Tag Archives: hikmah

Amar Ma’ruf Yes, Nahi Munkar No???

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imron : 104)

Pastinya bukan tanpa sebab, ayat di atas terletak setelah perintah untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa, berpegang teguh dengan tali (agama) Allah dan larangan untuk bercerai-berai. Mengajak manusia kepada kebaikan dan amar ma’ruf nahi munkar juga merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan untuk mendapat predikat sebagai orang yang beruntung di sisi Allah SWT. Dan ternyata bukan hanya keimanan dan ketaqwaan yang membuat suatu kaum layak untuk disebut sebagai khairu ummah, amar ma’ruf nahi munkar akan menyempurnakan keshalehan pribadi menjadi sesuatu yang jauh lebih istimewa. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imron : 110)

Tanpa amar ma’ruf nahi munkar, akan hilang rasa aman dan tumbuh subur kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat. “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang melakukan undian di atas kapal, sebagian mereka mendapatkan bagian di lantai atas dan yang lain di lantai bawah. Apabila yang berada di lantai bawah hendak mengambil air, mereka melewati orang-orang yang berada di lantai atas. Mereka pun berkata-kata seandainya kami melubangi yang menjadi bagian kami (bagian bawah kapal), tentu kami tidak mengganggu orang-orang yang di atas kami. Maka apabila mereka dibiarkan melakukan apa yang mereka inginkan, maka binasalah semuanya, dan apabila mereka dicegah (dari niatnya), maka selamatlah mereka dan selamatlah seluruh penghuni kapal” (HR. Bukhari dan Turmidzi). Hadits di atas, sebagaimana disampaikan Ibnu Hajar r.a. menjelaskan bahwa salah satu penyebab turunnya adzab adalah karena ditinggalkannya amar ma’ruf nahi munkar. Imam al-Qurtubi r.a juga berkata bahwa datangnya adzab seperti disebutkan dalam hadits tersebut dikarenakan dosa yang dilakukan oleh kebanyakan orang, dan juga karena tidak adanya amar ma’ruf nahi mungkar (di tengah mereka).

Amar ma’ruf nahi munkar juga akan menghapus dosa, memudahkan terijabahnya do’a dan menghindarkan dari musibah dan siksaan. “Fitnah (dosa/ keburukan) seseorang di dalam keluarganya, hartanya dan anaknya dihapuskan oleh shalat, shadaqah, dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Al Bukhari). “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya (agar supaya dihindarkan dari siksa tersebut) akan tetapi Allah Ta’ala tidak mengabulkan do’a kalian” (HR Ahmad dan At Tirmidzi).

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya” (QS. Al Anfal : 25). Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jazairi  mengatakan bahwa ayat ini sebagai peringatan agar umat Islam tidak meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar yang dapat memperluas kerusakan sehingga adzab pun akan diturunkan kepada seluruh komponen masyarakat, tanpa kecuali. “Sesungguhnya jika manusia melihat seseorang melakukan kezhaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang itu, maka Allah akan meratakan adzab kepada mereka semua” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Amar ma’ruf nahi munkar juga merupakan salah satu sebab yang mendatangkan pertolongan Allah SWT dan kepemimpinan (penguasaan) di muka bumi. “Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di muka bumi, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah dari yang munkar, dan kepada Allah lah kembali segala urusan” (QS. Al Hajj : 40-41). Dan ketika amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan, syiar Islam akan tidak dikenal, perilaku maksiat dan dosa kian menjadi-jadi, kebodohan dan kesesatan merajalela, kerusakan dunia akhiratpun terjadi.

