Tag Archives: do’a

Yang Terbaik Bagimu

Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah), by Ada Band

Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja…
Indahnya saat itu, buatku melambung, disisimu terngiang…
hangat nafas segar harum tubuhmu…
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu…

Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu…
Patuhi perintahmu, jauhkan godaan yang mungkin kulakukan…
dalam waktu ku beranjak dewasa…
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak…

Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya…
Ku terus berjanji takkan khianati pintanya…
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu…
Kan ku buktikan, ku mampu penuhi maumu…

Andaikan detik itu ‘kan bergulir kembali…
Kurindukan suasana, basuh jiwaku, membahagiakan aku…
yang haus akan kasih dan sayangmu…
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati.
..

Perkenalkan, Muthiah Rheviani Udiutomo

Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)

Alhamdulillah, prosesi aqiqah #DeMuthi terlaksana dengan lancar tepat di hari ketujuhnya, berbeda dengan prosesi aqiqah sang kakak yang tidak bisa tepat di hari ketujuh karena hampir seminggu masih harus dirawat di Rumah Sakit. Prosesi aqiqah kali ini juga lebih sederhana dan singkat, karena esensinya hanya menjalankan sunnah Rasulullah SAW sekaligus sebagai ungkapan syukur atas kehadiran buah hati dalam keadaan sehat. Tahadduts bin ni’mah. Apalagi kami belum genap satu tahun tinggal di perumahan baru sehingga menjadi penting membangun silaturahim dengan masyarakat sekitar.

Idealnya, pemberian nama juga dilakukan di hari ketujuh sebelum mencukur rambutnya, tetapi waktu seminggu tampaknya terlalu lama untuk bersabar menjawab pertanyaan ‘siapa namanya?’ dari rekan-rekan dan kerabat. Walaupun penentuan nama kali ini tidak semudah sebelumnya, bahkan sampai ketika bermalam di bidan pun nama belum difiksasi, namun akhirnya nama #DeMuthi sudah dilaunching sehari setelah kelahiran. Salah satu hal yang mempersulitnya adalah pergeseran waktu kelahiran dari yang diperkirakan di bulan Mei menjadi di awal Juni, tepatnya 3 Juni lalu. Si kakak yang sudah menyiapkan nama panggilan Mei-chan untuk adiknya juga harus dipahamkan bahwa nama adiknya adalah #DeMuthi. ^_^

Muthiah Rheviani Udiutomo, begitu kami (akhirnya) menamainya setelah melalui perenungan mendalam. Polanya tetap sama seperti nama kakaknya: nama shahabiyah/ orang shalih + nama yang bermakna baik + udiutomo. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya mereka (umat-umat terdahulu) menamakan (anak-anak mereka) dengan nama para nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka”. Berbeda dengan anak laki-laki, nama shahabiyah relatif terbatas, dan tidak ada Nabi dan Rasul perempuan. Akhirnya pilihannya terbatas, padahal salah satu fungsi nama adalah sebagai pembeda. Nama Rumaisha yang digunakan kakaknya saja sudah banyak yang menggunakannya, apalagi nama-nama  yang lebih popular seperti Maryam, Khadijah, Fathimah atau ‘Aisyah.

Singkat kata, terpilihlah nama Muthiah yang berarti perempuan yang ta’at, karena bagaimanapun nama adalah do’a. Sama halnya dengan Rumaisha (atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim), Muthiah juga merupakan sosok shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Keta’atannya pada suaminya menjadi teladan yang sulit ditemui di masa sekarang ini. Terlepas dari kontroversi nama Muthiah yang mungkin akan dibahas dalam tulisan lain, menjadi hal yang unik ketika mendapati bahwa ustadzah yang mengisi taushiyah dalam prosesi aqiqah juga bernama Muthiah. Nama Muthiah jika disingkat menjadi Muthi sebagai nama panggilan juga mengandung makna yang baik: orang yang ta’at.

Rheviani berasal dari kata ‘Rheva’ yang dalam bahasa latin berarti lahir dengan kekuatan. Salah satu hal yang paling berkesan dalam persalinan #DeMuthi adalah lahir dengan proses kelahiran normal 5 hari setelah hari perkiraan lahirnya dengan berat dan tinggi badan (3.2kg/ 49cm) yang lebih besar dari kakaknya (2.9kg/ 46cm) yang lahir melalui SC. ‘Revia’ sendiri merupakan bentukan dari kata ‘Reva’ yang berarti mampu bertahan. Dalam referensi lain, ‘Reva’ juga bermakna cantik dan kuat, rajin, pekerja keras, menyukai perubahan dan variasi, intuitif dan penuh inspirasi, mandiri, kritis terhadap diri dan orang lain. Sementara akhiran ‘ni’ menunjukkan anak kedua (‘ni’ dalam bahasa Jepang artinya dua) sebagaimana kata ‘alif’ dalam nama kakaknya menunjukkan anak pertama. Akhiran ‘ni’ juga menunjukkan bulan ‘Juni’ sehingga ide awal panggilan ‘Mei-chan’ bisa menjadi ‘Ni-chan’.

