Tag Archives: karakter

Karena Beasiswa Adalah Amanah

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.” (Bung Hatta)

Angka partisipasi pendidikan tinggi mengalami peningkatan cukup signifikan dalam tujuh tahun terakhir. Data BPS mengungkapkan bahwa selama tahun 1994 – 2009, Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 19 – 24 tahun relatif stagnan di kisaran 12%. Namun capaian ini terus meningkat sejak tahun 2010 dan tahun 2017 ini angkanya telah mencapai 24,67%, hampir dua kali lipat dari capaian tahun 2009. Program pemerintah yang paling mungkin memengaruhi capaian ini adalah Bidik Misi yang dimulai pada 2010 lalu untuk 20.000 mahasiswa. Dampaknya, terjadi peningkatan angka partisipasi pendidikan tinggi yang signifikan pada tahun 2013, tepat empat tahun setelah program digulirkan. Kuota maupun sebaran kampus Bidik Misi pun terus bertambah, termasuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pada tahun 2018 nanti, direncanakan kuota Bidik Misi akan menjangkau 90.000 mahasiswa.

Tidak hanya Bidik Misi, program beasiswa untuk mahasiswa memang kian marak dalam satu dasawarsa terakhir. Pemerintah pusat dan daerah, berbagai perusahaan, LSM, yayasan, para alumni hingga donasi individu seakan berlomba memberikan beasiswa. Bentuknya pun semakin beragam bukan hanya pembiayaan pendidikan, ada fasilitas tempat tinggal hingga pembinaan mahasiswa dengan tema tertentu, misalnya menghapal Al Qur’an, entrepreneur, atau kepemimpinan. Bahkan beasiswa untuk paska sarjana juga semakin banyak, di antaranya melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan RI. Zaman seolah berubah, jika dulu mahasiswa berebut mencari beasiswa, sekarang beasiswa lah yang sibuk mencari calon penerimanya. Mahasiswa penerima beasiswa tidak lagi eksklusif, mudah ditemukan dimanapun.

Kemudahan memperoleh beasiswa ini turut memengaruhi karakter para penerima beasiswa. Apalagi banyak program beasiswa yang hanya menjadikan indeks prestasi akademik sebagai indikator keberhasilan, abai dengan penguatan karakter penerima beasiswa. Padahal banyaknya beasiswa membuat calon penerimanya semakin pragmatis, memilih yang mudah diperoleh, dapat banyak fasilitas, dan tidak membebani dengan kewajiban apapun. Secara akademik mungkin mereka tidak bermasalah, namun belum tentu secara karakter. Mulai dari lemah komitmen, segera beralih ke beasiswa lain yang menjanjikan fasilitas lebih. Tak peduli fakta bahwa ketika mereka sudah menerima beasiswa sebenarnya ada kuota yang sudah mereka isi, artinya ada hak orang lain yang sudah mereka ambil. Toh ini kompetisi. Mudah menuntut haknya untuk memperoleh berbagai fasilitas yang dijanjikan. Mudah mengeluh, kurang mandiri, dan kurang berempati. Jangankan berpikir bahwa sejatinya beasiswa yang diperolehnya adalah donasi dari masyarakat yang di dalamnya tersimpan amanah dan harapan masyarakat, bahkan ada penerima beasiswa yang ‘memalsukan kemiskinannya’ hanya untuk memperoleh beasiswa. Tidak jujur dalam menyiasati beasiswa. Tak mengherankan tersedia layanan untuk melaporkan mahasiswa yang tidak layak untuk memperoleh beasiswa dalam website Bidik Misi.

Mekanisme pencairan beasiswa yang dirapel juga rentan penyelewengan, baik oleh penerima maupun pengelola beasiswa. Uang dalam jumlah besar yang ‘tiba-tiba’ diterima memungkinkan para penerima beasiswa tidak bijak dalam menggunakannya. Alih-alih untuk biaya pendidikan, beasiswa justru digunakan untuk beli gadget terbaru atau pelesiran. Jika sebagian uang beasiswa dikirimkan untuk membantu orang tuanya tentu masih dapat dimaklumi, namun jika digunakan sekadar untuk gaya-gayaan rasanya kok kejam sekali. Sementara masih banyak anak dari masyarakat marjinal yang tidak mampu melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi. Pengelola juga bisa jadi tidak berlaku amanah jika memang sengaja menunda pencairan misalnya, apalagi jika menjadi ‘broker’ beasiswa sehingga kuota justru diambil oleh mereka yang tak layak memperoleh beasiswa.

