B.J. Habibie melanjutkan pendidikan ke Bandung, ke luar negeri, hingga meraih banyak kesuksesan. Seperti halnya Nancy Matthews Elliott, nama mereka jauh tertutupi prestasi dan kebesaran nama anaknya. Namun kekurangtenaran tersebut sama sekali tidak mengurangi kehebatan ibu-ibu peradaban tersebut.

Ibu peradaban memiliki visi besar melampaui usianya. Ibu peradaban mampu menemukenali potensi khas anak yang dididiknya, bahkan ketika hampir semua orang berputus asa dengan anaknya. Visi besar itu tertanam dalam sehingga menginspirasinya dalam mendampingi perjalanan hidup sang anak. Bahkan dalam keadaan marah sekalipun, visi itu yang akan terlontar, bukan sumpah serapah. Ada kisah seorang ibu yang sedang menyiapkan jamuan makan untuk tamu suaminya sementara anaknya sedang asyik bermain pasir. Ketika hidangan sudah siap saji, anaknya tiba-tiba masuk dan menaburkan pasir ke dalam hidangan kambing tersebut. Sang ibu yang melihatnya pun memarahinya, “Idzhab, ja’alakallahu imaman lilharamain!” (Pergi kamu, semoga Allah menjadikanmu imam di Haramain!). Visi besar yang tertanam itu terwujud puluhan tahun kemudian, sang anak, Al Hafizh Abdurrahman As-Sudais, menjadi Imam Masjidil Haram dengan suaranya yang sangat menyentuh. Kisah kemarahan visioner ini juga pernah terjadi di bumi Nusantara. Seorang ibu yang tidak tahan dengan kenakalan anaknya berujar, “Pergilah, jangan pulang sampai kamu bisa menggetarkan kerajaan ini!”. Sang anak, Raden Syahid yang lebih dikenal dengan Sunan Kalijaga, puluhan tahun kemudian benar-benar menggetarkan kerajaan sehingga rakyatnya menyembah Allah SWT.

Ibu peradaban akan menerima anaknya apa adanya, kelebihan dan kekurangannya. Ibu peradaban berlapang dada dengan kekurangan dan kesalahan anak yang merupakan keniscayaan dalam belajar, keniscayaan dalam kehidupan. Ibu peradaban akan terus mendukung anak ke arah kebaikan, namun bukan untuk menentukan jalan hidupnya. Ia akan berada pada posisi yang tepat antara memberikan rambu dan batasan dengan memberi kepercayaan dan kebebasan sepenuhnya. Ibu peradaban punya desain namun tidak mengekang, apalagi mengukur baju sang anak dengan bajunya sendiri. Sekedar menemukenali potensi tentu tidak akan banyak bermakna tanpa dapat mengarahkan dan mengoptimalkannya. Sebagaimana Mary Gates yang mengajarkan anaknya mengenai kedisiplinan dan bagaimana harus bersikap di depan publik. Ia tidak menguasai komputer, tidak pula menyangka anaknya, Bill Gates, akan menjadi salah seorang terkaya di dunia. Namun –sebagaimana Nancy—ia mendukung pilihan terbaik yang ditempuh anaknya dengan caranya sendiri, dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Semua orang punya hak untuk sukses, semua orang bisa menjadi pahlawan dan mengukir tinta emas sejarah, setiap perempuan pun berkesempatan untuk menjadi ibu peradaban. Dunia dengan berbagai problematikanya bahkan membutuhkan banyak sekali ibu-ibu peradaban, yang dari rahimnya lahir para pejuang peradaban. Sepadat apapun kurikulum di sekolah, sepelik apapun dinamika di tengah masyarakat, seorang ibu tetaplah madrasah paling utama bagi anaknya. Wajah peradaban suatu komunitas, suatu bangsa, bahkan dunia akan banyak ditentukan oleh pilihan yang diambil oleh para ibu selaku pemegang kunci perabadan : membangun peradaban yang lebih baik, menghancurkannya, atau bahkan menghapus peradaban dari muka bumi.

