Tag Archives: bekal jasadiyah

Tarhib Ramadhan Anti-Mainstream

Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa mereka yang kumpulkan (dari harta benda).” (QS. Yunus: 58)

Tak terasa, dalam hitungan hari Ramadhan akan kembali menyapa. Bulan yang penuh berkah dan Rahmat dari Allah SWT. Kaum muslimin pun ramai menyambutnya. Salah satu perwujudannya adalah dengan mengadakan kegiatan Tarhib Ramadhan. Dalam Kamus Al Munawir, kata tarhib berasal dari fi’ilrahiba, yarhabu, rahbun”yang berarti luas, lapang dan lebar. Dan selanjutnya menjadi fi’ilrahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. Menurut Kamus Al-Munjid, kata tarhib merupakan masdar dari akar kata rahaba (menyambut) yang mengandung makna penyambutan. Istilah Tarhib Ramadhan kian populer, bahkan sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akhir pekan lalu saja penulis dapat empat undangan Tarhib Ramadhan yang waktunya bersamaan. Belum ditambah pekan sebelumnya dan pekan ini. Sayangnya, popularitas ini terasa berbanding terbalik dengan esensi dari tarhib itu sendiri. Ya, belakangan ini tarhib semakin terasa hanya sebagai kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kehilangan jati dirinya sebagai salah satu check point Ramadhan.

Eksklusifitas mungkin memang membuat sesuatu lebih terasa spesial dan berkesan. Tapi formalitas Tarhib Ramadhan juga dipengaruhi oleh konten yang kurang variatif. Bisa dibilang hanya pawai Ramadhan yang kreatif dan saling memaafkan yang esensial, selebihnya –terutama kajian dan ceramahnya—nyaris tak ada perubahan dari waktu ke waktu. Ceramahnya tidak jauh-jauh dari dimulai dengan Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, dilanjutkan dengan keutamaan puasa, misalnya dengan hadits “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari – Muslim), kemudian diakhiri dengan bekal yang harus disiapkan mulai dari ruhiyah, fikriyah, jasadiyah hingga maaliyah.

Pengingatan akan bekal Ramadhan bukannya tidak penting. Mempersiapkan bekal bahkan sangat penting. Hanya saja ukuran keberhasilan suatu kegiatan tidaklah diukur hanya dari terselenggaranya kegiatan, atau bahkan banyaknya peserta yang datang. Ada efektifitas kegiatan yang perlu jadi perhatian. Dalam hal ini pengulangan informasi tentang bekal Ramadhan akan kehilangan makna karena pengetahuan akan hal tersebut sudah cukup. Ibarat air dalam wadah yang justru luber karena kebanyakan air. Tidak efektif dan tidak efisien. Butuh kreativitas agar wadahnya semakin membesar. Sehingga dalam konteks efektifitas, memastikan peserta memiliki bekal yang cukup lebih penting dibandingkan menginformasikan bekal yang harus dimiliki, berulang-ulang.

Contoh lebih teknis. Jika fokus Tarhib Ramadhan memastikan peserta memiliki bekal ilmu tentang Ramadhan yang mumpuni, alih-alih menggunakan metode ceramah, metode permainan bisa jadi lebih efektif dan menarik. Sekadar diberikan buku panduan Ramadhan kemungkinan tidak akan dibaca, tapi jika dilombakan maka akan lain ceritanya. Misalnya dengan lomba cerdas cermat setelah sebelumnya peserta diberikan kisi-kisi pertanyaan. Peserta akan aktif mencari informasi akan pengetahuan Ramadhan dibandingkan pasif mendengarkan ceramah. Peserta yang ‘tak ingin menang’ sekalipun akan berusaha untuk ‘tidak memalukan’. Selepas kegiatan, akan lebih banyak bekal ilmu yang diperoleh peserta. Dengan kegiatan yang lebih menyenangkan pula.

Jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal fisik peserta. Sekadar pengetahuan akan pentingnya bekal fisik belum tentu linier dengan bekal fisik yang dimiliki. Akan lebih efektif jika konten tarhibnya berupa pemeriksaan kesehatan. Sambil menunggu jadwal konsultasi kesehatan, ada berbagai media visualisasi tentang berbagai tips sehat selama menjalani ibadah Ramadhan. Misalnya menu sehat sahur dan buka puasa, pengaturan waktu istirahat yang ideal, mengatasi penyakit musiman di bulan Ramadhan, dan sebagainya. Akan lebih baik lagi jika sebelumnya ada penugasan bagi peserta terkait persiapan fisik, sehingga paska kegiatan bekal fisik peserta lebih dapat dipastikan terpenuhi.

Pun demikian jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal ruhiyah atau maaliyah peserta, kontennya bisa menyesuaikan dengan tujuan kegiatan, tidak melulu harus ceramah. Untuk penguatan ruhiyah misalnya, mungkin perlu ada agenda muta’baah dan muhasabah dengan nuansa ruhiyah yang benar-benar dimunculkan. Jauh dari kegaduhan dan mencerahkan. Tarhib Ramadhan juga bisa dikuatkan dengan tips trik yang aplikatif. Misalnya tarhib Ramadhan yang fokus pada tema ‘Ramadhan bersama keluarga’. Kontennya bisa jadi terkait puasa dan pendidikan keluarga, bagaimana mempersiapkan anak untuk berpuasa, silaturahim produktif dan sebagainya. Semakin fokus, semakin efektif. Intinya, selepas tarhib Ramadhan ada nilai tambah yang diperoleh peserta, tidak sekadar menggugurkan kewajiban.

Tarhib Ramadhan sejatinya alur yang tidak terpisah dari pembinaan selama bulan Ramadhan, kecuali jika dilakukan sebatas formalitas. Sebagaimana dalam gerakan senam, perlu ada pemanasan sebelum masuk ke bagian inti (dan pendinginan). Tanpa pemanasan, pesenam akan rentan cidera. Tapi pemanasan yang asal-asalan tidak ada manfaatnya, malah bisa mengganggu keseimbangan tubuh. Ibarat tulisan, pengantar atau pendahuluan ini menjadi penting sebab jika langsung masuk ke bagian isi akan terasa ada sesuatu yang terputus. Tapi pengantar atau pendahuluan yang cuma basa-basi tidaklah sepenting itu. Semoga bekal kita cukup untuk mengarungi samudera Ramadhan. Sehingga kita dapat tiba di tujuan dengan kondisi yang lebih baik. Marhaban Ya Ramadhan.

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)