Tak hanya itu, amanah para pengelola beasiswa tidaklah kalah besarnya. Mulai dari menyebarkan informasi beasiswa seluas-luasnya dan sebenar-benarnya, hingga menyempurnakan ikhtiar dalam seleksi sehingga yang terpilih adalah mereka yang benar-benar layak. Ada sisi kemanusiaan yang perlu dihadirkan, tidak hanya bersandar pada rumus dan hitungan matematis. Banyak mahasiswa nyaris miskin yang selama ini kurang diperhatikan. Di sisi lain, ada upaya sekadar memenuhi kuota penerima beasiswa di beberapa kampus yang akhirnya menurunkan standar kelayakan calon penerima beasiswa. Amanah lain yang kerap terlupakan adalah mendidik para penerima beasiswa secara paripurna, bukan sebatas menggugurkan kewajiban untuk menyalurkan. Amanah dalam mengelola beasiswa juga mencakup makna memastikan bahwa beasiswa yang diberikan dapat efektif dalam menghasilkan SDM unggul pemimpin masa depan bangsa, yang tentu bukan hanya berkompeten, tetapi juga berkarakter.

Beasiswa adalah amanah, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya. Para penerima beasiswa akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana cara mereka memperoleh beasiswa, digunakan untuk apa, dan apa hasil atau kebermanfaatan dari beasiswa tersebut. Para pengelola beasiswa akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana mereka mengelola beasiswa dan para penerima beasiswa. Beasiswa sejatinya bersumber dari donasi masyarakat, termasuk pajak dan ZIS (Zakat, Infak, Sedekah). Beasiswa alumni atau donasi individu pun bagian dari masyarakat. Bahkan perusahaan pun memperoleh pendapatan dari masyarakat dan mengalokasikan dana CSRnya untuk program di masyarakat. Karenanya, program beasiswa seharusnya mampu memberi kontribusi kepada masyarakat. Tidak harus dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun sikap amanah dalam menyalurkan dan menerima beasiswa akan membawa kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Tumbuhnya kepercayaan donatur akan meningkatkan kedermawanan sosial. Ditambah lagi keberkahan dari hadirnya SDM berkualitas dari program beasiswa yang akan terus menebar kebermanfaatan bagi masyarakat. Dan manfaat pun terus berlipat dimulai dari satu kata sederhana: amanah.

Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani)

Mewawas Diri Tuk Bangkit Berdikari

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala, tetap dipuja-puja bangsa.
Di sana tempat lahir beta. Dibuai, dibesarkan Bunda.
Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata…

Lagu ‘Indonesia Pusaka’ tetiba menggema di bulan ini sebagai salah satu lagu wajib nasional yang kerap mewarnai peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Lagu nasionalis yang sangat optimis. Ada euforia puja puji terhadap Indonesia di masa lalu. Ada keyakinan Indonesia tetap menjadi tempat yang nyaman dalam menghabiskan hari tua. 71 tahun mungkin bukan usia yang tua jika dibandingkan usia negara-negara lawas semisal USA, Portugal, ataupun Swiss. Tapi jika melihat Negara seperti Yugoslavia atau Cekoslowakia yang ‘wafat’ di usia 74 tahun tentu sudah sepantasnya Indonesia bersikap bijak tidak larut dalam kegembiraan yang tidak produktif. Ya, momentum dirgahayu semestinya bisa menjadi momen instrospeksi agar negeri ini bisa lebih wawas diri.

