Tag Archives: hawa nafsu

Menjadi Manusia Kuat

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

Lagu berjudul ‘Manusia Kuat’ dari Tulus itu kembali terdengar di tengah pandemi Covid-19. Lagu yang merupakan salah satu official song Asian Para Games 2018 ini memang kental nuansa motivasi untuk mengatasi segala rintangan menjadi manusia kuat. Asian Para Games adalah suatu perhelatan olahraga penyandang disabilitas terbesar di Asia. Selain ‘Manusia Kuat’, official songs Asian Para Games 2018 lainnya adalah ‘Dream High’, ‘Sang Juara’, ‘Kita Semua Sama’, dan ‘Song of Victory’. Lagu ‘Dream High’ yang dinyanyikan Sheryl Sheinafia berkolaborasi dengan penyanyi tunantra, Claudya Fritska, juga memiliki konten motivasi pantang menyerah untuk menggapai impian. Selain Claudya, penyanyi tunanetra lainnya yang turut menyanyikan official songs adalah Allafta Hidzi Sodiq (Zizi) yang mendampingi Adyla Rafa Naura Ayu (Naura) menyanyikan ‘Sang Juara’ dan Putri Ariani yang bersama artis lainnya membawakan ‘Song of Victory’. Mereka dan para atlet Asian Para Games sudah membuktikan jalan menjadi manusia kuat yang berani berjuang dalam kondisi bagaimanapun untuk meraih cita dan impian.

Kau bisa patahkan kakiku, tapi tidak mimpi-mimpiku…
Kau bisa lumpuhkan tanganku, tapi tidak mimpi-mimpiku…

Ketika lagu ‘Manusia Kuat’ ini kembali menggema di tengah wabah virus corona, pesan yang disampaikan juga sama. Selalu ada harapan di tengah segala ujian. Yang terpenting adalah menguatkan jiwa kita, dan melengkapinya dengan usaha terbaik untuk keluar sebagai pemenang. Mentalitas dan sugesti positif memiliki makna penting untuk melawan penyakit. Jangan sampai kalah sebelum berperang. Pikiran dan sikap mental negatif akan melemahkan sistem imunitas sehingga fisik lebih rentan terhadap penyakit. Relaksasi pikiran dan berdamai dengan jiwa menjadi langkah penting untuk menangkal virus corona. Tentu harus disertai dengan upaya terbaik lainnya. Sehingga yang muncul bukan sikap menyepelekan, namun tetap tenang dalam kehati-hatian.

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ukuran utama manusia yang kuat bukanlah ukuran fisik, namun ukuran kebesaran jiwanya. Kemampuan mengendalikan jiwanya dalam kondisi emosi, dan keberanian untuk memaafkan. Menurut Imam Ibnu Battal, sebagaimana dikutip Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari’, hadits tersebut menunjukkan bahwa berjuang mengendalikan nafsu itu lebih berat dari pada berjuang melawan musuh. Imam Ibnu Hajar menambahkan bahwa musuh terbesar bagi seseorang adalah syaithan yang ada pada dirinya dan nafsunya. Sementara marah itu timbul dari keduanya. Oleh karana itu, barangsiapa yang bisa berjuang melawan amarahnya sampai bisa mengalahkannya disertai juga dengan melawan nafsunya maka ialah orang yang paling kuat.

Kau bisa merebut senyumku, tapi sungguh tak akan lama…
Kau bisa merobek hatiku, tapi aku tahu obatnya…

Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat. Bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, namun juga mengendalikan diri dari segala hal yang dapat mengurangi pahala puasa, termasuk mengendalikan amarah. “Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari ia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’” (HR. Bukhari dan Muslim). Ramadhan adalah momentum tepat untuk upgrading diri menjadi manusia kuat. Bukan hanya sehat fisik karena berpuasa, namun juga kuat jiwa karena terbiasa mengendalikan hawa nafsu.

