Category Archives: Teladan

Mengenal Shahabiyah : Ar Rumaisha (1st Person Perspective)

Kunjungan Mush’ab bin Umair ke Madinah membawa kesan tersendiri bagiku. Bukan ketampanan wajah ataupun kehalusan tutur kata yang membuatku terpesona, namun apa yang disampaikannya terasa begitu menghujam di hatiku, mungkin inilah yang disebut dengan hidayah. Namaku Ar-Rumaisha, aku termasuk wanita Anshor gelombang pertama yang menjadi muslimah. Keimanan ini membuatku harus berpisah dengan suamiku, Malik bin Nudhar yang menolak memeluk agama Islam. Ia pergi bersama gengsi dan kejahiliyahannya ke Syam sementara anak kami, Anas, ikut bersamaku di Madinah. Tak lama kemudian tersiar kabar bahwa suamiku bertemu musuh di jalan dan terbunuh, tanggung jawab memelihara Anas pun jatuh di pundakku. Demi memeliharanya, aku bertekad tak akan menikah lagi sampai Anas dewasa, memiliki ilmu pengetahuan yang baik dan menghendaki ibunya menikah. Ketika usianya 10 tahun, aku pergi ke rumah Muhammad untuk menitipkan Anas sebagai pembantu beliau agar bisa terus belajar dalam keseharian dengan utusan Allah yang mulia tersebut. Alhamdulillah, kelak anakku akan menjadi ulama besar yang meriwayatkan ribuan hadits.

Tak terasa, waktu cepat berlalu. Ketika Anas bin Malik sudah beranjak dewasa, datang seorang bangsawan terhormat bernama Abu Thalhah datang melamarku. Ia berkata, ”Ya Rumaisha, Anas telah duduk dalam majelis. Bagaimana jika aku melamarmu?” Aku pun menjawab, ”Demi Allah! Orang seperti kamu ini wahai Abu Thalhah, tidak mungkin ditolak lamarannya. Hanya sayangnya kamu masih belum beriman, sementara aku adalah perempuan mukminah. Tidak halal bagiku menikah denganmu!” Tak mau menyerah, di kesempatan lain ia bertanya, ”Apakah yang menimpamu wahai Rumaisha? Apakah kau tidak suka dengan emas dan perak?” Aku pun menjawab dengan tegas, “Aku tidak suka dengan emas dan perak? Engkau adalah orang yang menyembah sesuatu yang tidak dapat berbicara, tidak dapat melihat, dan tidak sedikit pun memberi manfaat padamu. Wahai Abu Thalhah, tidaklah engkau tahu bahwa tuhan-tuhan yang kalian sembah adalah hasil pahatan seorang budak keluarga fulan? bukankah jika tuhan-tuhan itu engkau sulut dengan api, pasti terbakar? Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku. Sungguh, aku sama sekali tidak mengharapkan mahar yang lain!

Abu Thalhah nampak terkejut kemudian bertanya, ”Bagaimana dan dengan siapa aku harus menyatakan keislamanku, wahai Rumaisha?”. ”Nyatakanlah kepada Rasulullah!”, jawabku singkat. Alhamdulillah, ia segera bergegas menemui Rasulullah yang ternyata sudah menunggunya untuk menyatakan keislamannya. Abu Thalhah datang dengan wajah bersinar untuk melengkapi maharku yang disebut Tsabit Al-Banani sebagai mahar yang paling mulia. Dengan wajah ceria penuh bahagia karena Allah telah memberi petunjuk kepada Abu Thalhah, aku menoleh pada Anas seraya berkata, “Nikahkan Ibu dengan Abu Thalhah“. Singkat kata, aku pun menikah dengan Abu Thalhah yang ternyata merupakan seseorang yang berani, berkomitmen kuat dan tulus berkorban.

Pernah suatu ketika anakkku Anas mengisahkan. Sesaat setelah Allah SWT menurunkan QS. Ali Imran: 92, ayahnya berdiri menghadap Rasulullah dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya), “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku (yang bernama ‘Bairuha’, berada di dekat masjid dan memiliki air minum yang jernih di dalamnya), untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesukamu, wahai Rasulullah”. Rasulullah kemudian bersabda, “Bagus, itulah harta yang menguntungkan, itulah harta yang paling menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu”. Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada sanak kerabat dan anak-anak dari pamannya. Aku pun berusaha menjadi istrinya yang setia, menyenangkan bila dipandang, taat bila diperintah, dan menjaga amanah jika ditinggalkan. Kebahagiaan kami bertambah dengan lahirnya bayi laki-laki tampan bernama Abu Umair.

Suatu ketika, Abu Umair jatuh sakit selama beberapa hari sementara ayahnya tengah mencari nafkah dan menghadiri majelis Rasulullah. Sakit anakku semakin parah dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya sebelum ayahnya tiba di rumah. Aku pun bergegas memandikan dan menyelimuti jenazah Abu Umair dengan kain, seraya meminta orang – orang untuk tidak mengabarkan berita kematian anaknya kepada Abu Thalhah. Untuk tidak menambah kesedihannya, aku pun mempersiapkan malam yang istimewa untuk suamiku. Ketika suamiku datang dan menanyakan perihal anaknya, aku berujar, ”Ia sekarang lebih tenang dari kemarin dan tengah beristirahat dengan tenteramnya!” Jawaban itu cukup membuat suamiku lega, segera ia beranjak mandi dan berbuka. Aku pun menyiapkan makanan terbaik untuknya berbuka, memakai pakaian terindah yang dimiliki, memakai minyak wangi dan berhias semenarik mungkin. Malam itu kami bercumbu dengan penuh kebahagiaan.

