Tag Archives: kepedulian

Ini Tentang Kita, Bukan Tentang Saya

“The only way we’re going to get through this is if we think as WE, not ME…”

Kutipan di atas saya ambil dari sebuah video pendek berjudul “Covid-19 Hoarder Rips People Off, A Stranger Teaches Him A Lesson”. Video tersebut berkisah tentang seorang anak muda yang memborong berbagai macam barang yang dibutuhkan di masa pandemi Covid-19 ini (emergency supplies) seperti tisu, toilet paper, hand sanitizer, dan sebagainya untuk dijual lebih mahal. Kemudian ada ‘a stranger’, wanita penderita diabetes yang membutuhkan insulin syringes (alat suntik insulin) dan tidak menemukannya di toko manapun. Singkat cerita, wanita ini akhirnya membeli alat suntik insulin dari anak muda dengan seluruh uang yang dimilikinya karena harganya yang dinaikkan lima kali lipat. Tak lama kemudian, anak muda tersebut dihubungi ibunya yang jatuh sakit dan segera pulang. Ternyata ibunya yang menderita diabetes kehabisan alat suntik insulin dan memaksakan dirinya mencari kemana-mana namun tidak menemukannya di toko manapun sehingga jatuh sakit. Di saat anak muda tersebut menyesali keputusannya menjual alat suntik insulin, ‘a stranger’ tadi datang dan membantu ibunya tanpa pamrih. Video ditutup dengan anak muda tadi yang memberikan emergency supplies yang dimilikinya secara gratis kepada yang membutuhkan. Terdengar klise memang, namun saya tertarik dengan kutipan di atas yang berulang kali disampaikan dalam video tersebut.

Kenyataannya, pandemi Covid-19 ini memang mengajarkan kita untuk berpikir dan bertindak sebagai ‘kita’, bukan sebagai pribadi masing-masing. Tidak sedikit orang yang positif terpapar virus corona atau mereka yang harus dikarantina yang lebih cepat pulih dengan masyarakat sekelilingnya yang membantu kebutuhan hariannya sementara mereka tak boleh kemana-mana. Di sisi lain juga tidak sedikit orang yang berpotensi terpapar virus corona, termasuk tenaga medis, yang diusir dari lingkungan yang tidak mendukungnya. Padahal pandemi Covid-19 ini hanya bisa kita lalui dengan saling menolong dan tidak egois, sebab tidak banyak yang punya sumber daya untuk melaluinya seorang diri.

Barangkali ada benarnya mereka yang beranggapan bahwa negara-negara sosialis lebih mampu menghadapi pandemi Covid-19 dibandingkan negara-negara liberalis yang cenderung mengakomodir ego individu. Di Asia Tenggara misalnya, Vietnam dan Laos yang berpaham sosialis berhasil mencatatkan nol kematian akibat virus corona dengan recovery rate mencapai 81.25% (Vietnam) dan 73.68% (Laos). Di Asia Tenggara hanya Kamboja yang lebih baik. Tidak perlu dibandingkan dengan Indonesia atau Filipina yang tergolong tinggi case fatality rate (CFR)nya (sekitar 6.6%), bahkan Singapura yang teknologinya lebih maju pun kesulitan menghadapi virus Corona. Singapura yang merepresentasikan kekuatan liberalis di Asia Tenggara mencatatkan kasus positif corona tertinggi di Asia Tenggara dengan 22 korban jiwa (CFR hanya 0.08%) dengan recovery rate hanya 33.3%. Kuba, negara sosialis di Amerika Utara juga kurva Covid-19nya sudah menurun. Dengan CFR 4.2% dan recovery rate hampir 80%, Kuba jauh lebih baik dibandingkan negara liberalis di Amerika Utara seperti USA dan Kanada. Bahkan China sebagai negara sosialis dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan menjadi negara dimana virus corona bermula, hanya menempati posisi ke-13 dalam urutan jumlah kasus positif corona dan jumlah korban meninggal akibat corona, dengan recovery rate mencapai 94.3%. Lebih baik dibandingkan USA dan beberapa negara liberalis di Eropa.

