Tag Archives: kepemimpinan

Mewawas Diri Tuk Bangkit Berdikari

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala, tetap dipuja-puja bangsa.
Di sana tempat lahir beta. Dibuai, dibesarkan Bunda.
Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata…

Lagu ‘Indonesia Pusaka’ tetiba menggema di bulan ini sebagai salah satu lagu wajib nasional yang kerap mewarnai peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Lagu nasionalis yang sangat optimis. Ada euforia puja puji terhadap Indonesia di masa lalu. Ada keyakinan Indonesia tetap menjadi tempat yang nyaman dalam menghabiskan hari tua. 71 tahun mungkin bukan usia yang tua jika dibandingkan usia negara-negara lawas semisal USA, Portugal, ataupun Swiss. Tapi jika melihat Negara seperti Yugoslavia atau Cekoslowakia yang ‘wafat’ di usia 74 tahun tentu sudah sepantasnya Indonesia bersikap bijak tidak larut dalam kegembiraan yang tidak produktif. Ya, momentum dirgahayu semestinya bisa menjadi momen instrospeksi agar negeri ini bisa lebih wawas diri.

Indonesia lahir seumuran dengan Korea Selatan, hanya lebih lambat 2 hari. Namun akselerasi keduanya sangat jauh berbeda. Berdasarkan laporan UNDP, pada tahun 2015, Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/ HDI) Korea Selatan sebesar 0.898 dan ada di peringkat 17 dunia. Indonesia masih berkutat di posisi 110 dunia dengan nilai 0.684, setara dengan Gabon yang juga merdeka pada 17 Agustus namun lebih muda 15 tahun dari Indonesia. Usia memang tidak lantas menunjukkan kualitas. Lihat saja Singapura yang ‘baru’ berusia 51 tahun namun sudah menjadi salah satu negara maju di dunia (HDI 0.912 – peringkat 11 dunia). Sementara Liberia yang sudah berusia 169 tahun masih termasuk negara tertinggal (HDI 0.430 – peringkat 177 dunia). Lalu, apa yang membedakan?

Sebagian orang berapologi dengan alasan titik awal perjalanan Negara. Padahal di awal masa kemerdekaan, Singapura tidak kalah sulitnya dengan Indonesia, bahkan mungkin lebih tragis. Dua pertiga penduduknya miskin dan tinggal di pemukiman kumuh. Air bersih sulit didapat, wabah malaria menyerang, sehingga mayat pun bergelimpangan. Pun demikian dengan Korea Selatan. Paska Perang Dunia II, Korea kembali mengalami kehancuran kedua akibat perang saudara (1950 – 1953). Kehidupan sosial, ekonomi dan politik hancur, puluhan juta warganya miskin dan kelaparan. Praktis pada tahun 1960-an, Indonesia jauh lebih maju dibandingkan Singapura ataupun Korea Selatan.

Ada pula yang menjadikan negara penjajah sebagai alasan. Konon Inggris lebih baik dari Belanda. Singapura berpisah dari Malaysia pada 9 Agustus 1965, Malaysia sendiri sebelumnya adalah jajahan Inggris. Hanya saja sering luput dari perhatian bahwa sekitar 90% negara di dunia pernah dijajah Inggris, termasuk Indonesia. Dan hingga saat ini tidak sedikit negara persemakmuran Inggris yang masih masuk kategori low human development, misalnya Sierra Leone, Afghanistan, Sudan, Malawi, Uganda, Lesotho, Papua Nugini, dan Pulau Solomon. Selain pernah dijajah Jepang, Korea Selatan pernah dijajah Perancis. Kanada adalah contoh bekas negara jajahan Perancis yang maju, namun jangan lupakan bekas negara jajahan Perancis di Afrika tengah dan barat misalnya Niger, Chad, Burkina Faso, Guinea, Pantai Gading dan Senegal yang termasuk negara-negara dengan HDI terendah. Artinya, mengkambinghitamkan penjajahan Belanda hanyalah sebuah bentuk sikap tidak berani bertanggung jawab.

Tidak sedikit pula pendapat lain yang lebih fair, bahwa secara umum ada tiga faktor yang menyebabkan Indonesia jadi jauh tertinggal oleh negara-negara yang pernah ada di level lebih rendah dari Indonesia. Ketiga faktor utama itu adalah fokus pembangunan, karakter warga, dan kepemimpinan. Fokus pembangunan ekonomi Singapura dan Korea Selatan diintegrasikan dengan investasi SDM melalui pembangunan pendidikan. Alhasil, kedua negara ini berhasil membentuk karakter warganya yang sejalan dengan visi pembangunan negara mereka. Ya, bukan hanya masuk jajaran negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia, Singapura dan Korea Selatan berhasil menanamkan nilai kerja keras, disiplin, patuh aturan, peduli lingkungan dan tidak mau mengambil hak orang lain kepada seluruh warganya. Lingkungan yang kondusif tentu akan menopang percepatan pembangunan. Selain itu, kemajuan Singapura tak bisa dipisahkan dari sosok Lee Kwan Yew yang bertangan besi namun visioner. Mirip dengan sosok Park Chung Hee di Korea Selatan. Di Indonesia, pemimpin otoriter berkonotasi negatif, pemimpin demokratis adalah harga mati. Pun realitanya demokratis yang dimaksud cenderung plin plan dan tak punya sikap, sementara pemimpin yang kuat dan tegas langsung dicap diktator.