Di akhir malam, setelah suamiku merasa tenang, dengan hati – hati aku bertanya pada suamiku, ”Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika seseorang meminjam sesuatu kemudian sesuatu itu diambil oleh yang memiliki. Adakah sesuatu itu tetap dipertahankan oleh yang meminjam?” Ia pun menjawab dengan tegas, ”Tidak! Peminjam harus mengembalikan barang pinjamannya dengan rela atau terpaksa. Dan itu yang semestinya dilakukan seorang peminjam!”. Aku kemudian menyampaikan, ”Maka demikianlah dengan anak kita. Ia dipinjamkan Allah kepada kita dan sekarang ia telah diambil kembali oleh Allah. Maka harapkanlah pahalanya disisi Allah!”. Suamiku nampak terkejut, sedih dan kecewa seraya berkata, ”Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Engkau tinggalkan ia dan kau datangi aku hingga aku menggaulimu. Kemudian sekarang baru kau beritakan kepergiannya setelah semua berlalu. Demi Allah, aku akan mengadukan hal ini pada Rasulullah!”. Pagi harinya, suamiku mengadukan kejadian tadi malam pada Rasulullah, beliau tersenyum kemudian bersabda, ”Semoga Allah memberkatimu pada malam itu!” Alhamdulillah, doa Rasulullah terkabul, atas karunia-Nya, aku pun hamil. Menjelang masa kelahiran, suamiku sedang bersiap menemani Rasulullah ke luar kota. Melihatku kesakitan, suamiku pun menunda keberangkatannya seraya berkata, “Ya Allah, betapa inginnya aku menyertai Rasulullah, tapi hal itu tak mungkin kulakukan karena istriku sedang kesakitan.” Usai ia berkata demikian, aku tidak lagi merasakan sakit dan menyarankan suamiku untuk menyusul Rasulullah. Anehnya, begitu mereka kembali, sakitku kambuh lagi. Tak lama kemudian lahirlah dari rahimku bayi tampan yang kemudian ditahnik (mengosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit – langit mulut bayi) dan diberi nama Abdullah oleh Rasulullah langsung. Kelak, dari Abdullah aku memiliki tujuh orang cucu yang semuanya hafal Al Qur’an, alhamdulillah.  Setelah kelahiran Abdullah, aku mengandung dan melahirkan berulang-ulang sehingga memiliki banyak anak dalam perkawinannya dengan Abu Thalhah, di antaranya adalah Sulaim sehingga aku lebih dikenal sebagai Ummu Sulaim.

Pada suatu malam, pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah menanyakan kepada istri – istrinya mengenai makanan yang ada di rumahnya, namun semuanya menjawab tidak memiliki apa – apa kecuali air. Kemudian Rasulullah bertanya, “Siapakah yang akan menjamu tamu ini? Semoga Allah merahmatinya”. Suamiku mengajukan diri kemudian membawa tamu tersebut ke rumah padahal saat itu kami tidak punya apa – apa selain makanan untuk anak-anak. Suamiku kemudian berkata, ”Berikanlah minuman kepada anak – anak dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu kita masuk, akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah.” Tamu tersebut datang, duduk dan makan hidangan yang disediakan sedangkan kami bermalam dalam keadaan tidak makan. Esok harinya, suamiku (dan tamunya) datang kepada Rasulullah dan beliau berkata pada suamiku, “Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian”. Ternyata Allah SWT baru saja menurunkan QS. Al Hasyr: 9 yang artinya, “Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” Sungguh aku tidak kuasa menahan rasa haru ketika suamiku datang menyampaikan kabar gembira tersebut. Alhamdulillah.

Aku turut bergabung dengan pasukan kaum muslimin dalam berbagai peperangan, diantaranya perang Uhud dan Hunain. Selain membantu logistik dengan mengangkuti qirbah (tempat air dari kulit) berisi air sebagai persediaan minum dan mengobati yang terluka, aku juga membawa badik (pisau belati) di balik lengan baju untuk melawan dan menghadapi musuh yang menyerang. Langsung kusampaikan pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah apabila ada orang musyrik yang mendekatiku maka akan robek perutnya dengan badik ini”. Dalam keadaan aman, aku yang masih keturunan keluarga Adi bin Najjar (pengrajin kayu dari suku Khazraj) tekun berkarya membuat kerajinan tangan. Aku memberikan hasil karyaku kepada Rasulullah setiap kali beliau datang ke rumahku. Kedekatanku dan keluargaku dengan Rasulullah SAW, membuatku turut serta meriwayatkan belasan hadits. Semoga kisahku menginspirasi segenap mujahidah untuk memberikan yang terbaik untuk Allah, Rasul-Nya, dan keluarganya. Dan akhirnya hanya kepada Allah SWT, segala ganjaran atas kebaikan kita harapkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku memasuki surga dan kudengar langkah kaki seseorang, lalu aku bertanya siapakah dia? Dan penghuni surga menjawab “dia adalah Rumaisha binti Milhan, ibunda Anas bin Malik” (Al Hadits)

