Tag Archives: impian

Quote Ranah 3 Warna

Sudah cukup lama berselang, tulisan baru sepertinya belum kunjung muncul. Perubahan status seharusnyanya tidak bisa jadi alasan untuk kurang produktif menulis, toh blog pendamping hidupku bulan ini saja sudah ada 5 postingan baru. Kayaknya harus ke “Rumah Sakit Malas” nih seperti Alif dan Togar dalam trilogi ‘Ranah 3 Warna’. Berbicara tentang buku karya Ahmad Fuadi tersebut, berikut adalah beberapa quote yang sepertinya menarik untuk dibagi. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

#1 Bersabar dan ikhlashlah dalam setiap langkah perbuatan. Terus – meneruslah berbuat baik ketika di kampung dan di rantau. Jauhilah perbuatan buruk dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bum dan di atas bumi. Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir. Sunguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai. Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu. Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda. Singsingkan lengan baju dan besungguh – sungguhlah menggapai impian. Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan. Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan, karena debat kusir adalah pangkal keburukan.

#2 Going the extra miles. I’malu fauqa ma ‘amilu. Berusaha di atas rata – rata orang lain.

#3 Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah – lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

#4 Sungguh do’a itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkan dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti dengan yang lebih cocok buat kita.

#5 Menuntut ilmu itu perlu banyak hal, termasuk tamak dengan ilmu, waktu yang panjang dan menghormati guru.

#6 Aku baru saja kedatangan tamu. Dia datang sendirian mengetuk – ngetuk pintu hidup. Kursi yang didudukinya masih hangat dan desir angin ketika dia lewat masih mengapung di udara… Tamu yang tidak ada seorang pun yang kuasa menolaknya. Tamu yang membuat semua jantung, hati dan pandangan mata seorang raja diraja pun goyah dan bertekuk lutut. Tamu yang ditakuti umat mansia sepanjang masa. Tamu yang mengisap segenap udara kehidupan. Tamu yang baru berlalu dari rumahku itu bergelar sendu : kematian.

#7 Berjalanlah sampai batas. Berlayarlah sampai pulau.

#8 Latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri kalian sendiri dan Allah. I’timad ‘ala nafsi. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi. Semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti.

#9 Idza shadaqul azmu wadaha sabil. Kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan.

#10 Sebuah sya’ir Arab mengatakan, siapa yang bersabar dia akan beruntung. Jadi sabar itu bukan berarti pasrah, tapi sebuah kesabaran yang proaktif. Dan sesungguhnya Allah itu selalu bersama orang yang bersabar.

#11 Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Di saat kurang senanglah kalian perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelu sampai di tujuan. Setelah ada di titik terbawah, ruang kososng yang ada hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Tuhan telah berjanji bahwa sesungguhnya Dia berjalan dengan orang yang sabar.

#12 Apapun kelebihan dan keterbatasanmu, jadilah orang yang berguna untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, sebanyak mungkin dan seluas mungkin.

#13 Janganlah putus asa karena putus asa adalah penyakit yang menggagalkan perjuangan, harapan dan cita – cita. Problem tidak akan selesai hanya dengan disusahkan, tetapi harus dipikirkan dan dengan selalu dekat kepada Allah serta selalu mohon hidayah dan taufik-Nya. Maka berbuatlah, berpkirlah dan bekerjalah semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertakwa.

#14 Man jadda wajada : siapa yang bersungguh – sungguh akan sukses, man shabara zhafira : siapa yang bersabar akan beruntung, man sara ‘ala darbi washala : siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan.

#15 Rupanya man jadda wajada saja tidak selalu cukup. Aku hanya akan seperti badak yang terus menabrak tembok tebal. Seberapapun kuatnya badak itu, lama – lama dia akan pening dan kelelahan. Bahkan culanya bisa patah. Ternyata ada jarak antara usaha keras dan hasil yang dinginkan. Jarak itu bisa sejengkal, tetapi jarak itu bisa seperti ribuan kilometer. Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati. Dengan sebuah kesabaran. Dengan sebuah keikhlashan. Perjuanagn tidak hanya butuh kerja keras, tapi juga kesabaran dan keikhlashan untuk mendapat tujuan yang diinginkan.

#16 Lan tarji’ ayyamulatil madhat. Tak akan kembali hari – hari yang telah berlalu.

#17 Teman tidak harus selalu bersama. Teman juga tidak harus selalu berdamai. Mungkin kadang – kadang perlu berpisah untuk menghargai pertemanan ini. Sekali – kali kita bisa saja bertengkar untuk menguji seberapa kokoh inti persahabatan itu.

#18 Otak yang biasa – biasa saja selalu bisa diperkuat dengan ilmu dan pengalaman. Usaha yang sungguh – sungguh dan sabar akan mengalahkan usaha yang biasa – biasa saja. Kalau bersungguh – sungguh akan berhasil, kalau tidak serius akan gagal. Kombinasi sungguh – sungguh dan sabar adalah keberhasilan. Kombinasi man jadda wajada dan man shabara zhafira adalah kesuksesan.

#19 Semua bangsa besar adalah bangsa yang gemar menulis dan membaca. Punya budaya literasi. Tanpa keduanya mereka punah dimakan zaman.

#20 Suka dan cinta datang dari Allah. Suka boleh saja, tapi jangan sampai kalian berduaan, karena banyak mudharatnya. Nanti kalau berdua – duaan, ada makhluk ketiga yang diam – diam ada di antara kalian. Dia adalah setan yang membisikkan berbagai hal buruk yang bisa membuat kalian terbawa arus dan melanggar aturan agama. Jadi berteman boleh saja, tapi jangan berpacaran. Kalu nanti tiba masanya, umur kalian cukup dan kemampuan ada, barulah kalian berpasang – pasangan menjadi sebuah keluarga, melalui pernikahan. Percayalah, sesungguhnya itu lebih baik dan aman buat kalian semua.

#21 Tapi sedekat apapun ‘hampir’ itu dengan kenyataan, dia tetap saja sesuatu yang tidak pernah terjadi.

#22 Akan tiba masa kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

#23 Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

#24 Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya, laut bada ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi?

#25 Antara sungguh – sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentmeter, tetapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun, Jarak antara sungguh – sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan – akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, do’a dan sabar yang berlebih – lebih.

#26 Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis – habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh – sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.

Bermimpilah!!!

“Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok” (Hasan Albana)

Inspiratif!! Begitulah kesan yang kurasakan setelah menamatkan membaca buku ‘Negeri 5 Menara’. Banyak pelajaran tentang keikhlashan, kedisiplinan, persahabatan dan berbagai nilai positif lain yang kudapat. Namun dari semua insight tersebut, saya sangat tertarik terkait dengan pewujudan impian. Ya, banyak gagasan di masa depan yang tiba – tiba berlompatan, berbagai impian yang begitu saja muncul dan menanti untuk diwujudkan. Ya, seperti novel Sang Pemimpi dan Laskar Pelangi, negeri 5 menara juga mengajak pembacanya untuk yakin bahwa segala impian –setinggi apapun– dapat diwujudkan, asal ada kesungguhan dalam menggapainya, asal ada usaha melebihi yang biasa orang lain lakukan. Setelah kerja keras, disiplin dan do’a, sisanya biar Allah yang menentukan. Disanalah jargon penuh motivasi ‘Man Jadda Wajada’ dan ‘Saajtahidu fauqa mustawa al-akhar’ menjadi begitu bernilai.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah mengikuti prasangka Hamba-Nya. Dalam hadits lain Rasulullah mengingatkan untuk memperhatikan apa yang diangankan karena tidak ada yang tahu ketetapan Allah terkait impian itu. Karenanya tidak mengherankan mendapati tokoh – tokoh besar yang memiliki impian yang besar pula. Impian yang dulunya mungkin dicemooh dan ditertawakan. Kemudian ‘keajaiban’pun datang dan banyak mata terbelalak ketika impian itu menjelma menjadi kenyataan.

Simaklah seorang anak muda 23 tahun yang bertekad merealisasikan impian Rasulullah 8 abad sebelumnya bahwa konsantinopel akan ditaklukkan. Shalat rawatib dan tahajud yang tak pernah putus serta penguasaan 7 bahasa di usia yang begitu muda hanya beberapa dari perbekalannya untuk mewujudkan impian tersebut. Memindahkan 70 kapal melewati gunung dalam waktu satu malam seolah menunjukkan betapa besar kesungguhannya dalam merealisasikan impiannya itu. Ajaib! Luar Biasa! Akhirnya hanya itu yang terlontar ketika ia berhasil menaklukkan kota dengan sistem pertahanan yang luar biasa tersebut.

Kekuatan impian juga dicontohkan lewat ibu – ibu yang visioner. Seperti Hindun binti Utbah yang sudah ‘mengklaim’ Muawiyah sebagai pemimpin bangsa Arab bertahun – tahun sebelum sejarah mencatat Muawiyah sebagai khalifah pertama Bani Umayah. Atau Syaikh Abdurrahman As Sudais yang sejak kecil sudah diarahkan impiannya menjadi Imam Masjidil Haram. Putaran waktu kemudian menunjukkan bahwa impian tersebut dapat terwujud.

Tidak sedikit orang yang takut bermimpi dan memilih menjalani hari tanpa visi besar. Dalih kekhawatiran menjadi beban hanyalah cerminan ketiadaan komitmen dan kesungguhan. Dalih kekhawatiran akan frustasi dan kekecewaan ketika realita tidak jua sesuai dengan harapan hanyalah cerminan ketidaksiapan dalam menggapai kesuksesan.

Namun perlu juga diingat, impian tidak aman dari fitnah. Karenanya Rasulullah mengingatkan untuk tidak memperpanjang angan-angan. Dan Allah juga telah mengingatkan, “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An Nisa : 120)

Ya, impian tanpa upaya untuk menggapainya adalah kelalaian. Visi besar tanpa kesungguhan untuk mewujudkannya adalah angan kosong. Dan ternyata, pencapaian impian tanpa kerja keras, berbagai ujian dan kesulitan serta pengorbanan hanyalah tipuan. Dan kesuksesan, kemuliaan serta kebahagiaan selalu mengiringi impian yang mulia melalui proses yang mulia.

Hmm, jika tokoh-tokoh seperti Alif, Baso, Raja, Atang, Said dan Dulmajid atau Arai dan Ikal berani bermimpi dan dapat mewujudkan impiannya. Bagaimana dengan kita?

”Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy)

Belajar dari Boneka Daruma

“Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh” (Confusius)

Ahad pagi lalu, aku menonton film Doraemon, film yang sudah kutonton sejak belasan tahun lalu. Hitung-hitung refreshing sebelum berangkat ke rapat panitia walimahan teman. Dalam sebuah segmen, dikisahkan Nobita putus asa terhadap dirinya. Enggan untuk menatap masa depan sementara saat ini saja dirinya begitu bodoh dan lemah sehingga terus teraniaya. Ia mengenang kembali saat indah ketika masa kecil dulu, begitu disayang dan tanpa masalah. Sejurus kemudian, kenangannya tiba pada saat ia terjatuh dan menangis, namun neneknya bukan membantunya berdiri namun hanya memberinya boneka Daruma, yang kemudian jatuh menggelinding lalu kembali dapat berdiri tegak. Nobitapun bangkit dan mendapatkan pencerahan dari neneknya tentang Boneka Daruma, yang tetap dapat berdiri tegak, tanpa dibantu, walau berkali-kali menggelinding dan jatuh. Nobitapun bangkit dari bayang-bayang masa lalu, kemudian melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukannya : belajar!

Hmm, sayapun tertarik mencari informasi tentang boneka sekaligus  mainan asal Jepang tersebut. Model dari benda berbentuk hampir bulat, dengan bagian dalam kosong serta tidak memiliki kaki, tangan dan mata ini adalah Bodhidharma, pendiri dari Zen. Legenda boneka tersebut terinspirasi dari meditasi ekstrim Bodhidharma di sebuah vihara shaolin yang mengubah dirinya menjadi postur meditasi zazen, kakinya dilipat di bawah tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, kakinya mengalami atrophia dan lepas dari tubuhnya, lalu diikuti oleh tangannya. ‘Hebat’nya lagi, sebelum tungkai dan lengannya terlepas, Bodhidharma memperoleh suatu cara untuk mengatasi kelelahan tubuhnya dengan memotong kelopak matanya dan melemparkannya ke tanah yang konon menjadi sebuah pohon teh. Sehingga dipercaya meminum teh dapat membuat terjaga di malam hari seperti Bodhidharma yang terus terjaga selama sembilan tahun. Yah, terlepas dari kepercayaan bahwa boneka ini lambang harapan yang belum tercapai, penolak bala dan pemberi keberuntungan, ada pelajaran berharga yang dapat diambil dari boneka berbusana merah berwajah putih ini.