Memang faktor utama dalam menghadapi pandemi Covid-19 bukan perkara negara sosialis atau liberalis, lebih kepada penyikapan pemerintah dan rakyatnya. Namun kepatuhan akan larangan berkumpul dan keluar rumah tanpa keperluan, atau kebiasaan untuk saling berbagi sama rata sama rasa tentu akan mendukung terhentinya penyebaran virus corona. Disinilah pentingnya ego pribadi bisa ditekan untuk kepentingan bersama. Mereka yang hanya mementingkan dirinya tanpa peduli orang lain akan berpotensi membahayakan orang lain. Ketika merasa sehat, mereka tak mengindahkan peraturan untuk tetap di rumah walaupun berpotensi menjadi carrier bagi virus corona bahkan menjadi orang tanpa gejala. Ketika positif corona, mereka baru merasa perlu berbagi penyakit dengan orang lain, mulai dari menjilat dan meludah di sembarang tempat hingga memeluk orang lain. Ego pribadi yang justru mencelakakan orang lain.

Parahnya lagi jika penyakit mementingkan diri sendiri ini menjangkiti pejabat dan pemerintah. Kebijakan yang diambil bukan untuk kemaslahatan bersama. Menguntungkan diri dan kelompoknya tanpa peduli masyarakat semakin bingung dan kesusahan. Hukum dibuat dan diimplementasikan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Di satu sisi menuntut rakyat untuk menghadapi berbagai masalah dengan gotong-royong, di sisi lain tidak mau berkorban untuk memberikan sumbangsih apapun. Kalaupun ada kontribusi, selalu ada hitung-hitungannya: tidak merugikan diri sendiri atau harus ada return yang besarnya senilai atau lebih besar. Jauh dari nilai-nilai Pancasila. Jauh dari nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Pemerintah yang berpikir ‘saya’ ini jauh lebih berbahaya ketimbang pribadi yang berpikir ‘saya’, sebab dampak dari kebijakan akan jauh lebih besar dibandingkan dampak dari personal yang masih bisa dihadapi dengan personal lain yang berpikir ‘kita’.

Bukan hanya pemerintah, pengusaha atau pemilik perusahaan atau pemimpin dalam berbagai lingkup kepemimpinan juga bisa memberikan dampak yang besar dalam memilih untuk berpikir ‘saya’ atau ‘kita’. ‘Saya’ akan berpotensi bersikap sewenang-wenang untuk menyelamatkan diri sendiri, sementara ‘kita’ akan berupaya mencari solusi terbaik bagi semua orang. Sayangnya, sebagian besar masyarakat hanyalah ‘butiran pasir’ yang tidak memiliki kewenangan untuk memilih. Masyarakat hanya menjadi pihak yang terdampak dan bukan memberikan dampak. Karenanya ‘butiran pasir’ ini perlu bersatu dan bergotong-royong menjadi ‘kita’ yang memiliki kekuatan. Jika kekuatannya tidak cukup memberikan dampak besar, setidaknya cukup untuk saling membantu di antara ‘kita’. Sudah banyak inisiatif masyarakat yang membuat anggota masyarakatnya tetap survive menghadapi pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap krisis ekonomi masyarakat. Kepedulian masyarakat ‘kita’ sangatlah tinggi, pun dampaknya mungkin terbatas.