Indonesia lahir seumuran dengan Korea Selatan, hanya lebih lambat 2 hari. Namun akselerasi keduanya sangat jauh berbeda. Berdasarkan laporan UNDP, pada tahun 2015, Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/ HDI) Korea Selatan sebesar 0.898 dan ada di peringkat 17 dunia. Indonesia masih berkutat di posisi 110 dunia dengan nilai 0.684, setara dengan Gabon yang juga merdeka pada 17 Agustus namun lebih muda 15 tahun dari Indonesia. Usia memang tidak lantas menunjukkan kualitas. Lihat saja Singapura yang ‘baru’ berusia 51 tahun namun sudah menjadi salah satu negara maju di dunia (HDI 0.912 – peringkat 11 dunia). Sementara Liberia yang sudah berusia 169 tahun masih termasuk negara tertinggal (HDI 0.430 – peringkat 177 dunia). Lalu, apa yang membedakan?

Sebagian orang berapologi dengan alasan titik awal perjalanan Negara. Padahal di awal masa kemerdekaan, Singapura tidak kalah sulitnya dengan Indonesia, bahkan mungkin lebih tragis. Dua pertiga penduduknya miskin dan tinggal di pemukiman kumuh. Air bersih sulit didapat, wabah malaria menyerang, sehingga mayat pun bergelimpangan. Pun demikian dengan Korea Selatan. Paska Perang Dunia II, Korea kembali mengalami kehancuran kedua akibat perang saudara (1950 – 1953). Kehidupan sosial, ekonomi dan politik hancur, puluhan juta warganya miskin dan kelaparan. Praktis pada tahun 1960-an, Indonesia jauh lebih maju dibandingkan Singapura ataupun Korea Selatan.

Ada pula yang menjadikan negara penjajah sebagai alasan. Konon Inggris lebih baik dari Belanda. Singapura berpisah dari Malaysia pada 9 Agustus 1965, Malaysia sendiri sebelumnya adalah jajahan Inggris. Hanya saja sering luput dari perhatian bahwa sekitar 90% negara di dunia pernah dijajah Inggris, termasuk Indonesia. Dan hingga saat ini tidak sedikit negara persemakmuran Inggris yang masih masuk kategori low human development, misalnya Sierra Leone, Afghanistan, Sudan, Malawi, Uganda, Lesotho, Papua Nugini, dan Pulau Solomon. Selain pernah dijajah Jepang, Korea Selatan pernah dijajah Perancis. Kanada adalah contoh bekas negara jajahan Perancis yang maju, namun jangan lupakan bekas negara jajahan Perancis di Afrika tengah dan barat misalnya Niger, Chad, Burkina Faso, Guinea, Pantai Gading dan Senegal yang termasuk negara-negara dengan HDI terendah. Artinya, mengkambinghitamkan penjajahan Belanda hanyalah sebuah bentuk sikap tidak berani bertanggung jawab.

Tidak sedikit pula pendapat lain yang lebih fair, bahwa secara umum ada tiga faktor yang menyebabkan Indonesia jadi jauh tertinggal oleh negara-negara yang pernah ada di level lebih rendah dari Indonesia. Ketiga faktor utama itu adalah fokus pembangunan, karakter warga, dan kepemimpinan. Fokus pembangunan ekonomi Singapura dan Korea Selatan diintegrasikan dengan investasi SDM melalui pembangunan pendidikan. Alhasil, kedua negara ini berhasil membentuk karakter warganya yang sejalan dengan visi pembangunan negara mereka. Ya, bukan hanya masuk jajaran negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia, Singapura dan Korea Selatan berhasil menanamkan nilai kerja keras, disiplin, patuh aturan, peduli lingkungan dan tidak mau mengambil hak orang lain kepada seluruh warganya. Lingkungan yang kondusif tentu akan menopang percepatan pembangunan. Selain itu, kemajuan Singapura tak bisa dipisahkan dari sosok Lee Kwan Yew yang bertangan besi namun visioner. Mirip dengan sosok Park Chung Hee di Korea Selatan. Di Indonesia, pemimpin otoriter berkonotasi negatif, pemimpin demokratis adalah harga mati. Pun realitanya demokratis yang dimaksud cenderung plin plan dan tak punya sikap, sementara pemimpin yang kuat dan tegas langsung dicap diktator.