Fenomena amar ma’ruf yes, nahi munkar no
Hari ini kita tidak kekurangan penceramah yang selalu memerintahkan yang ma’ruf, ulama yang mengajak kepada kebaikan juga banyak ditemui. Namun mereka yang aktif melakukan perbaikan dan mencegah kemunkaran tidak mudah dijumpai. Kebanyakan orang memilih untuk hanya menutup mata, menggelengkan kepala seraya mengurut dada ketika melihat kemunkaran di hadapannya, tanpa berusaha mencegahnya, tanpa berupaya menjadi bagian dari solusi nyata. Amar ma’ruf memang lebih ringan dibandingkan nahi munkar yang berpotensi mengancam diri. Padahal amar ma’ruf dan nahi munkar adalah dua sisi mata uang yang tidak boleh ditinggalkan salah satunya. Realitanya, orang yang mencegah kemunkaran kerapkali dimusuhi dibandingkan orang yang sekedar mengajak kepada kebaikan.

Syaikh Ahmad Rifa’i mengatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar dapat dilakukan dengan lembut ataupun keras, tergantung mana yang lebih bermanfaat. Adakalanya cara yang lemah lembut dengan pendekatan emosional lebih efektif, namun tidak jarang juga dibutuhkan ketegasan untuk menanggulangi kemaksiatan. Nyatanya, hanya cara lemah lembut yang dianggap tepat, sementara pendekatan yang tegas kerap dianggap tidak sesuai dengan ruh Islam yang penuh kedamaian dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Lihat saja aksi Front Pembela Islam (FPI) yang kerap menjadi sorotan, aktivitas amar ma’ruf nahi munkarnya diidentikkan dengan kekerasan. Sejak awal berdirinya memang sudah ratusan aksi yang FPI lakukan, beberapa diantaranya mengakibatkan bentrok dengan preman atau massa dari kelompok lain. Upaya mereka untuk memerangi perjudian, pelacuran, minuman keras, komunisme dan kemaksiatan yang merusak tatanan kehidupan masyarakat justru dipersepsikan sebagai aksi yang meresahkan masyarakat. Bahkan tidak sedikit tokoh FPI yang diteror, diculik, dipenjara, ditembaki hingga dibunuh ‘hanya’ karena upaya mereka memerangi kemaksiatan. Pawai dan aksi damai, kajian, pencerdasan, advokasi, aksi peduli hingga menjadi relawan bencana yang dilakukan FPI seolah tertutupi oleh citra kekerasan dalam menjalankan aksinya.

Keutamaan nahi munkar
Tulisan ini tidak hendak membenarkan aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok masyarakat dengan dalih kebenaran dan keadilan. Penulis juga tidak hendak menyoroti peran media dalam membentuk opini di masyarakat. Penulis hanya hendak menempatkan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar dan pelakunya pada posisi yang sesuai. Bagaimanapun, sikap aktif mencegah kemunkaran lebih diutamakan dari sikap berdiam diri. Dan sikap berdiam diri lebih baik dari sikap aktif memusuhi mereka yang mencegah kemunkaran. Perlu juga diingat bahwa selain menjauhkan dari azab Allah SWT, melarang tindakan munkar akan menghindarkan diri dari laknat Allah SWT dan mendekatkan diri pada Rahmat-Nya. “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” (QS. Al Ma`idah : 78-79)

Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar r.a diamanahkan sebagai khalifah, sebagian bangsa Arab kembali kepada kekafiran dan sebagiannya lagi enggan membayar zakat. Memperhatikan kekuatan kaum muslimin, Umar bin Khattab r.a. mengusulkan untuk meminta bantuan dari kelompok umat Islam yang enggan membayar zakat untuk memerangi mereka yang kembali kepada kekafiran, sementara Khalifah Abu Bakar r.a. bersikukuh untuk memerangi keduanya. Shahabat sekaligus mertua Rasulullah SAW ini berkata, “Demi Allah! Aku benar-benar akan memerangi orang-orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat. Karena sesungguhnya zakat itu adalah hak atas harta. Demi Allah! Seandainya mereka tidak mau menyerahkan kepadaku seikat karung (zakat) yang dahulu biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah SAW niscaya aku akan memerangi mereka kalau mereka tetap berkeras tidak mau menyerahkannya”. Umar bin Khattab r.a. pun mengatakan, “Demi Allah! Tidaklah mungkin hal itu berani dilakukannya melainkan karena aku yakin bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang. Dari situlah aku mengetahui bahwa dia berada di atas kebenaran”.