‘Indonesia Terserah’ adalah gambaran betapa sebagian masyarakat lelah menjadi ‘kita’ sementara sebagian masyarakat lainnya bahkan pemerintah malah memilih menjadi ‘saya’. Ketika semua masyarakat sudah lelah, ‘Indonesia Terserah’ akan menjadi ‘Indonesia Menyerah’. Memang butuh kepedulian dan keteladanan dari pemerintah untuk mengubah ‘Indonesia Terserah’ menjadi ‘Indonesia Peduli’. Namun pada akhirnya, setiap diri kita hanya bisa mengubah apa yang ada pada lingkar kendali kita. Cukup menjadi pribadi yang berpikir dan bersikap ‘kita’ untuk menyelamatkan lingkungan kita. Sehingga tidak ada keluarga, tetangga, teman, ataupun kerabat kita yang gagal melalui pandemi Covid-19 hanya karena ketidakpedulian kita. Kontribusi minimum ‘kita’ adalah dengan tidak membahayakan atau mencelakakan orang lain. Bahkan jika sebagian besar masyarakat memilih menjadi ‘saya’, mungkin akan ada satu titik dimana ‘kita’ perlu berpikir ‘saya’ untuk menyelamatkan ‘kita’. Agar setidaknya ada sekelompok masyarakat yang tetap sehat dan selamat untuk mempertahankan eksistensi ‘Kita Indonesia’. Dan agar setidaknya ada sekelompok masyarakat yang tetap optimis berusaha dan berdoa agar Indonesia mampu melalui pandemi Covid-19 ini.

Semoga ‘saya’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’, tanpa adanya si ‘dia’…

Dwi Tunggal Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an untuk Kepemimpinan Bangsa

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kaya akan sumber daya dan kaya akan budaya. Negeri kepulauan nan indah bertajuk zamrud khatulistiwa. Negara besar dengan jumlah penduduk peringkat empat terbanyak di dunia yang tersebar di penjuru nusantara. Mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Pun mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia bukanlah Negara Islam. Sebagaimana beranekanya suku dan budaya, ragam agama juga ada di Indonesia. Ironisnya, statement bahwa Indonesia bukan Negara Islam kerap disalahartikan sebagai dikotomi antara Indonesia dan Islam, seakan identitas keislaman akan kontraproduktif dengan identitas keindonesiaan. Islam dan nasionalisme, akhirnya menjadi dua kata yang dikesankan ibarat minyak dan air, takkan mampu bersatu.

Dalam KBBI, nasionalisme didefinisikan sebagai paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri . Nasionalisme juga didefinisikan sebagai semangat kebangsaan, yaitu kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Rasa cinta terhadap tanah air sejatinya adalah fitrah manusia sebagaimana kecintaan terhadap keluarga. Dan Islam datang sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, karenanya mustahil bertentangan dengan nilai cinta tanah air.

Nasionalisme hadir untuk mengikis semangat kesukuan dan memperkuat ikatan masyarakat. Dan Islam telah melakukannya sebelum istilah nasionalisme ada. Di Madinah, beragam suku mulai dari Quraisy, Aus, Khazraj, hingga suku-suku beragama Yahudi dan Nasrani menandatangani Piagam Madinah yang salah satu klausulnya adalah bersatu mempertahankan Madinah dari serangan luar. Itu adalah nasionalisme. Mempererat tali persaudaraan dan mempersatukan dengan tetap menjaga eksistensi dari keragaman suku dan bangsa, itulah Islam.

Nasionalisme menurut Soekarno akan membentuk rasa percaya diri dan merupakan esensi mutlak jika kita mempertahankan diri dalam perjuangan melawan kondisi-kondisi yang menyakitkan. Ya, sebagaimana Islam, nasionalisme sejatinya hadir untuk membebaskan. Revolusi perlawanan rakyat atas hegemoni kaum aristrokat dan anti dominasi gereja di Eropa abad ke-18 adalah nasionalisme yang tidak jauh berbeda dengan bagaimana para pahlawan pejuang kemerdekaan sejak zaman kerajaan dahulu berperang untuk mengusir penjajah. Perlawanan lokal dan sporadis yang gagal mengusir penjajah kemudian bertransformasi menjadi gerakan nasional yang terorganisir. Itulah nasionalisme.

