Tag Archives: italia

Corona Bikin Kangen Nonton Bola (2/2)

Kurva Covid-19 di Spanyol juga sudah mulai menurun sepekan terakhir walaupun tidak sedrastis Jerman. Dengan fatality rate sebesar 10.2% dan recovery rate 57.6%, setidaknya butuh waktu sebulan bagi Spanyol untuk pulih dari pandemi Covid-19. Artinya, jika penurunan kasus Coronanya sesuai tren, rencana La Liga untuk kembali bergulir pada 6 atau 13 Juni 2020 masih mungkin terjadi. Di puncak klasemen, Barcelona sementara ini unggul dua pon dari rivalnya, Real Madrid. Sementara di dasar klasemen, Espanyol hanya berjarak enam poin dari Celta Vigo di posisi ke-17. Dengan masih adanya 11 pertandingan tersisa, klasemen akhir masih sangat mungkin berubah. Namun rencana melanjutkan La Liga sangatlah berisiko mengingat Spanyol merupakan negara dengan kasus Corona tertinggi ke-2 di dunia, kasus baru per harinya masih di atas 2.700 kasus dan jumlah korban jiwa baru setiap harinya di masih di atas 250 orang. Belum lagi, pertandingan Liga Champion yang disinyalir menyebarkan virus Corona di Eropa dua di antaranya melibatkan klub La Liga, yaitu Valencia (vs Atalanta) pada 10 Maret 2020 dan (Liverpool vs) Atletico Madrid pada 11 Maret 2020. Jika La Liga akan kembali bergulir, pengelolaannya harus sangat ketat.

Beberapa hari lalu, Perancis menyusul Belgia dan Belanda membatalkan liga domestiknya. Paris Saint-Germain (PSG) yang unggul 12 angka di atas Marseille di posisi runnerup dan masih mempunyai tabungan satu pertandingan lebih banyak baru saja disahkan menjadi juara Ligue 1. Dua peringkat terbawah, Toulouse dan Amiens terdegradasi digantikan juara Ligue 2 Lorient dan runner-upnya Lens. Nimes tetap bertahan di Ligue 1 walaupun ada di posisi ke-18 sebab tidak ada playoff promosi-degradasi dengan peringkat ke-2 Ligue 2. Seperti halnya Belgia, kurva Covid-19 baru akan mencapai puncak, dengan fatality rate 14.6% dan recovery rate 29,6%. Dengan jumlah kasus yang jauh lebih banyak dibandingkan Belgia dan Belanda, sepertinya butuh lebih dari dua bulan bagi Perancis untuk pulih dari pandemi Covid-19. Entah bagaimana nasib Lyon dan PSG di Liga Champions. Laga Liga Champions antara Lyon (vs Juventus) pada 26 Februari 2020 dan PSG (vs Dortmund) pada 11 Maret 2020 sendiri dianggap mempercepat penyebaran virus corona di Perancis.

Italia termasuk negara yang dianggap kurang baik dalam penanganan Covid-19. Kurvanya sudah mulai menurun 11 hari terakhir namun tidak signifikan. Jika trennya tetap tanpa terjadi percepatan, masih butuh sekitar 5 bulan untuk Italia agar kembali normal. Dengan fatility rate 13.6% dan recovery rate 37%, Italia sebenarnya tidak lebih buruk dari Belgia atau Perancis. Bahkan jumlah kasus baru dan korban jiwa baru di Italia masih lebih rendah dari Spanyol. Namun kecepatan pemulihannya masih sangat rendah untuk jumlah kasus yang sedemikian besar. Pemain Serie A rencana akan mulai latihan mandiri pada 4 Mei 2020 dan bersama tim pada 18 Mei 2020. Serie A sendiri rencananya akan dimulai kembali 2 Juni 2020 tanpa penonton hingga akhir tahun ini. Di klasemen sementara, Juventus memimpin klasemen dengan poin 63, dibayang-bayangi Lazio (poin 62) dan Inter Milan (poin 54, dengan 1 pertandingan lebih banyak). Sementara juru kunci Brescia (poin 16) hanya berjarak 9 poin dari Genoa di posisi ke-17. Dengan masih menyisakan 12 – 13 pertandingan, klasemen akhir masih mungkin berubah. Namun keputusan melanjutkan Liga Italia memiliki risiko yang sangat tinggi, apalagi setidaknya ada 16 pemain dari 6 klub Serie-A yang pernah dan masih positif Corona.

