Tag Archives: banjir

Banjir : Antara Bencana Alam dan Ulah Manusia

Alam menyediakan segala kebutuhan manusia, tetapi bukan untuk keserakahannya” (Mahatma Gandhi)

Alam semesta, pun demikian dengan manusia, tercipta dalam keadaan seimbang. Seimbang bukan berarti statis, namun selalu ada yang mengembalikannya ke posisi semula, sedinamis apapun gerakannya. Sebagaimana manusia, alam juga memiliki potensi, memiliki kekuatan. Elemen alam bahkan memiliki kekuatan dahsyat yang dapat dimanfaatkan atau bahkan malah menuai bencana, tidak terkecuali air sebagai salah satu elemen alam yang penting bagi kehidupan manusia. Untuk skala mikro, setiap manusia tidak dapat hidup tanpa air. Bagian otak, jantung dan otot manusia 75% nya terdiri atas air/ cairan, 83% bagian hati, ginjal dan darah manusia juga berupa air/ cairan, bahkan 86% bagian paru-paru manusia berupa air/ cairan. Manusia bisa hidup tanpa makan hingga dua bulan bahkan lebih, namun tanpa air manusia maksimal hanya dapat bertahan selama 5 hari. Untuk skala makro, 71% permukaan bumi yang diselimuti air lengkap dengan siklus airnya menjadikan bumi ini hidup dan layak untuk ditinggali, disamping adanya atmosfer tentunya. Air pun menjadi unsur dasar untuk menentukan kemungkinan adanya kehidupan di luar Planet Bumi. Belum lagi kebermanfaatan air dalam kehidupan sehari-hari hampir di seluruh aspek kehidupan manusia.

Di sisi lain, air juga bisa jadi sangat mengerikan. Air yang kotor dan tercemar dapat mengakibatkan banyak penyakit, bahkan racun mematikan yang larut dalam air dapat membunuh manusia dalam hitungan detik. Dalam skala yang jauh lebih besar, mungkin kita masih ingat bagaimana tsunami di penghujung tahun 2004 merenggut ratusan ribu nyawa manusia. Kala itu gempa bumi dahsyat terjadi, namun yang mematikan adalah sapuan air laut dengan ketinggian hingga belasan meter yang menghantam daratan. Bencana alam paling mematikan di muka bumi yang tercatat juga disebabkan oleh air. Banjir Sungai Kuning di Cina telah menelan korban hingga jutaan atau bahkan puluhan juta orang. Banjir zaman Nabi Nuh tentu belum dihitung. Kerugian materiil yang diakibatkan oleh ‘air yang berlebih’ pun luar biasa. Tsunami Aceh dan Nias menyebabkan kerugian hingga puluhan triliun rupiah. Banjir di ibukota Jakarta yang terjadi setiap tahun saja bisa mendatangkan kerugian miliaran hingga triliunan rupiah.

Berbicara tentang banjir sebagai bencana alam mungkin pembahasannya tidak akan panjang karena sulit dihindari. Banjir yang disebabkan oleh alam sebenarnya merupakan cara alam menjaga ekosistemnya, memberi keseimbangan di wilayah yang tanahnya kering dan kurang nutrisi. Dalam hal ini yang dapat dilakukan hanyalah meminimalisir jumlah korban jiwa dan materi. Namun pembahasan tentang banjir menjadi meluas karena ulah manusia yang merasa kuat melawan kekuatan alam. Bencana banjir yang semakin besar intensitas dan kualitasnya tentunya menandakan ada keseimbangan alam yang terusik. Pohon – pohon mungkin tidak berteriak menolak ketika manusia melakukan penebangan liar, namun banjir bandang mudah saja terjadi akibat ulah manusia ini sebagaimana terjadi di Padang medio 2012 lalu. Alam juga tidak protes kala daerah resapan air disulap manusia menjadi bangunan – bangunan megah, sehingga sudah sewajarnya manusia tidak menyalahkan alam jika aliran permukaan meningkat karena sudah menjadi hukum alam. Semrawutnya tata kota dan drainase juga bukan ulah alam, melainkan ulah manusia yang merasa hebat. Manusia pula yang merasa kuat sehingga berani menentang hukum dan kekuatan alam dengan membuang sampah sembarangan dan membangun di daerah aliran sungai sehingga sungai menyempit dengan aliran yang terhambat. Dalam hal ini, bencana yang ditimbulkan ketika curah hujan tinggi di musim penghujan sehingga air sungai meluap tidaklah tepat dianggap sebagai bencana alam. Alam sudah mengatur kadarnya, manusialah yang merusak harmonisasi tersebut dengan kesombongan dan keserakahannya.