Nama tengah ini disengaja tidak menggunakan nama dari bahasa Arab yang di masa sekarang kerap mempersulit mobilitas seseorang. Penekannya lebih kepada maknanya baik. Penggunaan tiga kata dalam nama juga disengaja untuk memudahkan seseorang memperoleh paspor untuk umroh dan haji tanpa harus menambahkan nama. Untuk nama belakang, ‘udiutomo’ yang berarti mencari keutamaan tetap digunakan karena seseorang sebaiknya menisbatkan dirinya kepada nama ayahnya. “Panggillah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah” (QS. Al-Ahzab: 5). Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud yang sedikit lemah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian, maka pilihlah nama kalian yang paling baik”.

Salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberikan nama yang baik, nama yang sekaligus menjadi do’a kebaikan dari orang tua kepada anaknya. Semoga pemberian nama Muthiah Rheviani Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan kedua yang kuat, rajin, dan mandiri serta penuh ketaatan dalam kebaikan’… Aamiiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Cinta dalam Wahnan ‘Ala Wahnin

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan wahnan ‘ala wahnin (lemah yang bertambah-tambah), dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Ibu… Ibu…”, demikian erang istriku di malam itu, menjelang kelahiran buah hati kami. Istriku bukan memanggil ibunya untuk turut menemani proses kelahirannya, namun mengingat ibunya. Betapa besar rasa sakit yang harus diderita seorang ibu saat akan melahirkan anaknya, apalagi secara normal. Istriku memang sangat berharap dapat melahirkan secara normal, sebab persalinan sebelumnya harus melalui SC. Namun ternyata rasa sakit yang mendera begitu dahsyatnya hingga nyaris membuat putus asa. Sangat tidak bisa dibandingkan dengan sakit ketika sunat. Rasa sakit yang ini tidak terbayangkan.

Rasa pusing, mual, lemah, kadang bercampur demam ketika awal masa mengandung ternyata tidak ada apa-apanya. Beratnya membawa janin kesana-kemari juga belum seberapa. Bahkan sakit di punggung dan pinggul sehingga sulit tidur saat kehamilan semakin tua juga masih lebih ringan dibandingkan rasa sakit yang menyertai di saat-saat akhir jelang persalinan. Pantas saja tidak sedikit teman yang mengingatkan untuk mendampingi istri saat persalinan. Bukan sekedar karena istri butuh penguatan. Momen ini menyemai  kekaguman dan cinta yang serta merta tumbuh pada perempuan berpredikat IBU.

Luqman, salah seorang ahli hikmah yang namanya tercantum dalam Al Qur’an, mengajarkan hal penting dalam pendidikan anak. Setelah ia mengajarkan untuk memenuhi hak Allah SWT dengan menjauhi syirik dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, ia lantas mengajarkan untuk memenuhi hak kedua orang tua, yaitu dengan berbakti kepada keduanya. Lebih spesifik lagi, Luqman mengingatkan akan hak seorang ibu yang telah bersusah payah mengandung dan membesarkan seorang anak.

Dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alaih dikisahkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi SAW menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi SAW menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi SAW menjawab, “Kemudian ayahmu!”. Imam Qurthubi menjelaskan hadits ini bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Rasulullah SAW menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang Yaman itu bersenandung, ”Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.” Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”

Ya, kebaikan dan cinta yang telah diberikan seorang ibu tidaklah akan mampu dibalas. Dan seorang ibu memang tidak menuntut banyak balasan atas semua pengorbanannya. Ikhlash dan tanpa pamrih. Cukup kita yang tahu diri untuk mencoba membahagiakannya dan membuatnya selalu tersenyum. Bersyukurlah orang-orang yang masih memiliki ibu dan mampu menunjukkan baktinya kepadanya. Jarak tidak akan jadi kendala jika seseorang benar-benar cinta. Cinta dalam segala kepayahan yang beliau rasakan mungkin memang takkan pernah terbalaskan, namun masih ada cinta dan perhatian tulus yang dapat tersampaikan. Bahkan jika sosok ibu sudah tiada, masih ada untaian do’a dalam keheningan malam yang sangat beliau rindukan…

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)

Ayat-ayat Ramadhan yang Unik

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya permulaan Al Qur’an sehingga disebut juga sebagai Syahrul Qur’an. Interaksi seseorang dengan Al Qur’an bahkan merupakan salah satu indikator keberhasilan Ramadhan. Sayangnya, masih banyak yang mengira bahwa interaksi dengan Al Qur’an ditentukan dengan banyaknya ayat yang dibaca ataupun frekuensi khatam Al Qur’an. Padahal selain membaca, juga ada keutamaan menghapal, mentadaburi dan mengamalkan Al Qur’an. Betapa banyak orang yang mengejar target tilawah Qur’an untuk khatam minimal sekali selama bulan Ramadhan namun mengabaikan ilmu tajwid dan tartilnya bacaan. Banyak sekali orang yang khatam Al Qur’an di bulan Ramadhan, namun bisa dihitung jumlahnya yang sudah khatam membaca tafsir Al Qur’an, atau paling tidak mengkhatamkan terjemah Al Qur’an. Padahal pengamalan Al Qur’an lebih ditentukan oleh baiknya pemahaman yang lahir dari tadabur, bukan frekuensi khatam Al Qur’an ataupun indahnya bacaan. Dalam kesempatan ini, penulis mencoba menadaburkan ayat-ayat Ramadhan yang termaktub dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183 sampai 187. Penulis yang bukan ahli tafsir tentu saja melihatnya dari sudut pandang keunikan, renungan dan yang menginspirasi, tidak mendalami asbabun nuzul, ilmu nahwu, ilmu tafsir, ilmu fiqh dan sebagainya. Untuk tafsir beneran bisa dibaca di kitab-kitab tafsir, namun penulis mendapati beberapa hal menarik seputar ayat-ayat yang berkisah tentang kewajiban berpuasa.

