Tag Archives: kematian

Kaleidoskop 2016 Kelabu (1/2)

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. Al Hadid: 22-23)

Baru 15 hari tahun 2016 berjalan, kabar duka itu datang. Ayahku pergi untuk selamanya, menemui Rabbnya. Kala itu jiwaku begitu hampa, hingga ketika memandikannya pun aku masih tak percaya. Baru ketika menguburkannya lah entah mengapa air mata ini tiba-tiba mengalir seakan tak bermuara. Bahkan hingga saat ini, hampir setahun setelah kepergiannya, setiap kali berkunjung ke rumah orang tua, perasaan bahwa beliau masih ada tetap terasa. Di hari-hari selanjutnya sepanjang 2016 juga seakan tidak terhitung bacaan istirja’ yang kuucapkan, mulai dari teman, orang tua dari teman ataupun tetangga hingga beberapa tokoh yang inspiratif meninggal di tahun ini. Beberapa waktu lalu dalam acara shubuh keliling, Kepala Rukun Warga menyampaikan bahwa kas RW untuk uang duka habis karena banyak sekali yang meninggal dunia di tahun ini. Di akhir tahun ini pun keluargaku kembali berduka karena suami dari keponakan ayahku meninggal dunia karena sakit yang sudah cukup lama dideritanya.

Tahun 2016 adalah tahun penuh duka. Bukan hanya aku yang merasakan, tapi mungkin seruruh dunia. BBC melansir sepanjang tahun 2016 ada lebih dari 42 orang terkenal yang meninggal dunia. Dalam rekap tim obituari BBC, jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan data tahun-tahun sebelumnya. Wikipedia Indonesia bahkan sudah me-list 94 nama tokoh yang meninggal pada rentang Januari hingga Oktober 2016.

Sebut saja nama-nama seperti Boutros Boutros Ghali (mantan Sekjen PBB), Nancy Reagan (mantan ibu Negara AS), Islam Karimov (Presiden Uzbekistan Pertama), Shimon Peres (mantan PM Israel), Fidel Castro (mantan presiden Kuba) yang meninggal di tahun 2016. Raja Thailand, Bumibol Adulyadej (88 tahun) yang telah memimpin selama tujuh dekade juga menghembuskan nafas terakhir di tahun ini. Thailand pun menetapkan masa berduka selama setahun dengan pengibaran bendera setengah tiang selama 30 hari.

Daftar mantan Kepala Negara yang meninggal di tahun ini terbilang banyak, di antaranya Merab Chigoev (Ossetia Selatan), Oscar Humberto (Guatemala), Patricio Alywin (Chili), Patrick Manning (Trinidad Tobago), Michel Rochard (Perancis), Thorbjorn Fallldin (Swedia), Alphons Egli (Swiss), S. R. Nathan (Singapura), Carlo Azeglio Ciampi (Italia), Antonio Mascarenhas Monteiro (Tanjung Verde), dan Sixto Duran Ballen (Ekuador). Sedikitnya lima tokoh penerima nobel pun menghembuskan nafas terakhirnya di tahun ini.

Indonesia juga kehilangan banyak tokoh, baik yang masih aktif maupun sudah purna tugas. Sebutlah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Husni Kamil Malik yang meninggal di usia 40 tahun dan masih aktif. Ada pula Muhammad Sani (Gubernur Kepulauan Riau) dan Utje Hamid Suganda (Bupati Kuningan) yang berpulang dalam keadaan masih menjabat. Selain itu, tahun ini Indonesia juga kehilangan Jacob Nuwawea (mantan Menakertrans), Adi Sasono (mantan Menkop dan UKM), Maftuh Basyuni (mantan Menag), Sutan Bhatoegana (mantan anggota DPR RI) dan Ali Musthafa Ya’qub (Imam Masjid Istiqlal).

Tahun 2016 juga menjadi tahun kelabu di dunia olahraga, ditandai dengan meninggalnya legenda tinju, Muhammad Ali, dan legenda sepakbola, Johan Cruijff. Tragedi yang hampir menewaskan seluruh pemain dari tim (calon) juara Copa Sudamericana di penghujung tahun seakan melengkapi duka di tahun ini. Pesawat yang ditumpangi seluruh personil tim Chapecoense (Brazil) jatuh karena kehabisan bahan bakar dalam perjalanan menyambangi kandang Atletico Nacional di Kolombia. Dunia hiburan, baik dalam maupun luar negeri juga berduka, sebut saja nama David Bowie, Alan Rickman, Budi Anduk, Deddy Dores, Mike Mohede, dan Eddy Silitonga yang meninggal di tahun ini.

