Tag Archives: kasih sayang

Teladan Pemimpin Itu Bernama Ibrahim

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
(QS. Ash-Shaffat: 108-111)

Salah satu kisah yang tidak pernah terlewat dalam peringatan Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang Nabi Ibrahim a.s. Ya, momen Idul Adha memang identik dengan kisah Nabi Ibrahim a.s., mulai dari syariat pelaksanaan haji hingga pemotongan hewan qurban. Keteladanan Nabi Ibrahim a.s. tercermin dari banyaknya kisah hikmah perjalanan Nabi Ibrahim, yang tidak hanya dimuat dalam Al Qur’an, tetapi terdapat pula pada kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Kitab Injil termasuk Injil Barnabas, hingga kisah-kisah Israiliyat. Nama ‘Ibrahim’ sendiri disebut sebanyak 62 kali di 24 surah dalam Al Qur’an, jumlah ayat yang menceritakan kisah beliau tentu lebih banyak lagi.

Salah satu keteladanan Nabi Ibrahim a.s. adalah dari sisi kepemimpinan beliau. Allah SWT langsung yang memilih beliau sebagai pemimpin umat manusia, dengan firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS. Al Baqarah: 124). Nabi Ibrahim a.s. memenuhi seluruh kualifikasi penting figur pemimpin yang layak dijadikan teladan.

 

Berjiwa Bersih dan Ta’at Kepada Allah

Pemimpin harus memiliki fondasi spiritualitas yang baik. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (QS. An Nahl: 120). Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Nabi Ibrahim a.s. lahir di tengah keluarga dan masyarakat penyembah berhala, tentu membutuhkan jiwa yang sangat bersih dan komitmen kuat untuk menemukan hidayah dan mempertahankan keimanannya. Dan kejernihan hati inilah yang membuat Nabi Ibrahim a.s. menjadi Hamba Allah yang sangat ta’at. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ’ Tunduk patuhlah!’, Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS.Al Baqarah: 131). Ketundukan penuh keyakinan dan keikhlashan inilah yang mengantarkan beliau memperoleh posisi mulia di hadapan Allah SWT. Aspek spiritualitas inilah yang membuat seorang pemimpin senantiasa tegar menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Keta’atan inilah yang menjadi alasan hadirnya pertolongan Allah SWT.

Selamatnya Nabi Ibrahim a.s. ketika dibakar hidup-hidup seperti dikisahkan dalam Surah Al Anbiya adalah buah dari keyakinan ini. Dikabulkannya do’a beliau untuk memperoleh keturunan yang shalih di usianya yang sudah lanjut adalah buah dari keikhlashan ini. Selamatnya Hajar dan Ismail ditinggal di tengah gurun tandus ataupun selamatnya Ismail ketika disembelih adalah buah dari keta’atan. Karena Allah SWT akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan keta’atan itu berbuah hikmah. Dari keta’atan meninggalkan anak isteri tercinta dikenal istilah sa’i dan air zamzam, bahkan lahirlah peradaban di Mekkah. Dari keta’atan menyembelih Ismail, sempurnalah syariat haji dan qurban.

 

Cerdas dan Berani

Pemimpin harus memiliki kecerdasan dan keberanian, tidak hanya salah satunya. Tidak sedikit orang yang memiliki kemampuan intelektual namun tidak memiliki keberanian, segudang idenya pun hanya menjadi setumpuk angan. Hasilnya adalah pemimpin yang gemar berandai-andai untuk kemudian menyesal. Ada pula yang sekedar memiliki keberanian tanpa perhitungan, yang terjadi hanya kesia-siaan, pemborosan, bahkan kerusakan. Pemimpin modal nekat dan mengandalkan keberuntungan.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. sudah tumbuh sejak beliau masih belia. Hal ini jelas tampak dari dialog Ibrahim kecil dengan ayahnya tentang konsep ketuhanan seperti tertuang dalam Surah Maryam atau dalam upaya beliau mencari Tuhan seperti dikisahkan cukup panjang dalam Al Qur’an surah Al An’am. Dalam berbagai referensi terdahulu, misalnya dalam Injil Barnabas, dikisahkan dialog panjang Ibrahim kecil dengan ayahnya yang selalu berakhir dengan ancaman atau pemukulan Ibrahim kecil karena ayahnya kehabisan argumen. Keluarga Nabi Ibrahim a.s. cukup dihormati, butuh upaya lebih untuk menentang penyimpangan dari keluarganya dan sistem masyarakat yang rusak.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. juga tercermin di Surah Al Anbiya dalam peristiwa penghancuran berhala yang dilakukannya yang berujung pada pembakaran dirinya hidup-hidup. Atau dalam perdebatan beliau dengan Raja Namrud seperti dikisahkan dalam firman Allah, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. al-Baqarah: 258)

