Tag Archives: integritas

Karakter Kepemimpinan ala Najmuddin

Rasulullah, kesempurnaan pribadimu tak henti dipujikan. Para sahabat pun musuhmu jua mengakui segala kelebihanmu. Liputan zaman dan kurun waktu, berkisah keluhuran budi pekertimu. Dalam dirimu terhimpun segala keutamaan insan mulia…” (‘Rasulullah’, Najmuddin)

Ada hal yang menggelitik ketika penulis mencoba menyelami konsep ‘kepemimpinan kenabian’ dalam beberapa buku referensi. Ada perbedaan yang cukup signifikan mengenai model kepemimpinan masing-masing nabi, tak ada standar baku. Inspirasi kepemimpinan Nabi Nuh a.s. yang gigih berdakwah hingga 950 tahun jelas berbeda dengan inspirasi kepemimpinan Nabi Yunus a.s. yang justru memperoleh banyak hikmah akibat ketidaksabarannya dalam berdakwah. Namun menjadikan kepemimpinan Nabi Nuh a.s. sebagai model terbaik juga tidak tepat. Dalam hal sederhana, misalnya tentang dakwah keluarga saja, tentu kita tidak dapat mengambil teladan dari Nabi Nuh a.s. Pun demikian jika kita coba membandingkan inspirasi kepemimpinan Nabi Sulaiman a.s. dengan segala kedigjayaannya dengan Nabi Musa a.s. yang kala itu justru tengah menggugat penguasa. Pada akhirnya, model kepemimpinan yang utuh baru akan kita dapati dalam lembar sejarah kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah SAW adalah pribadi paripurna yang menyempurnakan model kepemimpinan para nabi sebelumnya. Karenanya kita bisa meneladani banyak hal dari beliau termasuk yang terkait dengan keistimewaan Nabi-nabi sebelumnya. Misalnya tentang kesabaran berdakwah ala Nabi Nuh a.s, mencari dan memperjuangkan kebenaran ala Nabi Ibrahim a.s., kelapangan dada ala Nabi Yusuf a.s., keberanian revolusioner ala Nabi Daud a.s., dan sebagainya. Keteladanan Rasulullah SAW juga dikuatkan dengan berbagai dalil, bahkan dari testimoni orang-orang non muslim. Jika ada hal yang belum disepakati, itu adalah berkenaan dengan karakter utama keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW, karena ternyata shiddiq, fathonah, amanah, dan tabligh belum cukup lengkap untuk menggambarkan keteladanan kepemimpinan beliau.

Dalam sebuah nasyidnya, Najmuddin menggambarkan tentang berbagai keutamaan Rasulullah SAW yang secara sederhana terbagi dalam tiga bagian: Rasulullah SAW sebagai individu, sebagai hamba Allah, dan sebagai pemimpin. Dalam kaitannya Rasulullah SAW sebagai individu, Najmuddin mengungkapkan, “Tinta emas sejarah telah mencatat rapi keagungan budi perkerti. Kecerdasan fikiran, keutuhan pribadi, Rasul muara teladan suci”. Ada empat karakter penting individu yang perlu dimiliki: akhlak mulia, cerdas, integritas, dan keteladanan. Jika kita coba menyelami lembar demi lembar sirah Rasulllah SAW, kita akan mendapati keempat karakter ini senantiasa melekat dalam diri Rasulullah SAW sejak beliau muda. Reputasi beliau pun terbentuk karena berbagai keutamaan ini. Tidak hanya di mata manusia, tetapi juga mulia di mata Allah SWT. “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al Qalam: 4).

Hamba Allah yang taat tawadhu, penyempurna risalah Allah yang suci. Pancaran pribadi agung nan tinggi, berikan teladan suci bagi insani”, begitu ungkap Najmuddin selanjutnya. Ada empat karakter penting sebagai hamba Allah: ta’at, tawadhu, gigih berdakwah, dan menenteramkan hati. Konsekuensi manusia sebagai hamba adalah ketundukan sepenuhnya kepada Allah SWT, dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Penghambaan juga menghancurkan kesombongan hingga tidak ada benih sekecil apapun. Namun perwujudan jati diri manusia sebagai hamba Allah tidak cukup hanya sampai pada dirinya, melainkan perlu disampaikan kepada orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun keteladanan. “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Adapun terkait Rasulullah SAW sebagai pemimpin, Najmuddin mengatakan, “Pemimpin manusia bijak bersahaja, teguh berpegang pada kebenaran. Gigih menegakkan tonggak keadilan, berikan sentuhan yang mengagumkan. Dirimu telah tundukkan kepalsuan duniawi ‘tuk tuju surga yang abadi. Risalah yang kau sampaikan jaminan pembawa Rahmat bagi alam semesta”. Ada enam karakter kepemimpinan Rasulullah SAW: bijaksana, bersahaja, istiqomah, persisten, inspiratif, dan visioner. Fondasi dari karakter kepemimpinan ini adalah karakter personal dan karakter hamba, sehingga pemimpin tetap harus berakhlak mulia, cerdas, memiliki integritas dan keteladanan, ta’at kepada Allah SWT, rendah hati, menyebarkan kebaikan, dan mampu menyentuh hati.

Kebijaksanaan menjadi karakter penting bagi seorang pemimpin karena jihadnya seorang pemimpin adalah melalui kebijakannya. Kesederhanaan juga biasa melingkupi kehidupan para pemimpin besar sebab fitnah kepemimpinan sudah terlalu besar tanpa harus ditambah dengan gaya hidup glamour. Pemimpin yang kuat adalah yang punya sikap dan tegas dalam membuat keputusan. Pemimpin juga harus memberi teladan dan inspirasi, yang akan mempererat kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Menunjukkan arah tujuan beserta jalannya, sekaligus orang pertama yang memulai melangkah untuk sampai ke tujuan. Dan pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menundukkan berbagai fitnah kepemimpinan, termasuk menundukkan dirinya sendiri.

