Category Archives: Others

Selamat Idul Fitri 1434 H

 

Taushiyah Hari Ini

Pada suatu sholat Jumat, seorang jama’ah membuka dompetnya untuk segera mengisi kotak amal yang telah berada di depannya. Dia berusaha mencari pecahan terkecil di antara pecahan 50 ribuan di dompetnya. Setelah puas menemukannya, ia segera memasukkannya ke dalam kotak amal, setelah itu ia pun berusaha segera akan menggeser kotak amal tersebut.

Tiba-tiba ia dicolek oleh seorang jamaah di belakangnya sambil menyerahkan beberapa lembar 50 ribuan. Segera saja, ia masukkan 50 ribuan tadi ke dalam kotak amal, karena dikiranya demikian niat orang dibelakang tadi dan mengeser kotak amal tersebut ke sampingnya. Namun orang tadi bilang, “Pak, itu tadi uang bapak yg tercecer setelah bapak memasukkan dompet tadi

Ps. ambil sendiri hikmahnya ^_^

Tamasya Ramadhan ke Negeri Impian

Aku terbangun dari tidur, kepalaku agak pening, entah apa yang terjadi tadi malam. Perlahan kesadaranku pulih. Dini hari ini hening, penuh kedamaian, hanya lantunan tilawah qur’an yang kudengar mengalun indah dari masjid dekat rumah. Bergegas ku ke kamar mandi untuk menyucikan diri, bersiap menghidupkan malam untuk bermunajat kepada-Nya. Malam ini begitu khidmat, seolah aku bisa bercengkerama langsung dengan Allah SWT. Kuhentikan dzikir dan tilawahku mendengar pengingatan dari masjid bahwa waktu shubuh sudah semakin dekat. Bersegera aku menutup shalat malam agar dapat makan sahur yang menambah keberkahan Ramadhan yang tengah kujalani. Sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, aku dan keluarga mengakhirkan sahur, namun tentunya tidak mengurangi kesiapanku untuk mendirikan shalat shubuh berjama’ah di masjid.

Jalan menuju masjid begitu ramai dipenuhi kaum muslimin yang hendak memburu shaf pertama shalat berjama’ah. Kudengar suasana seperti ini tidak dapat dirasakan di negeri sebelah. Di sepertiga malam terakhir, para pemuda disana berteriak-teriak berkeliling kampung sambil memukul-mukul apa saja yang bisa ditabuh. Sangat bising. Suara yang ditimbulkan bukan saja tidak merdu, bayi-bayi terkejut dan menangis, orang-orang yang dibangunkan menggerutu, shalat malampun terganggu. Di negeri sebelah, kebiasaan orang yang terbangun adalah langsung menuju meja makan sambil mencari remote TV. Ya, makan sahur sambil menonton TV sudah jadi kebiasaan. Tontonannyapun hanya lawakan konyol yang tidak mendidik. Dan ibarat berbekal, makan sahur harus sebanyak-banyaknya sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh selama sehari berpuasa, jika perlu dilengkapi dengan berbagai suplemen. Di negeriku, waktu imsak hanya sebagai pengingat bahwa waktu shubuh akan segera tiba, namun di negeri sebelah, waktu imsak dianggap batas waktu boleh makan sahur. Dan bukannya bersiap shalat shubuh, mungkin juga karena kekenyangan, para penduduk negeri sebelah lebih suka mengisi waktu menjelang shalat shubuh dengan tidur-tiduran yang pada akhirnya tidur beneran sehingga shalat shubuhnya kebablasan.

Tak terasa, kakiku sudah melangkah ke halaman masjid. Beberapa orang tetanggaku mengucapkan salam menyapaku. Kamipun masuk untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum shubuh berjama’ah. Shalat shubuh di masjid dekat rumahku hampir seramai shalat Jum’at, seluruh penjuru masjid dipenuhi orang-orang yang hendak beribadah. Waktu antara adzan dan iqomatpun benar-benar dimanfaatkan untuk berdzikir dan berdo’a, padahal hampir tidak ada warga yang terlambat datang ke masjid. Usai shalat shubuh yang khidmat, sebagian besar jama’ah tidak beranjak dari masjid, kami biasa i’tikaf disini hingga matahari terbit. Kabarnya, kondisi di negeri sebelah cukup berbeda. Karena tidur lebih disukai daripada shalat, tidak banyak yang mendatangi masjid ketika shubuh. Mereka yang tidak tidur memilih untuk bersiap berangkat ke kantor agar tidak terlambat mengejar dunia. Kalaupun ada yang shalat shubuh, pasti hanya segelintir orang yang sudah berumur. Anak muda yang shalat shubuh berjama’ah akan mendapat tatapan aneh karena mungkin dinilai masih banyak waktu untuk lebih menikmati dunia. Namun di awal Ramadhan kondisi agak berbeda, masjid-masjid di negeri sebelah dapat dikatakan ramai, anak-anak mudanya juga banyak, aku pernah sekali merasakannya. Namun suasananya berbeda, sulit untuk dilukiskan. Mungkin karena ketidaktenangan jama’ah ketika melakukan shalat, mungkin juga karena begitu cepatnya masjid kosong selepas salam tanpa banyak yang berdo’a dan berdzikir, atau mungkin karena banyaknya bunyi petasan yang mengganggu i’tikafku. Kabarnya, sepulang dari shalat shubuh, anak-anak muda disana malah perang petasan. Astaghfirullah…

Pagi ini entah mengapa aku benar-benar semangat, seakan aku baru saja menjadi manusia baru. Aku sangat bersyukur tinggal di negeri ini, negeri yang disiplin. Tidak ada kemacetan karena semua tertib berlalu lintas, tidak ada yang merasa gengsi naik kendaraan umum karena rendah hati dan berbagi sudah menjadi budaya disini. Berpuasa juga tidak menjadi alasan untuk menurunkan produktivitas karena di luar Ramadhanpun kami terbiasa berpuasa, kami terbiasa mengoptimalkan waktu yang kami miliki. Tidak ada yang terlambat datang ke kantor, tidak ada yang tertidur di kantor, tidak ada pekerjaan yang terbengkalai dengan dalih berpuasa. Negeri sebelah menyebut negeriku negeri idaman, padahal bagiku hal seperti ini biasa saja. Kami terbiasa menjadwalkan untuk melakukan shalat dhuha, di negeri sebelah hanya segelintir yang menyempatkannya. Padahal waktu yang tersedia sama saja, hal inilah diantaranya yang mengherankan beberapa orang dari negeri sebelah yang sempat berkunjung kesini.

Potensi negeri kami sebenarnya sama saja dengan negeri sebelah, tidak ada yang istimewa, namun entahlah mengapa suasananya berbeda. Kabarnya shalat zhuhur di negeri sebelah juga ramai, terutama di bulan Ramadhan. Bedanya, di negeri sebelah banyak yang menunggu iqomat baru beranjak ke masjid sehingga banyak yang ketinggalan takbir pertama bersama imam, sementara kami menunggu iqamat di masjid dengan shalat, dzikir dan do’a. Bedanya, di negeri sebelah, ba’da zhuhur manusianya bertebaran beristirahat bagai ikan yang sedang dijemur, sementara kami, ah ternyata banyak bedanya, sekeluarnya dari masjidpun aktivitas kami memang berbeda. Tapi aku bersikeras bahwa ini tidak aneh, penduduk negeri sebelahlah yang aneh. Warung makan bahkan tempat prostitusi bertebaran di bulan Ramadhan, laki-lakinya gemar merokok, perempuannya gemar buka aurat, pemimpinnya tidak amanah, rakyatnya tidak ta’at. Merekalah yang aneh, kejujuran dan berbuat baik adalah hal yang biasa, menolong orang lain juga tidak butuh alasan. Sungguh aneh orang-orang yang berbuat curang, merugikan orang lain dan bersikap egois, padahal mereka sadar mereka tidak dapat hidup sendirian. Keanehan itu sebenarnya berkurang ketika bulan Ramadhan, ya, hanya ketika berpuasa bohong dan menggunjing dianggap tidak boleh. Marah juga dianggap membatalkan puasa. Negeri yang aneh.

