Tag Archives: berani

Dikira Enak Jadi Guru? (1/2)

Memang ironis nasib guru di Indonesia. Setelah masa ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ dimana guru digaji ala kadarnya –dan sekarang tidak sedikit guru honorer yang masih merasakannya—, sekarang masuk zaman terbolak-balik dimana guru harus hormat pada muridnya. Guru yang berani menghukum murid siap-siap saja kena sanksi, dipecat, dipukuli orang tua murid, atau bahkan dipidanakan. Padahal reward dan punishment adalah hal yang wajar –bahkan perlu—ada dalam dunia pendidikan. Bahasan serius mengenai hukuman dari guru ke murid (dan sebaliknya) ini mungkin bisa dieksplorasi di lain waktu. Tulisan ini hanyalah tulisan fiksi ringan yang sedikit banyak coba menggambarkan betapa seorang guru butuh kesabaran ekstra dalam mendidik murid-muridnya, apalagi di era sekarang dimana murid semakin berani membantah gurunya.

* * *

Bel masuk baru saja berbunyi, siswa-siswi di SDN 1 Sukahumor bergegas memasuki kelas. Seorang guru honorer yang baru beberapa bulan bertugas di sekolah ini tampak masuk ke ruang kelasnya. Baru saja ia lewat di depan kelas, belum lagi sempat duduk di kursinya, salah seorang muridnya yang bernama Sandi menyapanya, “Pagi, Bu! Bu Guru kelihatan cantik banget hari ini…”. Bu Guru pun tersenyum sambil tersipu-sipu berkata, “Ah… Masak sih??!”. “Benar Bu, liat aja tuh gambar garudanya aja sampe nengok pas Ibu lewat…”, jawab Sanji. Seisi kelas pun tertawa tanpa memerhatikan wajah guru mereka yang semakin memerah.

Presensi kehadiran selesai dibacakan, tinggal Zahra yang belum datang, sama seperti hari-hari sebelumnya. “Asep, mengapa kamu kemarin tidak masuk sekolah?”, tanya Bu Guru. “Saya sakit, Bu”, jawab Asep. “Lalu kenapa kamu tidak mengirim surat?”, tanyanya lagi. “Habisnya, percuma, Bu”, jawab Asep. “Percuma bagaimana?”, Bu Guru tampak tidak paham. “Ya, karena setiap saya mengirim surat, Bu Guru tidak pernah membalas surat saya…”, jawab Asep sambil cengengesan. Geerrr… seisi kelaspun tertawa sementara Bu Guru hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kelas mendadak terdiam ketika Zahra datang dan masuk kelas. Bu Guru yang mood-nya sudah jelek pun bertanya, “Zahra, kamu itu setiap hari kerjaannya terlambat. Sebenarnya kamu tuh niat sekolah nggak sih?. “Lho, tapi kan, Bu. Katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar…”, jawabnya enteng sambil berlalu untuk duduk di kursinya. Bu Guru hanya bisa menghela nafas.

Jam pertama adalah pelajaran IPA. Siswa-siswi di sekolah ini sangat aktif dan sulit diajak serius sepanjang jam pelajaran. Menjelang akhir jam pelajaran Bu Guru bertanya, “Sebutkan binatang yang bisa hidup di dua alam!”. Para siswa berebut mengacungkan tangannya. “Coba, Nami”, ujar Bu Guru sambil menunjuk dengan pulpen yang dipegangnya. “Katak, Bu! Bisa hidup di darat dan di air”, jawab Nami. “Baguuss. Coba kamu Lutfi sebutkan contoh binatang lainnya…”, ujar Bu Guru lagi sambil menggigit pulpennya. “Babi ngepet, Bu! Bisa hidup di alam nyata dan alam gaib…”, jawab Lutfi diikuti riuh tawa seisi kelas. Sementara Bu Guru hampir tersedak pulpen yang tadi digigitnya.

