Tag Archives: kehilangan

Asal, Ganti, Jangan!

Bagi generasi muda, perubahan itu terlalu lambat. Bagi kaum tradisionalis tua, perubahan itu menghujat” (Dan Brown)

Ganti, Jangan, Ganti, Jangan? Pergantian memiliki makna yang sama dengan pertukaran, peralihan, ataupun perubahan. Ada yang muncul dan menggantikan, ada yang hilang dan digantikan. Pergantian juga mengandung unsur ketidakpastian. Berganti atau tidak, keduanya punya peluang untuk lebih baik atau semakin buruk. Pergantian membawa angin segar perubahan yang penuh tantangan, sekaligus mengusik kenyamanan status quo. Menggantikan tidak selamanya mudah, ada tanggung jawab yang menyertainya. Digantikan pun tak selamanya tercela, ada belenggu amanah yang akhirnya lepas sudah. Semuanya ada masanya. Selalu ada pelajaran dari pergantian masa kejayaan dan kehancuran.

Asal Jangan Ganti! Sebagian orang menolak untuk berganti dan diganti disebabkan potensi kehilangan yang akan dirasakan. Kehilangan materiil ataupun immaterial. Ada kerja panjang yang berpotensi terbengkalai, tidak dilanjutkan. Apalagi pergantian bisa berefek domino sehingga potensi kehilangannya akan semakin besar. Akibatnya, ada saja orang yang keras hati dan keras kepala, antipati dengan pergantian. Biaya pergantian dipandangnya terlalu besar, tidak sebanding dengan ketidakpastian keuntungan yang akan diperoleh. Berbagai argumentasi dan toleransi bisa dimunculkan demi memastikan tak ada pergantian atau dirinya tak tergantikan. Pokoknya, jangan janti!

Asal Ganti! Sebagian orang lainnya begitu memuja pergantian yang menjanjikan dinamika perubahan. Motifnya beragam mulai dari sekadar menyukai tantangan baru sampai potensi memperoleh keuntungan dari pergantian. Pergantianlah yang diyakini bisa mengubah masa depan, baik ataupun buruk. Pergantian dianggap satu-satunya solusi perbaikan atas berbagai kekurangan yang tentunya pasti ada. Akibatnya, ada saja orang yang ngotot harus ganti, anti dengan status quo. Pergantian dipercaya membawa asa dan harapan perbaikan, yang pasti tidak akan berubah –atau bahkan semakin buruk—jika dilanjutkan tanpa pergantian. Berganti atau mati. Bagaimana setelah berganti, itu perkara nanti!

Jangan Asal Ganti! Sebagian orang lainnya memilih untuk rasional. Menimbang manfaat dan mudharat. Bisa jadi tidak atau belum perlu diganti, bisa jadi sebaiknya atau bahkan harus diganti. Hal ini didasari bahwa pergantian perlu dilakukan di saat yang tepat, dengan cara yang tepat. Dan semua ada landasan argumentasinya. Ada ruang diskusi dan dialektika. Tidak perlu fanatik dengan pro atau kontra status quo. Dan tentu tidak anti pergantian. Jika tidak berganti, lakukan dengan penuh pertanggungjawaban. Jika harus berganti, lakukan dengan tidak asal-asalan. Mempersiapkan opsi terbaik, apapun keputusan yang akan diambil. Semua opsi dipandang mungkin, asalkan tidak asal.