Pertama, banyak khatib yang menyampaikan bahwa dalil wajibnya berpuasa di bulan Ramadhan adalah Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183 yang tercantum di atas lengkap dengan bunyi ayatnya yang mungkin sudah kita hapal karena sering sekali diulang di bulan Ramadhan. Namun penulis berpendapat lain. Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183 hanya menyampaikan kewajiban berpuasa seperti umat terdahulu tanpa ada penjelasan waktunya. Ayat berikutnya sudah disebutkan lebih spesifik, “(yaitu) pada hari-hari yang ditentukan…” (QS. Al Baqarah: 184), tapi kapan pastinya masih belum terjawab. Baru pada ayat berikutnya diperjelas, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al Baqarah: 185). Jadi, menurut penulis ayat ini lebih tepat dinobatkan sebagai dalil wajibnya puasa di bulan Ramadhan dibandingkan dua ayat sebelumnya. Ekstremnya, tanpa dua ayat sebelumnya pun ayat ini jelas menegaskan perintah untuk berpuasa di bulan Ramadhan.

Pertanyaan kritisnya, mengapa tidak langsung saja disebutkan “…kutiba ‘alaikumush shiyam fi syahrur Ramadhan…” atau langsung disebut saja bulan Ramadhan tanpa “hari-hari yang ditentukan”? Disinilah menariknya. Perintah puasa kepada umat-umat terdahulu tidak dikhususkan di bulan Ramadhan, sehingga tidak tepat jika Ramadhan sudah disebut di awal dan disandingkan dengan informasi bahwa umat-umat terdahulu juga diperintahkan berpuasa. Sementara informasi bahwa umat-umat terdahulu juga diperintahkan berpuasa menjadi penting untuk menegaskan konektivitas agama tauhid sekaligus menghilangkan keraguan bahwa berpuasa itu sulit untuk dilakukan. Adapun menyebutkan ‘hari-hari yang ditentukan’ menunjukkan keistimewaan hari-hari tersebut, dibandingkan langsung menyebut bulan Ramadhan. Ada penekanan, sebagaimana perkataan “tugas harus dikumpulkan pada hari yang ditentukan”. Ada yang misteri yang spesial, sebagaimana perkataan “saya punya kejutan yang akan saya sampaikan pada hari yang ditentukan”.

Lalu, mengapa tidak disebut saja, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diwajibkan berpuasa…”. Semakin menarik, menegaskan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an akan memperlihatkan keterkaitan erat antara Ramadhan dengan Al Qur’an. Sepanjang pengetahuan penulis, Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Al Qur’an, tidak ada penyebutan bulan Januari, Februari sampai dengan Desember dalam Al Qur’an (ya iya lah). Dan tidak ada pula penyebutan bulan hijriyah, dari Muharram sampai dengan Dzulhijjah dalam Al Qur’an. Kalaupun ada penyebutan nama bulan hijriyah, maknanya tidak merujuk pada nama bulan, misalnya penyebutan ‘Muharram‘ dalam Al Qur’an surah Ibrahim ayat 37 bermakna ‘yang dihormati’ bukan ‘bulan muharram’. Kalaupun ada penyebutan ‘syahrul haram‘ (bulan haram) dalam Al Qur’an, hal tersebut juga tidaklah merujuk hanya ke satu bulan. Semakin terlihat istimewanya Ramadhan dalam Al Qur’an.

Kedua, penjelasan bahwa orang sakit dan dalam perjalanan diperbolehkan menganti puasanya di hari yang lain diulang dalam dua ayat berurutan (QS. Al Baqarah: 184 – 185). Pengulangan perintah dalam Al Qur’an mungkin bukan hal asing, perintah berhukum dengan hukum Allah SWT misalnya, diulang dalam Al Qur’an surah Al Maidah ayat 44, 45 dan 47. Bahkan ada beberapa perintah yang diulang dalam ayat yang sama, misalnya perintah untuk bersabar yang diulang dalam Al Qur’an surah Al Imran ayat 200 atau perintah untuk bertaqwa yang diulang dalam Al Qur’an surah Al Hasyr ayat 18. Secara umum, pengulangan menunjukkan pentingnya sesuatu yang diulang tersebut, tidak terkecuali pengulangan ayat berkali-kali dalam Al Quran surah Ar Rahman dan Al Mursalat.

Jika yang diulang berupa perintah atau statement tentu mudah dimengerti, namun dalam hal ini yang diulang adalah keringanan atau kelonggaran (rukhshah). Pertanyaan kritisnya, seberapa penting sih keringanan ini sampai perlu diulang dua kali? Disinilah menariknya. Pun rukhshah ini diulang di dua ayat berurutan, namun penekanannya berbeda, perhatikan saja akhir ayatnya. Pada ayat 184, keringanan ini diiringi dengan sebuah statement bahwa berpuasa adalah lebih baik jika kamu mengetahui. Hal ini mengisyaratkan keutamaan syari’at berpuasa sedemikan besar sehingga jangan mudah untuk mengambil keringanan atas berbagai halangan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berbuka puasa sehari tanpa rukshah (alasan yang dibenarkan) atau sakit, maka tidak akan dapat ditebus (dosanya) dengan berpuasa seumur hidup meskipun dia melakukannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Bisa dibayangkan jika ayat tentang rukhshah ini sampai disini saja, umat Islam tentunya akan memaksakan diri untuk terus berpuasa bagaimanapun kondisinya, sebagaimana para shahabat memaksakan diri pergi berjihad dalam kondisi apapun.

