Tag Archives: fantasy football

Dan FPL (Musim Ini) Pun Usai… (2/2)

Sudah banyak situs hingga akun youtube yang menjelaskan mengenai aturan main, tips & trick, hingga rekomendasi pemain terkait FPL, pun sebenarnya menganalisis dan memilih sendiri tim FPL merupakan suatu keasyikan tersendiri. Dengan poin dan peringkat yang biasa saja tentunya tidak layak bagi saya untuk banyak berkoar-koar tentang strategi dalam bermain FPL. Namun di sisi lain barangkali ada analisis dari catatan pengalaman newbie yang bisa dijadikan salah satu referensi untuk optimalisasi mendulang poin FPL.

Pertama, manajer FPL baru perlu memahami aturan main dan istilah FPL. Misalnya bench boost, free hit, wild card, blank game week, double game week, dan sebagainya. Ketentuan bagaimana poin diberikan ataupun potensi pengurangan poin juga perlu dipahami. Anggaplah sebagai bekal awal sehingga tidak terlalu coba-coba. Kedua, pastikan availability pemain. Poin FPL memang banyak ditentukan dari keterlibatan pemain terhadap gol, misalnya mencetak gol atau assist, atau melakukan aksi penyelamatan dan cleansheet. Namun memastikan pemain ikut bertanding adalah lebih mendasar. Pertandingan FPL perdana saya di pekan 1 musim 2018/2019 berantakan karena ada empat pemain yang tidak bermain atau cidera, termasuk Son Heung-Min yang ikut Asian Games 2018. Pekan berikutnya tidak lebih baik karena keempat pemain tersebut diganti (poin minus 12) namun mubazir tidak semuanya dimainkan. Di pekan-pekan berikutnya juga kurang diuntungkan ketika mengganti pemain yang ditandai cedera namun ternyata dimainkan, dengan pemain yang tidak ditandai cidera namun ternyata tidak main atau bahkan cedera. Bagaimanapun, pemain yang ikut bertanding walaupun kalah masih berpotensi mendapat poin selama tidak banyak mendapat pengurangan poin.

Ambil contoh untuk pemain musim 2019/2020 ini. Untuk posisi kiper, banyak yang bermain penuh di 38 pertandingan. Kiper Liverpool, Alisson, yang sempat cedera di awal musim hanya ada di urutan ke-12 untuk posisi goalkeepers FPL dengan 122 poin, jauh di bawah kiper Burnley, Nick Pope (170 poin). Bahkan Alisson yang mencatatkan 13 cleansheet dan hanya kebobolan 24 gol, masih kalah jumlah poinnya dibandingkan Foster, kiper Watford (137 poin) yang bermain penuh dan hanya mencatatkan 9 cleansheet, kebobolan 64 gol, dan timnya pun terdegradasi. Di posisi defenders Liverpool, van Dijk (178 poin) memang ada di bawah Trent (210 poin) dan Robertson (181 poin) yang assistnya dua digit. Namun bermodalkan bermain penuh, 5 gol dan 2 assist, van Dijk ada di atas Doherty (Wolves, 167 poin, 4 gol, 8 assist) dan Lundstram (Sheffield United, 144 poin, 5 gol, 4 assist) yang tidak selalu menjadi pilihan utama. Pun demikian dengan Tarkowski (Burnley, 143 poin, 2 gol, 3 assist) yang bermain full, total poinnya di atas beberapa pemain yang lebih banyak terlibat dalam gol namun tak bermain penuh, misalnya Azpilicueta (Chelsea, 130 poin, 2 gol, 6 assist).