Manusia-manusia kuat itu kita… Jiwa-jiwa yang kuat itu kita…

…Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya…”, demikian salah satu petikan lirik lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, karya W.R. Supratman. Untuk membangun Indonesia, dibutuhkan jiwa-jiwa yang terbangun, dan badan-badan yang terbangun. Tentu bukan tanpa alasan kata ‘jiwa’ dituliskan lebih dulu dari kata ‘badan’. Karena bagaimanapun, bangsa yang kuat dibangun dari jiwa yang kuat, baru kemudian badan yang kuat. Semangat pantang menyerah dan berjuang hingga titik darah penghabisan adalah salah satu perwujudan dari jiwa yang kuat tersebut. Bahkan di stanza lain lagu ‘Indonesia Raya’, lirik tersebut diganti dengan “…Sadarlah hatinya, sadarlah budinya, untuk Indonesia Raya…”. Semakin meneguhkan untuk membangun Indonesia butuh kejernihan hati dan keluhuran budi, tidak cukup hanya pembangunan fisik belaka.

Kau bisa hitamkan putihku, kau takkan gelapkan apa pun…
Kau bisa runtuhkan jalanku, ‘kan kutemukan jalan yang lain…

Berbagai macam ujian dan cobaan sejatinya adalah pupuk untuk menumbuhkan jiwa yang kuat. Bagaimanapun, pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang tenang. Masalah dan kendala selalu ada dalam kehidupan, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Putus asa bukanlah pilihan sebab jalan keluar selalu tersedia. Jiwa yang kuat inilah yang akan membentuk pribadi yang kuat. Yang kemudian akan menjadi fondasi dalam membangun masyarakat, bangsa, dan negara yang kuat. Perkara jiwa adalah perkara kemauan, bukan kemampuan. Karenanya, akhirnya berpulang ke pribadi masing-masing, maukah menjadi manusia kuat yang memiliki jiwa yang kuat? Sisanya, biarlah Sang Pemilik Jiwa yang akan menguatkan siapa yang dikehendaki-Nya.

“…Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS. Ali Imran: 13)

Dari Karantina ke Karantina

“Menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian.” (Emha Ainun Nadjib)

Tak terasa, Ramadhan kembali datang menyapa. Kali ini dalam kondisi yang tidak biasa. Sudah enam pekan ini aktivitas kerja dilakukan dari rumah, work from home istilah kekiniannya. Artinya, sudah lebih dari 40 hari aktivitas ke luar rumah dan bersosialisasi secara fisik dibatasi. Social distancing dan physical distancing, istilahnya. Interaksi intensif hanya dengan anggota keluarga. Dan Ramadhan tahun ini kemungkinan akan berjalan dengan pola serupa. Menikmati Ramadhan dari rumah saja. Agak ada aroma romantika libur sekolah selama berpuasa Ramadhan di zaman Gus Dur, tapi ini tidak sama. Ada virus corona yang mengancam di luar sana. Pandemi Covid-19 membuat manusia ‘terkarantina’ di rumahnya. Imbuhan ter- yang lebih bermakna ‘terpaksa’ dibandingkan ‘tidak sengaja’.

Dalam KBBI, karantina didefinisikan sebagai tempat penampungan yang lokasinya terpencil guna mencegah terjadinya penularan (pengaruh dan sebagainya) penyakit dan sebagainya. Dan tempat penampungan untuk mencegah penularan virus corona itu adalah rumah-rumah kita. Wikipedia pun menguatkan bahwa karantina adalah sistem yang mencegah perpindahan orang dan barang selama periode waktu tertentu untuk mencegah penularan penyakit. Kata karantina berasal dari quarantena, yang dalam Bahasa Venesia abad pertengahan berarti “empat puluh hari”, merujuk pada periode yang dipersyaratkan bagi semua kapal untuk diisolasi sebelum penumpang dan kru dapat berlabuh di pantai selama epidemi Maut Hitam (Black Death). Jauh sebelumnya, mekanisme karantina ini sudah dikenal dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari – Muslim).

