Tag Archives: Aktif

Menghadapi Perubahan, Anda Komponen Elektronika yang Mana?

The ones who are crazy enough to think they can change the world are the ones who do” (Steve Jobs)

Di kolong langit tak ada yang abadi, semua akan berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan terjadi setiap saat, di semua lini kehidupan. Karena perubahan adalah keniscayaan, yang terpenting adalah persiapan dan penyikapan dalam menghadapi perubahan. Secara umum, ada dua cara menyikapi perubahan: pasif dan aktif. Sama halnya dengan komponen dasar elektronika, ada yang bersifat pasif, ada yang aktif. Beberapa komponen elektronika pasif diantaranya resistor, kapasitor, induktor, dan transformator. Sementara beberapa komponen elektronika aktif antara lain dioda dan transistor. Lantas bagaimana jika komponen elektronika ini dikaitkan dengan sikap seseorang dalam menghadapi perubahan? Anda termasuk komponen elektronika yang mana? Nomor 4 bikin Anda tercengang! Hehehe, ikut-ikutan gaya copywriting kekinian.

Komponen pertama adalah resistor. Fungsinya menghambat arus yang mengalir dalam rangkaian listrik. Nilainya berbeda tergantung kode angka atau gelang warna dan diukur dalam satuan Ohm. Gelang warna ada yang menunjukkan nilai resistor, ada yang menunjukkan nilai toleransinya. Besarnya nilai hambatan ini berbanding lurus dengan besarnya tegangan dan berbanding terbaik dengan besarnya arus listrik. Seseorang dengan tipe resistor akan menghadapi perubahan dengan resisten. Enggan beranjak dari zona nyaman. Khawatir dengan ketidakpastian. Takut dirugikan dengan biaya perubahan. Resistensi terhadap perubahan ini berbeda kadarnya, baik besarannya ataupun toleransinya. Namun intinya menolak perubahan, atau menolak untuk berubah. Semakin besar gagasan perubahan, semakin keras pula penolakannya. Resistensi hanya dapat berkurang dengan kesadaran untuk berubah dan kejelasan arah perubahan, itu pun bagi yang masih punya toleransi besar.

Komponen kedua adalah kapasitor atau kondensator. Kapasitor sebenarnya bisa berfungsi sebagai perata arus ataupun filter, namun fungsi utamanya adalah menyimpan arus listrik. Dibentuk dari dua permukaan yang berhubungan tapi dipisahkan oleh penyekat. Besarnya kapasitansi dalam satuan Farad berbanding lurus dengan besarnya muatan dan berbanding terbalik dengan besarnya tegangan. Kapasitor memiliki dua kaki yang tidak boleh salah dalam meletakkannya karena dapat membuat kapasitor menggelembung atau bahkan meledak. Seseorang dengan tipe kapasitor akan menghadapi perubahan dengan cuek. Tidak menolak pun mendukung, hanya sekadar menampung gagasan perubahan. Bisa menjadi ‘tempat sampah’ yang akan mengurangi dampak resistensi, namun informasi yang tidak berimbang bisa menyebabkannya lebih berbahaya dari yang resisten. Berbeda dengan yang resisten, semakin besar gagasan perubahan, ketidakpeduliannya akan semakin kecil. Karena ada batasan kapasitas, akan ada kondisi tertentu dimana seorang tipe kapasitor akan berhenti apatis. Biasanya ketika ada kepentingan dirinya yang terusik, baik dalam hal mendukung ataupun menolak perubahan.

Komponen ketiga adalah induktor atau koil (kumparan). Fungsinya beragam tergantung jenis dan rangkaiannya, bisa untuk mengatur frekuensi, memfilter ataupun menjadi alat kopel (penyambung). Besaran induksinyapun beragam dalam satuan Henry. Sebuah induktor ideal memiliki induktansi, tetapi tanpa resistansi atau kapasitansi, dan tidak memboroskan daya. Sifat-sifat elektrik dari sebuah induktor ditentukan oleh panjangnya induktor, diameter induktor, jumlah lilitan dan bahan yang mengelilinginya. Induktor juga bisa menyimpan energi seperti halnya konduktor. Seseorang dengan tipe induktor akan menghadapi perubahan secara logis, tidak asal menolak, menampung, ataupun menerima. Karena sudah mampu menyaring informasi, tipe ini mampu menjadi jembatan antara yang menolak dengan yang menerima perubahan. Hanya saja karena sifatnya induktif, tipe ini rentan mengambil kesimpulan dengan generalisasi, padahal bisa jadi ada perubahan yang sifatnya kasuistik. Dan biasanya memang tidak ada induktor yang ideal.