Bumi pun seakan ikut berduka, musibah dan bencana alam silih berganti datang. Hampir semua jenis bencana terjadi di tahun ini. Amerika merasakan mulai dari badai salju dan badai Matthew, banjir Lousiana, hingga kebakaran hutan di California dan Tennessee. Gempa besar terjadi di berbagai penjuru bumi, mulai dari Taiwan, Ekuador, hingga Italia. Belum lagi gempa disertai tsunami di Fukushima – Jepang, dan Selandia Baru. Indonesia tahun ini juga penuh bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 5578 gempa terjadi sepanjang tahun 2016 termasuk gempa Mentawai dan Aceh yang terbilang besar. Banjir juga terjadi di penjuru nusantara, mulai dari Aceh, Riau, Bangka, Jakarta, Bandung, Garut, Jawa Timur hingga Bima. Belum lagi bencana lain seperti letusan Gunung Sinabung ataupun longsor Purworejo dan Banjarnegara. BNPB menyebut sudah terjadi 2.342 bencana sepanjang tahun 2016 di Indonesia. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang tidak pernah menembus angka 2000 bencana.

(bersambung)

Ulang Tahun, Ajang Umbar Kebodohan

Tawa teman-teman Sandy mendadak hilang mendapati temannya kejang-kejang setelah diikat dan disiram air di sebuah tiang lampu sebuah tempat futsal di kawasan Serpong, Tangerang. Lewat tengah malam selepas futsal (26/9/16), Sandi yang berulang tahun dikejutkan oleh temannya yang mengikatnya di sebuah tiang lampu yang ternyata berarus listrik karena adanya kabel yang terkelupas. Petugas keamanan langsung menurunkan panel listrik untuk mematikan setrum dan Sandy pun dilarikan ke rumah sakit. Sandy yang rencana menikah bulan depan menghembuskan nafas terakhirnya di ruang perawatan UGD RS. Eka Hospital tepat di hari ulang tahunnya. Ironis.

Kasus ulang tahun berdarah ini bukan kali pertama. Tahun lalu, 5 siswi SD tewas tenggelam saat merayakan ulang tahun di bendungan Tiyuh, Tulang Bawang Barat – Lampung (22/5/15). Sepulang sekolah, Vita bersama 7 merayakan ulang tahun di bendungan. Vita yang diceploki telur ayam kemudian membalas melumuri teman-temannya hingga sama-sama kotor. Gustian, salah seorang temannya yang hendak membersihkan diri, malah terpeleset jatuh ke bagian air yang dalam. Femi, Yulianti, Nurtika dan Vita yang mencoba membantu malah tenggelam. Ketiga temannya yang tidak bisa berenang hanya bisa berteriak histeris dan memanggil bantuan warga. Warga yang datang mengevakuasi sudah terlambat, kelima siswi kelas V SDN 2 Agung Jaya sudah tewas. Setahun sebelumnya, kasus serupa terjadi di Pantai Slamaran, Pekalongan (22/3/14). Kali ini Endang yang membersihkan diri di pantai setelah berlumuran telur dan tepung justru terseret ombak. Teman-temannya dari SMPN 1 Doro yang masih berseragam pramuka langsung menolongnya, dibantu seorang pemancing yang kebetulan ada di lokasi. Endang yang berulang tahun berhasil diselamatkan, namun Arief –salah seorang temannya—dan Fatikhurohman si pemancing justru terseret arus dan jenazah mereka baru ditemukan keesokan harinya.

Tak kalah ironis apa yang menimpa Maizatul Farhanah, siswi kelas VII SMPN 3 Batam yang tewas sia-sia dijahili teman sekelasnya dengan sepengetahuan wali kelasnya. Saat teman-tamannya mengajak Farhanah ke kantin, teman-teman yang lainnya memasukkan uang 300 ribu dan handphone temannya ke dalam tas Farhanah. Wali kelas datang menyampaikan laporan kehilangan dan memerintahkan dilakukan penggeledahan. Barang-barang tersebut ditemukan dalam tas Farhanah kemudian ia diminta berdiri dan diinterogerasi disertai teriakan ‘maling’ dari teman-temannya. Farhanah pingsan seketika. Depresi parah dan menolak makan. Pada 16 Desember 2010, tepat 20 hari setelah ulang tahunnya, gadis berusia 13 tahun yang sebelumnya dikenal ceria tersebut meninggal akibat infeksi jaringan otak dan pendarahan lambung.

