Tag Archives: continuous improvement

Ramadhan Bulan Peningkatan (2/2)

Selanjutnya, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 184 yang menyampaikan tentang keringanan (rukhshah) bagi orang-orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan atau bagi orang-orang yang berat menjalankannya, diakhiri dengan kalimat “…wa an tashumu khairullakum in kuntum ta’lamun”. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Ayat-ayat rukhshah biasanya diiringi dengan penjelasan mengenai kemurahan Allah SWT. Misalnya dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 173, Al Maidah ayat 3, Al An’am ayat 145, dan An Nahl ayat 115 yang memberi rukhshah bagi mereka yang memakan bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan dengan menyebut nama selain Allah SWT, karena terpaksa dan tidak melampaui batas, kesemua ayat tersebut diakhiri dengan Sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al Ghafur) lagi Maha Penyayang (Ar Rahim). Atau dalam Al Qur’an Surah An Nisa terkait rukhshah berupa tayammum, juga ditutup dengan Sifat Allah Yang Maha Pema’af (Al Afuww) lagi Maha Pengampun (Al Ghafur).

Adapun dalam Al Qur’an Surah Al Maidah ayat 6 tentang rukhshah berupa tayammum diakhiri dengan kalimat: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Kalimat yang mirip dengan rukhshah mengganti puasa bagi mereka yang sakit atau dalam perjalanan dalam Surah Al Baqarah ayat 185: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”. Hal ini menunjukkan kemurahan Allah SWT tetaplah ada, walaupun ada keutamaan jika tidak mengambil rukhshah. Ya, cara selanjutnya untuk meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan adalah menjalaninya dengan penuh kesungguhan, tidak mudah memberikan excuse ke diri sendiri. Target besar Ramadhan hanya dapat dicapai bahkan dilampaui dengan persistensi dan determinasi tinggi. Tidak mudah menyerah, mencari alasan ataupun berusaha seadanya dan sekadar melakukan yang mudah. Peningkatan kualitas diri itu justru terletak pada perjuangan dan pengorbanan yang mengiringinya.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186). Apa hubungan berdo’a dengan berpuasa? Apa pula hubungannya dengan peningkatan kualitas diri? Persamaan terbesar antara do’a dengan puasa adalah ibadah yang sifatnya langsung ke Allah SWT. Kuat pada aspek kesertaan Allah (ma’iyatullah) dan pengawasan Allah (muraqabatullah).

Pun demikian dengan peningkatan kualitas diri, tantangan terbesarnya justru pada diri sendiri. Target Ramadhan yang sudah dibuat bisa saja dengan mudah diturunkan standarnya jika tidak tercapai, toh yang mengevaluasi diri sendiri. Aktivitas peningkatan kualitas diri selama bulan Ramadhan gampang saya ditunda atau dialihkan dengan berbagai alasan toh yang merancangnya adalah diri sendiri. Tanpa ma’iyatullah dan muraqabatullah tidak sulit mentolerir berbagai kelalaian dalam upaya peningkatan kualitas diri. Toh masih ada hari lain, toh masih ada Ramadhan tahun depan. Disinilah ihsanul amal dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas diri. Terus berbuat baik dengan atau tanpa orang lain mengetahuinya. Cermat mengawasi diri sendiri, kalaupun lalai, tetap menyadari bahwa Allah SWT tak pernah lalai mengawasi. Nuansa Ramadhan memberi stimulan yang cukup untuk bisa belajar beramal dengan ihsan dan ikhlash. Imanan wahtisaban. Tak heran jika salah satu do’a yang tidak tertolak adalah adalah do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka.

Selanjutnya, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 187 ada analogi yang menarik tentang suami istri, “…hunna libasullakum wa antum libasullahunna…”. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Analogi pakaian (libas) menggambarkan suami istri yang saling melengkapi dan melindungi, menjadi perhiasan dan menutupi aib, memberikan kebahagiaan dan kenyamanan. Mengapa ada analogi seperti ini dalam rangkaian ayat tentang shaum Ramadhan? Apa pula kaitannya dengan peningkatan kualitas diri? Sehebat apapun pribadi seseorang, ia tetap membutuhkan orang lain untuk terus berkembang. Peningkatan kualitas diri amatlah berat untuk diusung sendirian, harus ada (sekumpulan) orang lain yang mendampingi. Jangan sendirian!