Menggali Inspirasi Dari Alumni Etos

Indonesia membutuhkan social entrepreneur muda yang peduli untuk mengatasi permasalahan masyarakat dengan prinsip entrepreneur yang didukung dengan potensi kepemudaannya. Dalam kesempatan ini, saya hendak sedikit berbagi terkait bincang – bincang saya dengan salah seorang alumni penerima beastudi Etos yang mencoba mengembangkan usahanya dengan tetap memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat sekitarnya. Masih dengan wajahnya yang bersahaja, berikut cuplikan ngobrol saya di kantin Teknik UI dengan Andi Nata yang inspiratif :

Bisa Anda ceritakan sedikit perjalanan hidup Anda menjadi mahasiswa UI?
Saya mengikuti seleksi etos wilayah Bandung. Saya ingat sekali waktu tes tulis dan wawancara di Unpad saya datang sendiri dari Cirebon. Tiba di Bandung sudah larut, tak ada tempat bermalam. Akhirnya terpaksa bermalam di pelataran masjid Unpad karena pintunya terkunci. Malam itu hujan deras sehingga tidak bisa juga keluar membeli makanan. Surat undangan dari Rektor UI (Andi masuk lewat jalur PMDK –red) sudah saya terima sebelum home visit. Masalahnya saya harus mengikuti matrikulasi, dua bulan sebelum pengumuman beastudi Etos. Dengan berbekal uang 100 ribu dari orang tua, saya mencoba survive. Saya sempat berpindah – pindah menumpang menginap di tempat teman per dua hari selama mengikuti matrikulasi sebelum akhirnya dibantu alumni FTUI lewat program Mata Air Biru.

Anda kan mahasiswa Teknik Mesin, apa yang membuat Anda memilih jalan sebagai entrepreneur?
Ya, saya secara tidak sengaja terjerumus ke jalan yang benar. Cerita bermula dari cobaan yang menimpa ayah saya ketika saya masih semester 1. Beliau mengalami kecelakaan di tempat kerja, tangannya terpotong mesin, untuk pengobatan setidaknya butuh dana puluhan juta rupiah. Setiap hari saya mengajar privat dan mencari pinjaman sana sini untuk membayar biaya operasi. Dari situ saya belajar tentang arti uang untuk membantu orang yang saya cintai. Privat dan berbagai kompetisi memang akhirnya dapat membantu saya melunasi hutang, namun belum cukup memberikan kebermanfaatan yang lebih besar. Saat itu, akademis saya pun sempat terganggu karena harus mencari uang dan bolak – balik ke Jakarta – Cirebon. Dan dalam perenungan saya tidak ada jalan lain selain menjadi entrepreneur. Berawal dari program UI Young Smart Entrepreneur, saya mengembangkan bisnis peternakan kambing bernama ‘GardenDi’. Mulai dari 8 ekor, meningkat jadi 18 ekor hingga ratusan ekor ketika investor semakin bertambah. Saya pun bisa membantu orang tua dan adik saya (Andi anak ke-3 dari 6 bersaudara –red). Tahun 2008 saya dirikan CV. Produktif Indonesia dan mulai merambah ke bisnis properti. Kata produktif saya gunakan karena sering saya dengar selama menjadi etoser. Untuk mempertajam kemampuan wirausaha, saya mengikuti sekolah bisnis, bergabung dengan komunitas pengusaha dan memiliki guru – guru di bidang entrepreneurship.

Apa ada kontribusi ke masyarakat yang Anda lakukan dalam usaha Anda?
Belum besar memang, namun saya berusaha memberdayakan masyarakat melalui usaha saya. Saat ini, pengelolaan kambing sudah dilakukan oleh petani setempat dengan rasio petani : kambing sekitar 1 : 10. Untuk usaha “Raja Aqiqah” juga memberdayakan masyarakat setempat untuk memasak hingga mengirimkan pesanan. Sebelumnya, mereka mendapat pelatihan di Jakarta. Alhamdulillah, bisa membantu orang lain menambah penghasilannya. Selain itu, untuk pengelola juga disiapkan makan gratis, berbagai bingkisan, oleh – oleh dan hadiah ketika lebaran. Setiap bulannya saya juga coba menyisihkan 1 – 2 juta untuk anak yatim di kampung saya. Saya masih harus banyak belajar dari orang – orang seperti Eri Sudewo, Sandiaga Uno ataupun Fauzan Hangriawan (entrepreneur lele –red)

Lalu bagaimana pengalaman aktivitas sosial kemasyarakatan Anda selama di kampus sehingga Anda terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi kategori Sosial (selain juga menyabet penghargaan serupa kategori Kewirausahaan –red) ?
Sejujurnya, berbicara tentang aktivitas sosial kemasyarakatan, saya banyak sekali memperolehnya dari Etos, mulai dari DLC (D’etos Learning Centre, pendidkan gratis dan taman baca Etos Jakarta –red), Jumantik Cilik, Operasi Bersih Ciliwung, Sekolah dan Pelatihan Relawan Cilik di Cilwung, Festival Anak Shaleh, Kepedulian Koin Prita, Sekolah ceria Situ Gintung hingga Perayaan HUT RI di sekitar asrama Etos. Saya sempat juga menjadi duta aksi lingkungan dan program tanggap bencana dan berkeliling ke seluruh etoser Indonesia.

Menurut Anda, apa sih istimewanya berbagi?
Berbagi itu yang jelas bukan cuma materi, tetapi ada keterlibatan emosional di dalamnya. Karenanya orang yang tulus berbagi, akan memberikan segala yang dimilikinya tanpa hitung – hitungan. Berbagi itu memang membutuhkan pengorbanan dan komitmen. Saya banyak belajar tentang nilai berbagi dari Bang Fauzan (Fauzan Hangriawan –red), beliau sempat mengingatkan bahwa suatu saat kita pasti akan membutuhkan bantuan orang lain, dan saat itu gemar memberi akan menyelamatkan kita.