 

Visioner dan Amanah

Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji” (QS. an-Najm: 37). Pemimpin harus visioner sekaligus amanah. Sekedar pemimpin visioner saja tidak cukup untuk mengubah apapun, namun sekedar mengerjakan tanggung jawab juga hanya akan terjebak pada rutinitas. Dalam Al Qur’an terdapat Surah Ibrahim yang di antaranya memuat do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s, salah satunya adalah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37)

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. berdo’a, Baitullah belumlah didirikan dan wilayahnya sangat tandus. Atas karunia Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s. punya visi dan tekad kuat untuk menyempurnakan janji tersebut. Beberapa tahun kemudian Baitullah dibangun untuk kemudian berkembang menjadi wilayah Masjidil Haram – Mekkah yang kita kenal sekarang, pusat manusia-manusia mendirikan shalat. Hal menarik lainnya dari do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s. adalah beliau senantiasa mendo’akan anak cucu dan keturunannya, di antaranya agar tidak menyembah berhala (ayat 35) dan tetap mendirikan shalat (ayat 41). Pemimpin sejati tahu benar pentingnya kaderisasi. Memastikan adanya kader penerus perjuangan merupakan hal yang fundamental. Nabi Ibrahim a.s. pun mendapat gelar Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim a.s. kecuali semuanya berasal dari keturunan beliau.

Nabi Luth a.s. adalah salah seorang pengikut Nabi Ibrahim a.s. yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dalam berbagai ayat Al Qur’an dikisahkan bahwa para malaikat menemui dan memberitahu Nabi Ibrahim a.s. terlebih dahulu –bahkan sempat ‘berdebat’ dengan beliau– sebelum membinasakan Kaum Sodom yang mengingkari Nabi Luth a.s. Karena perjuangan tidak bisa diusung sendirian. Atau simak bagaimana kesabaran Ismail kecil ketika mengetahui dirinya akan disembelih atas perintah Allah SWT oleh ayahnya sendiri yang jarang ditemuinya. Tentu butuh pendidikan akidah dan akhlak yang luar biasa, termasuk kepada kedua isterinya. “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al Baqarah: 132).

 

Peduli dan Penuh Kasih Sayang

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi lembut hati dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud: 75). Ayat ini turun terkait upaya Nabi Ibrahim a.s. yang mencoba membela Kaum Luth yang hendak diazab Allah SWT dengan berdalih masih ada kesempatan untuk memperoleh hidayah. Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bertanya kepada para malaikat, “Apakah kamu hendak membinasakan negeri yang di sana terdapat 300 orang mukmin?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Angka tersebut terus turun hingga menjadi ‘seorang mukmin’ dan para malaikat tetap menjawab ‘tidak’. Nabi Ibrahim a.s. kemudian berkata, “Disana terdapat Luth”. Mereka berkata, “Kami lebih tahu tentang siapa yang ada disana” hingga akhirnya ditegaskan dengan ayat selanjutnya, “Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Tuhanmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak” (QS. Hud: 76).

Pun tegas dalam bersikap terkait masalah aqidah, dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya pun mencerminkan sikap santun dan lembut hati. Hal ini dikuatkan dengan Firman Allah, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At Taubah: 114). Apalagi jika menyimak dialog beliau dengan anaknya yang bahkan sampai meminta pendapat anaknya untuk sesuatu yang bisa saja tinggal diperintahkan.

