Tag Archives: inspirasi

Monitoring dan Evaluasi Produktif (2/2)

Burung Hud-hud pun bercerita panjang lebar tentang negeri Saba’ yang penduduknya menyembah matahari dan dipimpin oleh seorang wanita (QS. An Naml: 22 – 26). Laporan yang detail disampaikan Hud-hud sebagai jawaban atas ketelitian Nabi Sulaiman a.s. Hikmah ketiga dalam melakukan monev efektif adalah dengan memperhatikan hal-hal detail. Hal-hal yang umum tampak akan terlihat lumrah, bahkan bisa ‘dikondisikan’ sehingga terlihat baik. Karenanya Rasulullah SAW mengevaluasi sahabat hingga amalan spesifik, karenanya Umar r.a. melakukan monitoring hingga ke pelosok-pelosok. Sehingga menjadi lumrah ketika menilai kebersihan sebuah rumah misalnya, bukan dilihat dari tampilan luar, melainkan harus dilihat bagaimana dapur dan kamar mandinya, bahkan perlu diperiksa apakah ada debu di perabotan rumahnya.

Menariknya, Nabi Sulaiman a.s. tak lantas meng-iya-kan laporan dari Hud-hud. Beliau akan memeriksa kebenarannya terlebih dahulu (QS. An Naml: 27) dan menugaskan Hud-hud untuk menindaklanjuti temuan tersebut (QS. An Naml: 28). Hikmah keempat dalam melakukan monev efektif adalah memverifikasi temuan. Triangulasi temuan menjadi perlu sebab perspektif manusia beragam, belum lagi karakter manusia juga berbeda-beda, ada yang suka mengeluh, ada yang gemar melebih-lebihkan, ada pula yang terlalu tawadhu. Pembuatan keputusan ataupun aksi tindak lanjut monev sangatlah ditentukan oleh kesahihan temuan, karenanya konfirmasi begitu penting agar tidak ‘salah obat’.

Jalur diplomasi pun ditempuh, mulai dengan pengiriman surat dan memberikan kesempatan bagi Ratu Negeri Saba untuk mendiskusikannya beserta para punggawanya (QS. An Naml: 28 – 35). Ada tahapan dalam melakukan perbaikan, termasuk pelibatan pihak yang dimonev untuk berpikir dan bersikap. Inilah hikmah kelima, memberikan ruang untuk introspeksi, berdiskusi dan menyikapi temuan monev menjadi penting agar hadir kepemilikan terhadap tindakan perbaikan yang diharapkan akan terealisasi. Sikap langsung memberikan umpan balik yang spesifik justru terkesan menghakimi dan meniadakan berpikir kritis yang akan mengeliminasi tumbuhnya kesadaran. Akan lebih baik lagi jika solusi lahir dari wawas diri pihak yang dimonev, komitmen perbaikan tentu akan lebih kuat.

Hal yang cukup menonjol dari surat yang dikirim Nabi Sulaiman a.s. adalah diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim dan berisi ajakan untuk tunduk memeluk Islam (QS. An Naml: 30 – 31). Ada misi perbaikan yang diusung sebagai hikmah keenam. Monev harus didasari keikhlasan untuk melakukan perbaikan dengan rangkaian aktivitas yang penuh kebaikan. Salah satu nilai kebaikan yang harus melekat dalam aktivitas monev adalah integritas. Integritas inilah yang membuat Nabi Sulaiman a.s. menolak harta yang dihadiahkan kepadanya (QS. An Naml: 35 – 37). Integritas inilah yang menjadi hikmah ketujuh. Penilaian hasil monev tidak seharusnya terganggu oleh jamuan yang dihidangkan atau pun akomodasi yang disediakan, apalagi dipengaruhi oleh agenda jalan-jalan yang difasilitasi. Semangat perbaikan yang penuh berkah harusnya dirawat dengan niat baik dan proses yang baik pula.

Setelah itu Nabi Sulaiman a.s. berdiskusi dengan para pembesarnya untuk merumuskan rencana aksi selanjutnya. Beliau menawarkan kepada para pembesarnya fastabiqul khairat untuk memindahkan singgasana Ratu Saba (QS. An Naml: 38 – 40). Hikmah kedelapan itu adalah musyawarah. Sehebat apapun figur individu, akan lebih efektif dan penuh keberkahan segala sesuatu yang diputuskan melalui musyawarah. Hasil keputusan akan lebih ringan untuk dilaksanakan dengan komitmen bersama. Musyawarah juga akan meminimalisir perkara-perkara yang luput karena keterbatasan perseorangan. Dan musyawarah akan memunculkan potensi-potensi untuk berkontribusi melakukan perbaikan.

Strategi menarik yang digunakan Nabi Sulaiman a.s. untuk mengokohkan keimanan Ratu Saba adalah dengan memberikan semacam studi kasus yang menunjukkan keterbatasan Ratu Saba sebagai hamba Allah. Pertama, setelah singgasana Ratu Saba dipindahkan, Nabi Sulaiman a.s. memerintahkan punggawanya untuk mengubahnya, untuk melihat apakah Ratu Saba mengenalinya atau tidak. Ratu Saba tentu terkejut mendapati Nabi Sulaiman a.s. memiliki singgasana yang serupa dengan miliknya (QS. An Naml: 41 – 42). Kedua, lantai istana yang dibuat seperti kolam air semakin menghadirkan kesadaran Ratu Saba bahwa kekuasaan dirinya tak ada apa-apanya. Ia pun lantas mengakui kebesaran Allah SWT (QS. An Naml: 43). Strategi pemberian contoh dan studi kasus ini memperkuat hikmah kelima mengenai pentahapan dan pelibatan secara lebih teknis. Karena sebaik-baik perbaikan hendaknya dimulai dari kesadaran dan pemahaman, bukan karena paksaan. Semakin jelas gambaran perbaikan yang disadari perlu dilakukan, semakin besar pula potensi perubahan yang akan terjadi.

Hikmah terakhir yang tidak dapat luput dari kisah Nabi Sulaiman a.s. adalah senantiasa bersyukur. Dengan segala kekuasaannya, Nabi Sulaiman a.s. tidak pernah lalai dalam bersyukur. “…Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku adalah al-Ghaniy (Maha Kaya), lagi al-Karim (Maha Mulia)” (QS. An Naml: 40). Jika tidak ada temuan mayor dalam aktivitas monev, maka hal tersebut perlu disyukuri. Pun bila ada temuan penting juga perlu disyukuri karena hal tersebut berarti membuka peluang untuk improvement. Masalah kesyukuran ini juga terkait dengan motivasi untuk melakukan perbaikan karena syukur akan berbanding lurus dengan nikmat yang Allah SWT berikan. Termasuk nikmat ditunjukkan kekurangan untuk bisa diperbaiki, nikmat untuk bisa membenahi diri, dan nikmat untuk dapat terus bersyukur.

Jadi jika aktivitas monev hanya jadi rutinitas tanpa pemaknaan mendalam ataupun belum menghasilkan perbaikan seperti yang diharapkan, bisa jadi ada yang salah dalam pemahaman, niat awal, proses yang dilakukan, atau pun penyikapan yang keliru terhadap temuan. Kisah monev ala Nabi Sulaiman a.s. banyak memberi inspirasi tentang menjalani monev secara efektif, mulai dari konsistensi hingga rasa syukur yang hendaknya menyertai setiap aktivitas monev. Dan ada baiknya juga jika inspirasi ini juga menggerakkan setiap kita untuk senantiasa memonitoring dan mengevaluasi diri. Senantiasa mencoba menjadi pribadi yang lebih baik setiap saatnya sebelum hari dimana amalan manusia akan dievaluasi langsung oleh Allah SWT.

…Wahai Rabbku, perkenankanlah aku untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu (Allah) yang telah Engkau  anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih
(QS. An Naml: 19)

Monitoring dan Evaluasi Produktif (1/2)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)

Dalam catatan sejarah, shalat Jum’at dengan jama’ah terbanyak pernah terjadi pada tahun 1453 sekitar 1,5 km di depan benteng Konstantinopel. Sejarah juga mencatat kisah inspiratif di balik terpilihnya Sultan Muhammad sebagai imam shalat dengan jama’ah sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn tersebut. Awalnya, tidak ada yang berani menawarkan diri hingga Sultan Muhammad meminta seluruh kaum muslimin yang hadir saat itu untuk berdiri seraya berkata, “Siapa di antara kalian yang sejak akil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!”. Ternyata tak seorang pun yang duduk. Sultan Muhammad kemudian melanjutkan, “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunnah sekali saja silakan duduk!”. Sebagian kaum muslimin pun duduk. Beliau pun melanjutkan, “Siapa diantara kalian yang sejak masa akil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!”. Semua kaum muslimin pun duduk kecuali Sultan Muhammad –yang bergelar Al Fatih setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel—yang tidak pernah meninggalkan shalat malam dan kemudian dipilih sebagai imam.

Di luar dari inspirasi keteladanan seorang Muhammad Al Fatih, kisah di atas juga menunjukkan pentingnya evaluasi sebagai dasar pembuatan keputusan. Sudah banyak referensi tentang definisi, urgensi, variasi hingga tahapan implementasi dalam monitoring dan evaluasi yang biasa disingkat monev. Sayangnya, berbagai teori tersebut tidak lantas memberikan gambaran utuh tentang monev yang efektif. Jika kita mencermati Deming Cycle atau siklus PDCA misalnya, tahapan Check memegang peranan penting dalam melahirkan suatu perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement). Dalam konsep POAC atau POACE misalnya, Control dan Evaluation menjadi salah dua fungsi utama dalam manajemen yang tak tergantikan. Hal ini menegaskan pentingnya monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan suatu program atau kegiatan.

Ada motivasi dan inspirasi perbaikan yang menyertai aktivitas monev. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah melakukan inspeksi mendadak (sidak) saat berkumpul bersama para shahabat selepas shalat subuh. Kala itu, hanya Abu Bakar As-Siddiq r.a. yang didapati tengah berpuasa, sudah menjenguk orang sakit dan bersedekah sepagi itu sehingga Rasulullah SAW menggembirakannya dengan balasan surga. Evaluasi yang sangat memotivasi sahabat lainnya. Evaluasi juga beliau lakukan dalam berbagai kesempatan mulai dari bacaan Al Qur’an, pemahaman agama, hingga dalam pemilihan duta dakwah dan pasukan perang. Pentingnya evaluasi ini juga tercermin dari sabda Rasulullah SAW, “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Tirmidzi).

Adapun monitoring telah dicontohkan Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. jauh sebelum istilah blusukan dikenal. Ada berbagai kisah inspiratif dari aktivitas monitoring yang dilakukan Khalifah Umar r.a. Salah satu yang dikenal adalah kisahnya dengan janda yang memasak batu untuk membuat anaknya tertidur sehingga Umar r.a. langsung memikul karung gandum, menyerahkannya kepada janda tersebut, bahkan memasakkannya untuk makan anak dari perempuan tua tersebut. Ada berbagai kisah blusukan Umar Al Faruq lainnya, di antaranya dengan perempuan tua yang buta, dengan ibu yang hendak menyapih anaknya ataupun dengan ibu yang hendak melahirkan. Kisah lain yang juga masyhur adalah monitoring yang mengantarkan Umar memperoleh menantu. Muraqabatullah yang ditunjukkan seorang gadis penjual susu yang menolak permintaan ibunya untuk mencampur susunya dengan air, menjadi penyebab Khalifah Umar menikahkan anaknya dengan gadis tersebut. Monitoring yang berkah. Apalagi dari pernikahan tersebut kelak lahir Ibunda dari sosok Umar bin Abdul Aziz yang melegenda.

Monitoring dan evaluasi dapat menghadirkan banyak inspirasi perbaikan asalkan dilakukan tidak sekadar rutinitas, formalitas, apalagi hanya untuk menggugurkankewajiban sekaligus jalan-jalan. Agenda monev juga dapat berujung pada perbaikan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya ketika ada tindak lanjut konkret yang menyertai implementasi monev. Salah satu kisah monev penuh hikmah dapat kita temui dalam kisah Nabi Sulaiman a.s. yang cukup panjang dituturkan dalam Al Qur’an Surah An Naml. Nabi Sulaiman a.s. dikaruniai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan (QS. An Naml: 15), bahkan memahami bahasa binatang (QS. An Naml:16) dan menjadi pemimpin bagi para jin dan manusia. Nabi Sulaiman a.s. biasa mengatur dengan tertib tentaranya dari para jin, manusia dan burung (QS. An Naml: 17), hingga suatu ketika beliau tidak menemukan Hud-hud di barisan burung (QS. An Naml: 20).

Hikmah pertama dari monev ala Nabi Sulaiman a.s. adalah konsistensi dalam mengevaluasi. Tanpa konsistensi dan mengenal benar personil yang dibawahinya, tidak mungkin akan terdeteksi ketidakhadiran seekor burung kecil dengan jambul ini. Konsistensi ini juga ditunjukkan Rasulullah SAW dalam mengevaluasi para sahabat, serta Umar bin Khattab r.a. dalam melakukan monitoring ke warganya. Konsistensi ini bukan berarti tidak melakukan inspeksi mendadak (sidak), namun menunjukkan ada kesinambungan proses monev yang dilakukan. Bukan hanya saat ada kepentingan untuk memenuhi dokumen audit atau sertifikasi, misalnya. Atau sekadar aktivitas mendadak di akhir tahun saat serapan anggaran tidak terlalu baik, misalnya. Konsistensi ini erat kaitannya dengan pemahaman utuh akan urgensi monev, termasuk sebagai upaya menghadirkan perbaikan berkesinambungan.

Konsistensi ini juga terkait dengan ketegasan terhadap aturan main, karenanya Nabi Sulaiman a.s. tak segan untuk menghukum Hud-hud yang mangkir (QS. An Naml: 21). Namun hukuman tidak serta merta diberikan tanpa memberi kesempatan kepada Hud-hud untuk memberikan penjelasan, bahkan pembelaan. Disini ada hikmah kedua aktivitas monev, setegas apapun ketentuan yang diterapkan, tetap perlu dibuka ruang diskusi agar tak sekadar menghakimi. Perlu ditegaskan bahwa esensi monev bukanlah mencari kesalahan, namun mencari peluang perbaikan. Istilahnya ‘tegas namun santun’. Karena ketegasan dan kesantunan bukanlah dua perkara yang layak didikotomikan.

(bersambung)

Prokrastinasi VS The Power of Kepepet

Pada suatu hari, seorang sahabat yang merasa iba melihat kesibukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata, “Wahai Khalifah, tangguhkanlah pekerjaan ini sampai besok!”. Namun dengan tegas Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Pekerjaan satu hari saja sudah membuatku letih, bagaimana dengan pekerjaan dua hari yang terkumpul menjadi satu?”. Dalam sebuah hadits, Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah SAW pernah memegang bahuku sambil bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia seolah-olah orang asing atau pengembara’. Ibnu Umar r.a. berkata, “Kalau datang waktu sore jangan menanti waktu pagi. Kalau tiba waktu pagi jangan menanti waktu sore. Gunakan sebaik-baiknya sehatmu untuk waktu sakitmu dan masa hidupmu untuk waktu matimu.” (HR. Bukhari).

Menunda pekerjaan memang menyenangkan, ada beban yang seakan terlepaskan. Apalagi ada istilah ‘The Power of Kepepet’ yang seolah menegaskan bahwa kreativitas dan beragam potensi akan muncul dalam keadaan terdesak. Pekerjaan pun dapat diselesaikan lebih cepat. ‘Buat apa ngerjain berhari-hari kalau dapat selesai dalam beberapa jam sebelum deadline?’, pikiran sederhananya mungkin seperti itu. Kualitas hasil pekerjaannya debatable. Pekerjaan yang disegerakan penyelesaiannya belum tentu lebih berkualitas dibandingkan dengan yang selesai jelang deadline, yang tak jarang sarat inspirasi entah dari mana. Setidaknya penulis pernah merasakan hal tersebut kala mengerjakan skripsi dalam kurun waktu (hanya) 12 hari mulai dari menulis judul, Bab I – V, daftar pustaka, lampiran dan daftar isi, termasuk pengumpulan dan pengolahan data. Alhasil, skripsi sekitar 150-an halaman yang sempat terbengkalai hampir 3 semester tersebut mendapatkan nilai A-. Sebuah pencapaian luar biasa mengingat dosen penguji seminar berani bertaruh bahwa skripsinya takkan selesai sebelum jadwal sidang keluar. Sebuah pencapaian yang sejatinya tidak membanggakan.

Bersegera melakukan kebaikan, apalagi yang orientasinya akhirat sudah tidak perlu diperdebatkan lagi nilai keutamaannya. Shalat di awal waktu, tidak menunda menunaikan zakat dan infak, segera bertaubat, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan sebagainya. Tanpa perlu banyak dalil sekalipun, ketika kita menyadari bahwa hari esok belum tentu akan kita temui, menyegerakan berbuat kebaikan tentu menjadi sikap paling bijak. Lalu bagaimana dengan upaya mengoptimalkan kekuatan tersembunyi dari ketermendesakan, yang bahkan bisa membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien? Lagipula, bukankah yang terpenting adalah akhir atau kesudahannya?

Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Pertama, pekerjaan para deadliners belum tentu lebih efektif dikarenakan ada unsur ketergesa-gesaan yang akan memengaruhi kualitas suatu pekerjaan. Kedua, mengakhirkan suatu pekerjaan belum tentu lebih efisien, terutama dalam hal waktu. Bisa jadi waktu pengerjaannya lebih cepat karena dikejar deadline, namun waktu inteval antara ‘seharusnya bisa mulai dikerjakan’ dengan ‘realitanya baru dikerjakan’ semestinya juga diperhitungkan. Apalagi faktanya sepanjang waktu ‘kosong’ tersebut, ada beban ‘pekerjaan tertunda’ yang menyertai. Ketiga, hasil akhir memang penting dan menentukan, namun kualitas proses tak bisa dikesampingkan. Ada perbedaan yang cukup mendasar antara suatu pekerjaan yang diselesaikan secara terburu-buru dengan yang dinikmati penyelesaiannya secara tenang.

Idealnya, potensi ‘the power of kepepet’ bisa dioptimalkan tanpa menunggu deadline. Pekerjaan terselesaikan dengan cepat di awal waktu sehingga ada banyak waktu untuk melakukan hal produktif lainnya. Namun sekiranya tidak memungkinkan, yang perlu dilakukan adalah menunda untuk menyelesaikan, bukan menunda untuk mengerjakan. Menunda untuk mengerjakan adalah suatu bentuk kemalasan, pelakunya biasanya terjebak untuk menggantikan aktivitas penting yang seharusnya dilakukan dengan aktivitas yang tidak bermanfaat. Atau pelakunya menunda pekerjaan karena harus mengerjakan pekerjaan lain yang tertunda. Itulah hakikat prokrastinasi. Bahkan tidak ada jaminan pekerjaan tersebut akhirnya benar-benar dikerjakan apalagi diselesaikan. Menjelang akhir yang ada hanyalah keluhan, frustasi, keputusasaan dan penyesalan.

Menunda untuk menyelesaikan berarti mulai mengerjakan. Namun masih membuka ruang improvement akan berbagai ide ataupun inspirasi yang bisa jadi muncul belakangan. Tergesa-gesa dalam menyelesaikan pekerjaan, pun itu dilakukan di awal, berpotensi tidak menghasilkan yang terbaik. Jadi yang ditunda adalah penyelesaiannya untuk memberikan hasil terbaik. Interval waktu antara penyelesaian awal dengan finishing bisa digunakan dengan produktif, tidak terlalu membebani toh hasil akhirnya sudah ada, tinggal disempurnakan, jika perlu. Dan yang pasti semuanya terencana.

Lulus tepat waktu mungkin baik, tetapi lulus di waktu yang tepat lebih baik. Bisa jadi dipercepat, bisa juga ditunda jika memang ada aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan bekal penting yang harus dipenuhi. Lulus tepat waktu tidak menjamin kualitas lulusan karena fokusnya hanya ke ‘waktu’. Mirip dengan pilihan menyegerakan menikah atau menikah di waktu yang tepat. Lebih cepat belum tentu lebih baik. Ada pertimbangan yang lebih kompleks dari sekadar ‘segera berubah status’. Pepatah ‘kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda’ juga menunjukkan bahwa penundaan tidak semuanya prokrastinatif. Selama sudah memulai dan mengisinya dengan aktivitas produktif, maka menunggu momentum untuk menyempurnakan pekerjaan berbeda dengan prokrastinasi. Lalu bagaimana dengan ‘the power of kepepet’? Yah, pada akhirnya mereka yang memiliki ketergantungan terhadap ketermendesakan untuk optimalisasi potensi, selamanya tidak akan pernah optimal potensinya. Ya, ‘the power of kepepet’ bukan alasan untuk melakukan prokrastinasi, namun meyakini bahwa ada jalan keluar untuk kondisi sesulit apapun. Pasti!

Musuh terbesar dalam mencapai tujuan adalah penundaan. Kenapa banyak orang suka menunda? Karena ketakutan! Takut gagal, takut ditolak, takut kecewa, takut diejek, dan segala macam ketakutan yang lain” (Jaya Setiabudi dalam ‘The Power of Kepepet’)

Inspirasi Merawat Indonesia dari Mancanegara

“Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu” (Imam Syafi’i)

Beberapa tahun lalu, Rhenald Kasali, salah seorang Guru Besar FEUI membuat tulisan tentang paspor yang disebutnya sebagai “surat izin memasuki dunia global”. Tanpa paspor, manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, dan menjadi pemimpin yang steril. Yang dimaksudkan Pak Rhenald tentu bukan sekedar keberadaan paspor, tetapi penggunaannya dalam bepergian ke luar negeri. Sebegitu pentingnya kah ‘tamasya’ ke mancanegara?

Indonesia Negara yang ramai dan ramah, penduduknya yang banyak takkan merasa kesepian. Indonesia Negeri yang kaya akan keragaman, hampir semua sketsa keindahan dunia ada di Indonesia. Mulai dari panorama dasar laut, pantai, sawah, hutan, hingga gunung berpuncak salju dapat ditemukan di nusantara. Lalu buat apa wisata ke luar negeri yang hanya menambah devisa Negara destinasi? Apalagi seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, gambaran tentang Negara-negara di penjuru dunia sudah terpampang jelas di dunia maya.

Katak yang terkungkung dalam tempurung akan melompat lebih rendah dibandingkan katak yang hidup di alam bebas. Tak heran, banyak pemimpin besar lahir dari mereka yang pernah merasakan perjalanan jauh ke tempat baru yang memberi inspirasi tersendiri yang mewarnai hidup mereka. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, begitu kata petuah Arab. Bukan Cina sebagai satu-satunya destinasi yang ditekankan, tapi betapa banyak hikmah yang dapat diambil dari setiap perjalanan. Hikmah yang lebih membentang cakrawala dalam berpikir dan bertindak.

Inspirasi itu datang melalui proses panjang, bahkan sekalipun ‘belum berhasil’ menempuh perjalanan ke luar negeri, hikmah itu sudah dapat dirasakan. Saya pernah urung mempresentasikan paper dalam kegiatan World Zakat Forum di New York, USA karena terbentur dengan berbagai prioritas kegiatan lain. Namun pengalaman mengurus visa USA yang penuh lika-liku bisa jadi cerita tersendiri. Dan dalam banyak kesempatan, selalu ada skenario lebih indah yang menyertai ‘asa yang tertunda’ asalkan ada keyakinan dan ikhtiar nyata. Karenanya kisah perjuangan yang tidak mudah untuk dapat menuai hikmah di luar negeri bisa menjadi inspirasi dan bahan refleksi diri.

Inspirasi itu hadir melalui interaksi lintas bahasa dan lintas budaya. Ada berbagai hal positif yang dapat diambil hikmahnya dan potret negatif yang kian memperkaya rasa syukur kita. Memang sudah menjadi watak manusia untuk kurang bersyukur sebelum kehilangan. Kecintaan terhadap tanah air akan semakin menguat di negeri orang, setidaknya itulah yang pernah saya rasakan. Di balik kekaguman akan kedisiplinan dan penataan kota di Singapura misalnya, ada semburat syukur atas potret Indonesia yang lebih humanis dan ramah. Di balik inspirasi akan fokus, kerja keras dan kemandirian penduduk negeri India, ada kebanggaan tersendiri menjadi warga Negara Indonesia yang lebih egaliter dan santun. Tekad untuk merawat Indonesia pun kian berkobar. Nilai rasa yang tidak tergantikan hanya dari telusur literatur ataupun berselancar di dunia maya.

Dunia adalah sebuah buku dan orang-orang yang tidak pernah melakukan perjalanan ia hanya membaca satu halaman. Hikmah dapat datang dari mana saja. Sesekali kita memang perlu menengok dari luar untuk memperbaiki rumah kita. Tentu berbagai inspirasi menandang mancanegara untuk merawat Indonesia tidak sebanding dengan inspirasi yang langsung dirasakan dengan bertualang ke negeri orang. Semoga kumpulan tulisan ini bukan sekedar menginspirasi, tetapi juga mampu memotivasi kita untuk bergabung sebagai para penjelajah hikmah perjalanan. Perjalanan yang –kata Imam Syafi’i—mampu melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” (H. Jackson Brown Jr.)

*tulisan ini merupakan kata pengantar buku online “Menandangi Mancanegara” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Bermimpi

“Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi – mimpinya”
(Eleanor Roosevelt)

“Jika engkau bisa memimpikannya, engkau akan bisa melakukannya. Sungguh sangat menyenangkan melakukan hal yang ‘tak mungkin’”
(Walt Disney)

* * *

Judul diatas mengingatkan penulis pada lagu Base Jam dengan judul serupa yang sempat menjadi hits di medio tahun 90-an. Sayangnya, menurut hemat penulis, lirik lagunya kurang membangun. Bermimpi diidentikan dengan sikap berpangku tangan yang dekat dengan kemalasan. Orang yang bemimpi dikesankan tidak punya konsep diri, tak tahu mau jadi apa di masa depan. Ya, para pemimpi dipandang sebagai mereka yang kurang produktif padahal membangun impian adalah titik awal produktivitas. Padahal mimpi adalah sesuatu yang akan menjadi kenyataan di kemudian hari. Dan mimpi merupakan harta berharga yang dimiliki setiap orang, sampai – sampai Andrea ‘Sang Pemimpi’ Hirata menyebutkan melalui salah satu tokoh dalam novelnya bahwa tanpa mimpi, kita akan mati.

Visualisasi Impian : Tulislah Mimpimu!!
Dalam sebuah acara pesantren kilat yang penulis kelola beberapa waktu yang lalu, ada video inspiratif yang diputarkan. Berkisah tentang Danang Ambar Prabowo ‘Sang Pembuat Jejak’ yang menuliskan 100 impiannya dan mendapatkan lebih dari apa yang diimpikan. Beberapa pekan kemudian, Aris Setyawan, seorang alumni penerima Beastudi Etos Bogor mengantarkan sebuah buku buah karyanya bersama Danang berjudul ‘Pemimpi Luar Bidahsyat’. Dalam buku itu dipaparkan lebih jauh bagaimana seorang Danang dapat mengikuti Pekan Ilmiah Nasional, MTQ Nasional, menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional, terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti lomba di Selandia Baru, menerima beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Negeri Sakura hingga mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Fuji. Dan kesemua capaian itu berawal dari dua lembar kertas yang berisikan 100 impiannya. Impian yang kemudian dapat diwujudkannya.

Banyak kesuksesan yang berawal dari mimpi, namun ternyata memulai bermimpi tidak semudah yang dibayangkan. Karena impian yang bukan sekedar bunga tidur, dibuat dalam keadaan sadar, menuntut konsekuensi untuk dapat direalisasikan. Karenanya butuh keberanian untuk dapat memulai sebuah impian. Untuk dapat menginternalisasi impian dan menimbulkan afirmasi positif, impian yang dimiliki seharusnya tidak sekedar diingat, tetapi harus dituliskan. Dalam hal ini, butuh keberanian ekstra untuk dapat memulainya. Cobalah memulai untuk menuliskan beberapa, puluhan, ratusan atau bahkan ribuan impian di atas kertas. Tidak akan sesederhana yang dibayangkan. Selain keberanian, butuh kreativitas memang. Biarkan impian itu muncul secara alami, termasuk hal – hal sederhana yang belum dapat diwujudkan. Pahami impian yang dituliskan, selami lebih dalam dan sadari pula langkah – langkah yang diperlukan untuk mewujudkan impian itu. Jika masih sulit, istirahat sejenak untuk kemudian kembali fokus menuliskan impian.

Jauh sebelum Jim Carrey terkenal, ia pernah menulis di atas sebuah kertas $ 10.000.000 (sepuluh juta US dollar, jika dirupiahkan lebih dari 93 Milyar rupiah). Dia yakin suatu saat akan memperoleh bayaran senilai itu dan kemudian terwujud ketika dia membintangi ’The Mask’. Di sebuah restoran kecil, terdapat tulisan ’suatu saat saya akan menjadi bintang film terkenal, dst’ bertanda tangan Bruce Lee. Beberapa tahun kemudian, tulisan itu diperbincangkan menyusul munculnya bintang film kung fu terkenal bernama Bruce Lee. Kate Winslet, penerima piala Oskar 2009 sebagai aktris wanita terbaik mengatakan bahwa sejak usia 8 tahun dia sudah sering berlatih mengucapkan terima kasih dengan memegang botol shampo sebagai ’piala Oskar’nya dan hal tersebut akhirnya terealisasi bertahun – tahun kemudian. Itulah contoh beberapa orang yang berani memvisualisasikan impiannya, memahami benar impiannya dan bagaimana cara menggapainya serta melakukan usaha yang tepat untuk dapat mewujudkan impiannya tersebut.