Jika disadari demikian, lantas mengapa Indonesia yang begitu potensial tak jua mampu mengungguli atau paling tidak menyamai negara-negara tersebut? Persoalannya memang kompleks namun akar masalahnya tidak jauh dari problem karakter dan mentalitas. Kurang sabar untuk konsisten, kurang konsisten untuk terus belajar, dan kurang belajar untuk bersabar. Hakikat dan tujuan pembangunan nasional sebenarnya sudah terintegrasi, hanya saja praktik pembangunannya masih parsial. Mengutamakan pembangunan fisik yang terlihat termasuk proyek mercusuar yang high cost dibandingkan pembangunan non fisik. Mendahulukan ketercapaian indikator (semu) ekonomi nasional di atas perhatian lebih pada sektor pendidikan dan kesehatan. Bahkan memprioritaskan pembangunan kota daripada desa, Jawa daripada luar Jawa, barat daripada timur Indonesia. Alih-alih keseimbangan, yang terjadi justru ketimpangan.

Tidak ada yang perlu dibanggakan dari usia 71 tahun jika mentalitasnya masih anak-anak. Bukan tidak mungkin 71 tahun yang terlewat sejatinya hanya 1 tahun yang berulang sebanyak 71 kali. Indonesia masih banyak PR, belum selesai dengan dirinya. Tidak hanya soal minimnya kualitas, kesenjangan sosial ataupun lemahnya supremasi hukum. Leadership dan followership juga masih menjadi tantangan besar. Belum lagi bicara tentang master plan bangsa. Namun dalam konteks wawas diri, setiap komponen bangsa harus introspeksi untuk kemudian memberikan kontribusi produktifnya, tanpa kecuali. Sadar peran, kewajiban dan tanggung jawabnya untuk selanjutnya bersinergi dalam meraih cita bersama.

Akhirnya, sesi kontemplasi ini harus diakhiri dengan keseimbangan antara kekhawatiran dan optimisme yang diikuti oleh aksi nyata perbaikan. Kekhawatiran akan masa depan bangsa menjadi suplemen agar bangsa ini tidak terlena dan tertidur. Bukan tidak mungkin Indonesia tinggal sejarah, toh Negara Adidaya Uni Sovyet pun runtuh. Bukan tidak mungkin Indonesia bangkrut, toh ekonomi Yunani yang peradabannya sudah puluhan abad pun bisa koleps. Namun optimisme akan kebangkitan Indonesia sebagai kekuatan regional dan global juga perlu terus dipupuk sebagai pembakar motivasi. Negeri ini kaya potensi dan sumber daya, tak ada alasan tak bisa mengejar ketertinggalan. Jika usia bukan faktor penentu kemajuan suatu negara, maka kontribusi nyata yang akan membedakannya. Dan jika sisa usia merupakan Rahasia-Nya, mengisinya dengan kerja, prestasi dan karya tuk mencapai cita bersama tentu menjadi hal yang utama. Indonesia Bangkit Berdikari, Insya Allah…

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” (Soekarno)

Pendidikan Anak dan 5 Level Kepemimpinan

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut.” (HR. Bukhari – Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci ibarat kertas kosong. Secara naluriah, seorang anak akan mengharapkan dan membutuhkan bimbingan dari orang dewasa. Disinilah pendidikan anak memegang peranan penting, untuk mulai mengisi dan mewarnai kertas kosong tersebut. Ketika beranjak dewasa, sang anak mungkin sudah –dan harus– mampu mengambil keputusan dan menentukan jalan hidupnya sendiri, namun sketsa awal yang dibuat pada kertas kosong itu akan sangat memengaruhi pilihan hidup yang kelak diambil. Dan karena kepemimpinan adalah seni memengaruhi orang-orang yang dipimpin, peran pemimpin secara otomatis hinggap di pundak para orang tua dalam mendidik anaknya.

Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya, namun pemimpin seperti apa? Sebagai refleksi, ada baiknya kita komparasikan dengan lima level kepemimpinan yang ditulis oleh John C. Maxwell. Maxwell menggunakan 5 level pemimpin (5P) yaitu Position (Posisi), Permission (Perkenanan) , Production (Produksi), People Development (Pengembangan SDM), dan Personhood (ke-Pribadi-an). Masing-masing level ini kemudian dipasangkan dengan dengan produknya, yang disebut Maxwell sebagai 5R, yaitu Rights (hak), Relationships (hubungan), Results (hasil), Reproduction (reproduksi) dan Respect (hormat).

Level kepemimpinan pertama adalah posisi atau jabatan. Seorang anak mengikuti orang tua karena keharusan. Pendidikan anak di level ini ditandai dengan penekanan hak orang tua untuk dituruti karena posisinya sebagai orang tua yang harus dihormati anaknya. Tanpa kemampuan ataupun upaya khusus, jabatan orang tua dan anak sudah ditentukan, tidak akan tertukar. Indoktrinasi bahwa orang tua selalu benar, lebih tahu dari anaknya dan tidak akan mencelakakan anaknya akan kental, sementara ruang dialogis sangat terbatas. Anak akan berpotensi kehilangan jati dirinya, terkekang minat dan bakatnya, serta sekadar menjadi ‘boneka’ orang tuanya. Moralitas relatif turun sementara potensi pemberontakan tinggal menunggu momentumnya saja. Maxwell mengatakan, “A great leader’s courage to fulfill his vision comes from passion, not position”.

Orang tua yang mendidik anaknya di level kepemimpinan pertama ini perlu berbenah, setidaknya naik ke level kepemimpinan selanjutnya yaitu perkenanan yang berorientasi hubungan. Pada level kedua ini, seorang anak menuruti orang tuanya karena rasa sayangnya pada orang tua, bukan karena keharusan semata. Disini orang tua sudah menjadi pribadi yang menyenangkan bagi anak-anaknya sehingga kerja sama antar anggota keluarga dapat lebih terjalin. Anak-anak sudah mulai merasa dihargai dan lingkungan keluarga pun lebih terasa positif. Sayangnya, pendidikan anak di level ini cenderung membuat orang tua populer di mata anak, tetapi pengembangan diri anak kurang terfasilitasi. Pendidikan yang berorientasi membuat nyaman semua anggota keluarga ini kurang mengakomodir kebutuhan anak yang memiliki motivasi tinggi untuk maju.

