Category Archives: Others

Indonesia Setara Palestina, Kok Bisa?

…Di meja makan dan mangkuk supmu, kuhidangkan kisah negeri terluka. Kisah generasi yang hilang, korban perang peradaban. Tak kalah luka dari Bosnia, tak kalah pedih dari Palestina. Tak kalah luka dari Bosnia, tak kalah pedih dari Palestina. Karena yang kau temui, hanya zombie-zombie. Makhluk-makhluk hidup tanpa pribadi, tanpa izzah, tanpa harga diri…” (‘Generasi yang Hilang’, Teater Kanvas)

Nasyid lawas tersebut tiba-tiba terlintas kala membaca Human Development Report 2016 bertajuk “Human Development for Everyone” yang dirilis UNDP pekan lalu. Human Development Index (HDI) Indonesia naik 0,003 poin namun turun 3 peringkat ke posisi 113 dari 188 negara yang masuk dalam daftar. Dan tepat di bawah Indonesia adalah Palestina (peringkat 114), disusul Vietnam (115) dan Filipina (116) yang sama-sama masuk kategori Medium Human Development. Berbeda dengan negara tetangga Thailand (87) dan Malaysia (59) yang masuk kategori High Human Development. Apalagi jika dibandingkan Brunei (30), Singapura (5), dan Australia (2) di kategori Very High Human Development. Sementara di posisi teratas ada Norwegia.

Belasan tahun lalu rasanya berlebihan Indonesia disamakan dengan Bosnia atau Palestina yang penuh konflik bersenjata. Bahkan penyesuaian lirik nasyid ‘Negeri yang Terlupa’ Izzatul Islam menjadi ‘Negeri yang Terluka’ sepertinya sangat tidak sebanding. Kisruh krisis ekonomi dan reformasi Indonesia di penghujung abad ke-20 tampaknya belum seberapa dibandingkan mencekamnya suasana di Palestina yang puluhan tahun lamanya penduduknya harus siap mati setiap saat. Tapi nyatanya, enam tahun terakhir HDI Indonesia memang setara dengan Palestina. Ya, enam tahun terakhir, karena sebelumnya HDI Palestina tidak pernah diukur. HDI Bosnia juga baru ada enam tahun terakhir, dan ternyata HDI Bosnia kini ada di peringkat 81 dunia.

Mungkin terlalu sederhana mengklasifikasi dan memeringkatkan kualitas suatu negara hanya dengan melihat indikator kesehatan, pendidikan dan ekonomi yang juga dibatasi. Tapi bagaimanapun, laporan tahunan yang dikeluarkan UNDP ini menjadi data referensi internasional yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Tidak perlu mencari dalih untuk mempermasalahkannya, yang perlu ada justru upaya perbaikan nyata. Apalagi realitanya HDI Indonesia memang cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Toh membaca data Human Development Report saja sudah banyak hal menarik yang dapat dilihat, misalnya ketika kita coba bandingkan antara capaian Indonesia dengan Palestina.

Baru membaca indikator life expectancy at birth (angka harapan hidup pada saat lahir) hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata pun di tengah suasana perang, life expectancy at birth Palestina mencapai angka 73,1 tahun, lebih tinggi dari Indonesia yang ‘hanya’ 69,1 tahun. Apalagi membaca berbagai indikator pendidikan, ternyata Palestina juga lebih unggul. Rata-rata usia bersekolah (mean years of schooling) di Palestina 8,9 tahun sementara di Indonesia baru 7,9 tahun. Tingkat literasi (literacy rate) Palestina juga relatif lebih baik. Salah satu indikatornya adalah angka melek huruf penduduk berusia minimal 15 tahun di Palestina mencapai 96,7% sementara Indonesia baru 93,9%. Banyaknya penduduk berusia minimal 25 tahun yang setidaknya pernah merasakan sekolah menengah di Palestina (58,8%) juga lebih tinggi dibandingkan Indonesia (47,3%).

Angka partisipasi kasar (gross enrolment ratio) Indonesia sedikit lebih tinggi untuk tingkat pra sekolah (pre-primary) dan sekolah dasar (primary school), namun untuk tingkat pendidikan tinggi (tertiary school) Indonesia (31%) masih jauh tertinggal dibandingkan Palestina (44%). Hal ini menunjukkan tingginya angka putus sekolah di Indonesia. Data menunjukkan bahwa angka putus sekolah dasar (primary school dropout rate) Indonesia mencapai 18,1%, sementara di Palestina hanya 2,5%. Padahal rasio guru : siswa Indonesia lebih ‘mewah’ (1:17) dibandingkan Palestina (1:24). Peringkat Indonesia sedikit ada di atas Palestina karena indikator ekonomi, di antaranya Pendapatan Nasional Bruto per kapita (Gross National Income per capita) Indonesia yang mencapai $ 10.053 sementara Palestina hanya setengahnya ($ 5.256). Dilihat dari indikator kerja dan ketengakerjaan (work and employment), Indonesia juga unggul jauh, sebab angka pengangguran di Palestina terbilang tinggi. Hal ini dapat dimengerti sebab ketersediaan lapangan kerja di daerah konflik tentu sangat terbatas, apalagi berbagai macam pasokan sumber daya (resources) di Palestina dibatasi oleh Israel.

Indonesia punya sejarah panjang dengan Palestina. Palestina (bersama dengan Mesir) termasuk di antara negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina. Indonesia pun termasuk di antara negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina setelah dideklarasikannya pada November 1988. Tahun lalu, dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina juga kembali diinisiasi oleh Indonesia melalui Resolusi dan Deklarasi Jakarta dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI). Pun demikian, kesejajaran kualitas pembangunan manusia antara Indonesia dengan Palestina bukanlah suatu hal yang membanggakan. Indonesia dengan banyaknya sumber daya yang dimilikinya semestinya mampu menjadi Negara yang lebih maju dibandingkan Palestina yang masih terus diliputi konflik. Ya, dengan menyandang status merdeka, Indonesia seharusnya mampu berprestasi lebih.

Salah satu upaya perbaikan yang perlu menjadi perhatian adalah pembangunan pendidikan dan kesehatan. Fokus pada pembangunan ekonomi nyatanya tidak signifikan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Semakin tingginya kesenjangan sosial di Indonesia yang ditandai dengan tingginya rasio gini membuat pertumbuhan ekonomi seakan tak ada arti. Pertumbuhan ekonomi lebih dinikmati mereka yang berekonomi kuat, sementara masyarakat marjinal kian termarinalkan. Pembangunan pendidikan dan kesehatan memberikan secercah harapan bagi masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidupnya, termasuk potensi perbaikan kualitas ekonomi dengan pendidikan dan kesehatan yang baik. Pertumbuhan ekonomi juga sangat dipengaruhi ekonomi global yang artinya siap runtuh kapan saja, sementara pembangunan pendidikan adalah investasi masa depan Indonesia yang berkualitas.

Hari ini boleh jadi Palestina masih jauh tertinggal. Namun di masa depan, bukan tidak mungkin Palestina akan naik status menjadi Negara yang sepenuhnya merdeka dan masuk dalam kategori High Human Development. Saat ini boleh jadi Indonesia masih di atas Palestina, Filipina ataupun India. Namun tidak ada jaminan Indonesia Emas nan Berdaya kan jadi realita jika bangsa ini alpa dalam membangun pendidikan dan kesehatan. Tentu kita sama-sama menginginkan negeri dan umat ini bisa kembali berjaya, dan kesemuanya tidak akan terjadi jika kita gagal dalam mempersiapkan SDM berkualitas untuk masa depan. Ya, perlu upaya serius untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Boleh lah Indonesia disejajarkan dengan Palestina, tapi hanya jika kedua negara ini sudah sama-sama menjadi negara merdeka yang berhasil membangun SDM bangsanya. Semoga masa itu akan segera tiba…

…Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah Bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel” (Soekarno, 1962)

Kaleidoskop 2016 Kelabu (2/2)

Ironisnya, di tengah banyaknya musibah yang membawa korban jiwa dan kerugian yang tidak sedikit, akal sehat dan sisi kemanusiaan juga banyak terkikis di tahun ini. Lihat saja rentetan aksi teror bom di tahun ini, baik di dalam maupun luar negeri (Turki, Bangladesh, Irak, Madinah, dll) yang menyisakan banyak keganjilan sekaligus menciderai kemanusiaan. Di Indonesia, tahun 2016 diawali dengan kasus bom sarinah menyusul maraknya isu tentang ISIS dan Gafatar. Isu teroris ‘abal-abal’ pun terus dijaga momentumnya sepanjang tahun mulai dari kasus bom Solo, bom molotov gereja Samarinda hingga kasus bom panci Tasikmalaya di akhir tahun. Kasus vaksin palsu yang sempat mencuat juga menciderai kemanusiaan. Kok tega? Namun ternyata di akhir tahun kemanusiaan semakin terkapar. Tragedi yang terjadi di Rohingnya (Myanmar) dan Aleppo (Suriah) sungguh tak manusiawi. Tragisnya lagi, tragedi kemanusiaan sebenarnya juga masih terjadi di berbagai penjuru dunia, di antaranya Sudan Selatan, Yaman, Nigeria, Somalia, Libya, Turki, Afghanistan dan Irak.

Tak hanya kemanusiaan yang terkikis di tahun 2016 ini, akal sehat pun setali tiga uang. Lihat saja hampir sepanjang tahun masyarakat Indonesia disuguhi ‘sinetron’ kopi sianida yang entah apa signifikansinya terhadap kemajuan bangsa. Masih mendingan drama ‘Papa Minta Saham’ yang mempergilirkan jabatan Ketua DPR, setidaknya serialnya tidak terlalu banyak pun rentang waktunya panjang. Atau skandal penunjukkan menteri dengan masalah kewarganegaraan sehingga dicopot, dan diangkat lagi menjadi wakil menteri beberapa bulan kemudian. Sangat dramatis. Ada lagi kasus penipuan bermodus penggandaan uang yang begitu dibela oleh seorang ‘cendekia’. Tidak habis pikir. Belum lagi jika kita tengok beberapa kasus ‘kecelakaan’ (jika tidak bisa disebut sebagai kebodohan) yang terjadi di tahun ini, misalnya tewasnya peserta lomba makan karena tersedak, atau pemuda yang menemui ajalnya setelah diikat di tiang lampu beraliran listrik dan diguyur air oleh teman-temannya yang ingin merayakan ulang tahunnya. Akal sehat entah kemana.

Lebih menyedihkannya lagi, tahun 2016 adalah tahun karamnya kapal keadilan hukum. Betapa banyak ketidakadilan terjadi dimana mafia hukum banyak bermain dan hukum masih tebang pilih. Bukan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, tapi tajam kepada pihak tertentu dan tumpul kepada pihak tertentu. Kasus penyalahgunaan kewenangan memang sarat intrik dan kepentingan, namun ketika kepentingan masyarakat banyak tidak dikedepankan yang muncul adalah ketidakpercayaan publik terhadap supremasi hukum. Salah satu kasus hukum yang mendapat sorotan serius di akhir tahun ini adalah terkait penistaan agama, bukan terkait korupsi Sumber Waras ataupun penyalahgunaan kewenangan terkait izin reklamasi, pun menyeret oknum yang sama. Dalam hal ini, pemerintah seakan tersandera oleh sosok Petahana Gubernur DKI. Muncul Aksi Bela Islam yang melibatkan jutaan massa hingga aksi tandingannya, dan berbagai dinamika berbangsa dan bernegara di penghujung tahun 2016.

Lalu, bagaimana dengan tahun 2017? Bisa jadi kelabu kian hitam pekat, atau transisi menuju putih bersih, atau keduanya. Tapi tampaknya 2017 belum akan langsung putih bersih. Pelangi memang akan muncul setelah turunnya hujan, namun pastikan ada mentari yang menyinari dan rinai yang menyertai. Karena pelangi tidaklah muncul begitu saja selepas hujan. Isra Mi’raj memang menjadi hadiah indah selepas ‘Aamul Huzni (tahun duka cita). Namun di antaranya, ada ujian yang kian menghebat. Pekatnya malam memang menandakan akan segera terbit cerahnya mentari. Namun di antaranya ada waktu di antara dua tanduk setan, dimana manusia banyak yang lalai dan musibah banyak terjadi. Dan diantaranya juga ada waktu dimana seorang hamba akan begitu dekat dengan Rabb-nya, waktu dimana dosa diampuni dan do’a diijabah. Ya, kelabu mungkin tak akan segera sirna, namun cahaya kemenangan itu semakin dekat. Insyaa Allah…

…Jangan dipikir derita akan berpanjangan, kelak akan membawa putus asa pada Tuhan. Ingatlah biasanya kabut tak berpanjangan, setelah kabut berlalu pasti cerah kembali. Ujian adalah tarbiyah dari Allah. Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya. Kesenangan yang datang selepas kesusahan, semuanya adalah nikmat dari Tuhan” (‘Sketsa Kehidupan’, The Zikr)

Kaleidoskop 2016 Kelabu (1/2)

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. Al Hadid: 22-23)

Baru 15 hari tahun 2016 berjalan, kabar duka itu datang. Ayahku pergi untuk selamanya, menemui Rabbnya. Kala itu jiwaku begitu hampa, hingga ketika memandikannya pun aku masih tak percaya. Baru ketika menguburkannya lah entah mengapa air mata ini tiba-tiba mengalir seakan tak bermuara. Bahkan hingga saat ini, hampir setahun setelah kepergiannya, setiap kali berkunjung ke rumah orang tua, perasaan bahwa beliau masih ada tetap terasa. Di hari-hari selanjutnya sepanjang 2016 juga seakan tidak terhitung bacaan istirja’ yang kuucapkan, mulai dari teman, orang tua dari teman ataupun tetangga hingga beberapa tokoh yang inspiratif meninggal di tahun ini. Beberapa waktu lalu dalam acara shubuh keliling, Kepala Rukun Warga menyampaikan bahwa kas RW untuk uang duka habis karena banyak sekali yang meninggal dunia di tahun ini. Di akhir tahun ini pun keluargaku kembali berduka karena suami dari keponakan ayahku meninggal dunia karena sakit yang sudah cukup lama dideritanya.

Tahun 2016 adalah tahun penuh duka. Bukan hanya aku yang merasakan, tapi mungkin seruruh dunia. BBC melansir sepanjang tahun 2016 ada lebih dari 42 orang terkenal yang meninggal dunia. Dalam rekap tim obituari BBC, jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan data tahun-tahun sebelumnya. Wikipedia Indonesia bahkan sudah me-list 94 nama tokoh yang meninggal pada rentang Januari hingga Oktober 2016.

Sebut saja nama-nama seperti Boutros Boutros Ghali (mantan Sekjen PBB), Nancy Reagan (mantan ibu Negara AS), Islam Karimov (Presiden Uzbekistan Pertama), Shimon Peres (mantan PM Israel), Fidel Castro (mantan presiden Kuba) yang meninggal di tahun 2016. Raja Thailand, Bumibol Adulyadej (88 tahun) yang telah memimpin selama tujuh dekade juga menghembuskan nafas terakhir di tahun ini. Thailand pun menetapkan masa berduka selama setahun dengan pengibaran bendera setengah tiang selama 30 hari.

Daftar mantan Kepala Negara yang meninggal di tahun ini terbilang banyak, di antaranya Merab Chigoev (Ossetia Selatan), Oscar Humberto (Guatemala), Patricio Alywin (Chili), Patrick Manning (Trinidad Tobago), Michel Rochard (Perancis), Thorbjorn Fallldin (Swedia), Alphons Egli (Swiss), S. R. Nathan (Singapura), Carlo Azeglio Ciampi (Italia), Antonio Mascarenhas Monteiro (Tanjung Verde), dan Sixto Duran Ballen (Ekuador). Sedikitnya lima tokoh penerima nobel pun menghembuskan nafas terakhirnya di tahun ini.

Indonesia juga kehilangan banyak tokoh, baik yang masih aktif maupun sudah purna tugas. Sebutlah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Husni Kamil Malik yang meninggal di usia 40 tahun dan masih aktif. Ada pula Muhammad Sani (Gubernur Kepulauan Riau) dan Utje Hamid Suganda (Bupati Kuningan) yang berpulang dalam keadaan masih menjabat. Selain itu, tahun ini Indonesia juga kehilangan Jacob Nuwawea (mantan Menakertrans), Adi Sasono (mantan Menkop dan UKM), Maftuh Basyuni (mantan Menag), Sutan Bhatoegana (mantan anggota DPR RI) dan Ali Musthafa Ya’qub (Imam Masjid Istiqlal).

Tahun 2016 juga menjadi tahun kelabu di dunia olahraga, ditandai dengan meninggalnya legenda tinju, Muhammad Ali, dan legenda sepakbola, Johan Cruijff. Tragedi yang hampir menewaskan seluruh pemain dari tim (calon) juara Copa Sudamericana di penghujung tahun seakan melengkapi duka di tahun ini. Pesawat yang ditumpangi seluruh personil tim Chapecoense (Brazil) jatuh karena kehabisan bahan bakar dalam perjalanan menyambangi kandang Atletico Nacional di Kolombia. Dunia hiburan, baik dalam maupun luar negeri juga berduka, sebut saja nama David Bowie, Alan Rickman, Budi Anduk, Deddy Dores, Mike Mohede, dan Eddy Silitonga yang meninggal di tahun ini.

Bumi pun seakan ikut berduka, musibah dan bencana alam silih berganti datang. Hampir semua jenis bencana terjadi di tahun ini. Amerika merasakan mulai dari badai salju dan badai Matthew, banjir Lousiana, hingga kebakaran hutan di California dan Tennessee. Gempa besar terjadi di berbagai penjuru bumi, mulai dari Taiwan, Ekuador, hingga Italia. Belum lagi gempa disertai tsunami di Fukushima – Jepang, dan Selandia Baru. Indonesia tahun ini juga penuh bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 5578 gempa terjadi sepanjang tahun 2016 termasuk gempa Mentawai dan Aceh yang terbilang besar. Banjir juga terjadi di penjuru nusantara, mulai dari Aceh, Riau, Bangka, Jakarta, Bandung, Garut, Jawa Timur hingga Bima. Belum lagi bencana lain seperti letusan Gunung Sinabung ataupun longsor Purworejo dan Banjarnegara. BNPB menyebut sudah terjadi 2.342 bencana sepanjang tahun 2016 di Indonesia. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang tidak pernah menembus angka 2000 bencana.

