Tag Archives: Istiqomah

Keutamaan Ibadah di Luar Ramadhan

Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shaleh akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun” (Syeikh Bisyr Al Hafi)

Setiap tahun, baik dalam tarhib Ramadhan ataupun khutbah Jum’at di akhir Sya’ban atau awal Ramadhan, penceramah biasa menyampaikan tentang keutamaan bulan Ramadhan dan beribadah di dalamnya. Walaupun sudah mainstream, Ramadhan memang istimewa. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Al Qur’an, bulan diturunkannya Al Qur’an, dan satu-satunya bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qadar. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa apabila telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan para setan dibelenggu. Kondisi yang tidak ditemui di bulan lain. Namun bicara tentang keutamaan ibadah di bulan Ramadhan adalah perkara lain yang dapat diperdebatkan.

Ibadah shaum Ramadhan yang hukumnya wajib dan termasuk Rukun Islam memang lebih utama dibandingkan shaum sunnah di luar Ramadhan. Berdosa jika ditinggalkan dengan sengaja dan wajib diganti jika ditinggalkan membuat shaum Ramadhan ada di level yang berbeda. Yang juga berbeda barangkali i’tikaf menghidupkan lailatul qadar yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Perbedaan ini kemudian diperkuat dengan ganjaran diampuni dosa bagi mereka yang berpuasa dan menghidupkan malam Ramadhan dengan imanan wahtisaban.  Namun ketika menyoal tentang dampak puasa dan shalat malam terhadap fisik dan spiritual, dua kebahagiaan orang yang berpuasa, diijabahnya do’a orang yang berpuasa hingga hal-hal yang perlu dijaga selama berpuasa tidaklah berbeda antara Ramadhan dengan di luar Ramadhan. Bahkan beribadah di luar Ramadhan punya tantangan lebih.

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung seberapa beratnya ujian. Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya maka Dia menimpakan cobaan kepadanya. Sedekah yang utama adalah dengan sesuatu yang paling disukai. Berat memang, karenanya menjadi istimewa. Shalat berjama’ah di masjid yang paling besar ganjarannya adalah shalat shubuh. Terjaga dan beribadah ketika orang lain nyenyak tidur tentu tidak mudah. Jihad yang utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Penuh risiko dan tidak sederhana, karenanya menjadikannya mulia. Mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik dibandingkan mereka yang tidak bergaul dan tidak bersabar. Begitulah sunnatullahnya. Semakin berat ujian, kian besar pengorbanan, makin banyak kesungguhan yang diperlukan, akan semakin besar ganjarannya. Belajar dari Qur’an Surah Al Balad, ketika dihadapkan pada dua jalan, tidak banyak yang memilih jalan menanjak yang sulit ditempuh dibandingkan jalan yang mudah.

Begitulah beribadah di luar Ramadhan, lebih penuh tantangan. Berpuasa sunnah ketika orang lain berpuas makan tidaklah mudah. Istiqamah tilawah selepas zhuhur di saat yang lain bergegas istirahat dan makan siang punya tantangan yang jauh berbeda dibandingkan ketika Ramadhan. Di saat lingkungan lebih kondusif untuk beribadah. Perbedaan ini jelas terlihat dari interaksi umat Islam dengan masjid dan dengan Al Qur’an, ketika dan di luar Ramadhan. Perbedaan nyata terlihat dari jama’ah shalat Shubuh dan Isya, apalagi jika diteliti qiyamul lail nya. Padahal ibadah sejatinya adalah aktivitas sepanjang hayat, bukan hanya semangat ketika lingkungan kondusif. Imam Hasan Al Basri pernah berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, Surah Al Hijr ayat ke-99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu”. Alangkah tidak pantasnya jika gema takbir hari raya menjadi batas amal ibadah seorang muslim. Na’udzubillah

Salah satu indikator sukses Ramadhan adalah terjaganya amal ibadah selepas Ramadhan. ‘Kun Rabbaniyyan Wa Laa Takun Ramadhaniyyan’, begitulah para ulama terdahulu menyampaikan. Hendaklah kita menjadi hamba Allah yang Rabbani, bukan menjadi ‘penyembah’ Ramadhan. Ketahuilah, keutamaan beribadah bukan hanya ada di bulan Ramadhan. Ibaratnya banyak orang berburu barang ketika cuci gudang, barang berlimpah dan banyak potongan harga. Mereka pun sekadar memperoleh barang murah yang tersedia. Sementara di hari biasa tidak banyak yang mencari barang, padahal walaupun sedikit lebih mahal, barang yang dipilih bisa lebih dijamin kualitasnya dan pelayanannya pun lebih optimal. Apalagi jika disadari bahwa barang yang dicari adalah kebutuhan sehari-hari, tidaklah tepat mengupayakannya hanya ketika cuci gudang. Ramadhan memang istimewa, namun satu tahun terdiri dari dua belas bulan, bukan hanya Ramadhan. Ada hak-hak Allah SWT yang tetap harus dijaga. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya, serta membimbing kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya. Semoga kita tetap istiqamah beribadah sepanjang tahun, sepanjang hayat, serta dijauhkan dari sifat munafik. Aamiiin…

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Ali Imran: 8 )

Islam dan Filosofi Continuous Improvement

“The best revenge is to improve yourself” (Ali bin Abi Thalib)

Terminologi Continuous Improvement tidak terlepas dari konsep Kaizen di Jepang yang bermakna perbaikan terus-menerus atau perbaikan berkelanjutan. Perbaikan ini bersifat sedikit demi sedikit (step by step improvement), komprehensif dan terintegrasi dengan filosofi Total Quality Management (TQM). Karena terintegrasi dengan TQM, pembahasan tentang Continuous Improvement kerap melebar ke ranah manajemen mutu, mulai dari siklus Plan-Do-Check-Action (Deming Cycle), waste management (Muda, Mura, Muri), hingga konsep zero defect atau bahkan six sigma lengkap dengan siklus DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Kajian teori yang menarik pun sebenarnya filosofi continuous improvement lebih sederhana dan aplikatif.