Rasulullah SAW ibarat telaga yang sangat luas dan dalam. Mengambil air ibrah darinya serasa tak ada habisnya. Karenanya, berbagai inspirasi itu sebaiknya segera diinternalisasi, beberapa pembelajaran tersebut seyogyanya dapat langsung diamalkan. Karena domain karakter kepemimpinan adalah domain amal, bukan sekadar pengetahuan, apalagi cuma hapalan. Kita memang bisa mengambil ibrah kepemimpinan dari siapa saja, namun jangan lupakan sudah ada manusia paripurna yang menjadi uswatun hasanah bagi seluruh umat manusia. Semoga kita benar-benar apat menunjukkan kecintaan kita pada Rasulullah Muhammad SAW dengan meneladani beliau dalam diamnya ataupun bicaranya, dalam perkataannya ataupun perilakunya.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab: 21)

Karena Orang Terdidik Itu (Harusnya) Jujur

“To make your children capable of honesty is the beginning of education” (John Ruskin)

Beberapa hari lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan bahwa berdasarkan simulasi dengan data 5 tahun terakhir, hanya 30 kabupaten/ kota yang memiliki indeks integritas yang tinggi, artinya tingkat kecurangan kurang dari 5 persen[1]. Terlepas dari indikator pengukurannya seperti apa, angka yang masih sangat memprihatinkan mengingat terdapat 416 kabupaten dan 98 kota (termasuk kabupaten dan kota administratif) di Indonesia. Tak lama berselang, muncul informasi bahwa soal Ujian Nasional (UN) 2015 bocor di internet. Tidak tanggung-tanggung, ada 30 paket soal UN yang diunggah dari akun Google Drive dalam format PDF.

Kasus kebocoran UN bukan hal baru, sudah mulai dianggap lumrah malah. Paket soal diperbanyak, polisipun dikerahkan. Berbagai upaya yang sudah dilakukan  untuk mengantisipasi kebocoran sepertinya justru menambah kreativitas para pembocor. Untuk kasus terakhir, Mendiknas memang lantas menghubungi pihak Google untuk menghapus unduhan paket soal UN sehingga sekarang file tersebut tidak dapat ditemukan. Namun tetap saja kebocoran sudah terjadi dan tersebar, tidak hanya di satu daerah, melainkan ke pelosok Indonesia bahkan ke penjuru dunia. Kemendiknas boleh mengatakan bahwa yang bocor hanya 0,25 persen soal, namun nyatanya pola paket soal UN tetaplah sama hanya berbeda urutan soalnya saja. Tidaklah mudah membuat variasi soal yang benar-benar berbeda namun memiliki bobot yang sama. Sementara demi keadilan, paket soal harus memiliki bobot yang sama. Sehingga 30 paket soal UN yang bocor bisa jadi merupakan sampel yang cukup untuk menggambarkan populasi seluruh paket soal UN yang dikeluarkan.

Pemerintah mungkin boleh saja menimpakan kesalahan ke pihak percetakan, termasuk membawanya ke jalur hukum, namun pemerintak tidak seharusnya berlepas tangan atas persoalan kejujuran UN dan integritas pendidikan. Tahun ini mulai dilaksanakan UN online melalui Computer Based Test (CBT) yang diklaim lebih hemat, cepat, dan jujur. Dalam aspek operasional, mungkin bisa ada diskusi pro kontra terkait UN online ini, namun dalam aspek kejujuran hampir dapat dipastikan para pembocor akan menemukan baru untuk menembus keamanan sistem UN online. Dan jika sistemnya berhasil ditembus, hasil UN se-Indonesia akan invalid. Investasi sistem baru (yang sebenarnya) visioner akan sia-sia jika yang dilakukan hanya mengubah cara dan pendekatan, tanpa menyelesaikan akar masalah.

Apa yang dilakukan pemerintah dengan tidak lagi menjadikan UN sebagai prasyarat kelulusan sudah tepat dalam upaya untuk mereduksi kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Namun kedudukan UN sebagai alat pemetaan kualitas pendidikan seharusnya tidak perlu disertai dengan embel-embel menjadi pertimbangan untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi yang malah menimbulkan paradoks. Motif kecurangan hanya akan berpindah dari lulus sekolah menjadi lulus masuk ke perguruan tinggi. Selain itu, permasalahan integritas pendidikan belumlah selesai. Dengan tidak dijadikannya UN sebagai syarat kelulusan, integritas sekolah lebih diuji. Katrol nilai secara massal mungkin saja akan terjadi, toh kewenangan adanya di masing-masing sekolah. Kebohongan akan menghasilkan kebohongan baru, kecurangan akan melahirkan kecurangan yang lain.

Pada September 2013, Reader Digest menggelar tes kejujuran bernama Lost Wallet, dimana di beberapa kota besar di dunia dijatuhkan 12 dompet di tempat umum yang berisi kartu nama, nomor telepon, sebuah foto keluarga dan uang setara USD 50 dolar. Hasilnya, Helsinki, ibukota Finlandia menjadi kota paling jujur, dimana 11 dari 12 dompet tersebut kembali ke pemiliknya dengan utuh. Salah satu penemu dompet mengatakan bahwa kejujuran adalah bagian dari kepribadian masyarakat Finlandia. Indeks Persepsi Korupsi di Finlandia memang mencapai 89, sementara Indonesia hanya 34 (skala 100). Budaya jujur yang telah tertanam ini pastinya ada kaitannya dengan kualitas pendidikan Finlandia yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Jakarta, ibukota Indonesia memang tidak masuk dalam daftar survey, pun tidak sulit membayangkan hasilnya. Awal tahun 2015 lalu ada survei salah satu media terkemuka Inggris, The Economist, yang menempatkan Jakarta sebagai kota paling tidak aman di dunia. Aspek yang disurvey mencakup keamanan kesehatan, digital, infrastruktur, dan personal. Salah satu indikatornya adalah maraknya penipuan dalam perdagangan online. Kejujuran memang masih jadi tantangan di negara ini. ICW bahkan mengungkapkan bahwa korupsi terbesar ada di institusi pendidikan. Ironis, dunia pendidikan yang mestinya sarat dengan nilai kejujuran, justru terdepan dalam memberi contoh tentang kecurangan.

Permasalahan kejujuran dan integritas memang lebih fundamental dan filosofis. Perlu ada perubahan paradigma, setidaknya dalam hal orientasi pendidikan. Orientasi belajar siswa dan arah pendidikan di Indonesia lebih didominasi oleh ukuran nilai kuantitatif. Hal ini sudah ditanamkan sejak usia dini dan di pendidikan dasar bahwa belajar untuk dapat nilai yang bagus atau dapat ranking baik di sekolah. Keberhasilan belajar ditunjukkan dengan nilai yang memuaskan atau indeks prestasi yang tinggi. Padahal orientasi hasil tidak selalu mensyaratkan kebaikan dalam prosesnya. Tidak heran di beberapa negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, nilai akademis tidak diperkenalkan di tingkat dasar, yang dikuatkan adalah nilai – nilai dalam kehidupan (values), termasuk kejujuran. Alhasil, persoalan integritas dan karakter yang relatif sulit dibentuk seiring bertambahnya usia sudah diselesaikan di awal. Sementara persoalan ilmu pengetahuan yang terus berkembang dikuatkan dan difokuskan kemudian.