Keanehan negeri sebelah belum usai sampai disitu. Disaat kami disini mengoptimalkan waktu menjelang berbuka untuk bermunajat karena merupakan salah satu waktu diijabahnya do’a, di negeri sebelah orang-orang malah sibuk ngabuburit tidak jelas. Menghabiskan waktu tanpa manfaat. Ketika berbukapun penduduk negeri sebelah seolah kalap, melahap apa saja sehingga perut mereka kekenyangan, sementara kami hanya berbuka dengan kurma dan air putih serta makan secukupnya, itupun tidak meninggalkan shalat maghrib berjama’ah. Belum lagi shalat tarawih, di negeri sebelah, imam yang dapat menyelesaikan shalat tarawih dengan lebih cepat itu yang dicari. Sementara imam yang bacaannya tartil akan dicibir. Ayat unggulannya adalah Surah Al Ikhlash dan Al Qadr, seakan tidak sah shalat tarawih tanpa salah satu dari surah tersebut dibacakan dalam satu salam. Anak mudanya menjadikan momen tarawih sebagai kesempatan untuk ngelaba lawan jenis. Namun hal paling aneh di negara sebelah menurutku adalah budaya i’tikaf yang dipindah tempatnya dari masjid ke pusat-pusat perbelanjaan. Sepuluh malam terakhir Ramadhan habis untuk shopping dan mempersiapkan Idul Fitri, padahal ibadah Ramadhannya belum tentu diterima.

Entah mengapa malam ini aku begitu lelah, aktivitas yang kulakukan seharian ini sepertinya agak berbeda kurasakan. Dan seperti biasa, sebelum beranjak ke pembaringan, berdzikir dan muhasabah untuk selanjutnya beristirahat, aku terlebih dahulu mengisi lembar mutaba’ah yaumiyahku. Alhamdulillah, hari ini aku begitu bersemangat dan memenuhi berbagai target yang kubuat, mulai dari menjaga wudhu dan shalat berjama’ah, do’a dan dzikir, shadaqah hingga berbagai shalat sunnah. Hari ini aku juga sempat membaca setengah buku, membuat tulisan, belajar bahasa asing dan membagi ilmu ke orang lain. Berbagai target di kantor juga berhasil kuselesaikan. Lingkungan yang kondusif memang dapat meningkatkan produktivitas. Hanya target silaturahim yang belum sempat kulakukan hari ini. Tiba-tiba terbayang berbagai keunikan aktivitas silaturahim di negera sebelah, mulai dari kerelaan bermacet-macet ria untuk sekedar dapat pulang ke kampung halaman, saling bertukar makanan di malam takbiran hingga ritual maaf-maafan seusai shalat Idul Fitri. Tiba-tiba kepalaku sakit, sepertinya harus segera istirahat, entah mengapa hari ini aku begitu peduli dengan keadaan di negeri sebelah.

* * *

Aku terbangun dari tidur, kepalaku agak pening, entah apa yang terjadi tadi malam. Perlahan kesadaranku pulih. Suara berisik teriakan anak-anak yang membangunkan orang untuk makan sahur disertai bunyi tetabuhan tak beraturan seakan memekakkan telingaku. Sayup-sayup kudengar suara orang tertawa terbahak-bahak menyaksikan acara televisi pengantar makan sahur. Aku mendesah lirih, rupanya aku baru saja bermimpi, mimpi indah menjadi penduduk negeri idaman. Ingin rasanya kulanjutkan tidur dan mimpiku dan berharap kembali membuka mata di negeri impian lagi, namun batinku menolaknya. Perjalananku di alam mimpi seolah menyadarkanku bahwa negeri impian itu tidak berbeda dengan kehidupan yang kujalani, tinggal bagaimana aku memaknai dan menjalani kehidupan ini. Negeri impian itu ada disini dan hanya dapat terwujud jika aku mau beramal nyata dan berhenti berangan kosong. Negeri dimanapun akan menjadi negeri impian jika setiap elemen negerinya berbuat dan bersungguh-sungguh untuk dapat mewujudkannya. Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang kecil dan dimulai sekarang juga. Bergegas ku ke kamar mandi untuk menyucikan diri, bersiap menghidupkan malam untuk bermunajat kepada-Nya dan bertekad untuk memulai mewujudkan negeri impian yang baru saja kutinggalkan…

“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan haus. Betapa banyak orang yang bangun (Shalat) malam tidak mendapatkan apa-apa selain begadang.” (HR. Al-Baihaqi)

Bocah Misterius

Akhir pekan kemarin ternyata sangat padat sehingga tidak sempat membuat tulisan baru walaupun gagasan di kepala sangat banyak. Untuk inspirasi awal pekan ini saya coba share tulisan Ust. Yusuf Mansur dalam buku ‘Wisata Hati’ yang terkait dengan aktivitas kita di bulan Ramadhan ini. Semoga bermanfaat…

* * *

Bocah itu menjadi pembicaraan di kampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja di atasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat di plastik es tersebut. Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi di tengah hari pada bulan puasa Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari di kampung itu lebih terik dari biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya. Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap ba’da zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma, ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. “Bismillah…” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

Maaf ya, itu karena kamu melakukannya di bulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu…”. Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. “Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?!”

Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. “Ketahuilah Tuan, kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fitri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan, sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan, kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami! Tuan, sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan, sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan, jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak…

Wuahh… entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran di depan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada di pikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Selamat menjalankan ibadah puasa…

Memilih Tempat Tinggal untuk Membangun Peradaban

Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari kesengsaraan; tetangga yang jelek, istri yang jahat (tidak shalihah), tunggangan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.
(HR. Ibnu Hibban)

Kebahagiaan sejati memang adanya di hati, namun ada beberapa indikator yang dapat mengakselerasi hadirnya kebahagiaan. Empat diantaranya disebut dalam hadits di atas. Di tulisan sebelumnya, penulis sudah kerap menyampaikan tentang seni mencari dan memilih istri. Tulisan ini hadir untuk membahas indikator kebahagiaan yang lainnya, yaitu bagaimana memilih tempat tinggal untuk membangun keluarga dan rumah tangga bahagia. Dan sesuai dengan hadits di atas, ada empat indikator kebahagiaan, termasuk dalam hal memilih tempat tinggal.

Pertama, istri yang shalihah mencerminkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang diisi oleh pribadi-pribadi yang baik. Rumah yang berisi entitas-entitas yang baik. Porsi besar tanggung jawab untuk membangun dan membina pribadi-pribadi yang ada di dalam keluarga memang ada di pundak suami selaku kepala keluarga. Namun porsi besar untuk mengelola entitas-entitas tersebut ada pada istri selaku manajer rumah tangga. “…Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya, sedangkan perempuan adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari-Muslim). Disinilah dibutuhkan sinergi suami istri untuk menciptakan tempat tinggal yang baik. Jadi, syarat pertama untuk memperoleh tempat tinggal yang baik adalah menghadirkan kepala keluarga dan manajer rumah tangga yang baik sehingga aktivitas di dalamnya penuh dengan kebaikan.

Kedua, tempat tinggal yang luas menunjukkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang membuat nyaman, baik secara materi maupun non-materi. Dalam memilih tempat tinggal, kenyamanan materi tentu perlu menjadi pertimbangan. Tidak perlu memaksakan jika harganya tidak terjangkau, harga yang membebani hanya akan menambah utang dan berpotensi mengacaukan pengelolaan keuangan rumah tangga. Memang materi bukan faktor penentu keharmonisan rumah tangga, namun nyatanya banyak rumah tangga berantakan karena faktor materi semata. Dan kenyamanan yang sangat penting untuk diperhatikan adalah kenyamanan non-materi. Pilihan tempat tinggal merupakan salah satu tahap yang menentukan pilihan masa depan sehingga kesepakatan penentuan tempat tinggal sebaiknya melibatkan suami istri, bukan salah satu pihak saja. Mufakat tersebut akan menjadi awal kenyamanan. Faktor keselamatan dan keamanan juga perlu menjadi perhatian. Rumah semegah apapun tidaklah akan menghadirkan kenyamanan jika berada di kawasan rawan kejahatan. Faktor-faktor lain yang menentukan kenyamanan seringkali subjektif, mulai dari keasrian lingkungan, hingga penggunaan sistem syari’ah dalam hal pembiayaan, namun faktor-faktor ini tetap penting untuk diperhatikan. Keluarga dan rumah tangga yang penuh kasih sayang dan bertabur Rahmat Allah SWT (mawaddah wa rahmah), hanya dapat diwujudkan ketika ada ketenangan dan kenyamanan (sakinah). Karenanya kenyamanan menjadi salah satu indikator penting tempat tinggal yang baik.