Pendidikan anak perlu naik ke level kepemimpinan ketiga yang fokus pada kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta memberikan hasil nyata dari pendidikan anak. Pada level ini, seorang anak akan patuh pada orang tuanya karena sudah merasakan hal-hal positif bahkan hasil yang dapat dilihat kasat mata, buah dari pendidikan yang dilakukan orang tuanya. Anak-anak sudah merasakan tercapainya tujuan pendidikan, yaitu adanya perubahan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Anak-anak pun sudah mampu mengatasi masalah dan mengambil keputusan sendiri dalam mencapai cita hidup mereka. Di level ini, orang tua telah mampu menjadi role model yang baik bagi anaknya dan dengan jelas mampu menunjukkan kontribusi mereka bagi keluarga. Teladan orang tua yang produktif akan menghasilkan anak-anak yang produktif.

Pekerjaan terakhir seorang pemimpin adalah memastikan dirinya mewariskan hal-hal yang baik, termasuk ketersediaan kader pengganti. Pada level kepemimpinan keempat, kaderisasi adalah harga mati karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menghasilkan pemimpin lainnya. Di level ini, orang tua sudah mempersiapkan anak-anaknya sebagai pemimpin sekaligus orang tua di masa mendatang. Orang tua mengoptimalkan segala yang dimilikinya untuk pengembangan anak-anak mereka sebagai investasi SDM strategis. Pendidikan di level ini akan menumbuhkan dan memperkuat loyalitas anak kepada orang tua dan keluarganya. Bakat dan minat anak diperhatikan, potensi anak dikembangkan, inisiatif anak didukung, proyeksi masa depan anak dipersiapkan dengan baik. Reproduksi bukan berarti mencetak anak sebagai kloning orang tuanya, karakter kepemimpinan sang anak tetap harus terbentuk.

Level kepemimpinan kelima menyoal kepribadian dan respek, yang disebut Jim Collins sebagai pemimpin dengan professional will dan strategic humility. Bijak dan kharismatik. Di level ini, anak-anak menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada orang tuanya. Respek ini bahkan sanggup menggerakkan untuk berjuang dan mengorbankan segala yang dimilikinya demi orang tuanya. Tanpa alasan. Bukan karena hubungan darah, rasa kasih sayang ataupun melihat apa yang sudah orang tua berikan. Lebih luhur dari itu. Orang tua menjadi teladan, inspirator, sekaligus pemimpin idola bagi anak-anaknya. Butuh waktu lama dan upaya keras untuk mencapai level ini, bahkan mungkin baru dapat dilihat setelah perannya sebagai orang tua di dunia sudah berakhir.

Ada ungkapan yang mengatakan, “Seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa akan jauh lebih berbahaya daripada seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing”. Ungkapan tersebut barangkali ada benarnya dan relevan dengan pendidikan anak kita. Jika anak-anak kita tidak mampu mengaum, bisa jadi bukan karena mereka lemah, namun karena kita tidak mampu memberikan pendidikan sekuat singa. Orang tua punya peran besar dalam membangun masa depan anak, apalagi di usia keemasannya. Mari sejenak kita renungi level kepemimpinan kita dalam mendidik anak, sebentar saja, untuk kemudian kita berbenah dan memperbaiki diri. Agar kelak anak-anak kita mengenang kita sebagai orang tua terbaik, penuh dedikasi dan keteladanan, bukan hanya orang yang ‘kebetulan’ jadi orang tua. Setiap orang tua adalah pemimpin, setiap anak adalah amanah, mendidik anak adalah kewajiban. Pemimpin, amanah dan kewajiban akan dimintai pertanggungjawabannya.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An Nisa: 9)

Pemimpin Tepercaya, Pemimpin Memercaya

…Someone you know is on your side can set you free. I can do that for you if you believe in me. Why second-guess? What feels so right? Just trust your heart and you’ll see the light…
(‘True to Your Heart’, 98° feat Stevie Wonder)

Kepercayaan adalah hal penting yang harus ada dalam sebuah tim. Rasa percaya merupakan dasar dari kerja tim, dan sifatnya adalah resiprokal (timbal balik) bukan satu arah. Salah satu kriteria penting seorang pemimpin adalah dapat dipercaya. Kepercayaan kepada seorang pemimpin erat kaitannya dengan integritas, keteladanan, keadilan dan konsistensi. Pemimpin yang dapat dipercaya akan memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi mereka yang dipimpinnya. Kepercayaan ini merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin untuk membangun dan melejitkan tim atau organisasi yang dipimpinnya.

Kepercayaan adalah hubungan resiprokal, namun bawahan akan lebih mudah memercayai pemimpinnya dibandingkan sebaliknya. Memiliki integritas, sejalan antara perkataan dengan perbuatan, jujur, adil, serta dapat memberi teladan yang baik sudah menjadi syarat cukup bagi seorang pemimpin untuk memperoleh kepercayaan yang dipimpinnya. Apalagi jika pemimpin tersebut memiliki kompetensi dan pengalaman yang mumpuni, tentunya menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kepercayaan dari yang dipimpinnya. Belum lagi kekuasaan dan kewenangan seorang pemimpin bisa memperkuat kewajiban untuk percaya kepadanya, pun terpaksa. Ya, dalam titik ekstrim, seorang pemimpin bisa saja hanya memilih mereka yang memercayainya untuk dipimpin.