Abu Bakar r.a. yang dikenal lemah lembut justru bersikap tegas terhadap kemunkaran yang dihadapinya. Jika tidak membayar zakat dibiarkan, kaum muslimin akan mendapati Islam secara tidak utuh. Pembelaan terhadap perjudian, minuman keras, perzinahan dan berbagai kemaksiatan lainnya juga akan seolah menghalalkan yang diharamkan. Parahnya lagi, kemaksiatan itu cepat menular dan akan segera menjadi wabah yang mendatangkan bencana jika tidak ada yang melarangnya. Karenanya, sudah sewajarnya setiap manusia yang menghendaki ketenangan hidup untuk berupaya mengubah kemunkaran sekecil apapun. “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika masih tidak mampu juga, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Amar Ma’ruf Yes, Nahi Munkar Yes!!!
Penulis masih ingat peristiwa belasan tahun lalu, ketika pada suatu malam wilayah tempat tinggal penulis dihebohkan dengan serangan orang-orang berpakaian ninja yang menghancurkan tempat-tempat prostitusi di sekitar wilayah tersebut. Hanya dalam waktu semalam, Kampung Rawakalong bersih dari prostitusi yang sudah menggurita sejak lama. Para tokoh agama dan pendidikan tidak jarang mengecam praktek perzinahan tersebut namun ternyata tidak ada perubahan apa-apa. Aparat keamanan jelas tidak bisa diandalkan karena justru mem-becking-i aktivitas haram tersebut. Dan ternyata kemaksiatan baru dapat hilang dengan aksi tegas yang menggemparkan kampung, bukan sekedar dengan kata dan kecaman, apalagi sekedar memalingkan muka seraya mengurut dada.

Dalam kaidah fiqh, upaya mencegah kemunkaran dapat dibenarkan ketika dapat menghilangkan kemunkaran tersebut, atau dapat memperkecil dampak buruknya. Namun tidak diperkenankan mencegah kemunkaran yang akan mendatangkan kemunkaran yang lebih besar. Disinilah ijtihadi para kelompok Islam diperlukan. Berdakwah dengan hikmah dan keteladanan bukan berarti tidak dapat berlaku keras dan tegas. Hikmah disini adalah argumen yang rasional, bukan berarti tutur kata yang lembut. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim a.s. secara ekstrim menghancurkan berhala-berhala dan menyisakan berhala yang paling besar untuk mengungkapkan hikmah. Atau perhatikan bagaimana Rasulullah SAW memerangi dan mengusir Yahudi Bani Quraidah dan Bani Nadhir dari Madinah, padahal banyak anak-anak, wanita dan orang tua di dalamnya, untuk menegaskan konsistensi penerapan konstitusi (perjanjian Hudaibiyah).

Ketika masih terjadi aksi amuk massa, jangan lantas salahkan masyarakat, karena bisa jadi hal tersebut hanyalah ekspresi kekecewaan atas penegakan hukum yang tidak adil. Ketika masih terjadi aksi paksa menutup tempat maksiat, jangan langsung memvonis sebagai tindak kekerasan, karena bisa jadi aksi tersebut hanya luapan kekesalan melihat pihak yang seharusnya bertindak tegas hanya berdiam diri bahkan melindungi. Aparat penegak hukum harusnya introspeksi, negara ini mestinya bercermin. Berbuat kerusakan memang tidak dapat dibenarkan, namun bisa jadi bentuk kepedulian untuk melarang kemunkaran yang berangkat dari hati nurani untuk meraih ketentraman hidup lah yang –selama ini masih– menyelamatkan kita dari azab yang besar.