Komponen keempat adalah transformator atau trafo. Bekerja berdasarkan perubahan gaya medan listrik dan berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tegangan. Transformator terdiri atas inti besi, terminal input di kumparan primer, dan terminal output di kumparan sekunder. Seseorang dengan tipe transformator akan menghadapi perubahan secara pragmatis. Memang benar, transformator memiliki akar kata yang sama dengan transformasi yang identik dengan perubahan. Bahkan bergerak bersama perubahan. Hanya saja sebagai komponen elektronika pasif, perubahan yang dihasilkan tergantung dari banyaknya lilitan di kumparan primer atau sekunder. Bisa meningkatkan, bisa menurunkan. Bisa mempercepat, bisa menghambat. Tergantung besarnya dukungan. Tergantung manfaat yang dirasakan. Tergantung kepentingan yang terfasilitasi. Pragmatis mengikuti arah hembusan angin yang paling menguntungkan baginya.

Komponen kelima adalah dioda (dua elektroda) atau diode. Dioda memiliki 1 buah penghubung  (junction), sering disebut sebagai komponen dua lapis (lapis N dan P). Fungsinya beragam, tergantung dari rangkaian dan bahan penyusunnya. Sebagai komponen elektronika aktif, dioda bisa berfungsi sebagai penyearah, pengendali, pengamanan rangkaian, bahkan bisa memancarkan cahaya. Sebagai penyearah, dioda bisa mengalirkan arus listrik pada satu arah saja dan menghambat arus listrik dari arah berlawanan. Seseorang dengan tipe dioda akan menghadapi perubahan secara kritis. Filternya lebih kuat dari tipe induktor sehingga kesimpulan yang diambil pun akan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Pengelolaan yang tepat, bisa membuatnya mampu mengendalikan dan mengamankan perubahan. Bahkan menjadi inspirator perubahan. Cakap mengelola resistensi dan mendorong perubahan. Hanya saja jangan sampai salah posisi, pengaruhnya bisa kontraproduktif terhadap arus perubahan.

Komponen keenam adalah transistor. Fungsi transisitor juga beragam tergantung dari strukturnya. Transistor bisa berfungsi sebagai penguat arus, switch (pemutus dan penghubung), penstabil tegangan, modulasi sinyal, penyearah dan lain sebagainya. Transistor terdiri dari 3 kaki (terminal) yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor (K). Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya atau tegangan inputnya, memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Transistor adalah transfer resistor yang akan memindahkan penghambat. Transistor merupakan komponen penting penyusun Integrated Circuit (IC) yang lebih kompleks. Seseorang dengan tipe transistor akan menghadapi perubahan secara bijak. Tahu bagaimana menempatkan diri. Bisa menguatkan seperti trafo, namun outputnya jelas stabilitas perubahan bagaimanapun inputnya. Bisa mengelola resistensi seperti dioda, namun hambatan bukan sekadar dilawan, melainkan bisa diarahkan  menjadi akselerator perubahan. Jika dibutuhkan, bisa bertindak tegas seperti switch on off. Transistor seakan memiliki ruh yang sama dengan transisi yang identik dengan perpindahan dan perubahan. Masa transisi yang penuh ketidakpastianlah yang kerap menimbulkan ketidaknyamanan. Setelah melalui masa transisi perubahan akan terjadi seutuhnya. Transisi lah yang ‘mengerikan’, bukan perubahan yang merupakan keniscayaan. Dan tipe transistor akan sempurna dalam mengawal masa transisi.