Namun Islam memang berbeda dengan nasionalisme, terutama dalam aspek ruang lingkup dan orientasi. Nasionalisme masih tersekat oleh batas geografis sementara Islam borderless. Kesetiaan tertinggi seorang nasionalis adalah pada bangsa dan Negara, sementara kesetiaan tertinggi seorang muslim adalah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam Islam, kesetiaan terhadap pemimpin ataupun wilayah geografis tertentu haruslah dalam kerangka ketaatan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Itulah semangat nasionalisme untuk mengusir penjajah versi Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin dan banyak pejuang Islam lainnya di nusantara. H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Serikat Islam menyatakan bahwa Islam adalah “faktor pengikat dan simbol nasional”.

Perbedaan antara Islam dan nasionalisme bukan untuk dipertentangkan, melainkan diposisikan dengan tepat untuk membangun kepemimpinan nasional yang kuat. Semangat spiritualitas dan religiusitas Islam yang bersifat universal seharusnya diposisikan sebagai fondasi dengan semangat kebangsaan (nasionalisme) sebagai (salah satu) tiangnya. Tiang nasionalisme tanpa fondasi religiusitas akan mendorong pada primordialisme, chauvinisme, bahkan fasisme. Kecintaan terhadap tanah air yang berlebihan dan tidak didasari spiritualitas yang kuat akan berujung kepongahan, merendahkan bangsa lain, bahkan dalam titik ekstrim justru akan memicu terjadinya imperialisme dan penjajahan yang sebenarnya sangat bertentangan dengan nasionalisme itu sendiri.

Dalam skala yang lebih kecil, ‘nasionalisme buta’ akan mematikan logika dan berpikir kritis. Padahal kemerdekaan sebagai buah dari semangat kebangsaan menghendaki kekuatan untuk berdiri sendiri. Berdikari dalam berpikir dan bertindak. Karenanya, tiang nasionalisme yang berdiri di atas landasan religiusitas ini harus berdekatan dengan tiang kemandirian menuju Indonesia berdaya. Tidak cukup hanya merdeka dan bersatu, tetapi juga harus berdaulat, adil dan makmur. Kepemimpinan bangsa yang kuat tidak dapat dipisahkan dari kemampuan untuk berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Semangat kebangsaan dan kemandirian tanpa fondasi keislaman akan mendorong pada kebebasan tanpa batas, pun harus mengorbankan orang banyak. Lihatlah bagaimana ekspansi negara-negara Eropa di masa penjajahan, yang alih-alih berdaya malah memperdaya. Berdikari adalah berdiri di atas kaki sendiri bukan berdiri di atas kesulitan orang lain. Karenanya, tiang nasionalisme dan kemandirian harus pula disertai dengan tiang kepedulian. Berlandaskan perikemanusiaan. Karena memang tidak cukup hanya dengan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, tetapi juga harus memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Selain makhluk pribadi, manusia adalah makhluk sosial yang pastinya akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalam skala yang lebih besar, suatu bangsa juga selalu butuh untuk membangun hubungan dengan orang lain. Sadar dan peduli bahwa keberadaannya merupakan satu entitas dari komunitas yang lebih luas. Pun demikian dalam konteks kepemimpinan, selalu erat kaitannya dengan aspek pelayanan dan motivasi kepedulian. Shalat yang berdimensi pribadi harus disertai dengan zakat yang berdimensi sosial. Kemandirian sejati adalah mampu memandirikan orang lain, berdaya adalah mampu memberdayakan orang lain.