Persoalan klasik muncul ketika sosok pemimpin tidak lagi bisa dipercaya, terus berdusta, mengingkari janji, tidak adil dan transparan, serta gagal memberikan perasaan tenang pada yang dipimpinnya atas segala tindak tanduknya. Opsi menggulingkan kepemimpinan kerap butuh perjuangan keras dan biaya sosial yang tinggi. Sikap apatis seringkali menjadi opsi yang lebih realistis mengingat keterbatasan kemampuan untuk mengubah karakter kepemimpinan. Akhirnya, tim mungkin tidak hancur, namun tanpa kepercayaan tim sudah kehilangan ruhnya. Rutinitas organisasi mungkin masih bisa berjalan, dengan setiap elemen hanya berupaya menyelamatkan diri mereka sendiri. Kepemimpinan tanpa kepercayaan hanyalah sebuah kehampaan dan omong kosong.

Masalah juga akan muncul ketika kepercayaan tidak menemukan hubungan timbal baliknya. Seorang pemimpin yang memercayai anggota timnya yang ternyata tidak amanah, bisa saja langsung memberikan treatment atau bahkan mengeluarkan ‘penyakit’ tersebut dari tim. Penyakit ini mudah didiagnosa karena pengaruh kekuasaan pemimpin akan terbantu oleh ketidaknyamanan dari anggota tim yang lain. Persoalan yang lebih rumit akan muncul ketika seorang pemimpin tidak atau kurang memercayai mereka yang dipimpinnya. Bisa jadi semua tanggung jawab dan beban kepemimpinan akan sepenuhnya dipikul oleh sang pemimpin. Padahal kepemimpinan bukan hanya seni memengaruhi orang lain, tetapi juga memercayai orang lain.

Tidak sedikit pemimpin dengan potensi yang luar biasa terjebak dalam kondisi ini: gagal sepenuhnya memercayai yang dipimpinnya. Fungsi delegasi hanya jadi formalitas layaknya dalang yang memainkan wayang. Super team tidak terbentuk karena pemimpin mengambil alih seluruh tanggung jawab, toh yang penting tujuan tercapai. Bukannya meringankan kerja anggota tim, pemimpin tanpa sadar justru tengah mengebiri potensi anggota tim. Barangkali tugas memang bisa selesai lebih cepat dan lebih berkualitas jika dikerjakan langsung oleh sang pemimpin, namun ketergantungan besar terhadap sosok pemimpin bukanlah hal ideal dalam kepemimpinan. Dinamika tim, termasuk belajar dari kesalahan, merupakan hal penting untuk terus bisa berkembang dan melakukan perbaikan. Pemimpin kadang lupa bahwa kepercayaan bersifat resiprokal, alih-alih menenangkan anggota tim, memberikan kepercayaan ‘setengah hati’ justru akan berbuah ketidakpercayaan.

Pemimpin sejati bukanlah pemimpin yang hebat, namun juga pemimpin yang menghebatkan mereka yang dipimpinnya. Dan memberikan kepercayaan adalah kunci pengembangan potensi anggota tim. Kepemimpinan ada siklusnya, kaderisasi adalah keniscayaan, membangun kepercayaan yang resiprokal antar anggota tim dan antara pemimpin dengan yang dipimpinnya adalah langkah strategis untuk memastikan kesinambungan suatu organisasi. Menjadi pemimpin yang tepercaya (dapat dipercaya) memang penting, namun menjadi pemimpin yang dapat memercaya (memberikan kepercayaan) tidak kalah penting. Karena kepercayaan adalah hubungan timbal baik, keduanya dapat seiring sejalan.

“Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah?” (Tere Liye)

Teladan Pemimpin Itu Bernama Ibrahim

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
(QS. Ash-Shaffat: 108-111)

Salah satu kisah yang tidak pernah terlewat dalam peringatan Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang Nabi Ibrahim a.s. Ya, momen Idul Adha memang identik dengan kisah Nabi Ibrahim a.s., mulai dari syariat pelaksanaan haji hingga pemotongan hewan qurban. Keteladanan Nabi Ibrahim a.s. tercermin dari banyaknya kisah hikmah perjalanan Nabi Ibrahim, yang tidak hanya dimuat dalam Al Qur’an, tetapi terdapat pula pada kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Kitab Injil termasuk Injil Barnabas, hingga kisah-kisah Israiliyat. Nama ‘Ibrahim’ sendiri disebut sebanyak 62 kali di 24 surah dalam Al Qur’an, jumlah ayat yang menceritakan kisah beliau tentu lebih banyak lagi.

Salah satu keteladanan Nabi Ibrahim a.s. adalah dari sisi kepemimpinan beliau. Allah SWT langsung yang memilih beliau sebagai pemimpin umat manusia, dengan firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS. Al Baqarah: 124). Nabi Ibrahim a.s. memenuhi seluruh kualifikasi penting figur pemimpin yang layak dijadikan teladan.

 

Berjiwa Bersih dan Ta’at Kepada Allah

Pemimpin harus memiliki fondasi spiritualitas yang baik. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (QS. An Nahl: 120). Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Nabi Ibrahim a.s. lahir di tengah keluarga dan masyarakat penyembah berhala, tentu membutuhkan jiwa yang sangat bersih dan komitmen kuat untuk menemukan hidayah dan mempertahankan keimanannya. Dan kejernihan hati inilah yang membuat Nabi Ibrahim a.s. menjadi Hamba Allah yang sangat ta’at. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ’ Tunduk patuhlah!’, Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS.Al Baqarah: 131). Ketundukan penuh keyakinan dan keikhlashan inilah yang mengantarkan beliau memperoleh posisi mulia di hadapan Allah SWT. Aspek spiritualitas inilah yang membuat seorang pemimpin senantiasa tegar menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Keta’atan inilah yang menjadi alasan hadirnya pertolongan Allah SWT.