Ada pesan untuk etoser nusantara?
Saya akan menyampaikannya dalam prespektif entrepreneur. Pertama, ke depan Etos harus punya aset produktif sebagai sumber pembiayaan, beberapa tahun ke depan saya akan coba men-supportnya. Sebagai awalan, mungkin salah satu aset rumah yang saya miliki di Kukusan bisa lah dijadikan basecamp alumni etos. Kedua, etoser harus berani “break to”, melewati batasan dan mengoptimalkan potensi jangan sekedar cari aman dan menjalani hidup apa adanya.

Sekilas tentang Andi Nata :
Lahir di Cirebon, 7 Januari 1989, Mahasiswa Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia angkatan 2007 ini sekarang masih aktif sebagai Presiden Direktur CV. Produktif Indonesia dan Presiden Direktur Koperasi Masyarakat Teknik FTUI Mahasiswa Berprestasi Kategori Sosial dan Kategori Entrepreneur FTUI ini pernah menjadi pemenang lomba Ide Marketing Yamaha – FEUI dan pemenang Wirausaha Muda Mandiri program UI Young Smart Entrepreneur. Walaupun masih mahasiswa, dari usahanya ia sudah memiliki 200 ekor kambing, 5 motor operasional, 2 mobil pick up, 4 unit rumah, tanah seluas 1400m2 dan belasan karyawan.

Bergeraklah dan Berbuat Sesuai Peran

”Dan Katakanlah: ’Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.”
(QS. At Taubah : 105)

Pada tahun 607 H di Damaskus, tersebutlah seorang muslimah shalehah bernama Maisun yang belum lama ditinggal mati oleh empat saudaranya yang syahid dalam perang salib. Sebagai wanita, tak banyak yang dapat ia lakukan untuk membantu peperangan, namun ia merasa perlu melakukan sesuatu melihat penduduk Damaskus kala itu banyak yang berdiam diri karena merasa belum diserang. Ketika para wanita hadir berkumpul untuk memberikan bela sungkawa dan ta’ziyah, maka ia berkata kepada mereka, “Wahai saudariku, kita tidak diciptakan sebagai laki – laki untuk membawa pedang, tetapi jika para laki – laki takut untuk berperang, maka kitapun tak akan lemah untuk melakukannya. Demi Allah, inilah rambutku, harta paling berharga yang aku miliki. Akan aku jadikan tali kendali kudaku saat berperang di jalan Allah, semoga aku dapat menggerakkan orang yang hatinya telah mati.”

Maisun mengambil gunting dan memotong rambutnya, lalu para wanitapun melakukan hal yang sama. Kemudian mereka duduk untuk mengepangkan rambut agar menjadi tali kekang dan pengikat kuda perang yang kuat. Setelah itu mereka mengirim tali kekang dan ikatan tersebut kepada khatib masjid jami’ Al Umawi, Sabt Ibnul Jauzi yang kemudian membawanya ke masjid pada hari Jum’at. Sabt Ibnul Jauzi duduk di mihrab, dipegangnya tali serta ikatan itu sementara air matanya mengalir dan wajahnya pucat membiru. Orang – orang memperhatikan kejadian itu dan melihat satu sama lain. Ia kemudian berdiri dan berkhutbah dengan kata – kata yang mengobarkan semangat dan membakar hati orang yang mendengarnya. Berikut adalah beberapa kalimat yang masih dikenang oleh banyak perawi.

”Wahai orang yang diperintahkan kepada mereka oleh agamanya untuk berjihad, sehingga dapat menaklukan dunia dan memberi petunjuk kepada seluruh manusia ke dalam agamanya, namun mereka berdiam diri sehingga musuh menaklukan negara mereka dan menyebarkan fitnah ke dalam agamanya! Wahai orang – orang yang nenek moyang mereka menjual jiwa mereka kepada Allah untuk dibayar dengan surga. Mereka membeli surga dengan ketamakan jiwa yang kecil dan kelezatan hidup yang hina!

Wahai manusia! Mengapa kalian melupakan agama kalian? Kalian tinggalkan kemuliaan dan berpaling dari menolong agama Allah, sehingga Allah pun tidak akan menolong kalian. Kalian menganggap kemuliaan hanya bagi orang – orang musyrik, padahal Allah telah menjadikan kemuliaan hanya bagi Allah, Rasul-Nya dan orang – orang beriman. Celaka kalian semua! Apakah pemandangan musuh Allah dan musuh kalian telah membuat kalian sakit dan jiwa kalian menjadi sedih? Mereka melangkah untuk merampas tanah kalian yang disirami oleh darah bapak – bapak kalian… Mereka hendak menghinakan dan memperbudak kalian, padahal kalian adalah pemimpin dunia!

Tidakkah menggerakan hati kalian dan membangkitkan semangat kalian bahwa saudara kalian telah terkepung musuh dan merasakan beraneka macam siksaan?! Apakah di negeri ini ada orang Arab?! Apakah di negeri ini ada seorang muslim?! Apakah di negeri ini ada manusia?! Orang Arab pasti membantu orang Arab lainnya, seorang muslim pasti membantu orang muslim lainnya dan manusia pasti memberikan kasih sayang kepada manusia lainnya. Maka barangsiapa yang tidak tergerak untuk membela Palestina, dia bukanlah orang Arab, bukan seorang muslim dan bukan manusia! Apakah kalian makan, minum dan bersenang – senang, sedangkan saudara kalian menghadapi berbagai penyiksaan, menerjuni kobaran bara api dan tidur di atas bara api?