Kemudian ada Ward-Prowse, midfielder yang bermain penuh untuk Southampton, mencetak 5 gol dan 4 assist dengan total poin 117. Poin ini sama dengan Bruno Fernandes (MU, 8 gol, 8 assist), dan Dele Alli (Spurs, 8 gol, 6 assist) yang waktu bermainnya jauh lebih sedikit. Antonio yang dimainkan West Ham dengan waktu bermain hanya setengah dari Ward-Prowse, walau berhasil mencetak 10 gol dan 4 assist, total poinnya hanya 111. Untuk posisi striker, ada Jimenez (194 poin) yang bermain penuh untuk Wolves. Dengan sama-sama mencetak 17 gol, Jimenez dengan 7 assistnya mengungguli Rashford (MU, 177 poin) yang memberikan 8 assist.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak perlu terlalu sering melakukan transfer pemain, kecuali kondisi urgen akibat cedera, suspensi, dan sebagainya. Atau mempertimbangkan jadwal pertandingan ke depan. Bukan hanya transfer berlebih akan ada konsekuensi pengurangan 4 poin (-4) untuk setiap kelebihan pemain, namun tidak ada jaminan pemain yang menggantikan akan lebih baik dari yang digantikan. Apalagi bola itu bulat dan konsisten bermain baik juga tidak mudah. Belum lagi jika poin akhir perolehan sama, manajer FPL yang lebih sedikit melakukan transfer akan menempati peringkat yang lebih tinggi. Selain itu, semakin banyak transfer, semakin banyak opsi, semakin membuat pusing. Hal ini terkait dengan catatan berikutnya yaitu jangan terlalu serius dalam bermain FPL. Alih-alih menjadi hiburan, yang ada malah stres. Tak perlu dipikirkan berlarut-larut, seringkali lintasan pikiran yang muncul di awal adalah intuisi yang benar. Salah pilih starter, salah pilih kapten, hingga salah transfer adalah hall umrah dalam FPL. Selanjutnya, kecermatan dalam memanfaatkan chips, DGW, dan BGW juga menjadi seni tersendiri dalam bermain FPL.

Kiper yang paling potensial biasanya bukan yang paling mahal, namun yang paling tangguh. Banyak bermain, banyak cleansheet, banyak penyelamatan, termasuk dari titik putih. Pemain defender yang paling potensial biasanya bek sayap yang kerap memberi assist, atau bek yang diandalkan dalam situasi set piece. Posisi midfielder yang paling potensial biasanya gelandang serang yang banyak terlibat dalam gol, serta eksekusi bola mati. Gelandang serang ini sangat diuntungkan dalam mendulang poin. Di satu sisi bisa berperan sebagai striker, misalnya Martial di MU dan Antonio di West Ham. Di sisi lain dapat poin dari cleansheet. Tak heran pemain dengan poin tertinggi ada di posisi ini. Musim 2018/2019 lalu ada Salah (poin 259), Hazard (238), Sterling (234), dan Mane (231). Di musim 2019/2020 ini ada De Bruyne (poin 251), Salah (233), dan Mane (221). Sementara untuk posisi striker yang paling potensial adalah yang paling produktif mencetak gol, kemudian memberikan assist. Musim lalu ada Aubameyang (23 gol) dan Aguero (22 gol), di musim ini ada Vardy (23 gol), Aubameyang (22 gol) dan Ings (22 gol). Dan yang terbaik belum tentu yang paling mahal. Pope, De Bruyne, dan Vardy bukanlah yang paling mahal di posisinya. Hanya Trent Alexander-Arnold, bek terbaik sekaligus termahal harganya di FPL.

Dan FPL musim ini akhirnya usai. Pandemi Covid-19 membuat musim ini terasa berbeda. Head to head leagues yang cukup menarik dalam bragging rights kehilangan keseruannya justru di masa-masa krusial. Namun di sisi lain, wildcard di musim ini dapat jatah tiga kali. Dan waktu jeda antar musim pun lebih singkat. Liga Inggris 2020/2021 akan dimulai kembali 12 September 2020, hanya berjarak delapan pekan dari berakhirnya musim 2019/2020. Dan hanya berselang tiga pekan dari final Liga Champions 2020. Dan karena FPL semakin dikenal luas, bahkan ternyata di kantor dan lingkungan perumahan ada mini liga FPL, manajer FPL musim depan sepertinya akan semakin meningkat. Apalagi pandemi Covid-19 belum benar-benar berakhir sehingga games online juga semakin diminati. Belum lagi realita persaingan Liga Inggris 2020/2021 tampaknya kian sengit. Dominasi Liverpool dan Manchester City terancam dengan menanjaknya performa tim lain semisal Chelsea dan Manchester United. Hal ini tentu akan menjadi daya tarik tersendiri. Dan FPL musim ini akhirnya usai, sampai jumpa di FPL musim depan. Jika ada mini liga FPL bolehlah saya ikutan. Atau jangan-jangan ada rekomendasi fantasy football lain yang cukup menarik? Saya sudah coba UCL Fantasy, masih kalah seru lah dibandingkan FPL. Salam panah hijau!