Tak mau kalah, Bu Guru lanjutkan bertanya, “Sekarang sebutkan binatang yang alat kelaminnya ada di punggung”. Seisi kelas sejenak terdiam sampai Sandi nyeletuk, “Hahaha, kalo pipis muncratnya ke udara dong, Bu…”. Kelas pun kembali ramai, Lutfi yang merasa Bu Guru coba membalasnya pun berkata, “Ngaco nih Ibu, mana ada binatang yang kelaminnya di punggung”. “Ada kok”, jawab Bu Guru sambil tersenyum misterius. “Apaan, Bu?”, tanya kepo murid-murid. “Kuda lumping!”, jawab Bu Guru. Kelas seketika hening, loading, berpikir. Tiba-tiba bel tanda ganti jam pelajaran berbunyi. Ternyata humor Bu Guru ketinggian. (Anda para pembaca mengerti kah? ^_^)

Jam pelajaran kedua adalah Bahasa Inggris, ada PR pekan lalu yang harusnya diperiksa. Tiba-tiba saja Galih berseru, “Maaf Bu, beberapa hari lalu rumah saya kemalingan”. “Tapi kamu gak kenapa-kenapa, kan?”, tanya Bu Guru dengan penuh selidik. “Saya sih ga apa-apa, Bu. Tapi buku PR-nya hilang…”, jawab Galih. Kelas pun riuh, Bu Guru hanya menepok jidatnya. Tiba-tiba Alan turut berseru, “Bu Guru, apakah boleh seseorang dihukum karena sesuatu yang belum diperbuatnya?”. “Tentu saja tidak, jika belum melakukan ya belum boleh dihukum”, jawab Bu Guru mencoba untuk sabar. “Syukurlah, berarti saya tidak boleh dihukum karena saya belum mengerjakan PR… hehehe…”, ujar Alan. Kelas kembali ramai sementara Bu Guru mulai mencakar-cakar mejanya. Lutfi yang tertawa paling keras ditanya oleh Bu Guru, “Tertawa saja. Mana PR kamu? Kalau tidak dikerjakan nanti kamu dihukum”. “Baik, Bu. Tapi kalo saya ngerjain, Ibu yang saya hukum ya?”, jawab Lutfi. Arrgghh… Bu Guru semakin emosi sambil gigit-gigit meja. Kelas pun kian bergemuruh.

Pelajaran tentang kosakata Bahasa Inggris berjalan ramai. Bu Guru mengetes para muridnya dengan bertanya, “Anak-anak, apa bahasa Inggris-nya ‘hari’??”. “Day, Bu.”, jawab murid serentak. “Baguuss… sekarang apa bahasa Inggrisnya seminggu??”, tanya kembali Bu Guru. “Day day day day day day day, Bu…”, jawab murid serentak yang membuat Bu Guru tersentak. Menyadari tanya jawab bisa dipelesetin, Bu Guru pun mengubah metodenya. Ia mulai dengan memberi penjelasan singkat. “Work artinya kerja, kalau working artinya bekerja, paham anak-anak??”, jelasnya. “Paham, Bu.”, jawab murid serentak. “Baik, sekarang silakan kalian cari kata lain, mulai dari kamu Eko”, perintahnya sambil menunjuk Eko dengan penggaris. Eko menjawab, “Sing artinya nyanyi, jadi singing artinya bernyanyi”. “Pintar, sekarang kamu Narto”, ujarnya seraya menunjuk Narto. “Hmm, song artinya lagu, jadi kalo songong artinya belagu”, jawab Narto dengan wajah polosnya. Aarrggh… penggaris yang dipegangnya pun remuk redam. Kelaspun ramai sampai kemudian Lutfi bertanya, “Bu, kalo bahasa Inggris tomorrow tuh artinya apa ya?”. “Besok”, jawab Bu Guru bete. “Yah, Ibu pelit. Cuma nanya gitu doang aja jawabannya mesti nunggu besok”, protes Lutfi sambil tersenyum senang. Bu Guru pun refleks melempar penggaris rusaknya ke Lutfi yang malahan melet. Bel penanda waktu istirahat berbunyi, seketika anak-anak pun bergegas keluar untuk istirahat.