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka kami menyelamatkan orang-orang yang mencegah perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang yang berbuat dzalim siksaan yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik” (QS. Al A’raf : 165)

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo

Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tetapi kau tetap dirimu sendiri di mataku, bukan Montague. Apa itu ‘Montague’? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah, atau apa pun dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain! Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, kalau pun mawar berganti dengan nama lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu, ambillah diriku seluruhnya” (Shakespeare dalam ‘Romeo & Juliet’)

Rangkaian kalimat di atas tertulis dalam teks drama yang dibuat William Shakespeare dalam roman Romeo & Juliet. Dikisahkan hubungan Romeo dari suku Montague dengan Juliet dari suku Capulet menemui jalan buntu karena kedua suku tersebut bermusuhan. Dalam keputusasaannya, Juliet mengangankan Romeo dapat mengganti namanya, apapun itu, sehingga dapat diterima oleh keluarga Juliet. Uniknya, hanya penggalan kalimat ‘Apalah arti sebuah nama?’ yang menjadi begitu terkenal, mengesankan penulisnya menjadi orang yang tidak mementingkan nama. Jika Shakespeare masih hidup, mungkin dia hanya akan geleng – geleng kepala, apalagi sebelumnya ia pernah mengingatkan, “Perhatikan arti di setiap kata, perhatikan makna di balik kalimatnya”.

Pentingnya nama seharusnya tidak perlu menjadi perdebatan. Kehidupan kita dipenuhi nama, baik mahkluk hidup maupun benda mati. Tak dapat dibayangkan betapa merepotkannya jika semua benda di dunia tidak memiliki nama, bagaimana kita akan menyebut suatu benda? Pentingnya nama ini sudah jelas tergambar dari bagaimana Allah SWT mengajarkan Adam untuk mengenal nama benda dan segala sesuatu setelah penciptaannya (QS. Al Baqarah : 31). Bahkan dalam beberapa ayat, Allah SWT mengecam nama – nama sesembahan kaum musyrikin, misalnya dalam QS. An Najm : 19  – 23. Dalam beberapa hadits juga disebutkan betapa Rasulullah SAW kerap mengganti nama – nama yang buruk –bukan hanya nama orang, tapi juga nama kelompok masyarakat, bahkan nama kota– dengan nama yang lebih baik (HR. Abu Daud, Turmidzi dan beberapa ahli hadits).

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa memberi nama yang baik merupakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian” (HR. Abu Daud). Nama Abdullah dan Abdurrahman memang merupakan nama yang paling disukai dan nama yang paling sesuai adalah Harits dan Hammam (HR. Abu Daud, Nasa’i dan lainnya), namun bukan berarti keempat nama tersebutlah yang harus digunakan dan tidak melulu harus berbahasa Arab. Purwo Udiutomo, misalnya, tidak berbahasa Arab, namun maknanya baik. Purwo (bahasa Jawa) atau Purwa (bahasa Sunda) artinya pertama atau terdahulu. Udiutomo berasal dari kata ‘ngudi’ dan ‘utomo’ (bahasa Jawa) yang berarti mencari keutamaan. Sehingga Purwo Udiutomo berarti anak pertama yang mencari keutamaan. Sebuah do’a orang tua yang baik.

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo
Rumaisha dalam bahasa Arab dapat diartikan ‘yang mendamaikan’ atau ‘yang merukunkan’. Jika dipisahkan, Rumaisha terdiri dari dua kata, yaitu ‘Rum’ yang dalam bahasa Kawi berarti ‘daya tarik, keindahan dan kecantikan’ dan ‘Aisha’ yang dalam bahasa Persia berarti ‘kehidupan’. Namun dasar pemberian nama Rumaisha bukanlah hal tersebut di atas, melainkan menamai dengan nama muslimah shalihah. Rasulullah SAW bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka” (HR. Muslim). Rumaisha (binti Milhan) atau lebih dikenal sebagai Ummu Sulaim, adalah ibu kandung dari Anas bin Malik, pelayan Rasulullah SAW yang meriwayatkan lebih dari 2200 hadits. Rumaisha adalah wanita yang menawan, keibuan, cerdas dan yang paling dikenang oleh para shahabat adalah wanita dengan mahar termahal, yaitu keimanan Abu Thalhah yang kemudian menjadi salah seorang pahlawan generasi sahabat. Ummu Sulaiam adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, da’iyah yang bijaksana, pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama di antara ulama Islam. Ketulusan dan komitmen Rumaisha mengantarkannya menjadi salah satu shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Profil lebih lengkap tentang Rumaisha insya Allah akan disampaikan pada tulisan selanjutnya.