Kuantifikasi ukuran keberhasilan tidaklah salah, yang keliru adalah ketika orientasi nilai menjadi tujuan sehingga membenarkan segala proses yang dilakukan. Pejabat korupsi, guru besar plagiat, kepala sekolah menyelewengkan anggaran, guru berbuat curang dan siswa mencontek adalah hasil dari pendidikan yang hanya mengedepankan hasil dan materi yang terukur. Kejujuran seharusnya memang sudah jadi hal yang natural, namun bukan berarti tidak perlu dihargai sebagaimana penghargaan terhadap prestasi akademik. Belum lagi jika kita perdalam mengenai minat dan bakat siswa yang tidak semuanya berdimensi kuantitatif, akan semakin tampak bahwa ukuran nilai an sich kerap memberikan vonis yang tidak adil.

Kejujuran adalah salah satu hal yang pertama harus diajarkan oleh dunia pendidikan. Agar tidak ada lagi siswa yang berbuat curang, guru yang mencontohkan kecurangan, warga yang diusir karena melaporkan kecurangan, atau pendidik dan pemimpin yang hidup bergelimang kebohongan. Agar tidak ada lagi yang beranggapan bahwa hasil buruk hanya bagi mereka yang jujur dan kurang beruntung. Karena memang tidak ada yang bisa dibanggakan dari nilai bagus hasil dari ketidakjujuran. Karena nilai memuaskan yang tidak dapat dibuktikan dengan kualitas tidak akan berarti apa-apa. Karena pada hakikatnya kualitas pendidikan berbanding lurus dengan integritas. Karena orang terdidik memang seharusnya jujur.


[1] http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/15/04/14/nms0xv-mendikbud-hanya-30-kabupaten-tingkat-integritasnya-tinggi

Pendidikan Karakter, Buat Apa?

“Most people say that is it is the intellect which makes a great scientist. They are wrong: it is character.” (Albert Einstein)

Beberapa tahun belakangan istilah ‘karakter’ menjadi populer di dunia pendidikan. Berbagai permasalahan bangsa yang kompleks disinyalir bersumber dari krisis karakter. Alhasil, pendidikan karakter kebangsaan dipandang sebagai solusi penting untuk mengatasi kompleksitas permasalahan pendidikan nasional, mulai dari kecurangan dalam ujian, maraknya hubungan seks pra nikah, kasus aborsi, pornografi dan pornoaksi, meningkatnya penderita HIV/ AIDS di kalangan remaja, penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, tawuran dan kenakalan pelajar, minuman keras, hingga kekerasan dan bullying. Pendidikan karakter kebangsaan ini diharapkan mampu menciptakan SDM yang unggul karena berbagai hasil penelitian juga mendukung bahwa faktor terbesar penentu kesuksesan seseorang adalah karakter atau kepribadiannya.

Gagalnya Pendidikan Karakter
Mungkin tidak banyak yang mengenal Lawrence Kohlberg, seorang profesor Psikologi Pendidikan dan Sosial di Harvard University yang mengunjungi Kibbutz, pemukiman kolektif di Israel dengan sistem kepemilikan bersama dan dengan struktur-struktur dasar demokratis yang berdampak positif terhadap perkembangan moral anak-anak muda disana. Aktivis Yahudi ini kemudian membangun sekolah-sekolah cluster yang menerapkan sistem yang sama sehingga melengkapi penelitiannya mengenai Teori Tahapan Perkembangan Moral yang kemudian menjadi cikal bakal pendidikan karakter. Mungkin tidak banyak juga yang mengetahui bahwa pelopor pendidikan karakter ini menutup usianya dengan menenggelamkan dirinya ke Samudera Atlantik akibat depresi berkepanjangan atas penyakit yang dideritanya. Ironis, segudang teori tentang moralitas yang dikembangkannya dikalahkan oleh parasit bernama Giardia Lamblia. Tragis, mengapa semangat pendidikan karakternya tidak menjadikan dirinya cukup tangguh dan mampu bersabar?

Pada tanggal 23 Januari 1997, Presiden AS Bill Clinton meminta para guru memasukkan Pendidikan Karakter sebagai kurikulum pengajaran. Namun ternyata moralitas remaja Amerika relatif tidak banyak mengalami kemajuan, angka kehamilan remaja, pemakaian obat-obat terlarang, kekerasan di sekolah, dan kriminalitas jalanan terus meningkat. Edward Wyne and Kevin Ryan, dua tokoh pendidikan ternama di Amerika sudah memperkirakan kegagalan ini karena model pendidikan karakter telah gagal untuk menjawab nilai-nilai apa yang harus diajarkan dalam pendidikan karakter. Pendidikan karakter sebenarnya juga bukan hal baru bagi pendidikan Indonesia. Pendidikan budi pekerti yang diajarkan dalam Pendidikan Moral Pancasila ataupun berbagai penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) sejatinya adalah model Pendidikan Karakter. Nilai-nilai yang diajarkan sudah jelas terkait ke-Pancasila-an, namun mengapa krisis moral dan krisis karakter tetap melanda bangsa ini?

Menurut hemat penulis, ada dua hal mendasar yang menyebabkan pendidikan karakter menemui kegagalan. Pertama, pengajaran pendidikan karakter cenderung bersifat kognitif dan menambah pengetahuan. Padahal esensi pendidikan karakter ada pada keteladanan dan pembiasaan. Harus ada pemahaman yang implementatif. Mungkin beberapa di antara kita masih ingat betapa pendidikan moral di Indonesia seolah diarahkan untuk menghapal pada sila dan butir Pancasila keberapa suatu nilai atau karakter sesuai. Bagaimana implementasinya dan sudahkah terimplementasi tidak menjadi hal yang diperhatikan. Segudang teori pun berbenturan dengan realita. Pengetahuan tentang karakter tidak lantas membuat orang tersebut menjadi berkarakter. Tahu bahwa berzina itu haram namun tetap pergi ke tempat prostitusi, tahu jujur itu baik namun tetap korupsi, tahu ketangguhan moral harus dijunjung namun tetap bunuh diri, tahu karakter ini baik dan itu buruk namun tidak terimplementasi dalam tingkah laku sehari-hari. Pendidikan karakterpun gagal.