(to be continued)

Teladan Pemimpin Itu Bernama Ibrahim

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
(QS. Ash-Shaffat: 108-111)

Salah satu kisah yang tidak pernah terlewat dalam peringatan Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang Nabi Ibrahim a.s. Ya, momen Idul Adha memang identik dengan kisah Nabi Ibrahim a.s., mulai dari syariat pelaksanaan haji hingga pemotongan hewan qurban. Keteladanan Nabi Ibrahim a.s. tercermin dari banyaknya kisah hikmah perjalanan Nabi Ibrahim, yang tidak hanya dimuat dalam Al Qur’an, tetapi terdapat pula pada kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Kitab Injil termasuk Injil Barnabas, hingga kisah-kisah Israiliyat. Nama ‘Ibrahim’ sendiri disebut sebanyak 62 kali di 24 surah dalam Al Qur’an, jumlah ayat yang menceritakan kisah beliau tentu lebih banyak lagi.

Salah satu keteladanan Nabi Ibrahim a.s. adalah dari sisi kepemimpinan beliau. Allah SWT langsung yang memilih beliau sebagai pemimpin umat manusia, dengan firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS. Al Baqarah: 124). Nabi Ibrahim a.s. memenuhi seluruh kualifikasi penting figur pemimpin yang layak dijadikan teladan.

 

Berjiwa Bersih dan Ta’at Kepada Allah

Pemimpin harus memiliki fondasi spiritualitas yang baik. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (QS. An Nahl: 120). Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Nabi Ibrahim a.s. lahir di tengah keluarga dan masyarakat penyembah berhala, tentu membutuhkan jiwa yang sangat bersih dan komitmen kuat untuk menemukan hidayah dan mempertahankan keimanannya. Dan kejernihan hati inilah yang membuat Nabi Ibrahim a.s. menjadi Hamba Allah yang sangat ta’at. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ’ Tunduk patuhlah!’, Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS.Al Baqarah: 131). Ketundukan penuh keyakinan dan keikhlashan inilah yang mengantarkan beliau memperoleh posisi mulia di hadapan Allah SWT. Aspek spiritualitas inilah yang membuat seorang pemimpin senantiasa tegar menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Keta’atan inilah yang menjadi alasan hadirnya pertolongan Allah SWT.

Selamatnya Nabi Ibrahim a.s. ketika dibakar hidup-hidup seperti dikisahkan dalam Surah Al Anbiya adalah buah dari keyakinan ini. Dikabulkannya do’a beliau untuk memperoleh keturunan yang shalih di usianya yang sudah lanjut adalah buah dari keikhlashan ini. Selamatnya Hajar dan Ismail ditinggal di tengah gurun tandus ataupun selamatnya Ismail ketika disembelih adalah buah dari keta’atan. Karena Allah SWT akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan keta’atan itu berbuah hikmah. Dari keta’atan meninggalkan anak isteri tercinta dikenal istilah sa’i dan air zamzam, bahkan lahirlah peradaban di Mekkah. Dari keta’atan menyembelih Ismail, sempurnalah syariat haji dan qurban.

 