Nah, pada ayat 185, keringanan ini diiringi dengan statement bahwa Allah SWT menghendaki kemudahan dan tidak hendak mempersulit. Berbagai kemudahan ini seharusnya dapat dioptimakan untuk meningkatkan rasa syukur. Statement yang mirip juga dapat ditemukan dalam Al Qur’an surah Al Maidah ayat 6 ketika Allah SWT memerintahkan untuk berwudhu sebelum shalat dan memberi keringanan dengan bertayamum. Dengan adanya keringanan kedua ini, umat Islam yang dalam kondisi tertentu tidak perlu memaksakan diri berpuasa, namun dapat menggantinya di hari yang lain. Kewajiban berpuasa sejatinya Allah SWT turunkan untuk memberikan banyak kebaikan, bukan hendak mempersulit, apalagi sampai menzhalimi hamba-Nya.

Ketiga, ada sebuah ayat yang tidak langsung berkaitan dengan ibadah Ramadhan terselip di ayat-ayat tentang puasa, yaitu “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al Baqarah: 186). Ayat yang berbeda ini jelas terlihat dan sudah banyak tafsir yang menjelaskan bahwa ada keutamaan do’a yang menyertai ibadah puasa. Ibnu Katsir misalnya, menjelaskan bahwa firman Allah SWT pada ayat ini perihal motivasi berdo’a yang disebutkan di sela-sela ayat tentang hukum-hukum seputar puasa (Ramadhan), menyiratkan petunjuk untuk bersungguh-sungguh dalam berdo’a saat menyempurnakan puasa, bahkan saat berbuka.

Orang yang berpuasa termasuk golongan orang yang do’anya tidak tertolak dan waktu berbuka adalah salah satu waktu diijabahnya do’a. “Ada tiga orang yang do’anya tidak akan ditolak: seseorang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terzhalimi” (HR. At Tirmidzi). “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika berbuka tersedia do’a yang tidak akan ditolak” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud). Ada pula tafsir yang menjelaskan asbabun nuzul ayat tersebut, bahkan ada pula yang coba menghitung penyebutan kata ganti yang menunjukkan Allah SWT dan penyebutan kata ganti yang menunjukkan hamba Allah SWT pada ayat tersebut berjumlah sama, yaitu tujuh.

Pertanyaan kritisnya, tidak adakah hal lain yang lebih mengaitkan ayat tersebut dengan ibadah puasa? Disinilah menariknya, penulis melihat ada hal lain yang unik dari ayat tersebut, berbeda dengan (sekedar) perintah berdo’a sebagaimana disebutkan jelas dalam Al Qur’an surah Al Ghafir (Ha Mim) ayat 60. Muraqabatullah, itulah intinya. Merasa dalam pengawasan Allah SWT adalah persamaan antara shaum Ramadhan dengan do’a. Puasa adalah ibadah yang hanya manusia dan Allah SWT yang tahu, seperti halnya do’a yang dipanjatkan. Orang yang mengerjakan shalat dan membayar zakat bisa dilihat dan dibuktikan, ada bukti fisik, ada saksi, orang yang menunaikan ibadah haji apalagi. Namun berpuasa menyediakan banyak kesempatan untuk ingkar tanpa diketahui manusia. Orang yang terlihat lemas, belum tentu berpuasa. Sebaliknya, mereka yang terlihat bugar tidak bisa dicap sedang tidak berpuasa. Bahkan orang yang ikut makan sahur dan berbuka belum tentu tidak batal puasanya. Yang dapat dibuktikan adalah ketika seseorang tidak berpuasa, namun tidak dapat dibuktikan seseorang tersebut berpuasa atau tidak. Sebagaimana seseorang yang berdo’a, apa yang dipanjatkan dan seberapa besar harapan seorang hamba akan terkabulnya do’a tersebut hanya Allah SWT dan yang bersangkutan yang mengetahuinya. Ya, ayat di atas tidak hanya berbicara mengenai do’a, namun juga muroqobatullah yang dekat hubungannya dengan puasa sehingga Allah SWT menjanjikan ganjaran bagi orang yang berpuasa adalah langsung dari-Nya, berbeda dengan ibadah yang lain.

Keempat, ada filosofi indah tentang hubungan suami istri dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 187, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka…”. Ya, analogi bahwa pasangan kita adalah pakaian kita cukup menarik. Banyak tafsir dan tulisan yang sudah coba mentadaburi filosofi ini. Sebagaimana pakaian untuk menutupi aurat, pasangan kita pun akan menutupi aib kita. Sebagaimana pakaian akan melindungi dari kotoran, panas dan hujan, pasangan kita juga akan melindungi kita. Dan sebagaimana pakaian akan memperindah diri kita, pasangan kita juga akan menghiasi kehidupan kita.