(bersambung)

Permainan Zin Obelisk

Beberapa waktu lalu, aku mengikuti pelatihan tentang Knowledge Management Awareness. Knowledge Management bukanlah hal yang baru kukenal karena satu dasawarsa lalu skripsiku pun mengangkat tema tersebut. Namun ada satu sesi dalam pelatihan tersebut yang sangat membekas yaitu tentang permainan Zin Obelisk. Bahan permainannya tidak diberikan sehingga aku harus mencari referensi awal berbahasa Inggris untuk melakukan simulasi ulang. Aku penasaran kenapa jawaban timku bisa salah sedangkan dari beberapa kali perhitungan hasilnya tetap sama. Dari referensi yang kuperoleh, permainan ini awalnya adalah untuk team problem solving bukan terkait knowledge management. Hanya saja nominalnya diganti sehingga hasilnya pun pasti akan berbeda. Tugas kelompoknya pun dikembangkan yang semula hanya menebak hari menjadi menghitung berapa lama dan pada hari apa Zin Obelisk selesai dibangun. Berikut adalah informasi yang diberikan:

1. Pengukuran dasar waktu di Atlantis adalah hari.
2. Hari orang-orang Atlantis dibagi menjadi schlibs dan ponks.
3. Panjang zin adalah 54 kaki.
4. Ketinggian zin adalah 30 kaki.
5. Lebar zin adalah 45 kaki.
6. Zin ini dibangun dari blok batu.
7. Setiap blok berukuran 1 kaki kubik.
8. Hari 1 dalam sepekan di Atlantis disebut Aguaday.
9. Hari 2 dalam sepekan di Atlantis disebut Neptiminus.
10. Hari 3 dalam sepekan di Atlantis disebut Sharkday.
11. Hari 4 dalam sepekan di Atlantis disebut Mermaidday.
12. Hari 5 dalam sepekan di Atlantis disebut Daydoldrum.
13. Ada lima hari dalam sepekan di Atlantis.
14. Satu hari kerja memiliki 9 schlibs.
15. Setiap pekerja membutuhkan waktu istirahat selama hari kerja sebesar 18 ponks.
16. Ada 8 ponks dalam satu schlib.
17. Setiap pekerja mampu meletakkan 2 blok per ponk.
18. Pada setiap saat ketika pekerjaan sedang berlangsung ada sekelompok 10 orang di tempat kerja.
19. Salah satu anggota dari setiap kelompok memiliki tugas keagamaan dan tidak menaruh blok.
20. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan pada Daydoldrum.
21. Apakah itu Cubitt?
22. Cubitt adalah sebuah kubus yang ukuran semua sisinya 1 yard megalitik.
23. Adalah 3 ½ kaki dalam satu yard megalitik.
24. Apakah pekerjaan dilakukan pada hari Minggu?
25. Apakah itu Zin?
26. Dengan cara apa Zin didirikan?
27. Zin terdiri dari blok berwarna hijau.
28. Hijau memiliki makna keagamaan khusus pada Mermaidday.
29. Setiap kelompok memiliki dua orang wanita.
30. Pekerjaan dimulai saat fajar pada Aquaday.
31. Hanya satu kelompok yang mengerjakan konstruksi pembangunan zin tersebut.
32. Ada delapan timbangan emas dalam satu fin emas.
33. Setiap blok biayanya 2 fin emas.

Detail informasi tersebut dimodifikasi dari sumber berbahasa Inggris sehingga mungkin tidak benar-benar identik dengan informasi yang diberikan ketika pelatihan. Misalnya dalam pelatihan kemarin informasi no. 11 tidak dicantumkan tetapi ada tambahan informasi pengecoh tentang VOZ. Yang jelas, informasinya sudah cukup untuk dapat menjawab pertanyaan. Setiap informasi diberikan dalam bentuk kartu secara acak pada masing-masing orang di kelompok. Sebagiannya bukan informasi, sebagian lainnya informasi yang tidak berguna. Jadi setiap orang dan kelompok harus memilah informasi yang diterimanya. Karena kartu tersebut tidak boleh ditunjukkan kepada anggota kelompok lain, maka harus ada sharing knowledge di setiap kelompok. Disinilah distorsi informasi mungkin terjadi. Salah perhitungan di timku terjadi pada informasi no.15 dimana waktu istirahat 18 ponk dihitung setiap pekan, bukan setiap hari kerja. Dalam beberapa hal, mengerjakan sendiri memang lebih mudah daripada mengerjakan bersama-sama, apalagi dari 6 kartu yang kuperoleh hanya 1 yang berisi informasi bermanfaat. Namun disitulah menariknya permainan tim. Lalu, berapa hari dan pada hari apa Zin Obelisk selesai dibangun? Sebelum membaca penjelasan mengenai langkah-langkah menjawabnya, barangkali pembaca bisa mencoba menjawabnya sendiri terlebih dahulu. ^_^

Baiklah, ini jawabannya…

Pertama, hitung volume Zin dengan rumus balok = panjang x lebar x tinggi. Dari informasi no. 3, 4, dan 5, diperoleh volume Zin sebesar 54 kaki x 45 kaki x 30 kaki = 72900 kaki kubik. Karena setiap blok berukuran 1 kaki kubik (informasi no.7), berarti Zin tersusun oleh 72900 blok batu. Kedua, perlu dihitung waktu efektif bekerja setiap pekerja. Dari informasi no.14 dan 16 diperoleh bahwa satu hari kerja terdiri dari 9 schlibs x 8 ponks/ schlibs = 72 ponk. Karena setiap pekerja butuh istirahat 18 ponk (informasi no.15), maka waktu efektif bekerja setiap pekerja adalah 72 – 18 ponks = 54 ponks. Ketiga, hitung produktivitas kerja. Dari informasi no. 17 diperoleh bahwa setiap pekerja mampu meletakkan 2 blok per ponk. Artinya dalam waktu efektif bekerja, setiap pekerja mampu meletakkan 54 ponks x 2 blok/ ponks = 108 blok batu. Selanjutnya dari informasi no. 18 dan 19 (serta no. 31), didapatkan informasi bahwa jumlah pekerja adalah sebanyak 10 dikurangi 1 orang (tugas keagamaan) = 9 orang. Artinya, setiap hari kerja, ada sebanyak 9 orang x 108 blok batu/ orang = 972 blok batu yang dipindahkan. Terakhir, hitung lama waktu pengerjaan dengan membagi volume Zin dengan produktivitas kerja. 72900 blok batu dibagi 972 blok batu/ hari kerja = 75 hari kerja. Jadi, Zin Obelisk selesai pembangunannya dalam 75 hari kerja.

Hal yang perlu diperhatikan, 75 hari kerja bukan berarti 75 hari, karena setiap pekannya tidak dilakukan pekerjaan pada hari ke-5 (informasi no. 12 dan 20). Artinya, dalam sepekan hanya ada 4 hari kerja, yaitu Aquaday, Neptiminus, Sharkday dan Mermaidday (informasi no. 8 – 11). Pembangunan diselesaikan dalam 75 hari dibagi 4 hari kerja/ pekan = 13 pekan plus 3 hari. Karena pekerjaan dimulai pada hari ke-1 atau Aguaday (informasi no.30), berarti peletakan batu terakhir dilakukan pada hari ke-3 atau Sharkday. Jadi, Zin Obelisk diselesaikan pembangunannya dalam 75 hari, dimana hari ke-75 jatuh pada Sharkday.

Jadi, Siapa Menghormati Siapa?

Suatu hari di bulan Ramadhan di dunia paralel*

Dini hari yang riuh seperti biasanya, ramai anak-anak membangunkan orang untuk makan sahur dengan berbagai kebisingan. Berisik sekali. Tapi disini toleransi begitu besar, warga tak boleh memprotes kegaduhan yang terjadi. Bahkan orang tua harus mengondisikan bayinya untuk tidak menangis demi menghormati mereka yang bersemangat membangunkan sahur. Aku, istriku, dan anak bungsuku segera bersiap makan sahur. Sementara si sulung masih lelap dalam mimpinya. Ia sedang tak ingin berpuasa. Dan kami disini diajarkan untuk menghormati orang yang tidak berpuasa.

Tak terasa waktu shubuh telah masuk. Bergegas aku pergi ke masjid. Untuk menghormati mereka yang masih beristirahat, suara adzan shubuh dan isya melalui speaker masjid memang tidak diperdengarkan disini. Hanya adzan maghrib penanda berbuka yang masih bisa didengar dari kejauhan, konon demi menghormati orang yang berpuasa. Di sepanjang jalan menuju masjid, tidak sedikit kumpulan anak muda yang masih saja asyik berjudi dan mabuk-mabukan, padahal ini bulan Ramadhan. Berjudi dan mabuk-mabukan adalah hak mereka yang layak dihormati.