Ganti, Jangan Asal! Jika dihadapkan pada dua pilihan ekstrim, ganti atau tidak ganti, jawaban ‘tidak ganti’ mungkin lebih aman, namun jawaban ‘ganti’ barangkali lebih tepat. Pergantian memang tidak lantas menjamin terselesaikannya masalah, namun masalah lebih berpotensi tidak terselesaikan tanpa pergantian. Sebab mereka yang nyaman di status quo akan cenderung menyepelekan masalah. Butuh keberanian dan cara baru untuk menyelesaikan masalah, dan hal itu lebih mungkin diraih dengan pergantian. Boleh berganti, tapi jangan asal. Perlu diperkuat alasan mengapa harus berganti, manfaat apa yang akan didapat dari pergantian, kemana arah pergantian dan bagaimana pergantian akan dilakukan. Semakin jelas dan detail, berarti semakin serius dan tidak asal. Sementara pihak pro status quo tidak harus memberi banyak alasan, cukup dengan melemahkan gerakan dan argumentasi, pergantian dapat dihindarkan. Sebab, kebanyakan orang cenderung cari aman dan sekadar ikut kemana angin berhembus. Bagaimanapun, perubahan adalah keniscayaan, pergantian adalah kepastian. Tinggal momentumnya yang perlu diupayakan. Siap berganti? Boleh, tapi jangan asal.

Beberapa orang melihat hal-hal dan mereka berkata, “Mengapa?”. Saya memimpikan hal-hal yang tidak pernah ada dan berkata, “Mengapa tidak?” (George Bernard Shaw)

Keutamaan Memiliki Rasa Tidak Memiliki

Alif tengah dirundung gundah. Mas Garuda menghilang tanpa jejak paska tragedi WTC 11 September 2001, entah masih hidup atau tidak. Seketika Alif teringat nasihat dari Ustadz Fariz, “Kehilangan memang memilukan. Tapi kehilangan hanya ada ketika kita sudah merasa memiliki. Bagaimana kalau kita tidak pernah merasa memiliki? Dan sebaiknya kita jangan terlalu merasa memiliki. Sebaliknya, kita malah yang harus merasa dimiliki. Oleh Sang Maha Pemilik.

Alif bertanya, “Kenapa tidak boleh merasa memiliki? Bukannya kita diberikan kesempatan di dunia ini untuk memiliki?”. Ustadz Fariz menjawab, “Pada hakikatnya, tidak ada satu pun yang kita miliki. Segalanya di dunia ini hanya pinjaman. Bahkan kita meminjam waktu dan nyawa kepada Yang Kuasa. Hidup, raga, roh, suami, istri, orangtua, anak, keluarga, uang, materi, jabatan, kekuasaan. Semua adalah titipan sementara. Pemilik sebenarnya cuma Dia.

Tapi ustadz, rasa memiliki membuat kita bertanggung jawab dan mencintai…”, Alif terus bertahan, namun jawaban Ustadz Fariz membuatnya tertegun. “Bahkan rasa cinta itu sendiri adalah titipan-Nya… Tentu tidak ada salahnya mencintai dan mengambil tanggung jawab. Tapi kita harus siap dan sadar sepenuhnya, bahwa  Sang Pemilik setiap saat bisa meminta kembali milik-Nya. Karena itu kenapa harus merasa sangat memiliki?” katanya membalas dengan pertanyaan.

* * *

Kisah tersebut terdapat dalam Novel “Rantau 1 Muara” yang ditulis Ahmad Fuadi dan terinspirasi dari kisah nyata. Terlepas dari dialog tersebut benar terjadi atau tidak, cuplikan kisah di atas menjadi salah satu segmen penting yang menguatkan judul novel, tentang muara di atas muara. Semua adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kembali ke yang satu, yang esensial, yang awal. Yaitu menghamba dan mengabdi. Kepada Sang Pencipta.

Dunia ini fana, demikian pula dengan apa yang ada di dalamnya. Dan memiliki sesuatu yang fana pada hakikatnya adalah tidak memiliki apapun. Namun dunia ini sungguh memperdaya, ramai manusia berlomba-lomba mengejar dunia, untuk memilikinya. Kepemilikan terhadap dunia bahkan kerap menjadi ukuran kesuksesan peradaban manusia. Kepemilikan adalah aset, yang dapat menghadirkan kekuasaan, keleluasaan, bahkan dapat membeli kebahagiaan. Orang yang memiliki banyak aset dipersepsikan sebagai orang kaya dan terhormat yang penuh kemudahan, sementara mereka yang tidak memiliki dunia adalah orang miskin yang hina dan sengsara.

