Tag Archives: demonstrasi

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas (2/2)

Tahun 2018 adalah tahun disruption. Era digital memberi perubahan terhadap peta kompetisi dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan. Pengembangan teknologi informasi memberi ‘gangguan’ terhadap gaya ‘jaman old yang sudah tak lagi relevan. Kemenristek Dikti dan kampus harus segera bebenah, meningkatkan agility untuk menghadapi perubahan zaman. Pendidikan tinggi berbasis e-learning misalnya, harus segera direalisasikan, tidak melulu ada dalam tataran wacana dan rencana. Riset dan inovasi harus terus dilakukan. Secara kuantitas memang masih harus digenjot pertumbuhannya karena saat ini Indonesia jauh tertinggal dalam hal riset dan inovasi. Namun secara kualitas juga mesti dibudayakan implementasi riset dan teknologi yang tepat guna. Keluhan tentang minimnya anggaran riset seharusnya tak jadi penghalang di era disruption ini. Betapa banyak inovasi sederhana yang dapat memberi manfaat tanpa harus berbiaya besar. Kurikulum pendidikan juga harus adaptif dengan perkembangan zaman. Ada paradigma, kebutuhan dan kompetensi yang jelas berbeda antara mendidik generasi yang ingin menjadi PNS atau karyawan, dengan generasi yang hendak menjadi digitalpreneur atau membangun aplikasi startup. Disruption ini harus diterima sebagai kenyataan sehingga menjadi tantangan untuk bisa berpikir dan bersikap sesuai dengan zamannya.

Tahun 2018 adalah tahun transformasi gerakan mahasiswa. Atau hibernasi lebih tepatnya. Secara pragmatis, para mahasiswa kian menyadari bahwa yang diperjuangkannya adalah Tri Dharma, bukan Tritura. Dalam Tri Dharma ada pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bukan organisasi, demonstrasi, dan lulus lama. Lulus tepat waktu dimaknai sebagai amanah, fokus ke pendidikan dan penelitian adalah caranya. Mahasiswa abadi sudah bukan masanya. Jika tahun lalu rata-rata lama kuliah mahasiswa UGM adalah 5 tahun 3 bulan, tahun ini rata-rata mahasiswa UGM menyelesaikan studi dalam 4 tahun 8 bulan. Rata-rata mahasiswa UNY berkuliah hanya 4,5 tahun, bahkan di ITB rata-ratanya hanya 4,2 tahun. Rata-rata indeks prestasi akademik juga semakin tinggi. Sementara itu, dharma pengabdian masyarakat tidak dimaknai sempit sebagai aksi turun ke jalan. Banyak aktivitas sosial kemasyarakatan yang dapat dilakukan manusia tanpa harus terjebak ke isu sosial politik. Kontribusi nyata mahasiswa ke masyarakat dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata atau aksi penggalangan dana bencana dianggap lebih jelas menggambarkan bentuk pengabdian masyarakat, dibandingkan orasi dan demonstrasi. Kajian dan audiensi dianggap lebih mencerminkan intelektualitas dibandingkan aksi massa. Demonstrasi mahasiswa turun ke jalan dianggap sudah lewat masanya, tergantikan dengan digitalisasi gerakan mahasiswa. Aksi massa akan ada dan harus tetap ada, hanya saja aktivitas kekinian yang lebih diminati. Bulan lalu misalnya, lihat saja bagaimana respon dunia maya saat mahasiswa ditangkap, bandingkan dengan ‘perlawanan’ dari cyber army saat pembuat meme Setya Novanto ditangkap. Diakui atau tidak, ada pergeseran pola perjuangan. Kain penuh tanda tangan sebagai pernyataan sikap digantikan oleh petisi online. Penggalangan dana untuk membantu masyarakat mulai beralih ke pola crowdfunding. Manajemen isu lewat selebaran akan tak berarti apa-apa dibandingkan hiruk-pikuk perang isu di media sosial. Berbagai aplikasi bernuansa advokasi pun mulai bermunculan. Media dan kanal gerakan mahasiswa kian variatif, dan aksi massa semakin dianggap tidak kekinian.