Kedua, pengajaran pendidikan karakter cenderung indoktrinasi, tidak mencerdaskan dan tidak membuat peserta didik berkembang. Butir-butir Pancasila menjadi sabda dewa, nilai baik-buruk menjadi fatwa tanpa ada pemahaman dalam akan makna dan ruang diskusi yang terbuka. Akhirnya, pendidikan karakter justru menggiring seseorang yang mempelajarinya menjadi karakter lain. Untuk dunia militer yang banyak mencetak ‘robot’ mungkin pendidikan ini berhasil, namun tidak untuk dunia pendidikan yang memanusiakan manusia. Belum lagi sebuah fakta bahwa karakter dasar seseorang tidaklah dapat dipaksakan sama. Pendidikan karakter seharusnya bukan mengubah karakter, melainkan mengarahkannya. Abu Bakar r.a. yang lemah lembut dapat bersikap tegas dalam memerangi mereka yang tidak mau membayar zakat. Umar bin Khattab r.a. yang keras kerap menangis dalam shalatnya dan seperti anak kecil di hadapan istrinya. Karakter lemah lembut dan keras tersebut tidak berubah, namun terarah dan terimplementasi tepat pada porsinya. Pemaksaan dalam pendidikan karakter, pada suatu titik akan mengalami penolakan. Pendidikan karakterpun gagal.

Jangan Terjebak Label
Sebelum membahas lebih jauh lagi, apa sih karakter itu? Menarik, penulis tidak menemukan definisi karakter dalam ‘Kamus Besar Bahasa Indonesia’. Adapun dalam bahasa Inggris, character memiliki beragam makna, mulai dari watak dan sifat, peran, hingga huruf. Dari sini sudah terlihat bahwa Bahasa Indonesia lebih kaya karena definisi watak berbeda dengan sifat, apalagi dengan peran dan huruf. Ketika kita berbicara tentang ‘karakter utama’ misalnya, pembicaraan akan mengarah ke seni peran, bukan terkait tingkah laku dan kebiasaan yang utama. Lalu mengapa harus menggunakan istilah karakter? Sekedar ikut tren? Padahal karakter bangsa takkan terbentuk dengan sikap ikut-ikutan, bahkan identitas bangsa bisa tergadaikan.

Jika kita telaah lebih jauh, istilah pendidikan karakter sebenarnya mereduksi makna dari pendidikan itu sendiri. Dalam KBBI, pendidikan didefinisikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Selain itu, pendidikan juga didefinisikan sebagai proses, cara, perbuatan mendidik. Definisi mendidik adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sikap dan tata laku adalah buah dari karakter dan akhlak yang merupakan kata serapan dari Bahasa Arab adalah apa yang disebut karakter di dunia barat. Jika mau berprasangka, sudah terjadi sekulerisasi pendidikan di Indonesia sehingga istilah akhlak, iman dan takwa pun harus diganti dengan karakter dan religius yang mengacu ke dunia Barat. Intinya, jelas sudah tanpa embel-embel karakter, pendidikan sudah seharusnya menyentuh aspek sikap, tingkah laku dan akhlak, bukan sebatas kecerdasan pikiran.

Sekali lagi, bahasa Indonesia lebih kaya. Untuk karakter dengan makna positif sudah tersedia kata-kata seperti akhlak dan budi pekerti, sedangkan untuk yang berkonotasi negatif ada kata-kata seperti tabiat dan perangai. Religius, jujur, toleransi, disiplin, dan seterusnya yang termasuk nilai-nilai karakter berlandaskan budaya bangsa sejatinya adalah akhlak dan budi pekerti. Demikian pula dengan karakter pokok, karakter pilihan, dan berbagai istilah karakter lainnya, merupakan bagian dari akhlak dan budi pekerti. Krisis karakter adalah krisis akhlak, membangun karakter adalah membangun budi pekerti. Karenanya, pendidikan karakter bukanlah hal baru, karena kita sebelumnya sudah mengenal pendidikan akhlak, pendidikan budi pekerti ataupun pendidikan moral yang gagal diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun perlu ditegaskan, yang menjadi fokus bukanlah pergantian nama pendidikan karakter menjadi pendidikan akhlak atau pendidikan budi pekerti, karena semuanya itu hanyalah label. Esensi pendidikan sudah mencakup itu semua. Yang perlu dikuatkan adalah landasan kemunculan pendidikan karakter, jangan sampai hanya sekedar ikut-ikutan. Yang perlu dikritisi adalah muatan pendidikan karakter, jangan sampai ada agenda tersembunyi yang merusak di dalamnya. Yang perlu dicermati adalah implementasi pendidikan karakter, jangan sampai cuma sebatas jargon dan label. Yang perlu dipastikan adalah bagaimana esensi pendidikan benar-benar dapat tersampaikan, jangan sampai tereduksi dengan berbagai istilah baru dalam kebijakan baru.

Pendidikan Karakter, Perlukah?
Pertanyaan retoris. Dalam konteks membina aspek sikap, tingkah laku dan akhlak, pendidikan karakter jelas perlu dan penting, bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan itu sendiri. Institusi pendidikan didorong untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi standar kompetensi. Ketika berbicara tentang kompetensi, bukan hanya kompetensi pengetahuan (knowledge) yang disyaratkan, namun juga kompetensi keterampilan (skill) dan sikap (attitude). Pendidikan teoritis akan menyokong kompetensi pengetahuan, pendidikan praktek akan memenuhi kompetensi keterampilan dan pendidikan karakter akan melengkapi kompetensi sikap. Sekali lagi, pendidikan karakter sejalan dengan hakikat dan tujuan pendidikan.