Pertanyaan kritisnya adalah mengapa filosofi ini perlu disampaikan dan mengapa pula persoalan becampur dengan istri perlu dijelaskan? Jika melihat lanjutan ayat tersebut dan asbabun nuzulnya, jawaban atas pertanyaan kedua dapat dipahami. Awalnya, perintah untuk meninggalkan syahwat kemaluan selama berpuasa dipahami berlaku selama sebulan penuh, ayat ini turun untuk menegaskan diperbolehkannya berhubungan dengan istri di malam hari Ramadhan. Namun pertanyaan pertama belum terjawab, mengapa perlu ada filosofi pakaian dalam rangkaian ayat Ramadhan? Mengapa tidak dicantumkan dalam Surah An Nisa saja yang banyak mengupas seluk beluk pernikahan? Atau mengapa tidak dicantumkan dekat Surah Al Baqarah ayat 223 saja yang memuat filosofi bahwa istri itu seperti lahan untuk bercocok tanam?

Sederhananya, apa hubungan filosofi pakaian ini dengan Ramadhan? Disinilah menariknya. Secara umum, kita dapat melihat bahwa Ramadhan erat kaitannya dengan rumah tangga, bulan Ramadhan adalah bulan keluarga. Aktivitas makan sahur dan berbuka bersama keluarga, membayar zakat fitrah, hingga i’tikaf dan Idul Fitri bersama keluarga hanya dapat terjadi di bulan Ramadhan. Karenanya ayat-ayat Ramadhan sudah sewajarnya memuat tentang urusan kerumahtanggaan karena memang ibadah puasa dapat mempererat hubungan kekeluargaan. Secara lebih spesifik, suasana Ramadhan yang kondusif lebih memudahkan perwujudan filosofi pakaian tersebut. Aktivitas yang dijalani bersama, termasuk menahan nafsu syahwat bersama pasangan selama bulan Ramadhan untuk mencapai derajat takwa, akan menyempurnakan filosofi tersebut. Ya, pakaian bukan sebatas untuk menutup aurat, melindungi dan menghias diri, namun pakaian tertentu yang diperoleh dari hasil perjuangan dan kerja keras, akan menjadi pembeda, identitas yang menunjukkan status. Karenanya sebaik-baiknya pakaian adalah pakaian taqwa (QS. Al A’raf : 26). Begitulah, ibadah Ramadhan akan membuka jalan bagi kita dan ‘pakaian’ kita untuk mengenakan ‘sebaik-baik pakaian’ jika dioptimalkan.

Sementara ini, empat hal tersebut yang penulis anggap menarik dari ayat-ayat Al Qur’an terkait ibadah Ramadhan, mungkin ada yang terlewat dan masih menjadi bahan yang menarik untuk ditadaburi. Semoga Ramadhan ini mempererat hubungan kita dengan Al Qur’an, memberikan kita banyak kemudahan, mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan mengantarkan kita menjadi manusia yang berpredikat mulia di sisi Allah, yaitu orang-orang yang bertaqwa.

Wallahu a’lam bi shawwab

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…
(QS. Al Baqarah: 185)

Sepenggal Do’a*

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya.

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami. Rukunkan antar hati kami.
Tunjuki kami jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang.
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua.
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda.
Jangan Engkau tanamkan di hati kami
kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman.
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan,
pengkhianatan dan kedengkian

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar.
Wahai yang menyambung segala yang patah.
Wahai yang menemani semua yang tersendiri.
Wahai pengaman segala yang takut.
Wahai penguat segala yang lemah.
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah.
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran.
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak.
Engkau Maha Tahu dan melihatnya.

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu.
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu.
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur.
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus.
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami.
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami,
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara.
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana pada kami.
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”

Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu.
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu.
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu. Adil pasti atas kami keputusan-Mu.
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu. Dengan semua nama yang jadi milik-Mu.
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu.
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu.
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu.
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib.

Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
sebagai musim bunga hati kami.
Cahaya hati kami.
Pelipur sedih dan duka kami.
Pencerah mata kami.

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh
dari taufan yang menenggelamkan dunia.
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim
dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa
dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa
dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam
dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat,
pasukan sekutu Ahzab angkara murka Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus
dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami
dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami.
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri.
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba
dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti.
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu
yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu.
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab.
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi
yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami,
ummati ummati, ummatku ummatku.
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan
semua kekayaan demi perjuangan.
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera.
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu
Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman.
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala.
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah.
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran.
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami.
Jangan jadikan kami pengkhianat
yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini.
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah.
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa.

*Doa ini dilantunkan K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan, di Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 9 Agustus 1998

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo

Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tetapi kau tetap dirimu sendiri di mataku, bukan Montague. Apa itu ‘Montague’? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah, atau apa pun dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain! Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, kalau pun mawar berganti dengan nama lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu, ambillah diriku seluruhnya” (Shakespeare dalam ‘Romeo & Juliet’)

Rangkaian kalimat di atas tertulis dalam teks drama yang dibuat William Shakespeare dalam roman Romeo & Juliet. Dikisahkan hubungan Romeo dari suku Montague dengan Juliet dari suku Capulet menemui jalan buntu karena kedua suku tersebut bermusuhan. Dalam keputusasaannya, Juliet mengangankan Romeo dapat mengganti namanya, apapun itu, sehingga dapat diterima oleh keluarga Juliet. Uniknya, hanya penggalan kalimat ‘Apalah arti sebuah nama?’ yang menjadi begitu terkenal, mengesankan penulisnya menjadi orang yang tidak mementingkan nama. Jika Shakespeare masih hidup, mungkin dia hanya akan geleng – geleng kepala, apalagi sebelumnya ia pernah mengingatkan, “Perhatikan arti di setiap kata, perhatikan makna di balik kalimatnya”.