Wahai manusia, kecamuk peperangan telah berputar, seruan jihad telah memanggil dan pintu – pintu langit telah terbuka. Jika kalian tidak termasuk pasukan perang berkuda, maka izinkanlah para wanita untuk menerjuni kancah peperangan ini. Pulanglah kalian lalu ambilah kompor dan tempat masak kalian… Ambilah kerudung dan jepitan rambut, wahai para wanita!!

Pertama… ambilah kuda perang dan inilah tali kendali dan tali kekangnya. Wahai manusia… tahukah kalian dari apakah tali kendali dan ikatan ini dibuat? Tali dan ikatan ini dibuat oleh para wanita dari rambut mereka karena mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka berikan untuk Palestina. Demi Allah inilah tali kepang yang memabukkan, yang tidak dapat dipandang hanya dengan pandangan matahari yang selalu terjaga. Mereka menjalin tali ini karena sejarah kecintaan telah berakhir. Sejarah baru tentang perang suci telah dimulai, perang di jalan Allah serta perang mempertahankan tanah dan kehormatan. Jika kamu tak mampu memberikan kudamu, maka ambilah tali ini dan untailah menjadi kepangan dan sanggul. Inilah wujud perasaan wanita, masihkah tersisa perasaan dalam diri kalian?”

Dia menyampaikan khutbahnya dari atas mimbar di hadapan banyak orang dan berteriak, ”Terbelahlah wahai kubah An Nasr, runtuhlah wahai tiang – tiang masjid, dan terangkatlah wahai tumpukan batu, para laki – laki telah kehilangan keberanian mereka!!!” Terdengarlah teriakan manusia yang belum terdengar sebelumnya, mereka meloncat mengharap kematian sebagai syahid. Maka datanglah kemenangan yang nyata aras usaha seorang wanita yang telah membangkitkan umat dari tidurnya…

* * *

Saudaraku, saya tidak hendak mengupas tentang peran muslimah dalam membangun peradaban, hanya sebuah pengingatan bahwa suatu kesuksesan hanya dapat diraih dengan perbuatan. Suatu impian besar hanya dapat diwujudkan dari sinergitas komponen – komponen penyusunnya dalam kontribusinya sesuai peran. Sesungguhnya kemenangan takkan tercipta dari sikap berpangku tangan, harus ada gerak dalam kontribusi sesuai peran. Harus ada wanita seperti Maisun dan laki – laki seperti Sabth Ibnul Jauzi. Dan sesungguhnya sikap berdiam diri bukan hanya tidak produktif dan melemahkan perjuangan bahkan kontraproduktif ibarat menembakkan peluru ke dada saudara – saudara kita…

Saudaraku, sesungguhnya Allah mengetahui kekurangan diri kita dan kelemahan amal kita, namun itu bukan alasan untuk meninggalkan kontribusi kita. Seorang Maisun tidak diminta untuk terjun langsung ke medan perang, namun bukan berarti tidak ada yang dapat dilakukan. Seorang Sabth Ibnul Jauzi juga hanya berkewajiban menyampaikan dan mengingatkan sesuai dengan peran yang diembannya. Sesungguhnya Allah tidak membebani kita di luar kemampuan kita. Kita hanya dituntut berbuat sebatas kemampuan optimal kita, tidak lebih. Jika seorang Abu Bakar dapat menginfaqkan seluruh hartanya fisabilillah dengan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya, mungkin kita belum dituntut berkontribusi sejauh itu, namun bukan berarti tidak ada kontribusi sama sekali.

Saudaraku, mari kita bergerak dan berkontribusi sesuai kemampuan optimal kita…

”Demi penciptaan laki – laki dan perempuan. Sungguh, usahamu memang beraneka macam”
(QS. Al Lail : 3 – 4)

Sejenak Bersama Mursyid ‘Amm III : Umar Tilmisani

Keteguhan dalam Kelembutan

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imron : 159)

“Sesungguhnya tabiat dimana saya tumbuh di atasnya membuatku benci kepada kekerasan dengan segala bentuknya. Ini bukan hanya sebagai sikap politik. Tapi juga merupakan sikap pribadiku yang terkait erat dengan pembentukan jatidiriku. Bahkan ketika ada seseorang yang coba menganiaya diriku, maka saya sungguh tidak akan menyelesaikannya dengan kekerasan. Saya bisa saja menggunakan kekuatan untuk menciptakan perubahan. Namun demikian, saya takkan pernah melakukan itu dengan kekerasan”
(Umar Tilmisani dalam majalah al-Yamamah, 14 Januari 1982)