Permasalahan kecilnya adalah jebakan label dan istilah yang kerap mengganggu hal yang lebih fundamental. Perbedaan antara karakter, moral, akhlak, sikap, watak, budi pekerti, perangai dan sebagainya bukanlah hal yang penting. Penggunaan istilah karakter pokok, karakter pilihan, karakter unggul dan sebagainya bukanlah hal yang esensi, demikian pula dengan istilah character building atau character education. Permasalahan lainnya yang sempat ditemukan dalam penerapan pendidikan karakter di Amerika adalah mengenai karakter apa yang seharusnya diajarkan. Jika hendak dipersoalkan, 18 karakter bangsa bisa jadi terlalu banyak. Jangankan untuk diinternalisasi dan diimplementasi, dihapalkan saja tidak mudah. Fokus pendidikan pada pemenuhan karakter-karakter dasar yang paling diperlukan adalah penting. Karakter baik, sebagaimana karakter buruk, sifatnya menular, mengantarkan pada karakter lain dengan karakteristik yang sejenis (karakter dan karakteristik, satu lagi jejak ambiguitas penggunaan istilah karakter yang juga memuat definisi kekhasan). Religius misalnya, akan mendorong seseorang untuk lebih jujur, disiplin dan bertanggung jawab.

Namun, permasalahan yang lebih mendasar adalah bagaimana agar pendidikan karakter tidak sia-sia dan gagal. Secara normatif jelas dapat disimpulkan bahwa keteladanan adalah kunci keberhasilan pendidikan karakter. Sayangnya, bangsa ini sekarang masih krisis keteladanan. Bagaimana peserta didik akan berlalu jujur jika guru mendukung kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Bagaimana sarjana akan memiliki integritas jika dosen yang mengajarnya kerap melakukan plagiat. Bagaimana seorang anak dapat mengimplementasi nilai-nilai karakter bangsa sementara dalam kesehariannya nilai-nilai yang dijumpainya berseberangan dengan karakter yang diajarkan. Disinilah diperlukan adanya sinergi antar setiap komponen pendidikan (keluarga, institusi pendidikan dan masyarakat) dalam membangun karakter seorang anak. Kesuksesan pendidikan karakter menjadi kompleks karena juga melibatkan sinergi peran dari keluarga, sekolah dan masyarakat.

Di samping sinergi tersebut, secara lebih taktis, perlu ada perubahan paradigma pendidikan karakter dari menjawab apa, siapa, kapan dan dimana yang cenderung satu arah memenuhi sisi kognitif, menjadi menjawab mengapa dan bagaimana yang juga menyentuh sisi afektif dan psikomotorik. Jawaban atas pertanyaan apa, siapa, kapan dan dimana hanya akan menambah pengetahuan tanpa mengarahkannya pada makna yang lebih dalam: pengamalan. Pertanyaan mengapa akan menggugah daya cipta untuk menginternalisasi karakter menjadi pemahaman, bukan sekedar pengetahuan. Pertanyaan bagaimana akan menggugah daya gerak untuk menginternalisasi karakter menjadi pengamalan dan pengalaman. Daya cipta dan daya gerak untuk menginternalisasi karakter ini tinggal dibiasakan dan diarahkan untuk membangun karakter seseorang. Sifatnya lebih mengalir, tidak dipaksakan.

Setiap manusia lahir dengan kondisi sosio-geografis yang berbeda, karakternyapun beragam. Tidak ada yang buruk, yang ada hanya porsi yang belum seimbang dan kurang diarahkan. Seseorang yang jahat pasti masih ada yang dikhawatirkannya, masih ada yang diperjuangkannya, masih punya nilai kebaikan dalam dirinya. Iblis sekalipun masih memiliki karakter kerja keras dan kreativitas yang dapat ditiru, sayangnya porsi percaya dirinya terlalu besar sekali menjadi kesombongan dan mengantarkannya pada banyak perangai buruk lainnya. Potensi kebaikan yang tidak terarah jelas berpotensi salah arah. Disitulah pendidikan karakter memegang peran. Generasi muda penuh gairah, energi dan vitalitas, namun ketika porsinya kurang tepat dan tidak terarah, kenakalan remaja yang menjadi hasilnya. Pendidikan karakter tidak dalam posisi mematikan energi dan kreativitas tersebut, tetapi dengan pemberian pemahaman yang baik disertai dengan contoh dapat mengarahkan karakter remaja menjadi keunggulan, dengan berbagai macam bentuknya yang tidak perlu dipaksakan sama. Mungkin ada yang porsi dan arahnya sesuai untuk menekuni seni, ada yang olah raga, ada yang organisasi dan lain sebagainya.

Menyoal pendidikan karakter di sekolah, selain penyajian yang lebih praktis dan sarat contoh, ada faktor lain yang perlu mendapat perhatian khusus: guru. Ya, guru sangat menentukan efektifitas pendidikan karakter di sekolah, sebagaimana orang tua di rumah. Bukan hanya dari segi cara menyampaikan, integritas guru yang bersangkutan sangat menentukan. Guru juga harus mengajarkan pendidikan karakter secara sederhana dan relevan sehingga mudah dipahami dan diaplikasikan oleh peserta didik. Guru juga harus mampu menjaga semangat perbaikan peserta didik karena pendidikan karakter berproses, tidak serta merta selesai dalam waktu singkat. Sederhananya, untuk efektivitas pendidikan karakter di sekolah, seorang guru harus memenuhi karakter pendidik yang digambarkan Ki Hajar Dewantara: Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Namun berapa banyak guru yang memenuhi kualifikasi tersebut?

Pendidikan (karakter) memang tidak lantas menjamin terselesaikannya berbagai masalah yang kompleks di Indonesia, namun menjadi upaya strategis untuk mencegah timbulnya berbagai masalah sosial di kemudian hari. Ketidaksempurnaan dalam implementasi pendidikan karakter bukan berarti konsep tersebut salah dan harus ditinggalkan. Karena memang mewujudkannya secara sempurna tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi. Dan perlu disadari juga bahwa buah pendidikan (karakter) tidak dapat dirasakan instan, semuanya berproses, karenanya kontinyuitasnya harus terjaga dengan melibatkan seluruh pihak yang terkait. Mungkin terdengar terlalu absurd, namun upaya menyelamatkan suatu bangsa bisa jadi dimulai dengan penerapan pendidikan (karakter) yang baik, dalam keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara.

The function of education is to teach one to think intensively and to think critically. Intelligence plus character – that is the goal of true education.” (Martin Luther King Jr.)