Cerdas dan Berani

Pemimpin harus memiliki kecerdasan dan keberanian, tidak hanya salah satunya. Tidak sedikit orang yang memiliki kemampuan intelektual namun tidak memiliki keberanian, segudang idenya pun hanya menjadi setumpuk angan. Hasilnya adalah pemimpin yang gemar berandai-andai untuk kemudian menyesal. Ada pula yang sekedar memiliki keberanian tanpa perhitungan, yang terjadi hanya kesia-siaan, pemborosan, bahkan kerusakan. Pemimpin modal nekat dan mengandalkan keberuntungan.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. sudah tumbuh sejak beliau masih belia. Hal ini jelas tampak dari dialog Ibrahim kecil dengan ayahnya tentang konsep ketuhanan seperti tertuang dalam Surah Maryam atau dalam upaya beliau mencari Tuhan seperti dikisahkan cukup panjang dalam Al Qur’an surah Al An’am. Dalam berbagai referensi terdahulu, misalnya dalam Injil Barnabas, dikisahkan dialog panjang Ibrahim kecil dengan ayahnya yang selalu berakhir dengan ancaman atau pemukulan Ibrahim kecil karena ayahnya kehabisan argumen. Keluarga Nabi Ibrahim a.s. cukup dihormati, butuh upaya lebih untuk menentang penyimpangan dari keluarganya dan sistem masyarakat yang rusak.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. juga tercermin di Surah Al Anbiya dalam peristiwa penghancuran berhala yang dilakukannya yang berujung pada pembakaran dirinya hidup-hidup. Atau dalam perdebatan beliau dengan Raja Namrud seperti dikisahkan dalam firman Allah, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. al-Baqarah: 258)

 

Visioner dan Amanah

Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji” (QS. an-Najm: 37). Pemimpin harus visioner sekaligus amanah. Sekedar pemimpin visioner saja tidak cukup untuk mengubah apapun, namun sekedar mengerjakan tanggung jawab juga hanya akan terjebak pada rutinitas. Dalam Al Qur’an terdapat Surah Ibrahim yang di antaranya memuat do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s, salah satunya adalah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37)

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. berdo’a, Baitullah belumlah didirikan dan wilayahnya sangat tandus. Atas karunia Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s. punya visi dan tekad kuat untuk menyempurnakan janji tersebut. Beberapa tahun kemudian Baitullah dibangun untuk kemudian berkembang menjadi wilayah Masjidil Haram – Mekkah yang kita kenal sekarang, pusat manusia-manusia mendirikan shalat. Hal menarik lainnya dari do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s. adalah beliau senantiasa mendo’akan anak cucu dan keturunannya, di antaranya agar tidak menyembah berhala (ayat 35) dan tetap mendirikan shalat (ayat 41). Pemimpin sejati tahu benar pentingnya kaderisasi. Memastikan adanya kader penerus perjuangan merupakan hal yang fundamental. Nabi Ibrahim a.s. pun mendapat gelar Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim a.s. kecuali semuanya berasal dari keturunan beliau.

Nabi Luth a.s. adalah salah seorang pengikut Nabi Ibrahim a.s. yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dalam berbagai ayat Al Qur’an dikisahkan bahwa para malaikat menemui dan memberitahu Nabi Ibrahim a.s. terlebih dahulu –bahkan sempat ‘berdebat’ dengan beliau– sebelum membinasakan Kaum Sodom yang mengingkari Nabi Luth a.s. Karena perjuangan tidak bisa diusung sendirian. Atau simak bagaimana kesabaran Ismail kecil ketika mengetahui dirinya akan disembelih atas perintah Allah SWT oleh ayahnya sendiri yang jarang ditemuinya. Tentu butuh pendidikan akidah dan akhlak yang luar biasa, termasuk kepada kedua isterinya. “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al Baqarah: 132).

 

Peduli dan Penuh Kasih Sayang

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi lembut hati dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud: 75). Ayat ini turun terkait upaya Nabi Ibrahim a.s. yang mencoba membela Kaum Luth yang hendak diazab Allah SWT dengan berdalih masih ada kesempatan untuk memperoleh hidayah. Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bertanya kepada para malaikat, “Apakah kamu hendak membinasakan negeri yang di sana terdapat 300 orang mukmin?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Angka tersebut terus turun hingga menjadi ‘seorang mukmin’ dan para malaikat tetap menjawab ‘tidak’. Nabi Ibrahim a.s. kemudian berkata, “Disana terdapat Luth”. Mereka berkata, “Kami lebih tahu tentang siapa yang ada disana” hingga akhirnya ditegaskan dengan ayat selanjutnya, “Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Tuhanmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak” (QS. Hud: 76).

