Tag Archives: Argentina

Corona Bikin Kangen Nonton Bola (1/2)

Pemerintah dan otoritas sepak bola memperlakukan para pemain seperti kelinci percobaan selama pandemik virus corona.” (Wayne Rooney)

Per 30 April 2020, jumlah kasus corona di Indonesia menembus lima digit menjadi 10.118 kasus. Walaupun tingkat kesembuhannya sudah lebih meningkat dibandingkan dengan tingkat kematian, namun angkanya masih di bawah jumlah kasus baru. Sehingga secara umum kurvanya belum turun. Amerika Serikat masih tak terkejar di peringkat teratas dengan 1.066.885 kasus atau sekitar 32.8% dari total kasus dunia. Jika melihat jumlah kasus baru sebulan terakhir yang di atas 20 ribu setiap harinya, ditambah faktor pemerintah dan masyarakatnya, pandemi Covid-19 di Amerika Serikat sepertinya masih akan lama. Tepat di bawah Amerika Serikat, negara-negara dengan kasus corona terbanyak berturut-turut adalah Spanyol (239.639 kasus), Italia (203.591), Perancis (166.420), United Kingdom (165.221), dan Jerman (161.985). Lima negara Eropa yang sekaligus memiliki liga sepakbola terbaik di Eropa. Liga-liga terbaik yang saat ini tidak dapat berlangsung terimbas pandemi Covid-19.

Tiga tahun terakhir, final liga champions 2017 – 2019 terjadi di bulan Ramadhan (1438 – 1440H), menemani makan sahur. Sementara pada Ramadhan 1437H ada gelaran Piala Eropa 2016 yang menemani santap sahur. Terlepas dari aktivitas yang lebih produktif seperti shalat dan tilawah di bulan Ramadhan, bagi para pencinta sepakbola terasa ada yang hilang selama sebulan lebih ini. Apalagi jika dalam kondisi normal, beberapa pekan ke depan seharusnya bisa ada beberapa partai penentuan juara liga-liga top dunia. UEFA berharap liga-liga domestik dilanjutkan dan diselesaikan paling lambat 2 Agustus 2020, namun yang terjadi justru beberapa negara menghentikan liga sepakbolanya. Belgia menjadi negara pertama yang membatalkan liga domestiknya pada 2 April 2020 lalu, dan menetapkan Club Brugge sebagai juara Jupiler League 2019/2020. Club Brugge memang sudah mengunci gelar sebelum Jupiler League dihentikan akibat Covid-19. Club Brugge mengakhiri kompetisi sebagai pemuncak klasemen dengan selisih 15 poin dari Gent di posisi runner-up dengan hanya satu pertandingan tersisa. Tidak ada degradasi di Jupiler League, namun dua tim teratas di Divisi II yang memang sudah menyelesaikan turnamennya akan promosi ke Jupiler League.

Belgia ada di urutan ke-13 kasus positif Corona dengan 48.519 kasus. Fatality rate yang mencapai 15.7% termasuk yang tertinggi di dunia sementara recovery ratenya hanya 23.9%. Kurvanya baru akan mencapai puncak sehingga mungkin butuh dua bulan lagi bagi Belgia untuk pulih. Pekan lalu giliran liga Belanda yang dibatalkan dan beberapa hari lalu liga Argentina juga mengambil sikap yang sama. Berbeda dengan liga Belgia, tidak ada juara dan tidak ada degradasi di liga Belanda dan liga Argentina. Keputusan ini jelas tidak menguntungkan Ajax Amsterdam yang menjadi pemuncak klasemen sementara Eredivisie dengan 56 poin yang hanya unggul selisih gol dengan AZ Alkamaar di posisi runner-up. Dengan menyisakan 9 pertandingan, Feyenoord (50 poin) dan PSV Eindhoven (49 poin) masih berpeluang mengejar. Jatah playoff Liga Eropa (posisi 4 – 7) pun masih ketat. Namun keputusan ini jelas menguntungkan RKC Waalwijk dan ADO Den Haag yang ada di posisi degradasi. Belanda ada di urutan ke-14 kasus positif Corona dengan 39.316 kasus dan fatality rate 12.2%. Kurvanya juga belum mencapai puncak dan mungkin butuh sedikit lebih lama untuk pulih dibandingkan Belgia. Sementara itu di Argentina, Boca Junior yang memimpin klasemen dengan keunggulan satu poin dari River Plate juga gagal menjadi juara Superliga. Namun dengan liga yang baru separuh jalan, apapun masih mungkin terjadi di Superliga. Memang kurva Covid-19 nya masih relatif naik, namun Argentinya sebenarnya hanya ada di urutan ke-53 kasus positif Corona dengan 4.285 kasus, fatality rate 5% dan recovery rate 28%. Jauh lebih baik dari negara Amerika Selatan lainnya semisal Brazil, Peru, atau Ekuador yang masuk peringkat 20 besar kasus Corona.