Jelas sudah, Ramadhan adalah bulan peningkatan. Momentum berharga untuk melakukan perbaikan diri yang terus-menerus (continuous self-improvement). Guna menjadi pribadi yang bertakwa, pribadi yang pandai bersyukur, pribadi yang diberi petunjuk. Untuk menghadirkan sekumpulan orang yang bertakwa, sebagaimana telah dijanjikan Allah SWT dalam Al Qur’an. Peningkatan kualitas diri akan hadir ketika ada tujuan yang jelas, upaya nyata penuh kesungguhan untuk mewujudkannya, kecermatan dalam menjalankannya, dan sekumpulan orang yang mendukungnya. Bagaimanapun, Ramadhan bukan hanya untuk pribadi kita, namun Ramadhan ada untuk kita semua.

Barangsiapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa shalat pada Lailatul Qadar imanan wa ihtisaban, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan Bulan Peningkatan (1/2)

Ada yang aneh dari judul di atas? Bukankah seharusnya Syawal yang berarti bulan peningkatan? Ibnul ‘Allan asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang.” Ada juga yang mengatakan, dinamakan bulan syawal dari kata syalat an-Naqah bi Dzanabiha, artinya onta betina menaikkan ekornya. Bulan syawal adalah masa di mana onta betina tidak mau dikawini para pejantan. Ketika didekati pejantan, onta betina mengangkat ekornya. Keadaan ini menyebabkan munculnya keyakinan sial di tengah masyarakat jahiliyah terhadap bulan syawal. Sehingga mereka menjadikan bulan syawal sebagai bulan pantangan untuk menikah. Ketika Islam datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru menikahi istri beliau di bulan syawal. Untuk membantah anggapan sial masyarakat jahiliyah. Akan tetapi, kurang tepat jika dikatakan bahwa sebab mengapa bulan ini dinamakan syawal adalah karena seusai ramadhan, manusia melakukan peningkatan dalam beramal dan berbuat baik. Karena nama bulan “syawal” sudah ada sejak zaman jahiliyah (sebelum datangnya islam), sementara masyarakat jahiliyah belum mengenal syariat puasa di bulan ramadhan. Dengan demikian, tidak terdapat hubungan antara makna bahasa tersebut dengan pemahaman bahwa syawal adalah bulan peningkatan dalam beramal.

Lalu, bagaimana Ramadhan dapat meningkatkan kualitas diri? Disini ada dua terminologi yang dapat dibahas: peningkatan (improvement) dan kualitas (quality). Pertama, Ramadhan secara alami sudah menjadi momentum improvement. Berbuat baik begitu mudah di bulan Ramadhan karenanya menjadikan Ramadhan sebagai momentum perbaikan diri tidaklah menjadi hal yang aneh. Datang ke masjid untuk shalat berjama’ah, tilawah Al Qur’an selepas shalat bukan hal yang aneh di bulan Ramadhan bahkan bagi yang jarang melakukannya sekalipun. Tidak sedikit juga muslimah yang memulai berhijab di bulan Ramadhan. Sekali lagi karena momen Ramadhan sangat tepat untuk melakukan perbaikan ke arah kebaikan, bahkan barangkali lebih efektif dari momentum hijrah 1 Muharram. Karena pergantian tahun baru biasa diisi dengan evaluasi diri bukan pembiasaan melakukan kebaikan. Kesadaraan sesaat tidak akan lama bertahan, berbeda dengan momentum Ramadhan, yang bahkan gema kebaikannya dapat dirasakan dari sebelum Ramadhan hingga selepas Ramadhan.