Pemimpin harus santun, penuh kepedulian dan kasih sayang. Keluhuran budi pekerti tercermin dari sikap dan kata-kata, dan hal inilah yang sejatinya sangat efektif untuk menggerakkan orang lain. Kemuliaan akhlak inilah yang membuat Nabi Ibrahim digelari Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah SWT. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An Nisa’: 125).

Berbeda dengan Nabi Yusuf a.s., Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s. dan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Ibrahim a.s. memang tidak menempati jabatan struktural dalam pemerintahan. Namun jati diri kepemimpinan tetap terpancar dari diri beliau dan membuat beliau menempati posisi sangat penting dalam sejarah kehidupan manusia. Setiap kita adalah pemimpin, sehingga harus berupaya menjadi pribadi yang berjiwa bersih, ta’at kepada Allah SWT, cerdas, berani, visioner, amanah, peduli dan penuh kasih sayang. Sudah saatnya kualifikasi pemimpin seperti ini menggantikan sosok pimpinan yang tidak beritikad baik, tidak peduli terhadap umat Islam, sok pintar, klemar-klemer, cinta dunia, tidak berkompeten, egois dan suka menyakiti yang dipimpinnya.

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar ter­masuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah: 130)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim…” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Aspek Kepribadian Guru Ideal dan Pembentukan Perilaku Siswa dalam Novel “Pertemuan Dua Hati”

THE GREAT TEACHER :
MENDEDAH ASPEK-ASPEK KEPRIBADIAN GURU IDEAL DAN PEMBENTUKAN PERILAKU SISWA DALAM NOVEL “PERTEMUAN DUA HATI” KARYA NH. DINI

Lucky Maulana Hakim
Mahasiswa Sekolah Guru Indonesia Angkatan III
Email:lucky.maulana18@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisa tentang aspek-aspek kepribadian guru ideal terhadap pengelolaan perilaku dalam novel “Pertemuan Dua Hati” karangan Nh. Dini. Meskipun penelitian ini merupakan analisis terhadap sebuah karya sastra yang ditulis lebih dari satu dekade yang lalu, tetapi pemikiran, pandangan dan persepsi imajinatif Nh. Dini dalam karyanya “Pertemuan Dua Hati” sangat relevan konteks situasinya dewasa ini. Novel ini menjelaskan sekaligus merepresentasikan bahwa tugas utama seorang guru (pendidik sejati) adalah mampu mengubah perilaku, sikap dan kebiasaan buruk siswa menjadi perilaku dan sikap yang baik. Kepribadian unggul dari seorang guru ideal merupakan poin yang sangat penting dalam memahami bagaimana sejatinya menjadi seorang pendidik. Pesan ini dapat dijadikan referensi, sekaligus bahan refleksi bagi setiap guru yang menganggap dirinya tidak saja sebagai seorang pengajar, melainkan sebagai seorang pendidik.

Kata kunci : Kepribadian guru ideal, pengelolaan perilaku, dedikasi, kasih sayang, pendidik.

ABSTRACT

This study aims to describe and analyze aspects of the personality of the ideal teacher to behavior management in the novel “Pertemuan Dua Hati” by Nh. Dini. Although this study is an analysis of a literary work written more than a decade ago, but the thoughts, ideas and imaginative perception of Nh. Dini in her novel “Pertemuan Dua Hati” is very relevant to the context of the situation today. This Novel explained and described that the main task of a teacher (a true educator) is able to change behavior, attitudes and habits of students to be good. The superior personality of an ideal teacher is a very important point in understanding how to actually become an educator. This message can be used as a reference and a reflection for every teacher who considers himself not only as a teacher but as an educator.

Keywords: ideal teacher personality, behavior management, dedication, compassion, educators.

Download jurnal disini

Bunda

Kubuka album biru, penuh debu dan usang
Kupandangi seragam berdiri, kecil bersih belum ternoda…
Pikirku pun melayang, dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang, tentang riwayatku…

Beberapa waktu lalu dalam sebuah seminar seorang peserta seminar bertanya kepadaku tentang momen paling berkesan dan membahagiakan selama aku di kampus. Entah mengapa, pikirku lalu mengarah pada saat wisuda di Balairung UI. Saat itu lagu ‘Bunda’ disenandungkan dan suasana gegap gempita menjadi begitu syahdu. Sosok – sosok bertoga yang tampak sumringah pun tak bisa menyembunyikan keharuannya. Yah, momen yang begitu langka dan begitu indah….

Ibu, sosok yang luar biasa. Ikhlash mengorbankan nyawanya demi keselamatan kita, rela menanggung beban berat dan berbagai kesusahan demi mewujudkan impiannya untuk memiliki keturunan yang sehat, pintar, shalih dan sukses. Tidak terhitung jasanya untuk kita walau kita kerap melalaikan hak – haknya. Ali bin Husein, cucu Rasulullah pernah berkata, ”Hak ibumu adalah bahwa kamu mengetahui dia mengandungmu saat tidak ada orang yang mau mengandung. Siapa pun, dia memberikan kepadamu sesuatu yang tidak akan diberikan orang lain, yaitu buah dari hatinya. Dan dia melindungimu dengan segala dayanya. Dia tidak peduli dirinya kelaparan selama kamu bisa makan. Tidak peduli dirinya kehausan selama kamu bisa minum. Tidak peduli dirinya telanjang selama kamu masih berpakaian, tidak peduli dirinya terbakar terik matahari selama kamu bisa berlindung. Dia berjaga tanpa tidur demi dirimu, dia melindungi dari panas dan dingin agar kamu menjadi miliknya”. Dan semua itu tanpa pamrih!!

Teringat pula dengan jelas, air mata ini pernah mengalir karena beliau, pun hanya pada saat – saat tertentu. Tidak dapat kita pungkiri betapa cintanya diri ini kepada beliau. Walau mungkin belum dapat diungkapkan, apalagi dibuktikan. Sayangnya kesadaran itu hanya sekejap, ingatan tentang besarnya pengorbanan beliau tidak lama bersemayam dalam jiwa. Mungkin karena kurangnya pembuktian cinta dengan amal nyata. Padahal kita pun teringat bahwa air mata beliau kerap mengalir karena kita, disebabkan ulah kita. Tangis yang kerap disembunyikan dibalik helaan napas atau gelengan kepala. Air mata yang tersembunyi dibalik kesabaran, ketegaran dan pengharapan yang begitu besar. Hebatnya, sesedih apapun, untaian do’a penuh kebaikan itu tak jua terhenti. Dan hanya Allah yang paling tahu ketinggian cintanya pada kita meski diri kita sering menyusahkan dan mengecewakannya.

Hari ini, detik ini, masih ada yang dapat kita lakukan untuk membahagiakan beliau. Bukan sebatas do’a, tentunya, bukan pula sebatas ungkapan sayang yang mungkin masih terpendam. Bahagiakan beliau dengan membantunya menggapai impiannya. Ya, dengan menjaga diri dan sikap kita, dengan menjadi seseorang yang dapat diandalkan dan dibanggakan. Jika memang mengembalikan segala yang telah beliau berikan tidaklah mungkin, paling tidak buatlah beliau bersyukur dengan keberadaan kita. Jangan sampai beliau menyesal telah melahirkan kita.

Namun, kesempatan untuk membahagiakan Ibu itu entah sampai kapan masih Allah berikan. Mari kita bersegera. Tatap wajahnya dengan penuh kasih sayang, hiasi lisan dengan kelembutan, sempurnakan dengan senyuman dan prestasi yang membanggakan. Tak lupa memohon kepada Allah SWT, “Ya Rabb kami, ampunilah dosa – dosa kami dan dosa-dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami selagi kami kecil. Anugerahkanlah kepada kami kebaikan, serta kesempatan dan kekuatan untuk dapat membahagiakan mereka. Dan jika Engkau harus mengambil mereka dari kami, wafatkanlah mereka dalam keadaan husnul khatimah… Amiin…”

Wallahu a’lam bishawwab

…Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku…

-dariseoranganakyangbelumbanyakberbuatdanmencobatukmenjadikansetiapharisebagaihariibu-