Jika melihat data dan kurva penyebaran Covid-19, dari lima liga top Eropa, barangkali hanya liga Jerman yang relatif realistis untuk melanjutkan liga. Walaupun jumlah kasus Corona di Jerman ada di peringkat ke-6 dunia dan berjarak cukup jauh dari Turki (117.589 kasus) di peringkat ke-7, namun kasus Corona yang terselesaikan di Jerman mencapai 80.3%. Case fatality ratenya hanya 4% sementara recovery ratenya mencapai 76.2%. Dalam tiga pekan terakhir, jumlah pasien yang sembuh di Jerman relatif lebih banyak dibandingkan jumlah kasus, sehingga jumlah orang yang terinfeksi menurun drastis dari 72.865 orang pada 6 April 2020 menjadi hanya 32.886 orang per 30 April 2020. Jika tren ini berlanjut, pandemi Covid-19 akan berlalu dari Jerman dalam waktu kurang dari tiga pekan ke depan. Atau mungkin sedikit lebih lama mengingat sudah lebih dari sebulan ini Jerman turut membantu merawat pasien Covid-19 dari negara lain. Liga Jerman rencana dilanjutkan pada 9 Mei 2020 tanpa penonton. Kalaupun harus diundur sampai akhir Mei 2020, dengan sisa 9 pertandingan (kecuali Eintracht Frankfurt dan Werder Bremen yang punya 1 pertandingan lebih banyak), Bundesliga masih sangat realistis diselesaikan sebelum 2 Agustus 2020. Bundesliga saat ini bisa dikatakan menjadi liga terketat dari lima liga top Eropa. Bayern Munchen di puncak klasemen (55 poin) dibayang-bayangi oleh Borussia Dortmund (51), RasenBallsport Leipzig (50), Borussia M.Gladbach (49), dan Bayer Leverkusen (47). Perebutan tempat terakhir di fase knockout Liga Eropa (peringkat 6) juga masih sangat ketat. Sementara di jurang degradasi, Paderborn, Werder Bremen, dan Fortuna Duesseldolf masih harus bekerja keras untuk bisa selamat.

(bersambung)

Celoteh Kisruh Sepakbola Indonesia

…Rencananya Indonesia, kan menuju pentas dunia. Bagaimana itu bisa, liga saja tidak ada. Apa sepak bola mirip bank swasta, tak bermodal lagi dilikuidasi. Mending merjer saja dengan binaraga, agar atlet bola bisa perkasa…” (‘Bola bola’, P-Project)

Beberapa pekan terakhir, lagu tersebut menemani kesibukanku di kantor, mulai dari membuat jurnal, merombak struktur dan jobdes, menyusun renstra dan RKAT hingga melakukan internal audit ISO 9001:2008. Kehadiran karyawan baru penggemar P-Project di ruanganku memang membawa suasana baru. Setidaknya, lagu diatas yang terdengar dari laptop sang new comer mengingatkanku pada kondisi aktual persepakbolaan nasional sehingga menginspirasi lahirnya tulisan ini. Celoteh yang hadir di tengah agenda kerja yang padat dan serius. Celoteh tentang kisruh liga Indonesia yang awalnya tak ingin ditanggapi karena bernuansa politis.