“Jika kamu mendidik seorang laki-laki, sesungguhnya engkau hanya mendidik satu dari jutaan penduduk bumi. Tapi jika kamu mendidik seorang perempuan, maka sesungguhnya engkau sedang mendidik sebuah bangsa” (Brigham Young)

Taushiyah Hari Ini

Seseorang melapor kepada Imam Ahmad, “Wahai Imam Ahmad, semalam saya menunaikan sholat malam, saya pun menangis tersedu-sedu. Sehingga rumput yang ada di sekelilingku pun seakan tumbuh karena tangisku…“. Imam Ahmad berkata, “Sungguh, seandainya engkau tertawa terbahak-bahak tapi engkau mengakui dosamu itu lebih baik daripada engkau menangis tersedu-sedu tapi kemudian engkau merasa besar. Sesungguhnya amalan orang yang ujub itu tidak akan pernah naik ke langit
(Sumber: Ighotsatul Lahfan/ Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)

Hanzhalah, Juru Tulis yang Dimandikan Malaikat

Mekkah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan mereka di Perang Badar dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Mekah meratapi para korban di Badar dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa di atas angin karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka. Hingga tibalah saatnya Perang Uhud. Di antara pahlawan perang yang bertempur tanpa mengenal rasa takut pada waktu itu adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Nama lengkapnya Hanzhalah bin Abu ‘Amir bin Shaifi bin Malik bin Umayyah bin Dhabi’ah bin Zaid bin Uaf bin Amru bin Auf bin Malik al-Aus al-Anshory al-Ausy. Pada masa jahiliyah ayahnya dikenal sebagai seorang pendeta, namanya Amru.

Suatu hari ayahnya ditanya mengenai kedatangan Nabi dan sifatnya hingga ketika datang, orang-orang dengan mudahnya dapat mengenalnya. Ayahnya pun menyebutkan apa yang ditanyakan. Bahkan secara terang-terangan dirinya akan beriman dengan kenabian itu. Ketika Allah turunkan Islam di jazirah Arab untuk menuntun jalan kebenaran melalui nabi terakhir. Justru dirinya mengingkarinya. Bahkan dirinya hasud dengan kenabian Muhammad. Tak lama kemudian Allah bukakan hati anaknya, Hanzhalah untuk menerima kebenaran yang dibawa Rasulullah. Sejak itulah jiwa dan raganya untuk perjuangan Islam. Kebencian ayahnya terhadap Rasulullah membuat darahnya naik turun. Bahkan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah tidak mengizinkan. Sejak itulah keyakinan akan kebenaran ajaran Islam semakin menancap di relung hatinya. Seluruh waktunya digunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah.

Di tengah kesibukkannya mengikuti da’wah Rasulullah yang penuh dinamika, tak terasa usia telah menghantarkannya untuk memasuki fase kehidupan berumah tangga. Disamping untuk melakukan regenerasi, tentu ada nikmat karunia Allah yang tak mungkin terlewatkan. Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat bapaknya. Mertuanya itu dikenal sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi saw dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan laga, ia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah. Sementara itu Madinah dalam keadaan siaga penuh. Kaum muslimin sudah mencium gelagat dan gerak-gerik rencana penyerangan oleh pasukan Abu Shufyan. Situasi Madinah sangat genting.

Namun walau dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati dan penuh keyakinan akan melangsungkan pernikahannya. Sungguh tindakannya itu merupakan gambaran sosok yang senantiassa tenang menghadapi berbagai macam keadaan. Hanzhalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Ia meminta izin kepada Nabi saw untuk bermalam bersama istrinya. Ia tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama istri yang baru saja dinikahinya. Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Langit begitu mempesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Keheningannya menjamu temaramnya rembulan, diukirnya do’a-do’a dengan goresan harapan, khusyu’, berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.

Indah…
Sungguh sebuah episode yang teramat indah untuk dilewatkan. Namun disaat sang pengantin asyik terbuai wanginya aroma asmara, seruan jihad berkumandang dan menghampiri gendang telinganya.

“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!” Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena ghirah. Suara itu terdengar sangat tajam menusuk telinganya dan terasa menghunjam dalam di dadanya. Suara itu seolah-olah irama surgawi yang lama dinanti. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, Hanzhalah pun segera melepaskan pelukan diri dari sang istri.