Ramadhan bahkan seperti Poka Yoke yang menghindari manusia dari melakukan kesalahan. Poka-Yoke didefinisikan sebagai suatu konsep manajemen mutu guna menghindari kesalahan akibat kelalaian dan kesalahan karena sifat manusiawi yaitu lupa, tidak tahu, dan tidak sengaja dengan cara memberikan batasan-batasan dalam pengoperasian suatu alat atau produk. Jadi, tujuan utama dari penerapan konsep Poka-Yoke ini adalah untuk mencapai keadaan bebas-cacat (zero-defects). Contoh paling sederhana penerapan Poka Yoke di bulan Ramadhan adalah waktu imsak yang menghindarkan umat muslim kebablasan makan hingga lewat waktu shubuh, pun makan di waktu imsak masih diperbolehkan. Dalam keseharian di bulan Ramadhan, barangkali kita kerap mendengar: puasa ga boleh bohong, jangan gosip di bulan ramadhan, atau orang puasa ga boleh marah. Disinilah status sedang berpuasa mampu menjadi kontrol untuk menghindarkan manusia dari berbuat kesalahan. Kesalahan yang sebenarnya juga mendatangkan dosa bila dilakukan di luar Ramadhan, tetapi di bulan Ramadhan bisa dihindari. Suasana Ramadhan yang sangat kondusif inilah yang memungkinkan self-improvement selama bulan Ramadhan dapat optimal, terutama improvement dalam aspek spiritual, emosional, dan sosial.

Selanjutnya, berbicara tentang kualitas, definisi yang banyak digunakan adalah menurut Juran, Crosby dan Deming. Pengertian kualitas menurut Juran adalah kesesuaian antara tujuan dan manfaatnya. Atau sejauh mana kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan (fitness for use). Menurut Crosby, kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan atau persyaratan (conformance to requirements) yang meliputi availability, delivery, reliability, maintainability dan cost effectiveness. Sedangkan menurut Deming, tujuan kualitas adalah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan saat ini dan di masa depan. Kualitas bermakna pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terus menerus, sehingga kualitas berarti sesuatu yang kontinu, senantiasa ada perbaikan, dan tidak stagnan (continuous improvement). Adapun dalam KBBI, kualitas atau mutu identik dengan kadar, taraf, atau derajat (kepandaian, kecakapan, dan sebagainya). Kualitas menyoal tingkat baik buruknya sesuatu, sementara mutu menunjukkan ukuran baik buruknya sesuatu. Lantas, apa hubungannya Ramadhan dengan kualitas diri? Ada pertanyaan lebih penting yaitu “Bagaimana meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan?” Karenanya kedua pertanyaan tersebut sebaiknya dijawab secara simultan melalui tadabur ayat-ayat Al Qur’an tentang puasa.

Pertama, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, jelas termaktub tujuan dan manfaat berpuasa: la’allakum tattaqun. Karenanya kualitas diri yang diharapkan menjadi keluaran (output) dari ibadah di bulan Ramadhan adalah pribadi yang bertakwa. Kata la’alla dalam Al Qur’an memiliki beberapa makna, diantaranya ta’lil (alasan) dan tarajji ‘indal mukhathab (harapan dari sisi orang yang diajak bicara). Dengan makna ta’lil, dapat kita artikan bahwa alasan diwajibkannya puasa adalah agar orang yang berpuasa mencapai derajat taqwa. Dengan makna tarajji, dapat kita artikan bahwa orang yang berpuasa berharap dengan perantaraan puasanya ia dapat menjadi orang yang bertaqwa. Makna la’alla disini berbeda dari persangkaan (zhann) ataupun perkiraan (hisban). Maknanya lebih identik dengan kata semoga (‘asaa). Sedangkan ‘asaa dan la’alla jika berasal dari Allah SWT maka ia adalah jaminan kepastian (tahqiq), bukan sekadar harapan (tarajji).

Dalam rangkaian ayat tentang shaum Ramadhan di Surah Al Baqarah, kata la’alla bahkan disebutkan 4 kali: la’allakum tattaqun (ayat 183), la’allakum tasykurun (ayat 185), la’allahum yarsyudun (ayat 186) dan la’allahum yattaqun (ayat 187). Hal ini menunjukkan betapa banyak jaminan kepastian terhadap kualitas output selama prosesnya dilalui dengan baik. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan adalah dengan menetapkan target Ramadhan yang SMART (Specific, Measurable, Attainable, Relevant, Timely). Target ini tentunya bukan sekadar dibuat agar ada, namun juga diupayakan pencapaiannya secara sungguh-sungguh dan dievaluasi. Secara bertahap ditingkatkan levelnya sehingga terjadi continuous improvement dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya. Di titik inilah, peningkatan kualitas diri melalui Ramadhan dapat tercapai.