Akhirnya, komponen-komponen elektronika di atas hanyalah analogi. Barangkali tidak sepenuhnya tepat. Namun cukup dapat dipahami bahwa perubahan seyogyanya bisa disikapi dengan aktif. Jika pada akhirnya perubahan akan terjadi, mengapa memilih pasif? Toh baik aktif maupun pasif, masa depan tetaplah tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Justru aktif dalam menghadapi perubahan dapat berpotensi merekayasa masa depan sesuai dengan yang diharapkan. Kritis dalam menghadapi perubahan adalah baik, namun bijak dalam menghadapinya adalah lebih utama.

Change will not come if we wait for some other person, or if we wait for some other time. We are the ones we’ve been waiting for. We are the change that we seek.” (Barack Obama)

JANGAN ELITIS Wahai Para Wakil Rakyat!!!

…Wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Wakil rakyat bukan paduan suara, hanya tahu nyanyian lagu setuju…” (‘Surat Buat Wakil Rakyat’, Iwan Fals)

Senandung kritik yang diungkapkan Iwan Fals di atas nampaknya tak lekang oleh waktu, padahal sudah puluhan tahun berlalu sejak lagu tersebut dirilis pertama kali di medio 80-an. Harapan rakyat terhadap wakil rakyat yang belum juga berubah seolah menegaskan minimnya perbaikan kinerja. Para wakil rakyat semakin jauh dari konstituennya sehingga semakin jauh pula dari harapan rakyat untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Merakyat, menjadi satu kata penuh harapan kosong. Para wakil rakyat malah berebut tempat untuk naik ke puncak menara gading yang memang lebih menjanjikan kemewahan dunia. Merakyat, menjadi satu kata yang jauh dari kata wakil rakyat, padahal tanpa pemahaman akan kondisi riil di tengah masyarakat, mustahil akan melahirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat yang diwakilinya. Merakyat, menjadi suatu ekspektasi yang tak jua menemukan realita, sehingga satu syarat penting yang seharusnya dimiliki oleh para wakil rakyat adalah JANGAN ELITIS.

Ironisnya, dekat dan merakyat selalu jadi jargon kampanye. Tidak elitis hanya bertahan sesaat sebelum dan sesudah kampanye. JANGAN ELITIS menjadi salah satu harapan penting masyarakat terhadap para wakil rakyat agar para anggota dewan terhormat dapat membuka mata, telinga, pikiran dan hati mereka untuk lebih memahami rakyat. JANGAN ELITIS menjadi kriteria utama bagi para calon wakil rakyat yang juga memuat kriteria-kriteria dasar yang lain. Berikut adalah kriteria calon wakil rakyat idaman masyarakat yang terangkum dalam JANGAN ELITIS.

J – Jujur
Jujur artinya lurus hati dan tidak berbohong, mengatakan kebenaran sepahit apapun. Di tengah krisis kepercayaan, jujur adalah syarat utama untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang semakin hilang terhadap para elite politik. Memang realitanya orang jujur tidak serta merta dapat dipercaya, namun jelas sudah bahwa orang yang tidak jujur tidak dapat dipecaya. Jujur juga berarti tidak curang dan mengikuti aturan yang berlaku. Orang jujur akan terhindar dari berbagai praktek kecurangan yang hanya akan mempermalukan dirinya. Suap dan korupsi merupakan contoh bentuk kecurangan yang terjadi karena ketiadaan kejujuran. Selain itu, jujur juga mengandung makna tulus dan ikhlas. Di dunia yang penuh dengan aroma materialisme, tidak mudah menemukan orang yang tulus dan ikhlas, karenanya orang jujur pun sulit ditemukan.