Tahun 2018 adalah tahun berulangnya masalah pendidikan. Banyak persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan. Misalnya masalah rasio dosen dan guru besar yang masih butuh waktu panjang untuk menyelesaikannya, demikian pula terkait kualitas mereka. Masalah akses pendidikan serta biaya pendidikan yang mahal juga masih akan ada. Minimnya anggaran riset atau kurangnya sarana dan prasarana pendidikan masih terus jadi keluhan. Link and match antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia paska kampus masih jauh panggang dari api, apalagi pemerataan kualitas pendidikan tinggi. Belum lagi persoalan akreditasi, efektivitas pendidikan, ataupun kualitas lulusan, masih menjadi PR pendidikan tinggi yang belum akan segera terselesaikan. Butuh kerja ekstra memang untuk menyelesaikan semua problematika tersebut, namun setidaknya hanya butuh satu kebijakan revolusioner, out of the box dan anti-mainstream untuk mempercepat penyelesaiannya. Karena berbagai masalah yang ada sudah terlanjur ada dalam zona nyaman sehingga akan tetap stagnan jika upaya yang dilakukan hanya biasa-biasa saja.

Dan tahun 2018 adalah tahun cemas dan harap. Bukan hanya bagi para calon kepala daerah, tapi bagi pendidikan Indonesia. Beberapa tahun terakhir, perubahan terjadi begitu cepat. Tak terbendung. Dinamika begitu tinggi sementara polarisasi semakin terasa. Kebijaksanaan pendidikan lah yang diharapkan mampu mengantisipasi dan menengahinya, bukan lagi kebijakan politik yang sarat syahwat kepentingan. Di satu sisi ada kecemasan akan hancurnya peradaban dalam hitungan waktu yang cepat ketika pendidikan gagal menjadi solusi. Di sisi lain ada harapan besar lahirnya generasi emas yang penuh kesadaran berjuang membangun Bangsa yang mulai tua ini. Yang pasti, tahun 2018 berisi momentum dua dasawarsa reformasi Indonesia. Ada semangat pembaruan yang menyertai. Tahun 2018 juga berisi momentum 11 dasawarsa kebangkitan nasional. Sebuah kebangkitan yang identik dengan tapak tilas peran pemuda dan pendidikan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ya, tahun 2018 adalah tahun reformasi kebangkitan pendidikan Indonesia. Semoga.

Mahasiswa Ada Kok, Gak Kemana-mana

Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu. Ku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku. Sampaikanlah pada bapakku, aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia. Rataplah malam yang dingin. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki malam. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki keadilan…” (Ost. Gie)

Beberapa waktu lalu penulis sempat berbincang dengan sekumpulan mahasiswa dari berbagai universitas. Salah seorang mahasiswa ITB menyampaikan keresahannya tentang kepedulian mahasiswa yang terasa kian sulit untuk digugah. Penulis menanggapinya dengan mencoba memahami kondisi mahasiswa saat ini tanpa membandingkan dengan euphoria kondisi mahasiswa di masa lalu. Tantangannya berbeda. Pun penulis juga sampaikan bahwa kepedulian terwujud dalam aksi nyata, bukan sebatas keprihatinan dalam do’a. Karenanya bentuk kepedulian tidak melulu harus berupa aksi massa, walaupun tetap harus ada yang melakukannya. Yang penting harus ada keresahan yang kemudian menjelma menjadi gerak dalam aktivitas nyata. Yang menjadi masalah adalah ketika tidak merasa ada masalah, tidak peka terhadap problematika yang dihadapi bangsa ini.

Penulis jadi teringat sajak yang ditulis salah seorang senior saya di FTUI dan BEM UI beberapa saat lalu yang mempertanyakan kemana gerangan para pemuda. Tulisan serupa juga diungkapkan salah seorang aktivis alumni ITB yang sempat mendapat respon balik dari juniornya mahasiswa ITB. Tulisan-tulisan senada lainnya bisa di-googling, tidak perlu penulis sampaikan dalam tulisan ini. Intinya, memang terdapat perbedaan antara gerakan mahasiswa di masa lalu dengan dinamika mahasiswa saat ini. Ketika keresahan para alumni akan adik-adiknya yang dinilainya terjebak semakin hedonis dan individualis, tidak bertemu dengan pembelaan mahasiswa yang merasa biaya kuliah yang semakin tinggi dengan beban akademis yang semakin berat.