Selepas wudhu, shalat shubuh pun dilaksanakan. Sementara anak-anak di luar sana sibuk main kembang api dan perang petasan. Jama’ah yang shalat harus tetap fokus untuk khusyuk, tak terganggu oleh suara-suara mengagetkan. Tidak boleh melarang juga, toh orang yang shalat harus menghormati mereka yang sedang main petasan. Selepas shalat, aku kebingungan mencari sendalku. Di tempat aku menaruhnya saat ini hanya ada sandal jepit kumal. Ah tampaknya untuk kesekian kalinya aku harus bersabar dan menghargai mereka yang ingin menukar sandal di masjid.

Sabtu ini aku berangkat lebih awal ke tempatku mengajar dengan naik angkutan umum. Motorku masuk bengkel setelah kemarin tertabrak sebuah mobil pribadi yang pindah jalur seenaknya. Parahnya lagi, alasan apapun tidak berguna menghadapi mobil selaku penguasa jalan. Bus yang kunaiki penuh. Kulihat beberapa manula dan ibu hamil terpaksa berdiri karena hak tempat duduk dimiliki mereka yang lebih dulu naik. Toleransi yang tidak berempati. Di sepanjang jalan, resto dan warung makan buka seperti biasa untuk menghormati mereka yang tidak berpuasa. Para pejalan kaki tampak berjalan hati-hati karena harus mendahulukan sepeda motor sebagai penguasa trotoar. Sial, terjadi kesemrawutan di perempatan jalan sehingga macet parah. Sepertinya (lagi-lagi) karena ada pengendara mobil yang tidak mendahulukan mobil lain yang sedang terburu-buru. Mentang-mentang lampu hijau main jalan saja.

Akhirnya aku tiba di sekolah. Agak terlambat memang, tapi tak apalah. Sebagai guru aku kan punya hak telat. Apalagi macet tadi bukan alasan yang mengada-ada. Kepala sekolah tidak mungkin menghukumku sebagaimana aku tidak bisa menghukum murid-muridku yang datang terlambat ke kelas. Jangankan menghukum, sekadar memarahi mereka yang mengganggu kegiatan belajar mengajar saja bisa panjang urusannya. Menghormati hak peserta didik merupakan salah satu etika guru yang harus dijunjung tinggi.

Salah satu hak peserta didik adalah datang ke sekolah dengan pakaian bebas, tidak ditentukan pihak sekolah. Hal ini mendorong siswa untuk berpakaian sebagus mungkin tanpa memandang status sosial. Memang ada sih siswa yang bajunya itu-itu saja, ada juga yang berbusana nyentrik untuk menarik perhatian. Tapi syukurlah aku belum menemukan siswa yang datang ke sekolah dengan tidak berpakaian. Karena sebagaimana kecenderungan seksual (homoseksual, heteroseksual atau biseksual), menjadi nudis juga merupakan pilihan yang harus dihormati disini.

Kelas berjalan dengan lancar. Bebas dan menyenangkan. Setiap siswa diberikan keleluasaan untuk belajar dan melakukan apa yang diinginkannya, termasuk berkeliaran ataupun mengganggu guru dan temannya. Mencontek juga bukan hal yang tabu. Ujian pun ditiadakan karena dianggap berpotensi membebani peserta didik. Guru adalah partner belajar yang egaliter, tidak boleh memerintah muridnya, termasuk memberinya pekerjaan rumah. Termasuk tidak diperkenankan menyuruh muridnya untuk rajin belajar atau rajin beribadah. Kesadaran dan inisiatif murid dibangun untuk menemukenali potensinya masing-masing. Terdengar hebat, bukan?

Selepas zhuhur, aku merebahkan badan di tempat ibadah. Lelah juga mengajar sambil berpuasa, mana tidak sedikit murid yang dengan santainya makan minum di dalam kelas. Sambil memejamkan mata, pikiranku menjelajah memasuki dunia paralel. Menuju ke sebuah tempat dimana penghormatan diberikan selayaknya. Orang muda yang menghormati orang tua sehingga orang tua bisa menyayangi mereka. Kelompok minoritas yang menghormati kelompok mayoritas sehingga kelompok mayoritas dapat menjaga mereka sebagaimana yang besar mengayomi yang kecil, dan yang kuat melindungi yang lemah. Mereka yang tidak beribadah menghormati orang-orang yang beribadah sehingga kecipratan berkahnya. Mereka yang belum baik menghormati orang-orang yang berbuat baik sehingga kebaikan akan semakin bernilai. Tempat dimana setiap orang bukan sekadar menyadari haknya, tetapi memahami bahwa ada hak orang lain di setiap haknya. Tempat dimana toleransi bukan berarti bebas berbuat semaunya, bukan pula pembatasan berstandar ganda.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tepukan halus di bahuku. Ternyata petugas tempat ibadah ini membangunkanku. Terlihat ia membawa alat pembersih dan sebuah salib besar. Aku segera bangkit, baru ingat bahwa nanti malam tempat ini akan digunakan untuk ibadah hari sabat sehingga harus dibersihkan. Aku keluar membawa banyak pertanyaan dan kegelisahan. Sepertinya ada yang keliru, tapi jika semua orang menganggapnya benar tentunya bukan sebuah kekeliruan. Ah, jadi bingung. Kutinggalkan tempat ibadah multi agama yang kian sedikit dan sepi saja. Manusia semakin banyak yang menuntut haknya sebagai hamba sekaligus mempertanyakan Hak Tuhan. Sembah menyembah dianggap diskriminatif. Entahlah, segala masalah penghormatan ini cuma bikin pusing, dan semua perkara toleransi ini hanya bikin hilang akal. Yang terpenting aku masih berbuat baik dan tidak berbuat jahat pada orang lain. Tapi, benarkah?

 

*dunia paralel adalah sebuah dunia yang berjalan sejajar dengan dunia realita. Keberadaannya masih merupakan misteri. Namun istilah dunia paralel dalam berbagai karya fiksi dan meme kerap diidentikkan dengan dunia berkebalikan (flip world).

Dikira Enak Jadi Guru? (1/2)

Memang ironis nasib guru di Indonesia. Setelah masa ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ dimana guru digaji ala kadarnya –dan sekarang tidak sedikit guru honorer yang masih merasakannya—, sekarang masuk zaman terbolak-balik dimana guru harus hormat pada muridnya. Guru yang berani menghukum murid siap-siap saja kena sanksi, dipecat, dipukuli orang tua murid, atau bahkan dipidanakan. Padahal reward dan punishment adalah hal yang wajar –bahkan perlu—ada dalam dunia pendidikan. Bahasan serius mengenai hukuman dari guru ke murid (dan sebaliknya) ini mungkin bisa dieksplorasi di lain waktu. Tulisan ini hanyalah tulisan fiksi ringan yang sedikit banyak coba menggambarkan betapa seorang guru butuh kesabaran ekstra dalam mendidik murid-muridnya, apalagi di era sekarang dimana murid semakin berani membantah gurunya.

* * *

Bel masuk baru saja berbunyi, siswa-siswi di SDN 1 Sukahumor bergegas memasuki kelas. Seorang guru honorer yang baru beberapa bulan bertugas di sekolah ini tampak masuk ke ruang kelasnya. Baru saja ia lewat di depan kelas, belum lagi sempat duduk di kursinya, salah seorang muridnya yang bernama Sandi menyapanya, “Pagi, Bu! Bu Guru kelihatan cantik banget hari ini…”. Bu Guru pun tersenyum sambil tersipu-sipu berkata, “Ah… Masak sih??!”. “Benar Bu, liat aja tuh gambar garudanya aja sampe nengok pas Ibu lewat…”, jawab Sanji. Seisi kelas pun tertawa tanpa memerhatikan wajah guru mereka yang semakin memerah.

Presensi kehadiran selesai dibacakan, tinggal Zahra yang belum datang, sama seperti hari-hari sebelumnya. “Asep, mengapa kamu kemarin tidak masuk sekolah?”, tanya Bu Guru. “Saya sakit, Bu”, jawab Asep. “Lalu kenapa kamu tidak mengirim surat?”, tanyanya lagi. “Habisnya, percuma, Bu”, jawab Asep. “Percuma bagaimana?”, Bu Guru tampak tidak paham. “Ya, karena setiap saya mengirim surat, Bu Guru tidak pernah membalas surat saya…”, jawab Asep sambil cengengesan. Geerrr… seisi kelaspun tertawa sementara Bu Guru hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kelas mendadak terdiam ketika Zahra datang dan masuk kelas. Bu Guru yang mood-nya sudah jelek pun bertanya, “Zahra, kamu itu setiap hari kerjaannya terlambat. Sebenarnya kamu tuh niat sekolah nggak sih?. “Lho, tapi kan, Bu. Katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar…”, jawabnya enteng sambil berlalu untuk duduk di kursinya. Bu Guru hanya bisa menghela nafas.