Sementara itu, total kasus corona di Inggris mencapai 118.343 dengan fatality rate mencapai 20.4%, tertinggi di antara negara lainnya, dengan kasus terbesar di London yang mencapai 24.297 kasus. Walaupun risikonya masih sangat tinggi, Premier League direncanakan akan dimulai kembali pada 8 atau 13 Juni 2020. Di klasemen sementara, Liverpool sendirian di puncak dengan keunggulan 25 poin dari posisi runner-up Manchester City yang memiliki satu pertandingan lebih banyak. Dengan 9 pertandingan tersisa, Liverpool hanya butuh dua kemenangan untuk mengunci gelar juara setelah penantian 30 tahun. Sementara perebutan jatah Liga Champion, Liga Eropa, dan tidak terdegradasi masih cukup ketat.

Hanya klub-klub dari lima liga terbaik di Eropa yang masuk fase gugur 16 besar Liga Champions, sementara untuk Liga Eropa jumlah negara yang terlibat lebih banyak lagi. Di fase gugur 16 besar Liga Eropa masih ada Istanbul Basaksehir (Turki), FC Copenhagen (Denmark), LASK (Austria), FC Basel (Swiss), Olympiacos (Yunani), Rangers (Skotlandia), Shakhtar Donetsk (Ukraina). Kurva Covid-19 di Turki dan Denmark mulai turun, mungkin butuh 1.5 bulan untuk kembali normal. Austria dan Swiss bahkan bisa pulih lebih cepat. Yunani dan Skotlandia juga relatif turun, hanya Ukraina yang kurva Covid-19nya masih relatif naik. Secara umum, jika kompetisi di Eropa akan dilanjutkan pada Agustus 2020 relatif masih memungkinkan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Di Asia, Korea Selatan dan Vietnam bersiap untuk kembali memulai liga domestiknya beberapa waktu ke depan. Dengan recovery rate di atas 80%, kedua negara ini hampir berhasil menuntaskan pandemi Covid-19 di negaranya. Indonesia sepertinya perlu lebih bersabar dan tidak tergesa-gesa untuk memulai kembali liga domestik. Walaupun fatality ratenya sudah turun ke angka 7.8%, recovery rate Indonesia baru di angka 15%. Kurva belum mencapai puncak pula. Setidaknya butuh waktu dua bulan lebih bagi Indonesia untuk kembali pulih. Bagaimanapun, lanjutnya liga domestik bukan cuma perkara olahraga, namun ada kepentingan bisnis di dalamnya. Karenanya, selain pertimbangan kesehatan dan kemanusiaan, faktor keuangan dan ekonomi juga akan menjadi pertimbangan. Indonesia perlu wawas diri, tidak perlu ikut-ikutan apalagi sombong. Yakinlah, badai Corona akan berlalu, dan sepakbola akan kembali memulai babak baru.

You hear now more and more it’s not only the elderly and weaker – it’s not only that, there are younger people involved who can die of it as well. It’s not about that, it’s about just, show heart and a bit of sensibility and do the right thing: stay at home as long as we have to. And then at one point we will play football again as well, 100 per cent. I couldn’t wish more for it because of a few really good reasons, how you can imagine. I can’t wait actually, but even I have to be disciplined and I try to be as much as I can.” (Jurgen Klopp)

Data COVID-19 Indonesia, Semengerikan Itu Kah?