(bersambung)

Islam dan Filosofi Continuous Improvement

“The best revenge is to improve yourself” (Ali bin Abi Thalib)

Terminologi Continuous Improvement tidak terlepas dari konsep Kaizen di Jepang yang bermakna perbaikan terus-menerus atau perbaikan berkelanjutan. Perbaikan ini bersifat sedikit demi sedikit (step by step improvement), komprehensif dan terintegrasi dengan filosofi Total Quality Management (TQM). Karena terintegrasi dengan TQM, pembahasan tentang Continuous Improvement kerap melebar ke ranah manajemen mutu, mulai dari siklus Plan-Do-Check-Action (Deming Cycle), waste management (Muda, Mura, Muri), hingga konsep zero defect atau bahkan six sigma lengkap dengan siklus DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Kajian teori yang menarik pun sebenarnya filosofi continuous improvement lebih sederhana dan aplikatif.

Filosofi Continuous Improvement mendorong tercapainya standar kualitas yang optimal melalui beberapa langkah perbaikan yang sistematis dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Berbagai aksi perbaikan yang sederhana dan terus-menerus akan memunculkan gagasan dan aksi perbaikan yang lebih banyak sehingga sedikit demi sedikit berbagai permasalahan akan terselesaikan. Dan perbaikan ini dilakukan oleh setiap personal dalam organisasi. Continuous Improvement adalah usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan untuk terus berkembang dan melakukan perbaikan. Filosofi yang ternyata sejalan dengan konsep Islam yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa melakukan perbaikan.

Continuous Improvement adalah perubahan memelihara nikmat Allah SWT. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar Ra’du: 11). ‘Keadaan’ disini ditafsirkan sebagai nikmat –bukan nasib—sebagaimana tersebut dalam Surah Al Anfal ayat 53. Kelalaian dan kemaksiatan dapat menghilangkan nikmat, sehingga upaya merawat dan meningkatkan nikmat perlu disertai perubahan diri ke arah yang lebih baik. Disinilah continuous improvement mulai menjalankan peran, mulai dari diri sendiri, senantiasa melakukan perubahan untuk memelihara nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Continuous Improvement adalah merawat produktivitas. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al Insyirah: 7). Kata ‘faraghta’ berasal dari kata ‘faragha’ yang berarti kosong setelah sebelumnya terisi penuh. Sebagian mufassir menafsirkan ayat tersebut adalah bahwa apabila kamu telah selesai berdakwah, beribadahlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia, kerjakanlah urusan akhirat; apabila kamu telah selesai dari kesibukan dunia, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berdoa. M. Quraish Shihab cenderung untuk tidak menetapkan ragam kesungguhan yang dimaksud karena objeknya tidak disebutkan sehingga bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kesungguhan, selama dibenarkan syariat. Kewajiban manusia bersifat simultan, terus menerus tanpa putus. Demikian pula dengan filosofi continuous improvement, selesai melakukan perbaikan, ada hal lain yang menanti untuk diperbaiki. Tetap produktif dalam menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Continuous Improvement adalah perbaikan kualitas. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk: 2). Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan bahwa amal yang lebih baik adalah yang dilakukan dengan ikhlash dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Yang paling menarik adalah penggunaan diksi ‘yang lebih baik amalnya’, bukannya ‘yang lebih banyak amalnya’, menunjukkan bahwa ada perhatian lebih pada dimensi kualitas amal, bukan sekedar kualitas. Dan penggunaan kata ‘lebih baik’ (comparative) bukan ‘paling baik’ (superlative) menunjukkan esensi dari filosofi continuous improvement bahwa tidak ada yang paling baik, namun selalu ada yang lebih baik. Kualitas terbaik artinya sempurna, tidak ada lagi yang bisa di-improve. Justru tidak manusiawi. Yang diminta hanyalah terus berupaya lebih baik setiap saatnya, menuju kualitas amal optimum yang bisa dilakukan.