Bagaimanapun, iman yang abstrak harus disertai amal shalih yang konkret. Semangat kebangsaan juga bukan semata jargon, apalagi kemandirian dan kepedulian yang jelas-jelas harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Karenanya, fondasi keislaman beserta tiang-tiang kebangsaan, kemandirian dan kepedulian ini harus mewujud menjadi sesuatu yang lebih tampak dan terukur. Hal tersebut adalah kompetensi, baik pengetahuan, keterampilan ataupun sikap. Suatu urusan yang dikerjakan oleh orang yang tidak berkompeten hanya akan berujung kepada kehancuran. Karenanya pemimpin haruslah memiliki kompetensi yang mumpuni. Tidak harus sempurna, tetapi kompetensinya sesuai dengan kebutuhan, level dan lingkup amanah serta kekhasan dari kepemimpinan yang diemban.

Kepemimpinan ideal yang didambakan oleh seorang muslim harus berlandaskan fondasi keislaman, Islam yang pertengahan, tidak terlalu kaku tetapi tidak pula terlalu cair. Islam yang menginspirasi dan mencerahkan, tidak taqlid buta namun tidak pula mendewakan akal. Islam yang seimbang, bijak dalam merespon kondisi kekinian dan menghargai berbagai perbedaan. Islam yang bukan hanya baik dalam aspek keimanan dan ibadah, namun kehadirannya mampu menebar kebermanfaatan yang luas. Islam yang dapat menjadi Rahmat bagi semesta alam.

Untuk menghadapi tantangan kepemimpinan Islam, fondasi ini perlu diperkokoh dengan semangat kebangsaan yang mempersatukan elemen bangsa guna mencapai cita bersama. Kedaulatan dan independensi bangsa juga perlu diperkuat dengan semangat kemandirian untuk menghapus segala ketergantungan. Kontribusi kemanusiaan yang dilandasi semangat kepedulian juga akan memperkokoh bangunan kepemimpinan. Fondasi dan tiang-tiang kepemimpinan ini kemudian harus dilengkapi dengan rangka atap berupa kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan menunjang terlaksananya fungsi kepemimpinan secara utuh demi kejayaan negeri tercinta.

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kuat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbagai perbedaan yang ada akan kian memperindah khazanah bangsa. Negeri yang satu, terikat dalam cita wawasan nusantara. Bangsa yang utuh dan tak terpisah-pisahkan. Bangsa besar yang mampu berdiri sendiri. Negeri yang ramah, gemar menolong dan penuh tenggang rasa. Negeri dimana Islam yang juga bermakna damai penuh keselamatan, akan menjadi penguat negeri itu. Bukan hanya secara kuantitas, tetapi melakukan banyak perbaikan kualitas. Selamanya menjadi penguat, pun ketika berbagai ujian menerpa dan duka melanda. Senantiasa menjadi solusi untuk menjawab kompleksitas permasalahan bangsa. Terus menjadi cahaya yang mengantarkan bangsa Indonesia mencapai cita mulia…

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…” (Pembukaan UUD RI 1945)

*tulisan ini dimuat sebagai prolog buku “Islam, Kepemimpinan & Keislaman” karya para pengurus Forum Negarawan Muda

Mahasiswa Ada Kok, Gak Kemana-mana

Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu. Ku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku. Sampaikanlah pada bapakku, aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia. Rataplah malam yang dingin. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki malam. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki keadilan…” (Ost. Gie)

Beberapa waktu lalu penulis sempat berbincang dengan sekumpulan mahasiswa dari berbagai universitas. Salah seorang mahasiswa ITB menyampaikan keresahannya tentang kepedulian mahasiswa yang terasa kian sulit untuk digugah. Penulis menanggapinya dengan mencoba memahami kondisi mahasiswa saat ini tanpa membandingkan dengan euphoria kondisi mahasiswa di masa lalu. Tantangannya berbeda. Pun penulis juga sampaikan bahwa kepedulian terwujud dalam aksi nyata, bukan sebatas keprihatinan dalam do’a. Karenanya bentuk kepedulian tidak melulu harus berupa aksi massa, walaupun tetap harus ada yang melakukannya. Yang penting harus ada keresahan yang kemudian menjelma menjadi gerak dalam aktivitas nyata. Yang menjadi masalah adalah ketika tidak merasa ada masalah, tidak peka terhadap problematika yang dihadapi bangsa ini.