Ketiga, tetangga yang shalih menggambarkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang memiliki lingkungan yang baik. Lingkungan masyarakat yang religius, akrab dan saling tolong menolong. Bagaimanapun kedekatan kita dengan keluarga sedarah kita, orang-orang yang pertama kali akan menolong kita jika kita tertimpa musibah, bahkan menyolatkan dan mengurusi jenazah kita ketika kita mati adalah tetangga kita. Tidak heran dalam banyak riwayat Rasulullah SAW begitu memperhatikan adab bertetangga dan memuliakan hak tetangga, diantaranya Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku untuk berbuat baik terhadap tetangga, sampai-sampai aku mengira dia akan menjadikannya sebagai ahli waris” (HR. Bukhari-Muslim). Lingkungan yang baik juga dicirikan dengan kemudahan untuk beribadah, saling berinteraksi, saling memberi, saling menasehati dan saling bantu. Lingkungan yang baik juga akan mendorong kita untuk terus mengembangkan diri dan lebih produktif.

Keempat, tunggangan yang nyaman menyiratkan bahwa tempat tinggal yang baik adalah tempat tinggal yang menunjang mobilitas untuk beraktivitas dan kemudahan akses terhadap berbagai fasilitas. Dalam kehidupan, ada berbagai fase yang berpotensi mempengaruhi kualitas dan produktivitas kita misalnya lulus kuliah, mulai bekerja, menikah ataupun memiliki anak. Menempati tempat tinggal yang baru juga merupakan fase hidup yang berpotensi mempengaruhi aktivitas. Tempat tinggal yang baik akan mendorong kita untuk semakin produktif dalam bekerja, berkarya, berkontribusi dan menjalankan segudang amanah kita. Berbagai fasilitas yang tersedia tentunya juga perlu menjadi perhatian. Keberadaan fasilitas seperti sarana transportasi, instansi pemerintahan, layanan pendidikan dan kesehatan, hingga fasilitas olah raga dan hiburan tentunya akan menunjang mobilitas dan produktivitas kita. Jadi, kita perlu memastikan bahwa tempat tinggal yang kita pilih tidak justu menghambat aktivitas kita dan menurunkan produktivitas kita.

Tempat Tinggal untuk Peradaban
Salah satu penyebab mandegnya pembangunan peradaban adalah ketika kebutuhan pokok atas sandang, pangan dan papan masih sulit untuk didapatkan. Ironis, mereka yang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sandangnya banyak yang justru mengumbar aurat, sementara di sisi lain harga sandang yang memenuhi kaidah syari’at, misalnya jilbab, tidaklah murah. Atau perhatikan bagaimana orang-orang membuang-buang makanan sementara di belahan bumi yang lain tidak sedikit orang yang sakit atau bahkan mati karena kelaparan. Belum lagi jika kita mempersoalkan sulitnya menemukan pangan yang sehat di dunia yang penuh penyakit dan kecurangan ini. Dalam hal papan, pembangunan rumah susun dan rumah subsidi seringkali masih belum tepat sasaran. Banyak keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal karena rumah layak bagi mereka hanya sebatas impian. Padahal ketercukupan kebutuhan pokok merupakan syarat sekaligus tolok ukur kemajuan peradaban.

Dan jika kita memfokuskan pada ketersediaan papan untuk membangun peradaban, kita akan menemukan bahwa pemilihan tempat tinggal akan menentukan maju mundurnya peradaban. Pemilihan kota Mekkah dan Madinah sebagai pusat penyebaran peradaban Islam bukan tanpa alasan, ada berbagai pertimbangan strategis di dalamnya. Ketika dikaji lebih dalam, pemilihan rumah Arqam bin Abi Arqam sebagai madrasah awal, pembangunan pasar dan masjid di Madinah juga menggambarkan betapa pertimbangan lokasi untuk beraktivitas menjadi penting dalam membangun peradaban. Di setiap peradaban yang tercatat dalam sejarah, selalu ada kota dan tempat tinggal yang menjadi pusat peradaban, tidak terkecuali peradaban di Mesir, Yunani ataupun Mesopotamia. Banyak tokoh pengukir sejarah berhasil membangun lingkungan tempat tinggalnya untuk membangun peradaban yang lebih maju. Ya, individu-individu hebat akan membangun diri dan lingkungannya dulu sebelum membangun peradaban.

Memilih tempat tinggal yang baik sepertinya merupakan perkara kecil bila dibandingkan dengan membangun peradaban. Namun ketika setiap orang memperhatikan tempat tinggal dan tetangganya serta membangun lingkungannya, niscaya akan tercipta kebahagiaan pribadi, keluarga dan masyarakat. Dan terbentuknya peradaban yang lebih maju tinggal menunggu waktunya. Dan tugas berat membangun peradaban dari tempat tinggal memang bukan perkara yang mudah diwujudkan. Butuh sekelompok orang yang menjadi motor perubahan, butuh sekelompok keluarga yang dapat menjadi teladan dan butuh sekelompok masyarakat yang rela berjuang dan berkorban. Tidak hanya itu, peran berbagai pihak yang mengembangkan lingkungan tempat tinggal yang baik dan terjangkau masyarakat juga diperlukan. Peran pemerintah dalam memperhatikan tata kota dan ketersediaan tempat tinggal juga dibutuhkan. Dan yang menjadi keniscayaan, ketika lingkungan tempat tinggal siap untuk berubah, perbaikan dan kemajuan akan menjadi realita. Sebaliknya, ketika lingkungan tempat tinggal rusak, kehancuran peradaban tinggal menunggu waktunya saja.

Andai kota itu peradaban, rumah-rumah di dalamnya haruslah menjadi binaan budaya, dan tiang seri setiap rumah yang didirikan itu hendaklah agama, dan agama yang dimaksudkan tentulah agama yang berpaksikan tauhid
(Faisal Tehrani dalam ‘Tuhan Manusia’)

Dicari : Calon Presiden yang REVOLUSIONER

“Berikan saya 100 peti mati, 99 akan saya kirim untuk para koruptor. Satu buat saya sendiri jika saya pun melakukan hal itu” (Zhu Rongji, Perdana Menteri China)

Kata-kata diatas bukan sekedar isapan jempol, ribuan bahkan puluhan ribu orang di China telah dihukum mati sejak tahun 2001 karena terbukti melakukan berbagai kejahatan, termasuk korupsi. Tidak tangung-tanggung, Zhu Rongji berani menghukum mati Cheng Kejie (pejabat tinggi Partai Komunis Cina sekaligus Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional), Hu Changging (Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi), Xiao Hongbo (Deputi Manajer Cabang Bank Konstruksi China), Xu Maiyong (mantan Wakil Walikota Hangzho), Jiang Renjie (mantan Wakil Walikota Suzhou) dan banyak tokoh publik lainnya. Tidak hanya itu, puluhan ribu polisi dipecat karena menerima suap, berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di luar tugas dan kualitas di bawah standar. Terdengar kejam memang, namun begitulah pemimpin yang REVOLUSIONER, berani mengambil resiko untuk tujuan yang lebih besar. Hasilnya, pejabat takut untuk korupsi, pertumbuhan ekonomi China mencapai 9% per tahun dengan PDB melonjak tinggi dan cadangan devisa negara lebih dari 300 miliar USD. China pun menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. REVOLUSIONER, itu kuncinya.