Selamatnya Nabi Ibrahim a.s. ketika dibakar hidup-hidup seperti dikisahkan dalam Surah Al Anbiya adalah buah dari keyakinan ini. Dikabulkannya do’a beliau untuk memperoleh keturunan yang shalih di usianya yang sudah lanjut adalah buah dari keikhlashan ini. Selamatnya Hajar dan Ismail ditinggal di tengah gurun tandus ataupun selamatnya Ismail ketika disembelih adalah buah dari keta’atan. Karena Allah SWT akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan keta’atan itu berbuah hikmah. Dari keta’atan meninggalkan anak isteri tercinta dikenal istilah sa’i dan air zamzam, bahkan lahirlah peradaban di Mekkah. Dari keta’atan menyembelih Ismail, sempurnalah syariat haji dan qurban.

 

Cerdas dan Berani

Pemimpin harus memiliki kecerdasan dan keberanian, tidak hanya salah satunya. Tidak sedikit orang yang memiliki kemampuan intelektual namun tidak memiliki keberanian, segudang idenya pun hanya menjadi setumpuk angan. Hasilnya adalah pemimpin yang gemar berandai-andai untuk kemudian menyesal. Ada pula yang sekedar memiliki keberanian tanpa perhitungan, yang terjadi hanya kesia-siaan, pemborosan, bahkan kerusakan. Pemimpin modal nekat dan mengandalkan keberuntungan.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. sudah tumbuh sejak beliau masih belia. Hal ini jelas tampak dari dialog Ibrahim kecil dengan ayahnya tentang konsep ketuhanan seperti tertuang dalam Surah Maryam atau dalam upaya beliau mencari Tuhan seperti dikisahkan cukup panjang dalam Al Qur’an surah Al An’am. Dalam berbagai referensi terdahulu, misalnya dalam Injil Barnabas, dikisahkan dialog panjang Ibrahim kecil dengan ayahnya yang selalu berakhir dengan ancaman atau pemukulan Ibrahim kecil karena ayahnya kehabisan argumen. Keluarga Nabi Ibrahim a.s. cukup dihormati, butuh upaya lebih untuk menentang penyimpangan dari keluarganya dan sistem masyarakat yang rusak.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. juga tercermin di Surah Al Anbiya dalam peristiwa penghancuran berhala yang dilakukannya yang berujung pada pembakaran dirinya hidup-hidup. Atau dalam perdebatan beliau dengan Raja Namrud seperti dikisahkan dalam firman Allah, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. al-Baqarah: 258)

 

Visioner dan Amanah

Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji” (QS. an-Najm: 37). Pemimpin harus visioner sekaligus amanah. Sekedar pemimpin visioner saja tidak cukup untuk mengubah apapun, namun sekedar mengerjakan tanggung jawab juga hanya akan terjebak pada rutinitas. Dalam Al Qur’an terdapat Surah Ibrahim yang di antaranya memuat do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s, salah satunya adalah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37)

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. berdo’a, Baitullah belumlah didirikan dan wilayahnya sangat tandus. Atas karunia Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s. punya visi dan tekad kuat untuk menyempurnakan janji tersebut. Beberapa tahun kemudian Baitullah dibangun untuk kemudian berkembang menjadi wilayah Masjidil Haram – Mekkah yang kita kenal sekarang, pusat manusia-manusia mendirikan shalat. Hal menarik lainnya dari do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s. adalah beliau senantiasa mendo’akan anak cucu dan keturunannya, di antaranya agar tidak menyembah berhala (ayat 35) dan tetap mendirikan shalat (ayat 41). Pemimpin sejati tahu benar pentingnya kaderisasi. Memastikan adanya kader penerus perjuangan merupakan hal yang fundamental. Nabi Ibrahim a.s. pun mendapat gelar Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim a.s. kecuali semuanya berasal dari keturunan beliau.

Nabi Luth a.s. adalah salah seorang pengikut Nabi Ibrahim a.s. yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dalam berbagai ayat Al Qur’an dikisahkan bahwa para malaikat menemui dan memberitahu Nabi Ibrahim a.s. terlebih dahulu –bahkan sempat ‘berdebat’ dengan beliau– sebelum membinasakan Kaum Sodom yang mengingkari Nabi Luth a.s. Karena perjuangan tidak bisa diusung sendirian. Atau simak bagaimana kesabaran Ismail kecil ketika mengetahui dirinya akan disembelih atas perintah Allah SWT oleh ayahnya sendiri yang jarang ditemuinya. Tentu butuh pendidikan akidah dan akhlak yang luar biasa, termasuk kepada kedua isterinya. “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al Baqarah: 132).

 

Peduli dan Penuh Kasih Sayang

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi lembut hati dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud: 75). Ayat ini turun terkait upaya Nabi Ibrahim a.s. yang mencoba membela Kaum Luth yang hendak diazab Allah SWT dengan berdalih masih ada kesempatan untuk memperoleh hidayah. Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bertanya kepada para malaikat, “Apakah kamu hendak membinasakan negeri yang di sana terdapat 300 orang mukmin?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Angka tersebut terus turun hingga menjadi ‘seorang mukmin’ dan para malaikat tetap menjawab ‘tidak’. Nabi Ibrahim a.s. kemudian berkata, “Disana terdapat Luth”. Mereka berkata, “Kami lebih tahu tentang siapa yang ada disana” hingga akhirnya ditegaskan dengan ayat selanjutnya, “Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Tuhanmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak” (QS. Hud: 76).

Pun tegas dalam bersikap terkait masalah aqidah, dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya pun mencerminkan sikap santun dan lembut hati. Hal ini dikuatkan dengan Firman Allah, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At Taubah: 114). Apalagi jika menyimak dialog beliau dengan anaknya yang bahkan sampai meminta pendapat anaknya untuk sesuatu yang bisa saja tinggal diperintahkan.