A – Aktif
Aktif berarti giat bekerja dan berusaha. Karenanya anggota dewan yang aktif akan disiplin dalam bekerja dan tidak membolos. Keaktifan ini akan mendorong pada peningkatan produktivitas sehingga kerja dan usaha yang dilakukan dapat dirasakan manfaatnya. Aktif juga berarti dinamis atau bertenaga. Anggota dewan yang aktif tak akan membuang waktunya hanya dengan datang, duduk dan diam, apalagi sampai tidur atau menonton film porno di ruang sidang. Eneginya tercurah untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Aktif juga bermakna mampu beraksi dan bereaksi. Ada aksi dan reaksi yang menyertai aktivitasnya, tidak hanya ikut suara mayoritas atau hanya mengangguk setuju tanpa mengetahui apa yang disetujuinya. Selain itu, aktif juga mengandung makna mempunyai kecenderungan menyebar atau berkembang biak. Wakil rakyat yang aktif akan mendorong lingkungan sekitarnya untuk turut aktif dalam menyelesaikan permasalahan bersama.

N – Nasionalis
Nasionalis berarti pencinta nusa dan bangsa sendiri. Wakil rakyat yang nasionalis tak akan menggadaikan kepentingan nusa dan bangsanya untuk ambisi pribadi ataupun golongan. Nasionalis juga bermakna patriot, yaitu orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya. Anggota dewan yang nasionalis akan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan individu ataupun kelompoknya. Sudah seharusnya para wakil rakyat sibuk untuk membela kepentingan masyarakat, bukan menghabiskan energinya untuk membela dirinya dan kelompoknya.

G – Gigih
Gigih berarti tetap teguh pada pendirian atau pikiran dan keras hati. Kegigihan yang dimaksud tentunya di atas jalan kebenaran, tidak mudah terombang-ambing dengan berbagai tipu muslihat dunia. Gigih juga bermakna ulet dan tekun. Tidak sedikit wakil rakyat yang benar-benar ingin memperjuangkan nasib rakyat di awalnya, namun seiring berjalannya waktu idealisme yang diusungnya luntur. Tanpa kegigihan, ia akan memilih untuk mengundurkan diri padahal perjuangannya belumlah selesai. Lebih parah lagi, tanpa kegigihan, ia akan memilih untuk menutup mata untuk menyelamatkan diri. Bahkan klimaksnya, tanpa kegigihan, ia akan terbawa arus dan melupakan misi perjuangannya.

A – Adil
Adil berarti sama berat, tidak berat sebelah dan tidak memihak. Adil bukan berarti sama rata, namun melihat sesuatu dengan proporsional. Orang yang adil akan melihat sesuatu dengan lebih objektif dan mengantarnya menjadi orang yang bijakasana. Adil juga berarti berpihak kepada yang benar dan berpegang pada kebenaran. Wakil rakyat yang adil akan membela yang benar, bukan memperjuangkan yang bayar. Selain itu, adil juga bermakna sepatutnya dan tidak sewenang-wenang. Anggota dewan yang adil tak akan berbuat sewenang-wenang dengan kekuasaannya untuk meraih keuntungan pribadi atau golongan.

N – Negarawan
Negarawan berarti ahli dalam kenegaraan atau ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan). Negarawan bukan hanya sikap yang harus dimiliki mereka yang ada di ranah eksekutif, namun juga bagi para elit politik di ranah yudikatif dan legislatif. Negarawan juga bermakna pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan. Wakil rakyat yang negarawan akan membawa negara ini ke arah yang dicita-citakan, sesuai dengan amanah konstiusi. Anggota dewan yang negarawan tidak akan bersikap kekanak-kanakan, ribut tanpa peduli etika ataupun memperkeruh suasana dengan berbagai statement yang kontroversial.

E – Empati
Empati didefinisikan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Wakil rakyat memang harus punya hati untuk merasakan problematika yang dihadapi masyarakat, dan empati merupakan indikator hidupnya hati. Anggota dewan yang berempati tentu tidak akan meminta fasilitas mewah sementara rakyatnya masih banyak yang tidak punya tempat tinggal atau kesulitan untuk mengakses fasilitas kesehatan dan pendidikan. Anggota dewan yang punya hati tentunya tidak akan ngotot jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya di waktu reses dengan dalih studi banding di saat masyarakat menjerit karena harga bahan pokok melambung tinggi padahal mereka sudah bekerja tanpa mengenal waktu reses. Hati yang empati akan melahirkan sikap dan komunikasi empatik, karenanya tidak akan ada gaya hidup ataupun perkataan wakil rakyat yang menyakiti rakyat yang diwakilinya.