Continuous Improvement adalah konsistensi kerja. “Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (HR Abu Dawud). Continuous improvement tidak menghendaki perubahan yang radikal, tetapi inkremental. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Kebaikan dan perbaikan ketika terbiasa dilakukan akan menghasilkan kebaikan dan perbaikan selanjutnya. Continuous improvement. Kontinyuitas ini pula yang akan memastikan kerja lebih langgeng dan akan berakhir yang baik. Pembiasaan juga akan meminimalisir kebosanan dalam beraktivitas, dengan syarat kontinyuitas yang dilakukan disertai dengan penambahan kualitas ataupun kuantitas, bukan sekedar pengulangan dan rutinitas. Itulah sejatinya filosofi continuous improvement.

Continuous Improvement adalah proses seumur hidup. Barangsiapa yang harinya (hari ini) lebih baik dari sebelumnya, maka ia telah beruntung, barangsiapa harinya seperti sebelumnya, maka ia telah merugi, dan barangsiapa yang harinya lebih jelek dari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat. Ungkapan tersebut banyak dinilai sebagai hadits palsu dan hanya bersandar pada perkataan Rasulullah SAW dalam mimpi seorang ulama. Selalu lebih baik setiap harinya juga dianggap tidak realistis, namun ungkapan tersebut sejatinya sangat sejalan dengan filosofi continuous improvement. Pertama, ungkapan tersebut menunjukkan tekad untuk lebih baik setiap harinya. Kedua, nilai ‘lebih baik’ tidak harus pada seluruh aspek, bisa jadi hanya tambahan kebaikan kecil di beberapa aspek. Ketiga, rentang hari ini dengan sebelumnya tidak harus dimaknai sempit. Sungguh dalam kerugian orang-orang yang berlalu bulan dan tahun usianya namun kebaikannya tidak bertambah, apalagi kalau sampai berkurang. Filosofi continuous improvement berfokus pada proses, dengan rentang waktu yang panjang. Kompetisi menuntut setiap diri dan organisasi untuk terus semakin baik setiap saatnya. Diam tetap di tempat akan tertinggal, apalagi jika mundur. Dan proses ini adalah pembelajaran seumur hidup (life-long learning).

Perjalanan menuju visi besar, baik visi hidup maupun visi organisasi merupakan perjalanan jauh yang membutuhkan nafas panjang. Barangkali butuh momentum hijrah atau titik balik kesadaran hidup yang bersifat revolusioner, namun istiqomah dalam menjaga iman dan amal justru membutuhkan kontinyuitas dalam melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Terus berbenah diri, melakukan kebaikan dan perbaikan secara terus menerus. Menjadi pribadi pembelajar dan organisasi pembelajar (learning organization) yang adaptif terhadap perubahan karena senantiasa melakukan kebaikan dan perbaikan. Karena kehidupan dan kematian sejatinya hanyalah ujian untuk melihat siapa yang konsisten lebih baik dalam beramal.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya ia berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah?” Beliau bersabda, “Amalan yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih)

*dimuat di republika online 27 Maret 2016

Definisi Manajemen Pengetahuan – 2 (KM Ed.6)

KM pada prinsipnya merupakan continuous improvement (CI) plus speed. CI merupakan kemampuan institusi/ perusahaan untuk melakukan inovasi atau modifikasi secara berkelanjutan dalam rangka menjadikan perusahaan hari ini lebih baik dari kemarin. Speed menunjukkan adanya kebutuhan untuk melakukan CI diatas dalam waktu yang sesingkat mungkin. KM merupakan salah satu competitive advantage dari perusahaan yang menerapkannya. Melalui CI perusahaan akan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi operasional produksi yang bermuara pada peningkatan profitabilitas perusahaan.