Penulis jadi teringat sajak yang ditulis salah seorang senior saya di FTUI dan BEM UI beberapa saat lalu yang mempertanyakan kemana gerangan para pemuda. Tulisan serupa juga diungkapkan salah seorang aktivis alumni ITB yang sempat mendapat respon balik dari juniornya mahasiswa ITB. Tulisan-tulisan senada lainnya bisa di-googling, tidak perlu penulis sampaikan dalam tulisan ini. Intinya, memang terdapat perbedaan antara gerakan mahasiswa di masa lalu dengan dinamika mahasiswa saat ini. Ketika keresahan para alumni akan adik-adiknya yang dinilainya terjebak semakin hedonis dan individualis, tidak bertemu dengan pembelaan mahasiswa yang merasa biaya kuliah yang semakin tinggi dengan beban akademis yang semakin berat.

Alhasil, gerakan alumni kembali menggunakan almamaternya yang sejatinya merupakan bentuk kepedulian jadi terkesan aneh. Ekskalasi isu tanpa momentum yang tepat justru kurang mendapat tempat di hati masyarakat. Para alumni jadi terkesan sekedar post power syndrome, bahkan nuansa politis lebih terlihat dibandingkan gerakan moral intelektual, sementara mahasiswa kurang mendapatkan pendewasaan yang baik dalam membangun gerakan. Gerakan alumni ini selain mengangkat isu permasalahan bangsa juga memperlihatkan problematika yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini. Sayangnya, penyadaran yang dibangun belum didesain sempurna untuk menyelesaikan permasalahan.

Apatisme memang menjadi tantangan gerakan mahasiswa saat ini, tidak perlu ditutup-tutupi atau berusaha terus mencari pembenaran. Tidak perlu juga menyalahkan pihak eksternal, termasuk alumni yang sebenarnya juga punya andil. Kembali turunnya alumni sejatinya menunjukkan ada yang salah dengan kaderisasi gerakan mahasiswa. Biaya kuliah memang kian mahal tapi nyatanya parkiran kampus semakin penuh, mahasiswa semakin banyak yang memiliki barang mewah dan gemar menghabiskan waktu ke pusat perbelanjaan ataupun tempat makan kelas menengah ke atas. Beban akademis mungkin semakin tinggi, tetapi nilai dan kelulusan semakin mudah, teknologi informasi juga telah jauh berkembang. Masalahnya cuma di pengelolaan waktu yang lebih efektif dan efisien.

Jadi tidak perlu ditanya kemana mahasiswa, mereka ada, sibuk berkuliah di tengah sistem pendidikan yang mencetak robot. Mahasiswa ada dan tidak kemana-mana, sibuk dengan dirinya dan masa depan semunya. Sebagai kakak, alumni semestinya dapat berperan untuk mengenalkan mahasiswa pada dirinya, lingkungan masyarakatnya, bangsa dan negaranya, serta masa depannya. Bukan lantas mengambil alih peran mahasiswa ataupun mendikte mereka dengan solusi yang berbeda zaman. Permasalahan gerakan mahasiswa kontemporer haruslah diurai oleh mahasiswa itu sendiri, sebagai elemen bangsa yang cakap berpikir dan bertindak. Alumni bisa menjadi katalisator, tetapi bukan penentu sikap. Problematika akan terselesaikan ketika segenap elemen dapat berbuat sesuai peran, fungsi dan tanggung jawabnya.