Dua Paradigma Pencegahan Bencana

Bencana didefinisikan sebagai sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan. Musibah sesedih apapun tidak masuk kategori bencana ketika tidak ada kerugian atau penderitaan yang ditimbulkan. Pencegahan bencana dalam paradigma ini akan berupaya untuk meminimalisir kerugian tersebut, baik korban jiwa maupun materi. Menyediakan alat pemadam kebakaran atau mempersiapkan perahu karet adalah bentuk upaya pencegahan dalam paradigma ini. Musibah yang pasti datang diupayakan agar tidak menyengsarakan. Namun paradigma pencegahan bencana yang perlu dibangun adalah meminimalisir potensi terjadinya bencana itu sendiri, apalagi tidak sedikit bencana yang ditimbulkan oleh ulah jahil manusia. Paradigma ini seharusnya ditandai dengan keinsyafan manusia akan kekurangan dan kelemahannya sehingga tidak perlu menjadi sombong dan serakah. Dalam hal ini, kesadaran manusia sangat dibutuhkan untuk mencegah timbulnya bencana.

Untuk mengantisipasi banjir misalnya, secara infrastruktur dibutuhkan pembuatan kanal air, bendungan ataupun tanggul. Namun pencegahan bencana tidak berhenti sampai disitu, ada pemeliharaan yang harus dilakukan. Jebolnya tanggul Situ Gintung tahun 2009 lalu karena kelalaian manusia dalam melakukan pemeliharaan. Terlihat sekuat apapun, setiap benda memiliki umur ekonomisnya sebagaimana makanan mengenal masa kedaluarsa. Pelebaran dan pengerukan sungai pun takkan punya dampak positif jangka panjang jika budaya menjaga kebersihan dan kelestarian alam tidak hidup di tengah masyarakat. Penyempitan dan pendangkalan sungai akan kembali dalam sekejap, banjir akan kembali datang hanya menunggu waktu. Di negara-negara maju, pencegahan bencana ini sudah terkelola begitu rapih. Di Jepang misalnya, untuk pencegahan banjir saja ada begitu banyak Undang-undang yang mengaturnya, mulai dari UU Sungai, UU Penanggulangan Banjir, UU air buangan (sewerage), UU Designated Urban River Inundation Prevention Act, hingga UU Perencanaan Kota. Belum lagi alat pendeteksi banjirnya sudah demikian canggih dan masyarakatnya sudah memahami tentang mitigasi bencana. Hasilnya dapat kita lihat ketika tsunami besar melanda Jepang beberapa waktu lalu, penanganan bencana yang begitu sigap, korban jiwa yang tidak terlalu besar dan pulihnya kondisi masyarakat dalam waktu relatif singkat.

Kontribusi Kecil yang Diperlukan

Mengutip kata-kata Pramoedya Ananta Toer dalam buku ‘Anak Semua Bangsa’, “Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia”. Musibah banjir yang melanda akibat kelalaian manusia pasti dapat ditanggulangi dan dicegah oleh manusia, hanya butuh kemauan dan komitmen bersama. Untuk penanggulangan dan pencegahan dalam skala besar, pemerintah memang memiliki andil besar, mulai dari penataan kota dan pengairannya, pembangunan berbagai infrastruktur yang dibutuhkan, penyediaan ruang terbuka hijau, optimalisasi teknologi sebagai alat peringatan dini, hingga berbagai kebijakan terkait pengelolaan hutan dan sebagainya. Namun segala upaya yang dilakukan pemerintah tidaklah akan dirasakan manfaatnya ketika setiap elemen masyarakat gagal bersinergi dalam menanggulangi dan mencegah bencana. Perbaikan tidak butuh wacana besar yang cetar membahana, cukup serangkaian aksi nyata yang mungkin kecil namun banyak jumlahnya. Bukan sekedar menghujat banyaknya bangunan ‘liar’ di daerah serapan air dari hulu sampai hilir. Bukan sekedar mengutuk lambatnya distribusi bantuan ketika terjadi bencana. Bukan sekedar mencemooh pemerintah yang gagap teknologi dan miskin aksi, sementara anggaran terkait kebencanaan tidaklah sedikit.