REVOLUSIONER berarti cenderung menghendaki perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Berani dan tidak setengah-setengah. REVOLUSIONER adalah jiwa yang mempengaruh karakter pemimpin, bukan metode perjuangannya. Ahmadinejad, presiden Iran yang sangat sederhana dan merakyat. Ia meninggalkan pakaian mewah, rumah dan mobil dinas, pesawat kepresidenan, berbagai protokoler dan seremonial hingga gajinya sebagai presiden. Di balik sikap rendah hatinya, ia bersikap tegas terhadap berbagai propaganda yang dilancarkan Amerika Serikat, Israel dan sekutunya yang membuatnya disegani di mata dunia dan menjadi simbol perlawanan hegemoni Barat. Hebatnya, Iran tetap survive di tengah terpaan embargo, kebutuhan pokok tetap terpenuhi. Militer Iran bahkan ditakuti. Itulah pemimpin REVOLUSIONER. Erdogan, Perdana Menteri Turki yang berhasil memulihkan ekonomi Turki, dimana PDB naik 3 kali lipat, inflasi dan suku bunga turun drastis sementara nilai mata uang dan ekspor naik signifikan, sehingga banyak yang menjulukinya “Inspiring Leader”. Pun berbeda dengan keyakinannya, ia tidak serta merta menghapus sekulerisme di Turki yang sudah mendarah daging. Namun dengan diplomasi, ia memanfaatkan sekulerisme untuk membuat perubahan, termasuk mendorong pemilihan Presiden langsung dan mencabut UU Pelarangan Jilbab. Sosoknya semakin kuat ketika ia menolak pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat di Turki, bahkan ia tidak segan-segan mengutuk dan meminta Israel meminta maaf serta mengusir para diplomat Israel paska peristiwa Mavi Marmara. Ya, dengan metode perjuangan yang berbeda dengan Ahmadinejad, Erdogan pun sosok pemimpin REVOLUSIONER abad ini.

Indonesia saat ini tengah mengalami krisis multi dimensi dan masyarakatnya menderita lahir batin. Permasalahan yang dihadapi terlalu kompleks, diantaranya ambruknya supremasi hukum, krisis kepemimpinan, krisis kepercayaan terhadap institusi negara, lingkungan fisik dan nonfisik yang semakin rusak, hingga berbagai aset dan sumber daya yang dikuasai asing. Kondisi tersebut hanya dapat dihadapi oleh pemimpin yang REVOLUSIONER, yang tidak hanya pandai dalam mengelola pemerintahan, tetapi juga tegas dalam mengambil keputusan. Hampir seluruh bangsa dan negara yang bisa unjuk gigi di level dunia memiliki pemimpin yang REVOLUSIONER. Tak berlebihan, jika berbicara tentang kriteria presiden idaman, REVOLUSIONER  menjadi salah satu kriteria cerdas yang juga memuat kriteria-kriteria dasar yang lain. Berikut adalah kriteria calon presiden idaman masyarakat yang terangkum dalam REVOLUSIONER.

R – Ready (Siap). Seorang Presiden harus siap untuk menjadi pemimpin sekaligus pelayan suatu negara. Siap menghadapi berbagai permasalahan yang ada, siap untuk dibuat sibuk dan siap untuk memberikan segala yang dimilikinya untuk kepentingan bangsa dan negara. Jika seorang Presiden hanya siap untuk dilayani dan memperoleh berbagai macam fasilitas, ia akan mudah berkeluh kesah dan banyak menuntut. Kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan telah terbukti banyak melahirkan pemimpin besar yang REVOLUSIONER.

E – Example (Teladan). Seorang Presiden harus bisa menjadi contoh baik yang dapat ditiru oleh rakyatnya. Pemimpin yang sejati bukan hanya dapat memberikan perintah ataupun himbauan, melainkan mampu mencontohkannya. Modeling the way. Jika seorang Presiden hanya bisa berbicara tanpa memberi contoh, ia takkan mampu menggerakkan rakyatnya dan akan segera ditinggalkan. Keteladanan dalam berpikir, berbicara dan bersikap merupakan cara paling efektif dalam mengusung perubahan yang REVOLUSIONER.

V – Visioner. Seorang Presiden harus berpikiran jauh ke depan untuk kemajuan bangsa dan negaranya, jangan sampai menghabiskan energinya untuk membalas budi atas kemenangannya di awal masa kepemimpinannya dan untuk melanggengkan kekuasaannya di masa akhir kepemimpinannya. Tidak cukup hanya memiliki visi, pemimpin sejati harus mampu mengomunikasikan visinya ke seluruh elemen yang dipimpinnya dan menginspirasi mereka. Jika seorang Presiden berpikiran pendek, hanya ada dua kemungkinan bagi negaranya: diam di tempat atau malah tertinggal. Bagaimanapun, pemimpin yang visioner dekat dengan pemimpin yang REVOLUSIONER.

O – Optimistic (Optimis). Seorang Presiden harus berpikiran positif akan nasib negara yang dipimpinnya di kemudian hari. Pikiran positif ini akan melahirkan pengharapan dan kerja yang positif, cita-cita pun semakin dekat untuk dapat diraih. Jika seorang Presiden sudah pesimis dalam melihat berbagai permasalahan yang ada, usahanya tak akan optimal dan akan selalu mencari pembenaran atas kegagalannya. Rakyat pun putus asa akan masa depannya. Dan optimisme ini perlu diimbangi dengan kerja nyata sehingga dapat menghasilkan perubahan yang REVOLUSIONER.

L – Lovable (Dicintai). Seorang Presiden harus mencintai rakyat, bangsa dan negaranya sehingga ia dapat dicintai oleh rakyatnya. Jika seorang Presiden dicintai rakyatnya, kebijakannya akan mendapat dukungan penuh dari rakyatnya. Sebaliknya, jika seorang Presiden tidak dicintai, ia hanya akan menuai cibiran dan do’a yang buruk dari rakyatnya. Bukan hanya kekuasaannya akan digulingkan, rakyat pun akan berbalik menuntut bahkan menghukmnya. Jadi, walaupun terkesan memiliki sifat yang berjauhan, cinta sangatlah dibutuhkan untuk menguatkan pemimpin yang REVOLUSIONER.

U – Understand (Memahami). Seorang Presiden harus mengetahui dengan jelas kondisi dari apa yang dipimpinnya sebagaimana seorang panglima perang harus memahami seluk beluk medan pertempuran sebelum pergi bertempur. Jika seorang Presiden tidak benar-benar mengerti apa yang dihadapi rakyatnya, kebijakannya tak akan tepat sasaran, hanya akan membuang-buang sumber daya. Seorang yang memahami akan menjadi peduli. Dan seorang yang peduli akan melakukan aksi nyata yang tepat sebagai imlementasi dari pemahaman dan kepeduliannya. Paham kondisi dan pandai membaca situasi menjadi salah satu syarat penting pemimpin yang REVOLUSIONER.

S – Simple (Bersahaja, Lugas). Seorang Presiden harus tampil sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Kata-kata yang disampaikan pun sederhana dan mudah dimengerti. Kepala Negara adalah jabatan strategis yang siapapun pemangkunya akan menjadi sorotan. Revolusi Perancis berawal dari gaya hidup mewah pihak Kerajaan Perancis yang memicu perubahan besar disana. Sebaliknya, kesederhanaan dan ketegasan Ahmadinejad, menjadikannya Presiden yang sangat dielu-elukan di Iran, bahkan rakyat pun rela diembargo bersamanya. Pada suatu titik, kesederhanaanlah yang akan mempelopori perubahan yang REVOLUSIONER.

I – Integrity (Integritas). Seorang Presiden haruslah memiliki integritas, jujur dan dapat dipercaya. Punya sikap yang jelas dan tidak plin plan. Integritas ini bukan hanya membuat seseorang terlihat berwibawa di mata orang lain, namun juga dapat memberi ketenangan bagi rakyat yang dipimpinnya. Jika seorang Presiden kehilangan integritasnya, ia akan kehilangan kewibawaan, kepercayaan dan hanya akan menuai kegalauan dan kekecewaan di tengah masyarakat. Karenanya, integritas pribadi merupakan syarat penting untuk mengusung perubahan sekaligus menjadi kriteria yang harus dimiliki oleh pemimpin yang REVOLUSIONER.