Pertama, dedikasi dalam menjalankan tugas guna mencapai tujuan. Walau harus menjalani hari-hari yang panjang dan sulit, bahkan harus kehilangan anggota tubuhnya, sosok Daruma digambarkan tetap teguh penuh dedikasi dalam menjalani meditasinya. Bandingkan dengan seseorang yang memiliki tujuan yang lebih tinggi dan mulia, namun cengeng, banyak mengeluh dan enggan berkorban. Tidak tahan dengan kelelahan dan maunya banyak istirahat dan makan. Nah, dedikasi dan kesungguhan dalam berjuang ini yang kerap – disadari atau tidak – hilang dalam keseharian kita dalam mengemban amanah. Akibatnya, yang terlihat hanya jalan yang semakin berat dan tujuan yang semakin jauh…

Kedua, senantiasa bangkit dari kegagalan. Daruma biasanya dibuat dengan alas berat berbentuk lingkaran sehingga walau jatuh terguling seperti apapun ia akan kembali berdiri tegak. Di Indonesia, dengan teknik yang sama, tokohnya banyak diubah. Waktu kecil, aku punya boneka doraemon yang tetap berdiri tegak walau dipukul bahkan dibanting berkali-kali. Kalo sekarang, mungkin sudah ada boneka Dora atau Spongebob yang menerapkan teknik yang sama. Yah, pelajaran penting bahwa ‘pukulan’ dan ‘bantingan’ dalam perjalanan hidup yang mungkin sempat membuat kita jatuh terguling tidak selayaknya membuat kita ‘takut’ untuk kembali berdiri tegak.

Ketiga, tetap memiliki impian dan berupaya mewujudkan impian itu. Di Jepang, orang biasanya melukis sebelah mata Daruma ketika memohon sesuatu dan melukis matanya yang sebelah lagi ketika permohonannya telah terkabul. Bisa dibayangkan motivasi yang akan timbul ketika melihat mata Daruma yang cuma sebelah, orang akan teringat akan impian-impiannya, orang akan tersadar bahwa ada target dan pekerjaan yang harus dituntaskan. Daruma seolah mengingatkan bahwa impian takkan terwujud tanpa motivasi dan upaya nyata untuk mewujudkannya. Sudahkah kita memilikinya?

Akhirnya, Daruma hanyalah sebuah boneka yang takkan memberi manfaat ataupun mudharat, namun dapat kita ambil hikmah darinya. Dan mengambil hikmah bukan sekedar menyadari hikmah namun ada perbaikan nyata terkait hikmah yang telah didapat. Semoga kita memiliki kesungguhan, ketangguhan dan amal nyata dalam menggapai tujuan hidup kita. Semoga Allah senantiasa memberi pertolongan dan meneguhkan langkah kita tetap di Jalan-Nya…

”Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah” (Thomas Alfa Edison)

Ketika Harus Memilih

“Sindrom paska kampus memang bikin gak biasa. Tapi mau gak mau inilah dunia nyata, realita keras dan dinamis, tinggal kita memilih, tergilas atau terus bertahan… dan keistimewaan seseorang takkan pernah hilang tapi hanya terpendam dan akan kembali muncul di saat yang tepat” (SMS dari seorang teman, 9 Mei, 20:13:42)

Akhirnya diri ini memilih setelah sempat tertegun di persimpangan (baca tulisan ‘Di Persimpangan’). Memilih sesuatu yang dapat menjadi batu loncatan tuk menggapai mimpi. Memilih sesuatu yang dapat mengembangkan kapasitas dan melatih kompetensi. Memilih sesuatu yang dapat membuat diri ini bisa hidup bahkan hingga beberapa saat setelah nyawa ini terlepas dari raga. Ya, kebermanfaatan dan kontribusi akan tetap tertinggal pun diri ini tak ada lagi di dunia.