Dia segera menghambur keluar, dia tidak menunda lagi keberangkatannya, supaya ia bisa mandi terlebih dahulu. Istrinya meneguhkan tekadnya untuk keluar menyambut seruan jihad sambil memohon kepada Allah agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid. Dia berangkat diiringi deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat-saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan laga untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri.

Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’alah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Dia bergegas mengambil peralatan perang yang memang telah lama dipersiapkan. Baju perang membalut badan, sebilah pedang terselip dipinggang. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah saw. Berperang bersama Hamzah, Abu Dujanah, Zubayr, Muhajirin dan Anshar yang terus berperang dengan yel-yel, seolah tak ada lagi yang bisa menahan mereka. Bulu-bulu putih pakaian Ali, surban merah Abu Dujanah, surban kuning Zubayr, surban hijau Hubab, melambai-lambai bagaikan bendera kemenangan, memberi kekuatan bagi barisan di belakangnya.

Tubuh Hanzhalah yang perkasa serta merta langsung berada di atas punggung kuda. Sambil membenahi posisinya di punggung kuda, tali kekang ditarik dan kuda melesat secepat kilat menuju barisan perang yang tengah bekecamuk. Tangannya yang kekar memainkan pedang dengan gerakan menebas dan menghentak, menimbulkan efek bak hempasan angin puting beliung. Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang! Musuhpun bergelimpangan. Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Hanzhalah terus melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedangnya berkelebat. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas. Berkali-kali orang Quraisy yang masih berkutat dalam lembah jahiliyah itu mati terbunuh di tangannya.

Sementara itu, dari kejauhan Abu Sufyan melihat lelaki yang gesit itu. Dia ingin sekali mendekat dan membunuhnya, tetapi nyalinya belum juga cukup untuk membalaskan dendam kepada pembunuh anaknya di perang Badar itu. Situasi berbalik, kali ini giliran Hanzhalah mendekati Abu Sufyan ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufyan terpaksa melayaninya dalam duel satu lawan satu. Abu Sufyan terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan. Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufyan berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, behasil menelikung gerakan hanzhalah dan menebas tengkuknya dari belakang. Tubuh yang gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah, boom!!! Para sahabat yang berada di sekitar dirinya mencoba untuk memberi pertolongan, namun langkah mereka terhenti. Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam kondisi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari berbagai penjuru. Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia syahid di medan Uhud. Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur.

Semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Juga tejadi hujan lokal dan tubuhnya terbolak-balik seperti ada sesuatu yang hendak diratakan oleh air ke sekujur tubuh Hanzhalah. Bayang-bayang putih juga berkelebat mengiringi tetesan air hujan. Hujan mereda, cahaya terang padam diiringi kepergian bayang-bayang putih ke langit dan tubuh Hanzhalah kembali terjatuh dengan perlahan. Subhanallah! Padahal sedari tadi hujan tak pernah turun mengguyur, setetes-pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Para sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw dan menceritakan tentang peristiwa yang mereka saksikan. Rasulullah meminta agar seseorang segera memanggil istri Hanzhalah.

Begitu wanita yang dimaksud tiba di hadapan Rasul, beliau menceritakan begini dan begini tentang Hanzhalah dan bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?” Wanita itu tertunduk. Rona pipinya memerah, dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!” Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahwasannya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istrinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.” Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash Shaf:10-12).

(Sumber : ‘Yas’alunaka Fiddiini wal Hayaah’ yang diterjemahkan menjadi “Dialog Islam” karya Dr. Ahmad Asy-Syarbaasyi)

Menikmati Kritik Gurih dan Renyah

“Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran” (Corrie Ten Boom)

Senang dipuji dan tidak suka dikritik sudah menjadi salah satu tabiat manusia. Jangankan pejabat negara yang dengan kekuasaannya dapat ‘membungkam’ para pengritiknya, anak kecil pun akan menunjukkan ketidaknyamanan ketika ada yang mengungkapkan kesalahannya. Sebaliknya, pujian begitu mudah membuat orang tersenyum sumringah dengan mata berbinar – binar, bahkan tidak jarang membuat orang tersebut menuruti keinginan ataupun memberikan sesuatu kepada yang memujinya. Padahal pujian bisa melenakan bahkan menjatuhkan. Pujian kadang juga menunjukkan kemunafikan, membangun budaya bermuka dua. Dalam konteks keikhlasan, pujian juga menjadi ujian berat yang dapat merusak pahala.