O – Objective (Objektif). Seorang Presiden haruslah dapat berlaku adil dan tidak berat sebelah. Pertimbangan yang objektif lebih dikedepankan dibandingkan subjektivitas pribadi yang kerap emosional. Jika seorang Presiden tidak objektif dalam melihat suatu permasalahan ataupun dalam memutuskan suatu kebijakan, ia hanya akan menuai prasangka dan kecurigaan, hasilnya pun tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sikap berat sebelah hanya akan menjadi bumerang bagi seorang pemimpin. Dan rasionalitas selalu mampu melandasi perubahan yang REVOLUSIONER.

N – Nationalist (Nasionalis). Seorang Presiden harus cinta tanah air dan bangsa, mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk kesejahteraan masyarakat. Jika seorang Presiden kehilangan jiwa nasionalis, ia hanya akan menjadi pemimpin simbol, yang dikuasai oleh golongan di belakangnya, atau bahkan didikte oleh pihak asing. Salah satu bentuk semangat patriotik yang sudah dilakukan oleh beberapa kepala negara adalah tidak mengambil gajinya demi kemakmuran rakyat, hasilnya sudah tentu perubahan yang REVOLUSIONER.

E – Encourage (Mendorong, Membesarkan hati). Seorang Presiden harus mampu memotivasi dan membesarkan hati rakyat yang dipimpinnya. Encourage the heart. Atau Tut Wuri Handayani jika meminjam istilah Ki Hajar Dewantara. Dorongan ini akan menginspirasi dan menghadirkan partisipasi aktif masyarakat untuk juga berubah, karena masalah bangsa ini terlalu rumit untuk dapat ditangani sendirian. Jika seorang Presiden tidak mampu membesarkan hati rakyatnya, ia akan segera lelah tidak memperoleh energi positif dari rakyat yang dipimpinnya. Para pemimpin besar selalu mampu mengobarkan semangat yang dipimpinnya sehingga memperkuat perubahan yang REVOLUSIONER.

R – Responsible (Bertanggung jawab). Seorang Presiden harus berani mempertanggungjawabkan atas apa yang dipimpinnya, tidak berlepas tangan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi sampai mengkambinghitamkan orang lain. Jika seorang Presiden lepas tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya, ia akan kehilangan kepercayaan dan kehancurannya tinggal menunggu waktunya. Karakter bertanggung jawab selalu lekat dengan pemimpin idaman, tidak terkecuali pemimpin yang REVOLUSIONER.

Perubahan memang tidak menjamin perbaikan, namun tanpa perubahan sudah pasti tidak akan ada perbaikan. Kompleksitas permasalahan bangsa ini hanya dapat diselesaikan dengan perubahan yang menyeluruh dan mendasar, karenanya dibutuhkan pemimpin yang REVOLUSIONER. Pemimpin yang tegas dan berani seperti halnya Bung Karno dengan “Indonesia Menggugat”nya sehingga bangsa ini tidak dipandang sebelah mata. Pemimpin REVOLUSIONER yang selalu siap sedia, dapat menjadi panutan, menginspirasi,  berpengharapan positif, kharismatik, empati, bersahaja, bermoral baik, bijaksana, patriotik, mengayomi dan bertangung jawab. Terdengar terlalu ideal memang, namun tidak ada yang salah dengan impian dan harapan yang ideal, daripada putus harapan dan hanya menjadi masalah bagi bangsa yang butuh sejuta solusi dan aksi nyata ini. Asa itu masih ada, selama kita masih meyakininya, dan berbuat sebisa kemampuan kita, memberi warna ceria bagi dunia…

JANGAN ELITIS Wahai Para Wakil Rakyat!!!

…Wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Wakil rakyat bukan paduan suara, hanya tahu nyanyian lagu setuju…” (‘Surat Buat Wakil Rakyat’, Iwan Fals)

Senandung kritik yang diungkapkan Iwan Fals di atas nampaknya tak lekang oleh waktu, padahal sudah puluhan tahun berlalu sejak lagu tersebut dirilis pertama kali di medio 80-an. Harapan rakyat terhadap wakil rakyat yang belum juga berubah seolah menegaskan minimnya perbaikan kinerja. Para wakil rakyat semakin jauh dari konstituennya sehingga semakin jauh pula dari harapan rakyat untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Merakyat, menjadi satu kata penuh harapan kosong. Para wakil rakyat malah berebut tempat untuk naik ke puncak menara gading yang memang lebih menjanjikan kemewahan dunia. Merakyat, menjadi satu kata yang jauh dari kata wakil rakyat, padahal tanpa pemahaman akan kondisi riil di tengah masyarakat, mustahil akan melahirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat yang diwakilinya. Merakyat, menjadi suatu ekspektasi yang tak jua menemukan realita, sehingga satu syarat penting yang seharusnya dimiliki oleh para wakil rakyat adalah JANGAN ELITIS.

Ironisnya, dekat dan merakyat selalu jadi jargon kampanye. Tidak elitis hanya bertahan sesaat sebelum dan sesudah kampanye. JANGAN ELITIS menjadi salah satu harapan penting masyarakat terhadap para wakil rakyat agar para anggota dewan terhormat dapat membuka mata, telinga, pikiran dan hati mereka untuk lebih memahami rakyat. JANGAN ELITIS menjadi kriteria utama bagi para calon wakil rakyat yang juga memuat kriteria-kriteria dasar yang lain. Berikut adalah kriteria calon wakil rakyat idaman masyarakat yang terangkum dalam JANGAN ELITIS.

J – Jujur
Jujur artinya lurus hati dan tidak berbohong, mengatakan kebenaran sepahit apapun. Di tengah krisis kepercayaan, jujur adalah syarat utama untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang semakin hilang terhadap para elite politik. Memang realitanya orang jujur tidak serta merta dapat dipercaya, namun jelas sudah bahwa orang yang tidak jujur tidak dapat dipecaya. Jujur juga berarti tidak curang dan mengikuti aturan yang berlaku. Orang jujur akan terhindar dari berbagai praktek kecurangan yang hanya akan mempermalukan dirinya. Suap dan korupsi merupakan contoh bentuk kecurangan yang terjadi karena ketiadaan kejujuran. Selain itu, jujur juga mengandung makna tulus dan ikhlas. Di dunia yang penuh dengan aroma materialisme, tidak mudah menemukan orang yang tulus dan ikhlas, karenanya orang jujur pun sulit ditemukan.

A – Aktif
Aktif berarti giat bekerja dan berusaha. Karenanya anggota dewan yang aktif akan disiplin dalam bekerja dan tidak membolos. Keaktifan ini akan mendorong pada peningkatan produktivitas sehingga kerja dan usaha yang dilakukan dapat dirasakan manfaatnya. Aktif juga berarti dinamis atau bertenaga. Anggota dewan yang aktif tak akan membuang waktunya hanya dengan datang, duduk dan diam, apalagi sampai tidur atau menonton film porno di ruang sidang. Eneginya tercurah untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Aktif juga bermakna mampu beraksi dan bereaksi. Ada aksi dan reaksi yang menyertai aktivitasnya, tidak hanya ikut suara mayoritas atau hanya mengangguk setuju tanpa mengetahui apa yang disetujuinya. Selain itu, aktif juga mengandung makna mempunyai kecenderungan menyebar atau berkembang biak. Wakil rakyat yang aktif akan mendorong lingkungan sekitarnya untuk turut aktif dalam menyelesaikan permasalahan bersama.

N – Nasionalis
Nasionalis berarti pencinta nusa dan bangsa sendiri. Wakil rakyat yang nasionalis tak akan menggadaikan kepentingan nusa dan bangsanya untuk ambisi pribadi ataupun golongan. Nasionalis juga bermakna patriot, yaitu orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya. Anggota dewan yang nasionalis akan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan individu ataupun kelompoknya. Sudah seharusnya para wakil rakyat sibuk untuk membela kepentingan masyarakat, bukan menghabiskan energinya untuk membela dirinya dan kelompoknya.

