Tag Archives: berbagi

Bertetangga Sampai ke Surga (1/2)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri
(QS. An Nisa: 36)

Dikisahkan, selepas melaksanakan rangkaian manasik haji, ‘Abdullah bin Al-Mubarak tertidur di Masjidil Haram. Dalam mimpinya, ia melihat dua malaikat turun dari langit. Salah seorang dari malaikat itu bertanya, “Berapa orangkah yang melaksanakan haji tahun ini?” Malaikat yang ditanya menjawab, “Enam ratus ribu orang.” Malaikat pertama bertanya lagi, “Berapa orang dari mereka yang ibadah hajinya diterima?” Malaikat kedua menjawab, “Tak seorang pun dari mereka”. Ibnul Mubarak terkejut dan bersedih, dalam hati berkata, “Orang-orang yang melaksanakan haji itu telah berkumpul berlelah-lelah, mereka berdatangan dari seluruh penjuru seraya membelah gurun, lantas mereka dianggap sia-sia di sisi Allah?!” Lalu ia mendengar Malaikat kedua berkata, “Namun, ada seorang lelaki tukang sol sepatu yang tinggal di Damaskus, namanya ‘Ali bin al-Muwaffaq. Dia tak ikut melaksanakan ibadah haji, tetapi Allah menuliskan baginya pahala ibadah haji secara sempurna, lalu dengan sebab keberkahan lelaki ini, Allah pun berkenan menerima ibadah haji orang-orang yang melaksanakan haji ini.”

Ibnul Mubarak terbangun dari tidurnya, bergegas pergi menuju Damaskus untuk menemui lelaki tukang sol sepatu bernama ‘Ali bin al Muwaffaq berbekal nama dan pekerjaannya. Singkat kisah, Ibnul Mubarak berhasil menemui lelaki tersebut dan berbicara dengannya. Ibnu Mubarak bertanya, “Beritahukanlah kepadaku tentang keadaanmu, sampai-sampai kau disebut dalam mimpiku”. Al-Muwaffaq pun bercerita bahwa sejak 30 tahun lalu ia bertekad untuk mengunjungi Ka’bah dan berhaji. Ia selalu menyisihkan sedikit uang hasil pekerjaannya hingga terkumpul sejumlah 350 dirham. Ia berharap bisa menggenapkannya menjadi 400 dirham sehingga bisa berangkat haji tahun ini. Saat itu, istrinya yang sedang hamil mencium bau masakan dari salah satu rumah tetangga. Istrinya sangat ingin untuk bisa mencicipi makanan itu. Al-Muwaffaq lantas mendatangi rumah tetangganya, meminta sedikit makanan tersebut seraya memberitahu tentang keinginan istrinya yang sedang hamil.

Begitu mendengar permintaan Al-Muwaffaq, perempuan pemilik rumah tersebut lantas menangis dan berkata, “Aku mempunyai beberapa orang anak yang masih kecil. Mereka yatim tak lagi punya ayah. Sudah seminggu ini mereka tak makan. Tadi aku memasuki area puing reruntuhan, lalu kutemukan di sana bangkai keledai. Aku pun mengambil sepotong dagingnya. Daging itulah yang ada di dalam periuk itu, dan itu halal bagi kami tetapi haram bagi kalian.” Setelah mendengar kisah perempuan tersebut, Al-Muwaffaq merasa iba, bergegas kembali ke rumah dan mengambil uang simpanannya. Uang sebanyak 350 dirham tersebut dibawanya dan diberikan semuanya kepada perempuan itu untuk nafkah keluarganya. Dalam hatinya ia berniat, “Dermaku inilah yang akan menunaikan bagiku kewajiban haji dan kedudukannya dengan pertolongan Allah.” Mendengar penuturan Al Muwaffaq, berkatalah Ibnul Mubarak, “Kau benar. Malaikat yang berbicara dalam mimpiku pun benar, dan Yang Maha Kuasa berlaku adil dalam hukum dan keputusan. Sungguh Allah lebih mengetahui hakikat segala sesuatu.”