Dicari : Calon Presiden yang REVOLUSIONER

“Berikan saya 100 peti mati, 99 akan saya kirim untuk para koruptor. Satu buat saya sendiri jika saya pun melakukan hal itu” (Zhu Rongji, Perdana Menteri China)

Kata-kata diatas bukan sekedar isapan jempol, ribuan bahkan puluhan ribu orang di China telah dihukum mati sejak tahun 2001 karena terbukti melakukan berbagai kejahatan, termasuk korupsi. Tidak tangung-tanggung, Zhu Rongji berani menghukum mati Cheng Kejie (pejabat tinggi Partai Komunis Cina sekaligus Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional), Hu Changging (Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi), Xiao Hongbo (Deputi Manajer Cabang Bank Konstruksi China), Xu Maiyong (mantan Wakil Walikota Hangzho), Jiang Renjie (mantan Wakil Walikota Suzhou) dan banyak tokoh publik lainnya. Tidak hanya itu, puluhan ribu polisi dipecat karena menerima suap, berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di luar tugas dan kualitas di bawah standar. Terdengar kejam memang, namun begitulah pemimpin yang REVOLUSIONER, berani mengambil resiko untuk tujuan yang lebih besar. Hasilnya, pejabat takut untuk korupsi, pertumbuhan ekonomi China mencapai 9% per tahun dengan PDB melonjak tinggi dan cadangan devisa negara lebih dari 300 miliar USD. China pun menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. REVOLUSIONER, itu kuncinya.

REVOLUSIONER berarti cenderung menghendaki perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Berani dan tidak setengah-setengah. REVOLUSIONER adalah jiwa yang mempengaruh karakter pemimpin, bukan metode perjuangannya. Ahmadinejad, presiden Iran yang sangat sederhana dan merakyat. Ia meninggalkan pakaian mewah, rumah dan mobil dinas, pesawat kepresidenan, berbagai protokoler dan seremonial hingga gajinya sebagai presiden. Di balik sikap rendah hatinya, ia bersikap tegas terhadap berbagai propaganda yang dilancarkan Amerika Serikat, Israel dan sekutunya yang membuatnya disegani di mata dunia dan menjadi simbol perlawanan hegemoni Barat. Hebatnya, Iran tetap survive di tengah terpaan embargo, kebutuhan pokok tetap terpenuhi. Militer Iran bahkan ditakuti. Itulah pemimpin REVOLUSIONER. Erdogan, Perdana Menteri Turki yang berhasil memulihkan ekonomi Turki, dimana PDB naik 3 kali lipat, inflasi dan suku bunga turun drastis sementara nilai mata uang dan ekspor naik signifikan, sehingga banyak yang menjulukinya “Inspiring Leader”. Pun berbeda dengan keyakinannya, ia tidak serta merta menghapus sekulerisme di Turki yang sudah mendarah daging. Namun dengan diplomasi, ia memanfaatkan sekulerisme untuk membuat perubahan, termasuk mendorong pemilihan Presiden langsung dan mencabut UU Pelarangan Jilbab. Sosoknya semakin kuat ketika ia menolak pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat di Turki, bahkan ia tidak segan-segan mengutuk dan meminta Israel meminta maaf serta mengusir para diplomat Israel paska peristiwa Mavi Marmara. Ya, dengan metode perjuangan yang berbeda dengan Ahmadinejad, Erdogan pun sosok pemimpin REVOLUSIONER abad ini.

Indonesia saat ini tengah mengalami krisis multi dimensi dan masyarakatnya menderita lahir batin. Permasalahan yang dihadapi terlalu kompleks, diantaranya ambruknya supremasi hukum, krisis kepemimpinan, krisis kepercayaan terhadap institusi negara, lingkungan fisik dan nonfisik yang semakin rusak, hingga berbagai aset dan sumber daya yang dikuasai asing. Kondisi tersebut hanya dapat dihadapi oleh pemimpin yang REVOLUSIONER, yang tidak hanya pandai dalam mengelola pemerintahan, tetapi juga tegas dalam mengambil keputusan. Hampir seluruh bangsa dan negara yang bisa unjuk gigi di level dunia memiliki pemimpin yang REVOLUSIONER. Tak berlebihan, jika berbicara tentang kriteria presiden idaman, REVOLUSIONER  menjadi salah satu kriteria cerdas yang juga memuat kriteria-kriteria dasar yang lain. Berikut adalah kriteria calon presiden idaman masyarakat yang terangkum dalam REVOLUSIONER.

R – Ready (Siap). Seorang Presiden harus siap untuk menjadi pemimpin sekaligus pelayan suatu negara. Siap menghadapi berbagai permasalahan yang ada, siap untuk dibuat sibuk dan siap untuk memberikan segala yang dimilikinya untuk kepentingan bangsa dan negara. Jika seorang Presiden hanya siap untuk dilayani dan memperoleh berbagai macam fasilitas, ia akan mudah berkeluh kesah dan banyak menuntut. Kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan telah terbukti banyak melahirkan pemimpin besar yang REVOLUSIONER.

E – Example (Teladan). Seorang Presiden harus bisa menjadi contoh baik yang dapat ditiru oleh rakyatnya. Pemimpin yang sejati bukan hanya dapat memberikan perintah ataupun himbauan, melainkan mampu mencontohkannya. Modeling the way. Jika seorang Presiden hanya bisa berbicara tanpa memberi contoh, ia takkan mampu menggerakkan rakyatnya dan akan segera ditinggalkan. Keteladanan dalam berpikir, berbicara dan bersikap merupakan cara paling efektif dalam mengusung perubahan yang REVOLUSIONER.

V – Visioner. Seorang Presiden harus berpikiran jauh ke depan untuk kemajuan bangsa dan negaranya, jangan sampai menghabiskan energinya untuk membalas budi atas kemenangannya di awal masa kepemimpinannya dan untuk melanggengkan kekuasaannya di masa akhir kepemimpinannya. Tidak cukup hanya memiliki visi, pemimpin sejati harus mampu mengomunikasikan visinya ke seluruh elemen yang dipimpinnya dan menginspirasi mereka. Jika seorang Presiden berpikiran pendek, hanya ada dua kemungkinan bagi negaranya: diam di tempat atau malah tertinggal. Bagaimanapun, pemimpin yang visioner dekat dengan pemimpin yang REVOLUSIONER.