G – Gigih
Gigih berarti tetap teguh pada pendirian atau pikiran dan keras hati. Kegigihan yang dimaksud tentunya di atas jalan kebenaran, tidak mudah terombang-ambing dengan berbagai tipu muslihat dunia. Gigih juga bermakna ulet dan tekun. Tidak sedikit wakil rakyat yang benar-benar ingin memperjuangkan nasib rakyat di awalnya, namun seiring berjalannya waktu idealisme yang diusungnya luntur. Tanpa kegigihan, ia akan memilih untuk mengundurkan diri padahal perjuangannya belumlah selesai. Lebih parah lagi, tanpa kegigihan, ia akan memilih untuk menutup mata untuk menyelamatkan diri. Bahkan klimaksnya, tanpa kegigihan, ia akan terbawa arus dan melupakan misi perjuangannya.

A – Adil
Adil berarti sama berat, tidak berat sebelah dan tidak memihak. Adil bukan berarti sama rata, namun melihat sesuatu dengan proporsional. Orang yang adil akan melihat sesuatu dengan lebih objektif dan mengantarnya menjadi orang yang bijakasana. Adil juga berarti berpihak kepada yang benar dan berpegang pada kebenaran. Wakil rakyat yang adil akan membela yang benar, bukan memperjuangkan yang bayar. Selain itu, adil juga bermakna sepatutnya dan tidak sewenang-wenang. Anggota dewan yang adil tak akan berbuat sewenang-wenang dengan kekuasaannya untuk meraih keuntungan pribadi atau golongan.

N – Negarawan
Negarawan berarti ahli dalam kenegaraan atau ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan). Negarawan bukan hanya sikap yang harus dimiliki mereka yang ada di ranah eksekutif, namun juga bagi para elit politik di ranah yudikatif dan legislatif. Negarawan juga bermakna pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan. Wakil rakyat yang negarawan akan membawa negara ini ke arah yang dicita-citakan, sesuai dengan amanah konstiusi. Anggota dewan yang negarawan tidak akan bersikap kekanak-kanakan, ribut tanpa peduli etika ataupun memperkeruh suasana dengan berbagai statement yang kontroversial.

E – Empati
Empati didefinisikan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Wakil rakyat memang harus punya hati untuk merasakan problematika yang dihadapi masyarakat, dan empati merupakan indikator hidupnya hati. Anggota dewan yang berempati tentu tidak akan meminta fasilitas mewah sementara rakyatnya masih banyak yang tidak punya tempat tinggal atau kesulitan untuk mengakses fasilitas kesehatan dan pendidikan. Anggota dewan yang punya hati tentunya tidak akan ngotot jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya di waktu reses dengan dalih studi banding di saat masyarakat menjerit karena harga bahan pokok melambung tinggi padahal mereka sudah bekerja tanpa mengenal waktu reses. Hati yang empati akan melahirkan sikap dan komunikasi empatik, karenanya tidak akan ada gaya hidup ataupun perkataan wakil rakyat yang menyakiti rakyat yang diwakilinya.

L – Lugas
Lugas berarti mengenai yang pokok-pokok atau yang perlu-perlu saja. Tidak berbelit-belit sibuk memikirkan pencitraan dan berjuta alasan. Paham prioritas dan tidak banyak ‘bumbu’ dalam berkata dan bersikap. Lugas juga didefinisikan sebagai bersifat apa adanya, lugu, serba bersahaja dan serba sederhana. Tidak pamer dan tidak pula berlebih-lebihan. Lugas juga bermakna tidak bersifat pribadi dan objektif (tidak subjektif). Wakil rakyat yang lugas akan berbicara seperlunya tetapi penuh arti dan jelas, tidak banyak bersilat lidah yang hanya akan membingungkan rakyat. Anggota dewan yang lugas akan menunjukkan gaya hidup sederhana, tidak akan memamerkan jam tangan ataupun kendaraan pribadinya.

I – Intelek
Intelek adalah daya atau proses pemikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, disebut juga daya akal budi atau kecerdasan berpikir. Orang yang intelek adalah orang yang terpelajar atau cendikia. Wakil rakyat yang intelek tak akan berpikir sempit dan picik, keluasan pengetahuannya akan membuatnya memandang sesuatu dengan lebih rasional (tidak emosional) dan menyeluruh. Anggota dewan yang intelek tidak akan berpikir dangkal, hanya menyentuh permukaan dan tidak mendalam. Tidak meremehkan sesuatu namun juga tidak memandang suatu permasalahan sedemikian besar sehingga mustahil untuk diselesaikan.

T – Teladan
Teladan didefinisikan sebagai sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh. Bangsa ini tengah krisis keteladanan padahal cara paling efektif untuk melakukan perbaikan dan perubahan adalah dengan keteladanan. Wakil rakyat sebagai public figure seharusnya mampu memberi keteladanan, dalam berpikir, berbicara dan bersikap. Jangan harap rakyat akan taat aturan jika wakil rakyatnya meruntuhkan supremasi hukum. Jangan harap masyarakat akan mengembangkan budaya hemat jika anggota dewan gemar menghambur-hamburkan uang. Keteladanan lebih bermakna daripada sekedar himbauan dan jargon-jargon kosong.

I – Iman & Takwa
Iman berarti keyakinan dan kepercayaan yang berkenaan dengan agama. Wakil rakyat yang religius tidak akan kehilangan arah dalam hidupnya. Selain itu, iman juga bermakna ketetapan hati, keteguhan dan keseimbangan batin. Wakil rakyat yang beriman tidak akan mudah galau ataupun mudah berpaling hatinya dari kebenaran. Sementara itu takwa adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya. Anggota dewan yang beriman dan bertakwa akan memperoleh kesalehan hidup dan moralitas tinggi yang akan menjaganya dari hal-hal yang akan merugikan dirinya, agamanya, bangsa dan negaranya.

S – Sehat lahir batin
Sehat berarti baik seluruh badan serta bagian-bagiannya, waras, bebas atau sembuh dari sakit. Wakil rakyat tentunya harus sehat lahir batin sehingga dapat mengemban tugasnya dengan baik. Kesehatan akan mendatangkan kebaikan. Anggota dewan yang sehat lahir batin akan memiliki gagasan yang sehat, menciptakan budaya politik yang sehat dan mendorong lahirnya masyarakat yang sehat. Sebaliknya, anggota dewan yang sakit akan menghasilkan kebijakan yang sakit dan budaya politik yang sakit, sehingga masyarakatpun semakin sakit.

JANGAN ELITIS mungkin terdengar absurd dan terlalu ideal, namun masyarakat bangsa ini sudah terlalu lama menderita karena memilih yang tidak ideal. JANGAN ELITIS mungkin menimbulkan skeptis, namun bangsa ini terlalu banyak menangis karena kehilangan rasa optimis. Sekali lagi, JANGAN ELITIS hanyalah sebuah harapan, secercah asa dari seorang warga negara yang ingin Indonesia berhasil mewujudkan cita melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…

Celoteh Kisruh Sepakbola Indonesia

…Rencananya Indonesia, kan menuju pentas dunia. Bagaimana itu bisa, liga saja tidak ada. Apa sepak bola mirip bank swasta, tak bermodal lagi dilikuidasi. Mending merjer saja dengan binaraga, agar atlet bola bisa perkasa…” (‘Bola bola’, P-Project)

Beberapa pekan terakhir, lagu tersebut menemani kesibukanku di kantor, mulai dari membuat jurnal, merombak struktur dan jobdes, menyusun renstra dan RKAT hingga melakukan internal audit ISO 9001:2008. Kehadiran karyawan baru penggemar P-Project di ruanganku memang membawa suasana baru. Setidaknya, lagu diatas yang terdengar dari laptop sang new comer mengingatkanku pada kondisi aktual persepakbolaan nasional sehingga menginspirasi lahirnya tulisan ini. Celoteh yang hadir di tengah agenda kerja yang padat dan serius. Celoteh tentang kisruh liga Indonesia yang awalnya tak ingin ditanggapi karena bernuansa politis.