Jika disadari demikian, lantas mengapa Indonesia yang begitu potensial tak jua mampu mengungguli atau paling tidak menyamai negara-negara tersebut? Persoalannya memang kompleks namun akar masalahnya tidak jauh dari problem karakter dan mentalitas. Kurang sabar untuk konsisten, kurang konsisten untuk terus belajar, dan kurang belajar untuk bersabar. Hakikat dan tujuan pembangunan nasional sebenarnya sudah terintegrasi, hanya saja praktik pembangunannya masih parsial. Mengutamakan pembangunan fisik yang terlihat termasuk proyek mercusuar yang high cost dibandingkan pembangunan non fisik. Mendahulukan ketercapaian indikator (semu) ekonomi nasional di atas perhatian lebih pada sektor pendidikan dan kesehatan. Bahkan memprioritaskan pembangunan kota daripada desa, Jawa daripada luar Jawa, barat daripada timur Indonesia. Alih-alih keseimbangan, yang terjadi justru ketimpangan.

Tidak ada yang perlu dibanggakan dari usia 71 tahun jika mentalitasnya masih anak-anak. Bukan tidak mungkin 71 tahun yang terlewat sejatinya hanya 1 tahun yang berulang sebanyak 71 kali. Indonesia masih banyak PR, belum selesai dengan dirinya. Tidak hanya soal minimnya kualitas, kesenjangan sosial ataupun lemahnya supremasi hukum. Leadership dan followership juga masih menjadi tantangan besar. Belum lagi bicara tentang master plan bangsa. Namun dalam konteks wawas diri, setiap komponen bangsa harus introspeksi untuk kemudian memberikan kontribusi produktifnya, tanpa kecuali. Sadar peran, kewajiban dan tanggung jawabnya untuk selanjutnya bersinergi dalam meraih cita bersama.

Akhirnya, sesi kontemplasi ini harus diakhiri dengan keseimbangan antara kekhawatiran dan optimisme yang diikuti oleh aksi nyata perbaikan. Kekhawatiran akan masa depan bangsa menjadi suplemen agar bangsa ini tidak terlena dan tertidur. Bukan tidak mungkin Indonesia tinggal sejarah, toh Negara Adidaya Uni Sovyet pun runtuh. Bukan tidak mungkin Indonesia bangkrut, toh ekonomi Yunani yang peradabannya sudah puluhan abad pun bisa koleps. Namun optimisme akan kebangkitan Indonesia sebagai kekuatan regional dan global juga perlu terus dipupuk sebagai pembakar motivasi. Negeri ini kaya potensi dan sumber daya, tak ada alasan tak bisa mengejar ketertinggalan. Jika usia bukan faktor penentu kemajuan suatu negara, maka kontribusi nyata yang akan membedakannya. Dan jika sisa usia merupakan Rahasia-Nya, mengisinya dengan kerja, prestasi dan karya tuk mencapai cita bersama tentu menjadi hal yang utama. Indonesia Bangkit Berdikari, Insya Allah…

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” (Soekarno)

Guru, Wajah Pendidikan Indonesia

“Menggandeng tangan, membuka pikiran, menyentuh hati, membentuk masa depan. Seorang guru berpengaruh selamanya, dia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir” (Henry Adam)

Adalah Pak Saroji, guru kelas 6 SD berwajah tirus dengan dahi yang memperlihatkan kecerdasannya datang ke rumahku. Besok adalah deadline pendaftaran masuk SMP dan nampaknya beliau kurang puas dengan pilihanku yang memang hanya berorientasi ‘biar ada teman’. Beliau mencoba meyakinkanku dan orang tuaku bahwa aku seharusnya memilih sekolah yang lebih berkualitas, walau mungkin tak ada teman SD yang menemani karena NEMku terpaut jauh dengan siswa lainnya. Tersanjung juga atas perhatian beliau, apalagi beliau jauh-jauh datang di luar jam sekolah dengan motor tuanya. Akhirnya aku pun mengikuti saran beliau yang di kemudian hari mengantarkanku ke SMA dan PTN favorit. Beda lagi kenangan dengan guru kelas 4 SD yang berdandan menor dengan pakaian seksi. Ketika pembagian raport catur wulan pertama, beliau menyampaikan “Purwo cawu ini ranking 1, cawu depan gantian ya?”. Aku bingung, ada ya guru kayak gini, bukannya memotivasi dan mengapresiasi. Benar saja, catur wulan berikutnya aku ranking 2, rivalku dari kelas 1 SD bahkan sempat stress karena keluar dari 3 besar sementara yang rangking 1 hanyalah siswi biasa dari keluarga kaya raya yang kerap memberikan hadiah bagi ibu gurunya. Kelas 5 aku pindah sekolah dan bertemu dengan guru-guru baik hati seperti Pak Rusdi dan Pak Saroji. Beberapa tahun kemudian, aku dapat informasi bahwa guru kelas 4 tersebut sudah dikeluarkan karena tertangkap basah selingkuh dengan anak dari kepala sekolah. Astaghfirullah…