Sepeninggal Ustadz Hasan al-Hudhaibi, Umar Tilmisani (1904 – 1986) terpilih menjadi Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin pada tahun 1973. Di bawah kepimpinannya yang tidak konfrontatif dengan penguasa, Ikhwan menuntut hak-hak jama’ah secara utuh dan mengembalikan hak milik jama’ah yang dibekukan oleh Jamal Abdunnashr. Ustadz Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Musthafa Tilmisani atau lebih dikenal dengan Umar Tilmisani lahir di Kairo pada tahun 1322 H. Kakek dan ayahnya bekerja sebagai pedagang pakaian dan batu mulia. Kakeknya adalah seorang salafi yang banyak mencetak buku-buku karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab sehingga perhatian terhadap pendidikan agama juga tinggi. Beliau belajar di Sekolah Ibtidaiyyah Jam’iyyah Khaeriyah, lalu melanjutkan di Sekolah Tsanawiyah al-Hilmiyah (masa dimana beliau menikah). Pun tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari bid’ah, masa muda beliau sempat diwarnai dengan gaya hidup glamour dan kebarat-baratan, seperti suka menonton bioskop, belajar gitar bahkan dansa ala Perancis. Beliau melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum dan lulus pada tahun 1933, kemudian menyewa sebuah kantor advokat di jalan Syabiin al-Qanathir. Bergabungnya beliau sebagai pengacara pertama yang bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin dan kedekatan beliau dengan Imam Hasan al Banna, menjadi titik tolak keberpihakan lebih beliau terhadap Islam.

Beliau kerap diminta bantuan Imam Hasan al Banna dalam berbagai perkara dan sering menemani beliau dalam perjalanan yang dilakukannya di wilayah Mesir atau di luar negeri. Pekerjaan sebagai pengacara tidak membuat ayah dari empat orang anak ini lupa memperkaya dirinya dengan wawasan keislaman. Beliau banyak membaca dan menelaah tafsir, hadits, fikih, sirah, sejarah dan biografi serta terus mengikuti, mengamati dan mempelajari berbagai konspirasi dan strategi musuh-musuh Islam di dalam dan luar Mesir sehingga dapat menentukan sikap dan cara menghadapinya dengan bijak dan nasehat yang baik. Beliau juga berusaha menangkal propaganda mereka, mendustakan ucapan-ucapan mereka, dan menepis kecurigaan mereka dengan sikap seorang mukmin yang penuh percaya diri mengetahui keunggulan yang dimilikinya dan kelemahan yang ada pada lawan-lawannya.

Beliau dikenal pemalu, penuh sopan-santun, rendah hati dan tinggi kasih sayangnya terhadap Ikhwan, khusunya para pemuda yang di dalam jiwa mereka bergelora semangat membara untuk segera memetik buah yang mereka tanam. Beliau dikaruniai kejernihan hati, kebersihan jiwa, ketulusan, kata-kata yang lembut, penampilan menawan, serta caranya berdialog dan berdebat yang menarik hati. Beliau pernah berkata dan berikrar tentang dirinya sendiri, “Saya tidak pernah mengetahui bahwa sifat keras bersentuhan dengan perilaku yang kumiliki. Tidak ada keinginan untuk menang atas seorang pun. Karena itu, saya tidak merasa memiliki seorang musuh. Terkecuali mungkin karena pembelaan saya terhadap kebenaran. Atau karena saya menyeru manusia untuk mengamalkan kitabullah. Itu berarti bahwa permusuhan itu datang dari mereka sendiri dan bukan dariku. Saya telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyakiti seorang pun dengan kata-kata kasar, walau saya berbeda dan berselisih pendapat dengannya secara politik, bahkan walau pun mereka menyakitiku. Karena itu, tidak pernah terjadi benturan antara diriku dengan seorang pun karena faktor pribadi.” Hal ini senada dengan apa yang berulang kali beliau ungkapkan, “Bergeraklah dengan bijak dan hindarilah kekerasan dan extremisme

Beliau mendekam di balik penjara selama lebih 17 tahun dan penderitaan berkepanjangan yang beliau alami berhasil menempa dirinya menjadi semakin sabar dan tegar. Diawali pada tahun 1948 (1368H), lalu tahun 1954 (1373H), kemudian pada tahun 1981 (1402H). Beliau memiliki sikap jujur, ucapan yang terus terang, amal yang serius dan cara menghadapi masalah dengan penuh keberanian, ketenangan, keteguhan dan ketegaran di hadapan berbagai berita yang berasal dari musuh-musuh internal dan eksternal dengan cara yang sama. Beliau pernah berkata, “Saya tidak pernah merasa takut kepada seorang pun selain kepada Allah, dan tidak ada sesuatu pun yang pernah menghalangiku untuk mengatakan kebenaran yang saya yakini, walau akhirnya sangat berat dirasakan oleh orang lain, dan walau pun saya harus  menghadapi kesulitan dalam melakukannya. Saya akan mengatakan kebenaran itu dengan tenang, hati yang teguh walau dengan cara yang menarik, tidak mengganggu pendengaran dan tidak melukai jiwa mereka. Saya juga berusaha untuk menghindar dari kata-kata yang saya anggap tidak disukai oleh lawan bicaraku. Sehingga dengan cara seperti itu jiwaku dapat merasa tenang. Walau dengan metode seperti itu saya tidak menemukan banyak teman, tapi saya dapat menghindar dari banyaknya kejahatan musuh.”