Filosofi Continuous Improvement mendorong tercapainya standar kualitas yang optimal melalui beberapa langkah perbaikan yang sistematis dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Berbagai aksi perbaikan yang sederhana dan terus-menerus akan memunculkan gagasan dan aksi perbaikan yang lebih banyak sehingga sedikit demi sedikit berbagai permasalahan akan terselesaikan. Dan perbaikan ini dilakukan oleh setiap personal dalam organisasi. Continuous Improvement adalah usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan untuk terus berkembang dan melakukan perbaikan. Filosofi yang ternyata sejalan dengan konsep Islam yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa melakukan perbaikan.

Continuous Improvement adalah perubahan memelihara nikmat Allah SWT. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar Ra’du: 11). ‘Keadaan’ disini ditafsirkan sebagai nikmat –bukan nasib—sebagaimana tersebut dalam Surah Al Anfal ayat 53. Kelalaian dan kemaksiatan dapat menghilangkan nikmat, sehingga upaya merawat dan meningkatkan nikmat perlu disertai perubahan diri ke arah yang lebih baik. Disinilah continuous improvement mulai menjalankan peran, mulai dari diri sendiri, senantiasa melakukan perubahan untuk memelihara nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Continuous Improvement adalah merawat produktivitas. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al Insyirah: 7). Kata ‘faraghta’ berasal dari kata ‘faragha’ yang berarti kosong setelah sebelumnya terisi penuh. Sebagian mufassir menafsirkan ayat tersebut adalah bahwa apabila kamu telah selesai berdakwah, beribadahlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia, kerjakanlah urusan akhirat; apabila kamu telah selesai dari kesibukan dunia, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berdoa. M. Quraish Shihab cenderung untuk tidak menetapkan ragam kesungguhan yang dimaksud karena objeknya tidak disebutkan sehingga bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kesungguhan, selama dibenarkan syariat. Kewajiban manusia bersifat simultan, terus menerus tanpa putus. Demikian pula dengan filosofi continuous improvement, selesai melakukan perbaikan, ada hal lain yang menanti untuk diperbaiki. Tetap produktif dalam menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Continuous Improvement adalah perbaikan kualitas. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk: 2). Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan bahwa amal yang lebih baik adalah yang dilakukan dengan ikhlash dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Yang paling menarik adalah penggunaan diksi ‘yang lebih baik amalnya’, bukannya ‘yang lebih banyak amalnya’, menunjukkan bahwa ada perhatian lebih pada dimensi kualitas amal, bukan sekedar kualitas. Dan penggunaan kata ‘lebih baik’ (comparative) bukan ‘paling baik’ (superlative) menunjukkan esensi dari filosofi continuous improvement bahwa tidak ada yang paling baik, namun selalu ada yang lebih baik. Kualitas terbaik artinya sempurna, tidak ada lagi yang bisa di-improve. Justru tidak manusiawi. Yang diminta hanyalah terus berupaya lebih baik setiap saatnya, menuju kualitas amal optimum yang bisa dilakukan.

Continuous Improvement adalah konsistensi kerja. “Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (HR Abu Dawud). Continuous improvement tidak menghendaki perubahan yang radikal, tetapi inkremental. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Kebaikan dan perbaikan ketika terbiasa dilakukan akan menghasilkan kebaikan dan perbaikan selanjutnya. Continuous improvement. Kontinyuitas ini pula yang akan memastikan kerja lebih langgeng dan akan berakhir yang baik. Pembiasaan juga akan meminimalisir kebosanan dalam beraktivitas, dengan syarat kontinyuitas yang dilakukan disertai dengan penambahan kualitas ataupun kuantitas, bukan sekedar pengulangan dan rutinitas. Itulah sejatinya filosofi continuous improvement.

Continuous Improvement adalah proses seumur hidup. Barangsiapa yang harinya (hari ini) lebih baik dari sebelumnya, maka ia telah beruntung, barangsiapa harinya seperti sebelumnya, maka ia telah merugi, dan barangsiapa yang harinya lebih jelek dari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat. Ungkapan tersebut banyak dinilai sebagai hadits palsu dan hanya bersandar pada perkataan Rasulullah SAW dalam mimpi seorang ulama. Selalu lebih baik setiap harinya juga dianggap tidak realistis, namun ungkapan tersebut sejatinya sangat sejalan dengan filosofi continuous improvement. Pertama, ungkapan tersebut menunjukkan tekad untuk lebih baik setiap harinya. Kedua, nilai ‘lebih baik’ tidak harus pada seluruh aspek, bisa jadi hanya tambahan kebaikan kecil di beberapa aspek. Ketiga, rentang hari ini dengan sebelumnya tidak harus dimaknai sempit. Sungguh dalam kerugian orang-orang yang berlalu bulan dan tahun usianya namun kebaikannya tidak bertambah, apalagi kalau sampai berkurang. Filosofi continuous improvement berfokus pada proses, dengan rentang waktu yang panjang. Kompetisi menuntut setiap diri dan organisasi untuk terus semakin baik setiap saatnya. Diam tetap di tempat akan tertinggal, apalagi jika mundur. Dan proses ini adalah pembelajaran seumur hidup (life-long learning).

Perjalanan menuju visi besar, baik visi hidup maupun visi organisasi merupakan perjalanan jauh yang membutuhkan nafas panjang. Barangkali butuh momentum hijrah atau titik balik kesadaran hidup yang bersifat revolusioner, namun istiqomah dalam menjaga iman dan amal justru membutuhkan kontinyuitas dalam melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Terus berbenah diri, melakukan kebaikan dan perbaikan secara terus menerus. Menjadi pribadi pembelajar dan organisasi pembelajar (learning organization) yang adaptif terhadap perubahan karena senantiasa melakukan kebaikan dan perbaikan. Karena kehidupan dan kematian sejatinya hanyalah ujian untuk melihat siapa yang konsisten lebih baik dalam beramal.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya ia berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah?” Beliau bersabda, “Amalan yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih)

*dimuat di republika online 27 Maret 2016

Romantika Bulan Syawal

…Mengapa ujan gerimis aje, pergi berlayar ke Tanjung Cina. Mengapa Adek menangis aje, kalo emang jodoh nggak kemana, hey, hey! Eh ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin. Eh jangan menangis aje, bulan Syawal mau dikawinin…” (‘Hujan Gerimis’, Benyamin S. & Ida Royani)

Romantika itu bernama ikatan hati. Kembali memasuki bulan Syawal, ada yang tidak berubah selama sewindu terakhir: maraknya undangan pernikahan. Terinspirasi oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., bulan Syawal kemudian identik dengan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.  “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad). Selain dengan Aisyah r.a., Rasulullah SAW juga menikahi Ummu Salamah r.a. pada bulan Syawal.