Alifiandra terdiri dari dua kata, yaitu ‘Alif’ dan ‘Andra’. ‘Alif dalam bahasa Arab memiliki arti ‘ramah dan bersahabat’, sekaligus mengandung makna ‘pertama’, ‘lurus’ dan ‘benar’. Sementara ‘Andra’ dalam bahasa Skotlandia (dan beberapa negara di Eropa) berarti gagah berani. Sifat ‘ramah dan bersahabat’ dilengkapi dengan ‘gagah berani’ sehingga diharapkan dapat menghasilkan sifat ‘tidak kaku’ dan ‘dekat’, namun tetap ‘memiliki sikap dan integritas’. Sifat ‘lurus dan benar’ dioptimalkan dengan ‘gagah berani’ sehingga keistiqomahan di jalan kebenaran yang lurus tidak hanya dipertahankan, namun juga diperjuangkan dan disebarkan. Udiutomo adalah nama ayah yang umum diberikan sebagai nama belakang anak, maknanya sudah disampaikan di atas. Dalam Islam, nama ayah kerap dinisbatkan di belakang nama anak karena seseorang tidak boleh menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya (QS. Al Ahzab : 5, HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dan ulama hadits lainnya). Jadi sebaiknya bukan nama suami yang dinisbatkan di belakang nama istri, tetapi nama ayah di belakang nama anak.

Nama yang baik = Awal pendidikan anak
Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ditemui seorang pria yang mengadukan kenakalan anaknya. Umar bin Khattab r.a. berkata, “Hai Fulan, tidak takutkah kamu kepada Allah karena berani melawan dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menimpali, “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”. Umar r.a. menjawab, “Ada tiga, yakni memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya; memilihkan nama yang baik; dan mendidik mereka dengan Al Qur’an”. Mendengar uraian tersebut, sang anak menjawab, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, dan dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku, bahkan satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya”. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu….”

Salah satu hak anak adalah mendapatkan nama yang baik, disamping berbagai hak lainnya mulai dari mendapatkan ibu yang baik hingga dinikahkan. Secara sederhana, hak anak adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan pemberian nama yang baik adalah awal pendidikan anak yang baik. Nama adalah do’a, memberi nama yang baik berarti mengharapkannya senantiasa dalam kebaikan. Dari Abu Hurairoh r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya” (HR. Bukhori – Muslim). Nama adalah motivasi yang akan mempengaruhi tindak tanduk penyandang nama. Ibnu Qoyyim berkata, “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Jarang kau dapati nama yang buruk kecuali melekat pada orang yang buruk pula. Dan Allah dengan hikmah yang terkandung dalam qadha dan qadarnya memberikan ilham kepada jiwa untuk menetapkan nama sesuai yang punya“.