Sama-sama dapat menjatuhkan, kritik lebih sulit untuk diterima. Padahal mengungkapkan kritikan lebih mudah daripada menyampaikan pujian. Nafsu memang tidak mudah untuk ditundukkan. Kekurangan seseorang dapat mudah kita komentari, sementara jika kita sendiri yang menjalani juga belum tentu bisa lebih baik. Dan mengritik jelas lebih mudah daripada menerima kritik. Ibarat melihat kuman di seberang lautan namun gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Butuh jiwa besar untuk dapat menerima kritik. Butuh sikap bijak untuk dapat menyikapi kritik dengan benar. Dan dalam berbagai kesempatan, kritik itu dapat membangun, mengingatkan kita akan kekurangan untuk diperbaiki dan kesalahan untuk tidak lagi diulangi.

Ada kisah teladan dari Khalifah Umar bin Khattab r.a tentang bagaimana menyikapi kritik. Pada suatu ketika Umar r.a sedang berpidato di depan umum, Salman Al Farisi r.a menyelanya seraya berujar, “Demi Allah, kami tidak akan mendengarkannya!”. “Kenapa wahai Salman?”, tanya Umar ra.a kepada salah seorang shahabat pahlawan perang Khandaq tersebut. “Karena Anda telah mengistimewakan diri Anda dari kami. Masing-masing kami hanya diberi sehelai baju, tetapi Anda mengambil dua helai untuk diri Anda!”. Umar r.a kemudian mencari anaknya di tengah kerumunan orang seraya bertanya kepada Ibnu Umar r.a, “Kain siapakah yang saya pakai sehelai lagi?”. “Kain bagian saya, hai amirul mu’minin!” jawab Abdullah bin Umar r.a di hadapan khalayak ramai. Umar r.a kemudian berkata, “Sebagaimana kalian ketahui, saya ini bertubuh tinggi, sedangkan kain bagian saya pendek. Abdullah pun memberikan kepada saya bagiannya, dan saya pakai untuk menyambung baju saya”. Dengan air mata berlinang disebabkan kebanggaan dan kepercayaannya, Salman r.a berkata, “Alhamdulillah, sekarang katakanlah wahai Amirul mu’minin, dan kami akan mendengar dan mentaatinya”.

Pada saat lain Umar r.a mengimbau kepada kaum muslimin untuk tidak memberikan mas kawin lebih dari 40 uqiyah (1240 gram) karena saat itu sedang terjadi resesi ekonomi akibat masa paceklik. Jika ada yang melebihkan, kelebihannya akan diserahkan ke baitul maal. Tiba-tiba ada seorang wanita yang memprotesnya, ”Apakah yang dihalalkan Allah akan diharamkan oleh Umar?” seraya membacakan QS. An Nisa ayat 20 (“…dan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun…). Khalifah Umar r.a langsung bekata, ”Astaghfirullah, wanita itu benar dan Umar salah. Dengan ini saya cabut kebijakan yang baru saja saya keluarkan!

Kritik adalah bukti cinta, karenanya Umar r.a menerimanya dengan lapang. Kritik adalah tanda kepedulian sekaligus sebagai kontrol diri yang layak disyukuri. Tidak sedikit teori tentang pengaruh positif kritik terhadap perbaikan diri kita, namun realitanya tetap saja tidak mudah menerima kritik. Apalagi kritik yang disampaikan oleh mereka yang kita nilai tidak lebih baik dari kita, atau kritik yang disampaikan dengan cara yang tidak baik. Menurut penulis yang menyukai kripik, menikmati kritik tidak berbeda dengan menikmati kripik, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, ada langkah-langkah yang harus dilakukan.