Keajaiban Impian
Keberanian itu bernama impian. Impian untuk merdeka dari penjajahan lah yang melahirkan keberanian para pahlawan untuk menghadapi persenjataan canggih penjajah hanya dengan bambu runcing. Kekuatan itu bernama impian. Impian untuk menghapuskan diskriminasi ras (apartheid) di Afrika Selatan lah yang memberikan kekuatan bagi Nelson Mandela untuk menghadapi berbagai tantangan demi kemerdekaan bangsanya. Keajaiban itu bernama impian. Impian untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsanya lah yang mendatangkan keajaiban bagi seorang pesenam Jepang yang meraih medali emas Olimpiade sambil menahan sakit dalam kondisi tumit yang retak dan mengakibatkan ia cacat seumur hidup.

Terlalu banyak nampaknya jika diceritakan betapa impian mampu mendatangkan keajaiban. Mereka yang mempunyai mimpi, biasanya akan gigih berjuang untuk mewujudkan impiannya. Tak banyak keajaiban yang dapat tercipta tanpa impian. Karenanya, impian tidak seharusnya dibenturkan dengan realita, impian tidak perlu disesuaikan dengan kemampuan. Biarlah kemampuan yang akan menyesuaikan impian, dan disitulah letak keajaiban impian. Tidak ada hal yang sulit dilakukan selagi masih ada kemauan. Hal yang perlu dilakukan untuk mendatangkan keajaiban impian hanyalah mengalahkan berbagai keraguan, kerja keras dan konsistensi dalam menggapai impian. Semakin tinggi impian, ujiannya akan semakin besar dan konsistensi akan semakin dibutuhkan. Sisanya, biarkan Allah yang akan menetapkan hasil.

Bukan Sekedar Mimpi, Berjuanglah!!
Sekedar bermimpi tanpa mencoba mewujudkannya memang takkan berarti apapun, namun tanpa mimpi, jelas tidak ada yang dapat diwujudkan. Sejak zaman dahulu, banyak manusia bermimpi dapat terbang seperti burung, namun tidak banyak yang berupaya mewujudkannya. Adalah hal yang mustahil bagi manusia untuk dapat melawan gravitasi. Wright bersaudara yang mencoba melawan arus persepsi manusia kebanyakan itu justru dicap sebagai orang yang tidak waras. Impiannya untuk dapat membuat mesin yang dapat menerbangkan manusia hanya dianggap bualan belaka. Dan ketika Wright bersaudara berhasil terbang dengan pesawat sederhana bermesin ganda, barulah semua mata terbelalak tersadarkan bahwa terbang bukanlah hal yang tidak mungkin. Memang tidak mudah, berbagai kegagalan pun sempat menyapanya, namun akhirnya impianpun dapat terealisasi. Dan Wright bersaudara tidak sendiri, banyak sekali orang sukses yang memulai kesuksesannya dengan bermimpi yang mendorongnya untuk bekerja keras mewujudkannya.

Impian harus terarah dan terorganisir sehingga impian dapat memotivasi, memberikan arah sekaligus menata kerja. Setelah itu, untuk mewujudkan impian, sebaiknya dimulai dengan konsep diri yang positif, bagaimana memulai hari dengan optimisme dan menyadari bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membuat kita jatuh kecuali kita yang mengizinkannya. Konsep diri yang positif ini kemudian dilanjutkan dengan mentalitas pantang menyerah dan kerja keras penuh semangat. Berjuang untuk meraih mimpi memang tidak mudah, butuh keyakinan, konsistensi, keuletan dan sikap mental positif. Namun perlu disadari juga bahwa mimpi sejatinya dianugerahkan kepada kita agar kita dapat berpikir besar. Hanya dengan berpikir besar lah kita dapat menjadi besar, dan semua itu diawali dengan impian yang besar. Mari kita berjuang untuk terus membangun impian dan berupaya merealisasikannya!!

* * *

“Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi – pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy)

Wallahu a’lam bishawwab

Ps. Terinspirasi dari buku ‘Pemimpi Luar Bidahsyat’, Danang A P & Aris S