Tag Archives: ibadah Ramadhan

Dari Karantina ke Karantina

“Menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian.” (Emha Ainun Nadjib)

Tak terasa, Ramadhan kembali datang menyapa. Kali ini dalam kondisi yang tidak biasa. Sudah enam pekan ini aktivitas kerja dilakukan dari rumah, work from home istilah kekiniannya. Artinya, sudah lebih dari 40 hari aktivitas ke luar rumah dan bersosialisasi secara fisik dibatasi. Social distancing dan physical distancing, istilahnya. Interaksi intensif hanya dengan anggota keluarga. Dan Ramadhan tahun ini kemungkinan akan berjalan dengan pola serupa. Menikmati Ramadhan dari rumah saja. Agak ada aroma romantika libur sekolah selama berpuasa Ramadhan di zaman Gus Dur, tapi ini tidak sama. Ada virus corona yang mengancam di luar sana. Pandemi Covid-19 membuat manusia ‘terkarantina’ di rumahnya. Imbuhan ter- yang lebih bermakna ‘terpaksa’ dibandingkan ‘tidak sengaja’.

Dalam KBBI, karantina didefinisikan sebagai tempat penampungan yang lokasinya terpencil guna mencegah terjadinya penularan (pengaruh dan sebagainya) penyakit dan sebagainya. Dan tempat penampungan untuk mencegah penularan virus corona itu adalah rumah-rumah kita. Wikipedia pun menguatkan bahwa karantina adalah sistem yang mencegah perpindahan orang dan barang selama periode waktu tertentu untuk mencegah penularan penyakit. Kata karantina berasal dari quarantena, yang dalam Bahasa Venesia abad pertengahan berarti “empat puluh hari”, merujuk pada periode yang dipersyaratkan bagi semua kapal untuk diisolasi sebelum penumpang dan kru dapat berlabuh di pantai selama epidemi Maut Hitam (Black Death). Jauh sebelumnya, mekanisme karantina ini sudah dikenal dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari – Muslim).

Lantas apa pengaruhnya karantina ini dengan ibadah Ramadhan kita? Salah satu pembeda Ramadhan dengan bulan lainnya adalah suasananya yang lebih kondusif untuk beribadah. Dan suasana itu akan terasa dari interaksi dan sosialisasi. Sesuatu yang terbatasi di masa pandemi Covid-19 ini. Shalat wajib berjama’ah dan tarawih dibatasi, bahkan dianjurkan dilakukan di rumah saja. Ifthar jama’i hingga tadarus bersama juga terkendala. Berbagai kegiatan lain yang mengumpulkan banyak orang semisal tabligh akbar, pesantren kilat, hingga pembagian ta’jil gratis pun sulit dilakukan. Alhasil, suasana dan syiar Ramadhan tidak seramai biasanya. Di satu sisi, peluang kebaikan seakan menyempit. Di sisi lain, potensi berbuat dosa terhadap sesama juga mengecil.

Dampak perubahan suasana ini adalah pada perubahan kebiasaan yang akhirnya kembali kepada diri sendiri. Misalnya, di berbagai masjid perkantoran selepas shalat zhuhur di bulan Ramadhan banyak yang berlomba-lomba tilawah Al Qur’an. Namun sekarang, selepas shalat zhuhur di rumah, pilihan untuk tidur siang bisa jadi lebih menarik untuk dilakukan. Atau jika biasanya kajian ada dimana-mana, dengan kondisi saat ini, mencari dan mengikuti kajian lebih dominan ke pilihan pribadi. Beribadah dilakukan atas kesadaran dan kemauan pribadi, bukan terpengaruh suasana apalagi sekadar ikut-ikutan. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan bantuan orang lain adalah satu hal. Namun hisab di akhirat nanti menjadi tanggung jawab masing-masing adalah hal yang lain.

 

Karenanya, menjadi penting untuk menghidupkan suasana Ramadhan di rumah. Bukan hanya secara konteks dengan berbagai poster dan hiasan Ramadhan. Namun juga perlu dikuatkan dengan konten, aktivitas dan targetan Ramadhan bersama keluarga. Syiar Ramadhannya barangkali lingkupnya dipersempit, tanpa mengurangi esensi dan keutamaannya. Tazkiyatunnafs akan menjadi kunci keberhasilannya. Mulai dari mu’ahadah (mengingat perjanjian dengan Allah SWT), mujahadah (bersungguh-sungguh), muraqabah (merasa selalu diawasi Allah SWT), muhasabah (introspeksi diri), hingga mu’aqabah (memberikan sanksi). Ketika kontrol sosial relatif terbatas, maka cara efektif untuk bisa terus produktif adalah ‘ibda binasfik, memulai dari diri sendiri.

Ramadhan ini bisa dikatakan sebagai karantina lanjutan. Ya, dalam kondisi karantina kita memasuki karantina lainnya. Dengan rumah tetap menjadi tempat penampungannya. Hanya saja virus dalam karantina Ramadhan adalah hawa nafsu, yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjerumuskan ke dalam penyakit bernama dosa dan kemaksiatan. Karantina medis meningkatkan imun, karantina Ramadhan meningkatkan iman. Pribadi takwa yang menjadi tujuan karantina Ramadhan hanya bisa terwujud ketika kita sudah mampu menundukkan hawa nafsu. Apalagi dengan berkurangnya interaksi sosial dan syiar Ramadhan di luar sana, faktor individu menjadi penentu keberhasilan mengendalikan hawa nafsu. Tidak bisa bergantung dan mengandalkan orang lain.

Ramadhan tahun ini barangkali akan terasa lebih lama, karena variasi interaksi dan aktivitas tidak sedinamis biasanya. Namun bukan berarti kita tak bisa menikmatinya. Banyak aktivitas dan variasi interaksi yang bisa dilakukan, sebab sekat jarak sudah tidak lagi relevan di masa sekarang. Saling menyapa dan menjaga tak mesti harus bertatap muka. Saling mengingatkan dan menguatkan tidak harus berjabat tangan. Semua kebaikan bisa dilakukan kapan saja dimana saja. Atau jangan-jangan, kondisi ini adalah sebentuk jawaban atas do’a-doa kita sebelumnya, untuk bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan, dan diberikan kesempatan untuk optimal beribadah di dalamnya. Optimal beribadah di rumah. Meningkatkan imun dan iman. Membentuk pribadi yang sehat dan bertakwa.

Puasa itu adalah perisai. Maka, apabila seseorang sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor pada hari itu dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki oleh orang lain dan diajak berkelahi, hendaklah ia berkata ‘aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Ramadhan Tetap Disini

Pada suatu waktu, seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas r.a. mengenai tiga hal. Orang tersebut bertanya mengenai hari yang paling baik, bulan yang paling baik dan amal perbuatan yang paling baik. Ibnu Abbas r.a. yang dijuluki ulama generasi shahabat pun menjawab, “Hari yang paling baik adalah hari Jum’at, dan sebaik-baik bulan adalah bulan Ramadhan serta sebaik-baik amal perbuatan adalah shalat fardhu lima waktu tepat pada waktunya”. Jawaban tersebut jelas bukan tanpa dasar, semuanya ada dalilnya yang bersumber dari Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim misalnya, disebutkan bahwa hari terbaik adalah hari Jum’at, hari dimana Adam diciptakan, dimasukkan ke surga dan dikeluarkan dari surga. Hari Jum’at merupakan pemuka hari-hari yang lain bagi umat Islam, didalamnya juga terdapat satu waktu khusus diijabahnya do’a. Hari Jum’at juga merupakan satu-satunya hari yang tercantum sebagai nama surah dalam Al Qur’an.

Sementara itu untuk Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah SWT mewajibkan puasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikan, maka dia tidak memperoleh apa-apa” (HR. Ahmad dan An Nasa’i). Ramadhan juga merupakan satu-satunya bulan yang namanya disebut dalam Al Qur’an. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, ketika Ibnu Mas’ud r.a. bertanya mengenai amal yang paling afdhal, Rasulullah SAW menjawab shalat tepat pada waktunya, baru kemudian beliau menjawab lagi berbakti kepada kedua orang tua dan jihad fisabilillah. Ustman bin Affan r.a. berkata, “Barangsiapa selalu mengerjakan shalat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah SWT akan memuliakannya dengan sembilan kemuliaan, yaitu dicintai Allah SWT, badannya selalu sehat, keberadaannya selalu dijaga malaikat, rumahnya diberkahi, wajahnya menampakkan jati diri orang shalih, hatinya dilunakkan oleh Allah SWT, dia akan menyeberang sirath seperti kilat, dia akan diselamatkan Allah SWT dari api neraka, dan Allah SWT akan menempatkannya di surga kelak bertetangga dengan orang-orang yang tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati”.

Jelaslah sudah keutamaan hari Jum’at, bulan Ramadhan dan shalat tepat waktu tanpa harus disampaikan semua dalil yang mendukungnya. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at lainnya, Ramadhan ke Ramadhan yang lain adalah penghapus dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi” (HR. Muslim). Ibnu Abbas r.a. wafat pada hari Jum’at, kemudian tiga hari berikutnya kabar tentang pertanyaan dan jawaban Ibnu Abbas r.a. tersebut sampai kepada Ali bin Abi Thalib r.a., lalu beliau berkata, “Apabila semua ulama, hukama dan fuqaha dari ujung barat sampai ujung timur ditanya tentang hal itu, maka mereka akan menjawab sama dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Abbas ra, tapi aku punya jawaban sendiri. Sesungguhnya sebaik-sebaik amal perbuatan adalah amal perbuatanmu yang diterima Allah SWT. Sebaik-baik bulan adalah bulan dimana kamu bertaubat kepada-Nya dengan taubat nasuha. Dan hari yang terbaik adalah hari dimana kamu meninggal dunia dengan membawa iman kepada Allah SWT.

* * *

Tak terasa, Ramadhan telah berlalu padahal sepertinya baru kemarin datang menyapa. Sepeninggal Ramadhan yang baru beberapa hari ini sudah ada berbagai hal yang dirindukan, saat bangun malam bersama untuk makan sahur, masjid-masjid yang ramai dengan tadarus qur’an, waktu berbuka puasa bersama, tarawih bersama, dan sebagainya. Selepas Ramadhan yang belum genap sepekan ini sudah mulai terlihat berbagai perubahan, masjid-masjid mulai kembali sepi, acara-acara televisi kembali jauh dari nuansa religius, nafsu makan dan tidur tak lagi terkendali, Al Qur’an kembali dilupakan, shalat malam ditinggalkan dan berbagai kebiasaan lama kembali dilakukan. Ibadah Ramadhan yang belum tentu diterima pun lenyap tak berbekas. Jangan-jangan inilah yang disebut dalam sebuah hadits betapa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Wahb ibnul Wardi pernah melihat sekelompok orang yang bersuka cita dan tertawa di hari Idul Fitri, ia pun berkata, “Apabila puasa mereka diterima di sisi Allah SWT, apakah tindakan mereka tersebut gambaran orang yang bersyukur kepada-Nya? Dan jika ternyata puasa mereka tidak diterima, apakah tindakan mereka itu adalah gambaran orang yang takut akan siksa-Nya?”. Na’udzubillah

Jika kita meneladani para salafush shalih, mereka cenderung bersedih dengan perginya bulan Ramadhan, khawatir amal ibadah mereka di bulan Ramadhan tidak diterima Allah SWT. Kekhawatiran itu mendorong mereka untuk terus fokus menyempurnakan amal, sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib r.a., “Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amal kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah AWJ ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa’ (QS. Al Maidah : 27)”. Upaya untuk terus memperbaiki amal dan meningkatkan ketakwaan inilah yang membuat para salafush shalih mampu menghidupkan nuansa Ramadhan di luar bulan Ramadhan. Tidak berlebihan jika sebagian ulama salaf mengatakan bahwa para shahabat berdo’a kepada Allah SWT selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan berikutnya agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima-Nya. Do’a tentunya diiringi dengan usaha sehingga sepanjang tahun nuansa Ramadhan berhasil mereka hidupkan.

Kita perlu mawas diri jika ibadah Ramadhan tidak berbekas di hari-hari setelah Ramadhan, jangan-jangan ibadah Ramadhan kita tidak diterima. Karena sesungguhnya, di antara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah amalan buruk yang ada sesudahnya. Oleh karena itu, barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama. Ramadhan memang bulan penuh ampunan dan penghapus dosa, namun bukan berarti di sebelas bulan lainnya kita bebas berbuat dosa dan kemaksiatan. Tidak salah bahwa Ramadhan adalah pemimpin para bulan yang penuh keutamaan, namun untuk memperoleh keutamaan itu tentu ada syarat yang harus dipenuhi. Tanpanya, Ramadhan hanya akan jadi bulan biasa saja. Sebaliknya, bulan-bulan selain Ramadhan bisa jadi penuh keutamaan jika kita mampu mengisinya dengan berbagai kebaikan.

Seorang sufi bernama Sheikh Bisyr Al Hafi berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shaleh akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun”. Pernyataan yang sangat menohok. Imam Hasan Al Basri juga menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, Surah Al Hijr ayat ke-99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu”. Jadi, sungguh tidak tepat jika semangat beramal dibatasi oleh bulan Ramadhan sementara kita tidak tahu apakah amal kita diterima Allah SWT. Sungguh tidak layak jika Ramadhan hanya menjadi musim berbuat baik sementara di setiap bulan kita mampu mengisinya dengan kebaikan. Dan sungguh tidak pantas jika semangat ibadah hanya mengisi hari-hari Ramadhan sementara kita tidak tahu kapan maut kan datang menjemput.

Secara kontekstual, Ramadhan memang bulan terbaik. Namun secara lebih substansial keutamaan bulan Ramadhan dapat terus ada di bulan-bulan selanjutnya jika kita dapat terus menjaga dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Nuansa indah Ramadhan takkan kemana jika kita mampu istiqomah menghadirkannya, menghidupkan Ramadhan di luar bulan Ramadhan. Dan istiqomah memang tidak mudah, karenanya Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang mampu istiqomah. Semoga kita mampu menjadi seorang Rabbani yang selalu beribadah kepada Allah SWT di setiap waktu dan setiap tempat, bukan seorang ‘Rajabi’, ‘Sya’bani’, ‘Ramadhani’ atau orang-orang yang hanya semangat beribadah di bulan tertentu saja. Karena perintah untuk bertakwa tidak hanya ada di bulan Ramadhan. Karena Allah SWT mencintai amal yang terjaga konsistensinya.

Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya: istiqomahlah dalam beramal dan berkatalah yang jujur/ benar) dan mendekatlah kalian (mendekati amalalan istiqomah dalam amal dan jujur dalam  berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun di antara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit
(HR. Bukhari)