Pemimpin harus santun, penuh kepedulian dan kasih sayang. Keluhuran budi pekerti tercermin dari sikap dan kata-kata, dan hal inilah yang sejatinya sangat efektif untuk menggerakkan orang lain. Kemuliaan akhlak inilah yang membuat Nabi Ibrahim digelari Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah SWT. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An Nisa’: 125).

Berbeda dengan Nabi Yusuf a.s., Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s. dan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Ibrahim a.s. memang tidak menempati jabatan struktural dalam pemerintahan. Namun jati diri kepemimpinan tetap terpancar dari diri beliau dan membuat beliau menempati posisi sangat penting dalam sejarah kehidupan manusia. Setiap kita adalah pemimpin, sehingga harus berupaya menjadi pribadi yang berjiwa bersih, ta’at kepada Allah SWT, cerdas, berani, visioner, amanah, peduli dan penuh kasih sayang. Sudah saatnya kualifikasi pemimpin seperti ini menggantikan sosok pimpinan yang tidak beritikad baik, tidak peduli terhadap umat Islam, sok pintar, klemar-klemer, cinta dunia, tidak berkompeten, egois dan suka menyakiti yang dipimpinnya.

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar ter­masuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah: 130)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim…” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Dwi Tunggal Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an untuk Kepemimpinan Bangsa

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kaya akan sumber daya dan kaya akan budaya. Negeri kepulauan nan indah bertajuk zamrud khatulistiwa. Negara besar dengan jumlah penduduk peringkat empat terbanyak di dunia yang tersebar di penjuru nusantara. Mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Pun mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia bukanlah Negara Islam. Sebagaimana beranekanya suku dan budaya, ragam agama juga ada di Indonesia. Ironisnya, statement bahwa Indonesia bukan Negara Islam kerap disalahartikan sebagai dikotomi antara Indonesia dan Islam, seakan identitas keislaman akan kontraproduktif dengan identitas keindonesiaan. Islam dan nasionalisme, akhirnya menjadi dua kata yang dikesankan ibarat minyak dan air, takkan mampu bersatu.

Dalam KBBI, nasionalisme didefinisikan sebagai paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri . Nasionalisme juga didefinisikan sebagai semangat kebangsaan, yaitu kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Rasa cinta terhadap tanah air sejatinya adalah fitrah manusia sebagaimana kecintaan terhadap keluarga. Dan Islam datang sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, karenanya mustahil bertentangan dengan nilai cinta tanah air.

Nasionalisme hadir untuk mengikis semangat kesukuan dan memperkuat ikatan masyarakat. Dan Islam telah melakukannya sebelum istilah nasionalisme ada. Di Madinah, beragam suku mulai dari Quraisy, Aus, Khazraj, hingga suku-suku beragama Yahudi dan Nasrani menandatangani Piagam Madinah yang salah satu klausulnya adalah bersatu mempertahankan Madinah dari serangan luar. Itu adalah nasionalisme. Mempererat tali persaudaraan dan mempersatukan dengan tetap menjaga eksistensi dari keragaman suku dan bangsa, itulah Islam.

Nasionalisme menurut Soekarno akan membentuk rasa percaya diri dan merupakan esensi mutlak jika kita mempertahankan diri dalam perjuangan melawan kondisi-kondisi yang menyakitkan. Ya, sebagaimana Islam, nasionalisme sejatinya hadir untuk membebaskan. Revolusi perlawanan rakyat atas hegemoni kaum aristrokat dan anti dominasi gereja di Eropa abad ke-18 adalah nasionalisme yang tidak jauh berbeda dengan bagaimana para pahlawan pejuang kemerdekaan sejak zaman kerajaan dahulu berperang untuk mengusir penjajah. Perlawanan lokal dan sporadis yang gagal mengusir penjajah kemudian bertransformasi menjadi gerakan nasional yang terorganisir. Itulah nasionalisme.

Namun Islam memang berbeda dengan nasionalisme, terutama dalam aspek ruang lingkup dan orientasi. Nasionalisme masih tersekat oleh batas geografis sementara Islam borderless. Kesetiaan tertinggi seorang nasionalis adalah pada bangsa dan Negara, sementara kesetiaan tertinggi seorang muslim adalah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam Islam, kesetiaan terhadap pemimpin ataupun wilayah geografis tertentu haruslah dalam kerangka ketaatan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Itulah semangat nasionalisme untuk mengusir penjajah versi Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin dan banyak pejuang Islam lainnya di nusantara. H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Serikat Islam menyatakan bahwa Islam adalah “faktor pengikat dan simbol nasional”.

Perbedaan antara Islam dan nasionalisme bukan untuk dipertentangkan, melainkan diposisikan dengan tepat untuk membangun kepemimpinan nasional yang kuat. Semangat spiritualitas dan religiusitas Islam yang bersifat universal seharusnya diposisikan sebagai fondasi dengan semangat kebangsaan (nasionalisme) sebagai (salah satu) tiangnya. Tiang nasionalisme tanpa fondasi religiusitas akan mendorong pada primordialisme, chauvinisme, bahkan fasisme. Kecintaan terhadap tanah air yang berlebihan dan tidak didasari spiritualitas yang kuat akan berujung kepongahan, merendahkan bangsa lain, bahkan dalam titik ekstrim justru akan memicu terjadinya imperialisme dan penjajahan yang sebenarnya sangat bertentangan dengan nasionalisme itu sendiri.