P vs S
Liga sepakbola Indonesia memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Djohar Arifin. Seolah tidak mau kalah dengan pemerintah yang kerap inkonsisten dengan kebijakan, PSSI yang sebelumnya mengakui Liga Super (ISL) dan menolak Liga Primer (LPI), sekarang berbalik mengakui Liga Primer (IPL) dan menolak Liga Super (ISL). Indonesia pun akhirnya harus rela tidak ada perwakilan ke Piala Champion Asia karena Persipura yang seharusnya mewakili tetap memilih ada di ISL yang lebih kompetitif. Liga pun direncanakan kembali ke masa dua windu sebelumnya, dibagi dalam dua wilayah, barat dan timur. IPL yang sebelumnya berkoar diikuti banyak tim akhirnya mengawali turnamen hanya dengan 13 tim. Sementara ISL yang dianggap ilegal oleh PSSI, AFC dan FIFA justru diikuti 18 tim dan pemain – pemain berpengalaman. Padahal IPL dan ISL cuma beda huruf P dan S, yang dalam alfabet hanya dipisahkan huruf Q dan R. IPL dan ISL ibarat ‘kopong’ dan ‘kosong’, tak ada perbedaan makna, sama – sama tidak berisi.

Perubahan dalam kancah persepakbolaan Indonesia, bukan hal baru. Tahun 1994, era sepakbola perserikatan berhasil diganti dengan Liga Indonesia (LI), tanpa tambahan huruf S ataupun P. Selama LI, sebanyak 8 kali tim – tim sepakbola di Indonesia dibagi dalam dua wilayah, barat dan timur. Bahkan pernah 3 kali dibagi dalam tiga wilayah (barat, tengah dan timur), sementara hanya 2 kali disatukan tanpa pembagian wilayah. Pun sempat timbul gejolak di pertengahan, LI terbukti mampu bertahan belasan tahun. Kehadiran ISL pada tahun 2008 yang mengganti format liga tanpa pembagian wilayah menghadirkan semangat baru. Namun menginjak tahun keempat, kehadiran huruf S ditambah antusiasme masyarakat menyebabkan huruf P juga hendak memajukan sepakbola nasional. Polemik ISL dan LPI yang sarat kepentingan pun terjadi dan belum berakhir bahkan setelah pergantian pengurus PSSI.

Belajar dari Amerika Latin
Indonesia negara yang luas dengan 33 provinsi, tidak adil membandingkan liga sepakbolanya dengan beberapa negara seperti Perancis dan Spanyol yang luas negaranya hanya sepertiga dan seperempat Indonesia. Apalagi jika dibandingkan dengan Jerman, Italia dan Inggris yang luas negaranya kurang dari 18% dari luas wilayah Indonesia. Tidak hanya luas, wilayah di Indonesia dipisahkan oleh banyak laut, sehingga menjalankan kompetisi sepakbola dengan membagi tim dalam beberapa wilayah menjadi opsi yang dapat dipahami. Amerika Serikat yang memiliki 50 negara bagian dengan luas wilayah 5 kali luas Indonesia, membagi liga sepakbola Major League Soccer (MLS) dalam dua wilayah, timur dan barat. Namun perlu diperhatikan bahwa masing – masing wilayah MLS hanya diikuti oleh 9 tim dan masih kalah pamor dari kompetisi basket (NBA) maupun American Football yang jumlah tim dan pembagian wilayah untuk kompetisinya lebih banyak. Sementara itu, Rusia dan Cina yang luasnya 8 dan 5 kali luas Indonesia tidak menggunakan pembagian wilayah untuk divisi utama liga sepakbola mereka yang diikuti oleh 16 tim.

Dari berbagai negara terluas di dunia, terdapat dua negara amerika latin yang menjadi kiblat sepakbola dunia, yaitu Brazil dan Argentina. Kedua negara ini beberapa kali menjadi juara piala dunia dan selalu menghasilkan pemain sepakbola berkualitas, karenanya layak dijadikan referensi. Brazil 4,3 kali lebih luas dari Indonesia dan memiliki 26 negara bagian plus 1 distrik federal. Kompetisi dilakukan lewat dua jalur, nasional (national championship) dan negara bagian (state championship). National championship terdiri atas tiga divisi (A – C) yang masing – masing beranggotakan 20 tim dan satu divisi D yang diikuti 40 tim. Namun mulai dari divisi C, kompetisi dilakukan per regional. State championship yang juga membagi tim dalam 4 divisi dilakukan untuk mencari tim dan klub berbakat, diadakan per negara bagian. Sementara itu, Argentina yang luasnya 1.4 kali Indonesia dan memiliki 23 provinsi plus 1 distrik federal tidak jauh berbeda, ada 6 level divisi sepakbola Argentina. Divisi Primer A dan B masing – masing diikuti 20 tim secara nasional, divisi selanjutnya dilakukan per regional, bahkan divisi tingkat ke-5 diikuti hampir 300 tim.

Brazil dan Argentina sudah memberi contoh jelas bagaimana mengelola kompetisi sepakbola yang kompetitif sekaligus mengembangkan potensi daerah di area yang luas. Tidak seperti Rusia yang sepakbolanya hanya berkembang di wilayah barat, sepakbola sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Brazil dan Argentina. Kedua negara ini sudah membuktikan bagaimana luasnya wilayah justru menjadi kekuatan untuk terus berprestasi dan terus mencetak legenda sepakbola. Ya, kompetisi yang diadakan sangat baik untuk kaderisasi pemain, sehingga tidak ada kamus naturalisasi pemain di dua negara ini. Banyak mengekspor pemain di liga – liga top dunia dan jarang mengimpor. Padahal liga tidak hanya dikelola satu perusahaan, namun visi besar memajukan sepakbola mengeliminasi berbagai kepentingan pribadi/ golongan yang timbul.

Quo Vadis Sepakbola Indonesia?
Gengsi dan kepentingan pribadi/ golongan, dua hal yang menghambat majunya persepakbolaan Indonesia. Tidak peduli berapa kali pengurus PSSI diganti, jika orientasinya masih sempit tidak ada perubahan yang berarti. Apalagi jika motivasinya hanya sebatas uang dan keuntungan, persepakbolaan nasional takkan berkembang. Jika mengacu contoh di atas, seharusnya secara nasional hanya ada dua divisi Liga Indonesia, sebutlah A dan B yang merupakan tingkatan, bukan dua kompetisi selevel. Untuk pengembangan sepakbola, dibangun divisi C dan seterusnya per wilayah yang ada di bawah dua divisi utama. Namun untuk mengintegrasikan ISL dan IPL jelas bukan perkara mudah, butuh kelapangan hati dari semua pihak, tidak hanya PSSI dan pihak penyelenggara, namun juga pelatih, pemain, media bahkan suporter.

Akhir bulan ini di kantor ada team building yang salah satu lombanya adalah futsal. Karena karyawan laki – laki hanya puluhan orang, sistemnya dibuat setengah kompetisi, dimana tim yang dua kali menang di babak kualifikasilah yang dapat masuk ke babak final. Jadi kepikiran, mengapa sistem yang sama tidak digunakan untuk mengintegrasikan ISL dan IPL. Jadi tim yang ada akan diundi untuk bertanding dua kali di babak kualifikasi. Tim yang menang dua kali akan masuk divisi A, yang kalah dua kali akan masuk divisi B, dan yang menang/ kalah sekali akan kembali bertanding untuk memperebutkan tempat di divisi A hingga jumlah tim yang mengikuti satu divisi ideal. Saat ini masyarakat memang masih menunggu dinamika yang berkembang di atas sana. Sepakbola sebenarnya menjadi sarana yang baik untuk memupuk kebersamaan, nasionalisme sekaligus kegembiraan masyarakat yang semakin muak dengan perang gengsi dan kepentingan, himpitan ekonomi serta carut – marut politik. Semoga sepakbola nasional dapat segera berbenah dan mengukir prestasi.