Lalu apakah manusia tidak perlu memiliki aset dunia apapun? Persoalan sebenarnya bukan pada jumlah aset yang dimiliki, melainkan bagaimana rasa memiliki –dan rasa tidak memiliki– itu diposisikan. Karena konsepsi kepemilikan hakikatnya erat kaitannya dengan batasan dan kebermanfaatan. Kepemilikan aset dunia yang banyak disertai dengan rasa tidak memiliki aset tersebut justru akan menuai banyak kebermanfaatan. Penempatan rasa tidak memiliki yang tepat justru akan mengarahkan pemiliknya untuk memiliki lebih banyak keutamaan. Ya, semakin memiliki dengan rasa tidak memiliki.

Sebaliknya, penempatan rasa memiliki yang keliru akan menempatkan pemiliknya pada jurang kehancuran. Lihat bagaimana kisah Qorun yang kaya aset namun ditenggelamkan ke dalam bumi. Atau kisah Fir’aun yang merasa memiliki kekuasaan tidak terbatas yang akhirnya ditenggelamkan ke dasar lautan. Rasa memiliki dunia akan mendorong pada kufur nikmat, kesombongan, dan keserakahan. Salah satu indikator dari rasa memiliki yang tidak pada tempatnya ini adalah ketakutan dan kekhawatiran berlebihan akan kehilangan perihal dunia yang dimiliki. Dan ketika benar-benar kehilangan akan menimbulkan depresi dan kesedihan yang mendalam, bahkan tidak jarang berujung pada kerusakan dan kematian.

Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, wahai musafir papa, yang tidak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak pernah kehilangan apa-apa.”, begitu pesan Syaikh Siti Jenar ketika membahas tentang zuhud. Dan zuhud bukan berarti hidup miskin tanpa harta, tetapi meninggalkan hal-hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah, termasuk berbagai perkara dunia. Suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah orang kaya bisa menjadi orang yang zuhud?” Beliau menjawab, “Ya, dengan syarat ketika banyak hartanya tidak menjadikannya bangga dan ketika luput darinya dunia dia tidak bersedih hati.”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dikisahkan seseorang datang kepada Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku akan suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya niscaya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia?” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa-apa yang dimiliki oleh manusia niscaya manusia mencintaimu”. Abu Dzar r.a. berkata, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”

Rasa tidak memiliki dunia akan memunculkan sifat pemurah, tidak kikir, dan rendah hati karena menyadari bahwa segala sesuatu bukanlah miliknya. Rasa tidak memiliki dunia ini juga akan melahirkan sifat hemat, tulus, dan bertanggung jawab karena memahami semuanya adalah milik Allah SWT yang setiap saat bisa saja diambil Oleh-Nya. Mereka yang menyadari hakikat kepemilikan absolut ada di tangan Allah SWT, akan semakin banyak berbekal dengan iman, amal shalih dan kebermanfaatan bagi orang lain. Mereka sadar lahir ke dunia tidak membawa apapun, begitu pula ketika kembali kepada-Nya. Hanya bekal akhirat yang dikumpulkan selama di dunianyalah yang sejatinya merupakan miliknya.

Orang-orang yang sadar bahwa ada hak orang lain dalam harta mereka akan lebih amanah, peduli dan terus memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Mereka yang sadar bahwa hidup, lingkungan dan organisasi yang mereka tinggali tidak mutlak mereka kuasai akan semakin meyakini pentingnya bermitra, membangun sinergi dan hubungan baik dengan pihak lain. Semakin besar rasa tidak memiliki, semakin banyak pula sikap positif yang dimiliki. Dan kepemilikan terhadap sikap positif akan berbanding lurus terhadap kepemilikan perkara duniawi yang tetap diposisikan sebagai washilah, bukan tujuan. Hidup akan terpenjara dunia dengan merasa punya segalanya. Hidup akan lebih bermakna dengan percaya bahwa dunia seisinya adalah kepunyaan Allah Yang Maha Kaya.

* * *

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)