Bulan Syawal konon artinya adalah peningkatan, namun referensi lain mengungkapkan bahwa penamaan Syawal berasal dari istilah “Syalat an-naqah bi dzanabiha” yang berarti onta betina menaikkan ekornya. Bulan Syawal adalah masa dimana onta betina mengangkat ekornya ketika didekati pejantan sebagai tanda tidak mau dikawini. Keadaan ini memunculkan keyakinan masyarakat jahiliyah bahwa ada kesialan yang menyertai Bulan Syawal. Ditambah lagi adanya musibah yang pernah terjadi di Bulan Syawal semakin menguatkan keyakinan tersebut. Karenanya, di masa jahiliyah ada pantangan untuk menikah di Bulan Syawal, hingga Islam datang dan membantah anggapan sial tersebut.

Romantika itu bernama semangat juang. Dalam Kitab “Dalil al Falihin li Syarh Riyadh al Shalihin”, Ibnul ‘Allan Asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang”. Jika perang Badar terjadi di Bulan Ramadhan, sejarah mencatat bahwa banyak perang besar yang dijalani Rasulullah SAW terjadi di Bulan Syawal, termasuk Perang Hunain, Perang Uhud, hingga Perang Ahzab atau Khandaq.

Semangat perjuangan yang menyala selama Ramadhan tidak boleh meredup di Bulan Syawal. Salah satu amalan yang disunnahkan untuk dilakukan di Bulan Syawal adalah puasa. Mengapa harus puasa padahal baru saja diwajibkan berpuasa sebulan penuh? Karena predikat takwa harus dilalui dengan perjuangan dan proses yang panjang. Kebaikan yang terus terjaga, bukan sekadar ikut-ikutan menjadi baik di bulan baik. Tidak heran, Bulan Syawal kemudian dikaitkan dengan peningkatan paska menjalani madrasah Ramadhan. “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Romantika itu bernama kerinduan. Baru sejenak Ramadhan pergi, sudah banyak kondisi yang berubah. Serta merta timbul kerinduan akan riuhnya suasana sahur di dini hari dan ramainya shalat berjama’ah di masjid khususnya di awal Ramadhan yang kini (kembali) tergantikan sunyi. Hadir rasa rindu akan ramainya suara tilawah Al Qur’an selepas shalat zhuhur berjama’ah yang sekarang tergantikan (lagi) dengan kesibukan mencari makan siang. Kangen dengan kebahagiaan saat berbuka. Kangen juga dengan tontonan yang ‘agak’ lebih berkualitas ataupun orang dan suasana yang mendadak lebih Islami. Bahkan canda-canda ringan seperti ‘orang puasa gak boleh marah’ atau ‘jangan bohong nanti puasanya batal’ juga membuat rindu.

Seorang salafush shalih pernah menjual budak wanitanya kepada seseorang. Ketika Ramadhan tiba, tuan barunya menyiapkan makanan, minuman dan segala keperluan untuk persiapan selama Ramadhan. Budak wanita itu heran dengan apa yang dilakukan oleh tuan barunya karena hal tersebut tidak pernah ia temui ketika masih mengabdi kepada tuannya yang lama. “Maaf tuan, kelihatannya anda sibuk sekali, sepertinya akan datang masa paceklik yang panjang?” tanyanya. “Kami sedang mempersiapkan menyambut Bulan Ramadhan” jawab tuannya. Budak itu berkata, “Memangnya kalian tidak berpuasa selain bulan ini? Demi Allah, aku dulu hidup bersama orang yang sepanjang masanya adalah Ramadhan, kembalikan saya kepada tuanku itu”.

Romantika itu tetap produktif dalam kesedihan. Yang sudah berlalu takkan kembali, namun masih bisa disongsong kehadirannya di masa depan. Penyesalan mendalam bukanlah merutuki nasib, tetapi memastikan hari-hari selanjutnya akan lebih baik. Romantika itu terus memupuk kerinduan dengan kontinyuitas amal shalih. Menghadirkan suasana yang dirindukan dalam keseharian hingga takdir yang akan mempertemukan kembali atau tidak lagi sempat bersua namun penuh dengan persiapan. Mumpung Ramadahan belum lama berselang, mari terus sibukkan diri dengan romantika produktif.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan –seperti gunung yang Nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.” (‘Perpisahan’, Kahlil Gibran)

Ramadhan Itu Sebentar

“Ku mengharapkan Ramadhan kali ini penuh makna agar dapat kulalui dengan sempurna. Selangkah demi selangkah, setahun sudah pun berlalu. Masa yang pantas berlalu, hingga tak terasa ku berada di bulan Ramadhan semula” (‘Harapan Ramadhan’, Raihan)

Waktu begitu cepat berlari, tak terasa Ramadhan kembali datang menghampiri. Ada yang bergembira, ada yang menyambutnya biasa saja. Rasanya baru kemarin saling bermaafan di Hari Raya, kini Ramadhan sudah kembali menyapa. Banyak orang merasakan waktu berjalan begitu cepat ketika akan meninggalkan sesuatu atau menyongsong sesuatu yang lain, padahal memang demikianlah karakteristik waktu, cepat berlalu dan takkan pernah bisa kembali. Dan waktu pasti akan bergerak begitu cepat, tiba-tiba saja sekarang sudah di penghujung Ramadhan dan tak lama lagi Ramadhan akan berlalu. Jika hidup di dunia adalah pemberhentian sementara, maka Ramadhan tentu lebih singkat lagi. Ya, Ramadhan itu sebentar. Karenanya sudah sepantasnya waktu yang singkat tersebut diisi dengan berbagai aktivitas produktif.