P vs S
Liga sepakbola Indonesia memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Djohar Arifin. Seolah tidak mau kalah dengan pemerintah yang kerap inkonsisten dengan kebijakan, PSSI yang sebelumnya mengakui Liga Super (ISL) dan menolak Liga Primer (LPI), sekarang berbalik mengakui Liga Primer (IPL) dan menolak Liga Super (ISL). Indonesia pun akhirnya harus rela tidak ada perwakilan ke Piala Champion Asia karena Persipura yang seharusnya mewakili tetap memilih ada di ISL yang lebih kompetitif. Liga pun direncanakan kembali ke masa dua windu sebelumnya, dibagi dalam dua wilayah, barat dan timur. IPL yang sebelumnya berkoar diikuti banyak tim akhirnya mengawali turnamen hanya dengan 13 tim. Sementara ISL yang dianggap ilegal oleh PSSI, AFC dan FIFA justru diikuti 18 tim dan pemain – pemain berpengalaman. Padahal IPL dan ISL cuma beda huruf P dan S, yang dalam alfabet hanya dipisahkan huruf Q dan R. IPL dan ISL ibarat ‘kopong’ dan ‘kosong’, tak ada perbedaan makna, sama – sama tidak berisi.

Perubahan dalam kancah persepakbolaan Indonesia, bukan hal baru. Tahun 1994, era sepakbola perserikatan berhasil diganti dengan Liga Indonesia (LI), tanpa tambahan huruf S ataupun P. Selama LI, sebanyak 8 kali tim – tim sepakbola di Indonesia dibagi dalam dua wilayah, barat dan timur. Bahkan pernah 3 kali dibagi dalam tiga wilayah (barat, tengah dan timur), sementara hanya 2 kali disatukan tanpa pembagian wilayah. Pun sempat timbul gejolak di pertengahan, LI terbukti mampu bertahan belasan tahun. Kehadiran ISL pada tahun 2008 yang mengganti format liga tanpa pembagian wilayah menghadirkan semangat baru. Namun menginjak tahun keempat, kehadiran huruf S ditambah antusiasme masyarakat menyebabkan huruf P juga hendak memajukan sepakbola nasional. Polemik ISL dan LPI yang sarat kepentingan pun terjadi dan belum berakhir bahkan setelah pergantian pengurus PSSI.

Belajar dari Amerika Latin
Indonesia negara yang luas dengan 33 provinsi, tidak adil membandingkan liga sepakbolanya dengan beberapa negara seperti Perancis dan Spanyol yang luas negaranya hanya sepertiga dan seperempat Indonesia. Apalagi jika dibandingkan dengan Jerman, Italia dan Inggris yang luas negaranya kurang dari 18% dari luas wilayah Indonesia. Tidak hanya luas, wilayah di Indonesia dipisahkan oleh banyak laut, sehingga menjalankan kompetisi sepakbola dengan membagi tim dalam beberapa wilayah menjadi opsi yang dapat dipahami. Amerika Serikat yang memiliki 50 negara bagian dengan luas wilayah 5 kali luas Indonesia, membagi liga sepakbola Major League Soccer (MLS) dalam dua wilayah, timur dan barat. Namun perlu diperhatikan bahwa masing – masing wilayah MLS hanya diikuti oleh 9 tim dan masih kalah pamor dari kompetisi basket (NBA) maupun American Football yang jumlah tim dan pembagian wilayah untuk kompetisinya lebih banyak. Sementara itu, Rusia dan Cina yang luasnya 8 dan 5 kali luas Indonesia tidak menggunakan pembagian wilayah untuk divisi utama liga sepakbola mereka yang diikuti oleh 16 tim.