Beliau pernah mengirimkan surat terbuka kepada presiden Republik Mesir, yang disebarluaskan oleh harian asy-Sya’b al-Qahiriyah, 14 Maret 1986, “Wahai paduka Presiden. Yang paling penting bagi kami sebagai kaum Muslimin di Mesir adalah menjadi bangsa yang aman, tentram dan tenang di bawah naungan syariat Allah Azza wa Jalla. Karena kemaslahatan umat ini hanya akan tercapai bila aturan Allah direalisasikan di tengah mereka. Saya kira tidak terlalu berlebihan bila saya katakan bahwa sesungguhnya penerapan syariat Allah Ta’ala di bumi Mesir akan menjadi pintu kemenangan bagi seluruh wilayahnya. Dan pada saat itulah sang pengadil dan terdakwa akan merasakan ketenangan, demikian pula yang akan dinikmati oleh penguasa dan rakyatnya.” Dalam dialog terbuka dengan presiden Anwar Sadat di kota Ismailiyah yang disiarkan langsung oleh televisi dan radio, beliau meng-counter tuduhan Anwar Sadat terhadap jama’ah Ikhwan dengan mengatakan, “Adalah hal yang lumrah bila ada yang berlaku zalim pada diriku kemudian aku mengadukan pelakunya kepadamu, karena engkau adalah rujukan tertinggi  –setelah Allah- bagi orang-orang yang mengadu ketika dianiaya. Kini saya mendapatkan kezaliman itu darimu dan membuatku tidak memiliki cara apa pun selain mengadukanmu kepada Allah Ta’ala.” Anwar Sadatpun gemetar ketakutan, lalu memohon kepada Ustadz Tilmisani agar mencabut pengaduannya, namun dengan tegas dan tetap tenang beliau menjawab, “Sesungguhnya saya tidak mengadukanmu kepada pihak yang zalim, tapi kepada Dzat Yang Maha Adil dan mengetahui segala yang saya ucapkan!

Beliau tinggal di sebuah apartemen melewati gang sempit di komplek al-Mulaiji asy-Sya’biyah al-Qadimah di wilayah az-Zahir, Kairo. Perabot apatemennya sangat sederhana walau ia berasal dari keluarga kaya raya dengan status sosial cukup tinggi. Beliau adalah sosok yang diteladani oleh jama’ah ikhwan, dicintai oleh seluruh lapisan masyarakat Mesir, bahkan dihormati oleh pemeluk Kristen Koptik dan penguasa yang mengetahui dengan baik keutamaan yang dimilikinya. Kunjungan beliau ke negara-negara lain tempat tinggal kaum Muslimin bagaikan obat penyembuh luka sekaligus sebagai arahan bijak atas apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslimin bagi agama, umat dan negeri mereka. Ceramah, pelajaran, dialog, nasehat dan bimbingan yang beliau sampaikan mengandung motivasi untuk umat, khususnya bagi para pemuda, kaum intelektual dan para tokoh ulama agar mereka mampu memikul tanggung jawab dan segera bangkit menjalankan peran mereka. Setiap elemen dari umat agar berada pada posisi masing-masing, beramal dan bekerja bersama untuk mengembalikan kejayaan Islam dan memimpin umat.

Sumbangan hhazanah pemikiran Islam dalam karya beliau diantaranya Syahidul Mihrab ‘Umar Ibnu Al-Khathab, Al-Khuruj Minal Ma’zaqil Islamir Rahin, Al-Islamu wal Hukumatud Diniyah, Al-Islamu wal Hayah, Araa Fid Din Was Siyasah, Al-Mulhimul Mauhub Hasanul Banna: Ustadzul Jil, Haula Risalah (Nahwan Nur), Dzikrayat La Mudzakkirat, Al-Islam wa Nazhratuhus Samiyab Lil Mar’ah, Ba’dhu Ma ‘Allamanil Ikhwanul Muslimun, Qalan Nasu Walam Aqulfi Hukmi ‘Abdin Nasir, Ayyam Ma’as Sadat, Min Fiqhil I’lamil Islami, Min Sifatil ‘Abidin, Ya Hukkamal Muslimin, Ala Takhafunallah?, Fi Riyadhit Tauhid, dan La Nakhafus Salam, Walakin. Selain itu, karyanya juga dapat ditemui pada prakata redaksi majalah Ad-Dakwah Al-Qahiriyah, makalah tentang persoalan Islam yang dimuat berbagai majalah dan surat kabar, ceramah di seminar serta kajian dan bimbingan yang disampaikan dalam program-program Ikhwan.

Diantara rangkaian nasehat dan arahannya yang ditujukan kepada para pemuda dan penyeru dari kalangan Ikhwan, beliau berkata, “Sesungguhnya berbagai kesulitan yang dihadapi para da’i pada saat ini sangat berat dan penuh bahaya. Kekuatan material masa kini berada di tangan musuh-musuh Islam yang bersatu untuk menyingkirkan berbagai perbedaan yang ada di tengah mereka demi memerangi kaum Muslimin, dan khususnya Ikhwanul Muslimin. Bila didasarkan pada pertimbangan logika manusia, pasukan Thalut yang beriman sebenarnya tidak memiliki kekuatan melawan pasukan Jalut dan balatentaranya. Namun ketika keimanan mereka meyakini bahwa kemenangan itu berasal dari sisi Allah Ta’ala dan bukan karena faktor jumlah dan bekal yang dimiliki, mereka akhirnya sanggup menghancurkan pasukan Jalut dengan idzin Allah Ta’ala. Sesungguhnya saya tidak meremehkan kekuatan dari sisi jumlah, dan juga tidak menyeru kepada para du’at agar mereka hanya berpasrah diri, berdzikir hingga mulut berbusa-busa sambil menggerakkan leher-leher ke kanan dan kiri lalu menepukkan tangannya. Karena semua ini adalah bencana mematikan dan membinasakan. Tapi berpegang teguh kepada wahyu yang diturunkan oleh Allah Ta’ala, berjihad dengan kalimat yang benar secara berkesinambungan, tidak peduli berbagai gangguan, menjadikan diri sebagai tauladan dalam kepahlawanan, keteguhan dan keberanian, disertai keyakinan bahwa bahwa Allah Ta’ala akan menguji mereka dengan rasa takut, lapar, berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan agar Ia mengetahui manakah orang-orang yang jujur dan pengecut, maka semua itu sesungguhnya adalah faktor-faktor hadirnya kemenangan sesuai sunnatullah. Kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia adalah saksi terbaik yang menunjukkan hal itu, dan mengandung pelajaran yang sangat banyak. Adapun para pemuda yang memiliki semangat dan tekad kuat menyertai kesadaran mereka yang dalam, maka sesungguhnya mereka tidak membutuhkan banyak eksperimen. Yang mereka butuhkan adalah kesabaran dan komitmen dengan petunjuk wahyu yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw., dan kemudian dari sirah Salafushshalih yang telah terikat perilaku dan moral mereka dengannya, dan Allah Ta’ala kemudian memberikan kemenangan dan kekuasaan yang seakan mustahil untuk diraih.”