Ramadhan itu sesaat, seperti lomba jarak menengah, sebentar sekali, karenanya harus benar – benar cerdas dalam mengoptimalkan kehadirannya. Persiapan ilmu, fisik dan mental tentu menjadi penting untuk memperbesar peluang memenangkan perlombaan. Dalam persiapan lari jarak menengah, persiapan dilakukan dengan berbagai variasi, mulai dengan lari secara terus menerus, lari dengan kecepatan dan jarak yang bervariasi hingga lari di bukit-bukit. Persiapan menghadapi Ramadhan juga sebaiknya dilakukan secara variatif, mulai dari pembiasaan dalam mengerjakan ibadah rutin, hingga optimalisasi persiapan di dua bulan terakhir. Bagaimanapun, seperti halnya lari jarak menengah, butuh konsistensi dalam menghadapi perjuangan di bulan Ramadhan. Tidak perlu ‘tancap gas’ dari awal seperti lari sprint agar tidak ‘kehabisan nafas’ lebih awal, jangan pula selambat lari marathon karena Ramadhan itu sebentar.

Dalam lari jarak menengah, ada lima faktor penting yang perlu diperhatikan, yaitu gaya (style), daya tahan tubuh (stamina), kecepatan, pertimbangan langkah, dan kepemimpinan. Gaya lebih terkait dengan keterpaduan gerak sehingga tercipta harmoni antara gerak seluruh anggota tubuh. Dalam konteks Ramadhan, harmonisasi ini erat kaitannya dengan manajemen diri. Bagaimana melakukan persiapan yang menyeluruh, mulai dari ilmu, fisik, ruhiyah, hingga materi serta bagaimana menghadirkan keseimbangan dalam mengimplementasikannya. Islam mengajarkan untuk hidup seimbang, pun demikian dengan Ramadhan. Karenanya dianjurkan mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka, karenanya umat Islam tidak dituntut untuk tidak tidur sepanjang malam. Harmonisasi ini akan menciptakan keindahan sekaligus kekuatan. Tidak mengherankan, di masa Rasulullah SAW banyak sekali peperangan yang terjadi di bulan Ramadhan.

Stamina seorang pelari sangat menentukan kemampuannya untuk menempuh jarak yang tidak dekat, karenanya daya tahan tubuh ini perlu terus dilatih. Betapa banyak mereka yang penuh semangat di awal Ramadhan, namun belum sampai setengah jalan sudah terengah-engah. Beramal shalih memang banyak tantangannya, namun istiqomah jauh lebih sulit. Stamina ini erat kaitannya dengan pemahaman akan kondisi diri dan pengetahuan akan karakteristik medan yang akan ditempuh. Boros dalam menghabiskan energi, menyibukkan diri dengan perkara yang tidak penting hanya akan menguras stamina. Jika pelari jarak menengah dianjurkan untuk memeriksakan kesehatan sebelum memulai latihan daya tahan, seorang pejuang Ramadhan juga perlu mengenal diri dan kemampuannya sebelum menyusun target Ramadhan. Optimalisasi ibadah Ramadhan sangat ditentukan oleh kebugaran dan stamina, baik jasadiyah, fikriyah, maupun ruhiyah.

Kecepatan (speed) bagi pelari jarak menengah merupakan faktor utama untuk menempuh jarak dalam waktu seminimal mungkin, di dalamnya terdapat strategi dan teknik berlari. Ramadhan itu sebentar, seorang pejuang akan tertinggal jika gagal meningkatkan atau setidaknya mempertahankan kecepatannya dalam mengejar target Ramadhan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah sikap suka menunda untuk melakukan kebaikan. Kecepatan yang kurang seringkali terjadi bukan karena banyaknya rintangan sepanjang perjalanan, namun sikap santai dan jiwa yang lemahlah yang membuat langkah melambat dan kehilangan fokus. Kesadaran yang terlambat kadang memang mampu memunculkan akselerasi menjelang garis finish, namun terlalu beresiko dan capaian targetpun biasanya tidak optimal, apalagi jika kecepatan awalnya jauh dari memadai.

Pertimbangan langkah (space judgement) dalam lari jarak menengah adalah perasaan yang dapat mempertimbangkan langkah yang sedang berjalan, sehingga mengetahui kapan untuk mempercepat atau menahan langkah untuk menjaga jarak. Momentum evaluasi selalu diperlukan sehingga kita tidak tertinggal namun juga tidak tergesa-gesa sehingga justru melewatkan banyak kebaikan di sepanjang Ramadhan. Langkah dan sikap berlari harus disesuaikan dengan medan yang dihadapi. Menghadapi tikungan tentu berbeda dengan ketika di jalur lurus, menghadapi jalan berbatu tentu berbeda dengan ketika di jalan mulus. Pertimbangan dan penyesuaian ini cukup sejenak, jangan terlalu lama, karena justru akan menghambat langkah. Ramadhan harus dijalani dengan kesadaran dan perhitungan, bukan sekedar rutinitas. Man shama ramadhana imanan wahtisaban, ghufira lahu ma taqaddama min zanbihi, barangsiapa berpuasa karena iman dan penuh perhitungan, maka dosa-dosanya yang lampau diampuni Allah SWT. Ihtisaban adalah mengerjakan ibadah Ramadhan secara evaluatif, yaitu selalu menilai apakah ibadah-ibadah tersebut dilaksanakan dengan benar serta telah mencapai tujuan dan kebaikan seperti yang diharapkan.

Adapun kepemimpinan dalam lari jarak menengah terkait kepandaian menggunakan strategi dan taktik berlari, misalnya posisi kepala, bahu, kaki dan tubuh yang benar. Condong ke depan, tidak perlu banyak menoleh ke belakang. Tidak tegang, tenang penuh optimisme. Salah satu teknik yang perlu dikuasai adalah teknik gerakan memasuki garis finish, di antaranya lari terus tanpa mengubah sikap lari dengan kaki dipercepat dan langkah diperlebar. Optimalisasi hari-hari terakhir di bulan Ramadhan pun keberhasilannya banyak ditentukan dengan ibadah di sepanjang Ramadhan. Lewati garis finish dengan kepala menunduk, dada dimajukan dan kedua tangan lurus ke belakang. Lalui Ramadhan dengan penuh tawadhu dan perenungan, bukan dengan hura-hura penuh kelalaian. Keberhasilan Ramadhan sangat erat kaitannya dengan kebersihan hari dan kebaikan perilaku. Setelah melewati garis finish jangan berhenti mendadak. Jangan sampai segala kebaikan di bulan Ramadhan seketika lenyap seiring berlalunya bulan Ramadhan. Menjadi hamba Allah bukan hamba Ramadhan.