Pentingnya nama seharusnya tidak perlu menjadi perdebatan. Kehidupan kita dipenuhi nama, baik mahkluk hidup maupun benda mati. Tak dapat dibayangkan betapa merepotkannya jika semua benda di dunia tidak memiliki nama, bagaimana kita akan menyebut suatu benda? Pentingnya nama ini sudah jelas tergambar dari bagaimana Allah SWT mengajarkan Adam untuk mengenal nama benda dan segala sesuatu setelah penciptaannya (QS. Al Baqarah : 31). Bahkan dalam beberapa ayat, Allah SWT mengecam nama – nama sesembahan kaum musyrikin, misalnya dalam QS. An Najm : 19  – 23. Dalam beberapa hadits juga disebutkan betapa Rasulullah SAW kerap mengganti nama – nama yang buruk –bukan hanya nama orang, tapi juga nama kelompok masyarakat, bahkan nama kota– dengan nama yang lebih baik (HR. Abu Daud, Turmidzi dan beberapa ahli hadits).

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa memberi nama yang baik merupakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian” (HR. Abu Daud). Nama Abdullah dan Abdurrahman memang merupakan nama yang paling disukai dan nama yang paling sesuai adalah Harits dan Hammam (HR. Abu Daud, Nasa’i dan lainnya), namun bukan berarti keempat nama tersebutlah yang harus digunakan dan tidak melulu harus berbahasa Arab. Purwo Udiutomo, misalnya, tidak berbahasa Arab, namun maknanya baik. Purwo (bahasa Jawa) atau Purwa (bahasa Sunda) artinya pertama atau terdahulu. Udiutomo berasal dari kata ‘ngudi’ dan ‘utomo’ (bahasa Jawa) yang berarti mencari keutamaan. Sehingga Purwo Udiutomo berarti anak pertama yang mencari keutamaan. Sebuah do’a orang tua yang baik.

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo
Rumaisha dalam bahasa Arab dapat diartikan ‘yang mendamaikan’ atau ‘yang merukunkan’. Jika dipisahkan, Rumaisha terdiri dari dua kata, yaitu ‘Rum’ yang dalam bahasa Kawi berarti ‘daya tarik, keindahan dan kecantikan’ dan ‘Aisha’ yang dalam bahasa Persia berarti ‘kehidupan’. Namun dasar pemberian nama Rumaisha bukanlah hal tersebut di atas, melainkan menamai dengan nama muslimah shalihah. Rasulullah SAW bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka” (HR. Muslim). Rumaisha (binti Milhan) atau lebih dikenal sebagai Ummu Sulaim, adalah ibu kandung dari Anas bin Malik, pelayan Rasulullah SAW yang meriwayatkan lebih dari 2200 hadits. Rumaisha adalah wanita yang menawan, keibuan, cerdas dan yang paling dikenang oleh para shahabat adalah wanita dengan mahar termahal, yaitu keimanan Abu Thalhah yang kemudian menjadi salah seorang pahlawan generasi sahabat. Ummu Sulaiam adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, da’iyah yang bijaksana, pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama di antara ulama Islam. Ketulusan dan komitmen Rumaisha mengantarkannya menjadi salah satu shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Profil lebih lengkap tentang Rumaisha insya Allah akan disampaikan pada tulisan selanjutnya.

Alifiandra terdiri dari dua kata, yaitu ‘Alif’ dan ‘Andra’. ‘Alif dalam bahasa Arab memiliki arti ‘ramah dan bersahabat’, sekaligus mengandung makna ‘pertama’, ‘lurus’ dan ‘benar’. Sementara ‘Andra’ dalam bahasa Skotlandia (dan beberapa negara di Eropa) berarti gagah berani. Sifat ‘ramah dan bersahabat’ dilengkapi dengan ‘gagah berani’ sehingga diharapkan dapat menghasilkan sifat ‘tidak kaku’ dan ‘dekat’, namun tetap ‘memiliki sikap dan integritas’. Sifat ‘lurus dan benar’ dioptimalkan dengan ‘gagah berani’ sehingga keistiqomahan di jalan kebenaran yang lurus tidak hanya dipertahankan, namun juga diperjuangkan dan disebarkan. Udiutomo adalah nama ayah yang umum diberikan sebagai nama belakang anak, maknanya sudah disampaikan di atas. Dalam Islam, nama ayah kerap dinisbatkan di belakang nama anak karena seseorang tidak boleh menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya (QS. Al Ahzab : 5, HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dan ulama hadits lainnya). Jadi sebaiknya bukan nama suami yang dinisbatkan di belakang nama istri, tetapi nama ayah di belakang nama anak.

Nama yang baik = Awal pendidikan anak
Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ditemui seorang pria yang mengadukan kenakalan anaknya. Umar bin Khattab r.a. berkata, “Hai Fulan, tidak takutkah kamu kepada Allah karena berani melawan dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menimpali, “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”. Umar r.a. menjawab, “Ada tiga, yakni memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya; memilihkan nama yang baik; dan mendidik mereka dengan Al Qur’an”. Mendengar uraian tersebut, sang anak menjawab, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, dan dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku, bahkan satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya”. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu….”