O – Optimistic (Optimis). Seorang Presiden harus berpikiran positif akan nasib negara yang dipimpinnya di kemudian hari. Pikiran positif ini akan melahirkan pengharapan dan kerja yang positif, cita-cita pun semakin dekat untuk dapat diraih. Jika seorang Presiden sudah pesimis dalam melihat berbagai permasalahan yang ada, usahanya tak akan optimal dan akan selalu mencari pembenaran atas kegagalannya. Rakyat pun putus asa akan masa depannya. Dan optimisme ini perlu diimbangi dengan kerja nyata sehingga dapat menghasilkan perubahan yang REVOLUSIONER.

L – Lovable (Dicintai). Seorang Presiden harus mencintai rakyat, bangsa dan negaranya sehingga ia dapat dicintai oleh rakyatnya. Jika seorang Presiden dicintai rakyatnya, kebijakannya akan mendapat dukungan penuh dari rakyatnya. Sebaliknya, jika seorang Presiden tidak dicintai, ia hanya akan menuai cibiran dan do’a yang buruk dari rakyatnya. Bukan hanya kekuasaannya akan digulingkan, rakyat pun akan berbalik menuntut bahkan menghukmnya. Jadi, walaupun terkesan memiliki sifat yang berjauhan, cinta sangatlah dibutuhkan untuk menguatkan pemimpin yang REVOLUSIONER.

U – Understand (Memahami). Seorang Presiden harus mengetahui dengan jelas kondisi dari apa yang dipimpinnya sebagaimana seorang panglima perang harus memahami seluk beluk medan pertempuran sebelum pergi bertempur. Jika seorang Presiden tidak benar-benar mengerti apa yang dihadapi rakyatnya, kebijakannya tak akan tepat sasaran, hanya akan membuang-buang sumber daya. Seorang yang memahami akan menjadi peduli. Dan seorang yang peduli akan melakukan aksi nyata yang tepat sebagai imlementasi dari pemahaman dan kepeduliannya. Paham kondisi dan pandai membaca situasi menjadi salah satu syarat penting pemimpin yang REVOLUSIONER.

S – Simple (Bersahaja, Lugas). Seorang Presiden harus tampil sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Kata-kata yang disampaikan pun sederhana dan mudah dimengerti. Kepala Negara adalah jabatan strategis yang siapapun pemangkunya akan menjadi sorotan. Revolusi Perancis berawal dari gaya hidup mewah pihak Kerajaan Perancis yang memicu perubahan besar disana. Sebaliknya, kesederhanaan dan ketegasan Ahmadinejad, menjadikannya Presiden yang sangat dielu-elukan di Iran, bahkan rakyat pun rela diembargo bersamanya. Pada suatu titik, kesederhanaanlah yang akan mempelopori perubahan yang REVOLUSIONER.

I – Integrity (Integritas). Seorang Presiden haruslah memiliki integritas, jujur dan dapat dipercaya. Punya sikap yang jelas dan tidak plin plan. Integritas ini bukan hanya membuat seseorang terlihat berwibawa di mata orang lain, namun juga dapat memberi ketenangan bagi rakyat yang dipimpinnya. Jika seorang Presiden kehilangan integritasnya, ia akan kehilangan kewibawaan, kepercayaan dan hanya akan menuai kegalauan dan kekecewaan di tengah masyarakat. Karenanya, integritas pribadi merupakan syarat penting untuk mengusung perubahan sekaligus menjadi kriteria yang harus dimiliki oleh pemimpin yang REVOLUSIONER.

O – Objective (Objektif). Seorang Presiden haruslah dapat berlaku adil dan tidak berat sebelah. Pertimbangan yang objektif lebih dikedepankan dibandingkan subjektivitas pribadi yang kerap emosional. Jika seorang Presiden tidak objektif dalam melihat suatu permasalahan ataupun dalam memutuskan suatu kebijakan, ia hanya akan menuai prasangka dan kecurigaan, hasilnya pun tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sikap berat sebelah hanya akan menjadi bumerang bagi seorang pemimpin. Dan rasionalitas selalu mampu melandasi perubahan yang REVOLUSIONER.

N – Nationalist (Nasionalis). Seorang Presiden harus cinta tanah air dan bangsa, mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk kesejahteraan masyarakat. Jika seorang Presiden kehilangan jiwa nasionalis, ia hanya akan menjadi pemimpin simbol, yang dikuasai oleh golongan di belakangnya, atau bahkan didikte oleh pihak asing. Salah satu bentuk semangat patriotik yang sudah dilakukan oleh beberapa kepala negara adalah tidak mengambil gajinya demi kemakmuran rakyat, hasilnya sudah tentu perubahan yang REVOLUSIONER.

E – Encourage (Mendorong, Membesarkan hati). Seorang Presiden harus mampu memotivasi dan membesarkan hati rakyat yang dipimpinnya. Encourage the heart. Atau Tut Wuri Handayani jika meminjam istilah Ki Hajar Dewantara. Dorongan ini akan menginspirasi dan menghadirkan partisipasi aktif masyarakat untuk juga berubah, karena masalah bangsa ini terlalu rumit untuk dapat ditangani sendirian. Jika seorang Presiden tidak mampu membesarkan hati rakyatnya, ia akan segera lelah tidak memperoleh energi positif dari rakyat yang dipimpinnya. Para pemimpin besar selalu mampu mengobarkan semangat yang dipimpinnya sehingga memperkuat perubahan yang REVOLUSIONER.

R – Responsible (Bertanggung jawab). Seorang Presiden harus berani mempertanggungjawabkan atas apa yang dipimpinnya, tidak berlepas tangan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi sampai mengkambinghitamkan orang lain. Jika seorang Presiden lepas tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya, ia akan kehilangan kepercayaan dan kehancurannya tinggal menunggu waktunya. Karakter bertanggung jawab selalu lekat dengan pemimpin idaman, tidak terkecuali pemimpin yang REVOLUSIONER.