Jam pertama adalah pelajaran IPA. Siswa-siswi di sekolah ini sangat aktif dan sulit diajak serius sepanjang jam pelajaran. Menjelang akhir jam pelajaran Bu Guru bertanya, “Sebutkan binatang yang bisa hidup di dua alam!”. Para siswa berebut mengacungkan tangannya. “Coba, Nami”, ujar Bu Guru sambil menunjuk dengan pulpen yang dipegangnya. “Katak, Bu! Bisa hidup di darat dan di air”, jawab Nami. “Baguuss. Coba kamu Lutfi sebutkan contoh binatang lainnya…”, ujar Bu Guru lagi sambil menggigit pulpennya. “Babi ngepet, Bu! Bisa hidup di alam nyata dan alam gaib…”, jawab Lutfi diikuti riuh tawa seisi kelas. Sementara Bu Guru hampir tersedak pulpen yang tadi digigitnya.

Tak mau kalah, Bu Guru lanjutkan bertanya, “Sekarang sebutkan binatang yang alat kelaminnya ada di punggung”. Seisi kelas sejenak terdiam sampai Sandi nyeletuk, “Hahaha, kalo pipis muncratnya ke udara dong, Bu…”. Kelas pun kembali ramai, Lutfi yang merasa Bu Guru coba membalasnya pun berkata, “Ngaco nih Ibu, mana ada binatang yang kelaminnya di punggung”. “Ada kok”, jawab Bu Guru sambil tersenyum misterius. “Apaan, Bu?”, tanya kepo murid-murid. “Kuda lumping!”, jawab Bu Guru. Kelas seketika hening, loading, berpikir. Tiba-tiba bel tanda ganti jam pelajaran berbunyi. Ternyata humor Bu Guru ketinggian. (Anda para pembaca mengerti kah? ^_^)

Jam pelajaran kedua adalah Bahasa Inggris, ada PR pekan lalu yang harusnya diperiksa. Tiba-tiba saja Galih berseru, “Maaf Bu, beberapa hari lalu rumah saya kemalingan”. “Tapi kamu gak kenapa-kenapa, kan?”, tanya Bu Guru dengan penuh selidik. “Saya sih ga apa-apa, Bu. Tapi buku PR-nya hilang…”, jawab Galih. Kelas pun riuh, Bu Guru hanya menepok jidatnya. Tiba-tiba Alan turut berseru, “Bu Guru, apakah boleh seseorang dihukum karena sesuatu yang belum diperbuatnya?”. “Tentu saja tidak, jika belum melakukan ya belum boleh dihukum”, jawab Bu Guru mencoba untuk sabar. “Syukurlah, berarti saya tidak boleh dihukum karena saya belum mengerjakan PR… hehehe…”, ujar Alan. Kelas kembali ramai sementara Bu Guru mulai mencakar-cakar mejanya. Lutfi yang tertawa paling keras ditanya oleh Bu Guru, “Tertawa saja. Mana PR kamu? Kalau tidak dikerjakan nanti kamu dihukum”. “Baik, Bu. Tapi kalo saya ngerjain, Ibu yang saya hukum ya?”, jawab Lutfi. Arrgghh… Bu Guru semakin emosi sambil gigit-gigit meja. Kelas pun kian bergemuruh.

Pelajaran tentang kosakata Bahasa Inggris berjalan ramai. Bu Guru mengetes para muridnya dengan bertanya, “Anak-anak, apa bahasa Inggris-nya ‘hari’??”. “Day, Bu.”, jawab murid serentak. “Baguuss… sekarang apa bahasa Inggrisnya seminggu??”, tanya kembali Bu Guru. “Day day day day day day day, Bu…”, jawab murid serentak yang membuat Bu Guru tersentak. Menyadari tanya jawab bisa dipelesetin, Bu Guru pun mengubah metodenya. Ia mulai dengan memberi penjelasan singkat. “Work artinya kerja, kalau working artinya bekerja, paham anak-anak??”, jelasnya. “Paham, Bu.”, jawab murid serentak. “Baik, sekarang silakan kalian cari kata lain, mulai dari kamu Eko”, perintahnya sambil menunjuk Eko dengan penggaris. Eko menjawab, “Sing artinya nyanyi, jadi singing artinya bernyanyi”. “Pintar, sekarang kamu Narto”, ujarnya seraya menunjuk Narto. “Hmm, song artinya lagu, jadi kalo songong artinya belagu”, jawab Narto dengan wajah polosnya. Aarrggh… penggaris yang dipegangnya pun remuk redam. Kelaspun ramai sampai kemudian Lutfi bertanya, “Bu, kalo bahasa Inggris tomorrow tuh artinya apa ya?”. “Besok”, jawab Bu Guru bete. “Yah, Ibu pelit. Cuma nanya gitu doang aja jawabannya mesti nunggu besok”, protes Lutfi sambil tersenyum senang. Bu Guru pun refleks melempar penggaris rusaknya ke Lutfi yang malahan melet. Bel penanda waktu istirahat berbunyi, seketika anak-anak pun bergegas keluar untuk istirahat.

(to be continued)

Antara Tragedi Crane dan Tragedi Mina

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan, “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nisa: 78-79)

Ibadah haji tahun 1436 Hijriyah ini diwarnai berbagai tragedi. Belum lepas dari ingatan pada tanggal 11 September 2015 lalu sebuah crane dari proyek perluasan Masjidil Haram dengan berat sekitar 1300 ton jatuh sehingga mengakibatkan lebih dari seratus orang meninggal –termasuk 11 jama’ah asal Indonesia– dan ratusan orang lainnya luka-luka. Hanya 13 hari berselang, gegap gempita takbir, tahmid, tahlil dan kalimat talbiyah di tanggal 10 Dzuhhijjah 1436 H sontak berubah menjadi teriakan panik di Jalan 204 Mina saat jama’ah haji melempar jumrah. Dikabarkan, sebanyak lebih dari 700 orang jama’ah haji meninggal dan ratusan lainnya luka-luka karena terhimpit dan terinjak-injak. Dunia Islam berduka, seluruh dunia pun turut berbela sungkawa.

Kematian adalah rahasia Allah SWT, kita hanya bisa mendo’akan kebaikan bagi mereka yang meninggal dan terluka di tanah suci sana. Bahkan boleh jadi iri. Namun selalu ada pelajaran dari setiap musibah yang menimpa. Di dunia ini, hampir dalam seluruh hal berlaku hukum sebab akibat, dan hal ini yang sebaiknya menjadi renungan dan perhatian kita semua. Apalagi menurut hemat penulis, tragedi Mina ini memiliki dimensi yang jelas berbeda dengan musibah jatuhnya crane sebelumnya karena hujan badai yang sangat dahsyat. Cuaca Mekkah saat itu memang sedang tidak bersahabat dan sulit diprediksi, sebagaimana sulitnya mempercayai crane seberat 1300 ton bisa roboh. Ketetapan Allah SWT memang tidak bisa dielakkan, namun manusia diberikan kelebihan akal untuk dapat memperhitungkan berbagai potensi kecelakaan, termasuk berbagai kemungkinan terburuk.

Jika pada tragedi jatuhnya crane ada faktor alam yang di luar kendali dan turut berperan, tragedi Mina sungguh menyisakan berbagai ironi. Pertama, kejadian ini bukan kali pertama, bahkan mungkin setiap tahun selalu ada saja korban di Mina. Tercatat ada 360 korban jiwa pada kejadian serupa (di jalan yang sama) pada tahun 2006, 250 korban jiwa dua tahun sebelumnya, berturut-turut 370 dan 180 korban jiwa pada tahun 1997 dan 1998, 270 korban jiwa pada tahun 1994, dan yang paling diingat tentu 1426 jema’ah haji yang meninggal pada tragedi Mina 1990. Kedua, faktor manusia sangat dominan dalam tragedi ini, penyebabnya adalah ketidaksabaran dan ketidakdisiplinan dalam mematuhi peraturan ataupun budaya antri dan tanpa campur tangan faktor alam pula. Ketiga, penyebab kematian adalah manusia juga bukan benda tajam, benda keras atau benda berbahaya. Tertindih dan terinjak, sangat mengenaskan.

Tulisan ini tentu tidak akan berujung pada wacana ‘ga mikir’ orang-orang Jaringan Islam Liberal yang beranggapan bahwa haji dan umroh tidak perlu dilakukan karena pemborosan sementara banyak ibadah yang dapat dilakukan di dalam negeri. Dan tidak pula serta merta menyalahkan ataupun membela pemerintah Arab Saudi sebagai tuan rumah pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Hanya saja tidak jarang ada di antara kita yang masih begitu mudah memandang kematian, sebatas sebuah suratan takdir atau sunatullah yang pasti terjadi. Tanpa coba belajar dari sejarah, tanpa pernah benar-benar introspeksi akan musibah yang terjadi. Merenungi musubah yang bisa terjadi karena dosa dan perbuatan manusia. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Keledai tidak akan jatuh dua kali ke lubang yang sama karenanya kejadian yang kerap berulang seharusnya mudah diantisipasi. Dalam hal ini wajar saja jika sorotan utama ditujukan kepada Pemerintah Arab Saudi kerena musibah berulang semestinya tidak perlu terjadi. Di Indonesia, beberapa kali ada kejadian tewasnya orang-orang karena rebutan zakat. Pihak yang paling disoroti tentu pihak penyelenggara dan pemberi zakat, pun bisa jadi ada faktor ketidakpedulian dan ketidakdisiplinan dari para mustahiq (penerima zakat). Tim pengamanan dan pengawalan ibadah haji seharusnya sudah cukup piawai menghadapi rutinitas tahunan dan memahami betul celah-celah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Bahkan paham benar apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir korban. Memang tidak sedikit jama’ah haji dan umroh yang bandel dan sulit diatur, namun tentu bisa dibuatkan mekanisme untuk menertibkan mereka. Menghormati tamu jelas berbeda dengan membiarkan tamu berbuat semena-mena.