Dalam skala yang lebih kecil, ‘nasionalisme buta’ akan mematikan logika dan berpikir kritis. Padahal kemerdekaan sebagai buah dari semangat kebangsaan menghendaki kekuatan untuk berdiri sendiri. Berdikari dalam berpikir dan bertindak. Karenanya, tiang nasionalisme yang berdiri di atas landasan religiusitas ini harus berdekatan dengan tiang kemandirian menuju Indonesia berdaya. Tidak cukup hanya merdeka dan bersatu, tetapi juga harus berdaulat, adil dan makmur. Kepemimpinan bangsa yang kuat tidak dapat dipisahkan dari kemampuan untuk berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Semangat kebangsaan dan kemandirian tanpa fondasi keislaman akan mendorong pada kebebasan tanpa batas, pun harus mengorbankan orang banyak. Lihatlah bagaimana ekspansi negara-negara Eropa di masa penjajahan, yang alih-alih berdaya malah memperdaya. Berdikari adalah berdiri di atas kaki sendiri bukan berdiri di atas kesulitan orang lain. Karenanya, tiang nasionalisme dan kemandirian harus pula disertai dengan tiang kepedulian. Berlandaskan perikemanusiaan. Karena memang tidak cukup hanya dengan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, tetapi juga harus memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Selain makhluk pribadi, manusia adalah makhluk sosial yang pastinya akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalam skala yang lebih besar, suatu bangsa juga selalu butuh untuk membangun hubungan dengan orang lain. Sadar dan peduli bahwa keberadaannya merupakan satu entitas dari komunitas yang lebih luas. Pun demikian dalam konteks kepemimpinan, selalu erat kaitannya dengan aspek pelayanan dan motivasi kepedulian. Shalat yang berdimensi pribadi harus disertai dengan zakat yang berdimensi sosial. Kemandirian sejati adalah mampu memandirikan orang lain, berdaya adalah mampu memberdayakan orang lain.

Bagaimanapun, iman yang abstrak harus disertai amal shalih yang konkret. Semangat kebangsaan juga bukan semata jargon, apalagi kemandirian dan kepedulian yang jelas-jelas harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Karenanya, fondasi keislaman beserta tiang-tiang kebangsaan, kemandirian dan kepedulian ini harus mewujud menjadi sesuatu yang lebih tampak dan terukur. Hal tersebut adalah kompetensi, baik pengetahuan, keterampilan ataupun sikap. Suatu urusan yang dikerjakan oleh orang yang tidak berkompeten hanya akan berujung kepada kehancuran. Karenanya pemimpin haruslah memiliki kompetensi yang mumpuni. Tidak harus sempurna, tetapi kompetensinya sesuai dengan kebutuhan, level dan lingkup amanah serta kekhasan dari kepemimpinan yang diemban.

Kepemimpinan ideal yang didambakan oleh seorang muslim harus berlandaskan fondasi keislaman, Islam yang pertengahan, tidak terlalu kaku tetapi tidak pula terlalu cair. Islam yang menginspirasi dan mencerahkan, tidak taqlid buta namun tidak pula mendewakan akal. Islam yang seimbang, bijak dalam merespon kondisi kekinian dan menghargai berbagai perbedaan. Islam yang bukan hanya baik dalam aspek keimanan dan ibadah, namun kehadirannya mampu menebar kebermanfaatan yang luas. Islam yang dapat menjadi Rahmat bagi semesta alam.

Untuk menghadapi tantangan kepemimpinan Islam, fondasi ini perlu diperkokoh dengan semangat kebangsaan yang mempersatukan elemen bangsa guna mencapai cita bersama. Kedaulatan dan independensi bangsa juga perlu diperkuat dengan semangat kemandirian untuk menghapus segala ketergantungan. Kontribusi kemanusiaan yang dilandasi semangat kepedulian juga akan memperkokoh bangunan kepemimpinan. Fondasi dan tiang-tiang kepemimpinan ini kemudian harus dilengkapi dengan rangka atap berupa kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan menunjang terlaksananya fungsi kepemimpinan secara utuh demi kejayaan negeri tercinta.

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kuat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbagai perbedaan yang ada akan kian memperindah khazanah bangsa. Negeri yang satu, terikat dalam cita wawasan nusantara. Bangsa yang utuh dan tak terpisah-pisahkan. Bangsa besar yang mampu berdiri sendiri. Negeri yang ramah, gemar menolong dan penuh tenggang rasa. Negeri dimana Islam yang juga bermakna damai penuh keselamatan, akan menjadi penguat negeri itu. Bukan hanya secara kuantitas, tetapi melakukan banyak perbaikan kualitas. Selamanya menjadi penguat, pun ketika berbagai ujian menerpa dan duka melanda. Senantiasa menjadi solusi untuk menjawab kompleksitas permasalahan bangsa. Terus menjadi cahaya yang mengantarkan bangsa Indonesia mencapai cita mulia…

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…” (Pembukaan UUD RI 1945)

*tulisan ini dimuat sebagai prolog buku “Islam, Kepemimpinan & Keislaman” karya para pengurus Forum Negarawan Muda

Jari Tangan dan Kepemimpinan

Sang pemimpin menemukan impiannya baru pengikutnya. Pengikut menemukan pemimpinnya baru impiannya” (John C. Maxwell)

Ada sebuah tulisan yang menganalogikan perjalanan hidup manusia dengan jari tangan, mulai dari masa kecil (kelingking) hingga tumbuh dewasa (ibu jari). Menarik, namun saya tidak sepenuhnya sepakat karena menjelang akhir perjalanan hidupnya manusia akan kembali suka mencari perhatian, dan akan kembali lemah. Alur yang bolak – balik, tidak searah. Ada juga yang membuatan tulisan analogi dengan ibu jari sebagai pemimpin dan kelingking adalah rakyatnya. Lucu juga. Dan saya lebih tertarik untuk menganalogikan jari tangan dengan tipe pemimpin yang banyak ditemui.