L – Lugas
Lugas berarti mengenai yang pokok-pokok atau yang perlu-perlu saja. Tidak berbelit-belit sibuk memikirkan pencitraan dan berjuta alasan. Paham prioritas dan tidak banyak ‘bumbu’ dalam berkata dan bersikap. Lugas juga didefinisikan sebagai bersifat apa adanya, lugu, serba bersahaja dan serba sederhana. Tidak pamer dan tidak pula berlebih-lebihan. Lugas juga bermakna tidak bersifat pribadi dan objektif (tidak subjektif). Wakil rakyat yang lugas akan berbicara seperlunya tetapi penuh arti dan jelas, tidak banyak bersilat lidah yang hanya akan membingungkan rakyat. Anggota dewan yang lugas akan menunjukkan gaya hidup sederhana, tidak akan memamerkan jam tangan ataupun kendaraan pribadinya.

I – Intelek
Intelek adalah daya atau proses pemikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, disebut juga daya akal budi atau kecerdasan berpikir. Orang yang intelek adalah orang yang terpelajar atau cendikia. Wakil rakyat yang intelek tak akan berpikir sempit dan picik, keluasan pengetahuannya akan membuatnya memandang sesuatu dengan lebih rasional (tidak emosional) dan menyeluruh. Anggota dewan yang intelek tidak akan berpikir dangkal, hanya menyentuh permukaan dan tidak mendalam. Tidak meremehkan sesuatu namun juga tidak memandang suatu permasalahan sedemikian besar sehingga mustahil untuk diselesaikan.

T – Teladan
Teladan didefinisikan sebagai sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh. Bangsa ini tengah krisis keteladanan padahal cara paling efektif untuk melakukan perbaikan dan perubahan adalah dengan keteladanan. Wakil rakyat sebagai public figure seharusnya mampu memberi keteladanan, dalam berpikir, berbicara dan bersikap. Jangan harap rakyat akan taat aturan jika wakil rakyatnya meruntuhkan supremasi hukum. Jangan harap masyarakat akan mengembangkan budaya hemat jika anggota dewan gemar menghambur-hamburkan uang. Keteladanan lebih bermakna daripada sekedar himbauan dan jargon-jargon kosong.

I – Iman & Takwa
Iman berarti keyakinan dan kepercayaan yang berkenaan dengan agama. Wakil rakyat yang religius tidak akan kehilangan arah dalam hidupnya. Selain itu, iman juga bermakna ketetapan hati, keteguhan dan keseimbangan batin. Wakil rakyat yang beriman tidak akan mudah galau ataupun mudah berpaling hatinya dari kebenaran. Sementara itu takwa adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya. Anggota dewan yang beriman dan bertakwa akan memperoleh kesalehan hidup dan moralitas tinggi yang akan menjaganya dari hal-hal yang akan merugikan dirinya, agamanya, bangsa dan negaranya.

S – Sehat lahir batin
Sehat berarti baik seluruh badan serta bagian-bagiannya, waras, bebas atau sembuh dari sakit. Wakil rakyat tentunya harus sehat lahir batin sehingga dapat mengemban tugasnya dengan baik. Kesehatan akan mendatangkan kebaikan. Anggota dewan yang sehat lahir batin akan memiliki gagasan yang sehat, menciptakan budaya politik yang sehat dan mendorong lahirnya masyarakat yang sehat. Sebaliknya, anggota dewan yang sakit akan menghasilkan kebijakan yang sakit dan budaya politik yang sakit, sehingga masyarakatpun semakin sakit.

JANGAN ELITIS mungkin terdengar absurd dan terlalu ideal, namun masyarakat bangsa ini sudah terlalu lama menderita karena memilih yang tidak ideal. JANGAN ELITIS mungkin menimbulkan skeptis, namun bangsa ini terlalu banyak menangis karena kehilangan rasa optimis. Sekali lagi, JANGAN ELITIS hanyalah sebuah harapan, secercah asa dari seorang warga negara yang ingin Indonesia berhasil mewujudkan cita melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…