Namun jika ditelaah lebih dalam, kesalahan tidak pantas ditimpakan semua ke Pemerintah Arab Saudi yang pastinya sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut para tamu Allah SWT. Ada masalah akhlak kaum muslimin yang juga perlu mendapat perhatian serius agar kejadian serupa tidak terulang. Budaya disiplin, santun dan taat aturan sejatinya sejalan dengan nilai-nilai Islam, sayangnya tidak tercermin dalam keseharian banyak kaum muslimin. Pantas saja ada riset yang menyebutkan bahwa Negara paling Islami di dunia ternyata bukan Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Alih-alih instropeksi, tidak sedikit pihak yang malah skeptis bahkan su’uzhon dengan riset tersebut.

Tragedi Mina semestinya tidak perlu terjadi jika umat muslim di seluruh dunia dapat menerapkan budaya tertib dan patuh aturan. Kabarnya, sudah ada peringatan dari PPIH Arab untuk tidak melempar jumrah pada waktu-waktu tertentu, termasuk ketika waktu kejadian, namun tidak diindahkan padahal melempar jumroh sudah disediakan waktu dan tempatnya. Kabarnya ada jema’ah haji yang berhenti bahkan berbalik melawan arah padahal pelaksanaan ibadah haji sudah ada alurnya. Ketidakdisiplinan yang harus dibayar mahal. Jika aturan manusia yang konkret dibuat untuk kepentingan hidup bermasyarakat saja dilanggar, bagaimana dengan aturan Allah SWT yang bisa jadi lebih abstrak?

Sungguh ibadah haji seharusnya menunjukkan kekuatan umat Islam, mampu bersatu dan mengatasi segala perbedaan. Bukannya menyisakan catatan pilu yang mencoreng muka umat Islam. Hukuman pancung untuk para petugas yang bertanggung jawab tidak serta merta menghapus duka. Penanganan korban tewas dan terluka termasuk pemberian santunan adalah hal lain yang bagaimanapun tidak lebih utama dari memastikan keselamatan para tamu Allah SWT. Dan tamu yang baik semestinya meringankan beban tuan rumah dengan persiapan yang optimal, mulai dari kebersihan hati, pemahaman yang utuh hingga persiapan fisik. Ya, memastikan bahwa para tamu dapat selamat dan terlayani dengan baik sebenarnya juga menjadi tanggung jawab para tamu. Pihak penyelenggara ibadah haji harus instropeksi, namun semua pihak semestinya juga harus mawas diri.

Tulisan ini tidak hendak mencari kambing hitam. Belajar dari sejarah, orang-orang munafik biasa menjadikan momentum musibah untuk memecah belah. Selain penanganan korban yang sudah dan tengah dilakukan, ada baiknya kita banyak berdo’a dan beristighfar, memohon ampunan dan pertolongan. Takdir Allah SWT ada di luar jangkauan kita, tapi bukan berarti tidak ada yang bisa kita persiapkan, antisipasi dan lakukan untuk menyambutnya. Tragedi dalam prosesi melempar jumrah ini semoga mampu menumbuhkan tekad kuat untuk memerangi syaithan dan para sekutunya, termasuk yang mengalir dalam darah setiap Bani Adam. Dan bagi mereka yang wafat di tanah suci biarlah Allah SWT yang memberikan balasan. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan dikembalikan…

Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

IBU : kuncI peradaBan dUnia

Nancy Matthews Elliott begitu kesal dengan sikap kasar Reverend G. B., guru SD anaknya yang tidak bisa diajak berdiskusi. Kemarin sepulang sekolah, anaknya membawa surat dari gurunya bahwa pihak sekolah tidak sanggup lagi mengajari Tommy (panggilan anaknya) karena sangat bodoh dan bebal, padahal Tommy baru 3 bulan bersekolah. Nancy memang menyadari anaknya sulit mendengar sehingga tidak mudah menangkap pelajaran, namun mengeluarkan Tommy dari sekolah dianggapnya bukan keputusan bijak. Akan tetapi, mendapati langsung penolakan pihak sekolah atas anaknya, Nancy hanya bisa berujar, “Anak saya bukanlah anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik  dan mengajarinya”. Nancy yang pernah berprofesi sebagai seorang guru bergegas pulang kemudian berkata kepada anaknya, ”Saya tahu Thomas, kemampuanmu memang buruk hari ini. Tetapi suatu saat nanti, kamu akan menjadi orang yang hebat.

Mulailah Nancy mengajarkan cara membaca, menulis dan berhitung kepada anaknya. Nancy juga membelikan banyak buku dan selalu mendorong anaknya untuk melakukan apa saja yang disukainya. Setiap kali anaknya mengalami kesulitan, ia berkata, “Thomas, kamu anak hebat, Nak, kamu pasti bisa menemukan jawabannya! Mommy percaya itu sayang!”. Dan setiap kali anaknya berhasil menemukan jawaban dari masalahnya, Nancy selalu menanggapinya dengan antusias, memeluknya sambil berkata, “Kamu memang anak kebanggaan Mommy, Nak!”. Kondisi pendengaran anaknya semakin memburuk di usia 12 tahun namun Nancy tidak putus asa mendidiknya. Nancy bahkan mendorong Tommy untuk berjualan surat kabar, buah apel, dan permen di sebuah jalur kereta api. Selain mendapat penghasilan tambahan untuk proses belajarnya, Tommy juga memperoleh pengetahuan praktis yang membantunya kelak di kehidupan nyata.

Nancy bukanlah seorang ibu yang serba tahu, seiring berjalannya waktu, semakin banyak pertanyaan anaknya yang tidak mampu dijawabnya. Nancy mengakui keterbatasannya, namun berupaya membantu Tommy mencari jawabannya dengan menemui ahlinya atau mencari referensi yang sesuai. Pernah suatu ketika pencariannya selama berbulan-bulan tidak membuahkan hasil, Nancy pun berkata pada anaknya, “Thomas anakku sayang, kita telah buktikan bahwa ternyata tak seorangpun kita temukan bisa menjawab semua ini dan tak satu bukupun pernah ditulis orang tentang hal ini. Thomas sayang, kamu tahu apa artinya, Nak? Ya, itu artinya kamulah yang diminta Tuhan untuk menemukannya bagi orang lain. Ayo, Nak! Kamu coba dan coba terus, mommy yakin suatu saat kamu pasti berhasil”. Waktupun berlalu begitu cepat, sejarah kemudian mencatat sosok Tommy kecil yang sulit mendengar menjadi seorang penemu paling produktif sepanjang masa yang telah menghasilkan 1039 hak paten, termasuk fonograf, kamera film dan bola lampu : Thomas Alfa Edison.

Utamanya Seorang Ibu
Dalam Bahasa Indonesia, ‘ibu’ tidak hanya didefinisikan sebagai wanita yang telah melahirkan seseorang atau panggilan hormat kepada wanita. Kata ‘ibu’ juga diartikan sebagai bagian yang pokok atau utama, karenanya kita mengenal istilah ‘ibu kota’ ataupun ‘ibu pertiwi’. Ibu mewakili sosok yang mengajarkan tentang arti pengorbanan. Ibu digambarkan sebagai manusia dengan kasih sayang yang tidak terbatas, kecintaan yang tulus diberikan kepada anaknya tanpa pamrih. Ibu –dengan berbagai sinonimnya– merupakan nama yang paling sering disebut dan dicari oleh seorang anak. Keberadaannya akan menentramkan, ketiadaannya akan membawa kesedihan mendalam, dan mengenangnya mengantarkan pada kesyahduan.

Ibu juga dikenal sebagai “mahdul hadhoroh” atau buaian peradaban karena dari rahim seorang ibu inilah para pengukir peradaban lahir untuk kemudian tumbuh. Sejarah telah mencatat kehadiran orang-orang besar tidak pernah sendirian, selalu ada orang hebat yang membersamainya, dan figur ibu kerap mengisi posisi ini. Kisah Nancy ibunda Thomas Alfa Edison hanya salah satu contoh bagaimana peran ibu kerap melampaui batas-batas kebiasaan manusia. Optimalisasi peran ini yang membuat seorang ibu menjelma menjadi kunci peradaban, tidak harus langsung menjadi tokoh sentral yang mengguncang dunia, namun menjadi arsitek yang mempersiapkan para tokoh pengguncang peradaban.

Nyatanya, tidak semua ibu mampu dan dipercaya untuk mengemban amanah sebagai ibu yang menggenggam kunci peradaban. Tidak sedikit ibu yang menyia-nyiakan buah hatinya, gagal mendidiknya, menyakitinya, bahkan ada saja ibu yang menyiksa hingga membunuh anaknya. Ada lagi ibu yang justru menjerumuskan anaknya kepada pilihan hidup yang tidak benar. Ya, surga memang ada di bawah telapak kaki ibu, namun ternyata tidak di setiap ibu. Ibu memang menentukan jatuh bangunnya suatu bangsa, namun ternyata tidak sembarang ibu dapat menjadi ibu peradaban. Sebagaimana pahlawan adalah mereka yang terpilih, ibu peradaban juga orang pilihan. Dan pilihannya adalah pilihan sadar untuk menentukan sendiri posisi yang dikehendaki : menjadi tiang penyokong yang kokoh atau menjadi penghancur peradaban.