Beliau adalah pemimpin yang tepat menahkodai bahtera Ikhwan di tengah gelombang dahsyat dengan bijak dan sabar, lembut dan tenang disertai iman yang teguh dan tekad yang tak tergoyahkan. Atas izin Allah, dakwah tersebar luas pada masanya. Para pemuda kembali kepada Islam, arus Islampun menjadi fenomena yang terjadi di berbagai perguruan tinggi, asosiasi dan perkumpulan, bahkan di Mesir pada umumnya. Beliau wafat pada hari Rabu, 13 Ramadhan 1406 (22 Mei 1986) di rumah sakit lalu jenazahnya dishalatkan di Kairo. Kala itu setengah juta orang dari dalam maupun luar negeri mengiringi jenazahnya menuju pemakamannya.

* * *

Sekelumit kisah ustadz Tilmisani menggambarkan figur da’i, murabbi dan pemimpin yang jujur dan setia pada janjinya dengan Allah, beramal untuk agama-Nya, terikat erat dalam dakwah kepada-Nya, senantiasa bersabar dan berjuang dengan berpegang teguh kepada tali Allah yang kokoh, tidak terwarnai, tidak berpaling, juga tidak pernah rakus kepada perhiasan dunia dan tipu daya kedudukan. Di masa sekarang ini, tidak mudah mendapati ulama dan umara yang berani berhadapan dengan penguasa dengan tetap bijak dan santun. Tidak banyak yang memiliki keberanian dalam membela kebenaran, ketegasan sikap dan jawaban, ketajaman pemikiran dan kedalaman pengetahuan serta kecerdikan dan kesopanan dalam pengungkapan maksud. Ada yang mengedepankan cara-cara arogan dan konfrontatif yang tidak membuat simpati. Ada pula yang malah hanya ’menjilat’ dan ‘cari aman’ sehingga justru menyesatkan dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Tidak banyak yang berani mengikuti jejak para mujahid yang berani menghadapi penderitaan demi mempertahankan dan memperjuangkan kebenaran. Dan ternyata kelembutan bukan berarti lemah, tetapi justru mengandung potensi kekuatan yang luar biasa.

“Binasalah sang tiran! Dan mereka yang menghabiskan masa yang sangat panjang dalam jeruji besi akhirnya keluar setelah dibersihkan oleh berbagai ujian. Membuat jiwa mereka makin kuat membaja. Walau tubuh mereka dihinakan namun ruh mereka makin kuat menggantung kepada Allah, dan merendahkan berbagai kemewahan duniawi yang pasti lenyap dan rasa takut yang hilang dari dalam hati mereka selain hanya kepada-Nya. Mereka keluar dari ujian dan fitnah itu sebagai lelaki laksana gunung kokoh tak goyah oleh terpaan badai. Di dalam penjara mereka menghafal Al-Qur’an, menimba pengetahuan, dan berhasil mengalahkan hawa nasfu mereka. Bukan hanya itu, mereka juga mengajarkan manusia hakikat keberadaannya di dunia. Seperti itulah fungsi penjara bagi mereka, menjadi sekolah yang memberi mereka lebih banyak daripada yang diminta dari mereka.
(Ustadz Muhammad Sa’id Abdurrahim dalam tulisannya ‘Umar Tilmisani, Mursyid ke-3 Ikhwanul Muslimin’)

 

Wallahu a’lam bishawwab

 

Karena Engkau Begitu Berharga

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu Diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. At-Taubah : 105)

* * *

Pada suatu musim semi, Ibnu Jad’an melihat unta miliknya tumbuh besar dan susunya siap diperah, diapun berujar, “Demi Allah, saya akan sedekahkan unta betina ini beserta anaknya kepada tetanggaku sebab Allah SWT berfirman : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (QS. Ali Imron : 92). Sungguh barang yang paling aku cintai adalah unta betina ini”. Lalu iapun membawa unta betina tersebut beserta anaknya kepada tetangganya sambil berkata, “Ambillah sebagai hadiah dariku untukmu”. Tetangganyapun tampak sangat bahagia menerima sesuatu yang sangat berharga tersebut.

Musim semi selesai, tibalah musim kemarau yang kering dan panas. Ibnu Jad’an dan ketiga anaknya berjalan untuk mencari ad-duhul (lubang dalam tanah yang menyambung dengan sumber air yang memiliki mulut di