Pun tegas dalam bersikap terkait masalah aqidah, dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya pun mencerminkan sikap santun dan lembut hati. Hal ini dikuatkan dengan Firman Allah, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At Taubah: 114). Apalagi jika menyimak dialog beliau dengan anaknya yang bahkan sampai meminta pendapat anaknya untuk sesuatu yang bisa saja tinggal diperintahkan.

Pemimpin harus santun, penuh kepedulian dan kasih sayang. Keluhuran budi pekerti tercermin dari sikap dan kata-kata, dan hal inilah yang sejatinya sangat efektif untuk menggerakkan orang lain. Kemuliaan akhlak inilah yang membuat Nabi Ibrahim digelari Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah SWT. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An Nisa’: 125).

Berbeda dengan Nabi Yusuf a.s., Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s. dan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Ibrahim a.s. memang tidak menempati jabatan struktural dalam pemerintahan. Namun jati diri kepemimpinan tetap terpancar dari diri beliau dan membuat beliau menempati posisi sangat penting dalam sejarah kehidupan manusia. Setiap kita adalah pemimpin, sehingga harus berupaya menjadi pribadi yang berjiwa bersih, ta’at kepada Allah SWT, cerdas, berani, visioner, amanah, peduli dan penuh kasih sayang. Sudah saatnya kualifikasi pemimpin seperti ini menggantikan sosok pimpinan yang tidak beritikad baik, tidak peduli terhadap umat Islam, sok pintar, klemar-klemer, cinta dunia, tidak berkompeten, egois dan suka menyakiti yang dipimpinnya.

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar ter­masuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah: 130)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim…” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Antara Idealita dan Realita

Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka,berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy).

Beberapa saat yang lalu, ada SMS meminta pendapat tentang ’idealis tapi realistis’. Ketika penulis menanyakan balik tentang apa yang dipahaminya, orang tersebut mengatakan : “…Kalo ana berpikir semua harus berawal dari yang ideal, sampai sejauh ana ana mampu itulah titik dimana ana bertemu realita. Jadi bukannya sejak awal ingin bergerak sudah harus menurunkan target karena mengupayakan realita kemampuan, padahal belum dilakukan seideal mungkin… ”.

Menarik, SMS itu mengingatkan penulis pada SMS seorang saudara yang dua tahun duduk satu meja : ”Keterbatasan, kata yang tidak mau tidak, suka atau tidak suka, ada dalam diri seorang hamba. Ia adalah realita hidup. Rasulullahpun terbatas berdakwah, mautlah yang membatasi. Problematikanya hari ini bukan ada atau tidak suatu keterbatasan, tetapi seberapa tepat kita mengukur batas kita. Apakah kelumpuhan jadi batas Syaikh Ahmad Yasin dalam berjihad? Mungkin bagi kita ya, tapi tidak bagi beliau. Usamah bin Ziad, apakah usia muda menjadi batas ia tuk memimpin para sahabat? Akhi, sudah tepatkah kita mengukur keterbatasan kita? Jika batas kita hanya sebegitu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kapasitas kita yang dengan itu menjadi bertambah kekuatan kita…

Bicara tentang idealita, bagi penulis, seperti berbicara tentang impian. Begitu indah dan untuk mencapainya pasti tidaklah mudah. Dan seperti harapan, idealita harus tetap ada dan dipertahankan, kecuali jika kita hanya punya cita-cita menjadi manusia seadanya. Berbeda dengan realita yang identik dengan dunia nyata, yang membatasi dan membelenggu. Realita menjadi perhatian karena disanalah kita ada dan disanalah tempat kita akan jatuh dari ketinggian. Ya, semakin tinggi jarak antara idealita dengan realita, akan semakin sakit pula jatuhnya. Itulah mengapa manusia umumnya menjadikan realitanya sebagai idealitanya…