Semoga pemberian nama Rumaisha Alifiandra Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan pertama yang bersahabat dan mendamaikan serta gagah berani dalam mencari kebenaran dan keutamaan sebagaimana Rumaisha binti r.a’… Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

* * *

Rasulullah SAW bersabda, “Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya, “Siapa itu?” Mereka berkata, “Dia adalah Rumaisha binti Malhan, ibu dari Anas bin Malik”. (Al Hadits)

Wallahu a’lam bishawwab

Mengambil Hikmah dari Perjalanan Hidup

”Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Al Baqarah : 269)

* * *

 

Perjalanan beberapa pekan lalu ke Balikpapan begitu memberi kesan menyenangkan. Entah bagaimana mekanismenya, aku diberikan kesempatan untuk duduk di depan, di kelas bisnis, padahal tiket yang dipesan – seperti biasa – adalah kelas ekonomi. Sebelum pesawat lepas landas, secangkir jeruk hangat sudah menemani. Perjalanan dua jam tak terasa dengan berbagai jamuan yang disediakan, mulai dari roti yang masih hangat, buah, bolu bakar hingga cappucino hangat. Belum lagi tempat duduk plus bantal yang begitu nyaman. Penumpang di sebelah saya –di sisi pesawat yang lain- nampaknya merasakan hal yang sama. Penumpang laki – laki yang bergaya alay tersebut sepertinya bingung mengapa temannya duduk terpisah di kelas ekonomi padahal mereka check in bersama. Dia sering menengok bahkan beranjak ke kabin bagian belakang, dan nampaknya untuk sekedar menikmati hidanganpun dia ragu, mungkin khawatir diminta bon ketika turun dari pesawat nanti ^_^

Dalam perjalanan hidup, banyak sekali hal – hal baru yang kita temui. Hal – hal baru yang dapat memperluas wawasan, menambah pengalaman dan menjadi pembelajaran, walaupun mungkin sempat membuat kita terkejut. Aku jadi teringat pengalaman pertama kali naik pesawat sekitar 4,5 tahun lalu. Tidak pernah memimpikan sebelumnya dan ternyata aku tidak sendirian. Ada semburat kebahagiaan dan harap – harap cemas ketika pertama kali menjalaninya. Demikian pula halnya ketika pertama kali menaiki kapal feri atau ketika menikmati kereta api kelas bisnis. Selalu ada kekhawatiran ketika mencoba sesuatu yang baru, kekhawatiran yang nantinya dapat diceritakan kembali dalam bentuk pengalaman baru.

Beda lagi pengalaman menginap di salah satu hotel di Banjarmasin dua tahun lalu, pertama kalinya aku menjejakkan kali di Kalimantan. Hotel yang sangat nyaman, untuk membuka pintunyapun harus menggesek kartu yang rupanya merupakan kunci kamar. Dalam hal ini aku sudah terbiasa karena gedung departemen tempatku kuliah juga menerapkan mekanisme yang sama. Dan karenanya mungkin aku jarang masuk ke gedung departemenku ^_^ Kembali ke Banjarmasin, aku yang tiba menjelang maghrib heran ketika masuk ke kamar yang terbilang gelap, tidak ada lampu yang menyala, tidak ada saklar dan stop kontak yang berfungsi, tidak ada aliran listrik. Aku yang lelah dalam perjalanan memilih untuk segera mandi dalam temaram. Selesai mandi, kondisinya semakin gelap. Aku cek sekeliling, di dalam kamar tidak ada sesuatu yang seperti sekring, di luarpun lampu menyala. Ada apa ini? Mau nanya ke resepsionis, cukup jauh dan agak malu juga. Masak sarjana teknik lulusan UI dibodohi oleh listrik.