Alhasil, gerakan alumni kembali menggunakan almamaternya yang sejatinya merupakan bentuk kepedulian jadi terkesan aneh. Ekskalasi isu tanpa momentum yang tepat justru kurang mendapat tempat di hati masyarakat. Para alumni jadi terkesan sekedar post power syndrome, bahkan nuansa politis lebih terlihat dibandingkan gerakan moral intelektual, sementara mahasiswa kurang mendapatkan pendewasaan yang baik dalam membangun gerakan. Gerakan alumni ini selain mengangkat isu permasalahan bangsa juga memperlihatkan problematika yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini. Sayangnya, penyadaran yang dibangun belum didesain sempurna untuk menyelesaikan permasalahan.

Apatisme memang menjadi tantangan gerakan mahasiswa saat ini, tidak perlu ditutup-tutupi atau berusaha terus mencari pembenaran. Tidak perlu juga menyalahkan pihak eksternal, termasuk alumni yang sebenarnya juga punya andil. Kembali turunnya alumni sejatinya menunjukkan ada yang salah dengan kaderisasi gerakan mahasiswa. Biaya kuliah memang kian mahal tapi nyatanya parkiran kampus semakin penuh, mahasiswa semakin banyak yang memiliki barang mewah dan gemar menghabiskan waktu ke pusat perbelanjaan ataupun tempat makan kelas menengah ke atas. Beban akademis mungkin semakin tinggi, tetapi nilai dan kelulusan semakin mudah, teknologi informasi juga telah jauh berkembang. Masalahnya cuma di pengelolaan waktu yang lebih efektif dan efisien.

Jadi tidak perlu ditanya kemana mahasiswa, mereka ada, sibuk berkuliah di tengah sistem pendidikan yang mencetak robot. Mahasiswa ada dan tidak kemana-mana, sibuk dengan dirinya dan masa depan semunya. Sebagai kakak, alumni semestinya dapat berperan untuk mengenalkan mahasiswa pada dirinya, lingkungan masyarakatnya, bangsa dan negaranya, serta masa depannya. Bukan lantas mengambil alih peran mahasiswa ataupun mendikte mereka dengan solusi yang berbeda zaman. Permasalahan gerakan mahasiswa kontemporer haruslah diurai oleh mahasiswa itu sendiri, sebagai elemen bangsa yang cakap berpikir dan bertindak. Alumni bisa menjadi katalisator, tetapi bukan penentu sikap. Problematika akan terselesaikan ketika segenap elemen dapat berbuat sesuai peran, fungsi dan tanggung jawabnya.

Dunia pendidikan tinggi kita saat ini memang banyak melahirkan sarjana yang biasa dan luar biasa. Luar biasa dapat lulus cepat dengan indeks prestasi gemilang. Tetapi dunia kampus lupa untuk menghasilkan sarjana yang biasa di luar, mencermati perubahan zaman, berinteraksi dengan masyarakat, dan menjadi bagian dari solusi atas permasalahan bangsa. Tri Dharma perguruan tinggi seolah berhenti di tataran pendidikan dan penelitian, meninggalkan sisi pengabdian masyarakat. Segenap pemangku kepentingan perlu kembali diingatkan bahwa mahasiswa masih menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat Indonesia. Mahasiswa adalah elemen strategis bangsa yang mampu membawa perubahan baik secara vertikal maupun horizontal. Beban berat yang tidak banyak disadari para mahasiswa.