Tumpukan sampah yang menggunung hingga menyumbat saluran air dan mengakibatkan banjir sesungguhnya bukan disebabkan oleh satu dua orang saja. Ada sekumpulan orang dalam jumlah besar yang merasa tak mengapa membuang satu atau dua sampah sembarangan. Habisnya hutan dan pepohonan yang dapat menyerap air mungkin ulah beberapa oknum yang serakah dan tidak bertanggung jawab, namun jika ada sekumpulan orang dalam jumlah besar merasa perlu untuk menanam dan memelihara satu pohon saja untuk dirinya tentunya kerimbunan itu akan tetap ada. Pun demikian dengan penyempitan sungai, bangunan di bantaran kali, tersumbatnya saluran air, rusaknya lingkungan dan berbagai hal lain yang dapat mengakibatkan banjir, ada kontribusi ‘dosa’ komunal yang menyertainya, bukan hanya ulah segelintir orang. Jam pasir itu harus dibalik, kontribusi ‘dosa’ komunal harus diganti menjadi kontribusi ‘kebaikan’ komunal. Ketika setiap elemen masyarakat sadar akan diri dan lingkungannya dan berkontribusi sekecil apapun untuk menjaga lingkungannya, akselerasi pencegahan bencana akan luar biasa.

Menjadi Sekolah Cerdas Bencana

Mungkin tidak berlebihan beberapa pihak memberi label Indonesia sebagai Negeri Seribu Bencana karena begitu seringnya bencana melanda negeri ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, sepanjang Januari 2013 saja sudah terjadi 119 bencana di negeri ini yang menyebabkan 126 orang meninggal, 113.747 orang menderita dan mengungsi, 940 rumah rusak berat, 2.717 rumah rusak sedang, dan 10.945 rumah rusak ringan. Predikat yang kurang menyenangkan ini tidak seharusnya disikapi dengan emosi ataupun rendah diri. Pemahaman bahwa negeri ini rawan bencana justru seharusnya dapat membuat kita mawas diri untuk senantiasa siap menghadapi kemungkinan bencana terburuk sekalipun. Kurikulum tanggap bencana pun mengemuka, sekolah siaga bencana pun menjadi wacana.

Memasukkan muatan kebencanaan ke dalam kurikulum jelas tidak salah, bahkan merupakan gagasan yang sangat baik, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kurikulum tanggap bencana harus aplikatif, tidak hanya kuat di teori karena penyikapan terhadap bencana merupakan kemampuan lapangan bukan sekedar pengetahuan. Kedua, perhatian lebih justru perlu dilakukan untuk pencegahan bencana, bukan sekedar menjawab apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Potensi terjadinya bencana yang dikurangi, bukan sekedar dampak buruk setelah terjadi bencana. Karenanya kurikulum kebencanaan ini juga akan berbicara mengenai pengelolaan sumber daya dan lingkungan untuk mengantisipasi terjadinya bencana. Ketiga, negeri ini tidak kekurangan orang yang cerdas dan memiliki gagasan brilian, yang kurang hanyalah dari segi implementasinya. Karenanya, kurikulum kebencanaan tidak seharusnnya hanya menjadi bahan diskusi tanpa pernah dieksekusi, menjadi bahan pembahasan dan perdebatan tanpa pernah diterapkan, dan menjadi wacana penuh retorika tanpa diimplementasikan secara nyata.

Sekolah sebagai entitas bangsa yang produktif dan mencerdaskan sudah seharusnya terlibat secara aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Sekolah sebagai institusi penghasil SDM semestinya dapat menghasilkan individu dan komunitas yang solutif dalam mitigasi bencana. Karenanya, perlu digagas sebuah konsep Sekolah Cerdas Bencana yang merupakan  upaya untuk membangun kesiapsiagaan sekolah terhadap bencana dalam rangka menggugah kesadaran seluruh unsur-unsur dalam bidang pendidikan baik individu maupun kolektif di sekolah dan lingkungan sekolah baik itu sebelum, ketika maupun setelah bencana terjadi. Sekolah Cerdas Bencana ini didesain untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pencegahan dan pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang bertanggung jawab serta beradaptasi terhadap bencana. Selain itu siswa dan guru mampu melakukan penyelamatan diri sendiri dan kelompok di sekolah dalam penanganan bencana.

Bencana dapat datang kapanpun, dimanapun, tanpa diperkirakan sebelumnya. Karenanya, sikap yang cerdas adalah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum bencana itu tiba, baik pengetahuan, keterampilan, sikap, maupun berbagai perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan. Jika untuk bencana yang terduga saja dapat diminimalisir resiko dampak bencana, apalagi bencana yang kerap disebabkan (atau paling tidak diperparah) oleh ulah manusia. Jangankan dampak bencana, bencananya pun seharusnya dapat diminimalisir, jika sekiranya manusia mau disiplin, cinta terhadap alam dan lingkungan, tidak egois, serta lebih banyak bersyukur. Semoga keberadaan kita di negeri yang rentan bencana dapat meningkatkan kewaspadaan, kesigapan dan kepedulian kita terhadap alam dan lingkungan sekitar. Semoga saja…