Ramadhan itu sekejap. Seorang pelari jarak menengah tidak mungkin tidak sempat bersantai–santai, makan minum atau berlari sambil main smartphone. Seorang pejuang Ramadhan sejati akan mencoba mengisi setiap jenak Ramadhan dengan amal produktif, tidak sibuk dengan hal-hal remeh yang melalaikan, karena Ramadhan itu singkat. Jangan sampai kita menyesal di akhir, di saat tidak ada waktu lagi untuk berbuat dan tidak mungkin pula kembali ke masa lalu. Ramadhan sejatinya adalah berlomba melawan diri sendiri, memecahkan rekor sendiri. Memang mungkin masih ada kesempatan untuk mengikuti lomba berikutnya di kemudian hari, namun selalu ada kemungkinan bahwa perlombaan ini adalah lomba terakhir kita. Lalu, apa yang akan kita lakukan jika ternyata memang benar bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir kita?

Barangsiapa puasa Ramadhan kerana beriman dan penuh perhitungan, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang” (HR. Bukhari – Muslim)

Dan Ramadhan Tetap Disini

Pada suatu waktu, seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas r.a. mengenai tiga hal. Orang tersebut bertanya mengenai hari yang paling baik, bulan yang paling baik dan amal perbuatan yang paling baik. Ibnu Abbas r.a. yang dijuluki ulama generasi shahabat pun menjawab, “Hari yang paling baik adalah hari Jum’at, dan sebaik-baik bulan adalah bulan Ramadhan serta sebaik-baik amal perbuatan adalah shalat fardhu lima waktu tepat pada waktunya”. Jawaban tersebut jelas bukan tanpa dasar, semuanya ada dalilnya yang bersumber dari Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim misalnya, disebutkan bahwa hari terbaik adalah hari Jum’at, hari dimana Adam diciptakan, dimasukkan ke surga dan dikeluarkan dari surga. Hari Jum’at merupakan pemuka hari-hari yang lain bagi umat Islam, didalamnya juga terdapat satu waktu khusus diijabahnya do’a. Hari Jum’at juga merupakan satu-satunya hari yang tercantum sebagai nama surah dalam Al Qur’an.

Sementara itu untuk Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah SWT mewajibkan puasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikan, maka dia tidak memperoleh apa-apa” (HR. Ahmad dan An Nasa’i). Ramadhan juga merupakan satu-satunya bulan yang namanya disebut dalam Al Qur’an. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, ketika Ibnu Mas’ud r.a. bertanya mengenai amal yang paling afdhal, Rasulullah SAW menjawab shalat tepat pada waktunya, baru kemudian beliau menjawab lagi berbakti kepada kedua orang tua dan jihad fisabilillah. Ustman bin Affan r.a. berkata, “Barangsiapa selalu mengerjakan shalat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah SWT akan memuliakannya dengan sembilan kemuliaan, yaitu dicintai Allah SWT, badannya selalu sehat, keberadaannya selalu dijaga malaikat, rumahnya diberkahi, wajahnya menampakkan jati diri orang shalih, hatinya dilunakkan oleh Allah SWT, dia akan menyeberang sirath seperti kilat, dia akan diselamatkan Allah SWT dari api neraka, dan Allah SWT akan menempatkannya di surga kelak bertetangga dengan orang-orang yang tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati”.

Jelaslah sudah keutamaan hari Jum’at, bulan Ramadhan dan shalat tepat waktu tanpa harus disampaikan semua dalil yang mendukungnya. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at lainnya, Ramadhan ke Ramadhan yang lain adalah penghapus dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi” (HR. Muslim). Ibnu Abbas r.a. wafat pada hari Jum’at, kemudian tiga hari berikutnya kabar tentang pertanyaan dan jawaban Ibnu Abbas r.a. tersebut sampai kepada Ali bin Abi Thalib r.a., lalu beliau berkata, “Apabila semua ulama, hukama dan fuqaha dari ujung barat sampai ujung timur ditanya tentang hal itu, maka mereka akan menjawab sama dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Abbas ra, tapi aku punya jawaban sendiri. Sesungguhnya sebaik-sebaik amal perbuatan adalah amal perbuatanmu yang diterima Allah SWT. Sebaik-baik bulan adalah bulan dimana kamu bertaubat kepada-Nya dengan taubat nasuha. Dan hari yang terbaik adalah hari dimana kamu meninggal dunia dengan membawa iman kepada Allah SWT.

* * *

Tak terasa, Ramadhan telah berlalu padahal sepertinya baru kemarin datang menyapa. Sepeninggal Ramadhan yang baru beberapa hari ini sudah ada berbagai hal yang dirindukan, saat bangun malam bersama untuk makan sahur, masjid-masjid yang ramai dengan tadarus qur’an, waktu berbuka puasa bersama, tarawih bersama, dan sebagainya. Selepas Ramadhan yang belum genap sepekan ini sudah mulai terlihat berbagai perubahan, masjid-masjid mulai kembali sepi, acara-acara televisi kembali jauh dari nuansa religius, nafsu makan dan tidur tak lagi terkendali, Al Qur’an kembali dilupakan, shalat malam ditinggalkan dan berbagai kebiasaan lama kembali dilakukan. Ibadah Ramadhan yang belum tentu diterima pun lenyap tak berbekas. Jangan-jangan inilah yang disebut dalam sebuah hadits betapa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Wahb ibnul Wardi pernah melihat sekelompok orang yang bersuka cita dan tertawa di hari Idul Fitri, ia pun berkata, “Apabila puasa mereka diterima di sisi Allah SWT, apakah tindakan mereka tersebut gambaran orang yang bersyukur kepada-Nya? Dan jika ternyata puasa mereka tidak diterima, apakah tindakan mereka itu adalah gambaran orang yang takut akan siksa-Nya?”. Na’udzubillah

Jika kita meneladani para salafush shalih, mereka cenderung bersedih dengan perginya bulan Ramadhan, khawatir amal ibadah mereka di bulan Ramadhan tidak diterima Allah SWT. Kekhawatiran itu mendorong mereka untuk terus fokus menyempurnakan amal, sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib r.a., “Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amal kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah AWJ ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa’ (QS. Al Maidah : 27)”. Upaya untuk terus memperbaiki amal dan meningkatkan ketakwaan inilah yang membuat para salafush shalih mampu menghidupkan nuansa Ramadhan di luar bulan Ramadhan. Tidak berlebihan jika sebagian ulama salaf mengatakan bahwa para shahabat berdo’a kepada Allah SWT selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan berikutnya agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima-Nya. Do’a tentunya diiringi dengan usaha sehingga sepanjang tahun nuansa Ramadhan berhasil mereka hidupkan.

Kita perlu mawas diri jika ibadah Ramadhan tidak berbekas di hari-hari setelah Ramadhan, jangan-jangan ibadah Ramadhan kita tidak diterima. Karena sesungguhnya, di antara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah amalan buruk yang ada sesudahnya. Oleh karena itu, barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama. Ramadhan memang bulan penuh ampunan dan penghapus dosa, namun bukan berarti di sebelas bulan lainnya kita bebas berbuat dosa dan kemaksiatan. Tidak salah bahwa Ramadhan adalah pemimpin para bulan yang penuh keutamaan, namun untuk memperoleh keutamaan itu tentu ada syarat yang harus dipenuhi. Tanpanya, Ramadhan hanya akan jadi bulan biasa saja. Sebaliknya, bulan-bulan selain Ramadhan bisa jadi penuh keutamaan jika kita mampu mengisinya dengan berbagai kebaikan.

Seorang sufi bernama Sheikh Bisyr Al Hafi berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shaleh akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun”. Pernyataan yang sangat menohok. Imam Hasan Al Basri juga menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, Surah Al Hijr ayat ke-99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu”. Jadi, sungguh tidak tepat jika semangat beramal dibatasi oleh bulan Ramadhan sementara kita tidak tahu apakah amal kita diterima Allah SWT. Sungguh tidak layak jika Ramadhan hanya menjadi musim berbuat baik sementara di setiap bulan kita mampu mengisinya dengan kebaikan. Dan sungguh tidak pantas jika semangat ibadah hanya mengisi hari-hari Ramadhan sementara kita tidak tahu kapan maut kan datang menjemput.

Secara kontekstual, Ramadhan memang bulan terbaik. Namun secara lebih substansial keutamaan bulan Ramadhan dapat terus ada di bulan-bulan selanjutnya jika kita dapat terus menjaga dan meningkatkan kualitas amal ibadah kita. Nuansa indah Ramadhan takkan kemana jika kita mampu istiqomah menghadirkannya, menghidupkan Ramadhan di luar bulan Ramadhan. Dan istiqomah memang tidak mudah, karenanya Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang mampu istiqomah. Semoga kita mampu menjadi seorang Rabbani yang selalu beribadah kepada Allah SWT di setiap waktu dan setiap tempat, bukan seorang ‘Rajabi’, ‘Sya’bani’, ‘Ramadhani’ atau orang-orang yang hanya semangat beribadah di bulan tertentu saja. Karena perintah untuk bertakwa tidak hanya ada di bulan Ramadhan. Karena Allah SWT mencintai amal yang terjaga konsistensinya.

Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya: istiqomahlah dalam beramal dan berkatalah yang jujur/ benar) dan mendekatlah kalian (mendekati amalalan istiqomah dalam amal dan jujur dalam  berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun di antara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit
(HR. Bukhari)

Lebaran = Lebar = Lebay?

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin), dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”.
(QS. Al An’am : 141)

* * *

Selalu ada syak di hati setiap kali tiba di bulan Syawal, ada terbersit kesedihan memang ditinggalkan bulan Ramadhan. Namun terlepas dari itu, ada segurat kesedihan lain menyaksikan fenomena ’hari kemerdekaan’ di tiap awal bulan Syawal. Gema takbir yang bersahutan seolah menjadi genderang pertanda bebasnya kembali melampiaskan hawa nafsu yang sebulan lamanya terkekang. Akibatnya, parade berlebih-lebihanpun tercipta, tak lagi tersisa ketundukan, tiada lagi tersisa kesederhanaan. Lebaranpun penuh diisi aktifitas lebay yang membuat lebar

Lebar (dengan huruf e dibaca seperti membaca kata ’lemah’ atau ’lelah’) dalam bahasa Jawa (dan juga dalam bahasa Sunda?) berarti mubazir atau sia – sia. Sedangkan lebay bermakna ’berlebih – lebihan’. Dan Idul Fitri di negeri ini sepertinya memang tidak pernah terlepas dari bermaaf – maafan yang lebay atau membuat makanan lebar. Pemborosan sendiri adalah suatu hal yang dilarang oleh Allah, “…Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya“ (QS. Al Isra : 26 – 27). Dalam terminologi bahasa Arab juga dikenal istilah israaf atau ghuluw yang mengandung makna ’berlebih – lebihan’.

Adik penulis bercerita bahwa ketika lebaran kemarin temannya ada yang menyurvey beberapa tempat sampah di dekat sejumlah ATM. Hasilnya sebagian besar struk tabungan menunjukkan angka di bawah 100 ribu, hanya 20% yang masih tersisa ratusan ribu dan hanya satu yang masih memiliki sisa tabungan di atas satu juta rupiah. Survey tersebut mungkin memang tidak valid, namun cukup menggambarkan betapa lebaran menguras habis tabungan. Entah untuk makanan, pakaian ataupun untuk keperluan pulang kampung dan sebagainya. Membelanjakan harta yang dimiliki adalah sah – sah saja, namun jika sudah lebih dari mencukupi kebutuhan maka perlu berhati – hati karena dapat terjerumus ke dalam sikap boros dan berlebih – lebihan.

Bayangkan saja banyaknya hidangan lebaran yang tersisa sementara di sisi lain begitu banyak orang miskin yang kelaparan. Atau perhatikan saja beberapa potong baju baru nan indah yang menggantikan pakaian lama yang masih bagus sementara masih banyak fakir miskin yang hanya menyisakan pakaian kusam lagi compang – camping. Dan parade lebay bin lebar belum berakhir sampai disitu. Betapa banyak uang yang dibakar untuk membeli kembang api dan petasan yang semestinya akan berlipat kebermanfaatannya jika disedekahkan kepada yang berhak. Atau jika data menyebutkan bahwa kerugian ekonomi akibat inefisiensi sistem transportasi Rp 5,5 triliun per tahun, dapat dipastikan sedikitnya Rp. 100 milyar terbuang akibat inefisiensi sistem transportasi selama lebaran. Dan Rp. 100 milyar tuh jumlah nolnya ada 11 (sebelas), bukan jumlah yang sedikit.