Jika dirinci, kasus serupa tentunya banyak, apalagi ditambah yang luput di media. Semua berawal dari kebodohan di hari ulang tahun. Daftar ironi ajang unjuk kebodohan akan semakin banyak jika ditambah berbagai kasus terkait. Misalnya Zsa Zsa Jesica Shienjaya, mahasiswi UK Petra yang tewas gantung diri dengan tali raffia di kamar kosnya hanya karena pacarnya membatalkan perayaan ulang tahun bersamanya (18/6/12). Atau bagaimana Desy, siswi SMA Negeri 3 Tanjungbalai yang dicekoki narkoba dan diperkosa hingga tewas setelah menghadiri pesta uang tahun temannya (6/8/16). Bulan lalu, netizen juga dibuat geram dengan postingan tertanggal 14 Agustus 2016 di laman FB Mim Medan. Foto-foto yang viral di sosial media ini memuat sekelompok siswi berseragam pramuka yang mengikat temannya yang berulang tahun di sebuah tiang, melempari telur ke muka dan mulut sehingga temannya ini menangis dan terlihat sangat tersiksa, sementara mereka tampak bahagia dan berbangga. Jika ditelusuri, ini bukan kali pertama mereka melakukannya dan tampaknya juga bukan kali terakhir.

Tak perlu dalil-dalil agama bahwa tiup lilin adalah prosesi persembahan untuk dewa bulan atau bahwa perayaan ulang tahun merupakan bentuk menyerupai (tasyabuh) orang kafir, akal dan hati nurani sehat pun cukup untuk menolak perayaan ulang tahun sebagai ajang unjuk kebodohan. Apa manfaat yang ingin dicapai? Apakah caranya sudah tepat untuk memperoleh manfaat tersebut? Teman-teman Sandy bukan hanya akan berurusan dengan pihak polisi, tetapi juga merasakan tanggung jawab moral yang berat kepada keluarga Sandy dan akan dihantui penyesalan seumur hidup. Demikian pula dengan teman-teman dan guru Farhanah. Sepadankah dengan tawa dan kegembiraan sesaat? Apakah kebodohan tersebut menjadi satu-satunya cara untuk meraih manfaat?

Enam belas tahun lalu, penulis pernah ‘menceramahi’ teman-teman yang menceburkan penulis yang saat itu berulang tahun ke kolam di sekolah. Bagaimana jika orang yang dilempar ke kolam kepalanya terbentur batu besar yang tidak terlihat dari permukaan? Bagaimana jika ia punya penyakit sehingga langsung kejang-kejang dan tenggelam? Bagaimana basah kuyup akan menampakkan auratnya ketika keluar dari kolam? Siapa yang akan bertanggung jawab? Siapkah? Apakah kejahiliyahan tersembunyi yang mendatangkan tawa sesaat tersebut sebanding dengan keburukan yang menyertainya? Belum lagi jika diingat bahwa Allah mengabulkan do’a mereka yang teraniaya. Alih-alih mempererat persahabatan, umbar kebodohan malah berbuah do’a buruk dari mereka yang teraniaya kepada teman-temannya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Segala musibah memang bisa dilihat dari kacamata takdir. Hanya saja ada hukum kausalitas yang perlu diperhatikan. Tak ada asap kalau tak ada api. Potensi musibah ulang tahun dapat diminimalisir bila tidak disertai aksi umbar kebodohan. Jika kebodohan tidak mungkin dihindari, lebih baik jangan rayakan ulang tahun. Logis. Toh sejatinya setiap harinya usia kita berkurang. Lalu apakah berarti ulang tahun harus dirayakan dengan serius, dengan refleksi diri atau muhasabah misalnya? Mungkin saja, tapi bukan di situ poinnya. Jangan umbar kebodohan dalam menyikapi berulangnya tanggal lahir! Bagi yang ada di level kesadaran akan hakikat waktu dan kefanaan dunia rasanya tidak perlu lagi merayakan ulang tahun. Namun bagi orang awam yang masih sehat akalnya, setidaknya bisa berpikir tentang resiko dan manfaat dari cara yang digunakan dalam merayakan ulang tahun. Bagi orang awam yang masih punya hati nurani, setidaknya bisa berempati maukah dirinya menerima perlakuan yang sama.

Kebodohan dapat dilawan dengan akal sehat dan hati jernih. Dan perlawanan tersebut akan semakin kuat dengan edukasi, aksi dan regulasi yang mendukung. Musibah buah dari umbar kebodohan di hari ulang tahun sebenarnya bisa diantisipasi sebagaimana penyikapan atas berbagai aksi bodoh lainnya, seperti tawuran pelajar, tidak tertib lalu lintas dan coret-coret baju sekolah setelah kelulusan, ataupun perploncoan di masa awal masuk sekolah atau kampus. Namun karena ulang tahun sifatnya personal, perbaikan individu menjadi faktor kunci menjadikan ulang tahun sebagai momentum cerdas dan mencerdaskan. Tak lagi jadi ajang umbar kebodohan, melainkan mengantarkan pada perbaikan dan kebaikan.

Dua hal yang tak terbatas: alam semesta dan kebodohan manusia; tapi saya tidak yakin tentang alam semesta.” (Albert Einstein)