Lantas apa pengaruhnya karantina ini dengan ibadah Ramadhan kita? Salah satu pembeda Ramadhan dengan bulan lainnya adalah suasananya yang lebih kondusif untuk beribadah. Dan suasana itu akan terasa dari interaksi dan sosialisasi. Sesuatu yang terbatasi di masa pandemi Covid-19 ini. Shalat wajib berjama’ah dan tarawih dibatasi, bahkan dianjurkan dilakukan di rumah saja. Ifthar jama’i hingga tadarus bersama juga terkendala. Berbagai kegiatan lain yang mengumpulkan banyak orang semisal tabligh akbar, pesantren kilat, hingga pembagian ta’jil gratis pun sulit dilakukan. Alhasil, suasana dan syiar Ramadhan tidak seramai biasanya. Di satu sisi, peluang kebaikan seakan menyempit. Di sisi lain, potensi berbuat dosa terhadap sesama juga mengecil.

Dampak perubahan suasana ini adalah pada perubahan kebiasaan yang akhirnya kembali kepada diri sendiri. Misalnya, di berbagai masjid perkantoran selepas shalat zhuhur di bulan Ramadhan banyak yang berlomba-lomba tilawah Al Qur’an. Namun sekarang, selepas shalat zhuhur di rumah, pilihan untuk tidur siang bisa jadi lebih menarik untuk dilakukan. Atau jika biasanya kajian ada dimana-mana, dengan kondisi saat ini, mencari dan mengikuti kajian lebih dominan ke pilihan pribadi. Beribadah dilakukan atas kesadaran dan kemauan pribadi, bukan terpengaruh suasana apalagi sekadar ikut-ikutan. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan bantuan orang lain adalah satu hal. Namun hisab di akhirat nanti menjadi tanggung jawab masing-masing adalah hal yang lain.

 

Karenanya, menjadi penting untuk menghidupkan suasana Ramadhan di rumah. Bukan hanya secara konteks dengan berbagai poster dan hiasan Ramadhan. Namun juga perlu dikuatkan dengan konten, aktivitas dan targetan Ramadhan bersama keluarga. Syiar Ramadhannya barangkali lingkupnya dipersempit, tanpa mengurangi esensi dan keutamaannya. Tazkiyatunnafs akan menjadi kunci keberhasilannya. Mulai dari mu’ahadah (mengingat perjanjian dengan Allah SWT), mujahadah (bersungguh-sungguh), muraqabah (merasa selalu diawasi Allah SWT), muhasabah (introspeksi diri), hingga mu’aqabah (memberikan sanksi). Ketika kontrol sosial relatif terbatas, maka cara efektif untuk bisa terus produktif adalah ‘ibda binasfik, memulai dari diri sendiri.

Ramadhan ini bisa dikatakan sebagai karantina lanjutan. Ya, dalam kondisi karantina kita memasuki karantina lainnya. Dengan rumah tetap menjadi tempat penampungannya. Hanya saja virus dalam karantina Ramadhan adalah hawa nafsu, yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjerumuskan ke dalam penyakit bernama dosa dan kemaksiatan. Karantina medis meningkatkan imun, karantina Ramadhan meningkatkan iman. Pribadi takwa yang menjadi tujuan karantina Ramadhan hanya bisa terwujud ketika kita sudah mampu menundukkan hawa nafsu. Apalagi dengan berkurangnya interaksi sosial dan syiar Ramadhan di luar sana, faktor individu menjadi penentu keberhasilan mengendalikan hawa nafsu. Tidak bisa bergantung dan mengandalkan orang lain.

Ramadhan tahun ini barangkali akan terasa lebih lama, karena variasi interaksi dan aktivitas tidak sedinamis biasanya. Namun bukan berarti kita tak bisa menikmatinya. Banyak aktivitas dan variasi interaksi yang bisa dilakukan, sebab sekat jarak sudah tidak lagi relevan di masa sekarang. Saling menyapa dan menjaga tak mesti harus bertatap muka. Saling mengingatkan dan menguatkan tidak harus berjabat tangan. Semua kebaikan bisa dilakukan kapan saja dimana saja. Atau jangan-jangan, kondisi ini adalah sebentuk jawaban atas do’a-doa kita sebelumnya, untuk bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan, dan diberikan kesempatan untuk optimal beribadah di dalamnya. Optimal beribadah di rumah. Meningkatkan imun dan iman. Membentuk pribadi yang sehat dan bertakwa.

Puasa itu adalah perisai. Maka, apabila seseorang sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor pada hari itu dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki oleh orang lain dan diajak berkelahi, hendaklah ia berkata ‘aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim)