Tag Archives: Idul Fitri

Bersabar di Hari yang Fitri (2/2)

الله أكبر، الله اكبر، الله اكبر ، ولله الحمد

Jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,

Shaum berarti menahan diri, sama dengan bersabar. Orang yang berpuasa perlu bersabar dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Menahan diri dari berkata dusta, berkata kotor, termasuk menahan diri dari amarah. Bahkan jika ada yang mengajak berkelahi, Rasulullah SAW mengajarkan untuk mengatakan, “Saya sedang berpuasa”. Tidak mampu bersabar memang tidak membatalkan puasa, namun dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala berpuasa. Karenanya, kesabaran merupakan salah satu wujud nyata keberkahan puasa seseorang. Sebulan penuh berlatih menahan diri seharusnya mampu membentuk seseorang menjadi pribadi yang sabar.

Apalagi ditengah ujian pandemi Covid 19 ini, menyaksikan persebaran virus yang begitu berbahaya, ditambah banyaknya masyarakat yang semaunya, dilengkapi pemerintah yang ‘suka-suka gua’, kesabaran ekstra harus dimiliki untuk melewati ujian dan cobaan ini. Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ , الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ,  أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155 – 157)

Muara dari ujian adalah kembali kepada Allah SWT. Bahkan kita perlu lebih bersyukur atas ujian yang membuat kita semakin dekat kepada Allah SWT dibandingkan nikmat yang justru menjauhkan kita dari Allah SWT. Semoga kita bisa melewati berbagai ujian kehidupan ini dengan penuh kesabaran, tetap bersabar dalam menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, dan senantiasa menjadikan sabar sebagai salah satu bekal untuk menuju Jannah-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ar Ra’du ayat 24 bahwa salamnya para malaikat untuk para penghuni surga adalah: سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ (selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu). Semoga kita bisa menjadi pribadi yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Tidak mengeluh, bersikap lemah, dan menyerah menghadapi ujian.

وَٱلۡعَصۡرِ ,  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ,  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

* * *

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر لااله الاالله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

الْحَمْدُ لله الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِين، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه.

فَيَا عِبَادَ الله أُوْصِنِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْم، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ  أما بعد

Sabar adalah sikap aktif, bukan pasif. Salah satu perwujudan kesabaran adalah berdo’a setelah berikhtiar. Sebagaimana dicontohkan oleh para Nabi, Rasul, dan orang-orang shalih. Nabi Ibrahim a.s. ketika diuji belum juga memiliki anak di usia tua lantas berdo’a: رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ yang artinya, “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash Shaffat: 100). Nabi Yunus ketika di dalam perut ikan berdo’a: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ yang artinya, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zhalim/ aniaya” (QS. Al Anbiya: 87).

Para pemuda kahfi ketika diuji keimanannya sehingga memaksa mereka untuk bersembunyi di goa berdo’a: رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا yang artinya, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (QS. Al Kahfi: 10). Nabi Nuh dan Luth ketika diuji dengan kaumnya yang membangkang lantas berdo’a. Nabi Yaqub ketika diuji kehilangan anak-anak yang dicintainya berdoa. Nabi Yusuf ketika difitnah berdo’a. Nabi Ayub ketika diuji dengan berbagai ujian yang dahsyat berdo’a. Nabi Zakaria ketika diuji belum memiliki anak di usia lanjut berdo’a. Pun demikian dengan Rasulullah SAW yang tak henti berdzikir dan berdo’a dalam setiap kesempatan.

الله أكبر، الله اكبر، الله اكبر ، ولله الحمد

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah, marilah kita tutup khutbah ini dengan bermunajat kepada Allah SWT agar senantiasa menganugerahkan kebaikan dan keberkahan bagi kita, keluarga kita, masyarakat kita, bangsa dan negara kita, dan kaum muslimin dimanapun berada.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صل على سيدنا محمد ، وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم

وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد ، كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات وَالْمُؤْمِنَينَ وَالْمُؤْمِنَات الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَات. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارَا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا اَّلذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَان، وَلَاتَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ الرَّحِيم.

اللهم تقبل منا صلاتنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وخشوعنا وتضرعنا وتمم تقصيرنا برحمتك يا أرحم الراحمين

يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك ، يا مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعت ك

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُن وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وَصَلّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِين

عباد الله ، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون ، فاذكروا الله العظيم يذكركم وشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bersabar di Hari yang Fitri (1/2)

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.
(QS. Ali Imran: 186)

Tak terasa, sudah sampai ke penghujung Ramadhan. Banyak hal di akhir Ramadhan ini yang sebenarnya ingin dituliskan. Mulai dari kesan berbeda mengakhiri Ramadhan di masa pandemi Covid-19, penambahan kasus positif corona terbesar di Indonesia hingga menembus lebih dari 20 ribu kasus, hingga drama konser dan lelang sepeda motor Jokowi. Namun dari semua itu, potensi membawakan khutbah Idul Fitri 1441 H sepertinya akan menjadi momen langka. Melihat tren kasus corona, kebijakan pemerintah, dan aktivitas masyarakat Indonesia, pendemi Covid-19 sepertinya masih akan berlangsung lama. Rekor baru penambahan kasus positif corona juga bukan tidak mungkin akan terjadi beberapa waktu ke depan. Drama lucu dan memalukan yang dipertontonkan pemerintah juga bisa jadi masih akan terulang. Namun shalat Idul Fitri di rumah akibat pandemi semoga saja ini akan menjadi yang pertama dan terakhir.

Panduan penyelenggaraan shalat Idul Fitri di rumah, baik sendiri maupun berjama’ah sudah banyak disosialisasikan. Selain niat, pembeda shalat Idul Fitri dengan shalat sunnah lainnya hanyalah terletak pada tambahan takbir tujuh kali di raka’at pertama dan lima kali di raka’at kedua, karenanya tak terlalu sulit untuk dapat dilaksanakan secara mandiri. Sementara khutbah Idul Fitri agak mirip dengan khutbah Jum’at, kecuali urutan pelaksanaannya setelah shalat dan pembacaan takbir dalam khutbah. Namun menjadi khatib relatif lebih berat ketimbang menjadi imam. Butuh keberanian dan kemampuan untuk menyampaikan. Belum lagi beratnya memberi nasihat sementara diri sendiripun masih jauh dari kesempurnaan. Bahkan jika sebatas membacakan teks khutbah yang beberapa sudah beredar pun tetap tidak mudah. Tidak heran belakangan ini justru semakin marak penjelasan bahwa khutbah Idul Fitri bukan termasuk syarat sah shalat Idul Fitri, sehingga tidak dilakukanpun shalat Ied-nya tetap sah.

Menurut penulis, membacakan teks khutbah yang dibuat oleh orang lain punya tantangan tersendiri. Pemahaman dan internalisasinya akan berbeda jika dibandingkan naskahnya dibuat sendiri. Dan menyampaikan khutbah dengan membaca teks juga punya tantangan lainnya. Di satu sisi dapat meminimalisir salah ucap, di sisi lain dapat mengganggu kepercayaan diri khatib. Karenanya penulis yang tipe visual akan menuliskan teks khutbah yang dibuat sendiri untuk memudahkan internalisasi, sehingga tidak perlu membawa teks ketika khutbah. Di sisi lainnya, naskah ini dapat menjadi salah satu referensi khutbah Idul Fitri 1441 H. Tema ‘sabar’ dipilih karena relevansinya dengan kondisi saat ini dan cenderung bersifat universal, dapat disampaikan kapanpun, dimanapun, oleh siapapun.

* * *

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لااله الاالله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ

Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan serta kesempatan untuk bertemu dengan bulan Syawal 1441 H. Di tengah pandemi Covid-19 ini, betapa banyak saudara kita yang terhalang untuk menunaikan shalat Idul Fitri karena kendala kesehatannya. Ada juga mungkin yang terkendala ilmunya, biasanya tinggal ikut shalat Idul Fitri di masjid atau lapangan, namun sekarang karena ada larangan berkumpul jadi bingung bagaimana melaksanakan shalat ‘ied di rumah. Atau bahkan barangkali ada keluarga, tetangga, kerabat, atau rekan kita yang tahun lalu masih bersama kita merayakan lebaran, namun tahun ini sudah tidak lagi membersamai kita. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan mengampuni dosa kita semua.

Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan kita, Rasulullah Muhammad SAW, yang telah banyak mengajarkan kita bagaimana bersabar menghadapi ujian. Shalawat dan salam juga semoga tersampaikan kepada para keluarganya, para sahabatnya, dan segenap umatnya yang istiqomah memegang teguh iman dan Islam. Tak lupa, khatib berpesan ke diri sendiri dan kita semua untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan penuh rasa takut dan harap dalam menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita keimanan, kesehatan, dan keberkahan dalam menjalani aktivitas kita sehari-hari.

الله أكبر، الله اكبر، الله اكبر ، ولله الحمد

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Al Qur’an mengandung lima hal pokok, yaitu akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan tarikh. Dan berbicara tentang akhlak, sabar merupakan akhlak yang paling banyak disebutkan dalam Al Qur’an. Dalam beberapa ayat, bahkan sabar ini disebutkan lebih dari satu kali, misalnya dalam ayat terakhir surat Ali Imran, Allah SWT berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung). Atau dalam akhir surat Al Anfal ayat 46 disebutkan: وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ… (…Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar).

Dalam beberapa ayat, sabar didekatkan dengan shalat, misalnya firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 45: وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ (Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’) dan ayat 153: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ (Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar). Dalam beberapa ayat lain, sabar didekatkan dengan syukur, juga dengan takwa.

Sabar merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa, diantaranya disebutkan dalam akhir surat Al Baqarah ayat 177: وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (…dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa). Dan yang namanya akhlak tidak mengenal tempat dan waktu. Orang-orang yang benar-benar sabar adalah mereka yang senantiasa bersabar kapanpun, dimanapun. Bukan sabar dalam satu kondisi, dan tidak sabar di kondisi yang lain. Kesabaran itu tidak ada batas, sebagaimana balasan bagi kesabaran adalah pahala yang tidak terbatas.

(bersambung)

Wada’an Ya Syahru Ramadhan

Wada’an Ya Syahru Ramadhan…

Idul Fitri tinggal menghitung hari, cepat sekali, dinanti sekaligus ditangisi
Lebaran telah di hadapan, membahagiakan sekaligus mengharukan
Amal shalih kembali penuh tantangan, tak lagi begitu ringan dilakukan
Lapar dan dahaga tak lagi warnai keseharian, setan pun lepas ikatan

Lidah tak lagi mudah dijaga, seolah dusta, amarah dan ghibbah hanya dosa di bulan puasa
Ibadah tak lagi jadi fenomena biasa, masjid kembali hampa, jama’ah entah kemana
Qur’an kembali disimpan, hanya terdengar di pengajian, tahlilan dan event tahunan
Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya, melupakan tempat kembalinya

Wada’an Ya Syahru Shiyam…

Sedih berbalut sesal dan harapan mengiringi kepergian bulan Ramadhan
Entah diterimakah semua amalan dan diampunikah segala dosa kesalahan
Entah masihkah diperkenankan tuk bersua kembali di tahun depan

Yang tersisa hanya kekecewaan, sebab waktu tak bisa kembali ataupun dihentikan
Oh, rindu ini belum terpuaskan, ingin rasanya menambah lama masa kebersamaan
Ulangi kembali masa yang berlalu tanpa kebaikan agar tak berbuah penyesalan

Wada’an Ya Syahru Maghfirah…

Malu rasanya menangis memohon ampunan atas kelalaian mengisi tiap detik Ramadhan
Air mata tumpah sebanyak apapun takkan mengubah kesia-siaan menjadi keberkahan
Takut akan tak diterimanya amal jauh lebih besar dari kebahagiaan menyambut Syawal
Akhirnya, hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah lah do’a dan harapan ini kutitipkan

Nuansa indah Ramadhan takkan kubiarkan berlalu begitu saja di bulan selanjutnya
Efek keberkahan Ramadhan kan terus kujaga, terima kasih telah singgah memberi warna

Wada’an Ya Syahru Mubarak… Ilal liqo…

SMS Idul Fitri 1430 H

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar… La ilaha illallahu allahu akbar… Allahu akbar wa lillahilhamd… Gema takbir, tahlil dan tahmid yang menggema di seluruh penjuru dunia menandakan berakhirnya bulan Ramadhan… Menarik sekali mengamati diskusi panjang penetapan 1 Syawal, memperhatikan antusiasme masyarakat memadati masjid untuk shalat Idul Fitri, mendapati banyak orang mendadak gemar bersilaturahim. Berkenaan dengan fenomena terakhir, ’silaturahim tak langsung’pun tak kalah ramainya, termasuk via SMS. Sudah beberapa tahun ini saya gemar mencatat SMS Idul Fitri yang masuk ke ponsel saya. Menarik sekali mendapati banyak orang yang mendadak menjadi sastrawan =)

Untuk tahun ini, tadinya saya pikir akan ada penurunan tajam ucapan via SMS digantikan dengan facebook yang sedang populer. Ternyata salah, ratusan SMS Idul Fitri tetap saya terima selama beberapa har terakhir. Beberapa mengirim lebih dari sekali. Nah, berikut adalah beberapa SMS yang terpilih secara subjektif menjadi SMS Idul Fitri ’ter-’ tahun 1430 H ini :

Ter – awal :
Assalamu ‘alaikum… saya meminta dengan segenap ketulusan hati & keikhlashan… Mohon maaf lahir bathin atas segala kesalahan yang disengaja atau tidak, besar kecil, disadari atau tidak selama ini… Semoga kita bisa menjadi pribadi yang berakhlak mulia (^_^) (AB, 18 Sept, 10:53:04) –> Untuk menghargainya, sempat saya jadikan status FB =)

Ter – panjang :
Kala Ramadhan menyapa, sukacita kian mengisi di hati. Kita isi hari-hari Ramadhan dengan taqarub ke Ilahi, amalan sunnah dan yaumiyah setia menemani. Dan kala Ramadhan beranjak pergi, semoga lembaran kebaikan telah banyak kita isi dan mudah-mudahan kita menjadi pribadi yang fitri. Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, semoga Allah mempertemukan kita di Ramadhan selanjutnya dan sebelum itu tiba semoga nuansa Ramadhan mengisi hari-hari kita. Tuk tiap hati yang tersakiti, tiap tutur kata yang tak terpuji, tiap akhlak yang menzholimi, tiap amanah yang terlewati, mohon dibukakan pintu hati. Minal aidin wal faizin. Maafkan lahir dan batin (FA, 19 Sept, 19:20:31) –> Lumayan, 5 SMS dalam satu ucapan =)

Ter – curcol :
Kami yang berbahagia dan belum berkeluarga mengucapkan : Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir bathin (ZN, 19 Sept, 20:24:38) –> Hehehe… belum berkeluarga, bangga =P

Ter – salah momen :
Ass. M & family mengucapkan HAPPY NEW YEAR 1430 H. Taqabalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan… Wass (M, 19 Sept, 23:15:39) –> Asli lah, kayaknya SMS 9 bulan yang lalu tuh =P

Ter – ga kreatif 1 :
Ya Rabb, izikanlah kami bersua dengan Ramadhan tahun depan. Semoga kian hari kita kian istiqomah dalam mencari Cinta Nya. Taqabalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir bathin –> dikirim oleh 2 orang yang berbeda tapi sefakultas dan seangkatan (AR & EM) dengan jeda waktu hanya 43 menit (19 Sept, 22:19:03 dan 23:02:10). Sama persis.

Ter – ga kreatif 2 :
Minal aidin wal faizin, semoga kita semua menjadi fitrah kembali (AM, 20 Sept, 06:21:55) –> Asli lah, jauh-jauh, mantan orator cuma SMS segitu =P

Ter – artistik :
_!!__
_,-’:::::::’=,_______
\_______________/
Hidup ini seperti berlayar di lautan luas, sarat dengan godaan dosa bak buih yang tak terlihat. Jika saya melabuhkan salah di hati maka dengan kerendahan hati saya memohon maaf, agar saya bisa kembali berlayar dengan selamat menuju Rabbku “Allah Tuhan Semesta Alam”. Met Idul Fitri 1430 H. ”Minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan batin” (SA, 20 Sept, 06:59:13) –> Bukan hanya gambar dan kata – kata, pengirimpun menyelipkan namanya dalam pesan…

Ter – jauh :
Assalamu ’alaikum. Apa kabar? Semoga sehat selalu. Taqabalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir batin. Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H (AR, 20 Sept, 13:23:25) –> Dikirim dari Maluku

Ter – tanda tanya :
Yang singkat itu waktu, yang dekat itu mati, yang sulit itu ikhlash, yang mudah itu berbuat dosa, yang abadi itu amal kebajikan tetapi yang terindah itu jika kita …? Selamat hari raya. Mohon maaf lahir dan batin (PN, 21 Sept, 09:52:35) –> Serius, di SMS ditulis ’…?’ gitu, diminta ngisi atau apa ya? =) Saya sih tau jawabannya, soalnya pada 20 Sept, 15:29:39 ada orang lain yang kirim SMS mirip

Ter – bahasa planet :
Urang palidkeun kapeurih ka sagala asih, urang lokat kalepatan ku tirta ning rahmat, urang sulam kembang kanyaah ku sutra hampura… Sing kuring sarimbit neda tawakup, ngahaturkeun wilujeng boboran siam 1430 H. Hapunten samudaya kalepatan lahir tumakaning batin… (Y, 21 Sept, 11:46:35) –> Asli, ampe sekarang saya ga tau artinya =P

Ter – favorit :
Ya Allah, ini adalah saudaraku yang shalih dan mulia akhlaknya, indah tutur katanya, lembut budi pekertinya. Ya Allah, pertemukan ia dengan kemenangan sejati dan ketaqwaan, pilihlah ia menjadi kekasih-Mu, berikan kesehatan padaNya, ampunkan segala dosanya, berikanlah kelapangan rizki baginya, jadikan pendamping yang shalihah baginya dan jadikan ia penghuni syurga-Mu. Amiin Ya Allah. Taqabalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri. Mohon maafkan diri kami (SR, 20 Sept, 10:52:41) –> Amiin… dikirim oleh saudara yang terlupakan nun jauh disana… hiks, jadi terharu…

Karena hakikat silaturahim adalah memulai salam, memberi dan menyambung yang terputus, saya sebenarnya berupaya mengirim SMS lebih dulu, namun masih ada sekitar 15% yang mengirimkan SMSnya terlebih dahulu, spesial untuk mereka saya sampaikan do’a kebaikan, ”Ya Allah… Perkayalah saudaraku yang menyambung silaturahim ini dengan keimanan, hiasilah hatinya dengan kesabaran, muliakanlah wajahnya dengan ketaqwaan, perindahlah fisiknya dengan kesehatan, sempurnakanlah kebaikannya dengan keikhlashan, serta terimalah amal ibadahnya karena hanya Engkau Dzat Yang Maha Kuasa”

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih atas silaturahimnya, khususnya untuk AB, Desi, Wawan, Saiful, Ma’rufi, Yessy, Mas Fendi, Ilen, Ibot, Nugie, Indra, Pita, Dino, Tami, Dedi, Anya, Radinal, Dayat, Eka, Herika, Dian K, Dhepe, Yayah, Yuli, Alpha, Misbah, Kemas, Fina, Latri, Pak Dul, BEY, Bonny, Sufyan, Indah, Peny, Andree, 085755263919, Hendra, Fiah, Mpus, Rubby, Rose, Pak Zain, Dhita, Adis, Zahro, Iwan, Icha, Yuwa, Fia, Alwan, Riza, Nunu, Erika, Marsih, Luki, Anto, Adie, Juli, Helmi, Feni, Aca, Ustadz, Lita, Seno, Akbar, Amir, Annisa, Bolly, Catur, Deddy, Evi, Fadli, Maria, Fajar, Dina, Endang, Habibi, Hikmat, Reza, Ahmad, Amin, Agus, Dio, Febna, Erita, Erlangga, Bram, Isoh, Adji, Dikun, Bg Wasis, Firta, Ipin, Jacob, Enggar, Intan, Ginu, Mang Ujang, Masanih, Kusuma, Mita, Firman, Andi Rohman, Thya, Rama, Quni, Sari, Suci, Suyoto, Pak Ali, Bg Saijal, Luthfi, Farah, Ratih, Rangga, Pona, Witri, Laila, Feti, Rio, Sik, Yudi, Yudo, Danar, Kamarudin, Diandini, Pak Ikhsan, Azman, Tia, Jibran, Syamsu, Feni, Muf, Qway, Erna, Mursal, Alfie, Yudha, Akhiyan, Yogi, Ganesh, Fajar, Mas Tanto, Wicak, Habs, Syafrijal, Wulan, Nuris, Suryana, Yudi, Pak Heri, Hasan, Fauzi, Lek Mini, Victa, Ageng, Abdi, Juan, Nta, Richi, Baskoro, 08886168728, Rizha, Iif, Ita, Prianda, Addrei, Aji, Agus, Adhi, Vivi, Aryanto, Bg Andi, Mb Nurul, Angga, Arbi, Budiman, Bunda Nina, Dewa, Rois, Babay, Agus, Melly, Jahidin, Hasdi, 081314235555, Deni, 03191600108, Rifa, Yusuf, Maya, Budink, Naning, Prima, Ramdan, Dani, Fajri, Zainal, Ajeng, Pak Budi, Yoghi, Jumhar, Sukarna, Thika, Mas Arif, Ilham, Vini, Lintang, Vebby, Pak Boy, Pak Luthfi, Mas Veldy, Ika, Mb Dona, Woro, Vian, PW, Annay, Erlan, Dahlia, Muchsin, Zulifan, Jaka, Niken, Rita, Rimas, Indah, Hasan, Diani, Dalya, Lita, Mbak Nana, Perdana, Fitrah