“…Penonton pun harus sadar diri, berikanlah dukungan yang berarti. Dan junjunglah sportivitas yang tinggi menuju sepak bola prestasi…” (Kop dan Headen, P-Project)

*diuploadmenjelangduelmessibarcelonadenganneymarsantos

Pentingnya Pengendalian Diri

Ibu Rahmi merupakan pendatang baru di komplek rumahnya. Ia pun mengunjungi rumah – rumah tetangganya untuk berkenalan. Suatu ketika, ia datang ke rumah tetangga di depan rumahnya. Setelah mengucapkan salam, ia pun disambut oleh pemilik rumah, yaitu seorang nenek tua.

Ibu Rahmi : “Nek, perkenalkan, saya tetangga baru Nenek, nama saya Rahmi.”

Nenek : “Oh, silakan masuk, silakan duduk….”

Ketika sedang asyik mengobrol, Ibu Rahmi melihat ada setoples kacang mede kesukaannya di atas meja. Sambil malu – malu, ia pun meminta izin kepada sang empunya rumah.

Ibu Rahmi : “Wah Nek, boleh ya saya cicipi kacang medenya.”

Nenek : “Oh ya… ya… boleh… boleh… silakan…”

Saking sukanya Ibu Rahmi dengan kacang mede, satu toples kacang mede itu pun tak terasa dihabiskannya.

Ibu Rahmi : “Wah, maaf ya Nek, kacang mede enak, sampai habis nih…”

Nenek : “Oh, nggak apa – apa kok, Nenek juga nggak bisa makan, maklum gigi nenek udah nggak kuat, syukur deh kalo sekarang udah habis, soalnya dari dulu nenek kumpulin…”

Ibu Rahmi : “Oh, bikin sendiri, Nek?”

Nenek : “O, nggak kok. Nenek kan sering dikirimin sama cucu Nenek coklat silver queen, Nenek cuma bisa jilatin coklatnya aja dan kacang medenya Nenek kumpulin dalam toples itu…”

Ibu Rahmi : @$%#%^$*&^%(

*sekali – kali posting yang ringan – ringan aja deh. Selamat berkarya… ^_^

Kokohkanlah Ikatannya, Kekalkanlah Cintanya…

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal : 63)

“Ukhuwah itu bukan terletak pada pertemuan, bukan pada manisnya ucapan bibir tapi terletak pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya.” (Al-Ghazali)

* * *

“Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah kebutuhan, bukan sekedar sambilan apalagi hiburan. Aku rindu zaman ketika  membina adalah kewajiban, bukan pilihan apalagi beban dan paksaan. Aku rindu zaman ketika  dauroh menjadi kebiasaan, bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan. Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan, bukan keraguan apalagi kecurigaan. Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan, bukan tuntutan dan hujatan. Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan, bukan su’udzon atau menjatuhkan. Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini. Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebangsaan. Aku rindu zaman ketika hadir di liqo adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian…”. Untaian kata – kata (alm.) Ustadz Rahmat Abdullah tersebut tiba – tiba terlintas di benakku setelah membaca buku Syarah Do’a Rabithah. Kata – kata di atas memang tidak ada dalam buku yang ditulis Muhammad Lili Nur Aulia tersebut, namun ada kerinduan akan suatu masa yang begitu saja hadir tatkala menyelami makna dalam do’a rabithah gubahan Hasan Albana.

Satu dasawarsa lalu, tak pernah terbayang bahwa akan ada masa diri ini merindukan kehangatan ukhuwah di masa lalu, merindukan semangat berjuang dalam indahnya persaudaraan yang pernah dirasakan. Namun, waktu terus berjalan, tanggung jawab semakin besar sementara dunia semakin individualis. Agenda menjadi begitu padat, rutinitas kehidupan menghampiri, semakin besar porsi untuk memikirkan diri sendiri. Seolah tak ada kesempatan rehat sejenak untuk kembali menata keimanan. Ada kerinduan yang serta merta menyeruak pada semangat, aktivitas, nasihat dan orang – orang di masa lalu. Merindukan suatu amal bernama ukhuwah.

Ukhuwah adalah bahasa amal, ada perwujudan empati kepada saudaranya. Seorang ulama salaf berkata, “Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar-benar tidak bisa tinggal diam”. Ibnul Mubarak pernah berkisah tentang seorang tukang sol sepatu yang menunda berangkat ke Baitullah Al-Haram karena uang yang dipersiapkannya untuk pergi haji diberikan pada tetangganya yang kelaparan. Namun teman-temannya yang menunaikan ibadah haji melihat tukang sol sepatu itu berada di tanah suci. Dalam mimpi Ibnul Mubarak, tukang sol sepatu itulah orang yang termasuk diterima ibadah hajinya oleh Allah SWT. Pembuktian ukhuwah memang tidak perlu kalkulasi material, karena ganjarannyapun tak terhitung materi. Pada titik tertinggi, ukhuwah tidak lagi mempedulikan keuntungan apa yang bakal diperoleh bahkan seseorang akan rela mendapatkan kerugian bagi dirinya asalkan saudaranya meraih kebahagian atas sikapnya.

Ukhuwah adalah bahasa amal, tidak berdiam diri ketika mengingat saudaranya. Pada suatu malam, Umar bin Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya dan ia terus bergumam lirih, “Mengapa malam ini terasa begitu panjang”. Setelah menunaikan shalat Shubuh, Umar segera menemui sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat. Subhanallah, ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang kering. Ia akan segera gugur dan luntur. Abbas As Sisi suatu saat bermimpi melihat Ahmad Hathibah sedang bermain bola dan kakinya terluka. Saat terbangun, atas saran dari istrinya, ia pun menulis surat kepada Ahmad Hathibah, menanyakan tentang kesehatannya dan mendoakan agar dia dalam keadaan sehat. Saat itu Abbas As Sisi tinggal di Asiyuth, sementara Ahmad Hathibah yang dikenalnya di penjara Mesir tinggal di Kairo. Mendapat surat dari Abbas As Sisi, air mata Ahmad Hathibah mengalir membasahi wajahnya, pasalnya pada saat itu ia sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut di Iskandariyah. Ketika surat itu diperlihatkan kepada teman – teman yang menjenguknya, mereka pun sangat terkejut dan kagum akan ukhuwah yang terjalin antara Abbas As Sisi dengan Ahmad Hathibah. Ya, pun terpisah jarak, dua hati saling menyatu karena cinta kepada Allah akan mampu merasakan kondisi yang dialami saudaranya.

Ukhuwah adalah bahasa amal, paling tidak mengingat dan mendo’akan saudaranya. Perasaan yang tulus akan mendorong seseorang untuk mendoakan saudaranya kala terpisah jarak dan menyebut namanya dalam waktu-waktu terkabulnya do’a. “Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya yang dilakukan dari kejauhan, niscaya akan dikabulkan” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad). Jiwa yang terikat oleh ikatan ukhuwah tak akan terpisah oleh jarak, bahkan getaran kerinduan akan semakin kuat. Dan interferensi getaran kerinduan itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang memiliki sinyal frekuensi kerinduan yang sama. Akhirnya, hati-hati yang telah menyatu karena Allah akan tetap merasakan adanya koneksi dengan saudaranya pun terpisah jarak. Disitulah ia akan merasakan manisnya sebuah persaudaraan. Kerinduannya akan semakin membawanya dekat kepada Sang Pemilik Hati dan ia yakin benar bahwa suatu saat kerinduannya akan terobati dengan pertemuan yang sudah Allah SWT tetapkan…

* * *

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu, telah berjumpa dalam taat padaMu, telah bersatu dalam dakwah padaMu, telah berpadu dalam membela syari’atMu. Kokohkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu. Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu. Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.” (Do’a Rabithah)

“…Aku rindu zaman itu, aku rindu. Ya Allah, jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami, jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama” (Alm. Rahmat Abdullah)

Ps. Saudaraku, masihkah kau ingat??