Guru, mungkin merupakan sosok yang berkesan, berpengaruh dan berjasa di samping orang tua kita. Masih jelas teringat guru kelas 1 SD yang sangat sabar, guru SMP dan SMA yang dibuat menangis karena kelakuanku, guru yang sering memberikan apresiasi ataupun guru yang kerap menghukum. Dan hampir semua guru-guru itu tetap menjadi guru, entah apa motivasinya. Profesi guru di Indonesia jelas tidak menjanjikan penghasilan tinggi tetapi posisinya tetap terhormat di masyarakat. Guru juga kurang diberi kesempatan untuk pergi ke luar pulau atau negara, namun keberadaannya tetap saja menebar manfaat. Kadang ada yang menjadi guru karena tidak ada pilihan, namun banyak yang memilih untuk menjadi guru sebagai bentuk pengabdian. Motivasi untuk membuat seseorang menjadi lebih tahu inilah yang membuat profesi guru tidak henti digemari. Keinginan untuk melihat senyum anak Indonesia inilah yang menjelaskan bagaimana seorang guru rela berjalan jauh melewati jalan yang tidak nyaman hanya untuk berinteraksi dengan para siswanya.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Maraknya tawuran, narkoba dan pergaulan bebas di kalangan pelajar jelas tidak terlepas dari peran guru. Berbagai kasus ketidaksopanan pelajar, bullying hingga tindak kriminal mencerminkan bahwa pendidikan Indonesia masih menghasilkan lulusan yang kurang berkarakter. Sekolah bukannya menjadi tempat pembenahan moral justru menjadi penyemai nilai-nilai negatif dalam interaksi sosial. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Oknum guru bukannya memberi contoh, justru melakukan perbuatan tak bermoral, mulai dari kekerasan, tindakan asusila hingga mengajarkan ketidakjujuran bagi para peserta didiknya. Jika ingin wajah pendidikan Indonesia berkarakter, perbaiki dulu karakter para gurunya.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Kemiskinan masih menjadi masalah besar di negeri ini. Angka kemiskinan versi pemerintah yang terus menurun dan pendapatan per kapita yang semakin tinggi justru menunjukkan ketimpangan kian terjadi. Kemiskinan dan kesenjangan ini juga berdampak ke dunia pendidikan. Banyaknya sekolah rusak, minimnya fasilitas dan sulitnya akses memperoleh pendidikan mewarnai wajah pendidikan Indonesia, namun bisa jadi tidak terjadi di kota-kota besar. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Indonesia sebenarnya tidak kekurangan guru, terlalu mewah malah dengan rasio guru:siswa = 1:18, lebih tinggi bahkan dari USA sekalipun. Namun jumlah guru yang lebih dari 2,6 juta ini terpusat secara kuantitas dan kualitas di kota-kota besar. Alhasil, mencari guru di daerah pelosok tetap saja sulit, apalagi mencari guru yang berkualitas. Jika ingin wajah pendidikan Indonesia jauh dari ketimpangan, persebaran guru (berkualitas) harus lebih merata.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia masih jauh tertinggal, padahal prestasi anak bangsa tidak henti-hentinya ditorehkan. Jelas ada masalah dalam pengelolaan pendidikan sehingga gagal menghasilkan manusia yang berkualitas unggul. SDM yang jujur dimusuhi, SDM yang hendak mengabdi tidak diapresiasi, SDM yang pintar malah membodohi, SDM yang opurtunis malah diikuti. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Hasil pengujian Depdiknas 2007/ 2008 yang dimuat di Kompas bulan Oktober 2009 menyebutkan bahwa 77,85% guru SD di Indonesia tak layak jadi guru. Jika ukuran kelayakan sebatas harus lulus S1 mungkin masih bisa diperdebatkan, namun nyatanya tidak sedikit guru yang mengutamakan bisnis dan keperluannya daripada hadir tepat waktu di kelas. Ada guru yang merasa paling benar, bangga ketika ditakuti, ada juga guru yang tidak dianggap oleh siswanya. Sertifikasi juga tidak serta merta menunjukkan kualitas seorang guru, karena selembar sertifikasi bisa dibeli, namun tidak dengan kualitas mengajar. Jika ingin wajah pendidikan Indonesia menghasilkan SDM yang berkualitas, proses menghasilkan guru yang berkualitas perlu benar-benar diperhatikan.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Pelajar sibuk dengan dunia khayal, mulai dari menonton acara TV yang tidak mendidik, asyik dengan situs pertemanan dan game online, hingga mengidolakan figur publik atau tim tertentu tanpa meneladani proses yang membuatnya besar. Instansi pendidikan beramai-ramai menjual mimpi dengan harga yang fantastis, visi mencerdaskan kehidupan bangsa pun kian jauh api dari asap. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Oknum guru menjual impian, oknum guru sibuk dengan dunianya kala mengajar. Budaya produktif tidak berkembang, malas membaca, malas menulis, malas mengajar. Ada juga guru yang tidak datang mengajar namun tetap lolos sertifikasi, bahkan ada guru yang sudah berhenti belajar sehingga yang disampaikan setiap tahun itu-itu saja. Jika ingin wajah pendidikan indonesia lebih kaya dengan karya, produktivitas guru menjadi keniscayaan untuk ditingkatkan.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Wajah pendidikan yang saat ini mulai tersenyum. Anggaran pendidikan semakin besar, banyak sekolah yang dibangun dan diperbaiki, biaya pendidikan mulai digratiskan, beasiswa banyak bertebaran. Guru pun mulai tersenyum, sudah ada upaya peningkatan kesejahteraan mereka, berbagai program pengembangan guru mulai bergulir. Entah kapan wajah pendidikan itu tertawa bahagia. Ketika semua warga negara memperoleh hak pendidikannya, ketika fasilitas pendidikan terpenuhi di penjuru Indonesia, ketika kualitas SDM dan pendidikan Indonesia sejajar dengan Finlandia.