Salah satu hak anak adalah mendapatkan nama yang baik, disamping berbagai hak lainnya mulai dari mendapatkan ibu yang baik hingga dinikahkan. Secara sederhana, hak anak adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan pemberian nama yang baik adalah awal pendidikan anak yang baik. Nama adalah do’a, memberi nama yang baik berarti mengharapkannya senantiasa dalam kebaikan. Dari Abu Hurairoh r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya” (HR. Bukhori – Muslim). Nama adalah motivasi yang akan mempengaruhi tindak tanduk penyandang nama. Ibnu Qoyyim berkata, “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Jarang kau dapati nama yang buruk kecuali melekat pada orang yang buruk pula. Dan Allah dengan hikmah yang terkandung dalam qadha dan qadarnya memberikan ilham kepada jiwa untuk menetapkan nama sesuai yang punya“.

Semoga pemberian nama Rumaisha Alifiandra Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan pertama yang bersahabat dan mendamaikan serta gagah berani dalam mencari kebenaran dan keutamaan sebagaimana Rumaisha binti r.a’… Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

* * *

Rasulullah SAW bersabda, “Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya, “Siapa itu?” Mereka berkata, “Dia adalah Rumaisha binti Malhan, ibu dari Anas bin Malik”. (Al Hadits)

Wallahu a’lam bishawwab

Secercah Kenangan di Penghujung SMU (4/4)

Selasa, 12 Juni 2001

Kulangkahkan kakiku memasuki gerbang sekolah. Hari ini aku hendak membeli formulir UMPTN sekalian mengembalikan buku perpustakaan. Orang tuaku sudah mengingatkan untuk tidak terlalu berharap lulus PMDK dan meminta untuk segera membeli formulir UMPTN. Dan sesuai janjiku, jika hingga perpisahan sekolah belum ada pengumuman, aku akan membeli formulir UMPTN. Dan perpisahan sekolah sudah berlangsung Senin kemarin. Baru IPB, UNILA dan STT TELKOM yang memberikan pengumuman, dan ada beberapa teman non muslim disana. Sedih. Mungkin memang tahun ini tidak ada seorang siswapun yang lulus PMDK UI.

Mentari belum begitu terik ketika ku melangkahkan kaki ke ruang guru untuk mendaftar UMPTN. Sekolah masih sepi, aku segera menuju meja pendaftaran. ”Maaf Pak, saya mau daftar UMPTN”, ujarku kepada guru BK ku waktu kelas II yang menjadi konsultannya teman – teman ROHKRIS. ”IPA, IPS atau IPC?”, tanya beliau. ”Hmm, IPC, Pak!”, jawabku yang merasa ada keinginan dari orang tua agar aku ke FE, seraya memberikan biaya pendaftaran. ”Nama kamu siapa?”, tanya beliau lagi sambil menerima uang dariku dan hendak memberikannya ke guru lain di sebelahnya yang menghadap ke arah lain, asik berbincang dengan guru lain. ”Purwo Pak, eh, hmm, Purwa Udiutomo”, jawabku. Guru Sosiologiku menoleh, menerima uang pendaftaran. ”Oh, kamu yang namanya Purwa?”, tanyanya lagi. Kali ini guru Sosiologiku yang menjawab, ”Iya Pak, ini yang namanya Purwa, dipanggilnya Purwo”. Aku semakin mengerenyitkan dahi, emangnya kenapa kalo nama saya Purwa, batinku.

Belum terjawab kebingunganku, dari belakang kudengar suara memanggilku. ”Eh, ada Purwo, selamat ya…”, ujar guru Geografiku seraya sedikit berlari menghampiriku. Aku masih belum mengerti apa yang terjadi, guru – guru lain yang telah datang di ruang guru ramai menghampiriku dan mengucapkan selamat, lulus PMDK UI. Aku yang masih tidak yakin, ”Ah, jangan ’diangkat – angkat’ dulu dong kalo belum jelas, nanti jatuhnya kan sakit”, kataku. ”Iya Purwa, kamu lulus PMDK UI, sekarang surat undangannya sedang dibaca Bapak (kepala sekolah-pen)”, jelas guru BK. ”Eh, uang pendaftaran UMPTNnya gimana nih? Buat nraktir guru – guru ya?!”, seloroh guru Sosiologi. ”Ya udah, Bu. Boleh aja… hehehe…”, ujarku mencoba menenangkan jiwaku yang masih shock. Aku masih terpaku, terpana tak percaya, ketika guru Sosiologi mengembalikan uang pendaftaran UMPTNku sambil menegur, ”Eh, kok malah bengong disini, mending kamu ke musholla, sujud syukur sana…”. Aku segera bergegas ke mushalla…

* * *

Ini nyata. Kubaca berkali – kali undangan dari rektor UI di tanganku. Kini aku berada di ruang BK bersama Kepala Sekolah, beberapa guru dan dua orang teman lain yang dinyatakan lulus PMDK UI. Pengembaraan pikiranku mengalahkan wejangan yang disampaikan. Terkenang olehku bagaimana aku terlepas dari peringkat tiga besar di kelas dan memaksaku untuk melepas PMDK UI. Lalu bagaimana formulir PMDK bisa kudapatkan. Belum lagi detik – detik akhir pemilihan jurusan. Betapa mudahnya Allah memberikan jalan, betapa baiknya guru – guru dan teman – temanku yang dengan mudahnya datang membantu…

* * *

Rival beratku yang non muslim diterima di Kedokteran UI. Tapi hanya itu, tidak untuk Fasilkom, Akuntansi ataupu HI. Tidak ada lagi non muslim yang lulus PMDK UI, termasuk peraih NEM IPS tertinggi di Depok. Uniknya, temanku yang mendaftar ke Matematika dan Teknik Elektro malahan tidak lulus PMDK UI. Juga temanku yang lain, yang selalu ranking 1 dari kelas 1 SD hingga 3 SMA tak lulus PMDK Farmasi UI.