Mahasiswa perlu didukung untuk menjawab tantangan gerakan mahasiswa di zamannya. Pertanyaan ‘dimana mahasiswa’ tampak tidak berbeda dengan pertanyaan ‘kapan menikah’ atau ‘kapan punya anak’. Alih-alih memotivasi, justru bisa mengerdilkan. Tidak solutif. Jangan-jangan mahasiswa saat ini hanya mewarisi ‘pesta, buku, dan cinta’ dari para seniornya, bukan idealisme perjuangan. Sekarang pertanyaannya adalah ‘bagaimana mahasiswa akan mengambil sikap’, mandiri dan independen dalam mengatasi permasalahan mereka serta permasalahan bangsa dan Negara. Di tengah arus apatisme yang kian merebak, penulis optimis masih ada mahasiswa-mahasiswa ‘setengah dewa’ yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dan terus berkontribusi melakukan perbaikan. Di ruang kuliah, di organisasi, di tengah masyarakat, dimanapun mereka berkata. Penulis yakin setiap zaman ada pahlawannya, dan masih ada pahlawan mahasiswa di zaman ini. Mahasiswa peduli bukan utopis. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih. ‘Tuk kebenaran dan keadilan, menjunjung totalitas perjuangan. Seluruh rakyat dan mahasiswa, bersatu padu bergerak bersama. Berbekal moral intelektual, selamatkan Indonesia tercinta…

Kala Demonstrasi Tak Lagi Menghasilkan Perubahan

(Sebuah analisa dengan pendekatan Change Management)

Pada umumnya manusia enggan beranjak dari zona nyaman. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi resitensi seseorang terhadap perubahan. Manusiawi. Orang takut tidak dapat menghadapi persoalan karena perubahan. Perubahan mengandung unsure ketidakpastian (uncertainly). Selain itu perubahan dapat menimbulkan kerugian pribadi (personal loss) bagi mereka yang memiliki investasi pada status quo. Status, uang, kekuasaan, teman, kesenangan, dll dapat hilang karena perubahan. Pertaruhan yang besar. Makin besar investasi seseorang dalam sistem berjalan, makin besar kemungkinan penolakannya terhadap perubahan. Selain perubahan memang tidak juga dapat menjamin pasti hadirnya perbaikan.

Teori Perubahan
Menurut teori medan gaya (force field theory), peningkatan driving forces akan meningkatkan kinerja sekaligus restraining forces. Perubahan –yang biasanya dilakukan dengan menekan (push)— akan mendapat reaksi balik. Jadi, cara efektif untuk mendorong perubahan bukan dengan peningkatan driving forces tapi dengan pengurangan restraining forces. Suatu program perubahan terencana dapat dilakukan dengan internalisasi manfaat perubahan (mengurangi restraining forces) dan secara bersamaan memperkuat driving forces di dalam organisasi.

Menurut teori/ model proses perubahan (model of change process, Kurt Lewin & Edgar H Schein), masalah yang menyulitkan perubahan adalah ketidaksiapan orang merubah kebiasaan & perilaku lama serta perubahan pada seseorang yang tidak lama. Pada fase unfreezing terjadi proses menjadikan kebutuhan perubahan sebagai suatu yang nyata. Tiap lini siap untuk berubah, biasanya terjadi ketika ketidakidealan jelas dirasakan. Setelah itu, melalui identifikasi dan internalisasi nilai-nilai terciptalah perubahan, dimana agen perubah mampu menciptakan situasi dan nilai-nilai baru, sesuai kebutuhan perubahan. Kemudian dibutuhkan proses mengunci perubahan ketika manfaatnya sudah dapat dirasakan. Untuk mengunci hasil dan pola perilaku yang baru diperlukan mekanisme penunjang berupa apresiasi, penghargaan, reward, pengakuan dan penguatan lainnya.

Menurut teori Kesiapan Sistem (Systems Readiness, David B Gleicher), suatu perubahan bisa gagal karena perubahan system ke suatu keseimbangan baru membutuhkan energi yang besar, memenuhi rumus :

dimana :
C = Change/ perubahan
A = Tingkat ketidakpuasan terhadap status quo
B = Kejelasan bentuk perubahan yang diinginkan
D = Kejelasan langkah praktis perubahan yang akan dilakukan
X = Biaya perubahan

Dan perubahan hanya dapat terjadi ketika faktor-faktor pendukung perubahan lebih besar dari biaya perubahan. Terakhir, dikenal teori perubahan yang cepat ketika pekerjaan berhadapan dengan interupsi yang konstan. Kala itu kondisi berada pada batas kekacauan, ada tuntutan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya & banyak aktivitas yang dikendalikan oleh aturan-aturan yang dibuat sambil jalan (the white water rapids metaphor).