Dunia pendidikan tinggi kita saat ini memang banyak melahirkan sarjana yang biasa dan luar biasa. Luar biasa dapat lulus cepat dengan indeks prestasi gemilang. Tetapi dunia kampus lupa untuk menghasilkan sarjana yang biasa di luar, mencermati perubahan zaman, berinteraksi dengan masyarakat, dan menjadi bagian dari solusi atas permasalahan bangsa. Tri Dharma perguruan tinggi seolah berhenti di tataran pendidikan dan penelitian, meninggalkan sisi pengabdian masyarakat. Segenap pemangku kepentingan perlu kembali diingatkan bahwa mahasiswa masih menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat Indonesia. Mahasiswa adalah elemen strategis bangsa yang mampu membawa perubahan baik secara vertikal maupun horizontal. Beban berat yang tidak banyak disadari para mahasiswa.

Mahasiswa perlu didukung untuk menjawab tantangan gerakan mahasiswa di zamannya. Pertanyaan ‘dimana mahasiswa’ tampak tidak berbeda dengan pertanyaan ‘kapan menikah’ atau ‘kapan punya anak’. Alih-alih memotivasi, justru bisa mengerdilkan. Tidak solutif. Jangan-jangan mahasiswa saat ini hanya mewarisi ‘pesta, buku, dan cinta’ dari para seniornya, bukan idealisme perjuangan. Sekarang pertanyaannya adalah ‘bagaimana mahasiswa akan mengambil sikap’, mandiri dan independen dalam mengatasi permasalahan mereka serta permasalahan bangsa dan Negara. Di tengah arus apatisme yang kian merebak, penulis optimis masih ada mahasiswa-mahasiswa ‘setengah dewa’ yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dan terus berkontribusi melakukan perbaikan. Di ruang kuliah, di organisasi, di tengah masyarakat, dimanapun mereka berkata. Penulis yakin setiap zaman ada pahlawannya, dan masih ada pahlawan mahasiswa di zaman ini. Mahasiswa peduli bukan utopis. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih. ‘Tuk kebenaran dan keadilan, menjunjung totalitas perjuangan. Seluruh rakyat dan mahasiswa, bersatu padu bergerak bersama. Berbekal moral intelektual, selamatkan Indonesia tercinta…

Ketidakpedulian yang Menghancurkan

Barang siapa yang tidur dan tidak mengambil beban urusan orang-orang Islam maka dia bukan termasuk golongan mereka.” (HR al-Baihaqi)

Beberapa hari yang lalu, saya membaca salah satu surat kabar yang headlinenya memuat berita tentang sepasang siswa – siswi yang kepergok sedang berbuat mesum di kamar mandi dekat mushalla salah satu SMA di kawasan Kebon Jeruk. Jika sebelumnya Gorontalo (siswa SMP lho), Pekanbaru, Kendal, Tegal, Indramayu, Cianjur, Bandung, Banten, Bogor, dan lain – lain, sekarang giliran Jakarta. Hmm, berita bobroknya moral pelajar bahkan hingga level SD nampaknya bukan berita baru dan mungkin sudah kerap didengar. Tawuran pelajar, narkoba hingga seks bebas nampak tak asing lagi tapi disitulah anehnya. Ketika kita kerap mengetahui hal tersebut lalu lewat begitu saja tanpa ada keprihatinan, tanpa kekhawatiran dan tanpa upaya untuk menghadapinya, disitulah letak keanehannya. Yah, walaupun kejadian tersebut bukan di Depok, saya tidak berani menjamin bahwa Depok terbebas dari hal – hal tersebut.

Beberapa saat sebelumnya, SMA 35 Jakarta sempat dihebohkan karena anak – anak ROHIS dan alumninya terlibat penculikan Raisyah. Terlepas dari muatan politis dalam kasus tersebut, kejadian itu bisa menjadi ancaman bagi dakwah sekolah. Tapi mungkin kita masih tenang – tenang aja toh hal tersebut tidak terjadi di Depok. Atau belum.