Namun ternyata menggapai mimpi itu tidak mudah. Bukan hanya karena tidak semua orang memiliki impian yang sama. Tapi banyak realita yang memaksa diri untuk berpikir lebih rasional, bekerja lebih keras bahkan sejenak melupakan mimpi yang pernah ada. Ya, disadari atau tidak, banyak orang bekerja tanpa impian dan menularkannya ke orang-orang di sekelilingnya. Akhirnya ketika ujian menghebat, bertahan saja sudah menjadi hal yang nyaris tidak mungkin…

Dan ternyata mengembangkan kapasitas tidaklah mudah sendirian. Butuh waktu, pendampingan, sarana dan fasilitas yang menunjang. Juga butuh rekan kerja untuk berbagi. Kerja profesional bukanlah kerja individual namun kerja tim, karenanya tidak mungkin diri ini tumbuh kembang sendirian. Dan akibatnya ketika kerja dibenturkan dengan kendala personal, perbedaan orientasi dan ketidakidealan tim, pengembangan kapasitaspun tidak utuh. Masih berjalan sementara yang lain berlari, masih berkutat di ‘dalam kotak’ sementara orang lain sudah menjelajahi dunia…

Menjaga kebermanfaatan juga tidak sederhana. Ada unsur orang lain di dalamnya, bukan hanya variabel waktu, kemampuan dan kesempatan. Semakin banyak kebermanfaatan yang hendak tetap kita jaga, semakin banyak pula energi yang perlu disediakan, digunakan untuk kemudian dikumpulkan lagi. Dan dukungan dari segenap pihak menjadi keniscayaan untuk optimalisasi kebermanfaatan. Dan jika kata kuncinya adalah ‘pilihan’, realitanya seringkali kita harus memilih prioritas kebermanfaatan yang akan diberikan, tidak dapat menjaga semua karena berbagai keterbatasan…

Tak pelak lagi, diri ini ‘shock’ dihadapkan dengan berbagai keterbatasan sementara perangkat untuk mengatasinya tidak disediakan. Belum lagi diri ini beradaptasi, berbagai energi negatif dan kendala yang tidak seharusnya ada sudah menerpa. Tersenyum dalam kegundahan. Memaksakan diri untuk tetap semangat dalam segala kebingungan dan kelelahan. ‘Memaksakan’ keikhlashan. Merasa sendirian dan terus memotivasi diri setiap saatnya…

Sebagian teman mengharapkanku tetap bertahan. “… This is the real fight!… Terkadang kita serasa berjuang sendiri, tetapi akan menjadi kenikmatan yang berbeda pada saat kita bisa melewati fasa-fasa yang ‘berat dan cukup melelahkan’ ini. Fastaqim!”, ujar seorang teman. Ada lagi yang menyarankan untuk mundur untuk mencari lingkungan dan kondisi yang lebih mendukung. “Hidup itu adalah seni memilih”, begitu ungkap seorang teman ketika kusampaikan betapa beratnya tantangan yang harus kuhadapi. “Dan antum punya potensi besar yang sayang jika harus ‘habis’ disana…”

Dan sampai sekarang jiwa pembimbang ini terus berupaya memupuk keberanian dan keikhlashan. Belum ada suatu perbaikan yang dilakukan ataupun rencana-rencana membangun yang dilaksanakan. Belum ada perapihan sistem yang dilakukan ataupun optimalisasi potensi yang dapat diberdayakan. Walau berat, masih ada waktu dan kesempatan. ‘Mission Imposible’ ini harus dituntaskan. Dan akhirnya memang harus dimulai dari diri yang dapat senantiasa lebih bersabar, bekerja keras dan cerdas serta tetap menjaga semangat dan keikhlashan. Allah pasti akan memberi jalan keluar atas segala permasalahan, menurunkan pahlawan-pahlawan untuk membantu perjuangan. Ya, nampaknya mundur untuk saat ini bukan solusi malah menambah permasalahan. Hadapi saja, sisanya biarlah Allah yang menentukan dan memberi ganjaran.

“The history of free men is never written by chance but by choice, their choice” (Dwight D. Eisenhower)