Berlebih – lebihan dalam hal apapun tidaklah dibenarkan dan mentolerirnya berpotensi menjerumuskan pelakunya untuk menuruti hawa nafsu. Di sinilah kemudian ibadah Ramadhan tak lagi menemui bekasnya, keshalihan tak lagi tampak, lahir maupun batin. Menangis tersedu – sedu ketika meminta maaf, tertawa lepas beberapa saat kemudian, bahkan beberapa jam kemudian kembali menggunjing orang yang baru saja ia mohonkan maafnya. Jangankan qiyamul lail rutin, tilawahpun sudah tidak lagi terjaga, padahal Ramadhan pergi baru beberapa hari. Penyebabnya sederhana, kesederhanaan telah hilang, hawa nafsu kembali dituruti. Pun bagaimana, Idul Fitri adalah salah satu hari raya umat Islam, tidaklah mengapa menyambutnya. Namun cukup dengan sambutan sederhana penuh kekhusyu’an. Tidak perlu hingar bingar berlebih – lebihan yang justru mengurangi keberkahan. Mawas diri dan berhati – hati penuh kesyukuran, karena sesungguhnya taqwa diraih dengan kehati-hatian…

* * *

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.
(QS. Al A’raaf : 31)

Wallahu a’lam bi shawwab

Ramadhan, Lari Sprint atau Maraton?

”Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga). Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan.Mereka diberi minim dari khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya adalah kesturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS Al Muthaffifin : 22 – 26)

Dalam suatu perlombaan lari, kemampuan sang pelari mengatur penggunaan energi merupakan salah satu kunci penting sukses menggapai kemenangan. Pemanasan harus terlebih dahulu dilakukan, start harus baik dan energi harus terjaga hingga akhir jarak yang ditempuh, pendek maupun panjang.

Fenomena Maraton yang Memprihatinkan…
Kebanyakan pelari Ramadhan memulai start dengan sangat baik. Shaum, tarawih, tilawah, shadaqoh dan amal ibadah lainnya dapat terjaga. Hanya saja banyak orang tidak memperhitungkan jarak tempuh yang tidak pendek. Di samping pemanasan yang kurang, penggunaan energi yang tidak terjaga membuat para pelari Ramadhan sudah terengah-engah di pertengahan jalan. Tidak sedikit pula yang justru lebih disibukkan dengan bagaimana dia akan merayakan kemenangannya dan membayangkan hadiah yang akan diterimanya padahal garis finish masih sepertiga jarak lagi. Dan sesungguhnya sepertiga jarak terakhir inilah yang benar-benar menentukan. Pada jarak inilah terdapat hadiah yang bernilai seribu tahun beribadah. Akhirnya, tanpa sadar, mereka roboh, hanya angan mereka saja yang menyampai finish. Kemudian mereka bermimpi indah merayakan kemenangan bergelimang hadiah yang mereka sukai bersama orang-orang yang mereka cintai…

Fenomena Sprint yang Melelahkan…
Lain lagi dengan banyak pelari tarawih. Perlombaan jalan santai, sesuai dengan namanya, berubah menjadi lari cepat. Satu Surat Al Fatihah dianalogikan sebagai satu langkah yang kurang afdhal kalau diselesaikan lebih dari satu nafas. Dan –maaf—senam ba’da Isya pun akhirnya menjadi rutinitas. Hasilnya, bukan tetes air mata yang mengalir tapi tetes peluh yang tertumpah…

Sudah menjadi keharusan bagi pelari yang hendak memperoleh hasil terbaik untuk benar-benar melakukan persiapan yang matang sebelum berlari. Dia harus betul-betul memahami medan tempuh, fokus pada tujuan akhir dan terus menjaga semangat dan staminanya bukan hanya di awal tapi hingga akhir. Ya, kini kita sedang sama-sama berlari. Perhatikan di depan, banyak orang yang lebih cepat dari kita dan kita harus mengejar mereka. Persiapkan segala sesuatunya, jangan sampai kita terseok-seok, terpeleset atau jatuh terjerembab ketika yang lain justru lagi cepat-cepatnya berlari. Mumpung garis finish Ar Royyan masih cukup jauh, bolehlah kita kembali mengatur nafas, mengumpulkan energi sambil terus berlari. Kita akan jauh tertinggal jika coba-coba hanya berjalan. Dan teruslah berlari, raih prestasi terbaik, karena bisa jadi inilah perlombaan lari terakhir yang kita ikuti…

Ramadhan, Musim Berbuat Baik

Jika telah tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah syaitan-syaitan” (HR. Bukhari – Muslim)

Ramadhan memang membawa pengaruh yang luar biasa. Kapan lagi merasakan masjid & mushalla penuh ketika shalat isya dan shubuh selain di bulan Ramadhan? Kapan lagi televisi berlomba-lomba menampilkan ‘sisi islami’nya? Artis-artispun ‘hijrah’ dan dengan ‘bangga’nya berbusana islami? Ya, kapan lagi? Ketika manusia berlomba-lomba melakukan infaq & sedekah, ketika senantiasa terdengar tilawah setelah selesai shalat fardhu, ketika berbagai penyakit lisan mendapatkan kontrol sosial… “Puasa, ga boleh bohong! Eh, jangan nggosip, lagi puasa!… Ketika tempat-tempat penyalur syahwat ditutup, Ketika ramai manusia mengisi siang harinya dengan berpuasa dan malam harinya dengan shalat… Ya, hanya ada di bulan Ramadhan!