Without data, you’re just another person with an opinion” (W. Edwards Deming)

Ada satu ‘hobi’ baru saya beberapa pekan terakhir. Sebuah aktivitas yang memang relevan untuk dilakukan saat ini. Apakah itu? Hobi mengamati data peningkatan dan penyebaran virus corona. Menurut saya, banyak hal menarik yang bisa didapat dari pengamatan data kasus COVID 19 ini.

Sampai dengan hari Selasa, 31 Maret 2020, waktu setempat, tercatat lebih dari 850 ribu orang yang terjangkit virus corona. Amerika Serikat saat ini melaju kencang sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak, lebih dari 180 ribuan orang yang positif terpapar virus ini. China, negara dimana virus corona pertama kali muncul sementara hanya ada di urutan keempat dengan 81 ribuan kasus, di bawah Italia (105 ribuan kasus) dan Spanyol (95 ribuan kasus). Melihat tren peningkatan jumlah kasus, sepertinya tinggal menunggu waktu China akan tergeser ke urutan kelima oleh Jerman yang jumlah kasusnya sudah 71 ribuan.

China yang merupakan negara dengan populasi penduduk terbanyak di dunia, hanya menempati posisi kelima untuk jumlah korban jiwa wabah COVID 19 ini, yakni sebesar 3.305 orang. Peringkat teratas adalah Italia dengan 12.428 orang meninggal, diikuti oleh Spanyol (8.464 orang), Amerika Serikat (3.867 orang), dan Perancis (3.523 orang). Jika melihat trend pertumbuhan kasus dan korban, selisih korban jiwa di Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa sepertinya akan semakin berjarak dengan China. Kurva di Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa masih terus naik, berbeda dengan kurva di China dan Korea Selatan yang mulai melandai. Sepekan terakhir saja, di Italia dan Spanyol setiap harinya ada lebih dari 650 orang yang meninggal akibat terpapar virus corona, sementara dua pekan terakhir, korban baru COVID 19 yang meninggal di China setiap harinya tidak pernah lebih dari satu digit. Akan lebih mengerikan lagi kalau korban jiwa dibandingkan dengan jumlah penduduk, 3.000an korban jiwa dari 1,4 miliar penduduk China sangat jauh lebih kecil sekali dibandingkan 12.000an korban jiwa dari 60 jutaan penduduk Italia.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan Indonesia. Jika dihitung dari jumlah penduduk yang terkonfirmasi terpapar virus corona, Indonesia ‘masih’ ada di peringkat 37 dunia. Namun ketika indikatornya adalah jumlah korban jiwa, peringkatnya meningkat drastis ke posisi 17. Artinya, tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) Indonesia sangat mengkhawatirkan. Tingkat kematian 136 orang dari 1.528 orang yang positif COVID 19 di Indonesia atau sekitar 8,9% adalah angka yang mengkhawatirkan. Tingkat kematian ini bahkan lebih tinggi dari Spanyol (8,8%) yang memiliki angka kematian sangat tinggi. Dari 80an negara dengan kasus positif virus corona tertinggi, di atas 250 kasus, CFR Indonesia ini hanya kalah oleh Italia yang mencapai 11,7%.

Sebagai perbandingan, jumlah 1.528 kasus positif corona di Indonesia bisa disejajarkan dengan Arab Saudi (1.563 kasus) dan Finlandia (1.418 kasus). Namun korban jiwa di Finlandia yang digadang-gadang merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik hanya 17 orang, CFR nya hanya 1,2%. Bahkan korban jiwa di Arab Saudi hanya 10 orang sehingga CFR nya hanya 0,6%. Jika melihat jumlah 136 korban jiwa akibat COVID 19, Indonesia barangkali bisa disejajarkan dengan Austria (128 korban jiwa). Namun jumlah kasus di Austria mencapai 10.180 yang artinya CFR nya hanya 1,3%. Adapun rata-rata CFR COVID 19 di dunia adalah 4,9%, artinya tingkat kematian akibat COVID 19 di Indonesia terbilang sangat mengkhawatirkan. Tingginya CFR di Indonesia ini bisa jadi menunjukkan banyaknya kasus positif corona yang belum teridentifikasi, dan atau menunjukkan lemahnya penanganan kasus sehingga banyak yang meninggal dunia.