Dalam silaturahim saya ke LDK ROHIS 5 Depok (yang saya nilai semangat pesertanya melebihi peserta LDK ROHIS 1 Depok, bagus!) beberapa saat lalu, selepas Maghrib, Bang Taufik sempat berkisah tentang ‘kisah si tikus’ dengan versinya. Berikut adalah “versi asli”nya …

* * *

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya saat membuka sebuah bungkusan. ‘Ada makanan’, pikirnya. Tapi tikus itu terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian, tikus itu menjerit memberi peringatan, “Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah!”. Sang ayam dengan tenang berkokok, sambil tetap menggaruki tanah, ia mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya, maafkan aku Pak Tikus. Aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalah. Jadi jangan buat aku sakit kepala-lah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing. Katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!”. “Wah, aku menyesal dengan kabar ini”, si kambing menghibur dengan penuh simpati. “Tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu senantiasa ada dalam doa – doaku!”. Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. “Oh? sebuah perangkat tikus? Jadi saya dalam bahaya besar ya?”, kata lembu itu sambil ketawa, berleleran liur.

Akhirnya tikus tersebut kembali ke rumah dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh – sungguh sendiri. Malam tiba dan terdengar suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berhasil menangkap mangsa. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap.

Di dalam kegelapan malam, dia tak dapat melihat bahwa yang terjebak adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani. Si isteri kembali ke rumah dengan tubuh menggigil, demam. Dan sudah menjadi kebiasaan, setiap orang sakit demam, obat pertama adalah memberikan sup ayam segar yang hangat. Petani itu pun mengasah pisaunya dan pergi ke kandang, mencari ayam untuk bahan supnya.

Tapi bisa ular itu sungguh jahat, si isteri tak langsung sembuh. Banyak tetangga yang datang membesuk dan tamu pun tumpah ruah ke rumahnya. Petani pun harus menyiapkan makanan dan terpaksa kambing di kandang dia jadikan gulai. Tapi itu tak cukup, bisa ular itu tak jua dapat ditaklukkan, si isteri meninggal dan berpuluh orang datang untuk mengurus pemakaman, juga selamatan. Tak ada cara lain, lembu di kandang pun dijadikan panganan untuk puluhan pelayat dan peserta selamatan.

* * *

KEPEDULIAN! Itulah kata kuncinya. Kita tak pernah tahu apa yang akan menimpa kita dan lingkungan terdekat kita. Hanya saja dapat kita pahami bahwa sebagaimana kebaikan, kemaksiatanpun sifatnya menyebar. Kemaksiatan dan musibah yang menimpa saudara kita di tempat lain bukan tidak mungkin akan kita atau lingkungan terdekat kita alami, apalagi kalau kita tidak peduli. Jika saat ini kita masih ‘beruntung’ tidak ada jaminan akan demikian selamanya, apalagi jika kita berhenti belajar dari yang lain dan tidak berupaya keras untuk mencegah hal – hal yang tidak diinginkan terjadi.

Saat ini kemaksiatan terus berupaya menyergap siapa saja dengan berbagai sarananya. Butuh kepedulian dan kesungguhan untuk menghadapinya. Sikap santai dan berdiam tentu bukan solusi, bahkan berjalan pun takkan cukup untuk menghalau potensi kebobrokan yang tengah berlari. Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil, kepedulian dan kesungguhan orang lain kerap dapat membantu seseorang keluar dari kesulitan hidupnya. Coba perhatikan teman – teman kita yang berguguran di jalan ini, sudahkah kita memberi perhatian yang tulus kepada mereka? Bukankah tidak mungkin kepedulian kita yang tulus sebenarnya dapat menyelamatkan mereka? Jadi, jika ternyata ada berbagai masalah pada ‘adik – adik’ kita, sekolah kita atau lingkungan kita, bisa jadi hanya karena kita yang tidak peduli. Lalu, masihkah kita acuh?

Kadang – kadang anda dapat mengatasi sebuah situasi sulit hanya dengan bersedia memahami orang lain. Sering yang paling dibutuhkan seseorang adalah mengetahui bahwa ada seseorang lain yang peduli tentang bagaimana perasaannya dan berusaha memahami posisi mereka” (Brian Tracy)