Berbuat baik kepada tetangga diganjar pahala haji mabrur, kenapa tidak? Perilaku seseorang terhadap tetangganya memang mencerminkan keimanan seseorang. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya”. Atau dalam hadits lain disebutkan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya”. Dan keimanan ini menjadi syarat menggapai surga. “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari – Muslim). Dan tidak ada istilah sedikit atau ringan dalam hal menyakiti tetangga (HR. Thabrani). Karenanya, menjaga hak bertetangga menjadi keharusan bagi mereka yang merindukan surga.

(bersambung)

Menggali Inspirasi Dari Alumni Etos

Indonesia membutuhkan social entrepreneur muda yang peduli untuk mengatasi permasalahan masyarakat dengan prinsip entrepreneur yang didukung dengan potensi kepemudaannya. Dalam kesempatan ini, saya hendak sedikit berbagi terkait bincang – bincang saya dengan salah seorang alumni penerima beastudi Etos yang mencoba mengembangkan usahanya dengan tetap memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat sekitarnya. Masih dengan wajahnya yang bersahaja, berikut cuplikan ngobrol saya di kantin Teknik UI dengan Andi Nata yang inspiratif :

Bisa Anda ceritakan sedikit perjalanan hidup Anda menjadi mahasiswa UI?
Saya mengikuti seleksi etos wilayah Bandung. Saya ingat sekali waktu tes tulis dan wawancara di Unpad saya datang sendiri dari Cirebon. Tiba di Bandung sudah larut, tak ada tempat bermalam. Akhirnya terpaksa bermalam di pelataran masjid Unpad karena pintunya terkunci. Malam itu hujan deras sehingga tidak bisa juga keluar membeli makanan. Surat undangan dari Rektor UI (Andi masuk lewat jalur PMDK –red) sudah saya terima sebelum home visit. Masalahnya saya harus mengikuti matrikulasi, dua bulan sebelum pengumuman beastudi Etos. Dengan berbekal uang 100 ribu dari orang tua, saya mencoba survive. Saya sempat berpindah – pindah menumpang menginap di tempat teman per dua hari selama mengikuti matrikulasi sebelum akhirnya dibantu alumni FTUI lewat program Mata Air Biru.

Anda kan mahasiswa Teknik Mesin, apa yang membuat Anda memilih jalan sebagai entrepreneur?
Ya, saya secara tidak sengaja terjerumus ke jalan yang benar. Cerita bermula dari cobaan yang menimpa ayah saya ketika saya masih semester 1. Beliau mengalami kecelakaan di tempat kerja, tangannya terpotong mesin, untuk pengobatan setidaknya butuh dana puluhan juta rupiah. Setiap hari saya mengajar privat dan mencari pinjaman sana sini untuk membayar biaya operasi. Dari situ saya belajar tentang arti uang untuk membantu orang yang saya cintai. Privat dan berbagai kompetisi memang akhirnya dapat membantu saya melunasi hutang, namun belum cukup memberikan kebermanfaatan yang lebih besar. Saat itu, akademis saya pun sempat terganggu karena harus mencari uang dan bolak – balik ke Jakarta – Cirebon. Dan dalam perenungan saya tidak ada jalan lain selain menjadi entrepreneur. Berawal dari program UI Young Smart Entrepreneur, saya mengembangkan bisnis peternakan kambing bernama ‘GardenDi’. Mulai dari 8 ekor, meningkat jadi 18 ekor hingga ratusan ekor ketika investor semakin bertambah. Saya pun bisa membantu orang tua dan adik saya (Andi anak ke-3 dari 6 bersaudara –red). Tahun 2008 saya dirikan CV. Produktif Indonesia dan mulai merambah ke bisnis properti. Kata produktif saya gunakan karena sering saya dengar selama menjadi etoser. Untuk mempertajam kemampuan wirausaha, saya mengikuti sekolah bisnis, bergabung dengan komunitas pengusaha dan memiliki guru – guru di bidang entrepreneurship.