Permasalahannya adalah kompetitor yang dengan mudah dapat masuk dan mencuri inovasi yang kita miliki, karenanya dibutuhkan speed agar perusahaan dapat melakukan pengembangan atau inovasi lainnya dengan cepat sehingga perusahaan tetap dapat menjaga jarak dari kompetitor. KM disusun oleh tahapan create, apply dan share yang berkesinambungan, seperti ditunjukkan oleh segitiga diatas. KM adalah teknik membangun suatu lingkungan pembelajaran (learning environment) sehingga orang-orang di dalamnya termotivasi untuk terus belajar, memanfaatkan informasi yang ada, serta pada akhirnya mau berbagi pengetahuan baru yang didapat. Yang termasuk dalam proses manajemen pengetahuan antara lain, pembelajaran (individu, organisasi, kolaborasi), dan berbagi pengetahuan.

Pada dasarnya KM adalah kegiatan yang mengkaitkan antara belajar, perubahan dan inovasi. Secara teknis, KM muncul karena dorongan teknologi yang memungkinkan orang merekam dalam bentuk teks, tulisan, gambar dan sebagainya. Tapi akarnya tidak hanya tehnologi, KM muncul karena orang mau mengaitkan antara inovasi di kelompok manusia, baik yang komersial dan non komersial, dengan pengetahuan. Bagaimana menyimpan apa yang sudah kita ketahui merupakan konsep yang sudah lama ada, sejak manusia mulai bisa mendokumentasikan sesuatu. Tetapi KM saat ini merupakan konsep gabungan dari teknologi, yang ingin merekam segala hal, ditambah keinginan untuk menggabungkan perubahan antara belajar, perubahan dan inovasi. KM dalam arti mengelola pengetahuan sudah ada sejak dulu. Tetapi sebagai proses yang mengkaitkan ketiga hal tersebut mulai muncul sejak tahun 1970-an setelah infrastruktur jaringan cukup baik untuk digunakan tukar menukar data.

Ilmu tentang KM dikembangkan antara lain oleh Karl-Erik Svelby, mantan akuntan dan manajer berkebangsaan Swedia yang sekarang menjadi profesor di Swedish Business School Henken di Helsinki. Salah satu ajarannya yang biasa diistilahkan dengan Unlearning Experience adalah selalu bersikap terbuka, siap terhadap informasi baru. Sedangkan pengajaran teknik KM itu sendiri dikemasnya dalam suatu program pelatihan yang dinamakan Tango[1]. Paradigma Unlearning Experience ini menempatkan pengetahuan bukan lagi sebagai obyek atau barang jadi yang bisa diperjualbelikan atau dihibahkan (seperti pada kursus bahasa Inggris atau kursus komputer), melainkan sebagai suatu proses. Sebagai proses, maka yang dikelola (managed) adalah orang (dinamakan People Track KM), bukan informasinya itu sendiri (IT Track KM).

Kalau kemudian kita bagi lagi kedua jenis KM itu dengan tingkatan manajemennya (tingkat perusahaan atau tingkat individual), maka kita akan mendapat matrix knowledge management berikut

Knowledge Management
Tingkat IT Track

(pengetahuan = obyek)

People Track

(pengetahuan = proses)

Organisasi Komputerisasi organisasi Ahli teori organisasi
Individu Spesialis program Psikolog

(sumber : http://www.neumann.f2o.org/sarlito/know_man.html)

Dari matriks di atas terlihat bahwa orang yang berorientasi pada pengetahuan sebagai obyek merujuk pada ilmu tentang IT (Information Technology), sedangkan orang yang berorientasi pada pengetahuan sebagai proses akan lebih berorientasi pada filsafat, sosiologi atau psikologi. Dalam realitanya, orang IT memerlukan komputer, sedangkan orang People track tidak memerlukan komputer. Menurut Finerty (1997), KM memiliki ruang ringkup dua lapisan. Lapisan pertama adalah proses (process) meliputi utilization, storing, acquisition, distribution/ sharing dan creation. Lapisan kedua meliputi structure, technology, measurement, organizational design, leadership dan culture. Kedua lapisan tersebut terintegrasi membentuk ruang lingkup knowledge management.


[1] Keagenan Svelby Knowledge Associate (SKA) di Indonesia di pegang oleh PT Dunamis – Henk Senkey : http://www.skaglobal.com