Menjadi Ibu Peradaban
Al Ummu madrasatun”, ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya, sebuah madrasah peradaban. Bahkan seorang Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa ibu yang baik adalah benteng terkuat yang diketahuinya. Seorang bijak berkata, “Seorang ibu adalah lembaga pendidikan yang jika ia benar-benar mempersiapkan dirinya, berarti ia telah mempersiapkan sebuah generasi yang benar-benar digjaya”. Para tokoh dan pahlawan peradaban jumlahnya tidak banyak, demikian pula dengan ibu peradaban. Mempersiapkan diri menjadi seorang ibu peradaban menjadi syarat mutlak untuk melahirkan para pejuang peradaban. Ada beberapa karakter dan mentalitas positif yang tidak bisa tidak harus dimiliki seorang ibu yang mengusung cita-cita mulia sebagai kunci peradaban dunia.

Ibu peradaban terus memberikan yang terbaik tanpa ingin dikenal. Ibu peradaban tidak merasa perlu namanya bersanding dengan kebesaran nama anaknya. Popularitas bahkan menjadi ujian bagi ketulusan pengorbanannya. Segala jerih payah akan terbayar sudah jika melihat prestasi gemilang dan senyum bahagia anak-anaknya. Mungkin sedikit orang yang mengenal R.A. Tuti Marini Puspowardojo, orang yang paling berperan dalam pembentukan karakter B.J Habibie. Ibu dari Presiden RI ke-3 tersebut lah yang menanamkan nilai-nilai ilmu pengetahuan dan perjuangan sejak kecil. Setelah suaminya, Alwi Abdul Jalil Habibie, meninggal karena serangan jantung, Tuti Marini lah yang mengantarkan B.J. Habibie melanjutkan pendidikan ke Bandung, ke luar negeri, hingga meraih banyak kesuksesan. Seperti halnya Nancy Matthews Elliott, nama mereka jauh tertutupi prestasi dan kebesaran nama anaknya. Namun kekurangtenaran tersebut sama sekali tidak mengurangi kehebatan ibu-ibu peradaban tersebut.

Ibu peradaban memiliki visi besar melampaui usianya. Ibu peradaban mampu menemukenali potensi khas anak yang dididiknya, bahkan ketika hampir semua orang berputus asa dengan anaknya. Visi besar itu tertanam dalam sehingga menginspirasinya dalam mendampingi perjalanan hidup sang anak. Bahkan dalam keadaan marah sekalipun, visi itu yang akan terlontar, bukan sumpah serapah. Ada kisah seorang ibu yang sedang menyiapkan jamuan makan untuk tamu suaminya sementara anaknya sedang asyik bermain pasir. Ketika hidangan sudah siap saji, anaknya tiba-tiba masuk dan menaburkan pasir ke dalam hidangan kambing tersebut. Sang ibu yang melihatnya pun memarahinya, “Idzhab, ja’alakallahu imaman lilharamain!” (Pergi kamu, semoga Allah menjadikanmu imam di Haramain!). Visi besar yang tertanam itu terwujud puluhan tahun kemudian, sang anak, Al Hafizh Abdurrahman As-Sudais, menjadi Imam Masjidil Haram dengan suaranya yang sangat menyentuh. Kisah kemarahan visioner ini juga pernah terjadi di bumi Nusantara. Seorang ibu yang tidak tahan dengan kenakalan anaknya berujar, “Pergilah, jangan pulang sampai kamu bisa menggetarkan kerajaan ini!”. Sang anak, Raden Syahid yang lebih dikenal dengan Sunan Kalijaga, puluhan tahun kemudian benar-benar menggetarkan kerajaan sehingga rakyatnya menyembah Allah SWT.

Ibu peradaban akan menerima anaknya apa adanya, kelebihan dan kekurangannya. Ibu peradaban berlapang dada dengan kekurangan dan kesalahan anak yang merupakan keniscayaan dalam belajar, keniscayaan dalam kehidupan. Ibu peradaban akan terus mendukung anak ke arah kebaikan, namun bukan untuk menentukan jalan hidupnya. Ia akan berada pada posisi yang tepat antara memberikan rambu dan batasan dengan memberi kepercayaan dan kebebasan sepenuhnya. Ibu peradaban punya desain namun tidak mengekang, apalagi mengukur baju sang anak dengan bajunya sendiri. Sekedar menemukenali potensi tentu tidak akan banyak bermakna tanpa dapat mengarahkan dan mengoptimalkannya. Sebagaimana Mary Gates yang mengajarkan anaknya mengenai kedisiplinan dan bagaimana harus bersikap di depan publik. Ia tidak menguasai komputer, tidak pula menyangka anaknya, Bill Gates, akan menjadi salah seorang terkaya di dunia. Namun –sebagaimana Nancy—ia mendukung pilihan terbaik yang ditempuh anaknya dengan caranya sendiri, dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Semua orang punya hak untuk sukses, semua orang bisa menjadi pahlawan dan mengukir tinta emas sejarah, setiap perempuan pun berkesempatan untuk menjadi ibu peradaban. Dunia dengan berbagai problematikanya bahkan membutuhkan banyak sekali ibu-ibu peradaban, yang dari rahimnya lahir para pejuang peradaban. Sepadat apapun kurikulum di sekolah, sepelik apapun dinamika di tengah masyarakat, seorang ibu tetaplah madrasah paling utama bagi anaknya. Wajah peradaban suatu komunitas, suatu bangsa, bahkan dunia akan banyak ditentukan oleh pilihan yang diambil oleh para ibu selaku pemegang kunci perabadan : membangun peradaban yang lebih baik, menghancurkannya, atau bahkan menghapus peradaban dari muka bumi.

“Jika kamu mendidik seorang laki-laki, sesungguhnya engkau hanya mendidik satu dari jutaan penduduk bumi. Tapi jika kamu mendidik seorang perempuan, maka sesungguhnya engkau sedang mendidik sebuah bangsa” (Brigham Young)

Dibalik Teka-teki Einstein

Beberapa hari lalu, untuk kesekian kalinya, saya mendapat kiriman “Teka-teki Einstein” yang cukup mengasah otak. Konon, hanya 2% penduduk dunia yang mampu menyelesaikan teka-teki berikut :

Ada 5 buah rumah yang masing-masing memiliki warna berbeda. Setiap rumah dihuni satu orang pria dengan kebangsaan yang berbeda-beda. Setiap penghuni menyukai satu jenis minuman tertentu, merokok satu merk rokok tertentu dan memelihara satu jenis hewan tertentu. Tidak ada satupun dari kelima orang tersebut yang minum minuman yang sama, merokok merk rokok yang sama dan memelihara hewan yang sama seperti penghuni yang lain.

  1. Orang Inggris tinggal di dalam rumah berwarna merah.
  2. Orang Swedia memelihara anjing.
  3. Orang Denmark senang minum teh.
  4. Rumah berwarna hijau terletak tepat di sebelah kiri rumah berwarna putih.
  5. Penghuni rumah berwarna hijau senang minum kopi.
  6. Orang yang merokok PallMall memelihara burung.
  7. Penghuni rumah yang terletak di tengah-tengah senang minum susu.
  8. Penghuni rumah berwarna kuning merokok Dunhill.
  9. Orang Norwegia tinggal di rumah paling pertama.
  10. Orang yang merokok Marlboro tinggal di sebelah orang yang memelihara kucing.
  11. Orang yang memelihara kuda tinggal di sebelah orang yang merokok Dunhill.
  12. Orang yang merokok Winfield senang minum bir.
  13. Di sebelah rumah berwarna biru tinggal orang Norwegia.
  14. Orang Jerman merokok Rothmans.
  15. Orang yang merokok Marlboro bertetangga dengan orang yang minum air.

Pertanyaan : Siapakah yang memelihara ikan???

Saya tentu tidak akan membahas langkah-langkah teknis menyelesaikan teka-teki tersebut yang ternyata sudah banyak yang membahasnya. Namun memang ada beberapa kaidah yang dapat menjadi pelajaran untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Pertama, perlu ada keyakinan bahwa setiap soal ada jawabannya, sebagaimana setiap masalah ada jalan keluarnya dan setiap penyakit pasti ada obatnya. Identifikasi permasalahan ternyata bukan tahap awal penyelesaian masalah, ada optimisme dan keyakinan yang harus mendahului. Tidak sedikit mereka yang gagal menemukan solusi –termasuk menyelesaikan teka-teki Einstein—hanya karena menganggap bahwa permasalahannya terlalu rumit.