Apa ada kontribusi ke masyarakat yang Anda lakukan dalam usaha Anda?
Belum besar memang, namun saya berusaha memberdayakan masyarakat melalui usaha saya. Saat ini, pengelolaan kambing sudah dilakukan oleh petani setempat dengan rasio petani : kambing sekitar 1 : 10. Untuk usaha “Raja Aqiqah” juga memberdayakan masyarakat setempat untuk memasak hingga mengirimkan pesanan. Sebelumnya, mereka mendapat pelatihan di Jakarta. Alhamdulillah, bisa membantu orang lain menambah penghasilannya. Selain itu, untuk pengelola juga disiapkan makan gratis, berbagai bingkisan, oleh – oleh dan hadiah ketika lebaran. Setiap bulannya saya juga coba menyisihkan 1 – 2 juta untuk anak yatim di kampung saya. Saya masih harus banyak belajar dari orang – orang seperti Eri Sudewo, Sandiaga Uno ataupun Fauzan Hangriawan (entrepreneur lele –red)

Lalu bagaimana pengalaman aktivitas sosial kemasyarakatan Anda selama di kampus sehingga Anda terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi kategori Sosial (selain juga menyabet penghargaan serupa kategori Kewirausahaan –red) ?
Sejujurnya, berbicara tentang aktivitas sosial kemasyarakatan, saya banyak sekali memperolehnya dari Etos, mulai dari DLC (D’etos Learning Centre, pendidkan gratis dan taman baca Etos Jakarta –red), Jumantik Cilik, Operasi Bersih Ciliwung, Sekolah dan Pelatihan Relawan Cilik di Cilwung, Festival Anak Shaleh, Kepedulian Koin Prita, Sekolah ceria Situ Gintung hingga Perayaan HUT RI di sekitar asrama Etos. Saya sempat juga menjadi duta aksi lingkungan dan program tanggap bencana dan berkeliling ke seluruh etoser Indonesia.

Menurut Anda, apa sih istimewanya berbagi?
Berbagi itu yang jelas bukan cuma materi, tetapi ada keterlibatan emosional di dalamnya. Karenanya orang yang tulus berbagi, akan memberikan segala yang dimilikinya tanpa hitung – hitungan. Berbagi itu memang membutuhkan pengorbanan dan komitmen. Saya banyak belajar tentang nilai berbagi dari Bang Fauzan (Fauzan Hangriawan –red), beliau sempat mengingatkan bahwa suatu saat kita pasti akan membutuhkan bantuan orang lain, dan saat itu gemar memberi akan menyelamatkan kita.

Ada pesan untuk etoser nusantara?
Saya akan menyampaikannya dalam prespektif entrepreneur. Pertama, ke depan Etos harus punya aset produktif sebagai sumber pembiayaan, beberapa tahun ke depan saya akan coba men-supportnya. Sebagai awalan, mungkin salah satu aset rumah yang saya miliki di Kukusan bisa lah dijadikan basecamp alumni etos. Kedua, etoser harus berani “break to”, melewati batasan dan mengoptimalkan potensi jangan sekedar cari aman dan menjalani hidup apa adanya.

Sekilas tentang Andi Nata :
Lahir di Cirebon, 7 Januari 1989, Mahasiswa Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia angkatan 2007 ini sekarang masih aktif sebagai Presiden Direktur CV. Produktif Indonesia dan Presiden Direktur Koperasi Masyarakat Teknik FTUI Mahasiswa Berprestasi Kategori Sosial dan Kategori Entrepreneur FTUI ini pernah menjadi pemenang lomba Ide Marketing Yamaha – FEUI dan pemenang Wirausaha Muda Mandiri program UI Young Smart Entrepreneur. Walaupun masih mahasiswa, dari usahanya ia sudah memiliki 200 ekor kambing, 5 motor operasional, 2 mobil pick up, 4 unit rumah, tanah seluas 1400m2 dan belasan karyawan.