Sepertinya memang kurang fair membandingkan Indonesia dengan beberapa negara di atas. Indonesia tidak bisa disamakan dengan Norwegia yang memiliki Human Development Index tertinggi. Hanya ada 39 korban jiwa dari 4.641 kasus di Norwegia, atau CFR nya 0,8%. Indonesia juga berbeda dengan Jerman yang penduduknya disiplin dan teknologinya sudah maju. Walaupun Jerman termasuk top-5 negara dengan jumlah kasus terbesar, dari 71.808 kasus, CFR nya hanya 1,1% dengan 775 korban jiwa. Bahkan kurang fair membandingkan Indonesia dengan Singapura yang hanya tercatat 3 korban meninggal akibat COVID 19, salah seorang di antaranya WNI berusia 64 tahun. Dengan 926 kasus di Singapura, CFR nya hanya 0,3%. Bagaimanapun, kedisiplinan masyarakat, kemajuan teknologi, dan optimalisasi peran pemerintah dalam memastikan kesejahteraan rakyat menjadi kunci penting dalam menghadapi wabah COVID 19 ini.

Dilihat dari luasnya wilayah, banyaknya jumlah penduduk, dan kondisi sosial masyarakatnya, Indonesia barangkali bisa dibandingkan dengan Brazil. Kondisi pendidikan, ekonomi, hingga sikap pemerintah dalam menghadapi COVID 19 juga mirip. Per 31 Maret 2020 ini, ada 5.717 kasus positif corona di Brazil dengan 201 korban meninggal. CFR sebesar 3,5% ini sepertinya ditentukan oleh penanganan kasusnya. Kasus pertama di Brazil dilaporkan sepekan sebelum laporan kasus pertama di Indonesia, padahal jarak dari Brazil ke China hampir separuh keliling dunia. Artinya, identifikasi kasus di Brazil lebih baik dibandingkan Indonesia. Seorang teman yang tinggal di Brazil bercerita, ketika anaknya sakit batuk pilek biasa beberapa pekan lalu, penanganannya seperti menangani suspect COVID 19. Setelah diisolasi dan dinyatakan negative, baru dilakukan penanganan reguler. Teman saya juga bercerita bahwa alih-alih membeli dan menggunakan alat rapid test dari China yang tingkat akurasinya rendah, Brazil memilih untuk mengembangkan alat rapid test sendiri. Jika membaca media internasional, kebijakan pemerintah Brazil sebenarnya juga tidak populer, mengedepankan ekonomi dibandingkan keselamatan rakyatnya, serta kerap beda kebijakan dengan kepala daerah. Yah, 11 12 dengan Indonesia lah. Bedanya, grassroot lebih solid dan konstruktif.

Semakin banyak data dan informasi, mungkin semakin tinggi juga kekhawatiran yang akan timbul. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Menjadi bijak atau paranoid. Yang jelas, dari data seharusnya kita bisa belajar. Belajar untuk mengantisipasi, sekaligus memprediksi masa depan. Sehingga data bisa bermanfaat untuk membuat keputusan terbaik. Memang tidak mudah untuk kasus di Indonesia, mengingat tidak semua data dibuka, dan tidak semua kebijakan diambil berdasarkan data. Dan dari data kita juga bisa melihat dunia dari berbagai perspektif. Negatif – positif, pesimis – optimis. Data COVID 19 di Indonesia memang mengerikan, namun masih banyak pikiran dan sikap positif yang bisa dimunculkan. Ketika kebijakan pemerintah tidak bisa diharapkan, masih ada peran individu dan masyarakat yang bisa dioptimalkan. Tetap berikhtiar dan berkontribusi dengan apa yang dimiliki. Seraya bermunajat semoga wabah ini segera teratasi.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kusta, kegilaan, lepra, dan dari segala penyakit buruk lainnya” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)