“Football is a game of mistakes. Whoever makes the fewest mistakes wins.” (Johan Cruyff)

Dan FPL (Musim Ini) Pun Usai… (1/2)

Football is a game about feelings and intelligence” (Jose Mourinho)

Berbagai liga sepakbola Eropa telah selesai. Beberapa liga bahkan selesai lebih awal akibat pandemi Covid-19. Liga Perancis (Ligue 1) selesai di pekan ke-28 dengan pertandingan Lille vs Lyon pada 8 Maret 2020 sebagai pertandingan pamungkas. PSG ditetapkan sebagai juara Ligue 1 setelah memuncaki klasemen dengan selisih 12 poin plus satu pertandingan lebih banyak dibandingkan Marseille di posisi runner-up. Hingga saat ini kasus positif corona di Perancis masih terus bertambah pun sudah melewati puncaknya. Perancis ada di urutan ke-19 dengan lebih dari 180 ribu kasus corona dan fatality rate mencapai 16,7%. Liga Belgia (Jupiler League) juga dihentikan lebih awal menyisakan satu pertandingan di babak reguler. Club Brugge yang memimpin klasemen babak reguler dengan selisih 15 poin dinobatkan sebagai juara. Biasanya setelah babak reguler, Jupiler League dilanjutkan dengan babak play-off yang mempertemukan tim 6 besar untuk menentukan juara. Kurva Covid-19 Belgia juga serupa dengan Perancis namun dengan jumlah kasus corona 65 ribuan. Liga Belanda (Eredivisie) juga berakhir lebih awal. Pertandingan FC Groningen vs PSV Eindhoven pada 8 Maret 2020 (pekan ke-26) menjadi pertandingan terakhir musim ini. Dan tidak ada juara Eredivisie musim ini.

Beberapa liga lain yang lanjut setelah sempat dihentikan akibat Covid-19 juga telah selesai. Liga Jerman (Bundesliga) yang mulai kembali bergulir 16 Mei 2020 telah selesai pada 27 Juni 2020 dengan Bayern Munchen sebagai juaranya, selisih 13 poin dari Borussia Dortmund di posisi runner-up. Kemenangan atas tuan rumah Werder Bremen 0-1 pada 16 Juni 2020 sudah memastikan gelar juara Bayern Munchen untuk delapan musim secara berturut-turut. Liga Spanyol (La Liga) yang mulai kembali bergulir 11 Juni 2020 telah selesai pada 19 Juli 2020 dengan Real Madrid sebagai jawaranya, terpaut lima poin dengan Barcelona di posisi kedua. Kemenangan 2-1 atas Villareal pada 16 Juli 2020 telah memastikan gelar La Liga ke-34 bagi Real Madrid. Liga NOS Portugal yang dimulai kembali 3 Juni 2020 baru saja berakhir kemarin dengan FC Porto sebagai juara, unggul lima poin dari Benfica di posisi kedua. Kemenangan 2-0 atas Sporting CP pada 15 Juli 2020 sudah cukup untuk memastikan gelar liga ke-29 kali bagi FC Porto. Kemenangan 2-4 atas tuan rumah Krasnodar pada 5 Juli 2020 sudah cukup mengantarkan Zenit St. Petersburg menjuarai Premier League Rusia untuk keenam kalinya pun liga baru berakhir pada 22 Juli 2020. Di klasemen akhir, Zenit unggul 15 poin atas Lokomotiv Moskow di posisi kedua.

Liga Italia (Serie A) yang baru kembali bergulir 20 Juni 2020, baru akan selesai pada 2 Agustus 2020. Namun kemenangan 2-0 Juventus atas Sampdoria tadi malam sudah cukup mengantarkan La Vecchia Signora menjadi juara Serie A untuk sembilan musim secara beruntun. Klub-klub yang mendominasi masih itu-itu saja, tidak ada kejutan berarti. Satu-satunya klub kejutan adalah Istanbul Basaksehir yang menjuarai Liga Turki (Super Lig) untuk pertama kalinya, mengalahkan dominasi Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas. Kemenangan tipis 1-0 atas Kayserispor yang diperkuat dengan kekalahan Trabzonspor 3-4 oleh Konyaspor pada 19 Juli 2020 sudah cukup mengunci gelar juara. Pun di pertandingan terakhir tadi malam Basaksehir kalah 3-2 dari tuan rumah Kasimpasa, selisih poin akhir dengan runner-up Trabzonspor masih empat poin.