Setelah belasan menit grasak – grusuk dan tidak mendapatkan solusi, aku terduduk lemas di ranjang empuk. Adzan maghrib yang sayup – sayup kudengar mulai hilang, tiba – tiba pandanganku tertuju pada kotak bertanda panah ke bawah di dekat pintu. Kudekati dan kupastikan ada lubang di kotak itu yang seukuran dengan kunci kamar yang berupa kartu. Kumasukkan kartu tersebut hingga mencapai dasar dan semua lampupun menyala, juga televisi dan AC. Bukan ’Alhamdulillah…’ yang pertama kali terucap melainkan ’inna lillahi…’ karena diri ini merasa sangat bodoh sehingga perasaan syukur dan senangpun tertutupi. Tak ingin larut dalam kebodohan, akupun ingin beranjak shalat, tapi bingung arah kiblat itu kemana. Beberapa orang mengatakan kemampuan spatialku bagus, namun di negeri antah berantah ini aku masih buta arah. Tak ada tanda – tanda masjid terdekat, akupun turun menanyakan ke resepsionis letak mushalla dan arah kiblat. Selain menunjukkan letak mushalla, resepsionis juga memberitahu bahwa di langit – langit tiap kamar ada tanda panah yang menunjukkan arah kiblat. Lagi – lagi diri ini merasa bodoh. Apalagi sorot mata resepsionis seolah mengatakan ’ini orang Jakarta kok norak amat sih’. Ya, bukan hanya pengalaman baru, perjalanan hidup juga kerap mengajarkan kita untuk tidak angkuh. Masih banyak sisi dunia yang belum kita jejaki, masih banyak ilmu yang belum kita ketahui, masih terlalu kerdil bagi diri kita untuk merasa lebih.

Perjalanan hidup bukanlah sebatas rutinitas, banyak pelajaran menarik yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup kita. Pengalamanku ketika memasuki gedung MPR DPR sepertinya bisa jadi cerita sendiri. Atau kisahku ketika pertama kali mengenal internet atau komputer juga bisa jadi memuat hikmah, tidak sebatas nostalgia. Itu baru hikmah dari pengalaman hidup kita, belum lagi pengalaman hidup yang kita dapatkan dari orang lain. Mulai dari diskusi – diskusi serius, ngobrol – ngobrol penuh canda hingga – sengaja atau tidak sengaja – menguping pembicaraan orang lain dapat menambah ide dan wawasan serta mendatangkan berbagai pembelajaran. Berbagai nasihat dan perenunganpun tidak jarang kita dapati dari aktivitas keseharian dalam menjalani hidup, bukan hanya lewat ceramah.

Tidak hanya pengalaman diri atau orang lain, dalam kehidupan ini banyak sekali hikmah yang terhampar. Apa yang kita lihat, kita dengar atau kita rasakan kerap kali menyimpan banyak pelajaran. Jika dunia diibaratkan sekolah, maka gurunya bisa siapa atau apa saja yang kita jumpai. Kita bisa belajar dari daun, dari pohon pisang, dari air, dari anak kecil dan dari apa pun. Mengambil hikmah dari jenak perjalanan hidup kita akan membuka mata kita bawa memang tidak ada yang diciptakan sia – sia. ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran : 190 – 191)

Tidak semua orang dapat mengambil hikmah dan pelajaran. Tidak setiap manusia dapat memadukan kemampuan intelektual dan spiritualnya, mengharmonisasikan dzikir dan pikirnya. Musuh utama kebijaksanaan dalam mengambil hikmah adalah kesombongan yang menutupi hati dari cahaya kebenaran. ”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al Hajj : 46). Di ayat lain Allah telah mengingatkan, ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Isra’ : 37)

Kehidupan adalah rangkaian gerbong perjalanan waktu yang akan ada akhirnya. Berbagai pelajaran hidup akan meningkatkan kualitas hidup kita jika kita sikapi dengan baik. Hikmah yang kita dapat selama menjalani perjalanan tersebut akan membantu kita untuk lebih siap ketika kita (harus) tiba di stasiun akhir kehidupan. Dan tidak ada ’kereta balik’ dalam kereta kehidupan, karenanya sangat disayangkan jika momen untuk mengambil hikmah dibiarkan lewat begitu saja. Rugi sekali rasanya jika jenak waktu terlewat tanpa ada pelajaran hidup yang dapat kita petik. Semakin luas sudut pandang kita dalam menilai sesuatu, semakin banyak pula pelajaran yang dapat diambil. Mari kita petik sebanyak – banyaknya hikmah dalam tiap jenak perjalanan hidup kita…

* * *

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”
(QS. Az Zumar : 21)