Kedua, perlu adanya visualisasi untuk mempermudah penyelesaian masalah. Puzzle yang abstrak perlu disajikan lebih konkrit. Dalam banyak hal yang logis, imajinasi saja takkan menghasilkan gambaran yang kuat. Tidak sedikit mereka yang tidak berhasil menemukan jalan keluar permasalahan cuma karena kegagalan dalam memperjelas arah sehingga semuanya hanya tampak seperti bayang-bayang. Ketiga, penyelesaian permasalahan sebaiknya dimulai dari yang paling mudah dan paling nyata. Selain dapat meringankan beban secara psikologis, memulai dari yang mudah juga akan membuka jalan bagi langkah-langkah berikutnya secara lebih sistematis. Menyelesaikan perkara mudah memang tidak lantas menyelesaikan keseluruhan permasalahan, namun seluruh permasalahan takkan terselesaikan jika perkara yang mudah saja gagal terselesaikan.

Keempat, suatu permasalahan bisa jadi hanya dapat diselesaikan dengan melakukan beberapa solusi alternatif secara simultan. Karenanya mengombinasikan beberapa petunjuk sekaligus menjadi penting untuk menunjukkan kebenaran. Sir Arthur Conan Doyle melalui tokoh Sherlock Holmes dalam buku ‘Sign of Four’ mengatakan, “Kalau kau singkirkan semua yang mustahil, apapun yang tersisa, betapapun mustahilnya, adalah kebenaran”. Singkat kata, dari petunjuk yang tersedia dan menerapkan beberapa kaidah pemecahan permasalahan di atas, didapatilah bahwa orang Jerman-lah yang memelihara ikan.

Belasan tahun lalu, saya dan beberapa teman berhasil menemukan jawabannya, satu dasawarsa lalu saya bahkan membuat model persamaan matematikanya dan memperoleh jawaban serupa. Namun kali ini ketika mendapat teka-teki serupa ada hal yang terasa mengganjal. Jika jawabannya adalah benar orang Jerman, saya tidak yakin hanya 2% penduduk dunia yang mampu menjawabnya. Ketika saya coba googling, ternyata memang banyak sekali yang telah mencapai kesimpulan bahwa orang Jerman-lah yang memelihara ikan. Ada yang aneh, jangan-jangan ada sesuatu di balik teka-teki Einstein ini. Sherlock Holmes ketika menguji pil beracun dalam buku ‘A Study in Scarlet’ mengatakan, “Ketika ada fakta yang tampaknya bertentangan dengan serangkaian panjang proses deduksi , fakta itu bisa saja menimbulkan penafsiran yang lain”.

Mungkin karena beberapa tahun terakhir asyik bergelut di dunia penelitian, saya langsung dapat melihat keanehan yang pertama : tidak ada satu pun kata ‘ikan’ dalam petunjuk yang diberikan. Artinya, ikan sebagai hewan peliharaan kelima (setelah anjing, burung, kucing, dan kuda) hanya asumsi. Jika kata ‘ikan’ diganti dengan ‘ayam’ atau ‘bebek’, maka apakah jawabannya tetap orang Jerman? Lalu sebenarnya orang Jerman memelihara apa? Secara tekstual memang tidak ada jawaban yang pasti. Jika ikan ternyata dimiliki oleh orang Finlandia atau orang Belanda yang tidak tercantum dalam petunjuk misalnya, juga tidak ada yang tahu. Yang pasti hanyalah ikan tidak mungkin dimiliki oleh orang Swedia yang memelihara anjing, sebab setiap orang hanya memiliki satu jenis hewan. Selebihnya relatif.

Jika melihatnya secara tekstual, ternyata lebih rumit. Tidak ada keterangan bahwa kelima rumah tersebut susunannya berjajar dan tidak ada penjelasan di sebelah mana letak rumah pertama. Berhubung ada rumah yang letaknya di tengah, maka formasi rumahnya tidak mungkin berupa segi lima yang melingkar. Namun bukan tidak mungkin formasinya berbentuk seperti logo olimpiade yang serupa dengan huruf ‘W’ atau seperti belah ketupat yang serupa dengan simbol ‘+’. Ada rumah di tengah dan ada rumah pertama. Variasi kemungkinan jawabannya tentu akan lebih banyak.

Ketika saya gali lebih dalam, ternyata rokok merk Wienfield baru diluncurkan tahun 1972, sementara Einstein meninggal pada 18 April 1955. Lalu bagaimana mungkin Einstein dapat membuat teka-teki yang konon dibuat ketika ia masih muda? Ternyata tidak ada satu pun literatur yang dapat membuktikan bahwa teka-teki tersebut ditulis Einstein. Dan tentunya tidak ada pula penelitian yang mendukung bahwa 98% penduduk dunia tidak mampu menyelesaikannya. Publikasi pertama yang serupa dengan “Einstein Riddle” dapat ditemukan pada tahun 1960-an dalam majalah “Life International” yang berjudul “Who Owns the Zebra?”. Teka-teki tersebut kemudian menyebar luas dengan beragam bentuk variasinya, di antaranya mengganti variabel rokok dengan makanan untuk teka-teki bagi anak-anak. Adapun teka-teki “Who Owns the Zebra?” adalah sebagai berikut :

Each of the five houses is painted a different color and their inhabitants are of different national extractions, own different pets, drink different beverages and smoke different brands of American cigarets.

  • There are 5 houses.
  • The Englishman lives in the red house.
  • The Spaniard owns the dog.
  • Coffee is drunk in the green house.
  • The Ukrainian drinks tea.
  • The green house is immediately to the right of the ivory house.
  • The Old Gold smoker owns snails.
  • Kools are smoked in the yellow house.
  • Milk is drunk in the middle house.
  • The Norwegian lives in the first house.
  • The man who smokes Chesterfields lives in the house next to the man with the fox.
  • Kools are smoked in the house next to where the horse is kept.
  • The Lucky Strikes smoker drinks orange juice.
  • The Japanese smokes Parliaments.
  • The Norwegian lives next to the blue house.

Question: Who drinks water? Who owns the zebra?

Publikasi awal di majalah ini bagi saya menguatkan bahwa yang diinginkan dari sang pembuat teka-teki adalah murni logika matematika, tidak perlu berpikir filosofis bahkan menolak asumsi dengan asumsi baru, misalnya dengan mengatakan bahwa orang yang memelihara ikan adalah yang minum air karena ikan butuh air. Saya jadi teringat dengan teka-teki asah otak di Majalah Intisari. Di beberapa media pun teka-teki dengan berbagai bentuknya sudah umum menjadi rubrik favorit pembaca. Dengan pendekatan tersebut, bahwa orang Jerman lah yang memiliki ikan menjadi jawaban paling rasional, tanpa banyak pertanyaan yang semakin mempersulit. Jika masih kurang puas, daripada merasa diri lebih benar dengan berbagai asumsi dan solusi kreatif, mendingan coba selesaikan teka-teki “Who Owns the Zebra?” di atas. Jika masih kurang puas juga, daripada menyalahkan jawaban orang lain lebih baik coba pecahkan teka-teki Einstein jika formasi rumahnya seperti huruf ‘W’ atau symbol ‘+’. Selamat mencoba!

Simposium Pendidikan Nasional

Senang mengikuti perkembangan dunia pendidikan Indonesia dan mau tahu informasi terbaru mengenai kondisi pendidikan Indonesia terkini?

Setelah sukses menyelenggarakan Diskusi Produktif “Menghapus Kesenjangan” yang melibatkan para praktisi pendidikan Indonesia pada 20 Mei 2013 lalu, kini, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa bekerjasama dengan BEM UI 2013 kembali menghelat agenda besar. Merupakan serial dari Diskusi Produktif, akan hadir Simposium Pendidikan Nasional 2013, yang mengangkat tema “Pendidikan Berkeadilan”.

Pengisi Acara:

A. Orasi Pendidikan:
1. Prof. Anies Rasyid Baswedan, M.Si (Rektor Universitas Paramadina)
2. Itje Chodidjah, M.A (International Teacher Trainer and Education Consultant)
3. Agung Pardini (Manager Peningkatan Kualitas Pendidikan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa)

B. Simposium Pendidikan Nasional 2013
• Presentasi pemenang Call for Paper “Pendidikan Berkeadilan”
• Penanggap:
1. Dr. Fuad Jabali, M.A (Ketua LPPM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
2. Totok Amin Soefijanto, Ed.D (Deputi Rektor Universitas Paramadina)
• Moderator: Asep Sapa’at (Direktur Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa)

C. Diskusi Panel “Pendidikan Berkeadilan”
1. Ketua BEM Universitas Indonesia
2. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI)
3. Pemenang Call for Paper
• Moderator : Redaktur Harian Umum Republika*

Catat Waktunya:
Rabu, 30 Oktober 2013
Jam 09.00-16.30 WIB
di Aula Terapung Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok

Investasi:
Pelajar/Mahasiswa: GRATIS
Umum: Rp. 30.000

Fasilitas:
• Makan siang (untuk peserta yang membayar biaya investasi)
• Simposium kit
• Sertifikat
• Buku Besar Janji daripada Bukti (untuk 100 orang pendaftar pertama)
• Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa
• Kompilasi paper dari kompetisi Call for Paper “Pendidikan Berkeadilan” (untuk 100 orang pendaftar pertama)

Informasi & Pendaftaran:
Nurul: 0878 7056 0257 / 0815 1007 7684
atau ikuti @MakmalDD dan www.makmalpendidikan.net