Dari berbagai negara terluas di dunia, terdapat dua negara amerika latin yang menjadi kiblat sepakbola dunia, yaitu Brazil dan Argentina. Kedua negara ini beberapa kali menjadi juara piala dunia dan selalu menghasilkan pemain sepakbola berkualitas, karenanya layak dijadikan referensi. Brazil 4,3 kali lebih luas dari Indonesia dan memiliki 26 negara bagian plus 1 distrik federal. Kompetisi dilakukan lewat dua jalur, nasional (national championship) dan negara bagian (state championship). National championship terdiri atas tiga divisi (A – C) yang masing – masing beranggotakan 20 tim dan satu divisi D yang diikuti 40 tim. Namun mulai dari divisi C, kompetisi dilakukan per regional. State championship yang juga membagi tim dalam 4 divisi dilakukan untuk mencari tim dan klub berbakat, diadakan per negara bagian. Sementara itu, Argentina yang luasnya 1.4 kali Indonesia dan memiliki 23 provinsi plus 1 distrik federal tidak jauh berbeda, ada 6 level divisi sepakbola Argentina. Divisi Primer A dan B masing – masing diikuti 20 tim secara nasional, divisi selanjutnya dilakukan per regional, bahkan divisi tingkat ke-5 diikuti hampir 300 tim.

Brazil dan Argentina sudah memberi contoh jelas bagaimana mengelola kompetisi sepakbola yang kompetitif sekaligus mengembangkan potensi daerah di area yang luas. Tidak seperti Rusia yang sepakbolanya hanya berkembang di wilayah barat, sepakbola sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Brazil dan Argentina. Kedua negara ini sudah membuktikan bagaimana luasnya wilayah justru menjadi kekuatan untuk terus berprestasi dan terus mencetak legenda sepakbola. Ya, kompetisi yang diadakan sangat baik untuk kaderisasi pemain, sehingga tidak ada kamus naturalisasi pemain di dua negara ini. Banyak mengekspor pemain di liga – liga top dunia dan jarang mengimpor. Padahal liga tidak hanya dikelola satu perusahaan, namun visi besar memajukan sepakbola mengeliminasi berbagai kepentingan pribadi/ golongan yang timbul.

Quo Vadis Sepakbola Indonesia?
Gengsi dan kepentingan pribadi/ golongan, dua hal yang menghambat majunya persepakbolaan Indonesia. Tidak peduli berapa kali pengurus PSSI diganti, jika orientasinya masih sempit tidak ada perubahan yang berarti. Apalagi jika motivasinya hanya sebatas uang dan keuntungan, persepakbolaan nasional takkan berkembang. Jika mengacu contoh di atas, seharusnya secara nasional hanya ada dua divisi Liga Indonesia, sebutlah A dan B yang merupakan tingkatan, bukan dua kompetisi selevel. Untuk pengembangan sepakbola, dibangun divisi C dan seterusnya per wilayah yang ada di bawah dua divisi utama. Namun untuk mengintegrasikan ISL dan IPL jelas bukan perkara mudah, butuh kelapangan hati dari semua pihak, tidak hanya PSSI dan pihak penyelenggara, namun juga pelatih, pemain, media bahkan suporter.

Akhir bulan ini di kantor ada team building yang salah satu lombanya adalah futsal. Karena karyawan laki – laki hanya puluhan orang, sistemnya dibuat setengah kompetisi, dimana tim yang dua kali menang di babak kualifikasilah yang dapat masuk ke babak final. Jadi kepikiran, mengapa sistem yang sama tidak digunakan untuk mengintegrasikan ISL dan IPL. Jadi tim yang ada akan diundi untuk bertanding dua kali di babak kualifikasi. Tim yang menang dua kali akan masuk divisi A, yang kalah dua kali akan masuk divisi B, dan yang menang/ kalah sekali akan kembali bertanding untuk memperebutkan tempat di divisi A hingga jumlah tim yang mengikuti satu divisi ideal. Saat ini masyarakat memang masih menunggu dinamika yang berkembang di atas sana. Sepakbola sebenarnya menjadi sarana yang baik untuk memupuk kebersamaan, nasionalisme sekaligus kegembiraan masyarakat yang semakin muak dengan perang gengsi dan kepentingan, himpitan ekonomi serta carut – marut politik. Semoga sepakbola nasional dapat segera berbenah dan mengukir prestasi.

“…Penonton pun harus sadar diri, berikanlah dukungan yang berarti. Dan junjunglah sportivitas yang tinggi menuju sepak bola prestasi…” (Kop dan Headen, P-Project)

*diuploadmenjelangduelmessibarcelonadenganneymarsantos