Perubahan memang tidak menjamin perbaikan, namun tanpa perubahan sudah pasti tidak akan ada perbaikan. Kompleksitas permasalahan bangsa ini hanya dapat diselesaikan dengan perubahan yang menyeluruh dan mendasar, karenanya dibutuhkan pemimpin yang REVOLUSIONER. Pemimpin yang tegas dan berani seperti halnya Bung Karno dengan “Indonesia Menggugat”nya sehingga bangsa ini tidak dipandang sebelah mata. Pemimpin REVOLUSIONER yang selalu siap sedia, dapat menjadi panutan, menginspirasi,  berpengharapan positif, kharismatik, empati, bersahaja, bermoral baik, bijaksana, patriotik, mengayomi dan bertangung jawab. Terdengar terlalu ideal memang, namun tidak ada yang salah dengan impian dan harapan yang ideal, daripada putus harapan dan hanya menjadi masalah bagi bangsa yang butuh sejuta solusi dan aksi nyata ini. Asa itu masih ada, selama kita masih meyakininya, dan berbuat sebisa kemampuan kita, memberi warna ceria bagi dunia…

Tim Sukses Ujian Nasional

Hari ini Ujian Nasional tingkat SMA/MAN dimulai. Diawali dengan pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Terbayang olehku kesulitan adik – adikku dalam mengerjakan soal. Belum lagi standar nilai rata – rata dan per pelajaran yang terus naik setiap tahunnya, tentunya menjadi beban tersendiri yang tak sempat kualami tujuh tahun lalu. Hari ini ’seharusnya’ aku ada untuk membantu mereka. Bukan sekedar membantu do’a sebagaimana  permintaan mereka di kelas ataupun via SMS. Kalo itu sudah pasti kulakukan. Tetapi lebih jauh lagi, hari ini aku ’seharusnya’ ada di sekolah menjadi ”tim sukses Ujian Nasional 2008”…

Pekan lalu aku mengajar di sebuah sekolah swasta di Jakarta. Bukan sekolah unggulan, tentunya, bahkan sangat jauh dari unggulan. Sekolah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Semaunya. Guru jarang masuk dan lebih mementingkan mengajar di sekolah lain. Anak – anaknyapun kerap tidak ada di kelas dan memanfaatkan waktu luang mereka dengan aktivitas yang tidak bermanfaat. Hingga Try Out UN 2008 terakhir, belum ada seorang siswapun yang lulus. Jika tahun lalu juga kualami di Aceh, aku masih maklum mengingat berbagai keterbatasan disana. Tetapi ini terjadi di Ibukota …

Kuteringat hari terakhirku mengajar di sekolah tersebut. Para siswa memintaku datang tanggal 22 April ini untuk membantu mengerjakan soal bersama guru – guru yang lain. Kala itu aku belum paham maksud mereka. Di ruang guru, ketika ku hendak beranjak pamit, tiba – tiba Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum meminta berbicara empat mata. Hmm, ada apa ya? Diawali dengan pembicaraan ringan tentang kondisi siswa dan sekolah, kemudian pembicaraan mengarah pada strategi meluluskan siswa menghadapi UN. Dengan agak malu, beliau memintaku menjadi Tim Sukses UN di sekolah tersebut. Teknisnya ketika hari-H, tim ini akan berkumpul di ruang kepala sekolah untuk mengerjakan soal, untuk kedua tipe soal, baik IPA maupun IPS. Tidak harus semua soal, tetapi cukup untuk membuat siswa lulus…

Aku terperanjat. Terpikir olehku kepala sekolah pasti menyetujuinya bahkan menyediakan kantornya yang tertutup sebagai ruang tim sukses UN, lalu bagaimana dengan pengawas UN? Yang paling mungkin adalah sudah ada kesepakatan (tahu sama tahu) antara pihak sekolah dengan pengawas UN. Mungkin institusi pendidikan yang lebih tinggi juga sudah tahu atau bahkan memberi instruksi untuk mengatur strategi meluluskan sebanyak mungkin siswa di daerah yang berada di bawah tanggung jawabnya. Terbayang juga olehku jika pola ini terus dibiarkan, siswa malah tergantung kepada bantuan dari pihak sekolah. Pun secara kuantitas jumlah kelulusan siswa banyak, namun secara kualitas sungguh mengkhawatirkan. Kualitas sekolahpun tak dapat diukur dari kelulusan peserta didiknya.

Secara pribadi, aku sendiri masih mempertanyakan sistem UN yang menerapkan standar yang justru terasa membebani dan tidak adil. Fasilitas dan kualitas pendidikan di tiap sekolah bahkan daerah tentu beragam, bahkan bukan tidak mungkin ada ketimpangan antara kota dan desa, antara sekolah unggulan dengan ’sekolah buangan’. Beban ini tidak hanya dirasakan siswa, tetapi juga orang tua bahkan pihak guru dan sekolah. Akhirnya, semua pihak mengupayakan segala cara untuk mendapat predikat lulus. Masih mendingan sih berusaha, dibandingkan beberapa ada yang putus asa atau stress berat menjelang UN bahkan hingga tahun kemarinpun masih ada kasus bunuh diri karena UN. Tragis. Guru dan sekolah yang membantu siswanya untuk luluspun nampaknya sudah jadi rahasia umum. Kasus tahun lalu di Medan ibarat fenomena gunung es. Ironis, sistem dapat mengubah pendidik melakukan hal yang justru tidak mendidik…

* * *

Saat ini aku berada belasan kilometer dari sekolah tersebut. Kuputuskan untuk tidak bergabung dalam tim sukses UN. Bukan tidak mau membantu siswa untuk lulus, hanya saja hati nurani ini menolak cara instan yang tidak menjadi solusi bagi permasalahan pendidikan di negeri ini tersebut. Tiba-tiba, HPku berbunyi, ada SMS masuk dari Wakasek Kurikulum sekolah tersebut. Beliau mengatakan, ”… soal tidak dapat dibawa keluar. Kita doakan semoga lulus semua… ”. Hmm…

Wallahu a’lam

Manusia kadang berlaku tidak wajar, tak masuk akal dan egois. Namun, cintailah mereka
Jika kau berbuat kebaikan, motif dan ambisimu akan turut dipertanyakan. Namun, lakukanlah kebaikan
Jika kau meraih kesuksesan, teman palsu dan musuh sejatilah yang kau dapatkan. Namun, raihlah kesuksesan
Kebaikan yang kau lakukan hari ini akan dilupakan esok hari. Namun, berbuatlah
Kejujuran dan keterusterangan kadang membuatmu mudah diperolok. Namun, jujur dan berterusteranglah
Manusia kadang berpura-pura lemah dan menjadi pengekor mereka yang sukses. Namun, berjuanglah bagi mereka yang lemah
Apa yang kau bangun bertahun-tahun bisa jadi hancur dalam sekejap. Namun, teruslah berkarya
Manusia yang memang butuh pertolongan mungkin malah menyerangmu jika kau bantu. Namun, bantulah mereka
Lakukan yang terbaik untuk dunia
(Kashif Majeed&Ali Asad Hemani)