Membahagiakan, suasana religius yang mendukung tentunya akan sangat membantu peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Membanggakan, ternyata izzah keislaman itu masih ada, ternyata fitrah kebaikan itu masih nampak, ternyata kekuatan ummat itu sedemikian besar. Mengharukan, ketika inisiatif beramal begitu tinggi, bahkan oleh mereka yang sebelumnya tidak memperlihatkan kepeduliannya terhadap kondisi keislamannya. Sekaligus menyedihkan, karena hal ini hanya terjadi di (awal) bulan Ramadhan saja…

Padahal Allah menyukai amal yang berkesinambungan walaupun sedikit, padahal nikmat Allah tidak hanya diberikan-Nya di bulan Ramadhan, padahal kewajiban beribadah adalah setiap saat, padahal berbuat kebaikan tak perlu menunggu orang lain, padahal Allah membenci orang yang munafik, banyak melakukan riya’ & sum’ah, padahal belum tentu kita mati di bulan ini! Dan Islam bukanlah hanya ada di bulan Ramadhan!
Kenyataannya, hanya mereka yang sudah menciptakan suasana Ramadhan di setiap bulannyalah yang akan mampu bertahan. Mereka yang terjaga puasanya adalah mereka yang biasa berpuasa di luar Ramadhan, mereka yang terjaga tilawahnya adalah mereka yang biasa bertilawah di luar Ramadhan, mereka yang tetap terjaga tarawihnya adalah mereka yang bisa tahajud di luar Ramadhan… Merekalah orang-orang yang istiqomah, Insya Allah… Orang-orang yang amal kebaikan dan ibadahnyanya tidak menyurut karena waktu, tidak pula tergantung dari ada tidaknya orang lain yang melakukan hal serupa…

Akhirnya dapat dipahami mengapa tempat-tempat ibadah semakin sepi dari tilawah dan dzikir, shaf-shaf shalat kian menyusut seiring berlalunya Ramadhan. Karena banyak orang hanya menjadikan Ramadhan sebagai trend. Ya, “Ramadhan (maupun bukan Ramadhan adalah), musim berbuat baik”. Slogan yang sering didengungkan salah satu stasiun TV itu nampaknya perlu diartikan sebagai ironi. Akhirnya, kita perlu berintrospeksi dan berharap semoga Allah menjaga kita dari sifat munafiq dan ikut-ikutan, semoga Allah memelihara ibadah kita dari riya’ dan sum’ah, semoga madrasah Ramadhan dapat menjadikan kita lulusan Ramadhan yang dapat menjaga kualitas amalnya di luar Ramadhan…

Dan Aku Masih Disini…

Lelah… kuakui jiwa ini lelah menanggung amanah yang terus bertambah. Menapaki jalan kecil dan licin yang sungguh tidak ramah. Kupalingkan pandanganku ke bawah, tampak seruas jalan lain menyusuri lembah. Banyak sekali orang yang melaluinya kerena memang lebih mudah. Jalannya lebih besar dan halus, pemandangannyapun lebih indah.

Beberapa orang di bawah sana menyapaku, mereka mengajakku. Tampak senyum ramah mereka yang membuatku sejenak terpaku. Berbeda sekali dengan teman-teman seperjuanganku di jalan ini yang begitu kaku, beku. Mereka terlalu banyak menuntut tanpa membantu. Terlalu banyak berkeluh kesah seolah merekalah orang yang paling banyak berjibaku. Tidak dewasa dalam berpikir, menyikapi masalah dan berperilaku. Ah, sejujurnya, mereka membuatku jemu! Dan sekarang, begitu saja mereka melewatiku, tanpa sedikitpun salam sapa senyum padaku…

Sejenak kuhentikan perjalanan ini. Pandanganku tertuju pada sepasang manusia yang bergandengan mesra dengan wajah berseri. Laki-laki itu, dia orang yang banyak memberikanku motivasi untuk tetap ada di jalan ini. Memberikanku inspirasi untuk tidak berhenti pun ditinggal seorang diri. Ya, dia temanku yang telah lebih dulu melalui jalan yang kini kutapaki. Namun kini, entah sejak kapan dan mengapa ia memilih jalan yang dulu katanya penuh tipu daya duniawi. Setelah itu, aku dibuat terkejut setengah mati ketika kudapati orang-orang yang mengajakku dan menyertaiku ketika mengawali hari, bahkan tokoh-tokoh besar yang selama ini hanya kudengar lewat kisah pahlawan jalan ini ternyata tidak bersamaku lagi. Mereka pergi, memilih jalan di bawah sana dengan penuh percaya diri…

Ah, mengapa aku tak bersama mereka. Toh tak ada jaminan jalan yang kulalui menyelamatkanku dari neraka. Dan bukan tak mungkin jalan di bawah sana mengantarkanku ke surga. Teman-temanku di jalan inipun tak tahu kemana. Terkenang pengalaman penuh duka bersama mereka. Dan kini jalan menuju ke bawah sana hadir di hadapan mata. Nampak begitu teduh, akupun terpana. Semakin kudekati, semakin sejuk terasa. Teman-teman seperjalananku yang melihatku hendak melangkah turun dengan penuh prasangka hanya mencerca. Hatiku kesal tak terkira, pikirku tanpaku mereka bisa apa. Akupun membuang muka, mulai menuruni tangga, selamat tinggal para pencela, selamat tinggal semuanya…

Kemudian dibelakangku terdengar teriakan, tidak asing, langkahkupun tertahan. Aku menoleh perlahan, tampak teman-teman lamaku melambaikan tangan. Tiba-tiba aku tergelincir, jalan ini ternyata tak seindah yang kubayangkan, akupun kehilangan pegangan. Akupun jatuh, sakit, tulang-tulangku terasa berlepasan, tubuhku terasa berantakan. Gravitasi menyeretku turun, beruntung ku sempat berpegangan pada dahan di sisi jalan. Pandanganku masih kabur saat kurasakan beberapa pasang tangan menarikku kembali ke atas, hawa hangat menjalar ke seluruh badan. Seolah mengobati luka, begitu menyejukkan perasaan…

Kembali di atas jalan licin penuh tantangan, samar kudengar suara isakan. Kudapati di ujung jalan, adik-adikku menatap sedih penuh keheranan. Beberapa diantara mereka menangis pelan. Kupandangi sekelilingku, kawan-kawanku tersenyum menawan. Jelas jejak tangisan dan guratan kekhawatiran. Lukaku dibasuh dan diobati dengan penuh perhatian. Teriring untaian kata yang menyejukkan, sungguh mengharukan…

Kini, ku kembali melangkah, masih di jalan yang penuh mihnah. Sekilas kulihat darah dan nanah yang terus menyusuri jalan ke depan, mewarnai tanah dengan kemilau sejarah. Luka ini belum seberapa parah, ujian ini masih mudah. Tak ada waktu untuk lemah, tiada alasan untuk menyerah. Aku salah, aku harus berubah, lebih sabar dalam berukhuwah, lebih tangguh dalam menahan fitnah. Dan luka yang pernah tertoreh takkan menyurutkan langkah….

Ps : 4All My Friends, Thank’s 4all …