Pertama, untuk menikmati kripik kita harus menyukai makan kripik. Berdasarkan penelitian, makan kripik bisa meringankan dan memperbaiki suasana hati, membuat kita lebih tenang dan lebih ceria dalam menjalani kegiatan. Jadi, untuk dapat menikmati kritik, kita harus menyukai kritik. Bersyukur ada yang memperhatikan kita dan mengharapkan kita bisa lebih baik setiap saatnya. Sadarilah bahwa hidup tanpa kritik akan hambar, walaupun hidup penuh dengan kritik akan menggelisahkan.

Kedua, untuk menikmati kripik pastikan bahwa kita punya gigi yang cukup kuat untuk dapat mengunyahnya. Kalau tidak, yang terasa hanya sakit dan ketidaknyamanan. Untuk dapat menikmati kritik, kita harus punya keberanian yang dibungkus dalam kematangan diri. Sikap anti kritik seringkali timbul karena kita takut mengakui bahwa kita punya kekurangan atau kita takut menerima bahwa kita telah melakukan kesalahan. Keberanian untuk menerima kritik menjadi kunci penting untuk dapat menikmatinya. Bagaimanapun, untuk dapat menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita, butuh persiapan hati dan jiwa. Keberanian kita untuk mengoreksi dan memperbaiki diri akan mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan yang mungkin timbul.

Selanjutnya, untuk menikmati kripik, kita harus memilih rasa yang kita sukai, atau jika diperlukan kita tambahkan ‘sesuatu’ agar lebih enak. Tidak semua kripik harus dimakan dan tidak semua kripik dapat dimakan. Untuk dapat menikmati kritik, kita harus memilih, karena memang tidak semua kritik itu benar, tidak semua kritik dapat membangun. Memilih kritik berbeda dengan sikap anti kritik karena memprioritaskan kritik yang membangun jelas berbeda dengan tidak mau dikritik. Perlu diperhatikan, dalam memilih kritik yang perlu didahulukan adalah konten/ isi kritik, bukan siapa yang mengritik. Jika apa yang disampaikan memang baik, namun caranya kurang baik atau orang yang menyampaikan kurang kita sukai, kita perlu menambahkan ‘bumbu’ agar kritik lebih gurih dan renyah. Penuhi pikiran dan jiwa kita dengan hal positif, lakukan perbaikan juga dengan positif.

Terakhir, kripik lebih enak dinikmati sebagai cemilan di waktu santai, sambil membaca buku atau menonton TV misalnya. Makan kripik bukanlah aktivitas utama. Menyikapi kritik juga jangan sampai menjadi tugas utama yang dilakukan, akan sangat melelahkan padahal kita tidak akan dapat memenuhi harapan dari semua orang. Nikmatilah kritik di waktu tenang, jangan sikapi secara emosional. Kritik adalah bumbu penyedap hidangan kehidupan, bukan hidangan utamanya, karenanya harus dinikmati dengan santai, tidak perlu menghabiskan energi untuk menyikapi seluruh kritik yang diterima.

Kritik adalah cermin diri untuk kita berbenah, karena bisa jadi ada kesalahan atau kekurangan yang luput dari perhatian kita, namun tidak luput di mata orang lain. Ada noda di tubuh kita yang hanya dapat kita lihat melalui cermin. Dan orang lain, mulai dari sahabat sampai ‘musuh’ kita, tidak jarang lebih jujur dalam menilai kita daripada diri kita sendiri. Sudut pandang yang berbeda dan akan memperkaya inilah salah satu hal yang menyebabkan kritik tetap dibutuhkan. Dan sudah sewajarnya segala sesuatu yang kita butuhkan dapat kita nikmati. Kritik kerap dipersepsikan negatif sehingga tidak mudah untuk dinikmati. Padahal, kritik ibarat kripik yang gurih dan renyah. Menikmatinya dapat meningkatkan stamina, dapat menambah keceriaan, dapat lebih menentramkan. Menikmati kritik akan membuat kritik lebih bermakna dan bermanfaat. Selamat menikmati kripik, eh, maksudnya menikmati kritik. Yuk, mari…