Beralih ke Liga Inggris (Premier League/ EPL) yang ada kaitannya dengan judul tulisan ini, kemenangan Chelsea 2-1 atas Manchester City pada 25 Juni 2020 mengakhiri puasa gelar liga Inggris selama 30 tahun bagi Liverpool. Walaupun perebutan tiket ke kompetisi Eropa masih sengit hingga akhir, Liverpool sudah mengunci gelar juara liga Inggris yang ke-19 pada pekan ke-31. Di klasemen akhir, Liverpool unggul selisih 18 poin dari Manchester City di posisi runner-up. Liverpool merupakan tim yang paling sedikit kebobolan (33 gol) dan hanya kalah oleh Manchester City (102 gol) dalam urusan membobol gawang lawan (85 gol). Kedua bek sayap Liverpol, Trent Alexander-Arnold (13 assist) dan Andrew Robertson (12 assist), hanya kalah jumlah assistnya oleh Kevin de Bruyne (20 assist). Namun top skor Liverpool dua musim terakhir, M. Salah (19 gol) dan Sadio Mane (18 gol), kalah produktif dibandingkan Jamie Vardy (Leicester City – 23 gol), Danny Ings (Southampton – 22 gol), Aubameyang (Arsenal – 22 gol), dan Raheem Sterling (Manchester City – 20 gol).

Fantasy Premier League (FPL) adalah sebuah permainan resmi yang diselenggarakan oleh The Football Association, asosiasi sepakbola Inggris, sebagai ajang promosi Liga Primer Inggris. FPL dimainkan dengan cara memilih 15 pemain sepakbola yang bermain di Liga Primer Inggris setiap pekannya dengan aturan tertentu, untuk memaksimalkan poin sesuai dengan kontribusinya pada pertandingan sebenarnya di Liga Primer Inggris. Pada permainan ini, para pemain FPL, yang selanjutnya disebut sebagai manajer FPL, diuji kemampuan analisisnya dalam menentukan pemain-pemain yang diharapkan meraih poin tinggi di setiap pertandingan. Musim ini adalah musim kedua saya bermain FPL. Total poin yang terkumpul sebesar 2136, menempati peringkat 644.200 dari 7.628.968 pemain FPL di seluruh dunia dan peringkat 10.617 di Indonesia. Bisa dikatakan mengalami peningkatan dibandingkan musim lalu dengan 2086 poin dan hanya menempati peringkat 967.881 dari 6.324.237 pemain FPL dunia dan peringkat 22.008 di Indonesia. Tujuh jutaan manajer FPL barangkali tidak semuanya aktif dan tidak sedikit juga yang membuat lebih dari satu akun. Namun game online dengan jutaan pemain tentu dapat dikatakan populer. Apalagi FPL adalah permainan strategi yang dinamikanya sangat ditentukan oleh realitas EPL, hal ini tentu sangat menarik.

Ada berbagai publikasi baik berupa tugas akhir, hasil penelitian, hingga buku yang mengangkat tema tentang FPL. Beberapa hasilnya pun menarik. Bermain FPL ternyata membuat manajer FPL untuk menonton lebih banyak pertandingan EPL. Hal ini tentu menjadi sarana promosi EPL yang sangat efektif. 84% manajer FPL menonton pertandingan EPL lain yang bukan pertandingan tim favoritnya. 47.5% manajer FPL akan membeli pemain dari tim rival jika dinilainya menguntungkan, bahkan 41.4% manajer FPL lebih menginginkan tim fantasinya menang dibandingkan tim favoritnya. Penghianatkah? Ternyata hasil riset menyebutkan bahwa loyalitas pada tim favorit dengan loyalitas terhadap tim fantasi adalah dua hal yang berbeda. Karenanya tidak ada penurunan loyalitas fans secara nyata seperti menurunnya penjualan tiket atau merchandise dikarenakan FPL.

Pihak penyelenggara resmi FPL menyediakan hadiah utama hingga hadiah setiap pekannya. Ada juga yang menjadikan FPL sebagai sarana taruhan. Namun penelitian menyebutkan bahwa motivasi utama untuk bermain FPL adalah bragging rights. Gengsi dan pamer. Membuktikan diri lebih bisa menganalisis pemain sepakbola, lebih memahami sepakbola, lebih beruntung, dan sebagainya. Rata-rata manajer FPL menghabiskan waktu 6.9 jam per pekan untuk keperluan FPL, dimana 96.6% waktu tersebut dihabiskan ketika jam kantor/ sekolah. Namun bukan berarti FPL menurunkan produktivitas kerja karyawan. 49% manajer FPL mengatakan bahwa FPL membantu mengeratkan hubungan dengan rekan kantor atau teman sekolah. Bahkan 62% manajer FPL mengatakan bahwa kompetisi di FPL mampu meningkatkan moral mereka.

(bersambung)