Menangani Resistensi
Berlawanan dengan status quo, secara fitrah, manusia ingin terus lebih baik dan menjadi yang terbaik. Dari sinilah titik tolak perubahan dilakukan. Ada banyak cara yang dapat diperbuat untuk menangani resistensi diantaranya memberikan pemahaman dan berkomunikasi, melakukan pelibatan/ partisipasi dalam pengambilan keputusan, meningkatkan ketrampilan, melakukan manipulasi, kooptasi, negosiasi bahkan koersi kepada pihak yang melakukan penolakan.

Demonstrasi dan Perubahan
Terlepas dari sebagai upaya melakukan pencerdasan sekaligus menunjukkan kepedulian dan menyuarakan aspirasi masyarakat, sering muncul pertanyaan: “Dapatkah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa membuat perubahan?”. Tentu ada pro dan kontra. Dan jika menilik pada perjalanan sejarah, memang demonstrasi kadang dapat menghasilkan perubahan dan kadang tidak.

Berdasarkan teori tentang manajemen perubahan, ada hal-hal yang perlu diperhatikan untuk efektivitas perubahan yang diusung suatu gerakan mahasiswa. Pertama, pentingnya membangun kesadaran akan pentingnya perubahan. Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya dibutuhkan waktu, data dan fakta sehingga timbul pemahaman bersama bahwa kita memang harus berubah. Gerakan mahasiswa tidak seharusnya eksklusif dan hal ini sering dilupakan. Jangankan upaya pewarnaan dan pengarahan opini ke para pejabat maupun masyarakat, demonstranpun sering tidak memahami mengapa mereka harus melakukan demonstrasi. Kedua, perjelas arah dan bentuk perubahan, bahkan bila perlu beserta langkah-langkah taktis menuju perubahan yang diinginkan. Solutif dan mudah dipahami. Hal ini –mungkin— yang dapat menjawab tantangan disorientasi gerakan mahasiswa sekaligus menjadi detail format membangun gerakan.

Ketiga, pastikan tidak bermasalahnya hal-hal yang terkait dengan komunikasi (koordinasi, negosiasi, audiensi, diplomasi, dsb). Opini banyak tergantung pada efektivitas komunikasi dan perubahan banyak tergantung pada manajemen opini. Selama proses komunikasi internal dan antar linmi masih bermasalah, maka perubahan yang diharapkan relatif sulit terjadi. Keempat, berani bukan nekad. Ada unsure intelektualitas dan persiapan matang yang harus senantiasa mengiringi. Perubahan tidak akan efektif dan akan sangat mungkin destruktif jika dilakukan serampangan. Juga jangan berharap perubahan ‘turun dari langit’ sehingga pasrah menunggu ‘hidayah’. Semuanya harus terencana dan cerdas, walau pastinya tidak akan terlepas dari resiko.

Terakhir, membangun mentalitas pejuang-pejuang perubahan. Baiknya dimulai dari diri sendiri yang mau mendengarkan (kritikan) orang lain, mau menerima perbedaan, berani mengalah, meminta maaf dan berlapang dada/ memaafkan. Mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk diri, rela berkorban, berani menerima resiko, terus meningkatkan kemampuan diri dan tetap bersemangat dalam berjuang. Selanjutnya dibangun mentalitas perubahan dalam komunitas kecil, organisasi kemahasiswaan hingga sekup yang lebih besar.

Dapatkah demonstrasi membuat perubahan? Tentu saja! Sejarah pernah membuktikannya. Jika diiringi dengan niat ikhlash tanpa cacat, cara yang cerdas dan tepat serta mentalitas penuh semangat. Dan Allah SWT pun takkan berat menghadirkan perubahan yang hebat. Selanjutnya tinggal bagaimana dan dimana kita?

Wallahu a’lam bishawwab