Bagaimanapun, guru akan sangat menentukan wajah (pendidikan) Indonesia. Tahun 2030 nanti ketika piramida penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif, kontribusi guru hari ini lah yang akan menentukan kualitas SDM pada saat itu. Ada tiga syarat suatu bangsa menjadi maju, yaitu kemandirian bangsa yang tinggi, daya saing yang juga harus tinggi, serta kemampuan membangun peradaban yang unggul dan mulia. Ketiganya sangat ditentukan oleh SDM berkualitas unggul. Dan kualitas SDM di masa mendatang sangat ditentukan oleh kreativitas, produktivitas dan keteladanan para pendidik hari ini. Perubahan menuju (pendidikan) Indonesia yang lebih baik dapat dimulai dari ruang-ruang kelas dan dari hal-hal kecil. Aktivitas perbaikan yang dilakukan sekarang bisa jadi dampaknya baru akan terasa puluhan tahun ke depan, namun perbaikan harus tetap dilakukan segera, karena upaya penghancuran peradaban juga tidak kenal henti.

“Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran. Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas. Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya. Suasana hatikulah yang membuat cuacanya. Sebagai seorang guru, aku memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira. Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan, melukai atau menyembuhkan. Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan.” (Haim Ginott)

Ps. Terinspirasi ketika mengisi pelatihan guru di Batu Licin, Kalsel (260512)