Kelingking, menggambarkan pemimpin yang lemah dan tidak memiliki karakter. Rapuh dan tidak punya kekuatan. Pemimpin yang tidak dianjurkan untuk dipilih karena salah satu syarat pemimpin adalah quwwah. Hal ini terlihat dari jawaban Rasulullah kepada Abu Dzar yang menawarkan diri sebagai penguasa (amil), “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya” (HR. Muslim). Namun realitanya, pemimpin jenis ini kerap dipertahankan karena keberadaannya dapat mengakomodasi kepentingan golongan.

Jari manis, melambangkan pemimpin sebagai simbol, sebagai pemanis. Pemimpin yang belum matang. Kehadirannya ada karena orang di belakangnya atau asal jangan orang tertentu. Kepadanya bisa jadi disematkan banyak predikat dan kebanggaan, bahkan berjuta kehormatan. Namun ketidakmatangannya membuat pemimpin ini rapuh, tak punya pendirian. Karena kepemimpinannya adalah semu, bayang – bayangnyalah yang sejatinya memimpin. Para pesilat lidah banyak mengelilingnya dan mengajarkannya untuk lihai dalam menebar janji manis. Realitanya, pemimpin sepeti inipun kerap dipertahankan, karena pemimpin semu biasanya juga memiliki pengikut semu. Apalagi tidak sedikit orang yang masih mengedepankan simbol dan tampak luar dibandingkan esensi dan isi.

Jari tengah, mencirikan pemimpin yang tinggi dan kerap arogan. Pemimpin ini ada di menara gading dan kurang bersinggungan dengan dengan orang yang dipimpinnya. Pemimpin ini biasanya memiliki kualitas personal yang baik, punya beberapa kelebihan namun tidak cukup bijak dalam menentukan kebijakan. Utamanya karena ketidakpahamannya dengan realita yang terjadi di bawahnya. Gap inilah yang membuatnya banyak dipuja sekaligus banyak dihujat. Sulit diingatkan, cukup otoriter dan tidak mudah digulingkan. Pun ketika jatuh akan sangat terjerembab. Realitanya, pemimpin seperti ini kerap dianggap pemimpin ideal karena keunggulannya pun sebenarnya pemimpin seharusnya melayani bukan dilayani.

Telunjuk, menandakan pemimpin yang cakap mengatur. Geraknya relatif lincah dan cerdas dalam memberikan arah. Pemimpin yang lebih tepat disebut manajer ini biasanya aktif dan visioner. Paham kekuatan diri dan dapat memberdayakan yang dipimpinnya. Hanya saja pemimpin ini kurang baik dalam refleksi diri, ibarat tidak sadarnya telunjuk yang menuding sementara tiga jari lainnya menunjuk ke diri sendiri. Karenanya kebijakan yang diputuskan kerap dianggap semena-mena, perintah yang diberikan sering dipandang sebagai beban. Realitanya, pemimpin ini banyak diikuti, khususnya oleh mereka yang tidak memiliki mentalitas pemimpin dan mereka yang tidak tentu arah, mengikuti dengan atau tanpa kesertaan jiwa. Dibutuhkan dalam mengatasi kesemrawutan namun menjadi sangat berbahaya jika salah arah.

Ibu jari, mencerminkan pemimpin yang penuh keteladanan. Berjiwa besar, kokoh dan dapat diandalkan. Rendah hati walau sebenarnya dia ada di posisi teratas. Dapat menyentuh semua golongan dengan kekayaan hatinya, dengan keteladanannya. Ya, hanya ibu jari yang dapat menyentuh setiap ruas jari yang lain. Ibu jari pula yang berada paling luar dan melingkupi jari – jari lainnya ketika semua jari mengepal. Kepemimpinan ibu jari akan menaungi, akan melindungi semua. Ketika memberikan petunjuk, dia akan mengarahkan dengan santun. Dan yang diberikan petunjukpun tidak merasa terbebani (saya tekenang kejadian naik gunung malam – malam di tengah hujan pula, ketika bertemu warga dan menanyakan tempat yang memungkinkan untuk mendirikan tenda, beliau menunjuk dengan ibu jarinya dan mengatakan ‘ke atas sedikit lagi’, jadi semangat padahal ternyata masih jauh =p)

Ketika awal masuk kampus, saya diajarkan bahwa pemimpin itu adalah mereka yang challenging the process, inspiring a shared vision, enabling other to act, modelling the way dan encourging the heart. Dalam perjalanannya, ternyata tidak mudah memiliki karakteristik di atas. Berani memulai menjadi pemimpin memang tidak mudah tetapi menjadi visioner lebih tidak mudah. Menggerakkan orang lain ternyata tidak semudah sekedar memberikan arahan. Menjadi teladan ternyata tidak semudah sekedar meminta orang untuk berbuat. Dan menghimpun hati-hati untuk mencapai tujuan bersama juga tidak mudah.

Pemimpin yang baik banyak lahir dari kawah candradimuka perbuatan dan pengalaman, bukan dari setumpuk teori kepemimpinan. Jika masih menjadi ‘kelingking’, maka tingkatkanlah kapasitas diri. Jika masih menjadi ‘jari manis’, kembangkanlah integritas diri. Jika masih menjadi ‘jari tengah’, cobalah ‘turun ke bawah’. Jika masih menjadi ‘telunjuk’, cobalah lebih banyak berbuat. Jika sudah menjadi ‘ibu jari’, tingkatkanlah ketaqwaan. Karena pemimpin idaman bukan cuma kuat, berilmu, penuh belas kasih, jujur, visioner, cakap mengatur dan bisa jadi teladan saja, tetapi juga bertaqwa.

“Sebaik-baik pemimpin adalah yang kamu cintai dan mereka mencintaimu. Kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakanmu. Sejahat-jahat pemimpin adalah yang kamu benci dan mereka membencimu. Kamu kutuk mereka dan mereka mengutukmu” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam bishawwab