Dalam konteks perencanaan (diambil dari mata kuliah ‘Manajemen Industri’), tahap pertama yang harus dilakukan adalah ’establish the goal’. Penulis sepakat dalam tahap ini seharusnya semuanya diawali dengan idealita bukan realita. Nah, yang perlu diperhatikan adalah tahapan berikutnya ’define the present situation’. Disinilah realita mulai mengambil peran. Target adalah sesuatu yang menantang bukan yang biasa saja dan semuanya akan tetap bersandar pada realita selama resourcesnya tersedia dan mungkin untuk disediakan. Resources disini bisa berupa man, material, machine, equipment, methode, financial, time ataupun information. Artinya perlu diperhatikan ketersediaan SDM, kondisi sasaran, kesiapan organisasi, ketersediaan sarana/ perangkat yang dibutuhkan, kerapihan sistem kerja, ketersediaan pendanaan dan waktu, dsb. Semuanya masih realistis selama kebutuhan sumber daya untuk mencapai tujuan tersebut dapat dipenuhi. Dan konteks disini adalah tim, bukan Cuma perorangan. Itulah sebabnya dikenal metode SMART dalam penetapan target, ada point ‘dapat dicapai’ dalam metode itu. Tahap berikutnya baru identify the aids and barriers to the goals yang gampangnya buat SWOT analysis. Kemudian baru dilakukan develop a plan or set of actions for reaching the goal(s).

Kembali ke idealita dan realita, saya teringat salah satu cerita di film Kungfu Boy. Dalam pertarungan Chinmi melawan Shifan, Chinmi yang tidak terkalahkan di kuil Dairin dengan mudah dapat dikalahkan Shifan, dua kali bahkan. Guru Shosu kemudian memperlihatkannya jangkrik yang ditaruh dalam kotak dengan yang langsung diambil dari alam bebas. Ternyata jangkrik dari alam bebas yang dianalogikan sebagai Shifan dapat melompat lebih tinggi dibandingkan yang disimpan di dalam kotak (Chinmi) padahal speciesnya sama. Kemudian Guru Shosu memberikan kedua jangkrik itu ke Chinmi dan ditaruh di dalam kotak. Malam harinya Chinmi ga bisa tidur dan penasaran kenapa lompatan jangkriknya bisa berbeda. Ketika dia membuka kotak itu, ternyata lompatan kedua jangkrik sama. Ternyata ’kotak’lah yang membuat batas lompatan. Selama kita berpikir masih di dalam kotak, ya hanya segitu kita dapat melompat. Ya, seringkali kitalah yang membuat batas bagi diri kita sendiri, batasan yang terlalu rendah bahkan. Karenanya banyak orang pasrah oleh realita bukan mencoba seoptimal mungkin untuk mencapai realitanya yang sesungguhnya.

Berangkat dari cerita itu, perlu ada refleksi diri tentang idealita dan realita. Idealisme kita takkan bermasalah selama kita masih ’menginjak bumi’, memperhitungkan kondisi faktual dan tidak memaksakan idealisme kita kepada orang lain. Cemoohan tentang idealisme hanya dilakukan oleh mereka yang iri, tidak bisa bermimpi atau takut untuk ’terbang’. Tapi perlu ada refleksi tentang idealisme ketika tujuan tidak tercapai, kita berjuang sendirian atau banyak pihak termasuk diri kita yang terzhalimi dengan idealisme tadi. Yang menarik ketika kita mencoba melakukan refleksi tentang realita. Benarkah batasan kita hanya segitu? Sudah optimalkah yang kita lakukan? Yah, ternyata kitalah yang menciptakan realita. Idealisme yang realistispun takkan menjadi realita tanpa kesungguhan untuk mewujudkannya. Ya, dan dalam kesungguhan ada pengorbanan, dalam kesungguhan ada kesigapan, dalam kesungguhan ada optimalisasi potensi dan mengatasi segala hambatan. Semoga kita bukan termasuk idealis yang berhenti dalam tataran mimpi ataupun orang lemah yang mengkambinghitamkan realita.

Wallahu a’lam bishawwab