Ucapan selamat, taushiyah dan do’a terus mengalir. Kabar itu ternyata begitu cepat tersebar. Orang tuaku begitu bahagia ketika kuhubungi. Pun demikian dengan teman – temanku yang lain, juga adik – adik kelasku. Kebahagiaan ini semakin bertambah. Bahkan seniorku satu almamater, TI UI’98 yang kala itu diamanahkan sebagai kabiro PSDM FUSI FTUI segera menghubungiku. Anak – anak bola dan pecinta alam yang belakangan ini cukup dekat denganku ikut mengucapkan selamat, seorang diantara mereka cuma berujar, ”Gue sih ga kaget loe bisa lolos PMDK UI. Biar yang lain pada pinter, loe menang di do’a…”. Do’a ya? Iya, mungkin do’a kuncinya, tapi bukan do’aku, melainkan do’a orang – orang yang menyayangiku…

* * *

Maret 2008

Beberapa pekan setelah pengumuman PMDK, aku baru mengetahui dari temanku yang jauh – jauh menelpon dari Solo bahwa Teknik Industri UI termasuk jurusan favorit. Kala itu untuk IPA peringkat kedua di UI di bawah FK UI. Wah, Alhamdulillah banget, pantesan aja kayaknya pada heboh gitu aku tembus ke TI UI, kirain cuma jurusan sisa sebagaimana waktu aku memilihnya hehehe… Tapi sepenuhnya kusadari bahwa semua ini terjadi tidak bukan adalah takdir Allah… Ya, Allah telah menetapkan jalan untukku…

Jika sedikit kukenang masa – masa sebelumnya… Aku yang cuma seperti pelajar kebanyakan sebelum aku aktif di ROHIS. Motivasi terbesar masuk ROHIS karena ingin mendirikan ROHIS di SMP. Mungkin kejadiannya akan lain kalau saja saya berasal dari SMP favorit yang sudah memiliki ROHIS. Masuknya aku ke SMA juga ’kebetulan’. Aku yang sudah mengajukan keinginan melanjutkan ke SMA di Jakarta, tiba – tiba saja diarahkan untuk ke Depok oleh seorang guru yang kemudian mengurusi semuanya. Tepat hari penutupan pendaftaran. Mungkin kejadiannya akan lain kalau saja aku melanjutkan ke SMAN di Jakarta. Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, masuknya aku ke SMP juga ’kebetulan’. Aku yang sudah mengajukan keinginan melanjutkan ke SMP di Jakarta, tiba – tiba saja guru kelas 6 SD datang ke rumah dan mengarahkanku untuk ke SMP lain, beliau yang akan mengurusi semuanya. Tepat hari penutupan pendaftaran. Mungkin kejadiannya akan lain kalau saja saya melanjutkan ke SMAN di Jakarta. Ah, hidup itu penuh rangkaian ’kebetulan’… Subhanallah walhamdulillah….

Dan ’kebetulan’ nampaknya belum berakhir. Hasil UMPTN memberi jawaban. Teman yang tidak lulus PMDK Elektro dan Matematika, berhasil lulus ke Teknik Elektro UI sesuai impian mereka. Demikian pula yang berminat melanjutkan ke Farmasi UI. Namun tidak ada non muslim yang gagal PMDK tetapi lulus UMPTN. ’Kebetulan’. Bahkan ’kebetulan’ juga terjadi pada mereka yang membantuku. Teman yang memberikan inspirasi ganti ranking masuk Psikologi UI, yang ngomporin PMDK diterima FK UNS, yang ranking 3 lulus FK UNPAD, yang TOEFLnya diatas 500 jebol ke Akuntansi UI. Bahkan yang minjemin pensil dan penghapuspun lulus UMPTN. ’Kebetulan’ yang menggembirakan.

Teruntuk mereka, bagiku hanya satu hal. Bahwa Allah akan takkan mengabaikan kebaikan sekecil apapun, Ia akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik. Kita tak pernah tahu kebaikan mana yang akan menolong kita dari kesulitan, yang akan memudahkan urusan kita, yang membuat Allah ridha kepada kita. Dan akhirnya, yang namanya ikhtiar mencapai kesuksesan memang tidak dapat dipisahkan dari berbuat kebaikan. Bukan sekedar pragmatis, tapi terlalu angkuh nampaknya jika kita hanya mengandalkan hitung – hitungan kausalitas duniawi. Karena Allah-lah Zat Yang Maha Berkehendak…

Wallahu a’lam bishawwab

”Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar Rahman 59 – 61)

“Si Dullah anak musholla, rajin ibadah giat berdakwah, lulus ujian dengan hasil yang prima, jadi kebanggaan sekitarnya. Si Mukhlis aktivis ROHIS, rutin puasa Senin dan Kamis, selalu belajar tak habis-habis, ini ibadawan akademis. Ini baru muslim yang sejati, seimbang akhirat dan dunia. Bikin orang timbul rasa simpati karena lihat keberhasilannya. Si Fulan ini siapa, dia diri kita tapi yang mana, apa yang mulia atau yang tercela, semua tergantung pada kita” (Kaca Diri)